#2063 – More IKEA Stuffs

ENGLISH

Last year I mentioned my strategy with the furniture for my apartment, where I chose to take it slowly and so I could afford good products without having to blow my budget at once. One side advantage of this strategy was that I had the capacity (in terms of space) to buy things that became needed along the way (As, obviously my need for furniture was not static over time); which also meant that my apartment was not full of stuffs I did not need, haha 😆 .

My new wall cabinet

Anyway, in the last a few months or so, I realized that one thing has become needed: a bathroom wall cabinet to store my bathroom-related stuffs stock (shampoo, soap, toothpaste, toothbrush, etc). Thus far I stored those in a cabinet in the other room and I realized this was quite inconvenient, haha. And so I decided to browse IKEA’s product, and decided to order one which design I liked. While doing so, I also decided to buy a new hat/coat rack for the hallway because I felt like it was kind of needed for its practicality and to make my hallway looked “busier”, haha. What I liked was that the rack was hanging on the wall, so it did not make the hallway feel uncomfortably “narrower” for people to pass.

And while browsing through IKEA’s online catalogue, I also spotted a cool series of prints of water colour paintings depicting Paris’ Eiffel Tower and New York’s Brooklyn Bridge with cheerful colour. And so I decided to buy the series too!! In terms of colours, it pretty much went along with the print I bought the other day too, I thought. You know, as I said back then I have been looking for things to accessorize my apartment, haha. And this attempt is still not complete yet, btw. And as with my furniture strategy, I choose to take things slowly; though I already have things in mind on what I would like next in terms of these accessories 😀 .

Adding pieces of New York and Paris with cheerful mood to my place

Anyway, last week all these stuffs were delivered. And so my Saturday was quite busy assembling the new bathroom cabinet and the hallway hat/coat rack; plus putting the prints on the wall. You know, IKEA’s stuffs were affordable partly because the customers had to assemble the furniture themselves. While it was not that many stuffs that I bought, it was actually still quite tiring, to be honest! Haha 😆 .

So, yeah, my apartment has just got a little bit “busier”, and I like it! 🙂

Assembling IKEA’s cabinet

BAHASA INDONESIA

Tahun lalu, kuceritakan strategiku mengenai mebel untuk apartemenku, dimana aku memutuskan untuk tidak terburu-buru dalam memenuhi apartemenku sehingga aku mampu untuk membeli produk-produk yang baik tanpa harus membuat budget-ku membengkak parah. Satu keuntungan sampingan dari strategi ini adalah aku jadi memiliki kapasitas (dalam hal ruangan) untuk membeli barang-barang yang kemudian menjadi dibutuhkan sewaktu-waktu (Karena jelas kan kebutuhan kita akan mebel itu tidak statik terhadap waktu); yang mana artinya juga apartemenku tidak jadi penuh oleh barang-barang yang tidak aku butuhkan, haha 😆 .

Lemari dinding baruku

Anyway, beberapa bulan belakangan ini aku baru menyadari bahwa satu mebel menjadi kubutuhkan: lemari yang digantung di dinding untuk kamar mandi untuk menyimpang barang-barang yang berkaitan dengan kamar mandiku (maksudnya kayak stok shampoo, sabun, sikat gigi, pasta gigi, dll gitu). Sebelum ini, stoknya aku simpan di rak di ruangan lain yang mana baru aku sadar ternyata nggak praktis ya (Menurut ngana? Haha 😆 ). Dan jadilah aku mulai melihat-lihat katalognya IKEA, dan memutuskan untuk memesan satu yang disainnya aku suka. Sembari melihat-lihat itu, aku juga memutuskan untuk sekalian memesan rak mantel/topi untuk koridor apartemenku karena memang aku butuhkan juga sih untuk kepraktisan dan juga sekalian berfungsi membuat koridornya lebih “ramai”, haha. Yang aku suka, raknya yang model digantung begitu jadi nggak membuat koridornya terasa lebih sempit untuk jalan.

