Contemplation · my apartment · Thoughts · Zilko's Life

#1986 – Bed First World Problem


So you know I have decided to “invest” in better products for the basic furnitures I bought for my apartment. One of those basic furnitures is my bed.

But obviously I did not buy this €5000 (after discount price) bed even though it was super comfortable. I still have some sense with my budget and spending, haha 😆

So I decided to spend a little bit more and buy a better bed for myself (Even though obviously not the €5000 after-discount bed pictured above, lol 😆 ). And I have to say it was one of the best decisions I have made this year!! The bed was sooo gooooood; that it justified the amount I needed to blow invest for it. Haha 😆 .

Though, this was not without any “problem”, of course. I mean, now that I have been accustomed to a certain standard of sleeping comfort, somehow hotel beds I encounter during my frequent travels impress me much less these days, haha 😆 .

You see, before when I still lived in my rental shared-house in Delft (which came in all-furnished, i.e. I didn’t have to bring my own furniture), the bed that I got was the one on the “cheap”-er range. It was okay. I mean, I lived there for almost two years anyway and I never complained about it. So I guess I grew accustomed to it. But this also meant that everytime I travelled somewhere and stayed in a (better range) hotel, I was looking forward for the room and, especially, the bed! Haha 😆

I was really looking forward to my stay at this five-star hotel in Frankfurt last year.

But now, somehow things have changed after I got my new bed; and I didn’t really notice it at first. I was still going to my trips with pretty much the same level of excitement as before. However, somehow I stopped feeling “wowed” in terms of comfort with the beds that I got, haha 😆 . I mean, those were still comfortable, obviously, but somehow the comfort just felt “normal” and not anything out of the ordinary, haha 😆 .

My recent summer weekend trip to London made me realize this change. So I decided to “save” a little bit and stay at a cheap(er) place on this trip. I found what I thought was a good deal at a place which I thought was a hotel that turned out to be a guest house (hence the price). And you know, I got what I paid for. I found the bed uncomfortable and, while I managed to get some sleep, I wasn’t fully rested. Consequently, I felt sleep-deprived in the coming full working week where I needed vitamin-C supplement for two of those days to help my stamina, haha. I mean, I don’t expect it would have been this “bad” had I gone on this trip while I still lived in Delft.

I was also excited with my hotel room at Stockholm – Arlanda last year.

I don’t mean to sound like a snob here. My point is that people do adjust and adapt to their environment. And anything out of their comfort zones are deemed “unusual” and can either be perceived as “pleasure” or “pain”. And that the definition of “pleasure” or “pain” for someone can definitely change too dynamically.

Back to the bed situation, I guess this means that there is a stronger reason for me to perceive my apartment as my “home” now. As I can say it is “easier” for me to miss my bed, haha…


Jadi ceritanya aku telah memutuskan untuk “berinvestasi” di produk-produk yang lebih baik untuk mebel-mebel dasar yang kubeli untuk apartemenku. Nah, salah satunya adalah ranjang tidurku.

Eh tetapi jelas dong aku tidak membeli ranjang seharga €5000 (sekitar Rp 75 juta, ini pun harga setelah diskon) ini walaupun memang enak banget sih. Tapi aku masih memiliki kewarasan kok dalam hal budget dan pengeluaranku, haha 😆

Jadi aku memutuskan untuk keluar biaya lebih banyak dan membeli ranjang yang lebih oke gitu deh untuk apartemenku (Walaupun bukan ranjang seharga €5000 (sekitar Rp 75 juta, ini pun harga setelah diskon) seperti di foto di atas ya, haha 😆 ). Dan harus kubilang ini adalah salah satu keputusan terbaik yang kubuat tahun ini loh!! Ranjangnya memang enak bangeetttt; dan memang sepadan deh dengan biaya yang harus aku habiskan investasikan untuknya! Haha 😆

Walaupun, bukan berarti ini tanpa “masalah” juga sih. Jadi karena sekarang aku sudah mulai terbiasa dengan standar kenyamanan tidur tertentu, entah bagaimana sekarang ranjang-ranjang di hotel yang aku temui di perjalanan-perjalananku itu menjadi tidak seimpresif sebelumnya deh, haha 😆 .

Jadi ceritanya di tempat tinggal shared-ku yang sebelumnya di Delft (yang mana all furnished, dalam artian aku jadi tidak perlu membeli mebelku sendiri), ranjang yang kudapatkan adalah ranjang yang tergolong lebih “murah” gitu deh. Nggak masalah sih sebenarnya. Toh aku tinggal di sana selama dua tahun dan aku tidak pernah komplain akan itu. Jadi aku toh masih bisa membiasakan diri dengannya. Tetapi ini juga berarti setiap kali aku jalan-jalan dan menginap di hotel (yang bagusan dikit), aku juga merasa tidak sabar dan excited banget terhadap kamarnya dan, terutama, ranjangnya! Haha 😆

Aku nggak sabar banget untuk menginap semalam di hotel berbintang-lima di Frankfurt ini tahun lalu.

