Contemplation · Thoughts

#2019 – The Timing of Disruptions

ENGLISH

It is just a reality that anything will break once in a while, including the smoothness and reliability of the Dutch public transportation. And by “break”, I mean “disruptions”, haha.

While my logic would say that disruptions occur randomly, somehow my heart feels that they do not. In fact, they seem to likely more occur during the worst of time, i.e. the time I am “less okay” with them happening. For instance, when I am on my way to an important meeting, like my Instagram post above from earlier this year, haha πŸ˜† .

Not too long ago, it happened again. After work, I planned to do grocery at a supermarket (as I was running out of food at home) before going to a haircut appointment at a barbershop. I saw my tram at Amsterdam Centraal but it was just standing still for an abnormally long time; and so I immediately figured out that there was a disruption. I felt so annoyed by this. I mean, why did it need to happen today of all days, on the day when I had an appointment (Btw, I HATE to come late to an appointment; coming late is so untypical of me)? Haha πŸ˜† . Finally after waiting for about half an hour, the tram resumed its operation. But because of the delay, I had to drop my plan to the supermarket today and just went straight to the barbershop, where I was late for 15 minutes. That evening, I cooked my emergency instant noodles (read: Indomie πŸ˜› ) for dinner, haha πŸ˜† .

On a more serious note, though, what my heart “feels” might actually be biased. You see, encountering a disruption when I have an important agenda is certainly more “painful” than encountering a disruption when my time is flexible. My hypothesis is that the “pain” makes me “remember” the incident more, hence falsely “associating” the timing occurence of the incidents with the presence of an important appointment/meeting/etc. In other words, I “forget” that these incidents also happen on “less important” time. The lack (or lesser degree) of “pain” I feel at these time cloud these incidents in my mind.

Back to the delayed tram incident which forced me to be late for 15 minutes to my appointment and eat a bowl of Indomie that evening, I eventually learned about the cause of the disruption. This finding actually made me think about a different matter which deserves its own post for the next time, though πŸ™‚ .

BAHASA INDONESIA

Adalah suatu kenyataan bahwa segala sesuatu pasti akan rusak ya, termasuk kelancaran dan kehandalan transportasi umum di Belanda. Dan yang kumaksud dengan “rusak” jelas adalah “gangguan operasional”, haha.

Walaupun menurut logika yang namanya gangguan itu terjadi secara acak, entah kenapa hatiku merasa kemunculannya itu tidak acak. Malahan, rasanya gangguan itu lebih mungkin terjadi di waktu-waktu yang nggak banget, yaitu ketika aku sedang ada acara penting gitu. Misalnya, ketika aku sedang dalam perjalanan menuju sebuah meeting yang penting banget, seperti di posting Instagramku di atas dari awal tahun ini, aha πŸ˜† .

Belum lama ini, kejadian ini terulang kembali. Sepulang kantor, aku berniat berbelanja kebutuhanku di supermarket (kondisi stok bahan masakan/makanan di rumah sedang habis) sebelum pergi ke salon dimana aku sudah ada appointment untuk potong rambut. Aku lihat tramku sudah ada di Amsterdam Centraal tetapi tramnya cuma berhenti doang dalam jangka waktu yang tidak biasa lamanya; jadilah aku langsung menyadari bahwa sedang ada gangguan. Aku merasa sebal banget waktu itu. Maksudku, kok harus kejadiannya sekarang gitu, di waktu dimana aku ada janji (Btw, aku BENCI SEKALI datang terlambat ke sebua janji; datang terlambat itu bukan sifatku)? Haha πŸ˜† . Akhirnya, setelah menunggu selama setengah jam-an, tramnya beroperasi juga. Tetapi karena keterlambatan ini, aku harus membatalkan rencanaku ke supermarket dan langsung pergi ke salonnya, dimana aku terlambat 15 menit dari waktu appointment. Dan malam itu, aku harus mau tidak mau memasak dan makan makanan untuk situasi darurat: mi instan (baca:Β IndomieΒ πŸ˜› ) untuk makan malam, haha πŸ˜† .

Apa yang “dirasakan” hatiku itu mungkin bias loh sebenarnya. Jelas kan mendapatkan gangguan operasi semacam ini di waktu ketika aku sedang ada agenda penting itu lebih “menyakitkan” daripada mendapatkan gangguannya ketika jadwalku sedang fleksibel. Hipoteasku adalah “rasa sakit” ini membuatku “ingat” insiden ini, sehingga kekeliruan dalam bentuk “asosiasi” antara waktu kejadian insidennya dengan keberadaan acara penting jadi terbentuk. Dengan kata lain, aku “melupakan” gangguan-gangguan yang terjadi di waktu-waktu yang “lebih tidak penting”. Ketiadaan (atau rendahnya tingkat) “rasa sakit” yang kualami di waktu-waktu ini membuatku otakku mengabaikannya.

Kembali ke insiden gangguan tram yang membuatku terlambat 15 menit ke appointment-ku dan memaksaku makan Indomie saja malam itu, pada akhirnya aku mengetaui penyebab gangguannya. Informasi ini sebenarnya membuatku terpikir akan masalah lain yang layak kujadikan posting tersendiri. Tapi posting tersendiri ini untuk nanti saja sih πŸ™‚ .

