my apartment, Zilko's Life

#2130 – Ironing

ENGLISH

Of all house chores, one which I think of least importance, in terms of effort and the added-value, is ironing, haha ๐Ÿ˜† . I mean, I don’t deny that it serves a function. However, given the effort that needs to come with it and what I would get as the added-value, I feel like its function could be … , well, “substituted”. Let me explain…

I have learned (since having to pretty much do all the house chores myself, and that was since moving to the Netherlands in 2010, haha) that the “added-value” you would get from ironing is not constant across different types of clothes. For instance, shirts benefit a lot from ironing but it is less for t-shirts. On top of that, some washing machines and dryers even have this “iron-free” function which would help reduce the wrinkles quite a lot.

All of these mean that if I plan my outfit accordingly, I would be able to minimize my need of ironing. And so my time and energy which would have been spent on this dull activity could be spent somewhere else doing something less dull! Haha ๐Ÿ˜† . I could achieve this by, for instance, avoiding wearing shirts as much as possible. No wrinkled shirts that need to be ironed means no need for ironing! Profit! Lol ๐Ÿ˜† .

How about work then? Well, I have been fortunate thus far. The university, where I did my Master and PhD, and my current office are both very relaxed and casual in this department; as in there is no need to be all formal and have that typical “white collar” look at work. For all I care, I can just wear a t-shirt and shorts, as long as they look “decent”, to work and noone would bat an eyelid (which some of my colleagues have been doing recently, given the recent Dutch climate, haha). And so I can proceed with my strategy of no shirts as much as possible, which also happens to be very comfortable! ๐Ÿ˜€

My previous two apartments in Delft, which I rent “all-in” (i.e. both came with furnitures and all that), though, also had an iron and its board. So in case I needed to iron, I had the means to; even though as a result of my pragmatic approach, I did not need to use those them often anyway. And ever sinceย I moved to Amsterdam, thus far I have been able to get away with not having the tools I would have needed for ironing, haha ๐Ÿ™ˆ.

Having said that, lately, slowly but gradually somehow I started to think that perhaps there would no harm in at least having the tools I would have needed in case I would need them. Plus, the fact is that I do have some shirts and other types of clothes, like non-jeans pants, etc, which need to be ironed once in a while anyway. And so just recently I decided to buy an ironing board from a store nearby my apartment and an iron online (which store happened to be running an extra Flying Blue miles earning per euro promotion at the time, good timing! ๐Ÿ˜› ).

Yeah, so now I officially have the means I would need to iron in my apartment. And this weekend, I just did! Lol ๐Ÿ˜†

Anyway, so what do you think of ironing?

Ironing

BAHASA INDONESIA

Dari semua pekerjaan rumah-tangga, satu yang menurutku paling tidak penting, dalam hal banyaknya usaha yang harus dikeluarkan dan nilai-tambah dari pekerjaannya, adalah menyetrika, haha ๐Ÿ˜† . Maksudku, aku bukannya bilang menyetrika itu tiada guna ya. Namun, dengan mempertimbangkan besarnya usaha yang harus dikeluarkan untuk melakukannya dan nilai-tambah dari apa yang dihasilkan dari kegiatan ini, aku rasa kok kegunaannya itu … bisa “disubstitusi”. Mari aku jelaskan…

Berdasarkan pengalamanku (semenjak harus mengerjakan semua pekerjaan rumah-tangga sendiri, yaitu semenjak pindah ke Belanda di tahun 2010, haha) “nilai-tambah” dari menyetrika itu tidak konstan terhadap tipe dari pakaian. Misalnya, kemeja memang sangat butuh untuk disetrika sementara kaus tidak terlalu. Di samping itu, toh beberapa mesin cuci dan dryer kan sekarang memiliki fitur “bebas-setrika” ya yang mana lumayan mengurangi kerut-kerutan di pakaiannya itu.

Ini semua berarti apabila apa yang aku kenakan aku rencanakan dengan tepat, aku bisa meminimalisir kebutuhanku akan menyetrika. Dan artinya waktu dan energiku yang bakal dihabiskan untuk aktivitas membosankan ini bisa aku gunakan untuk kegiatan lain yang lebih tidak membosankan! Hahaha ๐Ÿ˜† . Ini bisa aku capai dengan, misalnya, menghindari memakai kemeja sebisa mungkin. Kalau tidak ada kemeja yang perlu disetrika artinya aku tidak perlu menyetrika kan ya! Untung deh! Haha ๐Ÿ˜†

Tapi kantor gimana dong? Hmm, sejauh ini sih aku beruntung sekali. Universitas, tempat dimaa aku merampungkan studi S2 dan S3 (PhD)-ku, dan kantorku sekarang mah santai dan kasual banget untuk urusan ini; dalam artian tidak ada kewajiban untuk mengenakan pakaian formal a la pekerja “kerah putih” seperti anak kantoran gitu. Kalau mau, bisa-bisa saja aku mengenakan kaus dan celana pendek ke kantor kok, selama masih “layak” tentunya ya, dan tidak akan ada yang menggubris (yang mana banyak kolegaku lakukan sih akhir-akhir ini, yang mana memangย iklim di Belanda baru-baru in cocok untuk penampilan ini, haha). Dan jadilah aku menjalankan strategi untuk sedapat mungkin tidak mengenakan kemeja, yang mana kebetulan juga nyaman kan ya! ๐Ÿ˜€

Dua apartemenku yang sebelumnya di Delft, yang mana aku sewa “all-in” (maksudnya sewanya termasuk mebel dan segalanya gitu), sebenarnya juga menyediakan setrika dan papan setrika. Jadi jika aku butuh menyetrika, alat-alatnya sudah disediakan; walaupun memang karena pendekatan pragmatisku ini, aku tidak perlu sering-sering menggunakannya sih. Dan semenjak pindah ke Amsterdam, sejauh ini sih aku masih aman-aman saja kok tanpa setrika, hahaย ๐Ÿ™ˆ.

