My Interest, TV Show, Zilko's Life

#2142 – Star Trek TNG and Enterprise

ENGLISH

So last year I decided to marathon-watch Star Trek: Voyager via Netflix. And obviously by now I have finished the entire seven seasons of the series, haha.

Since then, as my Instagram followers (@azilko) through the cool Instagram Story feature would have perhaps known, I have actually decided to rewatch two other Star Trek series: Star Trek: Enterprise (2001-2005) and the super popular Star Trek: The Next Generation (1987-1994)!

I rewatched Star Trek: Enterprise first. Call me shallow, I made this decision because this series was the newest of all (well, apart from Star Trek Discovery of course), which would imply it had the best visual/graphic of all the series. I mean, I have to admit that visual plays a great role in my enjoyment of a TV-series. And obviously, having been spoiled with the recent advancement in this department put the older series in serious disadvantage in my eyes!

Anyway, while overall I still enjoyed the series, I understood why this series was cancelled just after four seasons. The first two seasons were so “bad”, in the sense that I felt like they focused on the “wrong” things with generally shallower content AND much less action. The third season was the best one with the exciting Xindi-arc; but the damage had already been done by the first two seasons so I could imagine the rating was difficult to recover. I found the fourth season not as exciting as the third but was still better than the first two, haha.

After I completed Star Trek: Enterprise, I hesitatingly decided to give the super popular Star Trek: The New Generation (TNG) a chance. To my pleasant surprise, apparently a few years ago there was a remastering project going for the entire series, which basically improved the visual/graphic A LOT! It happened that my Netflix contained this remastered version!! I love you Netflix! Haha 😛 .

Btw, I did watch quite some episodes of this series when I was a kid, but I didn’t remember most of them as those were from before the Voyager era, even the first season was premiered a year before I was born! Lol 😆 .

Anyway, this series blew my mind! It was, indeed, really, really good; and I do appreciate it much more now than I perhaps was when I was just a kid!! No wonder it was THAT popular! This was the Star Trek that I (unconsciously) remembered, the benchmark which I used when reviewing the first season of Discovery. Except for the visual effect, TNG beat Discovery in pretty much all aspects, IMO, haha.

The story was amazing, as it was relatable to our (my) daily life. It was very easy to perceive the USS Enterprise-D like my real office. There was a lot of focus on interpersonal relationship between the crews in the starship, which I could easily interpret like my real interpersonal relationship with my colleagues at work. Even some of the stories were actually really relevant to some of my current situations at work, which put me into perspective and think about my own career, both in the short- and long-term.

And it was not boring too. There were a few humorous and full-of-action episodes here and there. Though, of course there were a few bad apples here and there; but those were not significant. In short, this series was just amazing. And, as you know, this series was the source of many popular internet memes too, haha 😛 .

And fittingly, the series was closed with such a great ender in the episode “All Good Things…”. It was definitely one of the best Star Trek episodes I have ever watched!

***

It was unfortunate that I watched Enterprise just before TNG, as the contrast in quality became really glaring. Well, at least it was an upward experince that I had to go through, haha. And it was also quite funny that Enterprise’s last episode actually took place in the Holodeck of USS Enterprise-D; as if it was an episode of TNG, haha.

Anyway, so, do you watch Enterprise and TNG?

BAHASA INDONESIA

Tahun lalu aku memutuskan untuk menonton ulang Star Trek: Voyager secara marathon melalui Netflix. Dan jelas dong ya sekarang aku sudah selesai menonton-ulang kesemua tujuh musimnya, haha.

Semenjak waktu itu, seperti yang followers Instagram-ku (@azilko) ketahui melalui fitur InstaStory yang lagi happening ini, aku telah memutuskan untuk menonton-ulang dua seri Star Trek yang lainnya, yaitu: Star Trek: Enterprise (2001-2005) dan Star Trek: The Next Generation (1987-1994) yang sangat amat populer itu!

Star Trek: Enterprise aku tonton ulang terlebih dahulu. Bilang saja aku shallow atau receh, keputusan ini aku buat karena ini adalah seri yang paling baru (di luar Star Trek Discovery tentunya), yang mana berarti visual/grafiknya juga yang paling baik kan dari semua serinya. Maksudku, aku harus mengakui bahwa faktor visual itu penting banget bagiku dari sebuah acara TV untuk bisa aku nikmati. Dan jelas saja sudah dimanjakan dengan kemajuan teknologi di bidang ini membuat posisi seri-seri lawas menjadi tidak diuntungkan bagi mataku.

Anyway, walau secara keseluruhan serinya masih bisa aku nikmati, aku paham mengapa seri ini kok hanya bertahan empat musim saja. Dua musim pertamanya itu jelek banget, dalam artian aku merasa serinya fokus pada hal-hal yang “salah” yang mana receh dan dangkal gitu, ditambah pula action-nya sedikit. Musim ketiga adalah musim yang terbaik dengan jalan cerita Xindi di sepanjang musim ini yang amat seru; tapi ya kerusakan sudah terlanjur dibuat di dua musim pertama sehingga nggak mengherankan juga rating-nya sulit dipulihkan. Musim keempat bagiku tidak seseru musim ketiga tapi masih jauh lebih baik daripada dua musim pertama, haha.

Setelah menyelesaikan Star Trek: Enterprise, dengan agak ragu aku memutuskan untuk mulai menonton-ulang Star Trek: The New Generation (TNG) yang sangat amat populer itu. Yang mengejutkanku, ternyata beberapa tahun yang lalu seri ini melalui sebuah proyek remastering, yang mana pada dasarnya visual/grafiknya diperbaiki secara signifikan! Kebetulan pula Netflix menayangkan versi yang sudah di-remastered ini!! I love you Netflix! Haha 😛 .

Btw, sewaktu kecil aku menonton lumayan banyak episode dari seri ini sebenarnya, tapi aku juga tidak ingat karena seri ini kan bahkan dari era sebelumnya Voyager ya, bahkan musim pertamanya ditayangkan setahun sebelum aku dilahirkan! Haha 😆 .

Anyway, dan pilihanku untuk menonton-ulang ini adalah keputusan yang tepat karena seri ini benar-benar mengagumkanku lho! Serinya beneran bagus, bagus, bagus banget; dan aku bisa lebih memahami dan menghargainya sekarang daripada sewaktu kecil dulu!! Nggak heran deh mengapa serinya bisa sepopuler ITU! Ini adalah Star Trek yang (secara tidak aku sadari) aku ingat, yang menjadi patokan dalam upayaku me-review musim pertamanya Discovery. Selain efek visualnya, TNG jauh lebih superior daripada Discovery di hampir semua aspek, menurutku, haha.