Advertisements
General Life · Life in Holland · Zilko's Life

#2018 – The Second DST, Utrecht and Monday

ENGLISH

This post has sat in the Draft section for too long, since the beginning of November just after this year’s second DST, actually, haha. And so I figure it is time to publish it πŸ˜€ .

The somehow “negative” effect of the second DST this year.Β 

Speaking of the DST, normally the second DST is my favorite where, at the very least, there is no effect to me. This year, however, somehow it has been different. If anything, I feel like the DST has more of a “negative” effect on my daily life, which I found weird. After thinking about it for some time, I believe I have found an explanation for this, that actually is reasonable!

Up to two years ago, my life in the Netherlands was revolving around the university at this time of the year. Actually, my last second DST while in university was three years ago, because two years ago I was in India this time aroundΒ where DST was, of course, not observed, haha. And you probably know how life as a PhD in a (reputable) university was, haha. To me, I almost always worked at least until around 8 PM or so, when it was already dark anyway so there was no effect made by the DST, haha.

It was dark already anyway when I finished day at the university

Last year, while I already left university, I still lived in Delft and had to commute everyday to Amsterdam for work. At this time, the DST really helped a lot because before the DST, it was still dark when I left for work from Delft but after the DST, it became bright! It certainly lifted my mood and energy to start the day!

This year, however, the “brighter” morning did not matter because I could leave for work much later than when I was still in Delft. And so it was already bright anyway in my “morning” with or without the DST. The difference, however, was when I finished my day at work. Before the DST, I normally left my office before sunset so it was still quite bright outside. The DST, however, would mean that the exact same time would fall just after sunset, where it was already quite dark outside. And somehow, this made my day suddenly felt more “tiring” because (probably) unconsciously my brain thought I was suddenly working longer than usual, haha…

Oh well…

Utrecht and Monday, possibly not the best pair

Anyway, that week I also went to Utrecht to catch up with a friend. And here is one thing I learned from that.

It appeared to us that probably Monday was not the best day to eat out in Utrecht. Why? Because most restaurants were closed! Haha πŸ˜› You see, during the day I was googling for possible good restaurants to eat. I actually found a few, but only to find out that all of them were indeed closed on Monday! Haha…

I ended up having this iron steak that day.

Btw, yes, it is common for restaurants in the Netherlands to not open everyday (Chains are, of course, different). Usually they take one day of the week as a “day off”; but, of course, usually this day is not Friday or Saturday, arguably the “busiest” days for restaurants πŸ˜› . And it appears that Monday might be the slowest day for restaurant business in Utrecht and so many of them choose this day as their day off, hmm.

BAHASA INDONESIA

Posting ini sudah duduk manis di bagian Draft kelamaan nih, semenjak awal November setelah DST keduaΒ tahun ini, haha. Jadi aku rasa sudah waktunya untuk dipublikasikan lah ya πŸ˜€ .

Efek yang entah mengapa “negatif” dari DST kedua tahun iniΒ 

Ngomongin DST, biasanya DST kedua adalah favoritku dimana, setidaknya, DSTnya tidak berefek bagiku. Tetapi tahun ini, entah mengapa DST ini rasanya berbeda. Bahkan, aku merasa DSTnya justru memiliki efek “negatif” bagi kehidupan sehari-hariku, yang mana aku rasa aneh lho. Setelah kupikir-pikir sekian waktu, sepertinya aku sudah menemukan penjelasannya, yang mana masuk akal!

Hingga dua tahun yang lalu, hidupku di Belanda berkutat di sekitar universitas kan di waktu-waktu ini. Sebenarnya, DST kedua terakhirku ketika di universitas adalah tiga tahun yang lalu sih, karena dua tahun yang lalu kanΒ aku sedang berada di India di waktu iniΒ dimana DST tidak diberlakukan, haha. Dan tahu lah kehidupan sebagai mahasiswa PhD di universitas (ternama) itu kayak apa, haha. Untukku, aku hampir selalu bekerja sampai setidaknya jam 8 malam setiap hari, jadi ya toh memang sudah gelap juga sih ketika pulang dan DSTnya tidak mengubah apa pun, haha.

Toh sudah gelap ketika aku pulang dari kerjaanku di universitas

Tahun lalu, aku sudah meninggalkan universitas tetapi aku masih tinggal di Delft sehingga aku harusΒ nglaju setiap hari ke AmsterdamΒ untuk ngantor. Waktu itu, DSTnya membantu sekali karena sebelum DST, masih gelap dong ketika aku berangkat kerja dari Delft tetapi setelah DST, tiba-tiba suasananya jadi terang! Ini jelas mengangkat mood dan energiku untuk memulai hari kan ya!

Tahun ini, tapinya, pagi yang “lebih terang” tidak berefek karena aku toh bisa berangkat kerja lebih siang daripada ketika aku masih di Delft. Jadilah toh pagiku juga terus “terang” baik dengan ataupun tanpa DST. Namun, perbedaannya ada ketika aku pulang kerja. Sebelum DST, biasanya aku pulang kerja sebelum matahari terbenam sehingga di luar masih lumayan terang lah. Dengan DST, artinya waktu pulangku yang sama jadi berada setelah matahari terbenam, artinya di luar juga sudah gelap. Dan menurutku, ini tiba-tiba membuat hariku terasa lebih “melelahkan” karena (mungkin) alam tidak sadarku mengira bahwa aku bekerja lebih lama daripada biasanya dengan cara lembur, haha…

Yah…

Utrecht dan Senin, mungkin bukan kombinasi terbaik

Anyway, minggu itu aku juga pergi ke Utrecht untuk catch up dengan seorang temanku. Dan berikut ini satu hal yang kupelajari dari hari itu.

