Life in Holland · Zilko's Life

#1843 – Staying Warm in Winter

ENGLISH

Life in winter means we have to find the resources to stay warm. This is important in the Netherlands now as winter has officially come. Aside from, obviously, wearing winter clothes (thus adding extra minutes to get ready in the morning as there are many different stuffs to wear, lol 😆 ), here are some of the others:

Warm Shower

Generally, I like warm shower anyway; but actually even more so during winter. It just feels so good to enter the shower cubicle where warm water was already pouring!! Even more so last night, when I showered after my outdoor tennis lesson for one hour!

But then, of course, I have to face the harsh reality where I need to find the courage to get off the cubicle and back in the cold, lol 😆 .

Heater

To be honest I have a love and hate relationship with heater. I love it because, obviously, it keeps the room temperature comfortable enough for me to be in. On the other hand, it makes the air in the room to be really dry.

The consequence of the latter is that I need to drink water more frequently. Despite this, in the night I still turn my heater on when I sleep; I mean, for the obvious reason. Consequently, though, I almost always wake up in the middle of the night because I need to drink something. Even so, it does not mean that my body actually needs the water; sometimes it is just the dry throat due to the dry air. So sometimes, I also wake up just because of the urge to go to the toilet 😆 . This means that I rarely have an uninterrupted 7 – 8 hours of sleep every night, haha 😆 .

Warm Food/Drink

And, obviously, warm drink or (liquidy) food, like soup, taste even better in winter months!

***

And you, what do you do to stay warm? 🙂

A big portion of corn soup
This bowl corn soup would have tasted so good now!! 😣

BAHASA INDONESIA

Hidup di musim dingin berarti kita harus mencari sumber-sumber agar kita tetap hangat. Ini penting nih di Belanda sekarang karena musim dingin telah resmi datang. Di samping, jelas, memakai pakaian musim dingin (yang mana artinya kita harus menyisihkan sekian menit ekstra di pagi hari karena ada banyak banget yang harus dipakai, huahaha :lol :), berikut ini beberapa lainnya:

Mandi dengan air hangat

Secara umum, aku suka mandi (pakai shower maksudnya) dengan air hangat; tetapi terlebih lagi di musim dingin. Rasanya nikmat banget deh masuk ke kotak tempat shower itu ketika air hangatnya sudah mengucur!! Apalagi semalam, ketika aku mandi setelah les tenis outdoor selama satu jam!

Tetapi tentu saja sih, di satu waktu ketika mandi itu aku harus menghadapi kenyataan kejam dimana aku harus menemukan keberanian untuk selesai mandi dan kembali ke udara dingin di luar sana, hahaha 😆 .

Pemanas ruangan

Sejujurnya, aku memiliki hubungan yang manis dan pahit dengan pemanas ruangan. Aku menyukainya karena, jelas, pemanas ruangan itu membuat suhu udara di dalam ruangan cukup nyaman untuk berada di dalamnya kan ya. Di sisi lain, ini membuat udara di dalam kamar menjadi amat kering.

Konsekuensi dari yang kedua adalah, aku jadi harus minum air putih lebih sering. Walaupun begini, di malam hari aku masih menyalakan pemanas ruanganku ketika tidur; maksudku, jelas lah ya. Konsekuensinya, aku hampir selalu terbangun di tengah malam karena aku merasa kehausan. Walaupun begitu, ini bukan berarti tubuhku membutuhkan airnya loh; sering ini hanya karena tenggorokan yang kering saja akibat udara kamar yang kering. Jadi, lumayan sering juga aku terbangun di tengah malam karena aku kebelet untuk ke toilet, haha 😆 . Iya, ini berarti jarang aku tidur selama 7 – 8 jam non-stop tanpa terbangun di malam hari, haha 😆 .

Makanan/minuman hangat

Dan, jelas, minuman atau makanan (berkuah) hangat, misalnya sup, itu rasanya lebih nikmat di bulan-bulan musim dingin!

***

Dan kamu, apa yang kamu lakukan agar tetap hangat? 🙂

Advertisements
Life in Holland · Zilko's Life

#1837 – Why I Don’t Like Fall

ENGLISH

A lot of people say they love Fall/Autumn, mainly because of something like this:

Autumn in Delft Schie
Autumn in Delft five years ago (I am too lazy to take a more recent picture this year 😛 )
, which is correct, btw, and I agree with this particular condition. However, I actually put this season as my least favorite of the four. Here is why. (#antimainstream #SEO)

One word which, to me now, describes this season the best is: gloomy.

And it applies to many things.

In the Netherlands, Fall weather usually means a lot of cloud and, sometimes, mist and, thus, it is wet too. Just like what I recently shared. Therefore, if you look outside, usually what you see is grayness. Dark cloudy sky with thick cloud hanging and people walking with their umbrellas or coat.

The fact that Summer precedes the season also does not help. While usually it also rains quite a lot in the Netherlands in Summer too (this year was an exception though, it was pleasantly rainless! 😛 ), at least the days are longer. And personally, I like longer days. I like it when the sun is up from 5 AM to 10 PM.I feel more energized.

