#2061 – Star Trek: Discovery (Season 1)

ENGLISH

In the last four to five months, I have been following Star Trek’s most recent series, Star Trek: Discovery. And just this weekend (Well, Monday for the Dutch Netflixer like me), the first season was concluded.

If I have to describe the first season of this new series, I will go with “a series full of plot twists“, hahaha 😆 . << Spoiler Alert >> You know, Ash Tyler was actually Voq, Gabriel Lorca was actually from the Mirror universe, Mirror Philippa Georgiou was the cruel and evil emperor of the Terran Empire, and the appointment of Mirror Philippa Georgiou as the captain of USS Discovery after being brought to the Prime (our) universe by Michael Burnham. <<Spoiler Done >> This made this series exciting, to me, as it led me to not know what to expect. Even though at some point I felt like it went overdose with the plot-twisting, lol 😆 .

On the other hand, and I have mentioned this before, this series focused a lot on the action part (Mainly the Federation vs Klingon war and getting trapped in the Mirror Universe and the return attempt) and not at all on the social/interpersonal/intrapersonal conflict aspect like the other Star Trek series. So this definitely gave a really different vibe of a Star Trek series to me.

Each episode was also made not independent of each other; and that one would need to follow the series from the beginning to know what was going on. When you watch one of Star Trek: Voyager‘s episodes, for instance, most of the time you would not need to watch the previous episodes to understand what was going on.

<< Spoiler Alert, Again >>

Ironically, though, IMO the season finale was the “most Star Trek” episode. An away mission (finally!) down to an establishment on an alien planet (Klingon’s Qo’Nos) and ending the war with a (to some degree) diplomacy. On one hand this could feel anticlimatic because most of the preceding episodes were full of fights and wars, that one (or I, at least) would expect to see some “actions” in the finale. But on the other hand this made a lot of sense. The story arc in those preceding episodes was “controlled” by a Terran (Mirror Gabriel Lorca and Mirror Philippa Georgiou), who loved and lived on fights and wars. In this episode, the “real” Starfleet and Federation finally took charge, via the lead of Michael Burnham.

So in the end, I was overall satisfied with the finale! Though, one thing disappointed me a little bit, where they only used one line mentioning that the spore technology was off the table (Starfleet was committed to finding non-human interface, according to Stamets (which, obviously, wasn’t successful in the end)). But to top it off, this season ended with the most coolest cliff-hanger ever, where the USS Discovery crew encountered a distress call from … the USS Enterprise!!

Damn now I cannot wait for season two!!

<< Spoiler Ends >>

***

At the end of the day, the biggest and most important question is: “Did I enjoy this new series?” And the answer to this was “Yes!“. Haha 😆 So despite the “shift” in the characteristics of Star Trek series (despite the very Star Trek finale), overall I still felt like the writers (and everyone involved) did a great job in creating an enjoyable and exciting series, which made me look forward to it everytime I went back from work on Monday!

And so certainly I am excited that a second season has been ordered, and I am looking forward to it! Even though I still have a little bit of hope that the overall tone of second season will be a little bit “more Star Trek”. But nonetheless, we will see!!

BAHASA INDONESIA

Dalam empat atau lima bulan belakangan, aku telah mengikuti seri terbarunya Star Trek yang dinamai Star Trek: Discovery. Dan akhir pekan kemarin ini (Eh, hari Senin ding untuk pengguna Netflix Belanda kayak aku), musim pertama dari seri ini berakhir.

Jika musim pertama dari seri ini harus aku deskripsikan, aku akan menjawabnya dengan “sebuah seri yang penuh plot twists”, hahaha 😆 . << Spoiler Alert >> Ya tahu kan, dari Ash Tyler yang mana ternyata adalah Voq, Gabriel Lorca yang ternyata berasal dari alam semesta paralel (Mirror), Philippa Georgiou versi Mirror ternyata adalah kaisar yang kejam dan jahat dari Kekaisaran Terran, dan penunjukkan Philippa Georgiou paralel ini sebagai kapten USS Discovery setelah ia “diculik” oleh Michael Burnham ke alam semesta Prime (alam semesta kita). << Spoiler Selesai >> Ini membuat acaranya seru sih, bagiku, soalnya aku jadi tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Walaupun juga pernah di satu titik rasanya seri ini agak overdosis dengan plot-twisting sih, haha 😆 .

Di sisi lain, dan sudah kusebutkan sebelumnya, seri ini berfokus di sisi action (Dengan garis besar di jalan cerita Perang Federasi vs Klingon dan terjebaknya kru USS Discovery di alam semesta paralel Mirror dan upaya mereka untuk pulang) dan sama sekali tidak menyentuh aspek konflik sosial/interpersonal/intrapersonal seperti di seri-seri Star Trek lainnya. Sebagai akibatnya, nuansa seri ini terasa berbeda sekali dari seri-seri Star Trek lainnya untukku.

Setiap episode juga tidak dibuat independen satu sama lain; jadi seorang penonton harus mengikuti ceritanya dari awal untuk memahami jalan ceritanya. Ketika kamu menonton satu episodenya Star Trek: Voyager, misalnya, kemungkinan besar kamu masih akan paham jalan ceritanya tanpa harus menonton episode-episode sebelumnya.

<< Spoiler Alert, Lagi >>

Ironisnya, menurutku episode terakhir musim ini justru adalah episode yang “paling Star Trek” dari semua episodenya Discovery. Misi away (akhirnya!) turun ke suatu kota di planet alien (Planet Qo’Nos-nya Klingon) dan mengakhiri perang dengan (kurang lebih) diplomasi. Di satu sisi ini terasa agak anti-klimaks karena episode-episode sebelumnya kan penuh dengan pertarungan dan peperangan, sehingga (bagiku, setidaknya) aku sudah mempersiapkan diriku untuk menonton final yang penuh “action” gitu kan. Tetapi di sisi lain ini sebenarnya justru masuk akal banget lho. Jalan cerita di episode-episode sebelumnya ceritanya kan “dikontrol” oleh bangsa Terran (Gabriel Lorca dan Philippa Georgiou dari alam semesta paralel Mirror), yang memang suka dan hidup dalam pertarungan dan peperangan. Di episode ini, Starfleet dan Federasi “yang sebenarnya” mengambil kontrol kembali, dengan dipimpin oleh Michael Burnham.

Jadi pada akhirnya, aku sungguh puas dengan akhir dari musim ini! Walaupun satu hal kecil mengecewakanku sedikit sih, dimana hanya satu kalimat saja yang menyebutkan bahwa teknologi spora tidak lagi digunakan (Starfleet berkomitmen untuk mencari cara pemanfaatan teknologi ini tanpa menggunakan manusia, menurut Stamets (yang mana, jelas, upaya yang pada akhirnya gagal)). Tetapi, musim ini diakhiri dengan cliff-hanger yang paling keren banget, dimana kru USS Discovery mendapatkan panggilan darurat dari … USS Enterprise!!

Ahhhh, aku jadi makin nggak sabar kan menunggu musim kedua!!

<< Spoiler Selesai >>

***

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar dan paling penting adalah: “Apakah aku menikmati seri baru ini?” Dan untuk pertanyaan ini jawabanku adalah “Iya!“. Haha 😆 . Jadi biarpun adalahnya “pergeseran” karakteristik dari seri-seri Star Trek lainnya (walaupun episode terakhirnya Star Trek banget sih), secara keseluruhan toh aku masih merasa penulis naskahnya (dan semua yang terlibat) telah menghasilkan suatu seri yang bagus dan seru, yang mana selalu membuatku bersemangat ketika pulang kantor di hari Senin!