Nah ketika melihat-lihat katalognya itu, kebetulan aku juga melihat seri prints dari lukisan cat airnya Menara Eiffelnya Paris dan Jembatan Brooklyn-nya New York dengan warna yang ceria. Dan jadilah serinya sekalian aku beli!! Dari segi warna, prints ini serasi dengan print yang kapan hari aku beli, menurutku. Masih ingat kan, waktu itu aku ceritakan bahwa aku sedang mencari hal-hal untuk mendekorasi apartemenku gitu, haha. Dan upaya ini masih belum selesai loh. Dan seperti dengan strategiku untuk mebel, aku juga memutuskan untuk santai-santai saja dalam hal ini; walaupun aku sudah ada bayangan sih mengenai apa yang aku inginkan selanjutnya dalam hal dekorasi 😀 .

Menambahkan potongan-potongan New York dan Paris dengan mood ceria ke apartemenku

Anyway, minggu lalu semua pesananku ini diantar. Jadilah hari Sabtu kemarin aku sibuk memasang lemari kamar mandi dan rak mantel/topi koridorku itu; ditambah juga menggantung prints-nya di dinding. Ya tahu kan, barang-barangnya IKEA itu harganya cukup terjangkau setengahnya karena customer harus memasang sendiri mebelnya. Walaupun nggak banyak yang aku beli, tetapi ternyata masih cukup melelahkan juga loh sejujurnya! Haha 😆 .

Jadi, ya, apartemenku sudah menjadi agak “ramean” sedikit nih, dan aku suka! 🙂

Memasang lemari IKEAku

Advertisements

#2061 – Star Trek: Discovery (Season 1)

ENGLISH

In the last four to five months, I have been following Star Trek’s most recent series, Star Trek: Discovery. And just this weekend (Well, Monday for the Dutch Netflixer like me), the first season was concluded.

If I have to describe the first season of this new series, I will go with “a series full of plot twists“, hahaha 😆 . << Spoiler Alert >> You know, Ash Tyler was actually Voq, Gabriel Lorca was actually from the Mirror universe, Mirror Philippa Georgiou was the cruel and evil emperor of the Terran Empire, and the appointment of Mirror Philippa Georgiou as the captain of USS Discovery after being brought to the Prime (our) universe by Michael Burnham. <<Spoiler Done >> This made this series exciting, to me, as it led me to not know what to expect. Even though at some point I felt like it went overdose with the plot-twisting, lol 😆 .

On the other hand, and I have mentioned this before, this series focused a lot on the action part (Mainly the Federation vs Klingon war and getting trapped in the Mirror Universe and the return attempt) and not at all on the social/interpersonal/intrapersonal conflict aspect like the other Star Trek series. So this definitely gave a really different vibe of a Star Trek series to me.

Each episode was also made not independent of each other; and that one would need to follow the series from the beginning to know what was going on. When you watch one of Star Trek: Voyager‘s episodes, for instance, most of the time you would not need to watch the previous episodes to understand what was going on.

<< Spoiler Alert, Again >>

Ironically, though, IMO the season finale was the “most Star Trek” episode. An away mission (finally!) down to an establishment on an alien planet (Klingon’s Qo’Nos) and ending the war with a (to some degree) diplomacy. On one hand this could feel anticlimatic because most of the preceding episodes were full of fights and wars, that one (or I, at least) would expect to see some “actions” in the finale. But on the other hand this made a lot of sense. The story arc in those preceding episodes was “controlled” by a Terran (Mirror Gabriel Lorca and Mirror Philippa Georgiou), who loved and lived on fights and wars. In this episode, the “real” Starfleet and Federation finally took charge, via the lead of Michael Burnham.

So in the end, I was overall satisfied with the finale! Though, one thing disappointed me a little bit, where they only used one line mentioning that the spore technology was off the table (Starfleet was committed to finding non-human interface, according to Stamets (which, obviously, wasn’t successful in the end)). But to top it off, this season ended with the most coolest cliff-hanger ever, where the USS Discovery crew encountered a distress call from … the USS Enterprise!!

Damn now I cannot wait for season two!!

