EuroTrip · Ten Day Trip · Vacation

#1712 – 2016 Spring Trip (The Destinations)

ENGLISH

For Easter this year, I have decided that I want to go on another trip (surprise, surprise! Lol 😆 ). The Easter holiday has made it possible to make this trip a longer trip without me really taking too many of my actually many holiday allowances.

Weighing my options

At first, I was considering to go to the States. To Florida, to be more precise. Okay, to Miami, to be even more precise (with a possibility to make a detour to Orlando as well). The Easter timing was perfect as well because it would be during the two-weeks of the Miami Open in Key Biscayne, Florida (near Miami), a big tennis tournament many consider as the “fifth grandslam” (which my favorite tennis players, Venus and Serena Williams, consider their “home” tournament because, well, they live near there).

Serena Williams' reaction after winning her sixth Miami title. Photo credit: Matthew Stockman/Getty Images North America
Serena Williams has won eight Miami titles until 2015. Photo credit: Matthew Stockman/Getty Images North America

But then, I realized this would be a ten-day trip (max) and adding the six-hours time difference between Florida and the Netherlands into the equation, I figured the trip would be quite tough on the body. This was not good because I wanted to be fresh for work after coming back. Moreover, I started roughly calculating the budget I would need to spare for this trip and I estimated a return flight ticket + a Miami Open ticket would, in total, cost approximately €800 already. Well, so I felt like if this trip were going to happen, it would feel so “forced”. In the end I came to the conclusion that this was not the right time, yet, for Florida.

The most optimal solution for me this year is to “just” stay in Europe. Yeah, this year is not going to be like last year where I was fortunate enough to be able to go to Japan in the Spring. Nonetheless, of course it is still very exciting because there are tons of awesome destinations in Europe which are still waiting for me 😛 . There is actually one “routing” which I have been wanting to take since years ago and I figure this year’s Easter break is the perfect opportunity to make that finally come true.

And so I do just that…

Btw, I will add THREE new European countries into my list with this one trip alone 😛 . So ladies and gentlemen, I call this trip:

2016 Baltic Spring Trip

Yes, I am going around the Baltic region for Spring.

Oh, you don’t know where the “Baltic region” is? Well, in short, this is a region surrounding the Baltic Sea in Northern Europe which is illustrated with this map below:

The Baltic region. Map taken from: https://en.wikipedia.org/wiki/File:Baltic_Sea_map.png
The Baltic region. Map taken from: https://en.wikipedia.org/wiki/File:Baltic_Sea_map.png

And here are the destinations of this trip:

Stockholm and Helsinki

For starter, I bought a multi-city return ticket of Amsterdam – Stockholm and Helsinki – Paris – Amsterdam. Btw, my Helsinki – Paris flight will be operated by Finnair. As I have never flown with them before, I will add a new airline to my logbook too! :mrgreen:

Technically I have been to Sweden before. Actually exactly two years prior to this trip btw, in my 2014 Easter weekend trip where I met Bebenyabubu in Helsingborg. But I have never been to the Swedish capital so it will still be a new destination to me. Finland, on the other hand, is one of the three new countries which I mention above.

Riga

Knowing that I will visit Stockholm then Helsinki, I must think about how to travel between the two cities. If you look at the map above, you would not be surprised that I thought the most efficient way was to fly. I did find a cheap one way direct ticket from Stockholm to Helsinki on my date of travel with a Norwegian LCC.

However, while browsing for the tickets I glimpsed another option with Air Baltic which would be about €20 more expensive AND with a transit in Riga, Latvia. For most people, this might be a bad choice because why would you pay more and on top of that you don’t get a direct flight? But not for me 😛 . Why? Well, there were four factors:

  1. I LOVE to fly;
  2. I have never flown with Air Baltic before (and they promised they would fly a Boeing 737-500 on the Stockholm – Riga flight, a type which is still missing from my logbook. Even though some time ago they changed their mind and switched the equipment to a Bombardier Dash 8 Q400. Damn!);
  3. I have never been to Latvia; and
  4. There was an option for an 8 hours transit in Riga.
An Air Baltic's Boeing 737-500 reg YL-BBQ. Photo credit: Osipov Dmitry/Airliners.net
At first I was promised I would fly with an Air Baltic’s Boeing 737-500 (that is super cute, isn’t it!) like in this photo. Photo credit: Osipov Dmitry/Airliners.net

You see, these four factors meant that it was possible for me to stick in a one-day trip in Riga, Latvia during this trip as well!! So why the hell not??? 😀

Latvia is the second of the three countries I mention above.

Talinn (?)

Again, if you look at the map above, Helsinki looks close-ish to the capital of another Baltic country, Talinn which is the capital of Estonia. I remember a few years ago my ex-housemate told me about his one day trip from Helsinki to Talinn where he took a ferry back and forth to cross the Gulf of Finland.

I am thinking to do the same even though I have not arranged anything yet for it. So, under the circumstance that this plan is executed, the third of the three countries I mention above is, indeed, Estonia 🙂 .

Yay!! :mrgreen: I can’t wait already! 😀

BAHASA INDONESIA

Untuk Paskah tahun ini, aku sudah memutuskan bahwa aku akan jalan-jalan lagi deh (nggak ada yang heran pastinya ya 😀 ). Liburan Paskah memungkinkanku untuk membuat sebuah perjalanan yang agak panjangan sedikit tanpa aku harus mengambil banyak cuti yang mana sebenarnya jatahku banyak sih.

Menimbang-nimbang pilihanku

Awalnya, aku berkeinginan untuk liburan ke Amerika. Ke Florida, lebih tepatnya. Oke, ke Miami, untuk lebih tepatnya lagi (dengan kemungkinan untuk sekalian mampir di Orlando). Timing yang mana di sekitar liburan Paskah juga sempurna banget karena ini bertepatan dengan dua minggu diadakannya Miami Open di Key Biscayne, Florida (di dekatnya Miami), sebuah turnamen tenis besar yang banyak orang pandang sebagai turnamen “grandslam kelima” (yang mana petenis favoritku, Venus dan Serena Williams, anggap sebagai turnamen di “rumah” mereka sendiri karena, yah, mereka kan tinggal di dekat-dekat sana).

Serena Williams' reaction after winning her sixth Miami title. Photo credit: Matthew Stockman/Getty Images North America
Serena Williams telah memenangi delapan gelar Miami sampai tahun 2015. Photo credit: Matthew Stockman/Getty Images North America

Namun, kemudian aku pikir-pikir perjalanan ini akan setidaknya memakan waktu (maksimal) sepuluh hari dan dengan mempertimbangkan perbedaan waktu enam jam antara Florida dan Belanda, aku merasa perjalanan ini akan melelahkan banget secara fisik. Padahal, aku maunya kan merasa segar gitu ketika pulang. Ditambah lagi, ketika aku menghitung kasar budget yang perlu aku persiapkan untuk perjalanan ini, aku perkirakan tiket pp ke Miami + tiket Miami Open sudah akan membutuhkan setidaknya sekitar €800 (sekitar Rp 12 juta) sendiri. Lah, aku malah jadi merasa bahwa andaikata perjalanan ini beneran terjadi, rasanya kok agak “dipaksakan” gitu ya. Pada akhirnya aku berkesimpulan bahwa sepertinya sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk Florida.

Solusi optimal untukku tahun ini adalah jalan-jalan di Eropa “aja” deh, haha. Ya, tahun ini tidak akan seperti tahun lalu dimana beruntung banget aku bisa pergi ke Jepang di Musim Semi. Biarpun begitu toh ini masih seru banget karena masih ada banyak destinasi keren di Eropa yang belum pernah aku kunjungi kan 😛 . Nah, sebenarnya ada satu “rute” yang sudah ingin banget aku kunjungi semenjak bertahun-tahun lalu. Jadilah aku menyadari bahwa liburan Paskah tahun ini adalah kesempatan yang tepat untuk membuatnya menjadi kenyataan.

Dan memang ini lah keputusanku…

Btw, aku akan menambah TIGA negara Eropa baru ke dalam daftarku melalui satu perjalanan ini 😛 . Nah, saudara dan saudari sekalian, aku umumkan judul dari perjalanan ini nih:

2016 Baltic Spring Trip

Yup, aku akan pergi ke daerah Baltik Musim Semi ini.

Eh, tunggu-tunggu, pada nggak familier daerah “Baltik” itu di sebelah mana? Yah, gampangnya, daerah ini adalah daerah yang mengelilingi Laut Baltik di Eropa Utara, tergambarkan melalui peta berikut ini:

The Baltic region. Map taken from: https://en.wikipedia.org/wiki/File:Baltic_Sea_map.png
Daerah Baltik. Peta diambil dari: https://en.wikipedia.org/wiki/File:Baltic_Sea_map.png

Dan berikut ini destinasi-destinasi di perjalananku ini:

Stockholm dan Helsinki

Pertama-tama, waktu itu aku membeli tiket pp multi-city Amsterdam – Stockholm dan Helsinki – Paris – Amsterdam. Btw, penerbangan Helsinki – Paris akan dioperasikan dengan Finnair loh. Kan aku belum pernah terbang dengan mereka sebelumnya jadi lumayan nih dapat satu maskapai baru untuk logbook-ku! :mrgreen:

Secara teknis memang sih aku sudah pernah ke Swedia sebelumnya. Sebenarnya, pas dua tahun sebelum perjalanan ini lho, di perjalanan akhir pekan Paskah 2014ku dimana aku kopdaran dengan Bebenyabubu di Helsingborg. Tetapi aku belum pernah ke ibukotanya Swedia sih sehingga Stockholm tetap adalah sebuah tujuan baru untukku. Untuk Finlandia, memang aku belum pernah kesana sebelumnya sehinga negara ini memang adalah satu dari tiga negara baru yang kusebutkan di atas.

Riga

Tahu bahwa aku akan mengunjungi Stockholm dan kemudian Helsinki, aku jelas harus memikirkan bagaimana untuk bepergian di antara keduanya dong ya. Jika peta di atas diperhatikan dengan seksama, tentu tidak mengherankan jika aku merasa bahwa cara terefisien adalah dengan naik pesawat. Kebetulan aku menemukan sebuah tiket satu arah murah meriah dari Stockholm ke Helsinki di tanggal yang aku inginkan dengan sebuah maskapai LCC asal Norwegia.

