EuroTrip, Vacation, Weekend Trip

#2140 – A Short Weekend in Geneva

ENGLISH

I went on a weekend trip to Geneva at the end of June. Here is the story of that short trip…

I didn’t get that much sleep that night as I got back home late the night before due to the annual Summer Party, so I woke up feeling … , well, let’s just say I would need a lot of coffee to get through today’s travel! Haha 😆 . Long story short I arrived at Schiphol and, as usual, waited for my flight at the KLM Crown Lounge.

An Air France’s Airbus A321-100 reg F-GMZE

My first flight today would be operated by Air France with their Airbus A321-100 reg F-GMZE. It had been awhile since I flew this series of A321, and only my second time ever, actually (the first time being on an Alitalia’s three years ago). Being one of the older Air France frames mainly serving “secondary” routes, the seats on board F-GMZE were the “older” intra-European ones, though. Anyway, boarding commenced on time and I settled nicely onto my 1A seat.

The flight itself went pleasantly and it was really on time. Though, I felt like somehow the snack quality in economy on board short-haul Air France’s flights had deteriorated lately. On this flight, Air France served sandwiches with two options: tuna or egg. I chose the egg one, which looked sloppy:

The complimentary snack on board an Air France fight

and … cheap, didn’t it?

Anyway, transitting at Marseille Airport was also not as nice as I had to go out to the landside, changed terminal on foot under the 37°C Mediterranean heat, and cleared security to get back to the airside again. Though thankfully, unlike my previous transfer at Toulouse Airport, I had a long transfer time this time so I did not need to hurry, haha.

The second flight to Geneva was operated by HOP! Regional with their Embraer ERJ145 reg F-GRGD. Again, it was a pleasant, really smooth, and on time flight. I love flying with an ERJ145, though. It is a small plane so I just love taking this kind of selfies on board, haha:

The mandatory Embraer ERJ145 selfie on board HOP! Regional’s F-GRGD

I then checked in at my hotel after arriving in Geneva. After a quick rest, I went out for dinner. I knew I wanted the same steak that I had two years ago there. It wasn’t difficult to find the restaurant, haha. And the steak was still as delicious as it was two years ago! I was really satisfied!! 😀

This steak in Geneva was still as good as it was two years ago!

I went on a short walk after dinner but not for too long. While it hadn’t really been a long day, to my body it was because I didn’t get a good long sleep the night before. And so I decided to go back to the hotel not long after. Well, after enjoying the sunset and took a selfie to capture the moment, of course, haha…

A selfie with Le Jet d’Eau during sunset.

The next day I decided to take it easy again as I had nonetheless explored Geneva two years ago so I didn’t feel “rushed” at all. I had my complimentary breakfast at the hotel and checked-out just before 11 AM. I walked to Le Jet d’Eau, and then went to a Starbucks because it was really, really warm today! Starbucks did feel like an oasis! Haha 😛 .

Anyway, as Geneva was really close to the French border, I did notice a strong France influenced there. Most of the shops were closed on a Sunday! Even the main shopping street was “dead” with almost no store operating, haha… .

The food option at the Air France Lounge at Geneva Airport

I then went to the airport. I got my boarding pass at KLM’s checkin desk and proceeded to the Air France/KLM Lounge. I found the lounge decent enough especially if the waiting time was not too long. This was because the seats weren’t the most comfortable and, what I mainly missed, there was no warm food option, which I really missed.

Long story short, I boarded my KLM flight back to Amsterdam, which was operated with their Boeing 737-700 reg PH-BGR. As usual, it was a pleasant regular short-haul flight with KLM.

Yeah, that is the story of my short weekend in Geneva this summer! 😀

BAHASA INDONESIA

Aku pergi dalam sebuah perjalanan akhir pekan ke Geneva di akhir Juni yang lalu. Berikut ini cerita dari perjalanan singkat ini…

Aku tidak tidur lama di malam sebelum keberangkatan karena aku pulang malam semalam sebelumnya karena aku ikutan Summer Party tahunan kantorku, jadilah ketika bangun aku merasa … , hmm, aku bakal butuh kopi bergelas-gelas deh hari ini! Haha 😆 . Singkat cerita, tibalah aku di Schiphol dan seperti biasa aku menunggu penerbanganku di KLM Crown Lounge.

Sebuah Airbus A321-100 rego F-GMZEnya Air France.

Penerbangan pertamaku hari ini akan dioperasikan oleh Air France dengan pesawat Airbus A321-100 rego F-GMZE. Sudah lumayan lama semenjak terakhir aku terbang dengan seri A321 ini, dan ini hanya lah kali kedua sebenarnya (kali pertama adalah dengan Alitalia tiga tahun yang lalu). Karena merupakan salah satu pesawat tertuanya Air France yang kebanyakan melayani rute-rute “sekunder”, kursi di dalam F-GMZE adalah kursi intra-Eropa model lama. Anyway, boarding berlangsung tepat waktu dan aku duduk manis di kursi 1Aku.

Penerbangannya sendiri berlangsung nyaman dan tepat waktu banget. Walaupun begitu, aku kok merasa akhir-akhir ini kualitas snack di kelas ekonomi di penerbangan jarak dekatnya Air France menurun ya. Di penerbangan ini, Air France menawarkan sandwich dengan dua pilihan isi: tuna atau telur. Aku memilih yang isi telur, dan penampakannya tidak rapi kayak gini:

Layanan snack di penerbangannya Air France

dan … nampak murahan nggak sih?

Anyway, pindah pesawat di Bandara Marseille juga nggak begitu nyaman karena aku harus keluar bandara ke area landside, pindah terminal dengan berjalan-kaki di bawah terik matahari Mediterania yang panasnya 37°C, dan melewati pemeriksaan sekuriti untuk kembali ke area airside. Tapi tidak seperti pengalaman transitku sebelumnya di Bandara Toulouse, seenggaknya kali ini waktu transitku lama sih sehingga aku tidak perlu terburu-buru, haha.

Penerbangan kedua ke Geneva hari ini dioperasikan oleh HOP! Regional dengan pesawat Embraer ERJ145 rego F-GRGD. Lagi, penerbangan ini adalah penerbangan nyaman, mulus banget, dan tepat waktu. Aku suka banget deh terbang dengan ERJ145. Pesawatnya adalah pesawat kecil jadi seru aja gitu untuk berfoto selfie kayak gin, haha:

Selfie Embraer ERJ145 wajib di dalam F-GRGDnya HOP! Regional

Aku kemudian check-in di hotelku setelah tiba di Geneva. Setelah beristirahat sejenak, aku keluar untuk makan malam. Aku tahu aku ingin kembali di restoran steak yang kukunjungi dua tahun yang lalu. Nggak sulit kok untuk menemukan restorannya, haha. Dan steak-nya masih seenak dua tahun yang lalu! Puas banget deh!! 😀

Steak di Geneva ini masih seenak dua tahun yang lalu!!

Aku kemudian berjalan-kaki sejenak setelah makan malam tapi nggak lama sih. Walaupun sebenarnya bukan lah hari yang tergolong panjang, tapi bagi badanku hari ini sudah terasa panjang banget karena semalam sebelumnya aku tidak cukup beristirahat. Jadilah aku memutuskan untuk kembali ke hotel tak lama setelahnya. Yah, tentu saja setelah menikmati sunset yang lagi kece banget hari itu dan berfoto selfie untuk mengabadikan momennya, haha…

Selfie dengan Le Jet d’Eau ketika sunset.

Keesokan harinya juga aku memutuskan untuk bersantai saja karena toh aku sudah pernah mengelilingi Geneva dua tahun yang lalu sehingga aku tidak merasa “diburu-buru”. Aku sarapan di hotelku, yang mana kamarku sudah termasuk sarapan, dan kemudian check-out sekitar jam 11 pagi. Aku berjalan-kaki ke Le Jet d’Eau, dan kemudian mampir di Starbucks karena hari ini panas banget dong! Saking panasnya Starbucks jadi berasa seperti oasis! Haha 😆 .

Anyway, karena Geneva toh memang dekat dengan perbatasan dengan Prancis, aku merasakan pengaruh Prancis yang kuat di sana. Kebanyakan toko tutup di hari Minggu itu! Bahkan jalan pertokoan utamanya terasa “mati” karena hampir tidak ada toko yang buka, haha… .

