#2105 – Digimon Adventure Tri (6: Bokura no Mirai)

ENGLISH

Previous posts in the Digimon Adventure Tri series:
1. Digimon Adventure Tri (1: Saikai)
2. Digimon Adventure Tri (2: Ketsui)
3. Digimon Adventure Tri (3: Kokuhaku)
4. Digimon Adventure Tri (4: Sōshitsu)
5. Digimon Adventure Tri (5: Kyōsei)

***

Last weekend, the sixth and final film of Digimon Adventure Tri, Bokura no Mirai (Future), was released. As this was the finale, obviously I had been longing for it! This would also mark the end of the three years journey with this series (Even though the first film, Saikai, was just released in November 2015 (or 2.5 years ago), I learned about Tri in May 2015 and obviously that half a year time of my life counts, lol 😆 ) so of course I couldn’t wait to find out how the story would end! Anyway, so here we go:

*** SPOILERS ALERT ***

The film started in mellow mood as the DigiDestined believed Taichi was dead. They then decided to return to the Real World. There, the DigiDestined tried to fight the fusion of Ophanimon Falldown Mode and Raguelmon, which was revealed to be Ordinemon. But they were certainly no match to the very powerful Ordinemon. Because of this, Homeostasis decided to execute his last resort plan, which was to reboot the Real World.

Hackmon revealed Homeostasis’ final resort

Meanwhile, Taichi was revealed to still be alive (Not surprising at all, lol 😆 ) and woke up in a facility in the Digital World along with Nishijima. There they discovered cryostasis pods which kept many of the other DigiDestined, including those (annoying) ones from season 2 (Daisuke, Yolei, Iori, and Ken). Dark Gennai then suddenly appear, explained that these other DigiDestined were captured as they found out about Yggdrasill’s plan. He then initiated the facility to self-destruct, and said that there was only one free pod left for safety. Nishijima tricked Taichi to use the pod, and he died from his wounds before the facility exploded.

Hikari then got a vision of prophecy, which led Koshiro to understand that Meicoomon stored the backup data of all Digimons prior to the original reboot (Part III: Kokuhaku) which explained why it still kept its memory even after the reboot (Part IV: Sōshitsu) and was so powerful now. With the help of Meiko, they were able to “unlock” the memories, hence freeing Tailmon and restoring the memories of all Digimons. Ordinemon appeared to weaken significantly and Homeostasis aborted the Real World reboot.

However, Ordinemon appeared to still keep its form and Yggdrasill used the now “free” space in it for more virus. Taichi was then back with all the other DigiDestined, and everyone decided to fight, despite reluctantly. Tailmon Mega-Digivolved, correctly this time, to Holydramon. With Meiko’s digivice, the six Mega-level digimons fused into Omnimon, creating the Omnimon Merciful Mode, and killed Ordinemon, and hence also Meicoomon, in the process. Yggdrasill was, then, defeated for now, and Homeostasis’ will of harmony was achieved.

Angewomon Mega-digivolved to Holydramon

The movie ended three months later, where Meiko had moved back to Tottori and the other eight Digi-Destined sent her a Christmas present. During the awkward silence moment, Agumon jumped in and said no matter what happened, they were still friends.

***

I have to say I was very happy with how Digimon Adventure Tri ended! I mean, the plot and execution could have been better indeed, but the idea and story was great! It didn’t exactly have the happy ending (as Meicoomon and Nishijima were dead) but this precisely, to me, showed how the show has “matured”, along with its fans who were just mostly kids (including myself) during the first airing of Digimon Adventure in 1999 or early 2000s.

How the DigiDestined have become more mature now

Most of the mysteries introduced in the earlier films were also explained, which was such a responsible thing to do, I guess, after keeping fans in suspense for 2.5 years, lol 😆 . I wrote “most” because not the fate of everyone was known. For instance, we don’t know what happened to Himekawa after Tapirmon didn’t recognize her and so broke her heart. But this was great! I loved it that some mysteries remained “untouched”, especially the “less important” mysteries like this one, haha 😆 .

I also liked the fact that what happened to the other DigiDestined introduced in season 2 was explained. While I am not a fans of season 2 and the DigiDestined (I found them annoying as hell), it was good that they were given a fitting amount of acknowledgement in this movie (lol 😆 ).

And I especially like the light-hearted ending as well, where Agumon said to Meiko they would still be friends.

***

Yeah, so overall, I have been satisfied with Digimon Adventure Tri! 😀

Digimon Adventure Tri: THE END

BAHASA INDONESIA

Posting-posting sebelumnya dalam seri Digimon Adventure Tri:
1. Digimon Adventure Tri (1: Saikai)
2. Digimon Adventure Tri (2: Ketsui)
3. Digimon Adventure Tri (3: Kokuhaku)
4. Digimon Adventure Tri (4: Sōshitsu)
5. Digimon Adventure Tri (5: Kyōsei)

***

Akhir pekan yang lalu, film keenam dan terakhir dari Digimon Adventure Tri, Bokura no Mirai (Masa Depan), ditayangkan. Yang namanya film terakhir, jelas sudah aku tunggu-tunggu dong ya! Ini akan menandai akhir dari perjalananku selama tiga tahun dengan seri ini (Walaupun film pertamanya, Saikai, baru dirilis November 2015 (2,5 tahun yang lalu), kan aku sudah tahu akan Tri ini semenjak Mei 2015 ya dan jelas lah hidupku selama setengah tahun ini juga mesti dihitung! Haha 😆 ). Jadilah aku penasaran bagaimana ceritanya akan berakhir. Mari kita mulai:

*** SPOILERS ALERT ***

Film dimulai dengan mood yang mellow dimana Anak Terpilih mengira Taichi sudah meninggal. Mereka memutuskan untuk kembali ke Dunia Nyata. Di sana, mereka mencoba melawan digimon fusion dari Ophanimon Falldown Mode dan Raguelmon, yang diperkenalkan bernama Ordinemon. Sayangnya mereka sama sekali bukan tandingan Ordinemon yang kuat banget. Karenanya, Homesotasis mmutuskan untuk menjalankan rencana terakhirnya, yaitu me-reboot Dunia Nyata.

Hackmon memberi-tahu rencana terakhirnya Homeostasis

Sementara itu, diungkapkan bahwa Taichi masih hidup (Ya jelas lah, haha 😆 ) dimana ia bangun di sebuah laboratorium di Dunia Digital bersama Nishijima. Di sana, mereka menemukan tabung-tabung cryostasis yang mana ternyata menyimpan anak-anak terpilih lainnya, termasuk yang dari season 2 (Daisuke, Yolei, Iori, dan Ken) yang sok dan menyebalkan itu, haha. Dark Gennai kemudian muncul, menjelaskan bahwa anak-anak terpilih lainnya ini ia tangkap karena mereka menyadari akan rencana dari Yggdrasill. Ia kemudian mengeset laboratoriumnya untuk self destruct, dan berkata bahwa cuma ada satu tabung tersisa agar selamat. Nishijima menipu Taichi agar Taichi masuk ke dalam tabungnya, dan Nishijima meninggal karena lukanya yang parah sebelum laboratoriumnya meledak.

Hikari lalu mendapatkan wangsit dan ramalan, yang membuat Koshiro menyadari bahwa di dalam Meicoomon tersimpan data back-up dari semua Digimon sebelum reboot yang pertama (bagian III: Kokuhaku) yang menjelaskan mengapa Meicoomon masih memiliki ingatannya bahkan setelah reboot (bagian IV: Sōshitsu) dan kini sangat amat kuat. Dengan bantuan Meiko, mereka berhasil “membuka” memori itu, yang mana membebaskan Tailmon dan mengembalikan memori-memori dari semua Digimon. Ordinemon kemudian nampak melemah dan Homeostasis membatalkan reboot Dunia Nyatanya.

Namun, Meicoomon masih berwujud Ordinemon dan Yggdrasill memanfaatkan ruang “kosong” yang dulunya berisi memori itu untuk diisi dengan virus. Taichi kemudian kembali bergabung bersama yang lainnya, dan semuanya memutuskan untuk bertarung, walaupun sebenarnya mereka enggan. Tailmon ber-Mega-digivolve, kali ini benar, menjadi Holydramon. Dengan digivice-nya Meiko, keenam digimon level Mega bergabung dengan Omnimon, yang berubah menjadi Omnimon Merciful Mode, yang mampu menghancurkan Ordinemon, dan juga ikut membunuh Meicoomon. Yggdrasill terkalahkan, untuk saat ini, dan keinginan Homeostasis untuk menjaga harmoni tercapai.

