Category: Tennis

#1649 – Stories from Last Week


The Amazing Race 27

You know this Fall, one TV show which I am following is The Amazing Race 27. And last week’s episode was a leg in Rotterdam with a pitstop in the Peace Palace, Den Haag!!

To me, it was probably the second time a leg in the Amazing Race felt so personal after their legs in Yogyakarta in season 19 four years ago. It is true that I don’t live in Den Haag or Rotterdam, but I go to these two cities from time to time so I am quite familiar with the whereabouts, especially around the central train stations of course :) . I did feel bad for Denise and James Earl when they decided to wait for the direct train to Den Haag HS instead of an earlier one (by 7 minutes) but with two stops in Schiedam and Delft; because I knew that the first train would reach Den Haag earlier nevertheless despite the extra stops.

And I did a part of their route too last month when I was applying for my Indian visa. After arriving at Den Haag (be at Centraal or HS Station), teams had to go to the Peace Palace (het Vredespaleis) with tram no.1. This was indeed what I did when applying for the visa where the service centre was located just by the Peace Palace! Haha :lol: . Well, too bad though I did not know when it was filming because I saw some people in the episode being there and took some pictures. I would have done the same!

Anyway, I know they also visited Bandung in season 23 two years ago, but somehow those episodes did not feel nearly as personal as it was this time or those two legs in Yogyakarta.

Venus Williams

It is no secret that one of my most favorite female tennis players is Venus Williams. She has had tough a few years where, in 2011, she was diagnosed with the Sjögren’s syndrome which for someone who made a living as a world class professional athlete, must have been a huge blow. But she refused to give up despite the challenge and the tough losses she had to face. Last week, she was playing in a tournament in Zhuhai, China and won it! And as a result, her ranking this week is catapulted back into the world’s top 10, at world number 7, and she ends this year with this rank!!

As a fans, I am so happy and proud!!

Go Venus!

Venus Williams won her 48th singles title at Zhuhai, and returned to the world's top 10! Photo Source: WTA
Venus Williams won her 48th singles title at Zhuhai, and returned to the world’s top 10! Photo Source: WTA


The Amazing Race 27

Tahu kan Musim Gugur ini, satu acara TV yang juga aku ikuti adalah The Amazing Race 27. Dan episode minggu lalu adalah sebuah babak yang setting-nya adalah di kota Rotterdam dengan pitstop di Peace Palace, Den Haag!!

Untukku, episode minggu lalu itu adalah yang kedua kalinya sebuah babak di The Amazing Race terasa begitu personal setelah dua babak mereka di Yogyakarta di musim 19 empat tahun lalu. Memang sih aku tidak tinggal di Den Haag ataupun Rotterdam, tetapi aku cukup sering pergi ke dua kota ini sehingga aku cukup familier dengan seluk-beluknya, terutama di daerah di sekitar stasiun keretanya :) . Aku sampai merasa kasihan lho dengan Denise dan James Earl ketika mereka memutuskan untuk menunggu kereta yang langsung ke Den Haag HS bukannya mengambil kereta yang lebih awal (7 menit) tetapi dengan dua pemberhentian di Schiedam dan Delft; karena aku tahu kereta yang pertama akan tiba di Den Haag lebih cepat walaupun dengan dua pemberhentian ekstra tersebut.

Dan kebetulan aku juga mengikuti sebagian rute mereka bulan lalu ketika sedang mengajukan permohonan visa Indiaku. Setelah tiba di Den Haag (Centraal atau HS), peserta diminta untuk pergi ke Peace Palace (het Vredespaleis) dengan tram nomor 1. Dan memang inilah rute yang juga aku ambil untuk mengurus visa itu karena pusat pengurusannya berada di dekatnya Peace Palace! Haha :lol: . Ya, sayang sih aku nggak tahu ketika mereka sedang merekamnya musim panas lalu karena aku lihat di episode ini ada banyak orang disana dan juga foto-foto. Ih, aku kan pengen begitu juga ya!

Anyway, memang sih mereka juga mengunjungi Bandung di musim 23 dua tahun lalu, tetapi entah mengapa episode itu tidak terasa sepersonal episode kali ini ataupun episode dua babak itu di Yogyakarta.

Venus Williams

Bukan rahasia lagi bahwa salah satu petenis putri yang paling aku sukai adalah Venus Williams. Beberapa tahun terakhir ini adalah tahun yang sulit baginya setelah, di tahun 2011, ia didiagnosa terkena penyakit Sindrom Sjögren yang mana untuk seseorang yang pekerjaannya adalah seorang atlet profesional kelas dunia, ini tentu adalah sebuah berita yang sungguh amat tidak menyenangkan. Tetapi ia menolak untuk menyerah dan walaupun harus menghadapi tantangan berat dan menelan banyak kekalahan pahit. Minggu lalu, ia berpartisipasi di sebuah turnamen besar di Zhuhai, China, dan memenanginya!! Sebagai akibatnya, peringkatnya minggu ini kembali lagi ke dalam 10 besar dunia, di peringkat tujuh, dan ia mengakhiri tahun ini dengan peringkat ini!!

Sebagai seorang fans, jelas aku merasa amat senang dan bangga!!

Ayo Venus!

#1619 – 2015 US Open


It is that time of the year again. The fourth grandslam tournament of the year was concluded on Sunday, and here is a short review.

Women’s Singles

The difference between Serena Slam 1.0 and Serena Slam 2.0 was that in Serena Slam 2.0, Serena Williams’ fourth consecutive grandslam singles title was Wimbledon (where I was part of the final that time :mrgreen: ). This meant that this year, Serena got a chance to achieve something she had never done before, something which had not been done since 1988 by Steffi Graf: winning all four grandslam tournaments in the same year. And the last grandslam being the US Open, which Serena won in the last three years of the tournament, the odd looked good for her. And of course naturally all eyes were, again, on her.

Serena reached the semifinals, not without any trouble though where she overcame inspired Bethanie Mattek-Sands in the third round and had to play her best against her sister, Venus Williams, in the quarterfinals (which was a super good quality match). In the semifinals, she was facing someone who appeared to be extremely lucky to be there, the world no.43, Roberta Vinci from Italy. Serena was the huge favorite. Serena was, well, Serena. And it was Vinci’s first ever semifinals in a grandslam. Vinci had never beaten Serena before with Serena won their last encounter just four weeks prior. The odd for Vinci to beat Serena was 1:300.

But well, the beauty about sport is that the two players still have to play against each other. And they start from scratch in the match. And 1:300 is not zero. Guess what? Roberta Vinci ended Serena Williams’ 33 matches winning streak at the grandslams, beating the world no.1 2–6, 6–4, 6–4 (Lucky I did not watch that match though, I would have been so devastated, haha :lol: )!! Yeah, this shows that anything is possible, and that if you keep on trying, you will succeed.

Meanwhile in the other half of the draw, another Italian player scratched her way up to the finish line. Flavia Pennetta played her best tennis to beat the current world no.2, Simona Halep, 6–1, 6–3 in the semifinals. It was not completely a surprise to see Pennetta doing well here though. She has historically performed good at the US Open, and she loves American hard court tournaments.

In the all-Italian final, the 26th seeded Pennetta was clearly the favorite. Even though she did not play her best, her level was still enough to beat the still-tired Vinci. Pennetta won 7–6(4), 6–2 for her first ever grandslam title. During her trophy ceremony, she delivered a surprising news where she announced her retirement from tennis this season. This season is Pennetta’s last season and she will not defend her US Open title next year.

Yeah, I totally understand her decision. It is good to leave the sport while you are on top!!