Makanya aku merasa excited dengan berita dimana musim kedua sudah dipesan, sehingga aku nggak sabar untuk menontonnya! Walaupun aku juga sedikit berharap mudah-mudahan nuansa umum musim kedua nanti bakal “lebih Star Trek” sih. Ah, tapi kita lihat saja lah ya!!

Advertisements

#2052 – The Last Week Before A Vacation

ENGLISH

I started writing the draft of this post just two days before the start of my November 2017 trip to Indonesia. While it was not a “eureka” moment whatsoever, the context was very relevant at the time which made me want to write it down 😛 .

To me, the moment just before the start of a big trip or vacation is one of the worst! Well, as in it feels like there are so many things going on that need to be taken care of while in reality, there might actually not be. It is true, though, that to me there are a few separate factors occupying my mind at such time and they are conditionally forced to interact with each other. I hypothesize this interaction is what causes that feeling!

First of all, there are of course work stuffs. Having a big vacation coming up actually can be seen as an extra deadline; but not imposed by a project or my superior or anything, but by myself, haha. To me, whenever possible I always want to start a vacation or a trip on a clear state of mind, without any work-related “luggage” carried on. This, however, means that I feel the strong urge to finish my current tasks before I go and this can certainly be quite stressful.

Separate from that, there is of course the excitement. I mean, who wouldn’t feel excited just before a big trip? Daydreaming forward on the nice coming trip makes the present somehow feels a little bit more miserable. And for this trip to Indonesia, the Dutch Fall weather certainly did not help at all.

On the other hand, there is also the important preparation, like packing and preparing all the documents and stuffs (making sure to have my flight tickets and hotel reservations ready, for instance). And then of course the lingering sneaky thought of “Am I forgetting something?“.

All in all, this results in me facing myself and my mind to multitask. On top of that, as I said, these factors do not stand by themselves as they interact with each other. And so this time can certainly be quite stressful! Haha 😛 . I noticed myself that week where I appeared to be uncharacteristically “rushing” a little bit more and less calm than usual.

But of course given the amount of my experience with travelling, that was not my first experience handling such situation. I have learned that since weeks before the trip, I would need to start the anticipation. For my work, I started to arrange my schedule accordingly, and told my colleagues and stakeholders in advance about my plan. This helped in making the “size” of the deadline to be more manageable. For the preparation, I started packing my suitcase since a few days before the trip. So no last minute packing! Haha 😛 . And I made a list on what I would need to bring. For the excitement, unfortunately, there was nothing that I could do, haha…

But well, eventually this all leads to the trip itself where the moment the trip begins is, on the other hand, one of the best!

BAHASA INDONESIA

Aku mulai menulis draft posting ini sekitar dua hari sebelum perjalanan bulan November 2017ku ke Indonesia dimulai. Walaupun waktu itu topik ini bukanlah momen “eureka”, konteksnya amat relevan sehingga aku merasa aku perlu menuliskannya 😛 .

Untukku, momen sebelum sebuah perjalanan atau liburan besar dimulai adalah salah satu yang terburuk! Yah, rasanya ada banyak banget gitu yang berlangsung pada waktu yang bersamaan yang perlu diurus, padahal sebenarnya kenyataannya mungkin tidak sebanyak itu, haha. Namun, benar bahwa ada beberapa hal terpisah yang mengisi pikiranku di waktu-waktu ini dan situasi memaksa mereka untuk berinteraksi satu sama lain. Hipotesaku adalah interaksi ini lah yang menimbulkan perasaan terburuk itu!

Pertama-tama, tentu saja ada urusan kerjaan ya. Adanya sebuah liburan besar yang akan tiba sebenarnya juga berarti sebuah tenggat waktu (deadline) ekstra; yang bukan datang dari sebuah proyek atau dari atasan, tetapi dari diriku sendiri, haha. Untukku, selama memungkinkan aku ingin berangkat dalam sebuah liburan dengan pikiran yang tenang, tanpa “embel-embel” urusan pekerjaan yang ikut terbawa. Ini, tapinya, berarti aku juga jadi merasakan keinginan kuat untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaanku waktu itu sebelum pergi dan tentu ini terasa cukup stressful.

Lepas dari itu, tentu saja ada perasaan excitement. Maksudku, siapa juga yang nggak merasa excited sebelum berangkat liburan ya? Masalahnya, memikirkan ke depan mengenai perjalanan yang akan segera datang dan mengasyikkan itu justru membuat saat ini terasa lebih menyedihkan. Dan untuk perjalanan ke Indonesia kemarin ini, cuaca musim gugur di Belanda jelas sama sekali tidak membantu.

Di sisi lain, ada juga persiapan yang tentu juga penting, seperti misalnya mulai packing dan menyiapkan segala dokumen dan tetek-bengek lainnya (memastikan semua tiket pesawat, reservasi penginapan, dll siap, misalnya). Dan tentu saja pikiran menyebalkan “Eh, aku kelupaan apa ya?” itu.

Jadi, ini berakibat pada diriku dan pikiranku yang tiba-tiba, mau tidak mau, mesti multitasking. Di samping itu, seperti yang kubilang faktor-faktor tersebut tidak berdiri sendiri dan mereka justru berinteraksi satu sama lain. Dan jadilah sebagai akibatnya ini bisa terasa agak stressful! Haha 😛 . Aku perhatikan diriku minggu itu dimana rasanya, tidak biasanya, aku cenderung agak lebih “terburu-buru” dan kurang kalem dibandingkan biasanya.

Tetapi tentu saja dong dengan pengalamanku jalan-jalan, ini bukan lah kali pertama aku menghadapi situasi ini. Aku sudah tahu bahwa semenjak sekian minggu sebelum liburan, aku sudah harus memulai antisipasi. Untuk kerjaan, aku mulai mengatur jadwalku sedemikian rupa, dan juga memberi-tahu kolega dan stakeholders-ku jauh-jauh hari mengenai rencanaku. Ini membantuku untuk membuat “ukuran” dari tenggat-waktunya untuk lebih masuk akal untuk ditaklukkan. Untuk masalah persiapan, aku mulai packing semenjak sekian hari sebelum perjalanan. Jadi nggak ada deh ceritanya last minute packing! Haha 😛  Dan aku juga membuat daftar mengenai apa saja yang mesti kubawa. Untuk excitement, sayangnya tidak ada yang bisa kulakukan untuknya, haha…

Ah, tetapi toh pada akhirnya aku akan tiba juga di waktu keberangkatan yang mana merupakan satu waktu yang terbaik!

#2051 – OITNB and Friends

ENGLISH

Orange Is The New Black (OITNB)

A few months ago I finished remarathoning Star Trek: Voyager. And so I flicked through my Netflix and decided to start watching Orange Is The New Black.

And as it turned out this was a great show! The show started by following Piper Chapman who voluntarily surrendered to the Litchfield Penitentiary, a minimum security women’s federal prison. And the story developed from there, including exploring the lives of many of the characters she met in the prison (not only the inmates, but also some of the guards). Though, some aspect of the show could be “too vulgar” for some audience, overall I felt like this show was really well written and well executed! The drama, the politics, the acting, etc were great!

Anyway, following OITNB right after Star Trek: Voyager was quite a funny experience because Kate Mulgrew was one of the main casts in both shows! She played Captain Kathryn Janeway in Voyager and Galina “Red” Reznikov in OITNB. And so when I started OITNB I found it funny that (old) Kathryn Janeway somehow became an inmate in a New York prison, haha 😛

Friends

Speaking of Netflix, last year I mentioned how I was disappointed that I did not have Friends and The Big Bang Theory in my Dutch Netflix. And as it turned out, as per this year, I have had Friends! Yay!! 😀

Though, I still wish at some point I would have The Big Bang Theory, though; because I have been missing the last a few seasons!

Friends in Netflix!

