Contemplation, Thoughts

#2152 – The Grass Is Greener On The Other Side

ENGLISH

The grass is greener on the other side

is a very popular proverb which I am sure you must have heard of. I asumme that you all know the meaning of this proverb. You know, like a “prerequisite” of this post, haha. Anyway, for long I have been reflecting on the “scope” of this proverb, especially the “other side” part.

The most common “interpretation” of the proverb that I have read or heard is that it is used in the context of “differences” (whatever those might be) between two different individuals. For instance, when someone is envious of another one’s “success”, often this proverb is used as a reminder to the envious individual. However, I have been (for long) thinking that the “scope” is actually larger than that. And by “larger”, I mean, it also seems to hold for “differences” within an individual.

You see, life is full of decision-making; a lot are “trivial” (like what I want to do after finishing the first draft of this post) and a few are “instrumental” (like what I want to do with my life). In the end, a (long) sequences of these decisions would eventually become our path in life. Each decision brings its own consequence(s), both good and bad. Btw, being afraid of making a decision hence deciding not to make one is also a decision, also with its own pros and cons.

Anyway, sometimes we look back to the decisions we have made in the past. It is human to wonder what our lives would have been like had we chosen the other option(s) during some of those decision-making moment. And sometimes, it is “easy” to think that life would have been better/more pleasant/happier had we done that. Now, wouldn’t this proverb actually apply to this “thought” as well?

The “better/more pleasant/happier” thought might be the “green” that is the result of comparing only the positives of the hypothetical life with the negatives of the “real” life. If this is the case, then I think it is important to understand that this is the case. Otherwise, it might lead to a regret; an unfortunate one, actually, because I feel like this is an “unnecessary” regret for someone to have.

What do you think?

BAHASA INDONESIA

Rumput tetangga selalu nampak lebih hijau

adalah pepatah popular yang aku cukup yakin sudah kita dengar. Aku asumsikan kita semua tahu makna di balik pepatah ini. Pengetahuan akan makna ini adalah “materi wajib” lah untuk posting ini, haha. Anyway, sudah lama aku berefleksi akan “cakupan” dari pepatah ini, terutama di bagian “tetangga”-nya.

“Interpretasi” paling umum yang aku baca atau dengar adalah pepatah ini digunakan dalam konteks “perbedaan” (apa pun itu) antara dua individu yang berbeda, mungkin akibat kata “tetangga” di dalamnya yang berinterpretasi “orang lain”. Misalnya, ketika seseorang iri akan “kesuksesan” seorang lain, sering pepatah ini digunakan untuk mengingatkan orang yang iri ini. Namun, sudah lama aku berpikir bahwa “cakupan” pepatahnya sebenarnya lebih luas dari itu. Dan dengan “lebih luas, maksudku adalah nampaknya pepatahnya juga berlaku untuk “perbedaan” di dalam seorang individu.

Hidup ini kan penuh dengan keputusan yang harus dibuat ya; mulai dari yang “retjeh” (Seperti apa yang akan aku lakukan setelah menyelesaikan draft posting ini) sampai yang “penting banget” (Seperti apa yang ingin kulakukan dengan hidupku). Pada akhirnya, deretan (panjang) dari keputusan-keputusan ini akan menjadi jejak hidup kita. Setiap keputusan membawa konsekuensi(-konsekuensi)-nya masing-masing, baik itu positif maupun negatif. Btw, takut untuk membuat keputusan sehingga memutuskan untuk tidak memilih juga lah sebuah keputusan loh, tentu dengan pros dan cons-nya juga.

Anyway, terkadang sebagai manusia kita melihat kembali akan keputusan-keputusan yang sudah kita buat di masa lalu. Rasanya manusiawi ya untuk berandai-andai akan jadi seperti apa hidup kita andaikata kita memilih pilihan yang lain ketika membuat keputusan-keputusan itu. Dan terkadang, “mudah” untuk berandai-andai bahwa hidup akan lebih enak/asyik/sukses andaikata kita dulu memilih keputusan yang lain itu. Nah, bukan kah pepatah ini juga cocok untuk “pikiran” semacam ini?

Pikiran “lebih enak/asyik/sukses” ini mungkin adalah “hijau”-nya yang disebabkan oleh pembandingan sisi positif dari kehidupan yang cuma bayangan itu dengan sisi negatif dari kehidupan “nyata” kita. Dan jika memang demikian, aku rasa penting sekali untuk menyadari demikian. Jika tidak, ini akan menimbulkan rassa “penyesalan”; rasa penyesalan yang sungguh bisa disesalkan, menurutku, karena aku rasa ini adalah rasa penyesalan yang sebenarnya “tidak perlu”.

Bagaimana menurut kalian?

Advertisements
Contemplation, General Life, Thoughts, Zilko's Life

#2108 – Early Week Drama

ENGLISH

So my week started with a “drama”, haha.

This broken old blender started it all…

It started with my blender breaking down on Monday morning when I was making a smoothie bowl for breakfast. And so I went to an electronic store after work that day to buy a new one (the old blender’s warranty period had passed); as I love having a smoothie bowl for breakfast nowadays 😀 .

I decided to buy a good blender, which was made from stainless steel, meaning it was quite heavy. The electronic store was located near a tram stop which I, usually, could access via one of the two pedestrian bridges nearby. However, it just happened that both bridges were closed today for some construction work! And so I had to walk a little bit further away, while carrying the quite heavy blender, to another tram stop which required no access via those bridges. On top of that, the weather was “great” that afternoon in Amsterdam when the sun was shining at it was really warm at around 25°C!

