About Myself · Contemplation · The Past · Thoughts · Zilko's Life

#1973 – People *Can* Change

ENGLISH

I came across something interesting when preparing some material for this post. It was not something surprising in general, but I was quite “wowed” to see that, apparently, I was a living proof for something. And that something was: people *can* change.

In that post I linked to a post of mine from 2011, in where I explicitly wrote:

Well, actually I am not really a sport guy …

Oh wow, how things have changed!!

Okay, I am not going to claim I am a sport guy now because the definition of that is rather vague. However, I can say that now I exercise regulary, a lot lot more regularly than back then. In fact, I feel guilty if I don’t exercise at least once within 48 hours, except when I am on a trip (which I often am 😛 ) where I give myself more leeway. But then again, I walk a lot while on a trip, sometimes even up to 15 km in a day, which is also a form of exercise actually 🤔.

I do like to walk while travelling, like this time in Stonehaven, Scotland in 2015.

In 2011, I still had the mindset I had built since I was, probably, in elementary school. You see, back then I never excelled in sports/gym class at school. Not that I did bad, I was just average. On the other hand, I excelled academically and I decided to put all my focus on this. It was fine for me to not excel in sports, as that was not my forte anyway, because I knew that “brain” was my thing. Brain over brawn. And, maybe in a way, I might try to build my identity around this idea. The problem with this? Nothing, except that I kindof took my health for granted, which had unintentionally become part of that identity as well.

Clearly something has changed since 2011. I cannot pinpoint what exactly happened and when, so maybe the mindset change was a gradual process. But what I know is that over time, I started to understand that I could not, and should not, take my health for granted. And I knew that this had to be for the long-term goal. I started to do more exercises; one baby step at a time, as otherwise it would not work. I also started to watch what I eat. I use brown/red rice at home now. It is more expensive, but my health is more important. I also eat much less rice nowadays. Even one time during lunch at the office, my colleague pointed out that I did not take any rice that day even though the menu was a lamb curry and rice was abundantly provided.

In my first week in the Netherlands in 2010
At Court Philippe Chatrier in 2016

And I do see, and feel, the result; and this might be one factor which keeps the motivation running and burning also. While not obese (Thankfully 😛 ), I was quite overweight back then. Since then, I have lost about 25 kg (This was over a period of 2 years, I think; since then I have managed to maintain my current weight). A friend here even often jokes that I was three times bigger when we first met in my first month in the Netherlands, lol 😆 . Not surprising, though. The two pictures above showed me in my first week in the Netherlands in 2010 (left) and when I went to Roland Garros last year (right). 🙈 More importantly, I also feel much, much, much better in the inside. I feel like my mind is clearer, and I feel much happier overall than I was before. The classic Latin phrase “Mens sana in corpore sano” is no bullshit. I really mean this.

It might be a bit “unusual” but I feel like I am in better physical and mind shape now, when I am in my late 20s, than years ago in my late teens or early 20s.

***

To me, this is interesting. Something which I believed was part of my identity could change over time, just by the power of will and patience and time, thankfully for the good. Thank to this blog, though, that I can make this observation (Hey this is one of my reasons to blog anyway 😛 ).

BAHASA INDONESIA

Aku mendapatkan suatu obervasi menarik ketika mempersiapkan materi posting ini beberapa waktu lalu. Walaupun nggak mengherankan secara umum, aku cukup dibuat “terpana” karenanya, ternyata karena aku adalah bukti hidup untuk suatu hal. Dan hal itu adalah: orang *bisa* berubah.

Jadi begini, di posting itu aku memberikan tautan ke sebuah posting-ku di tahun 2011, dimana waktu itu secara eksplisit aku tulis:

Yah, sebenarnya aku kan bukan orang yang sporty banget yah …

Oh wow, bagaimana situasi sudah berubah banget sekarang!!

Oke, aku tidak akan mengklaim bahwa aku orang yang sporty sekarang karena definisi sporty sendiri tidak jelah saklek/pasti. Namun, aku bisa bilang bahwa sekarang aku berolahraga secara rutin, jauh, jauh lebih rutin daripada dulu. Bahkan, aku akan merasa bersalah apabila aku tidak berolahraga minimal sekali dalam selang waktu 48 jam, kecuali ketika sedang jalan-jalan (yang mana sering aku lakukan sih 😛 ) dimana aku lebih tidak ketat akan hal ini. Namun lagi, ketika jalan-jalan aku hampir selalu berjalan-kaki sih, bahkan terkadang bisa mencapai 15an km dalam satu hari. Dan ini kan salah satu bentuk olahraga juga yah 🤔.

Aku suka berjalan-kaki ketika jalan-jalan, seperti misalnya kala ini di Stonehaven, Skotlandia di tahun 2015.

Di tahun 2011, aku masih memiliki mindset yang sudah kutanam semenjak, mungkin, sewaktu aku SD. Jadi ceritanya dulu aku tidak unggul di pelajaran olahraga gitu deh. Bukannya jelek sih, tapi aku biasa-biasa aja lah. Di sisi lain, secara akademis aku sangat unggul dan aku memutuskan untuk memfokuskan diriku total ke sisi ini. Nggak apa-apa aku nggak unggul di olahraga, toh memang olahraga bukanlah keahlianku kok, karena aku tahu aku unggul dalam hal “otak”. Brain over brawn gitu deh ceritanya. Dan mungkin, di satu sisi, aku juga membangun identitas diriku berdasarkan ide ini. Masalah dari ini? Nggak ada sih sebenarnya, kecuali bahwa aku menjadi cukup menyepelekan urusan kesehatan yang, sayangnya, tidak sengaja menjadi bagian dari identitas ini.

Jelas sesuatu sudah berubah semenjak tahun 2011. Aku sendiri tidak bisa menunjukkan apa yang terjadi dan kapan persisnya, jadi aku rasa perubahan mindset-ku adalah sebuah proses. Yang kutahu adalah seiring berjalannya waktu, aku mulai memahami bahwa aku tidak boleh, dan memang sebaiknya tidak, menyelepekan urusan kesehatanku. Dan aku tahu ini harus lah untuk tujuan jangka panjang. Aku mulai berolahraga lebih rutin; pelan-pelan saja tapi pasti karena kalau tidak, pasti tidak akan jalan secara jangka panjang. Aku juga mulai lebih memperhatikan apa yang aku makan. Aku menggunakan beras coklat/merah sekarang. Lebih mahal memang, tetapi kesehatanku lebih penting. Aku juga mengurangi banyak konsumsi nasiku. Bahkan suatu waktu ketika makan siang di kantor, seorang kolegaku bertanya mengapa aku tidak mengambil nasi padahal menu yang disajikan hari itu adalah kari kambing yang ditemani dengan nasi.