BAHASA INDONESIA

Orange Is The New Black (OITNB)

Beberapa bulan yang lalu, aku selesai menonton ulang Star Trek: Voyager. Dan jadilah aku membuka-buka apa yang tersedia di Netflix dan aku memutuskan untuk mulai menonton Orange Is The New Black.

Dan ternyata ini adalah acara yang bagus lho! Serialnya dimulai dengan mengikuti Piper Chapman yang menyerahkan-diri secara sukarela ke Litchfield Penitentiary, penjara federal wanita dengan sekuriti minimum. Dan ceritanya berkembang dari sana, termasuk dengan mengeksplorasi kehidupan dari karakter-karakter lain yang ia temui di penjara (nggak hanya sesama tahanan, tetapi juga beberapa penjaganya). Walaupun beberapa aspek dari serial ini mungkin “terlalu vulgar” bagi sebagian orang, secara keseluruhan aku merasa acara ini ditulis dan dieksekusi dengan baik! Drama, politik, dan aktingnya bagus-bagus!

Anyway, mengikuti OITNB tepat setelah Star Trek: Voyager adalah pengalaman yang cukup lucu karena Kate Mulgrew berperan sebagai salah satu tokoh utama di kedua serial ini! Ia memainkan Kapten Kathryn Janeway di Voyager dan Galina “Red” Reznikov di OITNB. Dan ketika aku baru saja mulai menonton OITNB, aku merasa lucu kok Kathryn Janeway (yang sudah tua) sekarang menjadi seorang tahanan di sebuah penjara di New York, haha 😛

Friends

Ngmongin Netflix, tahun lalu aku sebutkan bagaimana aku merasa kecewa karena tidak menemukan Friends dan The Big Bang Theory di Netflix Belandaku. Ternyata, per tahun ini, akhirnya aku memiliki Friends juga lho! Hore!! 😀

Eh tetapi aku masih berharap suatu saat nanti ada The Big Bang Theory sih; soalnya aku masih belum menonton beberapa musim terakhirnya nih!

Friends di Netflix!

#2048 – 2017 Year End Trip (Part I: KLM KL 605 AMS-SFO in Economy)

ENGLISH

Posts in the 2017 Year End Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to California
3. Part II: A Tourist in San Francisco
4. Part III: Alcatraz and Yosemite
5. Part IV: The City of San Francisco
6. Part V: The City of Los Angeles
7. Part VI: Hollywood and Griffith
8. Part VII: More of LA
9. Part VIII: Back to Europe in Business Class


Flight: KLM Royal Dutch Airlines KL605
Equipment: Boeing 787-9 Dreamliner reg PH-BHD named “Bougainville”
ATD: 11:56 CET (Runway 24 of AMS)
ATA: 13:28 PST (Runway 28L of SFO)

I managed to snatch seat 10K, a window seat in the first row of economy comfort, while checking-in online the day before the trip. I was able to get this seat in economy comfort for free thanks to my new Platinum status (Normally, one would have had to pay €160 extra just to sit there on this flight to San Francisco!). Anyway, seat 10K was actually the second best seat for me on this flight. The best one would have been seat 10A because it would provide a bird’s eye view of San Francisco upon landing but that seat had already been taken, damn! Haha 😛 .

Checking in for my flight KL 605

Long story short, I arrived at Schiphol and checked my luggage in, upon which I also got a paper boarding pass. I waited for the flight at the KLM Crown Lounge and then went to the gate about 20 minutes before boarding time. The flight today would be operated with a Boeing 787-9 Dreamliner reg PH-BHD which KLM named “Bougainville”.

KLM’s Boeing 787-9 Dreamliner reg PH-BHD was ready to go to SFO

As you could see in the photo above, the weather at Schiphol today was not at the best condition. After all passengers at the gate boarded, the captain informed us that we were not given the green light to depart yet because we were still waiting for some connecting passengers whose coming flights to Amsterdam were delayed due to Schiphol’s current limited runway capacity. And so we had to sit in the plane for about an hour before we were finally given the permission to go. We took off from runway 24 and PH-BHD turned northwest towards California.

Finally taking off from runway 24 of AMS

Let’s start with the seat. KLM configured their Boeing 787-9 Dreamliner with the 3-3-3 layout in economy. This layout was actually fine. But to me, the “problem” was, just about two weeks prior I was flying a Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER which Garuda also configured with the 3-3-3 layout (While many other airlines, including KLM, chose to configure their Boeing 777s with the 3-4-3 layout). However, a Boeing 777-300ER was a bigger airplane, hence wider cabin, than a Boeing 787-9 Dreamliner. I guess because of this, somehow PH-BHD’s cabin felt a little bit “crammed” to me, haha.

A KLM Dreamliner selfie

Anyway, shortly after take-off, a snack and drink service was provided. The snack was a delicious roasted almond and I chose to pair it with white wine, haha. After the snack service, the flight attendants distributed the warm tissues service, a typical KLM’s long-haul service in economy which was really nice IMO.

I then started to watch the classic movie The Graduate at the AVOD IFE. Speaking of the AVOD, I wasn’t that much impressed with the content (in terms of movies and songs) this time, unfortunately. Though, perhaps the fact that there had been not a lot of new movies which excited me in the past several months might play a role in this too, haha.

The lunch service on board KLM flight KL605

The lunch service was provided not long after; with the choice being a vegetarian or a meatball dish. Obviously I opted for the meatball one, haha 😛 . And it was good!

Just after lunch, the map showed that we were already flying above … Greenland! I was of course excited about this and looked out the window! Greenland was, unlike its name, fully white as it was covered with snow and ice, haha.

Greenland, which looked more white than green to me.

PH-BHD then continued to fly towards Canada, upon which an ice cream snack service was provided. After finishing The Graduate, I decided to watch a second movie, Guardians of The Galaxy Vol. 2. And also, I tried KLM’s wifi which were available on their Boeing 787-9 Dreamliners. The wifi access was based on data instead of time, which was a factor I did not really like. But in terms of price, I thought their pricing was fair enough, even though a few times I had small problems with the connectivity.

Btw, as usual in a long-haul KLM flight, the flight attendants went on many rounds around the cabin bringing a tray of drinks for the passengers, which was, of course, such a very nice service! More snacks were also available at the galley. As we were entering the United States air space, the late lunch service was provided, which was also tasty.

The late lunch service on board KLM flight KL605

Long story short, at around 1 PM local time we started our descent towards San Francisco International Airport. We were not able to recover from our departure delay, though; and so we still arrived in San Francisco about one hour behind schedule. At 1:28 PM, we landed at runway 28L of San Francisco International Airport, here is the landing video:

PH-BHD parked at the International Terminal where I saw Emirates’, Japan Airlines’, Korean Air’s, Air France’s, and Aeromexico’s planes. Our delay meant that we arrived after all these airlines resulting in: very long lines at immigration! 😖 I had to wait for more than an hour before clearing immigration! And so when I arrived at the baggage area, my bag was already waiting for me nicely there, haha.

I exited the terminal and went to the BART station to take the train to Downtown San Francisco. And here, my two weeks vacation in California started!!