Cerita-ceritanya keren banget, dan banyak yang bisa dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari(ku). Sangat mudah untuk mengasosiasikan pesawat USS Enterprise-D dengan kantorku. Ada banyak banget cerita yang fokus kepada hubungan interpersonal antar kru pesawatnya, yang mana bisa dengan mudah aku asosiasikan dengan hubungan interpersonalku yang nyata dengan kolega-kolegaku di kantor. Bahkan ada beberapa ceritanya yang sangat amat pas dan bisa pas banget cocok dengan situasi yang sedang aku hadapi di kantor, yang memberikanku sebuah perspektif baru dan membuatku berpikir akan langkah-langkahku dalam meniti karirku, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Dan acaranya juga tidak membosankan. Ada banyak episode yang fokus terhadap sisi humor atau action. Walaupun tentu saja ada beberapa episode yang nggak bagus juga sih tapi jumlahnya tidak banyak. Secara singkat, seri ini keren dan bagus banget. Dan mungkin pada tahu bahwa seri ini juga lah sumber dari banyak meme internet yang terkenal, haha 😛 .

Dan cocoknya, serinya diakhiri dengan episode “All Good Things…” yang mana sangat amat keren sekali. Episode ini adalah salah satu episodenya Star Trek yang terbaik yang pernah aku tonton!

***

Agak disayangkan juga sih aku menonton Enterprise tepat sebelum TNG, karena perbedaan di kualitasnya jadi terasa kontras sekali. Yah, setidaknya sih pengalaman yang aku rasakan mengarah naik sih, haha. Dan sebenarnya kalau dipikir-pikir lucu juga episode terakhirnya Enterprise mengambil tempat di Holodeck-nya USS Enterprise-D; seakan-akan episode ini adalah satu episodenya TNG.

Anyway, apakah ada yang juga menonton Enterprise dan TNG?

Advertisements
EuroTrip, Tennis, Vacation, Weekend Trip

#2131 – A Weekend in Roland Garros 2018

ENGLISH

Posts in the Tennis Weekend in Roland Garros 2018 series:
1. Introduction
2. Part I: Roland Garros 2018
3. Part II: Paris

As usual, I arrived at the gate at around 9 AM. This was, of course, a little bit “too early” but this decision would ensure me to be at the front of the line to enter the ground when the gate would be opened 😛 . Anyway long story short, at 10 AM the gate was opened and, yes, I was back at Roland Garros again this year! 😀

The new Court No. 18 at Roland Garros

As I already had a breakfast at my hotel this morning, I decided to use the time to immediately explore the ground. While this was my seventh year in a row to go to Roland Garros, this year was quite “different” because some of the improvement work was already completed! There were three new courts which looked like three mini amphitheatres (as each was enclosed by layers of benches), which were really beautiful! The facilities had been redesigned and moved around as well, and at times this made me feel like it was my first time in Roland Garros as I wasn’t familiar with the layout! Haha 😆 .

Anyway, as usual, I decided to watch the women’s legends final at Court Suzanne Lenglen as my first event today. This year, the final was between Kim Clijsters/Nathalie Tauziat and Amelie Mauresmo/Nathalie Dechy. Yep, for my first time here, Martina Navratilova wasn’t involved! Haha 😀 . Anyway, the match was quite exciting, even though at the very end it was filled with chokes from both sides (Like, each team double-faulted on each of their own’s match point! 😅). But finally, Mauresmo/Dechy won 6-7(4), 6-4, [15-13].

Amelie Mauresmo and Nathalie Dechy won the women’s legends event

The match ended at around 1 PM so it was a perfect time for lunch. As I said, I initially wasn’t aware of where the restaurant was (as the “old” place was now part of the two new courts). I asked the information desk and apparently what previously was a store at the basement of Court Philippe Chatrier was now a restaurant! Haha 😀 . Anyway, this year the menu was also completely different where the warm meal options were a ham dish or a chicken dish. I opted for the chicken, which I had with pasta and some ratatouille as the side dish.

A chicken leg with pasta and ratatouille for lunch at Roland Garros

After going around for a little bit, I decided to go to my seat at Court Philippe Chatrier. Of course I chose to go in a little bit early so I would have all the time that I needed to take some pictures inside, haha 😆 . Btw, at the time Oliver Marach and Mate Pavic were warming up for their upcoming men’s doubles final.

At Court Philippe Chatrier again this year

Spectators filled in the stadium quite rapidly after that as people were getting ready for the main match today, the women’s singles final. The match would be contested between the current world no.1, Simona Halep, who up to this point had never won a grandslam title despite reaching the finals three times and lost in three sets in all of those (one of which was last year’s final against Jelena Ostapenko), and the world no.10, Sloane Stephens, a young American player who won the US Open last year.

The coin toss between Simona Halep and Sloane Stephens

Btw, I noticed that Simona Halep had a lot of fans coming to support her today. Around the ground, I saw a lot of people bringing Romanian attributes (flags, wearing clothes of the Romanian flag colours, chanting some yells clearly supporting Halep, etc). But interestingly, today I was sitting in an area of the stadium which somehow was filled by mostly Americans, or at least Sloane’s fans, haha 😛 . Some of them tried to chant “USA, USA, USA” in response to the “Simona, Simona…” chants by Halep’s supporters, haha.

Simona Halep fans at Roland Garros

Anyway, both players entered the stadium at 3 PM. Halep won the coin toss and elected to receive, meaning Sloane would serve first. I won’t go to too much details here, but Sloane started the match right on fire. She was immediately peaking and played unbelievable level of tennis. Her shots, strategy, movement, and basically everything was right and perfect! Like, she could do nothing wrong! And so she quite quickly took the first set 6–3 and immediately led 2–0 in the second set.

Sloane Stephens started the match right on fire and on point, clicking in every department.

At this point, I started to feel bad for Halep because she was clearly trying and she was playing great herself (she was the more aggressive player of the two on court today); but her opponent was just playing unbelievable tennis and there was nothing could be done about that. But then something started to happen. At the twelfth game, Sloane’s level “finally” started to “drop” a little bit from this “peak”. And if you play tennis you would understand how this could be bad news for Sloane, especially given what was at stake here (a grandslam title). Somehow I feel like this got into Sloane’s mind and it went downward spiral there. Errors started to creep in her game. At the same time, this gave Halep the momentum that she needed. From that point, Halep played brilliantly and won 13 of the next 15 games; and finally clinching the title with a 3–6, 6–4, 6–1 victory! Yes, Simona Halep finally won a grandslam title she truly deserved; and I was feeling really happy for her!!

The moment Simona Halep finally won a grandslam.

The trophy ceremony followed afterwards. Coupe Suzanne Lenglen, which was stored in a Louis Vuitton box, haha, was brought to the court. Arantxa Sanchez then gave the trophy to Simona Halep, who finally was able to get rid of the “Slamless” title some people put on her.

I think Simona’s expression in this photo said it all! “FINALLY!!”

After uploading some Instagram Story videos (haha), I decided that I needed to stretch my leg and to fill my stomach with something; and that something being a subway sandwich, haha.

Learning from my experience two years ago, I knew that Court Philippe Chatrier was open for everyone for the doubles final. So instead of going back to my seat, I decided to try my luck by going to one of the courtside box. Luckily I went in right just in time where I still found a vacant great courtside seat!