10:30 PM in Delft on 21 June 2015
10:30 PM in Delft on 21 June 2015
And my conjecture is (I haven’t bothered looking for actual research on this 😛 ) that this has some collective effect on the people as well. Consciously or not, the gloomy weather affects people’s mood. When many of these people are together (like, e.g. at work), the gloominess radiates in many different forms.

I have only started my current job this October, which was Fall already, so I cannot really say anything about it. However, I have had four Falls during the course of my PhD; and in my experience, this season had always consistently been the most “depressing” periods of my PhD years. Specifically, the toughest period of my PhD years (so far) was the Fall of 2014, i.e. the Fall of my third PhD year, many referred to as the toughest year of PhD in the Netherlands. More or less, this was radiated into some posts in this blog as well.

One of those misty mornings in Delft lately
One of those Fall days here.
It might be a spurious correlation we are observing here; as there are other factors as well which can influence this as well, for instance the end of the year is near so the higher workload, no public holiday (while there are Christmas and New Year in the winter), etc.

As I said, I haven’t bothered looking deepert into this matter. So for this post, it would do even if a spurious correlation, haha 😆 . What is important is, this is generally what I feel about Fall 😛 .

Piles of fallen leaves
Piles of fallen leaves in October, 2011
BAHASA INDONESIA

Banyak orang berkata bahwa mereka suka banget dengan yang namanya Musim Gugur, terutama karena pemandangan kayak begini:

Autumn in Delft Schie
Musim gugur di Delft lima tahun yang lalu (tahun ini malas nih mengambil foto yang lebih up-to-date kekinian gitu 😛 )
, yang mana benar juga sih, btw, dan aku sendiri setuju dengan satu kondisi khusus ini. Namun, sebenarnya secara umum aku harus bilang bahwa musim ini adalah musim yang paling tidak aku sukai dari empat musim yang ada loh. Berikut ini alasannya. (#antimainstream #SEO)

Satu kata yang, untukku saat ini, mendeskripsikan musim ini dengan paling baik adalah: muram (gloomy).

Dan ini mewakili banyak sekali hal loh.

Di Belanda, cuaca musim gugur itu biasanya berarti awan mendung tebal dan, kadang-kadang, berkabut yang mana artinya juga basah. Yah, seperti apa yang aku ceritakan beberapa waktu lalu lah. Makanya, jika kita melihat ke luar, yang terlihat biasanya adalah suasana abu-abu. Langit yang mendung dengan awan-awan tebal dan orang-orang berjalan-kaki dengan payung atau mantelnya.

Kondisi dimana musim panas mendahului musim ini juga tidak membantu. Walaupun di musim panas juga banyak hujan sih di Belanda (tahun ini pengecualian sih, hujannya sedikit! 😛 ), setidaknya hari-harinya kan panjang gitu. Dan untukku pribadi, aku suka dengan hari yang panjang. Kan asyik ya matahari bersinar dari jam 5 subuh sampai jam 10 malam gitu. Aku merasa sungguh berenergi.

10:30 PM in Delft on 21 June 2015
Jam 10:30 malam di Delft tanggal 21 Juni 2015
Dan konjekturku adalah (malas nih untuk meriset lebih mendalam 😛 ), ini mempengaruhi manusia juga. Sadar ataupun tidak, cuaca yang muram ini mempengaruhi mood orang-orang. Dan ketika banyak orang-orang ini berdekatan (misalnya di kantor), kemuramannya cenderung tersebar dalam berbagai macam bentuk.

Aku baru saja memulai pekerjaanku saat ini di bulan Oktober, yang mana artinya sudah masuk musim gugur, makanya aku tidak bisa menyimpulkan apa pun darinya. Namun, aku sudah melalui empat musim gugur sepanjang masa studi PhD (S3)-ku; dan dari pengalamanku, musim ini terus-terusan menjadi bagian dari periode paling “memuramkan” dari tahun-tahun PhD-ku itu. Lebih spesifik lagi, periode tersulit dari tahun-tahun PhD-ku (sejauh ini) adalah musim gugur 2014, yaitu musim gugur dari tahun ketiga PhDku, yang banyak disebut orang-orang sebagai tahun tersulit dari sebuah studi PhD di Belanda. Sedikit banyak, ini teradiasikan di beberapa posting di blog ini juga.

One of those misty mornings in Delft lately
Kadang suasana musim gugur disini itu begini
Memang bisa jadi ini adalah sebuah korelasi palsu (spurious correlation); karena bisa saja kan ada faktor yang juga mempengaruhi ini, misalnya akhir tahun yang dekat sehingga banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, tidak adanya hari libur (kalau di musim dingin setidaknya kan ada Natal dan Tahun Baru), dll.

Seperti yang kubilang, aku malas untuk melihat hal ini lebih jauh. Jadi untuk posting ini, andaikata benar pun korelasi palsu mah nggak apa-apa ya, haha 😆 . Intinya adalah, ini lah yang kurasakan secara umum tentang musim gugur 😛 .