TO BE CONTINUED…

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri 2017 Year End Trip:
1. Introduction
2. Part I: Getting to California
3. Part II: A Tourist in San Francisco
4. Part III: Alcatraz and Yosemite
5. Part IV: The City of San Francisco
6. Part V: The City of Los Angeles
7. Part VI: Hollywood and Griffith
8. Part VII: More of LA
9. Part VIII: Back to Europe in Business Class


Penerbangan: KLM Royal Dutch Airlines KL605
Pesawat: Boeing 787-9 Dreamliner rego PH-BHD bernama “Bougainville”
ATD: 11:56 CET (Runway 24 of AMS)
ATA: 13:28 PST (Runway 28L of SFO)

Aku berhasil mengamankan kursi 10K, kursi jendela di baris pertama kelas economy comfort, ketika check-in online sehari sebelum berangkat. Aku bisa mendapatkan kursi economy comfort ini dengan gratis loh berkat status Platinum baruku ini (Normalnya, seorang penumpang harus membayar ekstra €160 (sekitar Rp 2,6 juta) untuk duduk di kursi ini di penerbangan ke San Francisco!). Anyway, kursi 10K sebenarnya adalah kursi terbaik kedua di penerbangan ini bagiku. Yang terbaik adalah kursi 10A karena dari sana aku akan mendapatkan pandangan San Francisco dari atas ketika mendarat. Tetapi sialnya kursi itu sudah diambil orang lain nih! Haha 😛 .

Check in untuk penerbangan KL 605

Singkat cerita, aku tiba di Schiphol, meng-check-in-kan bagasiku, dan mendapatkan boarding pass fisik. Aku menunggu penerbanganku di KLM Crown Lounge dan kemudian berjalan ke gate sekitar 20 menit sebelum waktu boarding. Penerbangan hari ini akan dioperasikan dengan pesawat Boeing 787-9 Dreamliner rego PH-BHD yang KLM beri nama “Bougainville”.

Pesawat Boeing 787-9 Dreamliner-nya KLM rego PH-BHD siap untuk berangkat ke SFO

Seperti yang terlihat di foto di atas, cuaca di Schiphol hari ini memang sedang kurang oke. Setelah semua penumpang yang berada di gate naik ke dalam pesawat, kaptennya memberi-tahu bahwa kami masih belum diberikan lampu hijau untuk berangkat karena ternyata kami masih harus menunggu beberapa penumpang connecting yang penerbangannya terlambat mendarat di Schiphol akibat kapasitas landasan pacu bandara yang dikurangi karena kondisi cuaca. Jadilah kami harus duduk di dalam pesawat selama satu jam-an sebelum akhirnya bisa berangkat. Kami lepas landas dari landasan pacu 24 dan kemudian PH-BHD berbelok ke arah barat laut menuju California.

Akhirnya lepas landas dari landasan pacu 24nya AMS

Mari ngomongin masalah kursi. KLM mengonfigurasi Boeing 787-9 Dreamliner mereka dengan layout 3-3-3 di ekonomi. Layout ini sebenarnya oke-oke aja sih. Yang jadi “masalah” bagiku adalah baru sekitar dua minggu sebelumnya aku terbang dengan pesawat Boeing 777-300ERnya Garuda Indonesia yang mana Garuda konfigurasi dengan layout 3-3-3 juga (Padahal banyak maskapai lain, termasuk KLM, memilih layout 3-4-3 untuk pesawat tipe Boeing 777 ini). Namun, Boeing 777-300ER kan adalah tipe pesawat yang lebih besar ya, yang mana artinya juga memiliki kabin lebih besar, daripada Boeing 787-9 Dreamliner. Aku duga karena ini, kabinnya PH-BHD ini jadi terasa “sempit” untukku, haha.

KLM Dreamliner selfie

Anyway, tidak lama setelah lepas landas, layanan snack dan minuman diberikan. Snack-nya berupa kacang almond panggang yang mana rasanya enak banget loh; dan tentu saja aku temani dengan white wine, haha. Setelah layanan snack, awak kabin membagikan layanan tisu hangat, sebuah layanan khasnya KLM di ekonomi yang menurutku oke.

Aku kemudian mulai menonton film klasik The Graduate di AVOD IFE. Nah, ngomongin AVODnya nih, aku kok agak kecewa ya dengan isinya (dalam hal pilihan film dan lagu), sayangnya. Mungkin ini diakibatkan karena memang tidak ada banyak film yang menarik sih beberapa bulan belakangan ini, haha.

Layanan makan siang di penerbangan KLM KL605

Layanan makan siang disajikan tak lama setelahnya; yang mana pilihannya adalah menu vegetarian atau menu bola daging. Ya jelas lah ya aku memilih bola daging, haha 😛 . Dan rasanya enak!

Setelah makan siang, peta menunjukkan bahwa ternyata kami sudah berada di atasnya … Greenland! Jelas dong aku excited dan langsung menengok keluar jendela! Greenland itu, tidak seperti namanya, berwarna putih banget karena memang terselimuti salju dan es, haha.

Greenland, yang nampak lebih putih daripada hijau untukku.

PH-BHD kemudian lanjut terbang menuju Kanada, dimana layanan es krim dibagikan. Setelah selesai menonton The Graduate, aku memutuskan untuk menonton film kedua, Guardians of The Galaxy Vol. 2. Oh iya, pesawat Boeing 787-9 Dreamliner-nya KLM juga dilengkapi dengan wifi loh. Tetapi wifi-nya menggunakan kuota paket data sih, bukannya waktu, yang mana merupakan satu faktor yang aku kurang begitu suka. Tetapi untuk masalah biaya, aku rasa harga aksesnya cukup fair juga, walaupun terkadang aku konektivitasnya bermasalah sih.

Btw, seperti biasa di penerbangan jarak jauhnya KLM, awak kabinnya aktif berkeliling kabin sambil membawa nampan berisi minuman untuk para penumpang yang mana, jelas, adalah pelayanan yang oke banget! Snack juga disediakan di dapur pesawat. Ketika kami memasuki area udara Amerika, layanan makan siang kedua dibagikan, yang mana rasanya juga lumayan.

Layanan makan siang kedua di penerbangan KLM KL605

Singkat cerita, sekitar jam 1 siang waktu setempat pesawat mulai turun menuju Bandara Internasional San Francisco. Kami tidak berhasil memotong waktu keterlambatan kami, sehingga kami tiba di San Francisco sekitar satu jam terlambat. Jam 1:28 siang, pesawat mendarat di landasan pacu 28L Bandara Internasional San Francisco, berikut ini video pendaratannya:

PH-BHD parkir di Terminal Internasional dimana aku melihat sudah ada pesawatnya Emirates, Japan Airlines, Korean Air, Air France, dan Aeromexico. Keterlambatan kami berarti kami baru tiba setelah semua maskapai lain ini yang berakibat pada: antrian yang panjang banget di imigrasi! 😖 Aku harus mengantri selama lebih dari satu jam loh! Dan jadilah ketika tiba di area bagasi, bagasiku sudah menungguku di sana, haha.

Aku keluar dari terminal dan berjalan menuju stasiun kereta BART untuk naik kereta menuju Downtown San Francisco. Dan di sini, liburan dua mingguku di California resmi dimulai!!

BERSAMBUNG…

#2042 – AvGeek Weekend Trip #14 (AMS – CDG – FRA – AMS)

ENGLISH

As my Instagram followers (@azilko) have known, yesterday I went on another Avgeek Weekend Trip. Yeah, yeah, I know, I just came back from my 2017 year end trip to California just literally 48 hours before! Quite crazy I know and indeed I was pushing my body to the limit here, haha 😛 . But I feel like it was actually good to help me combat this terrible jetlag! 😀

Anyway, here is the routing this time:

The routing this weekend. Created with gcmap.com

Yeah, quite simple yet efficient. Perfect for my currently jetlagged condition, I guess, haha.

I took a KLM’s flight KL1233 from Amsterdam to Paris with a Boeing 737-800 reg PH-BXL. Then I took an Air France’s flight AF1318 to Frankfurt with an Airbus A320-200 reg F-GKXL. Lastly, I took a KLM Cityhopper flight KL1770 back to Amsterdam with an Embraer ERJ190 reg PH-EXC.

