Big Days · Contemplation · Zilko's Life

#1970 – Seven Years in Europe

ENGLISH

My life in Europe, well, the Netherlands 😛 , started on this day seven years ago, when I got off Garuda Indonesia’s Airbus A330-200 reg PK-GPI at Schiphol Airport as flight GA88 from Jakarta (via Dubai). A total random note: PK-GPI no longer flies for Garuda and is now operated by Chinese’s Beijing Capital Airlines with reg B-8221 😛 .

The seventh year in retrospect

If last year I mentioned my sixth year was a big one for me, then the seventh year was even a bigger one!

I completed my PhD research this year and so now I can attach the title “PhD” or “Doctor” next to my name if I want to (Well, I earned this 😛 ). I have also decided to leave academia and switch to industry, with me starting my new job in Amsterdam last October. On top of that, I bought myself an apartment earlier this year!

So I guess I do not need to explain why I say my seventh year was bigger than my sixth. In fact, it might be the biggest one since seven years ago. So maybe it is not really an exaggeration to say that I now feel the most “fulfilled” since the day I moved to Europe.

Travelling

Unsurprisingly, I also travelled a lot in the seventh year. I added two new European countries to my list this year, bringing the total to 25 with the addition of Romania and Greece. I also explored further several European countries I had visited before, with my visit to the German’s famous Christmas Market and the wonderful Cinque Terre in Italy. There were also several city trips which I did throughout the year.

I also went on two intercontinental trips this past year. The first one was to my dream destination: Sint Maarten in the Caribbean; and the second one was to Indonesia for Christmas and New Year, the first time I was in Indonesia for both events since I moved to Europe. Both trips were so much fun!

Going to the eighth

My eighth year appears to be like an exciting one at this point. I learned a lot during my seventh year, mainly because of my switch to industry, and I expect to learn even more in this coming year. Oh, and I also already have a few fun trips planned out at this point 😛 .

So yeah, the eighth year indeed sounds like going to be an exciting one!! 😀

I got my PhD degree in my seventh year in Europe.

BAHASA INDONESIA

Kehidupanku di Eropa, ehm, di Belanda 😛 , dimulai di hari ini tujuh tahun lalu, ketika aku turun dari pesawat Airbus A330-200nya Garuda Indonesia dengan rego PK-GPI di Bandara Schiphol sebagai penerbangan GA88 dari Jakarta (via Dubai). Btw, info random nih: PK-GPI tidak lagi terbang untuk Garuda loh dan sekarang dioperasikan oleh maskapai China, Beijing Capital Airlines, dengan rego B-8221 😛 .

Refleksi tahun ketujuh

Jika tahun lalu aku sebutkan bahwa tahun keenam adalah tahun yang besar untukku, artinya tahun ketujuh ini adalah tahun yang lebih besar lagi!

Riset PhD (S3)-ku resmi aku selesaikan di tahun ini jadi sekarang aku bisa menambahkan gelar “PhD” atau “Doktor” ke namaku suka-suka gitu deh kalau aku mau (Jelas dong aku berhak untuk melakukan ini 😛 ). Aku juga sudah memutuskan untuk meninggalkan dunia akademia dan pindah ke industri (dunia kerja “reguler”), dengan pekerjaan baru yang aku mulai bulan Oktober lalu di Amsterdam. Di atas itu semua, aku juga membeli sebuah apartemen awal tahun ini!

Jadi aku rasa aku tidak perlu menjelaskan mengapa aku bilang tahun ketujuh ini lebih besar daripada tahun keenam yah. Malahan, mungkin tahun ini adalah yang terbesar semenjak tujuh tahun yang lalu lho. Jadi mungkin tidak berlebihan pula jika kubilang aku merasa paling “komplit” semenjak aku pindah ke Eropa.

Jalan-jalan

Tidak mengherankan, aku juga banyak jalan-jalan dong di tahun ketujuh ini. Aku menambahkan dua negara Eropa baru ke daftarku tahun ini, sehingga totalnya menjadi 25 dengan tambahan Romania dan Yunani. Aku juga mengeksplor lebih dalam beberapa negara Eropa lainnya yang sudah pernah kukunjungi, dengan kunjunganku ke Christmas Market di Jerman yang terkenal banget itu dan Cinque Terre yang kece di Italia. Ada juga beberapa perjalanan city trips ke beberapa kota di sepanjang tahun.

Aku juga pergi dalam dua perjalanan antar-benua setahun belakangan ini. Yang pertama adalah ke tempat impianku: Sint Maarten di Karibia; dan yang kedua ke Indonesia untuk Natal dan Tahun Baru, pertama kalinya aku berada di Indonesia untuk Natal dan Tahun Baru semenjak pindah ke Eropa. Jelas keduanya seru banget!

Masuk ke tahun kedelapan

Sekarang, tahun kedelapan nampak akan menjadi tahun yang seru. Aku banyak belajar di tahun ketujuh, terutama karena kepindahanku ke industri, dan aku yakin aku akan belajar lebih banyak lagi di tahun yang akan datang ini. Oh, dan juga aku sudah merencanakan beberapa perjalanan yang seru nih 😛 .

