My Interest · TV Show

#2012 – Fall TV Season

ENGLISH

Traditionally the Fall TV season has been my favorite because new seasons of series are, usually, premierred at this time. And this season, thankfully, is no different ๐Ÿ˜› .

For once, obviously there is Star Trek: Discovery!! Anyway, I feel like the focus of this series has been more on the “action” side rather than on the “social/interpersonal/intrapersonal conflict” that is easy to relate to our daily lives normally present in other series. So this is why I have been feeling different “vibes” from this series. Having said that, thankfully the writers do not forget on the character development side, I feel. Nonetheless, all in all, I still enjoy this series, though!

Speaking about Star Trek, actually when I was wondering what should I watch after I finished remarathoning the entire nine seasons of HIMYM, I decided to remarathon Star Trek: Voyager, haha. There were seven seasons of Voyager and because each episode was around 45 minutes (each episode was made for a one-hour show, thus 15-ish minutes for advertisement which I could entirely skip thanks to Netflix, yeay!) so I knew it would take some time before I finished them all. Well, now I am already at the last season, though, haha ๐Ÿ˜› .

Fall also means the return of one of my most favorite reality show: The Apprentice UK! Yes, BBC One runs its thirteenth series this year (including its spin-off, The Apprentice: You’re Fired, on BBC Two)!! And as always, it has been as interesting as ever!! ๐Ÿ˜€

These three shows have kept me “busy” enough that I don’t have the time to watch some other series at the moment! Haha ๐Ÿ˜€ . Anyway, another good news for a reality show (to me) is that The Amazing Race 30 started filming about a month ago, indicating that a 30th season is, well, a reality! Yeay ๐Ÿ˜€ . It will probably air next Spring, though; but with these three other series already keeping myself busy, I am actually glad it is for next year! Haha ๐Ÿ˜›

BAHASA INDONESIA

Biasanya musim gugur untuk urusan per-TV-an adalah musim favoritku karena biasanya musim-musim terbaru dari beberapa acara TV kan dimulai di waktu ini ya. Dan musim gugur kali ini, untungnya, juga begitu ๐Ÿ˜› .

Pertama-tama, jelas dong ya ada Star Trek: Discovery!! Ngomong-ngomong, aku kok merasa fokus dari acara ini berada lebih di sisi “action“-nya ya daripada “urusan konflik sosial/interpersonal/intrapersonal” yang mudah kita kaitkan dengan kehidupan sehari-hari kita seperti yang sering diangkat di seri-seri Star Trek lainnya. Oleh karenanya, aku merasa “aura” seri ini agak berbeda dari seri-seri lainnya itu. Walaupun begitu, untungnya setidaknya penulisnya masih tidak melupakan urusan perkembangan karakternya sih. Namun, secara keseluruhan aku masih menikmati seri ini kok!

Ngomong-ngomong tentang Star Trek, sebenarnya ketika aku galau mesti nonton apa setelah aku selesai menonton ulang keseluruhan sembilan musimnya HIMYM, aku memutuskan untuk menonton ulangย Star Trek: Voyager, haha. Voyager terdiri dari tujuh musim dan karena setiap episode mengambil waktu 45an menit (setiap episode dibuat untuk penayangan satu jam di TV, jadi 15an menit untuk iklan gitu yang mana bisa aku lewatkan berkat Netflix, hore!) sehingga aku tahu akan memakan waktu lumayan juga lah ya sampai menamatkannya. Eh tetapi sekarang aku sudah sampai di musim terakhir sih, haha ๐Ÿ˜› .

Musim gugur juga berarti kembalinya dari salah satu reality show favoritku: The Apprentice UK! Iya, BBC One menayangkan musim ketiga-belasnya tahun ini (dan juga termasuk spin-off-nya The Apprentice: You’re Fired di BBC Two)!! Dan seperti biasa, acara ini selalu menarik untukku!! ๐Ÿ˜€

Tiga acara ini sudah membuatku cukup “sibuk” sehingga aku tidak memiliki waktu untuk menonton acara-acara lain! Haha ๐Ÿ˜€ . Ngomong-ngomong, ada berita baik loh (untukku sih) dimana The Amazing Race 30 sudah mulai filming nih sebulanan yang lalu, yang berarti sudah ada kepastian akan musim ke-30 lah ya! Hore ๐Ÿ˜€ . Acaranya mungkin baru ditayangkan musim semi tahun depan sih; tetapi dengan tiga acara lain ini yang sudah memakan semua waktuku, sebenarnya aku justru lega deh ini baru ditayangkan tahun depan! Haha ๐Ÿ˜›

Advertisements
Aviation · My Interest

#2009 – KLM’s Fokker 70

ENGLISH

I believe I have mentioned this a few times here in this blog. And finally, the time has come. This weekend, KLM officially retired all their Fokker 70s from operation, with the last flight being flight KL1070 from London-Heathrow operated by, fittingly, PH-KZU.

KLM Cityhopper’s Fokker 70 reg PH-KZU in Anthony Fokker special livery.

Here is the official special video from KLM of their Fokker 70’s last ever commercial flight that day:

As a true avgeek, obviously the thought of flying with one of these last flights one more time had crossed my mind. In fact, in September KLM officially published the final schedules of these beauty. But then, I also quickly learned the fact that the ticket price for these flights had significantly soared. For instance, here is how the ticket for the last Fokker 70 flight KL1070 was in comparison to the other KLM’s (many) daily flights from London-Heathrow to Amsterdam:

The ticket price for the last Fokker 70 flight

I mean, as much as I would have loved to be a part of this, I still had some sense as well, thankfully, haha. I decided to give it a pass. Nevertheless, I just flew with a Fokker 70 not too long ago anyway ๐Ÿ™‚ .

My last flight with a KLM Cityhopper’s Fokker 70 was with this PH-KZB on the way to Cardiff in September.

However, I will surely miss these Fokkers! I mean, of course they are of the older planes. In fact, Fokker 70’s launch customer was Indonesia’s Sempati Air! But to be honest, these days flying an older plane isn’t actually always bad. You see, Fokker 70 was developed in the 1990s, way before the boom of LCCs. And my conjecture is that Fokker 70 was, understandably, not designed for LCC airlines. This means: in the designing process, they took into the account passengers’ comfort more (In very simplified terms, with LCC airlines, you would want to fit as many people as possible in the plane). As an evidence of this, here is the legroom in a standard economy seat on board a KLM Cityhopper’s Fokker 70:

The regular economy seat legroom on board PH-WXD.

Yep, it even allowed me to stretch my legs! Haha ๐Ÿ˜›

On the other hand, of course being from an older generation means that this type is not the quiettest plane ever built; especially when you are seated at the rear of the plane where the two engines are located. However, I would definitely miss the following view from a window seat at the rear of the plane:

Taking off from runway 04R of Copenhagen Airport (CPH) with a Fokker 70.

Aside from the view, another aspect of the plane design which I will definitely miss is the integrated door and stairs design! I don’t know, I just really like this combo design! Okay, a few other plane types, such as the Bombardier CRJ series, are also equipped with main doors like this. But still, this means that this already “vulnurable” design has become even more endangered! Haha ๐Ÿ˜›

I adore Fokker 70’s stairs-door!!

Yeah, it is definitely quite a sad time for me when a plane type is being retired from the fleet of an airline, especially if the type is rather “anti-mainstream” (like the retirement of KLM’s MD11 three years ago). Even though in this case, unlike the MD11, several airlines are still operating the Fokker 70s. In fact, the Fokker 70s KLM Cityhopper just retired are now still active with a few other airliners, namely Air Niugini of Papua New Guinea and fly AllWays of Suriname, haha.

Anyway, here are some photos from the trips I have taken with this beauty over the years with KLM Cityhopper:

BAHASA INDONESIA

Aku yakin hal ini sudah aku sebutkan beberapa kali di blog ini. Dan akhirnya, waktunya tiba juga. Akhir pekan kemarin, KLM secara resmi memensiunkan semua pesawat Fokker 70nya, dengan penerbangan terakhirnya adalah penerbangan KL1070 dari London-Heathrow yang dioperasikan dengan, seperti selayaknya, PH-KZU.

Fokker 70nya KLM Cityhopper rego PH-KZU dengan livery spesial Anthony Fokker.

