Movie Review · Nostalgia

#1893 – Digimon Adventure Tri (4: Sōshitsu)


Previous posts in the Digimon Adventure Tri series:
1. Digimon Adventure Tri (1: Saikai)
2. Digimon Adventure Tri (2: Ketsui)
3. Digimon Adventure Tri (3: Kokuhaku)


The fourth installment (of six) of Digimon Adventure Tri, Sōshitsu, was released at the end of February. And as a big fan of Digimon Adventure (read: season 1 only), naturally I was not going to miss it!

Well, except that I just watched it this Sunday because for whatever reason I forgot that it was released in February (instead, I thought it would be in Match!) 🙈.

But the most important matter is that now I have watched it! Haha 😆 . Anyway, I was quite excited when seeing the official poster because I saw my favorite Dark Masters there, Machinedramon! Yeay!! :mrgreen: The Dark Masters were my favorite villains in Digimon Adventure 1 (and so the Dark Masters arc was also my favorite of the entire series). So obviously I was curious what role would Machinedramon do here. Or whether or not this Machinedramon was related to the Machinedramon in Digimon Adventure 1 which Wargreymon should have killed (Even though indeed digimons reincarnate).

Digimon Adventure Tri 4 poster. Source:

*** Spoiler Alert!!! ***

Continuning from where we left off in Kokuhaku, the movie started with how the eight digi-destined attempted to reconnect with their partners, whom had lost their memory due to the Reboot. It was clear from the beginning that Sora and Biyomon would be the central characters in this movie as they had difficulties in reconnecting. It was understandable, though; as for Biyomon, she did not know Sora at all so it was not surprising that she created some distance.

It was also revealed that Himekawa and Nishijima were part of the original DigiDestined (consisted of five kids, shown as sillhouettes in the last episode of Digimon Adventure season 1). They were battling the Dark Masters at the time and had to sacrifice Megadramon, Himekawa’s partner, to defeat them. Because of this, Megadramon could not reincarnate into a new Digi-Egg. Years later, Himekawa was obsessed with reviving her partner (whose Rookie form was Tapirmon) and had a research on “rebooting” the Digital World. This way, there was a possibility that Tapirmon could be born again. Meanwhile, Nishijima was also warned of the involvement of someone named “Yggdrasil” who seemed to be the brain behind all of this mess.

Dark Gennai and Machinedramon

In the Digital World, the DigiDestined were attacked by Dark Gennai (Gennai that appeared to have been “infected” and now worked for Yggdrasil), who was controlling two members of the Dark Masters: Machinedramon and MetalSeadramon. Agumon and Gabumon were able to evolve to Wargreymon and MetalGarurumon and defeated MetalSeadramon. Meanwhile, Sora and Biyomon had reconnected and Biyomon mega-digivolved to Phoenixmon. Patamon also mega-digivolved to Seraphimon because it wanted to fight ( 😆 ), and so Tentomon to HerculesKabuterimon. The three defeated Machinedramon.

Phoenixmon vs Machinedramon

Meanwhile, Dark Gennai was able to get to Meiko and provoked Meicoomon to get angry to release the evil in it.

*** Spoiler Ends Here ***

I have to say this was my most favorite Tri movies so far! The story line became more clear. The motives and background of Himekawa and Nishijima were told. The mystery surrounding the villain appeared to have been (slowly) revealed as well, but not completely. And the actions were good!

Here is my favorite scene throughout, when Dark Gennai was attacking Joe and Gomamon attacked Dark Gennai with its “Fish Powers”:

Lol 😆

Okay, there were a few parts which I deemed unnecessary, though. For instance the splitting of the eight DigiDestined but literally nothing was happening during the split and an episode later they all reconcilled.

Another aspect I loved about the movie was the ending! FINALLY, they were using Ai Maeda’s “Keep On”, my favorite Digimon ending song of all time! 😍😍😍

So, overall I really LOVED this movie! And I cannot wait for the fifth one, Kyōsei (Symbiosis), that will be released later on this year!! 😍😍😍


Posting-posting sebelumnya dalam seri Digimon Adventure Tri:
1. Digimon Adventure Tri (1: Saikai)
2. Digimon Adventure Tri (2: Ketsui)
3. Digimon Adventure Tri (3: Kokuhaku)


Edisi keempat (dari enam) dari Digimon Adventure Tri, Sōshitsu, dirilis akhir Februari kemarin. Dan sebagai fans-nya Digimon Adventure (baca: cuma musim 1 aja sih), jelas dong aku tidak akan melewatkannya!

Eh, kecuali bahwa aku baru menontonnya hari Minggu kemarin ini sih. Entah mengapa aku bisa-bisanya lupa loh kalau bulan rilisnya adalah Februari (aku kira bulan Maret!). Fans macam apa ini … 🙈.

Eh, tetapi yang penting mah sekarang sudah nonton dong yaa! Haha 😆 . Ngomong-ngomong, aku merasa bersemangat banget ketika melihat poster resminya karena Dark Masters favoritku mejeng di sana, Machinedramon! Horee!! :mrgreen: Jadi ceritanya Dark Masters adalah tokoh jahat favoritku di Digimon Adventure 1 (dan jadilah memang alur cerita Dark Masters adalah bagian favoritku dari keseluruhan seri ini). Nah, jelas lah aku penasaran apa peran Machinedramon di sini. Atau juga apakah ini adalah Machinedramon yang sama dengan Machinedramon di Digimon Adventure 1 yang mana seharusnya sudah dibunuh oleh Wargreymon (Walaupun memang digimon bereinkarnasi sih).

Digimon Adventure Tri 4 poster. Source:

*** Spoiler dimulai di sini!!! ***

Melanjutkan dari akhir cerita di Kokuhaku, film ini dimulai dengan usaha kedelapan anak terpilih untuk berkenalan kembali dengan partnernya, yang sudah kehilangan ingatakn akibat “Reboot” di film ketiga. Sudah jelas dari awal bahwa Sora dan Biyomon akan menjadi karakter pusat dari film ini. Masuk akal sih; karena untuk Biyomon yang kehilangan ingatan kan ia sama sekali tidak mengenal Sora sehingga tidak mengherankan ketika ia menjaga jarak.

Juga diungkapkan bahwa ternyata Himekawa dan Nishijima adalah dua dari anak terpilih generasi pertama (terdiri atas lima orang, yang ditampilkan sebagai siluet di episode terakhir Digimon Adventure musim 1). Ketika itu mereka bertarung melawan Dark Masters dan harus mengorbankan Megadramon, pasangannya Himekawa, untuk mengalahkannya. Sebagai akibatnya, Megadramon tidak bisa bereinkarnasi kembali menjadi Digi-Egg. Bertahun-tahun kemudian, Himekawa terobsesi dengan menghidupkan-kembali pasangannya (yang mana bentuk Rookie-nya adalah Tapirmon) dan melakukan riset untuk “me-reboot” Dunia Digital. Dengan begini, ada kemungkinan Tapirmon bisa hidup lagi. Sementara itu, Nishijika diberi-tahu akan keterlibatan seseorang bernama “Yggdrasil” yang sepertinya adalah otak di balik semua kekacauan ini.

Dark Gennai dan Machinedramon

Di Dunia Digital, anak-anak terpilih diserang oleh Dark Gennai (Gennai yang nampaknya sudah “terinfeksi” dan kini bekerja untuk Yggdrasil), yang mengontrol dua anggota Dark Masters: Machinedramon and MetalSeadramon. Agumon dan Gabumon berhasil berevolusi menjadi Wargreymon dan MetalGarurumon untuk mengalahkan MetalSeadramon. Sementara itu, Sora dan Biyomon sudah akrab lagi dan Biyomon berdigivolve ke level meganya, Phoenixmon. Patamon juga berdigivolve ke level meganya, Seraphimon, karena ia pengen (haha 😆 ), dan juga Tentomon ke HerculesKabuterimon. Mereka mengalahkan Machinedramon.

Phoenixmon vs Machinedramon

Sementara itu, Dark Gennai berhasil mencapai Meiko dan memanas-manasi Meicoomon untuk marah untuk melepaskan kejahatan di dalam dirinya.

*** Spoiler Selesai ***

Harus kubilang film ini adalah film Tri favoritku sejuah ini! Jalan ceritanya lebih jelas. Motif dan latar belakangnya Himekawa dan Nishijima juga diceritakan. Misteri yang meliputi tokoh jahat juga (perlahan-lahan) mulai diungkapkan, walaupun belum semuanya. Dan aksinya juga keren lah!

Scene favoritku adalah yang ini, ketika Dark Gennai menyerang Joe dan Gomamon menyerang Dark Gennai dengan jurus “Fish Powers”-nya:

Huahahaha 😆

Memang ada beberapa bagian dari film yang menurutku nggak penting sih. Misalnya ketika anak-anak terpilihnya terpisahkan tetapi tidak ada yang terjadi ketika mereka terpisah itu dan toh satu episode kemudian mereka berkumpul lagi.

