#1927 – AvGeek Weekend Trip #8 (AMS – BOD – CDG – AMS)

ENGLISH

Posts in the AvGeek Weekend Trip series:
1. AvGeek Weekend Trip #1 (AMS-CDG-STR-AMS)
2. AvGeek Weekend Trip #2 (AMS-MAD-FRA-AMS)
3. AvGeek Weekend Trip #3 (AMS-LYS-NCE-AMS)
4. AvGeek Weekend Trip #4 (AMS–CDG, ORY–LYS–AMS)
5. AvGeek Weekend Trip #5 (AMS-CPH-ARN-AMS)
6. AvGeek Weekend Trip #6 (AMS-CDG, ORY-MRS-BOD-AMS)
7. AvGeek Weekend Trip #7 (AMS–CDG–LYS–AMS)
8. AvGeek Weekend Trip #7 (AMS–BOD–CDG–AMS)

Twelve days ago I went on another AvGeek Weekend Trip. As I said, at some point I hesitated going on this trip but in the end, and I am glad I did this, I decided to put aside the hesitation and still went. And here is the story of the trip 🙂 .

***

My first flight was scheduled to depart at 14:30, but I arrived at Schiphol at around 11:00 so that it was on time for brunch at KLM’s Crown Lounge, haha 😆 .


Flight: KLM Royal Dutch Airlines KL 1317
Equipment: Boeing 737-700 reg PH-BGP (“Pelicaan”)
ATD: 15:05 CET (Runway 18L of AMS)
ATA: 16:25 CET (Runway 23 of BOD)

At 13:45 I went to the gate only to find out that a Transavia’s Boeing 737 (in SunWeb livery) was still there but was already ready for pushback. However, this was a sign that my flight would be delayed. This was not the best circumstance especially for today where my connecting time in Bordeaux was quite tight, so I got a little bit anxious, haha 😣.

Well, at least about two minutes after the Transavia flight’s departure, the KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGP that would operate my flight parked at the gate. Indeed it was really quick! Good job, Schiphol!! Haha 😆 .

A KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGP named “Pelicaan” arrived at the gate some two minutes after the departure of the Transavia flight.

Nonetheless, boarding commenced about 20 minutes behind schedule. There was also a queue for take-off at runway 18L so the plane left the ground 35 minutes after the scheduled departure time, haha.

There was nothing I could do at this point beside to just be in the moment and enjoy. So along with my complimentary snack, I ordered white wine (and this was after a couple glasses of sparkling wine earlier in the lounge). This worked, though, as I felt calmer afterwards.

The complimentary snack service on board KLM’s flight KL1317 to Bordeaux.

Anyway, at 16:25 we landed at runway 23 of Bordeaux Airport. We parked at the gate next to an easyJet’s flight that just arrived from the UK. Knowing there would likely be a border control at the airport, I rushed after deboarding. Indeed there were already quite many people forming lines at the border control, but luckily the lines went quite fast, haha.

I had to change terminals in Bordeaux because I was transferring to a domestic flight but luckily the airport was not really big. I could immediately went to the security check because I already had my boarding pass. And guess what, it was still 10 minutes ahead of boarding time! I made it! Haha 😆 .

Air France’s Airbus A321-200 reg F-GTAK at Bordeaux Airport

Of course, though, I had no time to drop by at Air France’s lounge there as boarding started not long after. Interestingly (I had never experienced this before), we were told to board as quick as possible because the airport would be closed for two hours starting from 17:30 for a training. So we had to make our 17:25 departure otherwise we would be delayed at least until 19:30.


Flight: Air France AF 7637
Equipment: Airbus A321-200 reg F-GTAK
ATD: 17:29 CET (Runway 23 of BOD)
ATA: 18:27 CET (Runway 27L of CDG)

Boarding went efficiently where I settled onto my comfortable seat 1A. I found it quite funny that at 17:19, when boarding was still ongoing, the captain announced we had 11 minutes for departure, lol 😆 . We took off at 17:29, just in time before the airport closure!! 😀

A few of these planes were already in position as we were taking off from Bordeaux

It was a pleasant domestic flight with Air France; and I especially enjoyed seat 1A! Haha 😛 . About one hour later, we landed at runway 27L of Charles De Gaulle Airport in Paris.

After getting my boarding pass back to Amsterdam, I went to an Air France’s lounge. I came in with no expectation after my latest experience there just one month earlier where I was very disappointed with the meal offers. This time, though, Air France redeemed itself and the service went back to pretty much how it was before. Phew!!

The meal service at Salon Air France

The meal service at Salon Air France

Btw, the brownies in the right picture above was really, really good!


Flight: KLM Royal Dutch Airlines KL 1246
Equipment: Boeing 737-700 reg PH-BGX (“Scholekster”)
ATD: 20:29 CET (Runway 27L of CDG)
ATA: 21:10 CET (Runway 18R of AMS)

At 19:45, I left the lounge and went to the gate nearby. Not long after, boarding started for flight KL1246, which would be operated by a KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGX. The flight was not full today so boarding went quite quickly.

Boarding a KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGX as flight KL1246 to Amsterdam.

