Asia Trip · Long Trip · Southeast Asia · Vacation

#1859 – Back in the Netherlands

ENGLISH

Two weeks went by really fast. Now, I am already back in the Netherlands; back in the winter after tasting two weeks of (eternal) summer in Indonesia, despite the raining season there, haha 😆 .

This time, my routing to go back to the Netherlands was as interesting as my departure, with only slight difference. Here it is:

My routing this time to go back to Amsterdam. Created with gcmap.com
My routing this time to go back to Amsterdam. Created with gcmap.com

Yep, I was flying Yogyakarta – Bali – Shanghai PVG – Paris CDG – Amsterdam on four different airlines: Garuda Indonesia, China Eastern, Air France, and KLM. Haha 😆

Garuda Indonesia's Boeing 737-800 reg PK-GMO
My first flight of 2017 was with Garuda Indonesia

Choosing to transit in Paris CDG instead of Rome FCO made this routing about 800 km shorter than the departure actually. But in the grand scheme of thing, it made little to no difference as I felt tired with both! Tired but happy, though. Well, especially that I got upgraded to Europe business class on the Paris CDG – Amsterdam sector!! 😍

Dinner service on board KLM's Europe business class
Upgraded to KLM’s Europe business class!!

I arrived at Schiphol on Saturday evening. However, I did not immediately go back to Delft because I had one of my best friends visiting. He just finished his study in Scotland and was on his way to go back for good to Indonesia, so he made a one night stop in Amsterdam.

Rijksmuseum, Amsterdam
Amsterdam for the weekend

So I stayed in Amsterdam that evening; and basically spent most of my weekend there, haha. And now I am (finally) back in Delft and Amsterdam (for work). Damn, back to reality! 😣 .

Anyway, yeah, that is all for now! 🙂

BAHASA INDONESIA

Dua minggu berlalu sungguh cepat. Sekarang ini, aku sudah kembali lagi di Belanda; kembali di musim dingin setelah merasakan dua minggu musim panas (abadi) di Indonesia, walaupun lagi musim hujan juga sih di sana, haha 😆 .

Kali ini, ruteku untuk kembali ke Belanda sama menariknya seperti rute keberangaktanku, hanya dengan sedikit perbedaan saja. Berikut ini rutenya:

My routing this time to go back to Amsterdam. Created with gcmap.com
Ruteku kali ini untuk kembali ke Amsterdam. Dibuat dengan gcmap.com

Yep, aku menerbangi Yogyakarta – Bali – Shanghai PVG – Paris CDG – Amsterdam dengan empat maskapai yang berbeda: Garuda Indonesia, China Eastern, Air France, dan KLM. Huahaha 😆

Garuda Indonesia's Boeing 737-800 reg PK-GMO
Penerbangan pertamaku di tahun 2017 adalah dengan Garuda Indonesia

Memilih untuk transit di Paris CDG bukannya di Roma FCO membuat rute ini sekitar 800 km lebih singkat daripada rute keberangkatanku sebenarnya. Tetapi di big picture-nya sih, perbedaannya tidak begitu signifikan karena toh di keduanya aku juga merasa capek! Eh, capek tapi senang ding. Terutama juga karena aku di-upgrade ke kelas bisnis Eropa di penerbangan Paris CDG – Amsterdamnya!! 😍

Dinner service on board KLM's Europe business class
Di-upgrade ke kelas bisnis Eropanya KLM!!

Aku tiba di Schiphol di hari Sabtu malam. Namun, aku tidak langsung kembali ke Delft karena kebetulan salah satu teman baikku sedang berkunjung. Ia baru saja menyelesaikan studinya di Skotlandia dan sedang dalam perjalanan balik (for good) ke Indonesia, jadilah dia sekalian mampir di Amsterdam.

Rijksmuseum, Amsterdam
Akhir pekan di Amsterdam

Jadilah aku menginal di Amsterdam malam itu; dan pada dasarnya akhir pekan ini aku habiskan di sana sih, haha. Barulah sekarang (akhirnya) aku kembali di Delft dan Amsterdam (untuk kerjaan maksudnya). Ah, kembali ke dunia nyata nih!  😣 .

Anyway, yah, segini dulu deh untuk sekarang! 😀

Advertisements
Asia Trip · Indonesia Trip · Long Trip · Southeast Asia · Vacation

#1848 – 2016 Year End Trip (The Destination)

ENGLISH

Every year since I moved to the Netherlands, with the exception of 2011, I always went on a trip at the end of the year: 2010 (Italy), 2012 (France and Italy), 2013 (England), 2014 (India), and 2015 (USA and Mexico).

I did not want to break the streak this year; so earlier this year I started thinking about what my options were. At first, the seemingly best candidate was to go to USA again. However, if in 2015 I went to the East Coast (Boston and New York), this time it was the West Coast, more specifically California (Los Angeles and San Francisco; and maybe a few other destinations nearby). I seriously considered this option.

However, at the time I kept failing in finding a good deal return ticket to either LAX or SFO; mainly because I was very constraint with time (due to my new job 😛 ). This went on for months in which I started to also get a more clear picture of my general (travelling) plan for 2017. As a result, another destination candidate started to look better and more optimal while California started to look less and less.

The turning point was that in July I found a return ticket with very interesting flights routing and affordable price to this other destination. So in the end, I decided to drop California this year, and instead I am going to:

Indonesia

Hahaha 😆 .

You know, I could not go to Indonesia this summer because I had to make use of all my remaining contract period at TU Delft to finish my PhD dissertation. Nonetheless, this allowed me to go there for Christmas and New Year this year, which means it will be the first time since 2009 I will be in Indonesia for this occassion 🙂 .

Speaking of the interesting routing this year, here is my routings to Yogyakarta, Indonesia in 2013, 2014, and 2015.

My previous routings. Created with gcmap.com
My previous routings. Created with gcmap.com

In 2013 I flew with Emirates to Singapore via Dubai (to catch their Airbus A380 flights) and continued with Indonesia AirAsia’s Singapore – Yogyakarta flight. In 2014 and 2015 I took the quickest possible flights between Amsterdam and Yogyakarta, with Garuda Indonesia via Jakarta.

This time, here is my routing:

My routing this year. Created with gcmap.com
My routing this year. Created with gcmap.com

Huahaha 😆 .

Yes, to go to Yogyakarta, I am flying via Rome, Shanghai PVG, and Bali 😛 . As a comparison, with Garuda Indonesia the total one way distance is 7,448 miles (11,809 km) while with this routing, it is 9,624 miles (15,488 km).

This routing will be operated with three different airlines, two of them are new to me (You see, another factor which makes this even more interesting!): Alitalia, China Eastern Airlines, and NAM Air. To be honest I do not put too much of an expectation on my China Eastern legs of this trip, as I have read mixed reviews about them, haha. But we will see!

A China Eastern's Airbus A330-200
A China Eastern’s Airbus A330-200 I spotted at Frankfurt Airport this summer. I will fly the same type.

To go back to the Netherlands, I will take a slightly different route and airlines. It will be Yogyakarta – Bali – Shanghai  PVG – Paris CDG – Amsterdam; and operated by four different airlines: Garuda Indonesia, China Eastern Airlines, Air France, and KLM. This will be slightly shorter than the departure routing, at 9,127 miles (14,688 km).

***

Anyway, unlike in 2013, 2014, and 2015 where I could spend one month, each, in Indonesia (or around), I do not have that privilege this time. I no longer work in a university so I do not have as many holiday allowances as before, haha 😆 . Well, technically I could this time, but I would not have enough allowance left for next year, which I do not want to happen 😛 . So this time I will only spend about less than two weeks there 🙂 .

I cannot wait already!! 😀

BAHASA INDONESIA

Setiap tahun semenjak aku pindah ke Belanda, kecuali tahun 2011, aku selalu pergi dalam sebuah perjalanan di akhir tahun: 2010 (Italia), 2012 (Prancis dan Italia), 2013 (Inggris), 2014 (India), dan 2015 (Amerika dan Meksiko).

Tahun ini aku tidak ingin mematahkan tradisi ini; jadilah semenjak awal tahun ini aku mulai mempertimbangkan pilihan-pilihanku. Awalnya, yang nampak sebagai kandidat terbaik adalah pergi ke Amerika lagi. Namun, jika di tahun 2015 aku pergi ke sisi Pantai Timur (Boston dan New York), kali ini aku mau pergi ke Pantai Barat, lebih tepatnya California (Los Angeles dan San Francisco; dan mungkin beberapa tempat di sekitarnya). Aku sungguh mempertimbangkan pilihan ini.