Namun ketika browsing-browsing tiket itu, aku melihat sebuah pilihan lain dengan maskapai Air Baltic yang mana harga tiketnya lebih mahal €20 DAN dengan transit di Riga, Latvia. Bagi kebanyakan orang, mungkin ini adalah alternatif yang buruk karena sudah harga tiketnya lebih mahal, penerbangannya nggak langsung pula? Ah, tetapi tidak buruk untukku loh 😛 . Mengapa? Ada empat faktor:

  1. Aku SUKA terbang;
  2. Aku belum pernah terbang dengan Air Baltic sebelumnya (dan waktu itu mereka menjanjikan untuk mengoperasikan pesawat Boeing 737-500 di rute Stockholm – Riga, sebuah tipe yang masih terlewatkan di logbook-ku. Eh tetapi belakangan ternyata pesawatnya diganti jadi Bombardier Dash 8 Q400 dong. Ih, sial!);
  3. Aku belum pernah ke Latvia sebelumnya; dan
  4. Ada pilihan untuk transit selama 8 jam di Riga.
An Air Baltic's Boeing 737-500 reg YL-BBQ. Photo credit: Osipov Dmitry/Airliners.net
Awalnya aku dijanjikan akan terbang dengan Boeing 737-500nya Air Baltic (yang imut banget kan!) seperti di foto ini. Photo credit: Osipov Dmitry/Airliners.net

Nah kan, empat faktor tersebut berarti mungkin bagiku untuk sekalian menyelipkan sebuah perjalanan satu hari di Riga, Latvia di perjalanan ini!! Jadi mengapa tidak??? 😀

Nah, jadilah Latvia adalah negara kedua dari tiga negara di atas.

Talinn (?)

Lagi, jika peta di atas diamati, Helsinki nampak agak dekat dengan ibukotanya sebuah neara Baltik lain kan, Talinn yang merupakan ibukotanya Estonia. Aku teringat beberapa tahun lalu mantan housemate-ku bercerita mengenai pengalaman perjalanan satu harinya dari Helsinki ke Talinn dimana ia menaiki kapal feri pergi-pulang untuk menyebrangi Teluk Finlandia.

Aku memiliki ide untuk melakukan hal yang sama walaupun aku masih belum merencanakan apa-apa untuknya. Jadi, dengan asumsi rencana ini akan beneran aku eksekusi, negara ketiga yang kusebutkan di atas adalah Estonia 🙂 .

Hore!! :mrgreen: Sudah nggak sabar nih! 😀

Advertisements
EuroTrip · Ten Day Trip · Travelling · Vacation

#964 – Austria Summer Trip (Part VI)

Cerita sebelumnya: Zilko dan temannya pergi ke Austria dalam rangka liburan musim panas. Seminggu (lebih) sudah mereka habiskan di Austria dan mereka telah mengunjungi Innsbruck, Salzburg, Linz, dan Vienna. Kini mereka berada di dua hari terakhir dari perjalanan ini.

===

Hari 9 (Kamis, 25 Agustus 2011)

Semua tujuan di Vienna telah kami kunjungi, dan ini sesuai banget dengan rencana kami. Hari Kamis ini adalah hari penuh terakhir dari perjalanan kami, dan sesuai dengan rencana sebelum kami berangkat, kami akan mengunjungi ibukotanya negara Slowakia hari ini: Bratislava.

Mungkin pada nanya: “Ngapain sih ke Bratislava?“. Ya, jawabannya adalah: “Karena kami bisa kesana“, wkwkwkw 😆 . Soalnya gimana ya, Bratislava ini jaraknya kan cuma 60an km aja gitu dari Vienna. Jaraknya kurang lebih sama kayak Jakarta – Bogor atau Jogja – Solo gitu deh, alias nggak jauh. Udah sampai Vienna, kenapa nggak disekalianin kesana aja, betul tak? 😀 Trivia sedikit: Vienna dan Bratislava adalah dua ibukota negara yang jaraknya paling dekat di dunia loh.

Jadi, ceritanya pagi itu kami pergi ke stasiun Simmering, sebuah stasiun kecil di kota Vienna, karena kereta ke/dari Bratislava bakal berhenti di situ. Sebenarnya keretanya berangkatnya dari stasiun Wien Oostbahnhof sih, tapi berhubung dari hostel kami lebih gampang buat pergi ke stasiun Simmering (tinggal naik subway 1x doank nggak perlu transit-transit segala, huahahaha *males jalan mode on* 😎 ), jadilah kami kesana aja. Dan stasiun Simmering ini stasiun pemberhentian terakhir dari jalur subway itu loh. Jadi ya waktu pagi ini kami naik subway di waktu rush hour yang mana keretanya rame banget penuh orang (di tengah kota) sampe keretanya sepi, hahahaha :D.

Singkat cerita, jam 9.26 pagi kereta tujuan Bratislava berangkat dari stasiun Simmering. Lumayan, keretanya sepi jadi bisa duduk sesuka hati (baca: menguasai beberapa tempat duduk buat diri sendiri, muahahaha 😈 😆 ). Btw, tiket ke Bratislava nggak terlalu mahal ternyata. Tiket pp-nya 14 euro yang berlaku untuk satu kali naik kereta bolak-balik (nggak harus dipakai di hari yang sama) dan tiket ini juga termasuk penggunaan alat transportasi umum di Bratislava loh. Well, singkat cerita, sekitar sejam kemudian keretanya tiba di stasiun Bratislava Hlavná Stanica. Dan langsung terasa deh suasana Bratislava yang beda banget sama negara-negara Eropa yang sudah aku kunjungi selama ini: agak lebih kumuh gimanaa gitu, hehe. Ini nih suasana di stasiun yang menyambut kedatangan kami di Slowakia:

Selamat datang di Slowakia!

Kami lalu naik bus untuk pergi ke pusat kota (males aja ye jalan kaki, lagian naik bus-nya kan gratis dengan tiket kereta kami itu, huahahaha 😆 ). Tujuan pertama kami adalah Kastil Bratislava yang ada di puncak bukit di kota. Kami turun dari bus di sebuah perempatan besar di depan Grassalkovich Palace (sebenarnya waktu itu kami nggak sadar sih kami berada di seberangnya Grassalkovich Palace, yang kami liat malah hotel Crown Plaza yang ada di sisi lain jalan, wkwkw 😆 ). Yak, lalu, berjalanlah kami ke arah Kastil Bratislava itu. Ternyata nggak jauh-jauh amat ya. Nggak kerasa tiba-tiba kami sudah sampai di atas bukitnya, haha :D.

Kami lalu foto-foto di depan kastilnya (ada banyak turis lain juga disitu waktu itu). Masuk ke dalam areanya dan sepertinya koq nggak ada yang menarik ya, cuma ada satu museum gitu yang katanya merupakan museum tentang sejarahnya Slovakia gitu. Lagi pingin ngirit, agak males lah aku masuk museum. Tapi waktu nanya harganya sama penjual tiketnya, koq harganya cuma 1,5 euro ya buat satu orang? Muraaaaahhh!!!! Jadilah kami malah beli tiketnya dan masuk ke museum itu 😆 *tergoda sama harga yang rendah* 😛. Dan tiket masuknya bagus loh. Kami langsung mikir: “Ini orang harga tiket museum murah amat tapi tiketnya segini bagus? Mereka ambil untungnya kecil dong ya?” haha. Lalu, masuklah kami ke museum itu.

Kastil Bratislava
Pemandangan dari Kastil Bratislava menghadap sungai Danube

Begitu masuk, ada satu ruangan kecil yang ada beberapa pajangan (yang aku nggak peduli isinya apa soalnya nggak penting sih, cuma pecahan-pecahan apa gitu). Kami lalu beranjak ke ruang kedua, yang isinya kurang lebih sama. Lalu, kami harus turun tangga di dalam kastil (keren kan) ke ruang ketiga. Isinya juga masih gitu-gitu aja. Lalu, kami berpindah ke ruang keempat, yang juga kecil, yang isinya juga gitu-gitu aja (lagi). Setelah ruang keempat kami harus naik tangga, dan ternyata … kami sudah balik ke pintu masuk lagi!! WHAT THE HELL???? 😕 Apa-apaan ini???? Apa kami melewatkan satu pintu/jalan lain gitu ya? 😕 Langsung deh kami mengulangi lagi rute kami dari ruang satu sampai ruang empat; dan ternyata memang NGGAK ADA JALAN LAIN!! Jadi artinya: ya udah museumnya cuma empat ruangan kecil itu doank!! 😯 Uwaaaaaa!!! Kami merasa tertipuu!!!! *jambak-jambak rambut* 😡 👿 Pantesan aja tiket masuknya cuma 1,5 euro doank. Lha cuma gitu doank museumnya. Ini artinya 1,5 euro itu MUAHALL banget lah!! Makanya saudara-saudara, jangan termakan dengan promosi harga yang “rendah”, karena bisa jadi kualitasnya juga rendah, yang artinya harga segitu juga nggak murah, hahaha 😆 .

Btw, toilet umum di kastil itu mahal banget loh. Masa seorang mesti bayar 80 sen buat ke toilet doank? (sekitar hampir 10 ribu rupiah kan ya tuh). Padahal harga standarnya di Eropa kan 50 sen tuh (tapi aku biasanya teteup nyari yang gratisan sih, huahaha 😆 ). Tapi berhubung kebelet, jadi gimana lagi deh 😦 😥 . Setelah dari kastil itu, kami turun gunung bukit menuju pusat kota.

Kota Bratislava
Kota Bratislava
Gerbang Michael di Kota Bratislava
Ternyata Jakarta itu 10.491 km jauhnya dari Bratislava

Pusat kotanya menarik juga tuh, walau nggak spesial-spesial amat sih. Dan kotanya juga nggak seramai Vienna. Lapar, kami makan siang deh di sebuah square di pusat kota itu. Sebelum berangkat, aku sudah survey dong tentang makanan khas-nya Bratislava. Dan yang aku temukan adalah sebuah menu yang namanya Bryndzové halušky. Namanya eksotis ya? hahaha 😆 . Harus dicoba deh, kapan lagi kan balik ke Bratislava? Dan kami memang menemukan sebuah tempat makan yang menjual menu tersebut. Tapi ternyata masakan ini tuh porsinya kecil banget gitu, jadi aku sama temanku memutuskan untuk memesan satu porsi Bryndzové halušky untuk dibagi dua (kan cuma sekedar mencoba aja), trus kami juga memesan masing-masing satu menu gitu. Aku lalu memilih menu bernama “penne con pollo s kuracim masom, salotkou, cerstvou bazalkou a parmezanovymi hoblinami“, yang mana intinya adalah pasta gitu deh sebenarnya, hahaha 😆 . Rasanya enak juga ternyata.

"Penne con pollo s kuracim masom, salotkou, cerstvou bazalkou a parmezanovymi hoblinami" dan "domace Bryndzové halušky so slaninkou".

Setelah makan siang, kami memutuskan untuk “berburu” patung perunggu yang diletakkan di beberapa penjuru pusat kota. Menurut buku Lonely Planet, ada empat patung perunggu di Bratislava, yaitu: The Frenchman, The Beautiful Ignaz, The Paparazzi, dan The Watcher. Dan kami akhirnya memang menemukan semuanya (dan foto-foto).

