#1114 – Soup A La Zilko and Kripik Tempe


Soup A La Zilko

Lately, somehow I have been craving to include more greens to the meals that I cook (and therefore, eat). You know, to live a healthier life and I kinda thought that I had not consumed that much veggies lately πŸ˜† 😎 . Then, some days ago I read this Bebe’s post about meat soup and it encouraged me to try to cook one myself πŸ˜€ .

I did try it and it ended up well. It was indeed very simple except that the preps-stage took a bit of some time because there were several kind of vegetables and other stuffs to chop so it took a little bit of effort there. I also did not use “instant broth” for flavoring. The only broth that I used was the broth I got as a result of steaming the meat (I decided to steam the meat, not boil it. It was because I liked the texture of steamed meat much more than boiled meat πŸ™‚ ). I know, I know, had I added some dash of “instant broth”, its flavor might have been a bit stronger; but in my opinion, even without it, it was already alright (and maybe ‘healthier’ because everything I put in the soup was natural?? :D).

Kripik Tempe

Anyway, a few days ago when I went to the orientalmarkt, I found kripik tempe. And it was quite weird because the label was all in Indonesian (normally they put the Dutch version of the label over it :D). And the kripik tempe was apparently from Malang. I did not know Malang was famous for kripik tempe btw, was it??

A portion of soup I cooked earlier this week. It was much simpler than I thought before

Kripik tempe I found earlier this week


Sup A La Zilko

Akhir-akhir ini, entah kenapa aku merasakan keinginan untuk melibatkan lebih banyak sayuran gitu deh ke masakan yang aku masak (dan tentunya, aku makan juga lah ya). Tahulah, biar lebih sehat gitu dan aku merasa kalau banyaknya sayuran yang kukonsumsi agak kurang deh akhir-akhir ini, huahaha πŸ˜† 😎 . Lalu, beberapa hari yang lalu aku membaca posting-nya Bebe yang iniΒ tentang sup daging dan posting ini memberiku semangat untuk mencoba memasak sup dah, hahaha πŸ˜€ .

Aku mencobanya dan hasilnya lumayan loh. Ternyata memang prosesnya sederhana sekali; hanya saja bagian persiapannya yang memang agak memakan waktu sih soalnya kan ada beberapa jenis sayuran dan kawan-kawannya yang harus dipotong-potong sehingga tahap ini membutuhkan usaha juga gitu, hahaha. Aku juga memutuskan untuk tidak menggunakan “kaldu instan” untuk menambah rasa. Satu-satunya kaldu yang kugunakan adalah kaldu yang kudapatkan sebagai akibat dari proses mengukus dagingnya (Aku memutuskan untuk mengukus dagingnya, bukan merebusnya. Ini karena aku lebih suka tekstur daging hasil kukusan daripada rebusan πŸ™‚ ). Tahu, tahu kok, kalau saja aku menambahkan sedikit “kaldu instan” gitu, tentu rasanya bakalan lebih kuat kan ya; tapi menurutku sih, walaupun tanpa itu pun, rasanya sudah oke kok (dan mungkin ‘lebih sehat’ juga sih ya karena artinya semua yang aku masukkan ke dalam sup itu bahan-bahan alami semua?? :D).

Kripik Tempe

Anyway, jadi beberapa hari yang lalu gitu ketika aku pergi keΒ orientalmarkt, aku menemukan kripik tempe loh. Dan kripik tempenya agak aneh juga soalnya labelnya hanya dalam bahasa Indonesia gitu (biasanya kalau disini kan labelnya bakal ditumpuki dengan label berbahasa Belanda, hahaha :D). Dan ternyata kripik tempenya berasal dari Malang. Eh, aku nggak tahu loh kalau Malang terkenal akan kripik tempenya, atau memang begitu ya dan aku nggak ingat??


#935 – The Apprentice, Cold Day, and More Cooking


Okay, I am taking some of my time now to write this entry down before going on my vacation to Germany and Switzerland tomorrow, hehe…

The Apprentice UK 2011

These past two and a half months, I have been watching this series of The Apprentice. As I wrote here, now I think the UK version of the series is better than the American version (read: celebrity version). Well, the definition of “better” here is surely subjective though, haha πŸ™‚ But that was why I was so excited when this new series was being aired.

