#2039 – Happy New Year From LA!

ENGLISH

I would like to say: HAPPY NEW YEAR from Los Angeles!! :mrgreen: Let us wish 2018 to be a great year for all of us!! 🙂

The year 2017 has been a big year for me, where I officially got my PhD degree and I also bought my own apartment. So yeah, I am grateful for 2017 and cannot wait for 2018 which hopefully is going to be even better!

Anyway, I started 2017 in Yogyakarta, Indonesia and now ended it in Los Angeles, California. The two places being fifteen time zones apart, this means officially 2017 beat 2015 in terms of my longest non-leap year ever, at 365 days and 15 hours!

This is all I have for now! Ciao! 😀

BAHASA INDONESIA

Aku ingin mengucapkan: SELAMAT TAHUN BARU dari Los Angeles!! :mrgreen: Mudah-mudahan tahun 2018 ini menjadi tahun yang baik bagi kita semua ya!! 🙂

Tahun 2017 kemarin adalah tahun yang besar bagiku, dimana resmi aku mendapatkan gelar doktoral (PhD)-ku dan juga aku membeli apartemenku sendiri. Jadi ya, aku merasa bersyukur dengan tahun 2017ku dan berharap mudah-mudahan tahun 2018 akan menjadi lebih seru lagi!

Anyway, tahun 2017 aku mulai di Yogyakarta dan kini aku akhiri di Los Angeles, California. Karena kedua tempat ini terpaut jarak lima belas zona waktu, artinya resmi sudah 2017 mengalahkan 2015 dalam hal tahun non-kabisat terpanjangku, yang mana adalah 365 hari dan 15 jam!

Haha, ya sudah deh, segini dulu yang bisa aku tulis sekarang! Ciao! 😀

Advertisements

#2035 – Some Side Star Trek Stories

ENGLISH

So you know this Fall I was following the new Star Trek: Discovery and remarathoning Star Trek: Voyager. Of course I use Netflix for both series; and you know Netflix comes with the cool language options feature. Here are a couple about this feature which I found … amusing!

Star Trek in … Klingon and … Indonesian!!

So as you see in the photo above, using the feature we can watch Star Trek: Discovery dubbed in: Indonesian with subtitles in … Klingon! Lol 😆 .

I think this is a very nice touch of this new series! Though, speaking of the Klingon, this language is widely spoken in the series in the first place anyway (as the Klingons are portrayed as the antagonist). So somehow this feature choice, to me, becomes “less comical” and is actually more in line with the story line. I am not sure what is the original intention, though…

Speaking of the language, while Klingon is not available as a subtitle in the Star Trek: Voyager in Netflix, the Indonesian sub still is! I tried it once to see how the result would be. And here is a short clip of one of my most favorite quotes from Captain Kathryn Janeway from season 1:

To me, it sounds … very strange! Haha 😛 Somehow, perhaps I have associated the characters with their (original) voices so hearing them “speak” in another language does not make it feel “right” to me, haha.

What do you think?

BAHSA INDONESIA

Jadi ceritanya musim gugur kali ini aku mengikuti serial baru Star Trek: Discovery dan menonton ulang Star Trek: Voyager. Tentu saja aku menggunakan Netflix untuk keduanya; dan tahu kan Netflix itu dilengkap dengan fitur pilihan bahasa yang keren. Berikut ini dua hal tentang fitur ini yang aku rasa … menarik dan lucu!

Star Trek dalam … bahasa Klingon dan … bahasa Indonesia!!

Seperti yang bisa dilihat di foto di atas, dengan fitur ini kita bisa menonton Star Trek: Discovery yang di-dubbing dalam: bahasa Indonesia dan dengan teks dalam … bahasa Klingon! Huahaha 😆 .

Aku merasa ini adalah sentuhan yang oke untuk seri ini! Walaupu, ngomongin bahasa Klingonnya, bahasa ini kan toh ceritanya banyak digunakan di serinya itu sendiri ya (karena bangsa Klingon ditampilkan sebagai antagonis di seri ini). Jadi entah bagaimana pemilihan fitur ini, bagiku, terasa “tidak begitu untuk lucu-lucuan” dan malah menjadi cukup nyambung dengan jalan ceritanya. Tapi aku nggak tahu apakah ini hanya kebetulan belaka sih.

