Life in Holland, Life in the Netherlands, Rubric

#1886 – The Railway Industry in the Netherlands


In this post I would like to share some knowledge about rail transport industry in the Netherlands which even quite many Dutch people (at least based on those I know) are not really aware of 🙂 . As this is just a blog post, obviously I will not get to too much details as there are a lot of parties that are involved, and some politics as well 🙂 .

Anyway, let us just start…

When we think about “rail transport”, I bet most of us immediately think about “trains”, which is understandable of course because we have to board a train to travel with a rail transport. But of course rail transport does not only involve the trains. We also need the hard infrastructure such as the train stations, the railroad, and the overhead (electric) line; and also the soft infrastructure such as the timetable and traffic control.

Rotterdam Centraal Station
Rotterdam Centraal Station

In the Netherlands, when people think about rail transport, they immediately associate it with “NS” (Nederlandse Spoorwegen/Netherlands Railways) to represent the whole industry. Here, I can say that this is, actually, definitely WRONG. As a matter of fact, NS is only one part of the industry; despite, indeed, being a big part of it.

So who is NS?

Actually, NS is just ONE train operator in the Dutch railway network; meaning that it only operates the trains[1] that run on the railroad. Yes, just the trains. Moreover, NS is NOT the only train operator in the Netherlands; even though indeed it is the largest one. There are more than 20 other train operators in the country, for instance Arriva, NS International, Connexxion, Veolia, and DB Schenker (freight train). And just like NS, they just operate the trains too.

An Intercity train entering platform 1 of Delft station.
An NS Intercity train entering platform 1 of the old Delft station.

So who are responsible for the train stations? For the railroad? For the overhead line? For the timetable? For the traffic control? Well, it is a separate organization called ProRail. In principal, ProRail is responsible for the non-train aspect of train operation.

NS and the other operators are clients of ProRail. And as clients, they have to pay ProRail for using the infrastructure. In return, ProRail provides the infrastructure and processes the schedules for the operators; and manages the train traffic too, of course.

The new Delft Station
Though, confusingly, the railway stations in the Netherlands are marked with NS logo. This is actually an artefact of the history and politic that are out of this post’s scope.

“Okay, I get it. So we can basically group the stakeholders of the railway industry into two groups: ProRail as the infrastructure owner and the train operators?” Well, the answer is, unfortunately, NO. This is where it gets more complicated. Being such a complex and advanced railway network, there are more parties that are involved in the Dutch railway industry. For instance, ProRail does not actually maintain the infrastructure themselves and nor does NS with their trains. Third parties are employed to do these jobs. Yes, third parties, plural. And as they are companies, obviously in some sense they are “competing” against each other; which makes the matter even more complicated.


Maliebaan Station
Maybe someone needs to watch these bags at Maliebaan Station too? 😛

Okay, I have to stop this post here before it gets too complicated and confusing to follow, haha. But at least, hopefully, it has provided the very general idea about the railway industry in the Netherlands.

To sum up, NS does not cover the entire railway industry in the Netherlands because NS is just one (of many) train operator. The infrastructure and traffic are the responsibility of a separate company, ProRail. However, they outsource some of their jobs to several third companies. 🙂



Melalui posting ini aku ingin sedikit berbagi pengetahuanku akan dunia industri transportasi kereta-api di Belanda yang bahkan cukup banyak orang Belanda (setidaknya berdasarkan yang aku kenal sih) pun juga nggak tahu 🙂 . Karena ini hanya lah sebuah posting blog saja, jelas aku tidak akan menuliskan banyak detail di sini karena ada banyak pihak yang terlibat, dan juga politik, haha 🙂 .

Anyway, mari kita langsung mulai…

Ketika kita mendengar “transportasi rel”, aku tebak kebanyakan pasti berpikir “kereta api”, yang mana tidak mengherankan karena kita harus menaiki kereta kan kalau mau bepergian melalui rel. Tetapi tentu saja mode transportasi ini tidak hanya melibatkan kereta apinya saja. Kita juga membutuhkan infrastruktur kerasnya seperti stasiun kereta, rel kereta apinya sendiri, dan juga kabel listrik di atas; dan juga infrastuktur lunaknya seperti jadwal kereta api dan kontrol lalu-lintas.

Rotterdam Centraal Station
Rotterdam Centraal Station

Di Belanda, ketika kebanyakan orang berpikir tentang transportasi kereta, mereka langsung mengasosiasikannya dengan “NS” (Nederlandse Spoorwegen/Kereta Api Belanda) untuk merepresentasikan keseluruhan industrinya. Di sini, aku bisa bilang bahwa ini, sebenarnya, amat sangat SALAH. Bahkan, NS hanya lah satu bagian saja dari industri ini; walaupun memang adalah bagian yang besar sih.