Empat patung perunggu di Bratislava
Kota Bratislava
Jembatan Nový Most di Bratislava
Restoran UFO di jembatan Nový Most

Kami lalu keliling-keliling kota aja (yang mana hari itu lagi panas banget). Setelah menyebrangi jembatan Nový Most, kami menemukan sebuah kafe di dekat jembatan yang tempatnya pewe banget buat santai-santai (ada kursi malasnya gitu deh yang menghadap ke sungai Danube dan berada di bawah pohon yang rindang). Harga minuman yang mereka jual juga masih masuk akal. Jadilah kami duduk-duduk santai disana, hahaha :P.

View dari tempat santai-santai di pinggiran sungai Danube

Setelah satu jam duduk-duduk santai, kami lalu berjalan menyusuri sungai Danube. Btw, tahu dong Slowakia itu kan negara yang nggak berbatasan dengan laut ya, jadi mereka nggak punya yang namanya pantai. Tapi kayaknya mereka ingin punya pantai deh, makanya mereka membuat pantai buatan di pinggir sungai Danube. Suasananya kayak gini:

Pantai buatan di Bratislava

Singkat cerita, tiba-tiba kami sudah kembali di pusat kota lagi. Nggak merasa ada yang menarik, kami memutuskan untuk kembali ke Vienna saja. Maka, berjalanlah kami kembali ke Grassalkovich Palace buat naik bus kembali ke stasiun. Sambil nunggu bis, sekalian foto-foto ah di depan istananya, hahaha 😆 :

Istana Grassalkovich

Dan begitulah, kami kembali ke Vienna naik kereta yang berangkat jam 6 kurang dan jam 7 kami sudah kembali di Vienna.

Hari 10 (Jumat, 26 Agustus 2011)

Penerbangan kami kembali ke Belanda dijadwalkan berangkat jam 2an kurang dari bandara internasional Vienna. Makanya pagi itu kami sempetin lah jalan-jalan dikit di Mariahilfer Strasse, jalan utama di Vienna yang terkenal sebagai tempat shopping gitu deh. Aku beli Krugel buat oleh-oleh teman di Belanda dan kami makan pagi di KFC ( 😳 ). Btw, KFC kalo baru buka gitu riweuh (sibuk) banget ya ternyata, hahaha :P.

Jam 11.30, kami kemudian berangkat ke bandara Vienna. Kami tiba disana sekitar jam 12.30an dan langsung check in buat penerbangan kami. Waktu itu cuaca lagi cerah banget dengan suhu sekitar 35an derajat. Nah, lalu diumumkan bahwa penerbangan ke Rotterdam (kami baliknya lewat Rotterdam, nggak lewat Amsterdam. Bagiku yang tinggal di Delft ini enak sih soalnya kan lebih deket pulangnya) akan terlambat sedikit karena di Belanda lagi cuaca buruk (jah, padahal di Vienna lagi puanas dan cerah gitu, haha 😆 ). Tapi akhirnya telatnya cuma 15 menit sih, hmm. Orang sini memang menghargai ketepatan waktu ya. Ada kejadian lucu waktu boarding, aku simpan buat bagian penutup rangkaian posting jalan-jalan ke Austria nanti deh ya :).

Pesawat "Robert van der Vlies"-nya transavia siap terbang ke Rotterdam dari Vienna
Pemandangan kota Rotterdam sebelum mendarat di bandara Rotterdam The Hague

Singkat cerita, lalu kami naik ke pesawat kami, sebuah Boeing 737-7K2-nya transavia dengan kode registrasi PH-XRC yang diberi nama “Robert van der Vlies” oleh transavia. Kemudian, penerbangan dengan nomor penerbangan HV 5292 itu terbang meninggalkan Vienna dengan lepas landas dari landasan pacu 16 bandara internasional Vienna menuju Rotterdam. Sekitar jam 4 sore, kami mendarat di landasan pacu 24 bandara Rotterdam The Hague di Rotterdam. Btw, ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki di bandara ini loh, hehehe :D. Bandaranya ternyata bandara kecil gitu deh, kira-kira mirip lah sama bandara Adisucipto di Jogja.

Bandara Rotterdam The Hague di Rotterdam
Area pengambilan bagasi di Bandara Rotterdam The Hague di Rotterdam

Kemudian kami naik bus untuk kembali ke Delft, dan berakhirlah perjalanan sepuluh hari kami ke Austria (dan Slowakia).

SELESAI.

EuroTrip · Ten Day Trip · Travelling · Vacation

#961 – Austria Summer Trip (Part V)

Cerita sebelumnya: Zilko dan temannya pergi ke Austria dalam rangka liburan musim panas. Mereka telah mengunjungi tiga kota disana: Innsbruck, Salzburg, dan Linz. Kini mereka berada di ibukota negara Austria, Vienna atau Wien.

===

Hari 7 (Selasa, 23 Agustus 2011)

Sarapan kami lebih “bener” hari ini (“bener” dalam arti kami sarapan menu yang Austria banget gitu, hahaha 😆 ). Kami makan pagi di sebuah cafe dan makan Sachertorte, semacam kue coklat khas-nya Vienna. Makan paginya koq dessert gitu? Ya habis gimana lagi ya, yang namanya sarapan ala Eropa itu ya gini deh: seputar roti-roti, dan paling banter sereal, trus kopi, hahaha.

Kue sachertorte di Vienna

Hari ini, tujuan pertama kami adalah Schloss Schönbrunn, sebuah istana (lagi) yang lokasinya ada di bagian barat Vienna. Ngelihat di peta, istana ini gede banget loh. Dan bener aja, memang istananya areanya gede banget. Gedung istananya ukurannya biasa aja sih (maksudnya ya ukurannya masih besar gitu, tapi nggak besar-besar amat yang gimanaa gitu), tapi yang besar banget itu adalah tamannya.

Dan lagi, insiden Vienna Card terulang disini. Diskon yang diberikan oleh kartu pelajar lebih besar daripada diskonnya Vienna Card! hahaha. Btw, tiket masuk istana ini ada beberapa macam. Ada tiket paling murah yang hanya memberi akses masuk ke sebagian ruang di dalam istananya (yang sekarang dijadikan museum); tiket yang agak mahalan dikit tapi bisa melihat seluruh istananya; tiket yang lebih mahal lagi yang bisa memberikan akses ke istana dan beberapa tempat di istana itu (namanya Classic Ticket kalau nggak salah); dan tiket paling mahal yang memberikan akses masuk ke semua tempat di Classic Ticket, plus bisa ikutan kelas masak salah satu dish lokal Vienna. Nah, aku salah mengerti pengertian tiket itu. Aku kira, kalau nggak punya tiket yang minimal selevel Classic Ticket, kita nggak akan bisa masuk ke tamannya. Padahal, foto-foto tamannya di brosur itu bagus banget! Sayang kan kalau nggak masuk tamannya! Jadilah kami membeli yang Classic Ticket. Dan ternyata saudara-saudara, kalau mau masuk tamannya doank mah GRATIS! Nggak perlu tiket. Classic Ticket itu memberikan akses ke beberapa atraksi di tamannya (ada maze, akses naik ke atas sebuah arc, dan juga taman lain yang nggak bisa dimasuki dengan gratis). Jadi, harusnya beli tiket yang paling murah kedua (bisa masuk seluruh istananya) sih udah cukup kali ya sebenarnya (sayang kalau beli tiket yang paling murah, cuma bisa masuk setengah istananya doank, padahal dalamnya bagus tuh. Dan beda harganya juga cuma sekitar 1 euro doank, haha).

Jadi ternyata Schloss Schönbrunn ini dulunya juga merupakan istana keluarga kerajaan Austria, kalau nggak salah buat tempat istirahat kalau pas musim panas gitu. Di dalam istananya bagus, banyak barang-barang peninggalan dan barang-barang seni yang masih dirawat dengan baik. Ada sebuah lukisan resepsi pernikahannya salah satu ratu disana. Nah, ceritanya, lukisan ini butuh waktu empat tahun untuk diselesaikan (gede sih emang lukisannya: empat tahun gitu loh buat satu lukisan doang!). Sewaktu lukisan ini sedang dibuat, Mozart, yang masih berumur 6 tahun, diundang ke istana itu buat konser disana (gile ya, anak umur 6 tahun sudah konser euy! Di depan raja/ratu lagi! 😯 ). Setelah konser itu, ratunya nge-fans berat sama Mozart. Oleh karenanya, atas permintaan ratu, lukisan itu akhirnya di-“edit” sedikit dengan cara menyelipkan Mozart sebagai satu tamu undangan resepsi pernikahan itu. Padahal aslinya sih, sewaktu resepsi pernikahan yang jadi setting lukisan itu berlangsung, Mozart nggak ada disana (karena Mozart belum dikenal sewaktu itu).

Di istana ini kami juga dipinjami audio guide gratis. Lumayan, jadi tahu sejarahnya. Dan menariknya, audio guide Schloss Schönbrunn ini menjelaskan sejarah kerajaan Austria (dan hubungannya dengan kerajaan-kerajaan di sekitarnya) dengan lebih men-detail loh. Yang aku ingat banget adalah ketika di audio guide dijelaskan bahwa lukisan di salah satu ruangan itu adalah lukisannya Marie Antoinette sewaktu ia masih remaja dan tinggal di istana itu. Aku heran dong, seingatku, Marie Antoinette ini kan ratunya Perancis yang glamor itu kan? 😕 Lah, ngapain dia tinggal di istananya keluarga kerajaan Austria waktu masih kecil?? 😕 Lalu, baru sadar lah aku bahwa ternyata memang Marie Antoinette ini sebenarnya anak dari Raja Francis I dan Ratu Maria Theresa dari kerajaan Austria. Ia kemudian dinikahkan dengan Raja Louis XVI-nya Perancis supaya hubungan diplomatik Austria dan Perancis terjalin dengan erat. Btw, kasihan juga ya para putri-putri keluarga kerajaan ini. Kebanyakan mereka tuh menikahnya atas dasar hubungan diplomatik kerajaan loh. Udah gitu, orangtuanya ada yang pilih kasih juga loh. Ceritanya, Ratu Maria Theresa ini punya beberapa anak perempuan. Nah, ada satu putri yang memang merupakan putri kesayangannya. Jadi, ketika putri-putrinya yang lain dinikahkan atas dasar hubungan diplomatik negara (salah satunya ya Marie Antoinette ini), hanya si putri kesayangannya ini yang diizinkan menikah dengan pria yang dicintainya. 😯 Ribet juga ya…

Schloss Schönbrunn
Schloss Schönbrunn

Anyway, setelah beres dari istananya, kami jalan-jalan di tamannya. Tamannya bagus loh, besar banget, dan karena waktu itu cuaca lagi cerah banget (seperti biasanya), jadi suasananya itu: PANAAASSS banget!! Memanfaatkan Classic Ticket yang kami pegang itu, kami memasuki semua atraksinya. Atraksinya menurutku biasa saja sih. Kami naik ke Gerbang “The Gloriette” yang ada di atas bukit. Pemandangan dari atasnya ya gitu aja sih menurutku. Lalu kami masuk ke taman yang isinya labirin. Ini lumayan seru sih soalnya aku mencoba masuk ke labirin tanpa membawa peta (banyak pengunjung labirin yang masuk ke labirin sambil bawa peta. Nggak seru lah ya kalau gitu, kan jalur yang benernya langsung ketemu, hahaha). Di tengah labirin itu ada semacam dek kayu yang dibuat di atas pohon gitu. Di bawah pohon itu ada “The Harmony Stones”: dua batu gitu, satu batu “cowok”, satunya batu “cewek”. Konon, kalau kita memegang batu yang sesuai dengan jenis kelamin kita, keharmonisan akan tertransfer ke dalam diri kita, huahahaha 😆 . Ya udah aku pegang aja batunya, siapa tahu beneran kan, hahaha 😆 . Kemudian kami masuk sebuah area taman yang nggak dibuka buat umum (tapi boleh dimasuki oleh pemegang Classic Card). Tamannya lumayan sih. Lumayan adem juga soalnya jalannya di bawah terowongan tanaman gitu, hehehe :D.