Pilihan makanan di Lounge Air France Lounge di Bandara Geneva

Jadilah kemudian aku pergi ke bandara. Aku mendapatkan boarding pass-ku di konter check-in-nya KLM dan kemudian menuju ke lounge-nya Air France/KLM. Aku merasa lounge-nya oke lah terutama jika waktu tunggu kita tidak lama. Ini karena kursinya sebenarnya tidak begitu nyaman banget dan, yang paling berpengaruh untukku, tidak ada pilihan makanan hangatnya, haha.

Singkat cerita aku kemudian menaiki penerbangan KLMku kembali ke Amsterdam, yang mana dioperasikan dengan pesawat Boeing 737-700 rego PH-BGR hari ini. Seperti biasa, ini adalah penerbangan jarak-dekat reguler yang nyaman dengan KLM.

Jadi ya gitu deh cerita perjalanan singkatku ke Geneva di musim panas ini! 😀

Advertisements
EuroTrip, Vacation, Weekend Trip

#2135 – In Paris for RG18

ENGLISH

Posts in the Tennis Weekend in Roland Garros 2018 series:
1. Introduction
2. Part I: Roland Garros 2018
3. Part II: Paris

The Transport

As I shared in the Introduction post, my transport (read: flights 😛 ) routing for this trip looks like the following:

My routing this weekend. From gcmap.com

I was desperately looking for a non-direct return option and this was the best option (price-wise, schedule-wise, and routing-wise) which I could find at the time, haha 😀 .

Anyway, in this trip I found out that the food section Schengen KLM Crown Lounge had gone through some mini “renovations” with the introduction of some kitchenary which, to me, looked refreshing and better than before! I also felt like the warm food quality was better than usual; though for this I am not sure if this was due to the seasonal menu change or it was a real improvent.

It was perhaps minor but this rack was certainly a nice addition to the lounge!

My flight to Toulouse would leave from Paris-Orly Airport. I took the OrlyBus to get there, which would only be my second time since December 2012! Haha 🙂 . Btw, I also realized that it was better (location-wise) to go via Orly Airport when visiting Paris as it was closer to the city than Charles De Gaulle. Also, I felt like the OrlyBus was much more convenient than the RER B train; though, perhaps the next time I should try a Le Bus Direct service to the city center from Paris-CDG. I have used this bus service a couple of times already actually but both trips were between Paris-CDG and Paris-ORY while transferring between the two airports (this “airports shuttle” route was free with my Flying Blue status 😀 ) and I found the bus ride comfortable, hmm.

An OrlyBus at Denfert-Rochereau in Paris

My transfer time in Toulouse was only 50 minutes, which was quite tight. As I arrived quite early at Orly, I asked a check-in agent if it was possible for me to move to one of the two earlier Air France flights to Toulouse which would give me more of a leeway during transfer. She said my ticket allowed free change of flight BUT both flights were full already. Oh well…

And then, as with pretty much all other airports in France (with the exception of Charles De Gaulle), transferring experience at Toulouse Airport was horrible because I had to exit the airport and reentered it again meaning I would need to clear security again. It was such a hassle, especially with such a short connection time! It also happened that I was behind a young couple with a baby at security who brought a lot of stuffs which weren’t packed correctly! Lol 😆 .

A KLM Cityhopper’s Embraer E175 reg PH-EXW at Toulouse-Blagnac Airport

But nonetheless, in the end I made the connection. KLM Cityhopper’s brand new Embraer ERJ175 reg PH-EXW was just arriving in Amsterdam when I cleared security so I knew I was safe. Though, even if I missed it, I knew KLM still had two flights to Amsterdam later on today, haha. Having said that, this experience reminded me to book an option with longer transfer time while connecting in a French airport other than Paris-CDG! Haha 😆

Paris

Anyway because I arrived on Friday afternoon, I spent the entire Saturday at Roland Garros (see Part I), and Sunday was my flying day, I did not have a lot of time to explore Paris itself. But I didn’t mind as I have been there a few times already.

This year I went to Notre Dame in Paris

Though, I still managed to go to Notre Dame for my annual selfie with a Paris landmark on my Roland Garros trip, haha 😆 (I took a selfie with the Eiffel Tower four years ago, the Sacré-Cœur three years ago, the Arc De Triomphe two years ago, and the Louvre last year 😛 ). Btw, so actually I am wondering what should be the landmark for this selfie next year? Haha 😆 .

A delicious confit de canard in Paris!

Speaking Paris, it means French, and it also means French Food, one of my most favorite food in the world! And as usual, the French food did not disappoint! This time I also followed my “tradition” though as in the previous years. I had a confit de canard as my first dinner at a restaurant near Notre Dame, and an escalope de veau at a restaurant I knew nearby Roland Garros after visiting the tournament! And btw, the confit de canard was one of the better ones which I have ever had in Paris! The restaurant name was Le Lutece, and I should definitely write this name down somewhere (like here in this blog 😛 ).

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Tennis Weekend in Roland Garros 2018:
1. Introduction
2. Part I: Roland Garros 2018
3. Part II: Paris

Transportasi

Seperti yang kusebutkan di posting Introduction, rute transportasiku (baca: penerbangan-penerbangan 😛 ) kali ini adalah kayak begini:

Ruteku di akhir pekan ini. Dari gcmap.com

Jelas dong aku maunya penerbangan pp yang tidak non-stop dan ini adalah opsi yang terbaik (dari segi harga tiket, jadwal, dan rute) yang bisa kutemukan waktu itu, haha 😀 .

Anyway, di perjalanan ini aku lihat bagian makanan di Crown Lounge Schengen-nya KLM sudah “direnovasi” sedikit loh dengan beberapa perabotan yang, bagiku, nampak menyegarkan dan lebih oke daripada sebelumnya! Juga, aku merasa kualitas makanan hangatnya lebih oke daripada biasanya; walaupun untuk yang ini aku tidak yakin apakah hanya dikarenakan perubahan menu musiman saja atau beneran kemajuan sih.

Mungkin sepele sih tapi rak roti ini adalah tambahan perabot yang oke untuk lounge-nya!

Penerbanganku ke Toulouse akan diberangkatkan dari Bandara Paris-Orly. Aku menaiki OrlyBus untuk pergi ke sana, yang mana adalah kali kedua aku menaikinya setelah yang pertama kali adalah di bulan Desember 2012! Haha 🙂 . Btw, aku juga baru benar-benar sadar bahwa dari segi lokasi, Bandara Orly ini lebih oke daripada Charles De Gaulle jika kita berniat mengunjungi Paris. Juga, aku merasa OrlyBus ini lebih nyaman daripada kereta regional RER B; walaupun mungkin lain kali aku akan mencoba layanan bus Le Bus Direct sih ke pusat kota dari Paris-CDG. Sebenarnya sih aku sudah pernah dua kali naik bus ini tapi di keduanya aku bepergian dari Paris-CDG ke Paris-ORY ketika transit di antara dua bandara ini (“Layanan antar bandara” ini gratis untukku karena status Flying Blue-ku 😀 ) dan perjalanan dengan busnya menurutku nyaman, hmm.

Sebuah OrlyBus di Denfert-Rochereau di Paris

Waktu transitku di Toulouse hanyalah 50 menit, yang mana lumayan mepet kan ya. Karena aku tiba agak kepagian di Orly, aku bertanya ke agen check-in-nya apakah bisa aku pindah ke salah satu dari dua penerbangan Air France ke Toulouse yang berangkat lebih awal sehingga waktu transitku agak panjangan gitu. Petugasnya berkata sebenarnya tiketku adalah tiket fleksibel yang membebaskanku untuk berpindah penerbangan tanpa dikenakan biaya TAPI masalahnya hari ini kedua penerbangan ini sudah full banget dong. Ya sudah lah ya…

Dan kemudian, seperti selayaknya bandara-bandara lain di Prancis (kecuali Charles De Gaulle sih), pengalaman transit di Bandara Toulouse itu parah nggak enak banget dah, haha. Aku harus keluar bandaranya dan kemudian memasukinya lagi yang mana artinya aku harus melewati pemeriksaan sekuriti lagi. Kan repot banget ya jadinya, apalagi dengan waktu transit yang mepet! Mana kebetulan pula di pemeriksaan sekuriti aku berada di belakangnya sepasang suami-istri muda dengan bayi mereka yang bawaannya ke kabin segambreng banget dan itu pun tidak di-pack dengan benar! Haha 😆

Sebuah Embraer E175 rego PH-EXW-nya KLM Cityhopper di Bandara Toulouse-Blagnac

Ah tapi pada akhirnya ternyata waktu transitnya cukup kok dimana aku tidak ketinggalan penerbangan lanjutanku, haha. Pesawat baru Embraer ERJ175 rego PH-EXWnya KLM Cityhopper baru saja tiba dari Amsterdam ketika aku selesai melewati pemeriksaan sekuritinya jadi aku tahu aku aman. Walaupun sebenarnya andaikata ketinggalan pun aku tahu KLM masih ada dua penerbangan ke Amsterdam sih sore harinya nanti, jadi aman banget lah ya, haha. Walaupun begitu, pengalaman ini mengingatkanku untuk sebaiknya membeli tiket dengan waktu transit yang agak panjangan jika transitnya di sebuah bandara Prancis selain di CDG! Haha 😆

Paris

Anyway karena aku tiba di Jumat sore, Sabtuku seharian aku habiskan di Roland Garros (baca Bagian I), dan di hari Minggu aku sudah pulang, aku tidak memiliki banyak waktu untuk jalan-jalan di Parisnya sendiri. Tapi nggak masalah sih karena toh aku sudah pernah beberapa kali kesana.