Walaupun begitu, akhir-akhir ini, perlahan-lahan tapi pasti aku mulai berpikir bahwa mungkin tidak ada salahnya untuk setidaknya memiliki peralatan yang aku butuhkan untuk menyetrika di apartemenku. Di tambah lagi, toh sebenarnya aku juga memiliki kemeja dan beberapa jenis pakaian, misalnya celana non-jeans, dll, yang sebenarnya butuh disetrika uga kan ya. Dan jadilah belum lama ini aku memutuskan untuk membeli setrika dan papan setrika. Papan setrikanya aku beli di sebuah toko di dekat rumahku, dan setrikanya aku beli online (yang mana kebetulan banget tokonya sedang ada promosi ekstra Flying Blue milesย untuk setiap euro yang aku keluarkan, timing-nya pas sekali! ๐Ÿ˜› ).

Ya gitu deh, jadilah sekarang resmi sudah aku memiliki peralatan yang aku butuhkan andaikata aku lagi ingin menyetrika di apartemenku. Dan akhir pekan kemarin ini, ini baru saja aku lakukan! Haha ๐Ÿ˜† .

Anyway, bagaimanakah pendapat kalian tentang menyetrika?

Menyetrika
Advertisements
my apartment, Thoughts, Zilko's Life

#2090 – One Year An Apartment Owner

ENGLISH

April 2018, this means that I have beenย a home owner for a year now! How does this feel?

Well, to be honest, it still feels kind of the same as before, haha ๐Ÿ˜† . I still have to spend some amount of euro each month to “pay” for my accommodation. So that post still exists in my monthly expense. The difference, though, before I paid rent whereas in the past year I have been paying my mortgage ๐Ÿ˜€ . There are, though, a few extra expenses which I have to spend as a home owner too, ranging from the apartment’s monthly maintenance cost and all the different taxes related to it, haha ๐Ÿ˜› .

Of course the benefit of renting a placeย is the (almost) no strings attached commitment to it. If you don’t like it, you can easily leave. Especially in the Netherlands, a renter is very well protected by law so as a renter you have a lot of rights. On top of that, any maintenance cost related to the place you rent is normally the responsibility of the owner. I experienced this myself in the past year, where I had some non-negligible expenses related to the maintenance of my apartment; which I obviously had to cover myself.

Having said that, I actually enjoy the feeling of “owning” the place I live in. Somehow I value “owning” more than all those flexibilities as a renter here. I don’t know, perhaps this way I feel like I have more of a “surety” which, admittedly, provides more security feeling.

Yeah anyway, cheers to my apartment’s anniversary!

Source: http://giphy.com/gifs/leonardo-dicaprio-drinking-fireworks-GCLlQnV7wzKLu

BAHASA INDONESIA

April 2018, artinya aku sudah menjadiย pemilik rumah selama satu tahun sekarang! Bagaimanakah rasanya?

Hmm, sejujurnya rasanya masih sama aja kayak sebelumnya sih, haha ๐Ÿ˜† . Setiap bulan aku masih harus menyisihkan sekian euro untuk “membayar” akomodasiku. Jadi pos ini masih tetap ada di pengeluaran bulananku. Bedanya, sebelumnya aku membayar sewa sementara setahun terakhir ini aku membayar hipotek, haha ๐Ÿ˜€ . Ada juga beberapa pengeluaran ekstra yang harus aku bayar sebagai pemilik rumah, mulai dari biaya bulanan maintenance apartemen hingga segala jenis pajak yang berkaitan dengannya, haha ๐Ÿ˜› .

Tentu saja keuntungan dari menyewa tempat adalah sifat komitmen (nyaris) no strings attached. Kalau nggak suka ya tinggal pindah. Apalagi di Belanda, penyewa rumah itu amat dilindungi oleh hukum loh dimana penyewa memiliki banyak sekali hak. Di atas itu semua, biaya maintenance dari tempat yang disewa adalah tanggung-jawab pemilik. Ini aku alami sendiri setahun belakangan ini, dimana aku ada beberapa pengeluaran yang lumayanย berkaitan dengan urusan maintenance apartemen ini; yang mana jelas harus aku tanggung sendiri.

Walaupun begitu, aku menikmati perasaan “memiliki” tempat tinggalku ini. Entah mengapa aku memberikan nilai lebih pada perasaan “memiliki” ini daripada fleksibilitas yang bisa didapatkan sebagai penyewa. Nggak tahu ya, mungkin ini membuatku merasa memiliki “pegangan” gitu yang memberikan perasaan “aman”.

Ya anyway, tos untuk satu tahun apartemenku!

Source: http://giphy.com/gifs/leonardo-dicaprio-drinking-fireworks-GCLlQnV7wzKLu
Contemplation, my apartment, Thoughts, Zilko's Life

#1986 – Bed First World Problem

ENGLISH

So you know I have decided to “invest” in better products for the basic furnitures I bought for my apartment. One of those basic furnitures is my bed.

