#1790 – Four Saving-Money Tips in Geneva

ENGLISH

Posts in the A Weekend In Geneva series:
1. Introduction
2. Part I: The Flights
3. Part II: Geneva

***

It is no secret that Switzerland is an “expensive” country to visit (well unless you are from an even more expensive country). So understandably many (budget) travelers would avoid visiting it.

From my weekend trip to Geneva at the end of July, though, I noticed there were a few things which we could do to save some money. Well, these tips would not magically make traveling in the country suddenly become “cheap”, of course. However, they would help to “control the damage” on your potential spending in Geneva.

Delicious steak in Geneva

None of these tips would make this delicious steak from costing CHF 42.50 to CHF 12.50, for instance 😆

Here they are:

1. FREE public transportation ticket when arriving at Geneva International Airport

This first tip is the trickiest one. When you arrive at Geneva International Airport, you can get a FREE public transportation ticket that is valid for 80 minutes. The ticket is meant to help you reach your destination within the city; and is also valid on the airport train that is the fastest way to the city center from the airport (5 minutes).

The tricky thing? Well, you have to get the ticket BEFORE you leave the luggage hall (because otherwise you could not get back in) where you can get it from a machine. The free ticket machine looks something like this:

A free ticket machine in the luggage area of Geneva Airport

A free ticket machine in the luggage area of Geneva Airport

While certainly visible (especially if you know what you are after), in my opinion it is also rather easy to miss it (when you forget about it, or even if you are not aware of such ticket).

If you already leave the luggage hall before getting the free ticket, there is no way to get back in and you would have to buy the public transportation ticket (CMIIW). I was curious how much this would have cost, so I made a dummy booking at the regular machine at the Geneva Airport train station:

Normal train ticket fare from Geneva Airport station to the city center

Normal train ticket fare from Geneva Airport station to the city center

Yes, a one-way trip on the 5 minute ride from the airport to the city center would have cost CHF 3 (€ 2.89). Haha 😆 . It might not be significant, but (a) It still helps! 😎 and (b) Remember, the free ticket is valid for 80 minutes for the entire Zone 10 (the city of Geneva) so you can also use it to travel beyond the train station to reach your hotel/hostel/camping ground/apartment/etc.

2. FREE public transport card

The second tip is certainly extremely useful ( 😆 ) and less tricky than the first one. When you stay in a hotel, hostel, or a campsite, you are entitled for a FREE public transport card for the duration of your stay! I say this one is less tricky because typically you would get it when you check-in at the hotel/hostel/campsite. Well, at least if the hotel receptionist forgets to give you one, you can always ask for it 🙂 .

Another good thing about this card is that it is date-based. This means that on your last day of visit, you can still use your card until the end of the day even if you have to check out from the hotel quite early during the day. Certainly this is useful, for instance, when you have a late flight out of Geneva.

The ticket is personalized where your name would be written on the card along with the validity period, something like this:

My free transport card for three full days

My free transport card for three full days

3. Consider staying at a breakfast-inclusive hotel

Nowadays it is quite common to find a relatively low hotel rate which (consequently) does not include breakfast. Depending on how much the difference is between the breakfast inclusive and exclusive rate, it might actually worth to book the inclusive rate. Why? Well, simply because the price of food in Switzerland is astronomical 😆 .

It happened that the cheapest rate of hotel that I stayed in was already breakfast-inclusive, so I did not need to compare anything. And I do think it really helped a lot, though. The breakfast was quite substantial (typical Continental-style breakfast) and was definitely sufficient to start my day.

Complimentary breakfast at the hotel

Complimentary breakfast at the hotel

4. Be aware of local events

Another impression of mine about Geneva was that it appeared to be a lively city. There were many events that were underway during my short stay there. Okay, I am not sure if it was due to the summer or it was always like that throughout the year. My point is, just be aware of any ongoing events nearby.

On Saturday evening, I went out to Parc Moynier where, at the time, there was a free movie screening in the park. As it was free, of course it was packed. Some people even brought their picnic mat and chairs as well, lol 😆 . It happened that I did not find the movie interesting (Clint Eastwood 1964 cowboy movie A Fistful of Dollars; not really my cup of tea) so I left after about 40 minutes. But still, it might happen too that there were interesting events for you nearby. Just keep your eyes open.

A free movie screening in the park

A free movie screening in the park

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri A Weekend In Geneva:
1. Introduction
2. Part I: The Flights
3. Part II: Geneva

***

Bukan rahasia bahwa Swiss adalah negara “mahal” untuk dikunjungi (kecuali kamu berasal dari negara yang bahkan lebih mahal lagi sih, haha). Jadi tidak mengherankan ada banyak travelers (dengan budget terbatas) yang menghindarinya.