Tahun ini aku pergi ke Notre Dame di Paris

Walapun begitu, aku masih sempat pergi ke Notre Dame untuk selfie tahunanku di perjalanan Roland Garros ini dengan sebuah landmark-nya Paris, haha 😆 (Aku selfie dengan Menara Eiffel empat tahun yang lalu, dengan Sacré-Cœur tiga tahun lalu, dengan Arc De Triomphe dua tahun lalu, dan dengan Louvre tahun lalu  😛 ). Btw, jadi sebenarnya sekarang aku jadi bertanya-tanya nih enaknya tahun depan selfienya dengan landmark apa lagi ya? Haha 😆

Confit de canard yang enak banget di Paris!

Ngomongin Paris, artinya Prancis, artinya makanan Prancis, salah satu makanan favoritku! Dan seperti biasa, masakan Prancis itu tidak pernah mengecewakan! Kali ini aku juga mengikuti “tradisiku” seperti tahun-tahun yang lalu. Aku makan confit de canard di hari pertama dan escalope de veau di restoran langgananku di dekatnya Roland Garros setelah mengunjungi turnamennya! Dan btw, confit de canard yang ini adalah salah satu yang terenak yang pernah aku makan di Paris loh! Nama restorannya adalah Le Lutece, dan aku sepertinya harus menuliskannya nih supaya nggak lupa (seperti misalnya di blog ini 😛 ).

EuroTrip, Vacation, Weekend Trip

#2132 – A Weekend Story

ENGLISH

As my Instagram followers (@azilko) have known by now, I went on a weekend trip this past weekend. And this time, I went to …

Le Jet d’Eau

Yep, Geneva again! Well, “again” because I have been there before and my previous trip was just less than two years ago, haha 😛 .

I chose Geneva as my destination this weekend for … , well, such an avgeek reason 😛 . Earlier this year I learned that Air France would operate a seasonal weekly Marseille – Geneva route this Summer. The route would be operated by HOP! Regional with their Embraer ERJ145; so neither airline or airplane would be new to me. However, I found the routing to be really interesting and thought it would be such a unique addition to my flying map! Lol 🙈.

And then, I also happened to find a good ticket deal involving this flight, with the following routing:

The routing this weekend. From gcmap.com

with great schedule which also allowed me to stay overnight in Geneva. And so without any hesitation I bought the ticket right away, haha.

And just as before, Geneva was really nice! Though, of course I didn’t really have much time to explore the city itself. On top of that, I went to a big party on Friday evening (more on this a bit later 😀 ) so I was feeling so tired the entire Saturday; which really affected me during the trip, haha.

Anyway, thinking about it, I just realized that my two visits to Geneva so far were both motivated by avgeek reasons. If this recent trip was because of the interesting routing, my first trip two years ago was originally motivated by Kuwait Airways’ fifth-freedom flight from Frankfurt to Geneva! Even though at that time Kuwait Airways, disappointingly, moved me to a Lufthansa Cityline’s flight so I didn’t really get what I really wanted, haha.

BAHASA INDONESIA

Seperti yang followers Instagramku (@azilko) ketahui sekarang, aku pergi dalam sebuah perjalanan akhir pekan lagi kemarin ini. Dan kali ini, aku pergi ke …

Le Jet d’Eau

Iya, Geneva lagi! Hmm, “lagi” karena aku sudah pernah kesana sebelumnya dan perjalanan sebelumnya ini berlangsung kurang dari dua tahun yang lalu, haha 😛 .

Aku memilih Geneva sebagai tujuanku kali ini adalah karena alasan yang … avgeek banget! 😛 Jadi ceritanya awal tahun ini aku membaca informasi bahwa Air France akan mengoperasikan rute musiman satu kali seminggu Marseille – Geneva di musim panas ini. Rutenya akan dioperasikan oleh HOP! Regional dengan pesawat Embraer ERJ145; jadi sebenarnya sih baik maskapai maupun tipe pesawatnya sudah pernah aku terbangi sebelumnya. Tapii, aku merasa rutenya kan menarik dan anti-mainstream gitu ya sehingga akan menjadi tambahan yang unik kan untuk peta penerbanganku! Huahahaha 🙈.

Dan kemudian, kebetulan pula aku menemukan deal tiket yang oke yang melibatkan penerbangan ini, dengan rute berikut:

Ruteku akhir pekan ini. Dari gcmap.com

dengan jadwal yang oke yang juga membuatku bisa menginap semalam di Geneva. Dan jadilah tanpa pikir panjang tiketnya langsung aku beli, haha.

Dan seperti yang lalu, Geneva masih asyik! Tetapi tentu saja aku tidak memiliki banyak waktu untuk dihabiskan di kotanya. Di samping itu, aku pergi ke sebuah party besar di Jumat malam (ceritanya menyusul 😀 ) sehingga aku merasa capek banget deh seharian di hari Sabtu; yang mana tentu mempengaruhiku dalam perjalanan ini, haha.

Anyway, kalau dipikir-pikir lagi sekarang, aku baru sadar bahwa dua kunjunganku ke Geneva sejauh ini keduanya dimotivasi oleh alasan yang avgeek banget. Jika penyebab utama dari perjalanan kali ini adalah rute yang menarik, perjalanan pertamaku dua tahun yang lalu disebabkan oleh penerbangan kebebasan kelimanya Kuwait Airways dari Frankfurt ke Geneva! Walaupun waktu itu Kuwait Airways, dengan mengecewakannya, semena-mena memindahkanku ke penerbangannya Lufthansa Cityline sih jadi sebenarnya aku tidak mendapatkan apa yang aku mau, haha.

EuroTrip, Tennis, Vacation, Weekend Trip

#2131 – A Weekend in Roland Garros 2018

ENGLISH

Posts in the Tennis Weekend in Roland Garros 2018 series:
1. Introduction
2. Part I: Roland Garros 2018
3. Part II: Paris

As usual, I arrived at the gate at around 9 AM. This was, of course, a little bit “too early” but this decision would ensure me to be at the front of the line to enter the ground when the gate would be opened 😛 . Anyway long story short, at 10 AM the gate was opened and, yes, I was back at Roland Garros again this year! 😀

The new Court No. 18 at Roland Garros

As I already had a breakfast at my hotel this morning, I decided to use the time to immediately explore the ground. While this was my seventh year in a row to go to Roland Garros, this year was quite “different” because some of the improvement work was already completed! There were three new courts which looked like three mini amphitheatres (as each was enclosed by layers of benches), which were really beautiful! The facilities had been redesigned and moved around as well, and at times this made me feel like it was my first time in Roland Garros as I wasn’t familiar with the layout! Haha 😆 .

Anyway, as usual, I decided to watch the women’s legends final at Court Suzanne Lenglen as my first event today. This year, the final was between Kim Clijsters/Nathalie Tauziat and Amelie Mauresmo/Nathalie Dechy. Yep, for my first time here, Martina Navratilova wasn’t involved! Haha 😀 . Anyway, the match was quite exciting, even though at the very end it was filled with chokes from both sides (Like, each team double-faulted on each of their own’s match point! 😅). But finally, Mauresmo/Dechy won 6-7(4), 6-4, [15-13].