Tetapi sekarang, hal berubah setelah aku mendapatkan ranjang baruku; perubahan yang awalnya tidak aku sadari. Aku masih pergi dalam perjalanan-perjalananku itu dengan level excitement yang sama seperti sebelumnya. Namun, entah bagaimana aku tidak lagi merasa “wow” dalam hal kenyamanan ranjang dari ranjang yang kudapat, haha 😆 . Maksudku, masih nyaman-nyaman aja sih, tapi entah mengapa rasa nyamannya itu terasa “normal” dan wajar gitu, haha 😆 .

Perjalanan akhir pekan musim panasku ke London baru-baru ini membuatku sadar akan perubahan ini. Jadi waktu itu aku memutuskan untuk “menghemat” sedikit dan menginap di tempat yang lebih murah. Aku menemukan suatu harga yang nampak promo di tempat yang aku kira sebuah hotel yang mana ternyata adalah sebuah guest house (jadilah harganya segitu). Ya jelas aku mendapatkan seperti apa yang kubayar ya. Aku mendapatkan ranjang yang bagiku tidak nyaman dan, walaupun aku toh masih bisa tertidur, badanku tidak benar-benar beristirahat. Akibatnya, aku merasa kekurangan tidur di satu minggu kerja penuh selanjutnya dimana di dua hari di antaranya aku merasa perlu minum suplemen vitamin C untuk menopang staminaku, haha. Maksudku, aku kira masalah ini tidak akan “seburuk” ini andaikata perjalanan ini aku lakukan ketika aku masih di Delft.

Aku juga excited banget dengan kamar hotelku di Stockholm – Arlanda tahun lalu.

Bukannya bermasuk sombong atau gimana gitu sih di sini. Inti dari cerita ini adalah memang benar bahwa manusia itu bisa menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Dan apa-apa yang di luar zona nyamannya akan terasa “tidak biasa” dan ketidak-biasaan ini bisa dipandang sebagai “kenikmatan” atau “kesakitan”. Dan definisi “kenikmatan” dan “kesakitan” bagi seseorang itu pun juga bisa berubah secara dinamis.

Kembali ke urusan ranjang (wedew, keterangan macam apa ini 😛 ), aku rasa ini berarti aku memiliki satu alasan kuat yang membuat apartemenku terasa seperti “rumah”-ku (home) sekarang. Dimana aku bisa dengan “lebih mudah” berkata aku kangen dengan ranjangku sendiri, haha…

Nostalgia · TV Show

#1984 – HIMYM, Three Years Later


In June I shared about my new subscription with Netflix and how I found it surprising that I could not find Friends or The Big Bang Theory there but, at least, I got How I Met Your Mother (HIMYM). Anyway, because of this, since then I have been running a marathon on HIMYM and, as of recently, I finally finished all nine seasons! Haha 🙈.

I have quite a “long” history with HIMYM. I first watched it in Star World in 2007, quite possibly at this time, and was immediately captivated by its brilliant Pilot episode. I watched its first three seasons sporadically in Star World before moving to the Netherlands in 2010. And then, I learned about the possibility to catch it up online that was highly supported by the amazing internet speed, haha 😆 . So I went on a marathon to catch up (Star World was behind by two seasons, btw, as HIMYM was premierred in 2005 actually). And early in 2014, I watched its final episode.

And that, kids, is how I met your mother.

– Ted Mosby

You see, at the time I was very disappointed with the ending. I mean, I am all in with twists or surprises, as long as those “worked”; but this twist the writers chose for the ending of such a wonderful sitcom did not feel like “working”, at least to me. I mean, I understood the “logic” behind it but this did not mean that I would like it, right? And I really didn’t.

I thought time might change my mind. You know, afterall people change anyway. But here I am, after re-marathoning the entire nine seasons of HIMYM more than three years after the conclusion of its last season, I can say that my position on the show’s finale turns out to still be the same. I still feel disappointed with the ending #consistency, haha 😆 .

Nonetheless, the show is not only about how it ends. There are a lot of gems in the show. And I am especially glad I got to watch the first a few seasons because I, honestly, had apparently forgotten quite many details about those so watching some of those episodes still felt like watching new ones at times, haha. So even though I am disappointed with the ending, I still enjoyed Ted’s super long story on how he met his children’s mother (read: his wife).

And so, despite the disappointing ending, I still can say this show is one of my favorites 🙂 .