Dari pengalaman perjalanan akhir pekanku ke Jenewa di akhir Juli yang lalu, aku perhatikan sebenarnya ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk sedikit menghemat pengeluaran. Pertama-tama, tips ini tidak akan secara ajaib membuat jalan-jalan di negara ini tiba-tiba menjadi “murah” lah ya. Hanya saja, menurutku ini akan membantu sekali dalam hal “damage control” untuk potensi pengeluaran di Jenewa.

Delicious steak in Geneva

Tidak ada satu pun dari tips-tips ini yang akan membuat harga steak enak banget ini turun dari CHF 42,50 menjadi CHF 12,50, misalnya 😆 .

Langsung saja deh:

1. Tiket transportasi umum GRATIS ketika tiba di Bandara Internasional Jenewa 

Tips pertama ini cukup tricky. Ketika tiba di Bandara Internasional Jenewa, kita bisa mendapatkan tiket transportasi umum GRATIS yang berlaku selama 80 menit. Tiket ini dimaksudkan untuk membantu kita mencapai tempat tujuan di dalam kota; dan juga berlaku di kereta bandara loh. Btw, kereta bandara ini adalah sarana tercepat untuk mencapai pusat kota dari bandara (dalam waktu 5 menit saja).

Tricky-nya dimana? Yah, tiket ini harus kita ambil SEBELUM meninggalkan aula pengambilan bagasi di bandaranya (karena kalau kita sudah terlanjur keluar, kita kan tidak bisa masuk lagi) dimana tiketnya bisa didapatkan dari sebuah mesin. Mesinnya berpenampakan seperti ini, btw:

A free ticket machine in the luggage area of Geneva Airport

Sebuah mesin tiket gratis di area bagasi di Bandara Jenewa

Walaupun mesinnya gampang ditemukan (terutama jika mesinnya memang kita cari), menurutku gampang pula untuk dilewatkan (misalnya kalau kita kelupaan atau kita tidak mengetahui keberadaan tiket ini).

Jika kita sudah terlanjur meninggalkan aula pengambilan bagasi sebelum mengambil tiket gratisnya, kita tidak bisa kembali masuk sehingga kita harus membeli tiket transportasi umum biasa (CMIIW). Nah, aku penasaran kan harga tiketnya berapa. Jadilah aku membuat dummy booking di sebuah mesin penjual tiket biasa di stasiun kereta api Bandara Jenewa:

Normal train ticket fare from Geneva Airport station to the city center

Harga normal tiket kereta dari stasiun bandara Jenewa ke pusat kota

Iya, tiket satu arah perjalanan dengan kereta api selama 5 menit bertarif CHF 3 (sekitar Rp 40.000). Haha 😆 . Nggak seberapa mahal sih ya memang, tetapi kan (a) tetap lebih enak kalau gratisan dong ya! 😎 dan (b) ingat, tiket gratis ini berlaku selama 80 menit loh di keseluruhan Zona 10 (kota Jenewa). Poin kedua ini berarti tiketnya bisa dipakai juga di transportasi umum di luar kereta api setelah kita tiba di Stasiun Jenewa untuk menuju ke hotel/hostel/tempat kemping/apartemen/dll kita.

2. Kartu transportasi umum GRATIS

Tips kedua ini jelas berguna banget (haha 😆 ). Jika kita menginap di hotel, hostel, atau tempat kemping, kita berhak mendapatkan kartu transportasi umum GRATIS untuk durasi masa tinggal kita! Aku bilang sih ini tidak begitu tricky karena seharusnya kita akan mendapatkannya ketika check-in di hotel/hostel/tempat kemping. Yah, setidaknya andaikata resepsionis hotelnya lupa memberikannya kepada kita, kan kita bisa tinggal memintanya 🙂 .

Satu hal lain yang oke dari kartu ini adalah masa berlakunya yang berdasarkan tanggal. Artinya, di hari terakhir kunjungan kita, kartu ini masih berlaku hingga akhir hari bahkan jika kita check-out dari hotel awal. Ini jelas berguna, misalnya, jika penerbangan kita dari Jenewa dijadwalkan berangkat di malam hari.

Tiketnya sendiri adalah tiket personal dimana nama kita akan dituliskan di kartu beserta waktu periode masa berlakunya, seperti ini:

My free transport card for three full days

Kartu transportasi gratisku yang berlaku tiga hari penuh

3. Pertimbangkan hotel yang rate-nya termasuk sarapan 

Sekarang-sekarang ini, cukup sering hotel-hotel menawarkan rate yang relatif murah yang mana (sebagai akibatnya) sarapan tidak termasuk di dalamnya. Tergantung dari seberapa besar perbedaan rate-nya, menurutku ini cukup patut dipertimbangkan. Mengapa? Yah, karena harga makanan di Swiss itu mahal banget! 😆 .

