My Interest, Review, TV Show

#2172 – Star Trek The Original Series

ENGLISH

After finishing the entire four seasons of Black Mirror, I decided to give Star Trek The Original Series (TOS) a try.

Actually I had heard or read of great stuffs about this classic series from the 1960s. Basically all information that I got about this show was that it was highly recommended. However, you may call me shallow for this, but I hadn’t had the interest to watch this series mainly because of … the visual reason! Lol ๐Ÿ˜† . I believed it would be very difficult for me to be able to enjoy a series with very “out of date” visual.

Btw I actually had watched some of the movies based on this series that were produced in the 1980s and the 1990s, and I actually enjoyed them. The one that left the most impression on my memory was Star Trek IV: The Voyage Home, which was released in 1986 but I only watched some ten years later in the 1990s (obviously as I hadn’t even been born yet in 1986 ๐Ÿ˜› ).

Anyway, I figured that trying out one episode of the series wouldn’t hurt. I decided to give it a go and to decide afterwards if I would like to continue or not. To my surprise, I actually enjoyed it!! The “outdate” visual did not bother me that much (Though, granted, I got the remastered version from my Netflix which improved the quality of the visual, especially the effect, a lot. This admittedly helped); and the story was actually great and “in line” with my “conception” of Star Trek. And so since then I decided to give it a go!! ๐Ÿ˜€ And I can say that I am glad now that apparently, I am not that “shallow” afterall, haha ๐Ÿ˜› .

And indeed the series was a classic one! Needless to say, so far I have really been enjoying it; and I now wonder less why it was decided that the newer “installments” (the movies series that have been produced since 2009 and Star Trek: Discovery) would anchor on TOS rather than the “Next Generation” era. I believe part of that reason was that because TOS was more “raw”, as in the storyline was less political and focused less on human internal conflicts (hence “simpler”) which allowed for more “action”; but all these were still in good balance which made the series a classic one!

In a sentence: I truly enjoy this series! Too bad it only lasted for three seasons, though…

Having said that, being produced in the 1960s, certainly the series was also influenced by that era. One of the easiest thing to notice was the role of some of the female characters and how these characters were portrayed. Certainly it is not fair, nor right, to view this portrayal using today’s perspective, so let’s just say that I am very happy with how the human race has progressed in the last 50 years or so! Though, in a way the following line by Capt. Janeway in Star Trek: Voyager summarized this really well.

So, have any of you watched this series as well? And if so, what is your take on it?

BAHASA INDONESIA

Setelah selesai menonton keseluruhan empat musim dari Black Mirror, aku memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada Star Trek The Original Series (TOS).

Sebenarnya sudah sering aku mendengar atau membaca hal-hal positif tentang serial klasik dari tahun 1960an. Pada dasarnya segala informasi yang kudapatkan tentangnya adalah acara ini sangat amat direkomendasikan. Masalahnya, boleh deh aku dibilang dangkal karena ini, sebelum ini aku tidak begitu tertarik untuk mengikutinya karena … alasan visual! Haha ๐Ÿ˜† . Sulit kubayangkan aku bisa menikmati sebuah serial yang visualnya “ketinggalan zaman” banget.

Btw aku sebenarnya sudah pernah menonton beberapa film berdasarkan serial ini yang diproduksi di tahun 1980 dan 1990an, dan sebenarnya aku menikmatinya sih. Yang paling berkesan di ingatanku adalahย Star Trek IV: The Voyage Home, yang dirilis di tahun 1986, tapi baru aku tonton sekitar 10an tahun kemudian di tahun 1990an (karena jelas lah ya bahkan aku belum lahir di tahun 1986, haha ๐Ÿ˜› ).

Anyway, aku pikir menonton satu episode nggak apa-apa lah. Aku putuskan untuk mencicipinya dan setelahnya baru kuputuskan apakah mau lanjut menontonnya atau tidak. Yang mengejutkanku, ternyata aku menikmatinya dong!! Visualnya yang jelas “ketinggalan zaman” tidak begitu menggangguku (Walaupun memang sih, aku mendapatkan versi remastered-nyaย di Netflix yang mana kualitas visualnya juga sudah ditingkatkan dengan teknologi. Harus diakui ini sangat membantu); dan jalan ceritanya sendiri memang keren dan seru banget, dan “senada” dengan “konsepku” akan Star Trek. Dan jadilah aku putuskan aku akan menonton serial ini!! ๐Ÿ˜€ Dan juga sekarang aku bisa bilang bahwa aku lega karena ternyata aku tidak “sedangkal” itu, haha ๐Ÿ˜› .

Dan memang serial ini klasik banget deh! Tak perlu kuceritakan lebih jauh bahwa aku menikmatinya; dan sekarang aku lebih tidak heran mengapa adaptasi-adaptasi barunya (seri film yang sudah diproduksi sejak tahun 2009 dan juga Star Trek: Discovery) bersandar ke TOS ini bukannya ke eranya “The Next Generation”. Aku lumayan yakin salah satu alasannya adalah TOS ini lebih “mentah”, dalam artian jalan ceritanya tidak begitu sarat politis ataupun fokus pada konflik internal kita sebagai manusia (sehingga bisa dibilang “lebih sederhana”) yang mana artinya lebih banyak bumbu “action” yang bisa dibubuhkan; tapi semua ini masih diatur dengan keseimbangan yang pas sehingga acaranya menjadi sebuah acara klasik!

Jadi secara singkatnya: Aku sungguh menikmati serial ini! Sayang cuma ada tiga musim sih…

Walaupun begitu, namanya aja diproduksi di tahun 1960an, jelas serial ini juga dipengaruhi oleh kehidupan di era tahun segituan lah ya. Salah satu aspek yang nampak jelas adalah pekerjaan dan posisi dari beberapa karakter perempuan dan penggambaran karakter-karakter ini. Eh, tentu sangat tidak adil, dan tidak benar, juga untuk memandang penggambaran ini dengan menggunakan kacamata zaman sekarang ya. Tapi setidaknya bisa kubilang bahwa aku sungguh senang akan kemajuan umat manusia dalam 50 tahun terakhir ini! Walaupun begitu, kebetulan banget satu kalimat dari Kapten Janeway di Star Trek: Voyagerย berikut ini merangkum semua ini dengan pas.

Jadi, apakah ada yang sudah menonton serial ini juga? Dan jika demikian, bagaimanakah pendapatmu?

Advertisements
TV Show

#2165 – Black Mirror

ENGLISH

Some time agoย when I asked for suggestions of a good TV show to watch, Fahrizinfa recommended Black Mirror. I then checked my Netflix and I was really glad to find its entire four seasons in the library! ๐Ÿ˜€

For those not familiar with the series, Black Mirror is a British science-fiction anthology (so it tells an independent story in each episode) which focuses on the “extrapolation” of current technologies and the consequences. Well, mostly not on the positive ones; but rather more on the opposite, unexpected ones which makes the series, to some degree, quite “vulgar” and could be “sickening” too. As such, the series felt really “dark” and “satirical”; but with great (implicit) messages which made me think of today’s life and society.