Kami baru sadar bahwa sepertinya hari Senin bukanlah hari terbaik untuk makan di luar di Utrecht. Mengapa? Karena kebanyakan restorannya tutup! Haha πŸ˜› Jadi ceritanya hari itu sebenarnya aku sudah googling beberapa restoran yang oke gitu. Aku menemukan beberapa, tetapi ternyata restoran-restoran itu tutup dong di hari Senin! Haha…

Pada akhirnya aku makan iron steak ini hari itu.

Btw, iya, lumrah kok bagi restoran-restoran di Belanda untuk tidak buka setiap hari (Kalau restoran chains mah lain cerita tentunya ya). Biasanya, mereka mengambil satu hari dalam seminggu untuk “libur”; tetapi tentu saja biasanya hari libur ini bukan hari Jumat atau Sabtu, yang mana hari “teramai” untuk restoran kan ya, haha πŸ˜› . Dan mungkin Senin adalah hari paling sepi untuk bisnis restoran di Utrecht sehingga kebanyakan dari mereka memilih hari ini sebagai hari libur, hmm.

Vacation · Indonesia Trip · Asia Trip · Southeast Asia

#2017 – Halo, Jakarta!

ENGLISH

This weekend, my November trip to Indonesia started. And, actually, at the moment I am in: Jakarta!

Jakarta in November

I am here only for one night, though, as I need to settle a customized suit fitting matter at a well-known tailor here, which I already did earlier today, haha. So yeah, indeed I am not here for a very long time, as tomorrow I am already flying off.

Speaking of Jakarta, now that I think about it, it has been awhile since the last time I was here, that was in August 2010 just two weeks before I moved to the Netherlands! At the time I was staying here also for only one night as a “pitstop” after coming back from a 10-day trip to China (the flight from Guangzhou arrived in the evening so we decided to spend a night in Jakarta). And because of that so it seemed that I did not bother to write about the Jakarta part on that trip in that post, haha πŸ˜› . But before that, my last documented trip to Jakarta was in May 2010.

Okay, since August 2010, I have travelled via Soekarno-Hatta International Airport a few times; but I don’t think those “count” because I did not leave the airport in each “visit”? Haha πŸ˜›

Anyway, this is all from now. At the moment I am suffering from a really bad jetlag and so hopefully I will recover from it soon, haha πŸ™‚ . And also, the internet connection is so friggin’ slow! Hahaha πŸ˜†

BAHASA INDONESIA

Akhir pekan ini, perjalanan bulan Novemberku ke Indonesia dimulai. Dan sebenarnya, sekarang ini aku sedang berada di: Jakarta!

Jakarta di bulan November

Aku cuma menginap semalam saja sih di sini, soalnya aku harus mengurus urusan fitting jas customized di sebuah penjahit yang terkenal di sini, yang mana sudah kulakukan tadi, haha. Jadi ya memang cuma sebentar aja, karena besok aku sudah terbang lagi.

Ngomongin Jakarta, kalau diingat-ingat lagi sekarang, sudah lumayan lama juga lho semenjak terakhir kali aku ke kota ini, yang mana adalah di bulan Agustus 2010Β hanya dua minggu sebelum aku berangkat ke Belanda! Waktu itu aku juga menginap semalam saja sebagai “pitstop” ketika kembali dari perjalanan selama 10 harian ke China (penerbangan dari Guangzhou waktu itu tiba di malam hari sehingga kami memutuskan untuk menginap semalam saja deh di Jakarta). Dan mungkin ini lah alasan mengapa kok bagian Jakartanya tidak aku tulis di posting-ku dulu itu, haha πŸ˜› .Tetapi sebelum itu, perjalananku ke Jakarta yang terakhir yang terdokumentasikan adalah di bulan Mei 2010.

Oke, semenjak Agustus 2010, aku sudah beberapa kali terbang melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta sih; tetapi ini mah nggak “dihitung” ya karena aku kan tidak meninggalkan bandaranya di “kunjungan-kunjungan” itu? Haha πŸ˜› .

Anyway, segini dulu aja deh untuk sekarang. Saat ini aku sedang menderita jetlag parah banget nih dan semoga aku segera recover darinya, haha πŸ™‚ . Dan juga, ini koneksi internetnya kok lemot banget yaa! Ahahah πŸ˜†

working life · Zilko's Life

#2016 – Some Recent Work Stories

ENGLISH

I notice that after more than a year now, I feel like the variety of my tasks at work has gradually become more diverse. Aside from my main function, there are other tasks which I have been asked or invited to do. Technically those are still parts of my position’s general responsibility anyway so it is not like I am being asked to do things I am not supposed to πŸ˜› .

And to me … so far I find it fun!