Anyway, I was a bit disappointed when I found out that last week’s episode was the penultimate episode of the series, meaning that the finale would be aired this week during my trip to Germany-Swtizerland. That meant that I would have to wait until I came back from Switzerland to watch the finale. However, during the spin-off part of the episode (You’re Fired) last week, it was announced that the finale would be aired this Sunday! Wow, I felt so blessed! Now I could watch the final episode before my trip!!

So, this morning I watched the final episode of the series. And what do I think? Well, I really wish Susan would have won the series, but Tom is not a bad pick either πŸ™‚ I am happy with either of these two being hired by Lord Sugar as his business partner. Btw, this series of The Apprentice UK was a bit different from the previous seasons, as now the main prize was not a job in Lord Sugar’s organizations anymore but instead a Β£ 250,000 investment and a 50-50 partnership between Lord Sugar and the winner in this new business that would be run by the winner. Wow, a great concept, no? Imagine this, someone is giving us this huge amount of money for us to start a new business, and we even have 50% share of the business! Anyway,Β I kinda had a feeling that Jim would have not been hired anyway. And for Helen, well, if the show was still in its older format (a job as the prize, not a Β£ 250,000 investment), she would have won hands down.

Overall, it has been another great season of The Apprentice UK. No wonder, the ratings seemed to still be strong. The new “twist” (an investment instead of a job) was a brilliant idea, I think. And the format that the last week would be an interview week (interview week was held in the penultimate week in the previous six series) really matched this new “twist”.

So, thank you The Apprentice UK for entertaining me (the You’re Fired spin-off was also an awesome program to watch btw :D), and I cannot wait for the next series (but it is still next year) and the second series of the junior version later on this year!

Cold Day

I know, I know, about two weeks ago I was “complaining” that it was so hot here in the Netherlands. Well, today, with the risk of being called a whiner here, I want to complain that the weather has been “too cold” for a summer day in the Netherlands! hahaha πŸ˜† It was cloudy and gloomy all day long, and even though the temperature was around 15 degree, it felt waay colder than that! The thing was, I had some things to do that required me to go and bike outside *of course biking is outdoor πŸ˜›*, and this put me in direct contact with the cold! hahaha πŸ™‚

More Time to Do Experiment

Well, this summer break has given me more time to do some experiments in my kitchen. You know, sometimes I am bored with what I can cook. But watching Masterchef AustraliaΒ has given me some sort of new ideas and inspiration to explore more, haha. So, I have done some more experiments in my kitchen. And the last product was (warning: this was not halal) “thrice cooked pork” (picture below). It was pork, and it was cooked three times: steamed – fried shortly – and steamed :D. And it was my first time steaming food, and surprisingly, it tasted good! πŸ™‚

Well, that is all I have now. I am going on my trip tomorrow morning, so, see you next week! πŸ™‚ (Well, there is still a remote chance that I will write an entry during my trip though, who knows? :D).

Thrice Cooked Pork with Grill Sauce and Tofu


Oke, nyempet-nyempetin posting ah sebelum pergi liburan ke Jerman dan Swiss besok, hehe…

The Apprentice UK 2011

Dua setengah bulan terakhir ini, aku nonton acara TV The Apprentice versinya Inggris. Seperti yang kutulis Β disini, sekarang aku merasa bahwa versi Inggrisnya ini lebih bagus daripada versi Amerika loh (baca: versi selebriti). Yah, memang sih, definisi “lebih bagus” disini sangatlah subjektif, haha πŸ™‚ Yah, tapi itulah yang membuatku bersemangat nonton versi Inggris ini.

Ngomong-ngomong, agak kecewa juga ketika aku menyadari bahwa episode minggu lalu adalah episode kedua terakhir, yang artinya finalnya akan ditayangin minggu ini ketika aku sedang liburan ke Jerman-Swiss. Ini artinya kan aku harus nunggu sampai pulang dari liburan deh supaya bisa nonton finalnya. Namun, di episode spin-off-nya (You’re Fired) minggu lalu, diumumkan bahwa finalnya akan ditayangin hari Minggu kemarin ini loh! Wow, merasa beruntung nih aku! Jadinya kan aku bisa nonton finalnya sebelum liburan dimulai!! Kayanya yang nayangin tahu jadwalku bisa nonton ato engga yah, jadi sama beliau jadwalnya diubah deh supaya aku bisa nonton *PD abis, haha*.