Life in Holland · Zilko's Life

#1836 – My Luck with Rain Lately

ENGLISH

Let’s just say, it has not been great.

Weather-wise, this Fall has not been that great in the Netherlands. It has been a bit colder than usual, really gloomy, and, worst of all, really wet!

Raining in Delft
Raining in Delft

And the last one really annoyed me, be when it happened or when it did not. Two times, recently, I had to soldier through the rain because I forgot to bring an umbrella. When this happened, of course, it reminded me of the old Indonesian saying which roughly translates to “Prepare an umbrella before it starts to rain“. The meaning of this saying can be both figurative or literal; but in this case of course the literal one was applicable 😛 . So the next days, I decided to bring an umbrella just in case it would rain. And guess what? It did not. Moreover, it was sunny! Lol 😆 .

Speaking of rain, one app which I find really useful for living peacefully in handling the rain is the Buienalarm. The app provides prediction of the rain precipitation in your chosen area for the coming hour so. This really helps me in my decision-making process. For instance, I did not just blindly “soldier through” the rain in the previous paragraph. I decided to based on the information that I got from the app, as follows:

Buienalarm
Buienalarm

It was about 6:02 PM in Delft station. A lot of people were stuck due to heavy rain (well, the app said moderate; but from my perspective, moderate rain was basically heavy when I did not have an umbrella with me 😛 ), including myself. It was predicted that the rain would last for the next 45 minutes or so. However, I saw a small opening there. For about five minutes starting from 6:05 PM, the rain would die down a little bit (it would still be raining, but not as hard). So I had an option to make use of this five minutes time-window or to wait 45 minutes before the rain was predicted to completely stop. Well, I chose the former 😛 .

So what I did was just to wait for three minutes more at Delft station. And at 6:05 PM, when the rain died down a little, I soldiered through the rain and ran to my apartment. I was still quite wet, of course, but not as much and I certainly did not have to get stuck at Delft station for another 45 minutes. In my opinion, that helped a lot! 😀

BAHASA INDONESIA

Begini aja deh ya, keberuntunganku dengan hujan akhir-akhir ini tidak lah begitu baik.

Dalam hal cuaca, musim gugur kali ini tidak lah begitu mengasyikkan di Belanda. Suhu udaranya lebih dingin daripada biasa, cuacanya sungguh gloomy, dan, yang paling nyebelin nih, sering hujan!

Raining in Delft
Hujan di Delft

Dan yang terakhir ini sungguh menyebalkanku, baik ketika terjadi maupun tidak. Dua kali, akhir-akhir ini, aku harus berjalan-kaki nekad menembus hujan karena aku lupa membawa payung. Ketika ini terjadi, tentu saja dong aku langsung teringat pepatah “Sedia payung sebelum hujan“. Haha, dalam kasus ini makna pepatah ini mah tersurat banget ya 😛 . Jadilah keesokan harinya, aku memutuskan untuk membawa payung unuk jaga-jaga andaikata hujan. Dan apa yang terjadi? Nggak hujan dong. Malahan, cuacanya cerah! Huahaha 😆 .

Ngomongin hujan, satu app yang aku rasa sungguh berguna untuk hidup damai tentram di Belanda dalam menghadapi hujan adalah Buienalarm. App ini memberikan prediksi curah hujan di tempat pilihan kita sepanjang satu jam-an ke depan. Ini sungguh membantu proses pembuatan-keputusanku. Contohnya, sebenarnya aku nggak hanya sekedar modal nekad aja sih dalam menembuh hujan yang kuceritakan di paragraf sebelumnya. Aku memutuskan begitu berdasarkan informasi yang kudapatkan dari app ini, sebagai berikut:

Buienalarm
Buienalarm

Waktu itu jam 6:02 sore di stasiun Delft. Banyak orang terjebak di sana karena hujan yang deras (yah, menutup app hujannya cuma sedang aja sih; tetapi dari sudut pandangku, hujan yang sedang aja mah sudah aku anggap deras ya soalnya aku kan harus berjalan-kaki dan aku tidak membawa payung 😛 ), termasuk aku. Hujannya diprediksi akan berlangsung selama 45an menit ke depan. Namun, aku melihat sebuah celah di sana. Selama sekitar lima menit mulai dari jam 6:05 sore, hujannya akan sedikit mereda (masih hujan sih, tapi nggak deras). Aku memiliki pilihan untuk menggunakan waktu lima menit ini atau menungguh 45 menit hingga hujannya diprediksikan berhenti. Aku memilih pilihan pertama 😛 .

Jadilah aku memutuskan untuk menunggu selama tiga menitan di Stasiun Delft. Jam 6:05 sore, ketika hujannya sedikit mereda, baru deh aku menembus hujan dan berlari menuju apartemenku. Jelas lah aku masih basah, tetapi nggak parah-parah amat dan jelas aku jadi tidak harus terjebak di Stasiun Delft selamat 45 menit kan. Menurutku, ini mah membantu banget! 😀

General Life · Life in Holland · Zilko's Life

#1830 – A Wallet Story

ENGLISH

Thursday last week was a long day for me. I had to be especially early at the office for a training; which meant I had to get up even earlier. In the afternoon, I left later because the training went a little bit over time. Then, the approximately three hours of commute to Amsterdam and back. I arrived at home at around 7 PM and cooked my dinner. I knew I would want to watch the twelfth series of The Apprentice UK at 10 PM, but before that I wanted to go to the gym first as I skipped gym the day before. But then, I found out that I was running out of meat so I decided to go to the supermarket first. So it was unsurprising that I felt so tired by the end of the day, haha 😆 .

