Big Days · Contemplation · Zilko's Life

#1970 – Seven Years in Europe

ENGLISH

My life in Europe, well, the Netherlands 😛 , started on this day seven years ago, when I got off Garuda Indonesia’s Airbus A330-200 reg PK-GPI at Schiphol Airport as flight GA88 from Jakarta (via Dubai). A total random note: PK-GPI no longer flies for Garuda and is now operated by Chinese’s Beijing Capital Airlines with reg B-8221 😛 .

The seventh year in retrospect

If last year I mentioned my sixth year was a big one for me, then the seventh year was even a bigger one!

I completed my PhD research this year and so now I can attach the title “PhD” or “Doctor” next to my name if I want to (Well, I earned this 😛 ). I have also decided to leave academia and switch to industry, with me starting my new job in Amsterdam last October. On top of that, I bought myself an apartment earlier this year!

So I guess I do not need to explain why I say my seventh year was bigger than my sixth. In fact, it might be the biggest one since seven years ago. So maybe it is not really an exaggeration to say that I now feel the most “fulfilled” since the day I moved to Europe.

Travelling

Unsurprisingly, I also travelled a lot in the seventh year. I added two new European countries to my list this year, bringing the total to 25 with the addition of Romania and Greece. I also explored further several European countries I had visited before, with my visit to the German’s famous Christmas Market and the wonderful Cinque Terre in Italy. There were also several city trips which I did throughout the year.

I also went on two intercontinental trips this past year. The first one was to my dream destination: Sint Maarten in the Caribbean; and the second one was to Indonesia for Christmas and New Year, the first time I was in Indonesia for both events since I moved to Europe. Both trips were so much fun!

Going to the eighth

My eighth year appears to be like an exciting one at this point. I learned a lot during my seventh year, mainly because of my switch to industry, and I expect to learn even more in this coming year. Oh, and I also already have a few fun trips planned out at this point 😛 .

So yeah, the eighth year indeed sounds like going to be an exciting one!! 😀

I got my PhD degree in my seventh year in Europe.

BAHASA INDONESIA

Kehidupanku di Eropa, ehm, di Belanda 😛 , dimulai di hari ini tujuh tahun lalu, ketika aku turun dari pesawat Airbus A330-200nya Garuda Indonesia dengan rego PK-GPI di Bandara Schiphol sebagai penerbangan GA88 dari Jakarta (via Dubai). Btw, info random nih: PK-GPI tidak lagi terbang untuk Garuda loh dan sekarang dioperasikan oleh maskapai China, Beijing Capital Airlines, dengan rego B-8221 😛 .

Refleksi tahun ketujuh

Jika tahun lalu aku sebutkan bahwa tahun keenam adalah tahun yang besar untukku, artinya tahun ketujuh ini adalah tahun yang lebih besar lagi!

Riset PhD (S3)-ku resmi aku selesaikan di tahun ini jadi sekarang aku bisa menambahkan gelar “PhD” atau “Doktor” ke namaku suka-suka gitu deh kalau aku mau (Jelas dong aku berhak untuk melakukan ini 😛 ). Aku juga sudah memutuskan untuk meninggalkan dunia akademia dan pindah ke industri (dunia kerja “reguler”), dengan pekerjaan baru yang aku mulai bulan Oktober lalu di Amsterdam. Di atas itu semua, aku juga membeli sebuah apartemen awal tahun ini!

Jadi aku rasa aku tidak perlu menjelaskan mengapa aku bilang tahun ketujuh ini lebih besar daripada tahun keenam yah. Malahan, mungkin tahun ini adalah yang terbesar semenjak tujuh tahun yang lalu lho. Jadi mungkin tidak berlebihan pula jika kubilang aku merasa paling “komplit” semenjak aku pindah ke Eropa.

Jalan-jalan

Tidak mengherankan, aku juga banyak jalan-jalan dong di tahun ketujuh ini. Aku menambahkan dua negara Eropa baru ke daftarku tahun ini, sehingga totalnya menjadi 25 dengan tambahan Romania dan Yunani. Aku juga mengeksplor lebih dalam beberapa negara Eropa lainnya yang sudah pernah kukunjungi, dengan kunjunganku ke Christmas Market di Jerman yang terkenal banget itu dan Cinque Terre yang kece di Italia. Ada juga beberapa perjalanan city trips ke beberapa kota di sepanjang tahun.

Aku juga pergi dalam dua perjalanan antar-benua setahun belakangan ini. Yang pertama adalah ke tempat impianku: Sint Maarten di Karibia; dan yang kedua ke Indonesia untuk Natal dan Tahun Baru, pertama kalinya aku berada di Indonesia untuk Natal dan Tahun Baru semenjak pindah ke Eropa. Jelas keduanya seru banget!

Masuk ke tahun kedelapan

Sekarang, tahun kedelapan nampak akan menjadi tahun yang seru. Aku banyak belajar di tahun ketujuh, terutama karena kepindahanku ke industri, dan aku yakin aku akan belajar lebih banyak lagi di tahun yang akan datang ini. Oh, dan juga aku sudah merencanakan beberapa perjalanan yang seru nih 😛 .

Jadi, ya, tahun kedelapan memang sepertinya akan menjadi tahun yang amat seru!! 😀

Big Days · Zilko's Life

#1912 – Bye, Bye, Delft!!

ENGLISH

Yesterday morning, I had the final inspection of my apartment in Delft where at the end of it I returned my Delft apartment keys. Yep, 2441 days after arriving in Delft about six and a half years ago, I moved on with my life and had completely closed the Delft chapter of my life.

Btw, while the definition of my first day in Delft is clear, the definition of my last is not. Depending on what we consider as my “last” day, there are a few possibilities, haha.

Officially, I have started living in Amsterdam one day after I got the keys of my apartment when I registered myself in Amsterdam’s gemeente (city hall). However, I did not start to actually live in my apartment until just before my Easter long weekend trip to Zurich because I was waiting for the internet connection to be installed, lol 😆 . Even after that, I still had some of my stuffs in Delft, which all of them I finally moved this weekend. Still, it was just yesterday where I finally had the final inspection and returned the keys. Nonetheless, I paid the full rent for April so technically I could still have had my apartment until this coming April 30th, haha 😆 .

The end of the Delft chapter of my life

I personally like the “keys” definition the best. So if you ask me, yesterday was my last day in Delft. Though, under this definition I have also lived in Amsterdam since the beginning of the month. So, for about three weeks this month, I lived in two different places! Haha 😆

Anyway, as usual, it was quite a little bit emotional to return the keys. And this one was a big one, as it symbolized the final page of the Delft chapter of my life. Possibly a bit similar to my feeling when I was closing the Bandung chapter of my life almost seven years ago.