Well, now that I have finished the entire nine seasons, I guess I need to find another (long) series to watch. Too bad the Game of Thrones is not on Netflix (My new colleague has become like the 5437th person who has recommended me to start watching this series, btw, haha 😆 ), hmm…


Juni lalu aku bercerita mengenai keanggotaan baruku dengan Netflix dan bagaimana aku cukup kaget aku tidak bisa menemukan Friends atau The Big Bang Theory di sana tetapi, setidaknya, masih ada How I Met Your Mother (HIMYM) sih. Nah, karena ini, semenjak waktu itu aku sudah marathon nonton HIMYM dan baru-baru ini aku sudah selesai menonton ulang semua sembilan musimnya dong! Haha 🙈.

Sejarahku dengan HIMYM ini cukup “panjang”. Aku pertama kali menontonnya di Star World di tahun 2007, kurang lebih waktu ini, dan aku langsung terpesona dengan episode Pilot-nya yang brilian banget. Aku menonton tiga musim pertamanya secara loncat-loncat di Star World sebelum aku kemudian pindah ke Belanda di tahun 2010. Dan kemudian, aku menemukan yang namanya menonton acaranya online yang mana didukung dengan kecepatan internet yang oke banget untuk itu, haha 😆 . Jadilah aku menontonnya marathon untuk catch-up (Star World tertinggal selama dua musim, btw, karena HIMYM sebenarnya mulai ditayangkan di tahun 2005). Dan di awal tahun 2014, aku menonton episode terakhirnya.

And that, kids, is how I met your mother.

– Ted Mosby

Waktu itu aku merasa amat kecewa dengan akhir ceritanya. Maksudku, aku oke-oke saja sih dengan yang namanya plot twists atau kejutan-kejutan gitu, tentunya selama kejutannya “bekerja” dengan baik ya; tetapi aku merasa twist yang dipilih penulis naskahnya untuk akhir dari sitcom yang keren banget ini rasanya malah “gagal” gitu deh, setidaknya untukku. Maksudku, aku bisa memahami “logika” di baliknya sih tetapi bukan berarti aku akan menyukainya kan? Dan aku benar-benar tidak menyukainya waktu itu.

Waktu itu aku berpikir mungkin waktu akan mengubah pikiranku. Tahu kan, toh setiap orang itu bisa berubah, haha. Tetapi di sini lah aku, setelah marathon sepanjang sembilan musimnnya HIMYM lagi lebih dari tiga tahun semenjak akhir acaranya ditayangkan, aku bisa bilang bahwa pendapatku akan akhir dari acara ini ternyata masih sama. Aku masih merasa kecewa dengan akhirnya #konsisten, haha 😆 .

Toh walaupun begitu, acara ini bukanlah sekedar akhirnya saja kan. Ada banyak kok momen-momen seru dan bagus banget di sepanjang acara ini. Dan aku merasa senang aku bisa menonton lagi beberapa musim awal-awal karena aku, sejujurnya, ternyata sudah lupa beberapa detail ceritanya sehingga beberapa episodenya masih terasa baru untukku, haha. Jadi walaupun aku kecewa dengan akhir ceritanya, aku masih menikmati cerita super panjangnya Ted tentang pertemuannya dengan ibu dari anak-anaknya (baca: istrinya).

Dan jadilah, walaupun aku kecewa dengan akhirnya, aku masih bisa berkata bahwa acara ini adalah salah satu acara TV favoritku 🙂 .

Yah, sekarang dimana aku sudah menyelesaikan sembilan musim HIMYM, aku rasa aku membutuhkan acara (panjang) lainnya nih. Sayang Games of Thrones nggak ada di Netflix (Kolega baruku barusan menjadi orang ke-5437 yang merekomendasikanku untuk menonton acara ini nih, btw, haha 😆 ), hmm…

General Life · Zilko's Life

#1983 – Finally, Tennis!


Finally, this week the tennis lesson at my new tennis club started! “Finally” because, you know, I have been a member of the club since June but the lesson starts just now, haha 😆 . Plus, the last time I played tennis was actually back in December 2016 in Delft, meaning that prior to this week I literally had not played at all this year!! On top of that, I mistakenly thought the tennis lesson would have started two weeks ago. And so it felt like I had been waiting for even longer! Haha 😆

Obviously I was really rusty during my first lesson this week. This was unsurprising as this was the longest “tennis-free” streak I have had since I first picked up a tennis racket in 2011, haha. I am sure I am going to (maybe slowly) get my rhythm back, I just need more time. Even though admittedly it was quite frustrating to miss a lot of easy shots, haha.

I am really glad, though, that finally the tennis lesson has started. To be honest, I have been feeling quite worried with my exercise routine because before this week, I only went to the gym. This meant the lack of variety and I actually went to the gym about four to five times a week. While it was working fine this past a few months, I was slightly concerned with how this would pan out in the longer term. Of course, occassionally I also jogged or biked on weekends, which added some variety, but these activities could not be done regularly given my frequent weekend trips ( 😛 ) and that sometimes I felt the need to just rest and recharge myself on weekends.