Jadi, pagi tadi aku nyempetin deh nonton episode finalnya. Dan apakah pendapatku? Yah, sebenarnya aku sih berharap Susan yang menang, tapi Tom juga nggak papa sih πŸ™‚ Toh aku juga akan senang kalau satu di antara dua ini yang dipilih Lord Sugar sebagai partner bisnisnya. O iya, musim kali ini dari The Apprentice versi Inggris ini agak berbeda dari sebelumnya soalnya hadiahnya bukanlah posisi di perusahaannya Lord Sugar lagi, tetapi investasi sebesar Β£ 250.000 dan partnership 50-50 antara Lord Sugar dan si pemenang di bisnis baru yang akan dijalankan si pemenang ini. Konsep yang bagus kan? Bayangin coba, orang mau ngasi kita duit segitu banyak untuk kita memulai suatu bisnis, dan kita memiliki kepemilikan 50% dari bisnis itu! Eniwei, aku sudah ada feeling kalau Jim nggak akan menang. Dan untuk Helen, yah, andai musim kali ini masih memakai format lama (hadiahnya adalah posisi dan bukan investasiΒ Β£ 250.000), ia jelas yang akan menang deh.

Secara keseluruhan, musim kali ini adalah satu musim lagi yang hebat dari The Apprentice versi Inggris. Nggak heran deh rating-nya masih kuat. “Sentuhan baru” (investasi, bukannya posisi sebagai hadiah) adalah ide yang brilian, aku rasa. Dan format bahwa minggu terakhirnya adalah minggu wawancara (biasanya minggu wawancara kan diadainnya di minggu kedua terakhir tuh di musim-musim sebelumnya) juga pas sama “sentuhan baru” ini.

Jadi, terima kasih deh untuk kru The Apprentice versi Inggris karena telah menghiburku (ntw acara spin-off You’re Fired-nya juga keren banget tuh :D), dan nggak sabar nih nunggu musim selanjutnya (tapi masih tahun depan nih) dan seri kedua dari versi juniornya tahun ini!

Hari yang Dingin

Ya ya ya, aku tahu, dua minggu lalu aku komplainΒ bahwa cuaca sangat panas sekali di Belanda ini. Yah, hari ini, dengan risiko dibilang tukang komplain, aku mau komplain bahwa hari ini cuacanya “terlalu dingin” deh buat suatu hari di musim panas di Belanda! wkakakaka… πŸ˜† Cuacanya beneran deh, mendung dan gloomy banget seharian, dan bahkan ya, walau suhunya ada di sekitar 15an derajat, tapi rasanya lebih dingin daripada itu deh! Masalahnya adalah, aku ada beberapa hal yang harus kulakukan yang mana aku harus keluar dan sepedaan di luar ruangan *ya iyalah sepedaan di luar ruangan πŸ˜›*, sehingga menempatkanku di posisi dimana aku langsung merasakan udara dinginnya! hahaha πŸ™‚

Lebih Banyak Waktu untuk Eksperimen

Yah, musim panas ini telah memberiku lebih banyak waktu untuk melakukan eksperimen di dapur nih. Tahu kan, kan kadang akuΒ merasa bosanΒ dengan apa yang akan kumasak. Nah, nontonΒ Masterchef AustraliaΒ memberiku beberapa ide dan inspirasi baru untuk mengembangkan lagi lebih jauh, haha. Jadi, aku sudah bereksperimen lebih banyak deh di dapurku akhir-akhir ini. Dan produk terakhir yang kuhasilkan adalah (peringatan: masakan nggak halal nih) “daging babi yang dimasak tiga kali” (gambar di atas). Dasarnya sih itu adalah daging babi, aku masak tiga kali: dikukus – digoreng bentar – dikukus lagi :D. Nah, waktu masak ini adalah kali pertamaku mencoba mengukus loh, da ternyata, rasanya lumayan juga! πŸ™‚

Yah, itu sih yang bisa aku ceritain sekarang. Besok aku akan memulai jalan-jalanku, jadi, sampai ketemu minggu depan yah! πŸ™‚ (Eh, tapi masih ada kemungkinan kecil sih dimana mungkin aku akan posting di tengah-tengah liburan. Siapa tahu kan? :D).

#932 – Stuck in My Apartment


The weather forecast for today has been awful: hard rain the whole day! Actually I had a grocery-shopping schedule today, but seeing this forecast, I decided to take a precautionary action by doing it yesterday. Now I am super glad that I did it yesterday! Well, but still, it seems that I will be stuck in my apartment the whole day.