Satu aspek lain yang kusuka dari film ini adalah ending-nya! AKHIRNYA, mereka menggunakan “Keep On”-nya Ai Maeda, lagu penutup Digimon favoritku sepanjang masa! 😍😍😍

Yup, jadi secara keseluruhan aku SUKA banget film ini! Dan aku nggak sabar nih menunggu yang kelima, Kyōsei (Simbiosis), yang akan dirilis tahun ini juga!! 😍😍😍

Movie Review · PhD Life · Review · Zilko's Life

#1860 – PhD Movies


Just recently, I watched both of the PhD Movies. In case you are unfamiliar, these are based on the popular PhD Comics. If you are still unfamiliar, well, PhD Comics is webcomic strip focusing on the lives of several PhD students/candidates.

As a (former?) PhD candidate (Well, I am kinda in a limbo now where technically my PhD contract has ended but I still do not yet have my defense, though I am in the process of getting one 😛 ), I relate to a lot of the topics in it! They are brought up in short and humorous way, yet still very relevant and, in most cases, represent how I feel over some topics which I happen to face as well. So if you are a PhD student yourself, or if you even just want to know a little bit of the lives of a PhD student, I do recommend this channel! They also have their own Facebook page (Piled Higher and Deeper (so abbreviated as “PhD” 😛 )) which you can follow 😉 .

Anyway, back to the movies. Due to the popularity of the comic strip (which had been run since 1997), in 2011 the first movie adaptation was made which was followed by the second one in 2015. And, yes, I have decided to watch it just recently (>.<), haha 😆 .

The first movie focused more on the life of PhD students in the university. The unnamed grad student (whose name was revealed to be “Winston” later) just started working at Prof. Smith’s lab and realized the harsh truth of a research work, where nothing was easy and sometimes it appeared to be “mundane” (I experienced this phase in my PhD as well, btw). Meanwhile, Cecilia, a more senior grad student, had to deal with (lazy) undergrad students (I also had similar-ish experience too about this, lol 😆 ) and the difficulty to find the work-life balance, as it was very tempting to leave out the “life” part.

This is so true in real life. Source:
This is so true in real life. Source:

The second movie took place a few years later, where all characters were still in grad-school, and faced some latter challenges in PhD years. Winston went to his first ever international conference where, in his naivity, he was involved in a funding and rivalry war between his group and his professor’s nemesis. Cecilia, on the other hand, had almost completed her PhD and she was struggling with writing up the dissertation. (Trust me, writing up a dissertation is NOT as easy as it sounds, lol. Luckily, my supervisor warned me about this many times 😛 ).

True :P . Source:
True 😛 . Source:

In my opinion, both movies were awesome! I could totally relate some parts of the four years of my life to both movies! The first movie was an appropriate introduction of the life as a PhD student in university. Winston’s story reflects the life of a newbie, while Cecilia’s represents the more experienced ones, like in the second or third year.

The second movie was even more interesting, especially because a “villain” was introduced, i.e. Dr. Sangeeta Singh, the rival of Prof. Smith. The conflict between the characters due to this rivalry was heated; and I can tell you that this kind of conflict is not uncommon in real-life 😛 . Cecilia’s struggle to finish writing her dissertation was also very real. And I especially could relate to this because this was the main theme of my last eight to nine months of PhD years, lol 😆 .

Yeah. Source:
Yeah. Source:

One story in the second movie was Cecilia’s struggle to fix a defense date with her committee members. This one:

Lol, I actually had to face a similar conflict this October. Even though, obviously, not to the same degree, I had an extra constraint in my case, which was the room availability in TU Delft. So of all the rooms in TU Delft, there was only one room that could be used for a PhD defense. And with thousands of PhD students, let’s say reserving this room was not always easy. So you could imagine, I had to find an exact date AND time where all of my seven committee members (one was even from abroad) could come to Delft AND the one room was also available! I had to go through a few iterations of date and time before I managed to find one solution! Haha 😆 .

Anyway, so, yeah, I truly did enjoy both movies. And I do recommend them to you!! 😉 Both portray the lives of PhD students well in humorous way. Here is the trailer of the second movie.


Baru-baru ini, aku menonton kedua film PhD Movies. Andaikata ada yang kurang familier, kedua film ini berdasarkan PhD Comics yang populer itu. Eh, jika masih kurang familier, ini adalah komik pendek dengan fokus pada kehidupan dari beberapa kandidat/mahasiswa PhD/S3.

Sebagai (mantan?) kandidat PhD (Hmm, sekarang ini statusku rada geje nih dimana secara teknis kontrak PhDku sudah selesai tetapi aku masih belum sidang dan wisuda, walaupun aku sedang di tengah proses untuk mendapatkannya 😛 ), aku merasa nyambung banget dengan banyak topik yang diangkat di sana! Topik-topik ini diangkat secara singkat dengan humor, tetapi amat relevan dan, di kebanyakan kasus, mewakili perasaanku akan beberapa topik yang kebetulan juga mesti kuhadapi. Jadi jika kamu adalah seorang mahasiswa PhD, atau sekedar ingin tahu saja bagaimana sih kehidupan mahasiswa PhD itu, aku sungguh menyarankan komik ini deh! Mereka juga memiliki laman Facebook sendiri (Piled Higher and Deeper (makanya disingkat “PhD” 😛 )) yang bisa di-follow 😉 .

Anyway, kembali ke filmnya. Karena kepopuleran komiknya (yang sudah jalan semenjak tahun 1997), di tahun 2011 sebuah adaptasi filmnya dibuat yang diikuti dengan film kedua di tahun 2015. Dan iya, aku baru aja menontonnya sekarang dong (>.<), haha 😆 .

Film pertama fokus pada kehidupan mahasiswa PhD di universitas. Seorang mahasiswa tak bernama (yang namanya kemudian diketahui sebagai “Winston”) baru saja mulai bekerja di labnya Prof. Smith dan menghadapi yang namanya kenyataan pahit dari pekerjaan riset, dimana tidak ada yang mudah dan kadang bisa terasa “tidak berarti” (Aku sendiri juga mengalami fase ini, btw). Sementara itu, Cecilia, yang sudah lebih senior, harus berhadapan dengan mahasiswa S1 (yang malas-malas; yang mana aku juga memiliki pengalaman mirip-mirip juga tentang ini, haha 😆 ) dan sulitnya menjaga keseimbangan kerja dan kehidupan, dimana membuang bagian “kehidupan”-nya nampak menggoda sekali untuk dilakukan.

This is so true in real life. Source:
Ini benar loh. Sumber:

Film kedua mengambil waktu beberapa tahun kemudian, dimana semua karakternya masih berada di universitas, dan menghadapi masalah-masalah lain di tahun-tahun PhD yang selanjutnya. Winston berkunjung ke konferensi internasional pertamanya, dimana akibat keluguannya, ia terlibat di dalam perang antara rival untuk merebutkan funding (pendanaan) antara grupnya dan grup musuh besar profesornya. Cecilia, di sisi lain, sudah hampir selesai dengan risetnya dan ia kesulitan untuk menulis disertasinya (Percaya deh, menulis disertasi itu TIDAK semudah kedengarannya loh, haha. Untungnya, supervisor-ku sudah memperingatkan aku berkali-kali sih dulu 😛 ).

True :P . Source:
Ya gitu deh 😛 . Sumber:

Menurutku, kedua filmnya keren banget! Aku benar-benar bisa mengaitkan beberapa bagian dari empat tahun kehidupanku dengan kedua film ini! Film yang pertama cocok sebagai pengenalan ke dalam kehidupan mahasiswa PhD di sebuah universitas. Cerita Winston mencerminkan kehidupan anak baru, sementara cerita Cecilia mewakili yang sudah lebih berpengalaman, ya mereka-mereka yang di tahun kedua atau ketiga gitu deh.

Film yang kedua lebih menarik lagi, terutama karena satu tokoh “antagonis” diperkenalkan, Dr. Sangeeta Singh, rivalnya Prof. Smith. Konflik antara karakter akibat persaingan di antara mereka berdua juga semakin memanas; dan bisa kubilang bahwa konflik semacam ini nggak jarang loh di kehidupan nyata 😛 . Kesulitannya Cecilia dalam menyelesaikan penulisan disertasinya juga nyata banget. Dan terutama aku memahaminya benar karena ini lah tema kehidupanku dalam delapan sampai sembilan bulan terakhir tahun-tahun PhDku, haha 😆 .