Berikut ini video spesial resmi dari KLM yang berisikan penerbangan komersil terakhir mereka dengan Fokker 70 hari itu:

Sebagai avgeek sejati, jelas dong aku sempat kepikiran untuk terbang dengan salah satu penerbangan terakhir ini. Malahan, September kemarin KLM resmi mengumumkan jadwal terakhirย dari si ganteng ini. Tetapi kemudian, aku juga disadarkan bahwa harga tiket untuk penerbangan-penerbangan terakhir ini juga sudah naik banyak banget dong. Misalnya saja, berikut ini harga tiket untuk penerbangan terakhir Fokker 70 KL1070 dibandingkan dengan penerbangan-penerbangan KLM lainnya dari London-Heathrow ke Amsterdam:

Harga tiket untuk penerbangan terakhir dengan pesawat Fokker 70

Ya walaupun suka tapi aku mah, untungnya, masih realistis dan berakal-sehat lah ya, haha. Aku memutuskan untuk melewatkan kesempatan ini. Toh aku juga baru saja terbang dengan sebuah Fokker 70 belum lama ini kan ๐Ÿ™‚ .

Penerbangan terakhirku dengan Fokker 70nya KLM Cityhopper adalah dengan PH-KZB ini di perjalananku ke Cardiff September kemarin.

Namun, aku tahu pasti bahwa aku akan kangen dengan para Fokker ini! Memang sih mereka adalah pesawat tua. Malahan, launch customer-nya Fokker 70 itu adalah maskapai Indonesiaย Sempati Air loh! Tetapi sebenarnya, sekarang-sekarang ini mah terbang dengan pesawat tua itu tidak lah selalu buruk. Mengapa? Jadi disain pesawat Fokker 70 ini dikembangkan di tahun 1990an, artinya sebelum maskapai LCC menjamur dan booming. Dan konjekturku adalah Fokker 70 didisain bukan untuk maskapai LCC. Ini berarti: dalam disainnya, perancangnya lebih mempertimbangkan kenyamanan penumpang (Secara sederhananya, untuk maskapai LCC, pokoknya kita ingin memasukkan sebanyak mungkin penumpang ke dalam pesawat). Sebagai tanda dari ini, berikut ini ruang kaki di kursi ekonomi reguler di dalam pesawat Fokker 70nya KLM Cityhopper:

Ruang kaki di kursi kelas ekonomi reguler di dalam PH-WXD.

Iya loh, bahkan bisa selonjoran! Haha ๐Ÿ˜› .

Di sisi lain, tentu saja pesawat tua juga berarti memang tipe ini bukanlah yang bermesin paling senyap sih; apalagi kalau duduknya pas di belakang di dekat dua mesinnya itu, haha. Eh, tapi duduk di kursi belakang Fokker 70 itu juga memberikan pemandangan yang jelas akan aku kangeni ini loh:

Lepas landas dari landasan pacu 04R Bandara Kopenhagen (CPH) dengan sebuah Fokker 70.

Di samping pemandangannya, satu aspek lain dari disain pesawatnya yang akan aku kangeni adalah pintunya yang terintegrasi dengan tangga! Nggak tahu ya, aku suka aja gitu dengan disain kombo ini! Oke, memang sih ada sedikit tipe pesawat lainnya, misalnya Bombardier seri CRJ, yang juga dilengkapi dengan pintu berjenis ini. Tapi tetap aja lah, ini artinya disain yang sudah “langka” ini menjadi semakin terancam punah kan! Haha ๐Ÿ˜› .

Aku suka banget pintu-tangganya Fokker 70!!

Iya, memang adalah waktu sedih bagiku ketika sebuah tipe pesawat dipensiunkan oleh sebuah maskapai, apalagi kalau tipenya cukup “anti-mainstream” kan ya (seperti misalnya ketika KLM memensiunkan MD11 tiga tahun yang lalu). Walaupun dalam kasus ini, nggak seperti ketika MD11 dulu, masih ada beberapa maskapai lain yang mengoperasikan Fokker 70 sih. Malahan, sebenarnya Fokker 70-Fokker 70nya yang dipensiunkan KLM Cityhopper ini sekarang masih aktif beroperasi untuk beberapa maskapai lain loh, misalnya Air Niugini di Papua Nugini dan fly AllWays di Suriname, haha.

Anyway, di atas aku buat sebuah galeri berisi foto-foto dari perjalanan-perjalananku dengan si ganteng ini beberapa tahun belakangan dengan KLM Cityhopper.

Aviation · EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#2004 – AvGeek Weekend Trip #13 (AMS โ€“ CDG โ€“ MUC โ€“ AMS)

ENGLISH

Again, as my Instagram followers (@azilko) have known, I went on another AvGeek Weekend Tripย this Saturday. Here is the routing this weekend:

AMS-CDG-MUC-AMS. Created with gcmap.com

This AvGeek Weekend Trip was actually quite a last-minute trip. And so I felt lucky to find an interesting routing with reasonably priced ticket, haha ๐Ÿ˜† .ย Actually at the time, I was torn between an AvGeek Weekend Trip or a day city trip somewhere. But in the end I flipped the coin (well, not literally) and decided to go with the former, haha.

Anyway, I flew two Air France flights this time, obviously on the two flights involving Paris in one of the ends, and a KLM flight from Munich to Amsterdam. The Air France flights were operated by an Airbus A321-200 reg F-GTAZ and an Airbus A318-100 reg F-GUGE, while the KLM flight was with a Boeing 737-700 reg PH-BGK.

The Air France KLM Lounge signage at Munich Airport Terminal 1

This was also my first time visiting the lounge at Munich Airport, btw; as the last time I flew out of Munich was to satisfy my curiosity by flying a Meridiana flight to Milan-Linate, haha. And btw, my Paris to Munich flight departed from a remote stand at Paris – Charles De Gaulle Airport; only my second ever remote-stand departure from the airport (the first time being this March on my way to Lyon).

As for AvGeek Weekend Trip #11, I will not write anything in details about this trip beyond this post. So here are the pictures from the trip:

BAHASA INDONESIA

Lagi, seperti yang followers Instagramku (di @azilko) ketahui, aku pergi dalam sebuahย AvGeek Weekend Tripย Sabtu kemarin ini. Kali ini, rutenya seperti ini:

AMS-CDG-MUC-AMS. Dibuat dengan gcmap.com

AvGeek Weekend Trip kali ini bisa dikatakan perjalanan dadakan sebenarnya. Makanya aku merasa cukup beruntung masih bisa menemukan rute yang cukup menarik dengan harga tiket yang masih masuk akal lah, haha ๐Ÿ˜† . Waktu itu, sebenarnya aku galau antara pergi dalam sebuah AvGeek Weekend Trip atau perjalanan satu hari ke suatu kota gitu. Tetapi pada akhirnya aku melempar koin (nggak dalam artian sebenarnya sih) dan memutuskan untuk memilih yang pertama, haha.

Anyway, aku terbang dengan dua penerbangannya Air France kali ini, tentunya di dua penerbangan yang melibatkan Paris di salah satu asal/tujuannya, dan KLM dari Munich ke Amsterdam. Penerbangannya Air France dioperasikan dengan sebuah Airbus A321-200 rego F-GTAZ dan sebuah Airbus A318-100 rego F-GUGE, sementara penerbangannya KLM adalah dengan Boeing 737-700 rego PH-BGK.

Penanda Lounge Air France KLM di Bandara Munich Terminal 1

Ini juga adalah kali pertama aku mengunjungi lounge di Bandara Munich, btw; karena terakhir kali aku terbang dari Munich adalah untuk memenuhi rasa penasaranku denganย terbang dengan Meridiana ke Milan-Linate, haha. Dan btw, penerbangan Paris ke Munichku diberangkatkan dari tempat parkir remote di Bandara Charles De Gaulle loh; hanya kedua kalinya aku berangkat dari tempat parkir remote di bandara iniย (kali pertama adalah Maret lalu di perjalananku ke Lyon).

Seperti AvGeek Weekend Trip #11, aku tidak akan menulis lebih detail tentang perjalanan ini di luar konteks posting ini. Jadi langsung saja di atas aku unggah foto-foto dari perjalanannya.

Aviation · EuroTrip · Trip Report · Vacation · Weekend Trip

#2001 โ€“ AvGeek Weekend Trip #12 (AMS โ€“ CDG โ€“ LHR โ€“ CDG โ€“ AMS)

ENGLISH

I went on an Avgeek Weekend Trip this weekend which was very interesting as it involved an Air France’s brand new (not even a month old) Boeing 787-9 Dreamliner. And here is the story of this fun weekend trip I just had.

