#2048 – 2017 Year End Trip (Part I: KLM KL 605 AMS-SFO in Economy)

ENGLISH

Posts in the 2017 Year End Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to California
3. Part II: A Tourist in San Francisco
4. Part III: Alcatraz and Yosemite
5. Part IV: The City of San Francisco
6. Part V: The City of Los Angeles
7. Part VI: Hollywood and Griffith
8. Part VII: More of LA
9. Part VIII: Back to Europe in Business Class


Flight: KLM Royal Dutch Airlines KL605
Equipment: Boeing 787-9 Dreamliner reg PH-BHD named “Bougainville”
ATD: 11:56 CET (Runway 24 of AMS)
ATA: 13:28 PST (Runway 28L of SFO)

I managed to snatch seat 10K, a window seat in the first row of economy comfort, while checking-in online the day before the trip. I was able to get this seat in economy comfort for free thanks to my new Platinum status (Normally, one would have had to pay €160 extra just to sit there on this flight to San Francisco!). Anyway, seat 10K was actually the second best seat for me on this flight. The best one would have been seat 10A because it would provide a bird’s eye view of San Francisco upon landing but that seat had already been taken, damn! Haha 😛 .

Checking in for my flight KL 605

Long story short, I arrived at Schiphol and checked my luggage in, upon which I also got a paper boarding pass. I waited for the flight at the KLM Crown Lounge and then went to the gate about 20 minutes before boarding time. The flight today would be operated with a Boeing 787-9 Dreamliner reg PH-BHD which KLM named “Bougainville”.

KLM’s Boeing 787-9 Dreamliner reg PH-BHD was ready to go to SFO

As you could see in the photo above, the weather at Schiphol today was not at the best condition. After all passengers at the gate boarded, the captain informed us that we were not given the green light to depart yet because we were still waiting for some connecting passengers whose coming flights to Amsterdam were delayed due to Schiphol’s current limited runway capacity. And so we had to sit in the plane for about an hour before we were finally given the permission to go. We took off from runway 24 and PH-BHD turned northwest towards California.

Finally taking off from runway 24 of AMS

Let’s start with the seat. KLM configured their Boeing 787-9 Dreamliner with the 3-3-3 layout in economy. This layout was actually fine. But to me, the “problem” was, just about two weeks prior I was flying a Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER which Garuda also configured with the 3-3-3 layout (While many other airlines, including KLM, chose to configure their Boeing 777s with the 3-4-3 layout). However, a Boeing 777-300ER was a bigger airplane, hence wider cabin, than a Boeing 787-9 Dreamliner. I guess because of this, somehow PH-BHD’s cabin felt a little bit “crammed” to me, haha.

A KLM Dreamliner selfie

Anyway, shortly after take-off, a snack and drink service was provided. The snack was a delicious roasted almond and I chose to pair it with white wine, haha. After the snack service, the flight attendants distributed the warm tissues service, a typical KLM’s long-haul service in economy which was really nice IMO.

I then started to watch the classic movie The Graduate at the AVOD IFE. Speaking of the AVOD, I wasn’t that much impressed with the content (in terms of movies and songs) this time, unfortunately. Though, perhaps the fact that there had been not a lot of new movies which excited me in the past several months might play a role in this too, haha.

The lunch service on board KLM flight KL605

The lunch service was provided not long after; with the choice being a vegetarian or a meatball dish. Obviously I opted for the meatball one, haha 😛 . And it was good!

Just after lunch, the map showed that we were already flying above … Greenland! I was of course excited about this and looked out the window! Greenland was, unlike its name, fully white as it was covered with snow and ice, haha.

Greenland, which looked more white than green to me.

PH-BHD then continued to fly towards Canada, upon which an ice cream snack service was provided. After finishing The Graduate, I decided to watch a second movie, Guardians of The Galaxy Vol. 2. And also, I tried KLM’s wifi which were available on their Boeing 787-9 Dreamliners. The wifi access was based on data instead of time, which was a factor I did not really like. But in terms of price, I thought their pricing was fair enough, even though a few times I had small problems with the connectivity.

Btw, as usual in a long-haul KLM flight, the flight attendants went on many rounds around the cabin bringing a tray of drinks for the passengers, which was, of course, such a very nice service! More snacks were also available at the galley. As we were entering the United States air space, the late lunch service was provided, which was also tasty.

The late lunch service on board KLM flight KL605

Long story short, at around 1 PM local time we started our descent towards San Francisco International Airport. We were not able to recover from our departure delay, though; and so we still arrived in San Francisco about one hour behind schedule. At 1:28 PM, we landed at runway 28L of San Francisco International Airport, here is the landing video:

PH-BHD parked at the International Terminal where I saw Emirates’, Japan Airlines’, Korean Air’s, Air France’s, and Aeromexico’s planes. Our delay meant that we arrived after all these airlines resulting in: very long lines at immigration! 😖 I had to wait for more than an hour before clearing immigration! And so when I arrived at the baggage area, my bag was already waiting for me nicely there, haha.

I exited the terminal and went to the BART station to take the train to Downtown San Francisco. And here, my two weeks vacation in California started!!

TO BE CONTINUED…

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri 2017 Year End Trip:
1. Introduction
2. Part I: Getting to California
3. Part II: A Tourist in San Francisco
4. Part III: Alcatraz and Yosemite
5. Part IV: The City of San Francisco
6. Part V: The City of Los Angeles
7. Part VI: Hollywood and Griffith
8. Part VII: More of LA
9. Part VIII: Back to Europe in Business Class


Penerbangan: KLM Royal Dutch Airlines KL605
Pesawat: Boeing 787-9 Dreamliner rego PH-BHD bernama “Bougainville”
ATD: 11:56 CET (Runway 24 of AMS)
ATA: 13:28 PST (Runway 28L of SFO)

Aku berhasil mengamankan kursi 10K, kursi jendela di baris pertama kelas economy comfort, ketika check-in online sehari sebelum berangkat. Aku bisa mendapatkan kursi economy comfort ini dengan gratis loh berkat status Platinum baruku ini (Normalnya, seorang penumpang harus membayar ekstra €160 (sekitar Rp 2,6 juta) untuk duduk di kursi ini di penerbangan ke San Francisco!). Anyway, kursi 10K sebenarnya adalah kursi terbaik kedua di penerbangan ini bagiku. Yang terbaik adalah kursi 10A karena dari sana aku akan mendapatkan pandangan San Francisco dari atas ketika mendarat. Tetapi sialnya kursi itu sudah diambil orang lain nih! Haha 😛 .

Check in untuk penerbangan KL 605

Singkat cerita, aku tiba di Schiphol, meng-check-in-kan bagasiku, dan mendapatkan boarding pass fisik. Aku menunggu penerbanganku di KLM Crown Lounge dan kemudian berjalan ke gate sekitar 20 menit sebelum waktu boarding. Penerbangan hari ini akan dioperasikan dengan pesawat Boeing 787-9 Dreamliner rego PH-BHD yang KLM beri nama “Bougainville”.

Pesawat Boeing 787-9 Dreamliner-nya KLM rego PH-BHD siap untuk berangkat ke SFO

Seperti yang terlihat di foto di atas, cuaca di Schiphol hari ini memang sedang kurang oke. Setelah semua penumpang yang berada di gate naik ke dalam pesawat, kaptennya memberi-tahu bahwa kami masih belum diberikan lampu hijau untuk berangkat karena ternyata kami masih harus menunggu beberapa penumpang connecting yang penerbangannya terlambat mendarat di Schiphol akibat kapasitas landasan pacu bandara yang dikurangi karena kondisi cuaca. Jadilah kami harus duduk di dalam pesawat selama satu jam-an sebelum akhirnya bisa berangkat. Kami lepas landas dari landasan pacu 24 dan kemudian PH-BHD berbelok ke arah barat laut menuju California.

Akhirnya lepas landas dari landasan pacu 24nya AMS

Mari ngomongin masalah kursi. KLM mengonfigurasi Boeing 787-9 Dreamliner mereka dengan layout 3-3-3 di ekonomi. Layout ini sebenarnya oke-oke aja sih. Yang jadi “masalah” bagiku adalah baru sekitar dua minggu sebelumnya aku terbang dengan pesawat Boeing 777-300ERnya Garuda Indonesia yang mana Garuda konfigurasi dengan layout 3-3-3 juga (Padahal banyak maskapai lain, termasuk KLM, memilih layout 3-4-3 untuk pesawat tipe Boeing 777 ini). Namun, Boeing 777-300ER kan adalah tipe pesawat yang lebih besar ya, yang mana artinya juga memiliki kabin lebih besar, daripada Boeing 787-9 Dreamliner. Aku duga karena ini, kabinnya PH-BHD ini jadi terasa “sempit” untukku, haha.

KLM Dreamliner selfie

Anyway, tidak lama setelah lepas landas, layanan snack dan minuman diberikan. Snack-nya berupa kacang almond panggang yang mana rasanya enak banget loh; dan tentu saja aku temani dengan white wine, haha. Setelah layanan snack, awak kabin membagikan layanan tisu hangat, sebuah layanan khasnya KLM di ekonomi yang menurutku oke.

Aku kemudian mulai menonton film klasik The Graduate di AVOD IFE. Nah, ngomongin AVODnya nih, aku kok agak kecewa ya dengan isinya (dalam hal pilihan film dan lagu), sayangnya. Mungkin ini diakibatkan karena memang tidak ada banyak film yang menarik sih beberapa bulan belakangan ini, haha.

Layanan makan siang di penerbangan KLM KL605

Layanan makan siang disajikan tak lama setelahnya; yang mana pilihannya adalah menu vegetarian atau menu bola daging. Ya jelas lah ya aku memilih bola daging, haha 😛 . Dan rasanya enak!

Setelah makan siang, peta menunjukkan bahwa ternyata kami sudah berada di atasnya … Greenland! Jelas dong aku excited dan langsung menengok keluar jendela! Greenland itu, tidak seperti namanya, berwarna putih banget karena memang terselimuti salju dan es, haha.

Greenland, yang nampak lebih putih daripada hijau untukku.

PH-BHD kemudian lanjut terbang menuju Kanada, dimana layanan es krim dibagikan. Setelah selesai menonton The Graduate, aku memutuskan untuk menonton film kedua, Guardians of The Galaxy Vol. 2. Oh iya, pesawat Boeing 787-9 Dreamliner-nya KLM juga dilengkapi dengan wifi loh. Tetapi wifi-nya menggunakan kuota paket data sih, bukannya waktu, yang mana merupakan satu faktor yang aku kurang begitu suka. Tetapi untuk masalah biaya, aku rasa harga aksesnya cukup fair juga, walaupun terkadang aku konektivitasnya bermasalah sih.

Btw, seperti biasa di penerbangan jarak jauhnya KLM, awak kabinnya aktif berkeliling kabin sambil membawa nampan berisi minuman untuk para penumpang yang mana, jelas, adalah pelayanan yang oke banget! Snack juga disediakan di dapur pesawat. Ketika kami memasuki area udara Amerika, layanan makan siang kedua dibagikan, yang mana rasanya juga lumayan.

Layanan makan siang kedua di penerbangan KLM KL605

Singkat cerita, sekitar jam 1 siang waktu setempat pesawat mulai turun menuju Bandara Internasional San Francisco. Kami tidak berhasil memotong waktu keterlambatan kami, sehingga kami tiba di San Francisco sekitar satu jam terlambat. Jam 1:28 siang, pesawat mendarat di landasan pacu 28L Bandara Internasional San Francisco, berikut ini video pendaratannya:

PH-BHD parkir di Terminal Internasional dimana aku melihat sudah ada pesawatnya Emirates, Japan Airlines, Korean Air, Air France, dan Aeromexico. Keterlambatan kami berarti kami baru tiba setelah semua maskapai lain ini yang berakibat pada: antrian yang panjang banget di imigrasi! 😖 Aku harus mengantri selama lebih dari satu jam loh! Dan jadilah ketika tiba di area bagasi, bagasiku sudah menungguku di sana, haha.

Aku keluar dari terminal dan berjalan menuju stasiun kereta BART untuk naik kereta menuju Downtown San Francisco. Dan di sini, liburan dua mingguku di California resmi dimulai!!

BERSAMBUNG…

Advertisements

#2040 – November 2017 Indonesia Trip (Part VI: Back to Europe)

ENGLISH

Posts in the November 2017 Indonesia Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Indonesia
3. Part II: Jakarta
4. Part III: Yogyakarta
5. Part IV: The Wedding
6. Part V: Solo
7. Part VI: Back to Europe

My routing this time was (almost) a carbon copy of my trip back to Europe from my Indonesia Summer Trip back in 2015. The only differences were that (1) Instead of taking flight GA213 from Yogyakarta to Jakarta, I took flight GA211, (2) Instead of Terminal 2, Garuda Indonesia already moved to the brand new Terminal 3 Ultimate in Jakarta, and (3) This time I was entitled the SkyPriority benefits with my KLM status; I hadn’t reached that status yet back in August 2015. Anyway, let the trip report begin!

The route map this year was a carbon copy of my 2015 trip. Created with gcmap.com

Garuda Indonesia GA211 (JOG – CGK)

Flight: Garuda Indonesia GA 211
Equipment: Boeing 737-800 reg PK-GNG
ATD: 15:51 WIB (Runway 27 of JOG)
ATA: 16:46 WIB (Runway 25L of CGK)

After checking-in at the SkyPriority desk, I went to Garuda Indonesia Executive Lounge at the airport. This was my second visit to this small lounge this year, after the first time being earlier this year during my trip back to Amsterdam via Bali, Shanghai, and Paris, haha. Unlike that other time, the lounge was very busy this time around.

