#1570 – 2015 French Open

ENGLISH

Unlike my usual grand slam tennis posts, this post will be very short-ish because I went to Paris this weekend to watch the women’s singles final of this year’s French Open! :D

Women’s Singles

One conclusion that one can make from this year’s women’s singles event is just how “scary” Serena Williams’ level is. I think pretty much everyone agrees that when Serena Williams is playing her best tennis, noone can challenge her, let alone beat her. An example for this form is her performance at the 2012 Summer Olympics in London where she destroyed everyone in the field including the, then, world no.1, Victoria Azarenka, and no.3, Maria Sharapova.

But this also means that there are three situations where another player may have a chance to beat her: (1) when she is injured badly; (2) when she is extremely ill; or (3) when she is having a day off and plays like crap (hey, a bad day happens to anyone!). And guess what, all these three situations occurred to her in the fortnight of this year’s French Open. She injured her right elbow in Madrid and forced her to skip Rome, the last warm-up tournament before the French Open. She was still nurturing the injury in the first week of the tournament. Then, in the second week she caught a super bad flu. You know, the bad annoying flu which makes people not being able to get out of bed. And these two factors lead to the third factor to happen: she was not at her best level and played badly.

And so how did she fare at the tournament this year? Well:

Serena Williams won her 20th grandslam singles title at the French Open. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe
Serena Williams won her 20th grandslam singles title at the French Open. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe

Yes, even when those three situations occurred, somehow, she was still able to win the entire tournament! Her 20th grandslam singles title! :shock:

How could it be possible? Well, IMO, there is always one quality that is never missing a presence inside a Serena Williams: her champion mentality and her willingness to win (for hating more to lose). We have learned that noone can underestimate her even when she is down three match points (ask Victoria Azarenka at Madrid this year for that). When she unleashes this quality, she will fight so hard and try to win, even though everything does not seem to be working for her. She showed this multiple times in this tournament. She was able to overcome poor play and still won the matches.

Wow, Serena Williams is, indeed, a legend. She did not even to show up with her best form to win a grandslam. “Scary”, isn’t it?

Men’s Singles

To me, this year was the most interesting men’s singles field in the past many years. The 9-time champion, Rafael Nadal, was in the worst form of his past 11 visits to Paris where he did not win any clay title in the main European clay season this Spring where he lost to Novak Djokovic, Andy Murray, Fabio Fognini, and Stan Wawrinka. As a result, the draw was (much) more open with the higher probability of other players to win. But still, the men’s singles tournament in a grandslam is with the best-of-five system so this, IMO, could help Rafa bit to slowly regain his form.

It did, but it was not enough. Even though Rafa managed to reach the quarterfinals, he faced an in-form world no. 1, Novak Djokovic, there and lost in straight sets, his only second loss in the tournament in 11 years! With the loss of Roger Federer in the quarterfinals, this year the French Open would see a new champion. For this, Novak Djokovic saw a golden opportunity to achieve something extremely rare: a career grandslam (to win each of the grandslams at least one). The French Open is the one that he hasn’t won and with Nadal dominating the tournament for the past, literally, a decade, this year was clearly a golden opportunity for him.

He did reach the final, where he would face Stan Wawrinka, the man who knocked out Federer in the quarterfinals. Being the heavy favorite to win the title now, somehow Wawrinka surprised him by playing unbelievable final. Wawrinka’s game level was so high and he hardly made any mistake. As a result, the Swiss won the match in four sets; thus making Djokovic’s dream of a career grandslam on a halt.

Yeah, so, for the second time that Nadal lost early in the French Open, a Swiss guy took the opportunity and won the title, haha :)

Serena Williams won her third Roland Garros title in 2015. Photo credit: Julian Finney/Getty Images Europe
Serena Williams won her third Roland Garros title in 2015. Photo credit: Julian Finney/Getty Images Europe
Stan Wawrinka won his first Roland Garros title in 2015. Photo Credit: Dan Istitene/Getty Images Europe
Stan Wawrinka won his first Roland Garros title in 2015. Photo Credit: Dan Istitene/Getty Images Europe

BAHASA INDONESIA

Tidak seperti posting-posting report grandslam-ku biasanya, posting kali ini akan pendek deh karena aku baru saja kembali dari Paris akhir pekan ini untuk menonton final tunggal putrinya French Open tahun ini! :D

Tunggal Putri

Sebuah kesimpulan yang bisa diambil dari tunggal putrinya French Open tahun ini adalah sebagaimana “menakutkannya” level permainan tenisnya Serena Williams. Aku rasa semua orang sekarang setuju bahwa ketika Serena Williams memainkan performa tenis terbaiknya, tidak ada satupun yang bisa menantangnya, apalagi mengalahkannya. Contoh nyata dari performa ini adalah di Olimpiade Musim Panas tahun 2012 di London dimana ia menghancurkan semua pemain yang berpartisipasi, termasuk pemain peringkat 1 dunia waktu itu, Victoria Azarenka, dan peringkat 3, Maria Sharapova.

Tetapi ini juga berarti ada tiga situasi dimana seorang pemain lain memiliki kesempatan untuk mengalahkannya: (1) ketika ia sedang cedera parah; (2) ketika ia sedang sakit parah; atau (3) ketika ia sedang mengalami bad day dimana ia bermain buruk (hey, siapa pun pasti pernah mengalami bad day kan). Dan apa yan terjadi? Ketiga situasi ini terjadi beneran di French Open tahun ini. Siku kanannya terkena cedera di Madrid yang memaksanya untuk mundur dari Roma, turnamen pemanasan terakhir sebelum French Open. Dan di minggu pertama turnamen ini ia masih harus memulihkan cedera ini. Lalu, di minggu kedua, ia terkena penyakit flu yang amat parah. Tahu kan, flu yang parah banget yang membuat kita merasa tidak bisa meninggalkan tempat tidur. Dan kedua faktor ini menyebabkan situasi ketiga terjadi: ia tidak bermain dengan baik, bahkan bermain amat buruk.

Dan trus gimana dong performanya di turnamen ini tahun ini? Yah:

Serena Williams won her 20th grandslam singles title at the French Open. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe
Serena Williams menjuarai gelar tunggal grandslam ke-20nya di French Open. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe

Iya, walaupun ketiga situasi itu terjadi beneran, entah bagaimana ia masih bisa berhasil memenangi turnamennya! Gelar grandslam tunggal ke-20-nya! :shock:

Kok bisa sih? Ya, menurutku nih ya, ada satu faktor yang tidak pernah absen di dalam diri seorang Serena Williams: mental juaranya dan keinginannya yang kuat untuk menang (dan amat benci dengan yang namanya kekalahan). Semua orang sudah belajar bahwa Serena Williams itu tidak bisa dipandang sebelah mata, termasuk ketika ia menghadapi tiga match point untuk lawan (coba deh tanya Victoria Azarenka di Madrid tahun ini untuk itu). Ketika kualitas ini ia tunjukkan di lapangan, ia akan bertarung dengan amat gigih dan mencoba untuk menang, walaupun segala faktor tidak mendukungnya. Ia sudah menunjukkan kualitas ini berkali-kali di turnamen ini. Ia berhasil membuat permain tenis yang buruk menjadi kemenangan.

Wow, Serena Williams memang adalah seorang legenda. Ia bahkan tidak perlu bermain dengan level baiknya untuk menjuarai sebuah turnamen grandslam. “Menakutkan” bukan?

Tunggal Putra

Untukku, tahun ini adalah tahun terseru untuk tunggal putra di banyak tahun belakangan ini. Juara 9-kali, Rafael Nadal, berada dalam performa terburuknya dari 11 kunjungan terakhirnya ke Paris dimana tahun ini ia sama sekali tidak menjuarai turnamen tanah liat di musim tanah liat di Eropa musim semi ini. Ia kalah terhadap Novak Djokovic, Andy Murray, Fabio Fognini, dan Stan Wawrinka. Sebagai akibatnya, undiannya menjadi (jauh) lebih terbuka dengan peluang yang lebih tinggi bagi pemain lain untuk menang. Tetapi tetap saja sih, karena turnamen tunggal putra di grandslam itu adalah dengan sistem best-of-five-sets, menurutku ini bisa membantu Rafa untuk secara perlahan-lahan meningkatkan performanya.

Kenyataannya memang begitu, sayangnya itu tidak cukup. Walaupun Rafa berhasil mencapai perempat-final, ia harus menghadapi peringkat 1 dunia yang sedang bermain bagus sekarang ini, Novak Djokovic, dan kalah dalam tiga set langsung, hanya kekalahannya yang kedua dalam 11 tahun! Dengan kalahnya Roger Federer di perempat final, artinya tahun ini French Open akan melihat seorang juara baru. Untuk ini, Novak Djokovic mengendus sebuah kesempatan emas untuk mencapai suatu raihan langka: karir grandslam (memenangi setiap turnamen grandslam minimal satu kali). French Open adalah satu-satunya grandslam yang belum pernah ia menangi dan dengan Nadal yang memonopoli turnamen ini selama satu dekade belakangan, tahun ini jelas adalah kesempatan emas untuknya dong ya.