My view for the men’s doubles final!

The men’s doubles final was contested between a French duo, Pierre-Hugues Herbet/Nicolas Mahut, who was seeded sixth, and the Austrian-Croatian duo, Oliver Marach/Mate Pavic, the second seed. Btw, Mate Pavic was ranked world no.1 in men’s doubles at the time. Both teams played different style, where Herbet/Mahut were more about the touch and technique whereas Marach/Pavic were more about power and aggression. The match had started when I entered the court and Herbert/Mahut were controlling the momentum already in the first set. They quickly won it 6–2.

Pierre-Hugues Herbert/Nicolas Mahut took control of the first set.

The second set was much more competitive and exciting. Both teams were pretty much even up to the middle of the set. Then after a poor service game by Marach, Herbet/Mahut gained some momentum by breaking Marach’s serve. But then it was Mahut’s turn to have a poor service game and the match went back even. But Marach/Pavic seized this momentum and got themselves a couple of set points. Herbert/Mahut fought hard and saved those set points so the second set had to go to a tiebreak. Herbet/Mahut played a great tiebreak where they immediately got some lead. In the end, they clinched it 6–2, 7–6(4) and, thus, won their first ever Roland Garros title.

Pierre-Hugues Herbert/Nicolas Mahut won the men’s doubles title of Roland Garros 2018

It was a great day to be French, for sure. The spectators chanted the French national anthem during the trophy ceremony too.

With the last match of the day being completed, it was time for me to leave as well. And yeah, I just had a great day at Roland Garros!

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Tennis Weekend in Roland Garros 2018:
1. Introduction
2. Part I: Roland Garros 2018
3. Part II: Paris

Seperti biasanya, aku tiba di gerbang masuk sekitar jam 9 pagi. Agak kepagian sih ini, tapi ini memastikan aku berada di posisi paling depan di antrian masuk ketika gerbangnya dibuka nanti, haha 😛 . Singkat cerita, gerbangnya dibuka jam 10 pagi dan, iya, aku kembali di Roland Garros lagi tahun ini! 😀

Lapangan No. 18 yang baru di Roland Garros

Karena aku sudah sarapan di hotel paginya, aku memutuskan untuk menggunakan waktuku untuk mengeksplor kompleks turnamennya. Walaupun ini adalah tahun ketujuh berturutan aku pergi ke Roland Garros, tahun ini terasa agak “berbeda” karena beberapa pekerjaan konstruksi pengembangan turnamennya sudah selesai! Misalnya saja ada tiga lapangan baru yang nampak seperti amphitheater mini (yang mana masing-masing dikelilingi oleh beberapa tingkat bangku), yang mana nampak indah! Fasilitas di sekitar kompleksnya juga sebagian sudah didisain dan ditata-ulang, sehingga terkadang membuatku merasa ini seperti kunjungan pertamaku di Roland Garros karena aku tidak familier dengan denahnya! Haha 😆

Anyway, seperti biasa, aku memutuskan untuk menonton final turnamen legenda putri di Lapangan Suzanne Lenglen hari ini. Tahun ini, finalnya adalah antara Kim Clijsters/Nathalie Tauziat dan Amelie Mauresmo/Nathalie Dechy. Yep, untuk pertama kalinya untukku, Martina Navratilova tidak terlibat dong! Haha 😀 . Anyway, pertandingannya lumayan menarik, walaupun bagian akhirnya dipenuhi dengan chokes dari kedua tim sih (Misalnya, kedua tim double-fault dong di match point-nya masing-masing!😅). Tapi pada akhirnya, Mauresmo/Dechy menang 6-7(4), 6-4, [15-13].

Amelie Mauresmo dan Nathalie Dechy memenangi gelar legenda putri.

Pertandingan berakhir sekitar jam 1 siang yang mana merupakan waktu yang pas untuk makan siang. Seperti yang kubilang, awalnya aku tidak tahu lokasi restorannya dimana (karena lokasi yang “lama” kini sudah menjadi bagian dari dua lapangan baru). Aku bertanya ke meja informasi dan ternyata apa yang dulunya toko di lantai basement Lapangan Philippe-Chatrier kini adalah restoran! Haha 😀 . Ngomong-ngomong, menu tahun ini juga berbeda banget dimana pilihan makanan hangatnya adalah daging ham atau ayam. Aku memilih ayam, yang mana aku temani dengan pasta dan ratatouille.

Paha ayam dengan pasta dan ratatouille untuk makan siang.

Setelah berkeliling sedikit, aku memutuskan untuk masuk menuju kursiku di Lapangan Philippe Chatrier. Jelas dong aku masuk agak awal supaya ada waktu untuk foto-foto dulu, haha 😆 . Btw, waktu itu Oliver Marach dan Mate Pavic sedang pemanasan untuk final ganda putra mereka nantinya.

Di Lapangan Philippe Chatrier tahun ini.

Penonton mulai masuk ke lapangan dengan cepat setelahnya untuk menonton pertandingan utama hari ini, final tunggal putri. Pertandingannya akan dimainkan oleh pemain peringkat 1 dunia, Simona Halep, yang hingga waktu ini belum pernah menjuarai grandslam walaupun sudah masuk final tiga kali dan kalah dalam tiga set di semuanya (salah satunya adalah final tahun lalu melawan Jelena Ostapenko), dan petenis peringkat 10 dunia, Sloane Stephens, yang mana petenis muda dari Amerika yang menjuarai US Open tahun lalu.

Coin toss antara Simona Halep dan Sloane Stephens

Btw, ada banyak loh fansnya Simona Halep yang datang untuk mendukungnya. Di sekitaran kompleks, ada banyak banget orang-orang yang membawa atribut Romania (bendera, pakaian dengan warna bendera Romania, bahkan mereka memiliki yel-yel sendiri untuk mendukung Halep, dll). Tapi menariknya, hari ini aku bisa-bisanya duduk di area stadionnya yang dipenuhi kebanyakan oleh orang Amerika, atau seenggaknya pendukungnya Sloane Stephens, haha 😛 . Beberapa dari mereka bersorak “USA, USA, USA” untuk meladeni yel-yel “Simona, Simona…” dari pendukungnya Halep, haha.

Fansnya Simona Halep di Roland Garros

Anyway, kedua pemain memasuki lapangan jam 3 sore. Halep memenangi coin toss dan memilih untuk receive, yang berarti Sloane akan servis duluan. Aku tidak akan menuliskan detailnya di sini, tapi Sloane memulai pertandingan dengan sempurna sekali. Pukulan-pukulannya, strateginya, dan pergerakannya pas dan sempurna banget! Ia seperti tidak mampu membuat kesalahan gitu, segala yang dilakukannya benar dan tepat! Dan jadilah ia dengan lumayan cepat mengambil set pertama  6–3 dan langsung unggul 2–0 di set kedua.