But well, life goes on.

I feel happy, grateful, and satisfied with the 80 months of my life in Delft, especially that it was where I got my Master and Doctorate degrees. Now that I have both, it is time to move on.

So, as the title of this post says:

Bye, Bye, Delft and thank you for the great 80 months!

Bye, bye, Delft.

BAHASA INDONESIA

Kemarin pagi, inspeksi akhir apartemenku di Delft berlangsung yang mana diakhiri denganku mengembalikan kunci-kunci apartemen Delft-ku. Ya, 2441 hari setelah tiba di Delft sekitar enam setengah tahun yang lalu, aku move on dengan kehidupanku dan telah menutup penuh bab Delft dari hidupku.

Btw, jika definisi hari pertamaku di Delft itu jelas, definisi hari terakhirku kurang begitu jelas. Tergantung dari apa yang kita pandang sebagai hari “terakhir”, ada beberapa kemungkinan, haha.

Secara resmi, aku sudah mulai tinggal di Amsterdam sehari setelah aku mendapatkan kunci apartemenku ketika aku meregistrasikan diriku di gemeente (balai kota)-nya Amsterdam. Namun, aku masih belum tinggal di apartemenku ini sampai tepat sebelum perjalanan long weekend Paskahku ke Zurich karena aku menunggu terpasangnya koneksi internet terlebih dahulu, haha 😆 . Itu pun, barang-barangku sebagian masih berada di Delft, yang mana semuanya akhirnya kupindahkan akhir pekan kemarin. Dan baru kemarin pagi inspeksi akhir berlangsung dan kunci-kuncinya aku kembalikan. Walaupun begitu, aku membayar sewa penuh di bulan April jadi secara teknis bisa-bisa aja sih kalau aku mau tinggal di apartemenku hingga 30 April ini, haha 😆 .

Akhir dari bab Delft dari hidupku

Untukku sendiri, aku paling suka dengan definisi “kunci”. Jadi jika aku ditanya, kemarin lah hari terakhirku di Delft. Walaupun, dengan definisi ini, artinya aku juga sudah tinggal di Amsterdam semenjak awal bulan ini dong ya. Jadi selama sekitar tiga minggu bulan ini, aku tinggal di dua tempat secara bersamaan! Haha 😆

Anyway, seperti biasa, pengembalian kunci terasa emosional bagiku. Dan kali ini “besar” pula, karena pengembalian ini menyimbolkan halaman terakhir dari bab Delft dari hidupku. Mungkin mirip-mirip lah sama perasaanku ketika aku menutup bab Bandung dari hidupku hampir tujuh tahun yang lalu.

Tapi ya gitu kan, kehidupan terus berlanjut.

Aku merasa senang, penuh syukur, dan puas dengan 80 bulan hidupku di Delft, terutama di sana lah aku mendapatkan gelar Master (S2) dan Doktoral (S3)-ku. Sekarang dengan dua gelar ini menjadi milikku, sudah waktunya untukku move on.

Jadi, seperti judul posting ini:

Bye, Bye, Delft dan terima kasih atas 80 bulan yang seru!

Bye, bye, Delft.
Big Days · Zilko's Life

#1901 – MY Apartment

ENGLISH

I previously shared that I have made a decision to move to Amsterdam. In fact, I am moving there this month. Actually, I made this decision already in November. So why did it take “this” long for me to move?

You see, I hated the act of “moving”. However, having made the decision to move, this meant what I needed to do was to minimize the number of moving I would need to do, haha 😆 . This further implied that I needed to move to a place for the longer-term. This last point went along with the conventional rational wisdom, which I had had in my mind for quite some time:

I needed to BUY my next place.

Btw, this was the goal I cryptically mentioned in November, haha.

You see, buying a new place was no small matter so I needed to gather a lot of information about it. Since then, I hired a consultant and an agent to represent me (The Amsterdam housing market is a highly competitive market that works “differently” than a lot of other housing markets, so it is advisable to hire an agent representing us when planning to buy a place.).

Amsterdam
The housing market in Amsterdam is unusual.

Long story short, it did not take very long for me to get a successful deal (apparently I was very lucky, some colleagues told me it took them almost a year before they bought their places in Amsterdam).

In fact, as of today, I am the official owner of my new place in Amsterdam, haha 😎.

***

When my agent informed and congratulated me that I got the deal by winning the bid back in February, I was feeling a little bit overwhelmed, to be honest, because it felt like a huge commitment (well, it was), haha. It was also probably because I was surprised to get the deal that fast, given that I didn’t think I made a high enough bid for the house (This indeed means that I think I got a good deal on it, yeay! 😉 ).

But I knew that this was what I wanted. Plus, this was the right and good commitment to make anyway, given the current outlook of my future plan. So I just braved myself up and proceeded with the process.

And so last week, my life savings took a big hit with all the initial payments related to this purchase. And I expect another hit in the coming weeks or so when my credit card bills arrive with all the shopping I have done to make my apartment “habitable”, lol 😆 . More on the latter in a later post 🙂 .

***

Yeah, another life achievement this year, I guess. After getting my Doctorate (PhD) degree earlier this year, I now own a place 😀 .

BAHASA INDONESIA

Sebelumnya telah kuceritakan bahwa aku telah membuat keputusan untuk pindah ke Amsterdam. Bahkan aku akan pindahan bulan ini. Sebenarnya, keputusan ini sudah kubuat semenjak November. Lantas mengapa aku membutuhkan waktu “selama” ini cuma buat pindah aja?

Jadi begini, aku benci sekali dengan yang namanya “pindahan”. Namun, karena sudah membuat keputusan untuk pindah, ini artinya yang perlu kulakukan adalah meminimalisir jumlah pindahannya kan, haha 😆 . Artinya, aku harus pindah ke suatu tempat untuk jangka panjang. Poin terakhir ini kebetulan juga sejalan dengan pandangan rasional yang umum, yang mana juga sudah berada di benakku cukup lama:

Tempat tinggalku selanjutnya haruslah aku BELI.

Btw, ini adalah tujuan yang aku singgung secara misterius bulan November lalu, haha.

Nah kan, membeli tempatku sendiri itu bukanlah perkara sepele sehingga aku merasa perlu untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentangnya. Semenjak waktu itu, aku memutuskan untuk menggunakan jasa konsultan dan sebuah agen untuk mewakiliku (pasar properti Amsterdam adalah pasar yang amat kompetitif dan “berbeda” dari layaknya pasar-pasar properti lainnya, jadi memang disarankan untuk menggunakan jasa agen di sini).

Amsterdam
Pasar properti di Amsterdam itu cukup berbeda.