The Garuda Indonesia Executive Lounge at Adisutjipto Airport.

Anyway, my flight to Jakarta today would be operated with a Boeing 737-800 reg PK-GNG which had Boeing Sky Interior! From Flightradar24 I knew beforehand that the flight would be slightly delayed, though.

A Garuda Indonesia’s Boeing 737-800 reg PK-GNG at Adisutjipto Airport

Long story short, I went to the gate and was the first passenger to board, haha 😛 . I settled onto my comfortable 21K seat in the first row of economy. After all passengers boarded, we departed and took off from runway 27 of Adisutjipto Airport. See you, Yogyakarta!

See you, Jogja!

Overall it was a pleasant, regular, short-haul flight with Garuda Indonesia. A snack service was distributed short after take-off. I used the AVOD IFE to listen to some music. And as it was an afternoon flight, I spent most of my time also starring out of the window, haha 😛 . About 45 minutes later, we were already on descent to Soekarno-Hatta International Airport and the flight attendants prepared for landing.

Not long after, we landed at runway 25L of Soekarno-Hatta International Airport, the farther runway from Terminal 3 Ultimate meaning the taxiing to the stand would be quite long, haha. Anyway, here is the landing video:

Transiting at Terminal 3 Ultimate

It happened that my arrival gate at Jakarta was at the far end of the domestic side of the terminal. Having an international connection made me realize the gigantic size of Terminal 3 Ultimate. I basically had to walk down almost the entire 1.2 km length of the terminal to get to my connecting gate! Haha 😛 .

White wine at the Garuda Lounge

Anyway, long story short I cleared security and immigration; and then I went to Garuda Indonesia’s International Lounge at the brand new terminal. The lounge appeared to be smaller than its domestic counterpart (see Part II). It a was nice and comfortable lounge with good food and drink selection. As it was an international lounge, white and red wine were also available at the bar section. The wifi connection was also especially fast for Indonesian standard.

Garuda Indonesia GA88 (CGK – SIN)

Flight: Garuda Indonesia GA 88
Equipment: Boeing 777-300ER reg PK-GII in SkyTeam Livery
ATD: 21:25 WIB (Runway 25R of CGK)
ATA: 23:38 SGT (Runway 02C of SIN)

I felt very lucky and was very excited when I found out that this Boeing 777-300ER would be my ride tonight:

A Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER reg PK-GII in SkyTeam Livery at Terminal 3 Ultimate

Yes, PK-GII, i.e. Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER which was in SkyTeam Livery!! 😍 It would be my first time ever catching a Garuda bird in this special alliance colour!

Boarding started a little bit late. I was amongst the first passengers to board and settled onto my comfortable 21K seat. This flight to Singapore made me notice the cost-cutting effort the Garuda management has tried to impose to remain competitive. For once, there was no welcome drink in economy like what I got two years ago on this very same flight, haha.

Boarding screen

Anyway, even after boarding completed, we could not depart because we were still waiting for some documents to be completed. This caused a delay of about 30 minutes. And then of course once we actually departed, we had to face the typical long queue for take-off at Soekarno-Hatta International Airport. In the end, we could only take off at 21:25 while our scheduled departure time was 20:30.

Waiting on my 21K seat

We took off from runway 25R and made a turn towards Singapore. Not too long after take-off, the dinner service was provided. The choices were beef lasagna or chicken with noodles. I opted for the first along with wine wine and water as my drink of choice. I found the lasagna to be okay. During this time, I also watched two episodes of The Big Bang Theory, haha…

Beef lasagna for dinner and The Big Bang Theory

About an hour later we started our approach towards Singapore Changi Airport and then landed at runway 02C. Here is the landing video:

It was quite a long taxi towards Terminal 3. Transit passengers were told to disembark the plane and the transit time would be one hour.

Transiting at Changi Airport

Another clear cost-cutting effort was the now non-existence of transit stuffies in Singapore. Two years ago, I got a snack box and a S$30 voucher for shopping at Changi. This year, I got nothing! Haha 😛 . And so I just went to the Information Kiosk to get a wifi password before immediately going to the gate to wait for boarding.

No transit stuffies this time around.

Anyway, technically, the next flight would be a fifth freedom flight as I would be flying a Garuda Indonesia flight from Singapore to the Netherlands! An aspect which I was quite excited about because it would be my only fifth freedom flight this year.

Garuda Indonesia GA88 (SIN – AMS)

Flight: Garuda Indonesia GA 88
Equipment: Boeing 777-300ER reg PK-GII in SkyTeam Livery
ATD: 01:54 SGT (Runway 02L of SIN)
ATA: 07:38 CET (Runway 18C of AMS)

Upon boarding, I found out that my neighbouring two seats were taken by a young couple with a baby! Because my seat was a window seat, I immediately realized that the spaciousness I previously got from my 21K seat would be heavily compromised. After take-off, a baby basinet would be installed occupying most of that space. While this was certainly a discomfort to me, this was actually indeed the “risk” of picking this seat, haha. Of course I could not “win” all the time.

The safety demo

Anyway, long story short we departed after boarding finished. It was almost a full flight to Amsterdam today, with a load factor of at least 95% in economy, which was really impressive IMO! We took off from runway 02L and headed northwest towards Europe.

Another round of dinner service (with the same options) was served not long after take-off. I was still feeling full so I declined the service and only asked for a glass of guava juice, haha. During this time, we were flying above Aceh, not too far away (I guess) from where Cyclone “Dahlia” was the day before. As a result, we faced some not-so-light turbulences, haha.

There were turbulences in this area.

In the meantime, I tried to sleep because I was feeling really sleepy. As a matter of fact, I actually could sleep for about six hours, which was quite impressive for my standard! It also happened that I slept during the part of the flight along the turbulence area, haha. Btw somewhere along the way, the in-between-fuel service was served, which was a salmon sandwich.

The in-between fuel service

I woke up when we were already somewhere above the Turkish airspace. I was quite awake already that I knew trying to go back to sleep would be a futile attempt, haha. So I watched several more episodes of The Big Bang Theory.

About two hours before landing, the breakfast service started. The options were between omelette and chicken with rice; I opted for the latter. To accompany my breakfast, I was torn to watch either Hidden Figures or Trinity, the Nekad Traveller, haha 😛 . Thinking that it would be difficult for me to watch an Indonesian movie in the Netherlands, I chose he latter 😛 .

Chicken and rice for breakfast.

Anyway at around 7:15 local time we were already on approach to Schiphol Airport. It was still dark outside when the flight attendants were preparing for landing:

And not too long after, we landed at runway 18C of Amsterdam Schiphol Airport. Here is the landing video:

PK-GII then parked at gate G5. We disembarked and I cleared immigration. It was awesome that my luggages were delivered at the belt exactly by the time I reached the luggage area! This was certainly because of my SkyTeam Elite Plus status! My luggages were tagged with priority labels so I got to “avoid” the problem of long waiting for luggages at Schiphol! 😛

Anyway, then I took the train to Amsterdam Centraal; and here my November 2017 Indonesia Trip officially ended.

THE END.

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri November 2017 Indonesia Trip:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Indonesia
3. Part II: Jakarta
4. Part III: Yogyakarta
5. Part IV: The Wedding
6. Part V: Solo
7. Part VI: Back to Europe

Ruteku kali ini (nyaris) sama persis dari perjalananku kembali ke Erop dari liburan musim panasku di Indonesia tahun 2015. Perbedaannya adalah (1) Bukannya dengan penerbangan GA213 dari Yogyakarta ke Jakarta, kali ini aku naik GA211, (2) Bukannya Terminal 2, Garuda Indonesia sudah pindah ke Terminal 3 Ultimate di Jakarta, dan (3) Kali ini aku mendapatkan fasilitas SkyPriority dengan status KLMku; aku masih belum mendapatkan status ini di bulan Agustus 2015. Anyway, mari trip report-nya langsung kita mulai!

Peta ruteku tahun ini sama persis seperti perjalananku di tahun 2015. Dibuat dengan gcmap.com

Garuda Indonesia GA211 (JOG – CGK)

Penerbangan: Garuda Indonesia GA 211
Pesawat: Boeing 737-800 reg PK-GNG
ATD: 15:51 WIB (Runway 27 of JOG)
ATA: 16:46 WIB (Runway 25L of CGK)

Setelah check-in di konter SkyPriority, aku pergi ke Executive Lounge-nya Garuda Indonesia di bandara. Ini adalah kali kedua aku mengunjungi lounge kecil ini tahun ini, setelah yang pertama adalah awal tahun ini dalam perjalananku kembali ke Amsterdam dengan transit di Bali, Shanghai, dan Paris, haha. Tetapi tidak seperti waktu itu, kali ini lounge-nya ramai sekali.

Garuda Indonesia Executive Lounge di Bandara Adisutjipto.

Anyway, penerbanganku ke Jakarta hari ini akan dioperasikan dengan Boeing 737-800 rego PK-GNG yang dilengkapi dengan Boeing Sky Interior! Melalui Flightradar24, aku sudah tahu bahwa penerbangan ini akan mengalami keterlambatan sih.

Sebuah Boeing 737-800 milik Garuda Indonesia dengan rego PK-GNG di Bandara Adisutjipto.

Singkat cerita, aku pergi ke gerbang keberangkatan dan adalah penumpang pertama yang naik pesawat, haha 😛 . Aku duduk di kursi 21K yang nyaman di baris pertama kelas ekonomi. Setelah semua penumpang naik, pesawat berangkat dan lepas landas dari landasan pacu 27 Bandara Adisutjipto. Sampai jumpa lagi, Yogyakarta!

Sampai jumpa, Jogja!

Secara umum, ini adalah penerbangan reguler jarak dekat yang nyaman dengan Garuda Indonesia. Layanan snack diberikan sesaat setelah lepas landas. Melalui AVODnya aku mendengarkan beberapa lagu. Dan karena penerbangannya berlangsung di siang hari, aku banyak melihat ke luar jendela deh, haha 😛 . Sekitar 45 menit kemudian, kami sudah mulai turun menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan awak kapal mulai bersiap untuk mendarat.

Tak lama setelahnya, kami mendarat di landasan pacu 25L, landasan yang agak jauh dari Terminal 3 Ultimate sehingga taxiing-nya lumayan lama, haha. Berikut ini video pendaratannya:

Transit di Terminal 3 Ultimate

Kebetulan pesawat diparkir di gerbang yang berlokasi jauh di ujung sisi domestik dari terminalnya. Penerbangan lanjutanku yang merupakan penerbangan internasional membuatku merasakan sebagaimana raksasanya Terminal 3 Ultimate itu. Pada dasarnya aku harus berjalan nyaris di keseluruhan panjang terminalnya yang sepanjang 1,2 km itu untuk mencapai gerbang penerbangan lanjutanku! Haha 😛 .

White wine di Garuda Lounge

Anyway, singkat cerita aku melalui pemeriksaan sekuriti dan imigrasi; dan kemudian aku pergi ke Lounge Internasionalnya Garuda Indonesia di terminal baru ini. Lounge-nya sendiri lebih kecil daripada yang domestik (baca Bagian II) tetapi yang penting nyaman dengan pilihan makanan dan minuman yang cukup beragam. Karena merupakan lounge internasional, minuman wine juga tersedia di barnya. Koneksi wifi-nya juga cepat banget loh untuk ukuran Indonesia.

Garuda Indonesia GA88 (CGK – SIN)

Penerbangan: Garuda Indonesia GA 88
Pesawat: Boeing 777-300ER reg PK-GII dengan livery SkyTeam
ATD: 21:25 WIB (Runway 25R of CGK)
ATA: 23:38 SGT (Runway 02C of SIN)

Aku merasa amat beruntung dan excited banget ketika tahu bahwa Boeing 777-300ER yang akan membawaku malam ini adalah yang ini:

Sebuah Boeing 777-300ERnya Garuda Indonesia dengan rego PK-GII dengan livery SkyTeam di Terminal 3 Ultimate

Iyaaa, PK-GII, alias Boeing 777-300ERnya Garuda Indonesia yang ber-livery SkyTeam!! 😍 Ini akan menjadi pertama kalinya aku menaiki burungnya Garuda yang berwarnakan corak khusus aliansi ini!

Boarding dimulai agak terlambat kali ini. Aku adalah salah satu penumpang pertama yang naik dan duduk nyaman di kursi 21K-ku. Di penerbangan ke Singapura ini lah aku paling merasakan efek dari pemangkasan biaya yang diusahakan oleh manajemennya Garuda agar perusahaan tetap kompetitif. Misalnya, tidak ada welcome drink dong di kelas ekonomi padahal dua tahun yang lalu di penerbangan yang sama kan ada, haha.

Layar boarding

Anyway, walaupun semua penumpang sudah naik, kami masih belum bisa berangkat karena pilot masih harus menunggu dokumen-dokumen untuk dilengkapi. Ini mengakibatkan keterlambatan selama 30an menit. Dan tentu saja setelah berangkat, kami harus menghadapi yang namanya antrian untuk menunggu giliran lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Pada akhirnya, kami baru bisa lepas landas jam 21:25 sementara penerbangan sebenarnya dijadwalkan berangkat jam 20:30. h

Menunggu di kursi 21K-ku.