Loh, lalu siapa dong NS itu?

Sebenarnya, NS hanyalah SATU operator kereta saja di jaringan per-kereta-apian Belanda; yang mana artinya mereka hanya mengoperasikan kereta-kereta yang berjalan di atas rel itu. Iya, hanya kereta-keretanya saja. Terlebih lahi, NS bukanlah satu-satunya operator kereta di Belanda; walaupun memang mereka lah yang terbesar. Ada lebih dari 20 operator kereta lainnya di negeri ini, misalnya Arriva, NS International, Connexxion, Veolia, dan DB Schenker (kereta kargo). Dan sama seperti NS, mereka hanya mengoperasikan keretanya saja.

An Intercity train entering platform 1 of Delft station.
Sebuah kereta Intercity-nya NS memasuki jalur 1 stasiun kereta api Delft lama.

Nah, terus siapa dong yang bertanggung-jawab atas stasiunnya? Atas relnya? Atas kabel listriknya? Atas jadwalnya? Atas kontrol lalu-lintasnya? Yah, jawabannya adalah sebuah organisasi lain yang bernama ProRail. Secara singkat, bisa dibilang ProRail bertanggung-jawab akan semua sisi non-kereta di operasi kereta api, haha.

NS dan operator-operator lain adalah kliennya ProRail. Dan sebagai klien, mereka harus membayar ProRail untuk menggunakan infrastruktur keretanya. Sebaliknya, ProRail bertugas menyediakan infrastruktur dan memproses jadwal kereta bagi operator-operator ini; dan tentu juga harus mengatur lalu-lintasnya juga.

The new Delft Station
Walaupun, yang membuat semakin rancu nih, stasiun-stasiun kereta api di Belanda ditandai dengan logonya NS. Ini adalah pengaruh sejarah dan politik yang berada di luar cakupan posting ini.

“Okay, mengerti deh. Jadi pada dasarnya kita bisa membagi stakeholders dari industri kereta api ke dua grup: ProRail sebagai pemilik infrastruktur dan operator-operator kereta?” Hmm, sayangnya jawabannya adalah TIDAK. Di sini lah dimana situasi menjadi semakin rumit. Saking ruwet dan majunya jaringan kereta api di Belanda, ada banyak pihak yang ikut terlibat di industri kereta api Belanda. Misalnya, ProRail sebenarnya tidak langsung turun tangan dalam merawat infrastrukturnya, begitu pula NS tidak langsung merawat kereta-keretanya sendiri. Beberapa pihak ketiga dipekerjakan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan ini. Iya, beberapa pihak ketiga, plural. Dan karena mereka adalah perusahaan, mereka juga “berkompetisi” satu sama lain; yang mana membuat situasi semakin ruwet.


Maliebaan Station
Mungkin mesti ada yang dipekerjakan untuk mengawasi tas-tas di Stasiun Maliebaan ini juga ya? 😛

Oke, nampaknya aku harus berhenti di sini deh sebelum cerita menjadi semakin rumit dan membingungkan, haha. Tetapi setidaknya, mudah-mudahan secara umum ide akan industri perkereta-apian di Belanda sudah tersampaikan lah ya.

Untuk merangkum posting ini, NS tidak lah mewakili keseluruhan industri kereta api di Belanda karena NS hanyalah satu (dari banyak) operator kereta. Infrastruktur dan lalu-lintasnya adalah tanggung-jawab dari perusahaan lain yang terpisah, ProRail. Namun, beberapa pekerjaan mereka limpahkan ke beberapa perusahaan pihak ketiga. 🙂


Life in the Netherlands, Rubric

#1183 – Life in the Netherlands (2)


So, this post is the second of the posts sequence about (general) life in the Netherlands. Yes, the first one was this one, which I wrote like one and a half year ago, muahahahaha 😆 😳 . Yes, finally after one and a half year, the second post is coming, lol 😆 .

Stores’ Opening Time

The first time I came here, it was very tricky to adapt because the stores’ opening time here was (and still is, obviously) very different from what I was used to.

So, most stores do not open seven days a week. Yes, there is (usually) one day per week when stores are closed. And they all usually “pick” the same day: Sunday. Yes, on Sunday, most stores are closed, including malls (well, there are not that many malls in the whole country that I know though). That is why Sunday is rather a quiet day in the Netherlands.