<< Spoiler Ends >>

***

At the end of the day, the biggest and most important question is: “Did I enjoy this new series?” And the answer to this was “Yes!“. Haha 😆 So despite the “shift” in the characteristics of Star Trek series (despite the very Star Trek finale), overall I still felt like the writers (and everyone involved) did a great job in creating an enjoyable and exciting series, which made me look forward to it everytime I went back from work on Monday!

And so certainly I am excited that a second season has been ordered, and I am looking forward to it! Even though I still have a little bit of hope that the overall tone of second season will be a little bit “more Star Trek”. But nonetheless, we will see!!

BAHASA INDONESIA

Dalam empat atau lima bulan belakangan, aku telah mengikuti seri terbarunya Star Trek yang dinamai Star Trek: Discovery. Dan akhir pekan kemarin ini (Eh, hari Senin ding untuk pengguna Netflix Belanda kayak aku), musim pertama dari seri ini berakhir.

Jika musim pertama dari seri ini harus aku deskripsikan, aku akan menjawabnya dengan “sebuah seri yang penuh plot twists”, hahaha 😆 . << Spoiler Alert >> Ya tahu kan, dari Ash Tyler yang mana ternyata adalah Voq, Gabriel Lorca yang ternyata berasal dari alam semesta paralel (Mirror), Philippa Georgiou versi Mirror ternyata adalah kaisar yang kejam dan jahat dari Kekaisaran Terran, dan penunjukkan Philippa Georgiou paralel ini sebagai kapten USS Discovery setelah ia “diculik” oleh Michael Burnham ke alam semesta Prime (alam semesta kita). << Spoiler Selesai >> Ini membuat acaranya seru sih, bagiku, soalnya aku jadi tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Walaupun juga pernah di satu titik rasanya seri ini agak overdosis dengan plot-twisting sih, haha 😆 .

Di sisi lain, dan sudah kusebutkan sebelumnya, seri ini berfokus di sisi action (Dengan garis besar di jalan cerita Perang Federasi vs Klingon dan terjebaknya kru USS Discovery di alam semesta paralel Mirror dan upaya mereka untuk pulang) dan sama sekali tidak menyentuh aspek konflik sosial/interpersonal/intrapersonal seperti di seri-seri Star Trek lainnya. Sebagai akibatnya, nuansa seri ini terasa berbeda sekali dari seri-seri Star Trek lainnya untukku.

Setiap episode juga tidak dibuat independen satu sama lain; jadi seorang penonton harus mengikuti ceritanya dari awal untuk memahami jalan ceritanya. Ketika kamu menonton satu episodenya Star Trek: Voyager, misalnya, kemungkinan besar kamu masih akan paham jalan ceritanya tanpa harus menonton episode-episode sebelumnya.

<< Spoiler Alert, Lagi >>

Ironisnya, menurutku episode terakhir musim ini justru adalah episode yang “paling Star Trek” dari semua episodenya Discovery. Misi away (akhirnya!) turun ke suatu kota di planet alien (Planet Qo’Nos-nya Klingon) dan mengakhiri perang dengan (kurang lebih) diplomasi. Di satu sisi ini terasa agak anti-klimaks karena episode-episode sebelumnya kan penuh dengan pertarungan dan peperangan, sehingga (bagiku, setidaknya) aku sudah mempersiapkan diriku untuk menonton final yang penuh “action” gitu kan. Tetapi di sisi lain ini sebenarnya justru masuk akal banget lho. Jalan cerita di episode-episode sebelumnya ceritanya kan “dikontrol” oleh bangsa Terran (Gabriel Lorca dan Philippa Georgiou dari alam semesta paralel Mirror), yang memang suka dan hidup dalam pertarungan dan peperangan. Di episode ini, Starfleet dan Federasi “yang sebenarnya” mengambil kontrol kembali, dengan dipimpin oleh Michael Burnham.

