General Life · working life · Zilko's Life

#1956 – Some Stories This Week

ENGLISH

A Team Outing

On Tuesday, my team organized a team outing, which I obviously joined. I was quite excited because I had to miss the previous opportunity due to a power outage which crippled the entire Dutch railway network. Mind that back thenย I was still living in Delftย and obviously the power outage had to happen on that day of all time, haha ๐Ÿ˜† .

Anyway, the activity for the team outing this time was a GPS augmented reality city game in Amsterdam. We were split into several (six) teams and each team was given an iPad and a bag of tools to solve several puzzles. The puzzles were spread throughout the city of Amsterdam and we had to physically go these spots as indicated in the map. In some sense it was like a combination ofย Pokemon Goย and The Amazing Race, haha ๐Ÿ˜† . The teams were also competing against each other and we also could check our current standing at any time, haha.

It was fun! Though we (my team) felt like we were being cheated because the answer of one puzzle was wrong gramatically, so our grammatically correct answer was marked as wrong. Though, to be fair, every team got the same set of questions so at least it was wrong for everyone, haha. My team did not do quite well during the game, so our goal was not to come in last. And in the end, we came in fifth, which had it been a leg on The Amazing Race, at least we would have not gotten eliminated, hahaha ๐Ÿ˜† .

A team outing like this was fun, though. Beside the, obviously, fun, I felt like I could learn about the characters and personalities of some of my team members, hehe ๐Ÿ™‚ . I felt like I could get to know them better.

A haircut

Anyway, it has been more than two months since I got a haircut so it was time for another one. I felt like my hair had been a bit too long anyway.

Actually, a few weeks back I got a flyer in my mailbox about a new barbershop ย that was giving away some discount. But I did not feel like trying a new place this time, plus I really liked the last result of the other barbershop. So I decided to come back. This time, though, I learned from my last visit and made an appointment online since a few days before so I wouldn’t need to wait for too long, haha.

I am satisfied with the result, again, but of course no photo (yet ๐Ÿ˜› ). Though, this second trip to the barbershop makes me miss the “complimentary” head massage in many Indonesian barbershops when you get your hair washed, haha. In this barbershop, hair wash is already included in the price (whereas in my previous favorite barbeshop in Den Haag, it was separate and I always chose not to use it, haha ๐Ÿ˜› ). But from my two visits (and based on some people’s stories in other barbershops here), it appears that hair wash means only hair wash, here. No head massage, haha ๐Ÿ˜› .

BAHASA INDONESIA

Sebuah Team Outing

Di hari Selasa, timku mengadakan acara team outing, yang mana jelas aku ikutan. Aku cukup bersemangat soalnya aku kan terpaksa melewatkanย kesempatan sebelumnyaย karena padamnya listrik yang melumpuhkan jaringan kereta api Belanda. Waktu itu kanย aku masih tinggal di Delftย dan jelas dong ya mati lampunya harus terjadi di hari team outing bukannya di waktu lain kek, haha ๐Ÿ˜† .

Anyway, aktivitas team outing kali ini adalah permainan augmented reality dengan GPS di Amsterdam. Kami dibagi ke beberapa (enam) tim dan masing-masing tim diberikan sebuah iPad dan satu tas berisi barang-barang untuk memecahkan beberapa teka-teki. Nah, teka-tekinya tersebar di seluruh penjuru Amsterdam gitu dan kami harus berjalan-kaki menuju lokasi-lokasinya yang ditunjukkan di peta. Yaa, kurang lebih seperti kombinasiย Pokemon Goย dan The Amazing Race lah, haha ๐Ÿ˜† . Tim-tim ini juga berkompetisi satu sama lain dan kami juga bisa melihat posisi sementara di setiap waktu, haha.

Seru! Walaupun kami (timku) merasa sedikit tercurangi sih karena satu jawaban dari teka-tekinya itu salah dong secara tata bahasa, jadilah jawaban kami yang bertata-bahasa benar justru dianggap salah! Walaupun, untuk fair-nya sih, setiap tim mendapatkan set pertanyaan yang sama sehingga setidaknya kesalahan ini juga diderita semua tim, haha. Timku tidak bermain dengan begitu baik kali ini, jadilah tujuan kami adalah jangan sampai menjadi tim yang paling terakhir. Dan akhirnya, kami menyelesaikan permainan ini di urutan kelima. Yah, setidaknya andaikata ini satu leg The Amazing Race, yang penting kami nggak akan tereliminasi lah ya, hahaha ๐Ÿ˜† .

Acara team outing ini memang seru. Selain keasyikannya, aku juga merasa aku bisa lebih membaca karakter dan kepribadian beberapa anggota timku yang lain, hehe ๐Ÿ™‚ . Ya rasanya jadi lebih kenal gitu.

Potong rambut

Anyway,ย sudah lebih dari dua bulan semenjak aku potong rambut sehingga sudah saatnya untuk potong lagi lah ya. Memang toh rasanya rambutku sudah agak panjang nih.

Sebenarnya, beberapa minggu yang lalu aku mendapatkan brosur di kotak posku yang berisi iklan sebuah salon baru yang sedang memberikan diskon. Tetapi aku sedang malas untuk mencoba tempat baru kali ini, apalagi aku juga suka hasil potong salonku yang sebelumnya. Jadilah aku memutuskan untuk kembali ke salon yang kemarin aja. Kali ini, aku belajar dari pengalaman waktu itu dimana aku sudah membuat janji dulu online semenjak beberapa hari sebelumnya sehingga aku nggak perlu menunggu lama, haha.