Jadi, ya, tahun kedelapan memang sepertinya akan menjadi tahun yang amat seru!! 😀

Thoughts · Zilko's Life

#1966 – No More Student Discount

ENGLISH

No longer being a student, I guess I need to make peace with the situation where I no longer can expect to get student discounts, lol 😆 . Look, obviously I prefer my situation now where I can afford more stuffs than during my student years. But still, there are times when I miss it.

Take my new membership at a tennis club nearby my place, for instance. When I first looked at how much the membership fee was, I was startled by it. I mean, I could afford it, of course, but it was a lot more than what I paid before. But then I remembered that “before”, I was a student (or was counted as one) so I could get all the benefits that came with it.

Tennis clay courts inside the balloon in TU Delft

You see, my previous tennis membership was at TU Delft’s Sports Centre; that was obviously highly subsidized by the university. In 2011, I joined the club as a Master student. I started my PhD in 2012 and while I got a full employment contract for that, the Sports Centre still recognized me as a student so I was still allowed the student price. Even then, during the first two years of my PhD TU Delft provided the “well-being allowance” for its employees. So basically my membership during those first two years was “free” because I could claim it back, haha. Why only the first two years, btw? Well, the financial situation (that was impacted by the European monetary crisis) was not getting much better so the university needed to cut cost here and there; one of which was this allowance. But still, with the student price, it was okay.

Back to present time, my new membership at the tennis club (including the lessons and everything) costs about seven times as much as my TU Delft one. Even then, technically I “only” get tennis while at TU Delft, I could use all the sports facilities there (football, hockey, volley ball, beach volley ball, badminton, basketball, etc), except the gym (which would have cost extra).

But indeed this is how things should work. I mean, I can afford it anyway so I definitely should not complain for not getting a subsidy. After all, I prefer being able to afford things than having to rely on subsidies 😛 .

In Paris for Roland Garros this year.

BAHASA INDONESIA

Bukan lagi pelajar/mahasiswa, aku harus berdamai dengan situasi dimana aku tidak lagi bisa mengharapkan mendapatkan diskon pelajar, haha 😆 . Begini, jelas dong aku lebih menyukai situasiku sekarang dimana aku lebih mampu secara finansial daripada waktu-waktuku dulu sebagai pelajar. Tetapi tetap aja rasanya kadang-kadang kangen gitu.

Mari kita ambil keanggotaan baruku di sebuah klub tenis di dekat rumahku sebagai contoh. Ketika aku pertama kali melihat biaya keanggotaannya, aku kaget sekali. Maksudku, aku mampu sih untuk membayarnya, tetapi biayanya jauh lebih besar daripada yang kubayarkan sebelumnya. Tetapi aku kemudian teringat bahwa “sebelumnya”, aku adalah pelajar/mahasiswa (atau dianggap demikian) sehingga aku juga bisa menikmati keuntungan yang datang dengannya.

Lapangan tenis tanah liat di dalam balon di TU Delft.

Keanggotaan tenisku sebelumnya adalah di Sports Centre-nya TU Delft; yang mana jelas dong disubsidi universitas. Di tahun 2011, aku bergabung sebagai mahasiswa Master/S2. Posisi PhD/S3-ku aku mulai di tahun 2012 dan walaupun aku mendapatkan kontrak kerja penuh untuknya, Sports Centre masih menghitungku sebagai mahasiswa sehingga aku masih diperbolehkan membayar harga pelajar. Itu pun di dua tahun pertama PhDku, TU Delft masih memberikan “tunjangan kesehatan” bagi karyawan-karyawannya. Jadi pada dasarnya keanggotaanku di dua tahun pertama itu “gratis” karena biayanya bisa aku klaim ke kantor, haha. Kok cuma dua tahun saja, ngomong-ngomong? Ya, soalnya kondisi finansial universitas (yang terkena dampak krisis moneter di Eropa) tidak kunjung membaik sehingga mereka harus memangkas biaya di sana-sini; salah satunya yang kena pangkas adalah tunjangan ini. Toh walaupun begitu, dengan harga pelajar mah nggak masalah banget lah.

Kembali ke masa kini, keanggotaan baruku di klub tenis ini (termasuk biaya les dan segalanya) adalah sekitar tujuh kali lipat daripada yang aku bayarkan ke TU Delft. Begitu pun, dengan keanggotaan ini aku “cuma” mendapatkan tenis saja padahal di TU Delft, aku bisa menggunakan semua fasilitas olahraga di sana (sepakbola, hockey, voli, voli pantai, bulu tangkis, basket, dll), kecuali gym (ada biaya ekstra untuk gym).

Ya tetapi memang begini sih ya yang benar. Maksudku, toh aku mampu untuknya sehingga aku tidak boleh protes karena tidak mendapatkan subsidi kan ya. Toh aku juga lebih memilih untuk mampu melakukan ini-itu daripada harus bergantung kepada yang namanya subsidi 😛 .

Di Paris untuk Roland Garros tahun ini.
Thoughts · Zilko's Life

#1954 – When A Delivery (Pretty Much) Ruined My Day

ENGLISH

Sometimes some things are just not meant to be. And the delivery day of my passport, with (hopefully) a UK visa in it after I submitted an application a few weeks prior, was one of those days, in a smaller first world problem scale, of course 😛 . Here is the story of that day, where everything I had planned for got ruined.