Ngomongin bahasa, walaupun bahasa Klingon tidak tersedia di fitur teks untuk Star Trek: Voyager di Netflix, dubbing bahasa Indonesianya masih ada lho! Sekali aku iseng mengaktifkannya untuk melihat produk akhirnya seperti apa. Dan berikut ini klip singkat dari salah satu quote favoritku dari Kapten Katrhyn Janeway di musim 1:

Untukku malah jadi terdengar … aneh banget! Haha 😛 . Entah bagaimana, sepertinya aku sudah mengasosiasikan karakternya dengan suara-suara aslinya sehingga mendengar mereka “berbicara” dalam bahasa lain justru membuatnya terasa “janggal” untukku, haha.

Bagaimana menurut kalian?

#2003 – Photo Tales (44)

ENGLISH

This edition of Photo Tales contains two side stories from my weekend trip to Cardiff last month.

Photo #98

Ticket fare: £0.00

I was very lucky on this trip. Apparently starting from July this year, as a way to encourage people to take public transportation in Wales for long-distance road travel, the Wales government provided 100% discount on eight routes in the weekend. Yep, 100% discount as in the bus ticket on those routes were made free! And the T9 service between Cardiff Airport and Cardiff city centre was one of them!!

This T9 service was certainly going to be my main mode of transportation to get to/from the airport anyway. And somehow the 100% discount was also applied on Saturday and Sunday, the two days I was going to use this service! Lol 😆 .

So yeay for me saving at least £10 with this! Not bad, haha 😆 . Btw, the airport was located quite far away from the city centre, though, where one way trip took around 30 minutes.

Photo #99

KLM Cityhopper’s Fokker 70 reg PH-KZU in Anthony Fokker special livery.

I was generally happy that I got to fly a Fokker 70 on this trip and I actually got PH-KZB for that, a Fokker 70 I had never flown before so I could add a new registration to my Flying log, haha.

However, deep down actually I was a little bit disappointed that it was not PH-KZU. You see, I had actually flown PH-KZU before, on my way back to Amsterdam from Belfast almost two years ago. However, this summer KLM decided to apply a special livery on PH-KZU to commemorate Anthony Fokker, a Blitar-born Dutchman who basically founded Fokker, a Dutch airplane manufacturer; as KLM was retiring all of their remaining Fokker 70s this October. So it would actually have been cool if I got the chance to fly it one more time with the special livery!

Too bad I didn’t. I wasn’t that disappointed though because I knew the chance was quite slim anyway at only 1/8 with 8 Fokker 70s still remained in service for KLM Cityhopper at the time.

However on my flight back to Amsterdam, my plane (an Embraer 175 reg PH-EXN) actually parked next to PH-KZU so at least I got the chance to snap a photo of it! Haha 😛 .

BAHASA INDONESIA

Tema dari Photo Tales kali ini adalah dua cerita sampingan dari perjalanan akhir pekanku ke Cardiff bulan lalu.

Foto #98

Harga tiket: £0.00

Aku beruntung sekali di perjalanan kali ini. Ternyata semenjak Juli tahun ini, untuk memacu masyarakat untuk menaiki kendaraan umum di Wales ketika bepergian jarak jauh dengan jalur darat, pemerintah Wales memberikan diskon 100% di delapan rute di akhir pekan. Iya, diskon 100% alias tiket bus di rute-rute itu digratiskan! Nah, ternyata rute T9 antara Bandara Cardiff dan pusat kota Cardiff adalah salah satunya!!

Rute T9 ini toh akan menjadi mode transportasi utamaku untuk bepergian dari/ke bandara kan ya.Dan entah bagaimana kok bisa-bisanya diskon 100% ini berlakunya juga di hari Sabtu dan Minggu, dua hari dimana aku akan menaiki layanan ini! Hahaha 😆 .