Aku cukup puas dengan hasilnya, tapi jelas belum foto-foto ๐Ÿ˜› . Walaupun kunjungan keduaku ke salon ini membuatku kangen akan pijat kepala “gratisan” yang diberikan di banyak salon di Indonesia sih ketika rambut kita dicuci. Di salon ini, cuci rambut sudah termasuk di dalam harga potong rambutnya (sementara di salon favoritku yang sebelumnya di Den Haag, cuci rambut itu terpisah dan aku selalu memilih untuk tidak cuci rambut, haha ๐Ÿ˜› ). Nah, dari dua kunjungan ini (dan berdasarkan cerita beberapa teman lain di salon-salon lain), kayaknya di sini ya cuci rambut itu ya berarti cuci rambut doang. Nggak ada deh itu yang namanya pijat kepala, haha ๐Ÿ˜›

working life · Zilko's Life

#1955 – Some June Stories from Work

ENGLISH

In general, we in the Netherlands were quite lucky with the weather in June where there were quite many days with great summer weather! This was perfect because there were several summer events organized by my office in June which became much more fun with the summer weather ๐Ÿ˜€ .

A Day Out

My department organized a Day Out on a Friday in mid-June. The event was held in Westergasfabriek, a former gasworksfactory that is now used to host events, which was really, really cool!! ๐Ÿ˜€ For instance, here is how the main presentation room looked like:

Westergasfabriek

The day was filled with presentations (ranging from the very serious business-related presentations to the more relaxed working-environment-related presentations), which I found interesting and useful.

The presentations were followed with a big pub quiz, where we were randomly assigned to a team (in total there were about 170 teams). Of course there were some prizes for the winner (including a trophy, haha). My team finished the quiz ranked 17th, not bad, I guess, haha.

Obviously they had to ask the classic Monty Hall problem, which I hit a homerun on obviously *looking at my Bachelor’s, Master’s, and Doctoral’s diplomas* ๐Ÿ˜›

And to close the day was a barbeque for dinner, which was quite nice (especially the chicken that was really good!).

BBQ

Speaking of barbeque, some of my colleagues decided to organize another barbeque event to enjoy the (rare) summer weather. Unfortunately the timing did not work for me because I had to supervise the mini-renovation work I had in my apartment that time. Well…

Summer Party

And to top it all off, my office organized a summer party on the last Friday of the month! It was held literally after work, at the Kromhouthal, a former factory still “equipped” with the original steel-clad pillars and cranes (Yeah, there are so many cool places for events in Amsterdam! ๐Ÿ˜‰ ).

However, as I previously shared, my plan to attend the party was ruined because of a delivery. I had to miss the party and now I regret about it a lot because of my colleagues’ descriptions about it; that was awesome!! Well, but I guess I just need to suck it up as we can’t get everything we want in life anyway. Attending this party might be one of those for me, haha…

BAHASA INDONESIA

Secara umum, kami di Belanda cukup beruntung dalam hal cuaca di sepanjang bulan Juni dimana ada cukup banyak hari dengan cuaca musim panas yang oke! Ini pas banget karena kantorku juga mengadakan beberapa acara musim panas di sepanjang bulan Juni yang menjadi semakin asyik dengan cuaca musim panas itu ๐Ÿ˜€ .

Sebuah Day Out

Departemenku mengadakan sebuah Day Out di sebuah Jumat di pertengahan Juni. Acaranya diadakan diย Westergasfabriek, dulunya sebuah tempat pengelolaan gas gitu yang sekarang digunakan untuk mengadakan acara-acara, yang mana tempatnya kece banget!! ๐Ÿ˜€ Misalnya, berikut ini penampakan ruang presentasi utamanya:

Westergasfabriek

Hari itu dipenuhi oleh presentasi-presentasi (yang materinya bervariasi dari presentasi mengenai bisnis yang serius hingga yang lebih santai seperti misalnya tentang suasana pekerjaan di kantor), yang mana bagiku menarik dan berguna juga.

Setelah presentasi-presentasinya selesai, sebuah pub quiz diadakan, dimana secara acak kami dimasukkan ke dalam tim (totalnya ada sekitar 170an tim). Tentu saja ada hadiah bagi pemenang kuisnya (termasuk piala segala loh, haha). Pada akhirnya, timku mengakhiri kuis di posisi 17, lumayan lah ya, haha.

Jelas dong salah satu pertanyaannya adalahย masalah Monty Hallย yang klasik itu, yang mana jelas aku jawab dengan amat mudah *melirik ijazah S1, S2, dan S3-ku* ๐Ÿ˜›

Dan hari itu ditutup dengan barbeque untuk makan malam, yang mana lumayan oke juga (terutama barbeque ayamnya yang mana enak banget!).

BBQ

Ngomongin barbeque, beberapa kolegaku mengadakan acara barbeque sendiri gitu untuk menikmati cuaca musim panas (yang jarang itu). Sayangnya, waktunya kurang pas bagiku karena hari itu aku harus mengawasi pekerjaan renovasi mini di apartemenku. Yah…

Summer Party

Dan untuk mengakhiri itu semua, kantorku mengadakan sebuah summer party di hari Jumat terakhir bulan itu! Acaranya diadakan tepat setelah jam kerja, di Kromhouthal, sebuah tempat yang dulunya pabrik dan masih “dilengkapi” dengan pilar-pilar besi dan dereknya gitu (Iya, memang ada banyak banget tempat-tempat kece di Amsterdam untuk mengadakan suatu acara! ๐Ÿ˜‰ ).

Namun, seperti yang sebelumnya aku ceritakan, rencanaku untuk menghadiri summer party ini gagal total dikarenakan sebuah pengiriman barang. Aku harus melewatkan pestanya dan sekarang aku sungguh menyesalinya karena kolegaku bercerita bagaimana seru acaranya berlangsung!! Ah, aku rasa sebaiknya aku move on aja karena toh nggak semua yang kita inginkan itu bisa kita dapatkan kan. Menghadiri pesta ini mungkin adalah salah satunya, haha…

Thoughts · Zilko's Life

#1954 – When A Delivery (Pretty Much) Ruined My Day

ENGLISH

Sometimes some things are just not meant to be. And the delivery day of my passport, with (hopefully) a UK visa in it after I submitted an application a few weeks prior, was one of those days, in a smaller first world problem scale, of course ๐Ÿ˜› . Here is the story of that day, where everything I had planned for got ruined.