Di minggu pertamaku di Belanda tahun 2010
Di Lapangan Philippe Chatrier tahun 2016

Dan aku sendiri melihat, dan merasakan, hasilnya; dan memang ini adalah satu faktor yang membantu motivasiku untuk tetap menyala. Walaupun nggak sampai obesitas (untungnya 😛 ), aku bisa dikatakan agak overweight dulu, haha. Semenjak waktu itu, beratku sudah turun sekitar 25an kg (Penurunan ini dalam periode 2 tahunan sih kalau nggak salah; dan semenjak itu beratku aku pertahankan). Seorang temanku bahkan sering bercanda menyebutkan bahwa dulu aku berukuran tiga kali lebih besar ketika kami pertama kali bertemu di bulan pertamaku di Belanda, haha 😆 . Nggak mengherankan juga sih. Dua foto di atas menunjukkan aku di minggu pertamaku di Belanda di tahun 2010 (kiri) dan ketika aku pergi ke Roland Garros tahun lalu (kanan). 🙈 Lebih penting lagi, aku juga merasa jauh, jauh, jauh lebih baik secara mental. Aku merasa pikiranku lebih jernih, dan aku merasa jauh lebih bahagia secara keseluruhan daripada dulu. Ungkapan Latin klasik “Mens sana in corpore sano” itu bukan omong kosong. Dan aku bersungguh-sungguh dengan pernyataan ini.

Mungkin agak “tidak biasa” tetapi aku merasa berada dalam kondisi fisik dan mental yang lebih baik sekarang, di penghujung umur 20anku, daripada bertahun-tahun lalu di penghujung umur remajaku atau awal 20an.

***

Untukku, ini menarik. Sesuatu yang dulunya aku kira bagian dari identitasku bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu, hanya karena kekuatan pikiran dan kesabaran dan waktu, untungnya untuk hal yang positif. Berkat blog ini juga sih aku bisa membuat observasi ini (Hey, memang ini kan salah satu alasan ngeblog 😀 ).

Advertisements
About Myself · Thoughts

#1898 – Human and Adaptation

ENGLISH

Adaptation is a trait of living organism (and, thus, also of human). Yes, that is a cheesy and geeky opening sentence of a post, lol 😆 . Anyway, in the last a few weekends or so, I have noticed how my body has adapted to the “new” routine I must develop since I started working in Amsterdam while still living in Delft.

Commuting is part of my current life

After six years of living and working (and studying) in Delft, obviously I had developed my own daily rhythm. Most of the time I did not have to worry to oversleep. I also had two big (warm) meals everyday, and for this I chose breakfast and dinner; arguing that a breakfast would be crucial to start the day while I would still be full anyway for lunch. Btw, two big meals a day is a habit I have developed since moving to Bandung in 2006, though.

The contrast change from working in Delft to working in Amsterdam while still living in Delft meant that I would need to adapt. First of all, I would need to get up much earlier, given the on average three hours of commute I would have to do everyday, haha 😆 . Secondly, while still maintaining my two big meals a day habit, I had to shift my first big meal to lunch and had lighter meal (mostly smoothie bowls) for breakfast.

I like to have smoothie bowls for breakfast nowadays

While it was difficult at first, now I have started to get used to getting up early in the morning. Even in most cases I am already able to beat the alarm clock! Though, just to be safe, I still set my alarm clock every night, haha 😛 .

And it is quite “funny” how human brain works. It appears to have adapted this daily weekday rhythm that quite often in weekends, I get up at approximately the same time! (Obviously I don’t set my alarm clock for weekends). Once I felt like this was ridiculous and I thought my body had not got enough sleep. So I forced myself to go back to sleep. And guess what? When I woke up eventually, I did not feel good at all and actually had a headache from, I think, too much sleep! Haha 😆 .

Apparently too much sleep is not good as well 😛 .

To be honest I wondered how I would perform at work in the morning given that now I consumed much smaller breakfast than before. It turned out to be fine, actually, which surprised me a lot! 😮 I just needed to make sure that I would not have late lunch, though. Once, it happened that I started to “see stars” when I had late lunch (though it was right when I just started, so that might also play a big role).

So, yeah, human and adaptation. I guess we should never underestimate what our brain and body can adapt to, because it might surprise us!

BAHASA INDONESIA

Adaptasi adalah salah satu sifat dari organisme (yang mana artinya juga termasuk manusia). Iya, kalimat sebelum ini adalah kalimat yang norak dan geeky banget untuk membuka suatu posting ya, haha 😆 . Anyway, beberapa akhir pekan belakangan ini, aku mulai mengamati bahwa badanku juga mulai beradaptasi terhadap rutinitas “baru”-ku loh semenjak aku bekerja di Amsterdam sementara masih tinggal di Delft.

Nglaju adalah bagian kehidupanku saat ini

Setelah enam tahun tinggal dan bekerja (dan belajar) di Delft, jelas sebuah ritme harianku telah terbentuk. Kebanyakan sih aku tidak perlu takut akan bangun kesiangan. Aku juga hanya makan besar dua kali sehari, dan untuk ini aku memilih sarapan dan makan malam; dengan alasan sarapan itu penting untuk memulai suatu hari dan akibatnya aku masih akan kenyang di waktu makan siang, haha. Btw, makan besar dua kali sehari ini adalah kebiasaan yang sudah aku lakukan semenjak aku pindah ke Bandung di tahun 2006.

Nah, perubahan kontras dari bekerja di Delft ke bekerja di Amsterdam sementara masih tinggal di Delft berarti aku harus menyesuaikan diri. Pertama-tama, aku harus bangun lebih pagi, berkat nglaju selama sekitar, rata-rata, tiga jam setiap hari, haha 😆 . Yang kedua, walaupun aku masih mempertahankan kebiasaanku makan besar dua kali sehari, aku harus menggeser makan besar pertamaku ke makan siang dan sarapan lebih ringan (seringnya sih smoothie bowls).

Sekarang-sekarang ini aku suka makan smoothie bowls untuk sarapan.

Walaupun awalnya memang sulit, sekarang aku sudah mulai terbiasa untuk bangun lebih pagi di pagi hari. Bahkan cukup sering aku berhasil bangun sebelum alarmku berbunyi loh! Walaupun, untuk amannya sih, aku masih mengeset jam alarm-ku setiap malam, haha 😛 .

Dan “lucu” juga bagaimana otak manusia bekerja. Nampaknya aku sudah beradaptasi dengan ritme hari kerja harian ini sampai-sampai sering di akhir pekan, aku juga bangun di waktu yang kurang lebih sama loh! (Jelas di akhir pekan alarm tidak aku nyalakan). Sekali waktu aku merasa ini bodoh sekali karena aku kira badanku pasti masih kekurangan tidur sehingga aku memaksa diriku untuk tidur lagi. Dan apa yang terjadi? Ketika aku akhirnya bangun, aku malah merasa tidak enak sama sekali dong dan bahkan sampai sakit kepala juga akibat, aku duga, kelamaan tidur! Haha 😆 .

Ternyata kelamaan tidur itu juga kurang baik 😛 .

Sejujurnya aku sedikit khawatir performaku di kantor di pagi hari akan terimbas sarapanku yang lebih kecil ini. Tetapi ternyata baik-baik saja kok, yang mana sungguh mengagetkanku! 😮 Aku hanya perlu memastikan aku tidak terlambat makan siang sih. Sekali waktu, ini pernah kejadian dan mataku mulai “berkunang-kunang” gitu deh (walaupun kejadiannya adalah sewaktu aku baru mulai sih, jadi mungkin aku masih belum terbiasa aja).

Jadi, ya, manusia dan adaptasi. Aku kira jangan pernah kita meremehkan kemampuan otak dan badan kita untuk menyesuaikan diri, karena ini mungkin akan mengagetkan kita!