Ia masuk final, dimana ia menghadapi Stan Wawrinka, pemain yang mengalahkan Federer di perempat-inal. Difavoritkan untuk juara, entah bagaimana Wawrinka mampu mengagetkan Djokovic dan bermain dengan amat ciamik di final. Level permainannya Wawrinka sungguh tinggi dan ia nyaris tidak membuat kesalahan sama sekali. Sebagai akibatnya, si pemain Swiss ini menang dalam empat set; sehingga mimpinya Djokovic untuk karir grandslam harus ditunda dulu dari kenyataan.

Yeah, jadi, untuk kali kedua dimana Nadal kalah awal di French Open, seorang Swiss yang memanfaatkan kesempatan ini dan meraih gelar juaranya, haha :)

#1517 – 2015 ABN Amro WTT

ENGLISH

So what did I do this weekend? Well, the title pretty much gives it all. I went to this year’s edition of the ABN Amro World Tennis Tournament in Rotterdam.

Btw, I arranged this plan for this weekend literally one year ago, haha :lol: . At around this time last year (just a day after my visit to the same tournament last year), I decided to buy a first ring ticket for the tournament’s final stage this year. Why extremely early? Well, at that time I really wanted to make sure that I would get a good first ring seat for the final this year. I knew the demand for good seats, especially for the final stage, was really high. This is a very popular tennis tournament amongst fans in the Netherlands after all. The tournament itself is in a quite high category in the ATP Tour (ATP 500) so it also offers quite big ranking points and prize money. For instance, the singles champion this year would pocket €358,540 in prize money alone[1]. So it always attracts some top players to participate.

Anyway, because I went there on Sunday, this meant that I was there for the finals, in both disciplines: singles and doubles. Speaking of which, it means that it has literally been four years since the day I watched my first ever professional tennis tournament, which was also here in Rotterdam for the same tournament and the same stage, in 2011.

Because I bought my ticket very early, obviously I did not know whom I would watch. Hell I did not even know who would participate back then, haha. But then, as it turned out, my favorite male tennis player, Andy Murray, decided to come! Yes Andy!! :mrgreen: But then, he lost in the quarterfinals to Gilles Simon :( [2].

Nevertheless, I still got good match-ups for my ticket:

Doubles final: Jamie Murray (GBR)/John Peers (AUS) [LL] vs Jean-Julien Rojer (NED)/Horia Tecau (ROU) [3]
Singles final: Tomáš Berdych (CZE) [3] vs Stan Wawrinka (SUI) [4]

You see, even though I could not watch Andy Murray in the singles final, I still got a Murray in the final in the form of his older brother, Jamie Murray, haha :lol: .

***

Ahoy Rotterdam, the venue of the tournament
Ahoy Rotterdam, the venue of the tournament

I arrived at Ahoy Rotterdam, the venue of the tournament, at around 12 PM on Sunday. The session would start at 1 PM but I decided to arrive a little bit early because I sensed there was a small problem with my ticket. A few months back they said they would change my seat but then I did not receive any new ticket as a follow-up.

There was, indeed, a small problem but it did not matter; as they moved my seat again this time but it was to an even much better seat. So I was like “Sure, and thanks!“, haha :mrgreen: .

The Doubles Final

Anyway, at 1 PM, the doubles final started with both teams entering the court. For this final, I had mixed feeling because I really liked both teams. Couldn’t they both win? Damn, one of them had to lose! Haha :lol: .

The two teams went pretty even in most of the match, except for a small blip during Rojer’s serve earlier in the match, which caused them lost the first set 3–6. In the second set, during Murray’s serve down 3–4 30–30, however, I think he got a little bit tight due to the pressure and he got broken in that game. So Rojer/Tecau went away with the second set 6–3. As it was a regular doubles tournament, a third set super-tiebreak was played to determine the winner. Again, Murray/Peers made a few nervous errors early in the super-tiebreak. And even though they were able to hang in later on, it was a little too late for them. The third seed, Jean-Julien Rojer and Horia Tecau won 3–6, 6–3, [10–8] for their first title of 2015.

Jean Julien Rojer and Horia Tecau's reaction on their newest title
Jean Julien Rojer and Horia Tecau’s reaction on their newest title

Jamie Murray was so funny during his trophy ceremony though. So he apologized to his wife for not being able to spend the Valentine’s Day together the day before so, in his own words, “We would make up tonight“. Lol, seriously (if you know what I mean), like, in public, where everyone in the 15,818 seaters stadium could hear :lol: .

The Singles Final

There was about one hour in between the doubles and singles final. So I had to chance to fill my stomach with an overpriced hotdog, haha :lol: .

The singles final started at 3:30 PM where both players entered the court. I knew for sure it should be a very exciting final between the number 7 and the number 8 of the world based on their current world ranking. Stan Wawrinka won the toss and chose to serve first.

The first set went neck to neck almost the entire set, except at one game where Wawrinka had a bit of a blip and his serve there was broken. That was the only difference in the first set but it was enough to make Berdych sealed it 6–4.

Tomáš Berdych reaction upon taking the first set
Tomáš Berdych reaction upon taking the first set

The second set went similarly as the first where it was also very tight and there were a lot of aggressive battles between the two players. However, now it was Berdych’s turn to get some lapse in concentration (and a bit of bad luck too) that he was broken while serving down 3–4. Wawrinka then closed the second set 6–3.

Stan Wawrinka reaction upon taking the second set
Stan Wawrinka reaction upon taking the second set

Maybe because of the combination of frustration and (bad) luck, Berdych easily lost the momentum early in the third set, down by two breaks and 1–4. He fought back though after that and was able to get one of the breaks back. But being down two breaks turned out to be very costly as in the end, despite his fight, he could not recover from it. The Swiss won the match, and the tournament, 4–6, 6–3, 6–4.

Stan Wawrinka won his ninth single title in Rotterdam
Stan Wawrinka won his ninth single title in Rotterdam

***

So, in the end, it was such a fun Sunday for me. Both matches that I got went to the distance (so time-wise, my ticket was maximally worthed too), and both matches actually provided very good quality tennis between world class players!

I was a satisfied fans when I left Ahoy that evening :mrgreen: .

BAHASA INDONESIA

Aku ngapain aja akhir pekan kemarin? Yaa, dari judulnya sudah jelas sih ya. Aku pergi nonton edisi tahun ini dari ABN Amro World Tennis Tournament di Rotterdam.

Btw, rencana untuk nonton ini sudah aku susun semenjak satu tahun yang lalu loh, haha :lol: . Sekitar waktu-waktu sekarang tahun lalu (keesokan harinya setelah kunjunganku ke turnamen yang sama tahun lalu), aku memutuskan untuk membeli tiket first ring untuk babak final turnamen ini tahun ini. Lah, kok awal banget belinya? Yaa, habisnya waktu itu aku ingin memastikan bahwa aku akan mendapatkan tiket first ring yang kursinya oke untuk finalnya tahun ini. Aku tahu bahwa permintaan untuk tiket yang view-nya oke, apalagi di babak final, jelas tinggi banget dong ya. Ini adalah turnamen tenis yang amat populer di Belanda gitu loh. Turnamennya sendiri dikategorikan lumayan tinggi di tur ATP (ATP 500) jadi turnamennya menawarkan poin untuk perhitungan peringkat dunia dan hadiah uang yang lumayan besar. Misalnya saja, juara kategori tunggal tahun ini akan mengantongi hadiah senilai €358.540 (sekitar Rp 5,21 milyar)[1]. Jadilah turnamennya selalu menarik perhatiannya beberapa pemain papan atas juga.

Ngomong-ngomong, karena aku perginya hari Minggu, ini artinya aku akan disana untuk babak final turnamennya, di kedua event: tunggal dan ganda. Nah, ini artinya sudah tepat empat tahun loh semenjak hari dimana untuk pertama kalinya aku menonton turnamen tenis profesional, yang mana di Rotterdam ini juga, di turnamen yang sama, di babak yang sama, di tahun 2011.

Karena aku beli tiketnya awal banget, jelas aku nggak tahu siapa yang akan aku tonton. Bahkan aku juga nggak tahu loh siapa aja yang akan berpartisipasi di turnamen tahun ini, haha. Tetapi kemudian, ternyata petenis favoritku, Andy Murray, memutuskan untuk ikutan main! Hore!! :mrgreen: Eh, tetapi dia kemudian kalah di perempat-final dari Gilles Simon :( [2].

Walaupun begitu, toh aku mendapatkan pertandingan yang menarik juga untuk tiketku:

Final Ganda: Jamie Murray (GBR)/John Peers (AUS) [LL] vs Jean-Julien Rojer (NED)/Horia Tecau (ROU) [3]
Final Tunggal: Tomáš Berdych (CZE) [3] vs Stan Wawrinka (SUI) [4]

Nah kan, walaupun aku tidak bisa menonton Andy Murray di final, toh aku masih mendapatkan seorang Murray di final, yaitu kakaknya, Jamie Murray, haha :lol: .

***

Ahoy Rotterdam, the venue of the tournament
Ahoy Rotterdam, tempat diadakannya turnamen ini

Aku tiba di Ahoy Rotterdam, tempat diadakannya turnamen ini, sekitar jam 12 siang di hari Minggu. Pertandingannya dijadwalkan mulai jam 1 siang sih tetapi aku memutuskan untuk memang datang agak awal karena aku merasa ada sedikit masalah dengan pemesanan tiketku. Beberapa bulan yang lalu aku dibilangi bahwa kursiku diubah tetapi setelahnya aku tidak mendapatkan tiket yang baru.