Singkat cerita, tidak membutuhkan waktu lama untukku berhasil mendapatkan sebuah deal (Dan bisa dibilang aku beruntung sekali. Beberapa kolegaku bercerita mereka membutuhkan waktu hampir setahun untuk mendapatkan rumahnya di Amsterdam).

Bahkan, per hari ini, resmi aku adalah pemilik rumahku di Amsterdam loh, haha 😎.

***

Ketika agenku memberi-tahuku dan menyelamatiku bahwa aku mendapatkan apartmennya karena aku menang dalam penawaran harga di bulan Februari kemarin, aku merasa overwhelmed banget, jujur nih, karena ini terasa seperti komitmen yang besar banget (memang begitu sih), haha. Mungkin ini juga karena aku kaget aku mendapatkan deal sedemikian cepat, dengan pertimbangan padahal rasanya penawaran hargaku nggak tinggi-tinggi amat loh (Ini memang berarti aku merasa aku mendapatkan rumahku dengan harga yang oke, hore! 😉 ).

Tetapi aku tahu ini adalah apa yang aku inginkan. Ditambah lagi, toh ini adalah komitmen yang tepat dan baik untuk dibuat kan, apalagi dengan mempertimbangkan perencanaan masa-depanku sekarang. Jadilah aku memberanikan diri dan melanjutkan prosesnya.

Akibatnya minggu lalu, tabunganku terkena pukulan besar deh dengan semua pembayaran awal yang berkaitan dengan pembelian ini. Dan minggu-minggu ini akan ada pukulan lain lagi ketika tagihan kartu kreditku akan datang dengan semua belanjaanku akhir-akhir ini untuk membuat apartemenku ini “bisa dihuni”, huahaha 😆 . Yang kedua ini akan aku tulis di sebuah posting yang akan datang 🙂 .

***

Yup, sebuah pencapaian hidup lagi ya tahun ini. Setelah mendapatkan gelar Doktoral (S3)-ku awal tahun ini, kini aku juga memiliki rumahku sendiri 😀 .

Big Days · PhD Life · Zilko's Life

#1881 – My PhD Defense and Graduation

ENGLISH

At the end of January, I successfully defended my PhD dissertation and, therefore, was awarded my PhD degree. And here is the story of how that day, one of the most important days of my entire life, went.

1. The suiting up

There was a strict dress code that I must follow for the defense. And by strict, I could not just dress formally as I would like or do. For the professors, they even determined the specific shade of gray ( 😛 ) for their ties (seriously!).

The suit rental shop in Delft
The suit rental shop in Delft

Anyway, thankfully there is a suit rental shop in Delft who knows all these rules and caters for this kind of event. For today, I made an appointment with them at 10:30 to get my tuxedo. I picked my parents and brother up at their hotel and went to this shop. There, I was suited up and met two associate professors in my committees who would need to rent their designated suits for the event too.

The whole look was very nice, though. My mom especially loved the fabric of the vest, haha. Well, having to pay €99 just for renting the whole outfit (plus €25 for the shoes), I expected that, lol 😆 .

Suited-up!
Suited-up!

2. The trip to the defense room

Then, we had to go to the defense room in TU Delft Aula. I planned to take bus number 69 which stopped just in front of the aula so it was very convenient. But then, bus number 60 arrived and somehow I saw the “0” as “9” causing me to take the wrong bus! Duh! Drama which I certainly did not need for today 😣.

As a result, we got off at a bus stop that was quite far away from the aula. There was no scheduled bus service towards the Aula, so our best option was to walk there 😣. Well, luckily I put some time margins in our plan so we still had the time to go there. But still…

Before the defense started
Before the defense started

Long story short, we arrived at the defense room. I was greeted by the beadle (the MC, sort of) who briefed me with everything and helped me to prepare myself. It was still 40 minutes before the start of the defense. My family tried to calm me down by taking some photos, haha. Then, my guests also started to arrive. (This was an open defense so basically all people were allowed to come and watch).

3. The defense

The starting point of the defense
How the defense started

At exactly 12:30 PM, the beadle and my thesis defense committees (consisting of eight members, of which five were full professors) entered the room. We all had to stand up and the eight committee members sat at their designated places. The audiences were asked to sit down while I was asked to go to the podium.

The rector magnificus (chairman), who acted as the moderator, introduced the eight committee members to the audience. Then, the one-hour long questioning started….

Listening seriously to the question being asked
Listening seriously to the question being asked

To be honest, I was very nervous during the defense, haha. But I expected it, though. One week prior, a British stand-up comedian presented (at a work event) giving some advice on how to do public speaking in an intimidating event. I decided to give this advice a try!

Defending
Defending

Overall, I think I did fine in answering the questions thrown at me. Some of those were like “What the hell?” questions, lol, but I handled them well. My promotor, who got the last turn to ask, just finished his first question when I saw the beadle entering the room, meaning the 3600 seconds of defense time was almost over. I had not got the chance to fully answer the question when the beadle finally said “Hora est!“. And everything must stop as it had been exactly one hour.

Almost "Hora Est!"
Almost “Hora Est!”

I was asked to return to my seat. The eight committee members followed the beadle to a separate room to discuss the result.

4. The agonizing wait

As they left the room, the audience gave me a big applause. As for me, I just felt tired. And relieved. But mostly tired, though, haha.

Some of my guests came to my seat to congratulate me. The advice from the British stand-up comedian turned out to be a really good one, as they told me I looked composed and was very confidence in defending my work and arguments. I told them that in the inside, I was crazy nervous as hell! Haha 😆

I was so tired that I did not feel like standing at this time so I pretty much just sat the whole time. I felt like my defense went well, but still there was a bit of anxiety over what the committees were discussing at this time.

5. The graduation

The committee marching with my diploma to the defense room
The committee marching with my diploma to the defense room

About 15 minutes later after the defense, the beadle, followed by the eight committee members, entered the room. As before, everyone had to stand up while the nine people took their places.

I was, then, asked to go forward to stand before the rector magnificus. He declared that I had successfully defended my thesis and the committees had all agreed that I deserved to be awarded the degree of “Doctor”.

The rector magnificus then gave the floor to my promotor, who officially “awarded” me with my degree and handed over my (big) diploma. And, thus, as of 13:48 Dutch time today, officially I was promoted to Dr. Ir. A. A. Zilko.

The moment I became a Doctor
The moment I became a Doctor.

Then, the rector magnificus swore me my responsibility to the society now that I had become a Doctor, an independent scholar. With this, my argument and opinion could affect the society so I must be wise with it. After my promotion, the eight committee members and the audiences were asked to sit down (they were standing the whole time during my promotion).