I am quite confident this tennis lesson will help a lot. Not only that I get to regularly do a sport exercise that I love, this also provides me the opportunity of meeting other tennis enthusiasts nearby and hence perhaps even more occassional friendly tennis activities outside of the lesson hour! 🙂

So, yeah, I am excited about this! 🙂


Akhirnya, minggu ini les tenis di klub tenis baruku dimulai juga! “Akhirnya” karena, tahu lah, aku sudah mendaftar menjadi anggota klubnya semenjak Juni kemarin tetapi lesnya baru dimulai sekarang, haha 😆 . Ditambah lagi, terakhir kali aku main tenis adalah di bulan Desember 2016 di Delft, artinya sebelum minggu ini aku belum pernah sekali pun bermain tenis tahun ini dong!! Apalagi, awalnya aku salah ingat dimana kukira lesnya bakal dimulai dua minggu yang lalu. Jadilah “penantianku” semakin panjang rasanya ya, haha.

Tentu saja permainanku karatan banget di les pertamaku minggu ini. Nggak mengherankan lah karena ini adalah “tennis-freestreak terpanjang semenjak aku pertama kali belajar les tenis di tahun 2011, haha. Aku yakin kok aku akan (perlahan-lahan) mendapatkan ritmeku kembali, aku hanya butuh waktu saja. Walaupun harus kuakui, sebal banget rasanya ketika membuat kesalahan sendiri di banyak pukulan-pukulan yang sebenarnya gampang, haha 😛 .

Aku lega lho akhirnya les tenis ini dimulai juga. Sejujurnya, aku sudah mulai merasa agak khawatir dengan rutinitas olahragaku karena sebelum minggu ini, aku hanya pergi ke gym saja. Ini berarti tidak ada banyak varietas dan aku pergi ke gym sebanyak empat sampai lima kali seminggu. Walaupun kondisi ini bukanlah masalah selama beberapa bulan terakhir ini, aku sedikit khawatir bagaimana rutinitas semacam ini bisa bertahan dalam jangka panjang. Memang sih, kadang-kadang aku jogging atau sepedaan juga di akhir pekan, yang mana lumayan dalam hal varietas. Masalahnya, aktivitas-aktivitas ini tidak bisa kulakukan secara rutin akibat perjalanan akhir pekanku yang sering itu ( 😛 ) dan terkadang aku merasa perlu untuk beristirahat saja di akhir pekan.

Jadi aku merasa percaya diri les tenis ini akan membantu banget. Selain aku jadi bisa berolahraga permainan favoritku secara reguler, les ini juga memberiku kesempatan untuk berkenalan dengan beberapa penyuka tenis lainnya di dekatku sehingga mungkin kadang-kadang kan bisa main tenis sendiri di luar jam les gitu! 🙂

Jadi, ya, aku sungguh bersemangat akan hal ini! 🙂

working life · Zilko's Life

#1981 – Some Stories From Work


About a month ago I mentioned that one of my team members resigned in July resulting in me having to temporarily taking over some of her responsibilities until we got a replacement. We estimated probably the replacement would come in one or two months.

But then, we actually got the replacement in August! This was certainly good news (also for me), haha. Though, I could not just hand over everything to my new team member just like that because she was new in the company. Moreover, she just did the switch from academia to industry in taking this job, just like my decision last year, so I totally understood she would need some time to settle.

Of course I have been trying to be as helpful and welcoming as possible because situation-wise, I was in her shoes last year (Though we have different job titles so our work responsibilities are different). Last year I got tremendous support from my colleagues in helping me to learn and settle here. So I am trying my hardest to “return” the favor here, haha.

Overall I am glad, though, as I felt like my workload has increased in the past month or so. I mean, of course I can always put some of those to my backlog as my colleagues would understand anyway that I have limited amount of time. But still, it does not feel nice to see a long list of tasks in your backlog, especially when some of those are “take-overs”, haha 😛 . Even though, of course, she could not immediately re-take over all of those responsibilities, as she certainly needed the time to settle and adapt to everything; but she certainly could start with some tasks. Coming from academia helped as well, where in my opinion her learning curve was fast. So I am sure shortly she will be able to fully reclaim the “take-over” responsibilites I got from my ex-colleague. But in the meantime:


Sekitar satu bulan lalu aku sebutkan bahwa salah seorang rekan timku resign di bulan Juli sehingga untuk sementara aku diminta untuk menampung sebagian pekerjaannya sampai kami mendapatkan penggantinya. Waktu itu kita perkirakan mungkin kita akan mendapatkan pengganti dalam dua atau tiga bulan gitu lah.