Men’s Singles

One big story from this year’s men’s singles tournament was Rafael Nadal’s early exit in the third round, meaning that for the first time since 2004, he does not win any grandslam title in a year. While a lot of people scrutinized this fact, as Rafa said, we should look it the other way around, that for ten years since 2005 until 2014, Rafael Nadal had won at least one grandslam title every year. That is some achievement!!

Nevertheless, unsurprisingly, the top two seeds, Novak Djokovic and Roger Federer, reached the final. It was Djokovic’s fourth grandslam final this year and Federer’s first non-Wimbledon grandslam final since June 2011! In the end, Novak Djokovic, who is the in-form player of 2015, won in four sets, 6–4, 5–7, 6–4, 6–4 for his tenth grandslam title.

Flavia Pennetta won her maiden grandslam title at the 2015 US Open.Photo credit: Maddie Meyer/Getty Images North America
Flavia Pennetta won her maiden and only grandslam singles title at the 2015 US Open. Photo credit: Maddie Meyer/Getty Images North America
Novak Djokovic won his 10th grandslam title at the 2015 US Open. Photo credit: Maddie Meyer/Getty Images North America
Novak Djokovic won his 10th grandslam singles title at the 2015 US Open. Photo credit: Maddie Meyer/Getty Images North America


Ya, tanggal-tanggal segini lagi. Turnamen grandslam keempat tahun ini berakhir hari Minggu lalu, dan berikut ini sebuah review mininya.

Tunggal Putri

Perbedaan dari Serena Slam 1.0 dan Serena Slam 2.0 adalah gelar grandslam keempat berturutannya Serena Williams di Serena Slam 2.0 adalah Wimbledon (yang mana aku adalah bagian dari penontonnya loh waktu itu :mrgreen: ). Yang mana artinya tahun ini, Serena memiliki kesempatan untuk mencapai suatu pencapaian yang belum pernah ia raih sebelumnya, sesuatu yang belum pernah diraih siapa pun semenjak tahun 1988 oleh Steffi Graf: memenangi keempat turnamen grandslam dalam tahun yang sama. Dan karena grandslam yang terakhir adalah US Open, sebuah grandslam yang Serena selalu menangi tiga tahun belakangan ini, pencapaian ini nampak sebagai pencapaian yang amat mungkin. Tetapi jelas akibatnya semua mata jadi tertuju padanya.

Serena mencapai babak semifinal, bukannya tanpa masalah sih dimana ia harus mengatasi Bethanie Mattek-Sands yang bermain bagus di babak ketiga dan harus bermain dengan prima melawan kakaknya sendiri, Venus Williams, di perempat-final (yang mana pertandingannya berkualitas super tinggi lho). Di semifinal, ia menghadapi seorang pemain yang nampak super beruntung bisa berada disana, petenis peringkat 43 dunia, Roberta Vinci dari Italia. Serena jelas adalah favorit untuk menang. Serena itu, yah, Serena. Dan ini adalah semifinal pertamanya Vinci di sebuah grandslam. Vinci belum pernah mengalahkan Serena sebelumnya dan pertemuan terakhir mereka hanyalah empat minggu sebelumnya. Di bursa taruhan, peluang Vinci menang adalah 1:300.

Tetapi, keindahan olahraga adalah kedua pemain tetap harus bertanding. Mereka harus memulai pertandingan dari nol. Dan 1:300 juga bukanlah nol. Dan apa yang terjadi? Roberta Vinci mengakhiri kemenangan beruntung 33 kalinya Serena Williams di grandslam, mengalahkan petenis peringkat 1 dunia itu 2–6, 6–4, 6–4 (Untungnya aku nggak nonton pertandingan ini, bisa depresi aku kalau nonton, haha :lol: )!! Ini menunjukkan bahwa apa pun itu mungkin, dan kalau kita terus berusaha, kita juga bisa berhasil.

Sementara itu di sisi lain undian, pemain Italia lainnya juga berjuang keras mencapai garis finish. Flavia Pennetta memainkan tenis terbaiknya untuk mengalahkan petenis peringkat 2 dunia, Simona Halep, 6–1, 6–3 di semifinal. Nggak heran sih melihat Pennetta berprestasi baik begini. Dari sejarahnya juga ia selalu bermain baik di US Open, dan ia juga menyukai turnamen lapangan keras di Amerika.

Di final yang sesama pemain Italia, Pennetta yang diunggulkan di tempat ke-26 adalah yang difavoritkan menang. Walaupun ia tidak bermain dengan yang terbaik, levelnya toh masih cukup untuk mengalahkan Vinci yang masih kelelahan. Pennetta menang 7–6(4), 6–2 untuk gelar grandslam pertamanya. Ketika mendapatkan pialanya btw, ia membagikan sebuah berita yang mengejutkan dimana ia mengumumkan bahwa ia akan pensiun dari tenis musim ini. Ini adalah musim terakhirnya Pennetta dan tahun depan ia tidak akan mempertahankan gelar US Opennya.

Ya, aku mengerti keputusannya. Memang keren ya pensiun ketika sedang berada di puncak!!

Tunggal Putra

Satu cerita besar dari turnamen tunggal putra tahun ini adalah kekalahannya Rafael Nadal di babak ketiga. Ini artinya bahwa untuk pertama kalinya semenjak tahun 2004, ia tidak memenangi satu grandslam pun dalam suatu tahun. Banyak orang yang mencecarnya dengan fakta ini, tetapi seperti yang dibilang Rafa, sebaiknya kita melihatnya dari sisi lain, dimana artinya selama sepuluh tahun dari tahun 2005 sampai 2014, Rafael Nadal selalu memenangi setidaknya satu gelar grandslam. Itu kan keren ya!!

Kembali ke topik, tidak mengejutkan, dua unggulan teratas, Novak Djokovic dan Roger Federer, mencapai babak final. Ini adalah final grandslam keempatnya Djokovic tahun ini dan final grandslam pertamanya Federer bukan di Wimbledon semenjak bulan Juni 2011! Pada akhirnya, Novak Djokovic, pemain yang memang sedang in-form banget tahun 2015 ini, menang dalam empat set, 6–4, 5–7, 6–4, 6–4 untuk gelar grandslam kesepuluhnya.

#1587 – 2015 Wimbledon Championships


Earlier today, the third grandslam tournament of the year, the 2015 Wimbledon Championships, was concluded. As usual, here is a short review about it.

Ladies’ Singles

Prior to the tournament, all eyes were on Serena Williams. After winning the singles titles of the 2014 US Open, 2015 Australian Open, and 2015 French Open, she had an opportunity to complete what was called a “Serena Slam 2.0”. This means winning four consecutive grandslam tournaments but not in the same calendar year. And “2.0” means it would be the second time that Serena would have done it. She first did it 12.5 years ago (yes, twelve and a half YEARS ago) in 2002/2003 when she won the 2002 French Open, 2002 Wimbledon, 2002 US Open, and 2003 Australian Open. Btw, in those four finals in 2002/2003, she beat Venus Williams in all of them.

Talking about the pressure of creating history, eh?

When the draw came out, I felt a bit sad because the 16th seed, Venus Williams, was put on the same bracket as Serena, meaning they could potentially meet in the Round of 16 (fourth round); which they did. Nevertheless, Serena was able to overcome her packed half to reach another final. She beat local favorite, Heather Watson, in the third round, Venus Williams in the fourth round, Victoria Azarenka in the quarterfinals, and Maria Sharapova in the semifinals. Meanwhile the other half of the draw fell apart, leaving a widely open path to the final. Garbine Muguruza, the 20th seed, advanced to her first ever grandslam final.