Schloss Schönbrunn
Labirin di Schloss Schönbrunn, terlihat dari dek di tengah Labirin

Ternyata, tiga jam sudah waktu kami habiskan di Schloss Schönbrunn. Memang area istana ini besar banget deh. Tujuan kami selanjutnya adalah KunstHausWien, sebuah museum yang didisain oleh Friedensreich Hundertwasser, seorang seniman asal Vienna yang sangat pro-lingkungan. Rumahnya disainnya unik tuh. Dan filosofinya Hundertwasser ini adalah ia sangat benci sama “garis lurus” (dalam konteks yang luas ya, bukan cuma garis yang lurus gitu maksudnya). Makanya ia nggak suka konsep apartemen yang “standar” dan “terkotak-kotak”. Ia juga menentang konsep lantai yang datar. Menurutnya, lantai yang bergelombang itu bagaikan melodi untuk kaki. Makanya di KunstHausWien ini lantainya juga nggak datar, tapi malah bergelombang gitu deh: yang mana bikin aku tersandung beberapa kali, wkakakaka 😆 . Dan kalau kita refleksikan lagi, pandangannya ini “dalam” banget loh. Kadang manusia kan “terkungkung” dalam “kelurusan” itu semua. Bah, jadi dalam gini ngomongnya, haha :P. Btw, pandangannya dia yang aku kagumi sekali itu adalah pandangannya akan lingkungan. Ia sangat pro lingkungan dan peduli pada alam. 😀

KunstHausWien di Vienna

Singkat cerita, setelah dari KunstHausWien, kami pergi ke areanya Wiener Riesenrad, sebuah ferris wheel yang sangat terkenal di Austria. Kami nggak naik sih, males soalnya harus bayar, hahaha 😆 . Btw, ferris wheel ini dikunjungi oleh The Amazing Race 18 loh. Di sekiatrnya ferris wheel ini ada taman bermain gitu, semacam Dufan lah. Bedanya, masuk area taman bermainnya gratis loh. Jadi kita bayarnya ya ketika kalau masuk ke atraksinya aja.

Ferris wheel Wiener Riesenrad di Vienna

Setelah dari sana, kami kembali ke pusat kota buat makan malam. Aku memesan sebuah ayam panggang ala Vienna. Jadi ini adalah ayam panggang yang sausnya itu ala Vienna gitu, dan makannya dengan pasta. Enak loh, hehe. Sausnya mirip-mirip rasa kari gitu deh, hehe. 😛

Ayam panggang ala Vienna. Enak loh 😀

Hari 8 (Rabu, 24 Agustus 2011)

Pagi ini, kami pergi ke museum Belvedere. Belvedere ini terkenal banget karena karyanya Gustav Klimt ada disana. Karya seni yang ada di dalamnya nggak cuma karyanya Klimt aja sih, ada banyak. Btw, di Belvedere ada dua bangunan: Upper Belvedere dan Lower Belvedere. Kami masuk yang Upper Belvedere saja karena yang karya terkenalnya adanya di Upper Belvedere ini, sementara Lower Belvedere dipakai untuk pameran temporer.

Taman di areanya Belvedere

Setelah dari Belvedere, kami kembali ke area Hofburg untuk masuk di perpustakaannya. Nah, menjawab pertanyaan di posting bagian sebelumnya tentang mengapa sih koq aku pengen banget masuk ke perpustakaannya? Jawabannya adalah karena perpustakaannya itu kayak gini:

Ruangan Prunksaal di Perpustakaan Nasional Vienna
Ruang Prunksaal di Perpustakaan Nasional Vienna

Ya ya ya, itu perpustakaan loh!! Keren banget ya! hahaha 😀 Btw, perpustakaan ini juga dikunjungi oleh The Amazing Race 18 tuh. Memang sih buku-bukunya nggak bisa dipegang (apalagi dibaca) soalnya gedung perpustakaan ini sekarang berfungsi sebagai museum sebenarnya. Tapi tetep aja ya, ngebayangin bahwa beberapa ratus tahun lalu ketika perpustakaannya masih buka, pasti keren banget!

Nggak banyak sih jadwal kami siang itu. Dan memang jam 5an sore kami kembali ke hostel karena malamnya kami akan nonton konser musik klasik. Awalnya aku agak malas sih nonton konser ini, walau sebenarnya Vienna kan terkenal ya akan konser dan operanya, soalnya harganya mahal sih: tiket paling murahnya 42 euro. Eh tapi dengan kartu pelajar kami dapat diskon 50% loh. Aku pikir ya sudah lah, kapan lagi ke Vienna? Toh Vienna terkenal akan konsernya, masak nggak nonton? Sayang juga kan, hehe. Jadilah akhirnya aku setuju buat nonton konser. Btw, ini konser musik klasik gubahannya Mozart.

Denger-denger sebelumnya, nonton konser musik klasik di Vienna itu berkelas banget loh. Ada yang mewajibkan penonton pria untuk mengenakan tuksedo dan penonton wanita memakai dress pesta gitu. Konser yang kami tonton ini (untung) nggak mewajibkan dress code tertentu sih. Tapi teteup dong ya, aku juga nggak pakai baju santai gitu. Awalnya aku mau pakai baju biasa (kemeja) yang agak casual. Tapi dipikir-pikir lagi, kayaknya koq penampilannya kurang elegan gitu ya? Ya sudah akhirnya aku memakai kemeja rapi lengan panjang (yang memang aku bawa), jadi ya penampilannya setidaknya rada resmi sedikit lah gitu, walau aku cuma pake sepatu sport sih, soalnya sepatu pantofelku nggak aku bawa, haha.

Lalu, tibalah kami di gedung konsernya. Gedungnya rame banget loh. Rame sama turis yang mau foto-foto aja sih. Kami lalu bisa masuk ke area buat nonton konsernya (turis biasa dan rakyat jelata tanpa tiket nggak bisa masuk area ini :P, mereka cuma bisa foto-foto di hall masuknya doank, haha). Begitu masuk ruangan buat nonton konser itu, aku KAGET banget soalnya ternyata tempat konsernya kayak gini:

Gedung tempat nonton opera/konser
Gedung tempat nonton opera/konser dan panggungnya

Uwaaaaaa!!!!! Ini kan tempat konser mewah yang ada di TV-TV itu kan? Tempat konser “kelas atas” buat orang-orang kaya gitu. Langsung deh atmosfer tempat konsernya kerasa banget, dan “memaksa” penonton harus berlaku dengan elegan. Eh, tapi tetep dong ya kami foto-foto dulu di boks kami sebelum konsernya mulai, mumpung penonton lain di boks kami itu belum datang, huahahaha 😆 .

Beberapa waktu kemudian penonton lain yang seboks dengan kami tiba. Ada suami istri bule umur 60an yang ngomong pakai bahasa Inggris yang aksennya Amerika banget, tapi ketika ditanya dari mana ternyata mereka dari Jamaika loh :shock:, lalu ada cewek yang datang dari Portugal.

Yang konser musik

Singkat cerita, dimulailah konser itu. Ini dua cuplikan konsernya:

Konsernya berlangsung selama dua jam (dengan jeda lima belas menit di tengah), dan memang keren banget!! Worth it banget deh pokoknya! Nggak heren deh mengapa Vienna terkenal akan konser dan operanya!

BERSAMBUNG…

Selanjutnya: Slovakia dan perjalanan kembali ke Belanda.

EuroTrip · Ten Day Trip · Travelling · Vacation

#960 – Austria Summer Trip (Part IV)

Cerita sebelumnya: Zilko dan temannya pergi ke Austria dalam rangka liburan musim panas. Setelah jalan-jalan di dua kota di sana, Innsbruck dan Salzburg, kini mereka bergerak menuju ibukotanya Austria: Vienna.

===

Hari 5 (Minggu, 21 Agustus 2011)

Karena sudah nggak ada lagi tempat di Salzburg yang bisa dikunjungi, kami memutuskan untuk berangkat dari Salzburg agak pagian. Untuk perjalanan ke Vienna ini, kami akan menggunakan tiket Einfach-Raus tiket, sebuah tiket yang mengizinkan dua sampai maksimal lima orang untuk bepergian naik kereta lokal bareng-bareng dengan harga per tiket 28 euro, dan ini berlaku sehari saja (jadi kalau perginya berlima ya jatuhnya lebih murah, yaitu 28 dibagi 5. Berhubung perginya berdua aja, jadi kami per orang kena harga 14 euro. Masih oke banget lah dibanding tiket standar ke Vienna (dengan kereta cepat) yang harganya sekitar 45 euro seorang, hahaha :D).

Sebelum berangkat kami memang sudah “merelakan” satu hari untuk habis di jalan karena total waktu perjalanan ke Vienna ini sekitar tujuh jam dengan naik kereta lokal. Nah, supaya setidaknya hari ini nggak terlalu terbuang “percuma” gitu aja, di jalan kami memutuskan untuk mampir sebentar di kota Linz. Toh untuk ke Vienna kami harus ganti kereta dua kali, yaitu di Linz dan St. Valentin. Waktu ganti kereta yang pertama, sekalian aja dong ya jalan-jalan di Linz, dan perjalanan lanjutannya akan kami tempuh dengan kereta selanjutnya. Alasan kami ya karena Linz kan kota yang lumayan besar di Austria, jadi ya setidaknya harusnya menarik lah. Dan baca-baca, di sana ada rumahnya Johannes Kepler loh. Tahu kan? Itu loh, ilmuwan yang terkenal dengan hukum pergerakan planetnya (Hukum Kepler). Lupa? Percaya deh, setidaknya pas SMP pasti kita disuruh belajar teorinya di pelajaran Fisika, hahaha 😆 .