I knew that I would need to allocate some time at home waiting for the delivery. This was a little bit tricky because it was a working day; but thankfully my office supported the possibility to work from home where I could connect to the office network by using some security tokens. I was, at first, fine with it because I thought it would not take that long, learning from my experience two years ago when I was still in Delft. I mean, the online tracking system mentioned my passport had been in Amsterdam since like 7 AM that day. So if back then it could be delivered to Delft by around lunch time, then shouldn’t it be delivered to my current place in Amsterdam sooner?

There might be a thought where I should probably have filled my office address as the delivery so I would not really need to worry about it that much. To be honest, I did not think about this when applying; partly also because of the uncertainty on when the delivery would take place (Also, I am not 100% sure I could have done that, I didn’t check; so this is assuming that was allowed). Indeed, during the day I had a little regret for not doing this. But eventually in this particular case it turned out it was good that I did not do that. I will reveal why really soon.

That morning, I got a message where the delivery would take place between 6 PM and 9 PM. Well, I had planned to go to a big summer party my office was organizing exactly at that time (until midnight, though). So I went online and requested for a time change. It turned out that it could still be delivered earlier that day (according to the system). However, what I am really frustrated about with the courier service here is the wide time window of a due delivery.  It was said that it would, then, be delivered between 9 AM and 6 PM that day. I called the call center, and the lovely lady mentioned that my request had been recognized in the system and my passport would be delivered before 6 PM today. But you see, it covered literally the entire working hour of mine.

But fine, as per my experience, I was hoping it would be delivered early enough, preferably before lunch, and then I could go to my office to work and then to the summer party. However, that morning, the status of my delivery was put “on hold” (whatever that means), which I found really weird. By lunch time, this status still had not been changed. When the clock struck three, I still saw this status in the system.

A few minutes past three, finally the status was changed to “with delivery courier”. I breathed a sigh of relief. But actually, I should not. I was waiting, waiting, and waiting (and kept checking my window every other minutes), but noone came. Then it was 6 PM, still no delivery. I should have called the call centre at this point, but I did not. At 8 PM, my passport was still not with me. By this point, I called the call center only to find that it was already closed (its operational hour was only until 7 PM). Arrgghh!!  Finally, by 8:30 PM, someone rang my door and said he was delivering a package for me. And yep, it was my passport.

But you see, it was 8:30 PM already when they did deliver it, meaning the time change I requested in the morning did not work at all. This was really annoying because this caused me to literally waste an entire day. Especially that at the time I was working on a mini side project at work with a due presentation at 4:30 PM that day. I had to miss that, though luckily I was working on a small team who could do the presentation without me. Thanks team! Also, this was why it was good I did not fill in my office address as the delivery address. I mean, 8:30 PM!

And by this time, I was so exhausted already, especially mentally, because of all the work and anxiety. The weather was also a typical Dutch weather today (a lot of cloud with occasional rain); so all in all I did not feel like going to the summer party. Well, it was already a few hours late anyway. though of course technically I could still go there. Now, my colleagues told me the party was super awesome and fun and wonderful that now I really regret not going 😣.

Well, what can I say? I guess everything was just not meant to be working to my favors today. At the very least, I got my passport back safe and sound, plus with a new UK visa stamped in it.

***

Though, this whole experience did raise me a question. Why couldn’t an established logistics company providing courier service make a more precise delivery time window? I know this is a tough mathematical problem with a lot of varying variables. But still, as a customer, even having the day split into two parts (say before or after lunch), would have helped a lot!

But then, I remember a few months ago a colleague resigned and moved to a big logistics company to “transform” it into a more data-driven one. So, I guess the current operational of the courier industry in general is still very “traditional”? Hmm… 🤔

BAHASA INDONESIA

Terkadang beberapa hal itu memang tidak ditakdirkan untuk terjadi. Hari pengiriman pasporku, dengan (mudah-mudahan) visa UK tertempel di dalamnya setelah beberapa minggu sebelumnya aku mengajukan permohonan, adalah salah satu dari hari-hari itu, dengan first world problem dengan skala kecil tentunya 😛 . Berikut ini cerita tentang hari itu, dimana semua yang telah aku rencanakan gagal total karenanya.

Aku tahu bawa aku perlu menyisihkan waktu di rumah menunggu pengirimannya. Ini sedikit tricky karena hari itu adalah hari kerja; tetapi untungnya kantorku mendukung kondisi untuk bekerja dari rumah dimana aku tetap bisa mengakses jaringan kantor dengan menggunakan beberapa security tokens. Tetapi toh, awalnya, aku tidak begitu mempermasalahkan ini berdasarkan pengalamanku dua tahun lalu ketika aku masih di Delft. Disebutkan di sistem online tracking-nya bahwa pasporku sudah berada di Amsterdam semenjak sekitar jam 7 pagi itu. Nah, kalau dulu pasporku bisa diantarkan ke Delft di sekitar jam makan siang, seharusnya sekarang bisa diantarkan ke tempatku di Amsterdam lebih awal dong ya?

Mungkin ada yang berpikir mungkin seharusnya aku mengisi alamat kantorku sebagai alamat pengiriman sehingga aku nggak perlu pusing-pusing memikirkannya. Sejujurnya, waktu itu aku tidak terpikirkan hal ini; setengahnya juga disebabkan oleh ketidak-pastian kapan pengirimannya akan berlangsung (Juga, aku sekarang tidak yakin 100% aku bisa melakukannya sih, aku tidak mengeceknya; jadi ini dengan asumsi mengisi alamat pengiriman yang berbeda dari alamat tempat tinggal itu diperbolehkan). Memang, di hari itu aku sedikit menyesal aku tidak melakukannya. Namun, pada akhirnya ternyata justru beruntung lho aku tidak melakukannya. Ini akan aku jelaskan segera.