On Friday morning, before I walked to the train station to go to work, somehow I felt the urge to check if my wallet was in my bag. I guess, subconsciously, I knew something was not exactly right today. And guess what, I could not find my wallet; even after searching my entire room! 😱😱😱😱😱

I tried to not panic and think rationally, tracing it down to what I did the day before. The two places with the highest likelihood where I could have accidentally left my wallet were the gym and the supermarket. Then I went to the gym first, and I could not find it. At the supermarket, one staff told me the guy responsible for the security, etc, was on the afternoon shift today so she recommended me to come back after 12 PM. Well, I would have to work the entire day today so I guess I could only come back in the evening.

At least I was glad I applied the risk diversification strategy before, where I did not put all my important stuffs in one place (for instance, the wallet). So while my wallet was gone, for now, I still had my passport and Dutch residence-permit card with me. I even still had my NS-Business Card so I could still travel for work without any problem.

Somehow I felt rather calm today; as I had this hunch that everything was alright and the wallet was in the supermarket. I checked my credit card accounts online and saw no unauthorized transaction, a good indication of course so this also helped.

Long story short, I went back to Delft after work and I immediately went straight to the supermarket. I explained the situation to a staff who then called the security guy. I described how the wallet looked like and where I thought I left it. He mentioned someone found the wallet the evening before and handed it to him. He went to the security room and came out with my wallet in his hand. After checking my ID, he gave me back my wallet and everything inside it, safe and sound.

Yeah, some faith in humanity restored before being crushed again by what happened earlier this week!!

You see, this is one of the many reasons why I LOVE my life here in the Netherlands.

BAHASA INDONESIA

Hari Kamis minggu lalu adalah hari yang panjang bagiku. Aku harus tiba di kantor lebih pagi karena ada training; yang mana artinya aku harus bangun lebih pagi juga. Sorenya, aku juga baru bisa pulang lebih malam karena training-nya berlangsung sedikit terlalu lama. Ditambah lagi, aku harus menyisihkan tiga jam nglaju untuk pergi ke Amsterdam dan pulangnya. Aku tiba di rumah jam 7 malam dan setelahnya memasak makan malam. Aku ingin menonton The Apprentice UK musim ke-12 jam 10 malam, tetapi sebelumnya aku ingin pergi ke gym dulu karena sehari sebelumnya gym harus aku loncati. Namun kemudian, ternyata aku kehabisan daging sehingga aku memutuskan untuk belanja di supermarket dulu. Jadi, tidak mengherankan jika pada akhirnya aku merasa lelah kan ya, haha 😆 .

Jumat pagi, sebelum aku berangkat ke stasiun kereta untuk berangkat kerja, entah mengapa aku merasa perlu untuk mengecek dompet di dalam tasku. Mungkin di alam bawah sadar aku menyadari ada yang nggak beres hari ini. Dan apa yang terjadi? Aku tidak bisa menemukan dompetku loh; bahkan setelah aku mencarinya di seluruh kamar! 😱😱😱😱😱

Aku berusaha untuk tidak panik dan berpikir jernih, menjejak ulang apa yang kulakukan sehari sebelumnya. Aku berkesimpulan ada dua tempat yang paling mungkin dimana aku bisa tidak sengaja meninggalkan dompetku: di gym atau di supermarket. Jadilah aku pergi ke gym dulu, dimana disana aku tidak bisa menemukannya. Lalu aku pergi ke supermarket. Hanya saja, salah satu stafnya bilang bahwa petugas sekuriti masuk di shift siang hari ini sehingga ia memintaku untuk kembali setelah jam 12 siang. Waduh, kan aku harus kerja ya hari ini jadilah aku baru bisa kembali kesana malamnya.

Setidaknya aku lega aku menerapkan strategi diversifikasi risiko sebelumnya, dimana aku tidak menyimpan segala benda-benda penting di satu tempat (misalnya, di dalam dompet). Jadi walaupun untuk saat ini dompetku hilang, setidaknya paspor dan kartu residence-permit Belandaku masih aku pegang. Bahkan kartu NS-Business Card juga masih kubawa sehingga aku masih bisa bepergian ke Amsterdam tanpa masalah.

Tapi entah mengapa aku merasa tenang kok hari ini; karena intuisiku berkata bahwa semuanya baik-baik saja dan dompetku ada di supermarketnya itu. Akun-akun kartu kreditku juga kucek melalui internet dan aku tidak melihat adanya aktivitas-aktivitas yang mencurigakan disana, sebuah indikasi baik yang tentu membantuku merasa tenang.