Hore, lumayan lah ya bisa menghemat setidaknya £10 dengan ini, haha 😆 . Btw, bandaranya berlokasi cukup jauh dari pusat kotanya, dimana perjalanan satu arah memakan waktu sekitar 30 menit.

Foto #99

Sebuah Fokker 70 milik KLM Cityhopper rego PH-KZU dengan livery spesial Anthony Fokker.

Secara umum aku senang sekali aku berkesempatan terbang dengan sebuah Fokker 70 di perjalanan ini dan malahan aku mendapat PH-KZB, sebuah Fokker 70 yang belum pernah aku terbangi sebelumnya sehingga aku bisa menambakan registrasi baru ke Flying logku, haha.

Namun, di dalam lubuk hati paling dalam sebenarnya aku sedikit kecewa pesawatnya bukan PH-KZU! Hmm, jadi sebenarnya aku sudah pernah terbang dengan PH-KZU sebelumnya, yaitu di perjalanan kembaliku ke Amsterdam dari Belfast hampir dua tahun yang lalu. Namun, musim panas ini KLM memutuskan untuk mengecat PH-KZU dengan livery spesial untuk menghormati Anthony Fokker, seorang Belanda kelahiran Blitar yang mendirikan cikal bakal pabrik pesawat Fokker; karena KLM akan memensiunkan semua Fokker 70nya bulan Oktober ini. Jadi kan bakalan keren ya kalau aku bisa terbang dengannya sekali lagi ketika pesawatnya bercat livery spesial ini!

Sayangnya ini tidak kejadian. Aku nggak kecewa-kecewa banget sih sebenarnya karena aku tahu toh kemungkinannya kecil sekali, hanya 1/8 kan karena waktu itu tersisa 8 Fokker 70 saja yang masih aktif digunakan KLM Cityhopper.

Namun di penerbanganku kembali ke Amsterdam, pesawatku (sebuah Embraer 175 rego PH-EXN) ternyata parkir di sebelah PH-KZU loh. Jadi lumayan lah ya setidaknya aku masih bisa memfotonya! Haha 😛 .

#2000 – Two Thousand

ENGLISH

The title is self-explanatory, this is my 2000th post here in this blog!! Yes people, two thousand!!

Certainly this is an achievement, a milestone at the very least, though not really a surprising one to be honest. I mean, I have been blogging for so long so it was just about time for me to reach this number, haha. Though, it is still quite amazing to think that I have twice written one thousand posts! Because that sounds like a lot of writing!

This is actually the second blogging milestones I achieved this year, btw, after earlier this year I posted my 1000th posts in WordPress (Until April 2011, I was using Blogspot as my blogging platform). I still remember the post I posted almost six years ago when I hit 1000 posts. Interestingly, it took me faster (by eight months!) to get to 2000 from 1000 than to get to 1000 from 0, haha 😛 .

Yeah, this is all for now. This post is merely meant to commemorate this achievement. So, cheers for 2000!!

BAHASA INDONESIA

Judul posting ini jelas lah ya, posting ini adalah posting ke-2000-ku di blog ini!! Iya dong, dua ribu!!

Jelas ini adalah sebuah pencapaian, ya setidaknya adalah sebuah milestone lah, walaupun nggak mengherankan juga sih sejujurnya. Maksudku, aku sudah nge-blog sekian lama sehingga sebenarnya tinggal menunggu waktu aja lah ya sampai angka ini aku capai, haha. Walaupun, masih cukup menakjubkan juga sih kalau dipikir-pikir bahwa aku sudah dua kali menulis seribu posting! Terdengar banyak banget kan ya!

Ini adalah milestone nge-blog kedua yang kucapai tahun ini, btw, setelah awal tahun ini aku mem-posting posting ke-1000-ku di WordPress (Sampai April 2011, aku menggunakan Blogspot sebagai platform nge-blog). Aku masih ingat posting yang kupublikasikan hampir enam tahun yang lalu ketika aku mencapai 1000 posting. Menariknya, aku lebih cepat (delapan bulan!) untuk mencapai 2000 dari 1000 daripada untuk mencapai 1000 dari 0 loh, haha 😛 .

