my apartment · Zilko's Life

#1959 -What I Like About My Apartment

ENGLISH

Some time ago I shared a couple of first world problems I had with my apartment. And so to balance things out, in this post I would like to share what I (really) like about it. Okay, there are many of reasons (otherwise why would I commit to the biggest purchase I have ever done, so far, in my life in the first place 😛 ), and in this post I will start with one.

And that is that my apartment building is new. By new, I mean it was built in the 2000s. While this means that, indeed, from the outside it does not look like what you might picture of a Dutch house, probably something like this:

Buildings in Amsterdam centrum.

I actually prefer my apartment much better than those “cute” centuries-old Dutch buildings. Why?

First of all, as Barney Stinson’s one rule:


Yes, “new is always better”. Lol 😆 .

In this particular case, especially, this rule is right. You see, science is progressing, even at exponential speed; which means people can build “better” (in whatever sense) buildings now.

My previous apartment in Delft was in the centrum and so it was built a few hundred years ago which, of course, made it look “cool” and very “Dutch”. However, while it was overall a nice apartment, to be honest I did not enjoy it at all during the hot summer days. Why? Well, my conjecture (based on my observation and experience) is that because old buildings appear to be designed to trap the heat inside (for winter time) and so this is exactly what they do. It became really, really uncomfortably hot during those days, even at night, due to the heat! I notice that new(er) buildings (also my previous apartment before that, which was built in the 1960s) tend to have better “air flow” in them, thus making them much more comfortable to live in during the summer as it was chill inside even without air conditioner.

Another “complaint” I have often heard from my colleagues living in old Dutch buildings in Amsterdam is that you would need to be “intimate” with your neighbours. In the sense that, well, they can hear any noise coming from your apartment and this means that the reverse is also true. If you know what I mean, lol 😆 .

I know that I am quite a light sleeper so I would definitely much rather live in a soundproof apartment, haha 😆 . And newer apartments tend to cater that need. The concrete structure is also a good barrier for noise!

Another common “problem” with old pretty Dutch houses in Amsterdam is: rodents! I had this problem in my first ever student studio apartment in Delft and I really, really hated it; even though the studio was relatively new. This was actually a point I made clear to my agent during my apartment hunt: I wanted a house with no rodents problem! Lol 😆 (My agent’s wife bursted her laugh at the time, but she understood my concern). And of course, the best bet for that was new(er) buildings.

A new residential tower in Delft.

Beside, pretty buildings are high-maintenance as well, I believe. I mean, many of those in Amsterdam are also declared monuments. This means that even though you are the owner, you cannot just “renovate” your own place however you like as you would need to consult it first! I even heard sometimes this has to be settled at the court!

***

Well, despite all these, of course it does not mean that new apartment comes with no problems at all. I mean, just remember the mini renovation I had to do with my shower room not too long ago. But still, overall, I still believe there are more pros than cons with newer building than older one; especially when you plan to own it (or part of it)!!

BAHASA INDONESIA

Beberapa waktu yang lalu, aku menyebutkan dua first world problems yang berkenaan dengan apartemenku. Nah supaya adil, di posting ini aku akan menuliskan apa yang kusukai darinya. Oke, jelas ada banyak lah ya alasannya (nggak mungkin juga kan aku mau berkomitmen terhadap kesepakatan pembelian yang melibatkan nominal terbesar yang pernah kulakukan seumur hidup, sejauh ini, jika tidak 😛 ), dan di posting ini aku mulai dengan salah satunya.

Yaitu bahwa gedung apartemenku adalah gedung baru. Dengan baru, maksudku gedungnya dibangun di tahun 2000an. Walaupun memang ini berarti dari luar penampakannya mungkin tidak seperti yang kalian bayangkan akan rumah-rumah Belanda, mungkin seperti ini:

Gedung-gedung di centrum-nya Amsterdam.

Aku sebenarnya malah lebih suka begini loh daripada gedung-gedung Belanda “kece” yang sudah berusia ratusan tahun itu. Kok begitu?

Pertama-tama, seperti satu aturannya Barney Stinson:


Yup, “new is always better“. Huahaha 😆 .

Dan di kasus ini, aturan ini benar sekali. Jelas dong iptek terus berkembang maju, bahkan dengan laju eksponensial; yang mana artinya sekarang manusia bisa membangun bangunan yang “lebih baik” (dalam sudut pandang tertentu).