You see, of course having wider variety of tasks makes my job much less likely to ever become boring. Well, not that my main function is prone to ever becoming boring, as to me I find it challenging nonetheless. But I mean, having diversity in the type of tasks is also a type of challenge, no? πŸ™‚

Two challenges coming from this diversity, to me, is the ability to quickly “switch” my brain from one task to another, which are very different from each other, and good time management. I realize that time management is not solely about being able to fit as many tasks as possible within my work schedule, but also how to arrange my work effectively such that it allows me to “stream smoothly” between consecutive tasks, be it for my mind-sake (easier “brain switch”) and also physically (arranging two consecutive meetings with 5 minutes of break between them is a bad idea if the two meetings are in different buildings, for instance). This of course can be very tricky when the task is meeting with other colleagues, as we would often have to adjust our schedule to theirs too; which means sometimes compromise needs to be made, haha…

Two weeks ago I volunteered my team and myself to onboard a new hire into the company. My manager was quite surprised by this but he was actually happy that I took this initiative. I have never done this before, though, and so I am still kind of “in the dark” on how things would go to be honest, haha. And so this will certainly be a challenge, but I will try to do my best. I had a pleasant (despite rather “astray”, in a small way) onboarding experience last year; so I have the experience and a vision on how a good onboarding should go. I guess this is also my chance to implement that.

Yeah, so how is work? Well, it has been fun! πŸ™‚

BAHASA INDONESIA

Aku perhatikan bahwa setelah lebih dari setahun sekarang, aku merasa bahwa pekerjaanku di kantor menjadi semakin bervariasi. Di samping fungsi utamaku, ada beberapa tugas lain yang mana aku diminta atau diajak untuk mengerjakannya. Secara teknis sih tugas-tugas itu toh masih merupakan tanggung jawab umum dari posisiku juga sih jadi juga bukannya aku diminta melakukan tugas di luar kapasitasku πŸ˜› .

Dan … sejauh ini rasanya seru bagiku!

Jelas memiliki tugas yang bervariasi juga membuat peluang pekerjaanku menjadi membosankan semakin kecil. Ya bukannya fungsi utamaku rawan untuk menjadi membosankan sih, justru aku merasa fungsi utamaku itu sangat menantang dan seru. Tapi toh keberadaan tugas jenis lain toh juga lah sejenis tantangan juga kan ya? πŸ™‚

Dua tantangan besar yang muncul dari keberagaman ini, untukku, adalah kemampuan untuk dengan cepat “mengalihkan” pikiranku dari satu tugas ke tugas lain, yang sangat amat berbeda satu sama lain, dan manajemen waktu yang baik. Aku tahu bahwa manajemen waktu itu bukan sekedar kemampuan untuk dapat memasukkan sebanyak mungkin tugas ke dalam jam kerjaku, tetapi juga bagaimana mengatur pekerjaanku dengan efisien sehingga aku bisa “mengalir dengan mulus” di tugas-tugas yang berturutan, baik mulus untuk otak (“pengalihan” pikiran yang lancar) dan juga secara fisik (mengatur dua meeting dengan jeda 5 menit di antaranya tentu adalah ide yang buruk jika meeting-nya berada di gedung yang berbeda, misalnya). Ini tentu saja semakin kompleks lagi apabila tugasnya melibatkan meeting dengan kolega lain, karena sering kita harus menyesuaikan jadwal agar pas dengan jadwal mereka juga; yang mana berarti terkadang toh kita harus berkompromi juga, haha…

Dua minggu yang lalu aku menyuka-relakan timku dan aku untuk meng-onboard seorang karyawan baru ke kantor. Manajerku kaget dengan ini tetapi toh dia senang juga aku mengambil inisiatif ini. Aku belum pernah melakukan ini sih sebelumnya, jadi ya aku masih nggak tahu juga ini bakal bagaimana, haha. Jadi jelas ini akan menjadi sebuah tantangan yang baru, tetapi toh aku akan berusaha yang terbaik juga. Aku memiliki pengalaman onboarding yang baik tahun lalu (walaupun agak sedikit “terkatung-katung” sih dari satu sisi) jadi aku memiliki pengalaman dan visi bagaimana pengalaman onboarding yang baik itu seharusnya.Β Aku rasa ini adalah kesempatanku untuk mengimplementasikannya kan ya.

Ya, jadi gimana nih kerjaanku? Oh, seru banget! πŸ™‚

Indonesia Trip · Long Trip · Vacation

#2015 – November 2017 Big Trip (The Destination)

ENGLISH

I have mentioned it a few times that I have some big trips planned for this year, including my post this past Saturday where I mentioned that I have started packing for one that was coming soon. There are two big trips, actually; and now is the time to reveal the first of the two that will take place really soon.

So this November, I am going to: Indonesia!

Indonesia, here I come!

Last year I mentioned about my brother’s engagement party which I unfortunately must miss. Well, since then the wedding has been planned for this November. I knew that I would never, ever miss this one and so ever since I was told the date many months ago, I have been keeping my eyes on flight tickets to Indonesia at around the date, haha.