Masalahnya, waktu itu aku gagal terus dalam mencari tiket-tiket pp yang oke ke LAX atau SFO; terutama karena aku sungguh terikat oleh waktu (karena pekerjaan baruku 😛 ). Ini berlangsung berbulan-bulan dimana aku juga mulai mendapatkan bayangan yang lebih jelas akan rencana (jalan-jalan)-ku secara umum untuk tahun 2017. Sebagai akibatnya, sebuah destinasi lain mulai nampak sebagai kandidat yang lebih baik dan optimal sementara California nampak semakin kurang menarik.

Titik baliknya adalah di bulan Juli dimana aku menemukan tiket pp dengan rute yang amat menarik dengan harga tiket yang oke ke sebuah destinasi lain ini. Jadilah pada akhirnya, aku resmi membatalkan niatku pergi ke California tahun ini, dan aku akan pergi ke:

Indonesia

Hahaha 😆 .

Tahu kan, aku tidak bisa pergi ke Indonesia di musim panas ini karena aku harus menggunakan keseluruhan sisa masa kontrakku di TU Delft untuk menyelesaikan disertasi S3-ku. Toh walaupun begitu, ini justru membuatku bisa pergi ke sana di masa-masa Natal dan Tahun Baru kali ini, yang mana artinya untuk pertama kalinya semenjak tahun 2009, aku akan berada di Indonesia untuknya 🙂 .

Ngomongin rute yang menarik tahun ini, berikut ini rute-ruteku yang lalu untuk pergi ke Yogyakarta di tahun 2013, 2014, dan 2015.

My previous routings. Created with gcmap.com
Rute-ruteku sebelumnya. Dibuat dengan gcmap.com

Di tahun 2013 aku terbang dengan Emirates ke Singapura via Dubai (untuk nyobain Airbus A380nya mereka) dan dilanjutkan dengan penerbangan Singapura – Yogyakartanya Indonesia AirAsia. Di tahun 2014 dan 2015 aku menaiki rute penerbangan paling singkat yang mungkin dari Amsterdam ke Yogyakarta, yaitu dengan Garuda Indonesia via Jakarta.

Nah, untuk yang kali ini, berikut ini ruteku nanti:

My routing this year. Created with gcmap.com
Ruteku tahun ini. Dibuat dengan gcmap.com

Huahaha 😆 .

Iyaa, untuk pergi ke Yogyakarta, aku transit di Roma, Shanghai PVG, dan Bali 😛 . Sebagai perbandingan, dengan Garuda Indonesia total jarak satu arahnya adalah 7.448 mil (11.809 km) sementara dengan rute ini, totalnya adalah 9.624 mil (15.488 km).

Rute ini akan dioperasikan oleh tiga maskapai yang berbeda, dua di antaranya baru untukku (Nah kan, satu faktor lagi yang membuat rute ini semakin menarik buatku!): Alitalia, China Eastern Airlines, dan NAM Air. Sejujurnya sih aku sekarang tidak berekspektasi tinggi-tinggi amat dengan China Eastern di penerbangan ini karena dari review-review yang kubaca, semuanya cenderung mixed dalam hal layanan, haha. Tapi kita lihat saja deh ya!

A China Eastern's Airbus A330-200
Sebuah Airbus A330-200nya China Eastern di Bandara Frankfurt musim panas ini. Aku akan terbang dengan pesawat bertipe sama.

Untuk kembali ke Belanda, rute dan maskapai yang akan kunaiki sedikit berbeda. Rutenya adalah Yogyakarta – Bali – Shanghai PVG – Paris CDG – Amsterdam; dan akan dioperasikan oleh empat maskapai yang berbeda: Garuda Indonesia, China Eastern Airlines, Air France, dan KLM. Rute ini sedikit lebih pendek daripada rute keberangkatannya, yaitu sejauh 9.127 mil (14.688 km).

***

Anyway, tidak seperti di tahun 2013, 2014, dan 2015 dimana aku bisa menghabiskan satu bulan, per perjalanan, di Indonesia (atau sekitarnya), kali ini aku tidak memiliki kemewahan itu. Aku tidak lagi bekerja di universitas sehingga jatah cutiku lebih terbatas, haha 😆 . Eh, sebenarnya bisa-bisa aja sih kalau mau, hanya saja akibatnya sisa jatah cutiku untuk tahun depan tidak akan banyak, yang mana jelas aku nggak mau dong ya 😛 . Jadilah kali ini aku akan berada di sana selama kurang dari dua minggu saja 🙂 .

Ah, sudah nggak sabar nih!! 😀

Asia Trip · Long Trip · Vacation

#1594 – One Month South East Asia Trip

ENGLISH

Just like last year, I am also taking a one month holiday this summer, huahaha 😆 . Of course this is possible thanks to my 50 working days holiday allowance that I have this year 😛 . And just like last year and the year before (when I also took a one month holiday), Indonesia is involved in this trip.

However, unlike last year where I stayed the whole time in Indonesia (and went on a ten day trip to Eastern Indonesia), this time I will go to some neighboring countries around Indonesia with some of my good old friends 🙂 . These countries are pretty much mainstream destinations for Indonesian travelers/tourists/visitors to visit though (thanks to the affordable flight tickets 😛 ) so they won’t be that surprising for you: Malaysia and Singapore, haha 🙂 . Actually I did propose Vietnam to my friends but we couldn’t find cheapish ticket to go there. Anyway, as usual, I will not get to the details of this trip just yet, so stay tuned 😉 .

To go to Indonesia (and back), I decided to make the same plan as last year: I am flying Garuda Indonesia because I will need just one transfer to go to/from Amsterdam from/to Yogyakarta, in Jakarta. And Garuda Indonesia is part of SkyTeam too so I can collect some frequent flyer miles as well. But then of course I bought the ticket before Garuda decided to readjust their Jakarta – Amsterdam – London service, haha. It turns out my return flight to Amsterdam will be one that gets readjusted with an extra stopover in Singapore. So on my way back, I will have to stop twice between Yogyakarta and Amsterdam. Well, not that I am complaining about this of course, as this means more time spent on flying! Haha 😆

Anyway, so I can’t wait already!!

Btw, this trip is not one of the two big trips I was talking with my friends here last May 😉 . Yes, indeed aside from my planned year-end trip to the States (and a mystery destination), I have another big trip planned in my agenda this year 😉 . And yes, I am travelling hell a lot this year 🙂 .

Garuda Indonesia's Boeing 777-300ER reg PK-GIA at Schiphol Airport
Will I get PK-GIA again this year? I hope not (and not PK-GIC, PK-GID, or PK-GIE as well 😛 )

BAHASA INDONESIA

Seperti tahun lalu, musim panas ini aku juga mengambil cuti selama sebulan loh, huahaha 😆 . Tentu saja ini bisa kulakukan berkat jatah cutiku yang sebanyak 50 hari kerja tahun ini 😛 . Dan seperti setahun yang lalu dan setahun sebelumnya (yang mana aku juga cuti sebulan), Indonesia terlibat pula dalam liburan kali ini.

Namun, tidak seperti tahun lalu dimana aku hanya di Indonesia aja selama sebulan itu (dan jalan-jalan sepuluh hari ke Indonesia Timur), kali ini aku akan pergi ke dua negara tetangga juga bersama dengan teman-teman lama baikku 🙂 . Kedua negara ini adalah tujuan yang mainstream sih bagi traveler/turis/pengunjung dari Indonesia (berkat tiket pesawat murah 😛 ) jadi nggak akan mengejutkan banget lah: Malaysia dan Singapura, haha 🙂 . Sebenarnya aku sempat mengusulkan untuk pergi ke Vietnam sih tetapi kami nggak menemukan tiket yang murah untuk kesana. Anyway, seperti biasa, aku masih belum akan menceritakan detail rencana perjalanan ini, jadi ditunggu aja 😉 .

Untuk pergi ke Indonesia (dan kembali), aku memutuskan untuk menggunakan rencana yang sama seperti tahun lalu: aku akan terbang dengan Garuda Indonesia karena aku hanya perlu satu transit aja untuk pergi dari/ke Amsterdam ke/dari Yogyakarta, di Jakarta. Dan Garuda Indonesia jugalah anggota dari SkyTeam sehingga aku bisa mengumpulkan frequent flyer miles sekalian dong ya. Tetapi tentu aku membeli tiket ini jauh sebelum Garuda memutuskan untuk menyesuaikan rute Jakarta – Amsterdam – London mereka, haha. Ternyata penerbanganku kembali ke Amsterdam adalah penerbangan yang disesuaikan dengan satu pemberhentian ekstra di Singapura. Jadi nanti pulangnya aku harus transit dua kali deh di antara Yogyakarta dan Amsterdam. Yaaaa, nggak masalah juga sih ya tentu saja, karena ini artinya kan aku bakal terbang lebih lama! Haha 😆

Anyway, sudah nggak sabar nih!!