Pesawat lepas landas dari landasan pacu 25R dan kemudian berbelok menuju Singapura. Tak lama kemudian, layanan makan malam dibagikan. Pilihannya adalah lasagna daging sapi atau mie dengan ayam. Aku memilih pilihan pertama dengan white wine dan air putih untuk minum. Rasa lasagnanya lumayan juga. Aku makan sambil menonton dua episodenya The Big Bang Theory, haha…

Lasagna daging sapi untuk makan malam dan The Big Bang Theory

Sekitar satu jam kemudian, kami mulai turun menuju Bandara Changi dan kemudian mendarat di landasan pacu 02C. Berikut ini video pendaratannya:

Pesawat taxiing lumayan jauh ke Terminal 3. Penumpang transit diminta untuk turun dengan waktu transit selama sekitar satu jam.

Transit di Bandara Changi

Satu upaya pemangkasan biaya lain yang nampak jelas adalah ketiadaan fasilitas transit di Singapura. Dua tahun yang lalu, aku mendapatkan satu kotak snack dan voucher senilai S$30 untuk dibelanjakan di Changi. Tahun ini aku nggak mendapatkan apa-apa dong! Haha 😛 . Dan jadilah setelah turun aku mampir dulu ke Kios Informasinya Changi untuk mendapatkan password wifi dan setelahnya langsung masuk ke gate lagi menunggu boarding.

Nggak dapat apa-apa ketika transit di Singapura kali ini.

Anyway, secara teknis penerbanganku selanjutnya adalah penerbangan kebebasan kelima karena aku akan terbang dengan Garuda Indonesia dari Singapura ke Belanda! Satu aspek yang juga membuatku excited karena ini akan menjadi satu-satunya penerbangan kebebasan kelimaku tahun ini!

Garuda Indonesia GA88 (SIN – AMS)

Penerbangan: Garuda Indonesia GA 88
Pesawat: Boeing 777-300ER reg PK-GII dengan livery SkyTeam
ATD: 01:54 SGT (Runway 02L of SIN)
ATA: 07:38 CET (Runway 18C of AMS)

Ketika boarding, aku jadi tahu bahwa dua kursi di sebelahku diduduki oleh sepasang suami-istri muda yang terbang dengan bayi mereka. Karena kursiku adalah kursi jendela, aku langsung paham bahwa keleluasaan yang sebelumnya kudapatkan dari banyaknya ruang di kursi 21K-ku akan banyak hilang kali ini. Setelah lepas landas, kotak/ranjang bayi akan dipasangkan di depan kursi untuk bayinya yang mana jelas akan memakan hampir semua ruang di depanku. Walaupun memang ini membuat sedikit ketidak-nyamanan bagiku, tetapi ya memang ini lah “risiko” duduk di kursi ini kok, haha. Kan nggak mungkin dong ya kita “menang” terus.

Peragaan keselamatan.

Anyway, singkat cerita kami berangkat begitu semua penumpang naik. Penerbangan ke Amsterdam ini nyaris penuh loh, dengan load factor di kelas ekonomi yang aku bilang setidaknya 95%, yang mana keren banget menurutku! Kami lepas landas dari landasan pacu 02L dan kemudian mengarah ke arah barat laut menuju Eropa.

Satu ronde makan malam diberikan lagi (dengan pilihan menu yang sama seperti yang sebelumnya) setelah lepas landas. Karena masih kenyang, aku menolaknya dan meminta jus jambu saja, haha. Di waktu ini, kami terbang di atas Aceh, tidak terlalu jauh dari (yang kuperkirakan) lokasi Siklon “Dahlia” sehari sebelumnya. Sebagai akibatnya, kami mengalami beberapa turbulensi yang kekuatannya lumayan, haha.

Ada banyak turbulensi di area ini.

Sementara itu, aku mencoba untuk tidur karena sudah mengantuk sekali. Malahan, aku bisa tidur selama sekitar enam jam-an loh di penerbangan ini, yang mana impresif sekali untukku! Kebetulan juga aku tidurnya di bagian penerbangan yang banyak turbulensinya, haha. Btw, di tengah jalan waktu itu, layanan in-between fuel juga diberikan yang berupa sandwich daging salmon.

Layanan in-between fuel

Aku bangun ketika pesawat sudah berada di atas area Turki. Aku sudah lumayan bangun dan aku tahu percuma kalau mau memaksakan tidur lagi, haha. Ya sudah jadilah aku menonton beberapa episodenya The Big Bang Theory lagi.

Sekitar dua jam sebelum mendarat, layanan sarapan disajikan. Pilihannya adalah omelet atau nasi dengan ayam; aku memilih yang kedua. Untuk menemaniku sarapan, awalnya aku bingung antara mau menonton Hidden Figures atau Trinity, the Nekad Traveller, haha 😛 . Dengan mempertimbangkan agak sulit bagiku menonton film Indonesia di Belanda, aku memilih yang kedua 😛 .

Ayam dan nasi untuk sarapan.

Anyway sekitar jam 7:15 waktu setempat kami sudah mulai mendekati Bandara Schiphol. Kondisi di luar masih gelap sekali ketika awak kapal mulai bersiap untuk mendarat:

Dan tak lama setelahnya, kami mendarat di landasan pacu 18C Bandara Amsterdam Schiphol. Berikut ini video pendaratannya:

PK-GII kemudian diparkir di gate G5. Penumpang dipersilakan turun dan aku melewati imigrasi. Keren banget lho dimana bagasiku keluar begitu aku masuk di area bagasinya! Ini jelas karena status SkyTeam Elite Plus-ku lah! Bagasiku diberi label prioritas sehingga aku jadi “menghindari” masalah penungguan bagasi yang biasanya lama banget di Schiphol ! 😛

Anyway, kemudian aku naik kereta ke Amsterdam Centraal; dan di sini perjalanan November 2017ku ke Indonesia resmi berakhir.

SELESAI.

#2026 – November 2017 Indonesia Trip (Part I: Getting to Indonesia)

ENGLISH

Posts in the November 2017 Indonesia Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Indonesia
3. Part II: Jakarta
4. Part III: Yogyakarta
5. Part IV: The Wedding
6. Part V: Solo
7. Part VI: Back to Europe

I chose Garuda Indonesia’s non-stop Amsterdam – Jakarta flight GA89 to get to Indonesia this time. This was actually my third time flying this route, as the first two times were three and two years ago, both during the summer.

Starting in late October, Garuda Indonesia operated their Amsterdam route exclusively with their two-class Boeing 777-300ER, a news which I liked because it meant the possibility for me to add new registrations into my logbook. And it turned out I was lucky because Garuda deployed PK-GIK to Amsterdam for my flight today! Aside from being a new registration for me, PK-GIK was also Garuda’s newest Boeing 777-300ER! Yay! :mrgreen:

A Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER reg PK-GIK was on its way to Amsterdam. A screenshot from flightradar24.com

Anyway I left my apartment to arrive at Schiphol just in time before check-in opened. Thanks to my SkyTeam Elite Plus status from Air France/KLM, I could block a seat in the first row of economy class for free (Otherwise I would have had to pay US$80 extra one way for this seat. Yay! 😀 ). I also checked-in my luggage (which I got 50 kg allowance thanks to my status 😛 ) and got my boarding pass. As usual, then I cleared security and immigration, and waited for the flight at KLM’s Crown Lounge.


Flight: Garuda Indonesia GA 89
Equipment: Boeing 777-300ER reg PK-GIK
ATD: 16:09 CET (Runway 24 of AMS)
ATA: 11:14 WIB (Runway 07R of CGK)

Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER reg PK-GIK at Schiphol Airport

I went to the gate a little bit too early, where PK-GIK wasn’t even towed to the gate yet when I arrived there, haha. Long story short, boarding commenced a little bit late and I settled onto my 21K seat. The seat was very comfortable as I got two windows for myself, ample of leg room (for economy standard), and basically free access to the aisle due to the legroom. As a result, I would not need to bother my seatmates whenever I wanted to “go out” of my seat throughout the flight! :mrgreen: The first thing I did after sitting down, however, was to charge my phone via the USB port attached to the seat. Haha 😛

My seat 21K on PK-GIK

Charging my phone

I observed the flight was quite full today; while the load factor was certainly not at 100%, I estimated it would be somewhere around 70-80%; not too bad in my opinion considering PK-GIK being configured in two-class, meaning significant increase in capacity in economy class. After the doors were closed, we departed from the gate. The safety demo was played and the flight attendants distributed mineral water. At 16:09, we took off from runway 24 of Schiphol under the rainy Dutch Fall weather.

Taking off from runway 24 of Schiphol during rain

Just after take-off, a snack service was provided which consisted of a bag of peanuts and the flight attendants went another round to distributed the amenity kits, which consisted of a pair of socks, a pair of ear plug, and an eye pad (which is quite a “luxury” in long-haul economy class as not all airlines provided these! Garuda, you rock!).

A mandatory selfie because I paid for the wifi

I decided to purchase the wifi access for the duration of the flight, which price I found fair enough. The cabin was then dimmed with purple mood lighting and the purser announced the planned service throughout the flight. The sun set not long after take-off, probably when we were already somewhere above Czech Republic, thus providing me with this beautiful view from my window:

A sunset view

About an hour after take-off, the dinner service was provided. The choice was chicken with rice or beef with potatoes. I opted for the latter where the beef was served in mustard sauce and potato wedges, which was delicious. I accompanied the dinner with Fantastic Beast and Where to Find Them which I watched at the AVOD screen. I started to feel sleepy after the dinner and the movie; but then I made a “mistake” by going to the lavatory which for whatever reason made me “awake” again, lol 😆 .

The complimentary dinner service on board flight GA89

Nonetheless, I decided to try to sleep anyway by wearing my eye pad, though unfortunately it ended with no avail. Some light snacks (chips, energy bars, and peanuts) were served in the galley, btw. And about eight hours into the flight, the in-between fuel service, in the form of chocolate muffin, was served. The flight attendants were also very attentive. I was wearing my eye pad trying to sleep during the service, so she quietly placed two (!) muffins and a mineral water on my tray (which I intentionally left open as a place holder) without me noticing!

The in-between fuel service: chocolate muffin

I was able to sleep for about an hour after that, and I woke up when we were already above the Bay of Bengal. I noticed the light was already out outside so I peeked out the window and got the following beautiful morning view:

A morning view above the Bay of Bengal

At this point, I decided I would not sleep anymore as we were already approaching Indonesia anyway. So I turned on the AVOD and watched Despicable Me 3, haha. It was a nice coincidence btw that I watched Despicable Me 2 also on board flight GA89 to Indonesia two years ago! 😛

The flight entered Indonesia from the north of Sabang, then passed Lake Toba down along the island of Sumatra to Jakarta. During this time, the breakfast service was provided where the options was a chicken frittata or beef with yellow rice. I opted for the latter which was quite delicious too!

The breakfast service on board flight GA89

At about 11 AM, the flight started its descend towards Soekarno-Hatta International Airport and the cabin crews prepared for landing.

Earlier the first officer mentioned we would land at runway 25R, but eventually we landed at runway 07R of Soekarno-Hatta International Airport. Here is the landing video:

PK-GIK then had to make the long taxi all the way to Terminal 3 Ultimate. I was quite excited about this because it would be my first time ever using this brand new terminal! Haha 😛 . I got off from PK-GIK and entered the arrival area, which turned out to be just an alley leading to immigration and the arrival hall.

Speaking of immigration, upon check-in at Schiphol I was given the following card:

A Fast Track card

thanks to my SkyTeam Elite Plus status. Yep, a “Fast Track” card so I could use the priority lane at immigration in Jakarta! It was quite helpful as there were a few international arrivals at around the same time! Yeay Garuda! 😀

The baggage area of Terminal 3 Ultimate

My luggage was also one of the first to come out in the carrousel thanks to the priority label. I then went out the terminal building and got a taxi to go to Jakarta for the first time in more than seven years.

TO BE CONTINUED…

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri November 2017 Indonesia Trip:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Indonesia
3. Part II: Jakarta
4. Part III: Yogyakarta
5. Part IV: The Wedding
6. Part V: Solo
7. Part VI: Back to Europe

Aku memilih untuk terbang dengan penerbangan non-stop Garuda Indonesia Amsterdam – Jakarta GA89 untuk berangkat ke Indonesia kali ini. Ini adalah kali ketiga aku menaiki peenrbangan ini, dengan yang dua pertama adalah tiga dan dua tahun yang lalu, yang mana keduanya adalah di musim panas.

Mulai Oktober lalu, Garuda Indonesia mengirimkan pesawat Boeing 777-300ER yang dikonfigurasi dengan dua kelas saja untuk rute Amsterdam, sebuah berita yang kusukai karena berarti aku jadi berkesempatan menambah registrasi baru ke dalam logbook-ku. Dan ternyata aku beruntung karena Garuda mengirimkan PK-GIK ek Amsterdam kali ini! Selain registrasi baru, PK-GIK jugalah Boeing 777-300ERnya Garuda yang paling baru! Hore! :mrgreen:

Sebuah Boeing 777-300ER milik Garuda Indonesia dengan rego PK-GIK dalam perjalanan ke Amsterdam. Screenshot dari flightradar24.com

Anyway aku berangkat dari apartemenku ke Schiphol pas ketika check-in dibuka. Dengan status SkyTeam Elite Plus-ku dari Air France/KLM, aku bisa mem-block seat kursi di deretan pertama ekonomi dengan gratis loh (Tanpa status itu, aku harus membayar ekstra US$80 sekali jalan untuk kursi ini. Lumayan lah ya! 😀 ). Aku juga meng-check-in-kan bagasiku (yang mana aku mendapatkan jatah 50 kg dengan statusku 😛 ) dan mendapatkan boarding pass. Seperti biasa, setelah pemeriksaan sekuriti dan imigrasi, aku menunggu di Crown Lounge-nya KLM.