Angewomon ber-Mega-digivolve menjadi Holydramon

Filmnya berakhir tiga bulan kemudian, dimana Meiko sudah pindah kembali ke Tottori dan kedelapan anak terpilih mengiriminya hadiah Natal. Di suatu momen awkward dimana tidak ada yang bisa berkata apa-apa, Agumon menimpali dan berkata bahwa apa pun yang terjadi, mereka tetap lah teman.

***

Harus aku bilang aku suka dengan bagaimana Digimon Adventure Tri ini berakhir! Maksudku, memang sih plot dan eksekusinya bisa lebih baik lagi, tapi ide dan jalan ceritanya bagus! Filmnya tidak berakhir benar-benar dengan happy ending (karena Meicoomon dan Nishijima mati) tetapi justru karena ini lah, untukku, kita ditunjukkan bahwa acaranya juga sudah menjadi “dewasa”, persis sama seperti anak-anak (termasuk aku) yang menonton penayangan Digimon Adventure di tahun 1999 atau awal 2000.

Bagaimana anak terpilihnya sudah lebih dewasa sekarang.

Kebanyakan misteri yang diperkenalkan di film-film yang sebelumnya juga diungkapkan di film ini, yang mana adalah hal yang bertanggung-jawab banget kan ya, haha, setelah membuat fans bertanya-tanya selama 2,5 tahun kan 😆 . Aku tulis “kebanyakan” karena tidak semuanya diceritakan. Misalnya, kita masih tidak tahu apa yang terjadi dengan Himekawa setelah Tapirmon tidak mengenalinya sehingga hatinya hancur. Tetapi ini justru keren sih! Aku suka bahwa beberapa misterinya tetap dibuat misteri, terutama yang relatif tidak penting seperti Himekawa ini kan ya, haha 😆 .

Aku juga suka bahwa apa yang terjadi dengan anak-anak terpilih lainnya yang diperkenalkan di musim 2 dijelaskan. Walaupun aku bukanlah fans musim 2 dan tidak suka dengan anak-anaknya (bagiku mereka menyebalkan banget), bagus juga dimana mereka diberikan acknowledgement dengan porsi yang pas lah di film ini (haha 😆 ).

Dan terutama aku suka ending-nya yang ringan dan mengena di hati, dimana Agumon berkata kepada Meiko bahwa mereka masih lah teman.

***

Jadi, ya, secara keseluruhan aku puas dengan Digimon Adventure Tri!! 😀

Digimon Adventure Tri: SELESAI

Advertisements

#2021 – Discovery, First Chapter

ENGLISH

So the first chapter (i.e. the first nine episodes) of the first season (that is scheduled to have fifteen episodes) of the new Star Trek: Discovery has been concluded in mid-November. Of course I was really excited when the series was premiered earlier in the Fall; but now I have watched enough episodes to formulate my own opinion of the series. And here I would like to share that…

First of all, I have been enjoying the show. I find it exciting and the general story arc to be well written. Moreover, to me the characters are also very, very interesting as they focus not only on the senior officers (like typical other Star Trek series) but also on the “grass root” crewman level. The captain appears to be, at least a little bit, a “troubled” person, a trait which of course makes a show more exciting, and there seems to be a “silver bullet” in the Klingon side, the “antagonist” side of the series. Overall, I feel like the series is very rich in terms of the characters, that in my opinion is one of its strongest point.

There are a few details which I don’t like, however, mainly the spore drive technology which could make instantaneous travel to anywhere in the universe in no time (I find it “absurd” and it does not feel “right” especially considering that the series’ timeline to be before The Original Series let alone The Next Generation and Voyager). I also don’t like the design of the USS Discovery; but I have been feeling this way since the beginning anyway, haha 😆 .

Having said that, there is one big factor which disappoints me. To me this series has lost a big part of a Star Trek show: the social/interpersonal/intrapersonal conflict aspect present in many episodes of the other series. You see, unfortunately the excitement of the story arc comes with the price of a lot of focus on the “action” side of thing (thus the “excitement”). The side effect of this is that, to me, despite watching a show involving Star Trek characters and setting, it does not feel like watching a Star Trek series.

One of the many reasons I like the Star Trek series is that many of their episodes portray certain interesting social interactions/conflicts which I can relate to my life (be it personal or professional), even to the point of challenging a status quo and presenting strong ethical conflict. These episodes make me think about the dilemma in those situations and in some of those about what would I do if I were in those situations; which I find enjoyable. Of course not all episodes are like this, where there are times here and there where action-oriented episodes are produced as well to keep the excitement level up. I understand that focusing too much on the social aspect could lead to a “boring” show which could translate to lower rating (which in my opinion is a reason why Enterprise in the early 2000s “failed”); but stripping this part off the show also feels like stripping off an identity of the series. Well, at least to me…

To be fair, it is not like the writers completely take the social conflict out of the script. There are still some, for instance in the episode where Captain Lorca was captured by the Klingon and Discovery was attempting to save him. The only way for the crew to do so was to torture an animal. However, these are still too few to my liking and even those conflicts feel, well, “juvenile”.

***

Ingeniously, the first chapter ended with a cliff hanger, where the last “spore jump” they attempted went incomplete, stranding USS Discovery nobody knew where, and Lt. Paul Stamets, whom had to steer the ship physically in each jump, reached the limit of the side effect and broke down. I felt like this was an opportunity the writers made to “kill off” the spore drive idea (As we knew it would not work eventually anyway, otherwise the entire Star Trek: Voyager became irrelevant and stupid); and to start “fresh” the next chapter.

***

Nevertheless, I guess the most important thing is that I still enjoy the show after all. It is just that I feel like the Star Trek identity has been lost a little bit. So it is interesting to see how the second chapter will pan out, and even the second season which apparently has been ordered!!

Do you watch the series? And if so, what do you think about it?

BAHASA INDONESIA

Jadi bab pertama (baca: sembilan episode pertama) dari musim pertama (yang dijadwalkan akan terdiri atas lima belas episode) seri baru Star Trek: Discovery sudah selesai ditayangkan pertengahan November ini. Tentu saja aku excited banget ketika acaranya mulai ditayangkan awal musim gugur ini; tetapi sekarang aku sudah menonton cukup episode untuk membentuk opiniku akan seri ini. Dan di posting ini aku akan membagikannya…

Pertama-tama, sejauh ini aku menikmati acaranya. Aku merasa acaranya seru banget dan jalan ceritanya juga ditulis dengan baik. Lebih jauh lagi, untukku karakter-karakternya juga amat menarik karena mereka tidak hanya fokus terhadap pejabat senior (seperti di seri-seri Star Trek lainnya) tetapi juga fokus kepada kru berpangkat “rendahan”. Kaptennya sendiri juga nampak, sedikitnya, seperti seseorang yang “bermasalah” yang mana tentu membuat jalan ceritanya semakin menarik, dan sepertinya juga ada tokoh “peluru perak” di sisi Klingon, sisi “antagonis” dari seri ini. Jadi secara umum aku merasa bahwa seri kali ini sangat amat “kaya” dari segi karakter, yang mana merupakan satu poin kelebihan dari seri kali ini.

Ada beberapa detail yang tidak aku sukai, tapinya, yang mana terutama adalah teknologi berbasis spora jamur yang memunginkan mereka bisa bepergian secara instan ke seluruh penjuru alam semesta (Aku merasa konsepnya “konyol” dan membuatku amat tidak “sreg” terutama mempertimbangkan waktu jalan cerita seri ini yang adalah sebelum masanya The Original Series apalagi The Next Generation dan Voyager). Aku juga tidak suka disain kapal USS Discovery-nya; yang mana sudah aku sebutkan semenjak dulu sih, haha 😆 . I

Namun, ada satu faktor besar lainnya yang mengecewakanku. Bagiku seri ini kehilangan satu identitas dari suatu seri Star Trek: konflik sosial/interpersonal/intrapersonal yang diangkat di banyak episode seri-seri Star Trek lainnya. Nah kan, sayangnya keseruan dari jalan ceritanya harus dibayar dengan banyak fokus di sisi “action” (yang mana mengakibatkan keseruan terbentuk). Efek samping dari ini adalah, bagiku, walaupun aku menonton suatu acara yang melibatkan karakter-karakter dan setting-nya Star Trek, entah mengapa aku merasa tidak seperti menonton suatu seri Star Trek.