Jadi pada akhirnya, aku sungguh puas dengan akhir dari musim ini! Walaupun satu hal kecil mengecewakanku sedikit sih, dimana hanya satu kalimat saja yang menyebutkan bahwa teknologi spora tidak lagi digunakan (Starfleet berkomitmen untuk mencari cara pemanfaatan teknologi ini tanpa menggunakan manusia, menurut Stamets (yang mana, jelas, upaya yang pada akhirnya gagal)). Tetapi, musim ini diakhiri dengan cliff-hanger yang paling keren banget, dimana kru USS Discovery mendapatkan panggilan darurat dari … USS Enterprise!!

Ahhhh, aku jadi makin nggak sabar kan menunggu musim kedua!!

<< Spoiler Selesai >>

***

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar dan paling penting adalah: “Apakah aku menikmati seri baru ini?” Dan untuk pertanyaan ini jawabanku adalah “Iya!“. Haha 😆 . Jadi biarpun adalahnya “pergeseran” karakteristik dari seri-seri Star Trek lainnya (walaupun episode terakhirnya Star Trek banget sih), secara keseluruhan toh aku masih merasa penulis naskahnya (dan semua yang terlibat) telah menghasilkan suatu seri yang bagus dan seru, yang mana selalu membuatku bersemangat ketika pulang kantor di hari Senin!

Makanya aku merasa excited dengan berita dimana musim kedua sudah dipesan, sehingga aku nggak sabar untuk menontonnya! Walaupun aku juga sedikit berharap mudah-mudahan nuansa umum musim kedua nanti bakal “lebih Star Trek” sih. Ah, tapi kita lihat saja lah ya!!

#2059 – Sporting in January

ENGLISH

Needless to say that January was quite an eventful month for me. While it was certainly fun, the downside of that was that it was a little bit challenging to get my “sporting rhythm” back! Lol 😆 .

The month started off with the terrible jetlag I got after coming back from my year end trip to California. It took awhile before my body adjusted to the Central European Time (CET). Once it did, some interesting special events took place at work, haha. And then of course there was the two trips in a week I did at the end of the month to two places with great food like the following 😛 .

Another amazing brunch in Copenhagen

A tortellini bolognese with ragu in Bologna!

All of these made my sporting pattern to be quite “sporadic”. It was a little bit annoying because a few times I felt like I started to get some of the “groove” back (via the combination of my visit to the gym and a new tennis lesson season (which will be longer this season)), but then an “elongated break” must follow hence killing off some of the groove, haha 😛 . But hey, a sporadic pattern was better than nothing, right? Beside, looking at the positives, it was actually really nice to have these events “spicing up” what otherwise would have been a dull winter month of January (a cold winter month following a festive Christmas and New Year holiday season), haha 😛 .

Nonetheless, I am glad that my schedule in February thus far and what have been planned ahead seem to look more “regular”. And so I hope I would get my rhythm back as soon as possible!

BAHASA INDONESIA

Sudah jelas ya bulan Januariku kemarin adalah bulan yang cukup berwarna untukku. Walaupun jelas seru, di sisi lain warna-warna itu menjadi tantangan tersendiri untukku mendapatkan kembali “ritme berolahraga”-ku! Hahaha 😆 .

Bulan kemarin ini aku mulai dengan jetlag parah akibat dari perjalanan akhir tahunku ke California. Badanku membutuhkan waktu cukup lama untuk membiasakan kembali dengan zona waktu Central European Time (CET). Begitu adaptasinya selesai, beberapa acara menarik diadakan di kantor, haha. Dan tentu saja adanya dua perjalanan dalam seminggu di akhir bulan ke dua tempat yang makanannya enak-enak seperti berikut ini 😛 .

Brunch yang enak banget di Kopenhagen

Tortellini bolognese dengan ragu di Bologna!

Semua ini membuat pola olahragaku di bulan ini “sporadis”. Rasanya sedikit menyebalkan soalnya beberapa kali begitu aku merasa mulai mendapatkan “groove“-nya kembali (melalui kunjunganku ke gym dan kelas les tenis baru (yang mana kali ini akan lebih panjang dari semester yang lalu)), eh aku harus “absen lumayan panjang” yang mana mengurangi level groove-nya, haha 😛 . Ah, tetapi pola yang sporadis masih mendingan daripada tidak berolahraga sama sekali kan ya? Di samping itu, kalau dilihat dari sisi positifnya, sebenarnya acara-acara itu justru membuat Januari menjadi seru sih, bukannya bulan yang menyebalkan di musim dingin (bulan musim dingin yang, hmm, dingin setelah musim liburan Natal dan Tahun Baru yang seru), haha 😛 .