Kebetulan sih tarif termurah hotelku sudah termasuk sarapan sehingga aku tidak perlu membandingkan apa pun. Dan aku rasa ini cukup membantu loh. Sarapannya cukup beragam dan berat (tipikal sarapan ala Kontinental gitu) dan cukup untuk memulai hariku di sana.

Complimentary breakfast at the hotel

Sarapan komplimen di hotel

4. Mencari-tahu keberadaan acara-acara lokal

Satu kesanku yang lain akan Jenewa adalah kotanya yang nampak hidup. Ada banyak acara yang saat itu berlangsung di kunjungan singkatku kesana. Oke, aku nggak tahu sih apakah ini dikarenakan musim panas atau memang seperti itu sepanjang tahun. Maksudku adalah, yang penting kita mesti mengetahui keberadaan acara-acara lokal di sekitar kita.

Di Sabtu malam, aku pergi ke Parc Moynier dimana, saat itu, ada pemutaran film gratis loh di tamannya. Yah, layar tancap gitu lah, haha 😆 . Karena gratis, jelas dong itu tamannya penuh banget. Bahkan banyak pula yang niat membawa tikar dan kursi piknik segala *niat*, huahaha 😆 . Waktu itu kebetulan filmnya kurang menarik untukku (film koboi tahun 1964 A Fistful of Dollars-nya Clint Eastwood, bukan genre-ku deh) sehingga aku pergi setelah 40 menit. Tetapi tetap aja lah ya, mungkin akan ada acara yang menarik di dekat kita. Jika kita tahu, kan kita bisa mendatanginya.

A free movie screening in the park

Layar tancap di sebuah taman di Jenewa

#1562 – The “Air Pass” Ticket for Travelling in Japan

ENGLISH

The main posts of the 2015 Spring Trip to Japan series:
1. Getting to Japan
2. Part I: Tokyo (1)
3. Part II: Tokyo (2)
4. Part III: Tokyo (3)
5. Part IV: Hakodate
6. Part V: Sapporo
7. Part VI: Osaka
8. Part VII: Kyoto
9. Back to the Netherlands

***

I am quite sure a lot of people already know the existence of the powerful JR Pass ticket for travelling within Japan with trains for a certain period of time. However, I am quite certain that significantly less people know about the existence of an “Air Pass”, the airplanes equivalent of the JR Pass. So here, I would like to share this new piece of information (which I just found out myself while preparing for my recent trip to Japan).

The Air Pass

Originally, our plan to go from Tokyo to Hakodate was to take the trains with the JR Pass. First, we would take the Shinkansen (bullet train) to Aomori and from there we would take another (slower) train to Hakodate. In total, the trip would take 6 hours (and would have cost around ¥20,000 (around €156) per person without the JR Pass). But then, upon browsing, I came accross the following page where I found a useful information about the existence of what was called the “Air Pass”. An Air Pass was basically like a JR Pass, terms and conditions-wise, but it was for a flight operated by the issuing airline. And from all the possible options, there was only one solution for our situation: the “ANA Experience Japan Fare” Air Pass which cost ¥10,000 per person one way (plus tax).

The tricky thing about this special fare was that it did not appear in the normal booking page (At the time of booking which was in February 2015. Lately, it seems that it does). And the booking page was just a normal booking page with a table showing the available flights, their schedules, and the ticket price (ranging from the lowest to the highest which were still available by the time of access). So for this reason I initially did not notice the existence of this “Air Pass” ticket.

So after reading that article in Japan-Guide, I googled “ANA Experience Japan Fare” which led me to a special page in ANA’s website where I could start browsing flights with this special fare! Yay! It was like party time! Hahaha 😆 .

What I found amazing was that this special fare (which was lower than the lowest available price in the normal booking page) was available in ALL flights! 😯 By this, in our case, ANA flew five direct flights from Tokyo-Haneda to Hakodate; and the best schedule for us was the NH 553 flight which left Haneda at 10:25 AM. In the normal booking page, this flight was the most expensive out of the five at the rate of ¥18,000 (around €134) for the cheapest one if I am not mistaken. But then, in the Air Pass page, all five flights could still be booked with this special Air Pass fare!!

In general, if you think about it, this ticket is very useful if you are about to fly long distance domestically within Japan.

The Air Pass versus Budget Airlines (Low Cost Carrier/LCC)

So the definition of “Air Pass” here is a little bit different from of “JR Pass”. In some sense, basically the “Air Pass” is just a special sub-class of economy class with some extra terms and conditions (which involve nationality and residency, haha 😆 ).

One suggestion I can make regarding the “Air Pass” ticket for budget-conscious travellers is to compare the price with some LCCs serving the same route. Remember, the Air Pass is issued by Japan’s two biggest airlines, Japan Airlines (JAL) and All Nippon Airways (ANA), while there are more airlines in Japan, including some LCCs.