Apartemenku sebelumnya di Delft berlokasi di centrum yang berarti dibangun sekian ratus tahun yang lalu, sehingga memang penampakannya “kece” dan “Belanda” banget gitu deh. Namun, walaupun apartemennya nyaman, sejujurnya aku tidak terlalu bisa menikmatinya di hari-hari panas di musim panas. Mengapa? Konjekturku (berdasarkan observasi dan pengalamanku) adalah karena bangunan-bangunan tua itu sepertinya dulu didisain untuk memerangkap energi panas (untuk musim dingin) sehingga ya ini lah yang bangunannya lakukan. Sebagai akibatnya, apartemennya sungguh amat tidak nyaman untuk ditinggali di hari-hari musim panas itu, bahkan di malam hari, saking panasnya! Nah, aku perhatikan gedung-gedung yang (lebih) baru (juga apartemenku yang sebelum itu, yang dibangun di tahun 1960an) cenderung memiliki “aliran udara” yang lebih baik di dalamnya, sehingga jauh lebih nyaman untuk ditinggali di musim panas karena tetap terasa adem bahkan tanpa AC.

Satu “komplain” lain yang kerap kudengar dari kolega-kolegaku yang tinggal di gedung-gedung Belanda tua di Amsterdam adalah mau tidak mau kita harus “intim” dengan tetangga-tetangga kita. Dalam artian, mereka bisa mendengar segala suara dari apartemen kita dan artinya yang sebaliknya juga berlaku. If you know what I mean, huahaha 😆 .

Yah, aku kan memang light sleeper ya sehingga jelas aku lebih suka tinggal di apartemen yang kedap suara, haha 😆 . Dan apartemen-apartemen baru cenderung memenuhi kebutuhan ini. Struktur betonnya juga berfungsi sebagai peredam suara yang baik!

Satu “masalah” umum lain dengan rumah-rumah tua Belanda di Amsterdam adalah: tikus! Aku memiliki masalah ini di apartemen studio mahasiswa pertamaku di Delft dan aku sungguh, sungguh membencinya; walaupun studio itu relatif baru sih. Poin ini bahkan aku tegaskan ke agenku lho ketika di tahap pencarian apartemen: Aku tidak mau rumah yang ada tikusnya! Haha 😆 (Istri dari agenku sampai tertawa loh waktu itu, tetapi ia paham banget dengan keinginanku ini kok 😛 ). Dan tentu saja, untuk itu pilihan yang aman adalah gedung-gedung yang (lebih) baru.

Sebuah menara tempat tinggal bari di Delft.

Di samping itu, gedung-gedung cantik itu juga high-maintenance lah. Maksudku, banyak lho gedung-gedung itu di Amsterdam yang dideklarasikan sebagai monumen (mungkin seperti golongan “cagar budaya” gitu kalau di Indonesia). Ini artinya walaupun kita adalah pemilik rumah itu, kita tidak bisa seenaknya “merenovasi” rumah kita karena kita harus mengonsultasikannya dulu! Dengar-dengar bahkan urusannya bisa sampai di pengadilan juga!

***

Yah, walaupun begitu, tentu bukan berarti apartemen baru tidak memiliki masalah lah ya. Misalnya saja, renovasi mini yang mesti kulakukan di kamar mandiku belum lama yang lalu. Tetapi tetap saja, secara keseluruhan aku rasa lebih banyak keuntungan daripada kerugiannya dari tinggal di gedung yang baru; terutama jika kita berencana untuk memilikinya (atau sebagian darinya)!!

my apartment · Zilko's Life

#1952 – Apartment First World Problem

ENGLISH

Now that I live alone in my own apartment, obviously there are some practicality adjustments from when I still lived in Delft. Here was my previous housing situation in Delft: I rent a room in a house which I shared with three other housemates.

Far away

While my housemates and I shared the common areas (kitchen, bathroom, etc), obviously most of my stuffs were in my 16m2 room. And so if I needed anything, I did not need to walk that far to get it, haha.

But now that I live in my own apartment by myself, my stuffs are spread throughout the entire apartment! And so if I need some things, sometimes I have to walk quite far to get them; well, at least much further than back then in Delft! Lol 😆

Infrared stoves

My apartment is in a new building so that there is no gas supply. And so, instead of the common gas stoves, my apartment is equipped with infrared stoves (Btw, I never knew that infrared waves could be used to cook things priort to acquiring this apartment! Lol 😆 ).

Anyway, I cooked with gas stoves for five years prior to moving to Amsterdam and I actually quite liked them. In my first two years in the Netherlands, though, I got induction stoves in my apartment. What I learned from that time is that I need to really regularly clean the glass surface to not let any residue crystalizes and hardens, because that would make it a nightmare to clean!!

So, yeah, now I must develop of cleaning my infrared stoves (which also have glass surface) regularly! Haha 😆

BAHASA INDONESIA

Dengan sekarang aku tinggal sendiri di apartemen milikku, jelas ada beberapa penyesuaian dari ketika aku masih tinggal di Delft. Berikut ini situasi tempat tinggalku sebelumnya di Delft: aku menyewa satu kamar di sebuah rumah yang aku shared dengan tiga housemates lain.

Jauh

Walaupun housemates-ku dan aku jelas sama-sama menggunakan area umum di rumah itu (dapur, kamar mandi, dsb), jelas dong kebanyakan barangku berada di dalam kamarku yang berukuran sekitar 16m2. Jadi jika aku membutuhkan apa-apa, aku tidak perlu berjalan jauh untuknya, haha.