Btw, perjalanan ini bukanlah satu dari dua rencana perjalanan besar yang aku bicarakan dengan teman-temanku disini Mei lalu 😉 . Ya, memang di samping rencana perjalanan akhir tahunku ke Amerika (dan sebuah destinasi misteri) nanti, aku sudah merencanakan sebuah perjalanan besar lainnya di agendaku tahun ini 😉 . Dan iya, memang aku banyak banget jalan-jalannya tahun ini 🙂 .

Asia Trip · East Asia · Long Trip · Vacation

#1543 – 2015 Spring Trip (Part I: Tokyo (1))

ENGLISH

Previous post on the 2015 Spring Trip to Japan series:
1. Getting to Japan

Previously on 2015 Spring Trip: Zilko went to Japan for a conference where he would later extend his stay in Japan for a trip after the conference. After flying for 15 hours (including a transit time in Paris) from Schiphol, he finally arrived in Tokyo.

Because I stayed in Tokyo and the surrounding for twelve days, I split the story from Tokyo into three different posts with this post being the first where I focus on the first week, the week of the conference.

***

The Conference

The main reason this trip happened in the first place was this conference. So obviously this conference was an integral part of this trip which was basically the theme of the entire first week of my stay in Japan (and Tokyo).

I was very happy when I got the final scheduling of the conference a few weeks before the trip started. It turned out my presentation was assigned on the first day AND actually in the first session! To me, this was the best that could happen in a conference because (1) the pressure would go immediately just after the conference started so I would not need to bear with it for the rest of the conference and could just enjoy my time there ( 😆 ) and (2) usually people were fresh and well-aware when the conference just started (as opposed to the end of the conference where most people would have been tired) so I could get good feedbacks for my work. So I was very excited.

Presenting my work, obviously I was wearing my suit
Presenting my work, obviously I was wearing my suit

My presentation went well where I received good comment from the attendees and a few colleagues; and some people were curious in knowing my research further than what I presented in 15 minutes (there was just so much of 2+ year of work which I could present in 15 minutes obviously). So I was very happy and satisfied.

The conference itself was a very good conference for me because I found many interesting presentations which stimulated my curiosity or were quite related to my theoretical/mathematical research. “Many” because the number was more than I expected. So it was actually a very nice surprise for me.

The food the conference provided, however, was sub-par. The lunch was just a bento box and even on the last day it was only two boxes of sandwich. The conference dinner, however, was much better; obviously not as good as the one I had in London in 2013 (hell it would be extremely difficult to beat that one IMO) but it was still good. It was in a five star hotel nearby with a buffet of Japanese food. And what I especially liked from the dinner was that it was a standing party so there was a lot of opportunity to talk to many different people which was equal to more networking opportunity, which was indeed one important aspect of attending a conference 😉 .

My first ever sushi I had in Japan
My first ever sushi I had in Japan

Btw, being held in Japan, the conference also organized a tour to a secret place in Tokyo. It was a “secret” place because by expressing my interest in joining the tour, I had to sign a form where I would not take pictures or videos, write, or share anything about it, haha 😆 . Even on the day of the tour itself, they kept reminding us about it. Even they specified further that we could not: blog about it (this was actually the first thing they said, lol 😆 ); posted about it in Twitter, Instagram (well if we were not allowed to take any pictures how could we post in Instagram anyway), or any other social media platfors; checked-in in Facebook, etc. Yes, they were even secretive of the location of this secret place! Haha 😆 .

So, being regulated by the form which I signed, I can not mention anything about this secret place here.

Chiba

A Japanese road
A street in Chiba

The venue of the conference made it more convenient for me to stay in Chiba, a city to the south east of Tokyo (but because Tokyo was SO big, to me basically it looked like Chiba was already a part of Tokyo, haha 😆 ). So in my spare time I explored the city as well.

I found Chiba, well, quiet especially compared to the bustling Tokyo. In the morning and afternoon during rush hour it was quite crowded with people commuting btw. So I assumed a lot of people lived in Chiba and worked in Tokyo.

But Chiba has this super cool suspended monorail!!
But Chiba has this super cool suspended monorail!!

I visited a few places of interest in Chiba, namely the Chiba Castle and the Chiba Port Tower. At first I could not find the entrance to the tower so I thought the tower was closed. But then it turned out that the entrance was in the basement of the building. And the tower was interesting too in the sense that the sole purpose of the tower was the observation floors at the top of the tower. There was nothing in the “body” of the tower as I could see from the elevator.

The Chiba Castle in Chiba
The Chiba Castle in Chiba

The Food

To get to/from Chiba station from/to my hotel, I had to pass a shopping centre with a complete selection of restaurants. So obviously during my one week stay there, I tried a lot of these restaurants, haha 😆 . My first dinner in Japan, however, was not inside this shopping centre but just outside the railway station.

I tried quite a lot of varieties of Japanese food there in my first week, like udon, tempura, bento box, ramen, and some other Japanese food which I did not know the name, haha 😆 . And they were all delicious!!

Ichiran ramen in Chiba
Ichiran ramen in Chiba

Btw, I also tried the Japanese KFC there. And to me I did not really like it because there was no crispy chicken, haha 😆 .

TO BE CONTINUED…

Next on 2015 Spring Trip:
– More of Tokyo
– Mount Fuji
– Hokkaido
– Kansai

BAHASA INDONESIA

Posting sebelumnya dalam seri 2015 Spring Trip to Japan:
1. Getting to Japan

Sebelumnya dalam 2015 Spring Trip: Zilko pergi ke Jepang dalam rangka sebuah konferensi dimana nantinya ia akan extend masa tinggalnya di Jepang setelah konferensinya berakhir. Setelah terbang 15 jam (termasuk transit di Paris) dari Schiphol, ia akhirnya tiba juga di Tokyo.

Karena aku tinggal di Tokyo dan sekitarnya selama dua belas hari, aku membagi cerita dari Tokyo ini ke tiga posting yang berbeda dengan posting ini adalah posting pertama dimana aku fokus di minggu pertama, minggu konferensinya.

***

Konferensi

Alasan utama perjalanan ini bisa terwujud kan konferensi ini ya. Jadi jelas konferensi ini adalah bagian penting dari agendaku selama di Jepang dimana keseluruhan minggu pertamaku di Jepang (dan Tokyo) ya adalah tentang konferensi ini.

Aku amat senang ketika aku mendapatkan jadwal dari konferensi ini beberapa minggu sebelum berangkat. Jadi presentasiku diagendakan di hari pertama DAN di sesi yang pertama dong! Untukku, ini adalah skenario yang terbaik deh untuk sebuah konferensi karena (1) pressure-nya akan langsung berlalu dong ya begitu konferensinya dimulai sehingga di sisa konferensinya aku tidak harus pusing memikirkannya dan aku bisa lebih menikmati waktuku disana ( 😆 ) dan (2) biasanya peserta konferensi itu lebih segar dan sadar ketika konferensinya baru dimulai (apalagi jika dibandingkan di akhir konferensi dimana kebanyakan orang sudah pada merasa capek) sehingga aku bisa mendapatkan masukan dan umpan balik yang baik tentang risetku. Jadi aku merasa senang deh dengan penjadwalan ini.

Presenting my work, obviously I was wearing my suit
Mempresentasikan pekerjaanku, dan jelas aku memakai jas dong ya

Presentasiku berlangsung lancar dimana aku mendapatkan beberapa komentar yang baik dari para penonton dan beberapa kolegaku; dan juga beberapa orang ada yang penasaran untuk mengetahui risetku lebih mendalam daripada apa yang aku presentasikan selama 15 menit disana (jelas dong ya kalau hanya diberi waktu 15 menit untuk mempresentasikan pekerjaan yang sudah menyibukkanku selama 2 tahun lebih, banyaknya materi yang aku sampaikan juga harus menyesuaikan tentunya). Jadi aku merasa senang dan puas.

Konferensinya sendiri adalah konferensi yang bagus untukku karena aku menemukan ada banyak presentasi yang menarik yang merangsang rasa ingin tahuku dan juga beberapa yang cukup nyambung dengan riset teori/matematikaku. “Banyak” karena jumlahnya lebih daripada yang aku sangka. Jadilah ini adalah kejutan yang menyenangkan.