As the destination of this trip was definitely Indonesia, I knew that I would like to fly Garuda Indonesia to get there. Actually, at some point I almost gave up with this idea because I found the Garuda ticket to be expensive while I saw some interesting offers from Air France/KLM (one of which would be to fly Amsterdam – Paris – Singapore – Jakarta with KLM, Air France, and Garuda Indonesia, respectively, on the departure leg). But then, luckily not too long ago I found the trick with BookWithMatrix which provided me a Garuda ticket with only little fare difference with what Air France/KLM offered. So I quickly booked the ticket πŸ™‚ .

I am excited to fly long-haul with Garuda Indonesia again this year!

I also recently learned that Garuda would deploy their two-class Boeing 777-300ER to Amsterdam this winter. This means there would be a chance for me to possibly fly one of their latestΒ four Boeing 777-300ER (PK-GIH, PK-GII, PK-GIJ, and PK-GIK). This is certainly good for my logbook! Haha πŸ˜› And of course, me being me, I choose their non non-stop flight from Jakarta to Amsterdam on my way back, i.e. one with a transit in Singapore, haha.

I am wondering if Garuda still provides this transfer service (including a S$30 voucher, as you can see) during the short stop-over in Singapore for economy class passengers, though…

I am also lucky that my office acknowledges a close (direct) family’s wedding as a special event. This means that I get one extra special day off for this trip. This certainly helps, yeay! While on this, I will not stay in Indonesia for too long as I am constrained with my holiday allowance as I need to make some “room” for my other big trip, haha. And as I expect myself to be quite occupied with the wedding anyway, I am also not planning any other extended trips within Indonesia or the nearby region this time. Well, nonetheless I think I will appreciate some relaxing time in Indonesia πŸ™‚ .

Anyway, so, Indonesia, here I come (again)! πŸ™‚

Gili Air. Well, I am not going to Lombok this time. This photo is only for illustration purpose…

BAHASA INDONESIA

Sudah beberapa kali aku sebutkan di sini bahwa aku telah memiliki beberapa rencana untuk perjalanan besar tahun ini, termasukΒ posting-ku Sabtu kemarinΒ dimana kusebutkan bahwa sebenarnya aku sudah mulai packing untuk satu yang akan segera datang. Ada dua perjalanan besar, sebenarnya; dan saat ini adalah waktunya untuk mengungkapkan identitas tujuan yang pertama dari dua itu yang akan segera berlangsung.

Jadi, di bulan November ini aku akan pergi ke: Indonesia!

Indonesia, aku datang!

Tahun lalu aku sebutkan mengenai pesta pertunangannya adikku yang mana dengan sangat menyesal harus aku lewatkan. Nah, jadi ceritanya semenjak waktu itu, tanggal pernikahannya sudah ditetapkan yaitu di bulan November ini. Dan jelas dong aku tahu aku tidak akan mungkin melewatkan acara ini sehingga semenjak aku diberi-tahu tanggalnya berbulan-bulan yang lalu, aku langsung mulai memasang mata untuk tiket ke Indonesia di sekitar tanggal itu, haha.

Karena tujuan dari perjalanan ini jelas adalah Indonesia, aku tahu bahwa jika memungkinkan aku ingin terbang dengan Garuda Indonesia kesana. Nah sebenarnya, aku nyaris menyerah lho dengan keinginan ini karena aku merasa harga tiketnya Garuda mahal sementara aku melihat penawaran yang oke dari Air France/KLM (yang mana salah satunya adalah di rute Amsterdam – Paris – Singapura – Jakarta dengan KLM, Air France, dan Garuda Indonesia, berturutan di penerbangan keberangkatan). Tetapi kemudian, untungnya tidak seberapa yang lalu aku menemukan trik dengan BookWithMatrix yang memberikanku tiket Garuda yang beda harganya tidak banyak dari penawarannya Air France/KLM. Jadilah tiketnya langsung aku beli πŸ™‚ .

Aku senang karena aku akan terbang jarak-jauh lagi dengan Garuda Indonesia tahun ini!

Juga, aku baru-baru ini tahu bahwa ternyata Garuda akan mengirimkanΒ pesawat Boeing 777-300ER yang dikonfigurasi dua kelasΒ ke Amsterdam di musim dingin ini. Ini artinya ada kemungkinan bagiku untuk terbang dengan salah satu dari empat Boeing 777-300ER terbarunya (PK-GIH, PK-GII, PK-GIJ, dan PK-GIK). Ini jelas berita baik untukΒ logbook-ku kan ya! Haha πŸ˜› . Dan jelas dong aku memilih penerbangannya mereka yang tidak non-stop dari Jakarta ke Amsterdam di penerbangan kepulangannya, yaitu penerbangan yang transit satu kali dulu di Singapura, haha.

Eh aku penasaran juga apakah Garuda masih memberikan layanan ini (yang mana termasuk voucher senilai S$30 seperti yang terlihat di atas) untuk penumpang transit di Singapura di kelas ekonomi.