Anyway, lately, I have been catching up on Masterchef Australia 2011. I think it is quite a great and interesting show. Also it gives me a lot of new inspiration and ideas for me to cook, as sometimes I feel that I am stuck and bored with my cookings yet I have no idea what else to cook. Beside, I also like the intro as it used Katy Perry’s Hot ‘N Cold, haha. Btw, now I am still at the 20s-th episode, so please don’t spill any spoilers for me, okay? πŸ™‚

One of the inspiration I got was from one of the contestants’ dish in the top 50. It gave me the idea to cook this:

Sauted Minced Beef and Beans

Well, I still have no idea what name I should give it though. But basically it is just sauted minced beef and beans, plus tempe and tomato to make it looks nicer! πŸ™‚ Any idea what name I should give it? haha…


Btw, earlier today my friend posted this link in Facebook, and then he also found this Wikipedia article. Basically, they were about group of people called Pastafarians. What is Pastafarian? Well,Β Pastafarians claim the world was created by the Flying Spaghetti Monster, but, because the monster was inebriated at the time, it was a flawed design (copied from the first article above). πŸ˜† Well, I have nothing else to say but it did entertain me for a while in this gloomy rainy day, :lol:.

note: for readers (I am pretending to be a famous blogger now, πŸ˜† ) who cannot see this as a “just-for-fun” thing, I have to tell you that this Pastafarianism isΒ a parody religion. πŸ™‚ This writing was made without the intention to mock nor discredit any parties.


Ramalan cuaca hari ini jelek banget nih: hujan deras seharian! Sebenarnya jadwal belanjaku ke supermarket itu adalah hari ini, tapi melihat ramalan cuaca ini, aku memutuskan untuk mengambil langkah jaga-jaga, jadi belanjanya kemarin aja. Dan sekarang aku lega deh sudah belanja kemarin! Yah, tapi masih aja ya, sepertinya aku akan terkurung di apartemenku nih seharian.


Ngomong-ngomong, akhir-akhir ini, aku sedang ngebut nonton Masterchef Australia 2011Β nih. Aku rasa ini adalah acara yang keren dan menarik juga yah. Juga, acara ini memberiku inspirasi-inspirasi dan ide-ide baru untuk masak, soalnya kan kadang aku merasa kaya mentok dan agak bosan gitu sama masakanku tapi di sisi lain nggak ada ide juga mau masak apa yang lain. Di samping itu, intro-nya bagus juga, menggunakan lagu Hot ‘N Cold-nya Katy Perry, haha. Btw, sekarang aku lagi berada di episode 20an nih, jadi tolong jangan ngasih tahu bocorannya ya, oke? πŸ™‚

Satu inspirasi aku dapat dari masakannya salah satu kontestan di babak 50 besar. Masakan itu memberiku ide untuk memasak ini:

Tumis Daging Cincang dan Buncis

Hmm, nggak tahu nih enaknya masakan ini dikasi nama apa ya. Tapi dasarnya sih itu cuma tumis daging cincang dan buncis, plus tempe dan tomat supaya penampakannya jadi menarik! πŸ™‚ Ada ide sebaiknya masakan ini kuberi nama apa? haha…

Eh, yang bener?

Btw, pagi tadi seorang temenku membagikanΒ link iniΒ di Facebook, dan ia juga menemukanΒ artikel Wikipedia ini. Intinya sih, artikel-artikel itu adalah tentang satu grup orang yang disebut Pastafarian. Apakah itu Pastafarian? Ya, para Pastafarian mengklaim bahwa dunia ini diciptakan oleh Monster Spaghetti Terbang, tapi, karena waktu itu monsternya lagi mabuk, makanya disainnya jadi tidak sempurna (dikopi dan diterjemahkan dari tautan pertama di atas). πŸ˜† Yah, nggak ada yang bisa kutulis disini hanya saja tautan ini menghiburku tadi di suatu hari yang hujan terus dan suram ini, :lol:.

catatan: bagi para pembaca (bergaya kaya seleb blog nih, πŸ˜† ) yang nggak bisa melihat hal ini sebagai “lucu-lucuan” saja, aku mungkin sebaiknya menuliskan bahwa Pastafarianisme ini hanyalahΒ sebuah parodi agama. πŸ™‚ Tulisan ini dibuat tanpa ada maksud mengejek atau mendiskreditkan pihak tertentu.Β 


#902 – Cooking


As you know, living in Europe is costy, at least waay costier than Indonesia. Even, before moving to Europe, I always thought that Singapore was a really expensive country in term of food price. But now, even Singapore seems to be a very attractive country to visit, in term of food price (but compared to Indonesia or Thailand, still, Singapore is LESS attractive, sorry :D).