Satu dari banyak alasan aku menyukai seri Star Trek adalah banyak episodenya yang mengangkat tema interaksi/konflik sosial/batin yang bisa aku hubungkan dengan kehidupanku (baik itu pribadi ataupun profesional), bahkan terkadang juga mempertanyakan status quo dan mengangkat tema konflik etika yang kental. Episode-episode ini membuatku berpikir akan dilema di situasi-situasi tersebut dan di beberapa darinya membuatku berpikir apakah yang akan kulakukan andaikata aku berada di situasi itu; sesuatu yang sangat aku nikmati. Tentu saja tidak semua episodenya seperti ini ya, dimana ada beberapa episode yang fokus kepada sisi action-nya supaya tingkat keseruannya masih terjaga. Aku paham sih kebanyakan fokus ke sisi sosialnya akan membuat acaranya menjadi “membosankan” yang ujung-ujungnya menyebabkan rating yang rendah (Menurutku ini lah alasan Enterprise di awal tahun 2000an “gagal”); tetapi di sisi lain sama sekali menghilangkan aspek ini dari acaranya juga terasa seperti menghilangkan satu identitas dari acaranya. Yah, setidaknya bagiku sih… .

Sebenarnya bukannya juga penulis sama sekali menghilangkan aspek konflik sosial dari jalan ceritanya sih. Masih ada kok, misalnya di episode dimana Kapten Lorca menjadi tawanan Klingon dan Discovery berusaha menyelamatkannya. Satu-satunya cara bagi krunya untuk bisa melaksanakan tugas itu adalah dengan menyiksa seekor binatang. Namun, bagiku konflik-konflik ini masih terlalu sedikit dan konflik yang ada pun terasa, hmm, “kekanakan”.

***

Bagusnya, bab pertama ini berakhir dengan cliff hanger, dimana “loncatan spora” terakhir yang mereka lakukan tidak berlangsung secara penuh, sehingga USS Discovery terdampat entah dimana, dan Lt. Paul Stamets, yang harus secara fisik menyetir pesawatnya di setiap loncatan, mencapai batas dari efek samping yang harus ia derita darinya dan ambruk. Aku merasa ini adalah kesempatan yang memang dibuat oleh penulisnya untuk “membuang” ide mesin spora ini (Karena toh kita tahu mesin ini pasti pada akhirnya tidak akan bekerja, karena jika tidak keseluruhan cerita Star Trek: Voyager menjadi tidak relevan dan bodoh); dan untuk memulai bab selanjutnya dengan “segar”.

***

Walaupun begitu, aku rasa yang paling penting sih toh aku masih menikmati acaranya ya. Hanya saja memang rasanya satu identitasnya Star Trek sedikit hilang. Jadi menarik juga melihat bagaimana bab duanya akan berlangsung, dan bahkan musim kedua yang mana ternyata sudah dipesan!!

Apakah Kamu juga menonton acara ini? Jika iya, apakah pendapatmu sejauh ini?

#1995 – Digimon Adventure Tri (5: Kyōsei)

ENGLISH

Previous posts in the Digimon Adventure Tri series:
1. Digimon Adventure Tri (1: Saikai)
2. Digimon Adventure Tri (2: Ketsui)
3. Digimon Adventure Tri (3: Kokuhaku)
4. Digimon Adventure Tri (4: Sōshitsu)

***

Last weekend, the fifth installment of Digimon Adventure Tri, Kyōsei, was released, which I would never miss as a big fan of Digimon Adventure (read: season 1 only)! 😀 This is the penultimate one, btw, as Digimon Tri is planned to be a six-part series. Anyway, here we go…

*** Spoiler Alert!!! ***

Being the penultimate series, a lot of the mysteries were answered in Kyōsei (Coexistence); and I started to understand what was going on.

It turned out that Meicoomon was born from the data remnant of Apocalymon, the final (and most evil) villain of Digimon Adventure 1. Naturally this made Meicoomon “dangerous” and “fragile” (sort of say). However, it appeared that the presence of a Digi-destined partner (Meiko) “tamed” and “controlled” this potentially dangerous side of Meicoomon.

Revealing Meicoomon’s identity

However, a mysterious entity named Yggdrasill appeared to want to take advantage of this where Meicoomon was “provoked” so “infection” (from Apocalymon data) was emitted of her body. Obviously this created chaos. Homeostatis, another entity being which was after the harmony of the Digital World, initially asked the Digi-destined to try to calm Meicoomon (in Part 2: Ketsui). This failed. So he rebooted the Digital World (in Part 3: Kokuhaku), but this also failed (Part 4: Sōshitsu). So Homeostasis resorted to his last option, that was to “kill” Meicoomon by sending a Mega-level digimon Jesmon to do the job.

This shocked the other eight Digi-destined as they didn’t believe killing Meicoomon was the solution to this. But halfway during the fight, they got confused themselves as some of them started to see Homeostasis’ point. During this moment of confusion, Taichi and Nishijima disappeared into a fissure on the ground. Thinking her older brother just died, Hikari got very sad and angry causing her Digimon partner, Nyaromon (Gatomon’s in-training form), to dark mega-digivolved to Ophanimon Falldown Mode. But things did not end here because Ophanimon Falldown Mode took Raguelmon (Meicoomon’s Mega form) and they fused into an unknown (but evil-looking) Digimon.

The fusion of Ophanimon Falldown Mode and Raguelmon

***

All in all, I am very happy with Kyōsei because finally, I start to understand what is going on! Having said that, I believe the writers took too long for some of these revelations. I mean now, it has literally been almost two years (!) since the release of the first series, Saikai. Meanwhile, the pace in Part 2 and Part 3 were excruciatingly slow that these films IMO would have benefited from more “injections” of “revelations” instead of keeping everything as mysteries.

Another aspect I like from this movie is that the writers were still able to put some light humor in the beginning. They don’t add anything to the story, actually; but this is one characteristic of a Digimon series! 🙂

A typical Digimon Adventure humor

However, my favorite part was actually Nyaromon’s dark mega-digivolve to Ophanimon Falldown Mode!! This was very, very interesting and reminded me a lot of Greymon’s dark digivolve to Skullgreymon in episode 16 of Digimon Adventure 1! At the time, Taichi was forcing Agumon to digivolve to its Ultimate form by torturing him. Consequently, instead of digivolving to Metalgreymon, Agumon digivolved to Skullgreymon. This time, it was Kari’s negative emotion (sadness, anger) which triggered this.

This, however, became a cliff hanger (and a good one, I must say) and we have to wait until the final film, Boku-ra no Mirai (Our Future), to find out what is going to happen. But that is scheduled to be released in Summer 2018 😣. Still far in the future! 😣

Anyway, all in all, I really enjoyed this fifth series of Digimon Tri!!

BAHASA INDONESIA

Posting-posting sebelumnya dari seri Digimon Adventure Tri:
1. Digimon Adventure Tri (1: Saikai)
2. Digimon Adventure Tri (2: Ketsui)
3. Digimon Adventure Tri (3: Kokuhaku)
4. Digimon Adventure Tri (4: Sōshitsu)

***

Akhir pekan yang lalu, film kelima dari Digimon Adventure Tri, Kyōsei (Koeksistensi), dirilis, yang mana jelas dong ya nggak akan mungkin aku lewatkan sebagai fansnya Digimon Adventure (baca: musim 1 aja sih)! 😀 Dan film ini adalah film kedua yang terakhir, btw, karena Digimon Tri memang direncanakan terbagi dalam enam film saja. Anyway, mari kita mulai ceritanya…

*** Spoiler Alert!!! ***

Namanya film kedua terakhir, banyak misteri yang diungkapkan di Kyōsei ini; sehingga aku mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi di jalan ceritanya.

Ternyata Meicoomon lahir dari sisa-sisa data Apocalymon, musuh jahat terakhir (dan paling jahat) dari Digimon Adventure 1. Jelas ini membuat Meicoomon “berbahaya” dan “rentan kumat” (kurang lebih begitu). Namun, untungnya keberadaan anak terpilih pasangannya (Meiko) “menjinakkan” dan “mengontrol” sisi berbahaya dari Meicoomon ini.

Mengungkapkan identitas Meicoomon.

Namun, suatu sosok misterius yang bernama Yggdrasill sepertinya ingin memanfaatkan “kejahatan gen” Meicoomon ini dimana Meicoomon “diprovokasi” sehingga “infeksi-infeksi” (dari data Apocalymon) keluar dari tubuhnya. Tentu saja ini menimbulkan kekacauan. Homeostatis, sosok misterius lainnya yang berkepentingan menjaga ketentraman dan keharmonisan Dunia Digital, awalnya meminta anak-anak terpilih untuk mencoba mengkalemkan Meicoomon (Film 2: Ketsui). Ternyata upaya ini gagal. Jadilah Homeostatis me-reboot Dunia Digital (Film 3: Kokuhaku), tetapi ini juga gagal lagi (Bagian 4: Sōshitsu). Jadilah Homeostatis tidak memiliki pilihan lain selain “menamatkan riwayat” Meicoomon dengan mengirimkan Jesmon, seekor digimon berlevel Mega, untuk melakukannya.