Tetapi kemudian, ternyata kami mendapatkan penggantinya di bulan Agustus dong! Ini jelas adalah berita baik (juga untukku), haha. Walaupun, aku tidak bisa langsung menyeragkan tanggung-jawab dari mantan rekan kerjaku itu ke penggantinya ini karena ia benar-benar baru mulai bekerja di kantorku sekarang. Terlebih lagi, ia baru saja pindah dari akademia ke dunia industri juga dengan pekerjaannya ini, sama seperti keputusanku tahun lalu, jadi aku sungguh paham bahwa ia tentu membutuhkan waktu untuk membiasakan-diri.

Tentu saja aku berusaha untuk se-helpful dan seramah mungkin karena secara situasi, tahun lalu aku berada di situasi yang sama persis (Walaupun titel pekerjaan kami berbeda sih sehingga tanggung-jawab kami juga berbeda). Tahun lalu aku mendapatkan banyak bantuan banget dari rekan-rekan tim baruku yang baik banget itu, yang mana sungguh membantuku untuk belajar dan membiasakan-diri. Jadilah sekarang aku juga berusaha untuk “membalas” kebaikan yang kuterima itu, haha.

Secara keseluruhan aku merasa lega karena aku merasa beban kerjaku, terutama sebulanan terakhir ini, meningkat. Maksudku, tentu saja aku bisa memasukkan beberapa di antaranya ke dalam backlog dan toh pasti kolegaku juga akan paham mengingat waktuku yang juga jelas terbatas kan. Tapi tetap aja lah, nggak asyik rasanya melihat backlog yang panjang, apalagi ketika beberapa tugas-tugas di sana adalah tugas “limpahan”, haha 😛 . Walaupun, tentu saja, kolega baruku tentu tidak bisa langsung mengambil-alih semua pekerjaannya itu, karena ia juga pasti membutuhkan waktu untuk membiasakan diri; tetapi jelas ia bisa mulai mencicilnya kan. Barusan berpindah dari akademia juga membantu sekali, karena aku perhatikan ia cepat belajar. Jadi aku yakin ia tidak perlu banyak waktu untuk bisa mengambil-alih semua tanggung-jawab “limpahan” dari mantan rekan kerjaku. Tetapi sebelum itu, untuk sementara waktu:

Big Days · Zilko's Life

#1980 – Turning 29


Today, I turn 29.

Thanks in advance for the wishes (haha 😛 ).

Maybe I am one of those people, you know, who never really think about my age. I do believe age is just a number and does not define someone as a person. So maybe this is why I do not feel anything “special” or “different” about turning 29. It just feels like today is going to be another day in my life, haha.

As an evidence of this, not too long ago at the gym I asked a trainer to help me get my body measurement. My age was needed as an input so he asked me. I actually had to think before I could give the answer to the point that he said “You have to think for that?“, haha 😆 .

Even though (I am teasing myself here), this also means that I have just officially entered the last year of my 20s 😱. Thinking about it this way gives me another perspective to look at, though.

Yeah, so we will see how I will feel by the end of the day; after more reminders and (perhaps) wishes coming in, hahaha.

Just in case. Source:


Jadi, hari ini aku berulang-tahun yang ke-29.

Iya, terima kasih atas ucapan dan doanya (geer, haha 😛 ).

Mungkin aku adalah satu dari orang-orang itu, yang tidak pernah memikirkan masalah umur. Aku percaya bahwa umur hanyalah angka belaka dan tidak mendefinisikan seseorang. Jadi mungkin inilah mengapa aku tidak merasa ada yang “spesial” atau “berbeda” gitu dari hari ini. Rasanya hari ini ya akan menjadi seperti hari-hari lainnya gitu, haha.

Contoh dari ini adalah, beberapa waktu yang lalu di gym aku meminta bantuan seorang trainer-nya untuk mengukur body measurement-ku. Umurku diperlukan sebagai salah satu input sehingga ia menanyakannya. Aku harus berpikir dulu loh sebelum dapat memberikan jawabannya sampai-sampai trainer-nya bertanya “Untuk menjawab itu pun kamu harus berpikir dulu?“, haha 😆 .

Walaupun (Aku menggoda diriku sendiri nih), ini juga berarti aku sudah resmi memasuki tahun terakhir dari umur 20an sih 😱. Nah, kalau dipikir begini baru deh aku melihat ini dari sudut pandang yang rasanya berbeda sekali, haha.

Ya, jadi kita lihat saja deh bagaimana perasaanku pada akhir hari ini; setelah lebih banyak notifikasi dan (mungkin) ucapan-ucapan yang berdatangan, hahaha.

Aviation · EuroTrip · My Interest · Trip Report · Vacation · Weekend Trip

#1979 – AvGeek Weekend Trip #9 with An Air France’s Dreamliner


In the last weekend of August, I went on an AvGeek Weekend Trip with the main purpose of flying an Air France’s brand new Boeing 787-9 Dreamliner on their short domestic Lyon – Paris-CDG sector. I actually took four flights on this trip (Amsterdam – Paris-CDG – Lyon vv). However, as the other three flights were just regular short-haul flights with Air France and KLM, in this post I will only focus on the trip’s main star, that was the flight with the Dreamliner.