With my very limited scholarship money, I have to be smart in managing my financial account. About 50% of my monthly living-fee allocation from my scholarship already automatically goes to housing! Even, in my balance now, I think housing already costs more than 50% as I had to pay my last two months of contract in advance plus some deposit or something! Even though this means that next year I technically will not have to pay for my housing for two months and the balance will be back to the 50% ratio, at this point the ratio is still BEYOND that number. Hmm, we are being OOT now, but the point is, I have to be wise in spending my money.

My experience in Bandung taught me that one post that had a relatively large portion in my monthly expense was “food”. In Bandung, fine, I never cooked and it was not a problem as the price of food generally was incredibly affordable (not like that I ate in Duck King every week, right? πŸ™‚ ). Going out twice or thrice a week and having meal outside in fine places was still fine, not making me over budget. But here, it would have been a hell of a problem. Thus, it means that this post is a very potential post to be “cut down”.

I also know that “food” is an important aspect as it is one of three basic needs, right? (or in Indonesian, one ofΒ sandang, pangan, papan). That is why I would not want to cut cost in food but then I end up being sick for not eating enough nor properly. So, the solution is: to cook!! As a guy who never cooked anything more complicated than instant thing (noodles, some canned food, instant ham, etc), at first it seemed scary: how much spice should I put here? how do I know my cooking is already cooked? what are the spices and things needed to cook this kind of meal? etcetera. Those kind of questions were haunting me, at first. But then, a friend of mine here told me that all of those questions were irrelevant. “One slice or two slices of onion, who cares?? It was not like you are feeding somebody else, it is just you! Who cares if there is too much spice in it or the other way around?” That was pretty much what he said too me. Then, I realized he was correct. I started to have this full spirit to start cooking. Beside that, I had always had the urge to try to cook ever since long before I moved to the Netherlands (but for some reasons it was never materialized, maybe because I was a bit spoiled in Indonesia), but now I had the opportunity to bring it to live. So, I started to give it a try …. .

And the result? It was awesome!! It was waay better than I expected!! I mean, I was so surprised that I could cook that good, given my lack of experience and only within a short period of time! The positive result, I guess, also encouraged me to do this activity (beside financial reason :D). In one or two occassions, I cooked for some of my friends here. Those friends were not Indonesian so they did not have the reference to compare it to the original meal in Indonesia :P, but their feedback was also positive. (But I am still not that confident to cook for Indonesian friends). I then started to experiment new meals, mostly inspired by Indonesian food I had back home. Not all of them were successfull though. I did cook some delicious meals, but I also failed in the attempt to make another ones (Strangely enough, I was successfull in cooking soto, but I so far failed in cooking bakso and soup).

The awaited consequence of cooking in my financial account has also been apparent. I manage to surpress my expense in this post. Even though nominally still more than the number I spent for the same post in Bandung, but considering the difference in living cost in here, if I adjust the difference, actually I am more frugal here. And I am very happy with that. This also allows me to save some money from my scholarship, not much though, but it is better than nothing, right? πŸ˜€

And currently, somehow I am having a dead-in in cooking inspiration. I feel like I want to try cooking something new but I just haven’t had the idea. Anyone can help? πŸ™‚

::: Soto I made from scratch few weeks ago.


Seperti yang pasti pada tahu, hidup di Eropa itu mahal, setidaknya kalau dibandingkan dengan Indonesia. Bahkan, sebelum aku pindah ke Eropa nih, aku selalu berpikir kalau yang namanya Singapura itu adalah negara yang amat mahal, dalam hal makanan, loh. Tapi sekarang, koq Singapura jadi kelihatan menarik ya untuk dikunjungi, dilihat dari harga makanannya (tapi kalo dibandingin sama Indonesia atau Thailand ya, Singapura masih kalah menarik lah, maaf ya :D).