Sloane Stephens memulai pertandingan dengan sempurna, segalanya “klik” banget.

Di waktu ini, aku sedikit merasa kasihan terhadap Halep karena ia jelas terus berusaha dan sebenarnya bermain dengan bagus juga (ia bermain lebih agresif daripada Sloane); tapi ya memang lawannya sedang bermain tenis dengan level sempurna dan ini jelas tidak bisa diapa-apakan. Tapi sesuatu mulai terjadi di game kedua-belas. Levelnya Sloane “akhirnya” mulai sedikit “turun” dari level “puncak” ini. Dan jika kamu bermain tenis, pasti paham mengapa ini adalah berita buruk untuk Sloane, terutama dengan mempertimbangkan apa yang dipertaruhkan di sini (gelar grandslam). Entah mengapa rasanya ini masuk ke pikirannya Sloane dan semuanya dengan cepat terjun bebas dari sana. Kesalahan-kesalahan mulai muncul di permainannya. Di waktu yang sama, ini memberikan Halep momentum yang ia butuhkan. Dan dari waktu itu, Halep bermain dengan sangat baik dan memenangi 13 dari 15 game selanjutnya. Akhirnya, ia mendapatkan gelarnya dengan kemenangan 3–6, 6–4, 6–1! Iya, Simona Halep akhirnya menjuarai grandslam yang memang berhak ia dapatkan; dan aku ikut merasa senang untuknya!!

Momen dimana Simona Halep akhirnya menjuarai grandslam.

Upacara pemberian piala berlangsung setelahnya. Coupe Suzanne Lenglen, yang disimpan di dalam kotak Louis Vuitton, haha, dibawa ke lapangan. Arantxa Sanchez memberikan pialanya kepada Simona Halep, yang mana akhirnya berhasil menghilangkan gelar “Slamless” disematkan beberapa orang kepadanya.

Aku rasa ekspresinya Simona di foto ini mengungkapkan semuanya! “AKHIRNYA!!”

Setelah upload beberapa video InstaStory (haha), aku meluruskan kakiku dan memutuskan untuk mengganjal perutku dengan sandwich, haha.

Berdasarkan pengalamanku dua tahun yang lalu, aku tahu bahwa Philippe Chatrier dibuka untuk umum di final ganda putra. Jadilah bukannya kembali ke kursiku, aku mencoba peruntunganku dengan pergi ke salah satu kotak di samping lapangannya. Beruntung sekali aku masuk di waktu yang tepat dimana aku masih bisa menemukan beberapa kotak yang kosong dengan pandangan yang oke banget!

Pandanganku untuk final ganda putra!

Final ganda putranya dimainkan antara duo Prancis, Pierre-Hugues Herbet/Nicolas Mahut, unggulan keenam, dan duo Austria-Kroasia Oliver Marach/Mate Pavic, unggulan kedua. Btw, Mate Pavic merupakan pemain peringkat 1 dunia di ganda putra waktu itu. Kedua tim bermain dengan gaya yang berbeda, dimana Herbet/Mahut lebih tentang touch dan teknik sementara Marach/Pavic lebih tentang kekuatan dan keagresifan. Pertandingannya sudah dimulai ketika aku masuk ke lapangan dan waktu itu Herbet/Mahut sudah mengontrol momentuk di babak pertama. Mereka dengan cepat memenanginya 6–2.

Pierre-Hugues Herbert/Nicolas Mahut mengontrol babak pertama.

Babak keduanya lebih kompetitif dan seru. Kedua tim bermain seimbang hingga pertengahan set. Setelah game servis yang buruk dari Marach, Herbet/Mahut mendapatkan momentum dari patahnya servis Marach. Tapi kemudian datanglah giliran Mahut untuk memainkan game servis yang buruk dan pertandingannya kembali seimbang. Tapi Marach/Pavic memanfaatkan momentum ini dan berhasil mendapatkan beberapa set point untuk mereka. Herbert/Mahut berjuang keras menyelamatkan set point-set point tersebut dan berhasil memaksakan tiebreak untuk dimainkan di akhir set kedua. Herbet/Mahut memainkan tiebreak yang baik dimana mereka langsung mengambil kontrolnya. Pada akhirnya mereka menang 6–2, 7–6(4) dan mendapatkan gelar Roland Garros pertama mereka.

Pierre-Hugues Herbert/Nicolas Mahut memenangi ganda putra di Roland Garros 2018

Ini adalah hari yang baik untuk orang Prancis, tentunya. Penonton menyanyikan lagu nasional Prancis di upacara pemberian pialanya juga.

Dengan pertandingan terakhir selesai dimainkan; sudah waktunya untukku pulang juga. Dan ya, aku baru saja menghabiskan satu hari yang seru di Roland Garros!

My Interest, Tennis, Zilko's Life

#2126 – A Tennis Racket Story

ENGLISH

During my tennis lesson last week, this happened:

A broken tennis racket string

Yep, for the first time ever since I picked up a tennis racket, I had a broke string during play! Haha 😆 . Thankfully it was during a tennis lesson so I could borrow a racket from the coach for the reminder of the session. Even though of course it wasn’t “optimal” for my game because, you know, every tennis player was accustomed to a certain “feel” of the racket (the grip, the stringing tension, the racket surface size, the presence of a damper, etc). And so it was unlikely that a borrowed racket would be a perfect match to one’s “feel”. But this was, of course, a much better situation than not having a racket to play tennis, haha 😛 .

Anyway, I bought this racket in October 2015. Actually the racket still felt fine up to last week’s lesson, as since I started working in Amsterdam I haven’t been able to play as often as like when I was still in the university; so the racket hadn’t been *that* worn out. So this made me think that perhaps broken string had little to do with the “weariness” of a racket, haha.

Though, I’m not sure about Agnieszka Radwanska’s racket here 😆

This experience made me feel like a “professional player” though, in a way, who quite often had a broken string while playing a match! (Actually I had wondered why I had not had a broken string as I had played for years, whereas it felt like at least in one of two or three professional matches that I watched a string of one of the players’ rackets broke, haha).

Anyway so of course I could have had the racket restrung. But my last experience with racket restringing wasn’t the bestest one. At the time I felt like the string tension after restringing wasn’t the same and it didn’t “feel” right. Okay, a logical explanation for that was perhaps the tension was “wrong”. However, as Barney Stinson said…

and so I decided to just go with the easiest option and buy a new racket, haha 😛 .