In most part, all were regular and pleasant flights with KLM and Air France. With my Platinum status, I could assign myself seats in economy comfort for free in both KLM flights, haha. I also noticed that yesterday in particular was not a really busy flying day. The KLM Crown Lounge at Schiphol was not that busy, and all the seats next to mine in my Air France and KLM Cityhopper flights were empty!

Anyway, here are the photos from this trip:

BAHASA INDONESIA

Seperti yang followers Instagramku (@azilko) ketahui, kemarin aku pergi dalam sebuah Avgeek Weekend Trip. Iyaa, tahu kok. Aku memang baru saja pulang dari perjalanan akhir tahun 2017ku ke California cuma 48 jam sebelumnya! Agak gila memang ya, dan memang rasanya aku seperti memaksakan tubuhku sendiri ke limit deh, haha 😛 . Eh tetapi aku pikir-pikir ini sebenarnya bagus lho untuk membantuku melawan jetlag yang parah banget ini! 😀

Anyway, berikut ini rutenya kali ini:

Rutenya akhir pekan ini. Dibuat dengan gcmap.com

Yup, memang cukup sederhana dan efisien. Cocok lah untuk kondisiku yang memang sedang terkena jetlag ini, haha.

Aku menaiki penerbangannya KLM KL1233 dari Amsterdam ke Paris dengan Boeing 737-800 rego PH-BXL. Kemudian aku naik Air France AF1318 ke Frankfurt dengan sebuah Airbus A320-200 rego F-GKXL. Dan terakhir, aku menaiki penerbangan KLM Cityhopper KL1770 kembali ke Amsterdam dengan sebuah Embraer ERJ190 rego PH-EXC.

Secara umum ketiganya adalah penerbangan reguler dan nyaman dengan KLM dan Air France. Dengan status Platinumku, aku bisa memilih kursi di kabin economy comfort dengan gratis di kedua penerbangan KLMku, haha. Aku juga perhatikan kemarin bukanlah hari yang sibuk loh di udara. KLM Crown Lounge di Schiphol tidak lah terlalu sibuk, dan semua kursi di sebelahku di penerbangan Air France dan KLM Cityhopper-ku juga kosong!

Anyway, di atas adalah foto-foto dari perjalanan ini.

#2040 – November 2017 Indonesia Trip (Part VI: Back to Europe)

ENGLISH

Posts in the November 2017 Indonesia Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Indonesia
3. Part II: Jakarta
4. Part III: Yogyakarta
5. Part IV: The Wedding
6. Part V: Solo
7. Part VI: Back to Europe

My routing this time was (almost) a carbon copy of my trip back to Europe from my Indonesia Summer Trip back in 2015. The only differences were that (1) Instead of taking flight GA213 from Yogyakarta to Jakarta, I took flight GA211, (2) Instead of Terminal 2, Garuda Indonesia already moved to the brand new Terminal 3 Ultimate in Jakarta, and (3) This time I was entitled the SkyPriority benefits with my KLM status; I hadn’t reached that status yet back in August 2015. Anyway, let the trip report begin!

The route map this year was a carbon copy of my 2015 trip. Created with gcmap.com

Garuda Indonesia GA211 (JOG – CGK)

Flight: Garuda Indonesia GA 211
Equipment: Boeing 737-800 reg PK-GNG
ATD: 15:51 WIB (Runway 27 of JOG)
ATA: 16:46 WIB (Runway 25L of CGK)

After checking-in at the SkyPriority desk, I went to Garuda Indonesia Executive Lounge at the airport. This was my second visit to this small lounge this year, after the first time being earlier this year during my trip back to Amsterdam via Bali, Shanghai, and Paris, haha. Unlike that other time, the lounge was very busy this time around.

The Garuda Indonesia Executive Lounge at Adisutjipto Airport.

Anyway, my flight to Jakarta today would be operated with a Boeing 737-800 reg PK-GNG which had Boeing Sky Interior! From Flightradar24 I knew beforehand that the flight would be slightly delayed, though.

A Garuda Indonesia’s Boeing 737-800 reg PK-GNG at Adisutjipto Airport

Long story short, I went to the gate and was the first passenger to board, haha 😛 . I settled onto my comfortable 21K seat in the first row of economy. After all passengers boarded, we departed and took off from runway 27 of Adisutjipto Airport. See you, Yogyakarta!

See you, Jogja!

Overall it was a pleasant, regular, short-haul flight with Garuda Indonesia. A snack service was distributed short after take-off. I used the AVOD IFE to listen to some music. And as it was an afternoon flight, I spent most of my time also starring out of the window, haha 😛 . About 45 minutes later, we were already on descent to Soekarno-Hatta International Airport and the flight attendants prepared for landing.

Not long after, we landed at runway 25L of Soekarno-Hatta International Airport, the farther runway from Terminal 3 Ultimate meaning the taxiing to the stand would be quite long, haha. Anyway, here is the landing video:

Transiting at Terminal 3 Ultimate

It happened that my arrival gate at Jakarta was at the far end of the domestic side of the terminal. Having an international connection made me realize the gigantic size of Terminal 3 Ultimate. I basically had to walk down almost the entire 1.2 km length of the terminal to get to my connecting gate! Haha 😛 .

White wine at the Garuda Lounge

Anyway, long story short I cleared security and immigration; and then I went to Garuda Indonesia’s International Lounge at the brand new terminal. The lounge appeared to be smaller than its domestic counterpart (see Part II). It a was nice and comfortable lounge with good food and drink selection. As it was an international lounge, white and red wine were also available at the bar section. The wifi connection was also especially fast for Indonesian standard.

Garuda Indonesia GA88 (CGK – SIN)

Flight: Garuda Indonesia GA 88
Equipment: Boeing 777-300ER reg PK-GII in SkyTeam Livery
ATD: 21:25 WIB (Runway 25R of CGK)
ATA: 23:38 SGT (Runway 02C of SIN)

I felt very lucky and was very excited when I found out that this Boeing 777-300ER would be my ride tonight:

A Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER reg PK-GII in SkyTeam Livery at Terminal 3 Ultimate

Yes, PK-GII, i.e. Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER which was in SkyTeam Livery!! 😍 It would be my first time ever catching a Garuda bird in this special alliance colour!

Boarding started a little bit late. I was amongst the first passengers to board and settled onto my comfortable 21K seat. This flight to Singapore made me notice the cost-cutting effort the Garuda management has tried to impose to remain competitive. For once, there was no welcome drink in economy like what I got two years ago on this very same flight, haha.

Boarding screen

Anyway, even after boarding completed, we could not depart because we were still waiting for some documents to be completed. This caused a delay of about 30 minutes. And then of course once we actually departed, we had to face the typical long queue for take-off at Soekarno-Hatta International Airport. In the end, we could only take off at 21:25 while our scheduled departure time was 20:30.

Waiting on my 21K seat

We took off from runway 25R and made a turn towards Singapore. Not too long after take-off, the dinner service was provided. The choices were beef lasagna or chicken with noodles. I opted for the first along with wine wine and water as my drink of choice. I found the lasagna to be okay. During this time, I also watched two episodes of The Big Bang Theory, haha…

Beef lasagna for dinner and The Big Bang Theory

About an hour later we started our approach towards Singapore Changi Airport and then landed at runway 02C. Here is the landing video:

It was quite a long taxi towards Terminal 3. Transit passengers were told to disembark the plane and the transit time would be one hour.

Transiting at Changi Airport

Another clear cost-cutting effort was the now non-existence of transit stuffies in Singapore. Two years ago, I got a snack box and a S$30 voucher for shopping at Changi. This year, I got nothing! Haha 😛 . And so I just went to the Information Kiosk to get a wifi password before immediately going to the gate to wait for boarding.

No transit stuffies this time around.

Anyway, technically, the next flight would be a fifth freedom flight as I would be flying a Garuda Indonesia flight from Singapore to the Netherlands! An aspect which I was quite excited about because it would be my only fifth freedom flight this year.