Dengan uang beasiswaku yang sangat terbatas, aku harus pandai-pandai mengatur aliran keuanganku. Sekitar 50% dari jatah hidup bulanan dari beasiswa sudah otomatis terpakai untuk membayar tempat tinggal! Bahkan, di kondisiku sekarang ini, kayanya rasio biaya tempat tinggalnya lebih dari 50% deh, soalnya aku harus membayar biaya sewa dua bulan terakhir apartemenku di awal plus deposit atau apa lah gitu! Β Walau ini artinya tahun depan aku nggak perlu membayar sewa apartemen selama dua bulan sehingga rasionya akan balik ke sekitar 50%, tapi sekarang kan biaya tempat tinggalnya masih DI ATAS rasio itu. Hmmm, koq jadi ngomongin hal yang berbeda dari rencanaku sih, pokoknya intinya adalah, aku harus bijak dalam membelanjakan uangku.

Pengalamanku di Bandung mengajarkanku bahwa satu pos yang memiliki porsi relatif besar dalam pengeluaran bulananku adalah pos “makanan”. Di Bandung, oke lah, aku nggak pernah masak dan itu bukanlah masalah karena harga makanan toh secara umum masih sangat terjangkau (kan juga aku nggak makan di restoran kaya Duck King tiap minggu kan? πŸ™‚ ). Pergi jalan-jalan seminggu dua atau tiga kali dan makan di luar juga nggak masalah koq, masih tidak membuatku over-budget. Tapi disini, aktivitas seperti itu akan sangat menimbulkan masalah yang besar. Artinya, ini adalah pos yang sangat potensial untuk “dipotong seoptimal mungkin”.

Aku juga tahu koq kalau “makanan” itu adalah satu aspek yang sangat penting karena aspek ini adalah satu dari tiga kebutuhan dasar kan? Pasti pada inget kan sama istilahΒ sandang, pangan, papan. Inilah mengapa aku nggak mau juga dong sampai kejadian aku memotong anggaran makan tapi kemudian aku sakit karena nggak cukup makan atau nggak makan dengan benar. Jadi, solusinya adalah: memasak!! Sebagai seseorang yang nggak pernah masak masakan yang lebih rumit daripada makanan instan (mie, beberapa makanan kalengan, ham instan, dll), awalnya tuh mengerikan sekali lho: berapa banyak bumbu yang harus dimasukin nih? gimana caranya tahu kalo masakan kita sudah matang? apa aja bumbu yang harus dimasukin untuk masak masakan ini? de el el. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu menghantuiku, awalnya. Tapi kemudian, seorang temanku disini berkata padaku bahwa pertanyaan-pertanyaan itu tidak relevan. “Satu potong atau dua potong bawang bombay, siapa yang peduli?? Kan kamu ini nggak masak buat orang lain, cuma masak buat kamu aja! Siapa juga yang peduli kalo kebanyakan bumbu atau sebaliknya?” Itulah kurang lebih yang ia katakan padaku. Dan kemudian, aku sadar kalau dia benar juga. Aku langsung deh semangat 45 buat mulai memasak. Di samping itu, memang sih aku sudah selalu punya keinginan untuk mencoba memasak sejak jauh sebelum aku pindah ke Belanda (tapi karena beberapa alasan, keinginan itu tidak pernah terealisasi, mungkin karena aku agak termanjakan dengan kehidupan di Indonesia), dan sekarang inilah aku memiliki kesempatan untuk mewujudkannya. Jadi, aku kemudian mulai mencoba …. .

Dan hasilnya? Ternyata ok juga lho!! Jauh lebih baik daripada jangkaanku!! Maksudku, aku lumayan terkejut juga kalau aku ternyata bisa juga masak, apalagi dengan pengalamanku yang sangat minim dan hanya dalam waktu yang sangat singkat! Hasil positif ini, aku rasa, makin menyemangatiku untuk melakukan aktivitas ini (di samping alasan finansial :D). Di satu atau dua kesempatan, aku memasak untuk beberapa temanku disini. Beberapa teman ini bukan orang Indonesia, makanya mereka nggak memiliki patokan deh untuk membandingkan sama rasa asli masakannya di Indonesia :P, tapi komentar mereka positif juga loh. (Namun, aku masih belum cukup PD masak buat teman yang orang Indonesia). Aku kemudian mencoba bereksperimen beberapa menu, yang kebanyakan terinspirasi dari masakan yang kukenal di Indonesia. Nggak semuanya berhasil sih. Kadang aku memasak masakan dan hasilnya enak, di percobaan lain aku gagal (Anehnya, aku berhasil memasak soto, tapi sejauh ini gagal memasak bakso dan sup).