Nah, tapi sekarang dengan tinggal di apartemenku sendiri, barang-barangku jelas tersebar di seluruh penjuru apartemen! Jadi jika aku membutuhkan sesuatu, kadang aku harus berjalan jauh untuknya; yah, setidaknya lebih jauh daripada ketika di Delft! Haha 😆

Kompor infra-merah

Gedung apartemenku adalah bangunan baru yang tidak lagi tersambung dengan sistem suplai gas. Sebagai akibatnya, bukannya kompor gas yang mainstream itu, aku menggunakan kompor infra-merah di apartemenku (Btw, sebelum membeli apartemen ini, aku tidak pernah tahu loh bahwa gelombang infra-merah ternyata bisa digunakan untuk memasak! *Kemana ajaaa?* Hahaha 😆 ).

Anyway, aku memasak dengan kompor gas selama lima tahun sebelum pindah ke Amsterdam dan aku menyukainya. Di dua tahun pertamaku di Belanda, apartemenku menggunakan kompor induksi sih. Yang aku pelajari dari waktu itu adalah aku harus membersihkan permukaan gelasnya itu secara rutin dan sering agar residu-residu kotorannya tidak mengeras. Ini karena kalau sudah mengeras, kotorannya jadi susah banget dibersihkan!!

Jadi iya nih, sekarang aku harus membiasakan untuk membersihkan kompor infra-merahku (yang memiliki permukaan gelas juga) secara rutin! Haha 😆

General Life · my apartment · Zilko's Life

#1947 – A Mini Renovation and A Program

ENGLISH

Mini Renovation

About three weeks ago, I called a handyman to help me replace the old silicone joint in my shower room (obviously it was already old, dirty, and washed down). After the repair, the handyman told me that he recommended replacing some of the floor tiles because there was a crack on one of them which caused water to slip through making the bed underneath wet and thus causing the tiles to be “wobbly”. At the time the problem was still okay but it could get worse in months if I did not do anything about it.

Fast forward a few weeks earlier while showering, indeed once for a split second I felt like one of the tiles was “wobbly” while I was stepping on it, though at the time I thought it might be just in my head.

Fast forward a few months prior, I hired a contractor to examine the structure and physical condition of the apartment before committing to the purchase. Everything in the apartment was in good condition, except for the shower room where higher humidity was detected underneath the shower, possibly caused by the small tile crack. Indeed, the final report recommended me to replace the tiles once and for all to prevent the potential problem to be an actual one.

I did not tell the handyman any of the two prior knowledge; hence his recommendation was indeed an independent one based on his expertise. And so I finally decided that I wanted to replace some of the tiles. I made another arrangement with the handyman to do the work. The work took two days to complete because we would also need to let everything dry before sealing it.

A mini renovation in the shower room

I am sure this was the type of work I would have never been able to do by myself, haha, so I am glad I hired this handyman. Though, probably I could have made the job “cheaper” by buying the tiles myself before the work. However, the previous weekend was my resting weekend so I could not really go to any hardware store anyway, haha. Oh, well…

A Spreadsheet Program

You see, this obviously adds to the list of my expenses for the apartment! Haha 😆 . Though, I do understand that this is also what comes with owning my own apartment and it actually is better to fix a problem before it gets worse; as it would have cost much more and also the headache that would come with that!

Anyway, so far I feel like I have been good with managing these expenses financially. However, I only do this “calculation” roughly so it does not allow me to do a full-look audit on my financial situation. To make the matter more complicated, I also have other variable spendings such as on travels and future travels, haha 🙈.

And so, to be able to do a proper analysis and control, two weeks ago I decided to create an Excel spreadsheet program which breaks my expenses down to several (nested) categories, haha; which even allows me to know how much I save (or not) per month to the cents. The result looks good and healthy, thankfully, thus confirming my initial hunch 😛 .

BAHASA INDONESIA

Renovasi Mini

Tiga minggu yang lalu, aku memanggil seorang tukang untuk membantuku mengganti plastik silikon di kamar mandiku (yang digunakan di persendian supaya air nggak merembes itu; dan jelas yang lama sudah tua, kotor, dan lapuk). Setelah pekerjaannya selesai, tukangnya merekomendasikanku untuk mengganti beberapa tegel di lantai ruang shower karena ada retakan di salah satunya yang memungkinkan air merembes ke bawahnya sehingga tegelnya menjadi “mengambang/goyah” gitu. Waktu itu masalahnya masih belum terlalu parah sih tetapi bisa memburuk dalam beberapa bulan jika tidak aku apa-apakan.

Nah, mundur ke suatu ketika beberapa minggu sebelumnya sewaktu sedang mandi, memang selama sepersekian detik aku merasa salah satu tegelnya “mengambang” gitu ketika menginjaknya, walaupun aku berpikir waktu itu mungkin hanya perasaanku saja, haha.