Amelie Mauresmo and Nathalie Dechy won the women’s legends event

The match ended at around 1 PM so it was a perfect time for lunch. As I said, I initially wasn’t aware of where the restaurant was (as the “old” place was now part of the two new courts). I asked the information desk and apparently what previously was a store at the basement of Court Philippe Chatrier was now a restaurant! Haha 😀 . Anyway, this year the menu was also completely different where the warm meal options were a ham dish or a chicken dish. I opted for the chicken, which I had with pasta and some ratatouille as the side dish.

A chicken leg with pasta and ratatouille for lunch at Roland Garros

After going around for a little bit, I decided to go to my seat at Court Philippe Chatrier. Of course I chose to go in a little bit early so I would have all the time that I needed to take some pictures inside, haha 😆 . Btw, at the time Oliver Marach and Mate Pavic were warming up for their upcoming men’s doubles final.

At Court Philippe Chatrier again this year

Spectators filled in the stadium quite rapidly after that as people were getting ready for the main match today, the women’s singles final. The match would be contested between the current world no.1, Simona Halep, who up to this point had never won a grandslam title despite reaching the finals three times and lost in three sets in all of those (one of which was last year’s final against Jelena Ostapenko), and the world no.10, Sloane Stephens, a young American player who won the US Open last year.

The coin toss between Simona Halep and Sloane Stephens

Btw, I noticed that Simona Halep had a lot of fans coming to support her today. Around the ground, I saw a lot of people bringing Romanian attributes (flags, wearing clothes of the Romanian flag colours, chanting some yells clearly supporting Halep, etc). But interestingly, today I was sitting in an area of the stadium which somehow was filled by mostly Americans, or at least Sloane’s fans, haha 😛 . Some of them tried to chant “USA, USA, USA” in response to the “Simona, Simona…” chants by Halep’s supporters, haha.

Simona Halep fans at Roland Garros

Anyway, both players entered the stadium at 3 PM. Halep won the coin toss and elected to receive, meaning Sloane would serve first. I won’t go to too much details here, but Sloane started the match right on fire. She was immediately peaking and played unbelievable level of tennis. Her shots, strategy, movement, and basically everything was right and perfect! Like, she could do nothing wrong! And so she quite quickly took the first set 6–3 and immediately led 2–0 in the second set.

Sloane Stephens started the match right on fire and on point, clicking in every department.

At this point, I started to feel bad for Halep because she was clearly trying and she was playing great herself (she was the more aggressive player of the two on court today); but her opponent was just playing unbelievable tennis and there was nothing could be done about that. But then something started to happen. At the twelfth game, Sloane’s level “finally” started to “drop” a little bit from this “peak”. And if you play tennis you would understand how this could be bad news for Sloane, especially given what was at stake here (a grandslam title). Somehow I feel like this got into Sloane’s mind and it went downward spiral there. Errors started to creep in her game. At the same time, this gave Halep the momentum that she needed. From that point, Halep played brilliantly and won 13 of the next 15 games; and finally clinching the title with a 3–6, 6–4, 6–1 victory! Yes, Simona Halep finally won a grandslam title she truly deserved; and I was feeling really happy for her!!

The moment Simona Halep finally won a grandslam.

The trophy ceremony followed afterwards. Coupe Suzanne Lenglen, which was stored in a Louis Vuitton box, haha, was brought to the court. Arantxa Sanchez then gave the trophy to Simona Halep, who finally was able to get rid of the “Slamless” title some people put on her.

I think Simona’s expression in this photo said it all! “FINALLY!!”

After uploading some Instagram Story videos (haha), I decided that I needed to stretch my leg and to fill my stomach with something; and that something being a subway sandwich, haha.

Learning from my experience two years ago, I knew that Court Philippe Chatrier was open for everyone for the doubles final. So instead of going back to my seat, I decided to try my luck by going to one of the courtside box. Luckily I went in right just in time where I still found a vacant great courtside seat!

My view for the men’s doubles final!

The men’s doubles final was contested between a French duo, Pierre-Hugues Herbet/Nicolas Mahut, who was seeded sixth, and the Austrian-Croatian duo, Oliver Marach/Mate Pavic, the second seed. Btw, Mate Pavic was ranked world no.1 in men’s doubles at the time. Both teams played different style, where Herbet/Mahut were more about the touch and technique whereas Marach/Pavic were more about power and aggression. The match had started when I entered the court and Herbert/Mahut were controlling the momentum already in the first set. They quickly won it 6–2.

Pierre-Hugues Herbert/Nicolas Mahut took control of the first set.

The second set was much more competitive and exciting. Both teams were pretty much even up to the middle of the set. Then after a poor service game by Marach, Herbet/Mahut gained some momentum by breaking Marach’s serve. But then it was Mahut’s turn to have a poor service game and the match went back even. But Marach/Pavic seized this momentum and got themselves a couple of set points. Herbert/Mahut fought hard and saved those set points so the second set had to go to a tiebreak. Herbet/Mahut played a great tiebreak where they immediately got some lead. In the end, they clinched it 6–2, 7–6(4) and, thus, won their first ever Roland Garros title.

Pierre-Hugues Herbert/Nicolas Mahut won the men’s doubles title of Roland Garros 2018

It was a great day to be French, for sure. The spectators chanted the French national anthem during the trophy ceremony too.

With the last match of the day being completed, it was time for me to leave as well. And yeah, I just had a great day at Roland Garros!

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Tennis Weekend in Roland Garros 2018:
1. Introduction
2. Part I: Roland Garros 2018
3. Part II: Paris

Seperti biasanya, aku tiba di gerbang masuk sekitar jam 9 pagi. Agak kepagian sih ini, tapi ini memastikan aku berada di posisi paling depan di antrian masuk ketika gerbangnya dibuka nanti, haha 😛 . Singkat cerita, gerbangnya dibuka jam 10 pagi dan, iya, aku kembali di Roland Garros lagi tahun ini! 😀

Lapangan No. 18 yang baru di Roland Garros

Karena aku sudah sarapan di hotel paginya, aku memutuskan untuk menggunakan waktuku untuk mengeksplor kompleks turnamennya. Walaupun ini adalah tahun ketujuh berturutan aku pergi ke Roland Garros, tahun ini terasa agak “berbeda” karena beberapa pekerjaan konstruksi pengembangan turnamennya sudah selesai! Misalnya saja ada tiga lapangan baru yang nampak seperti amphitheater mini (yang mana masing-masing dikelilingi oleh beberapa tingkat bangku), yang mana nampak indah! Fasilitas di sekitar kompleksnya juga sebagian sudah didisain dan ditata-ulang, sehingga terkadang membuatku merasa ini seperti kunjungan pertamaku di Roland Garros karena aku tidak familier dengan denahnya! Haha 😆

Anyway, seperti biasa, aku memutuskan untuk menonton final turnamen legenda putri di Lapangan Suzanne Lenglen hari ini. Tahun ini, finalnya adalah antara Kim Clijsters/Nathalie Tauziat dan Amelie Mauresmo/Nathalie Dechy. Yep, untuk pertama kalinya untukku, Martina Navratilova tidak terlibat dong! Haha 😀 . Anyway, pertandingannya lumayan menarik, walaupun bagian akhirnya dipenuhi dengan chokes dari kedua tim sih (Misalnya, kedua tim double-fault dong di match point-nya masing-masing!😅). Tapi pada akhirnya, Mauresmo/Dechy menang 6-7(4), 6-4, [15-13].

Amelie Mauresmo dan Nathalie Dechy memenangi gelar legenda putri.

Pertandingan berakhir sekitar jam 1 siang yang mana merupakan waktu yang pas untuk makan siang. Seperti yang kubilang, awalnya aku tidak tahu lokasi restorannya dimana (karena lokasi yang “lama” kini sudah menjadi bagian dari dua lapangan baru). Aku bertanya ke meja informasi dan ternyata apa yang dulunya toko di lantai basement Lapangan Philippe-Chatrier kini adalah restoran! Haha 😀 . Ngomong-ngomong, menu tahun ini juga berbeda banget dimana pilihan makanan hangatnya adalah daging ham atau ayam. Aku memilih ayam, yang mana aku temani dengan pasta dan ratatouille.

Paha ayam dengan pasta dan ratatouille untuk makan siang.

Setelah berkeliling sedikit, aku memutuskan untuk masuk menuju kursiku di Lapangan Philippe Chatrier. Jelas dong aku masuk agak awal supaya ada waktu untuk foto-foto dulu, haha 😆 . Btw, waktu itu Oliver Marach dan Mate Pavic sedang pemanasan untuk final ganda putra mereka nantinya.