Singkat cerita, setelah kembali di Delft sepulang kerja, langsung aku pergi ke supermarketnya. Aku jelaskan situasinya ke seorang staf yang kemudian memanggil petugas sekuritinya. Dompetku aku deskripsikan kepadanya dan aku sebutkan dimana aku kira dompetnya aku tinggalkan. Ia sebutkan bahwa memang ada yang menemukan sebuah dompet dan kemudian dompetnya diserahkan kepadanya. Ia masuk ke dalam ruang sekuriti dan keluar dengan membawa dompetku di tangannya. Setelah mengecek identitasiku, dompetku beserta segala isinya dikembalikan.

Iyaa, some faith in humanity restored sebelum akhirnya dihancurkan kembali oleh apa yang terjadi awal minggu ini!!

Nah kan, ini adalah satu dari banyak alasan mengapa aku SUKA BANGET dengan kehidupanku di Belanda.

Life in Holland · Zilko's Life

#1740 – A Public Holiday Season in the Netherlands

ENGLISH

In the Netherlands, public holidays are not uniformly distributed across the year. In fact, it is actually very not uniform where there is period where public holidays keep coming within short period of time and there is long period with no public holiday observed at all.

Actually, the end of April – May is the first kind of period. Last year, the timing of all the public holidays was so perfect that four of a stretch of five consecutive weekends were long weekends, haha 😆 . Consequently, obviously this year it is not like that.

The Koningsdag this year fell on a Wednesday so it was just one normal public holiday, haha 😆 . Last weekend, though, was a  “proper” long weekend with the Ascension Day on Thursday and TU Delft forced all the employees to take Friday off (by mandatorily taking one day off the holiday allowances this year). Obviously I made use of that long weekend by going to Rennes, France, haha 😆 .

And actually, now we are in the middle of a long weekend again. Tomorrow is the Tweede Pinksterdag (Second Pentecost/Whit Monday) so I am not supposed to work tomorrow. However, technically I will have to work tomorrow even though in practice I will not really be “working”. What do I mean by this? Well, just stay tuned, haha 😉

And you know what? After tomorrow, the next public holiday will be on 25 December 2016 for Christmas. Yes, there will literally be ZERO public holiday for a period of literally six months in the Netherlands, haha 😆 . But then of course 25 December 2016 will actually be a Sunday so the day being a public holiday is quite “useless” in that sense, lol 😆 . Though at least 26 December is also a recognized public holiday (as the Second Day of Christmas) so at least that weekend will be a long weekend this year 😛 .

BAHASA INDONESIA

Di Belanda, hari libur nasional tidak terdistribusikan secara merata di sepanjang tahun. Bahkan, distribusinya sangat tidak merata dimana ada satu periode dimana tanggal merah terus berdatangan dalam rentang waktu yang singkat dan ada periode lainnya dimana sama sekali tidak ada tanggal merah di dalam satu periode yang lama.

Sebenarnya, periode akhir April – Mei adalah sebuah periode tipe pertama. Tahun lalu, timing tanggal merahnya sempurna dan pas sekali sampai-sampai empat dari sebuah urutan lima akhir pekan yang berturutan itu long weekend loh, haha 😆 . Sebagai akibatnya, jelas tahun ini tidak seperti itu.

Koningsdag tahun ini jatuh di hari Rabu jadi waktu itu hanyalah sebuah hari libur sehari biasa gitu deh, haha 😆 . Akhir pekan yang lalu, untungnya, adalah sebuah long weekend yang “benar” btw dengan Hari Kenaikan Isa Almasih yang jatuh di hari Kamus dan TU Delft memaksa semua karyawannya untuk mengambil libur di hari Jumat (dengan cara mewajibkan penggunaan satu hari dari jatah cuti tahun ini). Jelas dong ya long weekend itu aku manfaatkan dengan jalan-jalan ke Rennes, Prancis, haha 😆 .

Dan sebenarnya, sekarang ini kita sedang berada di pertengahan sebuah long weekend lagi loh. Besok adalah Hari Tweede Pinksterdag (Pantekosta Kedua) jadi besok seharusnya tidak bekerja. Namun, secara teknis besok aku masih harus bekerja nih walaupun prakteknya memang mungkin aku nggak “bekerja” juga. Apa maksudku? Yah, tunggu saja ceritanya ya, haha 😉 .

Dan tahu nggak? Setelah besok, hari libur nasional selanjutnya akan jatuh di tanggal 25 Desember 2016 untuk Hari Raya Natal. Iya, bakal ada totalnya NOL tanggal merah selama sebuah periode lebih dari setengah tahun di Belanda, haha 😆 . Tetapi tentu saja tanggal 25 Desember 2016 ini jatuh di hari Minggu kan ya jadi tanggal merahnya “nggak berguna” juga gitu deh, haha 😆 . Walau seenggaknya 26 Desember jugalah tanggal merah sih disini (sebagai Natal Hari Kedua) jadi setidaknya akhir pekan itu akan menjadi sebuah long weekend deh tahun ini 😛 .