On top of that, when they do open, they do not open beyond 17:00 or 18:00. So, yeah, they only open in the weekdays; and even so, they do not open after the working hours. So we cannot plan to buy something in a weekday after work. In Delft (I am not sure if I can generalize this though), however, Friday is an exception. Most stores open until a bit later, which is 21:00. Well, it is not much but at least it is something! 😀

Well, obviously there are some exceptions like supermarkets because if they did close before 18:00, how would it be possible for working people (like me :D) to do grocery-shopping during the weekdays? For supermarkets, usually they open until a bit later on. How long, it depends on the brand, like the one I normally go (C1000), they usually open until 22:00 except Sunday when it is only until 18:00. Btw, some supermarkets are also closed on Sunday.

Things get a little more complicated when the calendar is red. While most stores are, understandably, closed during these days; supermarkets are usually closed too!! So if you do not check the calendar and plan to do grocery shopping during any of these days, you are going to have a bad time; like I was this time.


But now that I have lived here for two and a half years, I think I am already quite get used to it. 🙂

Other Life in the Netherlands post:
1. #976 – Life in the Netherlands (1) (Strong wind and open bridge)


Nah, ini adalah posting kedua dari rangkaian posting mengenai kehidupan (secara umum) di Belanda. Ya, yang pertama adalah yang ini, yang aku tulis sekitar satu setengah tahun yang lalu, muahahahaha 😆 😳 . Ya, akhirnya setelah satu setengah tahun, posting keduanya muncul juga, lol 😆 .

Jam Buka Toko-toko

Ketika baru pindahan kesini dulu, awalnya agak tricky untuk beradaptasi dengan jam buka toko-toko disini karena sangat berbeda.

Nah, kebanyakan toko nggak buka tujuh hari seminggu lho. Iya, (biasanya) ada satu hari per minggu dimana toko-toko itu tutup. Dan biasanya mereka “memilih” hari yang sama: Minggu. Iya, di hari Minggu, kebanyakan toko tutup, termasuk mall (eh, tapi sejauh yang aku tahu juga nggak ada banyak mall sih di seluruh negeri ini). Makanya hari Minggu itu suasananya sepi di Belanda.

Di samping itu, ketika mereka buka, biasanya mereka nggak buka lewat jam 17:00 atau 18:00 lho. Ya, mereka hanya buka di hari kerja aja; dan itu pun juga nggak melebihi jam kantor. Jadi nggak bisa deh merencanakan beli sesuatu di toko habis pulang kerja. Di Delft (nggak tahu sih bisa digeneralisasikan atau tidak) sih ada pengecualiannya, yaitu hari Jumat. Kebanyakan toko buka sampai agak malaman sedikit, yaitu jam 21:00. Ya nggak banyak sih tapi lumayan lah ya. 😀

Eh, tentu saja ada beberapa pengecualian seperti misalnya supermarket karena kalau mereka juga tutup sebelum jam 18:00, gimana dong nasib orang-orang yang bekerja (seperti saya 😀 ) yang harus belanja kebutuhan sehari-hari di hari kerja? Untuk supermarket sih biasanya mereka buka sampai agak malaman deh. Seberapa malam ya tergantung supermarketnya ya, seperti langgananku (C1000), biasanya mereka buka sampai jam 22:00 kecuali hari Minggu yang buka hanya sampai jam 18:00. Btw, beberapa supermarket juga tutup di hari Minggu lho.

Di tanggal merah, hal menjadi agak sedikit lebih rumit. Kebanyakan toko memang tutup, dapat dimaklumi lah (hari Minggu aja mereka tutup gitu!); dan ini diikuti oleh supermarket yang kadang juga ikut-ikutan tutup dong!! Jadi kalau kita tidak mengecek tanggalan dan berencana belanja kebutuhan sehari-hari pas tanggal merah, bakal kecele deh; seperti aku waktu ini.


Nah karena sekarang sudah tinggal disini selama dua setengah tahunan, rasanya aku sudah agak terbiasa dengan ini ya. 🙂

Posting lain di kategori Life in the Netherlands:
1. #976 – Life in the Netherlands (1) (Angin kencang dan jembatan yang dibuka)

Life in the Netherlands, Rubric

#976 – Life in the Netherlands (1)


Okay, the title of this blog is about my life and currently I am living in the Netherlands. However, so far as I recall, I have not written down a dedicated entry just for a general life in the Netherlands, maybe? And so I decide to start a sequence of entries about the (more) general life here in the Netherlands. Well, the continuity of these entries will rely heavily on my (future) mood though (huahaha 😆 ). But since now I kinda have the mood to write the first one (out of (still) unknown), so here we go


Well, you know, I have written over and over and over about the weather in Holland. And perhaps, one characteristic that I already mentioned is the wind. Btw, have I mentioned this before? I don’t remember honestly (haha :P), but just in case if I haven’t, so let me mention it now: one characteristic of Holland’s weather is the “wind”. Yes, “THE” wind. The Dutch wind is (normally) very strong AND cold! When you are out and the wind is blowing, you can feel the cold slipping through your clothes and breeze through your skin. The thing is, sometimes the weather itself has already been quite cold and hence cold wind blowing towards you is definitely not helping at all, especially during the winter, haha. Okay, you know I don’t really mind the cold, but there is a second characteristic of Dutch wind that I mentioned above: it is (normally) strong!