But obviously I did not buy this โ‚ฌ5000 (after discount price) bed even though it was super comfortable. I still had some sense with my budget and spending, haha ๐Ÿ˜†

So I decided to spend a little bit more and buy a better bed for myself (Even though obviously not theย โ‚ฌ5000 after-discount bed pictured above, lol ๐Ÿ˜† ). And I have to say it was one of the best decisions I have made this year!! The bed was sooo gooooood; that it justified the amount I needed to blow invest for it.ย Haha ๐Ÿ˜† .

Though, this was not without any “problem”, of course. I mean, now that I have been accustomed to a certain standard of sleeping comfort, somehow hotel beds I encounter during my frequent travels impress me much less these days, haha ๐Ÿ˜† .

You see, before when I still lived in my rental shared-house in Delft (which came in all-furnished, i.e. I didn’t have to bring my own furniture), the bed that I got was the one on the “cheap”-er range. It was okay. I mean, I lived there for almost two years anyway and I never complained about it. So I guess I grew accustomed to it. But this also meant that everytime I travelled somewhere and stayed in a (better range) hotel, I was looking forward for the room and, especially, the bed! Haha ๐Ÿ˜†

I was really looking forward to my stay at this five-star hotel in Frankfurt last year.

But now, somehow things have changed after I got my new bed; and I didn’t really notice it at first. I was still going to my trips with pretty much the same level of excitement as before. However, somehow I stopped feeling “wowed” in terms of comfort with the beds that I got, haha ๐Ÿ˜† . I mean, those were still comfortable, obviously, but somehow the comfort just felt “normal” and not anything out of the ordinary, haha ๐Ÿ˜† .

My recent summer weekend trip to London made me realize this change. So I decided to “save” a little bit and stay at a cheap(er) place on this trip. I found what I thought was a good deal at a place which I thought was a hotel that turned out to be a guest house (hence the price). And you know, I got what I paid for. I found the bed uncomfortable and, while I managed to get some sleep, I wasn’t fully rested. Consequently, I felt sleep-deprived in the coming full working week where I needed vitamin-C supplement for two of those days to help my stamina, haha. I mean, I don’t expect it would have been this “bad” had I gone on this trip while I still lived in Delft.

I was also excited with my hotel room at Stockholm – Arlanda last year.

I don’t mean to sound like a snob here. My point is that people do adjust and adapt to their environment. And anything out of their comfort zones are deemed “unusual” and can either be perceived as “pleasure” or “pain”. And that the definition of “pleasure” or “pain” for someone can definitely change too dynamically.

Back to the bed situation, I guess this means that there is a stronger reason for me to perceive my apartment as my “home” now. As I can say it is “easier” for me to miss my bed, haha…

BAHASA INDONESIA

Jadi ceritanya aku telah memutuskan untukย “berinvestasi” di produk-produk yang lebih baikย untuk mebel-mebel dasar yang kubeli untuk apartemenku. Nah, salah satunya adalah ranjang tidurku.

Eh tetapi jelas dong aku tidak membeli ranjang seharga โ‚ฌ5000 (sekitar Rp 75 juta, ini pun harga setelah diskon) ini walaupun memang enak banget sih. Tapi aku masih memiliki kewarasan kok dalam hal budget dan pengeluaranku, haha ๐Ÿ˜†

Jadi aku memutuskan untuk keluar biaya lebih banyak dan membeli ranjang yang lebih oke gitu deh untuk apartemenku (Walaupun bukan ranjang seharga โ‚ฌ5000 (sekitar Rp 75 juta, segini pun harga setelah diskon) seperti di foto di atas ya, haha ๐Ÿ˜† ). Dan harus kubilang ini adalah salah satu keputusan terbaik yang kubuat tahun ini loh!! Ranjangnya memang enak bangeetttt; dan memang sepadan deh dengan biaya yang harus aku habiskan investasikan untuknya! Haha ๐Ÿ˜†

Walaupun, bukan berarti ini tanpa “masalah” juga sih. Jadi karena sekarang aku sudah mulai terbiasa dengan standar kenyamanan tidur tertentu, entah bagaimana sekarang ranjang-ranjang di hotel yang aku temui di perjalanan-perjalananku itu menjadi tidak seimpresif sebelumnya deh, haha ๐Ÿ˜† .

Jadi ceritanya di tempat tinggal shared-ku yang sebelumnya di Delft (yang mana all furnished, dalam artian aku jadi tidak perlu membeli mebelku sendiri), ranjang yang kudapatkan adalah ranjang yang tergolong lebih “murah” gitu deh. Nggak masalah sih sebenarnya. Toh aku tinggal di sana selama dua tahun dan aku tidak pernah komplain akan itu. Jadi aku toh masih bisa membiasakan diri dengannya. Tetapi ini juga berarti setiap kali aku jalan-jalan dan menginap di hotel (yang bagusan dikit), aku juga merasa tidak sabar dan excited banget terhadap kamarnya dan, terutama, ranjangnya! Haha ๐Ÿ˜†

Aku nggak sabar banget untuk menginap semalam di hotel berbintang-lima di Frankfurt ini tahun lalu.

Tetapi sekarang, hal berubah setelah aku mendapatkan ranjang baruku; perubahan yang awalnya tidak aku sadari. Aku masih pergi dalam perjalanan-perjalananku itu dengan level excitement yang sama seperti sebelumnya. Namun, entah bagaimana aku tidak lagi merasa “wow” dalam hal kenyamanan ranjang dari ranjang yang kudapat, haha ๐Ÿ˜† . Maksudku, masih nyaman-nyaman aja sih, tapi entah mengapa rasa nyamannya itu terasa “normal” dan wajar gitu, haha ๐Ÿ˜† .