The weather in Amsterdam was nice though…

When I almost reached the other tram stop, I just realized that I had lost my ov-chipkaart (the Dutch public transportation card)! I knew I must have just lost it, because I used the card to take the Metro from my office to the electronic store. Initially I put the card in one of my jacket’s pocket. But because of the sun and warm weather, I decided to take off my jacket and put the card in my jeans’ pocket. This turned out to be a terrible idea, because at some point the card must have fallen off somewhere (possibly when I was taking my iPhone out for some Instagram Story posts (Hey, the weather was “great”, don’t judge! 😛 ), as I put both in the same pocket). I tried to trace the card back, while -I must mention this again- carrying my new heavy blender, but had no luck.

Oh well…

To get back home, I had no other option than buying a standard one-way tourist ticket for €3. And of course I already knew what my next course of actions would be. Once home, I would access my personal profile online, block the card, and ask for a replacement (which would cost €11). The remaining credit in the lost card would be transferred back to my bank account automatically.

Except that … somehow I couldn’t see my card that I just lost linked to my account! And then I remembered that this card was, indeed, new which I just got this February. Since then, I hadn’t bothered to manually couple the card to my account because I assumed it would happen automatically (which I think was a fair assumption given that my NS and GVB abonnement (subscription/deal) were automatically transferred to this new card).

Of course I could add a new card into my account. I could dig into my email to find the card number (which obviously I didn’t remember by heart). The problem was, I also needed the expiry date of the card, which could only be found on the card itself! Darn!! I always think I am a good problem solver, but at this point I felt like I was facing a dead end.

But then I thought that while I didn’t exactly remember the expiry date, I could make an educated guess by inferring from the date I received the confirmation email of this “new” card earlier this year and the “usual” validity period of a card (5 years). As I had nothing to lose, I decided to enter my guess, and I got it correct in the first trial! Yay!

Once the card was coupled, I immediately blocked it and asked for a replacement (and paid the €11 fee), haha.

So I guess the moral of the story is: never forget to couple a personal ov-chipkaart into your account! Lol 😆 . And also, to never panic while facing an immediate problem! A calm mind is more likely to think of a creative solution! 😀

My new blender

BAHASA INDONESIA

Jadi ceritanya mingguku ini dimulai dengan sebuah “drama”, haha.

Blender lamaku yang rusak ini memulai semuanya…

Semuanya dimulai dengan blender-ku yang tiba-tiba rusak di hari Senin pagi ketika aku sedang membuat smoothie bowl untuk sarapan. Dan jadilah sorenya sepulang kerja aku mampir di sebuah toko elektronik untuk membeli yang baru (masa garansi blender lamaku sudah lewat); soalnya sekarang ini aku suka makan smoothie bowl untuk sarapan 😀 .

Jelas dong aku memutuskan membeli blender yang bagus, yaitu yang dibuat dari stainless steel, yang mana berarti blendernya lumayan berat. Toko elektroniknya berlokasi di dekat sebuah halte tram yang mana, biasanya, bisa diakses melalui satu dari dua jembatan pejalan-kaki di dekat situ. Namun, kebetulan hari ini kedua jembatannya ditutup karena pekerjaan konstruksi! Jadilah aku harus berjalan lebih jauh, sembari membawa blender yang lumayan berat itu, ke halte tram lain yang bisa diakses tanpa harus menyeberangi dua jembatan itu. Di samping itu semua, cuaca sore itu lagi “bagus” di Amsterdam dimana matahari bersinar cerah dan panas dengan suhu sekitar 25°C!

Cuaca di Amsterdam lagi oke sih…

Ketika aku nyaris tiba di halte tramnya, aku baru sadar bahwa ov-chipkaart-ku (kartu transportasi umum di Belanda) hilang dong! Aku yakin banget aku baru saja kehilangannya, karena kartunya kugunakan untuk naik Metro dari kantorku ke toko elektroniknya. Awalnya, kartunya kusimpan di kantong jaket. Tapi karena matahari yang bersinar cerah dan suhu yang panas itu, aku memutuskan untuk melepas jaketku dan kartunya kupindahkan ke kantong celana. Ini ternyata adalah ide yang buruk karena suatu waktu pasti kartunya terjatuh entah dimana (kemungkinan sih ketika aku mengambil iPhone-ku untuk membuat posting InstaStory (Hey, cuacanya kan lagi “kece” ya, hahaha! 😛 ), karena aku menyimpan keduanya di kantong yang sama). Aku mencoba meniti ulang langkahku untuk mencari kartunya, sembari -harus kutekankan lagi nih- membawa blender yang berat, tetapi keberuntungan tidak berpihak padaku.

Ya sudah…

Untuk pulang ke rumah, aku tidak memiliki pilihan lain selain membeli tiket satu arah standar untuk turis seharga €3. Dan tentu saja aku sudah tahu langkah-langkahku selanjutnya. Begitu sampai di rumah, aku akan mengakses profil personalku di internet, memblok kartunya, dan mengajukan permohonan kartu pengganti (yang biayanya €11). Sisa kredit di kartuku yang hilang otomatis akan ditransfer kembali ke rekening bank-ku.

Kecuali … entah mengapa aku tidak melihat kartuku yang baru saja hilang ini di akunku! Dan jadilah aku ingat bahwa kartu ini adalah kartu baru yang baru aku dapatkan Februari kemarin. Semenjak waktu itu, aku memang belum memasangkan kartu baru ini secara manual ke akun online-ku karena aku berasumsi pemasangan ini otomatis (yang mana menurutku adalah asumsi yang wajar mengingat abonemen NS dan GVBku kan otomatis ditransfer ke kartu baru ya).

Tentu saja aku bisa menambahkan kartuku ini ke akunku ini. Dari salah satu email, aku bisa mendapatkan nomor kartuku (yang mana jelas lah nggak aku hafal di luar kepala). Masalahnya, untuk menambahkan kartu ini aku juga memerlukan tanggal masa habis berlaku kartu, yang hanya ada di kartunya! Sial!! Aku percaya bahwa aku adalah problem solver yang baik, tapi di waktu ini aku sempat merasa menghadapi jalan buntu.