Ya, segini aja deh untuk saat ini. Posting ini dimaksudkan untuk merekam pencapaian ini sih. Jadi, cheers untuk 2000!!

#1978 – A Couple of News From Sint Maarten

ENGLISH

In the last three months or so, there have been two big-ish news coming from Sint Maarten. Not good news though, unfortunately. Not too long a go, a woman was killed by the jet blast of an airplane taking off from runway 10 of Princess Juliana International Airport. And several weeks later, a beach goer threw a ball to a plane that was on final approach to the airport. “Fortunately”, the ball missed the plane so a potentially catastrophic accident was avoided.

As an avgeek, obviously Sint Maarten, by default, becomes one of my most favorite places in the entire planet. I am fortunate enough that I have been there last year and the full stories of my trip can be found in the following series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Sint Maarten
3. Part II: Sint Maarten
4. Part III: The Maho Beach
5. Part IV: Saint Martin
6. Part V: Back to the Netherlands

Yeah, I guess now I am still kind of in my nostalgia mood, haha 😛 .

Anyway, speaking of the jet blast, it is indeed dangerous. At the Maho beach, the famous beach by the tip of runway 10 of the airport, several of these warning boards are present, and the warning is in English:

The famous jet blast warning at SXM

Clearly, the warning is not just there for no reason. And it is because the danger is real. The following is a picture I took of the jet blast of a departing McDonnell Douglas MD83:

The jet blast of a McDonnell Douglas MD83

As you can see it was so strong that you could see the effect on the water.

Having said that, the jet blast is one big “attraction” of the beach. And the beach is pretty much the tourism “heart” of the entire island. To be honest, the beach was also my sole reason of going to Sint Maarten last year. Otherwise, I might have considered some other destinations for the trip. And honestly, I did “enjoy” experience the jet blast as well last year. And it was the cool one, as it was the jet blast of a departing KLM’s Boeing 747-400. And it was, indeed, very very strong!!

I had to hold myself tightly to the fence at the time; and so did many other people. Luckily, we were all fine. But a few days later, when my dad wanted to enjoy the jet blast as well, a tourist fell to the rock after being blown by the jet blast and got scratched so badly that he had to be taken to a hospital. He appeared to have underestimated the jet blast force. According to my dad, the guy just stood on the narrow concrete block by the road at the Maho Beach facing the center of the runway. Lying behind him, then, was the rock formation of the beach. And so when the jet blast hit him, he quickly lost his balance and fell towards the rock formation.

You see, I just want to say that: there are warning signs all across the beach meaning that there are real risks, so please proceed with caution and use your common sense when going there.

The jetblast of an MD 83; see what was happening to these people?

And as for the guy throwing the ball, well, I hope from now on people are more “aware” of the risks and potential consequences their actions can be for other people! Especially when people’s lives are on the line like this!

It would be a total shame if Maho Beach is closed for public. Though I doubt it will happen though as this beach, as I said, is the driving force of tourism, hence economy, of the island. But still…

An Air France’s Airbus A340-300 landing at Princess Juliana International Airport of Sint Maarten.

BAHASA INDONESIA

Sekitar tiga bulan belakangan ini, ada dua berita lumayan besar yang datang dari Sint Maarten. Sayangnya bukan berita baik sih. Belum lama ini, seorang wanita terbunuh oleh jet blast dari sebuah pesawat yang akan lepas landas dari landasan pacu 10 Bandara Internasional Princess Juliana. Dan beberapa minggu kemudian, seorang pengunjung pantai melempar sebuah bola ke sebuah pesawat yang sedang mendarat. “Untungnya”, bolanya meleset sehingga kecelakaan yang berpotensi parah banget terhindarkan.

Sebagai seorang avgeek, jelas Sint Maarten adalah salah satu tempat terfavoritku di planet ini. Beruntung aku sudah pernah kesana, yaitu tahun lalu, dimana cerita lengkapnya bisa dibaca di seri ini:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Sint Maarten
3. Part II: Sint Maarten
4. Part III: The Maho Beach
5. Part IV: Saint Martin
6. Part V: Back to the Netherlands

Iya nih, kayaknya sekarang aku masih terpengaruh mood nostalgia ya, haha 😛 .