Perjalanan akhir pekan musim panasku ke London baru-baru ini membuatku sadar akan perubahan ini. Jadi waktu itu aku memutuskan untuk “menghemat” sedikit dan menginap di tempat yang lebih murah. Aku menemukan penawaran yang nampak promo di tempat yang awalnya aku kira sebuah hotel. Tetapi ternyata sebenarnya tempat ini adalah sebuahย guest house (pantas harganya segitu). Ya jelas aku mendapatkan seperti apa yang kubayar ya. Aku mendapatkan ranjang yang bagiku tidak nyaman dan, walaupun aku toh masih bisa tertidur, badanku tidak benar-benar beristirahat. Akibatnya, aku merasa kekurangan tidur di satu minggu kerja penuh selanjutnya dimana di dua hari di antaranya aku merasa perlu minum suplemen vitamin C untuk menopang staminaku, haha. Maksudku, aku kira masalah ini tidak akan “seburuk” ini andaikata perjalanan ini aku lakukan ketika aku masih di Delft.

Aku juga excited banget dengan kamar hotelku di Stockholm – Arlanda tahun lalu.

Bukannya bermasuk sombong atau gimana gitu sih di sini. Inti dari cerita ini adalah memang benar bahwa manusia itu bisa menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Dan apa-apa yang di luar zona nyamannya akan terasa “tidak biasa” dan ketidak-biasaan ini bisa dipandang sebagai “kenikmatan” atau “kesakitan”. Dan definisi “kenikmatan” dan “kesakitan” bagi seseorang itu pun juga bisa berubah secara dinamis.

Kembali ke urusan ranjang (wedew, keterangan macam apa ini ๐Ÿ˜› ), aku rasa ini berarti aku memiliki satu alasan kuat yang membuat apartemenku terasa seperti “rumah”-ku (home) sekarang. Dimana aku bisa dengan “lebih mudah” berkata aku kangen dengan ranjangku sendiri, haha…

my apartment, Zilko's Life

#1959 -What I Like About My Apartment

ENGLISH

Some time ago I shared a couple of first world problemsย I had with my apartment. And so to balance things out, in this post I would like to share what I (really) like about it. Okay, there are many of reasons (otherwise why would I commit to the biggest purchase I have ever done, so far, in my life in the first place ๐Ÿ˜› ), and in this post I will start with one.

And that is that my apartment building is new. By new, I mean it was built in the 2000s. While this means that, indeed, from the outside it does not look like what you might picture of a Dutch house, probably something like this:

Buildings in Amsterdam centrum.

I actually prefer my apartment much better than those “cute” centuries-old Dutch buildings. Why?

First of all, as Barney Stinson’s one rule:


Yes, “new is always better”. Lol ๐Ÿ˜† .

In this particular case, especially, this rule is right. You see, science is progressing, even at exponential speed; which means people can build “better” (in whatever sense) buildings now.

My previous apartment in Delft was in the centrum and so it was built a few hundred years ago which, of course, made it look “cool” and very “Dutch”. However, while it was overall a nice apartment, to be honest I did not enjoy it at all during the hot summer days. Why? Well, my conjecture (based on my observation and experience) is that because old buildings appear to be designed to trap the heat inside (for winter time) and so this is exactly what they do. It became really, really uncomfortably hot during those days, even at night, due to the heat! I notice that new(er) buildings (also my previous apartment before that, which was built in the 1960s) tend to have better “air flow” in them, thus making them much more comfortable to live in during the summer as it was chill inside even without air conditioner.

Another “complaint” I have often heard from my colleagues living in old Dutch buildings in Amsterdam is that you would need to be “intimate” with your neighbours. In the sense that, well, they can hear any noise coming from your apartment and this means that the reverse is also true. If you know what I mean, lol ๐Ÿ˜† .

I know that I am quite a light sleeper so I would definitely much rather live in a soundproof apartment, haha ๐Ÿ˜† . And newer apartments tend to cater that need. The concrete structure is also a good barrier for noise!

Another common “problem” with old pretty Dutch houses in Amsterdam is: rodents! I had this problem in my first ever student studio apartment in Delft and I really, really hated it; even though the studio was relatively new. This was actually a point I made clear to my agent during my apartment hunt: I wanted a house with no rodents problem! Lol ๐Ÿ˜† (My agent’s wife bursted her laugh at the time, but she understood my concern). And of course, the best bet for that was new(er) buildings.

A new residential tower in Delft.

Beside, pretty buildings are high-maintenance as well, I believe. I mean, many of those in Amsterdam are also declared monuments. This means that even though you are the owner, you cannot just “renovate” your own place however you like as you would need to consult it first! I even heard sometimes this has to be settled at the court!

***

Well, despite all these, of course it does not mean that new apartment comes with no problems at all. I mean, just remember the mini renovation I had to do with my shower room not too long ago. But still, overall, I still believe there are more pros than cons with newer building than older one; especially when you plan to own it (or part of it)!!

BAHASA INDONESIA

Beberapa waktu yang lalu, aku menyebutkan dua first world problems yang berkenaan dengan apartemenku. Nah supaya adil, di posting ini aku akan menuliskan apa yang kusukai darinya. Oke, jelas ada banyak lah ya alasannya (nggak mungkin juga kan aku mau berkomitmen terhadap kesepakatan pembelian yang melibatkan nominal terbesar yang pernah kulakukan seumur hidup, sejauh ini, jika tidak ๐Ÿ˜› ), dan di posting ini aku mulai dengan salah satunya.