Mundur lagi ke beberapa bulan sebelumnya, aku menggunakan jasa sebuah kontraktor untuk mengecek struktur dan kondisi fisik apartemennya sebelum berkomitmen terhadap pembeliannya. Semuanya ternyata dalam kondisi yang baik, kecuali memang di kamar mandi dimana kelembaban yang agak tinggi terdeteksi dari bawah ruang shower, kemungkinan disebabkan oleh retakan kecil di salah satu tegelnya. Memang sih di laporan akhirnya, kontraktornya menganjurkan untuk mengganti tegelnya sekalian untuk mencegah potensi masalah ini menjadi masalah beneran.

Aku tidak memberi-tahu dua informasi ini ke si tukang; sehingga rekomendasinya memang adalah rekomendasi independen berdasarkan keahliannya. Dan jadilah aku memutuskan untuk mengganti beberapa tegelnya. Aku membuat janji lain dengan tukangnya untuk pekerjaan ini. Pekerjaan ini memakan waktu dua hari karena kami juga harus membiarkan pekerjaannya kering dulu sebelum menutupnya.

Renovasi mini di kamar mandi.

Aku yakin deh ini adalah tipe pekerjaan yang nggak mungkin banget aku kerjakan sendiri, haha, jadi aku lega deh aku mempekerjakan tukang ini. Walaupun kalau dipikir-pikir lagi bisa sih pekerjaannya aku buat “lebih murah” dengan membeli sendiri dulu tegelnya sebelum pekerjaan ini dimulai. Masalahnya, akhir pekan sebelumnya adalah akhir pekan istirahatku sehingga nggak sempat juga untukku pergi ke toko perangkat keras, haha. Ya sudah lah…

Sebuah Program Spreadsheet

Nah kan, tentu ini membuat daftar pengeluaran untuk apartemenku semakin panjang! Haha 😆 . Walaupun aku paham sih bahwa ini adalah konsekuensi dari membeli apartemen dan sebenarnya lebih baik menyelesaikan masalah sebelum masalahnya menjadi semakin parah kan ya; karena kalau begitu biayanya juga semakin membengkak dan belum lagi pusingnya!

Anyway, untungnya sejauh ini aku merasa aku bisa mengatur pengeluaranku dengan baik kok secara finansial. Namun, “kalkulasi” ini aku lakukan secara kasar saja sehingga tidak memungkinkanku untuk melakukan audit mendalam terhadap kondisi finansialku. Situasinya juga lebih rumit karena ada beberapa pengeluaran variabel lainnya pula, seperti pengeluaran untuk jalan-jalan dan jalan-jalan yang mendatang, haha 🙈.

Nah, jadilah supaya aku bisa melakukan analisa dan kontrol yang akurat, minggu lalu aku memutuskan untuk membuat sebuah program spreadsheet di Excel yang mengklasifikasikan semua pengeluaranku ke beberapa kategori (bertingkat), haha; yang juga memungkinkanku untuk menghitung berapa banyaknya yang kutabung (atau tekornya) hingga ke satuan sen. Hasilnya, untungnya, memang nampak sehat dan baik kok, sesuai dengan perkiraan awalku 😛 .

my apartment · Zilko's Life

#1942 – When I Got Locked Out

ENGLISH

Aside from being the longest day of the year, this year’s summer solstice was also an “unusual” day for me due to an incident that occurred in the morning that day. I am sure you can guess what the incident was just by the title of this post.

Yeah, I got locked out of my own apartment. That morning I forgot to take the keys with me when leaving for work and with those automatic-locking doors, I was then “trapped” outside 😣.

The “Risk”

To be honest, I have always been aware of this risk. However, admittedly I took it for granted and relied on myself to always remember to take the keys with me. And prior to this incident, it was working well. I always consciously checked if I already got my keys before leaving the apartment. As it turned out, the biggest problem with this was the word “consciously”. There would be times where I wouldn’t act totally “consciously”, for instance when I was in a rush or if I was not feeling well.

A friend of mine had suggested me to keep a spare key somewhere else, though, just in case. But you know, I took it for granted and, though I fully agreed, never really did it.

The Solution

I immediately realized I made this big mistake just when I closed my apartment’s door. But it was a little too late as the door was already locked. I told myself to calm down (it was actually a good real “exercise” for me to not panic in an emergency and to think clearly) as there must be a solution.

I decided to still go to the office (thus risking having to open two locked doors (my door and the main entrance) without any keys). As I was googling for solutions, I learned that this was not a rare incident (obviously, haha) and found several locksmiths, some even claimed to be able to come within 30 minutes. I contacted one of them and made an appointment.