This was a normal Paris – Amsterdam flight. Probably because it was a late flight, KLM only served a small bag of crackers instead of the usual sandwich/wrap. At least it tasted good, though. Anyway, at 21:10 we landed at the Polderbaan in Schiphol, just six hours after taking off to Bordeaux!! Hahaha 😆 .

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri AvGeek Weekend Trip:
1. AvGeek Weekend Trip #1 (AMS-CDG-STR-AMS)
2. AvGeek Weekend Trip #2 (AMS-MAD-FRA-AMS)
3. AvGeek Weekend Trip #3 (AMS-LYS-NCE-AMS)
4. AvGeek Weekend Trip #4 (AMS–CDG, ORY–LYS–AMS)
5. AvGeek Weekend Trip #5 (AMS-CPH-ARN-AMS)
6. AvGeek Weekend Trip #6 (AMS-CDG, ORY-MRS-BOD-AMS)
7. AvGeek Weekend Trip #7 (AMS–CDG–LYS–AMS)
8. AvGeek Weekend Trip #7 (AMS–BOD–CDG–AMS)

Dua belas hari yang lalu aku pergi dalam rangka AvGeek Weekend Trip lagi. Seperti yang waktu itu kuceritakan, aku sedikit ragu untuk pergi dalam perjalanan ini tetapi akhirnya, dan aku lega aku memutuskan ini, aku tetap pergi. Dan berikut ini ceritanya 🙂 .

***

Penerbangan pertamaku dijadwalkan berangkat jam 14:30, tetapi aku tiba di Schiphol sekitar jam 11:00 supaya waktunya pas untuk brunch di Crown Lounge-nya KLM, haha 😆 .


Penerbangan: KLM Royal Dutch Airlines KL 1317
Pesawat: Boeing 737-700 reg PH-BGP (“Pelicaan”)
ATD: 15:05 CET (Runway 18L of AMS)
ATA: 16:25 CET (Runway 23 of BOD)

Jam 13:45 aku menuju ke gate dimana ternyata sebuah Boeing 737nya Transavia (dengan livery Sunweb) masih terparkir tetapi sudah siap untuk pushback. Hanya saja, ini adalah pertanda bahwa penerbanganku akan terlambat. Dan ini bukanlah situasi terbaik untuk hari ini dimana waktu transitku di Bordeaux amat singkat, jadilah aku sedikit merasa khawatir, haha 😣.

Yah, setidaknya sih sekitar dua menit setelah pesawatnya Transavia berangkat, sebuah Boeing 737-700nya KLM dengan rego PH-BGP, yang akan mengoperasikan penerbanganku, langsung parkir di gate-ku. Sigap dan cepat banget ya! Good job, Schiphol!! Haha 😆 .

Sebuah Boeing 737-700nya KLM dengan rego PH-BGP bernama “Pelicaan” tiba di gate sekitar dua menit setelah keberangkatan pesawatnya Transavia.

Toh walaupun begitu, boarding berlangsung 20 menit di belakang jadwal. Kebetulan juga ada antrian untuk lepas landas dari landasan pacu 18L sehingga pesawatnya baru terbang 35 menit terlambat dari jadwal, haha.

Nggak ada yang bisa kulakukan di waktu ini kecuali untuk be in the moment dan menikmatinya. Jadilah untuk menemani snack komplimennya, aku memesan anggur putih (dan ini setelah dua gelas sparkling wine di lounge, haha). Dan trik ini bekerja loh, aku merasa kalem setelahnya.

Layanan snack komplimen di penerbangan KL1317nya KLM ke Bordeaux.

Jam 16:25, kami mendarat di landasan pacu 23 Bandara Bordeaux. Kami parkir di sebelah sebuah pesawatnya easyJet yang baru saja tiba dari Inggris. Karena aku tahu akan ada pemeriksaan paspor di bandara ini, aku berjalan cepat-cepat setelah turun dari pesawat. Benar saja, sudah ada banyak orang di pemeriksaan imigrasi sehingga antrian panjang terbentuk. Untungnya sih pemeriksaannya berlangsung cepat, haha.

Aku harus pindah terminal di Bordeaux karena aku transit ke penerbangan domestik. Untungnya sih bandaranya kecil. Aku dapat langsung menuju pemeriksaan sekuriti karena aku sudah mendapatkan boarding pass. Dan ternyata waktu itu masih 10 menit sebelum jadwal boarding dong! Aku berhasil dan ternyata tidak terlambat! Haha 😆 .

Sebuah Airbus A321-200 reg F-GTAK milik Air France di Bandara Bordeaux

Tentu saja tidak ada waktu untukku mampir di lounge-nya Air France di sana karena boarding berlangsung tak lama kemudian. Menariknya (belum pernah kejadian kepadaku sebelumnya), penumpang diminta untuk naik pesawat secepat mungkin karena bandaranya akan ditutup jam 17:30 selama sekitar dua jam untuk latihan penerbangan. Jadi kami harus berangkat tepat waktu yaitu jam 17:25 sesuai jadwal. Jika tidak, kami harus menunggu setidaknya sampai jam 19:30.