Anyway, ngomongin jet blast, memang jet blast ini berbahaya sekali. Di Pantai Maho, pantai terkenal yang terletak tepat di sebelah ujung landasan pacu 10 bandaranya, beberapa papan peringatan seperti ini dipasang, dan peringatannya sendiri dituliskan dalam bahasa Inggris:

Papan peringatan jet blast di SXM yang terkenal banget

Jelas dong ya peringatannya diberikan bukan tanpa alasan. Ini karena risikonya nyata banget. Berikut ini foto yang kuambil dari jet blast-nya sebuah McDonnell Douglas MD83 yang akan lepas landas:

Jet blast-nya pesawat McDonnell Douglas MD83

Seperti yang bisa dilihat, efeknya kuat banget sampai-sampai tiupannya nampak di permukaan lautnya.

Walaupun begitu, jet blast ini adalah salah satu “atraksi” utama pantai ini. Sementara pantai ini bisa dibilang merupakan “jantung” dari turisme keseluruhan pulaunya. Sejujurnya, pantai ini adalah satu-satunya alasan aku pergi ke Sint Maarten tahun lalu. Tanpa itu, kemungkinan besar aku sudah akan memilih destinasi yang lain. Dan sejujurnya, aku juga ikut “menikmati” mengalami tiupan jet blast-nya juga tahun lalu. Dan jet blast-nya adalah yang “keren” karena merupakan jet blast dari sebuah pesawat Boeing 747-400nya KLM yang sedang lepas landas. Dan tiupannya itu beneran kencang banget loh!!

Aku harus berpegang erat ke pagarnya waktu itu; begitu pula banyak pengunjung lainnya. Untungnya, kami semua baik-baik saja. Namun beberapa hari kemudian, ketika papaku juga ingin mencoba jet blast-nya, seorang turis jatuh terdorong jet blast ke bagian batu-batu karang di pantainya sehingga ia terluka parah banget dan harus dibawa ke rumah sakit. Sepertinya ia meremehkan kekuatan jet blast-nya. Menurut cerita papaku, si orang ini justru malah berdiri di atas blok beton yang sempit di pinggir jalan di Pantai Maho dan menghadap ke landasan pacunya. Di belakangnya adalah batu-batu karang Pantai Maho. Jadilah ketika jet blast-nya menampik dirinya, ia langsung kehilangan keseimbangan dan terdorong ke belakang ke arah batu-batu tersebut.

Nah kan, aku jadi hanya ingin bilang: adanya beberapa papan larangan di keseluruhan pantai menunjukkan potensi risiko yang nyata, jadi tolong berhati-hati gitu dan gunakan akal sehat ketika pergi ke sana.

Jet blast dari sebuah MD83; lihat apa yang terjadi ke orang-orang ini kan?

Dan tentang orang yang melempar bola ke pesawat itu. Aduh, aku sih hanya berharap semua orang itu “paham” akan potensi risiko dan konsekuensi dari tindakannya terhadap orang lain ya! Apalagi yang bisa berurusan dengan nyawa begini!

Bakal sayang banget jika Pantai Maho harus ditutup. Tapi aku nggak yakin akan ditutup sih karena pantai ini, seperti yang kubilang, berperan sebagai roda turisme, yang mana artinya juga ekonomi, dari pulau ini. Tapi tetap aja lah ya…

Sebuah Airbus A340-300nya Air France mendarati di Bandara Internasional Princess Juliana di Sint Maarten.

#1969 – Photo Tales (43)

ENGLISH

The theme of this Photo Tales post is some side stories of my impulsive weekend trip in July 2017 to watch Venus Williams’ singles match at the final of Wimbledon. The main story of this series can be found at the following links:
1. Introduction
2. Part I: Getting to London and Back
3. Part II: Wimbledon 2017

Photo #95

Venus (Shave)

As I already mentioned above, Venus Williams was the reason of this impromptu trip to London. And so I found it funny when I saw these shaves by Gillette being marketted as “Venus” at the on-board store in the ferry boat I took from Hoek van Holland to Harwich. I felt like the universe “knew” and so this coincidence 😛 .