The routing this weekend. Created with: gcmap.com

So as you know the routing this time was Amsterdam – Paris-CDG – London-Heathrow and back. And so I have decided to skip the Amsterdam – Paris-CDG vv part because I have flown this route so many times, haha. I would just go as far as saying that I flew an Air France’s Airbus A320-200 reg F-GKXL and a KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGW on these two flights.

An Air France’s Airbus A320-200 F-GKXL
A KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGW.

Paris – CDG, Terminal 2E Hall K

After arriving in Paris, I checked the transfer monitor and learned that my connecting flight to London would depart from Hall K of Terminal 2E. So I followed the signage to this hall, which was at the other side of Paris Charles De Gaulle Airport’s Terminal 2. I cleared immigration as well during this transfer, which was really a breeze because there was noone else, haha ๐Ÿ˜› .

At Hall K, I immediately went to the Air France’s lounge there. I just realized that this was actually my first time at a non-Schengen Air France Lounge at Paris-CDG Airport! Haha ๐Ÿ˜› . The lounge was really spacious, much more spacious than the two lounges at Terminal 2F, though the offering was pretty much the same.

Salon Air France at Terminal 2E Hall K

About an hour before departure, I left the lounge to look for the gate. Though I was travelling via Paris-CDG a lot, this was actually just my second time using its Hall K (the first time was when I was catching my Japan Airlines flight to Tokyo-Narita 2.5 years ago), so I wasn’t that familiar with this hall. The interior design of Paris – CDG Terminal 2E’s Hall K was really beautiful, btw. However, it was clearly not designed for avgeeks because it was very difficult to take pictures of the planes parked at this hall! Haha ๐Ÿ˜›

The beautiful Paris Charles De Gaulle Airport Terminal 2E Hall K

AF 1180 (CDG – LHR)


Flight: Air France AF1180
Equipment: Airbus A320-200 reg F-GKXJ with a Paris 2024 sticker
ATD: 19:24 CET (Runway 08L of CDG)
ATA: 19:14 BST (Runway 27R of LHR)

Anyway, my flight to London today would be operated with an Air France’s Airbus A320-200 reg F-GKXJ, which was plastered with a Paris 2024 sticker. F-GKXJ was actually parked at the gate next to the Air France Lounge and so I knew that this plane had been sitting there for quite some time. I guess due to the importance of its London-Heathrow route (London-Heathrow is considered as one of the most “premium” airports, in terms of the type of passengers it attracts, in the industry), Air France wouldn’t want to take the risk of any of its London-Heathrow flights being delayed; and so the long on-the-ground time.

An Air France’s Airbus A320-200 F-GKXJ with Paris 2024 sticker

Long story short, I boarded the plane and sat at my 6A seat in the first row of economy today. Not too long after, the push back began and the flight departed. We took off from runway 08L of Paris-CDG and headed northwest towards London. It was a short flight so the complimentary snack service was provided right away.

A flight to London-Heathrow wouldn’t be complete without the plane having to make a few turns above London before being allowed to land, haha. Unfortunately there was some cloud hanging above the city today so I couldn’t really see anything. Anyway, at 19:14 local time we landed at runway 27R of London-Heathrow Airport.

Landing at runway 27R of London-Heathrow

We had to taxi for quite a distance and time (due to the airport’s crowdedness), where I spotted a Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER being prepared for its non-stop flight back to Jakarta later tonight. And finally, we parked at a gate in Terminal 4 at the south part of the airport.

London-Heathrow

The last and only other time I was entering the UK via Heathrow was more than four years ago, haha. And I, sort of, forgot the possible inconvenience of entering London via this popular airport: a really long line at immigration!! The line was so long that I remembered the last time I encountered a line at least this “bad” was when I arrived in New York from Mexico City almost two years ago! While I wasn’t spending 90 minutes just for queuing this time (it was closer to 45 I think), it made me think that the next time I would travel to London, it would be better to arrive at London City Airport! Haha ๐Ÿ˜›

Rump steak for dinner

Anyway, I spent a night at a hotel nearby the airport today, where I also had my rump steak dinner.

The next morning, I checked out just before 7 AM to catch my 9:45 AM flight back to Paris. I already had my mobile boarding pass so I headed straight to security. The officer noticed the “Sky Priority” tag in my boarding pass and informed me that this allowed me to use the VIP security lane. Yeay! I didn’t have to queue with this lane and I cleared security in less than two minutes, haha.

The entrance to the SkyTeam Lounge at Heathrow

Once in the departure area, I looked for the SkyTeam Lounge at the airport. You see, London-Heathrow is not a SkyTeam airport but its importance means that a lot of SkyTeam airlines are using it. So to cater this, SkyTeam invests in a lounge at the airport’s Terminal 4, where most SkyTeam airlines fly to (Strangely, Garuda Indonesia operates from Terminal 3 despite it being a SkyTeam member).

The entrance to the lounge was quite small but the lounge itself was actually quite spacious, as it had two floors! I went to the upstairs area because the attendant told me breakfast was served there. The breakfast was actually quite decent with a selection of English or continental all you can eat breakfast. The design of the lounge itself was also really cool and looked so much better than the overall “outdated” feel of Terminal 4 of Heathrow, haha.

SkyTeam Lounge at Heathrow

AF 1681 (LHR-CDG)


Flight: Air France AF1681
Equipment: Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBC
ATD: 10:22 BST (Runway 27R of LHR)
ATA: 12:07 BST (Runway 26L of CDG)

I was very excited when I saw in my Flightradar24 app that my flight today would be operated with F-HRBC, Air France’s newest Boeing 787-9 Dreamliner that wasn’t even one month old! Unfortunately, the flight used Gate 2 today which was a horrible gate at the terminal because it was impossible to take a good picture of the plane! Haha ๐Ÿ˜›

Long story short, I boarded F-HRBC and sat at seat 18K. This time, I sat in the regular economy cabin unlike my last trip with an Air France’s Dreamliner where I sat in the premium economy cabin. I deliberately chose not to “upgrade” myself for the small fee because I would like to compare the two cabins, haha.

The regular economy cabin of Air France’s Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBC

The regular economy cabin was actually quite comfortable with good seat pitch and Air France’s newest IFE (Air France Touch).ย After all passengers boarded, the flight departed and the very chic safety demo was played on the IFE.

Don’t forget to put on your safety belt as, aside from ensuring our safety, it also elegantly hightlights your waistline…

Anyway, a departure from London-Heathrow wouldn’t also be complete without experiencing its traffic jam for take-off, haha. The departure runway this morning was runway 27R so we had to taxi for quite some distance there, and we encountered quite a traffic jam as we were nearing the runway. This doesn’t happen that often at Schiphol or Paris-CDG, and reminded me of Soekarno-Hatta International Airport in Jakarta! Haha ๐Ÿ˜› .

Traffic jam at Heathrow

Long story short, we finally took off and began our short hop to Paris-CDG. As in flight AF1180, the service began immediately after take-off. A Boeing 787-9 was a much bigger plane than an Airbus A320 so I could imagine the flight attendants must be feeling some kind of time pressure for the service, and they did a really great job! Overall it was a very pleasant and smooth flight with Air France’s F-HRBC. At 12:07 local time, we landed at runway 26R of Paris-CDG Airport.

Air France’s Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBC at Paris-CDG

The plane parked at Terminal 2E Hall L. Then I cleared security and immigration to transfer to Terminal 2F to catch my last flight of this trip back to Amsterdam with KLM.

BAHASA INDONESIA

Aku pergi dalam sebuahย Avgeek Weekend Trip akhir pekan kemarinย yang mana seru banget karena melibatkan sebuah Boeing 787-9 Dreamlinernya Air France yang baru banget (bahkan umurnya belum ada satu bulan). Dan berikut ini cerita dari akhir pekan seruku ini.

Rute akhir pekan ini. Dibuat dengan: gcmap.com

Rute kali ini adalah Amsterdam – Paris-CDG – London-Heathrow pp. Dan sudah kuputuskan aku tidak akan membahas penerbangan pp Amsterdam – Paris-CDGku karena aku sudah sering banget terbang di rute ini, haha. Cuma akan kusebutkan bahwa aku terbang dengan pesawat Airbus A320-200 rego F-GKXLnya Air France dan Boeing 737-700 rego PH-BGWnya KLM di dua penerbangan ini.

Sebuah Airbus A320-200 F-GKXLnya Air France
Sebuah Boeing 737-700 PH-BGWnya KLM.