Yeah. Source:
Iya. Sumber:

Satu cerita di film kedua adalah kesulitannya Cecilia untuk menentukan tanggal sidang dengan anggota komitenya. Yang ini nih:

Huahaha, aku sendiri menghadapi konflik serupa nih bulan Oktober lalu. Walaupun jelas tidak separah itu sih, tetapi aku memiliki satu halangan ekstra, yaitu ketersediaan ruangan di TU Delft. Jadi ya, dari semua ruangan di kampus TU Delft, cuma satu saja yang bisa digunakan untuk sidang PhD. Dan karena ada ribuan mahasiswa PhD di kampus, bisa dibilang memesan ruangan ini tidaklah mudah. Jadi bisa dibayangkan lah ya, aku harus memilih satu tanggal DAN jam dimana kesemua tujuh orang anggota komiteku (satu bahkan dari luar negeri) bisa datang ke Delft DAN di saat yang sama, ruangannya juga masih tersedia! Aku harus melakukan ini dalam beberapa iterasi sebelum akhirnya aku menemukan satu solusi! Haha 😆 .

Anyway, jadi ya gitu deh, aku sungguh menikmati kedua filmnya. Dan aku menyarankan keduanya untuk ditonton!! 😉 Keduanya menggambarkan kehidupan mahasiswa PhD dengan baik dalam penuh humor.

Movie Review · Nostalgia

#1817 – Digimon Adventure Tri (3: Kokuhaku)


Previous posts in the Digimon Adventure Tri series:
1. Digimon Adventure Tri (1: Saikai)
2. Digimon Adventure Tri (2: Ketsui)


I am a big fan of Digimon Adventure (read: season 1 only). So naturally I was super excited when last year I found out that there would be a new installment of Digimon Adventure, Digimon Adventure Tri, with the main casts being the original eight Digi-destined from season 1!

This installment is split into six series, taking a few months of break in between ( 😆 ). In November last year, the first series, Saikai (Reunion), was released and in March the second one, Ketsui (Determination), followed suit. At the end of September, finally the third series, Kokuhaku (Confession), was released.

Anyway, here is my take on it. Please be aware that from hereon, I might drop spoilers of this series here and there.


The Plot

Some of the mysteries and questions raised in the first two movies were answered, though several new ones were actually introduced, lol 😆 . The (possible) reason for the disappearance of the characters from Digimon Adventure season 2 was that they actually vanished, for some mysterious reasons, along with other Digi-Destined all over the world. Though I actually wonder since the characters knew each other in season 2, wouldn’t they be, somehow, in contact so the original eight should have noticed of their disappearance?

It was also revealed that Meiko already knew about Meicoomon’s infection and actually Meicoomon was the source of the infection. However, that was pretty much what was “confessed” in this Confession series. The origin or the purpose of it, sadly, still remains a mystery up to now. Anyway, this caused Meiko to feel incredibly upset and acted annoyingly throughout the series.

The infected Patamon (thus Angemon) was one main story of this series
The infected Patamon (thus Angemon) was one main story of this series

The focus of this series was on Takeru and Koshiro. It turned out that Patamon was infected and at one point could not control himself and bit Takeru. Understandably Takeru could not reveal this to the other but then took Patamon home with him as a precautionary step. Koshiro worked super hard, to the point that he did not sleep for days, trying to solve the mystery. He could not get the answer he was looking for that he felt incredibly upset about it (Tbh that sounds a lot like a PhD research, lol 😆 ). In the end, he found the root of the problem, that the binary codes of the Digital World had been, somehow, rewritten with a different programming language that it caused distortions and the infections.

Meanwhile, Hikari got possessed by “Homeostasis”, who claimed to be the god of the Digital World. Homeostasis revealed that if the infection was not stopped, it could potentially destroy not only the Digital Worlds but also other worlds; the the effect on the real world was that there would be no electricity on Earth? One possible way to prevent that was to “reboot” the Digital World to reset it to how it was before the infection; pretty much like reinstalling a troubled computer. The catch, though, the memories of the Digimons would be lost; pretty much like any non-backed-up data during a computer reinstallment.

Meanwhile, a distortion occurred at Tokyo Big Sight (Yeay, been there last year! 😛 ) and Meicoomon appeared. The digimons tried to stop Meicoomon but they struggled; in fact, one by one they got infected. Consequently, Homeostasis triggered the “Reboot” option. Koshiro came up with a plan to back-up the data of the partner Digimons. Tentomon, the last uninfected Digimons, mega-digivolved to HerculesKabuterimon battling the other eight Digimons, but failed to back their data up in time. Then, the Reboot occurred.


After mourning for a week, the eight Digi-Destined decided to brave up and go to the (still unstabled) resetted Digital World to look for their Digimon partners. There, they briefly encountered a battle between Alphamon and a digimon called Jesmon, both Mega-level digimons. Thus raising the question, how could these two digimons be already in their Mega-level if the Digital World had just been rebooted? Anyway, not long after, they heard a whistle noise; which turned out to come from Tokomon. There, the eight Digi-Destined met their eight Digimon partners in their in-training levels, who have lost all their memories. They all started to get to know each other from scratch.

The series ended with a big cliff-hanger. Digimon Emperor (assumed to be Ken Ichijouji) was revealed to actually be young Gennai. He was overlooking the eight Digi-Destined from on top of a hill, where he was met by Himekawa.


Overall, I am really happy with this third series; I think this is the best one of the three that have been released. One quote I really like from this series came from Tentomon, especially that I could totally relate to it 🙂

“Knowing nothing is just a chance to learn new things, right?”

Yes Tentomon, that is SO right!! Though of course in real life we also face the imminent real-world constraints like deadlines (to sufficiently know things) and stuffs, lol 😆 .

Tentomon's speech
Tentomon’s speech

Anyway, the main conflict of Digimon Tri is getting infused stronger in the story line, though only a little bit clearer. Which brings me up to the next point: pace. While the pace of Kokuhaku was faster than of Saikai or Ketsui, overall it still felt rather slow. Probably it was also due to the still a lot of unresolved mysteries and answers, haha 😆 . For instance, the cliff-hanger at the end. But I think that was actually supposed to be the purpose of a cliff-hanger, to raise more question and, thus, excitement for the next series 😆 .

However, I find the consequence of the unresolved infected Digimons (the real world would lose the electricity) to be, well, rather “lame”. I mean, I agree that it would have been a major catastrophe in modern life. How could we function without electricity (so no lamps, no telephone, no computer, no internet)? However, I think it would have been cooler had it been something “bigger” than that, haha 😆 . What could it be? Well, I am not sure myself, but I am not a writer of the series 😛 .

On the other hand, I like the twist where Koshiro’s plan to back-up the Digimon partners’ data failed; showing that not all plans would come through, even in a fiction 😆 . Another aspect which I like is that the end of the series where the Digi-Destined started a new adventure in the Digital World, with the intention of finding their Digimon partners and to get to know them from scratch. This is a good stepping stone to the next series.

Speaking of the next series, the fourth one, Soushitsu (Loss), is scheduled to be released in February 2017. Damn! Five more months to go! 😣


Posting-posting sebelumnya dalam seri Digimon Adventure Tri:
1. Digimon Adventure Tri (1: Saikai)
2. Digimon Adventure Tri (2: Ketsui)


Aku adalah seorang fans besarnya Digimon Adventure (baca: musim 1 aja sih). Jadi jelas dong aku bersemangat sekali ketika tahun lalu tahu bahwa akan ada musim baru dari Digimon Adventure, Digimon Adventure Tri, yang mana tokoh utamanya adalah delapan anak terpilih asli di musim 1!

Musim ini dibagi ke dalam enam seri, yang mana di antaranya memakan waktu sekian bulan ( 😆 ). Bulan November tahun lalu, seri pertama, Saikai (Reuni), dirilis dan Maret lalu yang kedua, Ketsui (Kebulatan Tekad), mengikutinya. Akhir September kemarin, akhirnya seri yang ketiga, Kokuhaku (Pengakuan), dirilis.

Berikut ini pendapatku tentangnya. Eh, berhati-hati ya karena mulai dari sini, mungkin aku akan menuliskan spoilers dari seri ini.


Jalan Cerita

Beberapa misteri dan pertanyaan yang muncul di dua seri pertama terjawab di seri ini, tetapi beberapa misteri baru malah diperkenalkan dong, haha 😆 . Nah, (kemungkinan) penyebab tidak munculnya karakter dari Digimon Adventure musim 2 adalah karena mereka beneran menghilang, dengan alasan yang masih misteri, bersamaan dengan anak-anak terpilih lain di seluruh dunia. Walaupun aku penasaran sih karena karakter-karakternya kan kenal satu sama lain ya di musim 2, jadi mengapa kok mereka seakan-akan tidak sadar akan hilangnya karakter-karakter itu? Hmm

Diungkapkan juga bahwa Meiko sebenarnya sudah tahu bahwa Meicoomon terinfeksi dan sebenarnya Meicoomon lah sumber dari infeksi di dunia Digimon. Namun, hanya sebatas ini saja lah yang “diakui” Meiko di seri Pengakuan ini. Asal muasal atau tujuan dari infeksinya, sayangnya, masih merupakan misteri hingga sekarang. Nah, ini membuat Meiko sungguh merasa sedih dan bersalah dan kemudian bertingkah nyebelin banget satu seri ini.