Kami bangun pagi hari itu karena berencana naik kereta jam 8.39 pagi dari Salzburg. Singkat cerita, jam 11an kurang tibalah kami di Linz. Dan bagaimanakah kesan pertama kami akan Linz? Kesannya adalah: “Ni kota sepi amat sih kayak kota mati aja” 😯 😆 . Habis gimana lagi, beneran sepi banget loh. Padahal ngelihat penampilannya itu ya memang kayak kota besar gitu, tapi sepi banget. Kami duga sih kesepian ini disebabkan kami yang datangnya pas hari Minggu, hahaha 😆 .

Linzer Torte
Main Square di Linz, Austria

Menurut buku Lonely Planet yang dibawa temanku, makanan khasnya Linz adalah Linzer Torte, semacam kue gitu deh. Kami kemudian menemukan satu cafe yang buka yang menjual kue ini. Jadi, mampirlah kami disana. Ternyata rasanya ya gitu sih, biasa saja menurutku, hahaha :D. Selanjutnya, jalan-jalan lah kami keliling pusat kotanya. Menarik sih bangunannya, tapi karena sepi, atmosfernya ya jadi kurang kerasa gitu yah, hehe. Btw, akhirnya kami menemukan rumahnya Kepler loh. Rumahnya ternyata ada di gang gitu, dan tulisannya sekarang jadi salon, haha (eh, maksudnya salon ini kata dalam bahasa Jerman loh. Jadi mungkin artinya beda sama salon dalam bahasa Indonesia, haha).

Bekas rumahnya Johannes Kepler

Nggak nemuin apa-apa yang menarik, berjalanlah kami kembali ke stasiun, di tengah teriknya sinar matahari. Bener deh panas banget, hahaha. Kami tiba di stasiun jam 1 siang. Kereta baru berangkat jam 2, jadilah kami mampir di toko buku bentar. Aku iseng baca-baca majalah, haha.

Singkat cerita, berangkatlah kereta kami ke St. Valentin yang ditempuh dalam waktu 25 menit saja (dekat ternyata). Setelah menunggu di St. Valentin selama hampir satu jam, kami naik kereta lanjutan kami ke Vienna. Di jalan pemandangannya lumayan bagus juga. Di beberapa tempat nampak beberapa kastil gitu (sayang gak sempat foto soalnya kameraku nggak ready sih. Jadi pas kamera udah siap memfoto, moment-nya udah lewat, 😦 ). Sekitar jam 5.30 sore, tibalah kami di Wien Westbanhof alias Stasiun Kereta Api Vienna Barat.

Btw, Wien itu nama aslinya Vienna yah (dalam bahasa Jerman). Vienna kan sebenarnya namanya dalam bahasa Inggris gitu. Jadi mungkin dari sini dan seterusnya mungkin aku akan agak kecampur-campur gitu nulisnya antara Wien dan Vienna, tapi sebenarnya maksudnya sih sama aja, hahaha :D.

Kami lalu berjalan ke hostel kami, check in, dan kemudian mencari makan malam. Dan tahukah dimana makan malam kami? Jawabannya: di KFC!! wkakakakaka 😆 Habis gimana ya, pas jalan itu aku ngelihat plang-nya KFC dan tiba-tiba koq jadi pengen KFC ya?? hahaha 😛 Eh btw, harga KFC-nya lebih murah daripada KFC di Belanda loh, bahagia deh saya (tapi masih lebih mahal daripada KFC di Indonesia sih, hehe).

Setelah makan malam itu, kami pulang ke hostel untuk merencanakan waktu kami di Vienna. Kan di Vienna ada banyak banget ya lokasi yang mau kami kunjungi. Makanya deh malam itu kami harus merencanakan dengan matang jadwal kami di Vienna: mencari lokasi-lokasi itu di peta, meng-cluster-nya sesuai lokasi (jadi yang satu cluster kan bisa dikunjungi dalam hari yang sama), dan menentukan cluster mana kami kunjungi di hari apa, dsb. Ternyata nggak terlalu ribet juga, karena kebanyakan lokasi ya tersentralisasi di pusat kota, walau memang ada beberapa yang agak terpencar sih.

Hari 6 (Senin, 22 Agustus 2011)

Setelah sarapan di McD (ya ya ya, di McD, wkwkwkw 😆 😆 ), mulailah petualangan kami hari itu. Tujuan pertama kami adalah Hofburg yang lokasinya ada di pusat kota. Hofburg ini semacam istana gitu yang areanya buesarr banget. Banyak banget deh gedung-gedungnya disana. Ada yang jadi museum kerajaan, museum seni, museum sejarah alam, perpustakaan nasional, dll. Hofburg ini akan kami kunjungi dalam dua hari. Selain karena banyak yang bisa dikunjungi, salah satu tujuan utamaku: perpustakaan nasionalnya tutup pas hari Senin. Padahal aku kan pengen banget ke perpustakaannya! Begitu deh. Kalo pada bingung dan mikir: “Ngapain sih, sampe segitunya ke perpustakaan doank?“. Yah, jawabannya bisa ditunggu posting selanjutnya yang hari Rabu ya 😉

Hofburg di Vienna
Ini bagian perpustakaan nasional dari Hofburg

Btw, sehari sebelumnya, kami beli Vienna Card. Kami pikir kartu ini bakal berguna, belajar dari pengalaman Innsbruck Card dan Salzburg Card kan. Walau memang penawarannya nggak semenarik dua kartu itu yang memberikan akses GRATIS ke banyak tempat; Vienna Card ini hanya memberikan DISKON masuk ke tempat-tempat di Vienna. Harganya yang cuma 18,5 euro untuk 72 jam dan ini termasuk akses transportasi dalam kota, kami rasa ini tawaran yang menarik (kalau beli kartu transport-nya doang, yang 72 jam harganya sudah 13 euro loh).

Hofburg di Vienna
Di depan museum di Hofburg

Pagi itu kami keliling-keliling dulu soalnya kan beberapa gedungnya belum buka. *Btw, beneran deh, jadi mikir: apa kami ini kerajinan ya bangunnya kepagian gitu? Jadi pas jalan-jalan sampe tempat tujuannya belum buka gitu? wkakakaka 😆 *.  Jam 10an, kami masuk ngantri ke museum kerajaannya (museum ini terdiri dari tiga bagian: ada museum tempat penyimpanan peralatan makan yang dipakai keluarga kerajaan, museum Sisi (salah satu ratunya Austria yang terkenal akan kecantikannya dan ke-stress-an yang ia alami selama hidupnya), dan museum tempat tinggal rajanya Austria). Dan di museum ini kami dipinjami audio guide gratis. Lumayan banget jadi bisa tahu cerita-ceritanya disana.

Bagian pertama: museum tempat peralatan makan keluarga kerajaan. Peralatan makannya bagus loh, piring, gelas, sendok, garpu, dan pisaunya dibuat dari emas, perak, dan diukir-ukir gitu. Mana ada banyak hiasannya pula, haha. Dan ada banyak banget macamnya, sampe ada kali 20 ruangan buat menyimpan itu semua, hmmm. Keren deh, hahaha.

Salah satu koleksi tempat lilin buat jamuan makan kerajaan

Bagian kedua: museum Sisi. Jadi Sisi ini nama panggilan akrabnya salah satu ratu Austria: Elisabeth. Ia dilahirkan di Bavaria sebagai salah satu putri keluarga berdarah biru disana, dan trus dinikahi sama raja Franz Joseph I. Jadilah ia permaisuri di Austria. Ceritanya menarik deh. Jadi digambarkan bahwa walau ia permaisuri, tapi ia jarang banget mau “melaksanakan tugas politiknya” sebagai permaisuri. Dan digambarkan pula bahwa kecantikan dan wibawanya membantu kerajaan Austria untuk meluaskan wilayahnya pada waktu itu. Sayang, setelah beberapa insiden (yang melibatkan beberapa anaknya meninggal karena penyakit, dan beberapa insiden lainnya), ia jadi depresi berat seumur hidupnya. Karena depresi, ia tambah jarang lagi dong bergelut di ranah politik. Ia menyalurkan rasa depresinya itu dengan berkeliling-keliling. Dan suatu saat di Geneva (sekarang ada di Swiss), ketika ia sedang berlibur kesana, ia dibunuh dong sama seorang pembunuh beraliran anarkis dari Italia. Begitulah…

Bagian ketiga: museum tempat tinggal keluarga kerajaan. Komentarku: tempat tinggalnya bagus banget ya, mana gede lagi. Tapi untuk level keluarga kerajaan gitu, raja Franz Joseph I itu termasuk “rendah hati” loh. Ia nggak mau tempat tinggalnya didekor dengan mewah dan glamor banget gitu.

Total, kami menghabiskan waktu lebih dari satu setengah jam di museum ini. Lumayan lama juga ya, hahaha.

Gedung Museum Sejarah Alam di Vienna

Setelahnya, kami masuk ke museum sejarah alam. Aku sih sebenarnya yang tertarik masuk museum ini, karena di dalamnya ada fosilnya T-Rex loh! Nah, dari museum inilah kami mulai menduga bahwa jangan-jangan Vienna Card kami tuh nggak terlalu berguna. Mengapa? Karena dengan Vienna Card kami bisa dapat diskon 20% untuk tiketnya. Lumayan sih. TAPIII, dengan kartu pelajar dan karena kami masih di bawah 27 tahun, kami bisa dapat diskon 50% dong, hahaha. Jelas kami milih pakai kartu pelajar lah ya. Anyway, lalu masuklah kami ke museum itu. Dan ternyata ya, pas kami berkunjung itu, fosil dinosaurusnya lagi dipindahkan ke tempat lain: alias waktu itu nggak ada fosil dinosaurusnya!! Arrrrrrggggggghhhhhh!!!! 😡 👿 😡 Sebaaaal!! Aku kesana kan mau liat dinosaurusnya, masak dinosaurusnya malah nggak ada? Nyebelin banget kan??

Dinonya kemana ini???

Setelahnya, kami berjalan ke museum Albertina dan masuk dengan membayar 7 euro. Dan aku menyesaaal! Di dalamnya gitu-gitu aja. Yah, mungkin memang aku yang nggak terlalu memahami dan menikmati seni kali yah. Tapi gimana coba, masa ada ya lukisan yang namanya “Black on Black” dan lukisannya itu berupa kanvas yang seluruhnya dicat warna hitam dan ditaruh di pigura hitam. Udah, gitu doank!! 😯 😕 :shock:!! Huah, apa maksudnya ini??? hahaha 😆 .