I went to a store in Amsterdam Centrum after work on Friday, though before that I already browsed for some options at an online tennis store. I knew that I would like a Wilson racket because Wilson was the brand the Williams sisters used, lol 😛 (#truefans). I almost bought one at the store, but then I didn’t because at the very last second I decided to choose the model I had seen earlier online: the Blade 104 model used by Venus Williams, haha 🙈. The store in Amsterdam didn’t have this particular model in stock at the time. And yesterday, my new racket was delivered to me 😀 . Btw, the nice thing about this online store was that they were able to customize the string too to my own specification! 🙂

My new Wilson Blade 104 tennis racket

BAHASA INDONESIA

Di les tenisku minggu lalu, ini terjadi:

Senar raket tenis yang putus

Iya dong, untuk pertama kalinya semenjak aku mulai bermain tenis, aku mengalami yang namanya senar raketnya putus ketika aku bermain! Haha 😆 . Untungnya kejadiannya adalah ketika les sih sehingga aku bisa meminjam raket dari pelatihnya untuk sisa dari sesi les kali itu. Walaupun jelas ini nggak “optimal” karena setiap pemain itu memiliki “feeling“-nya sendiri dengan raketnya (pegangannya, tegangan senarnya, luas permukaan raketnya, apakah pakai damper atau tidak, dll). Dan jadilah raket pinjaman itu seringnya tidak memiliki “feel” yang pas banget dengan kita. Ah, tapi ini adalah situasi yang lebih baik ya daripada main tenis tapi nggak punya raketnya, iya kan, haha 😛 .

Anyway, raket ini aku beli di bulan Oktober 2015. Sebenarnya raketnya masih baik-baik saja kok sampai sesi les minggu lalu itu, karena toh semenjak aku mulai bekerja di Amsterdam aku tidak bisa bermain tenis sesering dulu ketika masih di universitas; jadilah raketnya masih belum se-“usang” itu. Ini membuatku berpikir mungkin yang namanya senar yang putus itu tidak ada hubungannya dengan “keusangan” sebuah raket, haha.

Eh tapi kalau apa yang terjadi dengan raketnya Agnieszka Radwanska ini aku nggak tahu juga sih, haha 😆

Pengalaman ini membuatku merasa seperti “petenis profesional” nih, di satu sisi, yang mana nampak sering mengalami kejadian senar putus ketika bermain suatu pertandingan! (Sebenarnya sempat terpikirkan olehku lho mengapa kok aku tidak pernah mengalami senar raket tenis yang putus padahal aku sudah main tenis bertahun-tahun, sementara rasanya setidaknya di satu dari dua atau tiga pertandingan profesional yang aku tonton, senar dari salah satu raket yang digunakan pemainnya itu putus, haha).

Anyway jelas sebenarnya bisa saja raketku di-restring. Tapi pengalaman terakhirku dengan me-restring raketku ternyata bukan pengalaman yang terbaik. Maksudnya, waktu itu rasanya tegangan senarnya setelah di-restring nggak sama sehingga “feel” raketnya rasanya jadi aneh gitu. Iya, iya, penjelasan logisnya adalah kemungkinan besar memang tegangannya aja yang waktu itu “salah”. Tapi, seperti katanya Barney Stinson kan…

dan jadilah aku memutuskan mengambil pilihan yang mudah aja dan membeli raket tenis baru, haha 😛 .

Aku pergi ke sebuah toko peralatan olahraga di Amsterdam Centrum sepulang kerja di hari Jumat; eh tapi sebelumnya aku sudah mengecek satu toko online juga sih. Aku sih sudah tahu aku akan membeli raketnya Wilson lagi karena merk ini adalah merk yang dipakai Williams bersaudari, haha 😛 (#truefans). Aku nyaris membeli satu raket di tokonya, tapi kemudian last minute aku membatalkan niatan itu karena aku memutuskan untuk membeli model yang sudah aku lihat di internet sebelumnya: model Blade 104 yang dipakai oleh Venus Williams, haha 🙈. Btw tokonya di centrum pas kebetulan tidak memiliki stok model yang ini waktu itu. Dan kemarin, raket baruku akhirnya tiba di tanganku 😀 . Btw, asyiknya toko online ini adalah mereka bisa meng-customize string-nya sesuai dengan spesifikasi yang aku inginkan lho! 🙂

Raket tenis Wilson Blade 104 baruku
EuroTrip, Travelling, Vacation, Weekend Trip

#2125 – Luzern vs Laussane

ENGLISH

Here is a tip for a train trip in the expensive European country of Switzerland. If you look for the ticket in advance, you can potentially snatch a “saver” ticket where you can benefit a 70% discount of the regular price! This saver price comes with a restriction, though, where it is only valid on the specified train service with specific schedule; as opposed to the regular “open” ticket that is valid on any trains on a given date. But a 70% discount, especially in Switzerland, is a lot that this restriction, to me, is worth the inflexibility! Haha 😆

A Swiss train

And so as a preparation for my trip to Luzern, I was actively looking for a train ticket to get there from Zürich Airport and another one to go to Zürich from there since way before the trip. I started looking a little bit too early where tickets for trip on my travel dates were not for sale yet. Even though I couldn’t buy the tickets at the time, at least this gave me the impression of how much the tickets would cost me (by checkin the other dates).

Fast forward a few weeks later about two weeks before the trip, I started looking again. After entering Laussane, I was shocked to see that the ticket price appeared to have gone up by 2.5x fold! For some moment I couldn’t believe what I saw, as I found it strange for the price difference to be of that magnitude. Sure I could still find some saver tickets, but this would still mean that the after-discount saver price also increased by 2.5x fold. I also considered the possibility that perhaps I remembered the price wrong. And, if this were the case, this would mean that the regular return train ticket would cost almost as much as my return flight ticket from Amsterdam to Zürich! Haha 😆

… and not to mention that I would end up getting upgraded to Europe Business Class on the flight to Zürich.

Thankfully I wasn’t rushing in buying the ticket. For whatever reason, I decided to open Google Map as I would like to locate where Laussane was with respect to Zürich. And I noticed something strange: the town appeared to be much further away that it was “supposed to”; as I strongly remembered that the reason I chose to fly to Zürich was because this was the closest city with an international airport to it.

And then I realized what was going on!! I was looking for the wrong city! Lol 😆 . My destination was Luzern, NOT Laussane! Lol 😆 . Here is the map showing where the two towns are in Switzerland:

Luzern and Laussane in Switzerland

You see, Laussane was much further away from Zürich than Luzern, which explained the much more expensive train ticket! In fact, if I would like to go to Laussane (which I do actually, I have heard it to be a beautiful town too), I would fly to Geneva, not Zürich 😛 .

In fact, I was still under the influence of this mistake when I was preparing the Introduction post of the trip. In the draft, I wrote “Laussane” instead of “Luzern” and so I had to do a lot of cleaning up afterwards, haha 😆 .

Well, but in my defense, the name “Luzern” and “Laussane” are, indeed, quite similar, aren’t they? 😛

This was Luzern, not Laussane

BAHASA INDONESIA

Berikut ini satu tips untuk bepergian dengan kereta api di Swiss, sebuah negara Eropa yang mahal. Jika kita mencari tiketnya cukup awal, kita bisa mendapatkan diskon 70% loh dari harga normalnya! Tiket diskonan ini ada batasannya sih, dimana tiketnya hanya berlaku di layanan kereta yang disebutkan dengan jadwal dan jam keberangkatan yang ditentukan; tidak seperti tiket dengan harga normal yang berlaku “terbuka” alias bisa digunakan di kereta yang mana pun di tanggal yang sudah ditentukan. Tapi diskon sebesar 70%, apalagi di Swiss, membuat batasan ini sepadan dengan infleksibilitasnya lah ya! Haha 😆 .