Paris – CDG, Terminal 2E Hall K

Setelah tiba di Paris, aku mengecek monitor penerbangan transit dan aku diberi-tahu bahwa penerbangan lanjutanku ke London akan berangkat dari Hall K di Terminal 2E. Aku mengikuti petunjuk jalan ke arah sana, yang mana berada di sisi lain dari Terminal 2nya Bandara Charles De Gaulle. Aku melewati imigrasi ketika transit ini, yang mana berlangsung mulus banget karena nggak ada penumpang lain selain aku sehingga nggak perlu antri, haha ๐Ÿ˜› .

Di Hall K, aku langsung pergi ke lounge-nya Air France di sana. Aku baru sadar bahwa ini adalah kali pertama aku mampir di sebuah lounge non-Schengennya Air France di Bandara Paris-CDG loh! Haha ๐Ÿ˜› . Lounge-nya sendiri amat luas, lebih luas dari dua lounge-nya di Terminal 2F, walaupun layanannya sih kurang lebih sama lah.

Salon Air France di Terminal 2E Hall K

Sekitar satu jam sebelum waktu keberangkatan, aku meninggalkan lounge-nya menuju ke gate. Walaupun aku sering terbang melewati Bandara Paris-CDG, ini baru lah kali kedua aku menggunakan Hall K-nya (kali pertama adalah ketika aku menaikiย penerbangan Japan Airlines ke Tokyo-Narita 2,5 tahun lalu), jadi aku kurang begitu familier dengan hall ini. Disain interior hall ini indah dan kece banget sebenarnya, btw. Namun, jelas disainnya tidak ramah untuk avgeek karena sulit sekali untuk bisa mendapatkan foto pesawat yang diparkir di hall ini dengan oke! Haha ๐Ÿ˜›

Terminal 2E Hall K Bandara Charles De Gaulle Paris yang indah dan kece banget.

AF 1180 (CDG – LHR)


Penerbangan: Air France AF1180
Pesawat: Airbus A320-200 reg F-GKXJ dengan stiker Paris 2024
ATD: 19:24 CET (Runway 08L of CDG)
ATA: 19:14 BST (Runway 27R of LHR)

Anyway, penerbanganku ke London hari ini dioperasikan dengan Airbus A320-200nya Air France dengan rego F-GKXJ, yang ditempeli stiker Paris 2024. F-GKXJ sebenarnya diparkir di gate di sebelah lounge-nya Air France jadi aku tahu bahwa pesawat ini sudah diparkir di sana lumayan lama. Aku kira karena pentingnya rute London-Heathrow (London-Heathrow banyak dipandang sebagai satu dari bandara yang “premium”, dari segi tipe penumpang yang bepergian ke sana, di industri penerbangan), Air France tidak mau ambil risiko yang bisa menyebabkan penerbangan-penerbangan ke London-Heathrow terlambat; makanya pesawatnya diparkir lama di darat.

Sebuah Airbus A320-200 F-GKXJnya Air France dengan stiker Paris 2024

Singkat cerita, aku menaiki pesawatnya dan duduk di kursi 6A di barisan pertama ekonomi hari ini. Tak lama setelahnya, pesawat didorong mundur dan berangkat. Kami lepas landas dari landasan pacu 08L Bandara Paris-CDG dan kemudian berbelok ke arah barat laut menuju London. Karena durasi penerbangannya yang singkat, layanan snack langsung disajikan.

Yang namanya penerbangan ke London-Heathrow tak akan lengkap tanpa yang namanya berputar-putar dulu di atas London sebelum diberikan izin mendarat, haha. Sayangnya, langit London berawan malam ini sehingga aku tidak bisa melihat apa-apa. Anyway, jam 19:14 waktu setempat kami mendarat di landasan pacu 27R Bandara Heathrow.

Mendarat di landasan pacu 27R Bandara London-Heathrow

Kami harus taxiing cukup jauh dengan waktu lumayan lama (soalnya bandaranya ramai banget), dimana aku bisa melihat sebuah Boeing 777-300ERnya Garuda Indonesia sedang disiapkan untuk penerbangan non-stopnya ke Jakartaย malam itu. Dan akhirnya, pesawat diparkir di Terminal 4 di sisi selatan bandaranya.

London-Heathrow

Pertama dan terakhir kalinya aku masuk ke UK melalui Heathrow sebelum hari ini adalahย lebih dari empat tahun yang lalu, haha. Jadilah aku lupa mengenai kemungkinan ketidak-nyamanannya masuk ke London melalui bandara ini: antrian imigrasi yang gila panjangnya!! Antriannya panjang banget sampai aku langsung teringat terakhir kali aku menghadapi antrian imigrasi yang “separah” ini adalah ketika aku tiba di New York dari Mexico City hampir dua tahun yang lalu! Walaupun memang sih aku tidak menghabiskan 90 menit untuk mengantri kali ini (sekitar 45an lah), ini membuatku berpikir bahwa untuk perjalananku ke London yang selanjutnya, mendingan aku terbang ke Bandara London Cityย aja deh! haha ๐Ÿ˜›

Rump steak untuk makan malam

Anyway, aku menginap semalam di hotel di dekat bandara hari ini, dimana aku juga makan rump steak untuk makan malam.

Keesokan paginya, aku check-out sebelum jam 7 pagi untuk mengejar penerbangan jam 9:45ku ke Paris. Aku sudah memiliki mobile boarding pass sehingga aku langsung menuju ke area sekuriti. Petugasnya melihat label “Sky Priority” di boarding pass-ku dan memberi-tahuku bahwa dengannya aku bisa masuk melalui jalur pemeriksaan VIP. Hore! Di jalur ini aku nggak perlu ngantri dan melewati pemeriksaan sekuriti total dalam waktu kurang dari dua menit saja, haha.

Pintu masuk SkyTeam Lounge di Heathrow

Begitu di area keberangkatan, aku langsung mencari SkyTeam Lounge di terminal ini. London-Heathrow bukanlah bandara SkyTeam tetapi pentingnya bandara ini membuat maskapai-maskapai SkyTeam memiliki banyak penerbangan melalui bandara ini. Jadilah SkyTeam memutuskan untuk berinvestasi dengan membuka sebuah lounge di Terminal 4 bandara ini, dimana kebanyakan penerbangan SkyTeam diberangkatkan (Anehnya, Garuda Indonesia beroperasi di Terminal 3 padahal Garuda kan anggota SkyTeam juga).

Pintu masuk lounge ini cukup kecil tetapiย lounge-nya sendiri luas loh, dua lantai pula! Aku naik ke lantai atas karena petugasnya memberi-tahuku bahwa sarapan disajikan di sana. Pilihan sarapannya sendiri cukup oke dimana ada sarapan ala Inggris atau kontinental dengan model all you can eat. Disain lounge-nya sendiri juga keren banget dan nampak jauh lebih modern daripada Terminal 4nya Heathrow yang terasa “usang”, haha.

SkyTeam Lounge di Heathrow

AF 1681 (LHR-CDG)


Penerbangan: Air France AF1681
Pesawat: Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBC
ATD: 10:22 BST (Runway 27R of LHR)
ATA: 12:07 BST (Runway 26L of CDG)

Aku merasa bersemangat banget ketika aku lihat di app Flightradar24-ku bahwa penerbanganku akan dioperasikan dengan F-HRBC, Boeing 787-9 Dreamlinernya Air France yang paling baru yang umurnya bahkan belum ada satu bulan! Sayangnya, penerbangan hari ini menggunakan Gate 2 yang mana merupakan gate di terminal ini yang menyebalkan sekali karena tidak mungkin bagiku untuk bisa memfoto pesawatnya dengan sudut yang baik! haha ๐Ÿ˜›

Singkat cerita, aku menaiki F-HRBC dan duduk di kursi 18K. Kali ini, aku duduk di kabin ekonomi reguler, tidak seperti penerbanganku sebelumnya dengan Dreamlinernya Air France dimana aku duduk di kabin premium economy. Sengaja aku memilih untuk tidak meng-“upgrade” kursiku dengan biaya yang sebenarnya tidak terlalu mahal karena aku ingin membandingkan dua kabinnya, haha.

Kabin ekonomi reguler Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBCnya Air France

Kabin ekonomi regulernya ternyata cukup nyaman dengan seat pitch kursi yang oke dan IFE terbarunya Air France (Air France Touch). Setelah semua penumpang naik pesawat, kami berangkat dan video peragaan keselamatan yang chic banget ituย dimainkan di layar IFEnya.