About Myself · Contemplation · Thoughts

#1749 – My Next Step In Life

ENGLISH

As I am approaching the end of my PhD contract now (time really flies!), a question I have recently had to answer is “What is next?“. By that, of course I mean what I want to do next after I finish my PhD.

First of all, let us clarify a definition. Here, my definition of “finishing my PhD” is to submit the final draft of my dissertation (which is in the form of a real book here in TU Delft). And for now, my target is to do that before the end date of my contract at the end of this August. As to when I will actually get the PhD degree, it still depends on a lot of stuffs because there are so many things (mostly bureaucratic) to be taken care of (One big problem is that there literally is only ONE room in the entire university where a PhD defense can take place and of course there are hundreds of PhDs who are about to graduate). This means it can literally take months before I actually get the degree, haha 😆 . But that is fine and is actually very normal to be observed in TU Delft.

Anyway, after the contract ends, of course I am free to do whatever I want because I will no longer be employed by the university. The question is “Doing what?

Thinking about life at work
Thinking about life at work

The Choices

In general, there are two (life) paths which I can choose at this point: to stay in academia or, contrary to popular belief in Indonesia, to switch to industry. The first path is obvious: I would pursue a career in academia to, in the end, get (at least) a tenured position in a university. The second path is also obvious: I would try to find a (“regular”) job in the industry.

You know what, I feel very lucky to get this PhD position in 2012 (I would like to send my eternal gratitude to my Master thesis supervisor who recommended me for this position 😉 ). Why? Obviously one major part of my research is to tackle the theoretical work. Everybody knows that and that is pretty much what people think when they hear “a PhD research”. However, my research has another dominant side: the real-life application. A big part of my research is funded by a big state-owned Dutch company and my task is to work on one problem that they have.

So in short, I got a taste of both worlds through this research which would help me make my decision regarding what I would do next 😉 . Here is another consideration: I have pretty much been in formal education all my life since my kindergarten years, lol 😆 . And so I feel like I have had enough time in it and I want to do something different. It happens that this inclination also matches my current preference regarding the two worlds I mentioned at the beginning of this paragraph.

Yes, this means a decision has been made (since months or even years ago, actually :P): I want to switch to industry after I finish my PhD.

Thankfully I didn’t need to flip a coin to make a decision

This is not to say that I will never ever come back to academia. The possibility that I would hate working in the industry, of course, is non-zero and maybe some years from now I would want to come back to academia, haha 😆 . Afterall who knows what might happen in life, right? 😉 However, I just know this is the path that I must take. Deep in my heart, I know I would have had much bigger regret not trying to go to industry than having chosen to go industry and ending it not liking it.

Money-wise, well, first of all, let me tell you that I have never been the guy who is all about the money. To me, it is much more important to do what I like AND follow what my heart tells me. But in this case, though, of the two options it happens that, in general, a career in the industry actually pays more than a career in academia. So, why not? 😛

What are the real steps?

Okay, now that I have made this decision, I would need to assess my options.

And, contrary to popular belief in Indonesia which states that someone with a PhD degree can only work in a university, there are actually tons of opportunities to work in industry for people with a PhD degree (at least here in the Netherlands, or a lot of other developed countries). Even actually there are many vacancies which require the applicants to have, at least, a PhD degree (or close to finishing it). For this reason, I have decided that I will not come back to Indonesia (at least in the near foreseeable future 🙂 ).

Even in some companies, an applicant with a PhD degree gets an edge than someone with only a Master degree where (1) the interview process is much more streamlined and (2) the company usually offers higher salary for the same position.

Ok sure. You might ask then “How many of those positions are available?

Got a job already 😉

Well, let me just say that now, I have got a very interesting job in Amsterdam lined up for me to start this coming October 😉 (I deliberately asked to start in October so I can make September as my sabbatical month where I can afford to not care about this world, lol 😆 ). And actually, I got two job offers in May and I decided to choose one that matched my interest, in a much more interesting location, and (thankfully) would pay better. Even for one of them I actually was approached by a recruiter who offered me the position 😉 . I will write the story about this in a separate post 😉 .

You see? Yeah, the opportunity is, indeed, there. Maybe this is due to the combination of the recovering Western economy and the expertise (and experience) which I have developed during my PhD is in high demand in industry nowadays (it is a rapidly growing field). But whatever that is, I am grateful that I am given the opportunity to take the path I exactly want to do and what my heart tells me to do.

😊

River Amstel in Amsterdam
A new start in Amsterdam

BAHASA INDONESIA

Karena aku sudah dekat dengan akhir kontrak PhD (S3)-ku sekarang (waktu berlalu dengan cepat!), sebuah pertanyaan yang harus aku jawab adalah “Selanjutnya apa nih?“. Dengan pertanyaan ini, maksudku adalah apa yang ingin kulakukan setelah menyelesaikan S3 ini.

Pertama-tama, berikut ini kondisiku saat ini. Yang aku definisikan dengan “menyelesaikan S3” adalah memasukkan draft akhir dari disertasiku (yang mana dalam bentuk buku di TU Delft). Dan sekarang ini, targetku adalah melakukan ini sebelum kontrakku berakhir di akhir bulan Agustus. Mengenai kapan aku akan mendapatkan gelar S3 itu, ini tergantung dari banyak hal (kebanyakan sih birokrasi) yang harus diurus (Satu masalah besar adalah hanya ada SATU ruangan di kampus TU Delft dimana sidang S3 boleh diberlangsungkan sementara ada ratusan mahasiswa S3 yang akan lulus). Ini berarti memang bisa memakan waktu beberapa bulan sampai aku beneran mendapatkan gelarnya, haha 😆 .Tetapi itu tidak apa-apa sih dan biasa kok di TU Delft.

Anyway, setelah kontrak berakhir, jelas dong aku bebas melakukan apa pun karena aku kan bukan lagi karyawan universitas. Pertanyaannya adalah “Melakukan apa?

Thinking about life at work
Berpikir mengenai kehidupan di kantor

Pilihan-pilihan yang ada

Secara umum, ada dua jalan (hidup) yang bisa aku pilih saat ini: untuk tetap bekerja di akademia atau, bertentangan dengan pendapat umum di Indonesia, untuk berpindah haluan ke industri. Pilihan pertama jelas: aku akan mengejar karier di dunia akademia untuk, pada akhirnya, mendapatkan (setidaknya) posisi tenured (posisi tetap) di sebuah universitas. Pilihan kedua juga jelas sih: aku akan berpindah haluan dan bekerja (“biasa”) di industri.

Aku merasa beruntung dengan posisi S3 yang kudapatkan di tahun 2012 ini (untuk ini, aku mengucapkan banyak banget terima kasih ke pembimbing thesis S2-ku yang merekomendasikanku untuk posisi ini 😉 ). Mengapa? Jelas salah satu bagian utama risetku adalah penelitian teoretis ala akademia. Semua orang juga tahu dan rasanya memang ini lah yang muncul di pikiran orang-orang ketika mendengar “riset S3”. Namun, risetku memiliki sisi dominan lainnya: aplikasi nyata. Sponsor utama risetku adalah sebuah perusahaan nasional Belanda dan tugasku adalah mencoba menyelesaikan sebuah permasalahan besar yang mereka miliki.