Tapi bagaimana pun juga, sekarang aku merasa lega dengan jadwalku di bulan Februari ini yang sejauh ini dan ke depannya nampak akan lebih “reguler”. Jadi mudah-mudahan ritmeku segera aku dapatkan kembali!

#2056 – Some Leftover Stories from January

ENGLISH

A Conference

About three weeks ago an internal conference was held in my office which, for me, brought me up to speed with what my colleagues had been working on in a fun set up. It also provided me with an oppotunity to meet other people; and realized how fast we were growing! So yeah, indeed it was such a nice conference! Btw, I also liked the conference venue because it was in between my apartment and my office, so that day I slashed like half of my commute time! Lol 😆 .

Of course I did not dress like this for the conference. Btw, this was the “costume” some of you asked some weeks ago 😛 .

Two Big Trips

Anyway, in January, KLM also had what they called the “Werelddeal Weken” promotion!

Well, darn! 🙈

You know, I mentioned at the end of December last year that I would to “spice” things up with my flights this year. And then in January KLM had this promotion! Lol, what a timing 😆 . And so consequently, two big trips are already planned for this year!! Hahaha 🙈. This is not yet the right time to reveal the details, but as usual, I will do when the time comes!! :mrgreen:

BAHASA INDONESIA

Sebuah Konferensi

Sekitar tiga minggu yang lalu, ada sebuah konferensi internal yang diadakan oleh kantorku yang, bagiku, menjadi sebuah platform untuk mengetahui apa yang kolega-kolegaku kerjakan dalam sebuah set up yang asyik. Ini juga memberikanku kesempatan untuk bertemu orang lain; dan menyadari bahwa kami berkembang dengan pesat! Ya, jadi konferensi ini memang lah sebuah konferensi yang seru! Btw, aku juga suka lokasi konferensinya yang berada di antara apartemen dan kantorku, sehingga hari itu waktu nglaju-ku terpotong sebanyak setengahnya, haha 😆

Yang mana jelas dong ya aku tidak berpenampilan begini di konferensinya. Btw, ini adalah “kostum” yang ditanyakan oleh beberapa dari kalian beberapa minggu yang lalu 😛 .

Dua perjalanan besar

Ngomong-ngomong, di bulan Januari kemarin ini KLM juga menggelar promo “Werelddeal Weken” nih!

Hmm, sialan! 🙈

Tahu kan, di akhir Desember tahun kemarin aku bilang aku ingin membuat penerbanganku tahun ini “lebih seru”. Dan kemudian di bulan Januarinya kok KLM menggelar promosi ini! Timing-nya kok bisa pas gitu ya, haha 😆 . Dan jadilah sebagai akibatnya, dua perjalanan besar sudah terencanakan dong untuk tahun ini!! Hahaha 🙈. Sekarang masih belum waktunya untuk aku ungkap lebih jauh sih, tetapi seperti biasa nanti pasti aku ceritakan kalau waktunya tiba!! :mrgreen:

#2054 – A Year A Doctor

ENGLISH

This day last year, officially I got my PhD degree and so since then I have been entitled to use the title “Doctor”, haha 😛 .

Doctor Evil. Source: https://9gag.com/tag/evil

So how has this one year been in relation to this title? Well to be honest, it has been as how it was before my graduation in the sense that I did not “use” the title a lot, haha. I mean, life (even at work) is very casual here in the Netherlands where we don’t even use “Mr.” or “Mrs.” or the likes, let alone academic degree! Even at work we are all in first name basis, even when I address the CEO of my company 🙂 . This was also true in the university. I addressed the head of my research group, who was a professor, with his first name without his “Professor” title.