Penerbangan: Air France AF 7637
Pesawat: Airbus A321-200 reg F-GTAK
ATD: 17:29 CET (Runway 23 of BOD)
ATA: 18:27 CET (Runway 27L of CDG)

Boarding berlangsung efisien dan aku duduk nyaman di kursi 1Aku. Lucu juga rasanya jam 17:19, ketika sebagian penumpang masih boarding, kapten mengumumkan bahwa kami memiliki waktu 11 menit untuk berangkat, haha 😆 . Akhirnya, kami lepas landas jam 17:29, pas banget sebelum penutupan bandaranya!! 😀

Beberapa pesawat ini sudah berbaris ketika kami lepas landas dari Bordeaux.

Ini adalah penerbangan domestik dengan Air France yang nyaman; dimana aku terutama menikmati kursi 1A! Haha 😛 . Sekitar satu jam kemudian, kami mendarat di landasan pacu 27L Bandara Charles De Gaulle di Paris.

Setelah mendapatkan boarding pass-ku untuk kembali ke Amsterdam, aku pergi ke sebuah lounge-nya Air France. Aku masuk tidak dengan ekspektasi apa-apa akibat pengalaman terakhirku kesana sekitar satu bulan sebelumnya dimana aku dikecewakan dengan layanan makanannya. Kali ini, Air France menebus dirinya kembali dan level layanannya kembali ke sedia kala. Fiuh!!

Layanan makan malam di Salon Air France

Layanan makan malam di Salon Air France

Btw, brownies di foto sebelah kanan enak banget loh!


Penerbangan: KLM Royal Dutch Airlines KL 1246
Pesawat: Boeing 737-700 reg PH-BGX (“Scholekster”)
ATD: 20:29 CET (Runway 27L of CDG)
ATA: 21:10 CET (Runway 18R of AMS)

Jam 19:45, aku beranjak dari lounge dan berjalan menuju gate tidak jauh dari sana. Tak lama kemudian, boarding penerbangan KL1246 dimulai, yang mana akan dioperasikan dengan Boeing 737-700nya KLM dengan rego PH-BGX. Penerbangan ini tidak penuh hari ini sehingga boarding berlangsung cepat.

Boarding sebuah Boeing 737-700nya KLM dengan rego PH-BGX sebagai penerbangan KL1246 ke Amsterdam.

Ini adalah penerbangan normal Paris – Amsterdam. Mungkin karena penerbangan malam, KLM hanya memberikan satu bungkus kecil crackers bukannya sandwich/wrap seperti biasanya itu. Tetapi crackers-nya enak sih, haha. Anyway, jam 21:10 pesawat mendarat di Polderbaan di Schiphol, hanya sekitar enam jam setelah aku lepas landas ke Bordeaux!! Hahaha 😆 .

#1926 – A Month(-Ish) in Amsterdam

ENGLISH

So it has been about one month since I started to live in Amsterdam. So how is everything? Well, everything is generally fine. Here are a couple of them.

Much Shorter Commute!!

One aspect which I totally do not miss from living in Delft while working in Amsterdam is the commute! Well, of course I still have to commute now but instead of spending three hours every day, I only need to spend about one hour in total! Yeay!! So suddenly I have two hours extra in my everyday life which I can do whatever I want with! Hahaha…

So what do I do with it? Well, even though in March I said my body had adapted to the three-hour commute, I knew it was not ideal at all especially in the longer-run. And so I used about one hour of that for: extra sleep! Hahaha 😆 . Trust me, it is much nicer now that I can get up basically at the ideal time my body would like to get up! I feel much fresher everyday, which translates to generally better mood and sharper mind!

And the other one hour? Well, I keep it as a “flexible hour” which I can do whatever I want with. If needed, possibly a longer hour during busy days at work, or just to do something fun, haha 🙂 .

The bottom line is, I am super happy that I don’t have to spend three hours of my life every day just to commute!

So Many Expenses!

This is actually one consequence of buying an apartment, so I just need to accept it. And I do, by the way. It is just that I feel like there is a never-ending stream of things I need to buy/pay/subscribe to, haha.

Obviously it started with the basic furnitures, then the many smaller furnitures, then even more of smaller furnitures, then a smart TV, then a robot (lol 😆 ). Beside those stuffs were also the subscriptions: from the extremely important internet connection, then a cable TV subscription, then the gym membership, then the public transportation package (more on this, possibly, in a later post). And not to mention the service I decided to use to help me install a lot of those stuffs. And I feel like this is not done yet! Haha 😆

So, to you who have been through a similar situation, do you have any tips for me on this department? I am, happily, all ears! 😂

Though, possibly the good side of that was that I had an excuse to go to IKEA and so had their meatballs while I was there 😛

BAHASA INDONESIA

Jadi ceritanya sudah sebulanan semenjak aku mulai tinggal di Amsterdam. Bagaimanakah semuanya? Hmm, secara umum baik-baik saja sih. Berikut ini dua buah cerita tentangnya.

Nglaju yang jauh lebih singkat!!