Penerbangan: Garuda Indonesia GA 89
Pesawat: Boeing 777-300ER reg PK-GIK
ATD: 16:09 CET (Runway 24 of AMS)
ATA: 11:14 WIB (Runway 07R of CGK)

Sebuah Boeing 777-300ERnya Garuda Indonesia dengan rego PK-GIK di Bandara Schiphol

Aku sampai di gerbang agak terlalu awal hari ini, dimana bahkan PK-GIK belum di-tow ke sana ketika aku tiba, haha. Singkat cerita, boarding dimulai sedikit terlambat dan aku duduk nyaman di kursi 21K-ku. Oh iya kursinya enak lho dimana aku mendapatkan dua jendela untukku sendiri, leg room yang lapang banget (untuk ukuran ekonomi), dan pada dasarnya akses bebas ke lorong karena leg room-nya yang lapang itu. Sebagai akibatnya, aku nggak harus mengganggu orang yang duduk di sebelahku untuk “keluar” dari kursiku di sepanjang penerbangannya! :mrgreen: Hal pertama yang kulakukan setelah duduk adalah meng-charge hapeku dengan USB port yang berada di kursinya. Haha 😛

Kursi 21K di dalam PK-GIK

Meng-charge hapeku

Aku amati penerbangan hari ini cukup penuh juha; walaupun memang nggak 100% sih, aku estimasi sekitar 70-80% lah; lumayan sih menurutku mengingat PK-GIK dikonfigurasi dengan dua kelas, yang mana berarti peningkatan kapasitas yang signifikan di kelas ekonomi. Setelah pintu ditutup, penerbangan berangkat. Video keselamatan dimainkan dan para pramugari kemudian membagikan air putih botolan kepada penumpang. Jam 16:09, pesawat lepas landas dari landasan pacu 24 Bandara Schiphol di bawah guyuran hujan Belanda di musim gugur.

Lepas landas dari landasan pacu 24 Bandara Schiphol ketika hujan.

Setelah lepas landas, layanan snack ringan dibagikan yang mana terdiri dari sebungkus kacang dan minuman; dan setelahnya pramugari kembali berkeliling membagikan amenity kits yang terdiri dari sepasang kaus kaki, sepasang sumbat telinga, dan sebuah penutup mata (yang mana merupakan suatu “kemewahan” loh di penerbangan ekonomi jarak-jauh karena tidak semua maskapai menyediakannya! Garuda, kamu keren!).

Wajib selfie dong karena aku kan membeli paket wifi-nya.

Aku juga memutuskan untuk membeli akses wifi untuk keseluruhan durasi penerbangan, yang mana menurutku harganya pantas lah. Mood lighting keunguan kemudian dimainkan di dalam akbin dan purser mengumumkan layanan di sepanjang penerbangan. Matahari terbenam tak lama kemudian, ketika kami berada di atas Ceko, yang mana pemandangan dari jendelanya keren banget kayak gini:

Pemandangan matahari terbenam

Sekitar satu jam setelah lepas landas, layanan makan malam dibagikan. Pilihannya adalah ayam dengan nasi atau daging sapi dengan kentang. Aku memilih yang kedua yang mana daging sapinya dimasak dengan saus mustard dan dilengkapi dengan potato wedges, yang mana enak! Aku makan malam sambil menonton Fantastic Beast and Where to Find Them dari layar AVODnya. Setelah makan malam dan selesai menonton film, aku mulai merasa ngantuk; tetapi kemudian aku membuat “kesalahan” dengan pergi ke toilet karena entah mengapa, ketika kembali duduk aku jadi “nggak ngantuk” lagi dong, haha 😆 .

Layanan makan malam di penerbangan GA89 kali ini.

Toh aku tetap memaksakan diri untuk mencoba tidur, yang mana akhirnya gagal juga, haha. Beberapa cemilan ringan (chips, energy bars, dan kacang) disajikan di galley, btw. Sekitar delapan jam setelah berangkat, layanan in-between fuel yang kali ini berupa kue muffin coklat dibagikan. Pramugarinya perhatian banget lho. Ceritanya aku kan mengenakan eye pad untuk mencoba tidur, ia kemudian meletakkan dua (!) buah muffin dan air mineral di tray-ku lho (yang memang sengaja aku buka untuk menaruh barang) tanpa membangunkanku!

Layanan in-between fuel kali ini: coklat muffin

Aku akhirnya berhasil tidur juga selama sekitar satu jam setelahnya, dan aku terbangun kembali di atas Teluk Bengal. Aku perhatikan sepertinya di luar sudah terang, jadilah aku mengintip keluar jendela dan mendapatkan pemandangan pagi kece ini:

Pemandangan pagi di atas Teluk Bengal

Di waktu ini, aku memutuskan untuk nggak tidur lagi lah karena toh sudah hampir masuk Indonesia juga kan. Jadilah layar AVODnya kunyalakan lagi dan aku menonton Despicable Me 3, haha. Kebetulan lho dimana aku menonton Despicable Me 2 juga di peenrbangan GA89 ke Indonesia dua tahun yang lalu! 😛

Pesawat memasuki area Indonesia dari arah utara Sabang, kemudian terbang di atas Danau Toba dan di atas pulau Sumatra menuju Jakarta. Di waktu ini, layanan sarapan dibagikan. Pilihannya adalah frittata ayam atau daging sapi dengan nasi kuning. Aku memilih yang kedua yang mana enak juga!

Layanan sarapan di penerbangan GA89

Sekitar jam 11 pagi, pesawat mulai turun menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan awak kabin mulai bersiap-siap untuk mendarat.

Sebelumnya, first officer menyebutkan kami akan mendarat di landasan pacu 25R, tetapi akhirnya kami mendarat di landasan pacu 07R Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Berikut ini video pendaratannya:

PK-GIK harus taxiing agak jauh menuju Terminal 3 Ultimate. Aku lumayan excited dengan ini karena ini adalah kali pertama aku akan menggunakan terminal baru ini! Haha 😛 . Aku turun dari pesawat dan memasuki area kedatangan, yang mana ternyata hanya lah lorong untuk menuju imigrasi dan area pengambilan bagasi.

Ngomongin masalah imigrasi, ketika check-in di Schiphol aku diberikan kartu khusus ini:

Kartu Fast Track

karena status SkyTeam Elite Plus-ku. Iya, kartu “Fast Track” dimana aku bisa menggunakan jalur prioritas di antrian imigrasi di Jakarta! Ini lumayan membantu lho karena waktu itu ada beberapa kedatangan internasional di waktu yang hampir sama! Hore Garuda! 😀

Area bagasi di Terminal 3 Ultimate

Bagasiku juga termasuk salah satu yang dikeluarkan pertama karena label prioritasnya. Aku kemudian keluar dari gedung terminal dan menaiki sebuah taksi untuk pergi ke Jakarta untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun lebih.

BERSAMBUNG…

#2001 – AvGeek Weekend Trip #12 (AMS – CDG – LHR – CDG – AMS)

ENGLISH

I went on an Avgeek Weekend Trip this weekend which was very interesting as it involved an Air France’s brand new (not even a month old) Boeing 787-9 Dreamliner. And here is the story of this fun weekend trip I just had.

The routing this weekend. Created with: gcmap.com

So as you know the routing this time was Amsterdam – Paris-CDG – London-Heathrow and back. And so I have decided to skip the Amsterdam – Paris-CDG vv part because I have flown this route so many times, haha. I would just go as far as saying that I flew an Air France’s Airbus A320-200 reg F-GKXL and a KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGW on these two flights.

An Air France’s Airbus A320-200 F-GKXL

A KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGW.

Paris – CDG, Terminal 2E Hall K

After arriving in Paris, I checked the transfer monitor and learned that my connecting flight to London would depart from Hall K of Terminal 2E. So I followed the signage to this hall, which was at the other side of Paris Charles De Gaulle Airport’s Terminal 2. I cleared immigration as well during this transfer, which was really a breeze because there was noone else, haha 😛 .

At Hall K, I immediately went to the Air France’s lounge there. I just realized that this was actually my first time at a non-Schengen Air France Lounge at Paris-CDG Airport! Haha 😛 . The lounge was really spacious, much more spacious than the two lounges at Terminal 2F, though the offering was pretty much the same.

Salon Air France at Terminal 2E Hall K

About an hour before departure, I left the lounge to look for the gate. Though I was travelling via Paris-CDG a lot, this was actually just my second time using its Hall K (the first time was when I was catching my Japan Airlines flight to Tokyo-Narita 2.5 years ago), so I wasn’t that familiar with this hall. The interior design of Paris – CDG Terminal 2E’s Hall K was really beautiful, btw. However, it was clearly not designed for avgeeks because it was very difficult to take pictures of the planes parked at this hall! Haha 😛

The beautiful Paris Charles De Gaulle Airport Terminal 2E Hall K

AF 1180 (CDG – LHR)


Flight: Air France AF1180
Equipment: Airbus A320-200 reg F-GKXJ with a Paris 2024 sticker
ATD: 19:24 CET (Runway 08L of CDG)
ATA: 19:14 BST (Runway 27R of LHR)

Anyway, my flight to London today would be operated with an Air France’s Airbus A320-200 reg F-GKXJ, which was plastered with a Paris 2024 sticker. F-GKXJ was actually parked at the gate next to the Air France Lounge and so I knew that this plane had been sitting there for quite some time. I guess due to the importance of its London-Heathrow route (London-Heathrow is considered as one of the most “premium” airports, in terms of the type of passengers it attracts, in the industry), Air France wouldn’t want to take the risk of any of its London-Heathrow flights being delayed; and so the long on-the-ground time.

An Air France’s Airbus A320-200 F-GKXJ with Paris 2024 sticker

Long story short, I boarded the plane and sat at my 6A seat in the first row of economy today. Not too long after, the push back began and the flight departed. We took off from runway 08L of Paris-CDG and headed northwest towards London. It was a short flight so the complimentary snack service was provided right away.

A flight to London-Heathrow wouldn’t be complete without the plane having to make a few turns above London before being allowed to land, haha. Unfortunately there was some cloud hanging above the city today so I couldn’t really see anything. Anyway, at 19:14 local time we landed at runway 27R of London-Heathrow Airport.

Landing at runway 27R of London-Heathrow

We had to taxi for quite a distance and time (due to the airport’s crowdedness), where I spotted a Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER being prepared for its non-stop flight back to Jakarta later tonight. And finally, we parked at a gate in Terminal 4 at the south part of the airport.

London-Heathrow

The last and only other time I was entering the UK via Heathrow was more than four years ago, haha. And I, sort of, forgot the possible inconvenience of entering London via this popular airport: a really long line at immigration!! The line was so long that I remembered the last time I encountered a line at least this “bad” was when I arrived in New York from Mexico City almost two years ago! While I wasn’t spending 90 minutes just for queuing this time (it was closer to 45 I think), it made me think that the next time I would travel to London, it would be better to arrive at London City Airport! Haha 😛

Rump steak for dinner

Anyway, I spent a night at a hotel nearby the airport today, where I also had my rump steak dinner.

The next morning, I checked out just before 7 AM to catch my 9:45 AM flight back to Paris. I already had my mobile boarding pass so I headed straight to security. The officer noticed the “Sky Priority” tag in my boarding pass and informed me that this allowed me to use the VIP security lane. Yeay! I didn’t have to queue with this lane and I cleared security in less than two minutes, haha.

The entrance to the SkyTeam Lounge at Heathrow

Once in the departure area, I looked for the SkyTeam Lounge at the airport. You see, London-Heathrow is not a SkyTeam airport but its importance means that a lot of SkyTeam airlines are using it. So to cater this, SkyTeam invests in a lounge at the airport’s Terminal 4, where most SkyTeam airlines fly to (Strangely, Garuda Indonesia operates from Terminal 3 despite it being a SkyTeam member).

The entrance to the lounge was quite small but the lounge itself was actually quite spacious, as it had two floors! I went to the upstairs area because the attendant told me breakfast was served there. The breakfast was actually quite decent with a selection of English or continental all you can eat breakfast. The design of the lounge itself was also really cool and looked so much better than the overall “outdated” feel of Terminal 4 of Heathrow, haha.

SkyTeam Lounge at Heathrow

AF 1681 (LHR-CDG)


Flight: Air France AF1681
Equipment: Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBC
ATD: 10:22 BST (Runway 27R of LHR)
ATA: 12:07 BST (Runway 26L of CDG)

I was very excited when I saw in my Flightradar24 app that my flight today would be operated with F-HRBC, Air France’s newest Boeing 787-9 Dreamliner that wasn’t even one month old! Unfortunately, the flight used Gate 2 today which was a horrible gate at the terminal because it was impossible to take a good picture of the plane! Haha 😛

Long story short, I boarded F-HRBC and sat at seat 18K. This time, I sat in the regular economy cabin unlike my last trip with an Air France’s Dreamliner where I sat in the premium economy cabin. I deliberately chose not to “upgrade” myself for the small fee because I would like to compare the two cabins, haha.

The regular economy cabin of Air France’s Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBC

The regular economy cabin was actually quite comfortable with good seat pitch and Air France’s newest IFE (Air France Touch). After all passengers boarded, the flight departed and the very chic safety demo was played on the IFE.