Ternyata memang beneran ada masalah kecil tetapi ini tidak apa-apa; dimana mereka memang harus memindahkan kursiku lagi kali ini tetapi kali ini aku dipindahkan ke kursi yang bahkan view-nya jauh lebih kuereen. Jadi jelas aku mengucapkan “Silakan saja, dan trims!” dong ya ke petugas tiketnya, haha :mrgreen: .

Final Ganda

Jam 1 siang, babak final turnamen gandanya dimulai dengan kedua tim memasuki arena. Untuk final ini, aku galau banget soalnya aku suka dengan kedua tim. Dua-duanya nggak bisa menang aja ya? Sial, kok salah satu harus kalah sih! Haha :lol: .

Kedua tim bermain dengan amat imbang di keseluruhan pertandingan, kecuali satu waktu sebentar di servisnya Rojer di awal pertandingan dimana servisnya terpatahkan sehingga timnya kalah 3–6 di set pertama. Di set kedua, di saat servisnya Murray ketika posisinya tertinggal 3–4 30–30, sepertinya ia merasa sedikit grogi dan servisnya terpatahkan di game itu. Jadilah giliran Rojer/Tecau yang kemudian mengambil set kedua 6–3. Karena ini adalah turnamen ganda reguler, set ketiga dimainkan dengan format super-tiebreak. Lagi, Murray/Peers membuat beberapa kesalahan sendiri akibat grogi di awal-awal super-tiebreak-nya. Dan walaupun pada akhirnya mereka berhasil menenangkan rasa grogi itu dan memberikan perlawanan maksimal, semuanya sudah agak terlambat untuk mereka. Tim unggulan ketiga, Jean-Julien Rojer dan Horia Tecau, pada akhirnya menang 3–6, 6–3, [10–8] untuk gelar pertama mereka di tahun 2015.

Jean Julien Rojer and Horia Tecau's reaction on their newest title
Reaksi Jean Julien Rojer dan Horia Tecau setelah mereka memenangi gelar terbaru mereka

Btw, Jamie Murray lucu banget loh ketika memberikan speech setelah mendapatkan piala. Masak ya dia meminta maaf ke istrinya karena tidak bisa melewatkan Hari Valentine berdua sehari sebelumnya sehingga, ini kata-katanya sendiri loh ya (yang aku terjemahin ke bahasa Indonesia), “Akan kita tebus malam ini yah“. Lol, serius loh (if you know what I mean), di depan umum, dimana semua orang di dalam stadion yang muat 15.818 orang bisa dengar :lol: .

Final Tunggal

Ada jeda waktu sekitar satu jam antara final ganda dan tunggalnya. Jadilah aku berkesempatan untuk mengisi perutku dengan sebuah hotdog yang harganya overpriced, haha :lol: .

Final tunggalnya dimulai jam 3:30 sore dimana kedua pemain memasuki lapangan. Aku tahu bahwa ini akan menjadi pertandingan yang seru antara pemain nomor 7 dan nomor 8 berdasarkan daftar peringkat dunia minggu lalu. Stan Wawrinka memenangi coin toss dan memilih untuk servis duluan.

Set pertama berlangsung amat ketat di hampir keseluruhan set, kecuali di satu game dimana Wawrinka sedikit kehilangan konsentrasi dan servisnya patah. Hanya ini saja perbedaan di set pertama tetapi sudah cukup bagi Berdych untuk memenanginya 6–4.

Tomáš Berdych reaction upon taking the first set
Reaksi Tomáš Berdych setelah memenangi set pertama

Set kedua berlangsung mirip seperti set pertama dimana pertandingan berlangsung amat ketat dan ada banyak sekali pertarungan tenis agresif di antara kedua pemain ini. Namun, kini giliran Berdych yang sedikit kehilangan konsentrasi (dan sedikit kesialan sih) dimana servisnya patah ketika posisinya 3–4. Wawrinka lalu mengantongi set kedua 6–3.

Stan Wawrinka reaction upon taking the second set
Reaksi Stan Wawrinka ketika memenangi set kedua

Mungkin akibat kombinasi dari rasa frustrasi dan nasih sial, Berdych langsung kehilangan momentumnya di awal babak ketiga, dimana dua servisnya terpatahkan dan ia langsung tertinggal 1–4. Ia masih terus memberikan perlawanan semaksimal mungkin sih dan berhasil mematahkan satu servisnya Wawrinka setelah itu. Tetapi sudah terlanjur dua servisnya yang terpatahkan ternyata merupakan situasi yang sudah terlalu buruk dimana, walaupun perlawanan keras yang ia berikan, ia tidak bisa memulihkan keadaan lagi. Si petenis dari Swiss memenangi pertandingannya, dan turnamen ini, 4–6, 6–3, 6–4.

Stan Wawrinka won his ninth single title in Rotterdam
Stan Wawrinka memenangi gelar tunggal kesembilannya di Rotterdam

***

Jadi, akhirnya, hari Minggu lalu adalah hari Minggu yang seru deh. Kedua pertandingannya berlangsung panjang (jadi dari segi waktu, tiketku termaksimalkan dong ya), dan kedua pertandingan juga menunjukkan pertandingan tenis dengan kualitas tinggi di antara pemain-pemain level dunia! !

Aku adalah seorang fans yang terpuaskan deh ketika meninggalkan Ahoy malam itu :mrgreen: .

#1509 – 2015 Australian Open

ENGLISH

So, it is that time of the year again. Earlier today, the first grandslam tennis tournament of the year, the Australian Open, was concluded with the men’s singles final. And as usual, here is a short recap about it :)

Women’s Singles

Just like last year, there were quite a lot of upsets in the first week on the women’s draw. A number of big names, like Ana Ivanovic and Petra Kvitova, surprisingly lost early. Caroline Wozniacki lost in the second round but to her defense, she lost to the unseeded Victoria Azarenka. Such a bad luck on the draw there. However, still, at least in the end, the seeding stayed strong with the final involving the top two seeds in the draw: the world no.1, Serena Williams, and the world no.2, Maria Sharapova.

Even though they were the two best players in the world, the head to head between them was very lopsided. Prior to the final, they had met 18 times in their career, and Serena Williams won 16 of them. In fact, she won the last 15 times they played which dated back at the semifinals match of the 2005 Australian Open, which was literally a decade ago. So that is why Serena was the heavy favorite to win this title. However, things went a little bit more complicated with Serena being sick this week as it seems that she caught a flu there in Melbourne, causing her to caugh a lot during her matches. So, could it be Sharapova’s chance then?

The final turned out to be a very exciting match. I had to say it was probably the closest match between the two of their last several meetings. Even though Serena Williams was sick, her serve was clicking, as she served a total of 18 aces in the match alone. In the end, the world no.1 won the match 6–3, 7–6(7–5) for her 19th grandslam singles title and her 6th Australian Open title!

Congratulations, Serena!

Btw, honestly, I cannot believe it had been five years since Serena’s triumph at the Australian Open. She won her fifth crown there back in 2010 where she defeated Justine Henin in the final. The Australian Open used to be her playground, but it seems that in the past a few years, it had not. But finally, she reaffirmed her position in the tournament this year :) .

Men’s Singles

The previous grandslam tournament, the 2014 US Open, showed that anything was possible. The dominance of the Big Four showed some vulnerabilities after all these years. So it made the tournament much more interesting in that sense.

Roger Federer lost in the third round, his earliest exit at the tournament in 14 years. Rafael Nadal lost in the quarterfinals to Tomas Berdych in straight sets. However, the last two members of the Big Four held strong, where Novak Djokovic and Andy Murray met in the final. Btw, it was their third Australian Open final meeting!

Unfortunately for Murray though, this third meeting went just like the first two, outcome-wise. Even though actually the match was very close in the first two and a half sets. Murray missed a few opportunities in the middle of the third set and somehow Djokovic seized all the momentum from thereon, thus winning his fifth Australian Open title 7–6(7–5), 6–7(4–7), 6–3, 6–0.

Congratulations Nole!

Serena Williams won her 19th grandslam singles title at the Australian Open in 2015. It was her sixth singles title at the tournament. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images AsiaPac
Serena Williams won her 19th grandslam singles title at the Australian Open in 2015. It was her sixth singles title at the tournament. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images AsiaPac
Novak Djokovic won his 8th grandslam singles title at the Australian Open in 2015. It was her fifth singles title at the tournament. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images AsiaPac
Novak Djokovic won his 8th grandslam singles title at the Australian Open in 2015. It was her fifth singles title at the tournament. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images AsiaPac

BAHASA INDONESIA

Yak, sudah waktu-waktu sekarang lagi nih. Tadi, turnamen grandslam tenis pertama tahun ini, Australian Open, telah selesai dengan dimainkannya final partai tunggal putra. Dan seperti biasa, berikut ini rekap singkat tentangnya :) .

Tunggal Putri

Seperti tahun lalu, ada cukup banyak kejutan di minggu pertama turnamen ini di partai tunggal putri. Beberapa nama besar, seperti Ana Ivanovic dan Petra Kvitova, secara mengejutkan tumbang awal. Caroline Wozniacki kalah di babak kedua tetapi ia kalah dari Victoria Azarenka yang di turnamen kali ini tidak diunggulkan. Jadi hanya nasib sial saja deh itu. Namun, toh pada akhirnya daftar unggulannya bertahan hingga akhir dimana finalnya melibatkan dua pemain unggulan teratas: pemain peringkat 1 dunia, Serena Williams, dan peringkat 2 dunia, Maria Sharapova.