The final went quite dramatic where Serena started nervous and immediately fell behind. She fought back though, clawed her way back in, won the first set, and led 5–1 in the second. Then she got nervous again and Muguruza clawed back. But the lead was already too wide that it was too late for Muguruza’s final fight. Serena won the match, her 6th Wimbledon singles title, her 21st grandslam singles title, and her second Serena Slam.


That is legendary stuff from a legendary tennis player!! Congratulations Serena Williams!!

Gentlemen’s Singles

Same old, same old story with the men’s side where it is a bit difficult to see someone outside of the Big Four to lift the trophy in the end (except that probably Rafael Nadal was a little bit out of the question this year while Stan Wawrinka was a little bit more).

One of the biggest stories was probably Rafael Nadal’s four consecutive early loss at Wimbledon to someone ranked with three-digits. In 2012, he lost in the second round to the 100th ranked Lukas Rosol; in 2013 he lost in the first round to the 135th ranked Steve Darcis; and in 2014 he lost in the fourth round to the 144th ranked Nick Kyrgios. This year, he lost in the second round to the 102th ranked Dustin Brown.

Anyway, in the end Novak Djokovic and Roger Federer made the final, thus repeating the final from last year. The match went tight especially in the first two set. In the third and fourth set, Djokovic was able to gain some advantage so he could close it out in four sets, defending his title and winning his third Wimbledon title.

Congratulations Nole!!

Serena Williams completed her 2nd Serena Slam with her 6th Wimbledon title. Photo credit: Shaun Botterill/Getty Images Europe
Serena Williams completed her 2nd Serena Slam with her 6th Wimbledon title. Photo credit: Shaun Botterill/Getty Images Europe
Novak Djokovic won his 9th grandslam title with his 3rd Wimbledon triumph. Photo credit:  Julian Finney/Getty Images Europe
Novak Djokovic won his 9th grandslam title with his 3rd Wimbledon triumph this year. Photo credit: Julian Finney/Getty Images Europe


Hari ini, turnamen grandslam ketiga tahun ini, Kejuaraan Wimbledon 2015, berakhir. Seperti biasa, berikut ini review-ku akan turnamen ini.

Tunggal Putri

Semua mata tertuju pada Serena Williams. Setelah menjuarai gelar tunggal putri di 2014 US Open, 2015 Australian Open, dan 2015 French Open, ia memiliki sebuah kesempatan unik untuk melengkapi apa yang disebut sebagai “Serena Slam 2.0”. Ini artinya adalah memenangi keempat turnamen grandslam berturutan tetapi tidak di tahun kalender yan sama. Dan “2.0” artinya ini akan menjadi kali kedua Serena melakukannya. Pertama kali ia sukses melakukan ini 12,5 tahun yang lalu (iya, dua belas setengah TAHUN yang lalu) di tahun 2002/2003 dimana ia menjuarai 2002 French Open, 2002 Wimbledon, 2002 US Open, dan 2003 Austalian Open. Btw, di keempat final itu di tahun 2002/2003, di semuanya ia harus melawan Venus Williams loh.

Ngomongin tentang tekanan untuk membuat sejarah bukan?

Ketika hasil undiannya keluar, aku merasa sedikit sedih bahwa unggulan ke-16, Venus Williams, berada di bracket yang sama dengan Serena, artinya mereka bisa bertemu di babak 16 besar (babak keempat), yang mana mereka beneran bertemu. Walaupun begitu, Serena mampu mengatasi undian yang sangat berat untuknya dimana ia akhirnya mencapai babak fial. Ia harus mengalahkan petenis lokal yang banyak didukung penonton, Heather Watson, di babak ketiga, Venus Williams di babak keempat, Victoria Azarenka di babak perempat final, dan Maria Sharapova di babak semifinal. Sementara itu, di setengah undian yang lain, undiannya kacau balau, dimana sisi ini adalah sisi yang amat terbuka bagi siapa pun untuk lolos ke final. Dari sisi ini, Garbine Muguruza, unggulan ke-20, berhasil masuk ke final grandslam pertamanya.

Finalnya berlangsung cukup dramatis dimana Serena memulainya dengan gugup sehingga ia langsung tertinggal. Ia kemudian melawan balik, berjuang keras, memenangi set pertama, dan unggul 5–1 di babak kedua. Ia lalu grogi lagi dan Muguruza berjuang balik. Tetapi Muguruza sudah tertinggal terlalu banyak sehingga perjuangannya sedikit terlambat. Serena memenangi pertandingannya, gelar tunggal Wimbledon ke-6nya, gelar tunggal grandslam ke-21nya, dan Serena Slam keduanya.


Ini adalah sebuah pencapaian legendaris dari seorang petenis legendaris!! Selamat Serena Williams!!

Tunggal Putra

Cerita untuk sisi putra masih cerita lama yang diulang-ulang terus: sulit melihat seseorang di luar Big Four untuk mengangkat tropinya di akhir turnamen (kecuali mungkin Rafael Nadal agak cenderung kurang difavoritkan tahun ini sementara Stan Wawrinka sedikit lebih difavoritkan).

Satu cerita terbesar tahun ini mungkin adalah kekalahannya Rafael Nadal di babak-babak awal empat kali berturutan di Wimbledon dari seseorang yang berperingkat tiga digit. Di tahun 2012, ia kalah dari Lukas Rosol di babak kedua yang berperingkat 100; di tahun 2013 ia kalah dari Steve Darcis di babak pertama yang berperingkat 135; dan di tahun 2014 ia kalah dari Nick Kyrgios di babak keempat yang berperingkat 144. Tahun ini, ia kalah di babak kedua dari Dustin Brown yang berperingkat 102.

Anyway, pada akhirnya Novak Djokovic dan Roger Federer masuk ke final, mengulangi final tahun lalu. Pertandingan berlangsung ketat terutama di dua set pertama. Di set ketiga dan keempat, Djokovic berhasil mendapatkan keuntungan sehingga ia bisa mengakhiri semuanya dalam empat set, mempertahankan gelarnya, dan memenangi gelar Wimbledon ketiganya.

Selamat Nole!!

#1570 – 2015 French Open


Unlike my usual grand slam tennis posts, this post will be very short-ish because I went to Paris this weekend to watch the women’s singles final of this year’s French Open! :D

Women’s Singles

One conclusion that one can make from this year’s women’s singles event is just how “scary” Serena Williams’ level is. I think pretty much everyone agrees that when Serena Williams is playing her best tennis, noone can challenge her, let alone beat her. An example for this form is her performance at the 2012 Summer Olympics in London where she destroyed everyone in the field including the, then, world no.1, Victoria Azarenka, and no.3, Maria Sharapova.

But this also means that there are three situations where another player may have a chance to beat her: (1) when she is injured badly; (2) when she is extremely ill; or (3) when she is having a day off and plays like crap (hey, a bad day happens to anyone!). And guess what, all these three situations occurred to her in the fortnight of this year’s French Open. She injured her right elbow in Madrid and forced her to skip Rome, the last warm-up tournament before the French Open. She was still nurturing the injury in the first week of the tournament. Then, in the second week she caught a super bad flu. You know, the bad annoying flu which makes people not being able to get out of bed. And these two factors lead to the third factor to happen: she was not at her best level and played badly.

And so how did she fare at the tournament this year? Well:

Serena Williams won her 20th grandslam singles title at the French Open. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe
Serena Williams won her 20th grandslam singles title at the French Open. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe

Yes, even when those three situations occurred, somehow, she was still able to win the entire tournament! Her 20th grandslam singles title! :shock:

How could it be possible? Well, IMO, there is always one quality that is never missing a presence inside a Serena Williams: her champion mentality and her willingness to win (for hating more to lose). We have learned that noone can underestimate her even when she is down three match points (ask Victoria Azarenka at Madrid this year for that). When she unleashes this quality, she will fight so hard and try to win, even though everything does not seem to be working for her. She showed this multiple times in this tournament. She was able to overcome poor play and still won the matches.