What happened next during this reality show audition would eff your mind (season 1, episode 2)

In one sentence: I LIKE this series!! :mrgreen: You know, in general I really like series which with its stories makes me “think” of something. Don’t get me wrong, I also enjoy “lighter” entertaining shows too, sometimes; but usually those that make me “think” would make better impression for me and, thus, “last” longer in my mind ๐Ÿ˜› . Though, I give this show an extra bonus point because there is one Star Trek-themed episode too! Lol ๐Ÿ˜†

And the Star Trek-themed episode happens to be one I like the most too!! *an unbiased opinion here, haha ๐Ÿ™ˆ *. I really like the storyline (aside from the fact that it is Star Trek-themed ๐Ÿ˜› ) and, coincidentally, Cristin Milioti, the actress who played “The Mother” in How I Met Your Mother, played the protagonist on this episode!! You see? Seeing Ted Mosby’s wife as a crew in a Star Trek-themed spaceship on a Black Mirror episode. Surreal!! ๐Ÿ˜›

Tracy McConnell, is that you? ๐Ÿ˜ฑ

I have finished watching the entire series. Wait, didn’t I just say that there are four seasons of this series? How come I did it so quickly? Yep, if I have to name one “downside” of the series is the few number of episodes it has. In fact, the first two seasons only consist of three episode each, whereas the last two six. Adding in one special episode “between” season two and three, in total there are only 19 episodes overall, haha…

Though, of course not all episodes were created “equal”. I liked the third season the least, as I felt like the series went “off course” due to an overdose of horror and thriller element in some of the season’s episodes (And I personally don’t like these two genres). Coincidentally, this was also the first season after Netflix purchased the series in 2015. And the difference pre- and post- Netflix was contrasting enough that I could “feel” it when I started season 3. Well, perhaps this was also because I watched the show in marathon, haha ๐Ÿ˜† .

Speaking of Netflix, apparently last year they released the following “crossover” clip between Black Mirror and Orange Is The New Black, titled “Orange Is The New Black Mirror“:

It was a good one, and you would understand why if you watched OITNB’s fourth season and Black Mirror’s “San Junipero” episode in season 3 (This was the best episode of the third season, IMO ๐Ÿ˜€ ).

Anyway, what excites me is that a fifth season has been announced earlier this year! I can’t wait!!ย So, has anyone else here watched this series as well? And, again, thanks Fahrizinfa for the great recommendation!! :mrgreen:

BAHASA INDONESIA

Beberapa waktu yang laluย ketika aku meminta saran akan acara TV bagus untuk ditonton, Fahrizinfaย merekomendasikan Black Mirror. Jadilah kemudian aku mengecek Netflix-ku, dan aku senang ketika melihat keseluruhan empat musim dari serial ini ada di library-ku! ๐Ÿ˜€

Bagi yang tidak familier dengan acara ini, Black Mirror adalah sebuah antologi fiksi-ilmiah buatan Inggris (jadi setiap episode menceritakan cerita yang berbeda dan tidak berhubungan satu sama lain) yang berfokus pada “ekstrapolasi” dari teknologi saat ini dan konsekuensi darinya. Yah, kebanyakan bukan konsekuensi positifnya sih melainkan yang sebaliknya, yang tidak diharapkan, yang membuat acaranya, di satu sisi, agak “vulgar” dan bisa jadi “menjijikkan” juga. Sebagai akibatnya, serialnya memang bernuansa “gelap” dan “satir”; tetapi membawa pesan-pesan (implisit) yang bagus loh yang membuatku berpikir dan merefleksikan kehidupan dan masyarakat zaman ini.

Yang akan terjadi selanjutnya di audisi sebuah reality show ini akan mengacaukan pikiranmu (musim 1, episode 2)

Dalam satu kalimat: aku SUKA serial ini!! :mrgreen: Tahu kan, secara umum aku suka suatu acara yang ceritanya membuatku “berpikir” akan sesuatu. Jangan salah, aku juga terkadang menikmati acara hiburan yang “ringan” kok; tapi justru acara yang berat yang membuatku “berpikir” biasanya lebih berkesan untukku sehingga “bertahan” lebih lama deh di pikiranku ๐Ÿ˜› . Eh, tapi untuk serial ini memang aku memberikan nilai bonus ekstra karena ada satu episode yang bertemakan Star Trek doong! Hahaha ๐Ÿ˜†

Dan episode yang bertemakan Star Trek ini juga “kebetulan” adalah episode favoritku!! *pendapat tidak bias loh ini, huahaha ๐Ÿ™ˆ *. Aku suka banget dengan jalan ceritanya (pun dengan mengesampingkan bahwa ceritanya bertemakan Star Trek) dan, kebetulan lagi, Cristin Milioti, aktris yang memainkan peran “The Mother” di How I Met Your Mother, juga memainkan protagonis di episode ini!! Nah kan? Jelas seru-seru kaget lah ya menonton istrinya Tedย Mosby menjadi kru di sebuah pesawat luar angkasa bertemakan Star Trek di sebuah episodenya Black Mirror. Keren banget!! ๐Ÿ˜›

Tracy McConnell, kok ada kamu di sini??ย ๐Ÿ˜ฑ

Aku sudah selesai menonton keseluruhan seri ini. Eh tunggu dulu, bukannya di atas aku bilang sudah ada empat musim dari serial ini ya? Kok cepet banget selesainya? Nah, jika memang harus menyebutkan satu “kekurangan” dari serial ini, harus kubilang jumlah episodenya yang sedikit. Dua musim pertamanya masing-masing hanya terdiri atas tiga episode saja, sementara dua musim terakhir masing-masing memiliki enam. Ditambah satu episode khusus “di antara” musim kedua dan ketiga, totalnya hanya ada 19 episode saja sejauh ini, hahaha…

Walaupun jelas sih ya tentu nggak semua episodenya berkualitas “sama”. Secara keseluruhan menurutku musim ketiga adalah yang terburuk, karena aku merasa serialnya agak “keluar jalur” akibat overdosis elemen “horor” dan “thriller” yang disuntikkan ke beberapa episode di musim ini (Dan dua genre ini adalah dua genre yang paling tidak aku sukai). Kebetulan, ini adalah musim pertama yang diproduksi setelah Netflix membeli serialnya di tahun 2015. Dan perbedaan sebelum dan sesudah Netflix ini “terasa” banget dah ketika aku memulai musim ketiga. Yah, mungkin ini juga disebabkan karena aku menonton serialnya berturutan ya, haha ๐Ÿ˜† .

Ngomongin Netflix, ternyata tahun lalu mereka merilis klip “crossover” antara Black Mirror dan Orange Is The New Black, yang berjudul “Orange Is The New Black Mirror“:

Bagus, dan pasti akan paham mengapa jika sudah menonton musim keempat OITNB dan episode “San Junipero”-nya Black Mirror di musim ketiga (Episode ini adalah episode terbaik di musim ketiga menurutku ๐Ÿ˜€ ).

Anyway, yang membuatku merasa senang adalah musim kelima juga sudah diumumkan akan diproduksi loh tahun ini! Nggak sabar nih!!ย Nah jadi, apakah ada yang sudah menonton serial ini juga? Dan, sekali lagi, terima kasih ya Fahrizinfa atas rekomendasinya yang oke banget!! :mrgreen:

General Life, Tennis, Zilko's Life

#2164 – A Weekend Story

ENGLISH

Despite the title, no, I did not go on a weekend trip this weekend, haha ๐Ÿ˜† . I was just in Amsterdam, recovering as I was travelling to Berlin the weekend before.

I started the weekend by … staying up late for a US Open third round match between my two favorite tennis players, Serena Williams and Venus Williams. There is a backstory of this particular meeting, btw. Coming into the tournament, Serena was ranked 26th meaning under normal circumstances, she would have been seeded 26th too in the tournament. However, considering she had just come back from a maternity leaveย (during which she was ranked number 1 in the world), the USTA, who organized the US Open, decided to exercise their special right to not follow her official ranking for seeding. Serena was bumped up as the 17th seed, just one spot below Venus’ (16th).

To be honest I found this particular reseeding to be rather “pointless” given that it was “only” 9 places up. On top of that, this meant there was a 12.5% chance for Serena to meet Venus in the third round. Had Serena not been reseeded, she could only meet Venus in the fourth round at the earliest. And guess what? Somehow this 12.5% chance became a reality!

I was really annoyed as now my two favorite players could potentially meet that early in the tournament. Though to be fair, usually I am always annoyed when Serena and Venus are drawn in the same half of the draw, especially in bigger tournaments. If it were up to me, they would always be drawn in the opposite halves so that they could only meet in the final, haha ๐Ÿ˜› . But this particular instance is especially more annoying because I have a ticket for the women’s singles final! This means that it is guaranteed that the match I will watch this coming Saturday will not be between Serena and Venus!