A graduation speech
A graduation speech

Then, the rector magnificus gave the floor to my copromotor (my daily supervisor). As I worked very closely with her during my PhD years, she was given the opportunity to be the first person to officially address me as “Dr. Zilko” and gave a speech about my promotion and the years we have worked together. Actually, we had known each other for almost seven years, as she was also the one who awarded me my Master scholarship to the Netherlands in early 2010, a big turning-point event of my life. So, yeah, it was quite emotional indeed 🙂 .

6. The reception

My graduation was followed with a reception. But first, the mandatory official group photo at the famous stairs just in front of the defense room:

The famous stairs photo
The famous stairs photo

The reception took place in the common area downstairs. Everything had been set up according to my request (Weeks before, I must determine, among other things, how many pieces of cookies I would want to serve in the reception. Seriously! 😅)

With my diploma
With my diploma

Anyway, I was led to a table by the beadle, who opened the diploma and presented it on the table for me. My parents and brother were asked to stand by my left. Then, the guests formed a line to congratulate me (then my parents and brother) one by one, starting with the committees 🙂 . During the reception, I also received a lot of gifts from my colleagues and friends! Thank you guys!! ☺️

Gifts!!
Gifts!!

The reception lasted for almost an hour. After everyone left, I took care of the payment stuffs with the staff there, and then I left the Aula.

7. The aftermath (rest)

We took the right bus to go back to the Delft centrum this time, haha. I asked my parents and brother to head back to their hotel for some rest, while I returned to the suit rental shop to returned my tuxedo. Along the way, a lot of strangers congratulated me. I guess it was very visible when a guy with a full tuxedo holding a big red cylinder, then he must have just successfully defended his PhD dissertation!

8. The dinner

Beef cutlet as the main course
Beef cutlet as the main course

I also decided to organize a dinner with the committee members in the evening in a nice restaurant in the city center of Delft (its rating in Yelp and Trip Advisor was superb). Unfortunately my promotor could not attend due to his recurring asthma problem. One of the professors was late due to an emergency at work, so we started dinner rather quite late.

My choice of restaurant turned out to be great, as the dinner was really nice! Overall it was a nice evening; even my supervisor advised my parents to practise more conversational English, haha 😆 .

Graduation dinner groupfie
Graduation dinner groupfie

***

Yeah, that is it. The story of one of the biggest days of my entire life. And I feel blessed to be able to have that experience! ☺️

BAHASA INDONESIA

Di akhir bulan Januari, aku sukses menjalani sidang disertasi PhD/S3-ku dan, oleh karenanya, aku mendapatkan gelar S3ku. Nah, posting ini akan berisi cerita bagaimana hari itu, salah satu hari terpenting di keseluruhan hidupku, berlangsung.

1. Suiting up

Ada aturan dress code super ketat yang harus aku patuhi untuk mengikuti sidang. Dan dengan ketat, maksudku aku tidak bisa hanya mengenakan pakaian formal seperti biasanya. Bahkan bagi profesor-profesornya, mereka harus memakai dasi abu-abu yang mana shade of gray-nya ( 😛 ) sudah ditentukan dong, jadi nggak bisa asal sembarang warna abu-abu (beneran!).

The suit rental shop in Delft
Toko persewaan pakaian formal di Delft

Anyway, untungnya ada toko persewaan pakaian formal di Delft yang sudah paham semua aturan ini dan melayani acara-acara semacam ini. Jadilah untuk hari ini aku membuat janji dengan mereka jam 10:30 pagi untuk mendapatkan tuksedoku. Aku menjemput orangtua dan adikku di hotel mereka dan berjalan ke tokonya. Di sana, aku dipakaikan pakaianku dan juga bertemu dua associate professors yang juga merupakan anggota komite sidang disertasiku yang akan mengambil pakaian mereka.

Penampilan tuksedonya memang keren sih. Mamaku terutama suka bahan rompinya. Yah, yang namanya harus membayar €99 (sekitar Rp 1,4 juta) cuma buat menyewa pakaiannya aja (untuk sepatu aku harus menambah €25 (sekitar Rp 350 ribu) loh), jelas aku berekspektasi amat tinggi lah ya, haha 😆 .

Suited-up!
Suited-up!

2. Perjalanan ke ruang sidang

Lalu, kami harus pergi ke ruangan sidangku di Aula-nya TU Delft. Aku berencana menaiki bus nomor 69 yang berhenti tepat di depan Aula sehingga nyaman kan ya. Tetapi kemudian, bus nomor 60 datang dan entah bagaimana aku membaca “0” sebagai “9” dong sehingga kami salah naik bus!! Duh! Drama begini jelas tidak aku butuhkan buat hari seperti ini lah ya 😣.

Sebagai akibatnya, kami harus turun di halte bus yang agak jauh dari Aula. Karena tidak ada layanan bus kesana, pilihan terbaik kami adalah berjalan kaki 😣. Untungnya sih aku memang sudah memasukkan waktu ekstra di perencanaanku sehingga kami masih ada waktu untuk kesana. Tetapi tetap aja lah ya…

Before the defense started
Foto-foto dulu sebelum sidang

Singkat cerita, kami tiba di ruangan sidangnya. Aku disambut oleh bedel-ku (bisa dipandang sebagai semacam MC gitu) yang menjelaskan semuanya kepadaku dan membantuku untuk mempersiapkan diriku. Masih ada 40 menit sebelum sidang dimulai. Keluargaku berusaha menenangkanku dengan foto-foto, haha. Lalu, tamu-tamuku juga mulai berdatangan satu-satu (ini adalah sidang terbuka sehingga semua orang umum diperbolehkan menonton).

3. Sidang

The starting point of the defense
Bagaimana sidang dimulai

Tepat jam 12:30, bedel dan komite sidang disertasiku (terdiri atas delapan anggota, dimana lima di antaranya adalah profesor) memasuki ruangan. Kami semua diharuskan berdiri ketika mereka masuk dan duduk di tempatnya masing-masing. Kemudian, para penonton diminta duduk sementara aku diminta maju ke podium.

Rector magnificus (pemimpin sidang), yang bertugas sebagai moderator, memperkenalkan delapan anggota komite ini ke para penonton. Lalu, sidang yang berisi cecaran pertanyaan bertubi-tubi selama satu jam dimulai…

Listening seriously to the question being asked
Serius mendengarkan pertanyaan yang sedang disampaikan

Jujur, aku sungguh gugup sekali di sidang ini. Tetapi aku sudah menyangkanya sih. Kebetulan satu minggu sebelumnya, seorang stand-up comedian asal Inggris presentasi di kantor memberikan masukan-masukan untuk public speaking di sebuah acara yang mengintimidasi. Nah, aku memutuskan untuk mencoba mempraktekkan masukan-masukannya itu!