AF 7641 (LYS– CDG)

Flight: Air France AF 7641
Equipment: Boeing 787-9 Dreamliner reg F-HRBA
ATD: 10:37 CET (Runway 17R of LYS)
ATA: 11:31 CET (Runway 08R of CDG)

After having breakfast at my hotel near the airport (the breakfast was great, btw), I went to the airport to check-in and retrieve my boarding pass. Then, I cleared the security check and waited for my flight at Lyon Airport’s underwhelming Air France lounge. I checked my Flightradar24 app to see which of the two Boeing 787-9 Dreamliner Air France would use on their domestic Lyon route today. I saw F-HRBB was leaving for London-Heathrow already so I figured it would be F-HRBA.

An Air France’s Boeing 787-9 Dreamliner reg F-HRBA at Lyon Airport.

Long story short, at about 09:30 AM, F-HRBA landed at Lyon Airport and parked at the gate. Not long after, boarding commenced. I walked to the plane with excitement (haha) and settled onto my 10A seat in the Premium Economy cabin. Ah, yes, I was given a Premium Economy seat on this flight.

The Premium Economy cabin of Air France’s Boeing 787-9 Dreamliner reg F-HRBA

It appeared to me that the flight was full. All seats in Business and Premium Economy were occupied, and I also saw a lot of passengers boarding to the Economy Class section. So as a result, boarding took some time to complete, haha. Meanwhile, of course I started to play around with the AVOD screen and selected some music for the short duration of the flight. Being the newest member of the fleet, obviously the AVOD PTV was Air France’s newest “Air France Touch”, the same one as what I found on my Boeing 777-300ER flight AF 117 from Shanghai to Paris earlier this year.

Bienvenue à bord

I tell you, it was so much fun to be able to use an AVOD PTV on an intra-European flight, let alone a European domestic flight! Haha 😆 . After boarding was completed, the door was closed and the plane was pushed back for departure. Obviously, the safety demo wasn’t done manually. Air France’s super chic and “so French” safety demo video was played on the screen:

Btw, this Air France’s safety demo video is one of my most favorite safety demo videos, btw. As you can see, it is so “French”, for instance stating that your seatbelt is not only for your safety, it also “elegantly highlights your waistline“, huahaha 😆 . And the general ambience of the video is so “French” with all the elegance and everything!

Taking off from runway 17R of Lyon Airport with an Air France’s Dreamliner

Anyway, we taxied to runway 17R and took off from there before making a u-turn north towards Paris. Overall, it was a really smooth flight with a Dreamliner. Not long after take-off, the snack service was distributed. It was just the standard Economy Class snack service, though; pretty much the service I would expect in Air France’s Premium Economy anyway.

The snack service on board the short-haul domestic Lyon – Paris route flight AF 7641 with a Dreamliner.

A feature of Boeing 787 Dreamliner is the super cool dimming window. And obviously I could also find this feature on F-HRBA!! Yep, no window shades were needed anymore as the windows could change their color and transparency!

I only used the AVOD PTV for the music (btw, the seat came with a noise-cancelling headphone, which was good!) and the super cool moving map; as I was constrained by the short duration of the flight. I also saw a wifi onboard sign even though I didn’t bother to check it, haha. Anyway, overall it was such a nice flight with an Air France’s Dreamliner!

An Air France Boeing 787-9 Dreamliner Premium Economy selfie

Time flew by when you were having fun. Suddenly, we were approaching Paris already, haha 😆 . We made a quick “tour” above Paris, though, where I could see the Eiffel Tower, Arc De Triomphe, and the famous Champs-Élysées from above. Really cool!! Anyway, we landed at runway 08R of Paris – Charles De Gaulle Airport. Here is the landing video:

The plane parked at a gate in Terminal 2E, Charles De Gaulle’s non-Schengen terminal as it would serve flight AF 334 to Montreal, Canada later today. But that meant that the domestic passengers from Lyon would somehow need to be transported to Terminal 2F. For that, they took us with buses, haha.

After arriving at Terminal 2F, I went to an Air France’s Schengen lounge to wait for my KLM flight back to Amsterdam.


Di akhir pekan terakhir bulan Agustus, aku pergi dalam sebuah perjalanan AvGeek Weekend Trip dengan tujuan utama terbang dengan pesawat baru Boeing 787-9 Dreamliner-nya Air France di rute domestik jarak dekat Lyon – Paris-CDG. Sebenarnya aku menaiki empat penerbangan di perjalanan ini (Amsterdam – Paris-CDG – Lyon pp). Namun, karena tiga penerbangan lainnya adalah penerbangan reguler jarak dekat dengan Air France dan KLM, di posting ini aku hanya akan fokus pada bintang utama perjalanan ini saja, yaitu penerbangan dengan Dreamliner.