Garuda Indonesia GA88 (SIN – AMS)

Flight: Garuda Indonesia GA 88
Equipment: Boeing 777-300ER reg PK-GII in SkyTeam Livery
ATD: 01:54 SGT (Runway 02L of SIN)
ATA: 07:38 CET (Runway 18C of AMS)

Upon boarding, I found out that my neighbouring two seats were taken by a young couple with a baby! Because my seat was a window seat, I immediately realized that the spaciousness I previously got from my 21K seat would be heavily compromised. After take-off, a baby basinet would be installed occupying most of that space. While this was certainly a discomfort to me, this was actually indeed the “risk” of picking this seat, haha. Of course I could not “win” all the time.

The safety demo

Anyway, long story short we departed after boarding finished. It was almost a full flight to Amsterdam today, with a load factor of at least 95% in economy, which was really impressive IMO! We took off from runway 02L and headed northwest towards Europe.

Another round of dinner service (with the same options) was served not long after take-off. I was still feeling full so I declined the service and only asked for a glass of guava juice, haha. During this time, we were flying above Aceh, not too far away (I guess) from where Cyclone “Dahlia” was the day before. As a result, we faced some not-so-light turbulences, haha.

There were turbulences in this area.

In the meantime, I tried to sleep because I was feeling really sleepy. As a matter of fact, I actually could sleep for about six hours, which was quite impressive for my standard! It also happened that I slept during the part of the flight along the turbulence area, haha. Btw somewhere along the way, the in-between-fuel service was served, which was a salmon sandwich.

The in-between fuel service

I woke up when we were already somewhere above the Turkish airspace. I was quite awake already that I knew trying to go back to sleep would be a futile attempt, haha. So I watched several more episodes of The Big Bang Theory.

About two hours before landing, the breakfast service started. The options were between omelette and chicken with rice; I opted for the latter. To accompany my breakfast, I was torn to watch either Hidden Figures or Trinity, the Nekad Traveller, haha 😛 . Thinking that it would be difficult for me to watch an Indonesian movie in the Netherlands, I chose he latter 😛 .

Chicken and rice for breakfast.

Anyway at around 7:15 local time we were already on approach to Schiphol Airport. It was still dark outside when the flight attendants were preparing for landing:

And not too long after, we landed at runway 18C of Amsterdam Schiphol Airport. Here is the landing video:

PK-GII then parked at gate G5. We disembarked and I cleared immigration. It was awesome that my luggages were delivered at the belt exactly by the time I reached the luggage area! This was certainly because of my SkyTeam Elite Plus status! My luggages were tagged with priority labels so I got to “avoid” the problem of long waiting for luggages at Schiphol! 😛

Anyway, then I took the train to Amsterdam Centraal; and here my November 2017 Indonesia Trip officially ended.

THE END.

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri November 2017 Indonesia Trip:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Indonesia
3. Part II: Jakarta
4. Part III: Yogyakarta
5. Part IV: The Wedding
6. Part V: Solo
7. Part VI: Back to Europe

Ruteku kali ini (nyaris) sama persis dari perjalananku kembali ke Erop dari liburan musim panasku di Indonesia tahun 2015. Perbedaannya adalah (1) Bukannya dengan penerbangan GA213 dari Yogyakarta ke Jakarta, kali ini aku naik GA211, (2) Bukannya Terminal 2, Garuda Indonesia sudah pindah ke Terminal 3 Ultimate di Jakarta, dan (3) Kali ini aku mendapatkan fasilitas SkyPriority dengan status KLMku; aku masih belum mendapatkan status ini di bulan Agustus 2015. Anyway, mari trip report-nya langsung kita mulai!

Peta ruteku tahun ini sama persis seperti perjalananku di tahun 2015. Dibuat dengan gcmap.com

Garuda Indonesia GA211 (JOG – CGK)

Penerbangan: Garuda Indonesia GA 211
Pesawat: Boeing 737-800 reg PK-GNG
ATD: 15:51 WIB (Runway 27 of JOG)
ATA: 16:46 WIB (Runway 25L of CGK)

Setelah check-in di konter SkyPriority, aku pergi ke Executive Lounge-nya Garuda Indonesia di bandara. Ini adalah kali kedua aku mengunjungi lounge kecil ini tahun ini, setelah yang pertama adalah awal tahun ini dalam perjalananku kembali ke Amsterdam dengan transit di Bali, Shanghai, dan Paris, haha. Tetapi tidak seperti waktu itu, kali ini lounge-nya ramai sekali.

Garuda Indonesia Executive Lounge di Bandara Adisutjipto.

Anyway, penerbanganku ke Jakarta hari ini akan dioperasikan dengan Boeing 737-800 rego PK-GNG yang dilengkapi dengan Boeing Sky Interior! Melalui Flightradar24, aku sudah tahu bahwa penerbangan ini akan mengalami keterlambatan sih.

Sebuah Boeing 737-800 milik Garuda Indonesia dengan rego PK-GNG di Bandara Adisutjipto.

Singkat cerita, aku pergi ke gerbang keberangkatan dan adalah penumpang pertama yang naik pesawat, haha 😛 . Aku duduk di kursi 21K yang nyaman di baris pertama kelas ekonomi. Setelah semua penumpang naik, pesawat berangkat dan lepas landas dari landasan pacu 27 Bandara Adisutjipto. Sampai jumpa lagi, Yogyakarta!

Sampai jumpa, Jogja!

Secara umum, ini adalah penerbangan reguler jarak dekat yang nyaman dengan Garuda Indonesia. Layanan snack diberikan sesaat setelah lepas landas. Melalui AVODnya aku mendengarkan beberapa lagu. Dan karena penerbangannya berlangsung di siang hari, aku banyak melihat ke luar jendela deh, haha 😛 . Sekitar 45 menit kemudian, kami sudah mulai turun menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan awak kapal mulai bersiap untuk mendarat.

Tak lama setelahnya, kami mendarat di landasan pacu 25L, landasan yang agak jauh dari Terminal 3 Ultimate sehingga taxiing-nya lumayan lama, haha. Berikut ini video pendaratannya:

Transit di Terminal 3 Ultimate

Kebetulan pesawat diparkir di gerbang yang berlokasi jauh di ujung sisi domestik dari terminalnya. Penerbangan lanjutanku yang merupakan penerbangan internasional membuatku merasakan sebagaimana raksasanya Terminal 3 Ultimate itu. Pada dasarnya aku harus berjalan nyaris di keseluruhan panjang terminalnya yang sepanjang 1,2 km itu untuk mencapai gerbang penerbangan lanjutanku! Haha 😛 .

White wine di Garuda Lounge

Anyway, singkat cerita aku melalui pemeriksaan sekuriti dan imigrasi; dan kemudian aku pergi ke Lounge Internasionalnya Garuda Indonesia di terminal baru ini. Lounge-nya sendiri lebih kecil daripada yang domestik (baca Bagian II) tetapi yang penting nyaman dengan pilihan makanan dan minuman yang cukup beragam. Karena merupakan lounge internasional, minuman wine juga tersedia di barnya. Koneksi wifi-nya juga cepat banget loh untuk ukuran Indonesia.

Garuda Indonesia GA88 (CGK – SIN)

Penerbangan: Garuda Indonesia GA 88
Pesawat: Boeing 777-300ER reg PK-GII dengan livery SkyTeam
ATD: 21:25 WIB (Runway 25R of CGK)
ATA: 23:38 SGT (Runway 02C of SIN)

Aku merasa amat beruntung dan excited banget ketika tahu bahwa Boeing 777-300ER yang akan membawaku malam ini adalah yang ini:

Sebuah Boeing 777-300ERnya Garuda Indonesia dengan rego PK-GII dengan livery SkyTeam di Terminal 3 Ultimate

Iyaaa, PK-GII, alias Boeing 777-300ERnya Garuda Indonesia yang ber-livery SkyTeam!! 😍 Ini akan menjadi pertama kalinya aku menaiki burungnya Garuda yang berwarnakan corak khusus aliansi ini!