Anyway, Venus, in my opinion, played well (for her standard this year) in the match but Serena’s level was just amazing. As a result, Serena won the match in comprehensive fashion.

Serena vs Venus at this year’s US Open.

***

The decision to stay up late to watch the match set the tone for the rest of the weekend: where I felt even more need to rest! Lol ๐Ÿ˜† . I don’t know, nowadays I find staying up late more tricky to handle than, say, ten years ago. Maybe it’s my age? ๐Ÿ˜›

Though, of course this did not mean I just became a couch potato all the time doing no physical activity at all, haha. I did my usual weekend choresย (grocery shopping, laundry, some light apartment cleaning, etc) and went to the gym on Sunday too. Oh and also, I got a haircut on Saturday, obviously because of my upcoming trip! ๐Ÿ˜›

BAHASA INDONESIA

Walaupun judulnya demikian, tidak kok, aku tidak pergi jalan-jalan akhir pekan ini, haha ๐Ÿ˜† . Aku cuma di Amsterdam aja, beristirahat karenaย akhir pekan sebelumnya kan aku jalan-jalan ke Berlin.

Akhir pekan ini aku mulai Jumat malam dengan … begadang untuk menonton sebuah pertandingan babak ketiga US Open antara dua petenis favoritku, Serena Williams dan Venus Williams. Oh iya, pertemuan mereka kali ini ada ceritanya loh, btw. Sebelum turnamen ini dimulai, peringkat Serena adalah 26 yang berarti, biasanya, ia juga akan diunggulkan di posisi ke-26 di turnamennya. Namun dengan pertimbangan ia baru saja kembali dari cuti hamilย (yang mana sewaktu cuti ia berperingkat 1 di dunia), organizer-nya US Open (USTA) memutuskan untuk menggunakan hak khusus mereka untuk tidak semata-mata mengikuti peringkat dunia resmi dalam mengurutkan pemain unggulan. Serena dinaikkan posisinya ke unggulan ke-17, satu posisi di bawah Venus (16).

Sejujurnya aku merasa perubahan posisi unggulan ini agak “tidak ada gunanya” karena toh “hanya” naik 9 posisi saja. Di samping itu, gara-gara perubahan ini jadi ada peluang sebesar 12,5% untuk Serena akan bertemu Venus di babak ketiga. Andaikata posisi Serena tidak diubah, ia hanya bisa bertemu Venus paling cepat di babak keempat. Dan apa yang terjadi? Peluang sebesar 12,5% ini beneran menjadi kenyataan dong!

Aku jelas merasa sebal dong ya dua pemain favoritku kok jadi berpotensi bertemu di babak awal di turnamen besar ini. Walaupun, sebenarnya sih, biasanya aku juga sebal ketika Serena dan Venus berada di paruh undian yang sama, terutama di turnamen-turnamen besar. Kalau bisa sesuai mauku, maunya sih mereka selalu ditempatkan di paruh yang berbeda sehingga mereka hanya bisa bertemu di babak final saja, haha ๐Ÿ˜› . Tapi khusus untuk kejadian kali ini, rasa sebalnya jauh lebih berlipat karenaย aku kan memiliki tiket untuk final tunggal putriย ya! Ini berarti sudah pasti pertandingan yang akan kutonton hari Sabtu ini bukanlah antara Serena dan Venus!

Anyway, menurutku Venus bermain dengan baik (berdasarkan standarnya tahun ini) di pertandingan ini, tetapi Serena bermain dengan level yang amat tinggi. Sebagai akibatnya, Serena menang dengan skor telak.

Serena vs Venus di US Open tahun ini

***

Keputusan untuk begadang untuk menonton pertandingan tenis ini ternyata mempengaruhi mood akhir pekanku ini: dimana aku semakin merasa membutuhkan yang namanya istirahat! Hahaha ๐Ÿ˜† . Nggak tahu ya, sekarang-sekarang ini aku merasa begadang itu lebih tricky untuk dihadapi daripada, katakanlah, sepuluh tahun yang lalu. Apa ini ya yang dimaksud dengan faktor U? Haha ๐Ÿ˜›

Walaupun begitu, bukan berarti juga aku nggak ngapa-ngapain dengan tidak melakukan aktivitas fisik apa pun sih kemarin ini, haha. Aku mengerjakan pekerjaan yang memang biasanya kulakukan di akhir pekan (belanja kebutuhan sehari-hari, laundry, bersih-bersih kecil apartemen, dll) dan juga pergi ke gym di hari Minggu. Oh dan juga, aku potong rambut di hari Sabtu, jelas karena perjalananku yang akan segera datang! ๐Ÿ˜›

North America Trip, Tennis, Travelling, USA, Vacation

#2161 – The Big Three Oh Trip

ENGLISH

If I tell you that I was born in 1988, you would understand why this year is a big year to me. Yep people, I am turning 30 this year. Like, OMG!!!

As clearly this is a big year in my life, I have decided since long ago that I would make a “big deal” of my birthday this year. By this, of course I mean I will accomplish it by going on an extended trip somewhere far away, to a destination I want doing activities I like/dream of! :mrgreen:

When thinking about where I would like to go, I immediately knew that I would want to be somewhere in North or South America on my birthday. The main reason was that these continents being like 10-17 time zones away from Western Indonesia would mean that I would live my 20s for 10 years AND 10-17 hours, as I spent my 20th birthday in Bandung, Indonesia, lol ๐Ÿ˜† . I mean extending my 20s by 10-17 hours sounds like a great idea, doesn’t it? ๐Ÿ˜›

But still, North and South America are big, and I still need to narrow the list down. And then I realized a fortunate coincidence. You know I am a big fans of tennis and one big dream of my life is to go to all of the four grandslam tournaments. So far I have been to two of them, Roland Garros in Paris (which I visit every year) and Wimbledon in London (which I want to visit every year but having to apply for a UK Visa every time I want to visit obstructs this wish, haha ๐Ÿ˜† ), which means two more are still to be visited: the Australian Open in Melbourne and the US Open in New York!!

I guess you know where this is going now…

New York is in the USA, which visa I already have and is in North America. And my birthday will coincide with the second week of the tournament this year! It felt like the universe was telling me that New York should definitely be the main destination of this big trip!!

I am going to New York again this year!

It is true that I have been to New York for my 2015 year end trip. Here are the posts of that amazing trip, btw:

1.ย Part I: Getting to North America
2.ย Part II: Boston
3.ย Part III: Getting to Mexico
4.ย Part IV: Oaxaca
5.ย Part V: A Mexican Wedding
6.ย Part VI: Huatulco and New Year
7.ย Part VII: Beaches of Huatulco
8.ย Part VIII: Back to USA
9.ย Part IX: Fifth Avenue, New York
10.ย Part X: More from New York
11.ย Part XI: Back to Europe

But I would sooo NOT mind coming back to this amazing city that never sleeps. To be honest, thus far New York is my most favorite American city I have ever been to! :mrgreen: On top of that, my previous visit to New York was in the Winter and this time it would be in the Summer so arguably it would be different! haha ๐Ÿ˜† .

I mean, I guess this Summer the Central Park would not be partially frozen like this ๐Ÿ˜›

Once I made this decision, I started looking for some information on how to get a US Open ticket. Long story short, in early June, just after coming back from my Roland Garros trip this year, I got my ticket for the women’s singles final and a doubles final! It would not be on my birthday, though, but it doesn’t matter at all! ๐Ÿ˜€ Btw, while on this, as it turns out a US Open ticket is more expensive than a Roland Garros or a Wimbledon ticket! Haha ๐Ÿ˜†

Anyway, but of course it would be nice to also add a new destination for this trip. But this was easy as there was one big city quite close to New York which I have not yet visited: Washington, D.C. I immediately knew that I would do this pair on this trip ๐Ÿ™‚ .