Well, to describe the “strength” of the wind, I choose to use a media (well, now I am confused whether I am currently writing an entry or actually giving a lecture here. Why do I act like I am giving a lecture by saying “use a media”? huahaha 😆 ). Anyway, so I found this video on Youtube taken at TU Delft (yes, my campus) in the EWI building (my faculty’s and office’s building) like some years ago which pretty much illustrates the “strength” of a typical windy day in Holland to the viewers. So, please enjoy:

Well, in case you didn’t notice, go to minute 1:38 and you can see that one can actually FLY (literally flying) by making use of the freaking wind!! 😯 Btw, this video was mainly filmed near EWI building. And since my main activity in the campus is centralized around that building, and so I PASS this place like EVERYDAY!! hahaha 🙂 So you know how strong I am now with the wind 😎 .

I still remember though, during my first week in the Netherlands, I was kinda shocked with the wind and when I arrived at home safely, I literally thanked God for still being alive at that point, huahaha 😆 . Also, that day I was buying a set of drying rack from the centrum and I walked back home. That day, the wind was blowing quite strong and because I was bringing a wrapped drying rack, I became an “easy target” for the wind and the rack almost flew away from my hand. The crazy thing was that the rack almost hit a biker when it flew away! 😯 Lucky I managed to get it back on time! Otherwise there would have been an incident! haha 😛

P.S : yes, it IS THAT hard to walk against the wind, just as depicted in the video. It IS REAL!! 😀

Btw, but now, somehow, I can enjoy the strong wind! I mean, it feels like that is a free adrenaline ride (like the one in a theme park), and it is a natural one, haha. So, I am now not complaining at all, hehe.

De Brug Was Open

This phenomenon is another thing that is very unusual in (most part of) Indonesia. De brug was open, or translated as “the bridge was opened”. You know, there are a lot of canals in the Netherlands, and (most of) those canals are actually used as mean of transportation, with ships of course. Well, a lot of canals also implies a lot of bridges. And when big ships pass by, those bridges are “opened” (lifted or rotated) to give more space for the ships to safely pass through the bridges. Well, the event is very similar with like when trains pass by in Indonesia (or in other parts of the world I suppose) in the train crossings with no tunnel or flyover. So, this kind of scenery is quite common here:

p.s : And some said that this (de brug was open) is frequently used by students in the Netherlands as their excuses for being late to a class, haha. Reputedly, this is the second most popular excuse after “m’n fiets is kapot” (my bike is broken), haha.

A lifted bridge in Delft. A (big) ship was passing...


Oke, judul blog ini kan tentang hidupku ya dan sekarang kan ceritanya aku tinggal di Belanda nih. Tapi koq sejauh yang aku ingat, aku belum pernah ya nulis satu posting khusus buat tentang kehidupan yang lebih umum gitu di Belanda, iya nggak sih? Makanya deh aku memutuskan untuk memulai rangkaian posting tentang kehidupan yang (lebih) umum deh di Belanda ini. Ya, nasib kelanjutan rangkaian posting ini memang akan sangat tergantung mood penulis (alias saya) di masa yang akan datang nanti sih (huahaha, apaseh 😆 ). Tapi karena sekarang aku lagi ada mood buat nulis, makanya deh aku nulis yang pertama (dari berapa yang masih belum diketahui jumlahnya). Udah ah, mulai aja ya


Ya ya, tahu lah, aku sering banget nulis tentang cuaca di Belanda disini. Dan mungkin, satu karakteristik yang pernah aku sebutkan adalah anginnya. Eh, aku sudah nyebutin ini belum sih? Nggak inget deh aku (haha :P), tapi kalo belum, ya udah deh aku sebutin sekarang aja: satu karakteristik cuaca di Belanda itu ya “anginnya”. Ya, angin”NYA” itu. Angin Belanda itu (seringnya) kenceng banget DAN dingin loh! Jadinya ya kalo pas kita berada di luar trus angin bertiup gitu, kerasa deh dinginnya itu merambat masuk melewati pori-pori pakaian dan menyentuh kulit kita (apaseh). Masalahnya adalah, kadang cuacanya sendiri tuh kan udah dingin gitu ya, makanya angin yang dingin ya nggak membantu deh (nggak bikin hangat gitu maksudnya (iyalah :P)), apalagi sewaktu musim dingin, haha. Oke, tahu dong aku sangat nggak masalah sama yang namanya dingin, tapi masih ada karakteristik kedua dari angin di Belanda yang aku sebutkan di atas kan: anginnya itu (seringnya) kenceng!