Wow, Serena Williams is, indeed, a legend. She did not even to show up with her best form to win a grandslam. “Scary”, isn’t it?

Men’s Singles

To me, this year was the most interesting men’s singles field in the past many years. The 9-time champion, Rafael Nadal, was in the worst form of his past 11 visits to Paris where he did not win any clay title in the main European clay season this Spring where he lost to Novak Djokovic, Andy Murray, Fabio Fognini, and Stan Wawrinka. As a result, the draw was (much) more open with the higher probability of other players to win. But still, the men’s singles tournament in a grandslam is with the best-of-five system so this, IMO, could help Rafa bit to slowly regain his form.

It did, but it was not enough. Even though Rafa managed to reach the quarterfinals, he faced an in-form world no. 1, Novak Djokovic, there and lost in straight sets, his only second loss in the tournament in 11 years! With the loss of Roger Federer in the quarterfinals, this year the French Open would see a new champion. For this, Novak Djokovic saw a golden opportunity to achieve something extremely rare: a career grandslam (to win each of the grandslams at least one). The French Open is the one that he hasn’t won and with Nadal dominating the tournament for the past, literally, a decade, this year was clearly a golden opportunity for him.

He did reach the final, where he would face Stan Wawrinka, the man who knocked out Federer in the quarterfinals. Being the heavy favorite to win the title now, somehow Wawrinka surprised him by playing unbelievable final. Wawrinka’s game level was so high and he hardly made any mistake. As a result, the Swiss won the match in four sets; thus making Djokovic’s dream of a career grandslam on a halt.

Yeah, so, for the second time that Nadal lost early in the French Open, a Swiss guy took the opportunity and won the title, haha :)

Serena Williams won her third Roland Garros title in 2015. Photo credit: Julian Finney/Getty Images Europe
Serena Williams won her third Roland Garros title in 2015. Photo credit: Julian Finney/Getty Images Europe
Stan Wawrinka won his first Roland Garros title in 2015. Photo Credit: Dan Istitene/Getty Images Europe
Stan Wawrinka won his first Roland Garros title in 2015. Photo Credit: Dan Istitene/Getty Images Europe


Tidak seperti posting-posting report grandslam-ku biasanya, posting kali ini akan pendek deh karena aku baru saja kembali dari Paris akhir pekan ini untuk menonton final tunggal putrinya French Open tahun ini! :D

Tunggal Putri

Sebuah kesimpulan yang bisa diambil dari tunggal putrinya French Open tahun ini adalah sebagaimana “menakutkannya” level permainan tenisnya Serena Williams. Aku rasa semua orang sekarang setuju bahwa ketika Serena Williams memainkan performa tenis terbaiknya, tidak ada satupun yang bisa menantangnya, apalagi mengalahkannya. Contoh nyata dari performa ini adalah di Olimpiade Musim Panas tahun 2012 di London dimana ia menghancurkan semua pemain yang berpartisipasi, termasuk pemain peringkat 1 dunia waktu itu, Victoria Azarenka, dan peringkat 3, Maria Sharapova.

Tetapi ini juga berarti ada tiga situasi dimana seorang pemain lain memiliki kesempatan untuk mengalahkannya: (1) ketika ia sedang cedera parah; (2) ketika ia sedang sakit parah; atau (3) ketika ia sedang mengalami bad day dimana ia bermain buruk (hey, siapa pun pasti pernah mengalami bad day kan). Dan apa yan terjadi? Ketiga situasi ini terjadi beneran di French Open tahun ini. Siku kanannya terkena cedera di Madrid yang memaksanya untuk mundur dari Roma, turnamen pemanasan terakhir sebelum French Open. Dan di minggu pertama turnamen ini ia masih harus memulihkan cedera ini. Lalu, di minggu kedua, ia terkena penyakit flu yang amat parah. Tahu kan, flu yang parah banget yang membuat kita merasa tidak bisa meninggalkan tempat tidur. Dan kedua faktor ini menyebabkan situasi ketiga terjadi: ia tidak bermain dengan baik, bahkan bermain amat buruk.

Dan trus gimana dong performanya di turnamen ini tahun ini? Yah:

Serena Williams won her 20th grandslam singles title at the French Open. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe
Serena Williams menjuarai gelar tunggal grandslam ke-20nya di French Open. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe

Iya, walaupun ketiga situasi itu terjadi beneran, entah bagaimana ia masih bisa berhasil memenangi turnamennya! Gelar grandslam tunggal ke-20-nya! :shock:

Kok bisa sih? Ya, menurutku nih ya, ada satu faktor yang tidak pernah absen di dalam diri seorang Serena Williams: mental juaranya dan keinginannya yang kuat untuk menang (dan amat benci dengan yang namanya kekalahan). Semua orang sudah belajar bahwa Serena Williams itu tidak bisa dipandang sebelah mata, termasuk ketika ia menghadapi tiga match point untuk lawan (coba deh tanya Victoria Azarenka di Madrid tahun ini untuk itu). Ketika kualitas ini ia tunjukkan di lapangan, ia akan bertarung dengan amat gigih dan mencoba untuk menang, walaupun segala faktor tidak mendukungnya. Ia sudah menunjukkan kualitas ini berkali-kali di turnamen ini. Ia berhasil membuat permain tenis yang buruk menjadi kemenangan.

Wow, Serena Williams memang adalah seorang legenda. Ia bahkan tidak perlu bermain dengan level baiknya untuk menjuarai sebuah turnamen grandslam. “Menakutkan” bukan?

Tunggal Putra

Untukku, tahun ini adalah tahun terseru untuk tunggal putra di banyak tahun belakangan ini. Juara 9-kali, Rafael Nadal, berada dalam performa terburuknya dari 11 kunjungan terakhirnya ke Paris dimana tahun ini ia sama sekali tidak menjuarai turnamen tanah liat di musim tanah liat di Eropa musim semi ini. Ia kalah terhadap Novak Djokovic, Andy Murray, Fabio Fognini, dan Stan Wawrinka. Sebagai akibatnya, undiannya menjadi (jauh) lebih terbuka dengan peluang yang lebih tinggi bagi pemain lain untuk menang. Tetapi tetap saja sih, karena turnamen tunggal putra di grandslam itu adalah dengan sistem best-of-five-sets, menurutku ini bisa membantu Rafa untuk secara perlahan-lahan meningkatkan performanya.

Kenyataannya memang begitu, sayangnya itu tidak cukup. Walaupun Rafa berhasil mencapai perempat-final, ia harus menghadapi peringkat 1 dunia yang sedang bermain bagus sekarang ini, Novak Djokovic, dan kalah dalam tiga set langsung, hanya kekalahannya yang kedua dalam 11 tahun! Dengan kalahnya Roger Federer di perempat final, artinya tahun ini French Open akan melihat seorang juara baru. Untuk ini, Novak Djokovic mengendus sebuah kesempatan emas untuk mencapai suatu raihan langka: karir grandslam (memenangi setiap turnamen grandslam minimal satu kali). French Open adalah satu-satunya grandslam yang belum pernah ia menangi dan dengan Nadal yang memonopoli turnamen ini selama satu dekade belakangan, tahun ini jelas adalah kesempatan emas untuknya dong ya.

Ia masuk final, dimana ia menghadapi Stan Wawrinka, pemain yang mengalahkan Federer di perempat-inal. Difavoritkan untuk juara, entah bagaimana Wawrinka mampu mengagetkan Djokovic dan bermain dengan amat ciamik di final. Level permainannya Wawrinka sungguh tinggi dan ia nyaris tidak membuat kesalahan sama sekali. Sebagai akibatnya, si pemain Swiss ini menang dalam empat set; sehingga mimpinya Djokovic untuk karir grandslam harus ditunda dulu dari kenyataan.