Jangan lupa memasang sabuk pengaman karena, selain untuk memastikan keselamatan Anda, sabuknya juga meng-highlight lingkar pinggang Anda dengan elegan…

Anyway, yang namanya keberangkatan dari London-Heathrow tak akan komplit tanpa mengalami yang namanya kemacetan sebelum lepas landas, haha. Landasan pacu keberangkatan pagi ini adalah landasan 27R sehingga kami harus taxiing lumayan jauh ke sana, dan di dekat landasannya ada kemacetan untuk menunggu giliran lepas landas.ย Ini hampir tidak pernah terjadi di Schiphol atau Paris-CDG, dan mengingatkan akan Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta! Haha ๐Ÿ˜› .

Kemacetan di Heathrow

Singkat cerita, kami akhirnya lepas landas dan memulai penerbangan singkat ke Paris-CDG. Seperti di penerbangan AF1180, layanan snack-nya langsung disajikan setelah lepas landas. Boeing 787-9 berukuran lebih besar daripada Airbus A320 sehingga aku paham tentu pramugari/a-nya diburu-buru waktu ya untuk layanan ini, dan mereka meng-handle-nya dengan baik! Secara umum penerbangan ini adalah penerbangan yang nyaman dan mulus dengan F-HRBCnya Air France. Jam 12:07 waktu setempat, kami mendarat di landasan pacu 26R Bandara Paris-CDG.

Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBCnya Air France di Paris-CDG

Pesawat diparkir di Hall L Terminal 2E. Lalu, aku melewati pemeriksaan sekuriti dan imigrasi ketika transit ke Terminal 2F untuk mengehjar penerbanganku kembali ke Amsterdam dengan KLM.

My Interest · TV Show

#1998 – Star Trek: Discovery

ENGLISH

Not too long ago, I mentioned about the (what I had thought) neutral Star Trek: Voyager topic which suddenly “lost” its neutrality so I, to some degree, was “forced” to publish it asap. And here is the reason why:

In an unexpected (for me) turn of event of the year, it turned out that a new Star Trek series was released this September: Star Trek: Discovery!!ย ๐Ÿ˜ฑ

Yes people, there was a new Star Trek series!! As in a new one after Star Trek: Enterprise that was aired in the early 2000s!

Obviously as a self-proclaimed Trekkies, I was very excited about this! Luckily to me, I could find this series in the Dutch Netflix! So I guess afterall I would not need to worry about finding a new series to follow after marathoning the entire nine seasons of HIMYM anyway, haha ๐Ÿ˜› .

***

The first two episodes of the series were actually just “prologue”, where not even all of the main characters were introduced yet. I found it interesting that watching those first two episodes actually felt more like watching a Star Trek movie (though with a cliff-hanger ending) rather than a two-part episode of a Star Trek TV-series. But I guess this was intended ๐Ÿ™‚ .

This made the start of the show and the general outlook a “breathe of fresh air”, IMO. The main character of the show, Michael Burnham, was sentenced for life at the end of the prologue. We entered the main setting of the show, USS Discovery, in the third episode following her point of view, as a “newbie” and an “outcast” (Remember that she is a prisoner) in an already established crew and ship in the middle of their mission. She was invited to join the crew by the USS Discovery’s captain, Gabriel Lorca, himself who was, obviously, well aware of Burnham’s status which he didn’t care about.

Indeed it is interesting that the captain here arguably is not the lead character of the show, unlike other Star Trek series!! On top of that, casting Jason Isaacs, the actor who played Lucius Malfoy in the Harry Potter movies, as the captain was a brilliant decision because the captain was depicted, somehow, like a “freak” at the beginning of the series. So I think it was a perfect match ๐Ÿ™ˆ.

Anyway, the storyline took place at about 10 years before Star Trek: The Original Series timeline, and about 100 years before The Next Generation and Voyager. And so it felt a little bit funny to me that the technology in this series, due to the latest and more advanced CGI technique, appeared to be more advanced than those three other series while in the story, this series should have been much less advanced, haha ๐Ÿ˜› .

***

When I first learned about the timeline, to be honest I was a little bit disappointed. I mean, the “reboot” movie installments (which three movies have been produced since 2009) also “anchored” themselves around The Original Series. And so I wish for the TV series, the writers would have chosen to fall closer to The Next Generation or Voyager timeline. But this was probably me being biased, as I was more familiar with The Next Generation or Voyager.

Oh, and one more thing, somehow I don’t really like the design of USS Discovery.

Ah well, there is no use in complaining for now. I guess, it is better for me to just sit back, relax, and enjoy this unexpected surprise!! ๐Ÿ™‚

BAHASA INDONESIA

Belum berapa lama yang lalu, aku sebutkan bahwa topik yang (dulunya kukira) netral: Star Trek: Voyager tiba-tiba kehilangan “kenetralannya” sehingga “memaksaku” untuk mempublikasikan posting itu segera. Nah, ini lah alasan di balik itu:

Ternyata, tidak disangka-sangka (bagiku), sebuah seri baru Star Trek dirilis dong bulan September ini: Star Trek: Discovery!!ย ๐Ÿ˜ฑ

Iyaaa, satu seri baru dari Star Trek!! Baru dalam artian sekarang ada seri selanjutnya setelah Star Trek: Enterprise di awal 2000an!

Jelas dong sebagai orang yangย mengaku-aku sebagai Trekkies, aku excited banget dengan ini! Beruntungnya aku, aku bisa menemukan seri ini di Netflix-nya Belandaย loh! Jadi sepertinya memang aku tidak perlu galau mau menonton seri baru apa setelah selesai maraton menonton kesemua sembilan musim dari HIMYM, haha ๐Ÿ˜› .

***

Dua episode pertama dari seri ini ternyata hanyalah “prolog” saja, dimana bahkan belum semua karakter utamanya diperkenalkan. Bagiku menarik dimana menonton dua episode pertama justru serasa seperti menonton filmnya Star Trek (walaupun denganย cliff hanger di ending-nya) bukannya episode dengan dua bagian dari serial TV-nya Star Trek. Tetapi mungkin memang sengaja dibeginikan sih ya ๐Ÿ™‚ .

Ini membuat permulaan serinya dan serinya secara umum terasa “segar” untukku. Karakter utama seri ini, Michael Burnham, ceritanya dihukum penjara seumur hidup di akhir prolog. Nah, kita diajak memasuki setting seri ini, USS Discovery, di episode ketiga dengan mengikuti sudut pandangnya, sebagai “anak baru” dan “anak yang dijauhi/ditakuti/dibenci” (Ingat, dia ini berstatus tahanan penjara/napi) di dalam kru dan kapal yang sudah cukup “mapan” di tengah-tengah misi mereka. Ia diajak bergabung ke dalam kru langsung oleh kapten USS Discovery sendiri, Gabriel Lorca, yang mana tentu tahu mengenai status tahanan Burnham ini tetapi tidak ia pedulikan.

Memang menarik bahwa di seri ini, kaptennya bisa dikatakan bukan karakter paling utama dari acaranya, tidak seperti seri-seri Star Trek lainnya!! Di atas itu semua, pemilihan Jason Isaacs, aktor yang memainkan Lucius Malfoy di film-film Harry Potter, sebagai kaptennya juga adalah pilihan yang brilian karena kaptennya digambarkan seperti seorang yang “freak” gitu di awal serinya, haha. Jadi cocok kan ya ๐Ÿ™ˆ.

Anyway, jalan ceritanya berlangsung kurang lebih 10 tahun sebelum masanya Star Trek: The Original Series, dan sekitar 100an tahun sebelum masanya The Next Generation dan Voyager. Jadilah rasanya lucu juga dimana aku merasa teknologi di seri ini, akibat CGInya yang jelas lebih modern dan canggih di zaman sekarang kan, nampak lebih “maju” daripada di tiga seri lainnya itu; padahal dari segi lini masa kan seharusnya masih belum semaju itu ya ๐Ÿ˜› .

***

Btw, ketika aku pertama kali tahu mengenai lini masa ini, sejujurnya aku sedikit kecewa. Maksudku, seri film “reboot“-nya (yang mana tiga film layar lebar sudah diproduksi sampai saat ini) kan juga “berpatokan” pada The Original Series. Jadilah bagiku seri TV ini akan lebih oke andaikata lebih dekat ke linimasanya The Next Generation atau Voyager kan; supaya adil gitu. Tetapi pendapatku ini mungkin sedikit bias sih, karena aku lebih familier dengan The Next Generation atau Voyager.