Defending
Disidang

Secara keseluruhan, rasanya aku menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan kepadaku dengan baik. Beberapa pertanyaannya adalah “pertanyaan macam apa sih ini?“, huahaha, tetapi aku juga bisa meladeninya dengan lumayan lah. Profesor promotor-ku, yang mendapatkan giliran terakhir bertanya, baru saja menyelesaikan pertanyaan pertamanya ketika aku melihat bedelnya memasuki ruangan, artinya waktu 3600 detik untuk sidang ini sudah nyaris selesai. Aku tidak memiliki cukup waktu untuk menjawab pertanyaannya dengan komplit, ketika bedel berkata “Hora est!“. Dan semuanya harus berhenti karena sidang sudah berlangsung selama tepat satu jam.

Almost "Hora Est!"
Nyaris “Hora Est!”

Aku diminta untuk kembali ke kursiku. Delapan anggota komite mengikuti bedel memasuki ruangan lain untuk mendiskusikan hasil sidang.

4. Menunggu hasil

Tepat setelah mereka meninggalkan ruangan sidang, para penonton memberikan aplaus kepadaku. Untukku sih, aku merasa lelah. Dan lega juga sih. Tetapi lebih banyak lelahnya sih, haha.

Beberapa tamuku mendatangiku di kursiku untuk menyelamatiku. Ternyata masukan-masukan dari stand-up comedian asal Inggris itu adalah masukan-masukan yang bagus, karena mereka berkata aku nampak sungguh tenang dan percaya-diri sekali dalam mempertahankan pekerjaan dan argumen-argumenku. Padahal di dalam hati gila aku sungguh tegang dan grogi banget! Haha 😆

Aku lelah sekali sampai-sampai aku merasa malas untuk berdiri sehingga aku duduk saja deh sepanjang waktu ini. Aku merasa sidangku berjalan baik sih, tetapi tetap aja lah ya was-was juga kira-kira apa ya yang didiskusikan komiteku saat ini.

5. Wisuda

The committee marching with my diploma to the defense room
Komiteku berbaris memasuki ruangan sidang dengan diplomaku

Sekitar 15 menit setelah sidang, bedel, diikuti oleh delapan anggota komiteku, memasuki ruangan. Seperti sebelumnya, semua orang diminta berdiri ketika mereka masuk dan menempati tempat mereka.

Kemudian aku diminta maju untuk berdiri di hadapan rector magnificus. Ia mengumumkan bahwa aku telah sukses mempertahankan disertasiku dan semua anggota komite telah menyetujui bahwa aku berhak untuk menyandang gelar “Doktor”.

Setelahnya, profesor promotorku secara resmi “menganugerahiku” dengan gelar Doktor dan memberikan ijazah (yang ukurannya besar banget, haha). Dan, jadilah, tepat jam 13:48 waktu Belanda hari ini, secara resmi aku dipromosikan menjadi Dr. Ir. A. A. Zilko.

The moment I became a Doctor
Momen-momen aku menjadi seorang Doktor.

Lalu, oleh rector magnificus aku disumpah dengan tanggung-jawab terhadap masyarakat karena sekarang aku telah menjadi seorang Doktor, seorang ilmuwan independen. Dengan gelar ini, pendapat dan pandanganku bisa mempengaruhi banyak orang sehingga aku harus menggunakannya dengan bijak. Setelah promosiku, kedelapan anggota komite dan penonton dipersilakan duduk (mereka diharuskan berdiri di sepanjang proses wisudaku).

A graduation speech
Sebuah sambutan kelulusan

Kemudian, kopromotorku (pembimbing harianku) dipersilakan untuk memberikan sambutan. Karena dengan ia lah aku banyak bekerja selama tahun-tahun PhDku, ia diberikan kesempatan untuk menjadi orang pertama yang memanggilku dengan sebutan “Dr. Zilko” dan dipersilakan memberikan sambutan dan kesan-pesan mengenai wisuda dan tahun-tahun dimana kami bekerja bersama. Sebenarnya, kami sudah kenal selama sekitar tujuh tahun loh, karena ia pula lah yang memberikan beasiswa Master/S2 kepadaku ke Belanda di awal tahun 2010, sebuah titik-balik dalam hidupku. Iyaa, memang agak emosional begitu deh 🙂 .

6. Resepsi

Wisudaku diikuti dengan resepsi. Tetapi sebelum itu, kami harus membuat foto grup wajib resmi di tangga di depan ruang sidang yang terkenal itu:

The famous stairs photo
Foto tangga yang terkenal itu

Resepsinya sendiri bertempat di area umum di lantai bawah. Semuanya sudah dipersiapkan sesuai permintaanku (Beberapa minggu sebelumnya, aku harus memutuskan, salah satunya, berapa potong biskuit yang ingin aku sajikan di resepsi ini. Iya loh segitunya! 😅)

With my diploma
Harus berpose dengan ijazahku lah ya, haha

Anyway, aku dipandu ke sebuah meja oleh bedel, yang membuka ijazah dan memamerkannya di meja untukku. Orangtua dan adikku diminta untuk berdiri di sisi kiriku. Lalu, para tamu berbaris untuk menyelamatiku (dan kemudian orangtua dan adikku) satu per satu, dimulai oleh anggota komiteku 🙂 . Di sepanjang resepsi ini, aku juga menerima banyak hadiah dari kolega-kolega dan teman-temanku! Terima kasih ya semuanya!! ☺️

Gifts!!
Kado!!

Resepsi berlangsung sekitar satu jam. Setelah semuanya pulang, aku menyelesaikan urusan pembayaran dengan staf di sana dan kemudian aku pulang.

7. Setelah sidang dan wisuda (istirahat sejenak)

Untuk pulangnya kami menaiki bus yang benar, haha. Orangtua dan adikku aku minta pulang ke hotel saja, sementara aku mengembalikan tuksedoku di toko persewaan pakaian formalnya. Di sepanjang jalan, ada banyak orang yang tidak aku kenal menyelamatiku. Aku kira kelihatan banget ya ketika seseorang dengan tuksedo super rapi berjalan-kaki sambil membawa sebuah silinder raksasa berwarna merah, pasti ia baru saja menjalani sidang disertasi PhDnya!

8. Makan malam

Beef cutlet as the main course
Beef cutlet sebagai menu utama

Aku juga memutuskan untuk mengadakan acara makan malam dengan anggota komiteku malam ini di sebuah restoran yang oke di pusat Delft (rating-nya di Yelp dan Trip Advisor tinggi, haha). Sayangnya, promotorku tidak bisa datang karena asmanya yang kumat. Salah satu profesorku juga datang akibat urusan mendadak di kantor, jadilah makan malamnya dimulai agak terlambat.