Washington, D.C. From http://onlinedrifts.com/the-8-greatest-and-beautiful-place-to-take-pictures-in-washington-dc/

And so when KLM had the Werelddeal weken” promotion back in January, I was looking for a return ticket with this city-pair combination around my birthday. When I found a combination with interesting routing (read: via Paris, haha), I immediately grabbed it! And to travel between New York and Washington, D.C., of course I would fly, which I have booked myself a Delta flight between these two cities. Haha ๐Ÿ˜† . And so here is the flying map of this trip then:

The routing this trip. From gcmap.com

So yeah, I am really, really excited about this trip! I’m going to a city that I love, going to a grandslam tournament, and going to a city I have never been before! :mrgreen:

On top of that, nowย that I know on my birthday I will be in New York which time difference with Bandung is 11 hours in the summer, this means my 20s will be a decade AND 11 hours long! Yeah, an extra 11 hours for being in my 20s, I certainly won’t complain for that!

I can’t wait already!! ๐Ÿ˜€

BAHASA INDONESIA

Jika aku bilang bahwa aku dilahirkan di tahun 1988, pasti pada langsung mengerti mengapa tahun ini adalah tahun yang besar bagiku. Iyaa, jadi tahun ini aku akan berulang-tahun yang ke-30 dong. Aduh, gimana nih, gimana nih!!! *mendadak panik*

Karena jelas tahun ini adalah tahun yang besar di hidupku, sudah aku putuskan semenjak lama bahwa aku akan membuat ulang-tahunku tahun ini “spesial”. Dengan ini, jelas aku akan mencapainya dengan cara pergi dalam perjalanan yang panjang ke suatu tempat yang jauh lah, ke tempat tujuan yang aku inginkan melakukan aktivitas yang aku suka/impikan! :mrgreen:

Ketika berpikir mau pergi kemana, aku langsung tahu bahwa aku ingin pergi ke suatu tempat di Benua Amerika untuk ulang-tahunku. Alasan utamanya sih karena benua ini memiliki perbedaan waktu sebanyak 10-17 jam dari Indonesia Barat yang mana berarti umur 20anku akan sepanjang 10 tahun 10-17 jam, karenaย ulang tahun ke-20ku aku habiskan di Bandung, Indonesia, huahaha ๐Ÿ˜† . Lumayan banget kan ya aku berumur 20annya lebih lama 10-17 jam? ๐Ÿ˜›

Tapi tetap aja, Benua Amerika kan besar banget ya sehingga aku masih harus mempersempit pilihan destinasinya lagi. Dan kemudian aku menyadari kebetulan yang pas banget. Tentu pada tahu bahwa aku adalah fans berat dari tenis dan salah satu impianku adalah mengunjungi kesemua empat turnamen grandslam di dunia. Sejauh ini aku baru pernah mengunjungi dua di antaranya, Roland Garros di Paris (yang selalu aku kunjungi setiap tahun) dan Wimbledon di London (yang maunya sih aku kunjungi setiap tahun tapi persyaratan harus selalu apply Visa UK setiap kali mau ke sana nih yang menghalangi keinginan ini *nasib paspor ijo*, haha ๐Ÿ˜† ), yang mana berarti ada dua lagi yang masih perlu aku kunjungi: Australian Open di Melbourne dan US Open di New York!!

Pasti sudah bisa menebak arahnya ini kemana ya…

New York berada di Amerika Serikat, yang mana visanya sudah aku miliki dan negaranya berada di Benua Amerika. Dan ulang-tahunku akan tepat berada di minggu kedua turnamen ini dong! Aku merasa ini adalah pertanda dari alam semesta bahwa aku mesti pergi ke New York di perjalanan ini!!

Aku akan kembali ke New York tahun ini!

Memang sih aku sudah pernah ke New York untuk perjalanan akhir tahun 2015ku. Berikut ini posting-posting dari perjalanan itu, btw:

1.ย Part I: Getting to North America
2.ย Part II: Boston
3.ย Part III: Getting to Mexico
4.ย Part IV: Oaxaca
5.ย Part V: A Mexican Wedding
6.ย Part VI: Huatulco and New Year
7.ย Part VII: Beaches of Huatulco
8.ย Part VIII: Back to USA
9.ย Part IX: Fifth Avenue, New York
10.ย Part X: More from New York
11.ย Part XI: Back to Europe

Tapi aku mah TIDAK berkeberatan untuk kembali ke kota yang keren banget dan tidak pernah tidur ini. Sejujurnya, sejauh ini New York adalah kota di Amerika Serikat yang paling aku sukai dari yang pernah aku kunjungi! Haha :mrgreen: Di samping itu, kan kunjunganku ke New York yang lalu adalah di musim dingin sementara kali ini kan bakalan di musim panas. Jadi jelas nggak sama dong ya, haha ๐Ÿ˜† .

Maksudku, kayaknya musim panas ini Central Park nggak akan beku sebagian kayak gini kan ya ๐Ÿ˜› .

Begitu keputusan ini aku buat, aku mulai mencari informasi bagaimana caranya mendapatkan tiket US Open. Singkat cerita, di awal Juni, tepat setelah perjalananku ke Roland Garros tahun ini, aku mendapatkan tiket untuk babak final tunggal putri dan sebuah event ganda. Bukan di hari ulang-tahunku sih, tapi nggak papa kok! ๐Ÿ˜€ Btw, mumpung ngomongin ini, ternyata tiket US Open itu lebih mahal dong daripada tiket Roland Garros ataupun Wimbledon! Haha ๐Ÿ˜†

Anyway, tapi tentu saja bakalan lebih seru lagi kalau aku ikut menyertakan tujuan baru di perjalanan ini. Tapi ini sih gampang soalnya ada kota besar yang lumayan dekat dengan New York yang belum pernah aku kunjungi: Washington, D.C. Aku tahu aku akan memasangkan dua kota ini di perjalanan ini ๐Ÿ™‚ .

Washington, D.C. Sumber http://onlinedrifts.com/the-8-greatest-and-beautiful-place-to-take-pictures-in-washington-dc/

Dan jadilah ketika KLM memilikiย promosi “Werelddeal weken” Januari kemarin, aku mencari tiket pp dengan kombinasi ini di sekitar tanggal ulang-tahunku. Dan ketika aku menemukan kombinasi yang oke dengan rute menarik (baca: via Paris, haha), langsung tiketnya aku beli! Dan untuk berpergian dari New York ke Washington, D.C., jelas aku akan naik pesawat juga lah, yang mana aku sudah membeli tiket penerbangannya Delta di antara kedua kota ini. Haha ๐Ÿ˜† . Jadilah begini ini rute penerbanganku kali ini:

Ruteku di perjalanan kali ini. Dari gcmap.com

Jadi ya, aku sudah merasa sangat excited nih untuk perjalanan ini! Aku akan pergi ke sebuah kota yang aku sukai, ke sebuah turnamen grandslam, dan ke kota yang belum pernah kukunjungi sebelumnya! :mrgreen:

Di samping itu, karena sekarang aku sudah tahu di hari ulang-tahunku nanti aku akan berada di New York yang mana perbedaan waktunya dengan Bandung adalah 11 jam di musim panas ini, artinya umur 20an-ku akan sepanjang satu dasawarsa DAN 11 jam! Sebelas jam ekstra di umur 20an, lumayan banget lah ya!

Sudah nggak sabar nih!! ๐Ÿ˜€

Review, TV Show

#2148 – OITNB Season 6

ENGLISH

Earlier this year I shared about a “new” series I followed on Netflix, Orange Is The New Black (OITNB). Btw, “new” as in I just discovered it late last year in my Netflix library while the show’s first season was actually released way back in 2013, haha ๐Ÿ˜† . Anyway, as I said back then, I liked the series and finished watching the entire five seasons in no time (Though as I said, the show was quite vulgar). Okay, “in no time” is clearly an exaggeration as each episode was at least almost 60 minutes in length (with no commercial break) so it did take me a few months to finish them all.

And last weekend, the show’s newest season, its sixth one, was released! So of course I was quite happy as I had finished remarathoning Star Trek: TNG anyway so the timing was quite perfect for that, haha. Plus, the release date was also a Friday just before a weekend I had no travelling plan as well. Even better! Lol ๐Ÿ˜† .