Oh iya, penting banget nih. Entah mengapa aku kurang menyukai disain pesawat USS Discovery, haha.

Ah sudahlah, nggak ada gunanya komplain sekarang kan. Aku rasa, sekarang ini lebih baik aku duduk manis, bersantai, dan menikmati kejutan tak terduga ini!! ๐Ÿ™‚

Travelling

#1992 – BookWithMatrix

ENGLISH

It is well-known that the best way to know the existenceย of the best flight tickets, especially for long-haul ones for me, is through Google’s itamatrix software. The definition of “best” here can be anything, not just limited to, for instance, the cheapest possible one. For instance, say I want to travel from Amsterdam to Tokyo-Narita and my definition of “best” is: “the cheapest one with a SkyTeam airline with transits in Paris and Shanghai but not in Seoul with no transit longer than four hours and no overnight stops, on subclass L or N, and no flight with a propeller plane” on my departure flight and “the cheapest one with a SkyTeam airline with transit Seoul but not Rome with no transit longer than four hours, on subclass L or N, no flight with a propeller plane, and no redeye flight” on my return flight. I can ask the software to find a solution for me (provided that a solution exists). All I need to do is to not get overwhelmed by the few “programming” tricks to enter those conditions, haha.

Yep, I found a solution with my requirements above. As you see, all the airlines are SkyTeam, no transits of more than four hours, transits in Paris and Shanghai and not Seoul on the departure trip, transit in Seoul and not in Rome on the return trip, no propeller plane, all subclasses are L or N, and no redeye on the return trip. It might be funny that five or the six flights are officially AirFrance’s though none of the six are flown on an AirFrance’s metal, haha ๐Ÿ˜† .

However, the biggest problem with this software is that it only looks for the existence to a solution. The softwareย is not a travel agency and so you cannot purchase the ticket you have discovered that you might have liked. And as you can see, sometimes you end up with quite a complicated itinerary that wouldn’t show up in a regular online travel agency (OTA) website.

And as of recently, I have discovered a solution to that. So for an upcoming big trip of mine involving intercontinental flights (still yet to be revealed ๐Ÿ˜› ), I was looking for a good-value return ticket for months. Some conditions made my trip a little bit more complicated where I would need an open-jaw ticket (a ticket where I return from a different airport than where I originally arrive) with a specific airline with a specific subclass of travel. It was quite difficult as with the conventional OTAs, including the airline’s website itself, I only found tickets with higher subclass of travel making them much more expensive. However, I found a solution to my wants in itamatrix so it made the search a little bit annoying.

I found my return ticket with China Eastern to Bali last year with the help of itamatrix.

And then I came across BookWithMatrix. In short, it helps you find some OTAs which would issue the ticket you have just found in itamatrix. To be honest, at first I found it quite sketchy as what I would need to do is to literally select all, copy, and paste the entire page of the itinerary in itamatrix there. Though now that I think about it, it is not that weird with the advance of image recognition technology we have these days, haha. Anway, and so I was looking for some reviews and I found some articles, including those written by well-known travel bloggers, about their positive experience with the website. So I started to trust this awesomely-sound tool more.

Anyway, so I decided to just give the tool a try; with no expectation whatsoever. And you know what? I did FIND the ticket at an OTA with this tool!! The OTA itself was a famous one (I know about it) so I knew that it was legit, haha. I decided to just eff it and purchase the ticket (The OTA promised 24-hour of free cancellation anyway, haha). Then I got the confirmation email and the usual stuffs from the OTA. I checked online in the airline’s website, and I did find my reservation there so it was indeed legit. Just to be even more sure, I called the airline’s representative in the Netherlands and they did say the ticket was confirmed and it was all like I wanted.

Oh wow!! I guess I just found some gold here!! So farย I am really happy with this tool!! And I guess this will come in very handy in the future!!

Have any of you guys used this tool as well? ๐Ÿ™‚

BAHASA INDONESIA

Sudah banyak diketahui bahwa cara terbaik untuk mengetahui ada atau tidaknyaย tiket pesawat terbaik, terutama untuk penerbangan jarak jauh untukku, adalah dengan software itamatrix-nya Google. Definisi “terbaik” di sini bisa bermacam-macam lho, tidak hanya sebatas, misalnya, yang paling murah. Misalnya saja, katakanlah aku ingin pergi dari Amsterdam ke Tokyo-Narita dan definisi “terbaikku” adalah: “tiket yang paling murah dengan maskapai SkyTeam dengan transit di Paris dan Shanghai tetapi tidak di Seoul dimana per transitnya tidak lebih lama dari empat jamย dan tidak melibatkan transit yang harus menginap, di subclass L atau N, dan tidak mau terbang dengan pesawat baling-baling” di penerbangan keberangkatan dan “yang termurah dengan maskapai SkyTeam dengan transit di Seoul tetapi tidak di Roma dengan per transit tidak lebih lama dari empat jam, di subclass L atau N, tidak mau terbang dengan pesawat baling-baling, dan tidak mau penerbangan malam/redeye” di penerbangan kepulanganku. Aku bisa meminta software-nya untuk mencarikan solusinya untukku (dengan catatan jika solusinya ada ya). Yang perlu kulakukan adalah tidak perlu terlalu “takut” dengan sedikit trik “programming” untuk memasukkan kondisi-kondisi ini, haha.

Yup, solusi yang memenuhi mauku di atas ada loh. Seperti yang bisa dilihat, semua maskapainya adalah SkyTeam, tidak ada transit yang lebih lama dari empat jam, transit di Paris dan Shanghai dan tidak di Seoul di penerbangan keberangkatan, transit di Seoul dan tidak di Roma di penerbangan kepulangan, tidak melibatkan pesawat baling-baling, subclass-nya L atau N, tidak ada penerbangan malam/redeye di penerbangan pulang. Eh mungkin agak lucu ya lima dari enam penerbangannya secara resmi adalah dengan AirFrance tetapi tidak satu pun penerbangannya menggunakan pesawatnya AirFrance, haha ๐Ÿ˜† .

Namun, masalah terbesar dari itamatrix adalah software-nya hanya mencariย ada atau tidaknya suatu solusi.ย Softwareย ini bukanlah travel agentย sehingga kita tidak bisa membeli tiket yang kita temukan di sana padahal tiketnya kita suka. Dan seperti yang bisa dilihat, bisa jadi kadang kita menemukan itinerary yang cukup rumit sehingga pilihan tiket ini tidak akan muncul di website online travel agency (OTA) biasa.

Akhir-akhir ini, kebetulan aku menemukan solusi untuk itu. Jadi untuk sebuah perjalanan besarku yang akan datang ย yang melibatkan penerbangan-penerbangan antar-benua (masih belum saatnya kuceritakan nih ๐Ÿ˜› ), aku telah mencari tiket pp yang value-nya oke selama berbulan-bulan. Beberapa kondisi membuat perjalanan ini cukup rumit dimana aku membutuhkan tiket open-jaw (tiket dimana aku pulang dari bandara yang berbeda dari bandara ketibaanku di keberangkatan) dengan sebuah maskapai spesifik dengan sebuah subclass spesifik. Aku tidak bisa menemukannya dengan OTA biasa, bahkan juga di website maskapainya sendiri, dimana aku hanya menemukan tiket dengan subclass lebih tinggi yang mana artinya harganya juga mahal. Namun, aku menemukan solusinya di itamatrix makanya rasanya gemes lah ya.

Aku menemukan tiket pp-ku dengan China Eastern ke Bali tahun lalu dengan bantuan itamatrix.

Dan kemudian aku menemukan BookWithMatrix. Secara singkat, ini adalah alat untuk menemukan OTA yang bisa menjual tiket sesuai spesifikasi yang kita temukan di itamatrix. Sejujurnya, awalnya aku sedikit curiga soalnya yang perlu kita lakukan adalah men-select all, copy, dan paste halaman itinerary di itamatrix di sana. Walaupun sekarang kalau dipikir-pikir lagi sih, nggak aneh juga sih ya dengan kemajuan teknologi di bidang image recognition zaman sekarang, haha. Anyway, jadilah aku mencari review-nya dan aku menemukan beberapa artikel, termasuk yang ditulis oleh beberapa travel bloggers terkenal, mengenai pengalaman positif mereka dengan alat ini. Jadilah aku lebih percaya, haha.