AF 7641 (LYS– CDG)

Penerbangan: Air France AF 7641
Pesawat: Boeing 787-9 Dreamliner rego F-HRBA
ATD: 10:37 CET (Runway 17R of LYS)
ATA: 11:31 CET (Runway 08R of CDG)

Setelah sarapan di hotelku di dekat bandara (sarapannya enak, btw), aku pergi ke bandara untuk check-in dan mendapatkan boarding pass-ku. Lalu, aku melalui pemeriksaan sekuriti dan menunggu penerbanganku di lounge-nya Air France yang underwhelming itu di Bandara Lyon. Aku mengecek app Flightradar24-ku untuk mengetahui yang mana dari dua Boeing 787-9 Dreamliner-nya Air France yang akan digunakan di rute domestik Lyon hari ini. Aku lihat F-HRBB sudah berangkat ke London-Heathrow sehingga artinya aku akan mendapatkan F-HRBA.

Sebuah Boeing 787-9 Dreamliner milik Air France dengan rego F-HRBA d Bandara Lyon.

Singkat cerita, sekitar jam 9:30 pagi, F-HRBA mendarat di Lyon dan parkir di salah satu gate. Tak lama setelahnya, boarding dimulai. Aku berjalan ke arah pesawat dengan perasaan excited (haha) dan duduk di kursi 10A di kabin Premium Economy. Oh iya, aku diberikan kursi Premium Economy di penerbangan ini.

Kabin Premium Economy di dalam pesawat Boeing 787-9 Dreamliner-nya Air France dengan rego F-HRBA

Penerbangan ini nampaknya penuh. Semua kursi di kelas Bisnis dan Premium Economy penuh, dan aku lihat ada banyak sekali penumpang yang berjalan ke kelas Ekonomi ketika boarding. Sebagai akibatnya, boarding memang memakan waktu agak lama, haha. Untukku sih, aku menggunakan waktu ini untuk membuka layar AVOD di kursinya dan memilih beberapa musik untuk playlist pendek di penerbangan singkat ini. Yang namanya pesawat terbaru, jelas AVOD PTVnya adalah “Air France Touch”, yang terbaru milik Air France, dan sama seperti yang kutemui di penerbangan AF 117 dengan Boeing 777-300ER dari Shanghai ke Paris awal tahun ini.

Bienvenue à bord

Eh, sesuatu banget lho bisa menggunakan AVOD PTV di penerbangan intra-Eropa, apalagi di penerbangan domestik! Haha 😆 . Setelah boarding selesai, pintu ditutup dan pesawat didorong mundur untuk keberangkatan. Jelas, peragaan keselamatannya tidak dilakukan secara manual. Video peragaan keselamatannya Air France yang chick dan “Prancis banget” dimainkan di layar:

Btw, video peragaan keselamatannya Air France ini adala salah satu video peragaan keselamatan favoritku! Seperti yang bisa dilihat, videonya “Prancis banget”, misalnya menyebutkan bahwa sabuk pengaman tidak hanya menjaga keselamatan Anda, tetapi juga berfungsi untuk “meng-highlight lingkar pinggang Anda dengan elegan“, huahaha 😆 . Dan suasana umum videonya yang terasa “Prancis banget” dengan keelegannya dan semuanya lah pokoknya!

Lepas landas dari landasan pacu 17R Bandara Lyon dengan Dreamliner-nya Air France.

Anyway, pesawat berjalan menuju landasan pacu 17R dan lepas landas dari sana sebelum kemudian berputar ke arah utara untuk menuju Paris. Secara umum, penerbangan ini adalah penerbangan mulus dengan Dreamliner. Tak lama setelah lepas landas, layanan snack diberikan. Layanannya sesuai standar di kelas Ekonomi sih; yang mana toh level yang juga aku jangka dari kelas Premium Economy-nya Air France.

Layanan snack di penerbangan domestik jarak dekat Lyon – Paris penerbangan AF 7641 dengan pesawat Dreamliner.

Satu fitur Boeing 787 Dreamliner adalah jendelanya yang bisa gelap sendiri yang keren banget itu. Dan jelas dong fitur ini juga bisa ditemukan di F-HRBA!! Iya, penutup jendela mekanik nggak diperlukan lagi deh soalnya jendelanya bisa berganti warna dan transparansi sendiri!

AVOD PTVnya hanya kugunakan untuk musik saja (btw, kursinya juga dilengkapi dengan noise-cancelling headphone, yang mana kualitasnya lumayan lho!) dan peta yang keren banget itu; karena toh waktuku terbatas kan dengan durasi singkat penerbangan ini, haha. Aku lihat sebenarnya pesawatnya dilengkapi dengan wifi juga tetapi aku tidak sempat mengeceknya. Secara keseluruhan, penerbangan ini adalah penerbangan yang mengasyikkan dengan Dreamliner-nya Air France!