Satu aspek yang sama sekali tidak aku kangeni dari tinggal di Delft sementara bekerja di Amsterdam adalah nglaju-nya! Ya, tentu saja aku masih harus nglaju sih sekarang tetapi tidak tiga jam setiap hari kayak dulu, cukup sekitar satu jam kurang aja sekarang! Jadi tiba-tiba dong setiap hari aku mendapatkan waktu ekstra dua jam yang bisa bebas aku gunakan untuk apa pun! Hahaha…

Nah, trus waktu ekstranya itu untuk apa saja? Hmm, walaupun di bulan Maret aku bilang tubuhku mulai beradaptasi dengan tiga jam cuma di jalan itu, sebenarnya aku tahu itu bukanlah situasi yang ideal terutama untuk jangka panjang. Dan jadilah satu jam waktu ekstranya kugunakan untuk: tidur lebih lama! Hahaha 😆 . Beneran loh, rasanya enak dan damai banget sekarang aku bisa bangun di waktu ideal bangun bagi tubuhku! Aku merasa lebih segar setiap hari, yang mana berefek ke mood dan pikiran yang jauh lebih segar pula!

Dan satu jam lainnya? Yah, satu jam ini aku pergunakan sebagai “jam fleksibel” yang mana bisa aku pakai untuk apa pun. Jika dibutuhkan, bisa saja bekerja sejam lebih lama di hari-hari sibuk di kantor, atau aku gunakan untuk kegiatan apa kek yang seru gitu, haha 🙂 .

Tetapi intinya adalah, aku senang banget sekarang tidak lagi harus menghabiskan tiga jam hidupku setiap hari di jalan aja!

Kok banyak pengeluaran ya!

Sebenarnya sih ini adalah satu konsekuensi dari membeli sebuah apartemen, jadi ya memang seharusnya aku terima. Dan sebenarnya sih memang aku terima sih, haha. Cuma rasanya kok ini ada arus pengeluaran tak berujung untuk membeli/membayar/mendaftarkan-diri ke sesuatu ya, haha.

Jelas dong semuanya dimulai dari mebel-mebel dasar, lalu barang-barang printilan, lalu lebih banyak barang-barang printilan lagi, lalu sebuah smart TV, lalu sebuah robot (huahaha 😆 ). Di samping itu semua, ada juga keanggotaan-keanggotaan yang aku daftar, misalnya: koneksi internet yang jelas sangat amat penting banget, lalu langganan TV kabel, lalu keanggotaan di gym, lalu abonemen transportasi umum (ini akan kutulis di sebuah posting yang terpisah, mungkin). Dan belum lagi biaya layanan yang aku gunakan untuk membantuku memasang banyak dari barang-barang tersebut. Dan rasanya masih belum habis aja ini! Hahaha 😆

Jadi, bagi yang sudah pernah melewati fase serupa nih, apakah ada tips untukku di bidang ini? Aku pengen mendengar semuanya nih! 😂

Walaupun, mungkin sisi positif dari itu semua adalah aku jadi ada alasan untuk pergi ke IKEA sehingga bisa sekalian makan baksonya, hahaha 😛

#1925 – A Saturday Story

ENGLISH

Time for a haircut

The time has come for me to have another haircut. There was, however, one problem: I have just moved to Amsterdam, meaning that I had to start from scratch in the quest of finding my “perfect” barbershop, hahaha 😆 .

You see, after 6.5 years living in Delft, about three years ago I finally found my “perfect” barbeshop. It was in Den Haag, lol 😆 . It was cheap but the quality was really, really good (for me). So no wonder I always went there everytime I needed a haircut.

However, it is obviously no longer feasible to go to this barbershop in Den Haag given that I now live in Amsterdam. The almost one hour (one-way) trip and train ticket cost certainly do not justify it. Not to mention it sounds ridiculous to not be able to find another “perfect” barbershop in Amsterdam, haha 😆 .

So yesterday I went to a barbershop nearby my place. It was a bit of a gamble because I would never know whether a barbershop was a “perfect” one for me or not until I paid a visit, haha. It was a busy place, which was a good sign; but then I had to wait for about 3.5 hours before they had a vacant slot. Obviously I did not just sit there waiting for 3.5 hours (I went back home and hit the gym). Anyway, it turned out that I really liked their work and result. It was significantly more expensive than my “perfect” Den Haag barbershop, though, but the service was also much better and the assistant consulted me often throughout the work to make sure that I really liked the result.

So overall, I guess I like this barbershop.

More Apartment Stuffs

The quest for furnitures for my apartment has not ended, yet. I actually doubt that it will eventually end, to be honest, haha.

Anyway, the next urgent thing in my list to buy was a coat hanger. And so earlier this week I bought it online at IKEA, along with a kitchen carpet, an anti-slip carpet for the kitchen carpet, a trash can, a big mirror, and a package of wardrobe organizer mini boxes, lol 😆 . I calculated my order placement to be at the right time so that they would get delivered on Saturday, much to my convenience, haha 😛 .

More stuffs!

Well, now I feel like I have already had most of the stuffs that I want for my apartment. But I don’t know if within the coming days, suddenly something else pop out in my mind, haha 😆 .
BAHASA INDONESIA

Waktunya potong rambut

Waktunya sudah tiba untukku potong rambut. Namun, ada satu masalah: aku baru saja pindah ke Amsterdam, yang mana artinya petualangan pencarian tempat potong rambut yang “sempurna” harus kumulai dari nol, hahaha 😆 .