Yeah, jadi, untuk kali kedua dimana Nadal kalah awal di French Open, seorang Swiss yang memanfaatkan kesempatan ini dan meraih gelar juaranya, haha :)

#1517 – 2015 ABN Amro WTT


So what did I do this weekend? Well, the title pretty much gives it all. I went to this year’s edition of the ABN Amro World Tennis Tournament in Rotterdam.

Btw, I arranged this plan for this weekend literally one year ago, haha :lol: . At around this time last year (just a day after my visit to the same tournament last year), I decided to buy a first ring ticket for the tournament’s final stage this year. Why extremely early? Well, at that time I really wanted to make sure that I would get a good first ring seat for the final this year. I knew the demand for good seats, especially for the final stage, was really high. This is a very popular tennis tournament amongst fans in the Netherlands after all. The tournament itself is in a quite high category in the ATP Tour (ATP 500) so it also offers quite big ranking points and prize money. For instance, the singles champion this year would pocket €358,540 in prize money alone[1]. So it always attracts some top players to participate.

Anyway, because I went there on Sunday, this meant that I was there for the finals, in both disciplines: singles and doubles. Speaking of which, it means that it has literally been four years since the day I watched my first ever professional tennis tournament, which was also here in Rotterdam for the same tournament and the same stage, in 2011.

Because I bought my ticket very early, obviously I did not know whom I would watch. Hell I did not even know who would participate back then, haha. But then, as it turned out, my favorite male tennis player, Andy Murray, decided to come! Yes Andy!! :mrgreen: But then, he lost in the quarterfinals to Gilles Simon :( [2].

Nevertheless, I still got good match-ups for my ticket:

Doubles final: Jamie Murray (GBR)/John Peers (AUS) [LL] vs Jean-Julien Rojer (NED)/Horia Tecau (ROU) [3]
Singles final: Tomáš Berdych (CZE) [3] vs Stan Wawrinka (SUI) [4]

You see, even though I could not watch Andy Murray in the singles final, I still got a Murray in the final in the form of his older brother, Jamie Murray, haha :lol: .


Ahoy Rotterdam, the venue of the tournament
Ahoy Rotterdam, the venue of the tournament

I arrived at Ahoy Rotterdam, the venue of the tournament, at around 12 PM on Sunday. The session would start at 1 PM but I decided to arrive a little bit early because I sensed there was a small problem with my ticket. A few months back they said they would change my seat but then I did not receive any new ticket as a follow-up.

There was, indeed, a small problem but it did not matter; as they moved my seat again this time but it was to an even much better seat. So I was like “Sure, and thanks!“, haha :mrgreen: .

The Doubles Final

Anyway, at 1 PM, the doubles final started with both teams entering the court. For this final, I had mixed feeling because I really liked both teams. Couldn’t they both win? Damn, one of them had to lose! Haha :lol: .

The two teams went pretty even in most of the match, except for a small blip during Rojer’s serve earlier in the match, which caused them lost the first set 3–6. In the second set, during Murray’s serve down 3–4 30–30, however, I think he got a little bit tight due to the pressure and he got broken in that game. So Rojer/Tecau went away with the second set 6–3. As it was a regular doubles tournament, a third set super-tiebreak was played to determine the winner. Again, Murray/Peers made a few nervous errors early in the super-tiebreak. And even though they were able to hang in later on, it was a little too late for them. The third seed, Jean-Julien Rojer and Horia Tecau won 3–6, 6–3, [10–8] for their first title of 2015.

Jean Julien Rojer and Horia Tecau's reaction on their newest title
Jean Julien Rojer and Horia Tecau’s reaction on their newest title

Jamie Murray was so funny during his trophy ceremony though. So he apologized to his wife for not being able to spend the Valentine’s Day together the day before so, in his own words, “We would make up tonight“. Lol, seriously (if you know what I mean), like, in public, where everyone in the 15,818 seaters stadium could hear :lol: .

The Singles Final

There was about one hour in between the doubles and singles final. So I had to chance to fill my stomach with an overpriced hotdog, haha :lol: .

The singles final started at 3:30 PM where both players entered the court. I knew for sure it should be a very exciting final between the number 7 and the number 8 of the world based on their current world ranking. Stan Wawrinka won the toss and chose to serve first.

The first set went neck to neck almost the entire set, except at one game where Wawrinka had a bit of a blip and his serve there was broken. That was the only difference in the first set but it was enough to make Berdych sealed it 6–4.

Tomáš Berdych reaction upon taking the first set
Tomáš Berdych reaction upon taking the first set

The second set went similarly as the first where it was also very tight and there were a lot of aggressive battles between the two players. However, now it was Berdych’s turn to get some lapse in concentration (and a bit of bad luck too) that he was broken while serving down 3–4. Wawrinka then closed the second set 6–3.

Stan Wawrinka reaction upon taking the second set
Stan Wawrinka reaction upon taking the second set

Maybe because of the combination of frustration and (bad) luck, Berdych easily lost the momentum early in the third set, down by two breaks and 1–4. He fought back though after that and was able to get one of the breaks back. But being down two breaks turned out to be very costly as in the end, despite his fight, he could not recover from it. The Swiss won the match, and the tournament, 4–6, 6–3, 6–4.

Stan Wawrinka won his ninth single title in Rotterdam
Stan Wawrinka won his ninth single title in Rotterdam


So, in the end, it was such a fun Sunday for me. Both matches that I got went to the distance (so time-wise, my ticket was maximally worthed too), and both matches actually provided very good quality tennis between world class players!

I was a satisfied fans when I left Ahoy that evening :mrgreen: .


Aku ngapain aja akhir pekan kemarin? Yaa, dari judulnya sudah jelas sih ya. Aku pergi nonton edisi tahun ini dari ABN Amro World Tennis Tournament di Rotterdam.

Btw, rencana untuk nonton ini sudah aku susun semenjak satu tahun yang lalu loh, haha :lol: . Sekitar waktu-waktu sekarang tahun lalu (keesokan harinya setelah kunjunganku ke turnamen yang sama tahun lalu), aku memutuskan untuk membeli tiket first ring untuk babak final turnamen ini tahun ini. Lah, kok awal banget belinya? Yaa, habisnya waktu itu aku ingin memastikan bahwa aku akan mendapatkan tiket first ring yang kursinya oke untuk finalnya tahun ini. Aku tahu bahwa permintaan untuk tiket yang view-nya oke, apalagi di babak final, jelas tinggi banget dong ya. Ini adalah turnamen tenis yang amat populer di Belanda gitu loh. Turnamennya sendiri dikategorikan lumayan tinggi di tur ATP (ATP 500) jadi turnamennya menawarkan poin untuk perhitungan peringkat dunia dan hadiah uang yang lumayan besar. Misalnya saja, juara kategori tunggal tahun ini akan mengantongi hadiah senilai €358.540 (sekitar Rp 5,21 milyar)[1]. Jadilah turnamennya selalu menarik perhatiannya beberapa pemain papan atas juga.

Ngomong-ngomong, karena aku perginya hari Minggu, ini artinya aku akan disana untuk babak final turnamennya, di kedua event: tunggal dan ganda. Nah, ini artinya sudah tepat empat tahun loh semenjak hari dimana untuk pertama kalinya aku menonton turnamen tenis profesional, yang mana di Rotterdam ini juga, di turnamen yang sama, di babak yang sama, di tahun 2011.