I knew that I would need to allocate some time at home waiting for the delivery. This was a little bit tricky because it was a working day; but thankfully my office supported the possibility to work from home where I could connect to the office network by using some security tokens. I was, at first, fine with it because I thought it would not take that long, learning from my experience two years agoย when I was still in Delft. I mean, the online tracking system mentioned my passport had been in Amsterdam since like 7 AM that day. So if back then it could be delivered to Delft by around lunch time, then shouldn’t it be delivered to my current place in Amsterdam sooner?

There might be a thought where I should probablyย have filled myย office address as the deliveryย so I would not really need to worry about it that much. To be honest, I did not think about this when applying;ย partly also because of the uncertainty on when the delivery would take place (Also, I am not 100% sure I could have done that, I didn’t check; so this is assuming that was allowed). Indeed,ย during the day I had a little regret for not doing this. But eventually in this particular case it turned out it was good that I did not do that. I will reveal why really soon.

That morning, I got a message where the delivery would take place between 6 PM and 9 PM. Well, I had planned to go to a big summer party my office was organizing exactly at that time (until midnight, though). So I went online and requested for a time change. It turned out that it could still be delivered earlier that day (according to the system). However, what I am really frustrated about with the courier service here is the wide time window of a due delivery. ย It was said that it would, then, be delivered between 9 AM and 6 PM that day. I called the call center, and the lovely lady mentioned that my request had been recognized in the system and my passport would be delivered before 6 PM today. But you see, it covered literally the entire working hour of mine.

But fine, as per my experience, I was hoping it would be delivered early enough, preferably before lunch, and then I could go to my office to work and then to the summer party. However, that morning, the status of my delivery was put “on hold” (whatever that means), which I found really weird. By lunch time, this status still had not been changed. When the clock struck three, I still saw this status in the system.

A few minutes past three, finally the status was changed to “with delivery courier”. I breathed a sigh of relief. But actually, I should not. I was waiting, waiting, and waiting (and kept checking my window every other minutes), but noone came. Then it was 6 PM, still no delivery. I should have called the call centre at this point, but I did not. At 8 PM, my passport was still not with me. By this point, I called the call center only to find that it was already closed (its operational hour was only until 7 PM). Arrgghh!! ย Finally, by 8:30 PM, someone rang my door and said he was delivering a package for me. And yep, it was my passport.

But you see, it was 8:30 PM already when they did deliver it, meaning the time change I requested in the morning did not work at all. This was really annoying because this caused me to literally waste an entire day. Especially that at the time I was working on a mini side project at work with a due presentation at 4:30 PM that day. I had to miss that, though luckily I was working on a small team who could do the presentation without me. Thanks team! Also, this was why it was good I did not fill in my office address as the delivery address. I mean, 8:30 PM!

And by this time, I was so exhausted already, especially mentally, because of all the work and anxiety. The weather was also a typical Dutch weather today (a lot of cloud with occasional rain); so all in all I did not feel like going to the summer party. Well, it was already a few hours late anyway. though of course technically I could still go there. Now, my colleagues told me the party wasย super awesome and fun and wonderful that now I really regret not goingย ๐Ÿ˜ฃ.

Well, what can I say? I guess everything was just not meant to be working to my favors today. At the very least, I got my passport back safe and sound, plus with a new UK visa stamped in it.

***

Though, this whole experience did raise me a question. Why couldn’t an established logistics company providing courier service make a more precise delivery time window? I know this is a tough mathematical problem with a lot of varying variables. But still, as a customer, even having the day split into two parts (say before or after lunch), would have helped a lot!

But then, I remember a few months ago a colleague resignedย and moved to a big logistics company to “transform” it into a more data-driven one. So, I guess the current operational of the courier industry in general is still very “traditional”?ย Hmm…ย ๐Ÿค”

BAHASA INDONESIA

Terkadang beberapa hal itu memang tidak ditakdirkan untuk terjadi. Hari pengiriman pasporku, dengan (mudah-mudahan) visa UK tertempel di dalamnya setelah beberapa minggu sebelumnya aku mengajukan permohonan, adalah salah satu dari hari-hari itu, dengan first world problem dengan skala kecil tentunya ๐Ÿ˜› . Berikut ini cerita tentang hari itu, dimana semua yang telah aku rencanakan gagal total karenanya.

Aku tahu bawa aku perlu menyisihkan waktu di rumah menunggu pengirimannya. Ini sedikit tricky karena hari itu adalah hari kerja; tetapi untungnya kantorku mendukung kondisi untuk bekerja dari rumah dimana aku tetap bisa mengakses jaringan kantor dengan menggunakan beberapa security tokens. Tetapi toh, awalnya, aku tidak begitu mempermasalahkan ini berdasarkan pengalamanku dua tahun laluย ketika aku masih di Delft. Disebutkan di sistem online tracking-nya bahwa pasporku sudah berada di Amsterdam semenjak sekitar jam 7 pagi itu. Nah, kalau dulu pasporku bisa diantarkan ke Delft di sekitar jam makan siang, seharusnya sekarang bisa diantarkan ke tempatku di Amsterdam lebih awal dong ya?

Mungkin ada yang berpikir mungkin seharusnya aku mengisi alamat kantorku sebagai alamat pengirimanย sehingga aku nggak perlu pusing-pusing memikirkannya. Sejujurnya, waktu itu aku tidak terpikirkan hal ini; setengahnya juga disebabkan oleh ketidak-pastian kapan pengirimannya akan berlangsung (Juga, aku sekarang tidak yakin 100% aku bisa melakukannya sih, aku tidak mengeceknya; jadi ini dengan asumsi mengisi alamat pengiriman yang berbeda dari alamat tempat tinggal itu diperbolehkan). Memang, di hari itu aku sedikit menyesal aku tidak melakukannya. Namun, pada akhirnya ternyata justru beruntung lho aku tidak melakukannya. Ini akan aku jelaskan segera.