Pilihan restoranku adalah pilihan yang baik, karena makan malamnya enak! Secara keseluruhan, ini adalah malam yang oke; dimana pembimbingku menyarankan orangtuaku untuk les bahasa Inggris untuk memperlancar conversation-nya! Haha 😆 .

Graduation dinner groupfie
Goupfie makan malam wisuda dan kelulusanku

***

Yak, begitu deh. Cerita dari salah satu hari terpenting dalam sepanjang hidupku. Dan aku merasa beruntung aku bisa menjalani pengalaman ini! ☺️

Big Days · Zilko's Life

#1798 – Turning 28

ENGLISH

So today I am turning 28. Yes people, 28, which means I am an 18 year old with 10 years of experience 😆 .

I am 18 with 10 years of experience
I am 18 with 10 years of experience
Strangely, I feel okay. Well, most probably that is because I have not really had the time to think about it. I am enjoying my sabbatical month now and at the moment actually I am in the island of Santorini, in Greece. So contemplating about turning 28 is probably the last thing I would want to do today, haha 😆 .

Moreover, I am currently with my parents, so probably that plays a factor a little bit. This is actually just the first time in the last eleven years when I have them around on my birthday! Yes, the last time was in 2005 in my last year of high school in Yogyakarta. Wow, I can’t believe it has been eleven years!

Anyway, that is it for now. I need to get back to enjoying my time in Santorini now! Hahaha 😆 Ciao!

 

Waking up on my birthday with this view in Santorini

BAHASA INDONESIA

Jadi ceritanya hari ini aku berulang-tahun yang ke-28. Iya dong, 28 aja gitu, yang mana artinya adalah aku adalah seorang anak berusia 18 tahun dengan pengalaman sebanyak 10 tahun, huahahaha 😆 .

I am 18 with 10 years of experience
I am 18 with 10 years of experience
Anehnya, aku merasa biasa-biasa saja tahun ini. Oke, mungkin karena memang aku belum memiliki waktu untuk memikirkannya sih. Sekarang ini aku sedang menikmati bulan sabatikalku dan saat ini aku berada di pulau Santorini di Yunani. Jadi merenungkan usia 28 tahun ini jelas bukan lah prioritas utamaku hari ini deh, haha 😆 .

Lebih jauh lagi, saat ini aku sedang bersama orangtuaku. Mungkin ini adalah satu faktor juga. Jadi ceritanya ini adalah kali pertama dalam sebelas tahun terakhir dimana mereka berada bersamaku loh di hari ulang-tahunku! Terakhir kali ini terjadi adalah di tahun 2005 di tahun terakhir SMA-ku di Yogyakarta. Iya, ternyata sudah sebelas tahun saja semenjak waktu itu!

Anyway, segini dulu deh sekarang. Aku harus kembali ke dunia nyata nih untuk menikmati liburanku di Santorini! Hahaha 😆 . Ciao!

Big Days · Contemplation · Zilko's Life

#1788 – Six Years in Europe

ENGLISH

This day six years ago, I officially stepped my feet in Europe for the first time ever in my life after I cleared the Dutch immigration to start my Master study in TU Delft. Ever since then, I have lived in this country famous for its cheese and windmills.

The sixth year in retrospect

My sixth year in the Netherlands was a big one for me. After spending five consecutive years in the Netherlands under a temporary residence permit, starting from around this time last year I could apply for a Dutch permanent residenceship given that I fulfilled all the requirements. Thankfully, the process went smoothly and I was granted the permanent residenceship earlier this year.

Moreover, my sixth year also coincided with my fourth year of PhD. So the last year has also been very busy for me at work where I had to start working on my dissertation. However, I enjoyed this time much more than the time before because I could start seeing the result of my work. If last year I said I was in a happier state of mind than I was two years ago, I think this year I am in an even happier state of mind! Yeah, my (professional) life has been even better, I feel.

So, yeah, the sixth year, indeed, has been a great year.

Travelling

To keep myself sane, I have also continued what I thought was right for myself throughout my sixth year in Europe: to continue travelling (a lot). If, in terms of the number of European countries I have ever visited, I was stuck at 18 last year, I can proudly say that this year the number has increased to 23 with the addition of Northern Ireland, Poland, Latvia, Finland, and Estonia in the list. Aside from those countries, I also explored Scotland, Spain, Sweden, France, Germany, and Switzerland a bit further with my visits to Aberdeen, Bilbao, Stockholm, Rennes, Munich, Frankfurt, and Geneva.

To satisfy my thirst of flying (lol 😆 ), I also introduced a new Avgeek Weekend Trip this year, which has been so much fun! In fact, tomorrow I am going on another one! 😉

I did two long-distance travels within the year too: in October last year to attend my friends’ wedding in India; and my year-end trip to North America where I visited USA (Boston and New York) and Mexico. Both trips were awesome!! 🙂

Going to the seventh

My seventh year is going to be an exciting one. Finally my PhD (I hope 😛 ) will finish within the coming year (it is on the plan). And, more importantly, a new exciting job in Amsterdam has lined up for me to start this coming October!

Yeah, I have to say that I am starting my seventh year in Europe in good spirit. It is a good sign, I hope!! 🙂

River Amstel in Amsterdam
River Amstel in Amsterdam

BAHASA INDONESIA

Hari ini enam tahun yang lalu, secara resmi aku menginjakkan kakiku untuk pertama kalinya di Eropa seumur hidup setelah aku melewati pemeriksaan imigrasi Belanda untuk memulai studi S2ku di TU Delft. Semenjak saat itu, aku telah tinggal di negeri keju dan kincir angin ini.

Refleksi tahun keenam

Tahun keenamku di Belanda adalah tahun yang besar bagiku. Setelah tinggal selama lima tahun berturut-turut di Belanda dengan residence permit sementara, mulaikira-kira sekitar tanggal ini satu tahun yang lalu aku berhak untuk mengajukan permohonan permanent residence di Belanda dengan catatan semua persyaratannya kupenuhi. Untungnya, prosesnya berlangsung lancar dan awal tahun ini aku mendapatkan izin tinggal permanen itu.

Lebih jauh lagi, tahun keenamku juga merupakan tahun keempat studi PhD/S3-ku. Jadilah setahun belakangan ini aku sibuk banget di kantor untuk menyelesaikan disertasiku. Eh tetapi setahun belakangan ini rasanya lebih kunikmati lho daripada tahun-tahun sebelumnya. Mungkin karena hasil dari pekerjaanku sudah terlihat ya. Jika tahun lalu kusebutkan bahwa aku berada dalam kondisi yang lebih bahagia daripada dua tahun yang lalu, aku rasa tahun ini bahkan aku lebih berbahagia lagi! Iya, kehidupan (profesional)-ku terasa lebih baik aja.