Karena aku beli tiketnya awal banget, jelas aku nggak tahu siapa yang akan aku tonton. Bahkan aku juga nggak tahu loh siapa aja yang akan berpartisipasi di turnamen tahun ini, haha. Tetapi kemudian, ternyata petenis favoritku, Andy Murray, memutuskan untuk ikutan main! Hore!! :mrgreen: Eh, tetapi dia kemudian kalah di perempat-final dari Gilles Simon :( [2].

Walaupun begitu, toh aku mendapatkan pertandingan yang menarik juga untuk tiketku:

Final Ganda: Jamie Murray (GBR)/John Peers (AUS) [LL] vs Jean-Julien Rojer (NED)/Horia Tecau (ROU) [3]
Final Tunggal: Tomáš Berdych (CZE) [3] vs Stan Wawrinka (SUI) [4]

Nah kan, walaupun aku tidak bisa menonton Andy Murray di final, toh aku masih mendapatkan seorang Murray di final, yaitu kakaknya, Jamie Murray, haha :lol: .


Ahoy Rotterdam, the venue of the tournament
Ahoy Rotterdam, tempat diadakannya turnamen ini

Aku tiba di Ahoy Rotterdam, tempat diadakannya turnamen ini, sekitar jam 12 siang di hari Minggu. Pertandingannya dijadwalkan mulai jam 1 siang sih tetapi aku memutuskan untuk memang datang agak awal karena aku merasa ada sedikit masalah dengan pemesanan tiketku. Beberapa bulan yang lalu aku dibilangi bahwa kursiku diubah tetapi setelahnya aku tidak mendapatkan tiket yang baru.

Ternyata memang beneran ada masalah kecil tetapi ini tidak apa-apa; dimana mereka memang harus memindahkan kursiku lagi kali ini tetapi kali ini aku dipindahkan ke kursi yang bahkan view-nya jauh lebih kuereen. Jadi jelas aku mengucapkan “Silakan saja, dan trims!” dong ya ke petugas tiketnya, haha :mrgreen: .

Final Ganda

Jam 1 siang, babak final turnamen gandanya dimulai dengan kedua tim memasuki arena. Untuk final ini, aku galau banget soalnya aku suka dengan kedua tim. Dua-duanya nggak bisa menang aja ya? Sial, kok salah satu harus kalah sih! Haha :lol: .

Kedua tim bermain dengan amat imbang di keseluruhan pertandingan, kecuali satu waktu sebentar di servisnya Rojer di awal pertandingan dimana servisnya terpatahkan sehingga timnya kalah 3–6 di set pertama. Di set kedua, di saat servisnya Murray ketika posisinya tertinggal 3–4 30–30, sepertinya ia merasa sedikit grogi dan servisnya terpatahkan di game itu. Jadilah giliran Rojer/Tecau yang kemudian mengambil set kedua 6–3. Karena ini adalah turnamen ganda reguler, set ketiga dimainkan dengan format super-tiebreak. Lagi, Murray/Peers membuat beberapa kesalahan sendiri akibat grogi di awal-awal super-tiebreak-nya. Dan walaupun pada akhirnya mereka berhasil menenangkan rasa grogi itu dan memberikan perlawanan maksimal, semuanya sudah agak terlambat untuk mereka. Tim unggulan ketiga, Jean-Julien Rojer dan Horia Tecau, pada akhirnya menang 3–6, 6–3, [10–8] untuk gelar pertama mereka di tahun 2015.

Jean Julien Rojer and Horia Tecau's reaction on their newest title
Reaksi Jean Julien Rojer dan Horia Tecau setelah mereka memenangi gelar terbaru mereka

Btw, Jamie Murray lucu banget loh ketika memberikan speech setelah mendapatkan piala. Masak ya dia meminta maaf ke istrinya karena tidak bisa melewatkan Hari Valentine berdua sehari sebelumnya sehingga, ini kata-katanya sendiri loh ya (yang aku terjemahin ke bahasa Indonesia), “Akan kita tebus malam ini yah“. Lol, serius loh (if you know what I mean), di depan umum, dimana semua orang di dalam stadion yang muat 15.818 orang bisa dengar :lol: .

Final Tunggal

Ada jeda waktu sekitar satu jam antara final ganda dan tunggalnya. Jadilah aku berkesempatan untuk mengisi perutku dengan sebuah hotdog yang harganya overpriced, haha :lol: .

Final tunggalnya dimulai jam 3:30 sore dimana kedua pemain memasuki lapangan. Aku tahu bahwa ini akan menjadi pertandingan yang seru antara pemain nomor 7 dan nomor 8 berdasarkan daftar peringkat dunia minggu lalu. Stan Wawrinka memenangi coin toss dan memilih untuk servis duluan.

Set pertama berlangsung amat ketat di hampir keseluruhan set, kecuali di satu game dimana Wawrinka sedikit kehilangan konsentrasi dan servisnya patah. Hanya ini saja perbedaan di set pertama tetapi sudah cukup bagi Berdych untuk memenanginya 6–4.

Tomáš Berdych reaction upon taking the first set
Reaksi Tomáš Berdych setelah memenangi set pertama

Set kedua berlangsung mirip seperti set pertama dimana pertandingan berlangsung amat ketat dan ada banyak sekali pertarungan tenis agresif di antara kedua pemain ini. Namun, kini giliran Berdych yang sedikit kehilangan konsentrasi (dan sedikit kesialan sih) dimana servisnya patah ketika posisinya 3–4. Wawrinka lalu mengantongi set kedua 6–3.

Stan Wawrinka reaction upon taking the second set
Reaksi Stan Wawrinka ketika memenangi set kedua

Mungkin akibat kombinasi dari rasa frustrasi dan nasih sial, Berdych langsung kehilangan momentumnya di awal babak ketiga, dimana dua servisnya terpatahkan dan ia langsung tertinggal 1–4. Ia masih terus memberikan perlawanan semaksimal mungkin sih dan berhasil mematahkan satu servisnya Wawrinka setelah itu. Tetapi sudah terlanjur dua servisnya yang terpatahkan ternyata merupakan situasi yang sudah terlalu buruk dimana, walaupun perlawanan keras yang ia berikan, ia tidak bisa memulihkan keadaan lagi. Si petenis dari Swiss memenangi pertandingannya, dan turnamen ini, 4–6, 6–3, 6–4.

Stan Wawrinka won his ninth single title in Rotterdam
Stan Wawrinka memenangi gelar tunggal kesembilannya di Rotterdam


Jadi, akhirnya, hari Minggu lalu adalah hari Minggu yang seru deh. Kedua pertandingannya berlangsung panjang (jadi dari segi waktu, tiketku termaksimalkan dong ya), dan kedua pertandingan juga menunjukkan pertandingan tenis dengan kualitas tinggi di antara pemain-pemain level dunia! !

Aku adalah seorang fans yang terpuaskan deh ketika meninggalkan Ahoy malam itu :mrgreen: .

#1509 – 2015 Australian Open


So, it is that time of the year again. Earlier today, the first grandslam tennis tournament of the year, the Australian Open, was concluded with the men’s singles final. And as usual, here is a short recap about it :)

Women’s Singles

Just like last year, there were quite a lot of upsets in the first week on the women’s draw. A number of big names, like Ana Ivanovic and Petra Kvitova, surprisingly lost early. Caroline Wozniacki lost in the second round but to her defense, she lost to the unseeded Victoria Azarenka. Such a bad luck on the draw there. However, still, at least in the end, the seeding stayed strong with the final involving the top two seeds in the draw: the world no.1, Serena Williams, and the world no.2, Maria Sharapova.