Pagi itu, aku mendapatkan pesan bahwa pengantaran akan dilakukan di antara jam 6 sore dan jam 9 malam. Waduh, aku sudah berencana untuk pergi ke sebuah summer party besar yang diadakan kantorku di jam itu (sampai tengah malah sih party-nya). Jadilah aku masuk ke website-nya untuk mengganti waktu pengiriman. Ternyata pengiriman masih bisa dilakukan lebih awal hari itu (menurut sistemnya). Namun, seperti bagaimana aku jengkel dengan pelayanan kurir di sini karena jendela waktu pengirimannya yang besar, ini juga terjadi. Dikatakan bahwa pasporku bisa diantarkan di antara jam 9 pagi dan jam 6 sore hari itu. Aku kemudian menelepon call center-nya untuk memastikan, dan petugasnya mengkonfirmasi bahwa permintaanku sudah diterima sistemnya dan pasporku akan diantarkan sebelum jam 6 sore. ย Tetapi tetap menjengkelkan kan, ini artinya kan meliputi keseluruhan jam kerjaku hari ini.

Tetapi nggak apa-apa lah, karena berdasarkan pengalamanku, aku berharap pengantarannya berlangsung cepat, mudah-mudahan sih sebelum makan siang; dimana setelahnya aku bisa pergi ke kantor dan kemudian ke summer partyย bersama kolega-kolegaku. Namun, pagi itu status barang kirimanku disebutkan “on hold” (entahlah artinya apa), yang mana nampak aneh untukku. Ketika jam makan siang, statusnya masih belum diubah. Ketika jarum jam menunjukkan angka tiga, statusnya masih sama.

Beberapa menit setelah jam tiga, akhirnya statusnya diubah menjadi “bersama kurir pengantar”. Aku bernafas lega. Yang mana seharusnya aku belum boleh lega ternyata. Aku menunggu, menunggu, dan menunggu (dan terus-terusan mengecek jendelaku setiap beberapa menit sekali), tetapi tidak ada seorang pun yang datang. Jam 6 sore, masih belum diantarkan juga! Seharusnya di waktu ini aku komplain ke call center-nya, tetapi aku tidak. Ketika sudah jam 8 malam dan masih belum diantar juga, aku baru menelepon call center-nya. Dan ternyata call center-nya sudah tutup dong (waktu operasinya hingga jam 7 malam saja). Arrghh!! ย Akhirnya, jam 8:30 malam, bel pintuku berbunyi juga dan dibilang bahwa ada paket untukku. Dan ya, paket itu berisi pasporku.

Tetapi jelas kan, sudah jam 8:30 malam ketika mereka mengantarkannya, artinya permintaan perubahan waktu pengantaranku pagi itu tidak diterima. Ini sungguh menjengkelkanku karena ini membuatku benar-benar membuang-buang waktuku selama satu hari. Apalagi waktu itu di kantor aku sedang mengerjakan sebuah proyek sampingan kecil yang mana mesti dipresentasikan jam 4:30 sore hari itu. Tentu aku tidak bisa hadir di presentasi itu, walaupun untungnya aku bekerja dalam tim kecil yang toh masih bisa presentasi tanpa aku. Trims tim! Juga, ini lah alasan beruntung aku tidak mengisi alamat kantorku sebagai alamat pengiriman. Ternyata jam 8:30 malam gitu!

Dan di waktu ini, aku sungguh merasa capek, terutama secara mental, akibat pekerjaan dan kegelisahanku. Cuaca hari itu kebetulan juga lah cuaca tipikal Belanda (berawan tebal dan kadang-kadang hujan); jadilah akhirnya aku merasa malas untuk keluar rumah dan pergi ke summer party-nya. Ah, toh sudah telat beberapa jam juga sih, walaupun sebenarnya masih bisa-bisa aja sih aku datang ke sana terlambat. Sekarang, kolega-kolegaku menceritakan bagaimana seru, keren, dan asyiknya summer party itu sehingga aku kini menyesal karena tidak pergiย ๐Ÿ˜ฃ.

Yah, mau bagaimana lagi kan? Aku kira hari itu memang semua rencanaku memang ditakdirkan untuk gagal total. Setidak-tidaknya sih, aku mendapatkan pasporku kembali dengan aman dan selamat, plus dengan sebuah visa UK baru di dalamnya.

***

Ngomong-ngomong, pengalaman ini membuatku memiliki pertanyaan nih. Mengapa sebuah perusahaan logistik raksasa dengan layanan kurir tidak bisa memberikan perkiraan waktu pengiriman yang lebih tepat ya? Ya, ya, aku sungguh mengerti kok ini adalah permasalahan matematika yang amat rumit dengan banyak variabel yang berubah-ubah setiap waktu. Tetapi tetap aja lah ya, sebagai customer, bahkan dengan membagi satu hari menjadi dua (misalnya sebelum atau sesudah makan siang), sudah bakal membantu banget kan!

Tetapi kemudian, aku jadi teringat bahwa beberapa bulan yang lalu seorang kolegaku resign dan pindah ke sebuah perusahaan logistik raksasa untuk membantunya “bertransformasi” menjadi sebuah perusahaan yang lebih berbasiskan data. Jadi, aku duga mungkin saat ini operasi industri kurir secara umum masih berdasarkan sistem yang “tradisional”? Hmm…ย ๐Ÿค”

EuroTrip · Tennis · Vacation · Weekend Trip

#1953 – An Impulsive Weekend To … London

ENGLISH

Posts in the An Impulsive Wimbledon 2017 Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to London and Back
3. Part II: Wimbledon 2017

As my Instagram followers (@azilko) have known now, I went to … Wimbledon in London this weekend!! Yeay!! ๐Ÿ˜Ž

This trip was extremely impulsive because I just started to prepare for everything literally on Friday morning. I used the same strategy as two years ago when I went on a similar trip to watch Serena Williams completed the second Serena Slam. I was super, super lucky to get a last-minute official ticket for the ladies’ final this year :mrgreen: .

Back at Wimbledon Centre Court this year.

I already toyed with the idea of this spontaneous trip since I was applying for a UK visa this May actually. I told myself that if Venus Williams made the final, no matter what I would go (provided that I got the ticket, of course). I mean, this would certainly aย once in a lifetime opportunity (Serena Williams did not play Wimbledon this year because of her pregnancy). I already checked everything (how to get there, accommodation, etc) and I knew this would be a costly trip given the last-minute nature. But it was worth the attempt if it was for a possibility to see Venus Williams contesting for a singles grandslam title!! I knew I must try to grab this if I was presented the chance!!