Tapi kemudian aku berpikir bahwa biarpun aku tidak ingat tanggal masa habis berlaku kartunya, kan aku bisa membuat tebakan yang cerdas ya dengan menggunakan informasi tanggal dari hari dimana aku menerima email konfirmasi kartu “baru” ini di awal tahun ini dan panjang normal periode masa berlaku kartunya (5 tahun). Karena toh nothing to lose, aku memutuskan untuk mencoba menggunakan tanggal tebakanku ini, dan ternyata aku langsung benar di tebakan pertama dong! Hore!

Setelah kartunya berada di akunku, langsung deh aku membloknya dan meminta kartu pengganti (dan membayar biaya €11), haha.

Jadi pesan dari cerita ini adalah: jangan pernah lupa memasukkan kartu ov-chipkaart baru ke akun kalian! Huahaha 😆 . Dan juga, jangan pernah panik ketika menghadapi masalah! Pikiran yang kalem lebih mungkin untuk menghasilkan solusi yang kreatif! 😀

Blender baruku
Contemplation, PhD Life, Thoughts

#2054 – A Year A Doctor

ENGLISH

This day last year, officially I got my PhD degree and so since then I have been entitled to use the title “Doctor”, haha 😛 .

Doctor Evil. Source: https://9gag.com/tag/evil

So how has this one year been in relation to this title? Well to be honest, it has been as how it was before my graduation in the sense that I did not “use” the title a lot, haha. I mean, life (even at work) is very casual here in the Netherlands where we don’t even use “Mr.” or “Mrs.” or the likes, let alone academic degree! Even at work we are all in first name basis, even when I address the CEO of my company 🙂 . This was also true in the university. I addressed the head of my research group, who was a professor, with his first name without his “Professor” title.

But an academic degree is much more than just adding some title into your name. What “in the inside” is what matter much more. As to me personally, I feel like this title has given me a sense of accomplishment, which instills self confidence. I can legitimately say that I did the (hard and long) process of obtaining the degree and succeeded. And hopefully along the way the process has shaped me into a better person, be it professionally or personally.

***

Anyway, today I am going to Copenhagen for, coincidentally, the PhD defense of a good friend of mine! Yeah, exactly a year after mine, my friend is going to get hers! It is quite funny how things unravel at times…

One year ago in Delft.

BAHASA INDONESIA

Tepat hari ini tahun lalu, resmi aku mendapatkan gelar PhD (S3)-ku dan semenjak itu aku berhak menggunakan titel “Doktor” di depan namaku, haha 😛 .

Doctor Evil. Sumber: https://9gag.com/tag/evil

Nah bagaimana nih setahun ini berkaitan dengan gelar ini? Ya sejujurnya sih, sama aja sih seperti sebelum kelulusanku dimana gelar ini tidak banyak “dipakai”, haha. Maksudku, di Belanda kan kehidupan itu (termasuk kehidupan di kantor) kasual ya dimana bahkan panggilan “Bapak” atau “Ibu” atau semacamnya itu tidak pernah digunakan, apalagi gelar akademik! Di kantor kami saling memanggil satu sama lain dengan nama depan loh, bahkan termasuk ketika aku memanggil CEO kantorku 🙂 . Situasi di universitas juga seperti ini. Aku memanggil kepala grup risetku, yang mana seorang profesor, dengan nama depan saja tanpa embel-embel titel “Profesor”-nya.

Tetapi gelar akademik itu kan lebih dari sekedar titel untuk ditempelkan ke nama kan ya. Yang “di dalam” lah yang jauh lebih penting. Untukku pribadi, aku merasa titel ini memberikanku rasa pencapaian, yang mana membangkitkan rasa percaya diri. Aku bisa kan bilang bahwa aku sudah melakukan dan melalui proses (berat dan panjang) untuk mendapatkan gelarnya dan berhasil. Dan mudah-mudahan proses itu telah membentukku menjadi pribadi yang lebih baik, baik itu secara profesional maupun secara personal.

***

Anyway, hari ini aku pergi ke Copenhagen untuk, kebetulan banget, sidang PhDnya seorang teman baikku! Iya lho, tepat satu tahun setelah sidangku, temanku akan mendapatkan gelar PhDnya! Terkadang kebetulan itu lucu banget ya…

Contemplation, Thoughts, Travelling

#2052 – The Last Week Before A Vacation

ENGLISH

I started writing the draft of this post just two days before the start of my November 2017 trip to Indonesia. While it was not a “eureka” moment whatsoever, the context was very relevant at the time which made me want to write it down 😛 .

To me, the moment just before the start of a big trip or vacation is one of the worst! Well, as in it feels like there are so many things going on that need to be taken care of while in reality, there might actually not be. It is true, though, that to me there are a few separate factors occupying my mind at such time and they are conditionally forced to interact with each other. I hypothesize this interaction is what causes that feeling!

First of all, there are of course work stuffs. Having a big vacation coming up actually can be seen as an extra deadline; but not imposed by a project or my superior or anything, but by myself, haha. To me, whenever possible I always want to start a vacation or a trip on a clear state of mind, without any work-related “luggage” carried on. This, however, means that I feel the strong urge to finish my current tasks before I go and this can certainly be quite stressful.

Separate from that, there is of course the excitement. I mean, who wouldn’t feel excited just before a big trip? Daydreaming forward on the nice coming trip makes the present somehow feels a little bit more miserable. And for this trip to Indonesia, the Dutch Fall weather certainly did not help at all.

On the other hand, there is also the important preparation, like packing and preparing all the documents and stuffs (making sure to have my flight tickets and hotel reservations ready, for instance). And then of course the lingering sneaky thought of “Am I forgetting something?“.