Ini tentu amat mengejutkan bagi delapan anak terpilih karena mereka tidak percaya bahwa membunuh Meicoomon adalah solusi untuk ini semua. Namun, di tengah-tengah pertarungan, mereka menjadi bingung sendiri karena beberapa mulai memahami argumen Homeostasis. Di waktu ini, Taichi dan Nishijima jatuh menghilang ke dalam retakan di tanah. Mengira kakaknya meninggal, Hikari merasa sedih dan marah sehingga pasangan digimonnya, Nyaromon (bentuk in-training-nya Tailmon) ber-dark mega-digivolve menjadi Ophanimon Falldown Mode. Tetapi semuanya belum berakhir karena Ophanimon Falldown Mode mengambil Raguelmon (bentuk Meganya Meicoomon) dan mereka bersatu menjadi Digimon yang identitasnya tidak diketahui (tetapi nampak jahat).

Gabungan dari Ophanimon Falldown Mode dan Raguelmon

***

Secara umum, aku suka dengan Kyōsei karena akhirnya, aku mulai mengerti apa yang terjadi! Walaupun begitu, aku merasa penulis ceritanya memakan waktu terlalu lama untuk beberapa pengungkapan misteri ini. Maksudku, sekarang ini kan sudah hampir dua tahun (!) yah semenjak film pertamanya, Saikai, dirilis. Sementara itu, laju cerita di film kedua dan ketiga terasa sangat amat lambat dimana rasanya dua film ini akan diuntungkan dengan beberapa “suntikan” “pengungkapan” ceritanya daripada pemaksaan agar ceritanya nampak lebih misterius.

Satu aspek lain yang kusuka dari film ini adalah penulisnya masih sempat-sempatnya memasukkan humor ringan di bagian awal. Bagian ini sama sekali nggak penting sih untuk ceritanya; ya tetapi kan ini lah salah satu karakteristik dari seri Digimon! 🙂

Masih sempat-sempatnya ada humor segala.

Namun, bagian favoritku adalah ketika Nyaromon ber-dark mega-digivolve menjadi Ophanimon Falldown Mode!! Ini sangat, sangat menarik dan mengingatkanku ketika Greymon ber-dark digivolve menjadi Skullgreymon di episode 16 Digimon Adventure 1! Waktu itu, Taichi memaksa Agumon agar bisa berubah ke wujud Ultimate-nya dengan cara menyiksanya. Akibatnya, bukannya ber-digivolve menjadi Metalgreymon, Agumon malah ber-digivolve menjadi Skullgreymon. Kali ini, emosi negatifnya Hikari (rasa sedih, rasa marah) memacu ini semua.

Ini, tentu saja, menjadi materi cliff hanger (yang bagus, harus diakui kan) dan kita harus menunggu sampai film terakhirnya, Boku-ra no Mirai (Masa Depan Kita), untuk mengetahui apa yang akan terjadi. Tetapi film keenam ini baru dijadwalkan dirilis di Musim Panas 2018 nih 😣.Kok masih lama banget ya! 😣

Anyway, jadi secara keseluruhan, aku menikmati film kelima dari Digimon Tri ini!!

#1893 – Digimon Adventure Tri (4: Sōshitsu)

ENGLISH

Previous posts in the Digimon Adventure Tri series:
1. Digimon Adventure Tri (1: Saikai)
2. Digimon Adventure Tri (2: Ketsui)
3. Digimon Adventure Tri (3: Kokuhaku)

***

The fourth installment (of six) of Digimon Adventure Tri, Sōshitsu, was released at the end of February. And as a big fan of Digimon Adventure (read: season 1 only), naturally I was not going to miss it!

Well, except that I just watched it this Sunday because for whatever reason I forgot that it was released in February (instead, I thought it would be in Match!) 🙈.

But the most important matter is that now I have watched it! Haha 😆 . Anyway, I was quite excited when seeing the official poster because I saw my favorite Dark Masters there, Machinedramon! Yeay!! :mrgreen: The Dark Masters were my favorite villains in Digimon Adventure 1 (and so the Dark Masters arc was also my favorite of the entire series). So obviously I was curious what role would Machinedramon do here. Or whether or not this Machinedramon was related to the Machinedramon in Digimon Adventure 1 which Wargreymon should have killed (Even though indeed digimons reincarnate).

*** Spoiler Alert!!! ***

Continuning from where we left off in Kokuhaku, the movie started with how the eight digi-destined attempted to reconnect with their partners, whom had lost their memory due to the Reboot. It was clear from the beginning that Sora and Biyomon would be the central characters in this movie as they had difficulties in reconnecting. It was understandable, though; as for Biyomon, she did not know Sora at all so it was not surprising that she created some distance.

It was also revealed that Himekawa and Nishijima were part of the original DigiDestined (consisted of five kids, shown as sillhouettes in the last episode of Digimon Adventure season 1). They were battling the Dark Masters at the time and had to sacrifice Megadramon, Himekawa’s partner, to defeat them. Because of this, Megadramon could not reincarnate into a new Digi-Egg. Years later, Himekawa was obsessed with reviving her partner (whose Rookie form was Tapirmon) and had a research on “rebooting” the Digital World. This way, there was a possibility that Tapirmon could be born again. Meanwhile, Nishijima was also warned of the involvement of someone named “Yggdrasil” who seemed to be the brain behind all of this mess.

Dark Gennai and Machinedramon

In the Digital World, the DigiDestined were attacked by Dark Gennai (Gennai that appeared to have been “infected” and now worked for Yggdrasil), who was controlling two members of the Dark Masters: Machinedramon and MetalSeadramon. Agumon and Gabumon were able to evolve to Wargreymon and MetalGarurumon and defeated MetalSeadramon. Meanwhile, Sora and Biyomon had reconnected and Biyomon mega-digivolved to Phoenixmon. Patamon also mega-digivolved to Seraphimon because it wanted to fight ( 😆 ), and so Tentomon to HerculesKabuterimon. The three defeated Machinedramon.

Phoenixmon vs Machinedramon

Meanwhile, Dark Gennai was able to get to Meiko and provoked Meicoomon to get angry to release the evil in it.

*** Spoiler Ends Here ***

I have to say this was my most favorite Tri movies so far! The story line became more clear. The motives and background of Himekawa and Nishijima were told. The mystery surrounding the villain appeared to have been (slowly) revealed as well, but not completely. And the actions were good!

Here is my favorite scene throughout, when Dark Gennai was attacking Joe and Gomamon attacked Dark Gennai with its “Fish Powers”:

Lol 😆

Okay, there were a few parts which I deemed unnecessary, though. For instance the splitting of the eight DigiDestined but literally nothing was happening during the split and an episode later they all reconcilled.

Another aspect I loved about the movie was the ending! FINALLY, they were using Ai Maeda’s “Keep On”, my favorite Digimon ending song of all time! 😍😍😍

So, overall I really LOVED this movie! And I cannot wait for the fifth one, Kyōsei (Symbiosis), that will be released later on this year!! 😍😍😍

BAHASA INDONESIA

Posting-posting sebelumnya dalam seri Digimon Adventure Tri:
1. Digimon Adventure Tri (1: Saikai)
2. Digimon Adventure Tri (2: Ketsui)
3. Digimon Adventure Tri (3: Kokuhaku)

***

Edisi keempat (dari enam) dari Digimon Adventure Tri, Sōshitsu, dirilis akhir Februari kemarin. Dan sebagai fans-nya Digimon Adventure (baca: cuma musim 1 aja sih), jelas dong aku tidak akan melewatkannya!

Eh, kecuali bahwa aku baru menontonnya hari Minggu kemarin ini sih. Entah mengapa aku bisa-bisanya lupa loh kalau bulan rilisnya adalah Februari (aku kira bulan Maret!). Fans macam apa ini … 🙈.

Eh, tetapi yang penting mah sekarang sudah nonton dong yaa! Haha 😆 . Ngomong-ngomong, aku merasa bersemangat banget ketika melihat poster resminya karena Dark Masters favoritku mejeng di sana, Machinedramon! Horee!! :mrgreen: Jadi ceritanya Dark Masters adalah tokoh jahat favoritku di Digimon Adventure 1 (dan jadilah memang alur cerita Dark Masters adalah bagian favoritku dari keseluruhan seri ini). Nah, jelas lah aku penasaran apa peran Machinedramon di sini. Atau juga apakah ini adalah Machinedramon yang sama dengan Machinedramon di Digimon Adventure 1 yang mana seharusnya sudah dibunuh oleh Wargreymon (Walaupun memang digimon bereinkarnasi sih).