Luckily, one of my neighbours was home when I had the appointment so she could open the main entrance door for us, yeay! 😀 Anyway, my apartment building is a new one so it comes with the more modern and secure locking system. This, however, left the locksmiths no choice but to break my old locking system (so the door could be opened) and replace it with a new one. Damn. But I had no other choice, so …

In the end, the problem was eventually solved, though I also had to pay a price for that, which was a bill of almost €250 (including the new locking system with keys and tax). 😣

Well, lesson learned … the hard way!! 😣

Future Steps

Me being me, obviously I have been trying to figure out how to significantly lower down the risk of the incident from reoccurring.

So far, I have implemented two ideas:
1. As my friend suggested, I keep a spare key somewhere else. Where? Well, obviously a secret! I mean, come on! 🙈
2. I put a nail next to my door to hang my keys, haha 😆 . This would, hopefully, lower the chance of me acting “non-consciously” at least in regards to my keys.

So, have you ever encountered a similar incident? And can you share some tips? 

BAHASA INDONESIA

Di samping hari dengan siang terpanjang tahun ini, summer solstice tahun ini juga lah hari “tidak biasa” bagiku karena sebuah insiden yang terjadi di pagi harinya. Ah, bisa ditebak kok insidennya apa hanya dari judul posting ini.

Iya, aku terkunci di luar apartemenku sendiri. Pagi itu, aku lupa membawa kunciku ketika berangkat ke kantor sementara pintunya adalah pintu dengan kunci otomatis sehingga aku “terjebak” di luar deh 😣.

“Risiko” ini

Sejujurnya, sudah lama aku tahu akan keberadaan risiko ini. Namun, sejujurnya, memang aku meremehkannya dan bersandar kepada diriku untuk selalu ingat membawa kunci kemana-mana. Dan sebelum insiden ini, sistem ini bekerja dengan baik sih. Aku selalu sadar untuk mengecek apakah kunci sudah kubawa sebelum meninggalkan apartemen atau tidak. Ternyata, masalah terbesar dari sistem ini adalah di kata “sadar”. Pasti akan ada sekali waktu dimana aku berlaku tidak sepenuhnya “sadar”, misalnya ketika aku terburu-buru atau ketika sedang tidak enak badan.

Seorang temanku sudah menyaranku untuk menyimpan kunciku di suatu tempat lain sih, untuk jaga-jaga gitu. Tapi ya gitu deh, aku meremehkan risiko ini dan, walaupun sepenuhnya setuju, aku tidak pernah melaksanakannya.

Solusinya

Aku langsung menyadari kesalahanku begitu pintu apartemen aku tutup. Masalahnya, ini sudah terlambat karena pintunya sudah terkunci. Di waktu ini, aku berkata kepada diriku untuk tetap kalem (Insiden ini sebenarnya adalah “latihan” di situasi beneran yang bagus sih untukku, untuk tidak panik di situasi darurat dan tetap berpikir jernih) karena pasti ada solusinya.

Aku memutuskan untuk tetap berangkat ke kantor (dan merisikokan harus membuka dua pintu yang terkunci (pintuku dan pintu utama apartemen) tanpa kunci). Ketika meng-google solusinya, aku menyadari bahwa ini bukanlah insiden yang langka (jelas lah kalau dipikir-pikir, haha) dan aku menemukan beberapa locksmiths (“tukang kunci” kah bahasa Indonesianya?), beberapa bahkan mengklaim bisa datang dalam waktu maksimal 30 menit. Aku mengontak salah satunya dan membuat janji dengannya.

Untungnya, salah seorang tetanggaku sedang di rumah di waktu perjanjianku itu sehingga ia bisa membukakan pintu utama apartemen untukku, hore! 😀 Anyway, gedung apartemenku adalah gedung baru sehingga sistem perkunciannya juga lah sistem yang modern dan lebih aman gitu. Masalahnya, dalam kasus ini, ini justru membuat locksmith-ku tidak memiliki pilihan lain selain merusak sistem kunci lamaku (sehingga pintunya bisa dibuka) dan menggantinya dengan yang baru. Sial. Tapi ya mau gimana lagi kan, ya sudah…

Pada akhirnya, masalah ini akhirnya terselesaikan juga, walaupun jelas ada harganya yaitu tagihan senilai hampir €250 (sekitar Rp 3,7 juta, termasuk sistem kunci yang baru berserta kunci-kunci baru dan pajak).😣

Yup, satu pelajaran baru … yang mesti kubayar mahal!! 😣

Langkah-langkah ke depan

Yang namanya Zilko, jelas aku sudah berpikir mencari cara bagaimana untuk menurunkan drastis risiko insiden ini terulang lagi nantinya.

Sejauh ini, aku sudah mengimplementasikan dua ide:
1. Seperti yang disarankan temanku, aku sekarang menyimpan kunci cadangan di tempat lain. Di mana? Ah, ya jelas rahasia doong, haha. 🙈
2. Aku memasang paku tepat di samping pintu untuk menggantung kunciku, haha 😆 . Ini, mudah-mudahan, mengurangi kemungkinanku untuk berlaku “tidak sadar” setidaknya dalam hal membawa kunci ketika pergi.