Venus Williams started the match with an ace.

And then on Tuesday, Venus Williams won her quarterfinals match against the reigning French Open champion, Jelena Ostapenko (coincidentally, that day I also posted the Roland Garros part of my 2017 Early Summer Weekend TripS seriesย where I watched Jelena Ostapenko won that title ๐Ÿ˜› ). So suddenly, it appeared to me that I might actually need to execute this plan! Haha ๐Ÿ˜†

The ladies’ singles draw of Wimbedon 2017, after the semifinals. Venus Williams was playing really, really well. Source: Wikipedia

I tried to get the ticket on Thursday but unfortunately I was unsuccessful. However, I still had a second chance which was the last official sales on Friday morning. This time, luckily I got one!! This was actually the better scenario in the sense that I already knew Venus Williams would play Garbine Muguruza on Saturday by this time. Had I bought the ticket on Thursday, it would have been a gamble because the semifinals still had not yet been played at that point, haha. It is quite funny, though, that two years ago I bought the ticket after knowing Serena Williams would play Garbine Muguruza. So is Muguruza my lucky charm? Hmm. Anyway, after getting the ticket, I quickly arranged everything else (how to get there and back, accommodation, etc). And in the evening, I left for London! This was also good as it meant I would endย my flight-free streakย a little bit sooner, haha ๐Ÿ˜› .

Come on, Venus!! We all know you CAN do it!!

Obviously, this was a super fun last-minute weekend trip. As you (might) know, Garbine Muguruza ended up winning the title. As a fan, I cannot say that I did not feel sad with Venus’ loss, especially I was present there witnessing it. It was the classic mental match where one point determined the fate for the rest of the match. The point was 4*-5 (15-40) on Muguruza’s serve in the first set. Nonetheless, I still had fun in the tournament, as I love Wimbledon!! And adding that I finally got to see a Venus Williams’ official singles match (an exhibition match against Kim Clijsters in 2012 doesn’t count ๐Ÿ˜› ), despite the outcome was not ideal to me, made it even better! I hope Venus will bounce back from this loss, as she has been showing great tennis form this year.

This is all I have for now. As usual, here are some teasers from the trip:

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri An Impulsive Wimbledon 2017 Trip:
1. Introduction
2. Part I: Getting to London and Back
3. Part II: Wimbledon 2017

Seperti yang followers Instagram-ku (@azilko) ketahui, aku pergi ke … Wimbledon di London akhir pekan ini!! Hore!! ๐Ÿ˜Ž

Jadi begini, perjalanan ini adalah perjalanan super dadakan dimana segalanya baru aku persiapkan hari Jumat paginya. Aku menggunakan strategi yang sama seperti dua tahun laluย ketika aku pergi dalam perjalanan yang serupa untuk menonton Serena Williams menorehkan prestasi Serena Slam keduanya. Aku sungguh beruntung banget bisa mendapatkan tiket resmi last-minute untuk final tunggal putri tahun ini :mrgreen: .

Kembai di Centre Court-nya Wimbledon tahun ini.

Aku sudah bermain dengan ide perjalanan dadakan ini semenjak aku mengajukan permohonan visa UK-ku Mei ini. Aku berjanji kepada diriku bahwa jika Venus Williams main di final, pokoknya aku harus pergi (dengan catatan aku mendapatkan tiketnya sih, tentu saja). Maksudku, ini pasti adalah kesempatan super langkaย (Serena Williams tidak bermain tahun ini karena sedang hamil). Aku juga sudah mengecek semuanya (cara pergi kesana, akomodasi, dll) dan aku tahu ini akan menjadi perjalanan cukup mahal karena dadakan banget. Tapi jelas worth banget untuk dicoba dong untuk kemungkinan menonton Venus Williams berjuang memenangi gelar tunggal grandslam!! Aku tahu kesempatan ini harus aku ambil jika kesempatannya ada!!

Venus Williams memulai pertandingan dengan pukulan as.

Dan di hari Selasa, Venus Williams memenangi pertandingan babak perempat-finalnya melawan juara French Open, Jelena Ostapenko (kebetulan, hari itu aku juga mem-posting ceritaย bagian Roland Garrosย dariย seri 2017 Early Summer Weekend TripS-kuย dimana aku menonton langsung Jelena Ostapenko menjuarai gelar itu ๐Ÿ˜› ). Jadi tiba-tiba saja, kok kayaknya aku harus mengeksekusi rencana ini ya! Haha ๐Ÿ˜†

Undian tunggal putri turnamen Wimbedon 2017, setelah babak semifinal. Venus Williams bermain dengan sangat amat baik. Sumber: Wikipedia

Aku mencoba untuk mendapatkan tiketnya di hari Kamis tetapi sayangnya aku gagal. Namun, masih ada kesempatan kedua di penjualan terakhir di Jumat pagi. Beruntung banget, kali ini aku mendapatkannya!! Ini sebenarnya adalah skenario yang lebih baik sih karena di waktu ini aku sudah tahu Venus Williams akan bermain di babak final melawan Garbine Muguruza di hari Sabtu. Andaikata tiketnya kubeli di hari Kamis, itu masih gambling karena pertandingan semifinalnya masih belum dimainkan waktu itu. Lucu juga btw, dimana dua tahun lalu aku mendapatkan tiketnya setelah tahu Serena Williams akan main melawan Garbine Muguruza di babak final. Apakah ini artinya Garbine Muguruza itu membawa keberuntungan untukku? Haha ๐Ÿ˜› . Anyway, setelah mendapatkan tiketnya, langsung aku mengurus semua hal lainnya (bagaimana pergi kesana, akomodasi, dll). Dan malamnya, aku langsung berangkat ke London! Ini juga oke sih karena artinya flight-free streak-kuย akan berakhir sedikit lebih cepat, haha ๐Ÿ˜› .