Jadi secara singkat, aku bisa mencicipi kehidupan kerja di kedua dunia melalui satu riset ini yang sungguh amat membantuku membuat keputusan mengenai apa yang ingin kulakukan selanjutnya 😉 . Berikut ini pertimbangan lainnya: aku sudah berada di dunia pendidikan formal non-stop semenjak TK, hahaha 😆 . Jadilah aku merasa sudah cukup dan aku ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Kebetulan keinginanku ini cocok dengan preferensiku mengenai dua dunia yang kusebutkan di awal paragraf ini.

Ya, ini memang berarti sebuah keputusan sudah kubuat (semenjak berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun yang lalu sih sebenarnya 😛 ): aku ingin bekerja di industri setelah menyelesaikan S3ku.

Untungnya aku tidak perlu melempar koin untuk membantuku membuat keputusan

Ini bukan berarti aku tidak akan pernah kembali ke dunia akademia selama-lamanya ya. Yang namanya kemungkinan dimana ternyata aku sangat tidak suka bekerja di industri jelas ada sehingga mungkin beberapa tahun lagi aku ingin kembali ke akademia, haha 😆 . Yang namanya masa depan siapa yang tahu kan? 😉 Namun, aku tahu ini adalah langkah yang harus aku ambil. Dari dalam lubuk hatiku, aku tahu rasa penyesalanku akan lebih besar dengan tidak mencoba berpindah haluan ke industri daripada memilih berpindah ke industri dan ternyata tidak menyukainya.

Dari segi masalah uang, hmm, pertama-tama, aku tekankan dulu bahwa aku bukanlah seseorang yang paling mementingkan yang namanya uang/gaji/pendapatan. Untukku, jauuh lebih penting untuk bekerja melakukan sesuatu yang aku sukai DAN sesuai dengan/mengikuti kata hatiku. Tetapi di kasus ini, dari dua pilihan tersebut, kebetulan secara umum pendapatan dari karir di industri itu lebih tinggi daripada karir di akademia. Jadi, mengapa tidak kan? 😛

Apakah langkah nyataku?

Oke, sekarang dimana pilihan sudah kutetapkan, aku perlu menilai pilihan-pilihan nyataku kan ya.

Dan, bertentangan dengan pendapat umum di Indonesia yang menyatakan bahwa seseorang dengan gelar S3 itu hanya bisa bekerja di universitas, sebenarnya ada banyaak sekali kesempatan di industri bagi seorang Doktor (setidaknya di Belanda yah, dan di negara-negara maju lainnya). Bahkan ada beberapa lowongan yang mensyaratkan pelamarnya untuk berpendidikan minimal S3 loh (atau nyaris menyelesaikannya). Karena alasan ini, aku juga sudah memutuskan untuk tidak akan kembali ke Indonesia (setidaknya dalam waktu dekat 🙂 ).

Bahkan di beberapa perusahaan, seorang pelamar dengan gelar S3 juga memiliki keuntungan loh dibandingkan seorang pelamar dengan gelar S2 saja dimana (1) proses interview-nya lebih mulus dan (2) perusahaan biasanya memberikan gaji yang lebih tinggi untuk posisi yang sama.

Oke, oke. Mungkin pertanyaan selanjutnya adalah “Memang ada berapa banyak posisi seperti itu?

Sudah dapat kerjaan kok 😉

Hmm, aku kasih tahu saja ya, aku sudah mendapatkan sebuah pekerjaan super menarik kok di Amsterdam yang akan aku mulai Oktober ini 😉 (sengaja aku minta mulai di bulan Oktober agar aku bisa liburan panjang di bulan September dimana aku bisa tidak memedulikan semua urusan di dunia kan ya, hahaha 😆 ). Dan sebenarnya, aku mendapatkan dua tawaran pekerjaan di bulan Mei dan aku memutuskan untuk memilih satu yang cocok dengan kesukaanku, di lokasi yang lebih menarik, dan (untungnya) juga memberikan gaji yang lebih tinggi. Bahkan untuk salah satunya aku yang didekati seorang recruiter yang menawariku posisi itu 😉 . Pengalaman ini akan kutulis di sebuah posting yang akan datang 😉 .

Nah kan? Ya, peluangnya memang ada sekarang. Mungkin ini adalah akibat kombinasi antara perekonomian Barat yang mulai pulih dan keahlian (dan pengalaman) yang kukembangkan selama S3 ini memang amat dibutuhkan di dunia industri sekarang ini dan nantinya (ini adalah bidang yang berkembang memang). Tetapi apa pun itu, aku merasa bersyukur mendapatkan kesempatan untuk mengambil sebuah jalan yang memang ingin aku jalani dan sesuai dengan kata hatiku.

😊

About Myself · Thoughts

#1675 – Forgetful

ENGLISH

I notice something has changed with myself in the past two or three years. A change which I don’t necessarily like, actually, but I must admit and accept that it has happened and do something to deal with it.

So what kind of change? Well, it is:

I feel like I am more “forgetful” nowadays than, say, ten to fifteen years ago.

By forgetful, I mean mostly about something that is small-ish, like what I want to buy in the supermarket, what I need to bring to the office, where I put my stuffs, etc.

And to be honest, this annoys myself. Badly. I really hate it when it happens; that even sometimes I swear to myself when it does. I often feel like this disturbs the optimality which I have “calculated” along with my carefully constructed plan. In some cases, though, I can think of an optimal plan B almost immediately, which is good; but still, I don’t feel happy.

Source: http://ak-hdl.buzzfed.com/static/2014-08/18/8/enhanced/webdr07/anigif_enhanced-21512-1408366144-4.gif
Indeed sometimes I am hard on myself.

Gif source: http://ak-hdl.buzzfed.com/static/2014-08/18/8/enhanced/webdr07/anigif_enhanced-21512-1408366144-4.gif

I notice that it happens more frequently in recent years too. So I have been trying to look what have changed in the past a few years to diagnose the situation. Two things, which are not independent, come out as arguable the most prominent possible causes:

  1. Age. By definition, I am 10 years older than myself 10 years ago. And people often say the older you get, the more forgetful you become. However, nonetheless, I am still in my (mid) 20s so I don’t think the degradation is that “fast” at this stage of life, or is it?
  2. Work. Naturally, thus far I am in, probably, the most challenging situation I have ever been in in my life with this PhD research. The nature of the work forces me to use a lot of my brain power and, maybe, this causes my brain to let go some of the “less important” stuffs so it can allocate more energy on the “higher priority” matters, especially related to work.

The reason I hate this is because I was always able to count on my memory. You see, this type of change is definitely not pleasant to experience. However, rather than being annoyed with it, it is better for me to just accept and face it. I believe this is the first step to deal with the situation. And so later I will be able to develop a habit as a solution to this “problem” 😛 .

Source: http://guardianlv.com/2014/03/forgetful-it-could-be-genetic/
Source: http://guardianlv.com/2014/03/forgetful-it-could-be-genetic/

BAHASA INDONESIA

Aku menyadari sebuah perubahan dengan diriku dalam dua atau tiga tahun belakangan ini. Sebuah perubahan yang aku kurang begitu sukai, sebenarnya, tetapi harus aku akui dan terima bahwa perubahannya memang terjadi dan aku harus melakukan sesuatu untuk menghadapinya.