Konsekuensi yang ditunggu-tunggu di bidang keuangan juga sudah terasa. Aku berhasil menekan pengeluaranku di pos ini. Walau secara nominal jumlahnya lebih tinggi daripada yang aku habiskan di Bandung untuk pos yang sama, tapi dengan juga menghitung perbedaan biaya hidup dan kemudian menyesuaikannya, aku sebenarnya lebih hemat disini loh. Dan aku sangat senang karenanya. Ini juga memungkinkan aku untuk menabung dari uang beasiswaku, nggak banyak memang, tapi lumayan lah daripada nggak ada sama sekali kan? πŸ˜€

Dan sekarang, entah kenapa aku koq sedang buntu inspirasi yah. Aku merasa seperti ingin memasak sesuatu yang baru gitu, hanya saja koq sejauh ini belum ada ide yang muncul. Ada ide? πŸ™‚


#899 – Instant Noodles


I think myself has changed a little bit ever since I moved to Europe. Well, it is not that kind of extreme change or something, it is just a tiny change in a (probably) non-essential thing. I just realized lately that now I do not like a thing called: instant noodles! Yup, instant noodles!

Btw, FYI, instant noodles of a famous Indonesian brand, Indo*ie, is widely available here. Even one flavor that has been extinct in Indonesia, Meatballs Flavor, is available! I still remember this flavor was one of my favorite ones back when I was in Elementary School, and I don’t remember the last time (before moving to Europe of course) I ate noodles with this flavor. The price is of course more expensive than in Indonesia, around 39 cent euro per package (and some stores sometimes sell them with a promo buy 5 get 1). And this price, I think, can be categorized as cheap in Europe (when I went to Italy last year, I also found Indo*ie in one of the supermarket there, and it was sold for 60 something cent euro there).

If you open some old archives in my old blog, you can see that I used to like instant noodles. Sometimes when I felt hungry in the night and I could not resist it, I cooked noodles. When I got up early in the morning and no warung was already open yet, I cooked noodles. Well, such an unhealthy life and choice of food, hahaha…

The first time I arrived in the Netherlands, my apartment’s agent gave me one survival pack consisting some basic meals for me to survive for one day (well, a good service indeed I think. It would have been difficult for a new foreigner who just arrived in a new country, knowing nothing, without anything to survive). Well, in that package, there was one pack of Shrimp flavor Indo*ie (a flavor that I had never seen before in Indonesia, hahaha)! Ever since, I knew I could find Indo*ie here. That week, I bought several packs of noodles for my food stocks for the next couples of days. Well, I was still not that confident to cook at that time πŸ˜€ And it was true that I often ate instant noodles in my first few days here.

As time went by, somehow I felt that I disliked instant noodles more and more. It is kinda weird. Let alone cooking and eating it, now, just thinking about it already gives me a nausea feeling. Just writing this entry also gives me a little of the nausea feeling (because by writing this entry, I keep thinking about this instant noodles, hahaha πŸ™‚ ). Some time ago I had a chat with an Indonesian guy who already got married and now live here in the Netherlands. He told me that one time, his wife went back to Indonesia for one month, and during this time, he ate instant noodles all the time. When he told me that story, all I felt was nausea, hahaha… πŸ˜€ Now, if I was running out of groceries, I think I would prefer being hungry walking to the supermarket buying some groceries than cooking and eating instant noodles back home.

The thing that I am wondering is, the “transformation” happened in a relatively short period of time! What possibly caused this? How could this happen? Well, not that I am complaining though, because instant noodles is not a healthy choice of meal anyway. Me not liking instant noodles means that I reduce the amount of unhealthy food that goes into my body, right? It is just that I am a bit wondering, how could now I dislike a meal that I used to like?

Btw, a little note here: I am still being practical though. Regardless this dislike of instant noodles, I always have several packs of them in my apartment. This is simply for emergency purpose πŸ™‚ Of course I still don’t want to be trapped in my apartment with no food at all. πŸ˜€

::: Instant Noodles I cooked four years ago while I was in Bandung.


Sepertinya diriku ini sudah berubah sedikit semenjak pindah ke Eropa loh. Bukan berubah yang gimana-gimana sih, cuma dalam hal sepele koq. Aku baru sadar akhir-akhir ini, kalau sekarang aku sangat nggak suka sama yang namanya :Β mi instan! Yup, mi instan!