Setelah tinggal selama 6,5 tahun di Delft, sekitar tiga tahun yang lalu aku telah menemukan tempat potong rambut yang “sempurna”. Lokasinya di Den Haag, hahaha 😆 . Harganya murah tetapi kualitas potongannya oke banget (untukku sih). Jadi tidak heran aku selalu pergi kesana setiap kali potong rambut

Masalahnya, jelas tidak lagi memungkinkan lah ya untukku pergi ke tempat potong rambut di Den Haag ini mengingat aku kini tinggal di Amsterdam. Perjalanan sekitar satu jam (satu arah) plus harga tiket keretanya jelas tidak membuatnya worth it. Tentu saja di samping pemikiran: masa iya sih tidak ada tempat potong rambut yang juga “sempurna” di Amsterdam? Haha 😆

Jadilah kemarin aku pergi ke sebuah tempat potong rambut di dekat apartemen. Untung-untungan sih karena yang namanya tempat potong rambut kan mesti dicobain dulu ya untuk tahu apakah “sempurna” atau tidak? Haha. Tempatnya ramai banget, yang mana pertanda baik nih; tetapi juga akibatnya aku harus menunggu 3,5 jam dong sebelum mereka memiliki slot waktu yang kosong. Jelas aku tidak duduk menunggu selama 3,5 jam di sana (aku pulang dan nge-gym), haha. Anyway, ternyata aku suka dengan hasil potongannya. Jauh lebih mahal daripada tempat potong rambut “sempurna”-ku di Den Haag sih, tetapi pelayanannya juga lebih baik dan asistennya juga rajin mengonsultasikan model potongannya di sepanjang waktu untuk memastikan aku suka dengan hasilnya, haha.

Jadi secara keseluruhan, kayaknya aku suka deh dengan tempat potong rambut ini.

Barang-barang untuk apartemen lagi

Perburuan mebel untuk apartmenku masih belum berakhir. Sekarang aku malah jadi ragu sendiri apakah ini ada akhirnya, haha.

Anyway, barang super penting berikutnya di dalam daftar untuk dibeliku adalah gantungan mantel. Jadilah awal minggu ini aku membelinya online dari IKEA, sekalian dengan karpet untuk dapur, lapisan anti-slip untuk karpet untuk dapur itu, tempat sampah, cermin yang besar, dan satu paket kotak-kotak kecil untuk mengatur lemari pakaian, haha 😆 . Waktu pembelianku sudah kuhitung agar barang-barangnya diantarkan di hari Sabtu, sehingga enak kan waktunya untukku, haha 😛 .

Barang-barang baru lagi!

Lumayan deh. Rasanya sekarang hampir semua yang aku butuhkan sudah kumiliki. Tapi ntah deh jika dalam beberapa hari ke depan, tiba-tiba aku ingin apa lagi gitu, haha 😆 .

#1924 – My Favorite Season: Spring

ENGLISH

I have shared before that I do not like Fall. So a relevant follow-up question is “What is your favorite, then?“. Well, to that, the answer is: definitely Spring! Haha 😆 .

First of all, here is a (good) Spring day in the Netherlands:

Yep, those are all flowers, not carpets! Lol 😆

Anyway, Spring is the opposite of Fall in many different levels, from the clear-cut scientific definition to how (my) life here is in general.

It is true, though, that even in Spring, the weather isn’t always perfect like in the video above. In fact, it is not most of the time. However, despite that, overall it is still “net positive”.

I think the fact that Winter preceeds Spring helps a lot. First of all, days are getting longer and longer each day. And I personally like longer days. Secondly, the same temperature as in Fall is perceived as “warmer”, haha.

This also affects people too. I observe that people are more in cheerful mood during the Spring, which sometimes is also reflected in how they dress. Ultimately, life feels much better and, as a consequence, I feel more productive at work too, which is always a good thing, haha 😛 .

Yeah, so, indeed, Spring is my most favorite season!!

BAHASA INDONESIA

Sebelumnya telah kubagikan bahwa aku tidak suka musim gugur. Jadi pertanyaan berikutnya yang memang relevan adalah “Kalau begitu musim favoritmu musim apa dong?“. Untuk itu, jawabannya jelas adalah: musim semi! Haha 😆 .

Pertama-tama, hari (baik) musim semi di Belanda itu kayak gini:

Iyaa, itu semua bunga loh, bukan karpet! Haha 😆

Anyway, musim semi itu kebalikan dari musim gugur di banyak sisi, mulai dari definisi ilmiahnya yang jelas hingga bagaimana kehidupan(ku) secara umum di sini.

Memang sih, cuaca musim semi itu tidak selalu sempurna seperti di video di atas. Malahan, seringnya sih cuacanya nggak oke, haha. Toh walaupun begitu, secara keseluruhan masih “positif”.