Perubahan apakah itu? Yah, perubahannya adalah:

Aku merasa bahwa aku lebih “pelupa” akhir-akhir ini daripada, katakanlah, sepuluh atau lima belas tahun lalu.

Dengan “pelupa”, maksudku adalah lupa terhadap hal-hal kecil dan remeh-temeh sih, misalnya mau membeli apa saja di supermarket, harus membawa apa saja ke kantor, dimana aku meletakkan barang-barangku, dll.

Dan sejujurnya saja, ini sungguh menyebalkan bagi diriku sendiri. Dalam skala yang besar. Aku benci sekali ketika hal ini terjadi; dan bahkan aku mengutuk diriku sendiri loh ketika ini terjadi. Aku merasa bahwa ini mengganggu optimalitas yang sudah aku “perhitungkan” dengan rencana yang sudah kubuat dengan hati-hati. Di beberapa kasus aku masih bisa dengan cepat memikirkan rencana B yang optimal sih untuk menghadapi situasinya; tetapi tetap saja, aku tidak merasa senang.

Source: http://ak-hdl.buzzfed.com/static/2014-08/18/8/enhanced/webdr07/anigif_enhanced-21512-1408366144-4.gif
Memang sih terkadang aku keras terhadap diriku sendiri.

Sumber gif: http://ak-hdl.buzzfed.com/static/2014-08/18/8/enhanced/webdr07/anigif_enhanced-21512-1408366144-4.gif

Aku perhatikan ini terjadi lebih sering di beberapa tahun terakhir juga. Jadilah aku berusaha melihat perubahan apa yang terjadi beberapa tahun belakangan ini untuk mendiagnosa permasalahannya. Dua hal, yang mana tidak independen satu sama lain, muncul sebagai kemungkinan penyebab yang paling signifikan:

  1. Usia. Berdasarkan definisi, diriku sekarang 10 tahun lebih tua daripada diriku 10 tahun lalu. Dan banyak yang bilang kan bahwa semakin bertambahnya usia, memang semakin pikun seseorang itu. Namun, walaupun begitu, aku kan masih berada di usia 20an sehingga aku rasa penurunan daya ingatanku tentu seharusnya tidak “secepat” itu kan di umur-umur seini. Apa memang begitu?
  2. Kerjaan. Sekarang ini aku berada di situasi paling menantang seumur hidupku dengan riset S3ku ini. Sifat dari pekerjaanku memaksaku untuk banyak menggunakan kekuatan pikiranku dan, mungkin, ini menyebabkan otakku untuk melepas beberapa hal-hal yang “sepele” sehingga ia bisa mengalokasikan lebih banyak energi untuk hal-hal dengan “prioritas lebih tinggi”, terutama yang berkaitan dengan pekerjaan.

Alasan aku membenci ini adalah karena biasanya aku selalu bisa mengandalkan ingatanku. Nah kan, perubahan ini jelas bukanlah sebuah pengalaman yang menyenangkan. Namun, daripada terus-terusan sebal karenanya, lebih baik bagiku untuk menerima dan menghadapinya. Aku percaya ini adalah langkah pertama untuk berurusan dengan situasi ini. Dan nantinya, aku akan bisa memulai kebiasaan baru sebagai solusi dari “masalah” ini 😛 .

About Myself · Thoughts

#1497 – Reading

ENGLISH

I do notice something a little bit different about myself.

Ever since I moved to Europe, I have read less books for entertainment purpose than before. I had a few posts in my old Blogger blog under the “Book to Read” category where I put some very short reviews of some of the books that I had just recently read at that time. And the reason I put the category “Movie Review” as a subcategory of “Review” here in this blog (it can be seen in the sidebar) was because I thought I would do the same. As it is evident now, there is still no “Book Review” category here. None, zero, nil, nada.

The reason for that is simple. I have read much less books for entertainment purpose ever since I moved here. And I am just as curious as you to know why that is; since reading is (or was) one of my favorite ways to get entertained.

As it turns out, I think the reason is very simple: I just haven’t had the time for that! 😯

I moved here in 2010 to start my Master degree study. And a Master degree at TU Delft, being a very good university, was certainly not easy at all. So I had to pretty much allocate most of my time for my study. And even if I had the time to rest, I would rather travel somewhere in Europe, haha 😛 . Plus the fact that I was here with a two-year scholarship from TU Delft added a little bit of more pressure on myself too. At that time I did not want to go beyond 24 months for my Master degree as contractually, the scholarship only covered my tuition fee and life expense here for 24 months, or 2 years. I did finish my study exactly in 24 months and immediately after that, I started a PhD. And, well, if a Master degree at TU Delft was crazy, a PhD was like that too, but multiplied by at least, like, a million, in term of the difficultness, haha 😛 .

And the nature of a PhD study is that the work itself already pretty much requires me to read a lot of stuffs; books, literatures (scientific papers), reports, Master thesis, PhD dissertations, even sometimes presentation slides too. And not just to read them for the sake of reading them, but to understand them, or get some grasps of understanding of the messages being delivered by them. So whenever I have free time, I prefer to do something else, some other activity that doesn’t require me to, well, read. You know, something else for a change.

Okay, okay, I agree, the content of a novel is obviously very different from the content of a paper published in an international peer-reviewed journal in mathematics. So reading a novel, in some sense, is indeed different from reading a scientific paper. But still, you see, from the outside, the activity is similar too. I have to hold a book or a paper (I prefer to read an actual physical book to the e-version btw), my eyes have to see the combination of symbols (read: letters) printed there, then my brain has to digest it to understand what the author wants to say (read: reading), then further on my mind also has to do some work to actually unravel the message (read: understanding the idea being conveyed). Even though the message is, obviously, different, the first three activities are basically the same. See? After having to read a lot for my work, I think it is understandable that I want to do something else too, which is very different, outside of work, haha.

Yes, so this is the result. I haven’t read much in the past a few years.

Last year, actually I still had hope for myself when I decided to buy the novel Inferno by Dan Brown, one of my favorite author, at London Heathrow Airport. But you know what? Now, which is 18 months later, I am no further than where I was with this novel. Yes, I haven’t had the time to read it yet 😦 . I actually brought it with me in some occassions when I was travelling somewhere, thinking probably I would want to read it when I was travelling. But then, nothing happened. Crazy, no?

But yeah, that is the reality…

BAHASA INDONESIA

Aku mengamati ada sesuatu yang berbeda dari diriku.

Semenjak pindah ke Eropa, frekuensiku membaca buku untuk hiburan telah berkurang daripada sebelumnya lho. Ada beberapa posting di blog lamaku di bawah kategori “Book to Read” dimana aku menulis beberapa review singkat mengenai beberapa buku yang baru saja aku baca waktu itu. Dan alasan aku menaruh kategori “Movie Review” sebagai subkategori dari kategori “Review” di blog ini (bisa dilihat di sidebar) adalah karena aku kira hal yang sama akan terjadi. Tetapi seperti yang nampak sekarang, masih tidak ada kategori “Book Review” disitu. Tidak ada, nol, kosong.