Di Lapangan Philippe Chatrier tahun ini.

Penonton mulai masuk ke lapangan dengan cepat setelahnya untuk menonton pertandingan utama hari ini, final tunggal putri. Pertandingannya akan dimainkan oleh pemain peringkat 1 dunia, Simona Halep, yang hingga waktu ini belum pernah menjuarai grandslam walaupun sudah masuk final tiga kali dan kalah dalam tiga set di semuanya (salah satunya adalah final tahun lalu melawan Jelena Ostapenko), dan petenis peringkat 10 dunia, Sloane Stephens, yang mana petenis muda dari Amerika yang menjuarai US Open tahun lalu.

Coin toss antara Simona Halep dan Sloane Stephens

Btw, ada banyak loh fansnya Simona Halep yang datang untuk mendukungnya. Di sekitaran kompleks, ada banyak banget orang-orang yang membawa atribut Romania (bendera, pakaian dengan warna bendera Romania, bahkan mereka memiliki yel-yel sendiri untuk mendukung Halep, dll). Tapi menariknya, hari ini aku bisa-bisanya duduk di area stadionnya yang dipenuhi kebanyakan oleh orang Amerika, atau seenggaknya pendukungnya Sloane Stephens, haha 😛 . Beberapa dari mereka bersorak “USA, USA, USA” untuk meladeni yel-yel “Simona, Simona…” dari pendukungnya Halep, haha.

Fansnya Simona Halep di Roland Garros

Anyway, kedua pemain memasuki lapangan jam 3 sore. Halep memenangi coin toss dan memilih untuk receive, yang berarti Sloane akan servis duluan. Aku tidak akan menuliskan detailnya di sini, tapi Sloane memulai pertandingan dengan sempurna sekali. Pukulan-pukulannya, strateginya, dan pergerakannya pas dan sempurna banget! Ia seperti tidak mampu membuat kesalahan gitu, segala yang dilakukannya benar dan tepat! Dan jadilah ia dengan lumayan cepat mengambil set pertama  6–3 dan langsung unggul 2–0 di set kedua.

Sloane Stephens memulai pertandingan dengan sempurna, segalanya “klik” banget.

Di waktu ini, aku sedikit merasa kasihan terhadap Halep karena ia jelas terus berusaha dan sebenarnya bermain dengan bagus juga (ia bermain lebih agresif daripada Sloane); tapi ya memang lawannya sedang bermain tenis dengan level sempurna dan ini jelas tidak bisa diapa-apakan. Tapi sesuatu mulai terjadi di game kedua-belas. Levelnya Sloane “akhirnya” mulai sedikit “turun” dari level “puncak” ini. Dan jika kamu bermain tenis, pasti paham mengapa ini adalah berita buruk untuk Sloane, terutama dengan mempertimbangkan apa yang dipertaruhkan di sini (gelar grandslam). Entah mengapa rasanya ini masuk ke pikirannya Sloane dan semuanya dengan cepat terjun bebas dari sana. Kesalahan-kesalahan mulai muncul di permainannya. Di waktu yang sama, ini memberikan Halep momentum yang ia butuhkan. Dan dari waktu itu, Halep bermain dengan sangat baik dan memenangi 13 dari 15 game selanjutnya. Akhirnya, ia mendapatkan gelarnya dengan kemenangan 3–6, 6–4, 6–1! Iya, Simona Halep akhirnya menjuarai grandslam yang memang berhak ia dapatkan; dan aku ikut merasa senang untuknya!!

Momen dimana Simona Halep akhirnya menjuarai grandslam.

Upacara pemberian piala berlangsung setelahnya. Coupe Suzanne Lenglen, yang disimpan di dalam kotak Louis Vuitton, haha, dibawa ke lapangan. Arantxa Sanchez memberikan pialanya kepada Simona Halep, yang mana akhirnya berhasil menghilangkan gelar “Slamless” disematkan beberapa orang kepadanya.

Aku rasa ekspresinya Simona di foto ini mengungkapkan semuanya! “AKHIRNYA!!”

Setelah upload beberapa video InstaStory (haha), aku meluruskan kakiku dan memutuskan untuk mengganjal perutku dengan sandwich, haha.

Berdasarkan pengalamanku dua tahun yang lalu, aku tahu bahwa Philippe Chatrier dibuka untuk umum di final ganda putra. Jadilah bukannya kembali ke kursiku, aku mencoba peruntunganku dengan pergi ke salah satu kotak di samping lapangannya. Beruntung sekali aku masuk di waktu yang tepat dimana aku masih bisa menemukan beberapa kotak yang kosong dengan pandangan yang oke banget!

Pandanganku untuk final ganda putra!

Final ganda putranya dimainkan antara duo Prancis, Pierre-Hugues Herbet/Nicolas Mahut, unggulan keenam, dan duo Austria-Kroasia Oliver Marach/Mate Pavic, unggulan kedua. Btw, Mate Pavic merupakan pemain peringkat 1 dunia di ganda putra waktu itu. Kedua tim bermain dengan gaya yang berbeda, dimana Herbet/Mahut lebih tentang touch dan teknik sementara Marach/Pavic lebih tentang kekuatan dan keagresifan. Pertandingannya sudah dimulai ketika aku masuk ke lapangan dan waktu itu Herbet/Mahut sudah mengontrol momentuk di babak pertama. Mereka dengan cepat memenanginya 6–2.

Pierre-Hugues Herbert/Nicolas Mahut mengontrol babak pertama.

Babak keduanya lebih kompetitif dan seru. Kedua tim bermain seimbang hingga pertengahan set. Setelah game servis yang buruk dari Marach, Herbet/Mahut mendapatkan momentum dari patahnya servis Marach. Tapi kemudian datanglah giliran Mahut untuk memainkan game servis yang buruk dan pertandingannya kembali seimbang. Tapi Marach/Pavic memanfaatkan momentum ini dan berhasil mendapatkan beberapa set point untuk mereka. Herbert/Mahut berjuang keras menyelamatkan set point-set point tersebut dan berhasil memaksakan tiebreak untuk dimainkan di akhir set kedua. Herbet/Mahut memainkan tiebreak yang baik dimana mereka langsung mengambil kontrolnya. Pada akhirnya mereka menang 6–2, 7–6(4) dan mendapatkan gelar Roland Garros pertama mereka.

Pierre-Hugues Herbert/Nicolas Mahut memenangi ganda putra di Roland Garros 2018

Ini adalah hari yang baik untuk orang Prancis, tentunya. Penonton menyanyikan lagu nasional Prancis di upacara pemberian pialanya juga.

Dengan pertandingan terakhir selesai dimainkan; sudah waktunya untukku pulang juga. Dan ya, aku baru saja menghabiskan satu hari yang seru di Roland Garros!

EuroTrip, Vacation, Weekend Trip

#2128 – A Long Weekend in Budapest (Part III: Pest)

ENGLISH

Posts in the Long Weekend in Budapest series:
1. Introduction
2. Part I: Buda of Budapest
3. Part II: The Flights Drama
4. Part III: Pest of Budapest

Accross the Danube River from Buda (See Part I) is Pest, one half of the city which makes up Budapest. As I previously mentioned, Buda and Pest are very different from each other and have different “personality”.

Buda and Pest were connected by this Chain Bridge.

For one, unlike the hilly Buda, Pest was flat, just like the Netherlands, haha 😛 . And unlike Buda with its “imperial” vibe, Pest was the complete opposite where it felt much more “populous”. It almost felt like if Budapest was the capital of a kingdom, Buda was where the monarchy lived while Pest was where the people lived.

I stayed at a hotel in Pest on this trip; and so my first impression of Budapest was, naturally, from Pest (As I arrived in the late afternoon so I first went to the hotel from the airport). The populous vibe of Pest immediately reminded me of Bucharest; where the buildings looked “dull” and not “as well-preserved” as, say, Western Europe in general.

A bulding in Pest

Though, in a way this screamed “Eastern European”, perhaps, haha… . Having said that, it felt like that Pest was actually where the “life” of Budapest was as I saw more locals there than in Buda which was flocked by a lot of tourists, haha 😆 .