Yaitu bahwa gedung apartemenku adalah gedung baru. Dengan baru, maksudku gedungnya dibangun di tahun 2000an. Walaupun memang ini berarti dari luar penampakannya mungkin tidak seperti yang kalian bayangkan akan rumah-rumah Belanda, mungkin seperti ini:

Gedung-gedung di centrum-nya Amsterdam.

Aku sebenarnya malah lebih suka begini loh daripada gedung-gedung Belanda “kece” yang sudah berusia ratusan tahun itu. Kok begitu?

Pertama-tama, seperti satu aturannya Barney Stinson:


Yup, “new is always better“. Huahaha ๐Ÿ˜† .

Dan di kasus ini, aturan ini benar sekali. Jelas dong iptek terus berkembang maju, bahkan dengan laju eksponensial; yang mana artinya sekarang manusia bisa membangun bangunan yang “lebih baik” (dalam sudut pandang tertentu).

Apartemenku sebelumnya di Delft berlokasi di centrum yang berarti dibangun sekian ratus tahun yang lalu, sehingga memang penampakannya “kece” dan “Belanda” banget gitu deh. Namun, walaupun apartemennya nyaman, sejujurnya aku tidak terlalu bisa menikmatinya di hari-hari panas di musim panas. Mengapa? Konjekturku (berdasarkan observasi dan pengalamanku) adalah karena bangunan-bangunan tua itu sepertinya dulu didisain untuk memerangkap energi panas (untuk musim dingin) sehingga ya ini lah yang bangunannya lakukan. Sebagai akibatnya, apartemennya sungguh amat tidak nyaman untuk ditinggali di hari-hari musim panas itu, bahkan di malam hari, saking panasnya! Nah, aku perhatikan gedung-gedung yang (lebih) baru (juga apartemenku yang sebelum itu, yang dibangun di tahun 1960an) cenderung memiliki “aliran udara” yang lebih baik di dalamnya, sehingga jauh lebih nyaman untuk ditinggali di musim panas karena tetap terasa ademย bahkan tanpa AC.

Satu “komplain” lain yang kerap kudengar dari kolega-kolegaku yang tinggal di gedung-gedung Belanda tua di Amsterdam adalah mau tidak mau kita harus “intim” dengan tetangga-tetangga kita. Dalam artian, mereka bisa mendengar segala suara dari apartemen kita dan artinya yang sebaliknya juga berlaku. If you know what I mean, huahaha ๐Ÿ˜† .

Yah, aku kan memangย light sleeperย ya sehingga jelas aku lebih suka tinggal di apartemen yang kedap suara, haha ๐Ÿ˜† . Dan apartemen-apartemen baru cenderung memenuhi kebutuhan ini. Struktur betonnya juga berfungsi sebagai peredam suara yang baik!

Satu “masalah” umum lain dengan rumah-rumah tua Belanda di Amsterdam adalah: tikus! Aku memiliki masalah iniย di apartemen studio mahasiswa pertamaku di Delft dan aku sungguh, sungguh membencinya; walaupun studio itu relatif baru sih. Poin ini bahkan aku tegaskan ke agenku lho ketika di tahap pencarian apartemen: Aku tidak mau rumah yang ada tikusnya! Haha ๐Ÿ˜† (Istri dari agenku sampai tertawa loh waktu itu, tetapi ia paham banget dengan keinginanku ini kok ๐Ÿ˜› ). Dan tentu saja, untuk itu pilihan yang aman adalah gedung-gedung yang (lebih) baru.

Sebuah menara tempat tinggal bari di Delft.

Di samping itu, gedung-gedung cantik itu juga high-maintenance lah. Maksudku, banyak lho gedung-gedung itu di Amsterdam yang dideklarasikan sebagai monumen (mungkin seperti golongan “cagar budaya” gitu kalau di Indonesia). Ini artinya walaupun kita adalah pemilik rumah itu, kita tidak bisa seenaknya “merenovasi” rumah kita karena kita harus mengonsultasikannya dulu! Dengar-dengar bahkan urusannya bisa sampai di pengadilan juga!

***

Yah, walaupun begitu, tentu bukan berarti apartemen baru tidak memiliki masalah lah ya. Misalnya saja, renovasi mini yang mesti kulakukan di kamar mandiku belum lama yang lalu. Tetapi tetap saja, secara keseluruhan aku rasa lebih banyak keuntungan daripada kerugiannya dari tinggal di gedung yang baru; terutama jika kita berencana untuk memilikinya (atau sebagian darinya)!!

my apartment, Zilko's Life

#1952 – Apartment First World Problem

ENGLISH

Now that I live alone in my own apartment, obviously there are some practicality adjustments from when I still lived in Delft. Here was my previous housing situation in Delft: I rent a room in a house which I shared with three other housemates.

Far away

While my housemates and I shared the common areas (kitchen, bathroom, etc), obviously most of my stuffs were in my 16m2 room. And so if I needed anything, I did not need to walk that far to get it, haha.

But now that I live in my own apartment by myself, my stuffs are spread throughout the entire apartment! And so if I need some things, sometimes I have to walk quite far to get them; well, at least much further than back then in Delft! Lol ๐Ÿ˜†

Infrared stoves

My apartment is in a new building so that there is no gas supply. And so, instead of the common gas stoves, my apartment is equipped with infrared stoves (Btw, I never knew that infrared waves could be used to cook things priort to acquiring this apartment! Lol ๐Ÿ˜† ).