Pagi itu, aku mendapatkan pesan bahwa pengantaran akan dilakukan di antara jam 6 sore dan jam 9 malam. Waduh, aku sudah berencana untuk pergi ke sebuah summer party besar yang diadakan kantorku di jam itu (sampai tengah malah sih party-nya). Jadilah aku masuk ke website-nya untuk mengganti waktu pengiriman. Ternyata pengiriman masih bisa dilakukan lebih awal hari itu (menurut sistemnya). Namun, seperti bagaimana aku jengkel dengan pelayanan kurir di sini karena jendela waktu pengirimannya yang besar, ini juga terjadi. Dikatakan bahwa pasporku bisa diantarkan di antara jam 9 pagi dan jam 6 sore hari itu. Aku kemudian menelepon call center-nya untuk memastikan, dan petugasnya mengkonfirmasi bahwa permintaanku sudah diterima sistemnya dan pasporku akan diantarkan sebelum jam 6 sore.  Tetapi tetap menjengkelkan kan, ini artinya kan meliputi keseluruhan jam kerjaku hari ini.

Tetapi nggak apa-apa lah, karena berdasarkan pengalamanku, aku berharap pengantarannya berlangsung cepat, mudah-mudahan sih sebelum makan siang; dimana setelahnya aku bisa pergi ke kantor dan kemudian ke summer party bersama kolega-kolegaku. Namun, pagi itu status barang kirimanku disebutkan “on hold” (entahlah artinya apa), yang mana nampak aneh untukku. Ketika jam makan siang, statusnya masih belum diubah. Ketika jarum jam menunjukkan angka tiga, statusnya masih sama.

Beberapa menit setelah jam tiga, akhirnya statusnya diubah menjadi “bersama kurir pengantar”. Aku bernafas lega. Yang mana seharusnya aku belum boleh lega ternyata. Aku menunggu, menunggu, dan menunggu (dan terus-terusan mengecek jendelaku setiap beberapa menit sekali), tetapi tidak ada seorang pun yang datang. Jam 6 sore, masih belum diantarkan juga! Seharusnya di waktu ini aku komplain ke call center-nya, tetapi aku tidak. Ketika sudah jam 8 malam dan masih belum diantar juga, aku baru menelepon call center-nya. Dan ternyata call center-nya sudah tutup dong (waktu operasinya hingga jam 7 malam saja). Arrghh!!  Akhirnya, jam 8:30 malam, bel pintuku berbunyi juga dan dibilang bahwa ada paket untukku. Dan ya, paket itu berisi pasporku.

Tetapi jelas kan, sudah jam 8:30 malam ketika mereka mengantarkannya, artinya permintaan perubahan waktu pengantaranku pagi itu tidak diterima. Ini sungguh menjengkelkanku karena ini membuatku benar-benar membuang-buang waktuku selama satu hari. Apalagi waktu itu di kantor aku sedang mengerjakan sebuah proyek sampingan kecil yang mana mesti dipresentasikan jam 4:30 sore hari itu. Tentu aku tidak bisa hadir di presentasi itu, walaupun untungnya aku bekerja dalam tim kecil yang toh masih bisa presentasi tanpa aku. Trims tim! Juga, ini lah alasan beruntung aku tidak mengisi alamat kantorku sebagai alamat pengiriman. Ternyata jam 8:30 malam gitu!

Dan di waktu ini, aku sungguh merasa capek, terutama secara mental, akibat pekerjaan dan kegelisahanku. Cuaca hari itu kebetulan juga lah cuaca tipikal Belanda (berawan tebal dan kadang-kadang hujan); jadilah akhirnya aku merasa malas untuk keluar rumah dan pergi ke summer party-nya. Ah, toh sudah telat beberapa jam juga sih, walaupun sebenarnya masih bisa-bisa aja sih aku datang ke sana terlambat. Sekarang, kolega-kolegaku menceritakan bagaimana seru, keren, dan asyiknya summer party itu sehingga aku kini menyesal karena tidak pergi 😣.

Yah, mau bagaimana lagi kan? Aku kira hari itu memang semua rencanaku memang ditakdirkan untuk gagal total. Setidak-tidaknya sih, aku mendapatkan pasporku kembali dengan aman dan selamat, plus dengan sebuah visa UK baru di dalamnya.

***

Ngomong-ngomong, pengalaman ini membuatku memiliki pertanyaan nih. Mengapa sebuah perusahaan logistik raksasa dengan layanan kurir tidak bisa memberikan perkiraan waktu pengiriman yang lebih tepat ya? Ya, ya, aku sungguh mengerti kok ini adalah permasalahan matematika yang amat rumit dengan banyak variabel yang berubah-ubah setiap waktu. Tetapi tetap aja lah ya, sebagai customer, bahkan dengan membagi satu hari menjadi dua (misalnya sebelum atau sesudah makan siang), sudah bakal membantu banget kan!