All in all, this results in me facing myself and my mind to multitask. On top of that, as I said, these factors do not stand by themselves as they interact with each other. And so this time can certainly be quite stressful! Haha 😛 . I noticed myself that week where I appeared to be uncharacteristically “rushing” a little bit more and less calm than usual.

But of course given the amount of my experience with travelling, that was not my first experience handling such situation. I have learned that since weeks before the trip, I would need to start the anticipation. For my work, I started to arrange my schedule accordingly, and told my colleagues and stakeholders in advance about my plan. This helped in making the “size” of the deadline to be more manageable. For the preparation, I started packing my suitcase since a few days before the trip. So no last minute packing! Haha 😛 . And I made a list on what I would need to bring. For the excitement, unfortunately, there was nothing that I could do, haha…

But well, eventually this all leads to the trip itself where the moment the trip begins is, on the other hand, one of the best!

BAHASA INDONESIA

Aku mulai menulis draft posting ini sekitar dua hari sebelum perjalanan bulan November 2017ku ke Indonesia dimulai. Walaupun waktu itu topik ini bukanlah momen “eureka”, konteksnya amat relevan sehingga aku merasa aku perlu menuliskannya 😛 .

Untukku, momen sebelum sebuah perjalanan atau liburan besar dimulai adalah salah satu yang terburuk! Yah, rasanya ada banyak banget gitu yang berlangsung pada waktu yang bersamaan yang perlu diurus, padahal sebenarnya kenyataannya mungkin tidak sebanyak itu, haha. Namun, benar bahwa ada beberapa hal terpisah yang mengisi pikiranku di waktu-waktu ini dan situasi memaksa mereka untuk berinteraksi satu sama lain. Hipotesaku adalah interaksi ini lah yang menimbulkan perasaan terburuk itu!

Pertama-tama, tentu saja ada urusan kerjaan ya. Adanya sebuah liburan besar yang akan tiba sebenarnya juga berarti sebuah tenggat waktu (deadline) ekstra; yang bukan datang dari sebuah proyek atau dari atasan, tetapi dari diriku sendiri, haha. Untukku, selama memungkinkan aku ingin berangkat dalam sebuah liburan dengan pikiran yang tenang, tanpa “embel-embel” urusan pekerjaan yang ikut terbawa. Ini, tapinya, berarti aku juga jadi merasakan keinginan kuat untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaanku waktu itu sebelum pergi dan tentu ini terasa cukup stressful.

Lepas dari itu, tentu saja ada perasaan excitement. Maksudku, siapa juga yang nggak merasa excited sebelum berangkat liburan ya? Masalahnya, memikirkan ke depan mengenai perjalanan yang akan segera datang dan mengasyikkan itu justru membuat saat ini terasa lebih menyedihkan. Dan untuk perjalanan ke Indonesia kemarin ini, cuaca musim gugur di Belanda jelas sama sekali tidak membantu.

Di sisi lain, ada juga persiapan yang tentu juga penting, seperti misalnya mulai packing dan menyiapkan segala dokumen dan tetek-bengek lainnya (memastikan semua tiket pesawat, reservasi penginapan, dll siap, misalnya). Dan tentu saja pikiran menyebalkan “Eh, aku kelupaan apa ya?” itu.

Jadi, ini berakibat pada diriku dan pikiranku yang tiba-tiba, mau tidak mau, mesti multitasking. Di samping itu, seperti yang kubilang faktor-faktor tersebut tidak berdiri sendiri dan mereka justru berinteraksi satu sama lain. Dan jadilah sebagai akibatnya ini bisa terasa agak stressful! Haha 😛 . Aku perhatikan diriku minggu itu dimana rasanya, tidak biasanya, aku cenderung agak lebih “terburu-buru” dan kurang kalem dibandingkan biasanya.

Tetapi tentu saja dong dengan pengalamanku jalan-jalan, ini bukan lah kali pertama aku menghadapi situasi ini. Aku sudah tahu bahwa semenjak sekian minggu sebelum liburan, aku sudah harus memulai antisipasi. Untuk kerjaan, aku mulai mengatur jadwalku sedemikian rupa, dan juga memberi-tahu kolega dan stakeholders-ku jauh-jauh hari mengenai rencanaku. Ini membantuku untuk membuat “ukuran” dari tenggat-waktunya untuk lebih masuk akal untuk ditaklukkan. Untuk masalah persiapan, aku mulai packing semenjak sekian hari sebelum perjalanan. Jadi nggak ada deh ceritanya last minute packing! Haha 😛  Dan aku juga membuat daftar mengenai apa saja yang mesti kubawa. Untuk excitement, sayangnya tidak ada yang bisa kulakukan untuknya, haha…

Ah, tetapi toh pada akhirnya aku akan tiba juga di waktu keberangkatan yang mana merupakan satu waktu yang terbaik!

Contemplation, Thoughts

#2038 – 2017 In Review

ENGLISH

Previous years posts:
1. 2008
2. 2011
3. 2012
4. 2013
5. 2014
6. 2015
7. 2016

The year of 2017 has been a big one in my life, with a couple of life achievements I reached throughout the year. As the year is coming to an end soon, here is a post summarizing my life this year.

January

I started January in Yogyakarta, Indonesia for my year-end vacation. I went back to Europe during the first week by flying to Amsterdam via Bali, Shanghai, and Paris, haha. Upon arriving in Amsterdam, it happened that a good friend of mine was in transit for one night from the UK to Indonesia and so I spent the night there.