Anyway, I cooked with gas stoves for five years prior to moving to Amsterdam and I actually quite liked them. In my first two years in the Netherlands, though, I got induction stoves in my apartment. What I learned from that time is that I need to really regularly clean the glass surface to not let any residue crystalizes and hardens, because that would make it a nightmare to clean!!

So, yeah, now I must develop of cleaning my infrared stoves (which also have glass surface) regularly! Haha ๐Ÿ˜†

BAHASA INDONESIA

Dengan sekarang aku tinggal sendiri diย apartemen milikku, jelas ada beberapa penyesuaian dari ketika aku masih tinggal di Delft. Berikut ini situasi tempat tinggalku sebelumnya di Delft: aku menyewa satu kamar di sebuah rumah yang aku shared dengan tiga housemates lain.

Jauh

Walaupun housemates-ku dan aku jelas sama-sama menggunakan area umum di rumah itu (dapur, kamar mandi, dsb), jelas dong kebanyakan barangku berada di dalam kamarku yang berukuran sekitar 16m2. Jadi jika aku membutuhkan apa-apa, aku tidak perlu berjalan jauh untuknya, haha.

Nah, tapi sekarang dengan tinggal di apartemenku sendiri, barang-barangku jelas tersebar di seluruh penjuru apartemen! Jadi jika aku membutuhkan sesuatu, kadang aku harus berjalan jauh untuknya; yah, setidaknya lebih jauh daripada ketika di Delft! Haha ๐Ÿ˜†

Kompor infra-merah

Gedung apartemenku adalah bangunan baru yang tidak lagi tersambung dengan sistem suplai gas. Sebagai akibatnya, bukannya kompor gas yang mainstream itu, aku menggunakan kompor infra-merah di apartemenku (Btw, sebelum membeli apartemen ini, aku tidak pernah tahu loh bahwa gelombang infra-merah ternyata bisa digunakan untuk memasak! *Kemana ajaaa?* Hahaha ๐Ÿ˜† ).

Anyway, aku memasak dengan kompor gas selama lima tahun sebelum pindah ke Amsterdam dan aku menyukainya. Di dua tahun pertamaku di Belanda, apartemenku menggunakan kompor induksi sih. Yang aku pelajari dari waktu itu adalah aku harus membersihkan permukaan gelasnya itu secara rutin dan sering agar residu-residu kotorannya tidak mengeras. Ini karena kalau sudah mengeras, kotorannya jadi susah banget dibersihkan!!

Jadi iya nih, sekarang aku harus membiasakan untuk membersihkan kompor infra-merahku (yang memiliki permukaan gelas juga) secara rutin! Haha ๐Ÿ˜†

General Life, my apartment, Zilko's Life

#1947 – A Mini Renovation and A Program

ENGLISH

Mini Renovation

About three weeks ago, I called a handyman to help me replace the old silicone joint in my shower room (obviously it was already old, dirty, and washed down). After the repair, the handyman told me that he recommended replacing some of the floor tiles because there was a crack on one of them which caused water to slip through making the bed underneath wet and thus causing the tiles to be “wobbly”. At the time the problem was still okay but it could get worse in months if I did not do anything about it.

Fast forward a few weeks earlier while showering, indeed once for a split second I felt like one of the tiles was “wobbly” while I was stepping on it, though at the time I thought it might be just in my head.

Fast forward a few months prior, I hired a contractor to examine the structure and physical condition of the apartment before committing to the purchase. Everything in the apartment was in good condition, except for the shower room where higher humidity was detected underneath the shower, possibly caused by the small tile crack. Indeed, the final report recommended me to replace the tiles once and for all to prevent the potential problem to be an actual one.

I did not tell the handyman any of the two prior knowledge; hence his recommendation was indeed an independent one based on his expertise. And so I finally decided that I wanted to replace some of the tiles. I made another arrangement with the handyman to do the work. The work took two days to complete because we would also need to let everything dry before sealing it.

A mini renovation in the shower room

I am sure this was the type of work I would have never been able to do by myself, haha, so I am glad I hired this handyman. Though, probably I could have made the job “cheaper” by buying the tiles myself before the work. However, the previous weekend was my resting weekend so I could not really go to any hardware store anyway, haha. Oh, well…

A Spreadsheet Program

You see, this obviously adds to the list of my expenses for the apartment! Haha ๐Ÿ˜† . Though, I do understand that this is also what comes with owning my own apartment and it actually is better to fix a problem before it gets worse; as it would have cost much more and also the headache that would come with that!

Anyway, so far I feel like I have been good with managing these expenses financially. However, I only do this “calculation” roughly so it does not allow me to do a full-look audit on my financial situation. To make the matter more complicated, I also have other variable spendings such as on travels and future travels, haha ๐Ÿ™ˆ.

And so, to be able to do a proper analysis and control, two weeks ago I decided to create an Excel spreadsheet program which breaks my expenses down to several (nested) categories, haha; which even allows me to know how much I save (or not) per month to the cents. The result looks good and healthy, thankfully, thus confirming my initial hunch ๐Ÿ˜› .