Tetapi kemudian, aku jadi teringat bahwa beberapa bulan yang lalu seorang kolegaku resign dan pindah ke sebuah perusahaan logistik raksasa untuk membantunya “bertransformasi” menjadi sebuah perusahaan yang lebih berbasiskan data. Jadi, aku duga mungkin saat ini operasi industri kurir secara umum masih berdasarkan sistem yang “tradisional”? Hmm… 🤔

Thoughts

#1929 – Food Wasting

ENGLISH

A few weeks ago, a friend of mine shared the following video parodying Ed Sheeran’s “Shape of You” (a song I am currently obsessed with) to tell a message about food wasting:

Food wasting is a problem which, I think, needs to be addressed. It is also one of my pet-peeves! Yeah, I don’t like it (I even get a little bit bothered) when some people throw their food away. Even I actually don’t like it when I have to throw some raw ingredients away because they have become bad for consumption. This is why I always plan my grocery precisely 😉 .

Here, I am not gonna talk about famine problem in some parts of the world as that is out of the scope of this post (that is a huge problem, btw); as you might have expected from a food wasting post. Nah, I am sure you are capable enough to think why food wasting is bad.

If you have leftovers you can’t finish, just give it to other people!

Does this imply that people should eat more than they need? Obviously not!! This actually implies people should KNOW their own limit! If you know you can only eat certain amount of food, then take that amount, not more (just because you can) and waste the rest. How about if you go to a restaurant and it turns out that the portion is way bigger than you expect? Well, this is certainly an exceptional situation; and in this case food wasting might be the only solution. But to be honest, how often do you encounter a situation like this?

This reminds me of my childhood, though. Back then, my dad taught my brother and I to never, ever let a single piece of rice grain left on our plates. We had to be responsible for what we took (the amount of rice) and finished it. Now that I think about it, this might be the start of my dislike of food-wasting, haha 😆 .

I couldn’t finish a small portion of this super spicy yangnyeom chicken in Seoul so I gave them all to my brother 😀 .

Having said that, I am still not perfect myself. Sometimes (not often, though), I still find myself throwing some food away; but mostly that is because the food is extremely inedible (for instance: because it might be too spicy for me (I can’t eat spicy food, at all; even low level of spiciness would trigger my body to start sweating)) or that there is a special circumstances (for instance when I am not feeling well).

So, yeah, this post is more of a reminder to myself, actually. Btw, what is your stand on food wasting?

BAHASA INDONESIA

Beberapa minggu yang lalu, seorang teman membagikan video ini yang memarodikan lagu “Shape of You”-nya Ed Sheeran (lagu yang sedang aku sukai banget sekarang) untuk membawakan pesan mengenai pembuang-buangan makanan:

Pembuang-buangan makanan adalah sebuah masalah yang, menurutku, perlu diperhatikan. Ini juga adalah salah satu pet-peeves-ku btw! Iya, aku memang kurang suka (dan bahkan merasa agak terganggu) ketika melihat seseorang membuang makanan mereka. Bahkan aku sendiri merasa tidak suka ketika harus membuang bahan-bahan masakan mentah karena sudah kadaluarsa untuk dikonsumsi. Inilah alasan mengapa aku selalu merencanakan belanjaku secara mendetail 😉 .

Di sini, aku tidak akan membicarakan mengenai perihal kelaparan yang melanda beberapa bagian dunia ini karena hal ini diluar lingkup posting ini (itu adalah masalah besar banget sih); seperti yang mungkin sebagian kira akan ada di dalam posting mengenai pembuangan makanan. Nggak kok, aku sih yakin semua juga bisa berpikir sendiri mengapa pembuangan makanan itu buruk.

Kalau memang ada sisa makanan, mending diberikan ke orang lain saja!

Apakah ini berarti semua orang harus makan lebih dari yang mereka butuhkan? Jelas tidak!! Ini sebenarnya berarti setiap orang harus TAHU batas mereka sendiri! Jika tahu batas diri kita hanya sekian, ya ambil saja sekian, jangan lebih (hanya karena bisa) dan membuang-buang sisanya. Bagaimana jika kebetulan kita pergi ke restoran dan ternyata porsinya lebih besar dari sangkaan kita? Hmm, ini jelas adalah situasi pengecualian; dan di kasus ini mungkin makanannya memang harus dibuang/disisakan. Tetapi sejujurnya nih, seberapa sering sih situasi itu kita hadapi? Ya kan?

Ini mengingatkanku akan masa kecilku. Dulu, papaku mengajari adikku dan aku untuk tidak pernah menyisakan satu butir nasi pun di piring kami. Kami harus bertanggung-jawab dengan apa yang kami ambil (banyaknya nasi) dan menghabiskannya. Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin ini salah satu penyebab ketidak-sukaanku akan pembuangan makanan ya, haha 😆 .

Aku tidak bisa menghabiskan seporsi kecil ayam yangnyeom yang super pedas ini di Seoul sehingga aku memberikannya ke adikku 😀 .

Toh walaupun begitu, bukannya aku “sempurna” juga sih. Beberapa kali (nggak sering sih), aku juga berada di situasi dimana aku mesti membuang makanan; tetapi kebanyakan sih karena makanannya memang tidak bisa dimakan (misalnya: makanannya terlalu pedas untukku (Aku tidak bisa makan makanan pedas; bahkan pedas sedikit saja sudah akan membuatku berkeringat)) atau pada situasi tertentu (misalnya ketika aku sedang tidak enak badan).