Sebuah kereta di Swiss

Dan jadilah sebagai bentuk persiapan perjalananku ke Luzern, aku mencari-cari tiket untuk pergi kesana dari Bandara Zürich Airport dan tiket lain untuk kembali ke Zürich semenjak lama sebelum perjalanannya. Ternyata waktu pencarianku ini terlalu awal sehingga tiket untuk kereta di waktu perjalananku masih belum dijual. Biarpun demikian, setidaknya aku jadi mendapatkan gambaran akan harga tiketnya lah ya (dengan mengecek tanggal-tanggal lain).

Fast forward beberapa minggu kemudian, kira-kira dua minggu sebelum perjalanannya, aku mulai mencari tiketnya lagi. Setelah memasukkan Laussane, aku dikejutkan dengan harga tiketnya yang nampak sudah naik sekitar 2,5 kali lipat! Selama beberapa waktu aku tidak mempercayai apa yang aku lihat, karena aku merasa aneh kenaikannya kok bisa sebesar itu. Memang sih aku masih bisa menemukan tiket diskonannya, tetapi ini tetap berarti harga tiket setelah diskonnya pun lebih tinggi sekitar 2,5 kali lipat daripada apa yang aku ingat. Aku juga mempertimbangkan kemungkinan aku salah ingat harganya sih, haha. Dan jika memang demikian, artinya harga normal tiket kereta pp-nya hampir sama dong dengan harga tiket pesawat pp-ku dari Amsterdam ke Zürich! Haha 😆

… yang mana padahal di penerbanganku ke Zürich aku kan di-upgrade ke kelas bisnis Eropa ya.

Untungnya aku tidak terburu-buru membeli tiketnya. Entah mengapa, aku memutuskan untuk membuka Google Map karena aku ingin melihat lokasi Laussane di sebelah mananya Zürich. Dan aku melihat sesuatu yang aneh; kotanya kok nampak lebih jauh daripada yang “seharusnya” ya; karena aku juga ingat jelas bahwa alasan aku memilih terbang ke Zürich adalah karena ini adalah kota dengan bandara internasional terdekat darinya.

Dan baru lah aku menyadari apa yang terjadi!! Aku salah kota dong! Huahahaha 😆 . Tujuanku kan Luzern ya, BUKAN Laussane! Hahaha 😆 . Berikut ini peta yang menunjukkan lokasi dua kota ini di Swiss:

Luzern dan Laussane di Swiss

Seperti yang bisa dilihat, Laussane itu berlokasi lebih jauh dari Zürich daripada Luzern, yang menjelaskan mengapa harga tiket keretanya juga lebih mahal! Malahan, jika aku ingin pergi ke Laussane (yang mana memang aku ingini sih, aku dengar kotanya juga indah), aku bakal terbang ke Jenewa (Geneva) deh, bukannya Zürich 😛 .

Bahkan aku masih dipengaruhi oleh kesalahan ini loh ketika aku mempersiapkan posting Introduction dari perjalanan ini. Di draft-nya, aku menulis “Laussane” bukannya “Luzern” sehingga aku harus membenarkan banyak kesalahan ini setelahnya, haha 😆 .

Ya tapi in my defense, nama “Luzern” dan “Laussane” kan memang mirip, iya kan? 😛

Ini Luzern, bukan Laussane
EuroTrip, Tennis, Vacation, Weekend Trip

#2121 – A Tennis Weekend Story

ENGLISH

Posts in the Tennis Weekend in Roland Garros 2018 series:
1. Introduction
2. Part I: Roland Garros 2018
3. Part II: Paris

So the main draw of this year’s French Open started about two weeks ago, which means this weekend was, finally, the time for my annual trip to Paris for the tournament this year. Yeay!! 😀

At Court Philippe Chatrier again this year

As my ticket this year was for Philippe Chatrier on Saturday, I would get the women’s singles final and men’s doubles final. The “fun” thing was that these two events were, perhaps, the most “unpredictable” ones of all based on the current dynamic of professional tennis. In other words, when the tournament started it was very difficult to predict which players I would watch in both finals! Haha 😆 .

At last Simona Halep won a grandslam title!

In the end, it turned out the current world no.1, Simona Halep, and the reigning US Open champion, Sloane Stephens, made the women’s singles final. And the teams of Pierre-Hugues Herbet/Nicolas Mahut and Oliver Marach/Mate Pavic made the men’s doubles final. So it turned out both matches would be very interesting, and I was excited for these! 😀

Anyway, how was Paris? Well, I didn’t have a lot of time to spend in the city itself, but it was beautiful as always! Haha.

This year I visited Notre Dame in Paris

Btw, as I mentioned before, since the beginning I already knew that I would like to fly for this year’s trip to Paris. And of course I would like to, as much as possible, avoid direct return flights! Haha 😆 . And so I made myself the following routing:

My routing this weekend. From gcmap.com

Haha 😛 . Yep, I was back in Toulouse (Airport) for the first time since 2012! 😛 There was actually another routing with cheaper fare which also was more interesting as it (1) involved an airport I had never used before (Clermont-Ferrand); (2) involved a flight with an airline I had never flown before (Trade Air, which was leased by Air France this summer); and (3) involved a Fokker 100, which would have been my first time flying this type in the 21st century (As a kid, I had flown this type with Sempati Air, haha). But this routing only spared a 25 minutes of transfer tim at Clermont-Ferrand, which was really tight and I was not comfortable with. And so I decided to set aside this otherwise fun routing.

Anyway, so yeah, my weekend was fun! 😀 As usual, here are some teasers from the trip:

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Tennis Weekend in Roland Garros 2018:
1. Introduction
2. Part I: Roland Garros 2018
3. Part II: Paris

Jadi babak utama turnamen tenis French Open tahun ini dimulai sekitar dua minggu yang lalu, yang mana berarti, akhirnya, akhir pekan kemarin adalah waktunya untuk perjalanan tahunanku ke Paris untuk turnamen ini tahun ini. Hore!! 😀

Di Lapangan Philippe Chatrier lagi tahun ini.

Karena tiketku tahun ini adalah Philippe Chatrier di hari Sabtu, aku akan mendapatkan pertandingan final tunggal putri dan final ganda putra. “Keseruan” dari dua pertandingan ini adalah dua events ini adalah yang paling “sulit diprediksi” dari semua events yang dimainkan berdasarkan dinamika dunia tenis profesional saat ini. Dengan kata lain, sebelum turnamen ini dimulai, sulit sekali untuk memprediksikan siapa yang akan aku tonton di kedua final! Haha 😆 .

Akhirnya Simona Halep menjuarai gelar grandslam juga!