Photo #96

A new Oyster Card

Anyway, during a similar impromptu weekend trip to Wimbledon two years prior, where I witnessed Serena Williams completing her second Serena Slam, I accidentally lost the Oyster Card I bought five years ago. And because I will definitely go back to London, I decided to buy a new Oyster Card this time, pictured above. To be honest, I was a little bit disappointed that it looked more “plain” than the colorful one I bought five years ago, haha 😆 .

Photo #97

Yeay, electric plugs!

The last-minute nature of the trip meant higher risk of me forgetting something. And unfortunately, I did forget something this time: my adapter. You see, the UK uses a different plug type than the rest of Europe (So annoying, I know!). And so not bringing an adapter with me made my life a little bit more difficult there. But fortunately, the hotel I stayed in provided several different plug types, even a USB one, which I found extremely useful!! I was really glad I chose to stay at this hotel! Haha 😆

BAHASA INDONESIA

Tema posting Photo Tales kali ini adalah beberapa cerita sampingan dari perjalanan dadakanku di bulan Juli 2017 untuk menonton pertandingan tunggalnya Venus Williams di finalnya Wimbledon. Posting-posting utama dari seri ini bisa dibaca melalui tautan-tautan berikut:
1. Introduction
2. Part I: Getting to London and Back
3. Part II: Wimbledon 2017

Foto #95

Venus (Cukur)

Seperti yang kusebutkan di atas, Venus Williams adalah alasan aku pergi dalam perjalanan dadakan ke London ini. Makanya aku merasa lucu ketika melihat cukurnya Gillette yang dipasarkan dengan nama “Venus” ini di toko di dalam kapal ferry yang kunaiki dari Hoek van Holland ke Harwich. Aku merasa kok alam semesta ini “tahu” sehingga kebetulan ini terjadi, haha 😛 .

Foto #96

Oyster Card baru

Anyway, di perjalanan akhir pekan serupa ke Wimbledon dua tahun sebelumnya, dimana aku menyaksikan Serena Williams mencetak Serena Slam keduanya, tak sengaja kartu Oyster Card-ku yang kubeli lima tahun yang lalu hilang. Dan karena toh aku pasti akan kembali lagi ke London, aku memutuskan untuk membeli Oyster Card yang baru kali ini, yang kufoto di atas. Sejujurnya, aku sedikit kecewa soalnya disain Oyster Card ini nampak “biasa” banget alias terlalu polos gitu jika kubandingkan dengan yang berdisain warna-warni yang kubeli lima tahun lalu, haha 😆 .

Foto #97

Hore, colokan listrik!

Namanya perjalanan dadakan, artinya ada risiko lebih tinggi untukku kelupaan sesuatu. Dan sayangnya, aku beneran kelupaan sesuatu kali ini: adaptorku. Jadi ceritanya Inggris Raya itu kan menggunakan colokan yang modelnya berbeda dari semua negara Eropa lainnya gitu kan ya (Nyebelin memang!). Jadilah tidak membawa adaptor itu membuat hidupku agak sedikit lebih repot di sana, haha. Tetapi untungnya hotel tempatku menginap memiliki colokan listrik dengan beberapa tipe loh, bahkan ada colokan USB segala, yang mana sangat amat berguna untukku!! Aku lega banget deh aku memilih untuk menginap di hotel ini! Haha 😆 .

#1958 – Photo Tales (42)

ENGLISH

The theme of this Photo Tales post is my latest experiments in the kitchen!

Photo #93

A duck fillet steak experiment

My long weekend trip to Lyon gave me a kitchen experiment inspiration for a duck fillet steak. At the time it hit me how I could never think about it as it appeared not very complicated!