Life in Holland · Zilko's Life

#1731 – Koningsdag 2016

ENGLISH

Today, King Willem-Alexander of the Netherlands is celebrating his 49th birthday and, consequently, today is a national holiday in the Netherlands! Yeaaay!! 😀

“Too bad” though today is a Wednesday which means it is literally in the middle of the week so there is no reason to make it a long weekend, lol 😝😝😝. Last year, the Koningsdag (the King’s birthday) fell on Monday so a long weekend from Saturday all the way to Monday was observed in the Netherlands, lol 😆 . Actually this may work in my favor though because now I am very busy at work anyway so long weekend is something which I actually don’t really need. Moreover, this means next year, it will be a long weekend when the Koningsdag falls on a Thursday! Haha 😆 .

#KoningsdagSelfie
#KoningsdagSelfie
Anyway, this year’s Koningsdag is quite unique to me. Technically this is my sixth Koningsdag/Koninginnedag in the Netherlands. However, this is actually the first Koningsdag while I actually live in the centrum! And so I have been expecting today would be super busy and crowded in the city center (not that I was looking forward to it)

However, in a way the weather lately has been a little bit on my side for this matter. While the Spring has been around in the Netherlands for almost a month now, the trend stopped in the past week and it felt like we are moving backwards a little bit towards winter. Yes, the temperature in the Netherlands (and Europe in general) has been dropping! Even I heard it was snowing a little bit in Delft on Monday (too bad I had a meeting in Eindhoven that day so I did not experience it). As a result, while obviously the Koningsdag celebration was still going on, it was not nearly as crowded or busy as it usually is!

While I was glad that it was not as crowded as it could be, on the other hand I missed the festivity though…

BAHASA INDONESIA

Hari ini, Raja Willem-Alexandernya Belanda merayakan hari ulang-tahun ke-49nya. Sebagai akibatnya, hari ini adalah tanggal merah loh di Belanda! Yeaaay!! 😀

“Sayang” sih hari ini hari Rabu yang mana artinya benar-benar di pertengahan minggu sehingga tidak ada alasan untuk membuat liburan ini menjadi long weekend ya, haha 😝😝😝. Tahun lalu, Koningsdag (hari ulang tahunnya Raja) jatuh di hari Senin sehingga waktu itu long weekend deh dari hari Sabtu hingga Senin di Belanda, haha 😆 . Sebenarnya mungkin ini menguntungkanku sih karena toh sekarang aku sibuk banget di kantor jadi sebenarnya aku nggak begitu membutuhkan long weekend deh. Lebih jauh lagi, ini artinya tahun depan Koningsdag akan jatuh di hari Kamis kan! Haha 😆

#KoningsdagSelfie
#KoningsdagSelfie
Anyway, Koningsdag cukup unik untukku. Secara teknis ini adalah Koningsdag/Koninginnedag-ku yang keenam di Belanda. Namun, ini adalah Koningsdag pertama dimana aku tinggal di centrum! Jadi jelas aku sudah bersiap-siap bahwa pusat kota akan ramai banget nih (dan aku nggak begitu menantikannya)

Namun, bisa dibilang cuaca memihakku sedikit di sisi ini. Walau ceritanya Belanda sudah memasuki musim semi satu bulan terakhir ini, trennya berhenti seminggu terakhir dimana rasanya cuaca justru bergerak mundur ke musim dingin. Iya, suhu udara di Belanda (dan Eropa sih) turun dong! Bahkan aku dengar di Delft sedikit bersalju loh hari Senin kemarin (sayangnya waktu itu aku sedang ada meeting di Eindhoven sehingga aku melewatkannya). Sebagai akibatnya, walau jelas perayaan Koningsdag masih berlangsung seperti biasa, perayaannya jadi tidak seramai atau sesibuk biasanya!

 

Walau aku lega bahwa pusat kotanya nggak ramai-ramai amat, tapi di sisi lain kok aku merindukan kemeriahannya ya, hahaha…

Life in Holland · Zilko's Life

#1703 – Applying for the Dutch PR

ENGLISH

Note: Some information which I may provide via this post may be unreliable, especially in the case if you are reading this post (far) in the future where there always is a possibility of laws/rules changes. And so I personally suggest you to confirm the information to the official bodies governing those matters to obtain more relevant information for whatever purpose you might have.

***

As I have temporarily lived in the Netherlands for more than five consecutive years, there has been one matter which has kept me busy in the past eight-nine months or so: applying for the Dutch permanent residence (PR) permit, haha 😆 .

In mid-February, I got a letter from the IND (The Dutch Immigration and Naturalisation Service) which confirmed that I was granted the Dutch PR 😛 . And last week, finally I got my new residence permit card which states that I can stay in the Netherlands for an “indefinite” period 😛 . Here is the brief story of my PR application experience from my point of view 🙂 .

***

Obviously there were a lot of requirements that needed to be fulfilled to get a PR status. One of them was that I must show that I have sufficiently integrated myself to the Dutch society. To do that, I must pass an exam called the inburgeringsexamen.