Peach's Airbus A320-200 reg JA803P which brought me to Osaka-Kansai from Sapporo as flight MM122 today

Peach, a Japanese LCC

In our case, the route of Tokyo-Haneda to Hakodate was only served by JAL and ANA per April 2015 so it was straight-forward. But some other more popular routes were served by some other LCCs as well. For instance, the second domestic flight we did in Japan was from Sapporo to Osaka. JAL and ANA offered their “Air Pass” on this route as well with the same price (¥10,000 + tax). However, Peach Aviation, a Japanese LCC, at that time offered a one way ticket with a basic price of around ¥5,950. After adding everything up (tax, luggage fee, seat selection, etc), I ended up with a total price of ¥8,470 per person. You see?

Requirement for The Air Pass

Information about the requirement and eligibility for an “Air Pass” ticket is available here so you can read it yourself. Basically you need to be a non-Japanese (or a Japanese who resides abroad) and you are in Japan for a short period of time (to prove this, you need to provide the information of your outbound flight from Japan while booking the ticket).

***

Yeah, so I hope I have informed you enough about a possible way to travel within Japan 😉 .

p.s: A little bit unrelated to the content of this post, so it turned out that my Haneda-Hakodate flight with ANA qualified for some frequent flyer points for my Garuda Miles membership, haha. This was so because of ANA and Garuda Indonesia’s cooperation. Unfortunately though, ANA did not havy any cooperation with Air France/KLM so consequently I could not transfer this miles to my Flying Blue account instead.

ANA's Boeing 777-200 reg JA 8198 which would bring me to Hakodate as NH553 today

I bought our tickets of this ANA flight NH 553 from Tokyo-Haneda to Hakodate with the Air Pass special fare

BAHASA INDONESIA

Posting-posting berisi cerita utama dari seri 2015 Spring Trip ke Jepang:
1. Getting to Japan
2. Part I: Tokyo (1)
3. Part II: Tokyo (2)
4. Part III: Tokyo (3)
5. Part IV: Hakodate
6. Part V: Sapporo
7. Part VI: Osaka
8. Part VII: Kyoto
9. Back to the Netherlands

***

Aku cukup yakin banyak yang sudah tahu keberadaan tiket JR Pass yang mutakhir itu untuk bepergian di dalam Jepang dengan kereta api dalam masa waktu tertentu. Namun, aku cukup yakin bahwa ada jauh lebih sedikit yang tahu mengenai keberadaan “Air Pass”, sebuah tiket ekuivalennya JR Pass untuk pesawat. Nah, disini, aku ingin berbagi informasi ini (yang aku sendiri baru tahu ketika mempersiapkan perjalanan ke Jepang yang lalu).

Air Pass

Awalnya, rencana kami untuk pergi dari Tokyo ke Hakodate adalah dengan menaiki kereta api dengan JR Pass. Pertama-tama, kami akan naik Shinkansen (kereta peluru) ke Aomori dan dari sana naik kereta (yang lebih pelan) ke Hakodate. Totalnya, perjalanan ini akan memakan waktu 6 jam (dan harga tiketnya sekitar ¥20.000 (sekitar Rp 2,17 juta) per orang tanpa JR Pass). Tetapi kemudian, ketika sedang survey, aku menemukan artikel ini yang berisi informasi berguna mengenai keberadaan tiket yang bernama “Air Pass”. Sebuah tiket “Air Pass” pada dasarnya mirip seperti JR Pass, dalam hal syarat dan ketentuannya, tetapi hanya berlaku di penerbangan yang dioperasikan oleh maskapai yang mengeluarkannya. Dan dari semua kemungkinan yang ada, hanya ada satu solusi untuk situasi kami: Air Pass “ANA Experience Japan Fare” yang harganya ¥10.000 per orang sekali jalan (ditambah pajak).

Nah, yang tricky dari harga khusus ini adalah harga ini tidak muncul di halaman booking biasa (Ketika aku membuat pemesanan tiketnya di bulan Februari 2015. Akhir-akhir ini kayaknya muncul sih). Halaman booking-nya adalah halaman booking biasa yang menampilkan penerbangan yang tersedia, jadwalnya, dan harga tiketnya (dari yang termurah hingga yang termahal yang masih tersedia di waktu akses tersebut). Oleh karena inilah awalnya aku tidak menyadari keberadaan tiket “Air Pass” ini.

Jadilah setelah membaca artikel di Japan-Guide itu, aku meng-googleANA Experience Japan Fare” yang membawaku ke halaman spesial di website-nya ANA dimana aku bisa mulai mencari penerbangan dengan harga khusus ini! Hore! Kayak pesta deh ini rasanya! Hahaha 😆 .