But this did not mean that there was nothing to see for tourists in Pest. For once, the beautiful Parliament Building was located on the Pest-side of the Danube. Though, this would mean that one could enjoy the building from the Buda side 😛 . And also, the beautiful Heroes Square, which was the one place in Budapest I had been wanting to go to for some reasons, was in Pest.

Budapest selfie at the Heroes Square

In reality the Heroes Square was, somehow, much smaller than what I imagined, though. It was also very touristy but I expected this. Nonetheless, it was still very pretty! According to the map, there was a large garden beyond the square with several interesting (old) buildings, but unfortunately I didn’t have the time to explore this part of Pest. Perhaps for the next time then… .

Being where the “life” of the city was, Pest was also the location of many great restaurants. Though I didn’t do any research on this front, it felt to me like the restaurants in Pest looked much more inviting than those in Buda. Speaking of the food…

Hungarian Food

Even though I didn’t research any restaurants, I did look for some information of some must-try Hungarian dishes before I left. On this front, I found out that Hungary had its own interpretation of “goulash”. And there were two “versions” of it, one was in the form of a soup, called “gulyas”, and the other was more like the “regular” goulash we would think of, called pörkölt. Of course I was intrigued by both and I came to Budapest with the intention of trying both, haha 😆 .

A Hungarian veal pörkölt with some dumplings.

Both dishes turned out to be good. The gulyas wasn’t very “heavy”, which I liked from a soup. The pörkölt was also nice and was served with some egg dumplings.

I also saw a lot of street foods in Budapest. Though, to be honest I am not really a fans of “street food” (As, to me, it doesn’t represent the best value of money in general, haha 😆 (I, for one, much prefer to sit when I eat)). But I have to say that a lot of those looked good. The range was also really wide from the savoury spectrum to the snack/side-dish spectrum to the dessert spectrum. So if you love street food, I would say you would like Budapest!

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Long Weekend in Budapest:
1. Introduction
2. Part I: Buda of Budapest
3. Part II: The Flights Drama
4. Part III: Pest of Budapest

Di seberang Sungai Danube dari Buda (Baca Bagian I) adalah Pest, setengah dari apa yang membentuk kota Budapest. Seperti yang kusebutkan sebelumnya, Buda dan Pest adalah dua bagian yang sangat berbeda satu sama lain, yang juga memiliki “personality” yang amat berlainan.

Buda dan Pest dihubungkan oleh Jembatan Rantai (Chain Bridge) ini.

Pertama-tama, nggak kayak Buda yang berbukit-bukit, Pest itu rata, kayak Belanda dah, haha 😛 . Dan tidak seperti Buda yang memiliki aura “imperial”, Pest terasa amat berkebalikan dimana auranya terasa sangat “merakyat”. Rasanya seperti andaikata Budapest adalah ibukota dari suatu kerajaan, Buda adalah lokasi istana kerajaannya berada sementara Pest adalah lokasi dimana rakyatnya tinggal.

Aku menginap di sebuah hotel di Pest di perjalanan ini; dan jadilah kesan pertamaku akan Budapest datang dari Pest ini (Karena aku tiba di sore hari, jelas tujuan pertamaku setelah tiba dari bandara adalah hotelku). Aura merakyatnya mengingatkanku akan Bucharest; dimana bangunan-bangunannya nampak “kusam” dan tidak “seterawat” bangunan-bangunan di Eropa Barat.

Sebuah bangunan di Pest

Walaupun begitu, di satu sisi ini justru adalah ciri khas dari Eropa Timur sih ya, mungkin, haha… . Walaupun begitu, justru di Pest lah denyut nadi kehidupan di Budapest-nya terasa dimana aku melihat banyak warga setempat. Tidak seperti Buda yang diserbu oleh banyak sekali turis, haha 😆 .

Tapi ini bukan berarti tidak ada yang menarik bagi turis di Pest sih. Pertama-tama, Gedung Parlemen yang kece itu berlokasi di sisi Pest di tepian Sungai Danube. Walaupun ini juga berarti gedungnya bisa kita nikmati juga dari sisi Buda di seberang sungai, haha 😛 . Dan juga, Heroes Square yang kece itu, yang mana merupakan satu lokasi di Budapest yang ingin sekali aku kunjungi, berada di Pest.

Budapest selfie di Heroes Square

Pada kenyataannya, Heroes Square ternyata berukuran lebih kecil daripada apa yang aku bayangkan, haha. Lokasinya juga ramai dengan turis tapi ini sudah aku sangka sih. Walaupun begitu, masih cantik kok! Menurut peta, ada sebuah taman yang besar di belakang square-nya dengan beberapa bangunan (tua) yang kayaknya menarik, tapi sayangnya aku tidak memiliki cukup waktu untuk mengeksplor bagian dari Pest ini. Mungkin di lain kesempatan ya… .

Yang namanya dimana denyut nadi kehidupan kotanya berada, Pest juga lah lokasi dari banyak restoran yang kece-kece. Walaupun sebenarnya aku tidak melakukan riset akan topik ini, rasanya untukku restoran-restoran di Pest nampak lebih mengundang daripada di Buda. Ngomongin makanan nih…

Masakan Hungaria

Walaupun aku sama sekali tidak meriset restoran, aku sempat mencari-cari informasi mengenai masakan Hungaria yang patut dicoba. Nah, jadilah aku baru tahu bahwa Hungaria memiliki interpretasi uniknya akan “goulash”. Ada dua “versi” sih, yang pertama adalah versi sup, yang disebut “gulyas”, dan yang lainnya berpenampilan seperti goulash “reguler” yang disebut pörkölt. Tentu saja aku penasaran dengan keduanya dan aku datang ke Budapet dengan keinginan untuk mencobanya, haha 😆 .

Sebuah pörkölt daging sapi ala Hungaria dengan dumplings.

Dan keduanya memang enak kok. Gulyasnya tidak terasa “berat”, yang mana merupakan karakteristik yang aku suka dari yang namanya sup. Pörkölt-nya juga enak yang mana disajikan dengan egg dumplings.

Aku juga melihat ada banyak street food yang dijajakan di Budapest. Tapi, sejujurnya, aku bukanlah fans dari “street food” (Karena, untukku, ini tidak memberikan nilai yang maksimal dari harga yang pada umumnya ditawarkan, haha 😆 (Aku, misalnya, lebih suka untuk duduk ketika makan)). Tapi harus aku bilang bahwa memang nampak menarik kok. Pilihannya pun beragam sekali mulai dari spektrum savoury ke spektrum camilan/makanan ringan ke spektrum pencuci mulut. Jadi kalau kamu suka street food, aku rasa kamu bakalan suka Budapest!

EuroTrip, Travelling, Vacation, Weekend Trip

#2125 – Luzern vs Laussane

ENGLISH

Here is a tip for a train trip in the expensive European country of Switzerland. If you look for the ticket in advance, you can potentially snatch a “saver” ticket where you can benefit a 70% discount of the regular price! This saver price comes with a restriction, though, where it is only valid on the specified train service with specific schedule; as opposed to the regular “open” ticket that is valid on any trains on a given date. But a 70% discount, especially in Switzerland, is a lot that this restriction, to me, is worth the inflexibility! Haha 😆

A Swiss train

And so as a preparation for my trip to Luzern, I was actively looking for a train ticket to get there from Zürich Airport and another one to go to Zürich from there since way before the trip. I started looking a little bit too early where tickets for trip on my travel dates were not for sale yet. Even though I couldn’t buy the tickets at the time, at least this gave me the impression of how much the tickets would cost me (by checkin the other dates).

Fast forward a few weeks later about two weeks before the trip, I started looking again. After entering Laussane, I was shocked to see that the ticket price appeared to have gone up by 2.5x fold! For some moment I couldn’t believe what I saw, as I found it strange for the price difference to be of that magnitude. Sure I could still find some saver tickets, but this would still mean that the after-discount saver price also increased by 2.5x fold. I also considered the possibility that perhaps I remembered the price wrong. And, if this were the case, this would mean that the regular return train ticket would cost almost as much as my return flight ticket from Amsterdam to Zürich! Haha 😆

… and not to mention that I would end up getting upgraded to Europe Business Class on the flight to Zürich.

Thankfully I wasn’t rushing in buying the ticket. For whatever reason, I decided to open Google Map as I would like to locate where Laussane was with respect to Zürich. And I noticed something strange: the town appeared to be much further away that it was “supposed to”; as I strongly remembered that the reason I chose to fly to Zürich was because this was the closest city with an international airport to it.