Alasan untuk itu adalah sederhana. Aku membaca jauh lebih sedikit buku sebagai hiburan semenjak aku pindah ke Eropa. Dan jelas aku juga penasaran mengapa bisa begitu; karena membaca buku itu (dulunya) adalah salah satu cara favoritku sebagai sarana hiburan. T

Dan ternyata, alasannya amat sederhana: aku hanya tidak memiliki waktu untuk itu! 😯

Aku pindah ke Eropa di tahun 2010 untuk memulai studi Master (S2)-ku. Dan studi S2 di TU Delft, yang mana merupakan universitas top yang bagus, itu sama sekali tidak mudah loh btw. Aku harus mengalokasikan semua atau sebagian besar waktuku untuk belajar. Sehingga ketika aku memiliki waktu untuk beristirahat, aku lebih memilih untuk jalan-jalan di Eropa, haha 😛 . Ditambah lagi, kondisi dimana untuk studi ini aku mendapatkan beasiswa dari TU Delft selama dua tahun juga memberikan tekanan ekstra tersendiri. Sewaktu itu aku tidak ingin menggunakan waktu lebih dari 24 bulan untuk studi S2-ku karena kontrak beasiswa yang mencakup biaya kuliah dan biaya hidup hanya berlaku 24 bulan alias 2 tahun saja. Aku menyelesaikannya tepat dalam waktu 24 bulan dan langsung setelah itu, aku memulai studi PhD (S3)-ku. Dan, yah, kalau yang namanya studi S2 di TU Delft itu sudah berat banget, yang namanya S3 juga seperti itu lah ya, hanya saja tingkat kesulitannya dikaliin jutaan kali dah, haha 😛 .

Dan studi S3 itu sendiri pun sudah mengharuskanku untuk banyak sekali membaca; mulai dari buku, literatur (paper ilmiah), laporan, thesis S2, disertasi S3, sampai ke beberapa slide presentasi. Dan tidak hanya sekedar membaca mereka, tetapi juga memahami apa yang tertulis disana, atau setidaknya mengerti pesan yang hendak disampaikan. Jadi ketika aku memiliki waktu luang, sekarang ini aku merasa lebih memilih sebuah aktivitas yang berbeda, sebuah aktivitas dimana aku tidak perlu, yah, membaca. Tahu lah, supaya tidak terus-terusan sama gitu.

Oke, oke, aku setuju, isi dari sebuah novel jelas berbeda dariada isi sebuah paper ilmiah yang diterbitkan di sebuah jurnal matematika internasional yang harus melalui serangkaian proses review dari beberapa ilmuwan. Jadi membaca sebuah novel, di satu sisi, memang sangat berbeda daripada membaca sebuah paper ilmiah. Tetapi, dari luar, kedua aktivitas ini amat mirip kan. Aku harus memegang sebuah buku atau paper (aku lebih suka membaca versi cetaknya daripada e-version-nya btw), mataku harus melihat serangkaian simbol (baca: huruf-huruf) yang dirangkai disana, kemudian otakku harus mengolah apa yang aku lihat disana (baca: membaca), dan kemudian pikiranku harus melakukan sebuah pekerjaan untuk menangkap pesan dari apa yang baru saja aku baca (baca: memahami ide yang disampaikan). Walaupun pesannya, jelas, berbeda, tetapi tiga aktivitas pertamanya sama aja kan. Nah kan? Setelah harus banyak membaca untuk pekerjaanku, rasanya dapat dipahami juga jika aku ingin melakukan sesuatu yang lain, yang berbeda, di luar waktu kerja, haha.

Ya, beginilah hasilnya, aku belum banyak membaca beberapa tahun terakhir ini.

Tahun lalu, aku masih memiliki harapan untuk diriku sendiri ketika aku memutuskan untuk membeli novel Inferno-nya Dan Brown, salah satu penulis novel favoritku, di Bandara London Heathrow. Nah, apa kabar dengan novel ini? Sekarang, yang mana sudah 18 bulan semenjak waktu itu, aku tidak lebih jauh sama sekali daripada waktu itu lho. Ya, aku benar-benar belum ada waktu sama sekali untuk membacanya 😦 . Sebenarnya aku membawanya pergi beberapa kali sih ketika aku jalan-jalan kemana gitu, karena aku kira aku ingin membacanya ketika jalan-jalan. Tetapi ternyata tidak. Gila ya?

Ya, tetapi memang begitulah realitanya…

About Myself · Awards and Blog Homeworks · Miscellaneous

#997 – Sebelas

note: due to its content, this entry will only be published exclusively in bahasa Indonesia (Indonesian). I apologize in advance for the inconvenience.

*

Jadi ceritanya aku mendapatkan PR tentang sebelas ini dari Sulung. Oke deh Lung, sesuai janjiku, PR ini sekarang aku kerjakan deh…

***

Di PR ini aku harus menjawab sebelas pertanyaan seperti yang telah ditentukan di posting-nya Sulung di atas. Nah, kesebelas pertanyaan, beserta jawabanku, aku jawab berikut ini ya:

Sebelas Tanda Tanya

1. Kapan saat terberat dalam hidup anda dan bagaimana anda melaluinya?

Untuk pertanyaan ini, jujur, aku merasa beruntung karena (seingatku sih) aku belum (dan mudah-mudahan tidak akan :P) pernah mengalami suatu masa yang aku kategorikan sebagai “berat” dalam hidup ini. Well, bukan berarti aku tidak pernah menghadapi masalah ya; bukan, tentu saja aku pernah menghadapi yang namanya masalah. Tapi aku selalu berusaha untuk “enjoy” dalam menghadapi semua itu. Mungkin inilah penyebab aku merasa belum pernah merasakan suatu masa yang aku sebut sebagai masa “berat” . 🙂

Mungkin ada yang heran: nggak “berat” apa meninggalkan Indonesia untuk kemudian pindah ke tempat asing yang jaraknya puluhan ribu kilometer dari Indonesia? Hmm, gimana ya, sejak aku kecil (sejak SD), aku sudah ingin banget yang namanya bersekolah / kuliah di luar negeri. Makanya ketika aku mendapat kesempatan ini, perasaan bahagia dan excited di dalam diriku rasanya lebih mendominasi dari perasaan takut atau cemas, dsb. Malah, aku nggak ada perasaan takut atau cemas sama sekali lho waktu berangkat, hehehe.

Nggak berat apa harus hidup sendiri dan mandiri di Belanda? Ah, enggak tuh. Malah aku enjoy-enjoy aja. Masalah hidup jauh dari orangtua: ah, sebelum ini juga aku sudah hidup jauh dari orangtua ketika aku berkuliah di Bandung. Jadi aku sudah terbiasa dengan hidup sendiri ini. Nah, ini jadi mengingatkanku: mungkin masa yang cukup berat adalah ketika aku pertama kali tinggal sendiri jauh dari orangtua, yaitu ketika aku baru pindah ke Bandung untuk berkuliah lima tahun yang lalu. Seperti yang sempat aku tuliskan disini, fase pertama waktu itu adalah fase terberat karena aku harus menyesuaikan diri dengan kehidupan yang berbeda. Tapi, sekali lagi, aku nggak merasakan fase itu berat-berat amat karena aku berusaha menikmatinya dan memang waktu itu ada beberapa teman yang juga berkuliah di Bandung.

Jadi ya gitu deh. Itulah mengapa aku merasa sejauh ini aku belum pernah merasakan yang namanya fase “berat” dalam hidupku 🙂 .