Yang aku sukai dari tiket ini adalah (yang harganya lebih murah daripada harga tiket termurah di halaman booking biasanya loh), tiketnya tersedia di SEMUA penerbangan! 😯 Maksudku, di kasus kami, ANA terbang lima kali sehari dari Tokyo-Haneda ke Hakodate; dan jadwal terenak bagi kami adalah penerbangan NH 553 yang berangkat dari Haneda jam 10:25 pagi. Di halaman booking biasa, ini adalah penerbangan termahal dari kelima pilihan itu dengan harga tiket termurah sekitar ¥18.000 (sekitar Rp 1,96 juta) kalau nggak salah. Namun, di halaman Air Pass, kesemua lima penerbangan masih bisa dibeli dengan harga khusus Air Pass ini dong!!

Secara umum, kalau dipikirkan lagi, tiket ini amat berguna apabila kita akan terbang domestik jarak jauh di dalam Jepang.

Air Pass versus Budget Airlines (Low Cost Carrier/LCC)

Jadi definisi “Air Pass” disini agak berbeda dari “JR Pass” yah. Di satu sisi, sebenarnya “Air Pass” tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah sub-kelas khusus dari penerbangan kelas ekonomi dengan syarat dan ketentuan ekstra (yang melibatkan kewarga-negaraan dan tempat tinggal, haha 😆 ).

Satu saran yang bisa aku berikan mengenai tiket “Air Pass” ini bagi para traveller yang sadar budget adalah untuk tetap membandingkan harganya dengan tiket beberapa maskapai LCC yang melayani rute yang sama. Ingat, Air Pass hanya dikeluarkan oleh dua maskapai terbesarnya Jepang, Japan Airlines (JAL) dan All Nippon Airways (ANA). Padahal di Jepang kan ada banyak maskapai penerbangan juga, termasuk beberapa LCC.

Peach's Airbus A320-200 reg JA803P which brought me to Osaka-Kansai from Sapporo as flight MM122 today

Peach, sebuah LCC-nya Jepang

Di kasus kami, rute Tokyo-Haneda ke Hakodate hanya dilayani oleh JAL dan ANA saja per April 2015 jadi gampang deh. Tetapi beberapa rute lain yang lebih populer juga dilayani oleh beberapa LCC juga. Misalnya, penerbangan domestik kedua kami di Jepang adalah dari Sapporo ke Osaka. JAL dan ANA menawarkan “Air Pass” di rute ini dengan harga yang sama (¥10.000 + pajak). Namun, Peach Aviation, sebuah LCC-nya Jepang, waktu itu menawarkan harga tiket satu arah dengan harga dasar sekitar ¥5.950. Setelah menjumlahkan semuanya (pajak, biaya bagasi, biaya memilih kursi, dll), total harga tiketnya adalah ¥8.470 per orang. Nah kan?

Persyaratan untuk Air Pass

Informasi mengenai persyaratan untuk tiket “Air Pass” bisa dibaca disini jadi bisa dibaca sendiri disana deh ya. Pada dasarnya, seseorang harus bukanlah berkewarga-negaraan Jepang (atau orang Jepan yang berdomisili di luar Jepang) dan berada di Jepang untuk kunjungan singkat (untuk membuktikan ini, kita harus memasukkan detail informasi ini ketika memesan tiketnya).

***

Ya, segitu dulu deh, mudah-mudahan posting ini sudah memberikan informai baru mengenai salah satu cara untuk bepergian di dalam Jepang 😉 .

p.s: Agak tidak nyambung dengan isi posting ini, ternyata penerbangan ANAku dari Haneda ke Hakodate bisa memberikanku poin untuk frequent flyer Garuda Miles-ku loh, haha. Ini dikarenakan ANA dan Garuda Indonesia memiliki kerjasama gitu deh. Sayangnya ANA tidak memiliki kerjasama dengan Air France/KLM sehingga poinnya tidak bisa aku masukkan ke keanggotaan Flying Blue-ku, haha.

#1484 – Applying for An Indian Tourist Visa in the Netherlands

ENGLISH

So, I am going to India later on this year. And as an Indonesian citizen, I need a visa to enter the country. Well, a few may actually wonder why I went through the hassle of applying for a visa beforehand while actually, as an Indonesian, I have the “privilege” to apply for the visa on my arrival in India (through the Visa On Arrival/VOA). There are two reasons for that:

(1) Firstly, here is a little bit of a spoiler of the trip. Our (as in my friends’ and mine, as I am travelling there with a group of friends) first destination in India will be the city of Bangalore in South India. However, originally (yes, “originally”, I will get to this in a later post) our port of entrance to the country would be the city of Mumbai, or also known as Bombay – and from now on I will stick to the name “Bombay” because as an Indonesian, I like this name better, Indonesians know why 😛 . Anyway, we would have an about three hour transit between our intercontinental flight from Europe and our connecting domestic flight. And I assume that in between, we would have to go through the immigration check.