And then I realized what was going on!! I was looking for the wrong city! Lol 😆 . My destination was Luzern, NOT Laussane! Lol 😆 . Here is the map showing where the two towns are in Switzerland:

Luzern and Laussane in Switzerland

You see, Laussane was much further away from Zürich than Luzern, which explained the much more expensive train ticket! In fact, if I would like to go to Laussane (which I do actually, I have heard it to be a beautiful town too), I would fly to Geneva, not Zürich 😛 .

In fact, I was still under the influence of this mistake when I was preparing the Introduction post of the trip. In the draft, I wrote “Laussane” instead of “Luzern” and so I had to do a lot of cleaning up afterwards, haha 😆 .

Well, but in my defense, the name “Luzern” and “Laussane” are, indeed, quite similar, aren’t they? 😛

This was Luzern, not Laussane

BAHASA INDONESIA

Berikut ini satu tips untuk bepergian dengan kereta api di Swiss, sebuah negara Eropa yang mahal. Jika kita mencari tiketnya cukup awal, kita bisa mendapatkan diskon 70% loh dari harga normalnya! Tiket diskonan ini ada batasannya sih, dimana tiketnya hanya berlaku di layanan kereta yang disebutkan dengan jadwal dan jam keberangkatan yang ditentukan; tidak seperti tiket dengan harga normal yang berlaku “terbuka” alias bisa digunakan di kereta yang mana pun di tanggal yang sudah ditentukan. Tapi diskon sebesar 70%, apalagi di Swiss, membuat batasan ini sepadan dengan infleksibilitasnya lah ya! Haha 😆 .

Sebuah kereta di Swiss

Dan jadilah sebagai bentuk persiapan perjalananku ke Luzern, aku mencari-cari tiket untuk pergi kesana dari Bandara Zürich Airport dan tiket lain untuk kembali ke Zürich semenjak lama sebelum perjalanannya. Ternyata waktu pencarianku ini terlalu awal sehingga tiket untuk kereta di waktu perjalananku masih belum dijual. Biarpun demikian, setidaknya aku jadi mendapatkan gambaran akan harga tiketnya lah ya (dengan mengecek tanggal-tanggal lain).

Fast forward beberapa minggu kemudian, kira-kira dua minggu sebelum perjalanannya, aku mulai mencari tiketnya lagi. Setelah memasukkan Laussane, aku dikejutkan dengan harga tiketnya yang nampak sudah naik sekitar 2,5 kali lipat! Selama beberapa waktu aku tidak mempercayai apa yang aku lihat, karena aku merasa aneh kenaikannya kok bisa sebesar itu. Memang sih aku masih bisa menemukan tiket diskonannya, tetapi ini tetap berarti harga tiket setelah diskonnya pun lebih tinggi sekitar 2,5 kali lipat daripada apa yang aku ingat. Aku juga mempertimbangkan kemungkinan aku salah ingat harganya sih, haha. Dan jika memang demikian, artinya harga normal tiket kereta pp-nya hampir sama dong dengan harga tiket pesawat pp-ku dari Amsterdam ke Zürich! Haha 😆

… yang mana padahal di penerbanganku ke Zürich aku kan di-upgrade ke kelas bisnis Eropa ya.

Untungnya aku tidak terburu-buru membeli tiketnya. Entah mengapa, aku memutuskan untuk membuka Google Map karena aku ingin melihat lokasi Laussane di sebelah mananya Zürich. Dan aku melihat sesuatu yang aneh; kotanya kok nampak lebih jauh daripada yang “seharusnya” ya; karena aku juga ingat jelas bahwa alasan aku memilih terbang ke Zürich adalah karena ini adalah kota dengan bandara internasional terdekat darinya.

Dan baru lah aku menyadari apa yang terjadi!! Aku salah kota dong! Huahahaha 😆 . Tujuanku kan Luzern ya, BUKAN Laussane! Hahaha 😆 . Berikut ini peta yang menunjukkan lokasi dua kota ini di Swiss:

Luzern dan Laussane di Swiss

Seperti yang bisa dilihat, Laussane itu berlokasi lebih jauh dari Zürich daripada Luzern, yang menjelaskan mengapa harga tiket keretanya juga lebih mahal! Malahan, jika aku ingin pergi ke Laussane (yang mana memang aku ingini sih, aku dengar kotanya juga indah), aku bakal terbang ke Jenewa (Geneva) deh, bukannya Zürich 😛 .

Bahkan aku masih dipengaruhi oleh kesalahan ini loh ketika aku mempersiapkan posting Introduction dari perjalanan ini. Di draft-nya, aku menulis “Laussane” bukannya “Luzern” sehingga aku harus membenarkan banyak kesalahan ini setelahnya, haha 😆 .

Ya tapi in my defense, nama “Luzern” dan “Laussane” kan memang mirip, iya kan? 😛

Ini Luzern, bukan Laussane
EuroTrip, Vacation, Weekend Trip

#2124 – A Long Weekend in Budapest (Part II: The Flights Drama)

ENGLISH

Posts in the Long Weekend in Budapest series:
1. Introduction
2. Part I: Buda of Budapest
3. Part II: The Flights Drama
4. Part III: Pest of Budapest

Between stories of Buda and Pest, let me share a couple of stories of what happened to and during my flights; which both turned out to be “unusual”, in a very different way.

A Barf Bag Story

A “unique” incident happened during my KL1977 flight to Budapest. First of all, let me warn you that this incident is “gross” so if you don’t feel like reading it, I recommend you to skip this section altogether. Proceed on your own risk, haha…

The incident took place on board this KLM’s Boeing 737-800 reg PH-BXY

At one point during the flight I was queuing for one of the two lavatories at the rear of the plane. Both cabins were occupied at the time and there were two ladies in the line in front of me. Then suddenly, a young guy stood up and briskly walked (it was almost “running” actually) towards the back of the plane, appearing to be “rushing”. For a split second I was a little bit annoyed because I thought he was intending to cut the lines but nonetheless I let him anyway; giving him the benefit of the doubt. This … turned out to be a great decision (for me) because …

literally after passing myself, he started to puke! Like, he was puking so bad that the puke sprayed over onto the lady at the front of the line (who then screamed out of shock) and onto the lower arm of the lady in front of me. I mean, WTF. Btw, it was a really “bad” puke, where he went on a few “rounds”. All of it, of course, spilled all over the floor of the rear galley because at the time both lavatories were occupied. As for myself, I was “safe”; and then I was asked to use the lavatory at the front of the plane.

When I came back to my seat, I checked if KLM provided a barf bag in each seat. And they did. So I was wondering why the guy did not use the barf bag instead. But perhaps it was his reflex to go to the toilet when feeling like puking or that perhaps he wasn’t aware of the barf bag … or both.

A KLM’s barf bag

The flight attendants were really professional, btw. Of course they had to wipe and clean the floor, which they did quickly; they also helped the guy and the unlucky lady who then (obviously) changed her clothes, and made sure that she, too, was alright.

Yeah, what an experience to witness!

A Delayed Flight Drama

Anyway, I mentioned in the Introduction post, here is the original routing of my flights for this trip:

To get back to Amsterdam, I was supposed to fly an Air France’s flight to Paris-CDG then transferred to KLM’s last Paris-CDG to Amsterdam that day, with only 40 minutes of transfer time. It was really tight, but doable.

The trip started smoothly as usual. I arrived a little bit early at the airport so the check-in desks were still closed. Nevertheless, I still could get my boarding pass via the self check-in machine. I then cleared security and went to the (small) lounge.

Then I noticed that my Air France flight to Paris would be delayed by 30 minutes. With only 40 minutes of transfer in Paris, of course I immediately understood that this was a signal of an upcoming problem; especially that I was transferring to Air France/KLM’s last flight to Amsterdam from Paris! I then asked the lounge agent who then informed me that there was no ticketing agent in the airside so I would need to get back to the check-in area in the landside to confirm my status. It would be very inconvenient, but I felt like this was the better alternative than just doing nothing and letting the situation unravel.

By the time I arrived at the check-in area (for the second time today), the delay had been extended to one hour.

The check-in desks were already opened at the time but the lines were uncharacteristically crowded, including the Priority line, haha. Anyway long story short I explained my situation to the check-in lady, who was nice and worked very efficiently. Fortunately, it was still in time for me to be transferred to KLM’s last direct flight back to Amsterdam today, and there were still quite some seats available! Of course Air France/KLM moved me to this direct flight free of charge; as otherwise they would likely need to provide me a big amount of compensation under the Flight Compensation Regulation 261 of the European Union Law, an amount that would have been a lot more than the ticket price I paid (i.e. I would have made a “profit” out of this trip, lol 😆 ).