Selfie Premium Economy wajib di Boeing 787-9 Dreamliner-nya Air France

Waktu berlalu cepat ketika kita merasa senang. Tiba-tiba saja, pesawat sudah mendekati Paris dong, haha 😆 . Sebelum mendarat, pesawat “tur” singkat dulu di atas kota Paris, dimana aku bisa melihat Menara Eiffel, Arc De Triomphe, dan Champs-Élysées yang terkenal itu dari atas. Keren dah!! Anyway, kami mendarat di landasan pacu 08R Bandara Paris – Charles De Gaulle. Berikut ini video pendaratannya:

Pesawat diparkir di Terminal 2E, terminal non-Schengennya Bandara Charles De Gaulle karena pesawatnya akan digunakan untuk melayani penerbangan AF 334 ke Montreal, Kanada siangnya. Tetapi ini berarti penumpang domestik dari Lyon harus ditransportasikan ke Terminal 2F. Untuk itu, beberapa bus mereka gunakan, haha.

Setelah tiba di Terminal 2F, aku pergi ke lounge Schengen-nya Air France untuk menunggu penerbangan KLMku kembali ke Amsterdam.

Big Days · Zilko's Life

#1977 – This Day Last Year


This day last year, my contract at TU Delft officially ended; though I just got my PhD degree about five months later, haha 😛 . This day last year was the start of my sabbatical month, a month where I intentionally chose to be unemployed. I meant it to be a “break” after the clearly stresful years of PhD research and to help me transition into the industry, where I would start my new job the month later. Obviously, I travelled a lot during the month last year, where I went to Bucharest, Athens, Santorini, and Sint Maarten, haha.

And wow, it has been a full year since then!! Time flies really fast!!

It has been (almost) a full year since this ultimate plane selfie at Sint Maarten!!!

You see, September 2016 was a big month to me. Essentially it was my “transitioning” month from my life in the academia to my life in the industry.

So far I am really happy with this decision of mine. I feel like I have made a good one here where , in the past year, I feel like I have enriched myself with a lot of new expertise, experience, and many different things! All thank to this one decision.

Anyway, September 2017 will come in “dull” if I compare it to September 2016. But this is not a fair statement because of the very different nature of where I am during those two months. If I travelled and tried to relax a lot last year, this year I will just work, haha. Okay, I do have a few weekend trips planned so those would be fun. But still, it is hard to beat a sabbatical month, no? Haha

It has also been (almost) one year since this sunset in Oia, Santorini.


Hari ini setahun yang lalu, kontrakku di TU Delft resmi berakhir; walaupun aku baru mendapatkan gelar PhD/S3-ku sekitar lima bulan kemudian sih, haha 😛 . Hari ini setahun yang lalu adalah awal dari bulan sabatikalku, satu bulan dimana sengaja aku memilih untuk menjadi pengangguran, haha. Bulan itu aku maksudkan sebagai bulan “istirahat” sejenak setelah bertahun-tahun riset PhD yang stressful dan untuk membantuku bertransisi ke industri, dimana aku akan memulai sebuah pekerjaan baru sebulan kemudian. Jelas, aku juga banyak jalan-jalan dong di bulan itu, dimana aku pergi ke Bucharest, Athena, Santorini, dan Sint Maarten, haha.

Dan wow, ternyata sudah satu tahun penuh ya semenjak waktu itu!! Waktu berlalu sungguh cepat!!

Ternyata sudah (nyaris) setahun penuh loh semenjak ultimate plane selfie di Sint Maarten ini!!!

Nah kan, September 2016 jelas adalah bulan yang besar untukku. Pada dasarnya bulan itu adalah bulan “transisiku” dari kehidupanku di akademia ke kehidupanku di industri.

Sejauh ini aku merasa senang dengan keputusanku ini. Aku merasa aku telah membuat keputusan yang tepat dimana, setahun belakangan ini, aku merasa aku sudah menambah banyak pengetahuan, pengalaman, dan banyak hal lainnya ke dalam diriku! Semuanya berkat satu keputusan ini.

Anyway, September 2017 jelas akan nampak “membosankan” jika aku bandingkan dengan September 2016. Tetapi ini bukan lah pernyataan yang adil mengingat karakteristik dua bulan ini yang sangat berbeda. Aku banyak berjalan-jalan dan bersantai-santai tahun lalu, sementara tahun ini aku akan bekerja, haha. Oke, memang sih ada beberapa perjalanan akhir pekan yang sudah kurencanakan jadi tetap bakal seru lah tapinya. Tapi tetap aja lah ya, tentu sulit untuk mengalahkan sebuah bulan sabatikal, ya kan? Haha

Juga sudah (nyaris) setahun nih semenjak sunset di Oia, Santorini ini.