Aku juga beruntung kantorku mengakui pernikahan keluarga dekat (inti) adalah event spesial. Ini artinya aku diberi satu jatah cuti ekstra loh untuk perjalanan ini. Lumayan lah ya, hore! Selagi ngomongin ini, perjalanan ini tidak akan berlangsung lama-lama amat sih karena aku dibatasi oleh jatah cuti dan juga aku harus “menyisakan ruang” untuk perjalanan besarku yang satunya kan, haha. Dan karena aku kira aku akan cukup disibukkan dengan urusan pernikahan ini, aku sendiri tidak merencanakan perjalanan lain di dalam Indonesia ataupun sekitarnya kali ini. Ah, toh aku rasa aku juga akan menikmati waktu bersantai di Indonesia kok! πŸ™‚

Anyway, jadi, Indonesia, aku datang (lagi)! πŸ™‚

Gili Air. Eh, aku nggak pergi ke Lombok kok kali ini. Foto ini cuma ilustrasi aja, haha…
EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#2014 – A Weekend in Newcastle

ENGLISH

I went to Newcastle last weekΒ for a short weekend getaway. And here is the story of this trip.

Getting to/back from Newcastle

At first, I was wondering whether to take KLM’s morning flight (departure at around 9 AM) or its noon flight (departure at around 12 PM) to get to Newcastle. However, after some considerations, that was heavily influenced by me not wanting to get up too early on Saturday morning πŸ˜› , I decided to take the latter. This flight was operated by a KLM Cityhopper’s Embraer 190 reg PH-EZS. Here is the landing video with PH-EZS at Newcastle International Airport:

For the returning flight, I took KLM’s last flight of the day that was operated by a Boeing 737-700 reg PH-BGN. This returning flight was delayed by around 40 minutes, though, apparently due to a technical problem with the original plane deployed for the flight to Newcastle from Amsterdam which prompted KLM to find a replacement aircraft. Anyway, both were pleasant regular short-haul flights with KLM.

A KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGN named “Jan van Gent” at Newcastle International Airport

Newcastle upon Tyne

I guess the “upon Tyne” part of the city’s name is to distinguish this Newcastle from “other” Newcastles, haha πŸ˜† . The name speaks for itself, though, the city, which also has a castle in it, lies on the bank of the River Tyne. This part of the city also happened to be my favorite part. You know, I like bridges and there are several cool bridges crossing the River Tyne in Newcastle, so it is a no brainer to me! Haha πŸ˜› .

The “Tyne” part of Newcastle upon Tyne

But Newcastle is, of course, more than just the “Tyne part”. To the north of the river is the old town area with cool European-styled buildings and quite some numbers of monuments. To the south of the river is Gateshead, a separate town which I found to be more modern architecturally.

A Newcastle selfie

On my second day in the city I decided to make use of theΒ Β£5 day-saver ticket which covered a very wide area of Newcastle and the surrounding, even to the Tynemouth and Sunderland area some 15-20 km away! Such a good deal if you ask me. For my route I decided to take the yellow line to the south of River Tyne to the village of South Shields. From there, I would cross the Tyne with a ferry crossing to the village of North Shields. I would then go to Tynemouth and after that back to Newcastle with the yellow line to the north of River Tyne. Such a fine plan, where everything also went smoothly!Β πŸ€“Β Btw, of course my day-saver ticket also covered the seven minutes ferry crossing.

The mouth of River Tyne in Tynemouth

Btw, Tynemouth was another place in the area whose name was literal. This town was located by the North sea and literally at the mouth of River Tyne, hence the name, “Tynemouth”. Well, I guess whoever naming it wasn’t feeling that creative that day, haha πŸ˜› . Anyway, Tynemouth turned out to be quite an interesting small town. There was a beautifully preserved castle by the sea and there was a weekend market going on every weekend at the Tynemouth metro station! I almost bought myself a painting at the market before I realized it would be quite some work to fit the painting into my backpack to bring it back to the Netherlands, haha…

Tynemouth Castle

Speaking of the food, unfortunately I did not have the opportunity to really explore it. I faced the same situation as I did in Cardiff back in September where it was pretty much almost impossible to get a seat at a popular restaurant without a reservation on a Saturday evening. So I ended up going to a world-themed restaurant inside a mall. Even then, the waitress warned me that they were so busy it might take some 40 minutes before my meal was ready. Actually I was still not that hungry at that point so this was actually perfectly fine for me as long as I could sit, haha. That evening I decided to order a lamb tagine with a Swedish cider which, a bit disappointingly, was served within 10 minutes only since I ordered, haha… . It was delicious!

A lamb tagine and a Swedish cider for dinner

Yeah, that was my short weekend trip to Newcastle. I did not go to any party in this party city so probably I still haven’t got the complete picture of the city, though. But overall it was still a fun weekend which I had in Newcastle anyway.

BAHASA INDONESIA

Aku pergi keΒ Newcastle akhir pekan minggu laluΒ untuk sebuah perjalanan singkat. Dan berikut ini ceritanya.

Pergi ke/kembali dari Newcastle

Awalnya, aku galau apakah aku akan terbang dengan penerbangan paginya KLM (keberangkatan jam 9an pagi) atau penerbangan tengah harinya (keberangkatan sekitar jam 12 siang) untuk pergi ke Newcastle. Namun, setelah beberapa pertimbangan, yang mana terutama adalah aku ogah bangun pagi-pagi amat di hari Sabtu πŸ˜› , aku memutuskan untuk mengambil penerbangan yang kedua. Penerbangan ini dioperasikan dengan sebuah Embraer 190nya KLM Cityhopper dengan rego PH-EZS. Berikut ini video pendaratannya PH-EZS di Bandara Internasional Newcastle:

Untuk penerbangan kembaliku, aku menaiki penerbangan terakhirnya KLM hari itu yang dioperasikan dengan pesawat Boeing 737-700 rego PH-BGN. Penerbangan kembali ini terlambat sekitar 40an menit, btw, yang mana ternyata dikarenakan masalah teknis di pesawat yang aslinya dijadwalkan untuk terbang ke Newcastle dari Amsterdam sehingga KLM harus mencari pesawat pengganti. Anyway, keduanya adalah penerbangan jarak pendek yang nyaman dengan KLM.