But an academic degree is much more than just adding some title into your name. What “in the inside” is what matter much more. As to me personally, I feel like this title has given me a sense of accomplishment, which instills self confidence. I can legitimately say that I did the (hard and long) process of obtaining the degree and succeeded. And hopefully along the way the process has shaped me into a better person, be it professionally or personally.

***

Anyway, today I am going to Copenhagen for, coincidentally, the PhD defense of a good friend of mine! Yeah, exactly a year after mine, my friend is going to get hers! It is quite funny how things unravel at times…

One year ago in Delft.

BAHASA INDONESIA

Tepat hari ini tahun lalu, resmi aku mendapatkan gelar PhD (S3)-ku dan semenjak itu aku berhak menggunakan titel “Doktor” di depan namaku, haha 😛 .

Doctor Evil. Sumber: https://9gag.com/tag/evil

Nah bagaimana nih setahun ini berkaitan dengan gelar ini? Ya sejujurnya sih, sama aja sih seperti sebelum kelulusanku dimana gelar ini tidak banyak “dipakai”, haha. Maksudku, di Belanda kan kehidupan itu (termasuk kehidupan di kantor) kasual ya dimana bahkan panggilan “Bapak” atau “Ibu” atau semacamnya itu tidak pernah digunakan, apalagi gelar akademik! Di kantor kami saling memanggil satu sama lain dengan nama depan loh, bahkan termasuk ketika aku memanggil CEO kantorku 🙂 . Situasi di universitas juga seperti ini. Aku memanggil kepala grup risetku, yang mana seorang profesor, dengan nama depan saja tanpa embel-embel titel “Profesor”-nya.

Tetapi gelar akademik itu kan lebih dari sekedar titel untuk ditempelkan ke nama kan ya. Yang “di dalam” lah yang jauh lebih penting. Untukku pribadi, aku merasa titel ini memberikanku rasa pencapaian, yang mana membangkitkan rasa percaya diri. Aku bisa kan bilang bahwa aku sudah melakukan dan melalui proses (berat dan panjang) untuk mendapatkan gelarnya dan berhasil. Dan mudah-mudahan proses itu telah membentukku menjadi pribadi yang lebih baik, baik itu secara profesional maupun secara personal.

***

Anyway, hari ini aku pergi ke Copenhagen untuk, kebetulan banget, sidang PhDnya seorang teman baikku! Iya lho, tepat satu tahun setelah sidangku, temanku akan mendapatkan gelar PhDnya! Terkadang kebetulan itu lucu banget ya…

#2052 – The Last Week Before A Vacation

ENGLISH

I started writing the draft of this post just two days before the start of my November 2017 trip to Indonesia. While it was not a “eureka” moment whatsoever, the context was very relevant at the time which made me want to write it down 😛 .

To me, the moment just before the start of a big trip or vacation is one of the worst! Well, as in it feels like there are so many things going on that need to be taken care of while in reality, there might actually not be. It is true, though, that to me there are a few separate factors occupying my mind at such time and they are conditionally forced to interact with each other. I hypothesize this interaction is what causes that feeling!

First of all, there are of course work stuffs. Having a big vacation coming up actually can be seen as an extra deadline; but not imposed by a project or my superior or anything, but by myself, haha. To me, whenever possible I always want to start a vacation or a trip on a clear state of mind, without any work-related “luggage” carried on. This, however, means that I feel the strong urge to finish my current tasks before I go and this can certainly be quite stressful.

Separate from that, there is of course the excitement. I mean, who wouldn’t feel excited just before a big trip? Daydreaming forward on the nice coming trip makes the present somehow feels a little bit more miserable. And for this trip to Indonesia, the Dutch Fall weather certainly did not help at all.

On the other hand, there is also the important preparation, like packing and preparing all the documents and stuffs (making sure to have my flight tickets and hotel reservations ready, for instance). And then of course the lingering sneaky thought of “Am I forgetting something?“.