Even though they were the two best players in the world, the head to head between them was very lopsided. Prior to the final, they had met 18 times in their career, and Serena Williams won 16 of them. In fact, she won the last 15 times they played which dated back at the semifinals match of the 2005 Australian Open, which was literally a decade ago. So that is why Serena was the heavy favorite to win this title. However, things went a little bit more complicated with Serena being sick this week as it seems that she caught a flu there in Melbourne, causing her to caugh a lot during her matches. So, could it be Sharapova’s chance then?

The final turned out to be a very exciting match. I had to say it was probably the closest match between the two of their last several meetings. Even though Serena Williams was sick, her serve was clicking, as she served a total of 18 aces in the match alone. In the end, the world no.1 won the match 6–3, 7–6(7–5) for her 19th grandslam singles title and her 6th Australian Open title!

Congratulations, Serena!

Btw, honestly, I cannot believe it had been five years since Serena’s triumph at the Australian Open. She won her fifth crown there back in 2010 where she defeated Justine Henin in the final. The Australian Open used to be her playground, but it seems that in the past a few years, it had not. But finally, she reaffirmed her position in the tournament this year :) .

Men’s Singles

The previous grandslam tournament, the 2014 US Open, showed that anything was possible. The dominance of the Big Four showed some vulnerabilities after all these years. So it made the tournament much more interesting in that sense.

Roger Federer lost in the third round, his earliest exit at the tournament in 14 years. Rafael Nadal lost in the quarterfinals to Tomas Berdych in straight sets. However, the last two members of the Big Four held strong, where Novak Djokovic and Andy Murray met in the final. Btw, it was their third Australian Open final meeting!

Unfortunately for Murray though, this third meeting went just like the first two, outcome-wise. Even though actually the match was very close in the first two and a half sets. Murray missed a few opportunities in the middle of the third set and somehow Djokovic seized all the momentum from thereon, thus winning his fifth Australian Open title 7–6(7–5), 6–7(4–7), 6–3, 6–0.

Congratulations Nole!

Serena Williams won her 19th grandslam singles title at the Australian Open in 2015. It was her sixth singles title at the tournament. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images AsiaPac
Serena Williams won her 19th grandslam singles title at the Australian Open in 2015. It was her sixth singles title at the tournament. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images AsiaPac
Novak Djokovic won his 8th grandslam singles title at the Australian Open in 2015. It was her fifth singles title at the tournament. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images AsiaPac
Novak Djokovic won his 8th grandslam singles title at the Australian Open in 2015. It was her fifth singles title at the tournament. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images AsiaPac


Yak, sudah waktu-waktu sekarang lagi nih. Tadi, turnamen grandslam tenis pertama tahun ini, Australian Open, telah selesai dengan dimainkannya final partai tunggal putra. Dan seperti biasa, berikut ini rekap singkat tentangnya :) .

Tunggal Putri

Seperti tahun lalu, ada cukup banyak kejutan di minggu pertama turnamen ini di partai tunggal putri. Beberapa nama besar, seperti Ana Ivanovic dan Petra Kvitova, secara mengejutkan tumbang awal. Caroline Wozniacki kalah di babak kedua tetapi ia kalah dari Victoria Azarenka yang di turnamen kali ini tidak diunggulkan. Jadi hanya nasib sial saja deh itu. Namun, toh pada akhirnya daftar unggulannya bertahan hingga akhir dimana finalnya melibatkan dua pemain unggulan teratas: pemain peringkat 1 dunia, Serena Williams, dan peringkat 2 dunia, Maria Sharapova.

Eh, walaupun mereka adalah dua pemain putri terbaik di dunia, rekor pertandingan di antara mereka sungguh berat sebelah loh. Sebelum final ini, mereka sudah bertemu 18 kali di sepanjang karir mereka, dan Serena Williams menang di 16 pertandingan di antaranya. Malah, sebenarnya 15 pertandingan terakhir mereka dimenangkan oleh Serena, dimana kemenangan beruntun ini dimulai di babak semifinal turnamen Australian Open tahun 2005, yang mana diadakan, dalam artian sebenarnya, satu dasawarsa lalu. Inilah mengapa Serena amat difavoritkan untuk memenangi pertandingan ini. Namun, beberapa hal kecil membuat final ini sedikit lebih rumit karena ternyata Serena sedang sakit minggu ini dimana ia terkena flu dan batuk-batuk cukup parah di beberapa pertandingannya. Jadi, apakah ini adalah kesempatan emas bagi Sharapova?

Pertandingan finalnya ternyata adalah pertandingan yang seru. Harus aku akui bahwa ini adalah pertandingan terketat di antara keduanya di beberapa pertemuan terakhir mereka. Walaupun Serena Williams sedang sakit, tetapi servisnya masih on, dimana ia membuat 18 pukulan ace dengannya. Pada akhirnya, si pemain peringkat 1 dunia menang 6–3, 7–6(7–5) untuk gelar tunggal grandslam ke-19-nya dan gelar Austalian Open ke-6-nya!

Selamat, Serena!

Btw, sejujurnya, aku amat kaget bahwa sudah lima tahun semenjak terakhir kalinya Serena juara di Australian Open. Terakhir kali ia juara disana adalah di tahun 2010 dimana ia mengalahkan Justine Henin di final. Dulu Australian Open adalah taman bermainnya, tetapi beberapa tahun belakangan ini, ia selalu mengalami beberapa masalah disana. Yah, pada akhirnya, ia menegaskan posisinya lagi di turnamen ini tahun ini :) .

Tunggal Putra

Turnamen grandslam yang lalu, 2014 US Open, menunjukkan bahwa segala sesuatu adalah mungkin. Dominasi Big Four menunjukkan sedikit kelemahan setelah sekian lama. Jadilah ini membuat turnamen ini lebih menarik.

Roger Federer kalah di babak ketiga, kekalahan terawalnya di turnamen ini dalam 14 tahun. Rafael Nadal kalah di perempat final dari Tomas Berdych. Namun, dua anggota lainnya dari Big Four masih terlalu kuat, dimana Novak Djokovic dan Andy Murray bertemu di final. Btw, ini adalah kali ketiga pertemuan mereka di final di turnamen ini loh!

Malang untuk Murray, pertemuan ketiga mereka ini berlangsung sama seperti dua pertemuan pertama, dari segi hasil. Walaupun pertandingannya berlangsung dengan amat ketat di dua setengah set pertama sih. Murray melewatkan beberapa kesempatan emas di pertengahan set ketiga dan dari situ, Djokovic mengambil alih semua momentum dan memenangi gelar kelima Australian Open-nya dengan skor 7–6(7–5), 6–7(4–7), 6–3, 6–0.

Selamat Nole!

#1441 – 2014 US Open


So this is the time of the year again, where the final grandslam tournament of the year, the 2014 US Open, has just been concluded. And as usual, here is a short review about it :)

Women’s Singles

All eyes were set on Serena Williams. After finishing 2013 brilliantly, she was subpar in the first three grandslam tournaments this year; losing in the fourth round, second round, and third round of the Australian Open, French Open, and Wimbledon, respectively. She has not had a totally disastrous year overall though, as she performed quite decently on the regular WTA tournaments. However, as a player at her calibre, who is chasing tennis record to break; grandslam performance obviously gets the priority.

After the disappointing Wimbledon, she has built her tennis form, collecting a 12-1 win/loss record on the US Open warming up tournaments; with the one loss came in the hand of her sister, Venus Williams, in the semifinals of Montreal. So she was in a good form coming to the US Open. But the cloud of doubt still lingered as the US Open was a grandslam; and she hasn’t been performing well at the grandslams this year.