Jadi, ya, tahun keenam ini memang adalah tahun yang baik.

Jalan-jalan

Agar tidak gila, aku juga terus meneruskan melakukan apa yang kurasa tepat untuk diriku di tahun keenam ini: (banyak) jalan-jalan, huahaha 😆 . Jika, dalam hal jumlah negara Eropa yang pernah kukunjungi, tahun lalu aku tidak beranjak dari angka 18, dengan bangga bisa kubilang bahwa sekarang jumlahnya telah naik menjadi 23 loh dengan tambahan Irlandia Utara, Polandia, Latvia, Finlandia, dan Estonia ke dalam daftarnya. Di samping itu, aku juga menjelajahi Skotlandia, Spanyol, Swedia, Prancis, Jerman, dan Swiss lebih jauh dengan kunjunganku ke Aberdeen, Bilbao, Stockholm, Rennes, Munich, Frankfurt, dan Jenewa.

Dan untuk memuaskan hasratku terbang (lol 😆 ), aku juga memperkenalkan Avgeek Weekend Trip yang mulai kulakukan tahun ini, yang mana seru bangeet! Bahkan, besok perjalanan ini akan kulakukan lagi loh! 😉

Setahun ini, aku juga melakukan dua buah perjalanan besar: di bulan Oktober tahun lalu ke India untuk kondangan temanku; dan perjalanan akhir tahun ke Amerika Utara dimana aku mengunjungi Amerika (Boston dan New York) dan Meksiko. Seruu!! 🙂

Masuk ke tahun ketujuh

Tahun ketujuhku akan menjadi tahun yang seru. Akhirnya PhD ini (mudah-mudahan 😛 ) akan terselesaikan juga di tahun ini (rencananya sih begitu). Dan, yang lebih penting lagi, ssebuah pekerjaan baru yang seru telah menungguku di Amsterdam yang akan kumulai bulan Oktober ini!

Iya, harus kubilang bahwa tahun ketujuh ini akan kumulai dengan semangat yang baik. Pertanda baik sih, mudah-mudahan!! 🙂

Big Days · Zilko's Life

#1756 – Two Job Interviews

ENGLISH

So I have decided that I want to switch path to industry after I finish my PhD. For that, thankfully I have got a very exciting job which I will start this October in Amsterdam. And here is the story of how I got the job.

***

The Vacancies

Early in April, I got a message in LinkedIn from a recruiter who was interested in my profile and thought that I would be a good candidate for a vacancy in the south of the Netherlands. I was surprised but obviously feeling quite happy. So quickly afterwards we set a Skype interview and after the interview, he was more sure that I would be a good fit for the position so he invited me for a face to face interview. From my point of view, the job was interesting (and matched my expertise), the company was also a very good and big company, the salary was nice (at least much more than what I earn now as a PhD candidate), and I liked the people and the company’s vision. There was only one very big down point: the location. I prefered to live in the Randstad area of the Netherlands (the area of Amsterdam-Utrecht-Den Haag-Rotterdam) and the job was quite far away out of this area.

Approximate area of the Randstad (the area inside the blue line)
Approximate area of the Randstad (the area inside the blue line)

In the meantime, I saw a very interesting vacancy in Amsterdam. The job was similar-ish but would be applied in a different field (the advantage of being a mathematician here, I have the total freedom to go to literally any fields 😉 ). Moreover, this field was actually one of my fields of interest and actually also matched one of my hobbies. So I submitted an application. Literally two days after submission, surprisingly (because I did not expect it to be this quick, lol 😆 ) I was contacted by a recruiter in the company who was impressed by my profile and would like to arrange a Skype Interview. The interview went quite well and she invited me to go to the next step, which was a phone technical interview which I had about four working days later. The technical interview went well too and I was invited for a face to face interview in their headquarter in Amsterdam. From my point of view, obviously the job and location were interesting, the company was also good, multinational, and quite big (I am sure you have heard about it 😉 ), and the salary was very nice (even much more than the first vacancy 😛 ).

The (Face to Face) Interviews

At the end of April, I went to the south of the Netherlands for the face to face interview of the first vacancy. In a way it was my first experience of a face to face interview for a job in the industry (I had a face to face interview for my PhD position but it was, obviously, different 😛 ). Again, the interview went really well where, from my side, it did not feel like an interview but was more like a discussion about a mathematical modelling problem with the interviewers (who also had PhD degree), which I enjoyed a lot 😉 . Then I was invited for a follow-up interview with the HR manager in the company; but at that time the manager was still on a vacation so we would have to wait a little bit. Funny story though, when I was picked up for the interview at the train station, I was told that I was not the only interviewee today. But then, it turned out that the other interviewee was a friend of mine!! Hahaha 😆

River Amstel in Amsterdam
Amsterdam

Early in May, I went to Amsterdam for the face to face interview of the second vacancy. The interview was much more exhausting than the interview in the south of the Netherlands, though, because I would have to talk with five different people in three different interviews. But again, just as before, I enjoyed it a lot because those interviews were more like discussions as well rather than interviews. Though because of this, I thought I crossed the line a little bit at one point where I firmly pinpointed that one of the interviewee did not make any sense in his argumentation. Since the guy was not Dutch, I was afraid I might be too rude with that. Nonetheless, after those three interviews finished, the recruiter asked if it was okay for me to have an extra interview because a manager would want to talk with me. I knew it was actually a good sign that, so far, I was doing well. So I had my fourth interview with a sixth interviewee that afternoon. As I said, even though I enjoyed it, I also felt super exhausted when the day ended mainly because during the interview, I had to set my brain to 100% power all the time for hours.

My Decision

One day after my Amsterdam interview, the recruiter contacted me saying that the company liked me and would want to hire me so they would want to make a job offer. I was feeling aesthetic because this second vacancy checked everything that I was looking for in a job. Not long after, I received the offer, learned everything in it, and decided to sign the contract. I called the recruiter of the first vacancy saying that I was no longer available because I already got another interesting offer which I would take.

***

Yeah, that is the story of how I got the very interesting job that I am looking forward to 🙂 . For now, I think the time for an apartment hunting in the area of Amsterdam is going to come soon for me, hahaha 😆 .

BAHASA INDONESIA

Jadi ceritanya aku sudah memutuskan bahwa aku ingin berpindah haluan ke dunia industri setelah aku menyelesaikan studi S3ku. Nah, aku merasa bersyukur bahwa aku sudah mendapatkan sebuah pekerjaan yang amat menarik yang akan aku mulai Oktober ini di Amsterdam. Berikut ini cerita bagaimana aku mendapatkan posisi ini.