Anyway, jadilah aku memutuskan untuk mencobanya; tanpa ekspektasi apa pun lah. Dan apa yang terjadi? Aku MENEMUKAN tiketnya dijual di satu OTA dong!! OTAnya sendiri adalah OTA besar (aku tahu namanya gitu) sehingga aku cukup yakin ini legit, haha. Aku memutuskan untuk nekad aja dan membeli tiketnya (OTAnya sendiri menjanjikan free cancellation selama 24 jam sih jadi mestinya aman lah ya, haha).ย Lalu seperti biasanya aku mendapatkan email konfirmasi dan sebagainya dari OTAnya. Untuk memastikan, aku cek langsung di website maskapainya dan ternyata aku bisa menemukan reservasiku di sana sehingga artinya ini legit lah ya. Untuk lebih memastikan lagi, aku menelepon langsung kantor maskapainya di Belanda dan mereka juga memastikan tiketku sudah terkonfirmasi di sistemnya dan semuanya sesuai seperti yang kuinginkan.

Oh wow!! Rasanya seperti baru menemukan harta karun nih!! Sejauh ini aku senang banget deh dengan alat ini!! Dan aku rasa ini akan berguna banget buat ke depannya!!

Apakah sudah ada yang pernah menggunakannya juga? ๐Ÿ™‚

Aviation · EuroTrip · Trip Report · Vacation · Weekend Trip

#1990 – AvGeek Weekend Trip #10 (AMS โ€“ OSL โ€“ CDG โ€“ AMS)

ENGLISH

Not too long ago, I went on another AvGeek Weekend Trip with quite an interesting routing:

The routing this weekend. Map created with gcmap.com

At first, I didn’t plan to write a self-standing post of the trip. But I changed my mind after the experiences I had during the trip, which actually made the trip unique enough for a self-standing post. Anyway, this post is the self-standing post and let just the story begin…

KLM KL1143 (AMS – OSL)

Flight: KLM KL1143
Equipment: Boeing 737-700 reg PH-BGQ named “Wielewaal”
ATD: 09:23 CET (Runway 24 of AMS)
ATA: 10:54 CET (Runway 01L of OSL)

To save some budget, I chose KLM’s 09:20 flight to Oslo (the 11:50 would have been better schedule-wise, but it was also much more expensive). Consequently, I had to depart from home quite early. And I departed a bit too early, actually, where I arrived at the tram stop some 20 minutes before the scheduled service! (I should have checked the transportation app indeed, so it was my fault).

A KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGQ which would take me to Oslo today.

Long story short, I arrived at Schiphol, waited and had my breakfast at KLM’s Crown Lounge, and boarded the plane: a KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGQ. The flight itselft was a pleasant regular intra-European flight with KLM. I sat next to (I assume) a professor who was working on his grant proposal and was so into his work that he refused all the KLM service provided on his flight, haha.

Anyway, as I said in the teaser post, I was lucky that I was sitting on a window seat in the left side of the plane and the flight was landing at runway 01L. This provided me with a really cool bird’s eye view of the city of Oslo!

Oslo, not Solo!

Oslo-Gardermoen Airport

I have been to Oslo before, just a little over two years ago, actually. But somehow, I didn’t remember Oslo-Gardermoen Airport to be as good and cool as I encountered during this trip! Seriously, I found the terminal building to be really beautiful, one of the most beautiful one in Europe that I have been to!

Oslo-Gardermoen Airport

Anyway, one reason why I said KLM’s 11:50 flight would have been better scheduled-wise was that now, I had an almost six hours of transit, haha. I didn’t feel like going to the city of Oslo, so I was “stuck” at the (beautiful) airport. Though, I wasn’t worried at all as I knew that Air France/KLM had a cooperation with a lounge at the airport. The lounge was the OSL Lounge, located pretty much next to SAS’ business lounge.

OSL Lounge at Gardermoen Airport

The lounge itself was actually quite good! It wasn’t the most spacious lounge in terms of space, but the service and facilities were quite nice. There were quite some selections of drink and (typical lounge) food. The seats were generally comfortable as well. There was a row of three or four recliner chairs which I settled myself onto one of them. The chairs were quite old, actually, but they still worked fine and were still quite comfortable.

Air France AF1375 (OSL – CDG)

Flight: Air France AF1375 operated by HOP! Regional
Equipment: Embraer ERJ190 reg F-HBLE
ATD: 17:01 CET (Runway 01L of OSL)
ATA: 18:50 CET (Runway 26L of CDG)

I boarded my second flight today at around 16:10. It was an Air France flight that was operated by HOP! Regional’s Embraer ERJ190 reg F-HBLE. I sat on my 3F seat in the 2-2 configured plane which was super comfortable today because the seat next to me was vacant, yeay! Haha ๐Ÿ˜† Long story short, the plane departed and took off from runway 01L of Oslo-Gardermoen Airport.

Taking off from runway 01L of OSL with HOP! Regional’s Embraer 190

Not long after take-off, the snack service was provided. And I was pleasantly surprised to see that the service standard was higher than the other regular intra-European Air France flights I had taken before. First of all, there were actually options for the sandwich service (chicken or vegetarian sandwich). And second of all, rosรฉ wine was available as one of the wine options! Options and rosรฉ wine were something I had never encountered in short-haul intra-European Air France flights before!

The service on board flight AF1375 from Oslo to Paris. Rosรฉ wine was available and there were chicken or vegetable choices for the sandwich!

I tried to figure out the reason behind this. And then, it hit me that this AF1375 was actually my first intra-European flight with Air France (though operated by HOP! Regional) that was blocked for more than two hours one-way (its scheduled departure time was 16:45 with arrival time of 19:10, making it a 2 hours 25 minutes flight). I knew KLM had different level of service for flights below and above two-hours block, so it was not surprising that Air France appeared to have one too!

Aside from that, it was a pleasant regular flight with Air France and at 18:50, we landed at runway 26L of Paris – Charles De Gaulle Airport. The plane parked at Terminal 2G so I had to take the transfer bus to Terminal 2F.

HOP! Regional’s Embraer ERJ190 reg F-HBLE at Terminal 2G of Paris-CDG after arriving as flight AF1375 from Oslo.

KLM KL1246 (CDG – AMS)

Flight: KLM KL1246
Equipment: Boeing 737-700 reg PH-BGN named “Jan van Gent”
ATD: 20:25 CET (Runway 27L of CDG)
ATA: 21:10 CET (Runway 18R of AMS)

After a super quick dinner at Salon Air France at Terminal 2F, I boarded my KLM flight back to Amsterdam today, that was a Boeing 737-700 reg PH-BGN flight KL1246, Air France/KLM’s last flight to Amsterdam from Paris. This was actually a pleasant regular short-haul flight with KLM so there was not much to tell from the flight itself.

However, though, from my side I encountered an “interesting” experience. Suddenly just after the snack service began, I started to feel a terrible stomachache where I needed to go to a toilet soon. But then, it was already halfway through the flight (which was a short one anyway) and the flight attendants were still very busy in the aisle distributing the service. On top of that, I was sitting on a window seat with both the aisle and middle seats next to me taken. And so I thought that it was a short flight anyway so we would land at Schiphol soon and in the meantime I could just “hold” it, haha.

A KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGN which brought me back to Amsterdam today.

But then, as I suspected as it was an evening flight and was the worst scenario for my situation, we landed at the friggin’ Polderbaan! Damn!! So we had to taxi for another like 15 minutes before arriving at Pier D of Schiphol. Even then, it turned out that the nearest toilet to the gate was under maintenance at the time!ย Well, talking about my “luck” this evening๐Ÿ˜….

BAHASA INDONESIA

Pertengahan September kemarin, aku pergi dalam sebuahย AvGeek Weekend Tripย lagi dengan rute yang cukup menarik:

Rute akhir pekan kali ini. Peta dibuat dengan gcmap.com

Awalnya, aku berencana untuk tidak menulis posting tersendiri tentangnya. Tetapi rencana ini harus kuubah karena setelah pengalaman-pengalamanku di perjalanan ini, yang mana membuat perjalanannya cukup unik untuk dijadikan sebuah posting tersendiri. Posting ini adalah posting tersebut, dan langsung kita mulai saja lah ya…

KLM KL1143 (AMS – OSL)

Penerbangan: KLM KL1143
Pesawat: Boeing 737-700 reg PH-BGQ bernama “Wielewaal”
ATD: 09:23 CET (Runway 24 of AMS)
ATA: 10:54 CET (Runway 01L of OSL)

Untuk mengirit biaya, aku memilih penerbangannya KLM jam 09:20 pagi ke Oslo (penerbangan yang jam 11:50 sebenarnya lebih enak sih dari segi jadwal, tetapi masalahnya tiketnya juga lebih mahal lumayan, haha). Sebagai akibatnya, aku harus berangkat pagi deh. Dan aku malah berangkat kepagian lho, dimana aku tiba di halte tramnya 20 menit sebelum tramnya dijadwalkan berangkat! (Iya, seharusnya aku mengecek app transportasi umum dulu sebelum berangkat. Salahku sih memang).