2. Pada usia berapa anda mengalami jatuh cinta pertama kali dan kepada siapa (identitas boleh dirahasiakan)?

Masalah ini aku rahasiakan aja ah. Nggak mood buat mengumbarnya di blog *halah, apasih :P*

3. Pernahkah anda memakan masakan Padang selain rendang? Jika pernah, apa nama makanan tersebut?

Pernah dong. Tentunya: sate padang!! Ah, jadi ingin makan sate padang nih. Tapi di Belanda ini dimana nyarinya coba?? hahahaha. Ah, kau harus tanggung-jawab nih Lung :P.

4. Apa hobi/kebiasaan anda yang anda anggap biasa saja namun orang lain anggap aneh?

Seperti yang pernah aku singgung disini, aku rasa aku memiliki sedikit sifat OCD. Nah, kebiasaanku ini adalah: aku enggan banget memegang makanan (segala jenis makanan ya, termasuk roti) yang akan aku makan dengan tanganku sendiri! Kalau makan, sedapat mungkin aku akan berusaha menggunakan alat-alat yang ada (sendok, garpu, pisau, sendok teh, tusuk gigi, tisu, dll) supaya bisa memasukkan makanan ke mulutku ini tanpa harus menyentuh makanan itu dengan tanganku secara langsung. Kalau sudah terpaksa banget, baru deh aku menggunakan jari-jariku ini langsung untuk makan.

Tambahan: Keterpaksaan ini (memakai tangan) biasanya bisa dilakukan kalau aku berada di tempat yang nggak jauh dari wastafel / tempat cuci tangan gitu. Jadi aku tahu kalau setelah selesai bisa langsung mencuci tangan deh, hehehe 🙂

Sewaktu SD, seorang temanku (Angga namanya) mengatakan bahwa aku ini gengsi tanganku kotor, hahaha. Ah, mungkin benar juga? 😆 Tahun lalu ketika travelling ke Italia bersama beberapa temanku, mereka sampai menyemangatiku supaya aku mau makan dengan menggunakan tanganku langsung loh di restoran (padahal waktu itu cuma mau makan kentang goreng aja dan aku mengambil kentangnya dengan garpu, huahahaha 😆 ).

5. Jika diberi kesempatan bertemu dengan seorang penulis, siapakah penulis yang ingin anda temui dan apa alasannya?

Satu penulis novel yang aku sukai adalah Dan Brown. Entah kenapa, aku selalu suka saja sama karya-karyanya (mungkin karena karyanya itu mengombinasikan antara ilmu pengetahuan dengan misteri mungkin ya). Hanya satu karyanya yang aku kurang suka: Digital Fortress; sementara lainnya aku suka.

6. Pernah baca majalah Bobo? Jika disuruh untuk memilih, karakter manakah yang akan anda pilih antara Bobo, Coreng, Upik, Bapak, Emak, dan Paman Gembul, disertai alasannya!

Kalau pernah atau tidak, jawabannya adalah pernah. Masalahnya, aku dulu nggak langganan majalah Bobo. Jadi, sekarang aku sudah lupa deh sama karakter-karakternya, hahahaha.

7. Apa film yang paling anda sukai dan apa alasannya?

Aku menyukai banyak film, bisa film action, film komedi, animasi, dsb (tapi bukan film drama atau horor/thriller yah :P). Hanya saja, kalau pertanyaannya adalah mengenai film yang paling bisa membuat kesan di dalam benakku, biasanya film-film tersebut adalah film dengan pesan dan cerita yang mendalam. Banyak lah film bagus di dunia ini, tapi yang sekaligus memiliki pesan mendalam, rasanya nggak sebanyak itu deh. Satu film yang sangat berkesan bagiku adalah film animasi Lion King dari Walt Disney yang dirilis tahun 1994. Waktu kecil, entah berapa kali aku menonton film ini 🙂 . Mengapa aku sukai? Well, karena film ini sarat makna. Satu makna paling dalam yang aku kagumi dari film animasi ini adalah the circle of life : lingkaran kehidupan. Aku masih ingat banget papaku dulu yang menjelaskan makna mendalam ini kepadaku (yang masih berumur belum ada 10 tahun :D); bagaimana kehidupan ini bak sebuah siklus. Ah, film ini memang film yang bagus banget ya.

8. Apa impian terbesar anda yang belum tercapai?

Ingin hidup mapan dan bahagia. Klise? Ah, enggak juga koq menurutku. Mengapa? Karena semakin bertambahnya usia *hoek, sok bijaksana nih ceritanya*, aku merasa apa yang aku sukai dan ingin lakukan itu terjawab semakin jelas. Jadi, pernyataan yang terlihat klise ini menjadi tidak klise karena ada arah real yang ingin aku tuju. Sebagian besar “jawaban” ini muncul beberapa bulan belakangan ini sih, ketika aku dengan intens-nya bertanya pada hatiku yang paling dalam dan memintanya menjawab dengan sejujurnya mengenai apa yang sebenarnya ingin aku lakukan. In a way, jawabannya mungkin terdengar sedikit idealis sih, tapi ya kita lihat saja deh nanti. Kapan-kapan mungkin aku akan menulis tentang ini dengan lebih detail deh, tapi bukan sekarang karena kini belumlah waktu yang tepat untuk menuliskannya. 😛

Anyway, jadi tujuan itu belum tercapai saat ini memang (ya iyalah), tapi aku sedang mengusahakan diriku untuk berjalan mengarah ke sana. Mohon doa dan dukungannya ya. 🙂

9. Jika anda punya kemampuan melihat hal-hal gaib, apa yang akan anda lakukan?

Wah, serem banget dong ya kalau bisa melihat hal-hal gaib .

10. Deskripsikan diri anda dalam satu paragraf namun tidak lebih dari empat kalimat! (Wah, tanda seru nyempil satu)

Aku adalah seseorang yang (kini) berumur 23 tahun dan sedang hidup di Belanda. Seorang yang serius sekaligus bersemangat. Seorang yang introvert, cenderung pendiam, dan pemalu (terutama di lingkungan yang “asing”). Seorang yang suka bekerja keras tapi juga mengimbanginya dengan berusaha menikmati hidup dan bahagia *halah*.

11. Bagaimana pendapat anda tentang blog saya, Catatannya Sulung?

Blog “Catatannya Sulung” menurutku adalah blog yang bagus dan menarik banget. Gaya penulisannya runtut dan rapi banget (jelas lah ya, mahasiswa jurusan bahasa Indonesia gitu :P), tapi sekaligus tidak terlalu baku/kaku. Inilah yang menjadi kekuatan dari blog itu. Hebat kamu Lung, jago menulis. Lanjutkan! 😛

***

Yup, PR-nya sudah selesai ya Lung! 😀

Dan karena sepertinya PR ini sudah tersebar di dunia per-blog-an lumayan lama, jadinya aku stop sampai disini saja deh. Aku nggak akan menyebarkannya lagi *alasan nih, padahal juga lagi males untuk membuat 11 pertanyaan lagi, huahahaha 😆 *.

About Myself · Cookings · Thoughts

#899 – Instant Noodles

ENGLISH

I think myself has changed a little bit ever since I moved to Europe. Well, it is not that kind of extreme change or something, it is just a tiny change in a (probably) non-essential thing. I just realized lately that now I do not like a thing called: instant noodles! Yup, instant noodles!