Baidewei, FYI nih, yang namanya mi instan merk terkenal produksi Indonesia (Indo*ie), itu bisa dengan mudah didapatkan disini loh. Malah salah satu rasa yang di Indonesia sudah punah, rasa bakso sapi, disini ada loh! Aku inget banget ini salah satu rasa Indo*ie favoritku waktu aku masih SD, dan entah kapan terakhir (sebelum pindah ke Eropa maksudnya) aku makan mi rasa ini. Harga jualnya disini jelas lebih mahal daripada di Indonesia, sekitar 39 sen euro sebungkus (dan di beberapa toko kadang ada promo beli 5 gratis 1). Dan sepertinya harga segini ini termasuk harga yang murah untuk si Indo*ie ini (waktu aku jalan ke Italia akhir tahun lalu, aku juga menemukan Indo*ie ini di salah satu supermarket disana, hanya saja harganya sudah naik jadi 60an sen sebungkus).

Nah, kalau membuka beberapa arsip lama posting-postingku di blog lamaku, bisa dilihat deh kalau aku lumayan suka sama yang namanya mi instan. Kadang kalau malam lapar dan nggak kuasa menahan rasa lapar itu, aku memasak mie. Kalau bangun pagi dan belum ada warung buka tetapi aku harus makan, aku biasanya masak mie. Bener-bener deh, sungguh kehidupan dan pilihan makanan yang tidak sehat, hahaha…

Waktu pertama kali tiba di Belanda, oleh agen apartemenku aku dikasih sebungkus bahan makanan untuk bisa survive selama sehari (servis yang ok juga yah, kan kasihan juga kalau ada anak baru dari luar negeri yang baru datang, belum tahu apa-apa, eh nggak dikasih setidaknya bahan makanan buat makan sehari). Nah, di bungkus itu, salah satunya adalah Indo*ie rasa udang (rasa yang belum pernah aku lihat ada di Indonesia sebelumnya, hahaha)! Sejak itu tahu deh kalau pasti aku bisa deh menemukan Indo*ie disini. Minggu itu, aku beli beberapa bungkus Indo*ie untuk stok makan beberapa hari ke depan. Aku belum terlalu PD masak ceritanya πŸ˜€ Dan memang beberapa hari awal disini, aku lumayan sering makan mi instan.

Seiring berjalannya waktu, makin kesini koq aku makin nggak suka sama mi instan ya? Aneh saja gitu. Boro-boro masak dan makan, tiap kali mikir makan yang namanya mi instan saja, rasa eneg sudah terbayang. Nulis posting ini aja juga rasa eneg sedikit muncul di dalam perutku (soalnya kan selama nulis posting ini, kepikiran sama yang namanya mi instan, hahaha πŸ™‚ ). Beberapa waktu yang lalu aku ngobrol sama seorang Indonesia yang sudah menikah dan tinggal disini. Suatu hari ia ditinggal istrinya mudik ke Indonesia sebulan. Nah, selama sebulan itu ia makan mi instan terus setiap hari. Waktu ia cerita itu, aku malah merasaΒ enegΒ deh mendengarnya, hahaha… πŸ˜€ Sekarang, andai aku kehabisan bahan makanan kecuali mi instan, rasanya aku lebih memilih merasa kelaparan dan harus jalan kaki ke supermarket terdekat buat beli bahan makanan daripada tetap tinggal di apartemen makan mi instan deh.

Yang aku herankan adalah, “transformasi” ini terjadi dalam rentang waktu yang relatif singkat loh! Apa ya penyebabnya? Mengapa ini bisa terjadi? Aku bukannya komplain sih, soalnya mi instan kan memang makanan yang sangat tidak sehat toh? Aku nggak suka mi instan artinya kan aku mengurangi porsi makanan tidak sehat yang dikonsumsi badanku ini. Hanya saja, aku heran gitu, koq bisa makanan yang dulu aku sukai tiba-tiba jadi tidak aku sukai?

Btw, sedikit catatan: tapi aku juga masih praktikal koq. Bagaimanapun juga aku selalu sedia beberapa bungkus mi instan di apartemen untuk jaga-jaga seandainya ada kondisi darurat πŸ™‚ Kan nggak mau juga dong terjebak di apartemen tanpa bahan makanan sama sekali. πŸ˜€