Sebuah Boeing 737-700nya KLM rego PH-BGQ yang akan membawaku ke Oslo hari ini.

Singkat cerita, aku tiba di Schiphol, menunggu sekalian sarapan di KLM Crown Lounge, dan menaiki pesawatku: sebuah Boeing 737-700nya KLM dengan rego PH-BGQ. Penerbangannya sendiri adalah penerbangan reguler intra-Eropa yang nyaman dengan KLM. Aku duduk di sebelah seorang (yang kuasumsikan) profesor gitu yang sibuk mengerjakan proposal permohonan funding untuk risetnya di sepanjang jalan. Ia sebegitu seriusnya dengan pekerjaannya sampai-sampai semua layanannya KLM di penerbangan ini ia tolak loh, haha.

Anyway, seperti yang kuceritakan di posting yang dulu, aku beruntung aku duduk di kursi jendela di sisi kiri pesawat dan penerbangannya sendiri mendarat di landasan pacu 01L. Ini memberikanku pemandangan kota Oslo dari atas yang mana kece banget!

Oslo, bukan Solo!

Bandara Oslo-Gardermoen

Aku sudah pernah ke Oslo sebelumnya,ย dua tahun lebih sedikit yang lalu, sebenarnya. Tetapi entah bagaimana, aku tidak ingat dong bahwa Bandara Oslo-Gardemoen itu keren banget seperti yang kulihat di perjalanan ini! Beneran deh, bagiku gedung terminalnya indah banget, termasuk salah satu yang terindah yang pernah kukunjungi di Eropa!

Bandara Oslo-Gardermoen

Anyway, satu alasan mengapa kubilang penerbangannya KLM yang jam 11:50 itu lebih ideal dari segi jadwal karena sekarang aku harus transit selama enam jam, haha. Aku sedang merasa malas untuk pergi ke kota Oslo dan jadilah aku jadi “terjebak” di bandaranya (yang kece banget) kan. Walaupun aku nggak khawatir juga sih karena aku tahu Air France/KLM memiliki kerja-sama dengan sebuah lounge di bandaranya. Lounge-nya adalah OSL Lounge, yang berlokasi di sebelah lounge kelas bisnisnya SAS.

OSL Lounge di Bandara Gardermoen

Lounge-nya sendiri cukup oke lho! Memang sih dari segi ukuran nggak sebegitu besar, tetapi layanan dan fasilitasnya memadai banget kok. Ada cukup banyak pilihan minuman dan makanan (yang mana tipikal makanan lounge gitu sih). Kursi-kursinya juga cukup nyaman. Ada sebaris kursi recliner yang mana salah satunya aku gunakan, haha. Kursinya sudah cukup tua sih, tetapi masih bekerja dengan baik dan cukup nyaman kok.

Air France AF1375 (OSL – CDG)

Penerbangan: Air France AF1375 dioperasikan oleh HOP! Regional
Pesawat: Embraer ERJ190 rego F-HBLE
ATD: 17:01 CET (Runway 01L of OSL)
ATA: 18:50 CET (Runway 26L of CDG)

Aku menaiki penerbangan keduaku sekitar jam 16:10. Ini adalah penerbangannya Air France yang dioperasikan oleh HOP! Regional dengan pesawat Embraer ERJ190 rego F-HBLE. Aku duduk di kursi 3F di pesawat yang dikonfigurasi 2-2 ini yang hari ini nyaman banget soalnya kursi di sebelahku kosong dong, hore! Haha ๐Ÿ˜† . Singkat cerita, pesawatnya berangkat dan lepas landas dari landasan pacu 01L Bandara Oslo-Gardermoen.

Lepas landas dari landasan pacu 01L-nya OSL dengan Embraer 190nya HOP! Regional

Tak lama setelah lepas landas, layanan snack dibagikan. Dan aku dikejutkan (secara positif) dengan standar layanannya yang lebih tinggi daripada standar layanan di penerbangan-penerbangan intra-Eropanya Air France yang sudah pernah kunaiki sebelumnya. Pertama-tama, ada pilihan lho untuk menu sandwich-nya (ayam atau vegetarian). Dan yang kedua, bahkan ada anggur rosรฉ sebagai salah satu pilihan anggurnya! Pilihan dan anggur rosรฉ kan tidak pernah aku temui di penerbangan jarak dekat intra-Eropa dengan Air France sebelumnya!

Layanan di penerbangan AF1375 dari Oslo ke Paris. Anggur rosรฉ tersedia dan ada pilihan sandwich ayam atau vegetarian!

Aku mencoba menerka alasan di balik ini. Dan kemudian, barula aku sadar bahwa penerbangan AF1375 ini adalah penerbangan intra-Eropaku dengan Air France (walaupun dioperasikan oleh HOP! Regional) yang pertama yang diblok berdurasi lebih dari dua jam satu arah (penerbangannya dijadwalkan berangkat jam 16:45 dan tiba jam 19:10, artinya panjangnya 2 jam 25 menit). Aku tahu bahwa KLM memang memiliki pembedaan standar layanan untuk penerbangan di bawah atau di atas blok dua jam, jadi tidak mengherankan kalau Air France memiliki prosedur serupa ya!

Di samping itu, ini adalah penerbangan yang nyaman dengan Air France. Dan jam 18:50, pesawat mendarat di landasan pacu 26L Bandara Paris – Charles De Gaulle. Pesawat parkir di Terminal 2G sehingga aku harus menaiki bus transfer ke Terminal 2F.

Embraer ERJ190 rego F-HBLEnya HOP! Regional di Terminal 2G Paris – CDG setelah tiba dari Oslo sebagai penerbangan AF1375.

KLM KL1246 (CDG – AMS)

Penerbangan: KLM KL1246
Pesawat: Boeing 737-700 rego PH-BGN bernama “Jan van Gent”
ATD: 20:25 CET (Runway 27L of CDG)
ATA: 21:10 CET (Runway 18R of AMS)

Setelah makan malam super kilat di Salon Air France di Terminal 2F, aku menaiki penerbangan KLMku untuk kembali ke Amsterdam. Penerbangannya dioperasikan dengan pesawat Boeing 737-700 rego PH-BGN penerbangan KL1246, penerbangan Air France/KLM terakhir ke Amsterdam dari Paris hari ini. Ini adalah penerbangan reguler yang nyaman dengan KLM seperti biasanya sehingga sebenarnya nggak banyak yang bisa diceritakan dari penerbangannya sendiri.

Tetapi, aku mengalami kejadian yang “menarik”. Tiba-tiba setelah layanan snack dimulai, aku mulai sakit perut yang cukup parah yang membuatku merasa perlu untuk pergi ke toilet. Tetapi masalahnya, penerbangannya sudah berlangsung setengah jalan (mana ini adalah penerbangan singkat pula) dan pramugari/a-nya juga sedang sibuk di lorong untuk membagikan snack dan minuman. Ditambah lagi, aku duduk di kursi jendela sementara kursi lorong dan tengah di sebelahku terisi. Jadilah aku pikir karena toh penerbangannya singkat, nggak lama lagi pesawat akan mendarat di Schiphol dan untuk sementara itu bisa lah aku “tahan”, haha.

Sebuah Boeing 737-700 rego PH-BGN-nya KLM yang membawaku kembali ke Amsterdam hari ini.

Tetapi kemudian, seperti yang kuduga karena penerbangan malam dan merupakan skenario terburuk untuk situasiku, kami mendarat di Polderbaan laknat itu dong! Sialan!! Pesawat harus taxiing selama sekitar 15 menit sebelum tiba di Pier D di Bandara Schiphol. Setelah itu pun, ternyata toilet yang terdekat dengan gate-nya sedang direnovasi dong waktu itu! ย Ini Dewi Fortunaku lagi “liburan” atau bagaimana ini ya malam iniย ๐Ÿ˜….