The infected Patamon (thus Angemon) was one main story of this series
Patamon (jadi juga Angemon) yang terinfeksi adalah satu cerita seri ini

Fokus dari seri ini ada pada Takeru dan Koshiro. Ternyata, Patamon juga terinfeksi dan di satu waktu tak mampi mengontrol dirinya dan menggigit Takeru. Bisa dimaklumi, Takeru galau dan kemudian menyembunyikan kondisi ini dari yang lain tetapi kemudian mengajak Patamon pulang sebagai langkah jaga-jaga agar tidak menginfeksi digimon lainnya. Koshiro bekerja sangat keras, sampai-sampai dia tidak tidur beberapa hari, untuk memecahkan miserinya. Ia tidak bisa mendapatkan jawabannya dan ia sungguh merasa sedih dan kesal karenanya (Eh, kondisi begini mah mirip sekali kayak riset S3 deh, hahaha 😆 ). Pada akhirnya, ia menemukan akar permasalahannya, bahwa kode biner Dunia Digital telah, entah bagaimana, ditumpuk kode dengan bahasa pemrograman yang lain sehingga terjadilah kekacauan dan infeksi-infeksi itu.

Sementara itu, Hikari dirasuki oleh “Homeostasis”, yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan dari Dunia Digital. Homeostasis menyebutkan bahwa jika infeksi tidak dihentikan, ini mungkin akan berakibat kepada hancurnya tidak hanya Dunia Digital tetapi juga dunia-dunia lainya; dan efeknya di dunia nyata adalah tidak akan ada listrik lagi (?). Satu cara untuk mencegah itu adalah dengan “me-reboot” Dunia Digital untuk me-reset-nya ke kondisi sebelum infeksi; yah, seperti langkah meng-install-ulang komputer yang bermasalah gitu deh. Hanya saja, jika begini maka memori-memori Digimon akan terhapus; sama lah seperti data-data yang tidak di-back-up ketika komputer di-install-ulang.

Sebuah distorsi muncul di Tokyo Big Sight (Hore, aku pernah kesana tahun lalu! 😛 ) dan Meicoomon muncul. Digimon-digimon berusaha menghentikan Meicoomon tetapi mereka kesulitan; bahkan satu per satu diinfeksi. Akibatnya, Homeostasis memulai proses “Reboot”. Koshiro kemudian menjalankan rencana B yaitu untuk mem-back-up data partner-partner Digimon mereka. Tentomon, digimon terakhir yang tidak terinfeksi, berdigivolusi-mega menjadi HerculesKabuterimon bertempur melawan delapan digimon lainnya, tetapi gagal untuk mem-back-up semua data mereka. Lalu, reboot-nya berlangsung.


Setelah bersedih selama seminggu, depan anak terpilih memutuskan untuk menguatkan-diri dan pergi kembali ke Dunia Digital yang baru saja di-reset (dan masih belum stabil) untuk mencari digimon pasangan mereka. Di sana, mereka kebetulan bertemu dengan Alphamon dan seekor digimon bernama Jesmon, keduanya digimon level Mega, yang sedang bertempur. Ini menimnulkan pertanyaan, kok bisa dua digimon itu sudah berada di level Mega jika Dunia Digital baru saja di-reset? Tak lama kemudian, mereka mendengar suara sempritan; yang mana ternyata datang dari Tokomon. Di sini, delapan anak terpilih bertemu dengan delapan digimon pasangan mereka yang masih berada di level in-training, yang sudah kehilangan semua ingatannya. Mereka kemudian berkenalan dan mulai dari nol lagi.

Seri ini berakhir dengan sebuah cliff-hanger besar. Kaisar Digimon (yang sebelumnya diasumsikan sebagai Ken Ichijouji) ternyata adalah Gennai muda. Ia memperhatikan delapan anak terpilih ini dari atas bukit, dimana ia bertemu Himekawa.


Secara keseluruhan, aku suka banget dengan seri ketiga ini; aku rasa ini adalah seri terbaik dari tiga seri yang sudah keluar. Satu kutipan yang aku suka dari seri ini datang dari Tentomon, terutama karena aku paham banget dengannya 🙂

“Tidak mengetahui sesuatu adalah kesempatan untuk belajar sesuatu yang baru, kan?”

Iyaa Tentomon, benar banget!! Hanya saja, masalahnya sih di dunia nyata kita kan juga menghadapi batasan-batasan nyata ya misalnya tenggat-waktu (untuk memahami sesuatu), dll, haha 😆

Tentomon's speech
Kutipannya Tentomon

Anyway, konflik utama seri Digimon Tri ini juga merasuk semakin kental di dalam jalan ceritanya, walaupun hanya sedikit lebih jelas. Ini membawaku ke poin selanjutnya: laju jalan cerita. Walaupun laju Kokuhaku ini lebih cepat daripada Saikai atau Ketsui, secara keseluruhan aku masih merasa lajunya terlalu lambat. Munkin ini disebabkan oleh masih banyaknya misteri dan pertanyaan yang belum terjawab ya, haha 😆 . Misalnya saja, adanya cliff-hanger di akhir seri ini. Tetapi kalau dipikir-pikir lagi sebenarnya ini lah tujuan dari cliff-hanger ya, untuk memunculkan pertanyaan dan, sehingga, rasa penasaran untuk menonton seri selanjutnya 😆 .

Namun, aku merasa konsekuensi dari infeksi digimon yang tidak terselesaikan (dunia nyata kehilangan listrik) kok agak “cupu” ya. Maksudku, aku setuju sekali sih, akan menjadi suatu bencana besar di kehidupan modern jika listrik tiba-tiba tidak ada. Bagaimana kita bisa hidup tanpa listrik coba (nggak ada lampu, nggak ada telepon, nggak ada komputer, nggak ada internet)? Aku rasa, akan lebih keren andaikata konsekuensinya “lebih besar” daripada itu, haha 😆 . Misalnya apa? Hmm, nggak tahu juga sih, tapi aku kan bukan penulis naskah cerita ini ya 😛 .

Di sisi lain, aku suka twist cerita dimana rencananya Koshiro untuk mem-back-up data digimon pasangan mereka gagal; menunjukkan bahwa tidak semua rencana selalu terlaksana, termasuk di dalam cerita fiksi, haha 😆 . Aspek lain ceritanya yang juga aku suka adalah bagian akhirnya dimana anak-anak terpilih kembali di Dunia Digital, dengan tujuan mencari partner digimon mereka dan berkenalan kembali dari awal. Ini adalah batu loncatan yang baik untuk seri selanjutnya.

Ngomongin seri selanjutnya, yang keempat, Soushitsu (Kehilangan), dijadwalkan dirilis bulan Februari 2017 nih. Sial! Masih lima bulan lagi! 😣

Movie Review · Review

#1800 – Sausage Party


One movie that I have been waiting for this summer was the animated movie: Sausage Party.

First of all, even though this movie is an animated one, it is rated “R” so it is VERY NOT SUITABLE FOR CHILDREN. I repeat, it is NOT FOR CHILDREN.

Okay, clear on that? Good! Now let’s continue…

The reason of my interest was the unique premise. Remember the 1990s movie Toy Story? The basic idea of the movie is similar; but instead of toys that are alive, in this movie it is food (and some other items sold at a supermarket). Btw, humans cannot see that the food is alive; as how we perceive food in reality. And, well, you know damn well what we do to food (in case you don’t, well, we eat them).

The following is the green-band (so the safe-ish) trailer of the movie:

Yeah, so I hope by now you have understood why this movie IS NOT SUITABLE FOR CHILDREN (This is literally the third time I say this in this post. So if you bring your child(ren) to this movie after reading this, well you are probably illiterate). Aside from the “violence”, there are a lot of adult (porn) humor material throughout the movie.

Anyway, the movie followed the plot that food believed humans were god; that once they were purchased from the supermarket, they were “chosen” to enter “the great beyond” where everything was beautiful, full of happiness, perfect, etc. The main characters of the movie was a sausage, Frank, and his hotdog bun girlfriend, Brenda; who went on an adventure in the supermarket while slowly learning about the truth of their existence.

You see? The premise itself is already very interesting, isn’t it? One question which triggered my curiosity, a lot, was “how would the movie end?” Would it be a happy ending? But in that case, happy for whom? If the food got what they “wanted”, i.e. humans no longer ate them; that basically meant humans would die out of starvation?

And oh wow, how the movie surprised me, big time. The ending was not like any other normal ending. It was so twisted, like “wtf” twisted, lol 😆 . I liked it though because it really, really caught me off guard and I totally did not expect that. Especially that I was in a cinema with other people watching at the same time, lol 😆 .


The movie was premierred in the States in August 2016; though it was only premierred in the Netherlands this week. So you could imagine it really annoyed me that I had to wait that long before I could watch it, haha 😆 .

To be honest, I think it would be very surprising to see the movie being allowed to be screened in Indonesia. It would require heavy editing and a lot of scene-cuttings; and I am not sure how much would be left if they really do that, haha 😆 .