The thing is, I have read a few blog/trip reports/articles about people’s experience with this VOA service; and it appeared that the VOA processing time ranged from no time (when there was less people) up to forever (when there were a lot of people). I also asked my Indonesian friend who went to India earlier this year, and she suggested me to apply for the visa beforehand because in her experience, the process took so long. So, just to be on the safe side, I applied for the visa already here in the Netherlands.

(2) Secondly, aside from myself (and my Indian friend who obviously does not need a visa to enter India *hello??), none of my friends’ nationalities were granted the VOA by India (as of November 2014). Yeah, India is probably one of the few countries where an Indonesian passport is apparently more “powerful” than a European* or a North American passport, muahaha 😈 . So I thought it would be very inconvenient if in Bombay, they had to wait for me applying for the VOA. It would probably be fine though if there were not so many people, but what if there were?

* depending on which European countries.

Anyway, so, I applied for the tourist visa here in the Netherlands. And here I would like to share how the process went. And I want to stress out that this is based on my experience of applying for a tourist visa in November 2014, which means possibly in the future if there is/are some changes, the procedure may differ as well.

***

In the Netherlands, to apply for an Indian tourist visa, we do not go to the Indian embassy but to a company called the BLS (this is their website). Basically every single information you need to know (and prepare) for the visa application process can be found there.

As for me, I had to supply the following: a completed visa application form (which must be filled in in the website), two 2″x2″ (that is 5.1 cm x 5.1 cm) passport photos with some specifications (which can be found in the website too), a signed declaration form (available in the website), a signed undertaking form (also available in the website), a bank account statement, and, obviously, a valid passport. Btw, as I am not a Dutch national who resides in the Netherlands, I also submitted a copy of my residence permit as a proof of my residence in the Netherlands. And to be on the safe side too, I also submitted an uittreksel from the city hall. But then, upon submitting my application, the agent told me that since I already had my residence permit, actually the uittreksel was not needed since the resident permit had served as the legal proof of my residence here.

And here is an important advice that I would really like to share.

Nowadays, the BLS has introduced a new system where we can make appointment first prior to coming to their offices (the old system was the traditional first come first serve basis service with the queuing numbers). And my advice is: MAKE USE OF THIS WITH-APPOINTMENT SERVICE as long as it is possible to do so! It will definitely save you tons, tons of time! Btw, if making an appointment is impossible to do, as of 2014 you can still come to their Den Haag office where they still have the first come first serve basis service going too.

Here is an experience of mine…

***

I planned to apply for the visa in mid-October. I know, it was still way too early but (apparently) I am the type of person who likes everything to be done as soon as possible; a.k.a no last minute drama please! At that time, the appointment slots had been full until mid-November; so I decided to just go to their Den Haag office to use their first come and first serve service.

Planning to beat the queue, I decided to arrive at the site at 08:45 (their opening time, according to the website, was at 09:00). So I thought I should be one of the first to apply. But I was wrong, big time. I was already the 61st person in the queue! 9gagSHOCKI know, crazy! Anyway, so I decided to queue; and at that time I had to wait until 11:45 before I finally got my turn (I literally had time to go around the neighborhood TWICE, had a morning coffee at a cafe, and did some shopping at a supermarket nearby; and yes, I literally did all of them within the three hours period to kill some time 😆 ).

When I got my turn, the agent found a small thing in my application. So as usual in a visa application, I “splitted” my name based on the given name and the surname. But the agent said it was better not to since an Indonesian passport did not have that. The entire name was put in the “full name” category and the application would be better to be filled accordingly (by leaving the surname cell blank). As a result, she asked me to refill the form again.

But here was the problem, I had to do the entire procedure from scratch! I had to go to the BLS website again, filled another application form, and came back to the office. The application form filling was fine; I mean, it did not take so much time to complete. But the thing was, I had to do all the queuing again!!! 9gagSHOCK I mean, I did not have the time for that. I already spent like 4 hours of my working time for this, and there was no freaking way I would spend more time on that today.

So I decided to leave, and just made an appointment instead for mid-November, lol 😆 . In mid-November, I went back to the same office, and everything went smoothly. I spent around 75 minutes there from the time I arrived until I got my receipt and tracking code (as there were quite a lot of people queuing at the same time too) .