Eh, walaupun mereka adalah dua pemain putri terbaik di dunia, rekor pertandingan di antara mereka sungguh berat sebelah loh. Sebelum final ini, mereka sudah bertemu 18 kali di sepanjang karir mereka, dan Serena Williams menang di 16 pertandingan di antaranya. Malah, sebenarnya 15 pertandingan terakhir mereka dimenangkan oleh Serena, dimana kemenangan beruntun ini dimulai di babak semifinal turnamen Australian Open tahun 2005, yang mana diadakan, dalam artian sebenarnya, satu dasawarsa lalu. Inilah mengapa Serena amat difavoritkan untuk memenangi pertandingan ini. Namun, beberapa hal kecil membuat final ini sedikit lebih rumit karena ternyata Serena sedang sakit minggu ini dimana ia terkena flu dan batuk-batuk cukup parah di beberapa pertandingannya. Jadi, apakah ini adalah kesempatan emas bagi Sharapova?

Pertandingan finalnya ternyata adalah pertandingan yang seru. Harus aku akui bahwa ini adalah pertandingan terketat di antara keduanya di beberapa pertemuan terakhir mereka. Walaupun Serena Williams sedang sakit, tetapi servisnya masih on, dimana ia membuat 18 pukulan ace dengannya. Pada akhirnya, si pemain peringkat 1 dunia menang 6–3, 7–6(7–5) untuk gelar tunggal grandslam ke-19-nya dan gelar Austalian Open ke-6-nya!

Selamat, Serena!

Btw, sejujurnya, aku amat kaget bahwa sudah lima tahun semenjak terakhir kalinya Serena juara di Australian Open. Terakhir kali ia juara disana adalah di tahun 2010 dimana ia mengalahkan Justine Henin di final. Dulu Australian Open adalah taman bermainnya, tetapi beberapa tahun belakangan ini, ia selalu mengalami beberapa masalah disana. Yah, pada akhirnya, ia menegaskan posisinya lagi di turnamen ini tahun ini :) .

Tunggal Putra

Turnamen grandslam yang lalu, 2014 US Open, menunjukkan bahwa segala sesuatu adalah mungkin. Dominasi Big Four menunjukkan sedikit kelemahan setelah sekian lama. Jadilah ini membuat turnamen ini lebih menarik.

Roger Federer kalah di babak ketiga, kekalahan terawalnya di turnamen ini dalam 14 tahun. Rafael Nadal kalah di perempat final dari Tomas Berdych. Namun, dua anggota lainnya dari Big Four masih terlalu kuat, dimana Novak Djokovic dan Andy Murray bertemu di final. Btw, ini adalah kali ketiga pertemuan mereka di final di turnamen ini loh!

Malang untuk Murray, pertemuan ketiga mereka ini berlangsung sama seperti dua pertemuan pertama, dari segi hasil. Walaupun pertandingannya berlangsung dengan amat ketat di dua setengah set pertama sih. Murray melewatkan beberapa kesempatan emas di pertengahan set ketiga dan dari situ, Djokovic mengambil alih semua momentum dan memenangi gelar kelima Australian Open-nya dengan skor 7–6(7–5), 6–7(4–7), 6–3, 6–0.

Selamat Nole!

#1441 – 2014 US Open

ENGLISH

So this is the time of the year again, where the final grandslam tournament of the year, the 2014 US Open, has just been concluded. And as usual, here is a short review about it :)

Women’s Singles

All eyes were set on Serena Williams. After finishing 2013 brilliantly, she was subpar in the first three grandslam tournaments this year; losing in the fourth round, second round, and third round of the Australian Open, French Open, and Wimbledon, respectively. She has not had a totally disastrous year overall though, as she performed quite decently on the regular WTA tournaments. However, as a player at her calibre, who is chasing tennis record to break; grandslam performance obviously gets the priority.

After the disappointing Wimbledon, she has built her tennis form, collecting a 12-1 win/loss record on the US Open warming up tournaments; with the one loss came in the hand of her sister, Venus Williams, in the semifinals of Montreal. So she was in a good form coming to the US Open. But the cloud of doubt still lingered as the US Open was a grandslam; and she hasn’t been performing well at the grandslams this year.

Speaking of which, the draw fell apart once again. The second and third seed, Simona Halep and Petra Kvitova, lost in the third round. The fourth seed, Agnieszka Radwanska, even lost in the second round. The fifth seed, Maria Sharapova, lost in the fourth round. In fact, Serena Williams was the only top 8 seed that advanced to the quarterfinals round. In the end, Serena reached the final by not only without dropping a set, but also not dropping more than three games per set. She would face her very good friend, Caroline Wozniacki, who was competing in her second grandslam final, after the same tournament five years ago. Serena was able to continue this streak, beating Wozniacki 6–3, 6–3 in the final.

This title means Serena has just set a very historical milestone in her legendary career:
– This is her 18th grandslam singles title, thus officially tying two tennis legends, Chris Evert and Martina Navratilova; the second most in the Open Era (only behind Steffi Graf at 22)
– By winning the tournament AND performing the best during the US Open Series, she received a total prize money of $4,000,000. The most any tennis player, male or female, has received in a single event in a tournament in history! (Last year she shared the, then, record of $3,600,000 with Rafael Nadal).

Men’s Singles

Due to the nature of the Big Four’s dominance basically in the last many years, it was, again, a bit hard to see someone else other than them (except for Nadal, who withdrew from the tournament due to an injury) lifting the trophy in the end. However, this year, the dominance seems to have entered the resurgence phase, where more players were able to challenge them in the big stages. But still, nevertheless, they (especially Novak Djokovic and Roger Federer) were the favorites.

Both of them did advance to the semifinals where Djokovic would face Kei Nishikori and Federer would face Marin Čilić. It appeared as it would be another Djokovic – Federer final. But boy oh boy, this was tennis; and everyone must play the actual tennis match before being declared a winner is for a reason, a good one. First, Nishikore upsetted Djokovic in four sets. Later on, Čilić defeated Federer in straight sets! :shock: One word: WOW!! So finally, for the first time since the Australian Open 2005 (that was literally 9.5 years ago), the final of a grandslam men’s singles does not involve either Novak Djokovic, Rafael Nadal, Roger Federer, or Andy Murray!

I did not watch the final though (because it was Monday night in the Netherlands, and I had to work on Tuesday), but in the end, Marin Čilić won his first grandslam title with a 6–3, 6–3, 6–3 victory over Kei Nishikori.

Men’s Doubles

Back to a legendary achievement, Bob & Mike Bryan also reached a very big milestone in this tournament. They won their 16th grandslam doubles title together; and on top of that, this title was their 100th title together! :shock: Wow that is some records!

BAHASA INDONESIA

Sudah tanggal-tanggal segini lagi, jadi artinya turnamen grandslam terakhir tahun ini, US Open 2014, baru saja berakhir. Dan seperti biasanya, berikut ini review tentangnya :)

Tunggal Putri

Semua mata tertuju pada Serena Williams. Setelah ia mengakhiri tahun 2013 dengan brilian, ia tampil mengecewakan di ketiga turnamen grandslam lainnya tahun ini; kalah di babak keempat, babak kedua, dan babak ketiga dari Australia Terbuka, Prancis Terbuka, dan Wimbledon, secara berturutan. Sebenarnya secara keseluruhan musim ini nggak parah-parah amat sih baginya, karena toh ia mendapatkan hasil yang tidak buruk di turnamen-turnamen regulernya WTA. Namun, pemain sekaliber dirinya, yang saat ini sedang mengejar untuk memecahkan rekor-rekor di tenis; tentu saja performa di turnamen grandslam lah yang mendapatkan prioritas.

Setelah turnamen Wimbledon yang amat mengecewakan, permainan tenisnya ia bangun kembali, dan akhirnya mengantongi rekor menang/kalah 12-1 di turnamen-turnamen pemanasan US Open; dengan satu-satunya kekalahan ia derita dari kakaknya sendiri, Venus Williams, di babak semifinal di Montreal. Jadi ia berada dalam kondisi yang baik memasuki US Open ini. Tetapi keraguan masih tetap menghantuinya karena US Open adalah turnamen grandslam; padahal tahun ini ia belum tampil baik di grandslam.

Ngomong-ngomong, undian di grandslam terbuka kembali tahun ini. Unggulan kedua dan ketiga, Simona Halep dan Petra Kvitova, kalah di babak ketiga. Unggulan keempatnya, Agnieszka Radwanska, bahkan kalah di babak kedua. Unggulan lima, Maria Sharapova, kalah di babak keempat. Bahkan, Serena Williams adalah satu-satunya pemain unggulan 8 besar yang masuk babak perempat-final loh. Dan akhirnya, Serena berhasil masuk final tidak hanya dengan tanpa kehilangan satu set pun, tetapi kehilangan tidak lebih dari tiga games di setiap set tersebut. Ia akan melawan teman baiknya di final, Caroline Wozniacki, yang berada di final grandslam keduanya, setelah turnamen yang sama lima tahun lalu. Serena mampu mempertahankan momentum ini, dan ia mengalahkan Wozniacki 6–3, 6–3 di final.