All in all, this results in me facing myself and my mind to multitask. On top of that, as I said, these factors do not stand by themselves as they interact with each other. And so this time can certainly be quite stressful! Haha 😛 . I noticed myself that week where I appeared to be uncharacteristically “rushing” a little bit more and less calm than usual.

But of course given the amount of my experience with travelling, that was not my first experience handling such situation. I have learned that since weeks before the trip, I would need to start the anticipation. For my work, I started to arrange my schedule accordingly, and told my colleagues and stakeholders in advance about my plan. This helped in making the “size” of the deadline to be more manageable. For the preparation, I started packing my suitcase since a few days before the trip. So no last minute packing! Haha 😛 . And I made a list on what I would need to bring. For the excitement, unfortunately, there was nothing that I could do, haha…

But well, eventually this all leads to the trip itself where the moment the trip begins is, on the other hand, one of the best!

BAHASA INDONESIA

Aku mulai menulis draft posting ini sekitar dua hari sebelum perjalanan bulan November 2017ku ke Indonesia dimulai. Walaupun waktu itu topik ini bukanlah momen “eureka”, konteksnya amat relevan sehingga aku merasa aku perlu menuliskannya 😛 .

Untukku, momen sebelum sebuah perjalanan atau liburan besar dimulai adalah salah satu yang terburuk! Yah, rasanya ada banyak banget gitu yang berlangsung pada waktu yang bersamaan yang perlu diurus, padahal sebenarnya kenyataannya mungkin tidak sebanyak itu, haha. Namun, benar bahwa ada beberapa hal terpisah yang mengisi pikiranku di waktu-waktu ini dan situasi memaksa mereka untuk berinteraksi satu sama lain. Hipotesaku adalah interaksi ini lah yang menimbulkan perasaan terburuk itu!

Pertama-tama, tentu saja ada urusan kerjaan ya. Adanya sebuah liburan besar yang akan tiba sebenarnya juga berarti sebuah tenggat waktu (deadline) ekstra; yang bukan datang dari sebuah proyek atau dari atasan, tetapi dari diriku sendiri, haha. Untukku, selama memungkinkan aku ingin berangkat dalam sebuah liburan dengan pikiran yang tenang, tanpa “embel-embel” urusan pekerjaan yang ikut terbawa. Ini, tapinya, berarti aku juga jadi merasakan keinginan kuat untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaanku waktu itu sebelum pergi dan tentu ini terasa cukup stressful.

Lepas dari itu, tentu saja ada perasaan excitement. Maksudku, siapa juga yang nggak merasa excited sebelum berangkat liburan ya? Masalahnya, memikirkan ke depan mengenai perjalanan yang akan segera datang dan mengasyikkan itu justru membuat saat ini terasa lebih menyedihkan. Dan untuk perjalanan ke Indonesia kemarin ini, cuaca musim gugur di Belanda jelas sama sekali tidak membantu.

Di sisi lain, ada juga persiapan yang tentu juga penting, seperti misalnya mulai packing dan menyiapkan segala dokumen dan tetek-bengek lainnya (memastikan semua tiket pesawat, reservasi penginapan, dll siap, misalnya). Dan tentu saja pikiran menyebalkan “Eh, aku kelupaan apa ya?” itu.

Jadi, ini berakibat pada diriku dan pikiranku yang tiba-tiba, mau tidak mau, mesti multitasking. Di samping itu, seperti yang kubilang faktor-faktor tersebut tidak berdiri sendiri dan mereka justru berinteraksi satu sama lain. Dan jadilah sebagai akibatnya ini bisa terasa agak stressful! Haha 😛 . Aku perhatikan diriku minggu itu dimana rasanya, tidak biasanya, aku cenderung agak lebih “terburu-buru” dan kurang kalem dibandingkan biasanya.