Boarding dimulai agak terlambat kali ini. Aku adalah salah satu penumpang pertama yang naik dan duduk nyaman di kursi 21K-ku. Di penerbangan ke Singapura ini lah aku paling merasakan efek dari pemangkasan biaya yang diusahakan oleh manajemennya Garuda agar perusahaan tetap kompetitif. Misalnya, tidak ada welcome drink dong di kelas ekonomi padahal dua tahun yang lalu di penerbangan yang sama kan ada, haha.

Layar boarding

Anyway, walaupun semua penumpang sudah naik, kami masih belum bisa berangkat karena pilot masih harus menunggu dokumen-dokumen untuk dilengkapi. Ini mengakibatkan keterlambatan selama 30an menit. Dan tentu saja setelah berangkat, kami harus menghadapi yang namanya antrian untuk menunggu giliran lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Pada akhirnya, kami baru bisa lepas landas jam 21:25 sementara penerbangan sebenarnya dijadwalkan berangkat jam 20:30. h

Menunggu di kursi 21K-ku.

Pesawat lepas landas dari landasan pacu 25R dan kemudian berbelok menuju Singapura. Tak lama kemudian, layanan makan malam dibagikan. Pilihannya adalah lasagna daging sapi atau mie dengan ayam. Aku memilih pilihan pertama dengan white wine dan air putih untuk minum. Rasa lasagnanya lumayan juga. Aku makan sambil menonton dua episodenya The Big Bang Theory, haha…

Lasagna daging sapi untuk makan malam dan The Big Bang Theory

Sekitar satu jam kemudian, kami mulai turun menuju Bandara Changi dan kemudian mendarat di landasan pacu 02C. Berikut ini video pendaratannya:

Pesawat taxiing lumayan jauh ke Terminal 3. Penumpang transit diminta untuk turun dengan waktu transit selama sekitar satu jam.

Transit di Bandara Changi

Satu upaya pemangkasan biaya lain yang nampak jelas adalah ketiadaan fasilitas transit di Singapura. Dua tahun yang lalu, aku mendapatkan satu kotak snack dan voucher senilai S$30 untuk dibelanjakan di Changi. Tahun ini aku nggak mendapatkan apa-apa dong! Haha 😛 . Dan jadilah setelah turun aku mampir dulu ke Kios Informasinya Changi untuk mendapatkan password wifi dan setelahnya langsung masuk ke gate lagi menunggu boarding.

Nggak dapat apa-apa ketika transit di Singapura kali ini.

Anyway, secara teknis penerbanganku selanjutnya adalah penerbangan kebebasan kelima karena aku akan terbang dengan Garuda Indonesia dari Singapura ke Belanda! Satu aspek yang juga membuatku excited karena ini akan menjadi satu-satunya penerbangan kebebasan kelimaku tahun ini!

Garuda Indonesia GA88 (SIN – AMS)

Penerbangan: Garuda Indonesia GA 88
Pesawat: Boeing 777-300ER reg PK-GII dengan livery SkyTeam
ATD: 01:54 SGT (Runway 02L of SIN)
ATA: 07:38 CET (Runway 18C of AMS)

Ketika boarding, aku jadi tahu bahwa dua kursi di sebelahku diduduki oleh sepasang suami-istri muda yang terbang dengan bayi mereka. Karena kursiku adalah kursi jendela, aku langsung paham bahwa keleluasaan yang sebelumnya kudapatkan dari banyaknya ruang di kursi 21K-ku akan banyak hilang kali ini. Setelah lepas landas, kotak/ranjang bayi akan dipasangkan di depan kursi untuk bayinya yang mana jelas akan memakan hampir semua ruang di depanku. Walaupun memang ini membuat sedikit ketidak-nyamanan bagiku, tetapi ya memang ini lah “risiko” duduk di kursi ini kok, haha. Kan nggak mungkin dong ya kita “menang” terus.

Peragaan keselamatan.

Anyway, singkat cerita kami berangkat begitu semua penumpang naik. Penerbangan ke Amsterdam ini nyaris penuh loh, dengan load factor di kelas ekonomi yang aku bilang setidaknya 95%, yang mana keren banget menurutku! Kami lepas landas dari landasan pacu 02L dan kemudian mengarah ke arah barat laut menuju Eropa.

Satu ronde makan malam diberikan lagi (dengan pilihan menu yang sama seperti yang sebelumnya) setelah lepas landas. Karena masih kenyang, aku menolaknya dan meminta jus jambu saja, haha. Di waktu ini, kami terbang di atas Aceh, tidak terlalu jauh dari (yang kuperkirakan) lokasi Siklon “Dahlia” sehari sebelumnya. Sebagai akibatnya, kami mengalami beberapa turbulensi yang kekuatannya lumayan, haha.

Ada banyak turbulensi di area ini.

Sementara itu, aku mencoba untuk tidur karena sudah mengantuk sekali. Malahan, aku bisa tidur selama sekitar enam jam-an loh di penerbangan ini, yang mana impresif sekali untukku! Kebetulan juga aku tidurnya di bagian penerbangan yang banyak turbulensinya, haha. Btw, di tengah jalan waktu itu, layanan in-between fuel juga diberikan yang berupa sandwich daging salmon.

Layanan in-between fuel

Aku bangun ketika pesawat sudah berada di atas area Turki. Aku sudah lumayan bangun dan aku tahu percuma kalau mau memaksakan tidur lagi, haha. Ya sudah jadilah aku menonton beberapa episodenya The Big Bang Theory lagi.

Sekitar dua jam sebelum mendarat, layanan sarapan disajikan. Pilihannya adalah omelet atau nasi dengan ayam; aku memilih yang kedua. Untuk menemaniku sarapan, awalnya aku bingung antara mau menonton Hidden Figures atau Trinity, the Nekad Traveller, haha 😛 . Dengan mempertimbangkan agak sulit bagiku menonton film Indonesia di Belanda, aku memilih yang kedua 😛 .

Ayam dan nasi untuk sarapan.

Anyway sekitar jam 7:15 waktu setempat kami sudah mulai mendekati Bandara Schiphol. Kondisi di luar masih gelap sekali ketika awak kapal mulai bersiap untuk mendarat:

Dan tak lama setelahnya, kami mendarat di landasan pacu 18C Bandara Amsterdam Schiphol. Berikut ini video pendaratannya:

PK-GII kemudian diparkir di gate G5. Penumpang dipersilakan turun dan aku melewati imigrasi. Keren banget lho dimana bagasiku keluar begitu aku masuk di area bagasinya! Ini jelas karena status SkyTeam Elite Plus-ku lah! Bagasiku diberi label prioritas sehingga aku jadi “menghindari” masalah penungguan bagasi yang biasanya lama banget di Schiphol ! 😛

Anyway, kemudian aku naik kereta ke Amsterdam Centraal; dan di sini perjalanan November 2017ku ke Indonesia resmi berakhir.

SELESAI.

#2037 – 2017 In The Air

ENGLISH

Just like in 2015 and 2016, I am going to recap my flying activities this year 😛 .

In terms of the number of flights, I broke a personal record this year with 67 flights, breaking last year’s record of 57 🙈. Though distance-wise, I only travelled a little bit further at 48,695 miles (78,367 km) compared to last year’s 46,075 miles (74,150 km). And here is how those 48,695 miles shaped this year:

My flying map of 2017. Created with gcmap.com

Yep, three continents, twelve countries, twenty-five cities, and twenty-eight airports.