Ya, untuk mendeskripsikan seberapa “kenceng” angin itu, aku memilih menggunakan media aja (halah, ini posting apa lagi ngasih kuliah sih? Pakai media-mediaan segala, huahaha 😆 ). Jadi ceritanya aku menemukan satu video di Youtube yang diambil di TU Delft (ya, kampusku) di Gedung EWI (gedung di kampus tempat fakultas dan kantorku berada) beberapa tahun yang lalu yang menggambarkan cukup baik bagaimanakah kecangnya angin di Belanda di tipikal hari berangin di Belanda. Jadi, mari kita tonton:

Yah, siapa tahu pada nggak memperhatikan, coba deh klik menit 1:38 tuh, dan pasti pada lihat bahwa seseorang itu sebenarnya bisa BENERAN TERBANG (terbang dalam arti sebenarnya) dengan memanfaatkan anginnya!! 😯 Btw, video ini direkamnya di dekat gedung EWI ya. Dan karena aktivitasku di kampus tersentralisir di sekitar gedung ini, makanya aku MELEWATI area yang direkam ini SETIAP HARI!! hahaha 🙂 Jadi bisa tahu deh seberapa kuat saya sekarang dalam melawan angin 😎 .

Aku masih ingat deh, di minggu pertamaku di Belanda, aku kaget sekali dengan kencangnya angin disini dan ketika aku tiba di rumah dengan selamat, aku benar-benar bersyukur kepada Tuhan YME bahwa aku masih hidup pada saat itu, huahaha 😆 . Juga, kan pas hari itu aku baru aja beli satu set rak jemuran gitu ya di centrum dan pulangnya aku jalan kaki. Hari itu, pas anginnya juga lagi kencang tuh dan karena aku lagi membawa satu set rak jemuran yang masih utuh (dibungkus), aku jadi target empuk deh oleh anginnya, dan raknya hampir terbang dan lepas dari tanganku lho! Gilanya, sewaktu raknya nyaris terbang itu, raknya nyaris memukul orang lewat yang lagi sepedaan loh! 😯 Untung banget aku berhasil menjinakkan (halah) rak yang nyaris terbang dengan liar tersebut! Kalo enggak udah jadi insiden deh itu! haha 😛

P.S : ya, memang sesulit itu loh jalan melawan angin yang kenceng, seperti yang digambarkan di video di atas. Ya, video di atas itu BENERAN!! 😀

Eh, tapi sekarang ya, entah kenapa, aku bisa menikmati loh pas angin kencang gitu. Rasanya kayak ada mainan gratis aja gitu, haha. Makanya aku nggak komplain deh, hehe.

De Brug Was Open

Nah, fenomena ini yang aku rasa sangat langka terjadi di (hampir semua bagian) Indonesia. De brug was open, atau terjemahannya “jembatannya dibuka”. Tahulah, di Belanda itu ada banyak banget kanal, dan (kebanyakan) kanal-kanal itu dipakai sebagai sarana transportasi, dengan kapal lah ya tentunya (masa iya gitu pake truk?? 🙄 ). Karena ada banyak kanal, tentu juga ada banyak jembatan deh. Nah, kalau ada kapal besar yang lewat, jembatannya “dibuka” gitu (diangkat atau diputer) supaya kapalnya bisa dengan bebasnya lewat. Nah, kejadian seperti ini tuh kira-kira mirip lah sama kalau ada kereta yang mau lewat di Indonesia di persimpangan dengan rel yang nggak pakai terowongan atau jembatan. Jadi ada palangnya yang ditutup dan bunyi-bunyian gitu ketika ada kapal mau lewat, lalu jembatannya diangkat deh. Jadi, pemandangan kayak foto di atas itu bukan kejadian langka disini.

p.s : Dan katanya, hal ini (de brug was open), sering dijadikan alasan oleh anak-anak sekolah Belanda kalo telat datang ke kelas loh, haha. Katanya ini alasan terpopuler nomer dua loh (setelah “m’n fiets is kapot” (sepeda saya rusak)), haha.