However, if you have the chance to watch this movie, I do recommend it;  mainly for the pure (adult) humor and comedy. The popular hashtag #foodporn fits this movie really well, actually. Nonetheless, there is another side of the movie that is more transcendental than just the humor; that is about belief. This movie, in my opinion, puts a new perspective on how we can perceive this sensitive stuff.

Anyway, if you are going to watch the movie, please remember: DO NOT BRING YOUR CHILDREN WITH YOU! (For the record, this is the fourth time I say this).

Even the banner says this movie is not for kids!
Even the banner says this movie is not for kids!


Satu film yang sudah kutunggu-tunggu musim panas ini adalah film animasi: Sausage Party.

Pertama-tama, walaupun film ini adalah film animasi, film ini memiliki rating “R”, yang mana artinya TIDAK COCOK UNTUK ANAK-ANAK. Aku ulangi lagi, film ini BUKAN UNTUK ANAK-ANAK.

Oke, jelas? Bagus! Mari kita lanjut…

Alasan ketertarikanku adalah premis uniknya. Ingat film Toy Story di tahun 1990an? Nah, ide dasar film ini serupa; namun bukannya mainan, yang digambarkan hidup adalah makanan (dan juga beberapa barang lainnya yang dijual di supermarket). Btw, manusia biasa tidak bisa melihat bahwa makanan ini hidup; seperti kenyataannya gitu deh. Dan kita jelas tahu dong apa yang kita lakukan terhadap makanan (jika ada yang nggak tahu, kita memakannya).

Berikut ini trailer ban-hijau (jadi cukup “aman”) dari film ini:

Iyaa, sehingga sudah jelas lah ya bahwa film ini BUKAN UNTUK KONSUMSI ANAK-ANAK (Ini kali ketiga aku menulis ini di posting ini. Jadi jika kalian membawa anak(-anak) kalian menonton film ini setelah membaca ini, artinya kalian tuna aksara). Di samping “kekerasan”, ada banyak sekali materi humor dewasa (yang “menjurus”) di sepanjang film.

Anyway, film ini berlatarkan cerita dimana para makanan percaya bahwa manusia adalah Tuhan, atau dewa/i, dimana ketika dibeli, mereka “terpilih” untuk masuk ke suatu tempat yang disebut “the great beyond” yang mana di sana semuanya itu indah, penuh kebahagiaan, sempurna, abadi, dsb. Karakter utama film ini adalah sebuah sosis, Frank, dan pacar roti hotdog-nya, Brenda; yang berada dalam sebuah petualangan di dalam supermarket sembari perlahan-lahan mempelajari kebenaran dari keberadaan mereka.

Nah, premisnya menarik banget kan? Ini membuatku penasaran banget akan ending dari film ini. Apakah akan berupa happy ending? Eh, tapi happy bagi siapa dong? Jika makanan mendapatkan apa yang mereka “mau”, yaitu manusia tidak lagi mengonsumsi mereka; artinya manusia akan mati karena kelaparan dong?

Dan oh wow, film ini benar-benar mengejutkanku, banget. Ending-nya nggak seperti ending-ending film-film lainnya. Sungguh twisted banget, twisted yang “wtf” banget deh, huahahaha 😆 . Aku suka sih karena ini sama sekali tidak aku sangka. Apalagi aku berada di sebuah bioskop dimana ada orang lain juga disana waktu itu, huahaha 😆 .


Filmnya mulai ditayangkan di Amerika di bulan Agustus 2016; walau di Belanda baru dimulai minggu ini dong. Makanya aku merasa sebal sekali aku harus menunggu lama sebelum bisa menontonnya, haha 😆 .

Sejujurnya, aku akan cukup terkejut andaikata filmnya ditayangkan di Indonesia. Ini karena aku yakin film ini akan melalui editing ekstra yang amat besar, alias banyak sekali sensor yang diperlukan; jadi aku nggak yakin seberapa banyak yang lulus sensor pada akhirnya, haha 😆 .

Namun, jika ada kesempatan untuk menonton ini, aku menyarankannya deh; terutama untuk komedi dan humor (dewasa)-nya sih. Hashtag populer #foodporn pas banget deh untuk menggambarkan film ini. Namun, sebenarnya ada sisi lain film ini juga yang lebih transenden daripada humornya loh; yaitu mengenai kepercayaan. Film ini, menurutku, memberikan pandangan yang menarik akan topik sensitif ini.

Anyway, jika kalian akan menonton film ini, tolong diingat yah: JANGAN AJAK ANAK-ANAK KALIAN! (Catatan: ini adalah kali keempat aku menyebutkan ini).

General Life · Movie Review · Zilko's Life

#1776 – Evening Jog and Star Trek


Evening Jog with Pokémon Go

Pokémon Go is amazing! One more good thing about this game is that it actually instills extra motivation to exercise! Haha 😆

Navigating my evening jog route with Pokémon Go
Navigating my evening jog route with Pokémon Go

Because of this game, lately I go out for some evening jog more often than normal. The route, of course, is set according to the PokéStops and the pokémon type I target to catch. For instance, when I wanted to catch more Staryus (which is one of my favorite pokémons btw), I set a route which for the most part went along the canals of Delft so the chance to encounter a wild water pokémon, including a Staryu, was larger. Moreover, it also made time pass by quickly as well. When I used the “Lucky Egg”, whose effect was to double the amount of points I got from everything for thirty minutes, I just walked around Delft for the entire 30 minutes without perceiving the 30 minutes part! Somehow 30 minutes was up, the “Lucky Egg” effect wore down, and I had exercised for 30 minutes! Haha 😆 .


Star Trek: Beyond

As a self-proclaimed Trekkies, of course I did not want to miss the newest Star Trek installment of Star Trek: Beyond. I did not want to miss it like I did with its previous movie, Star Trek: Into Darkness, which I watched a few months late in an Emirates’ IFE, haha 😆 . So on Sunday evening I decided to go to the cinema to watch it.

And how was it? Well, I think it overall was great!! 🙂 I enjoyed the action (and graphic), the storyline was very clear where everything was integrated with each other (for instance, the USS Franklin did not just “coincidentally” get stranded on the same planet with respect to the storyline), and, well, I just love Star Trek! Okay, this is admittedly a little bit biased, haha 😆 . However, I did feel like some parts of the movie were a little bit of recycles from some of the previous Star Trek movies. For instance, the USS Enterprise got badly damaged and went down to an alien planet? Well, Star Trek: Generations, anyone? (Yes, I do remember the scene from my childhood 😛 ).

Nevertheless, I did enjoy the movie a lot, which was great of course. Oh, and btw, it turned out that Joe Taslim was the actor who portrayed Manas in the movie! Lol, I did not notice that! (Well, obviously given that he had to be dressed as an evil alien form 😛 ). I grade this movie a 4 ourt of 5!! 🙂


Lari Malam dengan Pokémon Go

Pokémon Go itu keren banget deh! Satu hal positif darinya adalah game ini memberikan motivasi eksta untuk berolahraga! Haha 😆

Navigating my evening jog route with Pokémon Go
Menavigasi rute lari malamku dengan Pokémon Go

Kerena game ini, akhir-akhir ini aku lebih sering untuk berlari malam di luar daripada biasanya. Rutenya, tentu saja, kutentukan berdasarkan lokasi PokéStops dan tipe pokémon yang saat itu ingin kutangkap. Misalnya, ketika aku ingin menangkap Staryu (salah satu pokémon favoritku btw), aku membuat rute yang sebagian besar melalui kanalnya Delft sehingga peluang untuk bertemu pokemon tipe air liar, termasuk Staryu, juga lebih besar. Lebih jauh lagi, game ini juga membuat waktu berlalu lebih cepat. Ketika aku menggunakan “Lucky Egg”, yang mana efeknya adalah poin yang kudapatkan selama 30 menit dihitung dua kali lipat, aku berjalan kaki mengelilingi Delft selama 30 menit tanpa merasakan waktu 30 menitnya itu loh!! Entah bagaimana, 30 menit berlalu begitu saja, efek “Lucky Egg”-nya memudar, dan tiba-tiba saja aku sudah berolahraga selama setengah jam! Haha 😆 .

Iyaa, sip banget deh!!

Star Trek: Beyond

Sebagai orang yang mengaku-aku sebagai Trekkies, tentu aku tidak mau melewatkan film terbaru dari Star Trek dong ya, yaitu Star Trek: Beyond. Aku tidak ingin melewatkannya seperti aku melewatkan film sebelumnya, Star Trek: Into Darkness, yang mana baru kutonton beberapa bulan kemudian di IFEnya penerbangan Emirates, haha 😆 . Jadilah di hari Minggu malam aku memutuskan untuk ke bioskop untuk menontonnya.