Aku kira musim dingin yang mendahului musim semi jelas membantu banget. Pertama-tama, siang hari bertambah panjang terus setiap harinya. Dan aku sendiri suka banget dengan siang hari yang panjang. Yang kedua, suhu udara yang sama dengan di musim gugur jadi terasa “lebih hangat” gitu deh, haha.

Ini juga mempengaruhi orang-orang. Aku amati orang-orang ber-mood lebih ceria di musim semi, yang mana terkadang terpancar juga di pemilihan pakaiannya, haha. Jelas, ini membuat hidup terasa lebih enak dan, sebagai akibatnya, aku lebih produktif di kantor juga, yang mana jelas bagus dong ya, haha 😛 .

Jadi, iya, musim semi adalah musim favoritku!!

#1923 – TV Cable and Internet Speed

ENGLISH

About two weeks ago when I just got my new smart TV, I said I still had not decided yet whether I would subscribe to a cable TV provider or not. Actually it did not take long before I decided that I would, haha 😆 .

At the time, I was mainly using my smart TV for Youtube and Netflix (a free month with Netflix, yeay!). It was really fun and I found a lot of good stuffs in Netflix; even though I found the library to not be as large as I expected. Nonetheless, I still felt like there was something “missing” with my TV: the more “traditional” live channels with news and stuffs (including the sport channel (read: tennis, of course)), haha.

So I was searching for options and concluded that, indeed, the best solution for me was to top off my subcription with my internet provider with cable TV subscription. With this, I also got an upgrade on my internet speed from 60 Mbps to 100 Mbps, hahah 😛 . The area of my apartment is supported with fiber-optic which allows super fast internet connection. So why not? 😛 Well, actually I can upgrade the speed to 500 Mbps too; even though at the moment I still feel like it doesn’t justify the extra monthly cost, hahah 😛 . But we will see. As I have kept saying, it is nice to have the option.

Anyway, as per this week, the upgrade kicks in! So now I have live cable TV on my smart TV and faster wifi at home! Yeay!! Actually, somehow I also get a new home telephone (with a new number) with this as well. Though, I am not sure if a traditional telephone is as important nowadays. But well, it is still nice to have it. Yeay! 😎

BAHASA INDONESIA

Sekitar dua minggu yang lalu ketika aku baru saja mendapatkan smart TVku, aku bilang aku masih belum memutuskan apakah aku akan berlangganan TV kabel atau tidak. Sebenarnya tidak membutuhkan banyak waktu sih sampai aku memutuskan bahwa aku ingin berlangganan, haha 😆 .

Waktu itu, smart TVku hanya kugunakan untuk Youtube dan Netflix saja (satu bulan gratis dengan Netflix, hore!). Seru juga kok sebenarnya dan aku menemukan banyak banget acara yang keren di Netflix; walaupun ternyata library-nya tidak sebesar yang aku sangka. Toh walaupun begitu, aku masih merasa ada yang “kurang” gitu dari TVku: kanal-kanal langsung yang lebih “tradisional” seperti kanal berita dan lain-lain gitu (termasuk olahraga (baca: tennis, tentunya)), haha.

Jadilah aku melihat-lihat apa saja pilihanku dan memutuskan bahwa, memang, solusi terbaik adalah menambahkan TV kabel ke dalam paket dari perusahaan penyedia internetku. Dengan ini, sekalian kecepatan internetku aku upgrade dari 60 Mbps menjadi 100 Mbps, hahah 😛 . Area apartemenku disokong dengan koneksi fiber-optic yang memungkinkan koneksi internet super cepat. Jadi mengapa tidak kan? 😛 Sebenarnya aku masih bisa meng-upgrade kecepatannya hingga 500 Mbps sih; tetapi sekarang ini aku masih merasa ini belum worth it jika dibandingkan dengan biaya per bulannya, hahah 😛 .Tapi kita lihat saja deh. Seperti yang sering kubilang kan, enak kalau ada pilihannya begini.

Anyway, per minggu ini, upgrade-nya mulai berjalan loh! Jadilah sekarang aku juga memiliki TV kabel live dan wifi yang lebih cepat di rumah! Hore!! Ternyata, aku juga mendapatkan telepon rumah baru (bersama dengan nomor) juga. Walaupun aku nggak begitu yakin bahwa telepon tradisional begini penting sih di zaman sekarang. Tetapi, toh masih tetap enak-enak aja untuk memilikinya kan ya. Hore! 😎

#1921 – Photo Tales (40)

ENGLISH

This edition of Photo Tales is aviation related, haha 😛 .

Photo #88

easyJet and RyanAir at Rome – Fiumicino

While flying from Rome to Amsterdam for my Post-PhD Trip, I spotted these two birds side by side at Rome – Fiumicino Airport. Yep, the two airlines that, for better or for worse, revolutionized the (European) airlines industry, RyanAir and easyJet (And, to some degree, Southeast Asia too because easyJet inspired Tony Fernandes to make AirAsia as it is today).