Pada akhirnya, petenis yang saat ini menduduki peringkat 1 dunia, Simona Halep, dan juara bertahan US Open tahun lalu, Sloane Stephens, masuk final tunggal putri. Dan Pierre-Hugues Herbert/Nicolas Mahut dan Oliver Marach/Mate Pavic memasuki final ganda putra. Jadi ternyata kedua pertandingannya akan menjadi pertandingan yang sangat menarik, dan aku merasa sangat excited untuk menonton keduanya!

Anyway, Parisnya sendiri bagaimana? Ya, nggak banyak sih waktu yang bisa aku habiskan di kotanya ini sendiri, tetapi kotanya masih indah kok seperti biasanya! Haha.

Tahun ini aku mengunjungi Notre Dame di Paris

Btw, seperti yang aku sebutkan sebelumnya, sejak awal untuk tahun ini aku sudah tahu aku akan naik pesawat untuk pergi ke Paris. Dan tentu saja sedapat mungkin aku menhindari penerbangan pp kan ya! Haha 😆 . Dan jadilah pada akhirnya aku memilih rute berikut ini:

Ruteku akhir pekan ini. Dari gcmap.com

Haha 😛 . Iya, akhirnya aku kembali juga di (Bandara) Toulouse untuk pertama kalinya semenjak 2012! 😛 Sebenarnya ada rute lain dengan harga tiket yang lebih murah dan lebih menarik sih karena (1) melibatkan bandara baru yang belum pernah aku lalui sebelumnya (Clermont-Ferrand); (2) melibatkan satu penerbangan dengan maskapai baru yang belum pernah aku terbangi sebelumnya (Trade Air, yang mana disewa oleh Air France musim panas ini); dan (3) melibatkan pesawat Fokker 100, yang mana akan menjadi kali pertama aku terbang dengan pesawat ini lagi di abad ke-21 (Sewaktu kecil aku pernah terbang dengan pesawat ini dengan maskapai Sempati Air, haha). Namun dengan rute ini, waktu transitku di Clermont-Ferrand hanya lah 25 menit, yang mana mepet banget dan membuatku tidak merasa sreg dengannya. Jadilah rute yang sebenarnya menarik ini aku kesampingkan.

Anyway, jadi ya gitu deh, akhir pekanku kemarin ini seru banget! Seperti biasa, di atas aku unggah beberapa foto sebagai teasers dari perjalanan ini.

General Life, Travelling

#2115 – A Camera and T-Shirt Incident

ENGLISH

I have mentioned that I forgot to bring my pocket camera on my weekend trip to Munich in April. On the brighter side, this allowed me to realize the value of a pocket camera in a trip of mine, which turned out to be quite great, haha 😆 . I felt like I couldn’t enjoy the trip as much as if I had had my camera with me.

Unfortunately, the camera wasn’t the only thing I forgot that weekend. After arriving at my apartment in Amsterdam, I realized that I left the t-shirt I wore on Saturday in Munich! This was weird because I checked my hotel room before leaving in the morning and I was sure I already had all my stuffs with me! Though, now that I think about it, perhaps the t-shirt also accidentally “fell out” when I took my sweater from my bag in the Air France/KLM Lounge at Munich Airport, hmmm. But either way, the end result was that I “lost” this t-shirt of mine.

One of my last selfies with the t-shirt

While the monetary value wasn’t that much, I actually liked the t-shirt as it fit my body and appearance well. And it was also quite new, as I bought it just this February in Bologna along with my “emergency” pants. But oh well …

***

I have been trying to find the cause of this, though. I know that as I age (I’m feeling sad just writing this sentence, lol 😆 ) I have become a little more forgetful than when I was younger. But the fact that two separate memory-related incidents happened so close to each other made me think of the possibility of a common cause, haha 😆 .

It happened that I took morning flights on both days, which required me to get up earlier than usual. And perhaps the combination with the tiredness from my work in the preceding full week led to me being more prone to incidents like this. Hmmm…

***

But anyway, it was what it was. If anything, it was actually good that it happened on one of my “smaller” trips. Plus, an incident like this actually reminded me that it could happen, which should make me not take it for granted on my future trips, hehe 🙂 .

BAHASA INDONESIA

Sudah kuceritakan bahwa aku lupa membawa kamera sakuku di perjalanan akhir pekanku ke Munich April kemarin. Sisi positifnya, ini membuatku menyadari nilai dari kamera sakuku di acara jalan-jalanku, yang mana ternyata amat bernilai, haha 😆 . Rasanya aku tidak bisa menikmati perjalanannya semaksimal apabila aku membawa kamera sakuku bersamaku.

Sayangnya, kameraku bukan lah satu-satunya yang aku lupakan di akhir pekan itu. Ketika tiba di apartemenku di Amsterdam, aku baru menyadari bahwa kaus yang aku pakai di hari Sabtu ketinggalan dong di Munich! Ini aneh soalnya aku mengecek kamar hotelku loh sebelum meninggalkannya pagi itu dan aku yakin aku sudah memasukkan semua barang-barangku ke dalam tas! Walaupun kalau dipikir-pikir lagi sekarang, mungkin kausnya tidak sengaja terjatuh ketika aku mengambil sweater dari tasku di lounge-nya Air France/KLM di Bandara Munich sih, hmmm. Ah, tapi intinya pada akhirnya aku “kehilangan” kausku ini.

Salah satu selfie terakhirku dengan kaus ini

Walaupun nilai moneter dari kausnya nggak seberapa, aku sebenarnya suka kausnya karena ukuran dan modelnya pas dan cocok untuk badanku. Dan kausnya masih terbilang baru juga karena aku baru membelinya Februari ini di Bologna bersamaan dengan celana “darurat”-ku. Ah, ya sudah lah ya …

***

Ceritanya aku sudah memikirkan kira-kira apa penyebab dari insiden ini. Aku tahu bahwa seiring bertambahnya usia (kok menulis kalimat ini bikin sedih ya, haha 😆 ) aku juga cenderung menjadi sedikit lebih pelupa daripada ketika masih muda belia dulu. Tapi fakta bahwa ada dua insiden yang berkaitan dengan ingatan yang terjadi berturut-turut membuatku curiga akan keberadaan faktor lain yang berperan di sini, haha 😆 .

Kebetulan dua penerbangan yang kuambil di dua hari itu adalah penerbangan pagi, yang mana membuatku harus bangun lebih pagi dari biasanya. Dan mungkin dikombinasikan dengan lelahnya aku dari kerjaanku di kantor satu minggu penuh sebelumnya membuatku lebih rentan akan insiden semacam ini ya. Hmmm…

***

Ya sudah lah. Toh sebenarnya masih mendingan sih kejadian ini terjadi di perjalanan “kecil”-ku saja. Apalagi, insiden seperti ini sebenarnya justru mengingatkanku bahwa ini bisa terjadi, yang mana membuatku lebih awas di perjalan-perjalanan mendatangku, haha 🙂 .