Ayo, Venus!! Kita semua tahu kamu BISA!!

Jelas, ini adalah perjalanan akhir bekan dadakan yang seru banget. Seperti yang (mungkin) pada tahu, Garbine Muguruza menjuarai turnamen ini. Sebagai fans, tidak bisa dipungkiri bahwa aku sedih dengan kekalahannya Venus, terutama aku berada di sana menyaksikannya sendiri. Ini adalah pertandingan mental yang klasik dimana satu poin menentukan nasib dari sisa pertandingan. Poin itu adalah 4*-5 (15-40) di servisnya Muguruza di set pertama. Toh walaupun begitu, aku masih menikmati turnamennya kok, karena aku memang suka Wimbledon!! Dan apalagi ditambah bahwa pada akhirnya aku bisa menonton langsung pertandingan tunggal resminya Venus Williams (pertandingan ekshibisi melawan Kim Clijsters di tahun 2012ย tentu tidak dihitung yah ๐Ÿ˜› ), walaupun hasilnya tidaklah ideal untukku, membuatnya semakin seru lagi! Aku sungguh berharap Venus akan segera bangkit kembali dari kekalahan ini, karena sebenarnya dia sudah bermain tenis dengan level yang menakjubkan di tahun ini.

Segini dulu deh untuk saat ini. Seperti biasa, di atas adalah beberapa teasers dari perjalanan ini.

my apartment · Zilko's Life

#1952 – Apartment First World Problem

ENGLISH

Now that I live alone in my own apartment, obviously there are some practicality adjustments from when I still lived in Delft. Here was my previous housing situation in Delft: I rent a room in a house which I shared with three other housemates.

Far away

While my housemates and I shared the common areas (kitchen, bathroom, etc), obviously most of my stuffs were in my 16m2 room. And so if I needed anything, I did not need to walk that far to get it, haha.

But now that I live in my own apartment by myself, my stuffs are spread throughout the entire apartment! And so if I need some things, sometimes I have to walk quite far to get them; well, at least much further than back then in Delft! Lol ๐Ÿ˜†

Infrared stoves

My apartment is in a new building so that there is no gas supply. And so, instead of the common gas stoves, my apartment is equipped with infrared stoves (Btw, I never knew that infrared waves could be used to cook things priort to acquiring this apartment! Lol ๐Ÿ˜† ).

Anyway, I cooked with gas stoves for five years prior to moving to Amsterdam and I actually quite liked them. In my first two years in the Netherlands, though, I got induction stoves in my apartment. What I learned from that time is that I need to really regularly clean the glass surface to not let any residue crystalizes and hardens, because that would make it a nightmare to clean!!

So, yeah, now I must develop of cleaning my infrared stoves (which also have glass surface) regularly! Haha ๐Ÿ˜†

BAHASA INDONESIA

Dengan sekarang aku tinggal sendiri diย apartemen milikku, jelas ada beberapa penyesuaian dari ketika aku masih tinggal di Delft. Berikut ini situasi tempat tinggalku sebelumnya di Delft: aku menyewa satu kamar di sebuah rumah yang aku shared dengan tiga housemates lain.

Jauh

Walaupun housemates-ku dan aku jelas sama-sama menggunakan area umum di rumah itu (dapur, kamar mandi, dsb), jelas dong kebanyakan barangku berada di dalam kamarku yang berukuran sekitar 16m2. Jadi jika aku membutuhkan apa-apa, aku tidak perlu berjalan jauh untuknya, haha.

Nah, tapi sekarang dengan tinggal di apartemenku sendiri, barang-barangku jelas tersebar di seluruh penjuru apartemen! Jadi jika aku membutuhkan sesuatu, kadang aku harus berjalan jauh untuknya; yah, setidaknya lebih jauh daripada ketika di Delft! Haha ๐Ÿ˜†

Kompor infra-merah

Gedung apartemenku adalah bangunan baru yang tidak lagi tersambung dengan sistem suplai gas. Sebagai akibatnya, bukannya kompor gas yang mainstream itu, aku menggunakan kompor infra-merah di apartemenku (Btw, sebelum membeli apartemen ini, aku tidak pernah tahu loh bahwa gelombang infra-merah ternyata bisa digunakan untuk memasak! *Kemana ajaaa?* Hahaha ๐Ÿ˜† ).

Anyway, aku memasak dengan kompor gas selama lima tahun sebelum pindah ke Amsterdam dan aku menyukainya. Di dua tahun pertamaku di Belanda, apartemenku menggunakan kompor induksi sih. Yang aku pelajari dari waktu itu adalah aku harus membersihkan permukaan gelasnya itu secara rutin dan sering agar residu-residu kotorannya tidak mengeras. Ini karena kalau sudah mengeras, kotorannya jadi susah banget dibersihkan!!

Jadi iya nih, sekarang aku harus membiasakan untuk membersihkan kompor infra-merahku (yang memiliki permukaan gelas juga) secara rutin! Haha ๐Ÿ˜†

Zilko's Life

#1951 – A Nutrition App

ENGLISH

In June I decided, for fun, to download an app, called MyFitnessPal, to help me track my daily nutritional intake.

For a few months now, I already have an app linked to my gym that records my trainings there. However, it does not record what I consume, while this aspect plays a big role in achieving my goal of living a healthy life. I mean, it is not that I have not watched what I consumed. In fact, I have been doing so since moving to the Netherlands; and I have enjoyed the great benefit of this where I can say that I feel much healthier now than I was, say, 10 years ago. But again, this was not really quantified and I just basically followed my “common sense”, haha ๐Ÿ˜† .

One day I burned about 2000 more calories than what I consumed according to the app. This was not a good idea, though ๐Ÿ˜› .