Nah, apakah ada yang pernah mengalami situasi serupa? Jika iya, adakah tips yang bisa dibagikan? 

my apartment · Zilko's Life

#1926 – A Month(-Ish) in Amsterdam

ENGLISH

So it has been about one month since I started to live in Amsterdam. So how is everything? Well, everything is generally fine. Here are a couple of them.

Much Shorter Commute!!

One aspect which I totally do not miss from living in Delft while working in Amsterdam is the commute! Well, of course I still have to commute now but instead of spending three hours every day, I only need to spend about one hour in total! Yeay!! So suddenly I have two hours extra in my everyday life which I can do whatever I want with! Hahaha…

So what do I do with it? Well, even though in March I said my body had adapted to the three-hour commute, I knew it was not ideal at all especially in the longer-run. And so I used about one hour of that for: extra sleep! Hahaha 😆 . Trust me, it is much nicer now that I can get up basically at the ideal time my body would like to get up! I feel much fresher everyday, which translates to generally better mood and sharper mind!

And the other one hour? Well, I keep it as a “flexible hour” which I can do whatever I want with. If needed, possibly a longer hour during busy days at work, or just to do something fun, haha 🙂 .

The bottom line is, I am super happy that I don’t have to spend three hours of my life every day just to commute!

So Many Expenses!

This is actually one consequence of buying an apartment, so I just need to accept it. And I do, by the way. It is just that I feel like there is a never-ending stream of things I need to buy/pay/subscribe to, haha.

Obviously it started with the basic furnitures, then the many smaller furnitures, then even more of smaller furnitures, then a smart TV, then a robot (lol 😆 ). Beside those stuffs were also the subscriptions: from the extremely important internet connection, then a cable TV subscription, then the gym membership, then the public transportation package (more on this, possibly, in a later post). And not to mention the service I decided to use to help me install a lot of those stuffs. And I feel like this is not done yet! Haha 😆

So, to you who have been through a similar situation, do you have any tips for me on this department? I am, happily, all ears! 😂

Though, possibly the good side of that was that I had an excuse to go to IKEA and so had their meatballs while I was there 😛

BAHASA INDONESIA

Jadi ceritanya sudah sebulanan semenjak aku mulai tinggal di Amsterdam. Bagaimanakah semuanya? Hmm, secara umum baik-baik saja sih. Berikut ini dua buah cerita tentangnya.

Nglaju yang jauh lebih singkat!!

Satu aspek yang sama sekali tidak aku kangeni dari tinggal di Delft sementara bekerja di Amsterdam adalah nglaju-nya! Ya, tentu saja aku masih harus nglaju sih sekarang tetapi tidak tiga jam setiap hari kayak dulu, cukup sekitar satu jam kurang aja sekarang! Jadi tiba-tiba dong setiap hari aku mendapatkan waktu ekstra dua jam yang bisa bebas aku gunakan untuk apa pun! Hahaha…

Nah, trus waktu ekstranya itu untuk apa saja? Hmm, walaupun di bulan Maret aku bilang tubuhku mulai beradaptasi dengan tiga jam cuma di jalan itu, sebenarnya aku tahu itu bukanlah situasi yang ideal terutama untuk jangka panjang. Dan jadilah satu jam waktu ekstranya kugunakan untuk: tidur lebih lama! Hahaha 😆 . Beneran loh, rasanya enak dan damai banget sekarang aku bisa bangun di waktu ideal bangun bagi tubuhku! Aku merasa lebih segar setiap hari, yang mana berefek ke mood dan pikiran yang jauh lebih segar pula!

Dan satu jam lainnya? Yah, satu jam ini aku pergunakan sebagai “jam fleksibel” yang mana bisa aku pakai untuk apa pun. Jika dibutuhkan, bisa saja bekerja sejam lebih lama di hari-hari sibuk di kantor, atau aku gunakan untuk kegiatan apa kek yang seru gitu, haha 🙂 .

Tetapi intinya adalah, aku senang banget sekarang tidak lagi harus menghabiskan tiga jam hidupku setiap hari di jalan aja!

Kok banyak pengeluaran ya!

Sebenarnya sih ini adalah satu konsekuensi dari membeli sebuah apartemen, jadi ya memang seharusnya aku terima. Dan sebenarnya sih memang aku terima sih, haha. Cuma rasanya kok ini ada arus pengeluaran tak berujung untuk membeli/membayar/mendaftarkan-diri ke sesuatu ya, haha.