Jadi, ya, posting ini sebenarnya juga adalah pengingat untuk diriku sendiri sih. Btw, apa pendapatmu mengenai pembuangan makanan?

Contemplation · Thoughts

#1918 – Take Your Chances but You Can’t Have Them All

ENGLISH

In early March, Malta’s super famous Azure Window collapsed into the sea following years of erosion and, the final trigger, a severe storm in the Mediterranean Sea. Apparently being one of the biggest tourist attractions of Gozo (the name of the island), many people were understandably saddened by this.

As for me, well, I have never been there. I even have never been to Malta. So why do I care? Well, these are precisely why I care about this, haha.

You see, to be honest Malta has been in my radar to visit for awhile. But for whatever reason (well, mainly time, distance, and the few SkyTeam connections to Amsterdam (lol 😆 )), I have never made it a reality.

And now, it is all too late for me if I want to go to Azure Window, because it no longer exists. It has collapsed into the sea, literally. It is gone. It is now history.

***

This reminds me of two lessons, though. First of all, we should take our chances whenever we can, simply because it might never be there to be taken again. Had I spent some time to visit Gozo and Malta years ago, I would have been able to take a selfie with Azure Window, haha 🙈 .

Secondly, we cannot have everything in life. You see, there are plenty of other places in this planet that I would want to visit as well, haha 😆 . I have not spent some of my time to visit Malta because I used that time to visit other places. And my time is finite. So this means that at some point I must accept that I cannot have (or, rather, visit) it all 🙂 .

***

So, how about you? Have you ever visited Azure Window?

Azure Window. Source: https://en.wikipedia.org/wiki/File:Azure_Window_2009.JPG

BAHASA INDONESIA

Di bulan Maret kemarin, Azure Window-nya Malta yang terkenal banget itu ambruk ke laut akibat erosi yang sudah berlangsung bertahun-tahun dan, pemicu terakhirnya, badai besar di Laut Mediterania. Ternyata, karena merupakan salah satu atraksi turis terbesar di Gozo (nama pulaunya), banyak orang yang sedih karenanya.

Untukku, aku belum pernah ke sana. Malahan aku juga belum pernah ke Malta. Jadi ngapain kok aku peduli? Haha. Yah, justru karena ini lah aku peduli.

Sejujurnya, Malta sudah berada dalam daftar tempat yang ingin kukunjungi semenjak lama. Tetapi entah karena alasan apa (hmm, utamanya sih waktu, jarak, dan sedikitnya pilihan penerbangan dengan maskapai SkyTeam dengan koneksi ke Amsterdam (huahaha 😆 )), aku belum sempat menjadikannya kenyataan.

Dan sekarang, terlambat sudah jika aku ingin menunjungi Azure Window, karena Azure Windownya sudah nggak ada lagi. Ia sudah ambruk ke laut. Sudah hilang. Sudah menjadi sejarah.

***

Ini mengingatkanku akan dua pelajaran sih. Pertama-tama, kita harus memanfaatkan peluang yang ada, karena mungkin saat ini adalah saat terakhir peluang ini muncul dan bisa diambil. Andaikata aku sudah meluangkan waktu untuk pergi ke Gozo dan Malta bertahun-tahun yang lalu, saat ini aku sudah memiliki foto selfie dengan Azure Window, haha 🙈 .

Yang kedua, kita tidak bisa mendapatkan semuanya di hidup ini. Jadi ceritanya ada banyak sekali tempat-tempat lain di dunia ini yang ingin kukunjungi, haha 😆 . Aku belum mengunjungi Malta karena sebelum ini aku menggunakan waktuku untuk mengunjungi tempat-tempat yang lain. Dan waktuku kan terbatas. Jadi artinya di satu waktu memang aku harus menerima kenyataan bahwa aku tidak bisa mendapatkan (atau, mengunjungi) semuanya 🙂 .

***

Jadi, bagaimana dengan kalian? Apakah sudah pernah mengunjungi Azure Window?

Contemplation · Thoughts

#1907 – Suddenly Nostalgic

ENGLISH

Earlier this week, I saw a post on LinkedIn by an ex-colleague of mine (from my PhD years) about a conference he was attending. It was an edition of a biennial conference series which previous edition two years ago I attended. Back then, it was held in Tokyo, Japan; and it was also during Spring season, arguably the best time to visit Japan!

Ueno Park, two years ago.
Wow, for whatever reason, I got really nostalgic just by reading that post. I immediately remembered my almost three weeks adventure in Japan (the first week was for the conference and the rest was for a personal trip circling Japan (Tokyo, Hakodate, Sapporo, Osaka, and Kyoto), lol 😆 ).

Here are the main posts of that 2015 Spring Trip to Japan series:
1. Getting to Japan
2. Part I: Tokyo (1)
3. Part II: Tokyo (2)
4. Part III: Tokyo (3)
5. Part IV: Hakodate
6. Part V: Sapporo
7. Part VI: Osaka
8. Part VII: Kyoto
9. Back to the Netherlands

Okay, the conference location was actually in Chiba
As with other conference series, the conference location always changes between editions (but always at a location with a university host that does relevant research). And because it is a railway conference series, unsurprisingly most of the time it is held in Europe, a region where the railway industry is already mature. However, there is a non-European country that is also famous for its ultra modern railway industry: Japan.