***

With the tracking-code, you can track your visa application status. Three days after my submission, the status of my visa application was “ready for collection”. Wow, that was fast. So I went to Den Haag to collect it. The collection process went very smoothly and efficiently though so I was happy. And I got my passport with an Indian tourist stamped on it. 🙂

BAHASA INDONESIA

Jadi, aku akan pergi ke India di akhir tahun ini. Dan sebagai warga negara Indonesia, aku membutuhkan visa untuk masuk ke India. Beberapa orang mungkin penasaran mengapa kok aku memilih untuk repot-repot mengajukan permohonan visa sebelumnya padahal sebenarnya, sebagai warga negara Indonesia, aku bisa mendapatkan visanya ketika tiba di India nanti (dengan layanan Visa On Arrival/VOA). Nah, ada dua alasan di balik itu:

(1) Pertama-tama, berikut sedikit bocoran dari perjalananku. Tujuan pertama kami (kami yang maksudnya aku dan teman-temanku, kan aku perginya dalam grup gitu) di India adalah kota Bangalore di India selatan. Namun, awalnya (iya “awalnya”, yang berkaitan ini akan aku ceritakan di sebuah posting lain), titik masuk kami di India adalah di kota Mumbai, atau dikenal juga dengan nama Bombay – dan mulai sekarang aku akan menyebutnya “Bombay” aja ah karena namanya terdengar lucu kan ya. Btw, iya loh, nama “bawang bombay” itu konon katanya karena bawang bombay itu asalnya dari kota Bombay ini. Anyway, kembali ke topik, jadi di Bombay kami harus transit selama tiga jam di antara penerbangan antar-benua kami dari Eropa dan penerbangan domestik lanjutan kami. Dan aku asumsikan, di Bombay ini kami harus melewati imigrasi.

Masalahnya adalah, aku sudah membaca beberapa blog/trip reports/artikel tentang pengalamannya beberapa orang dengan layanan VOA ini; dan yang aku tangkap adalah waktu pemrosesan VOA ini bisa mulai dari cepat banget (ketika sedang sepi) sampai lama banget (ketika sedang ramai). Aku bertanya ke seorang temanku orang Indonesia yang awal tahun ini pergi ke India, dan ia menyarankan aku untuk meng-apply visanya duluan aja sebelum pergi karena berdasarkan pengalamannya, pemrosesan VOA-nya lama. Jadilah demi amannya, aku mengajukan permohonan visanya di Belanda aja deh.

(2) Kedua, di samping aku (dan temanku orang India yang, jelas, nggak perlu visa dong ya untuk masuk ke India *ya iya lah*), tidak ada dari temanku lainnya yang kewarganegaraannya bisa mendapatkan VOA di India (per November 2014). Ya, India mungkin adalah satu dari sedikit negara dimana paspor ijo lebih sakti daripada paspor merah (Eropa maksudnya)* atau paspor biru tua (Amerika Utara maksudnya) ya, muahaha 😈 . Jadilah aku kira akan tidak nyaman banget apabila di Bombay mereka harus menungguku mengajukan VOA. Nggak masalah sih kalau antriannya pas nggak panjang, lha kalau antriannya panjang gimana coba?

* tergantung negara Eropanya.

Nah, jadilah aku mengajukan permohonan visa turis di Belanda. Dan melalui posting ini aku ingin berbagi cerita mengenai prosesnya. Dan aku ingin menekankan bahwa ini semua berdasarkan pengalaman pribadiku mengajukan permohonan visa turis di bulan November 2014 ya, yang mana ada kemungkinan prosesnya berbeda di masa depan apabila ada perubahan ini/itu.

***

Di Belanda, untuk mengajukan permohonan visa turis untuk India, kita tidak pergi ke kedutaan besar India loh, tetapi ke perusahaan yang bernama BLS (berikut ini website-nya). Pada dasarnya, semua informasi yang penting untuk kita ketahui (dan persiapkan) untuk proses aplikasi visa bisa ditemukan disana.

Untukku sendiri, aku harus memasukkan dokumen-dokumen berikut ini: satu formulir aplikasi visa yang telah aku isi lengkap (diisinya di website-nya mereka), dua buah foto paspor ukuran 5,1 cm x 5,1 cm (kok angkanya lucu? Haha, karena aslinya persyaratannya adalah dalam inch, jadi 2″x2″ gitu, yang kalau dibuat ke cm ya jadi 5,1 cm x 5,1 cm 😛 ) dengan spesifikasi yang telah ditentukan (bisa ditemukan di website-nya juga), formulir “declaration” yang aku tanda-tangani (tersedia di website), formulir “undertaking” yang aku tanda-tangani (tersedia di website juga), pernyataan rekening bank-ku yang menunjukkan jumlah tabungan yang mampu meng-cover pengeluaran selama di India, dan, tentu saja, paspor yang valid. Btw, karena aku tidak berkewarganegaraan Belanda tetapi tinggal di Belanda, aku juga memasukkan fotokopi residence permit-ku sebagai bukti tinggalku di Belanda. Dan untuk amannya, sekalian aja aku masukkan satu uittreksel dari balai kota. Tetapi ketika aku memasukkan aplikasiku, agennya berkata kepadaku bahwa uittreksel-nya sebenarnya tidak diperlukan karena residence permit-ku sudah merupakan bukti bahwa aku tinggal secara legal di Belanda.