Hanya saja, makanan yang disediakan sayangnya di bawah rata-rata deh. Makan siangnya hanya berupa nasi kotak (baca: kotak bento, haha) saja. Bahkan di hari terakhir makan siangnya hanya dua kotak sandwich saja dong. Tetapi acara pesta makan malam konferensinya jauh lebih baik kok; yaa, jelas tidak sekeren yang aku hadiri di London tahun 2013 lah ya (yaaa, menurutku bakal susah banget lah untuk mengalahkan yang itu) tetapi masih oke juga kok. Acaranya diadakan di sebuah hotel bintang lima dengan menu makanannya buffet makanan Jepang. Dan yang aku suka dari acara makan malam ini adalah acara ini berupa standing party sehingga ada banyak sekali kesempatan untuk berbincang-bincang dengan banyak orang yang mana artinya ada lebih banyak kesempatan untuk networking dong ya, yang mana merupakan salah satu aspek penting dari sebuah konferensi 😉 .

My first ever sushi I had in Japan
Sushi pertama yang aku makan di Jepang

Btw, karena diadakan di Jepang, konferensinya juga mengadakan sebuah tur ke tempat rahasia di Tokyo loh. Tempatnya “rahasia” soalnya dengan mengatakan ingin ikutan turnya, aku harus menanda-tangani formulir dimana aku tidak akan mengambil foto atau video, menulis, atau menyebarkan informasi tentangnya, haha 😆 . Dan di hari turnya itu sendiri, kami diingatkan berkali-kali loh. Bahkan mereka menyebutkan dengan lebih detail lagi dimana kami tidak boleh: nge-blog tentangnya (serius ini yang pertama mereka sebut. Ih! 😆 ); menuliskannya di Twitter, Instagram (yaa, kalau nggak boleh mengambil foto ya otomatis nggak bisa posting di Instagram juga sih ya), atau bentuk media sosial lainnya; check-in di Facebook, dll. Yaa, pokoknya tempatnya benar-benar dirahasiakan banget dah! Haha 😆 .

Jadi, karena terikat oleh formulir yang aku tanda-tangani itu, aku tidak bisa menyebutkan apa-apa tentang tempat rahasia itu disini deh.

Chiba

A Japanese road
Sebuah jalan di Chiba

Lokasi venue konferensinya membuatku merasa lebih nyaman untuk menginap di Chiba, sebuah kota di tenggaranya Tokyo (tetapi karena Tokyo itu besar BANGET, jadi menurutku Chiba ini sudah menjadi salah satu bagiannya Tokyo deh, haha 😆 ). Jadi di waktu senggangku kotanya sekalian aku kelilingin aja dong ya.

Menurutku Chiba itu agak sepi apabila dibandingkan dengan Tokyo. Eh, kalau pagi dan sore gitu rame banget sih di saat-saat rush hour dengan semua orang yang sedang berangkat/pulang kerja. Jadi aku duga ada banyak orang yang tinggal di Chiba dan bekerja di Tokyo gitu sepertinya ya.

But Chiba has this super cool suspended monorail!!
Tetapi gitu-gitu Chiba memiliki monorel gantung (suspended) yang super keren kayak gini loh!!

Aku mengunjungi beberapa tempat menarik di Chiba, misalnya Kastil Chiba dan Chiba Port Tower. Eh, pertamanya aku tidak bisa menemukan pintu masuk ke menaranya sehingga aku kira menaranya lagi ditutup. Eh ternyata pintu masuknya ada di bawah tanahnya gitu deh, haha. Dan menaranya juga menarik karena satu-satunya fungsi dari menaranya hanyalah lantai observasi di puncaknya loh. Sama sekali tidak ada apa-apa di badan menaranya seperti yang terlihat di lift ketika naik/turun.

The Chiba Castle in Chiba
Kastil Chiba di Chiba

Makanannya

Untuk pergi ke/dari Stasiun Chiba dari/ke hotelku, aku harus melewati sebuah pusat perbelanjaan lengkap dengan banyak pilihan restoran di dalamnya. Jadi jelas dong selama seminggu aku disana, restoran-restorannya aku cobain, haha 😆 . Eh, tetapi makan malam pertamaku di Jepang bukan di pusat perbelanjaannya sih, tetapi di luar stasiun keretanya.

Aku mencoba lumayan banyak variasi makanan Jepang di minggu pertamaku itu, seperti udon, tempura, nasi bento, ramen, dan beberapa makanan Jepang lain yang aku nggak tahu namanya, haha 😆 . Dan semuanya enak-enak lho!!

Ichiran ramen in Chiba
Ramen Ichiran di Chiba

Btw, aku juga mencoba KFC-nya Jepang disana. Dan aku sih kurang suka ya karena tidak ada ayam yang crispy, haha 😆 .

BERSAMBUNG…

Selanjutnya dalam 2015 Spring Trip:
– Lebih banyak lagi tentang Tokyo
– Gunung Fuji
– Hokkaido
– Kansai

Asia Trip · East Asia · Long Trip · Vacation

#1533 – こんにちは、東京から*!!

ENGLISH

* The title is supposed to read: “Hello from Tokyo, Japan!!”

Hi guys, so as what the title is supposed to say ( 😆 ), at the moment I am already in Tokyo, Japan for my Spring trip this year! Yay!!

Just a few hours ago my Japan Airlines flight JL416 with a brand new (5 months old) Boeing 787-8 Dreamliner reg JA837J (I will, for sure, write a dedicated post for this flight, soon I hope! 😛 ) landed at Tokyo-Narita International Airport.

As I said, this trip takes place because I must attend a conference which will start this coming Monday for a week in Tokyo. And I will also have to give a presentation in this conference! So now I am staying at a hotel that is not so far away from the conference site (even though it is not that close also but all hotels close to the venue had all been booked by the time I was browsing! 😦 ).

I don’t know if I am having a jetlag. But hopefully not, or if I am (which may be likely because I was just flying eastward accross eight different time zones! The most number of time zones I have ever crossed in one flight btw), it is not that, bad, haha 😆 .

I am still feeling a little bit tired but here is a small story from my culinary adventure in Tokyo tonight for dinner. I almost stopped by at a KFC but then I thought it was so sad to go to KFC on my first evening in Tokyo, haha 😆 . So I decided to stop by at a random local Japanese small restaurant. And by Japanese, I mean really Japanese, as in the sense that the owners there (an elderly couple) did not speak any English and we had to order our meals and pay for it at a vending machine just outside the restaurant. Sounds cool, doesn’t it? Well, except that the vending machine looked like this:

A Japanese vending machine
A Japanese vending machine

Yes, it was in Japanese, there was no picture, and the only thing I understood from it was the price and the menu number! Lol 😆 . Because I was feeling wild (probably because of the exhaustion 😛 ) so I decided to just pick one menu randomly. Luckily it turned out to be a good one (pork with rice, egg, and sauce which tasted quite Indian! Haha 😛 ).

Anyway, that is all for now. I really need to rest now! 😀

Cheers,

BAHASA INDONESIA

* Itu seharusnya judulnya terbaca: “Halo dari Tokyo, Jepang!!”

Halo halo, jadi seperti yang seharusnya diceritakan oleh judul di atas (haha 😆 ), sekarang ini aku sedang berada di Tokyo, Jepang dalam rangka perjalanan musim semiku tahun ini! Hore!!

Jadi ceritanya beberapa jam yang lalu, penerbangan JL416 dengan Japan Airlines-ku yang dioperasikan dengan pesawat Boeing 787-8 Dreamliner yang super baru (berumur 5 bulan loh) dengan registrasi JA837J (Aku akan, jelas, menulis sebuah posting tentang penerbangan ini, mudah-mudahan segera! 😛 ) mendarat di Bandar Udara Internasional Tokyo-Narita.

Seperti yang sudah aku bilang, perjalanan ini adalah dalam rangka untuk sebuah konferensi yang akan dimulai hari Senin besok ini di Tokyo. Dan di konferensi ini aku juga harus memberikan sebuah presentasi gitu deh. Jadilah sekarang aku menginap di sebuah hotel yang nggak jauh-jauh amat dari lokasi konferensinya (walaupun nggak dekat juga sih soalnya semua hotel yang dekat-dekat sana sudah habis dong ketika aku browsing-browsing hotel! 😦 ).

Aku masih nggak tahu apakah aku sedang terkena jetlag atau engga. Mudah-mudahan sih engga ya, tetapi kalaupun iya (yang mana mungkin juga sih soalnya aku kan baru saja terbang ke arah timur melewati delapan zona waktu! Jumlah zona waktu terbanyak yang pernah aku lewati dalam sekali terbang btw), jetlag-nya nggak terlalu buruk lah, haha 😆 .