Mie goreng, mie godhog, and magelangan in Yogyakarta
An Air France’s Boeing 777-300ER reg F-GSQG in Shanghai

January 2017 was a big month in my life with me defending my PhD dissertation at the end of the month. This was the pinnacle of my life of the past four years and a half, where I was working for this moment! In the end, I succesfully defended my PhD and so I was awarded my “Doctorate” degree. From now on, I am entitled to call myself “Dr. Ir. Zilko”, or “Zilko, S.Si, M.Sc, Ph.D”. 😎

The moment I became a Doctor

February

As my parents and brother were travelling to Europe for my PhD defense, we spent the following week travelling to the northern-west region of Italy. We visited Genova, Cinque Terre, Florence, and Rome. From there, I went back to Amsterdam while they continued their trip to Spain. The weekend later, we met up in Marseille.

Riomaggiore in Cinque Terre, Italy
The famous David by Michaelangelo

February was also a big month for me where, somehowidth=”240″ w, I won the negotiation to buy my own apartment! I would not get the keys to my apartment until April though, as there were still some paperworks that needed to be done. But if it all went well, I would be a home-owner in two months!

March

While I did not travel that much in March, I was still very busy this month because I had to do furnitures shopping for my apartment! Haha 😆 . With all the purchasing costs needed to be paid during this month, I spent the most amount of money I had ever done in my life this month, haha 😆 . It was exciting and terrifying at the same time, though; so it was definitely a very interesting experience.

Actually I did an Avgeek Weekend Trip in March

April

Thankfully everything went well so I got the keys of my own apartment this month. The next matter to be taken care of was obviously assembling all the furnitures together and arranging all the necessary needs to make the apartment livable (e.g. internet connection). Of course I also needed to arrange my house moving from Delft to Amsterdam. This means that this month was my last month in Delft after more than 6.5 years living there!

The end of the Delft chapter of my life

However, I still managed to slip in an Easter trip to Zurich in the middle of the month. I was quite unlucky, though, where it was constantly raining in Zurich almost the whole time I was there!

Zurich

May

Mainly I was still taking care of furnishing my apartment in May, where I got more stuffs in like a TV (plus its subscriptions) and also a cleaning robot! 😀

Lion selfie in Lyon

May was a month full of long weekends in the Netherlands. I made use one of them to go to Lyon for a long weekend trip.

June 

I started June by going on another long weekend trip to Bremen. A weekend later, I went to Paris for my annual trip to Roland Garros. I watched the women’s singles final match which Jelena Ostapenko unexpectedly won against Simona Halep.

The Bremen Hauptbahnhof, Bremen
Jelena Ostapenko won Roland Garros

There were a couple of apartment matters needed to be taken care of this month. I forgot to take my keys which resulted in me having to change the locking system and also I needed to do a mini-renovation in my shower room. Both cost some amount of money, of course.

July

I started July in a very lucky manner where I got a ticket for the ladies’ singles final of Wimbledon between Garbine Muguruza and Venus Williams! Even though Venus lost that match, it was still an exciting experience overall for me to able to witness an official Venus Williams singles match, let alone a Wimbledon final!

Venus Williams serving
Strawberry and cream

At the end of July, for the first time ever I went to Berlin. I loved the city and actually thought why did I not go there earlier? Haha 😆

At the “Checkpoint Charlie” in Berlin

August – October

With a UK visa in my hand, I arranged another weekend trip to London in August as London was one of my most favorite cities in the world. At the end of the month, I went on an Avgeek Weekend Trip to Lyon to catch Air France’s Lyon – Paris flight on a Boeing 787-9 Dreamliner.

The London Eye and River Thames, London
An Air France’s Boeing 787-9 F-HRBA in Lyon

I travelled to Manchester and Cardiff in September. My trip to Cardiff made me officially have visited all four countries within the United Kingdom, with Wales finally being ticked off!

The Merchants’ Bridge in Manchester
Cardiff selfie, finally 4 out of 4 in the UK!

I went on three Avgeek Weekend Trips in October. The biggest one was the second one, where I went to London to catch Air France’s London – Paris flight on a Boeing 787-9 Dreamliner.

The SkyTeam Lounge at Heathrow

November – December

I went on a weekend trip to Newcastle to start November and visited London for a weekend again in December because I could 😛 .

Dusk in Newcastle upon Tyne
Lively London in December

The London trip one did not go exactly as planned due to the severe snow storm that hit Western Europe that weekend. As a result, I had to take the long way back from London to Amsterdam via land; which was an interesting experience on its own.

Taking a ferry from Dover to Dunkerque

I went to Indonesia for my brother’s wedding in the middle of November. And it was indeed a very festive occassion! During this trip, I also made stops at Jakarta and Solo, both cities I last visited in 2010.

Ready for the wedding
Grand Indonesia

To end the year, right now I am in California enjoying the Californian winter! :mrgreen:

BAHASA INDONESIA

Posting-posting tahun-tahun sebelumnya:
1. 2008
2. 2011
3. 2012
4. 2013
5. 2014
6. 2015
7. 2016

Tahun 2017 adalah tahun yang besar di dalam hidupku, dengan dua pencapaian hidup yang aku gapai di sepanjang tahun ini. Dan karena tahunnya akan segera berakhir, berikut ini sebuah posting untuk merangkumnya.

Januari

Januari aku mulai di Yogyakarta, Indonesia untuk liburan akhir tahun. Aku kembali ke Eropa di minggu pertama dengan terbang melalui Bali, Shanghai, dan Paris, haha. Begitu tiba di Amsterdam, kebetulan seorang teman baikku sedang transit selama satu malam di Amsterdam dari UK ke Indonesia jadilah aku menginap semalam di sana.

Soto Kadipiro yang legendaris di Yogyakarta.
Airbus A330-300 rego B6095nya China Eastern.

Januari 2017 adalah bulan besar di dalam hidupku karena aku akan menjalani sidang disertasi PhD (S3)-ku di akhir bulan. Ini adalah puncak dari kehidupanku selama empat setengah tahun terakhir sebelumnya, dimana aku bekerja-keras untuk momen ini! Pada akhirnya, aku sukses mempertahankan disertasi PhD-ku sehingga aku diberikan gelar “doktoral”. Jadi sejak waktu ini, aku bisa memanggil diriku dengan sebutan “Dr. Ir. Zilko”, atau “Zilko, S.Si, M.Sc, Ph.D”. 😎

Foto tangga yang terkenal itu.