North America Trip, TV Show, USA, Vacation

#2112 – American Idol and Love Yourself

ENGLISH

When I went to New York for my year end 2015 trip, I was glad to be able to watch an episode of American Idol before the show was cancelled. At the time, that 15th season had been announced as its last season. As a (formerly) fans of the show, certainly I was happy to still have the opportunity to watch it in America while the show was still on, haha. Btw, here are the main posts of that amazing year-end trip of mine:
1. Part I: Getting to North America
2. Part II: Boston
3. Part III: Getting to Mexico
4. Part IV: Oaxaca
5. Part V: A Mexican Wedding
6. Part VI: Huatulco and New Year
7. Part VII: Beaches of Huatulco
8. Part VIII: Back to USA
9. Part IX: Fifth Avenue, New York
10. Part X: More from New York
11. Part XI: Back to Europe

But then fast forward about a year later, it was announced that the show would be revived when ABC acquired its right and so the show didn’t really get “cancelled” after all, lol 😆 . I found it a little bit awkward when I had already been a little bit emotional at the time which, apparently, was only for nothing, lol 😆 .

ABC announced that the show would be back for its the 16th season in the 2017-2018 season and, funnily, somehow it coincided with my Spring Trip to the States earlier this year! Lol 😆 . Here are the main posts of this recent awesome trip:
1. Introduction
2. Part I: Getting to New Orleans
3. Part II: New Orleans
4. Part III: NOLA the Foodie Destination
5. Part IV: New Orleans to Chicago
6. Part V: Chicago the City
7. Part VI: The MCA, Skydeck, and the Food
8. Part VII: Back to Europe in Business Class

But just like in my New York trip in early January 2016, I happened to be in the States also during the audition episodes of the series, haha 😆 . And the coincidence did not stop here. I was in New Orleans at the time, and here is one of the auditions that was aired that day:

I mean, yep, the contestant chose a song that started with “There is a house in New Orleans“, while I was in New Orleans, LOL 😆 . I just can’t even!!

Anyway, this time I got a chance to watch two episodes actually. The first one was the last episode of the judges’ audition stage while the second one was the first part of the Hollywood stage. As usual, in the Hollywood stage the contestants had to perform in groups and sang a song of their choice.

And this Hollywood stage, btw, infatuated me with … a Justin Bieber song 🙈. I mean, OMG 😱😱😱😱😱! I never thought this would happen, but Justin Bieber’s “Love Yourself” was actually good! Haha 😆 . But as usual, when I liked a song I also looked for its covers, which usually are in plenty of supply in Youtube nowadays. And for this song, I found a cover which I really liked, even (much) more than the original. Unsurprisingly, though, it was a cover by the Postmodern Jukebox.

Haha 😆 . What do you think?

So yeah, that is the story of American Idol’s resurrection which succesfully intoxicate my brain with a Justin Bieber’s song, lol 😆 .

BAHASA INDONESIA

Ketika aku pergi ke New York untuk perjalanan akhir tahun 2015ku, aku merasa senang masih bisa menonton satu episodenya American Idol sebelum acaranya berakhir. Waktu itu, sudah diumumkan bahwa musim ke-15 akan menjadi musim terakhirnya. Sebagai (dulunya) fans dari acara ini, jelas dong ya aku senang bisa mendapatkan menonton acaranya ketika sedang berada di Amerika, haha. Btw, berikut ini posting-posting yang berisi cerita perjalanan seru akhir tahunku dulu itu:
1. Part I: Getting to North America
2. Part II: Boston
3. Part III: Getting to Mexico
4. Part IV: Oaxaca
5. Part V: A Mexican Wedding
6. Part VI: Huatulco and New Year
7. Part VII: Beaches of Huatulco
8. Part VIII: Back to USA
9. Part IX: Fifth Avenue, New York
10. Part X: More from New York
11. Part XI: Back to Europe

Nah, fast forward sekitar satu tahun kemudian, ada berita bahwa acaranya akan dihidupkan kembali ketika ABC mendapatkan hak untuk acaranya sehingga American Idol nggak jadi “berakhir” deh, haha 😆 . Agak nyebelin juga ya karena aku sudah sempat agak mellow-mellow gimana gitu waktu itu yang mana eh ternyata acaranya batal berakhir, huahaha 😆 .

ABC mengumumkan bahwa acaranya akan kembali untuk musim ke-16 di periode tayang 2017-2018 dan, lucunya, ini pas bebarengan dengan perjalanan musim semiku ke Amerika awal tahun ini! Haha 😆 . Berikut ini posting-posting utama perjalananku yang seru baru-baru ini tersebut:
1. Introduction
2. Part I: Getting to New Orleans
3. Part II: New Orleans
4. Part III: NOLA the Foodie Destination
5. Part IV: New Orleans to Chicago
6. Part V: Chicago the City
7. Part VI: The MCA, Skydeck, and the Food
8. Part VII: Back to Europe in Business Class

Tapi sama seperti dulu ketika di New York di awal bulan Januari 2016, aku di Amerika kemarin sewaktu acaranya masih dalam tahap penayangan babak audisinya, haha 😆 . Dan kebetulannya masih belum berhenti di situ lho. Acaranya ditayangkan ketika aku berada di New Orleans waktu itu, dan berikut ini salah satu audisi yang ditayangkan di episode hari itu:

Iyaa, kontestannya memilih menyanyikan lagu yang dibuka dengan lirik “There is a house in New Orleans“, ketika aku lagi di New Orleans, huahaha 😆 . Kok bisa-bisanya ya!!

Ngomong-ngomong, kali ini aku mendapatkan kesempatan untuk menonton dua episode. Episode pertama adalah episode terakhir dari tahap audisi sementara yang kedua adalah bagian pertama dari tahap eliminasi di Hollywood. Seperti biasa, di tahap Hollywood kontestannya harus tampil dalam grup dan menyanyikan satu lagu yang mereka pilih sendiri.

Dan tahap Hollywood ini, btw, membuatku suka dengan … salah satu lagunya Justin Bieber dong 🙈. Ya ampun apa-apaan inii 😱😱😱😱😱! Nggak pernah aku sangka sebelumnya, tapi harus dibilang bahwa lagu “Love Yourself“-nya Justin Bieber itu memang enak ya! Haha 😆 . Tapi seperti biasa, ketika aku suka dengan sebuah lagu, aku juga suka mencari versi cover-nya gitu, yang mana sekarang mah banyak bertebaran di Youtube ya. Dan untuk lagu ini, aku menemukan satu cover yang aku suka banget, bahkan (jauh) lebih aku sukai daripada versi aslinya. Tak mengherankan, cover ini adalah milik Postmodern Jukebox.

Haha 😆 . Bagaimana menurut kalian?

Ya, jadi ya begitu deh cerita American Idol yang hidup kembali yang mana dengan sukses meracuniku dengan lagunya Justin Bieber, hahaha 😆 .