*** Spoiler dimulai di sini!!! ***

Melanjutkan dari akhir cerita di Kokuhaku, film ini dimulai dengan usaha kedelapan anak terpilih untuk berkenalan kembali dengan partnernya, yang sudah kehilangan ingatakn akibat “Reboot” di film ketiga. Sudah jelas dari awal bahwa Sora dan Biyomon akan menjadi karakter pusat dari film ini. Masuk akal sih; karena untuk Biyomon yang kehilangan ingatan kan ia sama sekali tidak mengenal Sora sehingga tidak mengherankan ketika ia menjaga jarak.

Juga diungkapkan bahwa ternyata Himekawa dan Nishijima adalah dua dari anak terpilih generasi pertama (terdiri atas lima orang, yang ditampilkan sebagai siluet di episode terakhir Digimon Adventure musim 1). Ketika itu mereka bertarung melawan Dark Masters dan harus mengorbankan Megadramon, pasangannya Himekawa, untuk mengalahkannya. Sebagai akibatnya, Megadramon tidak bisa bereinkarnasi kembali menjadi Digi-Egg. Bertahun-tahun kemudian, Himekawa terobsesi dengan menghidupkan-kembali pasangannya (yang mana bentuk Rookie-nya adalah Tapirmon) dan melakukan riset untuk “me-reboot” Dunia Digital. Dengan begini, ada kemungkinan Tapirmon bisa hidup lagi. Sementara itu, Nishijika diberi-tahu akan keterlibatan seseorang bernama “Yggdrasil” yang sepertinya adalah otak di balik semua kekacauan ini.

Dark Gennai dan Machinedramon

Di Dunia Digital, anak-anak terpilih diserang oleh Dark Gennai (Gennai yang nampaknya sudah “terinfeksi” dan kini bekerja untuk Yggdrasil), yang mengontrol dua anggota Dark Masters: Machinedramon and MetalSeadramon. Agumon dan Gabumon berhasil berevolusi menjadi Wargreymon dan MetalGarurumon untuk mengalahkan MetalSeadramon. Sementara itu, Sora dan Biyomon sudah akrab lagi dan Biyomon berdigivolve ke level meganya, Phoenixmon. Patamon juga berdigivolve ke level meganya, Seraphimon, karena ia pengen (haha 😆 ), dan juga Tentomon ke HerculesKabuterimon. Mereka mengalahkan Machinedramon.

Phoenixmon vs Machinedramon

Sementara itu, Dark Gennai berhasil mencapai Meiko dan memanas-manasi Meicoomon untuk marah untuk melepaskan kejahatan di dalam dirinya.

*** Spoiler Selesai ***

Harus kubilang film ini adalah film Tri favoritku sejuah ini! Jalan ceritanya lebih jelas. Motif dan latar belakangnya Himekawa dan Nishijima juga diceritakan. Misteri yang meliputi tokoh jahat juga (perlahan-lahan) mulai diungkapkan, walaupun belum semuanya. Dan aksinya juga keren lah!

Scene favoritku adalah yang ini, ketika Dark Gennai menyerang Joe dan Gomamon menyerang Dark Gennai dengan jurus “Fish Powers”-nya:

Huahahaha 😆

Memang ada beberapa bagian dari film yang menurutku nggak penting sih. Misalnya ketika anak-anak terpilihnya terpisahkan tetapi tidak ada yang terjadi ketika mereka terpisah itu dan toh satu episode kemudian mereka berkumpul lagi.

Satu aspek lain yang kusuka dari film ini adalah ending-nya! AKHIRNYA, mereka menggunakan “Keep On”-nya Ai Maeda, lagu penutup Digimon favoritku sepanjang masa! 😍😍😍

Yup, jadi secara keseluruhan aku SUKA banget film ini! Dan aku nggak sabar nih menunggu yang kelima, Kyōsei (Simbiosis), yang akan dirilis tahun ini juga!! 😍😍😍

#1860 – PhD Movies

ENGLISH

Just recently, I watched both of the PhD Movies. In case you are unfamiliar, these are based on the popular PhD Comics. If you are still unfamiliar, well, PhD Comics is webcomic strip focusing on the lives of several PhD students/candidates.

As a (former?) PhD candidate (Well, I am kinda in a limbo now where technically my PhD contract has ended but I still do not yet have my defense, though I am in the process of getting one 😛 ), I relate to a lot of the topics in it! They are brought up in short and humorous way, yet still very relevant and, in most cases, represent how I feel over some topics which I happen to face as well. So if you are a PhD student yourself, or if you even just want to know a little bit of the lives of a PhD student, I do recommend this channel! They also have their own Facebook page (Piled Higher and Deeper (so abbreviated as “PhD” 😛 )) which you can follow 😉 .

Anyway, back to the movies. Due to the popularity of the comic strip (which had been run since 1997), in 2011 the first movie adaptation was made which was followed by the second one in 2015. And, yes, I have decided to watch it just recently (>.<), haha 😆 .

The first movie focused more on the life of PhD students in the university. The unnamed grad student (whose name was revealed to be “Winston” later) just started working at Prof. Smith’s lab and realized the harsh truth of a research work, where nothing was easy and sometimes it appeared to be “mundane” (I experienced this phase in my PhD as well, btw). Meanwhile, Cecilia, a more senior grad student, had to deal with (lazy) undergrad students (I also had similar-ish experience too about this, lol 😆 ) and the difficulty to find the work-life balance, as it was very tempting to leave out the “life” part.

This is so true in real life. Source: http://www.phdcomics.com/comics/archive.php?comicid=1082

This is so true in real life. Source: http://www.phdcomics.com/comics/archive.php?comicid=1082

The second movie took place a few years later, where all characters were still in grad-school, and faced some latter challenges in PhD years. Winston went to his first ever international conference where, in his naivity, he was involved in a funding and rivalry war between his group and his professor’s nemesis. Cecilia, on the other hand, had almost completed her PhD and she was struggling with writing up the dissertation. (Trust me, writing up a dissertation is NOT as easy as it sounds, lol. Luckily, my supervisor warned me about this many times 😛 ).

In my opinion, both movies were awesome! I could totally relate some parts of the four years of my life to both movies! The first movie was an appropriate introduction of the life as a PhD student in university. Winston’s story reflects the life of a newbie, while Cecilia’s represents the more experienced ones, like in the second or third year.

The second movie was even more interesting, especially because a “villain” was introduced, i.e. Dr. Sangeeta Singh, the rival of Prof. Smith. The conflict between the characters due to this rivalry was heated; and I can tell you that this kind of conflict is not uncommon in real-life 😛 . Cecilia’s struggle to finish writing her dissertation was also very real. And I especially could relate to this because this was the main theme of my last eight to nine months of PhD years, lol 😆 .

One story in the second movie was Cecilia’s struggle to fix a defense date with her committee members. This one:

Lol, I actually had to face a similar conflict this October. Even though, obviously, not to the same degree, I had an extra constraint in my case, which was the room availability in TU Delft. So of all the rooms in TU Delft, there was only one room that could be used for a PhD defense. And with thousands of PhD students, let’s say reserving this room was not always easy. So you could imagine, I had to find an exact date AND time where all of my seven committee members (one was even from abroad) could come to Delft AND the one room was also available! I had to go through a few iterations of date and time before I managed to find one solution! Haha 😆 .

Anyway, so, yeah, I truly did enjoy both movies. And I do recommend them to you!! 😉 Both portray the lives of PhD students well in humorous way. Here is the trailer of the second movie.

BAHASA INDONESIA

Baru-baru ini, aku menonton kedua film PhD Movies. Andaikata ada yang kurang familier, kedua film ini berdasarkan PhD Comics yang populer itu. Eh, jika masih kurang familier, ini adalah komik pendek dengan fokus pada kehidupan dari beberapa kandidat/mahasiswa PhD/S3.

Sebagai (mantan?) kandidat PhD (Hmm, sekarang ini statusku rada geje nih dimana secara teknis kontrak PhDku sudah selesai tetapi aku masih belum sidang dan wisuda, walaupun aku sedang di tengah proses untuk mendapatkannya 😛 ), aku merasa nyambung banget dengan banyak topik yang diangkat di sana! Topik-topik ini diangkat secara singkat dengan humor, tetapi amat relevan dan, di kebanyakan kasus, mewakili perasaanku akan beberapa topik yang kebetulan juga mesti kuhadapi. Jadi jika kamu adalah seorang mahasiswa PhD, atau sekedar ingin tahu saja bagaimana sih kehidupan mahasiswa PhD itu, aku sungguh menyarankan komik ini deh! Mereka juga memiliki laman Facebook sendiri (Piled Higher and Deeper (makanya disingkat “PhD” 😛 )) yang bisa di-follow 😉 .