While the cooking part was not that complicated, indeed; the grocery shopping part was, haha 😆 . It appeared to me that duck meat was not *that* popular here in the Netherlands. I mean, the supermarket sold it; but it was not as “visible” and “plenty” as the other types of meat. As I could not find it in my first attempt, I resorted to Google to find out that the supermarket only sold one “type” of duck fillet. It was boxed and was put in a special chiller for boxed stuffs, haha. It certainly made the meat look more “premium”, though, and this might partly explain the price, haha.

Anyway, I liked it! Though I am not sure if I am going to cook it that often, due to the higher proportion of fat (thanks, my nutrition app). Even though this might be because of the skin; in which case the fat would not be a problem if I just ignored the skin. But you know, ignoring a crispy skin on your plate in front of you sounds like a difficult thing to do, haha 😆 .

Photo #94

A high protein meal experiment

Speaking of the nutrition app, aside from reducing my consumption of fat, I am also trying to increase my consumption of protein. And this motivated this experiment to cook the pictured high protein meat, haha.

Lean red meat is obviously low in fat and is delicious for a steak, so that is a given. And then we all know that tempe (I know it is spelled “tempeh” in English but it just feels weird for me to type so. So I am typing it in the original Indonesian spelling here 😛 ) is rich in protein. And before I moved to Amsterdam, my ex-housemate told me about the existence of this “bimi” vegetables, which is a hybrid between brocolli and kailan and also has high amount of protein.

Surprisingly (or not?), the dish worked well!! 😀 For this one, though, I am sure I am cooking this more often (at least more often than the duck fillet dish 😛 ).

BAHASA INDONESIA

Tema dari posting Photo Tales kali ini adalah percobaanku akhir-akhir ini di dapur!

Foto #93

Percobaan steak filet bebek

Perjalanan akhir pekanku ke Lyon memberiku inspirasi untuk mencoba memasak steak filet bebek. Waktu itu, aku cukup heran mengapa aku tidak pernah kepikiran sebelumnya karena nampaknya masakan ini tidak begitu sulit untuk dibuat!

Walaupun memang bagian masakanya nggak begitu rumit; ternyata justru bagian belanjanya yang agak rumit, haha 😆 . Ternyata daging bebek itu nggak begitu populer di Belanda. Maksudku, memang sih dagingnya dijual di supermarket; tetapi nggak begitu “kelihatan” dan “banyak” seperti tipe-tipe daging lainnya gitu. Karena gagal menemukannya di usaha pertamaku untuk membelinya, aku meng-google-nya dan ternyata supermarketnya cuma menjual satu “jenis” filet bebek. Filet ini dibungkus dalam kotak dan ditaruh di satu chiller khusus bersama dengan daging-daging kotakan lainnya, haha. Memang sih ini membuat dagingnya nampak lebih “premium” dan mungkin ini sedikit menjelaskan harganya, haha.

Anyway, tapi aku suka! Walaupun aku nggak yakin sih aku akan sering-sering memasaknya karena tingginya kandungan lemak (thanks, app nutrisiku). Walaupun mungkin ini disebabkan oleh kulit bebeknya sih; yang mana jika demikian artinya tidak akan masalah jika kulitnya aku abaikan. Tapi tahu lah, susaaah untuk mengabaikan kulit crispy yang tersaji di piring di depan kita kan, hahaha 😆 .

Foto #94

Percobaan menu kaya protein

Ngomingin app nutrisi, di samping mengurangi konsumsi lemak, aku juga berusaha meningkatkan konsumsi protein. Dan ini memotivasiku untuk memasak makanan kaya protein di foto di atas, haha.

Daging merah rendah lemak jelas rendah kandungan lemaknya (menurut ngana? 😆 ) dan enak untuk dimasak steak. Dan kita tahu lah tempe itu kaya protein. Dan sebelum aku pindah ke Amsterdam, mantan housemate-ku memberi-tahuku mengenai keberadaan sayuran yang bernama “bimi”, yang merupakan hasil persilangan brokoli dan kailan dan memiliki kandungan protein yang tinggi.

Dan ternyata, aku juga suka masakan ini!! 😀 Nah, untuk yang ini, aku yakin aku akan memasaknya lebih sering sih (setidaknya lebih sering daripada steak bebek filet 😛 ).