Ya gitu deh, lalu kami berjalan ke Katedral St. Stephen di pusat kota. Sambil jalan-jalan di kotanya gitu. Lalu, kami bergerak menuju bekas rumahnya Sigmund Freud. Tahu kan Sigmund Freud? Itu loh, ahli psikologi yang terkenal banget, hehehe. Jadi rumahnya kan ada di Vienna tuh, dan sekarang rumahnya dijadiin museum. Masuklah kami kesana. Btw, Sigmund Freud pas sekolah itu pintar ya. Nilai ujiannya aja kayak gini:

Nilainya Sigmund Freud pas sekolah

Tuh kan? hahaha 😆 .

Bekas rumahnya Sigmund Freud di Vienna, sekarang jadi museum

Dan begitulah hari pertama kami di Vienna. Btw, malam itu, karena kehabisan pakaian, aku harus laundry di hostel deh (aku nggak bawa banyak baju, hahaha). Laundry itu maksudnya kita beli koin buat laundry trus kitanya yang nyuci sendiri pake mesin cuci loh, jadi bukannya ada tukang cuci dari hostel, hahaha. Nah, mesin pengeringnya itu ternyata payah banget (pantesan mesin pengeringnya gratis). Baju-bajuku yang sudah kucuci nggak kering-kering tuh setelah aku masukin mesin pengering selama hampir 1,5 jam! Payah banget kan!? Jadilah akhirnya aku pakai cara tradisional aja: aku jemur aja deh bajuku di kamar semalaman, hahaha. Alhasil malam itu kamarku terlihat seperti ini:

Mesin pengering nggak bekerja dengan baik, jadilah kamar tempat jemuran.

BERSAMBUNG …

Selanjutnya: more of Vienna.

EuroTrip · Ten Day Trip · Travelling · Vacation

#957 – Austria Summer Trip (Part III)

Cerita sebelumnya: Zilko dan temannya pergi ke Austria dalam rangka liburan musim panas. Setelah berkeliling Innsbruck selama dua hari, kini mereka berada di Salzburg.

===

Hari 4 (Sabtu, 20 Agustus 2011)

Setelah bangun pagi (pagi dalam arti sebenarnya: jam 7 pagi, huahaha) dan siap-siap, kami berangkat dari hostel untuk mencari sarapan (harga hostelnya nggak termasuk sarapan nih). Dan ternyata ya saudara-saudara: kayaknya orang Salzburg itu pemalas-pemalas deh. Masa jam 8 pagi gitu suasana kotanya masih sepi sih? huahaha 😆 *apa kami aja yang kerajinan ya? hahaha*. Akhirnya nemu satu cafe yang sudah buka dan sarapanlah kami disana. Btw, sarapannya ya sarapan ala Barat ya: roti-roti gitu. Tapi aku pesan satu salad sih, dan saladnya juga salad dingin, haha.

Setelah sarapan, berangkatlah kami ke tujuan pertama hari itu: Schloss Hellbrunn. Istana ini menarik bagi kami konon karena Paviliun “Sixteen Going on Seventeen” yang terkenal yang dipakai di Sound of Music itu ada disana. Di samping itu, istananya sendiri memang menarik sih, haha. Nah, lokasi istana ini berada agak di luar kota Salzburg. Kami naik bus kesana dan waktu yang dibutuhkan adalah sekitar 20 menit deh sekali jalan. Anyway, singkat cerita, tibalah kami disana. Teteup dong, dengan Salzburg Card yang kami miliki itu, masuknya gratis, huahahaha.

Waktu itu, ada guided tour yang akan dimulai beberapa menit setelah kami masuk area kastilnya. Berhubung gratis, ikutlah kami di guided tour itu masuk ke area “jeux d’eau” alias “watergames” dari istana ini (dan kayaknya semua yang masuk area ini ya ikutan guided tour ini deh. Soalnya kalau dipikir-pikir, nggak asik sih kalau masuk sana nggak ikut guided tour ini. Kenapa? Ya, teruskan bacanya ya! :D).

Pintu masuk Waterpark di Schloss Hellbrunn

Ternyata, watergames ini bukan area yang diisi permainan air gitu, tapi adalah area istana yang isinya adalah: JEBAKAN-JEBAKAN air! Jadi ceritanya, dulu keluarga kerajaan yang tinggal di istana itu membuat jebakan-jebakan itu untuk ngerjain tamu undangan (buset deh iseng amat ya keluarga kerajaannya 😯 ). Ada satu meja makan terbuat dari batu yang (tentunya) dikelilingi kursi-kursi dari batu juga. Nah, dari kursi-kursi ini, kalau mekanisme jebakan dinyalakan, bakal tersemprot air keluar yang membuat yang duduk di kursi itu basah. Di sekeliling meja itu juga akan tersemprot air keluar. Hanya ada satu kursi yang nggak ada jebakannya: kursi buat yang punya istana itu (ya iya lah ya 😆 ). Selain itu, di sepanjang area ini, banyak juga jebakan-jebakan lain. Di area yang nampak “aman-aman saja” juga ada jebakannya loh. Pengunjung (termasuk saya) yang sedang berjalan dengan riangnya tiba-tiba aja disemprot air dari patung kepala rusa! Mana nyangka kepala rusanya bisa nyemprot air? hahaha 😆 . Banyak pengunjung yang basah karenanya (terutama anak kecil, mereka masih lugu sih, jadi nggak bisa menerka kira-kira dimana jebakan selanjutnya berada. Kalo orang dewasa kan udah bisa menerka-nerka gitu kan ya, muahaha 👿 ).

Jebakan nomer 1: meja makan
Jebakan nomer sekian: patung kepala rusa
Jebakan nomer sekian: terowongan air mancur

Nah, jebakan-jebakan ini dibuatnya sekitar EMPAT RATUS TAHUN yang lalu 😯 . Yup, Anda nggak salah baca: 400 tahun loh! Hebat ya orang-orang sini, hal-hal seperti ini beneran dirawat sampe umur 400 tahun juga mekanismenya masih berjalan dengan baik. Oleh karenanya, mekanismenya juga masih mekanisme manual gitu. *iya lah ya, 400 tahun lalu kan sensor otomatis masih belum ditemukan, hahaha :lol:*. Artinya, kalau nggak ikutan guided tour yang ada guide-nya, ya mekanisme jebakannya nggak akan nyala. Kan nggak seru lah ya kalau masuk sana dan atraksinya nggak dijalankan, hahaha. Makanya kalau kesana mendingan ikutan guided tour-nya. Toh ini gratis juga, haha.

Paviliun "16 Going on 17" yang dipakai di Sound of Music

Setelah dari waterpark itu kami jalan-jalan mengelilingin Schloss Hellbrunn. Ada taman yang besar banget yang cukup indah, sampai-sampai ada dua pasangan yang lagi foto-foto prewed disana. Btw, ternyata prewed itu nggak cuma ngetren di Indonesia aja ya, hahaha. Dan akhirnya kami menemukan juga Paviliun “Sixteen Going on Seventeen” itu. Dan saudara-saudara, kalau nyari paviliun ini, jangan expect yang tinggi-tinggi ya. Paviliunnya sebenarnya cuma paviliun biasa aja gitu. Di dalamnya juga nggak ada apa-apa, cuma bangku-bangku doang. Cuma memang sih penampilannya dari luar ya memang terkenal karena film Sound of Music itu, haha. Setelah foto-foto disana, kami memasuki gedung istananya yang sekarang dijadikan museum. Istananya bagus juga tuh. Kami bisa meminjam audio guide dengan gratis, jadi ya lumayan lah bisa ngerti apa isi istananya dan sejarahnya.

Di dalam istana Hellbrunn

Kemudian, kami berkeliling taman di sekitar istana itu. Karena nggak ada apa-apa lagi yang menarik, kami memutuskan untuk meninggalkan tempat ini. Tujuan kami selanjutnya adalah Untersberg. Seperti di Innsbruck, Untersberg ini ya adalah gunung-gunung gitu dan naiknya pakai kereta gantung juga (ogah aja kalau mesti manjat sendiri). Karena gratis kalau pakai Salzburg Card, pergilah kami kesana, huahaha 😆 . Nah, beginilah pemandangan dari kereta gantung ketika kereta gantung akan berangkat dari stasiun di bawah:

Pemandangan dari kereta gantung ketika baru akan naik

Lalu, di jalan terlihat pemandangan seperti ini:

Pemandangan dari kereta gantung di tengah jalan. Terlihat ada dua menara kereta gantung.

Pada bisa lihat menara kereta gantungnya kan? Ada dua menara tuh. Dan aku kira setelah menara kedua kami sudah sampai di stasiun atas. Ternyata, itu SALAH. Setelah menara kedua, masih butuh beberapa menit untuk sampai stasiun di atas. Dan waktu itu, pemandangannya setelah menara kedua itu berubah menjadi kayak gini:

Pemandangan dari kereta gantung setelah menara kedua: kabut/awannya tebal! Keren!!

Woooow! Keren kan! Suasananya mistis-mistis gimanaa gitu. Bener deh kayak di film-film thriller. Kereta gantungnya melewati kabut (atau awan ya?) yang tebal banget sampai-sampai jarak pandangnya cuma paling 5 meter-an. Makanya kadang agak kaget juga soalnya tiba-tiba dari kabut keluar batu karang besar bagian dari gunung itu jadi seakan-akan kereta gantungnya akan nabrak batu itu *untungnya engga, haha*.

Di atas, pemandangannya bagus juga. Cuma ya mirip-mirip lah sama pemandangan yang di Innsbruck. Dan menurutku yang di Innsbruck masih lebih bagus sih, soalnya gunung-gunungnya terlihat lebih banyak. Btw, pemandangan di atas sana terlihat seperti ini:

Pemandangan di Untersberg
Pemandangan di Untersberg
Salah satu puncak di Untersberg
Pemandangan di Untersberg

Btw, di atas ada restoran yang harganya nggak mahal loh. Kami cukup kaget soalnya di tempat-tempat seperti itu biasanya harga makanan kan mahal banget ya. Ini enggak loh, harganya standar banget. Aku pesan schnitzel untuk makan siang, hehe.

Agak sorean dikit, kami turun ke bawah dan kembali ke kota Salzburg. Di kota, bingunglah kami akan tujuan selanjutnya karena tujuan utama sudah terkunjungi semua. Ya sudah akhirnya kami pergi ke Mönchsberg soalnya disana ada bukit dan disebutkan ada lift. Kami kira lift-nya itu lift apaan gitu yang spesial, ternyata cuma lift biasa doank, zzz. Disana ada museum seni modern. Dan karena dengan Salzburg Card masuknya gratis, ya sudah kami masuk saja. Ternyata seni modern itu lebih menarik dari bayanganku lho. Btw, kami nggak boleh foto-foto di dalamnya makanya nggak ada fotonya nih, hehe.