As usual, the sixth series consisted of 13 (long) episodes, and I binge-watched 11 of them through that weekend, haha ๐Ÿ™ˆย (Don’t judge, it was my resting weekend after a weekend trip the weekend before and surviving through a Summer heatwave during the weekย ๐Ÿ™ˆ). I watched the 12th episode on Monday evening and the 1.5-hour long season finale on Tuesday. So yeah, I finished the entire season in just five days, haha ๐Ÿ˜† .

Anyway, I really liked this season!! IMO, it was much better than the fifth season (which, IMO, was the worst); and also in the sense that it built on the mess that was that season. And to me this was what was especially good about this season, as this “arc”, where the involved inmates and guards had to deal with all the situations (personal and legal) following the riot in the fifth season, was the one I enjoyed the most!

The season was closed with a strong finale. A (rather pointless, IMO) story arc was concluded with hints of positive universal message; and, more intriguingly, some (more interesting, IMO) arcs just went even more intricate with all the injustice, ass-saving, greed, and all that; and, thus, just got more interesting. Very OINTB if you must ask me. So yeah, I cannot wait for the seventh season now! But now, unlike when I finished season five earlier this year, I really have to wait for (almost) a year for real, haha ๐Ÿ˜….

So in the meantime, do you have any suggestions on any series you think I should follow now? :mrgreen: P.S: Please don’t say Games of Thrones as you would be like the 4768735th person who would recommend this show to me; and yes, up to now I still haven’t seen a single episode of it, despite already going on a Game of Thrones tour in Northern Ireland almost three years ago, lol ๐Ÿ˜† .

At the Dark Hedges in Northern Ireland, apparently famous amongst Game of Thrones fans ๐Ÿ˜›

BAHASA INDONESIA

Awal tahun iniย aku ceritakan tentang serial “baru” yang aku ikuti di Netflix, Orange Is The New Black (OITNB). Btw, “baru” maksudnya aku baru menemukannya akhir tahun kemarin di Netflix sementara sebenarnya musim pertama acaranya dirilis di tahun 2013, haha ๐Ÿ˜† . Anyway, seperti yang kuceritakan waktu itu, aku suka acaranya dan aku menonton kesemua lima musimnya langsung sampai habis (Walaupun seperti yang kubilang, acaranya tergolong vulgar, haha). Oke, “langsung sampai habis” memang agak berlebihan karena setiap episodenya itu setidaknya sepanjang hampir 60 menitย (tanpa iklan) jadi ya memang aku membutuhkan sekian bulan lah untuk menyelesaikan semuanya.

Dan akhir pekan kemarin ini, musim terbaru acaranya, musim keenam, dirilis! Jelas dong aku merasa senang karena waktu itu aku juga sudah selesai marathon menonton ulang Star Trek: TNG jadi timing-nya kan memang pas banget ya, haha. Apalagi, tanggal rilisnya adalah di hari Jumat sebelum akhir pekan yang mana aku tidak berencana untuk jalan-jalan juga. Pas banget deh pokoknya! Haha ๐Ÿ˜† .

Seperti biasa, musim keenam ini terdiri dari 13 episode (panjang), dan aku menonton 11 di antaranya sepanjang akhir pekan itu, haha haha ๐Ÿ™ˆย (Eh jangan judging gitu dong, akhir pekan itu memang akhir pekan dimana aku butuh beristirahat setelah jalan-jalan di akhir pekan sebelumnyaย dan bertahan hidup menghadapi gelombang musim pans yang menerjan Eropa di sepanjang minggu ituย ๐Ÿ™ˆ). Episode ke-12nya aku tonton di hari Senin malam, dan episode terakhirnya yang sepanjang 1,5 jam di hari Selasa. Jadi, iya, satu musim aku selesaikan dalam waktu lima hari saja, haha ๐Ÿ˜† .

Anyway, aku suka dengan musim ini!! Menurutku, musim ini lebih bagus daripada musim kelima (yang, menurutku, adalah yang terburuk); dan juga dalam hal cerita dimana musim ini “membangun” dari puing-puing cerita yang ditinggalkan di musim sebelumnya. Dan untukku ini lah yang sangat menarik dari musim ini, karena “jalan cerita” ini, dimana tahanan dan sipir-sipir yang terlibat harus menghadapi situasi (baik itu personal maupun legal) dari kekacauan (riot) di musim kelima!

Musim ini juga ditutup dengan episode terakhir yang ceritanya “kuat”. Satu jalan cerita (yang menurutku tidak berguna dan kurang menarik) terselesaikan dengan pesan universal positif; dan, lebih serunya, beberapa jalan cerita lainnya (yang, menurutku, jauh lebih menarik) bertambah ruwet dan kacau akibat ketidak-adilan, kepengecutan, keserakahan, dan lain-lainnya itu lah; sehingga malah jadi tambah menarik kan ya. Sangat OINTB gitu menurutku. Jadi, aku sudah nggak sabar nih untuk musim ketujuh! Tapi sekarang, nggak kayak beberapa bulan lalu ketika aku selesai menonton musim kelima, aku beneran harus menunggu (hampir) satu tahun nih untuknya, hahaย ๐Ÿ˜….

Nah, jadi untuk sementara itu, apakah ada yang punya masukan akan serial bagus yang bisa aku ikuti? :mrgreen: P.S: Tolong jangan bilang Games of Thrones yah karena kamu akan menjadi orang ke-4768735 yang merekomendasikan acara ini kepadaku. Dan ya, bahkan sampai sekarang aku masih belum menonton satu episode pun; walaupun aku sudah pernah ikutanย tur Game of Thrones di Irlandia Utaraย hampir tiga tahun yang lalu, hahaha ๐Ÿ˜† .

Di Dark Hedges di Irlandia Utara, yang mana terkenal di kalangan fans-nya Game of Thrones ๐Ÿ˜›
My Interest, TV Show, Zilko's Life

#2142 – Star Trek TNG and Enterprise

ENGLISH

So last year I decided to marathon-watch Star Trek: Voyager via Netflix. And obviously by now I have finished the entire seven seasons of the series, haha.

Since then, as my Instagram followers (@azilko) through the cool Instagram Story feature would have perhaps known, I have actually decided to rewatch two other Star Trek series: Star Trek: Enterprise (2001-2005) and the super popular Star Trek: The Next Generation (1987-1994)!

I rewatched Star Trek: Enterprise first. Call me shallow, I made this decision because this series was the newest of all (well, apart from Star Trek Discovery of course), which would imply it had the best visual/graphic of all the series. I mean, I have to admit that visual plays a great role in my enjoyment of a TV-series. And obviously, having been spoiled with the recent advancement in this department put the older series in serious disadvantage in my eyes!

Anyway, while overall I still enjoyed the series, I understood why this series was cancelled just after four seasons. The first two seasons were so “bad”, in the sense that I felt like they focused on the “wrong” things with generally shallower content AND much less action. The third season was the best one with the exciting Xindi-arc; but the damage had already been done by the first two seasons so I could imagine the rating was difficult to recover. I found the fourth season not as exciting as the third but was still better than the first two, haha.

After I completed Star Trek: Enterprise, I hesitatingly decided to give the super popular Star Trek: The New Generation (TNG) a chance.ย To my pleasant surprise, apparently a few years ago there was a remastering project going for the entire series, which basically improved the visual/graphic A LOT! It happened that my Netflix contained this remastered version!! I love you Netflix! Haha ๐Ÿ˜› .

Btw,ย I did watch quite some episodes of this series when I was a kid, but I didn’t remember most of them as those were from before the Voyager era, even the first season was premiered a year before I was born! Lol ๐Ÿ˜† .

Anyway, this series blew my mind! It was, indeed, really, really good; and I do appreciate it much more now than I perhaps was when I was just a kid!! No wonder it was THAT popular! This was the Star Trek that I (unconsciously) remembered, the benchmark which I used when reviewing the first season of Discovery. Except for the visual effect, TNG beat Discovery in pretty much all aspects, IMO, haha.