Jelas dong semuanya dimulai dari mebel-mebel dasar, lalu barang-barang printilan, lalu lebih banyak barang-barang printilan lagi, lalu sebuah smart TV, lalu sebuah robot (huahaha 😆 ). Di samping itu semua, ada juga keanggotaan-keanggotaan yang aku daftar, misalnya: koneksi internet yang jelas sangat amat penting banget, lalu langganan TV kabel, lalu keanggotaan di gym, lalu abonemen transportasi umum (ini akan kutulis di sebuah posting yang terpisah, mungkin). Dan belum lagi biaya layanan yang aku gunakan untuk membantuku memasang banyak dari barang-barang tersebut. Dan rasanya masih belum habis aja ini! Hahaha 😆

Jadi, bagi yang sudah pernah melewati fase serupa nih, apakah ada tips untukku di bidang ini? Aku pengen mendengar semuanya nih! 😂

Walaupun, mungkin sisi positif dari itu semua adalah aku jadi ada alasan untuk pergi ke IKEA sehingga bisa sekalian makan baksonya, hahaha 😛
General Life · my apartment · Zilko's Life

#1925 – A Saturday Story

ENGLISH

Time for a haircut

The time has come for me to have another haircut. There was, however, one problem: I have just moved to Amsterdam, meaning that I had to start from scratch in the quest of finding my “perfect” barbershop, hahaha 😆 .

You see, after 6.5 years living in Delft, about three years ago I finally found my “perfect” barbeshop. It was in Den Haag, lol 😆 . It was cheap but the quality was really, really good (for me). So no wonder I always went there everytime I needed a haircut.

However, it is obviously no longer feasible to go to this barbershop in Den Haag given that I now live in Amsterdam. The almost one hour (one-way) trip and train ticket cost certainly do not justify it. Not to mention it sounds ridiculous to not be able to find another “perfect” barbershop in Amsterdam, haha 😆 .

So yesterday I went to a barbershop nearby my place. It was a bit of a gamble because I would never know whether a barbershop was a “perfect” one for me or not until I paid a visit, haha. It was a busy place, which was a good sign; but then I had to wait for about 3.5 hours before they had a vacant slot. Obviously I did not just sit there waiting for 3.5 hours (I went back home and hit the gym). Anyway, it turned out that I really liked their work and result. It was significantly more expensive than my “perfect” Den Haag barbershop, though, but the service was also much better and the assistant consulted me often throughout the work to make sure that I really liked the result.

So overall, I guess I like this barbershop.

More Apartment Stuffs

The quest for furnitures for my apartment has not ended, yet. I actually doubt that it will eventually end, to be honest, haha.

Anyway, the next urgent thing in my list to buy was a coat hanger. And so earlier this week I bought it online at IKEA, along with a kitchen carpet, an anti-slip carpet for the kitchen carpet, a trash can, a big mirror, and a package of wardrobe organizer mini boxes, lol 😆 . I calculated my order placement to be at the right time so that they would get delivered on Saturday, much to my convenience, haha 😛 .

More stuffs!

Well, now I feel like I have already had most of the stuffs that I want for my apartment. But I don’t know if within the coming days, suddenly something else pop out in my mind, haha 😆 .
BAHASA INDONESIA

Waktunya potong rambut

Waktunya sudah tiba untukku potong rambut. Namun, ada satu masalah: aku baru saja pindah ke Amsterdam, yang mana artinya petualangan pencarian tempat potong rambut yang “sempurna” harus kumulai dari nol, hahaha 😆 .

Setelah tinggal selama 6,5 tahun di Delft, sekitar tiga tahun yang lalu aku telah menemukan tempat potong rambut yang “sempurna”. Lokasinya di Den Haag, hahaha 😆 . Harganya murah tetapi kualitas potongannya oke banget (untukku sih). Jadi tidak heran aku selalu pergi kesana setiap kali potong rambut

Masalahnya, jelas tidak lagi memungkinkan lah ya untukku pergi ke tempat potong rambut di Den Haag ini mengingat aku kini tinggal di Amsterdam. Perjalanan sekitar satu jam (satu arah) plus harga tiket keretanya jelas tidak membuatnya worth it. Tentu saja di samping pemikiran: masa iya sih tidak ada tempat potong rambut yang juga “sempurna” di Amsterdam? Haha 😆

Jadilah kemarin aku pergi ke sebuah tempat potong rambut di dekat apartemen. Untung-untungan sih karena yang namanya tempat potong rambut kan mesti dicobain dulu ya untuk tahu apakah “sempurna” atau tidak? Haha. Tempatnya ramai banget, yang mana pertanda baik nih; tetapi juga akibatnya aku harus menunggu 3,5 jam dong sebelum mereka memiliki slot waktu yang kosong. Jelas aku tidak duduk menunggu selama 3,5 jam di sana (aku pulang dan nge-gym), haha. Anyway, ternyata aku suka dengan hasil potongannya. Jauh lebih mahal daripada tempat potong rambut “sempurna”-ku di Den Haag sih, tetapi pelayanannya juga lebih baik dan asistennya juga rajin mengonsultasikan model potongannya di sepanjang waktu untuk memastikan aku suka dengan hasilnya, haha.