Pemandangan kota Salzburg dari Mönchsberg

Pada tahu Harry Potter kan ya? Pasti tahu dong kalau di dunia sihirnya Harry Potter itu kalau kita ambil foto, di fotonya itu obyek yang difoto juga bisa bergerak-gerak gitu? Nah, di salah satu pameran di dalam museum itu: ada pameran yang seperti itu! Jadi ada beberapa foto atau gambar gitu yang orangnya atau obyeknya bisa bergerak-gerak gitu, haha. Keren ya! Ternyata foto kayak gitu nggak cuma ada di dunia sihir aja, hehe. Triknya sederhana sih, mereka cuma pakai layar TV aja untuk menayangkan foto itu. Lalu, di pameran lain ada karaoke box. Pertama kirain apaan, ternyata karaoke box beneran tapi lagu-lagunya itu lagu dari Korea. Bingung deh aku maksudnya apa :roll:. Kadang seni memang sulit dimengerti, hahaha 😆 . Dan karena agama Katolik itu pengaruhnya di Eropa lumayan kuat, ada pameran yang mana ada banyak lukisan-lukisan yang berdasarkan cerita di kitab suci. Lukisan-lukisan itu sih bercerita andaikata Yesus itu hidup di zaman sekarang. Yesusnya digambarkan masih memakai pakaian ala zaman waktu ia masih hidup dulu; tapi lainnya ya persis kayak sekarang ini. Jadi lucu juga. Ada parodinya lukisan “The Last Supper“, lalu tentang cerita “Lima Roti dan Dua Ikan”, dan cerita ketika Yesus mengampuni dosa seorang pelacur. Sangat menarik deh pokoknya! 🙂 Lalu, ada juga satu ruang pameran yang merupakan rekonstruksi apartemen tempat kejadian terorisme di Jerman dimana banyak orang dibunuh oleh terorisnya disana. Ada bekas darahnya termasuk sampai bau darahnya juga. Huek, serem pokoknya ngeliatnya! Kayak beneran!! 😯 Dan lain sebagainya.

Setelah sekitar satu jam disana. Kami lalu berkeliling nggak jelas keliling Salzburg. Kami nyaris pergi ke Leopoldskron, salah satu tempat syutingnya Sound of Music juga, tapi nggak jadi, haha. Akhirnya kami mampir di salah satu cafe di Altstadt untuk makan makanan lokalnya sana yang terkenal: Salzburg Nockerl. Salzburg Nockerl ini tuh dessert gitu, tapi unik karena rasanya seperti terbuat dari busa, dan di bawahnya ada selai berry-nya. Oke deh! Dan satu porsi nockerl ini bukan buat satu orang ya, besaar! haha.

Salzburg Nockerl

Dan begitulah, berakhirlah hari kedua kami di Salzburg.

BERSAMBUNG…

Selanjutnya: perjalanan menuju Vienna dan kota Vienna.

EuroTrip · Ten Day Trip · Travelling · Vacation

#956 – Austria Summer Trip (Part II)

Cerita sebelumnya: Zilko dan temannya berlibur dalam rangka liburan musim panas ke Austria, di Eropa tengah. Setelah menghabiskan dua hari di Innsbruck, kini mereka siap untuk melanjutkan perjalanan ke Salzburg.

===

Preambule Hari 3 (Jumat, 19 Agustus 2011)

Awalnya, kami berencana naik kereta yang murah untuk pergi ke Salzburg (dengan memanfaatkan tiket Einfach-Raus). Dengan tiket ini, kami akan berada di kereta selama empat jam. Nggak papa sih, soalnya beda harganya dengan tiket normal bisa sekitar 24an euro seorang. Beda yang lumayan juga kan buat dihemat? Tapi, karena ada banyak sekali hal yang bisa dilihat di Salzburg, kami jadi harus mempertimbangkan ulang keputusan ini. Kondisi kami waktu itu seperti ini:

(1) Kami akan menginap di Salzburg selama dua malam. Setelah dari Salzburg, kami akan pergi ke Vienna. Dan untuk ke Vienna ini sudah pasti kami akan memakai tiket yang murah, yang artinya kami harus naik kereta yang lambat yang total waktu perjalanannya adalah tujuh jam. Artinya, kami harus meninggalkan Salzburg di pagi hari supaya sampai Viennanya nggak kemalaman.

(2) Dengan kereta yang lambat dari Innsbruck, artinya kami akan tiba di Salzburg jam 1an siang. Plus acara cari hotel dan check in plus segala macam, artinya kami hanya memiliki waktu total satu setengah hari di Salzburg. Sementara dengan naik kereta cepat, kami bisa tiba di Salzburg jam 10 pagi, alias kami memiliki waktu tiga jam ekstra di Salzburg. Pertanyaannya: “Apakah ekstra 24 euro ini worth it dengan ekstra tiga jam yang didapat?” Jawabannya: “Tergantung agenda kami di Salzburg dong ya.”

Makanya semalam sebelumnya kami survey lokasi yang mau kunjungi di Salzburg. Dan ternyata: ada banyak banget! Tapi walaupun banyak kalau lokasinya masih di dalam kota semua nggak papa lah ya. Acuan kami di Salzburg adalah tempat syutingnya Sound of Music; dan beberapa hal lain seperti tempat lahirnya Mozart, dsb gitu. Nah, yang Sound of Music ini, ada banyak lokasi yang indah tapi lokasinya di luar kota, yaitu di area Salzkammergut yang perjalanan kesana memakan waktu sekitar satu jam dengan bus (artinya dua jam pp) dari Salzburg. Waktu itu kami sudah niat banget mau kesana, dan kami berencana mendedikasikan hari kedua kami disana. Artinya, tujuan utama di Salzburg harus kami selesaikan di hari pertama dong ya. Oleh karenanya, kami memutuskan bahwa ekstra 24 euro untuk ekstra waktu tiga jam cukup worth it.

Hari 3 (Jumat, 19 Agustus 2011)

Karena memutuskan naik kereta yang cepat, jadilah kami bangun pagi untuk mengejar kereta yang berangkat jam 8.09 pagi dari Innsbruck. Singkat cerita, naiklah kami kereta yang cepat itu. Kabar baiknya, karena beli tiketnya barengan (tiketnya jadi satu), kami jadi dapat diskon hampir 6 euro seorang. Lumayan lah ya, huahahaha 😆 Jam 10, tibalah kami di stasiun Salzburg. Kami lalu pergi ke hostel kami untuk menitipkan tas (soalnya masih belum bisa check in karena kepagian).

Ramalan cuaca hari itu tidaklah terlalu baik. Dan memang begitulah cuaca hari itu: mendung dari pagi. Kami berjalan ke arah Altstadt-nya Salzburg. Kami melewati Schloss Mirabell, salah satu tempat syutingnya Sound of Music. Dan Schloss Mirabell ini adalah tempat yang HARUS aku kunjungi soalnya sebagian dari adegan “Do Re Mi” kan syutingnya disitu. Tapi berhubung lagi rame banget, sedikit lapar, dan mendung (jadi gak bagus buat foto-foto, huahahaha 😆 ), kami cuma melewatinya saja deh kala itu. Toh masih banyak waktu untuk nanti kembali kesana karena lokasinya yang dekat dengan hostel kami.

Ketika kami hampir sampai di Altstadt-nya eh tiba-tiba hujan loh. Mana hujannya lumayan deras lagi (deras sih untuk ukuran Eropa, tapi untuk ukuran Indonesia ya baru tergolong “lumayan” deras deh, haha :P). Lalu kami berteduh di bawah salah satu gerbang di Altstadt-nya itu. Karena ramalan cuaca nggak terlalu baik hari itu, ya sudah akhirnya kami membatalkan rencana ke Salzkammergut dan dua hari itu akan dihabiskan di Salzburg (dan sekitarnya) saja sampai sejauh dimana Salzburg Card (semacam Innsbruck Card tapi buat kota Salzburg) masih berlaku. Bete karena hujannya nggak berhenti-berhenti, kami lalu berkeliling sebentar (untung aku membawa payung, haha :D) sambil mampir di beberapa toko souvenir sambil lihat-lihat saja. Kami juga sambil mencari pusat informasi saat itu untuk membeli Salzburg Card untuk 48 jam (2 hari). Sekitar sejam kemudian, baru deh hujannya berhenti. Dan akhirnya ketemulah pusat informasi yang kami cari itu.

Harga Salzburg Card di brosur yang kami dapatkan adalah 34 euro untuk yang 48 jam. Oke sih, dan kami sudah menyiapkan dana untuk itu. Tapi, aku trus iseng nanya dong (nggak ada salahnya kan nanya): “Btw, ada diskon buat pelajar nggak?“. Iseng aja sih soalnya di brosur nggak ditulis apa-apa, jadi mungkin memang nggak ada. Dan saudara-saudara, si petugas informasinya nggak ramah sama sekali loh, cenderung jutek malah, nyebelin banget deh. Dia ngejawab: “Ada, tapi kamu harus bisa nunjukin kartu pelajar kamu dan umurmu tidak melebihi 26 tahun.” Aku setuju dong kan artinya aku qualified buat diskon itu. Lumayan lah ya. Btw, diskonnya ternyata cuma 3 euro saja, haha. Tapi nggak papa ding, lumayan lah diskon 3 euro juga, hoho. Lalu, aku menunjukkan kartu pelajarku. Dan terjadilah percakapan dengan si jutek itu:

Aku (Z): “Ini kartu pelajarku.
Si Jutek (SJ) : *sambil mengamati kartu pelajar dengan sangat amat teliti, semua tulisan di kartu dibaca sampai kartunya dibolak-balik* “Maaf, kartu ini nggak bisa dipakai
Z: “Hah? Kenapa? Saya kan masih terdaftar sebagai mahasiswa di TU Delft“.
SJ: “Meneketehe, tapi di kartu ini tidak ada bukti tertulis bahwa saat ini, kamu masih terdaftar sebagai mahasiswa disana.”

Fair enough sih, soalnya memang di kartu pelajarku (student card) nggak tertulis tanggal berlakunya kartu itu. Tanggal itu adanya di campus card, atau disebut sebagai proof of enrollment disini. Dan untungnya, karena beberapa minggu sebelumnya aku ngurus work permit di Belanda, campus card itu masih kubawa di dompetku (biasanya nggak pernah dibawa, hahaha). Dan lalu aku tunjukin deh tuh campus card ke dia. Dan akhirnya dia “menyerah” dan ngasih diskon 3 euro.

Ke temanku, dia juga jutek banget. Temanku umurnya kan 26 tahun tuh. Waktu dia nunjukin campus card-nya dia, nggak dikasi dong diskonnya. Alasannya: “Kamu kan udah 27“. Temanku langsung ngebantah: “Oh, tidak bisa. Saya masih 26, liat deh tanggal lahir saya“. Si jutek akhirnya ngelihat tanggal lahirnya, dan akhirnya baru deh memberi diskon, haha.