Dan berikut ini sebuah saran yang ingin sekali aku bagikan.

Mulai beberapa waktu belakangan ini, BLS mengenalkan sebuah sistem baru dimana kita bisa membuat appointment dulu sebelum datang ke kantor mereka (kalau sistem yang lama adalah sistem antre tradisional siapa duluan dia di depan gitu dengan nomor antrean). Dan saranku adalah: MANFAATKAN SISTEM DENGAN APPOINTMENT INI selama memungkinkan! Ini akan menghemat banyak sekali waktu! Banyak banget! Btw, kalau tidak memungkinkan untuk menggunakan sistem appointment ini, di tahun 2014 kita bisa pergi ke kantornya di Den Haag yang juga masih menyediakan sistem antrean.

Berikut ini sebuah pengalamanku…

***

Awalnya aku berencana untuk mengajukan permohonan visa di pertengahan Oktober. Ya, ya, memang masih awal banget memang tetapi (ternyata) aku adalah tipe orang yang suka kalau semuanya cepat-cepat beres deh; alias no last minute drama please! Waktu itu, jadwal appointment-nya sudah penuh sampai pertengahan November dong; jadilah aku pergi ke Den Haag untuk mengantre dengan sistem lamanya mereka.

Berencana untuk berada di depan antrean, aku memutuskan untuk datang di kantornya jam 08:45 pagi (menurut website, jam buka mereka adalah jam 09:00 pagi). Awal dong ya itu jadi aku kira seharusnya aku akan berada di antrean depan lah. Tetapi aku salah, pake banget pula. Waktu itu aku adalah orang ke-61 dong di antrean!  9gagSHOCKIya kan, gila dah! Nah, jadilah aku memutuskan untuk tetap mengantri; dan waktu itu aku harus menunggu sampai jam 11:45 loh sampai giliranku tiba (dalam artian sebenarnya, saking banyaknya waktu aku bahkan sempat untuk jalan-jalan di daerah sekitar kantornya itu DUA KALI, ngopi pagi dulu di sebuah kafe, dan belanja dikit-dikit di supermarket di dekat sana; iya loh, semua ini aku lakukan dalam waktu tiga jam ketika mengantri itu untuk membuang waktu, haha 😆 )).

Ketika akhirnya giliranku tiba, agennya melihat ada hal kecil di aplikasiku. Jadi seperti biasa ketika mengajukan permohona visa, aku “memisah” namaku berdasarkan nama depan dan nama keluarga. Menurut agennya, sebaiknya tidak begini karena di paspor Indonesia kan tidak seperti ini. Iya kan, di paspor Indonesia nama kan dituliskan sebagai “nama lengkap” kan dan katanya sebaiknya aplikasinya juga demikian (dengan mengosongi nama keluarga). Sebagai akibatnya, ia memintaku mengisi formulirnya lagi.

Nah masalahnya adalah, aku harus mengulangi semua prosedurnya dari nol! Jadi aku harus mengisi formulirnya lagi di website-nya BLS dan kemudian kembali ke kantornya. Mengisi formulirnya lagi sih nggak masalah ya; toh paling cuma butuh waktu berapa sih untuk mengisi formulir aja. Yang jadi masalah adalah, aku harus mengantri dari belakang lagi dong!!! 9gagSHOCK Maksudku, aku tidak ada waktu untuk itu deh. Pagi ini aku sudah menghabiskan 4 jam waktu kerjaku demi ini, jelas aku tidak mau menghabiskan lebih banyak waktu lagi untuk itu.

Jadilah aku memutuskan untuk pulang aja, dan membuat appointment untuk pertengahan November, haha 😆 . Di pertengahan November, aku kembali ke kantor yang sama, dan semuanya berjalan lancar. Aku menghabiskan sekitar 75 menit disana dari waktu aku tiba sampai aku mendapatkan bon notanya dan kode untuk tracking aplikasi kita (lumayan lama karena kantornya cukup ramai waktu itu).

***

Dengan kode tracking-nya, kita bisa melihat status aplikasi visa kita. Tiga hari setelah aku memasukkan permohonan visaku, status dari aplikasiku adalah “siap untuk diambil“. Wow, cepat juga ya. Jadilah aku pergi ke Den Haag untuk mengambilnya. Proses pengambilannya sendiri amat lancar dan efisien sih jadi aku senang deh. Dan aku mendapatkan pasporku dengan sebuah visa turis India yang tertempel di dalamnya. 🙂