Rasanya masih capek banget nih sekarang. Tetapi berikut ini sebuah cerita singkat dari petualangan kulinerku di Tokyo malam ini. Eh, aku nyaris mampir di KFC loh untuk makan malam tetapi aku kemudian berpikir kok menyedihkan ya rasanya kalau di malam pertama di Tokyo kok makannya KFC, hahaha 😆 . Jadilah aku memutuskan untuk mampir di sebuah warung Jepang kecil random gitu deh. Dan warungnya memang Jepang banget lho dalam artian pemiliknya (suami-istri berusia paruh baya) tidak bisa berbahasa Inggris dan aku harus memesan dan membayar makananku di sebuah mesin otomatis (vending machine) di luar warungnya. Keren banget kan warungnya? Iya, kecuali bahwa vending machine-nya itu kayak gini dong penampakannya:

A Japanese vending machine
Sebuah vending machine di Jepang

Iya, semuanya ditulis dalam bahasa Jepang, nggak ada gambarnya, dan yang aku pahami cuma harga dan nomor menunya aja, hahaha 😆 . Tapi karena ceritanya aku sedang merasa liar dan gila (mungkin karena rasa capek 😛 ), aku memutuskan untuk memilih satu menu aja secara acak. Eh untungnya menu yang aku pilih lumayan juga (sebuah nasi babi dengan telur dan saus yang rasanya kayak saus ala India gitu! Haha 😛 ).

Yaa, segitu dulu deh untuk saat ini. Aku beneran perlu beristirahat deh ini sekarang 😀 .

Cheers,

Asia Trip · Long Trip · Travelling · Vacation

#1477 – 2014 Year End Trip (Destination Revealed)

ENGLISH

So, finally it is already the time now to put people out of their misery (if any, lol 😆 ) for not knowing yet the destination of my year-end trip that I have planned with my friends 😛 . It is finally the time now to reveal the destination!! Btw, this is because I have just got the visa that I need o go there! So the trip is pretty much confirmed, isn’t it? 😉 Btw, I am saving the story of the visa application process for another post 😀 .

Anyway, so, ladies and gentlemen, here is the destination of my year-end trip this year. Obviously it is a country where I, as an Indonesian, need a visa to visit (as of 2014). It is a country in the continental Asia. It is a country with a population of more than one billion people. Ok, so now we have narrowed down the options into only two countries, right? And the next clue is the done deal that will specifically tell which one of these two is the country that I am visiting. It is a country where I have never been to. So it cannot be China since I have been to China twice, in 2002/2003 and in 2010. Yes, it is: INDIA!! 😀

I am going to India! Source: http://brooshaaltimes.com/wp-content/uploads/2014/02/india.gif
I am going to India! Source: http://brooshaaltimes.com/wp-content/uploads/2014/02/india.gif

First, let me tell you the background story of this trip, which dated back to 2010.

***

The idea of going to India started to come to the surface during my 2010 year end trip to Italy. I was travelling with a group of friends at that time, and one of them was Indian. And at some point she was like “We should go to India some time, it will be fun“. And at that time we were like “Why not“, haha 😆 .

However, the super busyness of taking a Masters degree in TU Delft in addition to the only two years duration of a Master degree in the Netherlands prevented this talk from becoming any further than just being words. We did though, at one point, made a scratch plan; but it ended up remaining as just a plan. And finally, now, that it had been approximately more than two years since we finished our Master degree, we thought of why not making this talk that we had almost four years ago into a reality. We discussed about this plan since earlier this year. And in July, we checked KLM’s website, found a good deal, and booked the tickets right away.

There was a slight deviation from the original plan though. Two of our friends (who were a couple) who were originally also going with us to India and were super enthusiastic about the trip had to drop off because they were expecting a baby. Awwww. I feel sad that they could not come with us but at the same time I am also very happy for them! 🙂

Anyway, back to topic, so there will be the six of us going to India on this trip. And it will be quite an international group, as there is one Indonesian (me), one Indian, one Canadian, and three Dutch.

***

To me, I try not to have any expectation about this trip. You know, sometimes an expectation that is too high leads to disappointment. But specifically for India’s case; well, I have read many articles that India is the type of country where either you will love it or you will hate it. To me, without any other extra information, it is like saying there is a 50% chance that you will like it, and 50% chance that you won’t. Coupled with the theory about our own expectation about a destination above, to maximize the probability that I will like it, I decide to set no expectation at all, haha 😆 . Okay, it will be impossible to actually set “no” expectation at all, but what I am trying to say is that I am setting my expectation to the minimum.

Personally, one of the main reasons I say yes to this trip is that we are travelling with a group of friends, and one of us is actually Indian. Obviously she knows a lot about India so she knows what to do, how to deal with certain situations, where to go to and stay at, etc there. I think it would have been much more “difficult” to go to India, and a different story, had I travelled on my own. I feel like this is quite a unique opportunity that I should not miss; especially at my age, haha 😀 .

So, yeah, India, bring it on! 🙂

***

As we are spending three weeks in India, naturally we are also going to cover quite some destinations. We will spend ten days in South India, four days in Goa in the west, and one week in North India before coming back to Europe. I don’t feel like writing the exact details of the itinerary now, so I will just leave it like that. 🙂

And I have to say that this trip does look exciting, at least from the places that we are going to cover. On top of that, we are going to fly with several different Indian airlines, with several different airplane types too; so naturally I am excited. See, this is already some expectations that I have! 😛

BAHASA INDONESIA

Nah, akhirnya sekarang ini adalah saatnya untuk mengakhiri penderitaan mereka yang penasaran banget (ih, memang ada? *GR mode on*) ingin tahu tujuan dari perjalanan akhir tahunku yang sudah aku rencanakan dengan beberapa temanku 😛 . Ya, sekarang adalah saatnya untuk mengungkapkan tujuannya!! Btw, ini karena aku baru saja mendapatkan visa untuk kesana! Jadi sedikit banyak perjalanannya sudah terkonfirmasi dong ya? 😉 Btw, aku menyimpan cerita tentang aplikasi visanya untuk posting tersendiri 😀 .

Anyway, jadi, saudara dan saudari sekalian, berikut ini tujuan perjalanan akhir tahunku tahun ini. Jelas ini adalah destinasi dimana kita, sebagai orang Indonesia, membutuhkan visa untuk pergi kesana (per tahun 2014). Ini adalah sebuah negara di benua Asia. Ini adalah negara dengan populasi lebih dari satu milyar. Ok, ini artinya kita sudah mengerucutkan kemungkinan menjadi dua negara saja ya? Dan petunjuk berikutnya adalah petunjuk yang menunjukkan yang mana dari dua kemungkinan negara ini yang akan aku kunjungi. Ini adalah negara yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Ya, jadi ini tidak mungkin Tiongkok karena aku sudah pernah ke Tiongkok dua kali, di tahun 2002/2003 dan di tahun 2010. Ya, artinya tidak lain dan tidak bukan, destinasi ini adalah: INDIA!! 😀

I am going to India! Source: http://brooshaaltimes.com/wp-content/uploads/2014/02/india.gif
Aku akan pergi ke India! Sumber: http://brooshaaltimes.com/wp-content/uploads/2014/02/india.gif

Pertama-tama, aku akan bercerita mulai dari latar belakang perjalanan ini, yang mana asal-muasalnya adalah di tahun 2010.

***

Ide pergi ke India pertama kali muncul ke permukaan dalam acara perjalanan akhir tahun 2010ku ke Italia. Kala itu, aku sedang jalan-jalan liburan bersama beberapa teman, dan salah satunya berasal dari India. Dan di suatu waktu, dia berkata “Kapan-kapan kita harus ke India bareng-bareng deh, pasti bakal seru“. Dan waktu itu reaksi kami adalah “Okee, why not”, huahaha 😆 .

Namun, sayangnya kesibukan dari studi Master (S2) di TU Delft ditambah durasinya yang hanya dua tahun di Belanda telah menghambat rencana ini untuk menjadi lebih dari sekedar omongan saja. Di satu waktu, sebenarnya kami sempat membuat rencana kasar lho; tetapi ya ini hanya menjadi sekedar rencana saja. Tetapi pada akhirnya, sekarang ini, yang mana sudah sekitar dua tahun lebih semenjak kami semua menyelesaikan studi S2 kami, kami berpikir mengapa obrolan empat tahun lalu ini tidak dijadikan kenyataan saja. Kami mendiskusikan ulang rencana ini awal tahun ini. Dan akhirnya, di bulan Juli kemarin itu, kami mengecek website-nya KLM dan kami menemukan harga yang lumayan oke lah, dan langsung membeli tiketnya.

Ada sedikit perubahan rencana sih sayangnya. Dua dari teman kami (yang mana merupakan pasangan) yang awalnya juga akan pergi ke India bersama kami dan sangat antusias banget untuk perjalanan ini harus membatalkan keikut-sertaan mereka karena mereka akan punya anak. Awwww. Sedih sih rasanya mereka jadi tidak bisa ikutan pergi bersama tetapi di saat yang sama aku juga merasa bahagia banget untuk mereka! 🙂

Anyway, kembali ke topik, grup kami ke India jadinya beranggotakan enam orang. Dan ini akan menjadi grup yang lumayan internasional loh, karena ada satu orang Indonesia (aku), satu orang India, satu orang Kanada, dan tiga orang Belanda.