Februari

Karena orangtua dan adikku pergi ke Eropa untuk sidang PhDku, kami menghabiskan seminggu setelahnya untuk liburan ke area barat lautnya Italia. Kami mengunjungi Genova, Cinque Terre, Florence, dan Roma. Dari Roma, aku kembali ke Amsterdam sementara mereka lanjut jalan-jalan ke Spanyol. Akhir pekan berikutnya, kami bertemu kembali di Marseille.

Manarola
Vatican

Februari jugalah bulan yang besar untukku dimana aku menang dalam negosiasi pembelian apartemenku! Aku baru akan mendapatkan kuncinya di bulan April sih karena akan ada beberapa dokumen yang harus diurus dulu sebelumnya. Namun, jika semuanya berjalan lancar, dalam waktu dua bulan aku akan menjadi seorang pemilik rumah!

Maret

Walaupun aku tidak jalan-jalan di bulan Maret, bulan ini adalah bulan yang cukup menyibukkan karena aku harus belanja perabotan rumah untuk apartemenku! Haha 😆 . Dan ditambah dengan semua biaya yang berkenaan dengan pembelian rumahnya yang harus dibayarkan di bulan ini, aku membayarkan nominal terbesar yang pernah aku lakukan seumur hidup di waktu ini deh, haha 😆 . Rasanya seru tetapi seram juga pada saat yang bersamaan; jadi ya memang ini adalah pengalaman yang unik.

Sebenarnya aku ada satu Avgeek Weekend Trip sih di bulan ini

April

Untungnya semua lancar sehingga aku mendapatkan kunci apartemenku di bulan ini. Hal selanjutnya yang harus diurus adalah pemasangan perabotan rumah itu dan juga mengurus semua hal yang diperlukan untuk membuat apartemennya bisa aku huni (misalnya: koneksi internet). Tentu saja aku juga harus mengurus pindahan dari Delft ke Amsterdam. Ini berarti bulan ini adalah bulan terakhirku di Delft setelah 6,5 tahun lebih tinggal di sana!

Bye, bye, Delft.

Walaupun sibuk, aku masih sempat menyempilkan satu perjalanan Paskah ke Zurich di pertengahan bulan. Aku kurang beruntung, sayangnya, dimana hujan terus-terusan dong di Zurich!

Zurich dari Lindenhof

Mei

Umumnya aku masih mengurus urusan perabotan apartemenku di bulan Mei, dimana aku membeli barang-barang elektronik lain seperti misalnya TV (sekalian urusan kabelnya) dan juga robot bersih-bersih! 😀

Mei adalah bulan penuh long weekend di Belanda. Salah satunya kumanfaatkan dengan pergi ke Lyon.

Saint Georges di Lyon

Juni 

Juni kumulai dengan perjalanan long weekend lagi ke Bremen. Seminggu kemudian, aku pergi ke Paris untuk perjalanan tahunanku ke Roland Garros. Aku menonton final tunggal putri yang tak disangka-sangka, dimenangi oleh Jelena Ostapenko yang mengalahkan Simona Halep.

Kota Bremen, Jerman
J. Ostapenko vs S. Halep

Ada dua urusan apartemen yang harus kuurus di bulan ini. Aku kelupaan kunciku di sekali waktu yang mana sebagai akibatnya sistem perkunciannya harus diganti dan juga aku harus melakukan renovasi mini di ruang shower. Tentu saja aku harus keluar agak banyak untuk keduanya.

Juli

Juli kumulai dengan amat beruntung dimana aku mendapatkan tiket untuk menonton final tunggal putri Wimbledon antara Garbine Muguruza dan Venus Williams! Walaupun Venus kalah, pengalaman ini masih lah pengalaman yang seru karena aku berkesempatan menyaksikan pertandingan resmi tunggalnya Venus Williams, ditambah lagi di final Wimbledon!

Wimbledon Centre Court
Venus Williams

Di akhir Juli, aku pergi ke Berlin untuk pertama kalinya. Aku amat suka kotanya dan sempat terpikir kok baru sekarang aku ke sana ya? Haha 😆

Berliner Dom

Agustus – Oktober

Dengan visa UK di tangan, aku pergi dalam sebuah perjaanan akhir pekan ke London di bulan Agustus karena kota ini adalah salah satu kota yang paling aku sukai. Di akhir bulan, aku pergi dalam sebuah perjalanan Avgeek Weekend Trip ke Lyon untuk naik penerbangannya Air France dari Lyon ke Paris yang dioperasikan dengan Boeing 787-9 Dreamliner.

Selfie yang sangat amat turistik banget di London!
Kelas Ekonomi Premium di dalam Boeing 787-9nya AF

Aku pergi ke Manchester dan Cardiff di bulan September. Perjalananku ke Cardiff membuatku resmi telah mengunjungi semua empat negara di Inggris Raya, dengan Wales akhirnya tercentang dari daftarnya juga!

Manchester
Cymru Wales

Aku pergi dalam tiga Avgeek Weekend Trip di bulan Oktober. Yang paling seru adalah yang kedua, dimana aku pergi ke London untuk naik penerbangannya Air France dari London ke Paris dengan Boeing 787-9 Dreamliner.

Boeing 787-9 rego F-HRBCnya Air France.

November – Desember

Aku pergi dalam perjalanan akhir pekan ke Newcastle untuk memulai November dan menunjungi London lagi di sebuah akhir pekan di bulan Desember karena aku bisa, haha 😛 .