While, arguably, they targetted different “market” from more traditional full-service airlines, their impact was so big that it forced those more established airlines to adjust. As one consequence, now, the ticket price of those so-called full service airlines also has become more affordable, in general. However, there is more to that, which brings us to the next photo…

Photo #89

A British Airways’ Boeing 767 at Schiphol

One flight I am super interested to try is British Airways’ Boeing 767 daily service between London and Amsterdam (especially after Garuda Indonesia stopped its Amsterdam – London Gatwick route last year), haha 😛 . I always find it fascinating to fly wide-body on a short-haul flight! Haha 😛 .

Anyway, but there are two things which make me hesitate to book a return trip with them (well, three if you consider the visa requirement 😛 ). First of all, British Airways is a member of OneWorld, while as you know I am more of a SkyTeam fans nowadays.

Secondly, as per earlier this year, British Airways stopped providing complimentary snack and drink in any of its short-haul flights. Instead, it now offers buy-on-board (BoB) stuffs, just a la an LCC. You see, clearly this is an (negative) effect of LCC on the full service airline. Well, given that British Airways’ CEO used to be the CEO of Vueling (a Spanish LCC), this was, somewhat, not really “out of nowhere”. But still, you see another “effect” of LCCs to mainline airlines?

Photo #90

An American Airlines’ Boeing 757 at Schiphol

Anyway, on a separate note, I spotted an American Airlines’ Boeing 757 at Schiphol this March. Yes, American Airlines, meaning the plane was used to fly North Atlantic; and, yes, a 757, a.k.a. a (long-ish) narrow-body plane! 😱

I don’t know about you. But to me, I much prefer to fly wide-body when flying medium to long-haul. My longest narrow-body flight was AeroMexico’s Boeing 737-700 flight from Boston to Mexico City (3,663 km). And it was in economy class without personal IFE! Lol 😆 . Anyway, so I certainly will avoid crossing the Atlantic from/to Amsterdam with American Airlines, then 😛 (Beside, they are OneWorld too 😛 ).

BAHASA INDONESIA

Edisi Photo Tales kali ini akan berkaitan dengan pesawat, haha 😛 .

Foto #88

easyJet dan RyanAir di Rome – Fiumicino

Ketika terbang dari Roma ke Amsterdam dalam perjalanan Pasca-Phdku, aku melihat dua burung besi ini parkir bersebelahan di Bandara Roma – Fiumicino. Iya, dua maskapai yang, baik secara positif maupun negatif, merevolusionsasi dunia penerbangan (Eropa), RyanAir dan easyJet (Dan, sedikit-banyak, Asia Tenggara juga karena easyJet menginspirasi Tony Fernandes untuk membuat AirAsia seperti sekarang ini).

Walaupun, di satu sisi, mereka menarget pasar yang berbeda dari maskapai-maskapai full service yang lebih tradisional, efeknya cukup terasa juga sehingga maskapai-maskapai yang sudah lebih lama ada tersebut harus menyesuaikan diri. Salah satu konsekuensinya, sekarang, harga tiket dari maskapai-maskapai full service tersebut juga menjadi relatif lebih murah secara umum. Namun, efeknya tidak hanya sebatas itu saja, yang membawa kita ke foto selanjutnya…

Foto #89

Sebuah Boeing 767nya British Airways di Schiphol

Satu rute penerbangan yang sangat ingin aku cobain adalah penerbangan hariannya British Airways dengan pesawat Boeing 767 di rute London – Amsterdam (terutama setelah Garuda Indonesia menutup rute Amsterdam – London Gatwick tahun lalu (masih belum bisa move on)), haha 😛 . Seru aja kan terbang dengan pesawat berbadan lebar di penerbangan jarak dekat! Haha 😛 .

Anyway, tetapi ada dua hal yang masih membuatku ragu untuk membeli tiket pp dengan mereka (eh, tiga ding kalau persyaratan visa diikut-sertakan 😛 ). Pertama-tama, British Airways adalah anggota OneWorld sementara sekarang ini kan aku lebih suka SkyTeam.

Yang kedua, per awal tahun ini, British Airways tidak lagi memberikan layanan snack dan minuman gratis di penerbangan jarak dekat mereka. Dan sekarang, yang ditawarkan adalah produk-produk buy-on-board (BoB) gitu deh, a la penerbangan LCC lah. Nah kan, jelas ini adalah efek (negatif) dari LCC ke maskapai full service. Eh, tapi dengan mempertimbangkan CEOnya British Airways yang mana dulunya adalah CEOnya Vueling (sebuah maskapai LCCnya Spanyol), ini mungkin tidak terlalu mengherankan yah. Tetapi tetap aja lah, terlihat kan “efek”nya LCC di maskapai-maskapai besar lainnya?

Foto #90

Sebuah Boeing 757nya American Airlines di Schiphol

Anyway, mari kita berganti topik, aku melihat Boeing 757nya American Airlines di Schiphol bulan Maret ini. Iya loh, American Airlines, artinya pesawatnya dipakai untuk terbang menyebrangi Samudra Atlantik; dan, iya, Boeing 757, alias pesawat berbadan kecil (tapi agak panjangan)! 😱

Aku nggak tahu dengan kalian yah, tetapi untukku sih aku lebih suka terbang dengan pesawat berbadan lebar ketika terbang jarak menengah dan jauh. Penerbangan terjauhku dengan pesawat berbadan kecil adalah dengan Boeing 737-700nya AeroMexico dari Boston ke Mexico City (jaraknya 3.663 km). Dan penerbangan itu di kelas ekonomi dan tanpa IFE personal pula! Haha 😆 . Anyway, jelas deh aku akan menghindari terbang menyebrangi Samudra Atlantik dari/ke Amsterdam dengan American Airlines kalau begitu 😛 (Di samping itu, mereka juga anggota OneWorld sih 😛 ).