The story was amazing, as it was relatable to our (my) daily life. It was very easy to perceive the USS Enterprise-D like my real office. There was a lot of focus on interpersonal relationship between the crews in the starship, which I could easily interpret like my real interpersonal relationship with my colleagues at work. Even some of the stories were actually really relevant to some of my current situations at work, which put me into perspective and think about my own career, both in the short- and long-term.

And it was not boring too. There were a few humorous and full-of-action episodes here and there. Though, of course there were a few bad apples here and there; but those were not significant. In short, this series was just amazing. And, as you know, this series was the source of many popular internet memes too, haha ๐Ÿ˜› .

And fittingly, the series was closed with such a great ender in the episode “All Good Things…”. It was definitely one of the best Star Trek episodes I have ever watched!

***

It was unfortunate that I watched Enterprise just before TNG, as the contrast in quality became really glaring. Well, at least it was an upward experince that I had to go through, haha. And it was also quite funny that Enterprise’s last episode actually took place in the Holodeck of USS Enterprise-D; as if it was an episode of TNG, haha.

Anyway, so, do you watch Enterprise and TNG?

BAHASA INDONESIA

Tahun lalu aku memutuskan untukย menonton ulang Star Trek: Voyager secara marathonย melaluiย Netflix. Dan jelas dong ya sekarang aku sudah selesai menonton-ulang kesemua tujuh musimnya, haha.

Semenjak waktu itu, seperti yang followers Instagram-ku (@azilko) ketahui melalui fitur InstaStory yang lagi happening ini, aku telah memutuskan untuk menonton-ulang dua seri Star Trek yang lainnya, yaitu:ย Star Trek: Enterprise (2001-2005) danย Star Trek: The Next Generation (1987-1994) yang sangat amat populer itu!

Star Trek: Enterprise aku tonton ulang terlebih dahulu. Bilang saja aku shallow atau receh, keputusan ini aku buat karena ini adalah seri yang paling baru (di luarย Star Trek Discovery tentunya), yang mana berarti visual/grafiknya juga yang paling baik kan dari semua serinya. Maksudku, aku harus mengakui bahwa faktor visual itu penting banget bagiku dari sebuah acara TV untuk bisa aku nikmati. Dan jelas saja sudah dimanjakan dengan kemajuan teknologi di bidang ini membuatย posisi seri-seri lawas menjadi tidak diuntungkan bagi mataku.

Anyway, walau secara keseluruhan serinya masih bisa aku nikmati, aku paham mengapa seri ini kok hanya bertahan empat musim saja. Dua musim pertamanya itu jelek banget, dalam artian aku merasa serinya fokus pada hal-hal yang “salah” yang mana receh dan dangkal gitu, ditambah pula action-nya sedikit. Musim ketiga adalah musim yang terbaik dengan jalan cerita Xindi di sepanjang musim ini yang amat seru; tapi ya kerusakan sudah terlanjur dibuat di dua musim pertama sehingga nggak mengherankan juga rating-nya sulit dipulihkan. Musim keempat bagiku tidak seseru musim ketiga tapi masih jauh lebih baik daripada dua musim pertama, haha.

Setelah menyelesaikan Star Trek: Enterprise, dengan agak ragu aku memutuskan untuk mulai menonton-ulang Star Trek: The New Generation (TNG) yang sangat amat populer itu. Yang mengejutkanku, ternyata beberapa tahun yang lalu seri ini melalui sebuahย proyek remastering, yang mana pada dasarnya visual/grafiknya diperbaiki secara signifikan! Kebetulan pula Netflix menayangkan versi yang sudah di-remastered ini!! I love you Netflix! Haha ๐Ÿ˜› .

Btw, sewaktu kecil aku menonton lumayan banyak episode dari seri ini sebenarnya, tapi aku juga tidak ingat karena seri ini kan bahkan dari era sebelumnya Voyagerย ya, bahkan musim pertamanya ditayangkan setahun sebelum aku dilahirkan! Haha ๐Ÿ˜† .

Anyway, dan pilihanku untuk menonton-ulang ini adalah keputusan yang tepat karena seri ini benar-benar mengagumkanku lho! Serinya beneran bagus, bagus, bagus banget; dan aku bisa lebih memahami dan menghargainya sekarang daripada sewaktu kecil dulu!! Nggak heran deh mengapa serinya bisa sepopuler ITU! Ini adalah Star Trek yang (secara tidak aku sadari) aku ingat, yang menjadi patokan dalam upayaku me-reviewย musim pertamanya Discovery. Selain efek visualnya, TNG jauh lebih superior daripada Discovery di hampir semua aspek, menurutku, haha.

Cerita-ceritanya keren banget, dan banyak yang bisa dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari(ku). Sangat mudah untuk mengasosiasikan pesawat USS Enterprise-D dengan kantorku. Ada banyak banget cerita yang fokus kepada hubungan interpersonal antar kru pesawatnya, yang mana bisa dengan mudah aku asosiasikan dengan hubungan interpersonalku yang nyata dengan kolega-kolegaku di kantor. Bahkan ada beberapa ceritanya yang sangat amat pas dan bisa pas banget cocok dengan situasi yang sedang aku hadapi di kantor, yang memberikanku sebuah perspektif baru dan membuatku berpikir akan langkah-langkahku dalam meniti karirku, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Dan acaranya juga tidak membosankan. Ada banyak episode yang fokus terhadap sisi humor atau action. Walaupun tentu saja ada beberapa episode yang nggak bagus juga sih tapi jumlahnya tidak banyak. Secara singkat, seri ini keren dan bagus banget. Dan mungkin pada tahu bahwa seri ini juga lah sumber dari banyak meme internet yang terkenal, haha ๐Ÿ˜› .

Dan cocoknya, serinya diakhiri dengan episode “All Good Things…” yang mana sangat amat keren sekali. Episode ini adalah salah satu episodenya Star Trek yang terbaik yang pernah aku tonton!

***

Agak disayangkan juga sih aku menonton Enterprise tepat sebelum TNG, karena perbedaan di kualitasnya jadi terasa kontras sekali. Yah, setidaknya sih pengalaman yang aku rasakan mengarah naik sih, haha. Dan sebenarnya kalau dipikir-pikir lucu jugaย episode terakhirnyaย Enterprise mengambil tempat di Holodeck-nya USS Enterprise-D; seakan-akan episode ini adalah satu episodenya TNG.

Anyway, apakah ada yang juga menonton Enterprise dan TNG?

EuroTrip, Tennis, Vacation, Weekend Trip

#2131 – A Weekend in Roland Garros 2018

ENGLISH

Posts in the Tennis Weekend in Roland Garros 2018 series:
1. Introduction
2. Part I: Roland Garros 2018
3. Part II: Paris

As usual, I arrived at the gate at around 9 AM. This was, of course, a little bit “too early” but this decision would ensure me to be at the front of the line to enter the ground when the gate would be opened ๐Ÿ˜› . Anyway long story short, at 10 AM the gate was opened and, yes, I was back at Roland Garros again this year! ๐Ÿ˜€

The new Court No. 18 at Roland Garros

As I already had a breakfast at my hotel this morning, I decided to use the time to immediately explore the ground. While this was my seventh year in a row to go to Roland Garros, this year was quite “different” because some of the improvement work was already completed! There were three new courts which looked like three mini amphitheatres (as each was enclosed by layers of benches), which were really beautiful! The facilities had been redesigned and moved around as well, and at times this made me feel like it was my first time in Roland Garros as I wasn’t familiar with the layout! Haha ๐Ÿ˜† .

Anyway, as usual, I decided to watch the women’s legends final at Court Suzanne Lenglen as my first event today. This year, the final was between Kim Clijsters/Nathalie Tauziat and Amelie Mauresmo/Nathalie Dechy. Yep, for my first time here, Martina Navratilova wasn’t involved! Haha ๐Ÿ˜€ . Anyway, the match was quite exciting, even though at the very end it was filled with chokes from both sides (Like, each team double-faulted on each of their own’s match point! ๐Ÿ˜…). But finally, Mauresmo/Dechy won 6-7(4), 6-4, [15-13].