Don’t forget to put on your safety belt as, aside from ensuring our safety, it also elegantly hightlights your waistline…

Anyway, a departure from London-Heathrow wouldn’t also be complete without experiencing its traffic jam for take-off, haha. The departure runway this morning was runway 27R so we had to taxi for quite some distance there, and we encountered quite a traffic jam as we were nearing the runway. This doesn’t happen that often at Schiphol or Paris-CDG, and reminded me of Soekarno-Hatta International Airport in Jakarta! Haha 😛 .

Traffic jam at Heathrow

Long story short, we finally took off and began our short hop to Paris-CDG. As in flight AF1180, the service began immediately after take-off. A Boeing 787-9 was a much bigger plane than an Airbus A320 so I could imagine the flight attendants must be feeling some kind of time pressure for the service, and they did a really great job! Overall it was a very pleasant and smooth flight with Air France’s F-HRBC. At 12:07 local time, we landed at runway 26R of Paris-CDG Airport.

Air France’s Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBC at Paris-CDG

The plane parked at Terminal 2E Hall L. Then I cleared security and immigration to transfer to Terminal 2F to catch my last flight of this trip back to Amsterdam with KLM.

BAHASA INDONESIA

Aku pergi dalam sebuah Avgeek Weekend Trip akhir pekan kemarin yang mana seru banget karena melibatkan sebuah Boeing 787-9 Dreamlinernya Air France yang baru banget (bahkan umurnya belum ada satu bulan). Dan berikut ini cerita dari akhir pekan seruku ini.

Rute akhir pekan ini. Dibuat dengan: gcmap.com

Rute kali ini adalah Amsterdam – Paris-CDG – London-Heathrow pp. Dan sudah kuputuskan aku tidak akan membahas penerbangan pp Amsterdam – Paris-CDGku karena aku sudah sering banget terbang di rute ini, haha. Cuma akan kusebutkan bahwa aku terbang dengan pesawat Airbus A320-200 rego F-GKXLnya Air France dan Boeing 737-700 rego PH-BGWnya KLM di dua penerbangan ini.

Sebuah Airbus A320-200 F-GKXLnya Air France

Sebuah Boeing 737-700 PH-BGWnya KLM.

Paris – CDG, Terminal 2E Hall K

Setelah tiba di Paris, aku mengecek monitor penerbangan transit dan aku diberi-tahu bahwa penerbangan lanjutanku ke London akan berangkat dari Hall K di Terminal 2E. Aku mengikuti petunjuk jalan ke arah sana, yang mana berada di sisi lain dari Terminal 2nya Bandara Charles De Gaulle. Aku melewati imigrasi ketika transit ini, yang mana berlangsung mulus banget karena nggak ada penumpang lain selain aku sehingga nggak perlu antri, haha 😛 .

Di Hall K, aku langsung pergi ke lounge-nya Air France di sana. Aku baru sadar bahwa ini adalah kali pertama aku mampir di sebuah lounge non-Schengennya Air France di Bandara Paris-CDG loh! Haha 😛 . Lounge-nya sendiri amat luas, lebih luas dari dua lounge-nya di Terminal 2F, walaupun layanannya sih kurang lebih sama lah.

Salon Air France di Terminal 2E Hall K

Sekitar satu jam sebelum waktu keberangkatan, aku meninggalkan lounge-nya menuju ke gate. Walaupun aku sering terbang melewati Bandara Paris-CDG, ini baru lah kali kedua aku menggunakan Hall K-nya (kali pertama adalah ketika aku menaiki penerbangan Japan Airlines ke Tokyo-Narita 2,5 tahun lalu), jadi aku kurang begitu familier dengan hall ini. Disain interior hall ini indah dan kece banget sebenarnya, btw. Namun, jelas disainnya tidak ramah untuk avgeek karena sulit sekali untuk bisa mendapatkan foto pesawat yang diparkir di hall ini dengan oke! Haha 😛

Terminal 2E Hall K Bandara Charles De Gaulle Paris yang indah dan kece banget.

AF 1180 (CDG – LHR)


Penerbangan: Air France AF1180
Pesawat: Airbus A320-200 reg F-GKXJ dengan stiker Paris 2024
ATD: 19:24 CET (Runway 08L of CDG)
ATA: 19:14 BST (Runway 27R of LHR)

Anyway, penerbanganku ke London hari ini dioperasikan dengan Airbus A320-200nya Air France dengan rego F-GKXJ, yang ditempeli stiker Paris 2024. F-GKXJ sebenarnya diparkir di gate di sebelah lounge-nya Air France jadi aku tahu bahwa pesawat ini sudah diparkir di sana lumayan lama. Aku kira karena pentingnya rute London-Heathrow (London-Heathrow banyak dipandang sebagai satu dari bandara yang “premium”, dari segi tipe penumpang yang bepergian ke sana, di industri penerbangan), Air France tidak mau ambil risiko yang bisa menyebabkan penerbangan-penerbangan ke London-Heathrow terlambat; makanya pesawatnya diparkir lama di darat.

Sebuah Airbus A320-200 F-GKXJnya Air France dengan stiker Paris 2024

Singkat cerita, aku menaiki pesawatnya dan duduk di kursi 6A di barisan pertama ekonomi hari ini. Tak lama setelahnya, pesawat didorong mundur dan berangkat. Kami lepas landas dari landasan pacu 08L Bandara Paris-CDG dan kemudian berbelok ke arah barat laut menuju London. Karena durasi penerbangannya yang singkat, layanan snack langsung disajikan.

Yang namanya penerbangan ke London-Heathrow tak akan lengkap tanpa yang namanya berputar-putar dulu di atas London sebelum diberikan izin mendarat, haha. Sayangnya, langit London berawan malam ini sehingga aku tidak bisa melihat apa-apa. Anyway, jam 19:14 waktu setempat kami mendarat di landasan pacu 27R Bandara Heathrow.

Mendarat di landasan pacu 27R Bandara London-Heathrow

Kami harus taxiing cukup jauh dengan waktu lumayan lama (soalnya bandaranya ramai banget), dimana aku bisa melihat sebuah Boeing 777-300ERnya Garuda Indonesia sedang disiapkan untuk penerbangan non-stopnya ke Jakarta malam itu. Dan akhirnya, pesawat diparkir di Terminal 4 di sisi selatan bandaranya.

London-Heathrow

Pertama dan terakhir kalinya aku masuk ke UK melalui Heathrow sebelum hari ini adalah lebih dari empat tahun yang lalu, haha. Jadilah aku lupa mengenai kemungkinan ketidak-nyamanannya masuk ke London melalui bandara ini: antrian imigrasi yang gila panjangnya!! Antriannya panjang banget sampai aku langsung teringat terakhir kali aku menghadapi antrian imigrasi yang “separah” ini adalah ketika aku tiba di New York dari Mexico City hampir dua tahun yang lalu! Walaupun memang sih aku tidak menghabiskan 90 menit untuk mengantri kali ini (sekitar 45an lah), ini membuatku berpikir bahwa untuk perjalananku ke London yang selanjutnya, mendingan aku terbang ke Bandara London City aja deh! haha 😛

Rump steak untuk makan malam

Anyway, aku menginap semalam di hotel di dekat bandara hari ini, dimana aku juga makan rump steak untuk makan malam.

Keesokan paginya, aku check-out sebelum jam 7 pagi untuk mengejar penerbangan jam 9:45ku ke Paris. Aku sudah memiliki mobile boarding pass sehingga aku langsung menuju ke area sekuriti. Petugasnya melihat label “Sky Priority” di boarding pass-ku dan memberi-tahuku bahwa dengannya aku bisa masuk melalui jalur pemeriksaan VIP. Hore! Di jalur ini aku nggak perlu ngantri dan melewati pemeriksaan sekuriti total dalam waktu kurang dari dua menit saja, haha.

Pintu masuk SkyTeam Lounge di Heathrow

Begitu di area keberangkatan, aku langsung mencari SkyTeam Lounge di terminal ini. London-Heathrow bukanlah bandara SkyTeam tetapi pentingnya bandara ini membuat maskapai-maskapai SkyTeam memiliki banyak penerbangan melalui bandara ini. Jadilah SkyTeam memutuskan untuk berinvestasi dengan membuka sebuah lounge di Terminal 4 bandara ini, dimana kebanyakan penerbangan SkyTeam diberangkatkan (Anehnya, Garuda Indonesia beroperasi di Terminal 3 padahal Garuda kan anggota SkyTeam juga).

Pintu masuk lounge ini cukup kecil tetapi lounge-nya sendiri luas loh, dua lantai pula! Aku naik ke lantai atas karena petugasnya memberi-tahuku bahwa sarapan disajikan di sana. Pilihan sarapannya sendiri cukup oke dimana ada sarapan ala Inggris atau kontinental dengan model all you can eat. Disain lounge-nya sendiri juga keren banget dan nampak jauh lebih modern daripada Terminal 4nya Heathrow yang terasa “usang”, haha.

SkyTeam Lounge di Heathrow

AF 1681 (LHR-CDG)


Penerbangan: Air France AF1681
Pesawat: Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBC
ATD: 10:22 BST (Runway 27R of LHR)
ATA: 12:07 BST (Runway 26L of CDG)

Aku merasa bersemangat banget ketika aku lihat di app Flightradar24-ku bahwa penerbanganku akan dioperasikan dengan F-HRBC, Boeing 787-9 Dreamlinernya Air France yang paling baru yang umurnya bahkan belum ada satu bulan! Sayangnya, penerbangan hari ini menggunakan Gate 2 yang mana merupakan gate di terminal ini yang menyebalkan sekali karena tidak mungkin bagiku untuk bisa memfoto pesawatnya dengan sudut yang baik! haha 😛

Singkat cerita, aku menaiki F-HRBC dan duduk di kursi 18K. Kali ini, aku duduk di kabin ekonomi reguler, tidak seperti penerbanganku sebelumnya dengan Dreamlinernya Air France dimana aku duduk di kabin premium economy. Sengaja aku memilih untuk tidak meng-“upgrade” kursiku dengan biaya yang sebenarnya tidak terlalu mahal karena aku ingin membandingkan dua kabinnya, haha.

Kabin ekonomi reguler Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBCnya Air France

Kabin ekonomi regulernya ternyata cukup nyaman dengan seat pitch kursi yang oke dan IFE terbarunya Air France (Air France Touch). Setelah semua penumpang naik pesawat, kami berangkat dan video peragaan keselamatan yang chic banget itu dimainkan di layar IFEnya.

Jangan lupa memasang sabuk pengaman karena, selain untuk memastikan keselamatan Anda, sabuknya juga meng-highlight lingkar pinggang Anda dengan elegan…

Anyway, yang namanya keberangkatan dari London-Heathrow tak akan komplit tanpa mengalami yang namanya kemacetan sebelum lepas landas, haha. Landasan pacu keberangkatan pagi ini adalah landasan 27R sehingga kami harus taxiing lumayan jauh ke sana, dan di dekat landasannya ada kemacetan untuk menunggu giliran lepas landas. Ini hampir tidak pernah terjadi di Schiphol atau Paris-CDG, dan mengingatkan akan Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta! Haha 😛 .

Kemacetan di Heathrow

Singkat cerita, kami akhirnya lepas landas dan memulai penerbangan singkat ke Paris-CDG. Seperti di penerbangan AF1180, layanan snack-nya langsung disajikan setelah lepas landas. Boeing 787-9 berukuran lebih besar daripada Airbus A320 sehingga aku paham tentu pramugari/a-nya diburu-buru waktu ya untuk layanan ini, dan mereka meng-handle-nya dengan baik! Secara umum penerbangan ini adalah penerbangan yang nyaman dan mulus dengan F-HRBCnya Air France. Jam 12:07 waktu setempat, kami mendarat di landasan pacu 26R Bandara Paris-CDG.

Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBCnya Air France di Paris-CDG

Pesawat diparkir di Hall L Terminal 2E. Lalu, aku melewati pemeriksaan sekuriti dan imigrasi ketika transit ke Terminal 2F untuk mengehjar penerbanganku kembali ke Amsterdam dengan KLM.

#1990 – AvGeek Weekend Trip #10 (AMS – OSL – CDG – AMS)

ENGLISH

Not too long ago, I went on another AvGeek Weekend Trip with quite an interesting routing:

The routing this weekend. Map created with gcmap.com

At first, I didn’t plan to write a self-standing post of the trip. But I changed my mind after the experiences I had during the trip, which actually made the trip unique enough for a self-standing post. Anyway, this post is the self-standing post and let just the story begin…

KLM KL1143 (AMS – OSL)

Flight: KLM KL1143
Equipment: Boeing 737-700 reg PH-BGQ named “Wielewaal”
ATD: 09:23 CET (Runway 24 of AMS)
ATA: 10:54 CET (Runway 01L of OSL)

To save some budget, I chose KLM’s 09:20 flight to Oslo (the 11:50 would have been better schedule-wise, but it was also much more expensive). Consequently, I had to depart from home quite early. And I departed a bit too early, actually, where I arrived at the tram stop some 20 minutes before the scheduled service! (I should have checked the transportation app indeed, so it was my fault).

A KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGQ which would take me to Oslo today.

Long story short, I arrived at Schiphol, waited and had my breakfast at KLM’s Crown Lounge, and boarded the plane: a KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGQ. The flight itselft was a pleasant regular intra-European flight with KLM. I sat next to (I assume) a professor who was working on his grant proposal and was so into his work that he refused all the KLM service provided on his flight, haha.