Btw, FYI, instant noodles of a famous Indonesian brand, Indo*ie, is widely available here. Even one flavor that has been extinct in Indonesia, Meatballs Flavor, is available! I still remember this flavor was one of my favorite ones back when I was in Elementary School, and I don’t remember the last time (before moving to Europe of course) I ate noodles with this flavor. The price is of course more expensive than in Indonesia, around 39 cent euro per package (and some stores sometimes sell them with a promo buy 5 get 1). And this price, I think, can be categorized as cheap in Europe (when I went to Italy last year, I also found Indo*ie in one of the supermarket there, and it was sold for 60 something cent euro there).

If you open some old archives in my old blog, you can see that I used to like instant noodles. Sometimes when I felt hungry in the night and I could not resist it, I cooked noodles. When I got up early in the morning and no warung was already open yet, I cooked noodles. Well, such an unhealthy life and choice of food, hahaha…

The first time I arrived in the Netherlands, my apartment’s agent gave me one survival pack consisting some basic meals for me to survive for one day (well, a good service indeed I think. It would have been difficult for a new foreigner who just arrived in a new country, knowing nothing, without anything to survive). Well, in that package, there was one pack of Shrimp flavor Indo*ie (a flavor that I had never seen before in Indonesia, hahaha)! Ever since, I knew I could find Indo*ie here. That week, I bought several packs of noodles for my food stocks for the next couples of days. Well, I was still not that confident to cook at that time 😀 And it was true that I often ate instant noodles in my first few days here.

As time went by, somehow I felt that I disliked instant noodles more and more. It is kinda weird. Let alone cooking and eating it, now, just thinking about it already gives me a nausea feeling. Just writing this entry also gives me a little of the nausea feeling (because by writing this entry, I keep thinking about this instant noodles, hahaha 🙂 ). Some time ago I had a chat with an Indonesian guy who already got married and now live here in the Netherlands. He told me that one time, his wife went back to Indonesia for one month, and during this time, he ate instant noodles all the time. When he told me that story, all I felt was nausea, hahaha… 😀 Now, if I was running out of groceries, I think I would prefer being hungry walking to the supermarket buying some groceries than cooking and eating instant noodles back home.

The thing that I am wondering is, the “transformation” happened in a relatively short period of time! What possibly caused this? How could this happen? Well, not that I am complaining though, because instant noodles is not a healthy choice of meal anyway. Me not liking instant noodles means that I reduce the amount of unhealthy food that goes into my body, right? It is just that I am a bit wondering, how could now I dislike a meal that I used to like?

Btw, a little note here: I am still being practical though. Regardless this dislike of instant noodles, I always have several packs of them in my apartment. This is simply for emergency purpose 🙂 Of course I still don’t want to be trapped in my apartment with no food at all. 😀

::: Instant Noodles I cooked four years ago while I was in Bandung.

BAHASA INDONESIA

Sepertinya diriku ini sudah berubah sedikit semenjak pindah ke Eropa loh. Bukan berubah yang gimana-gimana sih, cuma dalam hal sepele koq. Aku baru sadar akhir-akhir ini, kalau sekarang aku sangat nggak suka sama yang namanya : mi instan! Yup, mi instan!

Baidewei, FYI nih, yang namanya mi instan merk terkenal produksi Indonesia (Indo*ie), itu bisa dengan mudah didapatkan disini loh. Malah salah satu rasa yang di Indonesia sudah punah, rasa bakso sapi, disini ada loh! Aku inget banget ini salah satu rasa Indo*ie favoritku waktu aku masih SD, dan entah kapan terakhir (sebelum pindah ke Eropa maksudnya) aku makan mi rasa ini. Harga jualnya disini jelas lebih mahal daripada di Indonesia, sekitar 39 sen euro sebungkus (dan di beberapa toko kadang ada promo beli 5 gratis 1). Dan sepertinya harga segini ini termasuk harga yang murah untuk si Indo*ie ini (waktu aku jalan ke Italia akhir tahun lalu, aku juga menemukan Indo*ie ini di salah satu supermarket disana, hanya saja harganya sudah naik jadi 60an sen sebungkus).

Nah, kalau membuka beberapa arsip lama posting-postingku di blog lamaku, bisa dilihat deh kalau aku lumayan suka sama yang namanya mi instan. Kadang kalau malam lapar dan nggak kuasa menahan rasa lapar itu, aku memasak mie. Kalau bangun pagi dan belum ada warung buka tetapi aku harus makan, aku biasanya masak mie. Bener-bener deh, sungguh kehidupan dan pilihan makanan yang tidak sehat, hahaha…

Waktu pertama kali tiba di Belanda, oleh agen apartemenku aku dikasih sebungkus bahan makanan untuk bisa survive selama sehari (servis yang ok juga yah, kan kasihan juga kalau ada anak baru dari luar negeri yang baru datang, belum tahu apa-apa, eh nggak dikasih setidaknya bahan makanan buat makan sehari). Nah, di bungkus itu, salah satunya adalah Indo*ie rasa udang (rasa yang belum pernah aku lihat ada di Indonesia sebelumnya, hahaha)! Sejak itu tahu deh kalau pasti aku bisa deh menemukan Indo*ie disini. Minggu itu, aku beli beberapa bungkus Indo*ie untuk stok makan beberapa hari ke depan. Aku belum terlalu PD masak ceritanya 😀 Dan memang beberapa hari awal disini, aku lumayan sering makan mi instan.

Seiring berjalannya waktu, makin kesini koq aku makin nggak suka sama mi instan ya? Aneh saja gitu. Boro-boro masak dan makan, tiap kali mikir makan yang namanya mi instan saja, rasa eneg sudah terbayang. Nulis posting ini aja juga rasa eneg sedikit muncul di dalam perutku (soalnya kan selama nulis posting ini, kepikiran sama yang namanya mi instan, hahaha 🙂 ). Beberapa waktu yang lalu aku ngobrol sama seorang Indonesia yang sudah menikah dan tinggal disini. Suatu hari ia ditinggal istrinya mudik ke Indonesia sebulan. Nah, selama sebulan itu ia makan mi instan terus setiap hari. Waktu ia cerita itu, aku malah merasa eneg deh mendengarnya, hahaha… 😀 Sekarang, andai aku kehabisan bahan makanan kecuali mi instan, rasanya aku lebih memilih merasa kelaparan dan harus jalan kaki ke supermarket terdekat buat beli bahan makanan daripada tetap tinggal di apartemen makan mi instan deh.

Yang aku herankan adalah, “transformasi” ini terjadi dalam rentang waktu yang relatif singkat loh! Apa ya penyebabnya? Mengapa ini bisa terjadi? Aku bukannya komplain sih, soalnya mi instan kan memang makanan yang sangat tidak sehat toh? Aku nggak suka mi instan artinya kan aku mengurangi porsi makanan tidak sehat yang dikonsumsi badanku ini. Hanya saja, aku heran gitu, koq bisa makanan yang dulu aku sukai tiba-tiba jadi tidak aku sukai?

Btw, sedikit catatan: tapi aku juga masih praktikal koq. Bagaimanapun juga aku selalu sedia beberapa bungkus mi instan di apartemen untuk jaga-jaga seandainya ada kondisi darurat 🙂 Kan nggak mau juga dong terjebak di apartemen tanpa bahan makanan sama sekali. 😀