Dan bagaimanakah filmnya? Aku sukaa!! 🙂 Aku menikmati action-nya (dan grafiknya juga), jalan ceritanya juga sangat jelas dimana semuanya berkaitan satu sama lain (misalnya, USS Franklin nggak cuma sekedar “kebetulan” terdampar di planet yang sama di jalan ceritanya), dan, yah, Star Trek kan memang kereen! Oke, memang sih yang terakhir ini agak bias ya pendapatnya, haha 😆 . Namun, aku merasa beberapa bagian dari filmnya adalah “daur ulang” dari beberapa film-film Star Trek yang lalu deh. Misalnya saja, USS Enterprise rusak parah dan jatuh terdampar di sebuah planet asing? Hmm, ingat Star Trek: Generations? (Iyaa, aku ingat adegan ini dari masa kecilku dulu 😛 ).

Toh walaupun begitu, aku sangat menikmati filmnya, yang mana penting dong ya ini. Oh, dan btw, ternyata Joe Taslim adalah aktor yang memerankan Manas di film ini loh! Huahaha, aku nggak nyadar sama sekali loh! (Ya jelas aja sih karena dia kan harus didandani sebagai alien yang jahat gitu). Film ini kuberi nilai 4 dari 5!! 🙂

Movie Review · Nostalgia

#1708 – Digimon Adventure Tri (2: Ketsui)


I was extremely excited last November when the newest series of Digimon Adventure, Digimon Adventure Tri, was released with the first movie: “Saikai” (“Reunion”). While I was (understandably) a little bit upset that I had to wait for four months before the second movie came out, suddenly as of today, those four months period is finally over!

Yesterday the second movie, “Ketsui” (“Determination”), was released!! And I have watched it!! :mrgreen:

Beware that I will write some spoilers next so if you do not want to get spoiled, please jump over to the next part after “Spoiler Ends Here“ 🙂 .



After discovering the new DigiDestined, Meiko, at the end of “Saikai”, the eight original DigiDestined tried to get along with her so they invited her to their trip to a hot spring. Meanwhile in the DigiWorld, Orgemon got infected and Leomon tried to stop him from doing bad things. The DigiDestined and their Digimon partners got along with each other really well and had a lot of fun in the hot spring.

Back in Tokyo, the Orgemon appeared in a park where Mimi and Meiko were in. Seeing this as an opportunity to show the world that not all Digimons were bad, Mimi asked Palmon to digivolve to Togemon to fight Orgemon. In the process, however, while attacking Orgemon with “Chiku-Chiku Ban-Ban“, a news helicopter flew by too close to Togemon and crashed. This was certainly bad for the image of Digimon as now in the news, both Orgemon and Togemon were portrayed as evil creatures trying to destroy the Earth. Koshiro blamed Mimi for this and called her self-centered.

Mimi's personality caused her some conflicts
Mimi’s personality caused her some conflicts

Leomon came to the real world to tell the DigiDestined about the infection (Leomon called it “mutation”) that was going on in the DigiWorld. At school, Mimi got confronted by her schoolmates for being too selfish, but Meiko tried her best to cheer her up. Joe, on the other hand, was shown to battle the conflict he had in his mind. He was questioning why did he have to be a DigiDestined and so now he had to fight again but actually he did not want to. This turned out to be the reason why Joe had been absent in most of Digimon Tri so far.

Joe's inner conflict
Joe’s inner conflict

At their school’s fair, the Digimon Emperor (Ken Ichijouji, recall the fist arc of Digimon Adventure 2) kidnapped Meicoomon. Leomon, Palmon, and Gomamon were able to enter the portal to the DigiWorld before the Digimon Emperor sealed it; but luckily the DigiDestined and the other digimons could see what happened through Koshiro’s laptop. It was implied that the Digimon Emperor was behind this Digimon infection case but the reason remained unknown.

The Digimon Emperor was accompanied with an infected Imperialdramon who attacked Leomon, Palmon, and Gomamon. Palmon digivolved to Togemon, but of course the three of them were no challenge to the Mega-level Digimon. Hikari was able to make Joe see the light ( 😛 ) and convinced him to fight along, especially that Gomamon was currently fighting for his life.

Joe joined the group, and Gomamon digivolved to Ikkakumon. Then, Ikkakumon digivolved to Zudomon. And it did not stop! 😮😮😮 Zudomon digivolved further to Vikemon!! Yes, the Mega-form of Gomamon which had never appeared in Digimon Adventure before! 😍

Joe explained that he had fought through his darkness and so he was able to release that “power” which digivolved Gomamon staight to Vikemon. Mimi, then, also realized she had fought through the image of being self-centered, then she got more “power” within her. Togemon digivolved to Lilimon. Again, it did not stop there. Lilimon, digivolved further to Rosemon!! Yes, the Mega-form of Palmon which also had never appeared in Digimon Adventure before! 😍😍😍

Vikemon and Rosemon fighting an infected Imperialdramon
Vikemon and Rosemon fighting an infected Imperialdramon

Vikemon, Rosemon, and Leomon were able to kill Imperialdramon. The Digimon Emperor returned Meicoomon, gave an evil smile, and vanished. Upon returning to the real world, something was wrong with Meicoomon. She looked afraid even to Meiko, and when she saw Leomon, she saw the image of the infected Leomon, became hostile, and killed Leomon!

Meicoomon then entered the portal again, and here, the second movie finished.


My Thought

Vikemon and Rosemon

First of all, my reaction for this second movie is: “YEEEESSSSSSSSSSSSSSSSSSS!!!!!!!


Here is the thing, unlike most people (perhaps), my favorite DigiDestined are actually Mimi and Joe. So that is why I enjoyed this second movie a lot because the focus was mostly on these two, just like episode 46-47 in Digimon Adventure 1.  Speaking of which, this movie also reminded me a lot of the mini story arc in those two episodes, where at that time Mimi and Joe met SaberLeomon (the ultimate form of Leomon) and Orgemon; and later on they had to fight MetalEtemon.

And so the coolest thing to me was, of course, the official appearance of Vikemon and Rosemon! I found it nice that the first two Digimon they chose to show the Mega-form (Agumon with his WarGreymon and Gabumon with his MetalGarurumon don’t count of course) were Gomamon and Palmon. If I had to guess, I would have thought they would go with Biyomon (Sora) and Tentomon (Koshiro) first before they went with Gomamon and Palmon, and the last two would be, as always, Gatomon (Hikari) and Patamon (Takeru).


Yes, with this movie, finally my 16 years of waiting to see my favorite digimon digivolving to its Mega form is officially over!! 😀

The Pace

Just like “Saikai”, “Ketsui” was split into four episodes. To be honest, the pace in “Ketsui” was very slow; even slower than in “Saikai” in my opinion. In the first three episodes, practically nothing was happening (there was almost no action (read: fighting scene) except for a brief battle between Togemon and the infected Orgemon). Even though, admittedly, the first three episodes contained more of the personal circumstances and emotional conflicts which some of the DigiDestined had, which seemed to be the main topic of Digimon Tri. Nonetheless, I felt like it still could have been done in a much faster fashion.

OMG Leomon
OMG Leomon

So if you are looking for the action, the battle, and the cool digivolution of Vikemon and Rosemon, don’t bother with the first three episodes. Just go immediately to the fourth! Haha 😆

The Conflict

I think I get it now, in my opinion the target market of Digimon Tri is exactly the same people as Digimon Adventure and Digimon Adventure 2 in 1999/2000. After 16 years, obviously we have matured. I feel like the characters face more realistic and mature conflicts than their adventure in Digimon Adventure or Adventure 2. This way, we feel even more emotionally connected to them. It is no longer only about the battles and cool digivolution, but also about the personal conflicts ones face as people living in a modern world.

I think this touch is actually really nice, in my opinion.


A third movie is coming and so, unsurprisingly, “Ketsui” also ends with a cliffhanger. The third movie, “Kokuhaku” (“Confession”), is going to be released this coming summer. Daaaammn!! Now I have to wait for another three to four months!! 😒😢


Aku sangat amat excited November lalu  ketika seri terbaru dari Digimon Adventure, Digimon Adventure Tri, dirilis dengan film pertamanya: “Saikai” (“Reuni”). Waktu itu (wajar sih) aku merasa sedikit sebal karena aku harus menunggu empat bulan sebelum film keduanya dirilis, tetapi sekarang tiba-tiba sudah empat bulan aja loh semenjak waktu itu!

Kemarin, film keduanya, “Ketsui” (“Kebulatan Tekad”) dirilis loh!! Dan aku tentunya sudah nontooon!! :mrgreen:

Berikut ini aku akan menulis sebuah spoiler jadi jika tidak mau membaca bocoran ceritanya, silakan lompat langsung ke bagian setelah “Spoiler Selesai“ 🙂 .


Jalan Cerita

Setelah bertemu dengan anak terpilih yang baru, Meiko, di akhir “Saikai”, kedelapan anak terpilih lainnya mencoba berkenalan lebih jauh dengannya dan mengajaknya untuk piknik bersama di sebuah pemandian air panas. Sementara itu di dunia Digimon, Orgemon terinfeksi dan Leomon berusaha untuk mencegahnya melakukan hal-hal yang buruk. Anak-anak terpilih dan para digimonnya sendiri akrab satu sama lain dan bersuka-ria di pemandian air panas itu.