Gelar ini berarti Serena baru saja menorehkan sejarah penting di karier legendarisnya:
– Ini adalah gelar grandslam tunggal ke-18-nya, artinya kini ia menyamai dua petenis legendaris, Chris Evert dan Martina Navratilova; kedua terbanyak di Era Terbuka (hanya tertinggal dari Steffi Graf yang mengoleksi 22 gelar)
– Dengan memenangi turnamen ini DAN tampil terbaik di US Open Series, ia menerima total hadiah sebesar $4 juta loh. Ini adalah rekor hadiah terbanyak yang pernah dimenangi seorang atlet tenis, baik putra maupun putri, dari satu event di satu turnamen! (Tahun lalu ia memegang rekor ini, yaitu $3,6 juta, bersama dengan Rafael Nadal).

Tunggal Putra

Karena dominasi Big Four selama banyak tahun belakangan, rasanya, lagi-lagi, sulit untuk melihat seseorang selain mereka (kecuali Nadal, yang mundur dari turnamen ini karena cedera) mengangkat piala turnamen ini di akhir turnamen. Namun, tahun ini, dominasi mereka nampak mulai mengendor, dimana ada beberapa pemain yang mulai unjuk gigi melawan mereka di panggung-panggung besar. Tetapi, rasanya masih saja merekalah (terutama Novak Djokovic dan Roger Federer) yang difavoritkan untuk menang.

Keduanya lolos ke babak semifinal dimana Djokovic akan melawan Kei Nishikori dan Federer melawan Marin Čilić. Awalnya, finalnya nampak akan menjadi final Djokovic – Federer lagi. Tetapi ini adalah tenis; dan semuanya masih harus memainkan pertandingan sebelum dinyatakan sebagai pemenang karena sebuah alasan, dan sebuah alasan yang baik. Pertama-tama, Nishikori mengejutkan Djokovic dengan menang dalam empat set. Kemudian, Čilić mengalahkan Federer melalui straight sets! :shock: Satu kata: WOW!! Jadi akhirnya, untuk pertama kalinya semenjak Australian Open 2005 (artinya lebih dari 9,5 tahun yang lalu!), final tunggal putra sebuah turnamen grandslam tidak melibatkan Novak Djokovic, Rafael Nadal, Roger Federer, atau Andy Murray!

Aku sendiri tidak menonton finalnya sih (karena ditayangkan Senin malam waktu Belanda, dan kan aku harus kerja di hari Selasa), tetapi pada akhirnya, Marin Čilić memenangi gelar grandslam pertamanya dengan skor 6–3, 6–3, 6–3 atas Kei Nishikori.

Ganda Putra

Kembali ke pencapaian yang legendaris, Bob & Mike Bryan juga baru saja mencapai pencapaian amat besar di turnamen ini. Mereka memenangi gelar grandslam ke-16-nya mereka; dan di atas itu, ini adalah gelar mereka yang ke-100! :shock: Keren banget ya rekornya!

#1412 – 2014 Wimbledon Championships

ENGLISH

Today, the third grandslam tournament of the year, the Wimbledon Championships, was concluded. As usual, here is a review and some of my takes on it.

Ladies’ Singles

The ladies’ singles was, as usual, very open. Even though Serena Williams was (still) the favorite coming to the tournament, she hadn’t been performing well in the grandslam this year. So she wasn’t as a heavy favorite coming to this tournament as last year.

In the end, the ladies’ singles draw fell apart once again. Serena Williams lost in the third round to Alize Cornet; in a match which, in my opinion, was strange because Serena was not herself in the second and third set by playing so passively. She was brilliant in the first set though, dominating the match which was the reason why she won it handily 6–1. So that is why I (still) do not understand why suddenly she “changed” this in the second and third (which ultimately cost her the match). Maria Sharapova lost in the fourth round to Angelique Kerber; Li Na lost in the third round as well. The best match of the tournament, in my opinion, was between the 2011 champion, Petra Kvitova, and the five time Wimbledon champion, Venus Williams. Too bad it had to happen in the third round. It was a high-quality match throughout, and in the end Kvitova won 5–7, 7–6(2), 7–5.

In the end, Petra Kvitova reached her second Wimbledon and grandslam final, where she would face a young rising Canadian, Eugenie Bouchard. Bouchard has been quite consistent this year, reaching the semifinals of the Australian Open and French Open as well (though, arguably, she also profited a little bit from her open draw; but nevertheless, she still did her job, which was winning these matches :) ). Anyway, in the final, Kvitova played magnificently and showed that at the moment, she was in a different class than Bouchard. In the end, Kvitova won her second Wimbledon and grandslam title after beating Bouchard 6–3, 6–0 in just 55 minutes.

Gentlemen’s Singles

Andy Murray was the defending champion and he came to this tournament having just appointed Amelie Mauresmo as his coach; a decision which was quite controversial in the sense that Amelie is a woman (I mean, come on people. Does gender really matter? :roll: ). He performed very well in the first week but lost to Grigor Dimitrov in the quarterfinals. Rafael Nadal also had a bad Wimbledon for the third straight time, failing to reach the quarterfinals after losing in four sets to a young rising player from Australia, Nick Kyrgios.

But in the end, the Big Four still pretty much showcased their dominance, where Novak Djokovic and Roger Federer reached the final. The final was an exciting match; and it offerred some drama as well. Djokovic was up 5–2 in the fourth set where he was already 2 sets up. He was serving for the match at 5–3 but then got broken, and at 5–4 on Federer’s serve, he got a championship point; which Federer saved with an ace. Federer won five games in a row in that set and sealed it 7–5! Djokovic also called the trainer early in the fifth set. But in the end, he was able to hang in there and finally won the match 6–7(7), 6–4, 7–6(4), 5–7, 6–4 to claim his second Wimbledon title.

Petra Kvitova won her second Wimbledon title in 2014. Photo credit: Pool/Getty Images Europe
Petra Kvitova won her second Wimbledon title in 2014. Photo credit: Pool/Getty Images Europe
Novak Djokovic won his second Wimbledon title in 2014. Photo credit: Al Bello/Getty Images Europe
Novak Djokovic won his second Wimbledon title in 2014. Photo credit: Al Bello/Getty Images Europe

BAHASA INDONESIA

Hari ini, turnamen grandslam ketiga tahun ini, Kejuaraan Wimbledon, telah selesai. Seperti biasa, berikut ini review singkatku beserta pendapatku tentangnya.

Tunggal Putri

Tunggal putri, seperti biasa, sangat terbuka tahun ini. Walaupun Serena Williams (masih) yang paling difavoritkan, sejauh ini tahun ini ia masih belum mendapatkan hasil yang memuaskan di turnamen-turnamen grandslam. Jadi ia tidak difavoritkan dengan amat berat di turnamen ini, tidak seperti tahun lalu.

Pada akhirnya, sisi tunggal putrinya benar-benar terbuka lagi. Serena Williams kalah di babak ketiga dari Alize Cornet; di sebuah pertandingan yang, menurutku, sangat aneh karena Serena tidak seperti dirinya sendiri di set kedua dan ketiga dimana ia bermain dengan amat pasif. Ia bermain dengan brilian di set pertama sih, sehingga bisa memenanginya dengan mudah 6–1. Makanya aku (masih) belum mengerti mengapa kok tiba-tiba ia “mengubah” permainannya di set kedua dan set ketiga itu yang mana akhirnya mengakibatkan ia kalah. Maria Sharapova kalah di babak keempat dari Angelique Kerber; dan Li Na kalah di babak ketiga juga. Pertandingan terserunya sendiri, menurutku, sih antara juara tahun 2011, Petra Kvitova, dan juara Wimbledon lima kali, Venus Williams. Sayang banget pertandingan klasik ini harus terjadi di babak ketiga. Kualitasnya sungguh tinggi di sepanjang pertandingan, dan pada akhirnya Kvitova menang tipis 5–7, 7–6(2), 7–5.

Pada akhirnya, Petra Kvitova mencapai babak final Wimbledon dan grandslam keduanya, dimana ia akan bermain melawan pemain muda dari Kanada, Eugenie Bouchard. Bouchard sendiri telah tampil cukup konsisten tahun ini, dimana ia juga mencapai babak semifinalnya Australian Open dan French Open juga (walaupun bisa dikatakan ia beruntung sih karena sisi undiannya terbuka lebar; tetapi walaupun begitu toh hanya ia yang mampu meyelesaikan tugasnya, yaitu bermain dan terus menang :) ). Ngomong-ngomong, di final, Kvitova bermain dengan amat luar biasa dan menunjukkan pada waktu itu bahwa ia berada di kelas yang berbeda dari Bouchard. Pada akhirnya, Kvitova memenangi gelar Wimbledon dan grandslam keduanya dengan mengalahkan Bouchard 6–3, 6–0 hanya dalam waktu 55 menit.

Tunggal Putra

Andy Murray adalah juara bertahan dan ia masuk ke turnamen ini dengan baru saja menunjuk Amelie Mauresmo sebagai pelatihnya; sebuah keputusan yang cukup kontroversial karena Amelie adalah seorang wanita (Duh, plis deh ya masak zaman sekarang hal beginian masih dipermasalahkan sih? :roll: ). Ia bermain dengan amat baik di minggu pertama tetapi kemudian kalah dari Grigor Dimitrov di perempat final. Rafael Nadal juga mengalami Wimbledon yang buruk untuk ketiga tahun berturut-turut dimana ia kalah sebelum perempat final. Kali ini ia kalah dalam empat set dari pemain muda asal Australia, Nick Kyrgios.