Anyway, as I said in the teaser post, I was lucky that I was sitting on a window seat in the left side of the plane and the flight was landing at runway 01L. This provided me with a really cool bird’s eye view of the city of Oslo!

Oslo, not Solo!

Oslo-Gardermoen Airport

I have been to Oslo before, just a little over two years ago, actually. But somehow, I didn’t remember Oslo-Gardermoen Airport to be as good and cool as I encountered during this trip! Seriously, I found the terminal building to be really beautiful, one of the most beautiful one in Europe that I have been to!

Oslo-Gardermoen Airport

Anyway, one reason why I said KLM’s 11:50 flight would have been better scheduled-wise was that now, I had an almost six hours of transit, haha. I didn’t feel like going to the city of Oslo, so I was “stuck” at the (beautiful) airport. Though, I wasn’t worried at all as I knew that Air France/KLM had a cooperation with a lounge at the airport. The lounge was the OSL Lounge, located pretty much next to SAS’ business lounge.

OSL Lounge at Gardermoen Airport

The lounge itself was actually quite good! It wasn’t the most spacious lounge in terms of space, but the service and facilities were quite nice. There were quite some selections of drink and (typical lounge) food. The seats were generally comfortable as well. There was a row of three or four recliner chairs which I settled myself onto one of them. The chairs were quite old, actually, but they still worked fine and were still quite comfortable.

Air France AF1375 (OSL – CDG)

Flight: Air France AF1375 operated by HOP! Regional
Equipment: Embraer ERJ190 reg F-HBLE
ATD: 17:01 CET (Runway 01L of OSL)
ATA: 18:50 CET (Runway 26L of CDG)

I boarded my second flight today at around 16:10. It was an Air France flight that was operated by HOP! Regional’s Embraer ERJ190 reg F-HBLE. I sat on my 3F seat in the 2-2 configured plane which was super comfortable today because the seat next to me was vacant, yeay! Haha 😆 Long story short, the plane departed and took off from runway 01L of Oslo-Gardermoen Airport.

Taking off from runway 01L of OSL with HOP! Regional’s Embraer 190

Not long after take-off, the snack service was provided. And I was pleasantly surprised to see that the service standard was higher than the other regular intra-European Air France flights I had taken before. First of all, there were actually options for the sandwich service (chicken or vegetarian sandwich). And second of all, rosé wine was available as one of the wine options! Options and rosé wine were something I had never encountered in short-haul intra-European Air France flights before!

The service on board flight AF1375 from Oslo to Paris. Rosé wine was available and there were chicken or vegetable choices for the sandwich!

I tried to figure out the reason behind this. And then, it hit me that this AF1375 was actually my first intra-European flight with Air France (though operated by HOP! Regional) that was blocked for more than two hours one-way (its scheduled departure time was 16:45 with arrival time of 19:10, making it a 2 hours 25 minutes flight). I knew KLM had different level of service for flights below and above two-hours block, so it was not surprising that Air France appeared to have one too!

Aside from that, it was a pleasant regular flight with Air France and at 18:50, we landed at runway 26L of Paris – Charles De Gaulle Airport. The plane parked at Terminal 2G so I had to take the transfer bus to Terminal 2F.

HOP! Regional’s Embraer ERJ190 reg F-HBLE at Terminal 2G of Paris-CDG after arriving as flight AF1375 from Oslo.

KLM KL1246 (CDG – AMS)

Flight: KLM KL1246
Equipment: Boeing 737-700 reg PH-BGN named “Jan van Gent”
ATD: 20:25 CET (Runway 27L of CDG)
ATA: 21:10 CET (Runway 18R of AMS)

After a super quick dinner at Salon Air France at Terminal 2F, I boarded my KLM flight back to Amsterdam today, that was a Boeing 737-700 reg PH-BGN flight KL1246, Air France/KLM’s last flight to Amsterdam from Paris. This was actually a pleasant regular short-haul flight with KLM so there was not much to tell from the flight itself.

However, though, from my side I encountered an “interesting” experience. Suddenly just after the snack service began, I started to feel a terrible stomachache where I needed to go to a toilet soon. But then, it was already halfway through the flight (which was a short one anyway) and the flight attendants were still very busy in the aisle distributing the service. On top of that, I was sitting on a window seat with both the aisle and middle seats next to me taken. And so I thought that it was a short flight anyway so we would land at Schiphol soon and in the meantime I could just “hold” it, haha.

A KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGN which brought me back to Amsterdam today.

But then, as I suspected as it was an evening flight and was the worst scenario for my situation, we landed at the friggin’ Polderbaan! Damn!! So we had to taxi for another like 15 minutes before arriving at Pier D of Schiphol. Even then, it turned out that the nearest toilet to the gate was under maintenance at the time! Well, talking about my “luck” this evening😅.

BAHASA INDONESIA

Pertengahan September kemarin, aku pergi dalam sebuah AvGeek Weekend Trip lagi dengan rute yang cukup menarik:

Rute akhir pekan kali ini. Peta dibuat dengan gcmap.com

Awalnya, aku berencana untuk tidak menulis posting tersendiri tentangnya. Tetapi rencana ini harus kuubah karena setelah pengalaman-pengalamanku di perjalanan ini, yang mana membuat perjalanannya cukup unik untuk dijadikan sebuah posting tersendiri. Posting ini adalah posting tersebut, dan langsung kita mulai saja lah ya…

KLM KL1143 (AMS – OSL)

Penerbangan: KLM KL1143
Pesawat: Boeing 737-700 reg PH-BGQ bernama “Wielewaal”
ATD: 09:23 CET (Runway 24 of AMS)
ATA: 10:54 CET (Runway 01L of OSL)

Untuk mengirit biaya, aku memilih penerbangannya KLM jam 09:20 pagi ke Oslo (penerbangan yang jam 11:50 sebenarnya lebih enak sih dari segi jadwal, tetapi masalahnya tiketnya juga lebih mahal lumayan, haha). Sebagai akibatnya, aku harus berangkat pagi deh. Dan aku malah berangkat kepagian lho, dimana aku tiba di halte tramnya 20 menit sebelum tramnya dijadwalkan berangkat! (Iya, seharusnya aku mengecek app transportasi umum dulu sebelum berangkat. Salahku sih memang).

Sebuah Boeing 737-700nya KLM rego PH-BGQ yang akan membawaku ke Oslo hari ini.

Singkat cerita, aku tiba di Schiphol, menunggu sekalian sarapan di KLM Crown Lounge, dan menaiki pesawatku: sebuah Boeing 737-700nya KLM dengan rego PH-BGQ. Penerbangannya sendiri adalah penerbangan reguler intra-Eropa yang nyaman dengan KLM. Aku duduk di sebelah seorang (yang kuasumsikan) profesor gitu yang sibuk mengerjakan proposal permohonan funding untuk risetnya di sepanjang jalan. Ia sebegitu seriusnya dengan pekerjaannya sampai-sampai semua layanannya KLM di penerbangan ini ia tolak loh, haha.

Anyway, seperti yang kuceritakan di posting yang dulu, aku beruntung aku duduk di kursi jendela di sisi kiri pesawat dan penerbangannya sendiri mendarat di landasan pacu 01L. Ini memberikanku pemandangan kota Oslo dari atas yang mana kece banget!

Oslo, bukan Solo!

Bandara Oslo-Gardermoen

Aku sudah pernah ke Oslo sebelumnya, dua tahun lebih sedikit yang lalu, sebenarnya. Tetapi entah bagaimana, aku tidak ingat dong bahwa Bandara Oslo-Gardemoen itu keren banget seperti yang kulihat di perjalanan ini! Beneran deh, bagiku gedung terminalnya indah banget, termasuk salah satu yang terindah yang pernah kukunjungi di Eropa!

Bandara Oslo-Gardermoen

Anyway, satu alasan mengapa kubilang penerbangannya KLM yang jam 11:50 itu lebih ideal dari segi jadwal karena sekarang aku harus transit selama enam jam, haha. Aku sedang merasa malas untuk pergi ke kota Oslo dan jadilah aku jadi “terjebak” di bandaranya (yang kece banget) kan. Walaupun aku nggak khawatir juga sih karena aku tahu Air France/KLM memiliki kerja-sama dengan sebuah lounge di bandaranya. Lounge-nya adalah OSL Lounge, yang berlokasi di sebelah lounge kelas bisnisnya SAS.

OSL Lounge di Bandara Gardermoen

Lounge-nya sendiri cukup oke lho! Memang sih dari segi ukuran nggak sebegitu besar, tetapi layanan dan fasilitasnya memadai banget kok. Ada cukup banyak pilihan minuman dan makanan (yang mana tipikal makanan lounge gitu sih). Kursi-kursinya juga cukup nyaman. Ada sebaris kursi recliner yang mana salah satunya aku gunakan, haha. Kursinya sudah cukup tua sih, tetapi masih bekerja dengan baik dan cukup nyaman kok.

Air France AF1375 (OSL – CDG)

Penerbangan: Air France AF1375 dioperasikan oleh HOP! Regional
Pesawat: Embraer ERJ190 rego F-HBLE
ATD: 17:01 CET (Runway 01L of OSL)
ATA: 18:50 CET (Runway 26L of CDG)

Aku menaiki penerbangan keduaku sekitar jam 16:10. Ini adalah penerbangannya Air France yang dioperasikan oleh HOP! Regional dengan pesawat Embraer ERJ190 rego F-HBLE. Aku duduk di kursi 3F di pesawat yang dikonfigurasi 2-2 ini yang hari ini nyaman banget soalnya kursi di sebelahku kosong dong, hore! Haha 😆 . Singkat cerita, pesawatnya berangkat dan lepas landas dari landasan pacu 01L Bandara Oslo-Gardermoen.

Lepas landas dari landasan pacu 01L-nya OSL dengan Embraer 190nya HOP! Regional

Tak lama setelah lepas landas, layanan snack dibagikan. Dan aku dikejutkan (secara positif) dengan standar layanannya yang lebih tinggi daripada standar layanan di penerbangan-penerbangan intra-Eropanya Air France yang sudah pernah kunaiki sebelumnya. Pertama-tama, ada pilihan lho untuk menu sandwich-nya (ayam atau vegetarian). Dan yang kedua, bahkan ada anggur rosé sebagai salah satu pilihan anggurnya! Pilihan dan anggur rosé kan tidak pernah aku temui di penerbangan jarak dekat intra-Eropa dengan Air France sebelumnya!

Layanan di penerbangan AF1375 dari Oslo ke Paris. Anggur rosé tersedia dan ada pilihan sandwich ayam atau vegetarian!

Aku mencoba menerka alasan di balik ini. Dan kemudian, barula aku sadar bahwa penerbangan AF1375 ini adalah penerbangan intra-Eropaku dengan Air France (walaupun dioperasikan oleh HOP! Regional) yang pertama yang diblok berdurasi lebih dari dua jam satu arah (penerbangannya dijadwalkan berangkat jam 16:45 dan tiba jam 19:10, artinya panjangnya 2 jam 25 menit). Aku tahu bahwa KLM memang memiliki pembedaan standar layanan untuk penerbangan di bawah atau di atas blok dua jam, jadi tidak mengherankan kalau Air France memiliki prosedur serupa ya!

Di samping itu, ini adalah penerbangan yang nyaman dengan Air France. Dan jam 18:50, pesawat mendarat di landasan pacu 26L Bandara Paris – Charles De Gaulle. Pesawat parkir di Terminal 2G sehingga aku harus menaiki bus transfer ke Terminal 2F.

Embraer ERJ190 rego F-HBLEnya HOP! Regional di Terminal 2G Paris – CDG setelah tiba dari Oslo sebagai penerbangan AF1375.

KLM KL1246 (CDG – AMS)

Penerbangan: KLM KL1246
Pesawat: Boeing 737-700 rego PH-BGN bernama “Jan van Gent”
ATD: 20:25 CET (Runway 27L of CDG)
ATA: 21:10 CET (Runway 18R of AMS)

Setelah makan malam super kilat di Salon Air France di Terminal 2F, aku menaiki penerbangan KLMku untuk kembali ke Amsterdam. Penerbangannya dioperasikan dengan pesawat Boeing 737-700 rego PH-BGN penerbangan KL1246, penerbangan Air France/KLM terakhir ke Amsterdam dari Paris hari ini. Ini adalah penerbangan reguler yang nyaman dengan KLM seperti biasanya sehingga sebenarnya nggak banyak yang bisa diceritakan dari penerbangannya sendiri.

Tetapi, aku mengalami kejadian yang “menarik”. Tiba-tiba setelah layanan snack dimulai, aku mulai sakit perut yang cukup parah yang membuatku merasa perlu untuk pergi ke toilet. Tetapi masalahnya, penerbangannya sudah berlangsung setengah jalan (mana ini adalah penerbangan singkat pula) dan pramugari/a-nya juga sedang sibuk di lorong untuk membagikan snack dan minuman. Ditambah lagi, aku duduk di kursi jendela sementara kursi lorong dan tengah di sebelahku terisi. Jadilah aku pikir karena toh penerbangannya singkat, nggak lama lagi pesawat akan mendarat di Schiphol dan untuk sementara itu bisa lah aku “tahan”, haha.

Sebuah Boeing 737-700 rego PH-BGN-nya KLM yang membawaku kembali ke Amsterdam hari ini.