Anyway, kembali ke filmnya. Karena kepopuleran komiknya (yang sudah jalan semenjak tahun 1997), di tahun 2011 sebuah adaptasi filmnya dibuat yang diikuti dengan film kedua di tahun 2015. Dan iya, aku baru aja menontonnya sekarang dong (>.<), haha 😆 .

Film pertama fokus pada kehidupan mahasiswa PhD di universitas. Seorang mahasiswa tak bernama (yang namanya kemudian diketahui sebagai “Winston”) baru saja mulai bekerja di labnya Prof. Smith dan menghadapi yang namanya kenyataan pahit dari pekerjaan riset, dimana tidak ada yang mudah dan kadang bisa terasa “tidak berarti” (Aku sendiri juga mengalami fase ini, btw). Sementara itu, Cecilia, yang sudah lebih senior, harus berhadapan dengan mahasiswa S1 (yang malas-malas; yang mana aku juga memiliki pengalaman mirip-mirip juga tentang ini, haha 😆 ) dan sulitnya menjaga keseimbangan kerja dan kehidupan, dimana membuang bagian “kehidupan”-nya nampak menggoda sekali untuk dilakukan.

Film kedua mengambil waktu beberapa tahun kemudian, dimana semua karakternya masih berada di universitas, dan menghadapi masalah-masalah lain di tahun-tahun PhD yang selanjutnya. Winston berkunjung ke konferensi internasional pertamanya, dimana akibat keluguannya, ia terlibat di dalam perang antara rival untuk merebutkan funding (pendanaan) antara grupnya dan grup musuh besar profesornya. Cecilia, di sisi lain, sudah hampir selesai dengan risetnya dan ia kesulitan untuk menulis disertasinya (Percaya deh, menulis disertasi itu TIDAK semudah kedengarannya loh, haha. Untungnya, supervisor-ku sudah memperingatkan aku berkali-kali sih dulu 😛 ).

Menurutku, kedua filmnya keren banget! Aku benar-benar bisa mengaitkan beberapa bagian dari empat tahun kehidupanku dengan kedua film ini! Film yang pertama cocok sebagai pengenalan ke dalam kehidupan mahasiswa PhD di sebuah universitas. Cerita Winston mencerminkan kehidupan anak baru, sementara cerita Cecilia mewakili yang sudah lebih berpengalaman, ya mereka-mereka yang di tahun kedua atau ketiga gitu deh.

Film yang kedua lebih menarik lagi, terutama karena satu tokoh “antagonis” diperkenalkan, Dr. Sangeeta Singh, rivalnya Prof. Smith. Konflik antara karakter akibat persaingan di antara mereka berdua juga semakin memanas; dan bisa kubilang bahwa konflik semacam ini nggak jarang loh di kehidupan nyata 😛 . Kesulitannya Cecilia dalam menyelesaikan penulisan disertasinya juga nyata banget. Dan terutama aku memahaminya benar karena ini lah tema kehidupanku dalam delapan sampai sembilan bulan terakhir tahun-tahun PhDku, haha 😆 .

Satu cerita di film kedua adalah kesulitannya Cecilia untuk menentukan tanggal sidang dengan anggota komitenya. Yang ini nih:

Huahaha, aku sendiri menghadapi konflik serupa nih bulan Oktober lalu. Walaupun jelas tidak separah itu sih, tetapi aku memiliki satu halangan ekstra, yaitu ketersediaan ruangan di TU Delft. Jadi ya, dari semua ruangan di kampus TU Delft, cuma satu saja yang bisa digunakan untuk sidang PhD. Dan karena ada ribuan mahasiswa PhD di kampus, bisa dibilang memesan ruangan ini tidaklah mudah. Jadi bisa dibayangkan lah ya, aku harus memilih satu tanggal DAN jam dimana kesemua tujuh orang anggota komiteku (satu bahkan dari luar negeri) bisa datang ke Delft DAN di saat yang sama, ruangannya juga masih tersedia! Aku harus melakukan ini dalam beberapa iterasi sebelum akhirnya aku menemukan satu solusi! Haha 😆 .

Anyway, jadi ya gitu deh, aku sungguh menikmati kedua filmnya. Dan aku menyarankan keduanya untuk ditonton!! 😉 Keduanya menggambarkan kehidupan mahasiswa PhD dengan baik dalam penuh humor.

#1817 – Digimon Adventure Tri (3: Kokuhaku)

ENGLISH

Previous posts in the Digimon Adventure Tri series:
1. Digimon Adventure Tri (1: Saikai)
2. Digimon Adventure Tri (2: Ketsui)

***

I am a big fan of Digimon Adventure (read: season 1 only). So naturally I was super excited when last year I found out that there would be a new installment of Digimon Adventure, Digimon Adventure Tri, with the main casts being the original eight Digi-destined from season 1!

This installment is split into six series, taking a few months of break in between ( 😆 ). In November last year, the first series, Saikai (Reunion), was released and in March the second one, Ketsui (Determination), followed suit. At the end of September, finally the third series, Kokuhaku (Confession), was released.

Anyway, here is my take on it. Please be aware that from hereon, I might drop spoilers of this series here and there.

*** SPOILER STARTS HERE ***

The Plot

Some of the mysteries and questions raised in the first two movies were answered, though several new ones were actually introduced, lol 😆 . The (possible) reason for the disappearance of the characters from Digimon Adventure season 2 was that they actually vanished, for some mysterious reasons, along with other Digi-Destined all over the world. Though I actually wonder since the characters knew each other in season 2, wouldn’t they be, somehow, in contact so the original eight should have noticed of their disappearance?

It was also revealed that Meiko already knew about Meicoomon’s infection and actually Meicoomon was the source of the infection. However, that was pretty much what was “confessed” in this Confession series. The origin or the purpose of it, sadly, still remains a mystery up to now. Anyway, this caused Meiko to feel incredibly upset and acted annoyingly throughout the series.

The infected Patamon (thus Angemon) was one main story of this series

The infected Patamon (thus Angemon) was one main story of this series

The focus of this series was on Takeru and Koshiro. It turned out that Patamon was infected and at one point could not control himself and bit Takeru. Understandably Takeru could not reveal this to the other but then took Patamon home with him as a precautionary step. Koshiro worked super hard, to the point that he did not sleep for days, trying to solve the mystery. He could not get the answer he was looking for that he felt incredibly upset about it (Tbh that sounds a lot like a PhD research, lol 😆 ). In the end, he found the root of the problem, that the binary codes of the Digital World had been, somehow, rewritten with a different programming language that it caused distortions and the infections.

Meanwhile, Hikari got possessed by “Homeostasis”, who claimed to be the god of the Digital World. Homeostasis revealed that if the infection was not stopped, it could potentially destroy not only the Digital Worlds but also other worlds; the the effect on the real world was that there would be no electricity on Earth? One possible way to prevent that was to “reboot” the Digital World to reset it to how it was before the infection; pretty much like reinstalling a troubled computer. The catch, though, the memories of the Digimons would be lost; pretty much like any non-backed-up data during a computer reinstallment.

Meanwhile, a distortion occurred at Tokyo Big Sight (Yeay, been there last year! 😛 ) and Meicoomon appeared. The digimons tried to stop Meicoomon but they struggled; in fact, one by one they got infected. Consequently, Homeostasis triggered the “Reboot” option. Koshiro came up with a plan to back-up the data of the partner Digimons. Tentomon, the last uninfected Digimons, mega-digivolved to HerculesKabuterimon battling the other eight Digimons, but failed to back their data up in time. Then, the Reboot occurred.

HerculesKabuterimon

HerculesKabuterimon

After mourning for a week, the eight Digi-Destined decided to brave up and go to the (still unstabled) resetted Digital World to look for their Digimon partners. There, they briefly encountered a battle between Alphamon and a digimon called Jesmon, both Mega-level digimons. Thus raising the question, how could these two digimons be already in their Mega-level if the Digital World had just been rebooted? Anyway, not long after, they heard a whistle noise; which turned out to come from Tokomon. There, the eight Digi-Destined met their eight Digimon partners in their in-training levels, who have lost all their memories. They all started to get to know each other from scratch.

The series ended with a big cliff-hanger. Digimon Emperor (assumed to be Ken Ichijouji) was revealed to actually be young Gennai. He was overlooking the eight Digi-Destined from on top of a hill, where he was met by Himekawa.

*** SPOILER ENDS HERE ***

Overall, I am really happy with this third series; I think this is the best one of the three that have been released. One quote I really like from this series came from Tentomon, especially that I could totally relate to it 🙂

“Knowing nothing is just a chance to learn new things, right?”

Yes Tentomon, that is SO right!! Though of course in real life we also face the imminent real-world constraints like deadlines (to sufficiently know things) and stuffs, lol 😆 .