Toh pada akhirnya, Big Four di tenis putra masih menunjukkan dominasinya, dimana Novak Djokovic dan Roger Federer berhasil menembus putaran final. Finalnya berlangsung amat seru; dan ada dramanya juga loh. Djokovic sebenarnya unggul 5–2 di set keempat dimana ia sudah memenangi 2 set. Ia memegang servis untuk memenangi pertandingan di posisi 5–3 tetapi servisnya dipatahkan, dan di posisi 5–4 di servisnya Federer sebenarnya ia mendapatkan sebuah championship point; yang mana diselamatkan Federer dengan sebuah pukulan ace. Federer memenangi lima games berturut-turut di set keempat itu dan memenanginya 7–5! Djokovic juga memanggil trainer di awal set kelima. Tetapi pada akhirnya ia mampu bertahan disana dan akhirnya menang 6–7(7), 6–4, 7–6(4), 5–7, 6–4 untuk merebut gelar Wimbledon keduanya.

#1406 – Side Stories from My Paris Roland Garros Trip

ENGLISH

Photos

I usually take many pictures when I am travelling (but not pictures of myself though, more about the objects I see). And it, apparently, intensifies significantly everytime I am visiting a tennis tournament, haha :P . So obviously I took a lot of photos during my three day visit to Roland Garros. Can anyone guess how many photos I took with my camera during my three day visit to Roland Garros (well, plus the two days before and after my visit)?

Well, it was 1,866. Yes, one thousand eight hundred and sixty six! Hahaha :P

Around The Ground of Stade Roland Garros

One of the (many) benefits of actually visiting a tennis tournament, especially a grandslam, is the opportunity to see what is going on in the venue other than the tennis matches. Here is one of them:

One essential party that is involved in any official tour-level match is the ballkids. Just like the players, they need to also move and run a lot during the match. Which further implies that they also need to do their own warm-ups.

In the morning, before the matches started, aside from watching a lot of players warming up, I was also able to watch (or see) these ballkids warming up. And this video was one of the occassion. It looks quite fun, doesn’t it? Even though I have no idea what the lyrics of the jingle is about (though I am sure it is something about Roland Garros :P ).

The “Mexican Wave”

One thing that I like from watching tennis in Court Philippe Chatrier is that sometimes, the fans like to enjoy themselves too by making the “Mexican wave” during the break, hahaha :lol: . And of course I joined them! :)

Roland Garros, Paris
One of the 1,866 photos that I took during the fortnight

BAHASA INDONESIA

Foto

Biasanya memang aku mengambil banyak foto ketika sedang bepergian (eh tapi bukan foto diri sendiri sih, kebanyakan sih tentang obyek yang aku lihat). Dan ini, ternyata, menjadi jauh lebih intens setiap kali aku mengunjungi sebuah turnamen tenis, haha :P . Jadi tentu saja kali ini pun bukanlah sebuah pengecualian, dimana aku mengambil banyak foto juga di kunjungan tiga hariku ke Roland Garros. Dan adakah yang bisa menebak berapa banyak foto yang aku ambil selama tiga hari itu (plus dua hari ding, sebelum dan setelahnya)?

Yah, jawabannya adalah 1.866. Iya loh, seribu delapan ratus enam puluh enam! Hahaha :P

Di Sekeliling Stade Roland Garros

Satu dari (banyak sekali) keuntungan mengunjungi turnamen tenis, terutama grandslam, adalah kesempatan untuk melihat dan mengalami apa saja yang terjadi di kompleks turnamennya di samping pertandingan-pertandingan tenisnya. Berikut ini satu di antaranya:

Salah satu bagian amat penting dari pertandingan tenis level tur dunia adalah para ballkids. Seperti para pemain tenisnya, mereka juga harus banyak bergerak dan berlari di sepanjang pertandingan. Yang mana artinya mereka juga membutuhkan pemanasan sendiri kan ya.

Di pagi harinya, sebelum pertandingan pertama dimulai, di samping berkesempatan melihat banyak pemain pemanasan, aku juga bisa melihat para ballkids ini mempersiapkan diri juga. Dan video di atas adalah salah satunya. Kayaknya seru ya? Walaupun aku nggak tahu sih yel-yelnya itu liriknya apa (walaupun aku yakin 100% bahwa yelnya berkenaan dengan Roland Garros :P ).

“Mexican Wave”

Satu hal yang aku suka dari menonton tenis di Lapangan Philippe Chatrier adalah kadang-kadang, para penontonnya juga ikutan memeriahkan suasananya loh dengan membuat “Mexican wave” di kala waktu istirahat, hahaha :lol: . Dan tentu saja aku ikutan!`:)

#1403 – 2014 Paris Roland Garros Trip (Part III)

ENGLISH

Previously on 2014 Paris Roland Garros Trip: Zilko went to Paris during the Ascension Day long weekend to watch the second grandslam tournament of the year, the French Open. He had spent two full days at Stade Roland Garros and now was ready to go on his third and final day of visit this year.

***

Day 4 (Saturday, 31 May 2014)

My morning went pretty much similarly as the previous two days. Well, except that this morning I also checked in for my flight back to the Netherlands tomorrow (with KLM/Air France we can check-in online since 30 hours prior to departure). This was especially important for me because I always wanted to pick my own seat! Hahaha :P . Anyway so I arrived a little bit later at the queue today, at around 9:20. But I was still quite at the front of the line so it was fine.

Btw, here is the schedule for my Philippe Chatrier seat today:

The line-up at Court Philippe Chatrier today
The line-up at Court Philippe Chatrier today

It was still a good lineup obviously. But in a way I was a little bit disappointed that they did not put Andy Murray on Court Philippe Chatrier. I mean, up to this point, he had never played in Philippe Chatrier this year (it was Suzanne Lenglen in round 1, Court No.1 in round 2, and now Suzanne Lenglen again in round 3). Damn! :(

Anyway, again, at around 9:40 they opened the gate. And, again, my ritual was pretty much the same. I went around the venue to see the players warming up and preparing themselves. This morning I saw Petra Kvitova, Lucie Hradecka, Cara Black, Jean-Julien Rojer, and Horia Tecau. Yeah, not so many that I saw this morning.

Being a Mom on the WTA Tour. Cara Black with her husband and toddler.
Being a Mom on the WTA Tour. Cara Black with her husband and toddler.

At around 10:45, I went to my seat at Philippe Chatrier. This seat was very close to my seat on Day 3 (so it provided pretty much similar view), but better because now I got row 1! :shock: Haha. Btw the other benefit of sitting in row 1 is that I can use the “fence” in front of me as my personal footrest, huahaha :P .

Anyway, at 11:00, both players for the first match at Philippe Chatrier entered the ground: the fifth seed, Petra Kvitova, and the 27th seed and 2009 champion here, Svetlana Kuznetsova.

And this match, ladies and gentlemen, turned out to be the most epic WTA match I had ever seen live in person in my life!! It was a tight match with such high quality that ended in three sets!

Svetlana Kuznetsova
Svetlana Kuznetsova

The first set went quite tight. Even though Kvitova got an early break, Kuznetsova was able to break back. And they went toe-to-toe so that a tiebreak had to be played. Kvitova played a good tiebreak and won it 7–3. Despite so, actually Kuznetsova won 47 points in the set while Kvitova only won 46 points. This means that Kvitova played the important points better.

At the start of the second set, maybe a small thing bothered Kvitova so she had to call a trainer. They then went to the locker room for awhile and Kvitova came back with her right hip being taped. She appeared to be bothered at first; and this made Kuznetsova easily sealed the second set 6–1. So a third set must be played.

Watching the most epic WTA match I have ever seen LIVE in person. A tight match between Petra Kvitová and Svetlana Kuznetsova.
Watching the most epic WTA match I have ever seen LIVE in person. A tight match between Petra Kvitová and Svetlana Kuznetsova.

And the third set could not be any more better! Kvitova got her rhythm again and went firing in all cylinder. But Kuznetsova was also a good player that she defended all those attacks really well! And she could fire too; though not as aggressively as Kvitova! Kvitova was the one who got the first advantage by breaking Kuznetsova’s serve and was serving for the match at 5–4. But then she was a little bit shaky (while at the same time Kuznetsova played really well) so Kuznetsova broke back.

Two games later, down 5–6 and serving, Kvitova was down 15–40; meaning Kuznetsova had two match points. Kuznetsova needed to just win one of the next two points to win the match. And you know what? An amazing thing happened. Kvitova saved the first match point with a powerful forehand drive volley down the line (FDVDTL) winner that bounced literally on the baseline!! :shock: :lol: ON THE LINE!! If you play tennis, you would know that there was (almost) nothing Kuznetsova could do to return that FDVDTL shot. It was a hella good of a shot!! Okay, but there was still a second match point for Kuznetsova. And at this point, Kvitova also hit a powerful forehand winner! :shock: I mean, WOW!! That was hella good from Kvitova!! She was so pumped after both occasions (well no wonder)!!