Tetapi kemudian, seperti yang kuduga karena penerbangan malam dan merupakan skenario terburuk untuk situasiku, kami mendarat di Polderbaan laknat itu dong! Sialan!! Pesawat harus taxiing selama sekitar 15 menit sebelum tiba di Pier D di Bandara Schiphol. Setelah itu pun, ternyata toilet yang terdekat dengan gate-nya sedang direnovasi dong waktu itu!  Ini Dewi Fortunaku lagi “liburan” atau bagaimana ini ya malam ini 😅.

#1979 – AvGeek Weekend Trip #9 with An Air France’s Dreamliner

ENGLISH

In the last weekend of August, I went on an AvGeek Weekend Trip with the main purpose of flying an Air France’s brand new Boeing 787-9 Dreamliner on their short domestic Lyon – Paris-CDG sector. I actually took four flights on this trip (Amsterdam – Paris-CDG – Lyon vv). However, as the other three flights were just regular short-haul flights with Air France and KLM, in this post I will only focus on the trip’s main star, that was the flight with the Dreamliner.

AF 7641 (LYS– CDG)


Flight: Air France AF 7641
Equipment: Boeing 787-9 Dreamliner reg F-HRBA
ATD: 10:37 CET (Runway 17R of LYS)
ATA: 11:31 CET (Runway 08R of CDG)

After having breakfast at my hotel near the airport (the breakfast was great, btw), I went to the airport to check-in and retrieve my boarding pass. Then, I cleared the security check and waited for my flight at Lyon Airport’s underwhelming Air France lounge. I checked my Flightradar24 app to see which of the two Boeing 787-9 Dreamliner Air France would use on their domestic Lyon route today. I saw F-HRBB was leaving for London-Heathrow already so I figured it would be F-HRBA.

An Air France’s Boeing 787-9 Dreamliner reg F-HRBA at Lyon Airport.

Long story short, at about 09:30 AM, F-HRBA landed at Lyon Airport and parked at the gate. Not long after, boarding commenced. I walked to the plane with excitement (haha) and settled onto my 10A seat in the Premium Economy cabin. Ah, yes, I was given a Premium Economy seat on this flight.

The Premium Economy cabin of Air France’s Boeing 787-9 Dreamliner reg F-HRBA

It appeared to me that the flight was full. All seats in Business and Premium Economy were occupied, and I also saw a lot of passengers boarding to the Economy Class section. So as a result, boarding took some time to complete, haha. Meanwhile, of course I started to play around with the AVOD screen and selected some music for the short duration of the flight. Being the newest member of the fleet, obviously the AVOD PTV was Air France’s newest “Air France Touch”, the same one as what I found on my Boeing 777-300ER flight AF 117 from Shanghai to Paris earlier this year.

Bienvenue à bord

I tell you, it was so much fun to be able to use an AVOD PTV on an intra-European flight, let alone a European domestic flight! Haha 😆 . After boarding was completed, the door was closed and the plane was pushed back for departure. Obviously, the safety demo wasn’t done manually. Air France’s super chic and “so French” safety demo video was played on the screen:

Btw, this Air France’s safety demo video is one of my most favorite safety demo videos, btw. As you can see, it is so “French”, for instance stating that your seatbelt is not only for your safety, it also “elegantly highlights your waistline“, huahaha 😆 . And the general ambience of the video is so “French” with all the elegance and everything!

Taking off from runway 17R of Lyon Airport with an Air France’s Dreamliner

Anyway, we taxied to runway 17R and took off from there before making a u-turn north towards Paris. Overall, it was a really smooth flight with a Dreamliner. Not long after take-off, the snack service was distributed. It was just the standard Economy Class snack service, though; pretty much the service I would expect in Air France’s Premium Economy anyway.

The snack service on board the short-haul domestic Lyon – Paris route flight AF 7641 with a Dreamliner.

A feature of Boeing 787 Dreamliner is the super cool dimming window. And obviously I could also find this feature on F-HRBA!! Yep, no window shades were needed anymore as the windows could change their color and transparency!

I only used the AVOD PTV for the music (btw, the seat came with a noise-cancelling headphone, which was good!) and the super cool moving map; as I was constrained by the short duration of the flight. I also saw a wifi onboard sign even though I didn’t bother to check it, haha. Anyway, overall it was such a nice flight with an Air France’s Dreamliner!

An Air France Boeing 787-9 Dreamliner Premium Economy selfie

Time flew by when you were having fun. Suddenly, we were approaching Paris already, haha 😆 . We made a quick “tour” above Paris, though, where I could see the Eiffel Tower, Arc De Triomphe, and the famous Champs-Élysées from above. Really cool!! Anyway, we landed at runway 08R of Paris – Charles De Gaulle Airport. Here is the landing video:

The plane parked at a gate in Terminal 2E, Charles De Gaulle’s non-Schengen terminal as it would serve flight AF 334 to Montreal, Canada later today. But that meant that the domestic passengers from Lyon would somehow need to be transported to Terminal 2F. For that, they took us with buses, haha.

After arriving at Terminal 2F, I went to an Air France’s Schengen lounge to wait for my KLM flight back to Amsterdam.

BAHASA INDONESIA

Di akhir pekan terakhir bulan Agustus, aku pergi dalam sebuah perjalanan AvGeek Weekend Trip dengan tujuan utama terbang dengan pesawat baru Boeing 787-9 Dreamliner-nya Air France di rute domestik jarak dekat Lyon – Paris-CDG. Sebenarnya aku menaiki empat penerbangan di perjalanan ini (Amsterdam – Paris-CDG – Lyon pp). Namun, karena tiga penerbangan lainnya adalah penerbangan reguler jarak dekat dengan Air France dan KLM, di posting ini aku hanya akan fokus pada bintang utama perjalanan ini saja, yaitu penerbangan dengan Dreamliner.

AF 7641 (LYS– CDG)


Penerbangan: Air France AF 7641
Pesawat: Boeing 787-9 Dreamliner rego F-HRBA
ATD: 10:37 CET (Runway 17R of LYS)
ATA: 11:31 CET (Runway 08R of CDG)

Setelah sarapan di hotelku di dekat bandara (sarapannya enak, btw), aku pergi ke bandara untuk check-in dan mendapatkan boarding pass-ku. Lalu, aku melalui pemeriksaan sekuriti dan menunggu penerbanganku di lounge-nya Air France yang underwhelming itu di Bandara Lyon. Aku mengecek app Flightradar24-ku untuk mengetahui yang mana dari dua Boeing 787-9 Dreamliner-nya Air France yang akan digunakan di rute domestik Lyon hari ini. Aku lihat F-HRBB sudah berangkat ke London-Heathrow sehingga artinya aku akan mendapatkan F-HRBA.

Sebuah Boeing 787-9 Dreamliner milik Air France dengan rego F-HRBA d Bandara Lyon.

Singkat cerita, sekitar jam 9:30 pagi, F-HRBA mendarat di Lyon dan parkir di salah satu gate. Tak lama setelahnya, boarding dimulai. Aku berjalan ke arah pesawat dengan perasaan excited (haha) dan duduk di kursi 10A di kabin Premium Economy. Oh iya, aku diberikan kursi Premium Economy di penerbangan ini.

Kabin Premium Economy di dalam pesawat Boeing 787-9 Dreamliner-nya Air France dengan rego F-HRBA

Penerbangan ini nampaknya penuh. Semua kursi di kelas Bisnis dan Premium Economy penuh, dan aku lihat ada banyak sekali penumpang yang berjalan ke kelas Ekonomi ketika boarding. Sebagai akibatnya, boarding memang memakan waktu agak lama, haha. Untukku sih, aku menggunakan waktu ini untuk membuka layar AVOD di kursinya dan memilih beberapa musik untuk playlist pendek di penerbangan singkat ini. Yang namanya pesawat terbaru, jelas AVOD PTVnya adalah “Air France Touch”, yang terbaru milik Air France, dan sama seperti yang kutemui di penerbangan AF 117 dengan Boeing 777-300ER dari Shanghai ke Paris awal tahun ini.

Bienvenue à bord

Eh, sesuatu banget lho bisa menggunakan AVOD PTV di penerbangan intra-Eropa, apalagi di penerbangan domestik! Haha 😆 . Setelah boarding selesai, pintu ditutup dan pesawat didorong mundur untuk keberangkatan. Jelas, peragaan keselamatannya tidak dilakukan secara manual. Video peragaan keselamatannya Air France yang chick dan “Prancis banget” dimainkan di layar:

Btw, video peragaan keselamatannya Air France ini adala salah satu video peragaan keselamatan favoritku! Seperti yang bisa dilihat, videonya “Prancis banget”, misalnya menyebutkan bahwa sabuk pengaman tidak hanya menjaga keselamatan Anda, tetapi juga berfungsi untuk “meng-highlight lingkar pinggang Anda dengan elegan“, huahaha 😆 . Dan suasana umum videonya yang terasa “Prancis banget” dengan keelegannya dan semuanya lah pokoknya!

Lepas landas dari landasan pacu 17R Bandara Lyon dengan Dreamliner-nya Air France.

Anyway, pesawat berjalan menuju landasan pacu 17R dan lepas landas dari sana sebelum kemudian berputar ke arah utara untuk menuju Paris. Secara umum, penerbangan ini adalah penerbangan mulus dengan Dreamliner. Tak lama setelah lepas landas, layanan snack diberikan. Layanannya sesuai standar di kelas Ekonomi sih; yang mana toh level yang juga aku jangka dari kelas Premium Economy-nya Air France.

Layanan snack di penerbangan domestik jarak dekat Lyon – Paris penerbangan AF 7641 dengan pesawat Dreamliner.

Satu fitur Boeing 787 Dreamliner adalah jendelanya yang bisa gelap sendiri yang keren banget itu. Dan jelas dong fitur ini juga bisa ditemukan di F-HRBA!! Iya, penutup jendela mekanik nggak diperlukan lagi deh soalnya jendelanya bisa berganti warna dan transparansi sendiri!

AVOD PTVnya hanya kugunakan untuk musik saja (btw, kursinya juga dilengkapi dengan noise-cancelling headphone, yang mana kualitasnya lumayan lho!) dan peta yang keren banget itu; karena toh waktuku terbatas kan dengan durasi singkat penerbangan ini, haha. Aku lihat sebenarnya pesawatnya dilengkapi dengan wifi juga tetapi aku tidak sempat mengeceknya. Secara keseluruhan, penerbangan ini adalah penerbangan yang mengasyikkan dengan Dreamliner-nya Air France!

Selfie Premium Economy wajib di Boeing 787-9 Dreamliner-nya Air France

Waktu berlalu cepat ketika kita merasa senang. Tiba-tiba saja, pesawat sudah mendekati Paris dong, haha 😆 . Sebelum mendarat, pesawat “tur” singkat dulu di atas kota Paris, dimana aku bisa melihat Menara Eiffel, Arc De Triomphe, dan Champs-Élysées yang terkenal itu dari atas. Keren dah!! Anyway, kami mendarat di landasan pacu 08R Bandara Paris – Charles De Gaulle. Berikut ini video pendaratannya:

Pesawat diparkir di Terminal 2E, terminal non-Schengennya Bandara Charles De Gaulle karena pesawatnya akan digunakan untuk melayani penerbangan AF 334 ke Montreal, Kanada siangnya. Tetapi ini berarti penumpang domestik dari Lyon harus ditransportasikan ke Terminal 2F. Untuk itu, beberapa bus mereka gunakan, haha.

Setelah tiba di Terminal 2F, aku pergi ke lounge Schengen-nya Air France untuk menunggu penerbangan KLMku kembali ke Amsterdam.

#1971 – A Summer Weekend in London (Part I: The Flights)

ENGLISH

Posts in the A Summer Weekend in London series:
1. Introduction
2. Part I: The Flights
3. Part II: London

KL977 (AMS-LCY)

I was quite excited for this trip because it would be the first time I flew on a non-Schengen flight out of Schiphol since September 2016 when I flew to Sint Maarten! Haha 😆 . This also meant that I hadn’t used KLM’s non-Schengen Crown Lounge since then. I just realized though that I liked the Schengen lounge better actually.

Anyway, obviously I chose a KLM flight to get to London-City; and what excited me even more was the flight would be operated with one of the two Avro RJ85s they leased from CityJet! Yep, Avro RJ85! The cute regional jet with four engines!!


Flight: KLM KL 977 operated by CityJet
Equipment: Avro RJ85 reg EI-RJU
ATD: 12:11 CET (Runway 36L of AMS)
ATA: 11:55 BST (Runway 27 of LCY)

Boarding was slightly delayed today, but it went on quite smoothly. After all passengers boarded, however, the captain announced that due to a congestion on the departure runway (due to bad weather in Amsterdam today), we were only cleared to depart in 20 minutes. But not long after, the captain announced that the Polderbaan was open for departure and if he agreed to use this runway, we could depart now. He thought the long taxi there was better than sitting in the tarmac for 20 minutes doing nothing, haha; and I fully agreed with him on this case. So there we went, another departure from Polderbaan! Haha 😆

Another departure from Polderbaan

Anyway, I loved flying the Avro RJ85. It was a small plane but was very stable on air; thus comfortable even though the 3-3 configuration felt a little bit “cramped” in my opinion for its fuselage size. As it was a flight operated for KLM, the snack service was as per KLM’s standard:

The snack service on board CityJet’s flight KL977

which was decent for a short 45 minutes. Having said that, the cabin crews were CityJet’s, even when the flight was operated for KLM. Well, at least they wore CityJet’s uniform.