BAHASA INDONESIA

Renovasi Mini

Tiga minggu yang lalu, aku memanggil seorang tukang untuk membantuku mengganti plastik silikon di kamar mandiku (yang digunakan di persendian supaya air nggak merembes itu; dan jelas yang lama sudah tua, kotor, dan lapuk). Setelah pekerjaannya selesai, tukangnya merekomendasikanku untuk mengganti beberapa tegel di lantai ruang shower karena ada retakan di salah satunya yang memungkinkan air merembes ke bawahnya sehingga tegelnya menjadi “mengambang/goyah” gitu. Waktu itu masalahnya masih belum terlalu parah sih tetapi bisa memburuk dalam beberapa bulan jika tidak aku apa-apakan.

Nah, mundur ke suatu ketika beberapa minggu sebelumnya sewaktu sedang mandi, memang selama sepersekian detik aku merasa salah satu tegelnya “mengambang” gitu ketika menginjaknya, walaupun aku berpikir waktu itu mungkin hanya perasaanku saja, haha.

Mundur lagi ke beberapa bulan sebelumnya, aku menggunakan jasa sebuah kontraktor untuk mengecek struktur dan kondisi fisik apartemennya sebelum berkomitmen terhadap pembeliannya. Semuanya ternyata dalam kondisi yang baik, kecuali memang di kamar mandi dimana kelembaban yang agak tinggi terdeteksi dari bawah ruang shower, kemungkinan disebabkan oleh retakan kecil di salah satu tegelnya. Memang sih di laporan akhirnya, kontraktornya menganjurkan untuk mengganti tegelnya sekalian untuk mencegah potensi masalah ini menjadi masalah beneran.

Aku tidak memberi-tahu dua informasi ini ke si tukang; sehingga rekomendasinya memang adalah rekomendasi independen berdasarkan keahliannya. Dan jadilah aku memutuskan untuk mengganti beberapa tegelnya. Aku membuat janji lain dengan tukangnya untuk pekerjaan ini. Pekerjaan ini memakan waktu dua hari karena kami juga harus membiarkan pekerjaannya kering dulu sebelum menutupnya.

Renovasi mini di kamar mandi.

Aku yakin deh ini adalah tipe pekerjaan yang nggak mungkin banget aku kerjakan sendiri, haha, jadi aku lega deh aku mempekerjakan tukang ini. Walaupun kalau dipikir-pikir lagi bisa sih pekerjaannya aku buat “lebih murah” dengan membeli sendiri dulu tegelnya sebelum pekerjaan ini dimulai. Masalahnya, akhir pekan sebelumnya adalah akhir pekan istirahatkuย sehingga nggak sempat juga untukku pergi ke toko perangkat keras, haha. Ya sudah lah…

Sebuah Program Spreadsheet

Nah kan, tentu ini membuat daftar pengeluaran untuk apartemenku semakin panjang! Haha ๐Ÿ˜† . Walaupun aku paham sih bahwa ini adalah konsekuensi dari membeli apartemen dan sebenarnya lebih baik menyelesaikan masalah sebelum masalahnya menjadi semakin parah kan ya; karena kalau begitu biayanya juga semakin membengkak dan belum lagi pusingnya!

Anyway, untungnya sejauh ini aku merasa aku bisa mengatur pengeluaranku dengan baik kok secara finansial. Namun, “kalkulasi” ini aku lakukan secara kasar saja sehingga tidak memungkinkanku untuk melakukan audit mendalam terhadap kondisi finansialku. Situasinya juga lebih rumit karena ada beberapa pengeluaran variabel lainnya pula, seperti pengeluaran untuk jalan-jalan dan jalan-jalan yang mendatang, haha ๐Ÿ™ˆ.

Nah, jadilah supaya aku bisa melakukan analisa dan kontrol yang akurat, minggu lalu aku memutuskan untuk membuat sebuah program spreadsheet di Excel yang mengklasifikasikan semua pengeluaranku ke beberapa kategori (bertingkat), haha; yang juga memungkinkanku untuk menghitung berapa banyaknya yang kutabung (atau tekornya) hingga ke satuan sen. Hasilnya, untungnya, memang nampak sehat dan baik kok, sesuai dengan perkiraan awalku ๐Ÿ˜› .

my apartment, Zilko's Life

#1942 – When I Got Locked Out

ENGLISH

Aside from being the longest day of the year, this year’s summer solstice was also an “unusual” day for me due to an incident that occurred in the morning that day. I am sure you can guess what the incident was just by the title of this post.

Yeah, I got locked out of my own apartment. That morning I forgot to take the keys with me when leaving for work and with those automatic-locking doors, I was then “trapped” outsideย ๐Ÿ˜ฃ.

The “Risk”

To be honest, I have always been aware of this risk. However, admittedly I took it for granted and relied on myself to always remember to take the keys with me. And prior to this incident, it was working well. I always consciously checked if I already got my keys before leaving the apartment. As it turned out, the biggest problem with this was the word “consciously”. There would be times where I wouldn’t act totally “consciously”, for instance when I was in a rush or if I was not feeling well.

A friend of mine had suggested me to keep a spare key somewhere else, though, just in case. But you know, I took it for granted and, though I fully agreed, never really did it.

The Solution

I immediately realized I made this big mistake just when I closed my apartment’s door. But it was a little too late as the door was already locked. I told myself to calm down (it was actually a good real “exercise” for me to not panic in an emergency and to think clearly) as there must be a solution.

I decided to still go to the office (thus risking having to open two locked doors (my door and the main entrance) without any keys). As I was googling for solutions, I learned that this was not a rare incident (obviously, haha) and found several locksmiths, some even claimed to be able to come within 30 minutes. I contacted one of them and made an appointment.