Tentomon's speech

Tentomon’s speech

Anyway, the main conflict of Digimon Tri is getting infused stronger in the story line, though only a little bit clearer. Which brings me up to the next point: pace. While the pace of Kokuhaku was faster than of Saikai or Ketsui, overall it still felt rather slow. Probably it was also due to the still a lot of unresolved mysteries and answers, haha 😆 . For instance, the cliff-hanger at the end. But I think that was actually supposed to be the purpose of a cliff-hanger, to raise more question and, thus, excitement for the next series 😆 .

However, I find the consequence of the unresolved infected Digimons (the real world would lose the electricity) to be, well, rather “lame”. I mean, I agree that it would have been a major catastrophe in modern life. How could we function without electricity (so no lamps, no telephone, no computer, no internet)? However, I think it would have been cooler had it been something “bigger” than that, haha 😆 . What could it be? Well, I am not sure myself, but I am not a writer of the series 😛 .

On the other hand, I like the twist where Koshiro’s plan to back-up the Digimon partners’ data failed; showing that not all plans would come through, even in a fiction 😆 . Another aspect which I like is that the end of the series where the Digi-Destined started a new adventure in the Digital World, with the intention of finding their Digimon partners and to get to know them from scratch. This is a good stepping stone to the next series.

Speaking of the next series, the fourth one, Soushitsu (Loss), is scheduled to be released in February 2017. Damn! Five more months to go! 😣

BAHASA INDONESIA

Posting-posting sebelumnya dalam seri Digimon Adventure Tri:
1. Digimon Adventure Tri (1: Saikai)
2. Digimon Adventure Tri (2: Ketsui)

***

Aku adalah seorang fans besarnya Digimon Adventure (baca: musim 1 aja sih). Jadi jelas dong aku bersemangat sekali ketika tahun lalu tahu bahwa akan ada musim baru dari Digimon Adventure, Digimon Adventure Tri, yang mana tokoh utamanya adalah delapan anak terpilih asli di musim 1!

Musim ini dibagi ke dalam enam seri, yang mana di antaranya memakan waktu sekian bulan ( 😆 ). Bulan November tahun lalu, seri pertama, Saikai (Reuni), dirilis dan Maret lalu yang kedua, Ketsui (Kebulatan Tekad), mengikutinya. Akhir September kemarin, akhirnya seri yang ketiga, Kokuhaku (Pengakuan), dirilis.

Berikut ini pendapatku tentangnya. Eh, berhati-hati ya karena mulai dari sini, mungkin aku akan menuliskan spoilers dari seri ini.

*** SPOILER MULAI DI SINI ***

Jalan Cerita

Beberapa misteri dan pertanyaan yang muncul di dua seri pertama terjawab di seri ini, tetapi beberapa misteri baru malah diperkenalkan dong, haha 😆 . Nah, (kemungkinan) penyebab tidak munculnya karakter dari Digimon Adventure musim 2 adalah karena mereka beneran menghilang, dengan alasan yang masih misteri, bersamaan dengan anak-anak terpilih lain di seluruh dunia. Walaupun aku penasaran sih karena karakter-karakternya kan kenal satu sama lain ya di musim 2, jadi mengapa kok mereka seakan-akan tidak sadar akan hilangnya karakter-karakter itu? Hmm

Diungkapkan juga bahwa Meiko sebenarnya sudah tahu bahwa Meicoomon terinfeksi dan sebenarnya Meicoomon lah sumber dari infeksi di dunia Digimon. Namun, hanya sebatas ini saja lah yang “diakui” Meiko di seri Pengakuan ini. Asal muasal atau tujuan dari infeksinya, sayangnya, masih merupakan misteri hingga sekarang. Nah, ini membuat Meiko sungguh merasa sedih dan bersalah dan kemudian bertingkah nyebelin banget satu seri ini.

The infected Patamon (thus Angemon) was one main story of this series

Patamon (jadi juga Angemon) yang terinfeksi adalah satu cerita seri ini

Fokus dari seri ini ada pada Takeru dan Koshiro. Ternyata, Patamon juga terinfeksi dan di satu waktu tak mampi mengontrol dirinya dan menggigit Takeru. Bisa dimaklumi, Takeru galau dan kemudian menyembunyikan kondisi ini dari yang lain tetapi kemudian mengajak Patamon pulang sebagai langkah jaga-jaga agar tidak menginfeksi digimon lainnya. Koshiro bekerja sangat keras, sampai-sampai dia tidak tidur beberapa hari, untuk memecahkan miserinya. Ia tidak bisa mendapatkan jawabannya dan ia sungguh merasa sedih dan kesal karenanya (Eh, kondisi begini mah mirip sekali kayak riset S3 deh, hahaha 😆 ). Pada akhirnya, ia menemukan akar permasalahannya, bahwa kode biner Dunia Digital telah, entah bagaimana, ditumpuk kode dengan bahasa pemrograman yang lain sehingga terjadilah kekacauan dan infeksi-infeksi itu.

Sementara itu, Hikari dirasuki oleh “Homeostasis”, yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan dari Dunia Digital. Homeostasis menyebutkan bahwa jika infeksi tidak dihentikan, ini mungkin akan berakibat kepada hancurnya tidak hanya Dunia Digital tetapi juga dunia-dunia lainya; dan efeknya di dunia nyata adalah tidak akan ada listrik lagi (?). Satu cara untuk mencegah itu adalah dengan “me-reboot” Dunia Digital untuk me-reset-nya ke kondisi sebelum infeksi; yah, seperti langkah meng-install-ulang komputer yang bermasalah gitu deh. Hanya saja, jika begini maka memori-memori Digimon akan terhapus; sama lah seperti data-data yang tidak di-back-up ketika komputer di-install-ulang.

Sebuah distorsi muncul di Tokyo Big Sight (Hore, aku pernah kesana tahun lalu! 😛 ) dan Meicoomon muncul. Digimon-digimon berusaha menghentikan Meicoomon tetapi mereka kesulitan; bahkan satu per satu diinfeksi. Akibatnya, Homeostasis memulai proses “Reboot”. Koshiro kemudian menjalankan rencana B yaitu untuk mem-back-up data partner-partner Digimon mereka. Tentomon, digimon terakhir yang tidak terinfeksi, berdigivolusi-mega menjadi HerculesKabuterimon bertempur melawan delapan digimon lainnya, tetapi gagal untuk mem-back-up semua data mereka. Lalu, reboot-nya berlangsung.

HerculesKabuterimon

HerculesKabuterimon

Setelah bersedih selama seminggu, depan anak terpilih memutuskan untuk menguatkan-diri dan pergi kembali ke Dunia Digital yang baru saja di-reset (dan masih belum stabil) untuk mencari digimon pasangan mereka. Di sana, mereka kebetulan bertemu dengan Alphamon dan seekor digimon bernama Jesmon, keduanya digimon level Mega, yang sedang bertempur. Ini menimnulkan pertanyaan, kok bisa dua digimon itu sudah berada di level Mega jika Dunia Digital baru saja di-reset? Tak lama kemudian, mereka mendengar suara sempritan; yang mana ternyata datang dari Tokomon. Di sini, delapan anak terpilih bertemu dengan delapan digimon pasangan mereka yang masih berada di level in-training, yang sudah kehilangan semua ingatannya. Mereka kemudian berkenalan dan mulai dari nol lagi.

Seri ini berakhir dengan sebuah cliff-hanger besar. Kaisar Digimon (yang sebelumnya diasumsikan sebagai Ken Ichijouji) ternyata adalah Gennai muda. Ia memperhatikan delapan anak terpilih ini dari atas bukit, dimana ia bertemu Himekawa.

*** SPOILER SELESAI ***

Secara keseluruhan, aku suka banget dengan seri ketiga ini; aku rasa ini adalah seri terbaik dari tiga seri yang sudah keluar. Satu kutipan yang aku suka dari seri ini datang dari Tentomon, terutama karena aku paham banget dengannya 🙂

“Tidak mengetahui sesuatu adalah kesempatan untuk belajar sesuatu yang baru, kan?”

Iyaa Tentomon, benar banget!! Hanya saja, masalahnya sih di dunia nyata kita kan juga menghadapi batasan-batasan nyata ya misalnya tenggat-waktu (untuk memahami sesuatu), dll, haha 😆

Tentomon's speech

Kutipannya Tentomon

Anyway, konflik utama seri Digimon Tri ini juga merasuk semakin kental di dalam jalan ceritanya, walaupun hanya sedikit lebih jelas. Ini membawaku ke poin selanjutnya: laju jalan cerita. Walaupun laju Kokuhaku ini lebih cepat daripada Saikai atau Ketsui, secara keseluruhan aku masih merasa lajunya terlalu lambat. Munkin ini disebabkan oleh masih banyaknya misteri dan pertanyaan yang belum terjawab ya, haha 😆 . Misalnya saja, adanya cliff-hanger di akhir seri ini. Tetapi kalau dipikir-pikir lagi sebenarnya ini lah tujuan dari cliff-hanger ya, untuk memunculkan pertanyaan dan, sehingga, rasa penasaran untuk menonton seri selanjutnya 😆 .