Het Inburgeringsexamen

As a PhD candidate, I was granted the kennismigrant (highly-skilled migrant) residence permit. With this permit, actually I was exempted from taking the inburgeringsexamen for the entire duration of my stay in the Netherlands under this permit (as far as I know, with some other types of permit ones must take and pass the inburgeringsexamen within three years since their arrival in the Netherlands).

Anyway, as, understandably, this exam was one of the PR requirements, I started the application process by registering myself for the exam directly at DUO (The Dutch Education Office). The inburgeringsexamen consisted of six exams: four were Dutch language exams (reading, speaking, listening, and writing), one was about knowledge of the Dutch society, and another one (which was just newly introduced last year) was about an orientation to the Dutch labour market.

I took the first five exams all in one day in Rijswijk, which all I passed right away (With flying color grades of 10, 8, 9, 8, and 9 of the scale of 0-10 as well. Yes this is important to mention here 😎😎😎). The sixth exam, however, took much longer because of its exhaustive form. For the exam I had to pretend to apply for a real job opening which matched my qualification (I had to look for the job opening myself. Thanks to LinkedIn it was not a problem these days), filled some forms which DUO had prepared, sent those filled forms back to DUO, set an interview date with them, had the 1 hour interview with two examiners from DUO (in Dutch), and then the result. The entire process took about 5 months since the day I mailed those forms to DUO until I got the result stating that I passed the exam (it was mostly the waiting game though), haha 😆 . Okay, I actually knew I passed the sixth exam right away after the interview by deducting from what the examiners said to me during the interview, haha 😛 . But still, of course I needed to wait for the official letter stating that I, indeed, passed the exam.

I passed the inburgeringexamen (and a proof of my grades :P ).
I passed the inburgeringsexamen (and a proof of my grades 😛 ).

Anyway, at the end of November I got a letter from DUO congratulating me that I passed all the required exams and hence I passed the inburgeringsexamen. In mid-December, I was invited to Rijswijk to get my inburgeringsexamen diploma.

The Application Process

Knowing that I passed the inburgeringsexamen, I immediately prepared all the other required documents. My situation, however, was a little bit more complicated because my remaining working contract with TU Delft was already less than a year on the day of my application. This was not really a problem actually. It was just that I needed to submit even more documents because of this; which mostly were about proofs of my income in the last three years! Haha 😆 .

I gathered all the required documents (well except my super old salary slips from three years ago which I had no idea anymore where they were, lol 😆 ) and after I got the inburgeringsexamen diploma, I sent my application to IND. Two days after sending the letter, I went to Rijswijk to submit my biometric information to the system.

Long story short (which the long story involved a mini drama with payment confusion due to (possibly) a problem with the post delivery service), in mid-February I got a letter stating that I was granted the Dutch PR (not the European Union one though because for that one, my Master year only counted as half because I was a student and so under that measure I had not been living here for five years yet). Then some time later I got a letter where I could collect my new residence permit card. And last week, I got my new residence permit card which states that, now, I am a PR in the Netherlands, hehe 🙂

BAHASA INDONESIA

Catatan: Beberapa informasi yang muncul di posting ini mungkin kurang akurat loh, apalagi di masa depan dimana sangat mungkin telah ada perubahan aturan/undang-undang. Oleh karena itu, aku menyarankan pembaca untuk mengonfirmasi informasi tersebut ke lembaga resmi yang bertanggung-jawab tentangnya untuk mendapatkan informasi terkini dan akurat, untuk alasan apa pun yang mungkin pembaca punya. 

***

Karena aku sudah hidup (sementara) di Belanda selama lebih dari lima tahun berturut-turut, ada satu urusan yang telah menyibukkanku selama delapan/sembilan bulan belakangan ini: mengajukan permohonan izin tinggal permanen (permanent residence permit/PR) di Belanda, haha 😆 .

Pertengahan Februari lalu, aku mendapatkan surat dari IND (Badan Imigrasi dan Naturalisasi Belanda) yang mengonfirmasi bahwa permohonan PR-ku dikabulkan 😛 . Dan minggu lalu akhirnya aku mendapatkan kartu residence permit yang baru yang menyatakan bahwa aku berhak tinggal di Belanda untuk masa waktu yang “tidak terbatas” 🙂 . Berikut ini cerita singkat pengalaman proses aplikasi PRku ini dari sudut pandangku 🙂 .

***

Tentu saja ada banyak persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin tinggal ini. Salah satunya adalah aku harus bisa menunjukkan bahwa aku sudah cukup terintegrasi dengan kehidupan dan masyarakat di Belanda. Untuk menunjukkan itu, aku harus lulus sebuah ujian yang disebut inburgeringsexamen.

Het Inburgeringsexamen

Sebagai kandidat PhD (S3), selama ini aku mendapatkan izin tinggal sebagai kennismigrant (imigran dengan keterampilan/kemampuan/pendidikan tinggi (ini terjemahannya kok gini amat ya? Hahaha 😆 )). Dengan izin tinggal ini, aku mendapatkan pengecualian dari kewajiban ikutan inburgeringsexamen untuk keseluruhan masa tinggalku di Belanda dengan izin tinggal ini (sejauh yang aku tahu, beberapa izin tinggal tipe lainnya mengharuskan pemegangnya untuk mengambil dan lulus ujian inburgeringsexamen ini dalam waktu tiga tahun semenjak ketibaan mereka di Belanda).