Luckily, one of my neighbours was home when I had the appointment so she could open the main entrance door for us, yeay! ๐Ÿ˜€ Anyway, my apartment building is a new one so it comes with the more modern and secure locking system. This, however, left the locksmiths no choice but to break my old locking system (so the door could be opened) and replace it with a new one. Damn. But I had no other choice, so …

In the end, the problem was eventually solved, though I also had to pay a price for that, which was a bill of almostย โ‚ฌ250 (including the new locking system with keys and tax).ย ๐Ÿ˜ฃ

Well, lesson learned … the hard way!!ย ๐Ÿ˜ฃ

Future Steps

Me being me, obviously I have been trying to figure out how to significantly lower down the risk of the incident from reoccurring.

So far, I have implemented two ideas:
1. As my friend suggested, I keep a spare key somewhere else. Where? Well, obviously a secret! I mean, come on!ย ๐Ÿ™ˆ
2. I put a nail next to my door to hang my keys, haha ๐Ÿ˜† . This would, hopefully, lower the chance of me acting “non-consciously” at least in regards to my keys.

So, have you ever encountered a similar incident? And can you share some tips?ย 

BAHASA INDONESIA

Di samping hari dengan siang terpanjang tahun ini, summer solstice tahun ini juga lah hari “tidak biasa” bagiku karena sebuah insiden yang terjadi di pagi harinya. Ah, bisa ditebak kok insidennya apa hanya dari judul posting ini.

Iya, aku terkunci di luar apartemenku sendiri. Pagi itu, aku lupa membawa kunciku ketika berangkat ke kantor sementara pintunya adalah pintu dengan kunci otomatis sehingga aku “terjebak” di luar deh ๐Ÿ˜ฃ.

“Risiko” ini

Sejujurnya, sudah lama aku tahu akan keberadaan risiko ini. Namun, sejujurnya, memang aku meremehkannya dan bersandar kepada diriku untuk selalu ingat membawa kunci kemana-mana. Dan sebelum insiden ini, sistem ini bekerja dengan baik sih. Aku selalu sadar untuk mengecek apakah kunci sudah kubawa sebelum meninggalkan apartemen atau tidak. Ternyata, masalah terbesar dari sistem ini adalah di kata “sadar”. Pasti akan ada sekali waktu dimana aku berlaku tidak sepenuhnya “sadar”, misalnya ketika aku terburu-buru atau ketika sedang tidak enak badan.

Seorang temanku sudah menyaranku untuk menyimpan kunciku di suatu tempat lain sih, untuk jaga-jaga gitu. Tapi ya gitu deh, aku meremehkan risiko ini dan, walaupun sepenuhnya setuju, aku tidak pernah melaksanakannya.

Solusinya

Aku langsung menyadari kesalahanku begitu pintu apartemen aku tutup. Masalahnya, ini sudah terlambat karena pintunya sudah terkunci. Di waktu ini, aku berkata kepada diriku untuk tetap kalem (Insiden ini sebenarnya adalah “latihan” di situasi beneran yang bagus sih untukku, untuk tidak panik di situasi darurat dan tetap berpikir jernih) karena pasti ada solusinya.

Aku memutuskan untuk tetap berangkat ke kantor (dan merisikokan harus membuka dua pintu yang terkunci (pintuku dan pintu utama apartemen) tanpa kunci). Ketika meng-google solusinya, aku menyadari bahwa ini bukanlah insiden yang langka (jelas lah kalau dipikir-pikir, haha) dan aku menemukan beberapa locksmiths (“tukang kunci” kah bahasa Indonesianya?), beberapa bahkan mengklaim bisa datang dalam waktu maksimal 30 menit. Aku mengontak salah satunya dan membuat janji dengannya.

Untungnya, salah seorang tetanggaku sedang di rumah di waktu perjanjianku itu sehingga ia bisa membukakan pintu utama apartemen untukku, hore! ๐Ÿ˜€ Anyway, gedung apartemenku adalah gedung baru sehingga sistem perkunciannya juga lah sistem yang modern dan lebih aman gitu. Masalahnya, dalam kasus ini, ini justru membuat locksmith-ku tidak memiliki pilihan lain selain merusak sistem kunci lamaku (sehingga pintunya bisa dibuka) dan menggantinya dengan yang baru. Sial. Tapi ya mau gimana lagi kan, ya sudah…

Pada akhirnya, masalah ini akhirnya terselesaikan juga, walaupun jelas ada harganya yaitu tagihan senilai hampir โ‚ฌ250 (sekitar Rp 3,7 juta, termasuk sistem kunci yang baru berserta kunci-kunci baru dan pajak).๐Ÿ˜ฃ

Yup, satu pelajaran baru … yang mesti kubayar mahal!!ย ๐Ÿ˜ฃ

Langkah-langkah ke depan

Yang namanya Zilko, jelas aku sudah berpikir mencari cara bagaimana untuk menurunkan drastis risiko insiden ini terulang lagi nantinya.

Sejauh ini, aku sudah mengimplementasikan dua ide:
1. Seperti yang disarankan temanku, aku sekarang menyimpan kunci cadangan di tempat lain. Di mana? Ah, ya jelas rahasia doong, haha.ย ๐Ÿ™ˆ
2. Aku memasang paku tepat di samping pintu untuk menggantung kunciku, haha ๐Ÿ˜† . Ini, mudah-mudahan, mengurangi kemungkinanku untuk berlaku “tidak sadar” setidaknya dalam hal membawa kunci ketika pergi.

Nah, apakah ada yang pernah mengalami situasi serupa? Jika iya, adakah tips yang bisa dibagikan?ย