Amelie Mauresmo and Nathalie Dechy won the women’s legends event

The match ended at around 1 PM so it was a perfect time for lunch. As I said, I initially wasn’t aware of where the restaurant was (as the “old” place was now part of the two new courts). I asked the information desk and apparently what previously was a store at the basement of Court Philippe Chatrier was now a restaurant! Haha ๐Ÿ˜€ . Anyway, this year the menu was also completely different where the warm meal options were a ham dish or a chicken dish. I opted for the chicken, which I had with pasta and some ratatouille as the side dish.

A chicken leg with pasta and ratatouille for lunch at Roland Garros

After going around for a little bit, I decided to go to my seat at Court Philippe Chatrier. Of course I chose to go in a little bit early so I would have all the time that I needed to take some pictures inside, haha ๐Ÿ˜† . Btw, at the time Oliver Marach and Mate Pavic were warming up for their upcoming men’s doubles final.

At Court Philippe Chatrier again this year

Spectators filled in the stadium quite rapidly after that as people were getting ready for the main match today, the women’s singles final. The match would be contested between the current world no.1, Simona Halep, who up to this point had never won a grandslam title despite reaching the finals three times and lost in three sets in all of those (one of which was last year’s final against Jelena Ostapenko), and the world no.10, Sloane Stephens, a young American player who won the US Open last year.

The coin toss between Simona Halep and Sloane Stephens

Btw, I noticed that Simona Halep had a lot of fans coming to support her today. Around the ground, I saw a lot of people bringing Romanian attributes (flags, wearing clothes of the Romanian flag colours, chanting some yells clearly supporting Halep, etc). But interestingly, today I was sitting in an area of the stadium which somehow was filled by mostly Americans, or at least Sloane’s fans, haha ๐Ÿ˜› . Some of them tried to chant “USA, USA, USA” in response to the “Simona, Simona…” chants by Halep’s supporters, haha.

Simona Halep fans at Roland Garros

Anyway, both players entered the stadium at 3 PM. Halep won the coin toss and elected to receive, meaning Sloane would serve first. I won’t go to too much details here, but Sloane started the match right on fire. She was immediately peaking and played unbelievable level of tennis. Her shots, strategy, movement, and basically everything was right and perfect! Like, she could do nothing wrong! And so she quite quickly took the first set 6โ€“3 and immediately led 2โ€“0 in the second set.

Sloane Stephens started the match right on fire and on point, clicking in every department.

At this point, I started to feel bad for Halep because she was clearly trying and she was playing great herself (she was the more aggressive player of the two on court today); but her opponent was just playing unbelievable tennis and there was nothing could be done about that. But then something started to happen. At the twelfth game, Sloane’s level “finally” started to “drop” a little bit from this “peak”. And if you play tennis you would understand how this could be bad news for Sloane, especially given what was at stake here (a grandslam title). Somehow I feel like this got into Sloane’s mind and it went downward spiral there. Errors started to creep in her game. At the same time, this gave Halep the momentum that she needed. From that point, Halep played brilliantly and won 13 of the next 15 games; and finally clinching the title with a 3โ€“6, 6โ€“4, 6โ€“1 victory! Yes, Simona Halep finally won a grandslam title she truly deserved; and I was feeling really happy for her!!

The moment Simona Halep finally won a grandslam.

The trophy ceremony followed afterwards. Coupe Suzanne Lenglen, which was stored in a Louis Vuitton box, haha, was brought to the court. Arantxa Sanchez then gave the trophy to Simona Halep, who finally was able to get rid of the “Slamless” title some people put on her.

I think Simona’s expression in this photo said it all! “FINALLY!!”

After uploading some Instagram Story videos (haha), I decided that I needed to stretch my leg and to fill my stomach with something; and that something being a subway sandwich, haha.

Learning from my experience two years ago, I knew that Court Philippe Chatrier was open for everyone for the doubles final. So instead of going back to my seat, I decided to try my luck by going to one of the courtside box. Luckily I went in right just in time where I still found a vacant great courtside seat!

My view for the men’s doubles final!

The men’s doubles final was contested between a French duo, Pierre-Hugues Herbet/Nicolas Mahut, who was seeded sixth, and the Austrian-Croatian duo, Oliver Marach/Mate Pavic, the second seed. Btw, Mate Pavic was ranked world no.1 in men’s doubles at the time. Both teams played different style, where Herbet/Mahut were more about the touch and technique whereas Marach/Pavic were more about power and aggression. The match had started when I entered the court and Herbert/Mahut were controlling the momentum already in the first set. They quickly won it 6โ€“2.

Pierre-Hugues Herbert/Nicolas Mahut took control of the first set.

The second set was much more competitive and exciting. Both teams were pretty much even up to the middle of the set. Then after a poor service game by Marach, Herbet/Mahut gained some momentum by breaking Marach’s serve. But then it was Mahut’s turn to have a poor service game and the match went back even. But Marach/Pavic seized this momentum and got themselves a couple of set points. Herbert/Mahut fought hard and saved those set points so the second set had to go to a tiebreak. Herbet/Mahut played a great tiebreak where they immediately got some lead. In the end, they clinched it 6โ€“2, 7โ€“6(4) and, thus, won their first ever Roland Garros title.

Pierre-Hugues Herbert/Nicolas Mahut won the men’s doubles title of Roland Garros 2018

It was a great day to be French, for sure. The spectators chanted the French national anthem during the trophy ceremony too.

With the last match of the day being completed, it was time for me to leave as well. And yeah, I just had a great day at Roland Garros!

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Tennis Weekend in Roland Garros 2018:
1. Introduction
2. Part I: Roland Garros 2018
3. Part II: Paris

Seperti biasanya, aku tiba di gerbang masuk sekitar jam 9 pagi. Agak kepagian sih ini, tapi ini memastikan aku berada di posisi paling depan di antrian masuk ketika gerbangnya dibuka nanti, haha ๐Ÿ˜› . Singkat cerita, gerbangnya dibuka jam 10 pagi dan, iya, aku kembali di Roland Garros lagi tahun ini! ๐Ÿ˜€

Lapangan No. 18 yang baru di Roland Garros

Karena aku sudah sarapan di hotel paginya, aku memutuskan untuk menggunakan waktuku untuk mengeksplor kompleks turnamennya. Walaupun ini adalah tahun ketujuh berturutan aku pergi ke Roland Garros, tahun ini terasa agak “berbeda” karena beberapa pekerjaan konstruksi pengembangan turnamennya sudah selesai! Misalnya saja ada tiga lapangan baru yang nampak seperti amphitheater mini (yang mana masing-masing dikelilingi oleh beberapa tingkat bangku), yang mana nampak indah! Fasilitas di sekitar kompleksnya juga sebagian sudah didisain dan ditata-ulang, sehingga terkadang membuatku merasa ini seperti kunjungan pertamaku di Roland Garros karena aku tidak familier dengan denahnya! Haha ๐Ÿ˜†

Anyway, seperti biasa, aku memutuskan untuk menonton final turnamen legenda putri di Lapangan Suzanne Lenglen hari ini. Tahun ini, finalnya adalah antara Kim Clijsters/Nathalie Tauziat dan Amelie Mauresmo/Nathalie Dechy. Yep, untuk pertama kalinya untukku, Martina Navratilova tidak terlibat dong! Haha ๐Ÿ˜€ . Anyway, pertandingannya lumayan menarik, walaupun bagian akhirnya dipenuhi dengan chokesย dari kedua tim sih (Misalnya, kedua timย double-fault dong di match point-nya masing-masing!๐Ÿ˜…). Tapi pada akhirnya, Mauresmo/Dechy menang 6-7(4), 6-4, [15-13].

Amelie Mauresmo dan Nathalie Dechy memenangi gelar legenda putri.