Kembali di Tokyo, Orgemon muncul di sebuah taman dimana kebetulan disana ada Mimi dan Meiko. Melihat situasi ini sebagai sebuah kesempatan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa tidak semua Digimon itu jahat, Mimi meminta Palmon untuk berdigivolusi menjadi Togemon untuk bertarung melawan Orgemon. Sayangnya, ketika Togemon sedang menyerang Orgemon dengan jurus “Chiku-Chiku Ban-Ban“, sebuah helikopter reporter berita terbang terlalu dekat dengan Togemon sehingga tidak sengaja terkena jurus Togemon dan kemudian jatuh. Ini jelas image yang buruk bagi Digimon karena sekarang di berita digambarkan bahwa Orgemon dan Togemon adalah makhluk jahat yang ingin menghancurkan dunia. Koshiro menyalahkan Mimi akan kejadian ini dan menyebut bahwa Mimi egois.

Mimi's personality caused her some conflicts
Sifatnya Mimi menimbulkan konflik

Leomon kemudian datang ke dunia nyata dan menceritakan apa yang terjadi di dunia Digimon kepada anak-anak terpilih, terutama mengenai infeksi (Leomon menyebutnya sebagai “mutasi”) yang terjadi kepada beberapa digimon. Di sekolah, Mimi tidak disukai oleh teman-temannya yang menyebutnya egois, tetapi Meiko berusaha menenangkan dan menghiburnya. Joe, di sisi lain, ditampilkan sedang galau banget akan sebuah konflik di dalam pikirannya. Ia mempertanyakan mengapa ia harus menjadi salah satu anak terpilih dan harus bertarung lagi padahal ia sebenarnya tidak mau. Ini lah ternyata alasan mengapa Joe menghindar terus selama ini di Digimon Tri sejauh ini.

Joe's inner conflict
Konflik di dalam diri Joe

Di acara festival sekolah, Kaisar Digimon (Ken Ichijouji, ingat bagian pertama dari Digimon Adventure 2) menculik Meicoomon. Leomon, Palmon, dan Gomamon mengejarnya dan berhasil masuk ke dalam portal ke dunia Digimon sebelum Kaisar Digimon menutup portal itu; tetapi untungnya para anak-anak terpilih dan Digimon lainnya masih bisa memonitor apa yang terjadi melalui laptopnya Koshiro. Secara implisit digambarkan bahwa Kaisar Digimon adalah otak di balik infeksi Digimon ini tetapi motifnya masih belum diketahui.

Kaisar Digimon membawa sebuah Imperialdramon yang telah diinfeksi yang kemudian menyerang Leomon, Palmon, Dan Gomamon. Palmon berdigivolusi menjadi Togemon, tetapi jelas ketiganya sama sekali bukan tandingan Imperialdramon yang berlevel Mega. Hikari kemudian berhasil membuat Joe melihat titik terang ( 😛 ) dan meyakinkannya untuk mau bertarung lagi, terutama ketika Gomamon sendiri sedang mempertaruhkan nyawanya waktu itu.

Joe bergabung, dan Gomamon berdigivolusi menjadi Ikkakumon. Lalu, Ikkakumon berdigivolusi menjadi Zudomon. Dan masih belum berhenti loh! 😮😮😮 Zudomon berdigivolusi lebih jauh lagi menjadi Vikemon!! Iyaaa, level Meganya Gomamon yang sebelumnya sama sekali belum pernah muncul di Digimon Adventure! 😍

Joe menjelaskan bahwa ia merasa telah melewati sebuah “kegelapan” dan karena itu ia mendapatkan “kekuatan” yang membuat Gomamon berdigivolusi langsung menjadi Vikemon. Mimi kemudian menyadari ia telah melalui hal yang mirip dengan pandangan orang akan keegoisan dirinya, dan ia kemudian mendapatkan “kekuatan” juga. Togemon kemudian berdigivolusi menjadi Lilimon. Lagi, ini masih belum selesai. Lilimon berdigivolusi lebih jauh menjadi Rosemon!! Iyaaa, level Meganya Palmon yang juga belum pernah muncul di Digimon Adventure sebelumnya! 😍😍😍

Vikemon and Rosemon fighting an infected Imperialdramon
Vikemon dan Rosemon bertarung melawan Imperialdramon yang terinfeksi

Vikemon, Rosemon, dan Leomon berhasil membunuh Imperialdramon. Kaisar Digimon mengembalikan Meicoomon, kemudian tersenyum sadis, dan menghilang. Ketika kembali ke dunia nyata, ada yang salah dengan Meicoomon. Ia terlihat takut bahkan terhadap Meiko, dan ketika melihat Leomon, ia membayangkan Leomon yang terinfeksi, ia lalu menjadi liar dan Leomon ia bunuh!

Meicoomon lalu memasuki portal dunia Digimon dan disini, film kedua ini berakhir.



Vikemon dan Rosemon

Pertama-tama, reaksi utamaku akan film ini adalah: “YEEEESSSSSSSSSSSSSSSSSSS!!!!!!!


Begini ceritanya, tidak seperti kebanyakan orang lain (kayaknya sih, kan anti-mainstream ceritanya), karakter anak-anak terpilih favoritku adalah Mimi dan Joe, haha. Jadilah aku sungguh menikmati film kedua ini dimana fokusnya kebanyakan adalah di dua anak terpilih ini, sama seperti di episode 46-47 di Digimon Adventure 1. Ngomong-ngomong, aku jadi teringat bahwa film ini mirip deh dengan kedua episode itu, dimana waktu itu Mimi dan Joe bertemu dengan SaberLeomon (level Ultimate-nya Leomon) dan Orgemon; yang mana kemudian mereka harus bertarung melawan MetalEtemon.

Dan yang paling keren lagi bagiku adalah kemunculan resminya Vikemon dan Rosemon! Aku senang banget bahwa dua Digimon pertama yang dipilih untuk ditampilkan level Meganya (selain Agumon dengan WarGreymon dan Gabumon dengan MetalGarurumonnya tentunya ya maksudnya) adalah Gomamon dan Palmon! Jika sebelum ini aku harus menebak, aku akan menduga mereka bakalan menunjukkan Biyomon (Sora) dan Tentomon (Koshiro) dulu sebelum kemudian Gomamon dan Palmon, baru kemudian yang terakhir (seperti biasa), adalah Gatomon (Hikari) dan Patamon (Takeru).


Yup, melalui film ini, akhirnya penantian 16 tahunku (*nggak lebay*) untuk melihat digimon favoritku ber-digivolve ke level Meganya resmi berakhir sudah!! 😀

Laju Jalan Cerita

Seperti “Saikai”, “Ketsui” juga dibagi ke dalam empat episode. Sejujurnya, laju jalan cerita di “Ketsui” ini juga pelan banget; bahkan lebih pelan daripada di “Saikai” deh menurutku. Di tiga episode pertama, praktis nggak ada apa-apa yang terjadi (hampir nggak ada adegan action-nya (baca: adegan pertarungan) kecuali pertarungan singkat antara Orgemon dan Togemon). Walaupun begitu, memang sih tiga episode pertama ini merangkum kondisi personal dan konflik batin/emosional beberapa anak-anak terpilih, yang mana sepertinya memang merupakan fokus dari Digimon Tri ini. Toh walaupun begitu, menurutku ini masih bisa digambarkan dengan laju yang lebih cepat.

OMG Leomon
OMG Leomon

Jadi, jika kamu mencari adegan action, adegan pertarungan, atau digivolusinya Vikemon dan Rosemon, tiga episode pertamanya nggak usah ditonton deh. Langsung aja ke episode keempatnya! Haha 😆


Aku rasa aku mengerti sekarang, menurutku pangsa pasar Digimon Tri ini adalah orang-orang yang sama seperti di Digimon Adventure dan Digimon Adventure 2 di tahun 1999/2000. Setelah 16 tahun, jelas dong ya kita sudah menjadi dewasa. Aku merasa karakter-karakternya juga bertambah dewasa dan lebih realistis gitu dengan permasalahan yang lebih kompleks daripada di Digimon Adventure atau Adventure 2. Ini tidak lagi sekedar pertarungan dan digivolusi yang keren, tetapi juga konflik batin yang juga sering dihadapi orang di dunia modern.

Aku rasa ini keren juga sih.


Film ketiga masih akan dirilis dan, nggak mengagetkan, “Ketsui” juga berakhir dengan sebuah cliffhanger. FIlm ketiganya, “Kokuhaku” (“Pengakuan”), akan dirilis musim panas ini. Siaaaal!! Artinya aku harus menunggu tiga sampai empat bulan lagi dong!! 😒😢

Movie Review · Review

#1668 – Star Wars Episode VII


Probably the biggest hype this past weekend was the new episode of Star Wars: The Force Awakens. And of course I decided to be a part of it (by watching the movie in the cinema 😛 ).