Namun, aku merasa konsekuensi dari infeksi digimon yang tidak terselesaikan (dunia nyata kehilangan listrik) kok agak “cupu” ya. Maksudku, aku setuju sekali sih, akan menjadi suatu bencana besar di kehidupan modern jika listrik tiba-tiba tidak ada. Bagaimana kita bisa hidup tanpa listrik coba (nggak ada lampu, nggak ada telepon, nggak ada komputer, nggak ada internet)? Aku rasa, akan lebih keren andaikata konsekuensinya “lebih besar” daripada itu, haha 😆 . Misalnya apa? Hmm, nggak tahu juga sih, tapi aku kan bukan penulis naskah cerita ini ya 😛 .

Di sisi lain, aku suka twist cerita dimana rencananya Koshiro untuk mem-back-up data digimon pasangan mereka gagal; menunjukkan bahwa tidak semua rencana selalu terlaksana, termasuk di dalam cerita fiksi, haha 😆 . Aspek lain ceritanya yang juga aku suka adalah bagian akhirnya dimana anak-anak terpilih kembali di Dunia Digital, dengan tujuan mencari partner digimon mereka dan berkenalan kembali dari awal. Ini adalah batu loncatan yang baik untuk seri selanjutnya.

Ngomongin seri selanjutnya, yang keempat, Soushitsu (Kehilangan), dijadwalkan dirilis bulan Februari 2017 nih. Sial! Masih lima bulan lagi! 😣

#1800 – Sausage Party

ENGLISH

One movie that I have been waiting for this summer was the animated movie: Sausage Party.

First of all, even though this movie is an animated one, it is rated “R” so it is VERY NOT SUITABLE FOR CHILDREN. I repeat, it is NOT FOR CHILDREN.

Okay, clear on that? Good! Now let’s continue…

The reason of my interest was the unique premise. Remember the 1990s movie Toy Story? The basic idea of the movie is similar; but instead of toys that are alive, in this movie it is food (and some other items sold at a supermarket). Btw, humans cannot see that the food is alive; as how we perceive food in reality. And, well, you know damn well what we do to food (in case you don’t, well, we eat them).

The following is the green-band (so the safe-ish) trailer of the movie:

Yeah, so I hope by now you have understood why this movie IS NOT SUITABLE FOR CHILDREN (This is literally the third time I say this in this post. So if you bring your child(ren) to this movie after reading this, well you are probably illiterate). Aside from the “violence”, there are a lot of adult (porn) humor material throughout the movie.

Anyway, the movie followed the plot that food believed humans were god; that once they were purchased from the supermarket, they were “chosen” to enter “the great beyond” where everything was beautiful, full of happiness, perfect, etc. The main characters of the movie was a sausage, Frank, and his hotdog bun girlfriend, Brenda; who went on an adventure in the supermarket while slowly learning about the truth of their existence.

You see? The premise itself is already very interesting, isn’t it? One question which triggered my curiosity, a lot, was “how would the movie end?” Would it be a happy ending? But in that case, happy for whom? If the food got what they “wanted”, i.e. humans no longer ate them; that basically meant humans would die out of starvation?

And oh wow, how the movie surprised me, big time. The ending was not like any other normal ending. It was so twisted, like “wtf” twisted, lol 😆 . I liked it though because it really, really caught me off guard and I totally did not expect that. Especially that I was in a cinema with other people watching at the same time, lol 😆 .

***

The movie was premierred in the States in August 2016; though it was only premierred in the Netherlands this week. So you could imagine it really annoyed me that I had to wait that long before I could watch it, haha 😆 .

To be honest, I think it would be very surprising to see the movie being allowed to be screened in Indonesia. It would require heavy editing and a lot of scene-cuttings; and I am not sure how much would be left if they really do that, haha 😆 .

However, if you have the chance to watch this movie, I do recommend it;  mainly for the pure (adult) humor and comedy. The popular hashtag #foodporn fits this movie really well, actually. Nonetheless, there is another side of the movie that is more transcendental than just the humor; that is about belief. This movie, in my opinion, puts a new perspective on how we can perceive this sensitive stuff.

Anyway, if you are going to watch the movie, please remember: DO NOT BRING YOUR CHILDREN WITH YOU! (For the record, this is the fourth time I say this).

Even the banner says this movie is not for kids!

Even the banner says this movie is not for kids!

BAHASA INDONESIA

Satu film yang sudah kutunggu-tunggu musim panas ini adalah film animasi: Sausage Party.

Pertama-tama, walaupun film ini adalah film animasi, film ini memiliki rating “R”, yang mana artinya TIDAK COCOK UNTUK ANAK-ANAK. Aku ulangi lagi, film ini BUKAN UNTUK ANAK-ANAK.

Oke, jelas? Bagus! Mari kita lanjut…

Alasan ketertarikanku adalah premis uniknya. Ingat film Toy Story di tahun 1990an? Nah, ide dasar film ini serupa; namun bukannya mainan, yang digambarkan hidup adalah makanan (dan juga beberapa barang lainnya yang dijual di supermarket). Btw, manusia biasa tidak bisa melihat bahwa makanan ini hidup; seperti kenyataannya gitu deh. Dan kita jelas tahu dong apa yang kita lakukan terhadap makanan (jika ada yang nggak tahu, kita memakannya).

Berikut ini trailer ban-hijau (jadi cukup “aman”) dari film ini:

Iyaa, sehingga sudah jelas lah ya bahwa film ini BUKAN UNTUK KONSUMSI ANAK-ANAK (Ini kali ketiga aku menulis ini di posting ini. Jadi jika kalian membawa anak(-anak) kalian menonton film ini setelah membaca ini, artinya kalian tuna aksara). Di samping “kekerasan”, ada banyak sekali materi humor dewasa (yang “menjurus”) di sepanjang film.

Anyway, film ini berlatarkan cerita dimana para makanan percaya bahwa manusia adalah Tuhan, atau dewa/i, dimana ketika dibeli, mereka “terpilih” untuk masuk ke suatu tempat yang disebut “the great beyond” yang mana di sana semuanya itu indah, penuh kebahagiaan, sempurna, abadi, dsb. Karakter utama film ini adalah sebuah sosis, Frank, dan pacar roti hotdog-nya, Brenda; yang berada dalam sebuah petualangan di dalam supermarket sembari perlahan-lahan mempelajari kebenaran dari keberadaan mereka.

Nah, premisnya menarik banget kan? Ini membuatku penasaran banget akan ending dari film ini. Apakah akan berupa happy ending? Eh, tapi happy bagi siapa dong? Jika makanan mendapatkan apa yang mereka “mau”, yaitu manusia tidak lagi mengonsumsi mereka; artinya manusia akan mati karena kelaparan dong?

Dan oh wow, film ini benar-benar mengejutkanku, banget. Ending-nya nggak seperti ending-ending film-film lainnya. Sungguh twisted banget, twisted yang “wtf” banget deh, huahahaha 😆 . Aku suka sih karena ini sama sekali tidak aku sangka. Apalagi aku berada di sebuah bioskop dimana ada orang lain juga disana waktu itu, huahaha 😆 .

***

Filmnya mulai ditayangkan di Amerika di bulan Agustus 2016; walau di Belanda baru dimulai minggu ini dong. Makanya aku merasa sebal sekali aku harus menunggu lama sebelum bisa menontonnya, haha 😆 .

Sejujurnya, aku akan cukup terkejut andaikata filmnya ditayangkan di Indonesia. Ini karena aku yakin film ini akan melalui editing ekstra yang amat besar, alias banyak sekali sensor yang diperlukan; jadi aku nggak yakin seberapa banyak yang lulus sensor pada akhirnya, haha 😆 .

Namun, jika ada kesempatan untuk menonton ini, aku menyarankannya deh; terutama untuk komedi dan humor (dewasa)-nya sih. Hashtag populer #foodporn pas banget deh untuk menggambarkan film ini. Namun, sebenarnya ada sisi lain film ini juga yang lebih transenden daripada humornya loh; yaitu mengenai kepercayaan. Film ini, menurutku, memberikan pandangan yang menarik akan topik sensitif ini.

Anyway, jika kalian akan menonton film ini, tolong diingat yah: JANGAN AJAK ANAK-ANAK KALIAN! (Catatan: ini adalah kali keempat aku menyebutkan ini).