I was really lucky with the 2015 edition. The one time I had something to present, and it was also during a convenient time of my PhD years (my third year), it was held in Japan! Lol 😆 . To be honest this was one of the reasons for me to submit an abstract in 2014, despite not being at the best state of mind regarding my PhD project at the time, haha 😆 .

Me presenting in the conference in 2015
As a comparison, in 2005 it was held in Delft (lol), in 2007 in Hannover, in 2009 in Zurich, in 2011 in Rome, in 2013 in Copenhagen, and this year (2017) in Lille. Even in 2019, I heard it will be held in Linköping, haha. You see how lucky I felt? Haha 😆 .

Anyway, I enjoyed that trip so much that, I guess, it left a special mark in my brain. Now that I think about it, the conference also acted as a “turning point” in the direction of my PhD research, after a (mentally) rough 2014. The research ended well, obviously, where, eventually, earlier this year I got my PhD degree. So maybe this also played a role…

BAHASA INDONESIA

Awal minggu ini, aku melihat sebuah posting di LinkedIn yang ditulis seorang mantan kolegaku (dari tahun-tahun PhD/studi S3ku dulu) mengenai sebuah konferensi yang akan ia datangi. Konferensi itu adalah edisi terbaru dari seri konferensi dua tahunan sekali yang mana edisi sebelumnya dua tahun yang lalu aku ikuti. Waktu itu konferensinya diadakan di Tokyo, Jepang; dan sewaktu musim semi pula yang merupakan waktu terkece untuk mengunjungi Jepang!

Taman Ueno, dua tahun lalu.
Wow, entah mengapa, tiba-tiba aku merasa nostalgia banget hanya akibat membaca posting itu. Aku langsung teringat petualanganku selama hampir tiga minggu di Jepang (minggu pertama untuk konferensinya dan sisanya untuk jalan-jalan keliling Jepang doong (Tokyo, Hakodate, Sapporo, Osaka, dan Kyoto), haha 😆 ).

Berikut ini posting-posting utama di seri perjalanan musim semi 2015 ke Jepang waktu itu:
1. Getting to Japan
2. Part I: Tokyo (1)
3. Part II: Tokyo (2)
4. Part III: Tokyo (3)
5. Part IV: Hakodate
6. Part V: Sapporo
7. Part VI: Osaka
8. Part VII: Kyoto
9. Back to the Netherlands

Oke, lokasi konferensinya sebenarnya di Chiba sih.
Seperti layaknya seri konferensi, lokasi konferensinya selalu berganti-ganti di setiap edisi (tetapi selalu di lokasinya sebuah universitas tuan rumah yang juga melakukan riset yang relevan). Dan karena merupakan seri konferensi perkereta-apian, tak mengherankan seringnya konferensinya diadakan di Eropa, sebuah area dimana industri kereta api bisa dikatakan sudah dewasa. Namun, ada satu negara non-Eropa yang juga terkenal dengan teknologi kereta apinya yang mutakhir kan: Jepang.

Aku beruntung banget dengan edisi konferensi tahun 2015 itu. Kebetulan banget di waktu dimana aku memiliki bahan untuk dipresentasikan, dan di waktu yang pas pula dengan timeline riset PhDku (di tahun ketiga), konferensinya diadakan di Jepang! Huahaha 😆 . Sejujurnya, memang ini adalah salah satu alasan mengapa aku memasukkan abstrak ke konferensi ini di tahun 2014. Padahal sebenarnya waktu itu aku sedang tidak dalam mindset yang terbaik/positif dengan riset PhDku sendiri, haha 😆 .

Presentasiku di konferensi tahun 2015 itu.
Sebagai perbandingan, di tahun 2005 konferensinya diadakan di Delft (lol), tahun 2007 di Hannover, tahun 2009 di Zurich, tahun 2011 di Roma, tahun 2013 di Kopenhagen, dan tahun ini (2017) di Lille. Bahkan aku dengar di tahun 2019 konferensinya akan diadakan di Linköping, haha. Nah kan, jelas kan mengapa aku merasa beruntung banget? Haha 😆 .

Anyway, aku sungguh menikmati perjalanan itu sehingga, aku duga sih, tertinggal kesan yang spesial di otakku. Kalau kupikir-pikir lagi sekarang, konferensi ini bisa dikatakan sebuah “titik balik” dalam pengarahan riset PhDku, setelah tahun 2014 yang sulit (secara mental bagiku). Risetnya sendiri akhirnya berakhir dengan baik, dimana awal tahun ini aku mendapatkan gelar PhDku. Jadi mungkin ini ada kaitannya juga ya…

About Myself · Thoughts

#1898 – Human and Adaptation

ENGLISH

Adaptation is a trait of living organism (and, thus, also of human). Yes, that is a cheesy and geeky opening sentence of a post, lol 😆 . Anyway, in the last a few weekends or so, I have noticed how my body has adapted to the “new” routine I must develop since I started working in Amsterdam while still living in Delft.

Commuting is part of my current life

After six years of living and working (and studying) in Delft, obviously I had developed my own daily rhythm. Most of the time I did not have to worry to oversleep. I also had two big (warm) meals everyday, and for this I chose breakfast and dinner; arguing that a breakfast would be crucial to start the day while I would still be full anyway for lunch. Btw, two big meals a day is a habit I have developed since moving to Bandung in 2006, though.