Yah, sebenarnya semuanya sesuai prosedur sih ya. Tapi maksudku adalah: koq segitunya banget sih? Mana diskonnya cuma 3 euro lagi, alias nggak ada 10%. Di tempat-tempat lain yang sudah kukunjungi di seluruh Eropa perasaan nggak segitunya deh sampai harus nunjukin proof of enrollment segala. Seringnya, nunjukin student card aja udah cukup. Malah kadang aku bisa cuma ke kasir bilang mau beli tiket buat pelajar. Yang jaga percaya-percaya aja dan aku nggak perlu nunjukin kartu pelajarku, hohoho. Ini sih mungkin karena aku masih bertampang muda sesuai dengan umur jadi cukup meyakinkan sebagai pelajar kali ya 😛 *hoek*.

Residence Fountain di Salzburg

Anyway, intinya akhirnya kami mendapatkan Salzburg Card untuk 48 jam itu, dengan diskon 3 euro, huahaha. Lalu mulailah eksplorasi kami ke Kota Salzburg. Dan tiba-tiba kami melewati Residence Fountain, sebuah air mancur dengan patung kuda yang jugalah tempat syutingnya Sound of Music. Setelah foto-foto disitu, kami berjalan ke arah Kastil Hohensalzburg yang ada di sisi lain Altstadt. Dan setelah hujan paginya itu, tiba-tiba awannya pergi loh, dan cuaca kembali: panas! Btw, Kastil Hohenzalsburg kan ada di atas bukit tuh, dan untuk naik ke atas bisa jalan kaki atau naik funicular. Dan karena naik funicular itu gratis dengan Salzburg Card, tentulah kami memilih naik funicular dong ya, huahaha. Dan ternyata stasiunnya itu rame banget loh! Antriannya panjang banget! Antrian yang panjang itu karena mereka yang antri itu harus beli tiket dulu sih. Dan karena sebagai pemegang Salzburg Card itu kami adalah orang VIP *ehem* dan nggak seperti rakyat jelata yang harus ngantri dulu 😛 jadilah ada jalur khusus buat kami dimana kami bisa langsung berjalan ke pintu gerbang funicular-nya tanpa ngantri, muahahahahaha 😆 *tawa penuh kemenangan*.

Salzburg seperti terlihat dari Kastil Hohensalzburg

Di atas, kami bisa mendapatkan pemandangan kota Salzburg. Kami lalu masuk ke dalam gerbang kastilnya. Dalamnya ternyata gitu-gitu saja sih. Ya mirip kastil sih dan memang arsitekturnya klasik banget, tapi ya gitu-gitu aja ah. Kami tidak terlalu tertarik masuk ke dalam bangunan kastilnya itu. Ya sudah akhirnya kami berkeliling saja dan berusaha mencari jalan ke Nonnberg Abbey, yang terkenal karena Sound of Music juga. Ceritanya kan Maria von Trapp itu dulunya suster disini. Tempat ini juga jadi tempat syutingnya bagian awal Sound of Music itu. Nah, Nonnberg Abbey ini lokasinya di dekat Kastil Hohensalzburg dan entah kenapa agak jarang dikunjungi orang. Kami lalu berjalan menuruni bukit (turunnya kami nggak naik funicular soalnya menurut peta, Nonnberg Abbey ini lebih dekat ditempuh jika kita jalan kaki turun dari kastil daripada kalau turun naik funicular). Btw, jalan turunnya itu curam banget loh, mana agak licin lagi karena barusan hujan (jalannya model kuno gitu, jadi terbuat dari batu-batu).

Nonnberg Abbey di Salzburg, ini adalah tempat tinggal Maria von Trapp ketika ia masih menjadi suster

Lalu, tibalah kami di Nonnberg Abbey yang lokasinya agak terpencil (kayaknya inilah mengapa tempat ini nggak terlalu banyak dikunjungi orang). Kami masuk lewat pintu samping, jadi kami harus berjalan mengitari gerejanya sambil melewati kuburan (yup, kuburan, tapi kuburannya orang-orang gereja sih jadi aman lah ya, hehe) untuk sampai di pintu utamanya. Dan tempat itu sepii banget. Pintu gerejanya juga tertutup. Tapi karena penasaran, aku iseng saja membuka pintu kayu yang besar itu dan trus melangkah masuk ke gerejanya *berasa kayak adegan di film-film dimana si tokoh utamanya membuka pintu besar yang tertutup untuk masuk ke suatu tempat yang misterius dan mencengangkan :P*. Dan di dalam juga sepi banget, nggak ada orang. Ya sudah deh, setelah beberapa menit, kami meninggalkan lokasi ini. Nggak lupa foto-foto tentunya ya, haha.

Lalu, kami turun kembali ke Altstadt. Setelah mengunjungi katedralnya Salzburg, agenda kami selanjutnya adalah mengunjungi dua lokasi yang sangat penting bagi seseorang super terkenal yang pernah tinggal (dan dilahirkan malah) di Salzburg: Wolfgang Amadeus Mozart. Pasti pada tahu (setidaknya pernah dengar) lah ya siapa Mozart ini. Apa? Belum pernah? Ah, masa sih? Oya? Beneran belum pernah? Wah, kasihan sekali *minta dilempar sandal*. Dua tempat itu adalah: Mozarts Geburtshaus (rumah tempat lahirnya Mozart) dan Mozarts Wohnhaus (rumah tempat tinggalnya Mozart). Kedua tempat itu dalamnya dibuat menjadi museum gitu. Menurutku ya gitu-gitu aja sih, soalnya kan aku nggak nge-fans nge-fans amat sama musik klasik, hehe. Bagus dan aku bisa menikmatinya sih, tapi juga nggak segimananya gitu.

Rumah tempat lahirnya Mozart di Salzburg, Austria

Setelah itu, kami mengunjungi Schloss Mirabell lagi untuk kembali ke hostel dan check in. Waktu lagi foto-foto, tiba-tiba kami koq mendengar ada kaya paduan suara yang nyanyi lagu “Do Re Mi” disitu ya? (lagu yang sangat cocok buat dinyanyikan disana sih btw). Dan benar aja, ternyata lagi ada satu rombongan anak SMP (pake seragam segala) dari Jepang atau Korea gitu yang lagi jalan-jalan disana, dan disana mereka nyanyi dong! hahaha 😛

Schloss Mirabell!
Anak-anak SMP dari Jepang/Korea yang menyanyikan lagu Do Re Mi di Schloss Mirabell
Akhirnya foto juga di spot ini!

Singkat cerita, lalu kami check in di hostel, dan kemudian langsung bergerak menuju pabriknya bir Stiegl buat ikutan tur gratis disana (karena kami memiliki Salzburg Card, makanya gratis, haha). Bukan tur juga sih sebenernya, soalnya kami cuma disuruh masuk ke museumnya, trus udah deh, keluar. Btw, museum ini adalah satu-satunya museum di Eropa (yang sudah pernah kukunjungi) yang mana di salah satu pamerannya ada yang dalam bahasa Indonesia loh! haha 😛 Jadi ceritanya ini sih cuma rekaman suara orang dari berbagai negara gitu tentang bir di negara masing-masing. Nah, orang berbahasa Indonesia yang direkam ini kayaknya orang Indonesia yang sudah lama tinggal di luar jadi bahasa Indonesianya juga agak kecampur bahasa asing (Jerman) gitu deh dan banyak “eee, eeeh“-nya, haha. Heran deh, apa kaga di-script dulu ya waktu wawancaranya direkam? Jadi kan kedengaran lebih mulus gitu, nggak kebanyakan “eee, eeeh” nya.

Nah, setelah keluar dari museum, kami bisa mencicipi masing-masing 3 macam bir tuh (ini sudah sepaket sama turnya). Ya sudah lah ya, lumayan bisa sambil duduk-duduk di restorannya, kan capek habis jalan seharian. Kami nanya birnya yang buat dicicipi itu gelasnya kecil nggak. Katanya sih kecil, namanya juga cuma mencicipi doang. Ya sudah dong ya, aku kirain yang namanya kecil itu ya kaya satu teguk normal lah, sekitar kurang dari 40 mL gitu. Dan karena kami berdua, jadi kami bakal dapat 6 gelas kecil. Kebetulan ada 6 macam bir, jadi kami bisa mencicipi semuanya, hahaha. Dan begitu keluar, ternyata keluarnya kayak gini:

Yup, bir gratisannya segini banyak!

Nah loh? Kecil dari mananya ini!?!? Segini lo bilang kecil? Satu gelasnya itu 200 mL, yang artinya seorang bisa dapat bir 600 mL gratis. Itu nggak kecil kali!! Di Belanda 600 mL sih artinya sama dengan dua gelas bir tuh! hahaha. Dasar deh ya orang sana yang doyan banget sama bir.

Nah, di restoran itu iseng kami melihat menunya. Dan harganya nggak mahal, jadi ya udah sekalian makan malam disana. Dan bir gratisan itu dijadiin minumannya jadi gak harus pesen minum lagi, muahahaha. Aku pesan goulash daging sapi yang rasanya oke juga. Btw, di tur ini, kami juga masing-masing berhak mendapat satu gift dari tokonya. Ada yang namanya gratisan, hajaar! haha. Aku lalu masuk ke tokonya dan nanya gift-nya apa. Dan ternyata, gift-nya adalah: satu botol bir! 😯 Aku nanya ada pilihan lain nggak. Dan katanya ada sih, yaitu satu gelas kenang-kenangan dari mereka. Nah, aku jelas milih birnya lah ya. Hadiah gelas itu kan kesannya kayak hadiah hiburan gitu, yang sama aja kayak ngomong “Maaf, Anda belum beruntung. Nggak usah sedih ya, nih, kami kasih satu gelas cantik“, huahaha :lol:.

Goulash daging sapi ala Austria

Setelah itu, kami kembali ke pusat kota Salzburg. Kami lalu iseng naik boat tour di sungai Salzach. Yup, kami naik ini soalnya gratis dengan Salzburg Card (kalau bayar sendiri harus bayar 14an euro seorang). Dan boat tour-nya membosankan banget! Nggak keliatan apa-apa. Cuma naik kapal di sepanjang sungai yang pinggirnya pohon-pohon doang gitu deh. Untung gratis, kalau bayar sendiri bisa tambah bete deh saya, haha.

Kapal yang dipakai di boat tour hari itu
Terbenamnya matahari di Salzburg

Lalu, kami kembali ke hostel di sekitar jam 9 malam, dan kemudian tidur untuk menyambut keesokan harinya.

BERSAMBUNG…

Selanjutnya: jalan-jalan di sekitar Salzburg.