#1920 – Meet … Sucker 🙊

ENGLISH

One matter I needed to think about after buying an apartment, which obviously came empty, was the maintenance. And one of the many aspects of maintenance was how to keep it clean.

And I know myself. I know that cleaning my apartment regularly is not a hobby of mine, lol 😆 , as I would rather use the time and energy for something else (travelling, for instance 😛 ). On the other hand, at the moment I do not feel like hiring someone to regularly clean the apartment in relatively high frequency (It is quite expensive in the Netherlands).

And you don’t think there is any solution for this dilemma, then? Well, welcome to the 21st century because there is:

Yep, a solution for that is: a cleaning ROBOT!! And I named it Sucker (for the obvious reason) 🙊.

So what Sucker does is to roam around the apartment and suck stuffs 🙊. In simple terms, it is an automated vacuum cleaner that is really smart. Say it is in the middle of sucking something (🙈) and it is low on energy, it will stop and return to its station to recharge. And, of course, it is programmable too where I can schedule when it should work. It also comes with a “Virtual Wall Lighthouse”, a device which as a beacon can assist Sucker in cleaning multiple rooms (in Lighthouse mode) and can block an area that we don’t want to be cleaned (in Virtual Wall mode).

A Virtual Wall Lighthouse

Isn’t it really awesome? Haha 😆

Obviously it does not tackle all aspects of cleaning, mopping for instance. There is another type of robot that is designed for that actually. However, given that I have wooden floor that should not be mopped that often anyway, I choose not to get that one, haha 😆 .

Overall, so far I am quite impressed with my new robot :P. It does help me a lot by tackling the one cleaning action that needs to be done most frequently! It is much easier to maintain it once in a while than having to actually vacuum the entire apartment myself, regularly, haha 😛 .

I would rather empty its dustbin than having to do all the vacuuming myself 😛

BAHASA INDONESIA

Satu hal yang perlu kupikirkan setelah membeli apartemenku sendiri, yang mana jelas aku dapatkan nyaris kosong, adalah perawatannya. Dan satu dari banyak aspek perawatan adalah bagaimana menjaga kebersihannya.

Dan aku kenal diriku sendiri. Aku tahu membersihkan apartemen secara reguler bukanlah hobiku, haha 😆 , aku lebih suka memanfaatkan waktu dan energiku untuk yang lain (jalan-jalan misalnya, haha 😛 ). Di sisi lain, saat ini aku juga tidak ingin membayar seseorang untuk membersihkan apartemenku secara reguler dengan frekuensi cukup sering (Kan mahal di Belanda).

Dan apakah kemudian artinya tidak ada solusi untuk dilema ini? Hmm, selamat datang di abad ke-21, karena ada loh solusinya:

Yep, solusinya adalah: ROBOT bersih-bersih!! Dan robotnya aku namai “Sucker” (untuk alasan yang jelas) 🙊.

Jadi yang Sucker lakukan adalah berkeliling apartemen dan menyedot-nyedot gitu deh 🙊. Secara sederhananya, ia adalah vacuum cleaner otomatis yang amat pintar. Misalnya nih ia sedang menyedot apa kek gitu dan kemudian merasa lemas (energinya hampir habis 🙈), ia akan berhenti dan otomatis kembali ke stasiunnya untuk me-recharge dirinya. Dan, tentu saja, ia bisa diprogram juga dimana aku bisa menjadwalkan kapan ia harus bekerja. Aku juga mendapatkan sebuah “Virtual Wall Lighthouse”, sebuah alat yang bisa menuntun Sucker untuk membersihkan beberapa ruangan dengan sinyal (dalam mode Mercusuar) dan juga bisa memblok satu area yang tidak ingin kita bersihkan (dalam mode Virtual Wall).

Sebuah Virtual Wall Lighthouse

Keren ya? Haha 😆

Jelas ia tidak mengerjakan semua aspek dari bersih-bersih, mengepel misalnya. Nah, sebenarnya ada loh robot lain yang didisain untuk mengepel. Namun, dengan mengingat lantai apartemenku adalah dari kayu yang mana toh tidak boleh sering-sering dipel, aku tidak membelinya deh, haha.

Secara keseluruhan, aku cukup terkesan dengan robot baruku 😛 . Ia sangat membantuku dengan mengerjakan satu aktivitas bersih-bersih yang memang harus dikerjakan paling sering! Aku rasa sih lebih mudah untuk merawat robotnya sesekali ya daripada harus mengerjakan sendiri pekerjaan mem-vacuum seluruh apartemenku dengan reguler, haha 😛 .

Aku lebih memilih untuk mengosongkan penampungan debunya ini daripada harus mem-vacuum sendiri apartemenku 😛