***

Lowongan

Di awal April, aku mendapatkan sebuah message di LinkedIn dari seorang recruiter yang tertarik dengan profilku dan, menurutnya, aku adalah kandidat yang cocok untuk sebuah lowongan di Belanda bagian selatan. Aku cukup terkejut tetapi senang juga dong yaa. Jadilah tidak lama kemudian kami mengadakan interview melalui Skype dimana setelahnya, ia semakin yakin bahwa aku cocok untuk posisi itu sehingga ia mengundangku untuk sebuah interview tatap muka. Dari sisiku, pekerjaannya menarik (dan memang cocok dengan keahlianku), perusahaannya adalah perusahaan yang bagus dan besar, gajinya juga oke (setidaknya jauh lebih besar daripada yang aku dapatkan sekarang sebagai mahasiswa kandidat PhD/S3), dan aku suka orang-orangnya dan visi dari perusahaannya. Hanya saja ada satu masalah yang amat mengganjal bagiku: lokasi. Saat ini, aku lebih suka dan ingin untuk tinggal di area Randstad di Belanda (area Amsterdam-Utrecht-Den Haag-Rotterdam) sementara pekerjaannya berada jauh di luar area ini.

Approximate area of the Randstad (the area inside the blue line)
Perkiraan area Randstad di Belanda (area yang dikelilingi garis biru)

Sementara itu, aku melihat sebuah lowongan yang menarik lainnya di Amsterdam. Pekerjaannya sih cukup mirip tetapi aplikasinya di bidang yang berbeda (keuntungan sebagai seorang matematikawan nih, aku memiliki kebebasan total untuk memilih bidang apa pun 😉 ). Lebih jauh lagi, bidang ini memang adalah salah satu bidang favoritku dan kebetulan sesuai pula dengan salah satu hobiku. Jadilah sebuah lamaran aku kirimkan. Dua hari kemudian, secara mengejutkan (karena aku tidak menyangka akan mendapatkan respons secepat itu, hahaha 😆 ) aku dikontak oleh seorang recruiter dari perusahaannya yang terkesan dengan profilku dan ingin mengadakan sebuah interview melalui Skype. Interview-nya berlangsung cukup lancar dimana ia mengundangku untuk tahapan selanjutnya, yaitu interview teknis melalui telepon yang aku lakukan sekitar empat hari kerja kemudian. Interview teknisnya juga berlangsung lancar sehingga aku diundang untuk interview tatap muka di kantor pusat mereka di Amsterdam. Dari sisiku, jelas pekerjaan ini dan lokasinya amat menarik, perusahaannya jugalah perusahaan yang oke, multinasional, dan besar (aku yakin kalian pasti sudah pernah dengar deh 😉 ), dan gajinya juga oke banget (bahkan lebih besar daripada lowongan yang pertama 😛 ).

Wawancara (Tatap Muka)

Di akhir bulan April, aku pergi ke Belanda bagian selatan untuk wawancara lowongan yang pertama. Di satu sisi ini adalah kali pertama aku pergi wawancara untuk sebuah pekerjaan di industri (dulu aku ada wawancara tatap muka juga sih untuk posisi S3ku ini tetapi jelas berbeda lah ya 😛 ). Lagi, wawancaranya berlangsung amat mulus dimana, dari sisiku, aku tidak merasa sedang diwawancara tetapi lebih seperti sedang berdiskusi mengenai pemodelan matematika dengan pewawancaranya (yang juga memiliki gelar S3), jadi aku sangat menikmatinya 😉 . Jadilah aku kemudian diundang untuk wawancara follow-up dengan seorang manajer HR di perusahaannya. Tetapi waktu itu manajernya sedang liburan sehingga kita harus menunggu beberapa waktu dulu. Ada cerita lucu lho. Ketika aku dijemput dari stasiun kereta untuk wawancara ini, aku diberi-tahu bahwa aku bukanlah satu-satunya yang diwawancara hari ini. Tetapi kemudian, ternyata seorang lainnya yang diwawancara itu adalah temanku sendiri!! Hahaha 😆

River Amstel in Amsterdam
Amsterdam

Di awal bulan Mei, aku pergi ke Amsterdam untuk wawancara tatap muka lowongan yang kedua. Wawancaranya jauh lebih melelahkan daripada yang pertama di Belanda selatan karena aku harus diwawancarai oleh lima orang di tiga wawancara yang berbeda. Tetapi, lagi, seperti sebelumnya, wawancara-wawancaranya juga lebih seperti diskusi, bagiku, daripada wawancara. Tetapi sebagai akibatnya, di satu waktu aku merasa aku agak kelewatan ketika aku menunjukkan dengan tegas bahwa argumen salah satu pewawancaranya itu tidak masuk akal sama sekali. Karena kebetulan orangnya bukan orang Belanda, aku sedikit takut kalau aku agak nggak sopan karena itu, haha. Setelah tiga wawancaranya selesai, recruiter-nya bertanya apakah aku tidak apa-apa untuk mengikuti satu wawancara ekstra karena ternyata manajernya ingin langsung berbincang denganku. Aku tahu bahwa ini adalah pertanda baik bagiku. Jadilah aku mengikuti wawancara keempat dengan pewawancara keenam hari itu. Seperti yang kubilang, aku menikmatinya, tetapi aku juga merasa sangat lelah setelahnya karena sepanjang wawancara, aku menggunakan 100% tenaga otakku selama berjam-jam.

Keputusanku

Sehari setelah wawancara di Amsterdam, recruiter-nya mengontakku dan berkata bahwa perusahaannya sangat suka denganku dan ingin mempekerjakan aku sehingga mereka membuat sebuah penawaran pekerjaan (job offer). Aku merasa amat senang karena lowongan yang kedua ini memenuhi semua kriteria yang kucari dari sebuah pekerjaan. Tak lama setelahnya, aku mendapatkan penawarannya, yang mana semuanya kupelajari, dan aku memutuskan untuk menanda-tangani kontrak kerjanya. Kemudian aku menghubungi recruiter lowongan pekerjaan yang pertama bahwa aku tidak lagi tersedia untuk pekerjaan itu karena aku mendapatkan penawaran lain yang lebih menarik yang ingin kuambil.

***

Ya, itu lah cerita bagaimana aku mendapatkan sebuah pekerjaan menarik yang sudah nggak sabar ingin aku mulai 🙂 . Untuk sekarang, aku rasa waktu untuk berburu apartemen di area Amsterdam akan datang segera deh untukku, hahaha 😆 .