Luckily it was still in time for me to get transferred to KLM’s last direct flight to Amsterdam with this Boeing 737-800 reg PH-BCA

So yeah, instead of flying the triangle AMS-BUD-CDG-AMS routing this long weekend, I ended up only flying the “efficient” AMS-BUD-AMS routing, haha. Btw, eventually the Air France flight to Paris was delayed for almost four hours, arriving at Paris-CDG only at 11:19 PM! If I had been taking that flight, I would have needed to stay overnight at Paris-CDG (which Air France/KLM would pay for, I assume) and, presumably, would have been transferred to one of Air France/KLM’s morning flights the next day to Amsterdam. Thankfully I was able to realize the upcoming of this problem and that I was being proactive in preventing it from unraveling in the first place!

Delayed AF1295

It would have been a huge inconvenience; and to be honest I am not sure if the compensation would have made up for it, haha 😆 .

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Long Weekend in Budapest:
1. Introduction
2. Part I: Buda of Budapest
3. Part II: The Flights Drama
4. Part III: Pest of Budapest

Di sela-sela cerita dari Buda dan Pest, aku isi dulu dengan dua cerita akan apa yang terjadi dengan dan dalam penerbangan-penerbanganku; yang mana keduanya adalah kejadian yang “tidak biasa”, dalam hal yang berbeda.

Cerita Kantong Mabuk Udara

Satu kejadian “unik” terjadi di penerbangan KL1977ku ke Budapest. Pertama-tama, aku peringatkan bahwa kejadian ini “menjijikkan” sehingga kalau ogah membaca beginian, bagian ini silakan dilewati saja. Jadi sudah pada paham risikonya ya, haha…

Kejadiannya mengambil tempat di dalam pesawat Boeing 737-800 rego PH-BXYnya KLM ini

Di satu waktu ketika sedang terbang aku mengantri untuk menggunakan satu dari dua toilet di bagian belakang pesawat. Kedua toiletnya sedang digunakan waktu itu dan ada dua ibu-ibu yang mengantri juga di depanku. Lalu tiba-tiba, seorang laki-laki muda berdiri dan berjalan cepat (nyaris “berlari” sih sebenarnya) ke bagian belakang pesawat, dan dia nampak terburu-buru. Untuk sepersekian detik aku merasa sebal karena kok kayaknya dia mau memotong antrian gitu tetapi pada akhirnya dia aku biarkan lewat; kan aku toh belum tahu motifnya apa kan ya. Ini … ternyata adalah keputusan yang bijak (untukku) karena …

begitu melewatiku, ia tiba-tiba muntah dong! Muntahnya parah banget dimana muntahannya keluar mengenai badan ibu-ibu yang mengantri paling depan (yang mana jelas teriak karena kaget dan syok) dan juga mengenai lengan bawah ibu-ibu di depanku. Maksudku, gila apa-apaan ini yang barusan terjadi! Btw, muntahannya “parah” karena keluarnya dalam beberapa “ronde” gitu. Semuanya, tentu saja, dikeluarkan di lorong bagian belakang pesawat karena waktu itu kedua toilet sedang dipakai. Untukku, aku sih “aman”; dan kemudian aku diminta untuk menggunakan toilet di bagian depan pesawat.

Ketika aku kembali di kursiku, aku mengecek apakah KLM menyediakan kantong mabuk udara di setiap kursi. Dan ternyata memang ada kok. Jadilah aku penasaran mengapa ya laki-lakinya itu tidak menggunakan kantongnya. Tapi mungkin refleks ya untuk pergi ke toilet ketika merasa ingin muntah, atau mungkin dia tidak menyadari keberadaan kantong ini, … atau mungkin keduanya.

Kantong mabuk udaranya KLM.

Pramugarinya profesional sekali, btw. Jelas mereka harus mengelap (atau mengepel?) dan membersihkan lantainya dari muntahan, yang mana mereka lakukan dengan cepat; mereka juga membantu laki-laki dan ibu-ibu yang sedang sial itu yang mana (jelas) harus ganti baju, dan memastikan pula bahwa ibu-ibu ini juga tidak apa-apa.

Iya, sebuah kejadian tidak biasa!

Drama Penerbangan Delay

Anyway, kusebutkan di bagian Introduction bahwa rute awal penerbanganku untuk perjalanan ini adalah sebagai berikut:

Untuk kembali ke Amsterdam, aku memiliki tiket untuk terbang dengan Air France ke Paris-CDG dan kemudian transfer ke penerbangan terakhir Paris-CDG ke Amsterdam-nya KLM hari itu, dengan waktu tranfer yang hanya 40 menit. Mepet banget sih memang, tapi masih bisa dan sempat kok.

Perjalanannya dimulai dengan mulus seperti biasa. Aku tiba di bandaranya agak kepagian sehingga konter check-in-nya masih tutup. Toh biarpun begitu, aku masih bisa mendapatkan boarding pass-ku dengan menggunakan mesin self check-in. Aku kemudian melalui pemeriksaan sekuriti dan menunggu di lounge (yang berukuran nggak terlalu besar).

Lalu aku lihat di layar penerbangan Air France-ku ke Paris akan terlambat 30 menit dong. Dengan waktu transfer yang hanya 40 menit di Paris, aku langsung jelas memahami bahwa ini adalah sebuah pertanda akan masalah besar yang bakalan segera datang; terutama karena aku akan transfer ke penerbangan terakhir-nya Air France/KLM ke Amsterdam dari Paris hari ini! Aku kemudian bertanya ke petugas lounge-nya yang memberi-tahuku bahwa sayangnya tidak ada petugas tiket di airside bandara sehingga aku harus pergi ke luar kembali ke area check-in di sisi landside untuk memastikan statusku. Bakal nggak nyaman dan repot sih, tapi aku merasa ini adalah alternatif yang lebih baik daripada diam saja dan pasrah.

Ketika aku tiba kembali di area check-in, delay-nya sudah memanjang menjadi satu jam.

Kali ini konter check-in-nya sudah ramai dan kebetulan pula tidak seperti biasanya antriannya panjang, termasuk di jalur prioritas. Singkat cerita, aku jelaskan situasiku ke petugas check-in-nya, yang sangat membantu dan bekerja dengan sungguh efisien. Beruntung sekali masih ada cukup waktu untukku dipindahkan ke penerbangan langsung terakhirnya KLM ke Amsterdam hari ini, dan pas pula masih ada lumayan banyak kursi yang tersedia! Jelas Air France/KLM memindahkanku ke penerbangan langsung ini dengan tanpa biaya sama sekali; karena jika tidak kemungkinan besar mereka harus memberikan kompensasi yang sangat besar untukku berdasarkan Regulasi Kompensasi Penerbangan 261 di bawah Hukum Uni Eropa, yang mana besarnya jauh lebih banyak daripada total harga tiket pp-ku (dengan kata lain, aku bisa malah mendapatkan “untung” nih dari perjalanan ini, haha 😆 ).

Untungnya masih ada cukup waktuku untukku dipindahkan ke penerbangan langsung terakhirnya KLM ke Amsterdam dengan Boeing 737-800 rego PH-BCA ini

Jadi ya, bukannya terbang dengan rute segitiga AMS-BUD-CDG-AMS akhir pekan ini, aku malah terbang di rute “efisien” AMS-BUD-AMS, haha. Btw, pada akhirnya penerbangan Air France ke Parisnya itu delay sekitar hampir empat jam dong, dan baru tiba di Paris-CDG jam 11:19 malam! Andaikata aku terbang dengannya, aku bakalan harus menginap ekstra semalam di Paris-CDG (yang mana aku duga biayanya juga akan ditanggung Air France/KLM) dan, aku asumsikan, akan dipindahkan ke salah satu penerbangan paginya Air France/KLM keesokan harinya ke Amsterdam. Beruntung sekali aku bisa menyadari masalah yang akan terjadi ini dan aku bertindak proaktif untuk mencegahnya terjadi!

AF1295 yang terlambat

Pastinya bakal tidak nyaman banget kan ya; dan sejujurnya aku nggak yakin sih kompensasinya bakalan worth it, haha 😆 .