Sebuah Boeing 737-700nya KLM rego PH-BGN bernama “Jan van Gent” di Bandara Internasional Newcastle

Newcastle upon Tyne

Aku duga bagian “upon Tyne” dari nama kota ini adalah untuk membedakannya dari Newcastle-Newcastle “lainnya”, haha πŸ˜† . Maksud namanya mah jelas banget ya karena kotanya, yang mana di dalamnya juga terdapat sebuah kastil, terletak di pinggiran sungai Tyne. Kebetulan bagian ini dari kota ini jugalah favoritku. Ya gimana ya, aku kan memang suka jembatan dan ada beberapa jembatan keren yang membentang menyebrangi sungai Tyne di Newcastle, haha!

Bagian “Tyne” dari Newcastle upon Tyne

Tetapi tentu saja Newcastle itu lebih dari sekedar “bagian Tyne”-nya saja. Di sisi utara sungainya terdapat area kota tua kece dengan bangunan-bangunan ala Eropa dan beberapa monumen. Di sisi selatan sungainya adalah Gateshead, sebuah kota terpisah yang mana bagiku nampak lebih modern secara arsitektur.

Newcastle selfie

Di hari keduaku di sana, aku memutuskan untuk menggunakan tiket harian Β£5 yang mencakup area yang luas di Newcastle dan sekitarnya, bahkan termasuk area Tynemouth dan Sunderland yang berjarak sekitar 15-20an km dari Newcastle! Lumayan deh menurutku. Untuk ruteku, aku memutuskan untuk menaiki metro jalur kuning di sisi selatan sungai Tyne menuju desa South Shields. Dari sana, aku akan menyeberangi sungai Tyne dengan kapal feri menuju desa North Shields. Kemudian aku akan pergi ke Tynemouth sebelum kembali ke Newcastle dengan metro jalur kuning di sisi utara sungai Tyne. Rencana yang oke banget dah, dan pas pula semua berlangsung lancar! πŸ€“Β Btw, tentu saja tiket harian itu juga mencakup biaya penyeberangan dengan kapal ferinya.

Hilir sungai Tyne di Tynemouth

Btw, Tynemouth adalah satu tempat di daerah sana dengan nama yang literal juga. Kota kecil ini terletak di tepian Laut Utara dan berada tepat di hilir (mouth) sungai Tyne, makanya namanya “Tynemouth”. Aku duga sih siapa pun yang dulu menamainya lagi nggak kreatif kali ya hari itu, haha πŸ˜› . Anyway, Tynemouth ternyata adalah kota kecil yang menarik lho. Ada kastil tua yang terawat dengan indah di tepian pantainya dan ada pasar akhir pekan setiap minggu di stasiun metro Tynemouth! Aku sendiri nyaris membeli sebuah lukisan sampai kemudian ingat gimana cara membawa lukisannya kembali ke Belanda dengan tas ranselku, haha…

Kastil Tynemouth

Ngomongin makanan, sayangnya aku tidak berkesempatan untuk banyak mencobanya. Aku menghadapi situasi yang sama seperti di Cardiff September laluΒ dimana nyaris mustahil untuk bisa mendapatkan kursi kosong di restoran yang populer di malam Minggu. Jadilah aku akhirnya makan di restoran bertemakan dunia di dalam sebuah mall. Walaupun begitu, pelayannya memperingatkanku lho bahwa mereka sedang sibuk sehingga bisa jadi pesananku baru siap 40 menit kemudian. Sebenarnya pas waktu itu aku juga belum lapar-lapar banget sih sehingga malah beneran dong ya selama aku bisa duduk, haha. Malam itu aku memutuskan untuk mencoba menu lamb tagine dan minum Swedish cider yang mana, sedikit mengecewakannya, disajikan dalam waktu 10an menit saja semenjak aku memesannya, haha… . Kalau masalah rasa sih enak!

Sebuah lamb tagine dan Swedish cider untuk makan malam.

Ya, itu lah cerita perjalanan akhir pekanku ke Newcastle. Aku tidak pergi ke party apa pun sih di kota party ini sehingga mungkin aku masih belum mendapatkan pengalaman komplit akan kota ini. Tetapi secara keseluruhan aku menikmati waktuku di Newcastle kok.

General Life · Random Thoughts · Zilko's Life

#2013 – 11 November, Today and 18 Years Ago

ENGLISH

11 November 2017

So today is 11 November 2017, a Saturday. Today has been a quiet and uneventful day for me. Partly because the Dutch weather has not been very kind today, though it was typical Dutch Fall, haha. But also partly because I have decided to use today as my resting day πŸ˜€ . I was actually able to get a good nap this afternoon, yeay! Hahaha πŸ˜† .