Anyway, karena, masuk akal sih, ujian ini adalah salah satu persyaratan untuk mendapatkan PR, proses pendaftaranku aku mulai dengan mendaftarkan diriku untuk mengikuti ujian ini langsung di DUO (Kantor Pendidikan Belanda). Inburgeringsexamen ini terdiri atas enam ujian: empat adalah ujian bahasa Belanda (kemampuan membaca, kemampuan berbicara, kemampuan mendengarkan, dan kemampuan menulis), satu ujian adalah tentang pengetahuan akan masyarakat dan kehidupan di Belanda, dan satu ujian lagi (yang mana ujian baru yang baru diperkenalkan tahun lalu) adalah tentang orientasi akan pasar tenaga kerja di Belanda.

Lima ujian pertama langsung aku ambil dalam waktu satu hari di Rijswijk, yang mana aku langsung lulus semuanya (Dengan nilai yang bagus pula: 10, 8, 9, 8, dan 9 dari skala 0-10. Iya ini memang penting buat disebutin disini 😎😎😎, huahaha). Ujian yang keenam memakan waktu jauh lebih lama, btw, karena sistem ujiannya yang memang kompleks. Untuk ujian ini, aku harus pura-pura melamar sebuah lowongan pekerjaan beneran yang cocok dengan kualifikasiku (Lowongannya pun harus aku cari sendiri. Untungnya sekarang mah ada LinkedIn ya 😀 ), mengisi beberapa formulir yang telah disiapkan DUO, mengirimkan formulir yang telah diisi ke DUO, menetapkan jadwal wawancara dengan mereka, wawancara selama 1 jam dengan dua penguji dari DUO (dengan bahasa Belanda tentunya), dan barulah hasilnya keluar. Keseluruhan prosesnya memakan waktu kira-kira 5 bulan semenjak aku mengirimkan formulir-formulir itu hingga aku mendapatkan hasil bahwa aku dinyatakan lulus (kebanyakan ya cuma menunggu aja sih sebenarnya), haha 😆 . Oke, sebenarnya aku langsung tahu bahwa aku lulus ketika wawancara dengan cara menganalisa apa yang dikatakan oleh pengujinya kepadaku di wawancara itu, haha 😛 . Tetapi jelas lah ya aku tetap harus menunggu pengumuman resminya yang menyatakan bahwa aku memang lulus.

I passed the inburgeringexamen (and a proof of my grades :P ).
Aku dinyatakan lulus inburgeringsexamen (dan juga bukti dari nilai-nilaiku 😛 ).

Anyway, di akhir bulan November aku mendapatkan surat dari DUO yang menyelamatiku atas kelulusanku di semua ujiannya sehingga aku dinyatakan lulus inburgeringsexamen. Pertengahan Desember, aku diundang ke Rijswijk untuk mengambil diploma inburgeringsexamen-ku.

Proses Aplikasi PR

Mengetahui bahwa aku lulus inburgeringsexamen, aku langsung mempersiapkan semua dokumen persyaratan lainnya. Situasiku agak sedikit rumit, btw, karena kontrak kerjaku di TU Delft tersisa tinggal kurang dari satu tahun ketika permohonan ini aku ajukan. Ini bukan masalah sih sebenarnya, hanya saja di situasi ini aku jadi harus mempersiapkan lebih banyak dokumen lagi; yang mana sebagian besar berhubungan dengan bukti-bukti pemasukanku selama tiga tahun belakangan ini! Haha 😆 .

Aku mengumpulkan semua dokumen yang kubutuhkan (eh, kecuali slip gajiku dari tiga tahun yang lalu sih soalnya aku sudah nggak tahu dong ya ada dimana slip-slip gaji itu sekarang, hahaha 😆 ) dan setelah aku mendapatkan diploma inburgeringsexamen itu, aplikasiku langsung kukirimkan ke IND. Dua hari setelahnya, aku pergi ke Rijswijk untuk memasukkan informasi biometrikku ke dalam sistem mereka.

Singkat cerita (yang mana cerita panjangnya melibatkan sebuah drama mini akibat miskomunikasi masalah pembayaran karena (kayaknya sih) ada masalah dengan sistem pengiriman pos waktu itu), di pertengahan Februari aku mendapatkan surat yang menyatakan bahwa permohonan PR-ku di Belanda dikabulkan (bukan yang Uni Eropa sih karena untuk yang itu, waktu tinggalku disini selama S2 hanya dihitung setengah saja karena statusku waktu itu adalah sebagai pelajar, sehingga dengan sistem ini total waktu tinggalku jadi belum ada lima tahun). Lalu, tidak lama kemudian aku mendapatkan surat bahwa kartu izin tinggalku yang baru sudah jadi. Dan minggu lalu, aku mendapatkan kartu residence permit-ku yang baru yang kini menyatakan bahwa aku adalah PR di Belanda, hehe 🙂