Just like last year, again, I did not do too many intercontinental trips this year, and this is well reflected in the map. This, indeed, means that I traveled more within Europe. And here is the European part of the map above:

My flying map of 2017 inside Europe. Created with gcmap.com

Anyway, here are some more stats:

By routes

My only fifth freedom flight this year was with this Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER reg PK-GII in SkyTeam Livery from Singapore to Amsterdam.

Top three routes (by frequency):
1. Amsterdam – Paris CDG (14.93%)
2. Paris CDG – Amsterdam (11.94%)
3. Paris CDG – Lyon (4.48%)

Top three routes (by distance):
1. Amsterdam – Jakarta CGK (7,055 miles/11,354 km)
2. Singapore – Amsterdam (6,535 miles/10,517 km)
3. Shanghai PVG – Paris CDG (5,771 miles/9,288 km)

Fifth-freedom flights:
1. Garuda Indonesia GA88 (Singapore – Amsterdam): 3 December 2017

By airlines

I flew the most, frequency-wise, with Air France this year.

Top three airlines (by frequency):
1. Air France (35.82%)
2. KLM Royal Dutch Airlines (25.37%)
3. KLM Cityhopper (10.45%)

Top three airlines (by total distance):
1. Garuda Indonesia (15,036 miles/24,198 km)
2. Air France (12,436 miles/20,014 km)
3. KLM Royal Dutch Airlines (11,447 miles/18,422 km)

New Airlines:
1. Alitalia Cityliner (CT)
2. SkyWest Airlines (OO)

By airports

I finally visited the brand new Terminal 3 Ultimate at Soekarno-Hatta International Airport this year.

Top three most visited airport (by total activities)
1. Amsterdam Schiphol (31.34%)
2. Paris – Charles De Gaulle (24.63%)
3. Lyon – Saint Exupery (4.48%)

New airports:
1. Genoa Cristoforo Colombo (GOA)
2. Strasbourg (SXB)
3. Bordeaux-Merignac (BOD)
4. Zurich Kloten (ZRH)
5. Bremen Hans Koschnick (BRE)
6. Berlin Tegel (TXL)
7. Cardiff (CWL)
8. Newcastle (NCL)
9. San Francisco International Airport (SFO)
10. Los Angeles International Airport (LAX)

By airplanes

I flew with an Embraer 175 for the first time this year.

Top three airplanes (by frequency)
1. Boeing 737-800 (14.93%)
1. Boeing 737-700 (14.93%)
1. Airbus A320-200 (14.93%)

Top three airplanes (by distance)
1. Boeing 777-300ER (19,908 miles/32,038 km)
2. Boeing 787-9 Dreamliner (5,948 miles/9,572 km)
3. Boeing 737-700 (3,565 miles/5,737 km)

New airplanes:
1. Embraer ERJ175
2. Boeing 787-9 Dreamliner

***

Yeah, that is the summary of how I flew in 2017.

Though, I notice that, despite having more flights than, say, last year or the year before that, somehow I felt like this year was “less exciting” in some departments. Perhaps this is a sign that I should “spice things up” a little bit for 2018? Hmm…

We will see! 😉

BAHASA INDONESIA

Seperti tahun 2015 dan 2016, kali ini aku akan merekap aktivitas penerbanganku tahun ini 😛 .

Dari segi jumlah penerbangan, lagi-lagi aku mencetak rekor pribadi loh tahun ini dengan 67 penerbangan, mengalahkan rekor tahun lalu yang hanya 57 🙈. Walaupun dari segi total jarak, aku hanya bepergian sedikit lebih jauh sih yaitu 48.695 mil (78.367 km) dibandingkan tahun lalu yang 46.075 mil (74.150 km). Dan berikut ini bagaimana 48.695 mil itu terjalani tahun ini:

Peta penerbanganku di tahun 2017. Dibuat dengan gcmap.com

Yep, tiga benua, dua belas negara, dua puluh lima kota, dan dua puluh delapan bandara.

Seperti tahun lalu, lagi, aku tidak terlalu banyak bepergian antar-benua tahun ini, yang mana tergambarkan di petanya juga kan ya. Ini, memang, artinya aku lebih banyak bepergian jarak dekat di dalam Eropa saja. Berikut ini peta di atas apabila kita fokus ke penerbangan dalam Eropa saja:

Peta penerbangan dalam Eropaku di tahun 2017. Dibuat dengan gcmap.com

Anyway, berikut ini beberapa statistik:

Berdasarkan rute

Penerbangan kebebasan kelimaku tahun ini adalah dengan pesawat Garuda Indonesia Boeing 777-300ER rego PK-GII dengan cat SkyTeam ini dari Singapura ke Amsterdam.

Rute tiga teratas (berdasarkan frekuensi):
1. Amsterdam – Paris CDG (14,93%)
2. Paris CDG – Amsterdam (11,94%)
3. Paris CDG – Lyon (4,48%)

Penerbangan kebebasan kelima:
1. Garuda Indonesia GA88 (Singapore – Amsterdam): 3 Desember 2017

Berdasarkan maskapai

Aku terbang paling sering dengan Air France tahun ini.

Maskapai tiga teratas (berdasarkan frekuensi):
1. Air France (35,82%)
2. KLM Royal Dutch Airlines (27,37%)
3. KLM Cityhopper (10,45%)

Maskapai tiga teratas (berdasarkan total jarak):
1. Garuda Indonesia (15.036 mil/24.198 km)
2. Air France (12.436 mil/20.014 km)
3. KLM Royal Dutch Airlines (11.447 mil/18.422 km)

Maskapai baru bagiku:
1. Alitalia Cityliner (CT)
2. SkyWest Airlines (OO)

Berdasarkan bandara

Akhirnya aku mengunjungi Terminal 3 Ultimate di Bandara Soekarno-Hatta tahun ini.

Tiga bandara teratas (berdasarkan total aktivitas):
1. Amsterdam Schiphol (31,34%)
2. Paris – Charles De Gaulle (24,63%)
3. Lyon – Saint Exupery (4,48%)

Bandara-bandara baru bagiku:
1. Genoa Cristoforo Colombo (GOA)
2. Strasbourg (SXB)
3. Bordeaux-Merignac (BOD)
4. Zurich Kloten (ZRH)
5. Bremen Hans Koschnick (BRE)
6. Berlin Tegel (TXL)
7. Cardiff (CWL)
8. Newcastle (NCL)
9. San Francisco International Airport (SFO)
10. Los Angeles International Airport (LAX)

Berdasarkan tipe pesawat

Aku terbang dengan Embraer 175 untuk pertama kalinya tahun ini.

Tiga tipe pesawat teratas (berdasarkan frekuensi):
1. Boeing 737-800 (14,93%)
1. Boeing 737-700 (14,93%)
1. Airbus A320-200 (14,93%)

Tiga tipe pesawat teratas (berdasarkan total jarak):
1. Boeing 777-300ER (19.908 mil/32.038 km)
2. Boeing 787-9 Dreamliner (5.948 mil/9.572 km)
3. Boeing 737-700 (3.565 mil/5.737 km)

Tipe pesawat baru:
1. Embraer ERJ175
2. Boeing 787-9 Dreamliner

***

Ya, begini lah ringkasan penerbanganku di tahun 2017.

Walaupun, aku perhatikan, walaupun aku terbang lebih sering daripada tahun lalu atau tahun sebelumnya, entah mengapa aku merasa di beberapa hal tahun ini kok “kurang seru” gitu ya,. Mungkin ini adalah tanda bahwa di tahun 2018 aku harus lebih “bertualang” lagi? Hmm…

Yah, kita lihat saja deh! 😉