Even so, I still managed to get a few things done today. I got a haircut in the morning and stopped by at a supermarket to buy stuffs that have been running out at home. I have also started packing for a big trip that is coming really soon πŸ˜‰ . On top of that, this evening I have just finished watching Endgame, the last episode of Star Trek: Voyager which I have been remarathoning in the past two or three months! πŸ˜› Okay, granted, there are a few episodes which I have chosen to skip along the way, though, but there were not many πŸ˜› .

So yeah, despite being a quiet and uneventful day, somehow I feel like today has been quite productive! πŸ˜›

11 November 1999

Anyway, speaking of 11 November, for whatever reason this date has stuck out more in my memory than any other “ordinary” dates. And I am quite sure it was caused by a random event happening exactly 18 years ago in 1999.

11 November 1999. Source: https://www.dayoftheweek.org/date-scroll/Thursday-11-November-1999-tcef0f1fb0d2599de1ffc62e4cba331364e0bc8e1ccda3749bea124ac16a44c08k-lq.png

I still remember that it was a Thursday; and my memory of that day is only of a few minutes time window some time in the afternoon. I had my extra out-of-school English class after school time that day. As usual, I made some notes during the class which, as a habit which I generally still have up to now which apparently I have developed since two decades ago πŸ˜› , I wrote the date on the top of the page of my notebook that day.

I remember thinking I was writing a lot of consecutive “1”s for the date and it would be the last time I would be able to do so (11-11-1999). Somehow, this thought is preserved in my brain up to now; and also vaguely the general surrounding at the time. I was sitting in a class with 10-15 other children on a chair with white writing pad, circling a room with an English teacher in front.

I know, it is quite a random memory. But that is the point. I find it interesting that a random day-to-day memory like this, without anything else seemingly “special” going on that day, somehow is preserved in my mind! Haha πŸ˜›

BAHASA INDONESIA

11 November 2017

Hari ini adalah 11 November 2017, sebuah hari Sabtu. Hari ini adalah hari yang tenang dan uneventfulΒ untukku sih sebenarnya. Setengahnya memang karena cuaca Belanda yang kurang bersahabat hari ini, ya memang begini sih yang namanya tipikal musim gugur di Belanda, haha. Tetapi juga setengahnya karena memang aku telah memutuskan untuk menggunakan hari ini untuk beristirahat πŸ˜€ . Tadi siang bahkan aku bisa tidur siang dengan nyenyak loh, hore! Hahaha πŸ˜† .

Walaupun begitu, aku masih tetap bisa menyelesaikan beberapa hal sih hari ini. Tadi pagi aku potong rambut dan mampir di supermarket untuk membeli beberapa barang yang stoknya di rumah sudah habis. Aku juga mulai packing untuk sebuah perjalanan besar yang akan segera datang πŸ˜‰ . Di atas itu semua, malam ini aku menonton Endgame, episode terakhir dariΒ Star Trek: VoyagerΒ yangΒ sudah aku tonton ulangΒ di dua hingga tiga bulan belakangan ini! πŸ˜› Oke, memang sih sebenarnya ada beberapa episode yang sengaha aku loncati, tetapi nggak banyak kok πŸ˜› . i

Jadi, ya, walaupun dibilang hari tenang dan uneventful, toh secara umum aku masih merasa hari ini cukup produktif! πŸ˜›

11 November 1999

Anyway, ngomongin 11 November, entah untuk alasan apa tanggal ini mencuat unik loh di ingatanku dibandingkan tanggal-tanggal “biasa” lainnya. Dan aku cukup yakin ini disebabkan sebuah event acak yang terjadi tepat 18 tahun lalu di tahun 1999.

11 November 1999. Sumber: https://www.dayoftheweek.org/date-scroll/Thursday-11-November-1999-tcef0f1fb0d2599de1ffc62e4cba331364e0bc8e1ccda3749bea124ac16a44c08k-lq.png

Aku masih ingat hari itu adalah hari Kamis; dan ingatanku ini adalah dari jendela waktu sekian menit di siang harinya. Hari itu aku ada kelas les tambahan bahasa Inggris setelah jam sekolah. Seperti biasa, aku menulis beberapa catatan di kelas hari itu dimana, seperti kebiasaan yang masih aku miliki hingga saat ini yang mana ternyata sudah aku bentuk semenjak dua dekade yang lalu πŸ˜› , aku menuliskan tanggal hari itu di atas halaman notebook-ku.

Aku ingat waktu itu aku menulis banyak angka “1” yang berurutan dan kali itu adalah terakhir kalinya aku akan bisa menulisnya seperti itu (11-11-1999). Entah mengapa, pikiran itu tersimpat di dalam otakku hingga hari ini; yang mana juga membuatku sedikit ingat suasana hari itu. Aku duduk di sebuah kursi bersama 10-15an anak lainnya yang dilengkapi dengan writing pad berwarna putih, duduk melingkar di dalam ruangan dengan seorang guru bahasa Inggris di depan.

Iya, iya, memang ingatan yang random banget kok ini. Tapi justru di sini lah poinnya. Aku merasa menarik juga bahwa ingatan sehari-hari biasa yang random seperti ini, tanpa apa pun yang “spesial” yang terjadi di hari itu, kok bisa-bisanya masih teringat hingga saat ini! Haha πŸ˜› .