Petra Kvitova saving the first match point with a FDVDTL winner.
Petra Kvitova saving the first match point with a FDVDTL winner.
Petra Kvitova saving the second match point with a forehand winner.
Petra Kvitova saving the second match point with a forehand winner.

Kvitova carried this on by, again, breaking Kuznetsova’s serve in the next game and, for the second time in the match, she was serving for the match at 7–6. But then, Kuznetsova fought so hard and made some amazing shots to level the match back to 7–7. I mean, these two ladies, none of them wanted to lose! Lol :lol: .

Kuznetsova held easily in the next game. And serving down 7–8, Kvitova played a bit more tentatively and finally, this time Kuznetsova was able to seal the deal after Kvitova’s last shot went long. So, after 3 hours and 13 minutes, Svetlana Kuznetsova won 6–7(3), 6–1, 9–7 to advance to the fourth round!!

Kuznetsova won the third set 9–7!!
Kuznetsova won the third set 9–7!!

It was amazing. For me, I even felt tired after just watching the match, haha :lol: . Actually, before the match started I did not expect it to last that long as at 14:00, I wanted to go to RG Lab as Tomas Berdych was scheduled to be there to give autographs. But then, this match went so tight and I already invested my emotion on it that I felt like I must stay until the end of the match to see the outcome! Hahaha :lol: . It was such an amazing experience!! :) I mean, I am sure it was also amazing match if we watched it on TV or in the internet; but trust me, it was in a much different level when we witnessed it first hand, in person!! :)

I stayed for the first several games of the next match at PC between Rafael Nadal and Leonardo Mayer before deciding that I needed some rest and lunch, haha :lol: . So I went to the restaurant and had the same thing that I did the day before, a steak. After lunch, I stretched my leg by going around the venue again. At one point I saw that the Nadal-Mayer match was at 2–2 in the third set so I thought it was quite tight and I had time to go around one more time. But then, a few minutes later it was already 5–2 40–0 in Nadal’s favor. I mean, damnit! I would very likely miss the conclusion of the match because at this point I was outside the Philippe Chatrier court! Haha :P

Rafael Nadal
Rafael Nadal

Before getting back to my seat for the third match of the day, I saw a crowd flocking just outside a door in Philippe Chatrier. This was a special door as this was the entrance to the official part of the court (read: the door where the players got in/out Court PC). And Rafael Nadal would come out from this door soon so people were waiting for him! Haha. At first I joined it (I mean why not?) but then he took so long (I guess he needed to do a press conference as well there) so I decided to leave and just got back to my seat.

The third match at PC had already undergone at this point. It was between Andrea Petkovic and a local player, Kristina Mladenovic. This match, even though not as intense as the Kvitova – Kuznetsova match, was also very tough. Btw wow, we had good women’s matches at Philippe Chatrier today!! Petkovic comfortably won the first set 6–4. But Mladenovic, with the help of the French crowd, fought back and won the second 6–4. But in the end Petkovic was too strong for Mladenovic and she won the match 6–4, 4–6, 6–4 to move to the fourth round.

Andrea Petkovic reached the fourth round
Andrea Petkovic reached the fourth round

I was so tired that I decided not to stay for the last match of the day between Richard Gasquet and Fernando Verdasco. So I left my seat and went back to my hotel.

But before actually going back to my hotel, I stopped at a restaurant to have dinner. I chose a three course dinner tonight. The appetizer was a tomato mozarella salad, the main course was a medium-rare beef steak with shallot sauce, and for dessert I chose the famous crème brûlée. It was quite nice :D

Day 5 (Sunday, 1 June 2014)

The agenda today was just to go to Charles de Gaulle Airport to go back to the Netherlands. As I said, I was very excited today because finally I would be flying with an Airbus A321, haha :P .

I checked out at around 9:00; bought a sandwich as breakfast at Paul before taking an RER service to the airport. Long story short, I arrived at the airport, checked in, and entered the gate. At around 11:10, the boarding call was made and I boarded my plane: an Air France’s Airbus A321-212 reg F-GTAR flight AF 1640 to Amsterdam.

The actual flight AF 1640 route map today from CDG to AMS. Source: http://www.flightradar24.com/data/flights/af1640/#3775dc1
The actual flight AF 1640 route map today from CDG to AMS. Source: http://www.flightradar24.com/data/flights/af1640/#3775dc1

At 11:40, my flight took off from runway 27L of Paris Charles de Gaulle Airport and about 50 minutes later, she landed at runway 06 of Schiphol Airport. Here is the landing video:

Then it was the normal thing. I took my luggage and took the train service back to Delft. And here, my long weekend trip to Paris to watch the French Open this year officially ended.

THE END.

BAHASA INDONESIA

Sebelumnya dalam 2014 Paris Roland Garros Trip: Zilko pergi ke Paris dalam rangka long weekend Hari Raya Pantekosta untuk menonton turnamen grandslam kedua tahun ini, French Open. Ia sudah menghabiskan dua hari penuh di Stade Roland Garros dan kini sudah siap untuk menyongsong hari ketiga sekaligus hari terakhirnya di kunjungannya tahun ini.

***

Hari 4 (Sabtu, 31 Mei 2014)

Pagiku berlangsung kurang lebih sama seperti dua hari sebelumnya. Eh, kecuali pagi ini aku juga check in online untuk penerbanganku kembali ke Belanda keesokan harinya sih (kalau terbang dengan KLM/Air France, kita bisa check-in semenjak 30 jam sebelum waktu keberangkatan). Ini penting banget dong untukku karena aku kan harus memilih kursiku sendiri di pesawat kan ya! Hahaha :P . Ngomong-ngomong, aku tiba di antriannya agak lebih siang hari ini, sekitar jam 9:20an. Tetapi posisiku masih cukup berada di depan antriannya sih jadi nggak masalah juga.

Btw, berikut ini jadwal untukku di Lapangan Philippe Chatrier hari ini:

The line-up at Court Philippe Chatrier today
Jadwal di Lapangan Philippe Chatrier hari ini

Masih jadwal yang bagus sih. Tetapi sedikit banyak aku merasa kecewa karena mereka tidak menjadwalkan Andy Murray di Lapangan Philippe Chatrier. Maksudku, sampai saat ini, ia belum pernah bermain di Philippe Chatrier loh tahun ini (ia bermain di Suzanne Lenglen di babak pertama, Lapangan No.1 di babak kedua, dan kini di Suzanne Lenglen lagi untuk babak ketiga). Sial! :(

Anyway, lagi-lagi, sekitar jam 9:40, mereka membuka gerbangnya. Dan, lagi, ritualku pagi itu kurang lebih sama sih. Aku mengelilingi arena turnamennya untuk menonton beberapa pemain pemanasan dan memperiapkan diri. Pagi ini aku melihat Petra Kvitova, Lucie Hradecka, Cara Black, Jean-Julien Rojer, dan Horia Tecau. Iya, nggak banyak-banyak amat ya pagi ini.

Being a Mom on the WTA Tour. Cara Black with her husband and toddler.
Menjadi seorang ibu di tur WTA. Cara Black bersama dengan suami dan anak batitanya.

Sekitar jam 10:45, aku pergi ke kursiku di Philippe Chatrier. Kursiku ini lokasinya dekat sekali dengan kursiku di Hari 3 (jadi pandangan ke lapangannya kurang lebih sama lah), tetapi lebih oke karena sekarang kursiku ada di barisan nomor 1 loh! :shock: Haha. Btw, keuntungan duduk di barisan nomor 1 adalah aku bisa menggunakan “pagar” kecil di depanku sebagai tempat sandaran kaki gitu deh, huahaha :P .

Ngomong-ngomong, sekitar jam 11 pagi, kedua pemain dari pertandingan pertama memasuki Lapangan Philippe Chatrier: unggulan kelima, Petra Kvitova, dan unggulan ke-27 dan juara tahun 2009 disini, Svetlana Kuznetsova.

Dan pertandingan ini, saudara dan saudari sekalian, ternyata menjadi pertandingan WTA ter-SERU yang pernah aku tonton langsung dengan mata kepala sendiri seumur hidup!! Benar-benar sebuah pertandingan yang ketat dengan kualitas tinggi yang berakhir dalam tiga set!

Svetlana Kuznetsova
Svetlana Kuznetsova

Set pertama berlangsung cukup ketat. Walaupun Kvitova berhasil mematahkan servisnya Kuznetsova duluan, Kuznetsova kemudian berhasil membalasnya. Dan mereka bermain seimbang sehingga set pertama harus diakhiri dengan sebuah tiebreak. Kvitova memainkan tiebreak yang bagus dan memenanginya 7–3. Walaupun begitu, sebenarnya Kuznetsova memenangi 47 poin di sepanjang set pertama sementara Kvitova hanya 46 poin saja. Ini artinya Kvitova bermain di poin-poin penting dengan lebih baik.

Di permulaan set kedua, mungkin ada hal kecil yang mengganggu Kvitova sehingga ia memanggil trainer. Mereka kemudian pergi ke ruang ganti sebentar dan Kvitova kembali dengan paha kananna diperban. Ia nampak sedikit terganggu awalnya; dan ini membuat Kuznetsova berhasil merebut set kedua dengan mudah 6–1. Jadi set ketiga harus dimainkan.

Watching the most epic WTA match I have ever seen LIVE in person. A tight match between Petra Kvitová and Svetlana Kuznetsova.
Menonton pertandingan WTA ter-SERU yang pernah aku tonton LANGSUNG dengan mata kepala sendiri. Pertandingan antara Petra Kvitová dan Svetlana Kuznetsova.