The contrast change from working in Delft to working in Amsterdam while still living in Delft meant that I would need to adapt. First of all, I would need to get up much earlier, given the on average three hours of commute I would have to do everyday, haha 😆 . Secondly, while still maintaining my two big meals a day habit, I had to shift my first big meal to lunch and had lighter meal (mostly smoothie bowls) for breakfast.

I like to have smoothie bowls for breakfast nowadays

While it was difficult at first, now I have started to get used to getting up early in the morning. Even in most cases I am already able to beat the alarm clock! Though, just to be safe, I still set my alarm clock every night, haha 😛 .

And it is quite “funny” how human brain works. It appears to have adapted this daily weekday rhythm that quite often in weekends, I get up at approximately the same time! (Obviously I don’t set my alarm clock for weekends). Once I felt like this was ridiculous and I thought my body had not got enough sleep. So I forced myself to go back to sleep. And guess what? When I woke up eventually, I did not feel good at all and actually had a headache from, I think, too much sleep! Haha 😆 .

Apparently too much sleep is not good as well 😛 .

To be honest I wondered how I would perform at work in the morning given that now I consumed much smaller breakfast than before. It turned out to be fine, actually, which surprised me a lot! 😮 I just needed to make sure that I would not have late lunch, though. Once, it happened that I started to “see stars” when I had late lunch (though it was right when I just started, so that might also play a big role).

So, yeah, human and adaptation. I guess we should never underestimate what our brain and body can adapt to, because it might surprise us!

BAHASA INDONESIA

Adaptasi adalah salah satu sifat dari organisme (yang mana artinya juga termasuk manusia). Iya, kalimat sebelum ini adalah kalimat yang norak dan geeky banget untuk membuka suatu posting ya, haha 😆 . Anyway, beberapa akhir pekan belakangan ini, aku mulai mengamati bahwa badanku juga mulai beradaptasi terhadap rutinitas “baru”-ku loh semenjak aku bekerja di Amsterdam sementara masih tinggal di Delft.

Nglaju adalah bagian kehidupanku saat ini

Setelah enam tahun tinggal dan bekerja (dan belajar) di Delft, jelas sebuah ritme harianku telah terbentuk. Kebanyakan sih aku tidak perlu takut akan bangun kesiangan. Aku juga hanya makan besar dua kali sehari, dan untuk ini aku memilih sarapan dan makan malam; dengan alasan sarapan itu penting untuk memulai suatu hari dan akibatnya aku masih akan kenyang di waktu makan siang, haha. Btw, makan besar dua kali sehari ini adalah kebiasaan yang sudah aku lakukan semenjak aku pindah ke Bandung di tahun 2006.

Nah, perubahan kontras dari bekerja di Delft ke bekerja di Amsterdam sementara masih tinggal di Delft berarti aku harus menyesuaikan diri. Pertama-tama, aku harus bangun lebih pagi, berkat nglaju selama sekitar, rata-rata, tiga jam setiap hari, haha 😆 . Yang kedua, walaupun aku masih mempertahankan kebiasaanku makan besar dua kali sehari, aku harus menggeser makan besar pertamaku ke makan siang dan sarapan lebih ringan (seringnya sih smoothie bowls).

Sekarang-sekarang ini aku suka makan smoothie bowls untuk sarapan.

Walaupun awalnya memang sulit, sekarang aku sudah mulai terbiasa untuk bangun lebih pagi di pagi hari. Bahkan cukup sering aku berhasil bangun sebelum alarmku berbunyi loh! Walaupun, untuk amannya sih, aku masih mengeset jam alarm-ku setiap malam, haha 😛 .

Dan “lucu” juga bagaimana otak manusia bekerja. Nampaknya aku sudah beradaptasi dengan ritme hari kerja harian ini sampai-sampai sering di akhir pekan, aku juga bangun di waktu yang kurang lebih sama loh! (Jelas di akhir pekan alarm tidak aku nyalakan). Sekali waktu aku merasa ini bodoh sekali karena aku kira badanku pasti masih kekurangan tidur sehingga aku memaksa diriku untuk tidur lagi. Dan apa yang terjadi? Ketika aku akhirnya bangun, aku malah merasa tidak enak sama sekali dong dan bahkan sampai sakit kepala juga akibat, aku duga, kelamaan tidur! Haha 😆 .

Ternyata kelamaan tidur itu juga kurang baik 😛 .

Sejujurnya aku sedikit khawatir performaku di kantor di pagi hari akan terimbas sarapanku yang lebih kecil ini. Tetapi ternyata baik-baik saja kok, yang mana sungguh mengagetkanku! 😮 Aku hanya perlu memastikan aku tidak terlambat makan siang sih. Sekali waktu, ini pernah kejadian dan mataku mulai “berkunang-kunang” gitu deh (walaupun kejadiannya adalah sewaktu aku baru mulai sih, jadi mungkin aku masih belum terbiasa aja).

Jadi, ya, manusia dan adaptasi. Aku kira jangan pernah kita meremehkan kemampuan otak dan badan kita untuk menyesuaikan diri, karena ini mungkin akan mengagetkan kita!