Selfie Newcastle
Piccadilly Circus

Perjalananku ke London tidak berlangsung sesuai dengan rencana akibat badai salju yang menerjang Eropa Barat di akhir pekan itu. Sebagai akibatnya, aku harus kembali ke Belanda melalui jalur darat; yang mana di satu sisi adalah pengalaman yang menarik sih.

Naik bus ke Belanda dari London.

Aku pergi ke Indonesia di pertengahan November untuk pesta pernikahannya adikku. Dan memang ini adalah pesta perayaan yang ramai banget! Di perjalanan ini, aku juga berkesempatan mampir di Jakarta dan Solo, dua kota yang terakhir kukunjungi di tahun 2010.

Kue pengantin
Kembali di Solo

Untuk menutup tahun besar ini, saat ini aku berada di California untuk menikmati musim dingin California! :mrgreen:

Contemplation, Thoughts

#2030 – People Are Selfish

ENGLISH

Some time ago, I shared about the day where I encountered a tram disruption which caused me to be late for my haircut appointment and skip grocery shopping that day while I was running out of food at home thus forcing me to eat my emergency supply for dinner that evening. In short, I was really annoyed by the disruption that day.

Later I learned about the cause of the disruption. Apparently, not too long before, there was an accident involving a tram and a car. Some people got hurt that they had to be taken by the ambulance. Obviously the police was later involved in the scene as well.

Upon learning about this cause, I realized one thing: people are selfish.

***

In my opinion, selfishness is necessary for “survival”. At the very basic level, people have to think for themselves to “survive”. But how is taking care of yourself selfish? Well, because by definition then at the time you are prioritizing the need of yourself ahead of others, regardless of the well-being of others. This is why I don’t think the antithesis of selfishness in pure form exists. You can’t please or help everyone, i.e. “feeding” anybody else’s selfishness but yours.

***

My annoyed reaction to the tram delay above is an example of my selfishness. I was annoyed that the tram incident disrupted my grocery shopping plan and haircut appointment. While actually, this “discomfort” was minor in comparison to what the victims had to go through that day as a result of the accident (I don’t think the choices between to have your plan slightly ruined vs to have to be hospitalized is a difficult one to make).

Granted, though, that I didn’t know about the accident when I initially got annoyed. Having said that, while learning about the accident dramatically reduced the level of my annoyance, I felt like my annoyance didn’t get completely wiped out. When I got back home, I had nothing to eat except for my emergency supply (read: Indomie 😛 ). And I did not like that because I did not consider instant noodles to be a healthy food option to have for dinner. But at the time, I had no other choice (because I did not feel like ordering something as that would have required some more waiting before I could finally have my dinner). I had to accept and deal with it, a situation which appeared to nurture my annoyance.

***

Understanding that to some degree other people will act selfish, perhaps “towards us”, would help in many cases during the course of life, in my opinion. It certainly puts a lot of encounters in perspective. In some cases, I think this helps us to not take things too personally and hence avoiding the “negativity” or “grudges” to enter our mind or heart.

BAHASA INDONESIA

Beberapa waktu yang lalu, aku bercerita mengenai suatu hari dimana ada gangguan layanan tram yang menyebabkanku terlambat untuk appointment potong rambut di sebuah salon dan harus membatalkan rencana belanja grocery hari itu padahal di rumah aku sedang kehabisan stok makanan sehingga malamnya aku mau tidak mau hanya bisa memakan suplai makanan daruratku. Secara singkat, bisa dibilang aku merasa sebal dengan gangguan tramnya hari itu.

Beberapa saat setelah itu, aku baru tahu penyebab gangguannya. Ternyata, tidak lama sebelumnya, ada kecelakaan yang melibatkan sebuah tram dan sebuah mobil. Beberapa orang terluka karenanya dan harus dibawa ambulans ke rumah sakit. Jelas, polisi juga kemudian terlibat di tempat kejadian.

Ketika mengetahui penyebab ini, aku menyadari satu hal: manusia itu egois.

***

Menurutku, keegoisan itu penting loh untuk “kelangsungan-hidup” (survival). Pada dasarnya, manusia harus berpikir dan mengurusi dirinya sendiri untuk “bertahan hidup”. Nah, yang namanya memikirkan atau mengurusi diri sendiri kok egois? Ya karena ketika sedang memikirkan dan mengurusi diri sendiri, artinya kita sedang mementingkan kepentingan diri sendiri dan bukannya kepentingan orang lain kan? Inilah mengapa aku rasa antitesis dari keegoisan dalam bentuk murinya itu tidak ada. Kita tidak bisa selalu memikirkan dan menyenangkan semua orang, dengan kata lain “memberi-makan” keegoisan orang lain tetapi tidak terhadap diri sendiri.

***

Reaksi sebalku terhadap gangguan tram di atas dalam satu contoh keegoisanku. Aku sebal insiden tramnya mengganggu rencana belanja grocery dan appointment potong rambutku. Padahal, “ketidak-nyamanan” ini tidak ada apa-apanya lah ya dibandingin situasi yang harus dijalani korban kecelakaan hari itu (Jelas tidak sulit lah memilih antara menghadapi situasi rencana yang terkacaukan atau harus dilarikan ke rumah sakit).

Memang sih, aku tidak mengetahui adanya kecelakaan ini ketika aku pertama-kali merasa sebal. Walaupun begitu, walaupun mengetahui penyebabnya jauh menurunkan tingkat kesebalanku, aku merasa kesebalanku tidak sama sekali hilang lho. Ketika aku kembali di rumah, aku tidak memiliki makanan apa-apa kecuali persediaan daruratku (baca: Indomie 😛 ). Dan aku tidak menyukai situasi ini karena bagiku mi instan itu bukanlah pilihan makanan yang sehat apalagi untuk makan malam. Tetapi waktu itu, aku tidak memiliki pilihan lain (karena aku juga ogah memesan delivery sesuatu karena aku harus menunggu lagi sebelum akhirnya bisa makan malam). Aku harus menerima situasi ini, situasi yang ternyata sedikit “menjaga” nyala kesebalanku.