Tetapi tentu saja dong dengan pengalamanku jalan-jalan, ini bukan lah kali pertama aku menghadapi situasi ini. Aku sudah tahu bahwa semenjak sekian minggu sebelum liburan, aku sudah harus memulai antisipasi. Untuk kerjaan, aku mulai mengatur jadwalku sedemikian rupa, dan juga memberi-tahu kolega dan stakeholders-ku jauh-jauh hari mengenai rencanaku. Ini membantuku untuk membuat “ukuran” dari tenggat-waktunya untuk lebih masuk akal untuk ditaklukkan. Untuk masalah persiapan, aku mulai packing semenjak sekian hari sebelum perjalanan. Jadi nggak ada deh ceritanya last minute packing! Haha 😛  Dan aku juga membuat daftar mengenai apa saja yang mesti kubawa. Untuk excitement, sayangnya tidak ada yang bisa kulakukan untuknya, haha…

Ah, tetapi toh pada akhirnya aku akan tiba juga di waktu keberangkatan yang mana merupakan satu waktu yang terbaik!

#2051 – OITNB and Friends

ENGLISH

Orange Is The New Black (OITNB)

A few months ago I finished remarathoning Star Trek: Voyager. And so I flicked through my Netflix and decided to start watching Orange Is The New Black.

And as it turned out this was a great show! The show started by following Piper Chapman who voluntarily surrendered to the Litchfield Penitentiary, a minimum security women’s federal prison. And the story developed from there, including exploring the lives of many of the characters she met in the prison (not only the inmates, but also some of the guards). Though, some aspect of the show could be “too vulgar” for some audience, overall I felt like this show was really well written and well executed! The drama, the politics, the acting, etc were great!

Anyway, following OITNB right after Star Trek: Voyager was quite a funny experience because Kate Mulgrew was one of the main casts in both shows! She played Captain Kathryn Janeway in Voyager and Galina “Red” Reznikov in OITNB. And so when I started OITNB I found it funny that (old) Kathryn Janeway somehow became an inmate in a New York prison, haha 😛

Friends

Speaking of Netflix, last year I mentioned how I was disappointed that I did not have Friends and The Big Bang Theory in my Dutch Netflix. And as it turned out, as per this year, I have had Friends! Yay!! 😀

Though, I still wish at some point I would have The Big Bang Theory, though; because I have been missing the last a few seasons!

Friends in Netflix!

BAHASA INDONESIA

Orange Is The New Black (OITNB)

Beberapa bulan yang lalu, aku selesai menonton ulang Star Trek: Voyager. Dan jadilah aku membuka-buka apa yang tersedia di Netflix dan aku memutuskan untuk mulai menonton Orange Is The New Black.

Dan ternyata ini adalah acara yang bagus lho! Serialnya dimulai dengan mengikuti Piper Chapman yang menyerahkan-diri secara sukarela ke Litchfield Penitentiary, penjara federal wanita dengan sekuriti minimum. Dan ceritanya berkembang dari sana, termasuk dengan mengeksplorasi kehidupan dari karakter-karakter lain yang ia temui di penjara (nggak hanya sesama tahanan, tetapi juga beberapa penjaganya). Walaupun beberapa aspek dari serial ini mungkin “terlalu vulgar” bagi sebagian orang, secara keseluruhan aku merasa acara ini ditulis dan dieksekusi dengan baik! Drama, politik, dan aktingnya bagus-bagus!

Anyway, mengikuti OITNB tepat setelah Star Trek: Voyager adalah pengalaman yang cukup lucu karena Kate Mulgrew berperan sebagai salah satu tokoh utama di kedua serial ini! Ia memainkan Kapten Kathryn Janeway di Voyager dan Galina “Red” Reznikov di OITNB. Dan ketika aku baru saja mulai menonton OITNB, aku merasa lucu kok Kathryn Janeway (yang sudah tua) sekarang menjadi seorang tahanan di sebuah penjara di New York, haha 😛

Friends

Ngmongin Netflix, tahun lalu aku sebutkan bagaimana aku merasa kecewa karena tidak menemukan Friends dan The Big Bang Theory di Netflix Belandaku. Ternyata, per tahun ini, akhirnya aku memiliki Friends juga lho! Hore!! 😀

Eh tetapi aku masih berharap suatu saat nanti ada The Big Bang Theory sih; soalnya aku masih belum menonton beberapa musim terakhirnya nih!

Friends di Netflix!