Anyway, I find the app so much fun. Overall, it really helps me track how much calories I consume everyday and, more importantly, the nutrition breakdown. The breakdown helps me evaluate my eating habit and puts some food to perspective. For instance, do you know that one half of a small cup of peanuts contains about 400 calories? The calories come mostly from fat, haha. Speaking of fat, this is one aspect I am trying to bring down from my plates. So this app has played a big role in guiding me in the supermarket. Now, I prefer to buy low fat products (lean red meat, chicken breast, etc), and it appears to me that the more fat there is in meat, the cheaper it is! So there is indeed a price to pay when trying to “save” some money in this department. Lol ๐Ÿ˜† . You see, not that I was not aware of all of this before, but the app has helped me focus on my healthy life goal.

Obviously the big downside of the app is the rigorous amount of data feeding. Sure, it helps that the app can scan barcode so I do not need to enter the information manually every time I consume new products and it has a rich database with millions of food already pre-recorded in it anyway. What I mean is, I must record every single thing, sometimes down to the ingredient level,ย every time I cook/eat something. Certainly, this is tedious. So to be honest, I have doubts on my usage of this app in the longer run.

I need to measure every single ingredient that I use.

Having said that, actually I do not need to record the data every single day. What I really need from the app is an overview of how I have been consuming and use the data to make adjustment(s), also guided by the app, if necessary. Therefore, a few days of data would have actually been enough, then some controls here and then.

It has been about two weeks since I used the app. As of now, I am still dilligent enough to use it everyday, haha. Call it an obsession, maybe, but so far I have been happy with my own progress. So let’s see how it goes!! ๐Ÿ™‚

BAHASA INDONESIA

Di bulan Juni aku memutuskan, just for fun aja, untuk mengunduh sebuah app bernama MyFitnessPal yang berfungsi merekam nutrisi yang kukonsumsi setiap hari.

Jadi ceritanya semenjak lama aku sudah memiliki app yang terhubung dengan gym-ku yang merekam semua latihanku di sana. Namun, app itu tidak merekam apa yang kumakan, padahal ini kan satu aspek penting dari salah satu tujuanku yaitu hidup sehat. Maksudku, bukan berarti selama ini aku tidak memperhatikan apa yang kumakan sih. Malahan, semenjak pindah ke Belanda, aku sangat memperhatikan ini kok; dan aku sudah memanen hasilnya dimana sekarang aku bisa bilang bahwa aku merasa lebih sehat daripada, katakanlah, 10 tahun yang lalu. Hanya saja, memang selama ini apa yang kukonsumsi tidak kukuantifikasi sehingga aku cuma mengikuti “akal sehat” saja, haha ๐Ÿ˜† .

Suatu ketika, aku membakar sekitar 2000 kalori lebih banyak daripada yang kukonsumsi menurut app ini. Ini bukan lah ide yang baik sebenarnya ๐Ÿ˜› .

Anyway, app-nya seru banget. Secara umum membantuku banget untuk mengukur berapa banyak kalori yang kumakan setiap hari dan, yang lebih penting lagi, perincian nutrisinya. Perincian ini membantuku mengevaluasi kebiasaan makanku dan membuatku lebih sadar akan beberapa makanan. Misalnya, tahu kah kamu bahwa setengah mangkok kecil kacang itu mengandung sekitar 400 kalori loh? Dan kalorinya kebanyakan datang dari lemak, haha. Ngomongin lemak, memang ini adalah satu aspek yang sedang aku kejar untuk aku kurangi dari santapanku; dan ini telah menuntunku di supermarket juga. Sekarang, aku lebih suka membeli produk-produk rendah lemak (misalnya daging merah rendah lemak, dada ayam, dll), dan aku amati ternyata semakin banyak komposisi lemak di dalam daging merah, semakin murah juga harganya! Jadi memang ada harga yang dibayar dengan “berhemat” dalam hal ini. Haha ๐Ÿ˜† .Yah, bukannya aku tidak tahu semua ini sebelum ini sih, tetapi app-nya sudah membantuku untuk fokus mencapai tujuan hidup sehatku.

Jelas satu kelemahan app ini adalah diperlukannya input data yang terus-menerus. Memang sih app-nya bisa meng-scan barcode sehingga aku tidak perlu repot-repot memasukkan informasi secara manual setiap kali mengkonsumsi produk baru dan toh app-nya juga dilengkapi dengan perpustakaan data dari jutaan jenis makanan di dalamnya. Maksudku adalah, aku harus memasukkan semua datanya, kadang bahkan sampai ke level bahan-bahan masakan, setiap kali aku memasak/makan sesuatu. Jelas, ini ribet banget. Jadi sejujurnya, aku sendiri ragu akan penggunaan app ini dalam jangka panjang.

Aku harus mengukur semua bahan yang aku gunakan.

Walaupun begitu, sebenarnya mah aku tidak perlu juga merekam semua datanya setiap hari kan. Yang kubutuhkan dari app-nya adalah rangkuman mengenai bagaimana kebiasaan makanku dan menggunakan datanya untuk membuat penyesuaian, yang juga dipandu dengan app-nya, jika perlu. Jadi, sebenarnya data dari beberapa hari saja sudah cukup sih ya, dan juga sesekali untuk kontrol.

Sudah dua mingguan semenjak aku menggunakan app ini. Dan sejauh ini sih, aku masih rajin menggunakannya setiap hari, haha. Mungkin masih terobsesi ini ya, haha, tetapi sejauh ini aku senang kok dengan progress-ku sendiri. Jadi kita lihat saja ke depannya gimana!! ๐Ÿ™‚

EuroTrip · Tennis · Vacation · Weekend Trip

#1950 – Early Summer 2017 Weekend TripS (Part IV: Roland Garros 2017)

ENGLISH

Posts in theย Early Summer 2017 Weekend TripS series:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

As usual, I went early to Stade Roland Garros, arriving there at around 9 AM and was amongst the first ten spectators at the gate today, haha. Though, as usual as well, the gate was only opened at 10 AM. Just like last year, btw, there were three security checks prior to entering the site ๐Ÿ˜› . Anyway, I had toast sandwich for breakfast, which was okay. I loved the cappuccino, btw, mostly because it looked like this, haha:

Cappuccino

The first matches today would start at 11 AM. I was torn between watching my “usual” women’s legends final at Suzanne Lenglen or the boys (junior) singles final at Court No. 1. In the end, I chose the women’s legends final as I was already quite close to the court anyway, haha.