But first, in the eternal battle between Star Wars and Star Trek, it may be a good idea to admit that actually I am on the Trekkies side, haha 😛 . But still, I enjoy Star Wars to some degree and as this post is obviously about Star Wars, I am not going to touch Star Trek even though without any doubt Star Trek is clearly superior.

Anyway, as you (may) know, this movie of Star Wars was the seventh episode. The sixth episode was actually released in 1983 while the first to third episodes in between 1999 and 2005. Btw, the sixth episode was the source of this famous gif:

I Am Your Father. Source:

which Luke Skywalker answered with:

Luke Skywalker “Noo”. Source:

In some way it was kinda unexpected as I really thought the series already ended after the six movies. However, in 2012 Disney bought the franchise and suddenly the situation became interesting. For two reasons: (1) it was Disney so people were like “What the hell?” and (2) a new episode would be made!

Okay, enough with this stuffs and let us just start talking about the actual movie.

I decided to watch the movie on Saturday evening. The options in Delft were either the normal or the 3D screening. I decided to go for the normal one.


Episode VII took place about thirty years since the event in Episode VI (Return of the Jedi). An “evil” group called The First Order arose from the remains of The Empire and was going to destroy the Republic. Meanwhile, Luke Skywalker went in exile after his apprentice and nephew, Ben Solo (the son of Han Solo and Princess Leia), went into the Dark Side (just like Luke’s father: Anakin Skywalker who became Darth Vader) and was named “Kylo Ren”.

Rey, a scavenger from the planet Jakku who turned out to have some contol of the Force, and Finn, an ex-Stormtrooper, got involved in the war and sided with the Resistance, led by Princess, now “General”, Leia along with Han Solo and Chewbacca.

So, were the Resistance able to defeat the First Order? And would Luke Skywalker ever return from his exile? Well, find it out yourself!


So what do I think of the movie?

Well, one word: it was AMAZING!! The actions were there, a lot actually, so there was no point during the movie where I felt bored. There was a good balanced combination of old and new characters. The graphic was very good. The acting was great (I could feel Kylo Ren’s sadness and fear, mainly through his teary eyes). And more importantly, the story was very well written. So to me the movie felt so fresh while at the same time still felt familiar.

If there was one thing to criticize though, the storyline felt really packed to me. There was so much and frequent different events seemingly occurring in relatively short period of time that it bothered me a little bit. Like, randomly, after escaping from Jakku, somehow Rey and Finn were found by Han Solo. It felt a little bit too coincidental, haha 😆 . But hey, that is a movie there! 😛

Anyway, speaking of Han Solo’s entrance in the movie, when he first appeared, I could not stop thinking about a Han Solo meme which went viral in the past two weeks within the Indonesian networks (as the meme is in Indonesian). This one, I mean:

Han Solo dan para Han Daitaulan
Han Solo dan para Han Daitaulan

Lol. Damn it social media!

The fact that the same actors/actresses reprising their characters in the movie also adds some sentimental value. Looking at how old Princess Leia has become really striked me that 30 years had passed since Episode VI! And also the very last scene of the movie.

So, to sum up this post: I truly enjoyed watching this movie and this movie is arguable the best movie I have watched this year. I grade it a 9.5 out of 10! :mrgreen: Yes, I totally recommend you to watch!

Okay, that is it for now. Cheers,

“Live long and prosper”

Oops, a small mistake, sorry. I mean:

“May the force be with you”



Satu hal yang happening banget akhir pekan kemarin adalah episode terbarunya Star Wars: The Force Awakens. Dan jelas dong aku menjadi bagiannya (dengan menonton filmnya di bioskop maksudnya 😛 ).

Tetapi pertama-tama dulu, di perang abadi antara Star Wars dan Star Trek, mungkin adalah ide yang baik untuk mengakui bahwa aku berada di sisinya Trekkies, haha 😛 . Ah, tetapi aku masih bisa menikmati Star Wars kok dan karena posting ini adalah tentang Star Wars, aku tidak akan menyinggung-nyinggung masalah Star Trek deh walaupun sangat amat jelas banget bahwa Star Trek jauh lebih unggul ya.

Anyway, seperti yang (mungkin) sudah pada tahu, film Star Wars ini adalah film ketujuh. Dimana film keenamnya dirilis di tahun 1983 sementara film pertama hingga ketiga di antara tahun 1999 dan 2005. Dari film keenam inilah adegan terkenal di dua gif ini diambil:

I Am Your Father. Source:

yang dijawab Luke Skywalker dengan:

Luke Skywalker “Noo”. Source:

Gitu amat ya si Luke? Haha 😆 .

Di satu sisi ini agak tidak disangka-sangka juga karena aku kira serinya sudah selesai dengan enam film itu. Namun, di tahun 2012 Disney membeli franchise-nya Star Wars dan situasinya mendadak menjadi menarik. Menarik karena dua alasan: (1) Disney gitu lho yang membelinya jadi reaksi orang-orang kebanyakan berupa: “What the hell?” dan (2) ada kemungkinan episode baru akan dibuat!

Oke, cukup dah dengan hal-hal standar semacam ini. Mari kita langsung mulai saja dengan ceritaku akan filmnya yah.

Aku memutuskan untuk menonton filmnya di hari Sabtu malam. Pilihannya di Delft waktu itu adalah penayangan biasa atau penayangan 3D. Aku memilih yang penayangan yang biasa saja sekalian untuk berhemat, haha.


Episode VII mengambil tempat tiga puluh tahun semenjak jalan cerita di Episode VI (Return of the Jedi). Sebuah grup “jahat” bernama The First Order bangkit dari sisa-sisa The Empire and berencana menghancurkan Republik. Sementara itu, Luke Skywalker mengasingkan diri entah dimana setelah murid dan keponakannya, Ben Solo (anaknya Han Solo dan Princess Leia), memilih untuk memihak Dark Side (seperti ayahnya Luke: Anakin Skywalker yang menjelma menjadi Darth Vader) dan kemudian dijuluki “Kylo Ren”.

Rey, seorang pemulung dari planet Jakku yang mana ternyata bisa mengontrol the Force, dan Finn, seorang mantan Stormtrooper, terlibat di dalam perang ini dan memihak the Resistance, yang dipimpin oleh Princess, sekarang bergelar “Jenderal” sih, Leia bersama dengan Han Solo dan Chewbacca.

Nah, apakah the Resistance berhasil mengalahkan The First Order? Dan apakah Luke Skywalker akan keluar dari pengasingan dirinya? Cari tahu sendiri jawabannya yah! his exile? Well, find it out yourself!


Nah, bagaimanakah pendapatku akan filmnya?

Satu kata: KEREN BANGETTT!! Eh, itu dua kata ya? Haha. Biarin deh. Action-nya ada banyak di sepanjang film, sehingga tidak ada waktu sama sekali untukku merasa bosan. Ada kombinasi yang seimbang juga antara karakter lama dan karakter baru. Grafiknya oke. Aktingnya juga oke (aku bisa ikut merasakan kesedihan dan kebimbangan-hatinya Kylo Ren, hanya dengan melalui matanya yang selalu berkaca-kaca). Dan lebih penting lagi, ceritanya ditulis dengan baik. Jadi untukku filmnya bisa tetap terasa segar sementara pada saat yang sama masih terasa familier.

Jika ada satu hal untuk dikritik sih, menurutku jalan ceritanya terasa amat padat. Ada banyak sekali kejadian-kejadian berbeda yang terjadi nampak dalam rentang waktu yang terlalu singkat dan ini sedikit menggangguku. Misalnya, secara random, setelah kabur dari planet Jakku, entah bagaimana Rey dan Finn tiba-tiba bisa bertemu dengan Han Solo. Rasanya kok terlalu kebetulan gitu ya? Haha 😆 . Ah, tapi namanya juga film sih ya 😛 .

Anyway, ngomongin kemunculannya Han Solo di dalam film, ketika ia muncul, aku tidak bisa untuk tidak teringat memenya Han Solo yang beberapa minggu belakangan ini tersebar viral di jaringan social media Indonesia nih. Yang ini lho maksudku:

Han Solo dan para Han Daitaulan
Han Solo dan para Han Daitaulan

Lol. Kurang ajar kau social media! Haha

O iya, keputusan untuk menggunakan aktor/aktris yang sama untuk peran-peran mereka di film ini juga menambah nilai sentimentalnya sendiri. Melihat bagaimana Princess Leia sudah tua sekarang membuatku menyadari sekali bahwa 30 tahun sudah berlalu semenjak Episode VI! Dan juga scene terakhirnya itu.

Jadi, untuk menutup posting ini: Aku benar-benar menikmati film ini dan film ini adalah film terbaik yang aku tonton sepanjang tahun ini. Aku beri nilai 9,5 dari skala 10! :mrgreen: Yup, aku benar-benar merekomendasikan film ini untuk ditonton! S

Oke, segini dulu saja ya untuk sekarang. Salam,

“Live long and prosper”

Eh, salah. Maksudnya:

“May the force be with you”