***

Untukku sendiri, aku berusaha untuk tidak memiliki ekspektasi apa-apa untuk perjalanan ini. Tahulah, kadang ekspektasi yang terlalu tinggi itu justru mengakibatkan datangnya kekecewaan kan. Apalagi khusus untuk India ini, aku banyak membaca artikel yang menyebutkan bahwa India ini adalah tipe negara yang antara kita akan suka banget atau kita nggak suka banget. Nah loh. Untukku, tanpa informasi lebih jauh, ini berarti ada kemungkinan 50% aku akan menyukainya dan ada kemungkinan 50% lagi aku tidak akan menyukainya. Digabungkan dengan teori tentang ekspektasi yang terlalu tinggi itu, untuk memaksimalkan peluangku menyukainya, aku memutuskan untuk tidak memiliki ekspektasi sama sekali deh, haha 😆 . Oke, memang sih nggak mungkin lah ya untuk sama sekali “tidak” memiliki ekspektasi, tetapi yang ingin aku bilang adalah aku membuat ekspektasiku seminimum mungkin.

Secara pribadi sih, alasanku untuk menerima tawaran pergi bareng dalam perjalanan ini adalah karena aku akan pergi bersama satu grup teman, dan salah satu dari kami kebetulan adalah orang India. Jadi jelas dia tahu banyak tentang India dong ya jadi ia tahu disana harus bagaimana, bagaimana menghadapi beberapa situasi, sebaiknya pergi kemana, menginap dimana, dll. Aku rasa akan lebih “sulit” untuk pergi ke India, dan ceritanya berbeda sekali, apabila aku harus pergi sendiri. Aku rasa ini adalah kesempatan yang unik yang sebaiknya tidak aku lewatkan; terutama mumpung umurku masih segini, haha 😀 .

Jadi, ya, India, aku datang! 🙂

***

Karena kami akan menghabiskan tiga minggu di India, jelas kami akan pergi ke beberapa tempat tujuan. Kami akan menghabiskan sepuluh hari di India selatan, empat hari di Goa di daerah barat, dan seminggu di India utara sebelum kembali ke Eropa. Aku merasa detailnya bagaimana tidak perlu aku tulis disini sekarang deh, jadi segini saja yang akan aku tulis. 🙂

Dan harus aku bilang bahwa perjalanan ini nampaknya akan seru nih, setidaknya dari tempat-tempat yang akan kami kunjungi. Ditambah lagi, kami akan terbang dengan beberapa maskapai India yang berbeda-beda dengan tipe pesawat yang juga berbeda-beda loh; jelaslah aku excited. Nah kan, ini sudah merupakan sebuah bentuk ekspektasi nih! 😛

Indonesia Trip · Long Trip · Vacation

#1453 – 2014 Eastern Indonesia Trip (Part 7: Bali (2))

ENGLISH

Previously on 2014 Eastern Indonesia Trip: After spending five nights in the island of Sulawesi, three nights in Lombok, and two nights in Bali during Zilko’s one month Indonesia trip this year, Zilko and his family were now ready to spend the last full day of this trip.

***

Day 11 (Monday, 18 August 2014)

Out of all the hotels that we stayed in in this trip which the room rate included the breakfast service, our current hotel, The Stones, provided the best breakfast in my opinion. I mean, they even served oliebollen! 😯 Yay! How cool was that!! So I did not have to wait for Christmas for an oliebollen! Hahaha 😆 .

Anyway, today we asked our driver to pick us up at 08:00 again. Our first destination was the warung Sate Beringin (I don’t remember exactly where that was though, but it was not that far from Legian). From there, we went to Khrisna in the Kuta region to buy some souvenirs. We stayed for about a good 45 minutes in Khrisna I think. From there, we went to Titiles in Denpasar to buy some ham (I love Titiles’ ham!!). And obviously we chose to go to the house, the original Titiles store. The location was a little bit inconvenient actually especially we were with a car. But I asked to go there because of its unique atmosphere in the house, as there were many of these:

A couple of tigers, just someone's pets
A couple of tigers, just someone’s pets

Yes, they had some pets in the house, and by pets I mean tigers, deers, many kind of birds, etc. Even in my previous visits there, I saw some phytons and sharks as well, haha 😆 . From Titiles, we went to the pie susu (milk pie) Enaak place. It turned out they were already sold out but we could place an order and get it later on the same day. So we did.

Then, we went to Ubud. The traffic to Ubud was pretty much free of traffic so it was very nice. We arrived in Ubud at around 13:30; and the first thing that we did was to stop by at the Warung Nasi Campur and Babi Guling Ibu Oka. This restaurant was a famous one in Ubud but I had never got the chance to visit it before; even when I was actually in Ubud in my January 2010 trip there. The nasi campur was, indeed, delicious. Even though, frankly, I kinda expected a little bit more from it because of its grand name, hahaha 😆 .

Nasi campur Ibu Oka
Nasi campur Ibu Oka

It was 14:30. My brother suggested us to go to a cafe in Ubud which apparently was also quite well-known. It was the Seniman Cafe. To get there, we decided to just walk since the weather was perfect for that too: cloudy and not very hot, hahaha 😆 . It was, indeed, a very nice and unique cafe. From there, we walked back to Warung Ibu Oka and asked our driver to pick us up there. Then, we went to Warung Nuri’s in Ubud. Warung Nuri’s also offered pork ribs, so we could compare it with Wahaha which we had the day before. Well, so “I” could compare it with Wahaha actually because everyone of us, except myself, had tried both, haha. We ordered pork ribs, pork chops, and, as my request, chili con carne. They were also delicious.

It was around 16:15 already when we finished at Nuri’s. So we decided to go back towards Denpasar to take our pie susu order. After we did, we went to Jimbaran for dinner; because a trip to Bali is never complete without a visit to Jimbaran, right? 😉 We chose one of the restaurants there by the beach and placed our order. We chose one table on the beach overlooking the sea. It was already passed sunset time actually, but nevertheless the view was still beautiful. And we could also see the very busy Ngurah Rai International Airport, haha 😛 .

Because a trip to Bali is never complete without a visit to Jimbaran
Because a trip to Bali is never complete without a visit to Jimbaran

We finished our dinner at around 21:00 and we went back to our hotel.

Day 12 (Tuesday, 19 August 2014)

The theme of the day was actually the end of this Eastern Indonesia Trip. In fact, it ended in the morning since our flights were scheduled to leave Bali in the morning. My parents and I were going back to Yogyakarta with Indonesia AirAsia’s 08:00 flight while my brother went to Bandung with another Indonesia AirAsia’s 08:45 flight.

Anyway, so we got up at 04:30 in the morning. Our driver picked us up at 05:30 in the hotel lobby. Btw, upon check-out, the receptionist gave us two boxes of bread and fruits as our complimentary breakfast since we would not be able to have the actual breakfast today. It was such a nice service! Okay, we did request for it though (to take away some breakfast because it was the best hotel breakfast we had in this trip), but it was still a nice one, wasn’t it? 🙂

We arrived at Ngurah Rai International Airport at 06:00, and it was a damn busy morning at the airport! There were so many people! Long story short, we successfully dropped our luggage (as we already checked-in online as we were flying with AirAsia today) and we walked to our departure gate. At 07:30, the boarding call for our flight to Yogyakarta was made.

The airplane was apparently parked at a remote area parking so they took us there with a bus. We boarded the airplane, an Indonesia AirAsia’s Airbus A320-216 reg PK-AXD which would fly as QZ 8448 from Denpasar Bali (DPS) to Yogyakarta (JOG) today. Btw, PK-AXD was the exact same airplane that took me from Yogyakarta (JOG) to Singapore (JOG) for my three Southeast Asian countries trip on 11 June 2010!!

An Indonesia AirAsia's Airbus A320-216 reg PK-AXD which took me to Yogyakarta from Bali as QZ 8448 today.
An Indonesia AirAsia’s Airbus A320-216 reg PK-AXD which took me to Yogyakarta from Bali as QZ 8448 today.