Jadi secara keseluruhan, kayaknya aku suka deh dengan tempat potong rambut ini.

Barang-barang untuk apartemen lagi

Perburuan mebel untuk apartmenku masih belum berakhir. Sekarang aku malah jadi ragu sendiri apakah ini ada akhirnya, haha.

Anyway, barang super penting berikutnya di dalam daftar untuk dibeliku adalah gantungan mantel. Jadilah awal minggu ini aku membelinya online dari IKEA, sekalian dengan karpet untuk dapur, lapisan anti-slip untuk karpet untuk dapur itu, tempat sampah, cermin yang besar, dan satu paket kotak-kotak kecil untuk mengatur lemari pakaian, haha 😆 . Waktu pembelianku sudah kuhitung agar barang-barangnya diantarkan di hari Sabtu, sehingga enak kan waktunya untukku, haha 😛 .

Barang-barang baru lagi!

Lumayan deh. Rasanya sekarang hampir semua yang aku butuhkan sudah kumiliki. Tapi ntah deh jika dalam beberapa hari ke depan, tiba-tiba aku ingin apa lagi gitu, haha 😆 .

my apartment · Zilko's Life

#1923 – TV Cable and Internet Speed

ENGLISH

About two weeks ago when I just got my new smart TV, I said I still had not decided yet whether I would subscribe to a cable TV provider or not. Actually it did not take long before I decided that I would, haha 😆 .

At the time, I was mainly using my smart TV for Youtube and Netflix (a free month with Netflix, yeay!). It was really fun and I found a lot of good stuffs in Netflix; even though I found the library to not be as large as I expected. Nonetheless, I still felt like there was something “missing” with my TV: the more “traditional” live channels with news and stuffs (including the sport channel (read: tennis, of course)), haha.

So I was searching for options and concluded that, indeed, the best solution for me was to top off my subcription with my internet provider with cable TV subscription. With this, I also got an upgrade on my internet speed from 60 Mbps to 100 Mbps, hahah 😛 . The area of my apartment is supported with fiber-optic which allows super fast internet connection. So why not? 😛 Well, actually I can upgrade the speed to 500 Mbps too; even though at the moment I still feel like it doesn’t justify the extra monthly cost, hahah 😛 . But we will see. As I have kept saying, it is nice to have the option.

Anyway, as per this week, the upgrade kicks in! So now I have live cable TV on my smart TV and faster wifi at home! Yeay!! Actually, somehow I also get a new home telephone (with a new number) with this as well. Though, I am not sure if a traditional telephone is as important nowadays. But well, it is still nice to have it. Yeay! 😎

BAHASA INDONESIA

Sekitar dua minggu yang lalu ketika aku baru saja mendapatkan smart TVku, aku bilang aku masih belum memutuskan apakah aku akan berlangganan TV kabel atau tidak. Sebenarnya tidak membutuhkan banyak waktu sih sampai aku memutuskan bahwa aku ingin berlangganan, haha 😆 .

Waktu itu, smart TVku hanya kugunakan untuk Youtube dan Netflix saja (satu bulan gratis dengan Netflix, hore!). Seru juga kok sebenarnya dan aku menemukan banyak banget acara yang keren di Netflix; walaupun ternyata library-nya tidak sebesar yang aku sangka. Toh walaupun begitu, aku masih merasa ada yang “kurang” gitu dari TVku: kanal-kanal langsung yang lebih “tradisional” seperti kanal berita dan lain-lain gitu (termasuk olahraga (baca: tennis, tentunya)), haha.

Jadilah aku melihat-lihat apa saja pilihanku dan memutuskan bahwa, memang, solusi terbaik adalah menambahkan TV kabel ke dalam paket dari perusahaan penyedia internetku. Dengan ini, sekalian kecepatan internetku aku upgrade dari 60 Mbps menjadi 100 Mbps, hahah 😛 . Area apartemenku disokong dengan koneksi fiber-optic yang memungkinkan koneksi internet super cepat. Jadi mengapa tidak kan? 😛 Sebenarnya aku masih bisa meng-upgrade kecepatannya hingga 500 Mbps sih; tetapi sekarang ini aku masih merasa ini belum worth it jika dibandingkan dengan biaya per bulannya, hahah 😛 .Tapi kita lihat saja deh. Seperti yang sering kubilang kan, enak kalau ada pilihannya begini.

Anyway, per minggu ini, upgrade-nya mulai berjalan loh! Jadilah sekarang aku juga memiliki TV kabel live dan wifi yang lebih cepat di rumah! Hore!! Ternyata, aku juga mendapatkan telepon rumah baru (bersama dengan nomor) juga. Walaupun aku nggak begitu yakin bahwa telepon tradisional begini penting sih di zaman sekarang. Tetapi, toh masih tetap enak-enak aja untuk memilikinya kan ya. Hore! 😎