***

Mengetahui bahwa sampai tingkat tertentu orang lain juga akan bertindak egois, mungkin “terhadap kita”, juga akan membantu banget dalam hidup, menurutku sih. Ini membantu dalam memahami suatu situasi. Dalam sebagian kasus, ini membantu kita untuk tidak terlalu memasukkan segalanya ke dalam hati sehingga mencegah pikiran “negatif” dan “kedongkolan” memenuhi pikiran dan hati.

Contemplation, Thoughts

#2019 – The Timing of Disruptions

ENGLISH

It is just a reality that anything will break once in a while, including the smoothness and reliability of the Dutch public transportation. And by “break”, I mean “disruptions”, haha.

While my logic would say that disruptions occur randomly, somehow my heart feels that they do not. In fact, they seem to likely more occur during the worst of time, i.e. the time I am “less okay” with them happening. For instance, when I am on my way to an important meeting, like my Instagram post above from earlier this year, haha 😆 .

Not too long ago, it happened again. After work, I planned to do grocery at a supermarket (as I was running out of food at home) before going to a haircut appointment at a barbershop. I saw my tram at Amsterdam Centraal but it was just standing still for an abnormally long time; and so I immediately figured out that there was a disruption. I felt so annoyed by this. I mean, why did it need to happen today of all days, on the day when I had an appointment (Btw, I HATE to come late to an appointment; coming late is so untypical of me)? Haha 😆 . Finally after waiting for about half an hour, the tram resumed its operation. But because of the delay, I had to drop my plan to the supermarket today and just went straight to the barbershop, where I was late for 15 minutes. That evening, I cooked my emergency instant noodles (read: Indomie 😛 ) for dinner, haha 😆 .

On a more serious note, though, what my heart “feels” might actually be biased. You see, encountering a disruption when I have an important agenda is certainly more “painful” than encountering a disruption when my time is flexible. My hypothesis is that the “pain” makes me “remember” the incident more, hence falsely “associating” the timing occurence of the incidents with the presence of an important appointment/meeting/etc. In other words, I “forget” that these incidents also happen on “less important” time. The lack (or lesser degree) of “pain” I feel at these time cloud these incidents in my mind.

Back to the delayed tram incident which forced me to be late for 15 minutes to my appointment and eat a bowl of Indomie that evening, I eventually learned about the cause of the disruption. This finding actually made me think about a different matter which deserves its own post for the next time, though 🙂 .

BAHASA INDONESIA

Adalah suatu kenyataan bahwa segala sesuatu pasti akan rusak ya, termasuk kelancaran dan kehandalan transportasi umum di Belanda. Dan yang kumaksud dengan “rusak” jelas adalah “gangguan operasional”, haha.

Walaupun menurut logika yang namanya gangguan itu terjadi secara acak, entah kenapa hatiku merasa kemunculannya itu tidak acak. Malahan, rasanya gangguan itu lebih mungkin terjadi di waktu-waktu yang nggak banget, yaitu ketika aku sedang ada acara penting gitu. Misalnya, ketika aku sedang dalam perjalanan menuju sebuah meeting yang penting banget, seperti di posting Instagramku di atas dari awal tahun ini, aha 😆 .

Belum lama ini, kejadian ini terulang kembali. Sepulang kantor, aku berniat berbelanja kebutuhanku di supermarket (kondisi stok bahan masakan/makanan di rumah sedang habis) sebelum pergi ke salon dimana aku sudah ada appointment untuk potong rambut. Aku lihat tramku sudah ada di Amsterdam Centraal tetapi tramnya cuma berhenti doang dalam jangka waktu yang tidak biasa lamanya; jadilah aku langsung menyadari bahwa sedang ada gangguan. Aku merasa sebal banget waktu itu. Maksudku, kok harus kejadiannya sekarang gitu, di waktu dimana aku ada janji (Btw, aku BENCI SEKALI datang terlambat ke sebua janji; datang terlambat itu bukan sifatku)? Haha 😆 . Akhirnya, setelah menunggu selama setengah jam-an, tramnya beroperasi juga. Tetapi karena keterlambatan ini, aku harus membatalkan rencanaku ke supermarket dan langsung pergi ke salonnya, dimana aku terlambat 15 menit dari waktu appointment. Dan malam itu, aku harus mau tidak mau memasak dan makan makanan untuk situasi darurat: mi instan (baca: Indomie 😛 ) untuk makan malam, haha 😆 .

Apa yang “dirasakan” hatiku itu mungkin bias loh sebenarnya. Jelas kan mendapatkan gangguan operasi semacam ini di waktu ketika aku sedang ada agenda penting itu lebih “menyakitkan” daripada mendapatkan gangguannya ketika jadwalku sedang fleksibel. Hipoteasku adalah “rasa sakit” ini membuatku “ingat” insiden ini, sehingga kekeliruan dalam bentuk “asosiasi” antara waktu kejadian insidennya dengan keberadaan acara penting jadi terbentuk. Dengan kata lain, aku “melupakan” gangguan-gangguan yang terjadi di waktu-waktu yang “lebih tidak penting”. Ketiadaan (atau rendahnya tingkat) “rasa sakit” yang kualami di waktu-waktu ini membuatku otakku mengabaikannya.

Kembali ke insiden gangguan tram yang membuatku terlambat 15 menit ke appointment-ku dan memaksaku makan Indomie saja malam itu, pada akhirnya aku mengetaui penyebab gangguannya. Informasi ini sebenarnya membuatku terpikir akan masalah lain yang layak kujadikan posting tersendiri. Tapi posting tersendiri ini untuk nanti saja sih 🙂 .