For this flight, I decided to choose my own seat (with an extra fee of course), and I chose seat 1A! Hahaha 😀 . Studying the usual flight path of the Denpasar to Yogyakarta flights, I learned that sitting on the left side (so the “A” seats) would be really cool since, provided good weather, we would be treated with view of the volcanoes in East Java. So I knew I wanted a seat “A”. And I chose seat number 1 (the most expensive row for this choose-your-own-seat option) because why not, haha. But then, upon entering the airplane, a family already occupied the 1A-1C seats. Obviously I told them that my seat was seat 1A (hell yeah I paid for it but maybe there was a double-booking or something?); and then they apologized and said that their actual seats were in the 20s or something. I mean, come on people 🙄 . If you want to seat on row 1, then pay! Well, but at least I did not have to go through the drama of double-booking this morning, haha 😛 .

Anyway, after all passengers boarded the airplane (it was an almost full flight), we departed. We took off from runway 09 of Ngurah Rai International Airport and then made a turn to head to the north west. Here is the actual flight path of today:

The actual flight path of flight QZ 8448 from Denpasar (DPS) to Yogyakarta (JOG) today
The actual flight path of flight QZ 8448 from Denpasar (DPS) to Yogyakarta (JOG) today

Btw, as I said above, we were supposed to be treated with beautiful view of the volcanoes in East Java if we sat on seat “A”s. The flight path map above explains the reason why seat “A”s. See, when flying westward to a Javanese city from Bali, all flights (most of the time, if not all of the time), regardless of the destination, flew to the north of the volcanoes; following the Bali – Surabaya path. If they were to fly to a relatively southern Javanese city, like Yogyakarta or Bandung, they would make a turn later on after Surabaya. So, if you were sitting on the left side of the airplane, you would be able to see the cool volcanoes in East Java. Luckily the weather was good enough for that today! And the result? I was able to take pictures of the Ijen Crater and the Tengger Mountains (with the super famous Mount Bromo, its sand desert, and the Mount Semeru) from 36,000 feet 😀 .

The Tengger Mountains in East Java with Mount Semeru, Mount Bromo, Mount Batok, and the vast sand desert visible from my flight today!
The Tengger Mountains in East Java with Mount Semeru, Mount Bromo, Mount Batok, and the vast sand desert visible from my flight today!

At around 08:00 local time, we were already above the city of Yogyakarta (I could spot the landmarks of the city so I knew the city I was seeing was Yogyakarta). But I felt strange that we were still flying very high in the sky. The upcoming announcement explained it all. The pilot said that due to the crowdedness of Adisucipto Airport (which only had eight parking aprons for narrow-body commercial airplanes (like the Boeing 737s or Airbus A320s)) and the busyness of its single runway (since the airport was owned by the Indonesian Air Force, every morning the Air Force also had some training exercises; so commercial flights must share the same runway with these exercises), our flight was put on hold until the traffic was a little bit lighter at the airport.

So our flight did this for the next 40 minutes:

We were put on hold like this for 40 minutes
We were put on hold like this for 40 minutes

Yes, we were literally making circles (or almost ellipses) above the Menoreh Mountains in the Kulon Progo regency many many times before finally being given the permission to land.

Finally, at 08:40, we were allowed to land at runway 09 of Adisucipto Airport. Here is the landing video:

So you can understand the annoyance I think, since we were technically already in Yogyakarta at 08:00 but then we had to wait for 40 minutes in the air before landing, haha. Even then, the drama was not over yet. We had to wait for a parking apron to be clear so even after we landed, our airplane stopped on the taxiway for a good 5 – 10 minutes before finally getting a parking spot.

Yeah, that is the story of a normal morning at a very small yet very busy Adisucipto Airport in Yogyakarta, hahaha 😆 .

Then, we took our luggage and took a taxi to go back home. And here, this super fun Eastern Indonesia Trip officially ended. 🙂

THE END.

BAHASA INDONESIA

Sebelumnya dalam 2014 Eastern Indonesia Trip: Setelah lima malam di Sulawesi, tiga malam di Lombok, dan dua malam di Bali dalam rangka liburan satu bulannya Zilko di Indonesia tahun ini, Zilko dan keluarganya siap menghabiskan satu hari penuh terakhir dari perjalanan ini.

***

Hari 11 (Senin, 18 Agustus 2014)

Dari semua hotel yang kami inapi di perjalanan ini yang mana rate kamarnya termasuk sarapan, hotel kami yang sekarang, The Stones, menyediakan sarapan hotel yang paling keren dan enak loh menurutku. Bahkan mereka sampai menyediakan oliebollen segala loh! 😯 Hore! Keren banget kan!! Aku jadi tidak perlu menunggu sampai Natal dong ya untuk makan oliebollen! Hahaha 😆 .

Hari ini kami meminta sopir kami untuk datang menjemput jam 8 pagi lagi. Tujuan pertama pagi ini adalah Warung Sate Beringin (aku tidak ingat lokasi persisnya ada di sebelah mana, yang jelas sih tidak jauh dari Legian). Dari sana, kami pergi ke toko Khrisna di sekitaran Kuta untuk membeli beberapa souvenir. Kami berada di Khrisna selama sekitar 45 menit kalau nggak salah. Dari sana, kami pergi ke Titiles di Denpasar untuk membeli beberapa bungkus ham (aku suka banget hamnya Titiles!!). Dan tentu saja kami memilih pergi ke rumahnya, toko aslinya Titiles. Lokasinya sebenarnya agak kurang nyaman apalagi kami datangnya dengan mobil kan. Tetapi aku meminta untuk pergi kesana karena atmosfer unik dari rumahnya, karena ada banyak beginian disana:

A couple of tigers, just someone's pets
Sepasang harimau, yang mana merupakan binatang peliharaannya seseorang

Iya, di rumahnya ada beberapa binatang peliharaan, dan yang dimaksud dengan binatang peliharaan adalah beberapa ekor harimau, rusa, banyak jenis burung, dll. Bahkan di kunjunganku sebelumnya kesana, aku melihat ada ular piton dan ikan hiu segala loh, haha 😆 . Dari Titiles, kami pergi ke tempatnya Pie Susu Enaak. Ternyata waktu itu mereka sudah kehabisan barang tetapi untungnya kami bisa membuat pesanan dan pesanannya akan jadi sore hari nanti. Jadilah kami memesan beberapa.

Kemudian, kami pergi ke Ubud. Lalu lintas ke Ubud hari ini lumayan lancar. Kami sampai di Ubud sekitar jam 1:30 siang; dan yang pertama kami lakukan adalah mampir di Warung Nasi Campur dan Babi Guling Ibu Oka. Restoran ini ternyata terkenal banget di Ubud tetapi aku belum pernah berkesempatan mencobanya sebelumnya; bahkan ketika sebenarnya aku berada di Ubud di perjalananku kesana di bulan Januari 2010. Nasi campurnya ternyata memang enak ya. Walaupun sejujurnya sih aku berekspektasi lebih sih karena nama terkenalnya, hahaha 😆 .

Nasi campur Ibu Oka
Nasi campur Ibu Oka

Jam setengah tiga siang. Adikku mengusulkan untuk pergi ke suatu kafe di Ubud yang mana ternyata lumayan terkenal juga. Namanya adalah Kafe Seniman. Untuk kesana, kami memutuskan untuk berjalan kaki saja karena cuacanya kebetulan sedang enak untuk itu: berawan dan tidak panas, huahaha 😆 . Ternyata, tempatnya memang enak dan unik banget; kopinya juga oke. Dari sana, kami kembali ke Warung Ibu Oka dan menelepon sopir kami untuk menjemput kami disana. Kemudian, kami mampir di Warung Nuri’s di Ubud yang mana juga menyediakan iga babi, jadi kami bisa membandingkannya dengan Wahaha yang kami kunjungi sehari sebelumnya. Eh, supaya “aku” bisa membandingkannya sih karena semuanya, kecuali aku, sudah pernah mencobanya. Kami memesan pork ribs, pork chop, dan, sesuai usulanku, chili con carne. Rasanya memang enak.

Karena sudah jam 4:15 sore ketika kami selesai makan di Nuri’s, kami memutuskan untuk kembali ke Denpasar untuk mengambil pesanan pie susu kami. Setelah itu, kami pergi ke Jimbaran untuk makan malam; karena perjalanan ke Bali tidak akan pernah komplit tanpa kunjungan ke Jimbaran kan? 😉 Kami memilih salah satu restoran di pantainya disana dan memesan beberapa masakan. Kami memilih satu meja di pantai yang menghadap ke arah laut. Sayangnya kami tiba disana setelah waktu matahari terbenam, tetapi pemandangannya masih asyik banget kok. Dan kami juga bisa melihat kesibukannya Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, haha 😛 .

Because a trip to Bali is never complete withour a visit to Jimbaran
Karena perjalanan ke Bali tidak akan pernah komplit tanpa kunjungan ke Jimbaran

Kami selesai makan malam sekitar jam 9 malam dan kemudian kembali ke hotel.