An aspect I was excited for this particular flight was the landing. I was really, really hoping we would land at runway 09 of London-City Airport. The view while landing there would be spectacular as the plane would have to descend above the city of London along with the cool skyscrapers! This was one of the reasons why LCY was my favorite. I landed there in 2013 but didn’t take a video so I planned to do so this time, haha.

But then, as we were flying from the east, we kept descending and descending above the River Thames without making any turn. Then I realized that we were NOT landing at runway 09 but at runway 27 instead! DAMN!!! Damn you wind direction!! Here is the landing video at runway 27:

Well, I guess this means I would need to fly to London City again in the future? Hahaha 😆 .

Anyway, another reason why I loved London City Airport was its small and compact size. A small airport meant short taxi and quick line at immigration (and baggage belt). I got off the airport in, like, literally less than 20 minutes since EI-RJU touched down at runway 27.

Deboarding at London City Airport from this CityJet’s Avro RJ 85 reg EI-RJU.

KL994 (LCY-AMS)

To go back to Amsterdam, I chose a KLM flight that was operated by KLM Cityhopper. Btw, KLM’s mainline Boeing 737 fleet cannot fly to London City Airport because the airport is too small for them. The runway length is just 1,508 meter; that is only around 2/3 of, say, the length of Adisutjipto Airport’s runway in Yogyakarta.

It was a small airport and unfortunately SkyTeam did not have a lounge partner there. But the general waiting area was nonetheless comfortable, especially that I scored a seat by the window which had electrical plugs and free wifi and offered this view:

An amazing view at the departure area of London City Airport

😍😍😍😍😍

I sat there for a good two-hour, haha.


Flight: KLM KL 994 operated by KLM Cityhopper
Equipment: Embraer ERJ190 reg PH-EZF
ATD: 18:08 BST (Runway 27 of LCY)
ATA: 19:51 CET (Runway 36R of AMS)

Boarding today was, unfortunately, quite chaotic. I found it weird actually that given the high frequency of KLM flights between London City and Amsterdam (up to 7 times daily on a weekday), there was no SkyPriority sign and line to help the boarding process. Sure SkyPriority passengers were announced to board first but it was basically useless as there was no actual line and in reality passengers standing closer to the gate would board first anyway.

A KLM Cityhopper’s Embraer ERJ190 reg PH-EZF

Btw, when scanning my mobile boarding pass, the scanner notified the boarding agent that, apparently, I had been upgraded to Europe Business Class! YESSS!!! Haha 😆 . I was moved from my original 9F seat to 1D and was given a new boarding pass. The downside of this, though, was that I no longer had a window seat 😞. Anyway, so I boarded PH-EZF, a KLM Cityhopper’s Embraer ERJ190, and settled onto my 1D seat. And of course the legroom was amazing, haha 😆 .

Amazing legroom in Europe Business Class; row 1

It was literally a full flight today, i.e. the load factor in both economy and Europe business class were 100%. So I was intrigued with our take-off today given London City Airport’s short runway, haha. We took off from runway 27; and it turned out that a full Embraer ERJ190 didn’t always need the full 1,508 meter of runway length to take off.

Take off was quite bumpy today, as we were making a u-turn above the city of London (which beautiful view I couldn’t really see due to my aisle seat) towards Amsterdam. After the fasten seat belt sign was turned off, the flight attendant offered any drink to us, which I asked for a cup of green tea. She brought me my green tea and my dinner service. Upon which I also asked for a bottle of champagne, hahaha 😛.

The dinner service on board flight KL994 in Europe Business Class

To my delight, the dinner service today was different from the dinner service on board my previous KLM Europe Business Class flight just two weeks earlier. The main dish was salad with chicken teriyaki skewer and two pieces of warm bread which were really nice. A small cup of potato-salmon salad was also served as the appetizer along with a small cup of chocolate and caramel dessert. This dish kept me busy during the entire flight, where we had started our descent towards Schiphol when I finished it. Though, I still had about a third glass of champagne which I finished in one gulp (🙈) because the crews already had to prepare for landing, haha.

Anyway, we landed at runway 36R of Schiphol and it was not a long taxi to the Fokker Farm. We were taken by a bus to the terminal. I cleared immigration, and went back home to Amsterdam.

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri A Summer Weekend in London:
1. Introduction
2. Part I: The Flights
3. Part II: London

KL977 (AMS-LCY)

Aku cukup excited dengan perjalanan ini karena ini adalah kali pertama aku terbang di penerbangan non-Schengen dari Bandara Schiphol semenjak September 2016 ketika aku terbang ke Sint Maarten! Haha 😆 . Ini juga berarti KALI itu adalah kali terakhir aku mampir di lounge Crown Lounge-nya KLM yang non-Schengen. Aku baru menyadari bahwa aku lebih suka lounge Schengen daripada non-Schengen-nya deh.

Anyway, jelas dong aku memilih penerbangannya KLM untuk pergi ke London City; dan yang membuat bersemangat pagi ini adalah penerbangannya akan dioperasikan dengan satu dari dua pesawat Avro RJ 85 yang mereka sewa dari CityJet! Iyaa, pesawat Avro RJ 85 itu! Pesawat jet regional imut dengan empat mesin!!


Penerbangan: KLM KL 977 dioperasikan oleh CityJet
Pesawat: Avro RJ85 reg EI-RJU
ATD: 12:11 CET (Runway 36L of AMS)
ATA: 11:55 BST (Runway 27 of LCY)

Boarding berlangsung sedikit terlambat hari ini, tetapi lancar. Setelah semua penumpang naik, sayangnya kapten mendapatkan berita bahwa akibat kemacetan di landasan pacu keberangkatan (akibat cuaca buruk di Amsterdam saat itu), kami baru mendapatkan giliran berangkat 20 menit kemudian. Tetapi tak lama setelahnya, kaptennya mengumumkan bahwa Polderbaan baru saja dibuka untuk keberangkatan dan jika ia setuju untuk menggunakan landasan pacu ini, kami diperbolehkan berangkat saat itu juga. Menurut pertimbangannya, lebih baik taxiing lama kesana daripada diam saja di tarmac selama 20an menit kan, haha; dan aku setuju dengannya kali ini. Jadi ya gitu deh, satu keberangkatan dari Schiphol melalui Polderbaan lagi untukku, haha 😆 .

Keberangkatan dari Polderbaan lagi

Anyway, aku suka deh terbang dengan Avro RJ 85. Pesawatnya kecil tetapi terbangnya stabil banget; sehingga nyaman walaupun konfigurasi kursi 3-3nya terasa “sesak” sih menurutku untuk ukuran lebar kabin yang hanya segitu. Karena penerbangannya dioperasikan untuk KLM, layanan snack-nya juga sesuai standarnya KLM:

Layanan snack di penerbangan KL 977nya CityJet

yang mana oke lah untuk penerbangan singkat selama 45 menit. Walaupun snack-nya adalah dari KLM, sepertinya pramugarinya adalah pramugarinya CityJet. Yah, setidaknya sih mereka mengenakan seragamnya CityJet.

Satu aspek yang membuatku bersemangat dengan penerbangan ini adalah pendaratannya di London. Aku sungguh berharap kami akan mendarat di landasan pacu 09 Bandara London City. Pemandangan ketika mendarat di sana akan spektakuler banget karena pesawatnya harus bergerak turun di atas kota London di antara pencakar-pencakar langitnya itu. Kan kece banget yaaa!! Inilah salah satu alasan mengapa LCY adalah bandara favoritku, haha. Aku mendarat di sana di tahun 2013 tetapi waktu itu tidak aku video sehingga kali ini aku ingin mem-videonya, haha.

Tetapi kemudian, karena kami terbang dari arah timur, kami terus turun dan turun di atas Sungai Thames tanpa berbelok. Jadilah aku menyadari bahwa kami TIDAK sedang mendarat di landasan pacu 09 melainkan di landasan pacu 27 dong! SIAALL!!! Dasar nih arah anginnya kok nyebelin begini hari ini, haha 😛 !! Berikut ini video pendaratannya:

Yah, mungkin ini artinya aku harus terbang lagi ke London City kapan-kapan gitu? Hahaha 😆 .

Anyway, satu faktor lain yang aku suka Bandara London City adalah ukurannya yang kecil. Sebuah bandara kecil juga berarti taxiing yang singkat dan antri imigrasi yang nggak panjang (juga bagasi), haha. Hari ini, aku bisa keluar dari bandara sekitar kurang dari 20 menit loh semenjak EI-RJU menyentuh landasan pacu 27.

Menuruni pesawat Avro RJ85nya CityJet dengan rego EI-RJU ini di Bandara London City.

KL994 (LCY-AMS)

Untuk kembali ke Amstedam, aku memilih penerbangannya KLM yang dioperasikan oleh KLM Cityhopper. Btw, pesawat mainline Boeing 737-nya KLM tidak bisa mendarat di Bandara London City karena ukuran bandaranya terlalu kecil untuknya. Bayangkan, panjang landasan pacunya hanya 1.508 meter saja; yaitu sekitar 2/3 dari, misalnya, panjang landasan pacunya Bandara Adisutjipto di Yogyakarta.

Ini adalah bandara kecil sehingga sayangnya SkyTeam tidak memiliki lounge di sana. Tetapi toh ruang tunggunya cukup nyaman kok, apalagi aku mendapatkan satu kursi di sebelah jendela yang dilengkapi dengan wifi gratis dan colokan listrik dengan pemandangan kayak gini:

Pemandangan yang kece banget dari area keberangkatan Bandara London City

😍😍😍😍😍

Aku duduk di sana sekitar dua jam-an lah, haha.


Penerbangan: KLM KL 994 dioperasikan oleh KLM Cityhopper
Pesawat: Embraer ERJ190 reg PH-EZF
ATD: 18:08 BST (Runway 27 of LCY)
ATA: 19:51 CET (Runway 36R of AMS)

Boarding hari ini, sayangnya, berlangsung kacau. Aku merasa aneh sebenarnya dengan frekuensi cukup tingginya penerbangannya KLM dari Bandara London City ke Amsterdam (sampai 7 kali sehari di hari biasa), kok tidak ada tanda SkyPriority dan antrian yang berbeda gitu untuk mempercepat proses boarding. Memang sih diumumkan bahwa penumpang SkyPriority diminta naik pesawat duluan, tapi kenyataannya mah percuma aja karena nggak ada antrian dan yang berdiri paling dekat dengan gerbangnya ya bakal naik pesawat duluan, haha.

Sebuah Embraer ERJ190nya KLM Cityhopper dengan rego PH-EZF

Btw, ketika meng-scan mobile boarding pass-ku, scanner-nya mengeluarkan bunyi dan memberi-tahu petugasnya bahwa, ternyata, aku telah di-upgrade ke kelas bisnis Eropa dooong! YESSS!!! Haha 😆 . Aku dipindahkan dari kursi 9F ke kursi 1D dan diberikan boarding pass baru. Tapi sisi nggak enaknya adalah aku jadi tidak lagi duduk di kursi jendela nih 😞. Anyway, jadilah aku menaiki PH-EZF, sebuah Embraer ERJ190nya KLM Cityhopper, dan duduk di kursi 1Dku. Jelas legroom-nya mantap lah, haha 😆 .

Legroom yang mantap di kelas bisnis Eropa, baris 1.

Penerbangan hari ini adalam penerbangan yang penuh, dalam artian load factor di kelas ekonomi dan kelas bisnis Eropa adalah 100% di kedua kelas. Jadilah aku penasaran bagaimana lepas landasnya dari Bandara London City yang landasan-pacunya pendek itu, haha. Kami lepas landas dari landasan pacu 27, dimana mesin langsung dimaksimalkan dari awal; dan ternyata dengan begini sebuah Embraer ERJ190 yang penuh toh tidak membutuhkan keseluruhan panjang 1.508 meter landasan pacu itu untuk terbang.

Lepas landas sendiri berlangsung cukup bumpy hari ini, ketika kami berputar balik di atasnya kota London (yang mana pemandangan kecenya tidak bisa kulihat karena kursi aisle-ku) menuju Amsterdam. Setelah lampu tanda sabuk pengaman dipadamkan, pramugarinya menawarkan minuman, dan aku meminta segelas teh hijau. Ia membawakan teh hijauku beserta layanan makanannya. Jadilah sekalian aku minta champagne juga dong ya, hahaha 😛.

Layanan makan malam di kelas bisnis Eropa penerbangan KL994.

Yang membuatku senang, menu layanan makan malam kali ini berbeda loh daripada menu layanan makan malam di penerbangan kelas bisnis Eropaku dengan KLM sebelumnya, yang mana dua minggu sebelumnya. Menu utamanya adalah salad dengan sate ayam dengan saus teriyaki dengan dua potong roti hangat yang mana rasanya enak. Satu cup kecil salad kentang-salmon juga disajikan sebagai hidangan pembuka dengan satu cup kecil coklat dan karamel untuk pencuci mulut. Menghabiskan satu menu ini memakan waktu keseluruhan penerbangannya untukku, haha, dimana pesawat sudah mulai turun menuju Bandara Schiphol ketika aku selesai. Walaupun, sekitar 1/3 gelas champagne-nya masih tersisa sih yang langsung aku habiskan sekali teguk (🙈) karena pramugari/a-nya sudah harus bersiap-siap untuk mendarat, haha.

Anyway, kami mendarat di landasan pacu 36R Bandara Schiphol dan pesawat parkir di Fokker Farm. Kami diantar dengan bus ke terminalnya. Setelah pengecekan imigrasi, aku naik kereta kembali ke Amsterdam.