Dan set ketiganya berlangsung dengan sungguh amat seru sekali! Kvitova berhasil mendapatkan ritmenya kembari dan terus menyerang dengan gas maksimum. Tetapi Kuznetsova jugalah pemain yang bagus dan pertahanan dari serangan-serangan Kvitova juga sungguh ciamik! Dan ia juga bisa menerang juga; walaupun memang tidak seagresif Kvitova! Kvitova adalah yang pertama yang mendapatkan posisi unggul dengan berhasil mematahkan satu servisnya Kuznetsova dan servis untuk memenangkan pertandingan (serving for the match) di posisi 5–4. Tetapi kemudian ia agak sedikit kehilangan konsentrasi (sementara pada saat yang sama Kuznetsova juga bermain baik) sehingga Kuznetsova mematahkan servisnya balik.

Dua game kemudian, tertinggal 5–6 dan memegang servis, Kvitova tertinggal 15–40; yang mana artinya Kuznetsova memiliki dua match point. Kuznetsova hanya perlu memenangi salah satu dari dua poin selanjutnya untuk memenangi pertandingan. Dan apa yang terjadi? Hal super keren! Kvitova menyelamatkan match point pertama dengan pukulan winner forehand drive volley down the line (FDVDTL) yang sangat keras yang mengenai baseline-nya!! :shock: :lol: Iya loh PAS GARIS aja gitu!! Kalau tahu tenis, tahulah (nyaris) tidak ada yang bisa dilakukan Kuznetsova untuk mengembalikan pukulan FDVDTL itu. Itu sebuah pukulan yang amat luar biasa!! Oke, tetapi toh Kuznetsova masih memiliki match point kedua kan. Dan untuk yang kali ini, Kvitova kembali menyelamatkannya dengan pukulan forehand winner yang amat keras! :shock: Maksudku, WOW banget kan!! Benar-benar permainan yang bagus dari Kvitova!! Ia juga bersemangat dan meluapkan emosinya setelah itu (ya nggak heran lah ya)!!

Petra Kvitova saving the first match point with a FDVDTL winner.
Petra Kvitova menyelamatkan match point pertama dengan pukulan FDVDTL winner.
Petra Kvitova saving the second match point with a forehand winner.
Petra Kvitova menyelamatkan match point kedua dengan pukulan forehand winner.

Kvitova membawa momentum ini dan mematahkan servis Kuznetsova di game selanjutnya, sehingga untuk kedua kalinya di pertandingan ini ia akan serving for the match di posisi unggul 7–6. Tetapi kemudian, Kuznetsova sungguh berjuang dengan keras dan membuat beberapa pukulan kelas dunia untuk kembali menyamakan kedudukan menjadi 7–7. Ah, benar-benar banget nih ya dua wanita, sama-sama nggak ada yang mau kalah! Huahaha :lol: .

Kuznetsova berhasil mempertahankan servisnya di game berikutnya. Dan ketika memegang servis di posisi 7–8, Kvitova bermain sedikit lebih tentatif, dan kali ini Kuznetsova berhasil menembus garis finish ketika pukulan terakhirnya Kvitova keluar lapangan. Jadi, setelah 3 jam 13 menit, Svetlana Kuznetsova menang 6–7(3), 6–1, 9–7 untuk melaju ke babak keempat!!

Kuznetsova won the third set 9–7!!
Kuznetsova memenangi set ketiga 9–7!!

Seru banget deh. Untukku, bahkan aku ikutan merasa capek loh padahal aku kan cuma menonton pertandingannya aja ya, haha :lol: . Sebenarnya, sebelum pertandingannya dimulai, aku tidak menyangka ini akan berlangsung selama itu. Karena jam 2 siang, rencananya aku ingin pergi ke RG Lab karena disana Tomas Berdych dijadwalkan untuk hadir untuk membagikan tanda tangan gitu deh. Tetapi kemudian, pertandingan ini berlangsung sangat ketat dan aku sudah terlanjur menginvestasikan emosiku ke pertandingan ini sehingga aku merasa harus menonton sampai akhir deh untuk mengetahui hasil akhirnya! Hahaha :lol: . Benar-benar sebuah pengalaman yang fantastis!! :) Maksudku, aku yakin kalau kita melihatnya di TV atau di internet juga seru sih; tetapi percaya deh, tingkat keseruannya berbeda banget kalau kita menyaksikannya langsung dengan mata kepala sendiri dimana kita duduk di samping lapangannya!! :)

Aku bertahan disana untuk beberapa game pertama dari pertandingan PC berikutnya antara Rafael Nadal dan Leonardo Mayer sebelum memutuskan untuk beristirahat dan makan siang, haha :lol: . Jadilah aku kemudian pergi ke restorannya dan memesan menu yang sama seperti sehari sebelumnya, steak. Setelah makan siang, aku meregangkan kakiku dengan berkeliling arenanya lagi. Waktu itu aku melihat bahwa pertandingan Nadal-Mayer berada di posisi 2–2 di set ketiga jadi aku kira masih cukup ketat dan ada waktu lah ya untuk berkeliling lagi. Tetapi kemudian, tiba-tiba beberapa menit kemudian skornya sudah 5–2 40–0 untuk Nadal aja dong. Ah, sial nih! Kemungkinan sangat besar aku akan melewatkan momen kemenangannya Nadal karena waktu itu aku berada di luar Lapangan Philippe Chatrier. Haha :P

Rafael Nadal
Rafael Nadal

Sebelum kembali ke kursiku untuk pertandingan ketiga hari ini, aku melihat orang-orang mengerumuni sebuah pintu di Philippe Chatrier. Ini adalah pintu khusus tempat keluar masuk-nya para pemain di Lapangan Philippe Chatrier. Dan kabarnya Rafael Nadal akan keluar dari pintu itu segera jadi orang-orang ini sedang menunggunya! Haha. Awalnya tentu dong aku ikutan menunggu (mengapa tidak?) tetapi kemudian lama banget deh Nadal nggak keluar-keluar (sepertinya sih ia harus menjalankan press conference dulu di dalam sana) jadi aku memutuskan untuk pergi dan kembali ke kursiku di PC saja.

Pertandingan ketiga di PC sudah dimulai sewaktu aku masuk. Ini adalah pertandingan antara Andrea Petkovic dan pemain tuan rumah, Kristina Mladenovic. Pertandingan ini, walaupun nggak seintens pertandingannya Kvitova – Kuznetsova, juga sangat ketat loh. Btw, hari ini pertandingan putri di Philippe Chatrier seru-seru ya!! Petkovic menang mudah di set pertama 6–4. Tetapi Mladenovic, dengan dukungan para supporter Prancisnya, terus melawan dan berhasil merebut set kedua 6–4. Tetapi pada akhirnya Petkovic terlalu kuat bagi Mladenovic dan ia memenangi pertandingannya 6–4, 4–6, 6–4 untuk lolos ke babak keempat.

Andrea Petkovic reached the fourth round
Andrea Petkovic melaju ke babak keempat

Aku merasa lelah sekali sehingga aku memutuskan untuk tidak tinggal untuk pertandingan terakhir hari itu antara Richard Gasquet dan Fernando Verdasco. Jadilah aku meninggalkan kursiku dan kembali ke hotel.

Eh, sebelum beneran kembali ke hotel aku makan malam dulu sih di sebuah restoran. Kali ini aku memilih paket tiga menu untuk makan malam. Untuk makanan pembuka, aku memilih salad tomat dengan keju mozarella. Makanan utamanya adalah steak sapi dimasak medium-rare dengan saus bawang merah. Dan untuk makanan penutup aku memesan crème brûlée yang terkenal itu. Enak deh :D

Hari 5 (Minggu, 1 Juni 2014)

Agenda hari ini adalah pergi ke Bandara Charles de Gaulle untuk kembali ke Belanda. Seperti yang aku bilang, aku amat bersemangat hari ini karena akhirnya hari ini aku akan terbang dengan sebuah Airbus A321, haha :P .

Aku check out dari hotel sekitar jam 9 pagi; membeli sandwich untuk sarapan di Paul, sebelum naik layanan RER ke bandara. Singkat cerita, tibalah aku di bandara, check in, dan memasuki gerbangnya. Jam 11:10, proses boarding dimulai dan aku menaiki pesawatku: sebuah Airbus A321-212 milik Air France dengan kode registrasi F-GTAR dengan nomor penerbangan AF 1640 ke Amsterdam.

The actual flight AF 1640 route map today from CDG to AMS. Source: http://www.flightradar24.com/data/flights/af1640/#3775dc1
Rute penerbangan AF 1640 yang sebenarnya hari ini dari CDG ke AMS. Sumber: http://www.flightradar24.com/data/flights/af1640/#3775dc1

Jam 11:40, penerbanganku lepas landas dari landasan pacu 27L Bandara Paris Charles de Gaulle dan sekitar 50 menit kemudian, mendarat di landasan pacu 06 Bandara Schiphol. Berikut ini video pendaratannya:

Lalu seperti biasa sih. Aku mengambil bagasiku dan naik kereta untuk kembali ke Delft. Dan disini, perjalanan long weekend-ku ke Paris untuk menonton French Open resmi berakhir.

SELESAI.