Pertandingan berakhir sekitar jam 1 siang yang mana merupakan waktu yang pas untuk makan siang. Seperti yang kubilang, awalnya aku tidak tahu lokasi restorannya dimana (karena lokasi yang “lama” kini sudah menjadi bagian dari dua lapangan baru). Aku bertanya ke meja informasi dan ternyata apa yang dulunya toko di lantai basement Lapangan Philippe-Chatrier kini adalah restoran! Haha ๐Ÿ˜€ . Ngomong-ngomong, menu tahun ini juga berbeda banget dimana pilihan makanan hangatnya adalah daging ham atau ayam. Aku memilih ayam, yang mana aku temani dengan pasta dan ratatouille.

Paha ayam dengan pasta dan ratatouille untuk makan siang.

Setelah berkeliling sedikit, aku memutuskan untuk masuk menuju kursiku di Lapangan Philippe Chatrier. Jelas dong aku masuk agak awal supaya ada waktu untuk foto-foto dulu, haha ๐Ÿ˜† . Btw, waktu itu Oliver Marach dan Mate Pavic sedang pemanasan untuk final ganda putra mereka nantinya.

Di Lapangan Philippe Chatrier tahun ini.

Penonton mulai masuk ke lapangan dengan cepat setelahnya untuk menonton pertandingan utama hari ini, final tunggal putri. Pertandingannya akan dimainkan oleh pemain peringkat 1 dunia, Simona Halep, yang hingga waktu ini belum pernah menjuarai grandslam walaupun sudah masuk final tiga kali dan kalah dalam tiga set di semuanya (salah satunya adalah final tahun lalu melawan Jelena Ostapenko), dan petenis peringkat 10 dunia, Sloane Stephens, yang mana petenis muda dari Amerika yang menjuarai US Open tahun lalu.

Coin toss antara Simona Halep dan Sloane Stephens

Btw, ada banyak loh fansnya Simona Halep yang datang untuk mendukungnya. Di sekitaran kompleks, ada banyak banget orang-orang yang membawa atribut Romania (bendera, pakaian dengan warna bendera Romania, bahkan mereka memiliki yel-yel sendiri untuk mendukung Halep, dll). Tapi menariknya, hari ini aku bisa-bisanya duduk di area stadionnya yang dipenuhi kebanyakan oleh orang Amerika, atau seenggaknya pendukungnya Sloane Stephens, haha ๐Ÿ˜› . Beberapa dari mereka bersorak “USA, USA, USA” untuk meladeni yel-yel “Simona, Simona…” dari pendukungnya Halep, haha.

Fansnya Simona Halep di Roland Garros

Anyway, kedua pemain memasuki lapangan jam 3 sore. Halep memenangi coin toss dan memilih untuk receive, yang berarti Sloane akan servis duluan. Aku tidak akan menuliskan detailnya di sini, tapi Sloane memulai pertandingan dengan sempurna sekali. Pukulan-pukulannya, strateginya, dan pergerakannya pas dan sempurna banget! Ia seperti tidak mampu membuat kesalahan gitu, segala yang dilakukannya benar dan tepat! Dan jadilah ia dengan lumayan cepat mengambil set pertamaย  6โ€“3 dan langsung unggul 2โ€“0 di set kedua.

Sloane Stephens memulai pertandingan dengan sempurna, segalanya “klik” banget.

Di waktu ini, aku sedikit merasa kasihan terhadap Halep karena ia jelas terus berusaha dan sebenarnya bermain dengan bagus juga (ia bermain lebih agresif daripada Sloane); tapi ya memang lawannya sedang bermain tenis dengan level sempurna dan ini jelas tidak bisa diapa-apakan. Tapi sesuatu mulai terjadi di game kedua-belas. Levelnya Sloane “akhirnya” mulai sedikit “turun” dari level “puncak” ini. Dan jika kamu bermain tenis, pasti paham mengapa ini adalah berita buruk untuk Sloane, terutama dengan mempertimbangkan apa yang dipertaruhkan di sini (gelar grandslam). Entah mengapa rasanya ini masuk ke pikirannya Sloane dan semuanya dengan cepat terjun bebas dari sana. Kesalahan-kesalahan mulai muncul di permainannya. Di waktu yang sama, ini memberikan Halep momentum yang ia butuhkan. Dan dari waktu itu, Halep bermain dengan sangat baik dan memenangi 13 dari 15 game selanjutnya. Akhirnya,ย ia mendapatkan gelarnya dengan kemenangan 3โ€“6, 6โ€“4, 6โ€“1! Iya, Simona Halep akhirnya menjuarai grandslam yang memang berhak ia dapatkan; dan aku ikut merasa senang untuknya!!

Momen dimana Simona Halep akhirnya menjuarai grandslam.

Upacara pemberian piala berlangsung setelahnya. Coupe Suzanne Lenglen, yang disimpan di dalam kotak Louis Vuitton, haha, dibawa ke lapangan. Arantxa Sanchez memberikan pialanya kepada Simona Halep, yang mana akhirnya berhasil menghilangkan gelar “Slamless” disematkan beberapa orang kepadanya.

Aku rasa ekspresinya Simona di foto ini mengungkapkan semuanya! “AKHIRNYA!!”

Setelah upload beberapa video InstaStory (haha), aku meluruskan kakiku dan memutuskan untuk mengganjal perutku dengan sandwich, haha.

Berdasarkan pengalamankuย dua tahun yang lalu, aku tahu bahwa Philippe Chatrier dibuka untuk umum di final ganda putra. Jadilah bukannya kembali ke kursiku, aku mencoba peruntunganku dengan pergi ke salah satu kotak di samping lapangannya. Beruntung sekali aku masuk di waktu yang tepat dimana aku masih bisa menemukan beberapa kotak yang kosong dengan pandangan yang oke banget!

Pandanganku untuk final ganda putra!

Final ganda putranya dimainkan antara duo Prancis, Pierre-Hugues Herbet/Nicolas Mahut, unggulan keenam, dan duo Austria-Kroasia Oliver Marach/Mate Pavic, unggulan kedua. Btw, Mate Pavic merupakan pemain peringkat 1 dunia di ganda putra waktu itu. Kedua tim bermain dengan gaya yang berbeda, dimana Herbet/Mahut lebih tentangย touch dan teknik sementara Marach/Pavic lebih tentang kekuatan dan keagresifan. Pertandingannya sudah dimulai ketika aku masuk ke lapangan dan waktu itu Herbet/Mahut sudah mengontrol momentuk di babak pertama. Mereka dengan cepat memenanginya 6โ€“2.

Pierre-Hugues Herbert/Nicolas Mahut mengontrol babak pertama.

Babak keduanya lebih kompetitif dan seru. Kedua tim bermain seimbang hingga pertengahan set. Setelah game servis yang buruk dari Marach, Herbet/Mahut mendapatkan momentum dari patahnya servis Marach. Tapi kemudian datanglah giliran Mahut untuk memainkan game servis yang buruk dan pertandingannya kembali seimbang. Tapi Marach/Pavic memanfaatkan momentum ini dan berhasil mendapatkan beberapa set point untuk mereka. Herbert/Mahut berjuang keras menyelamatkan set point-set point tersebut dan berhasil memaksakan tiebreak untuk dimainkan di akhir set kedua. Herbet/Mahut memainkan tiebreakย yang baik dimana mereka langsung mengambil kontrolnya. Pada akhirnya mereka menang 6โ€“2, 7โ€“6(4) dan mendapatkan gelar Roland Garros pertama mereka.

Pierre-Hugues Herbert/Nicolas Mahut memenangi ganda putra di Roland Garros 2018

Ini adalah hari yang baik untuk orang Prancis, tentunya. Penonton menyanyikan lagu nasional Prancis di upacara pemberian pialanya juga.

Dengan pertandingan terakhir selesai dimainkan; sudah waktunya untukku pulang juga. Dan ya, aku baru saja menghabiskan satu hari yang seru di Roland Garros!