Hari 12 (Selasa, 19 Agustus 2014)

Tema hari ini sebenarnya adalah akhir dari Perjalanan ke Indonesia Timur ini. Bahkan berakhirnya di pagi hari loh karena penerbangan-penerbangan kami dijadwalkan berangkat dari Bali di pagi hari. Orangtuaku dan aku akan kembali ke Yogyakarta dengan penerbangannya Indonesia AirAsia yang jam 8 pagi sementara adikku pergi ke Bandung dengan penerbangannya Indonesia AirAsia juga yang jam 8:45.

Kami bangun pagi jam 4:30 subuh ini. Sopir kami menjemput kami jam 5:30 di lobby hotel. Btw, ketika check-out, resepsionis hotel memberikan dua kotak roti dan buah-buahan untuk kami sebagai pengganti sarapan karena pagi ini kami tidak bisa sarapan di hotel. Oke, memang sih kami yang memintanya (untuk membawa breakfast dan lagian breakfast hotel ini kan oke banget gitu), tetapi tetap aja lah ya ini bentuk pelayanan yang oke, iya kan? 🙂

Kami tiba di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai Bali jam 6 pagi, dan gila pagi ini bandaranya sibuk banget! Ada banyak banget orang yang mau terbang loh ternyata! Singkat cerita, kami memasukkan bagasi kami (kami sudah check-in via internet karena kami terbang dengan AirAsia hari ini) dan kami berjalan ke gerbang keberangkatan. Jam 7:30, panggilan naik pesawat untuk penerbangan ke Yogyakarta kami dimulai. Jadilah kami harus berpisah dengan adikku yang mana penerbangannya dijadwalkan terbang 45 menit setelah penerbangan kami.

Pesawat yang akan kami tumpangi ternyata diparkir di tempat parkir remote sehingga mereka membawa kami kesana dengan bus. Pesawatnya adalah sebuah Airbus A320-216 milik Indonesia AirAsia dengan kode registrasi PK-AXD dengan nomor penerbangan QZ 8448 dari Denpasar Bali (DPS) ke Yogyakarta (JOG). Btw, PK-AXD ini adalah pesawat yang sama dengan yang membawaku dari Yogyakarta (JOG) ke Singapura (SIN) dalam acara perjalanan ke tiga negara di Asia Tenggaraku di tanggal 11 Juni 2010 loh!!

An Indonesia AirAsia's Airbus A320-216 reg PK-AXD which took me to Yogyakarta from Bali as QZ 8448 today.
Sebuah Airbus A320-216 milik Indonesia AirAsia dengan registrasi PK-AXD yang membawaku dari Bali ke Yogyakarta sebagai QZ 8448 hari ini.

Untuk penerbangan ini, aku memutuskan untuk memilih kursiku sendiri (dengan membayar ekstra tentunya) dan aku memilih kursi 1A loh! Hahaha 😀 . Mempelajari jejak penerbangan dari Denpasar ke Yogyakarta, aku berkesimpulan bahwa sisi kiri (kursi-kursi “A”) memberikan pemandangan yang keren banget, jika cuaca mendukung tentunya ya, karena kita akan disuguhi pemandangan gunung-gunung berapi di Jawa Timur. Jadilah aku tahu bahwa aku mau kursi “A”. Dan aku memilih kursi nomor 1 (deretan kursi paling mahal di fitur memilih kursi sendiri ini) karena mengapa tidak, haha. Tetapi kemudian, ketika memasuki pesawatnya, sudah ada satu keluarga yang duduk di kursi 1A-1C dong. Nah, jelas saja mereka aku tegur dan aku berkata bahwa kursiku adalah kursi 1A (Jelas lah aku menegur, kan aku sudah membayar ekstra untuk kursi itu; tetapi siapa tahu juga kan ini adalah masalah akibat double-booking); dan kemudian mereka langsung meminta maaf dan berkata bahwa kursi mereka yang sebenarnya adalah di baris ke 20an gitu. Aduh deh orang-orang ini, plis deh ya 🙄 . Kalau mau duduk di barisan nomor 1 ya bayar ekstra dong! Ah, tetapi setidaknya untungnya pagi ini aku tidak harus menghadapi drama keributan akibat double-booking sih, haha 😛 .

Ngomong-ngomong, setelah semua penumpangnya naik pesawat (penerbangan ini ternyata nyaris penuh loh), kami berangkat. Kami lepas landas dari landasan pacu 09 Bandar Udara Internasional Ngurah Rai Bali. Btw, berikut ini jejak penerbangan ini hari ini:

The actual flight path of flight QZ 8448 from Denpasar (DPS) to Yogyakarta (JOG) today
Jejak rute penerbangan QZ 8448 hari ini dari Denpasar (DPS) ke Yogyakarta (JOG)

Btw, seperti yang aku bilang di atas, kita akan disuguhi pemandangan gunung-gunung berapi Jawa Timur jika kita duduk di kursi “A”. Jejak rute penerbangan di atas menjelaskan alasannya. Terlihat kan bahwa ketika terbang ke arah barat dari Bali ke sebuah kota di pulau Jawa, semua penerbangan (sebagian besar deh, kalau bukan semuanya), ke tujuan mana pun, terbang di sebelah utaranya gunung-gunung berapi ini; mengikuti jalur Bali – Surabaya. Kalau kota tujuannya berlokasi relatif di selatan Jawa, seperti Yogyakarta atau Bandung, mereka baru akan berbelok setelah melewati Surabaya. Jadi, kalau kita duduk di sisi sebelah kiri, kita akan bisa melihat gunung-gunung berapi di Jawa Timur yang keren itu dari pesawat. Untungnya hari ini cuacanya juga oke untuk itu! Hasilnya? Aku bisa melihat (dan memfoto) Kawah Ijen dan Pegunungan Tengger (dengan Gunung Semeru, Gunung Bromo, dan padang pasirnya yang terkenal itu) di ketinggian 36.000 kaki 😀 .

The Tengger Mountains in East Java with Mount Semeru, Mount Bromo, Mount Batok, and the vast sand desert visible from my flight today!
Pegunungan Tengger di Jawa Timur dengan Gunung Semeru, Gunung Bromo, Gunung Batok, dan padang pasirnya itu terlihat dari penerbanganku hari ini!

Sekitar jam 8 pagi waktu setempat, kami sudah berada di atasnya kota Yogyakarta (aku melihat beberapa landmark-nya Yogyakarta, sehingga aku yakin kota yang aku lihat dari jendela adalah Yogyakarta). Tetapi aku merasa aneh kok kami masih terbang tinggi sekali. Pengumuman dari pilot tidak lama kemudian menjelaskan semuanya. Pilotnya melaporkan bahwa karena keramaiannya Bandara Adisucipto (yang hanya memiliki delapan apron tempat parkir untuk pesawat komersial berbadan kecil (seperti Boeing 737 atau Airbus A320) dan saking sibuknya landasan pacunya yang hanya satu itu (karena pemilik bandaranya adalah TNI Angkatan Udara, setiap pagi TNI AU memiliki latihan terbang; sehingga penerbangan komersial harus berbagi slot waktu penggunaan landasan pacu dengan latihan-latihan ini), penerbangan kami akan di-hold (diminta menunggu di atas) sampai lalu lintas di bandaranya sedikit lebih sepi.

Jadilah pesawat kami melakukan ini selama 40 menit ke depan:

We were put on hold like this for 40 minutes
Berada di posisi holding pattern seperti ini selama 40 menit

Iya, kami berputar-putar di atas Pegunungan Menoreh di Kabupaten Kulon Progo banyak kali sebelum akhirnya diberikan izin mendarat.

Akhirnya, jam 8:40 pagi, kami diberikan izin mendarat di landasan pacu 09 Bandara Adisucipto. Berikut ini video pendaratannya pagi ini:

Jadi bisa dibayangkan kan rasa sebalnya karena sebenarnya kami sudah berada di Yogyakarta loh jam 8 pagi tetapi kemudian harus menunggu 40 menit sebelum bisa mendarat, haha. Setelah mendarat pun, dramanya masih belum selesai loh. Kami harus menunggu sampai satu tempat parkir pesawat benar-benar kosong. Jadilah pesawat kami harus berhenti di taxiway-nya selama 5 – 10 menit sebelum akhirnya bisa parkir.

Ya, begitulah cerita sehari-hari di pagi hari yang normal di Bandara Adisucipto Yogyakarta yang, walaupun amat kecil, tetapi super sibuk, hahaha 😆 .

Setelahnya, kami mengambil bagasi kami dan naik taksi untuk pulang ke rumah. Dan disini, perjalanan ke Indonesia Timurku yang seru banget ini secara resmi selesai. 🙂

SELESAI.