Speaking of which, the draw fell apart once again. The second and third seed, Simona Halep and Petra Kvitova, lost in the third round. The fourth seed, Agnieszka Radwanska, even lost in the second round. The fifth seed, Maria Sharapova, lost in the fourth round. In fact, Serena Williams was the only top 8 seed that advanced to the quarterfinals round. In the end, Serena reached the final by not only without dropping a set, but also not dropping more than three games per set. She would face her very good friend, Caroline Wozniacki, who was competing in her second grandslam final, after the same tournament five years ago. Serena was able to continue this streak, beating Wozniacki 6–3, 6–3 in the final.

This title means Serena has just set a very historical milestone in her legendary career:
– This is her 18th grandslam singles title, thus officially tying two tennis legends, Chris Evert and Martina Navratilova; the second most in the Open Era (only behind Steffi Graf at 22)
– By winning the tournament AND performing the best during the US Open Series, she received a total prize money of $4,000,000. The most any tennis player, male or female, has received in a single event in a tournament in history! (Last year she shared the, then, record of $3,600,000 with Rafael Nadal).

Men’s Singles

Due to the nature of the Big Four’s dominance basically in the last many years, it was, again, a bit hard to see someone else other than them (except for Nadal, who withdrew from the tournament due to an injury) lifting the trophy in the end. However, this year, the dominance seems to have entered the resurgence phase, where more players were able to challenge them in the big stages. But still, nevertheless, they (especially Novak Djokovic and Roger Federer) were the favorites.

Both of them did advance to the semifinals where Djokovic would face Kei Nishikori and Federer would face Marin Čilić. It appeared as it would be another Djokovic – Federer final. But boy oh boy, this was tennis; and everyone must play the actual tennis match before being declared a winner is for a reason, a good one. First, Nishikore upsetted Djokovic in four sets. Later on, Čilić defeated Federer in straight sets! :shock: One word: WOW!! So finally, for the first time since the Australian Open 2005 (that was literally 9.5 years ago), the final of a grandslam men’s singles does not involve either Novak Djokovic, Rafael Nadal, Roger Federer, or Andy Murray!

I did not watch the final though (because it was Monday night in the Netherlands, and I had to work on Tuesday), but in the end, Marin Čilić won his first grandslam title with a 6–3, 6–3, 6–3 victory over Kei Nishikori.

Men’s Doubles

Back to a legendary achievement, Bob & Mike Bryan also reached a very big milestone in this tournament. They won their 16th grandslam doubles title together; and on top of that, this title was their 100th title together! :shock: Wow that is some records!


Sudah tanggal-tanggal segini lagi, jadi artinya turnamen grandslam terakhir tahun ini, US Open 2014, baru saja berakhir. Dan seperti biasanya, berikut ini review tentangnya :)

Tunggal Putri

Semua mata tertuju pada Serena Williams. Setelah ia mengakhiri tahun 2013 dengan brilian, ia tampil mengecewakan di ketiga turnamen grandslam lainnya tahun ini; kalah di babak keempat, babak kedua, dan babak ketiga dari Australia Terbuka, Prancis Terbuka, dan Wimbledon, secara berturutan. Sebenarnya secara keseluruhan musim ini nggak parah-parah amat sih baginya, karena toh ia mendapatkan hasil yang tidak buruk di turnamen-turnamen regulernya WTA. Namun, pemain sekaliber dirinya, yang saat ini sedang mengejar untuk memecahkan rekor-rekor di tenis; tentu saja performa di turnamen grandslam lah yang mendapatkan prioritas.

Setelah turnamen Wimbledon yang amat mengecewakan, permainan tenisnya ia bangun kembali, dan akhirnya mengantongi rekor menang/kalah 12-1 di turnamen-turnamen pemanasan US Open; dengan satu-satunya kekalahan ia derita dari kakaknya sendiri, Venus Williams, di babak semifinal di Montreal. Jadi ia berada dalam kondisi yang baik memasuki US Open ini. Tetapi keraguan masih tetap menghantuinya karena US Open adalah turnamen grandslam; padahal tahun ini ia belum tampil baik di grandslam.

Ngomong-ngomong, undian di grandslam terbuka kembali tahun ini. Unggulan kedua dan ketiga, Simona Halep dan Petra Kvitova, kalah di babak ketiga. Unggulan keempatnya, Agnieszka Radwanska, bahkan kalah di babak kedua. Unggulan lima, Maria Sharapova, kalah di babak keempat. Bahkan, Serena Williams adalah satu-satunya pemain unggulan 8 besar yang masuk babak perempat-final loh. Dan akhirnya, Serena berhasil masuk final tidak hanya dengan tanpa kehilangan satu set pun, tetapi kehilangan tidak lebih dari tiga games di setiap set tersebut. Ia akan melawan teman baiknya di final, Caroline Wozniacki, yang berada di final grandslam keduanya, setelah turnamen yang sama lima tahun lalu. Serena mampu mempertahankan momentum ini, dan ia mengalahkan Wozniacki 6–3, 6–3 di final.

Gelar ini berarti Serena baru saja menorehkan sejarah penting di karier legendarisnya:
– Ini adalah gelar grandslam tunggal ke-18-nya, artinya kini ia menyamai dua petenis legendaris, Chris Evert dan Martina Navratilova; kedua terbanyak di Era Terbuka (hanya tertinggal dari Steffi Graf yang mengoleksi 22 gelar)
– Dengan memenangi turnamen ini DAN tampil terbaik di US Open Series, ia menerima total hadiah sebesar $4 juta loh. Ini adalah rekor hadiah terbanyak yang pernah dimenangi seorang atlet tenis, baik putra maupun putri, dari satu event di satu turnamen! (Tahun lalu ia memegang rekor ini, yaitu $3,6 juta, bersama dengan Rafael Nadal).

Tunggal Putra

Karena dominasi Big Four selama banyak tahun belakangan, rasanya, lagi-lagi, sulit untuk melihat seseorang selain mereka (kecuali Nadal, yang mundur dari turnamen ini karena cedera) mengangkat piala turnamen ini di akhir turnamen. Namun, tahun ini, dominasi mereka nampak mulai mengendor, dimana ada beberapa pemain yang mulai unjuk gigi melawan mereka di panggung-panggung besar. Tetapi, rasanya masih saja merekalah (terutama Novak Djokovic dan Roger Federer) yang difavoritkan untuk menang.

Keduanya lolos ke babak semifinal dimana Djokovic akan melawan Kei Nishikori dan Federer melawan Marin Čilić. Awalnya, finalnya nampak akan menjadi final Djokovic – Federer lagi. Tetapi ini adalah tenis; dan semuanya masih harus memainkan pertandingan sebelum dinyatakan sebagai pemenang karena sebuah alasan, dan sebuah alasan yang baik. Pertama-tama, Nishikori mengejutkan Djokovic dengan menang dalam empat set. Kemudian, Čilić mengalahkan Federer melalui straight sets! :shock: Satu kata: WOW!! Jadi akhirnya, untuk pertama kalinya semenjak Australian Open 2005 (artinya lebih dari 9,5 tahun yang lalu!), final tunggal putra sebuah turnamen grandslam tidak melibatkan Novak Djokovic, Rafael Nadal, Roger Federer, atau Andy Murray!

Aku sendiri tidak menonton finalnya sih (karena ditayangkan Senin malam waktu Belanda, dan kan aku harus kerja di hari Selasa), tetapi pada akhirnya, Marin Čilić memenangi gelar grandslam pertamanya dengan skor 6–3, 6–3, 6–3 atas Kei Nishikori.

Ganda Putra

Kembali ke pencapaian yang legendaris, Bob & Mike Bryan juga baru saja mencapai pencapaian amat besar di turnamen ini. Mereka memenangi gelar grandslam ke-16-nya mereka; dan di atas itu, ini adalah gelar mereka yang ke-100! :shock: Keren banget ya rekornya!