The final was between the defending champion, Lindsay Davenport/Martina Navratilova, and Tracy Austin-Holt/Kim Clijsters. Overall, the match was okay though it was clear Kim Clijsters was the best player on court; and there were too many errors from Navratilova and Davenport. Btw, it was nice to get a glimpse of Big Babe Tennis (a term describing women’s tennis being dominated by strong, tall players who play with a lot of power (in the early 2000s)), when Lindsay Davenport and Kim Clijsters were exchanging big cross-court shots in some of the points. Even though Navratilova and Davenport fought, in the end, Austin-Holt/Clijsters won the match 6โ€“3, 3โ€“6, [10โ€“5].

Tracy Austin-Holt/Kim Clijsters defeated Martina Navratilova/Lindsay Davenportย 6โ€“3, 3โ€“6, [10โ€“5].
After the match, I left Court Suzanne Lenglen and decided to have lunch at the restaurant, planning to have my usual steak with some ratatouille, a dish they always had every year since I first visited Roland Garros in 2012. But it turned out they (finally) changed their menu this year, haha. Instead of a steak, they had grilled aloyau beef presented in sticks, haha. So I had this one (though, arguably, this was still similar-ish to steak anyway ๐Ÿ˜› ).

Grilled aloyau beef

After lunch, I went around the venue a little bit to stretch my legs before, at around 2:30 PM, going to my seat at Court Philippe Chatrier. Btw, at first I wasn’t sure with my seat as it was in one of the top rows in the stand (so it was quite some “distance” from the court), but this turned out to be good because the whole time, the seat was covered by the shade of the press boxes! Haha ๐Ÿ˜† . You know, it was a really hot and sunny day today so it was nice to sit under some shade, really ๐Ÿ˜€ .

Back at Court Philippe Chatrier this year

The women’s singles match started at 3 PM. I just realized this year that the trophy (Coupe Suzanne Lenglen) was brought into the stadium in a Louis Vuitton box, though, haha. This was prior to the finalists entering the court. Anyway, not long after, Jelena Ostapenko and Simona Halep were welcomed in the court and took their seats. Ostapenko won the coin toss and chose to receive.

The coin toss

Then, the match started.

I won’t go to too much tennis details here, but Ostapenko started really well. As a young player in her first grandslam final, she was fierce! I like this attitude from a tennis player. The first set went pretty much neck to neck, until Halep broke Ostapenko’s serve in the tenth game and took the first set 6โ€“4.

Simona Halep took the first set 6โ€“4

Halep took the first three games of the second set, though those were three close games. At this point, Ostapenko was down 4โ€“6, 0โ€“3. I was hoping Ostapenko would not give up at this point and kept on fighting, so that the final would last a little bit longer so my ticket worthed more, lol ๐Ÿ˜› . And, gladly, she was not!! She believed on herself, sticked to her own game, which was to be hyper aggressive, and eventually turned the fortune around. She won six of the next seven games and won the set 6โ€“4!

Jelena Ostapenko took the second set 6โ€“4.

The third set started out similarly, where Ostapenko was immediately down 1โ€“3. Again, at this point she did not give up and kept pressuring Halep with all those aggressive shots. From 1โ€“3 down, she won five straight games and, thus, winning the match 4โ€“6, 6โ€“4, 6โ€“3!! WOW!!

Jelena Ostapenko’s winning moment after hitting a backhand down the line return winner.

Understandably, Halep was upset but she was, as always, gracious in defeat (IMO, Simona Halep is one of those players with great sportsmanship). The trophy ceremony followed afterwards, where Ostapenko was handed her first ever singles trophy, and it happened to be the Coupe Suzanne Lenglen, a grandslam trophy!!

Jelena Ostapenko won her first singles title ever, and it was Roland Garros

It will be interesting to see how Jelena Ostapenko goes from hereon forward. I hope she can keep on this level of play and, especially, her fight to prove that this victory is not just a one time wonder thing. We will see…

Anyway, the men’s doubles match followed afterwards. Btw, the draw of this event also fell apart in this tournament, where two unseeded teams made the final: Ryan Harrison/Michael Venus and Santiago Gonzaels/Donald Young. For whatever reason, I felt really tired already and so I decided to skip this final and went back to my hotel. Well, but only after dinner at the restaurant I always visited every year nearby the venue, of course (read Part III ) ๐Ÿ˜› .

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Early Summer 2017 Weekend TripS:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Seperti biasanya, aku berangkat awal ke Stade Roland Garros, dimana aku tiba sekitar jam 9 pagi dan termasuk dalam 10 penonton pertama yang datang hari ini, haha. Walaupun, seperti biasa sih, gerbang baru dibuka jam 10 pagi. Seperti tahun lalu, btw, ada pemeriksaan sekuriti sebanyak tiga kali sebelum masuk ๐Ÿ˜› . Anyway, aku memesan toast sandwich untuk sarapan, yang mana rasanya biasa aja. Aku suka cappuccino-nya, btw, karena penampilannya seperti ini, haha:

Cappuccino

Pertandingan-pertandingan pertama hari ini akan dimulai jam 11 pagi. Aku bingung akan menonton pertandingan “seperti biasa” yaitu final legenda putri di Suzanne Lenglen atau final tunggal putra junior di Lapangan No. 1. Pada akhirnya, aku memilih final legenda putri karena toh aku sudah berada di dekat sana, haha.

Final tahun ini adalah antara juara bertahan, Lindsay Davenport/Martina Navratilova, dan Tracy Austin-Holt/Kim Clijsters. Secara keseluruhan, ini adalah pertandingan yang oke dimana jelas Kim Clijsters adalah pemain terbaik dari keempatnya kala itu; dan terlalu banyak kesalahan sendiri di tim Navratilova dan Davenport. Btw, asyik rasanya bisa sedikit mencicipi menonton Big Babe Tennis (sebuah istilah yang mendeskripsikan tur tenis putri yang didominasi oleh pemain bertubuh tinggi dan kuat yang bermain dengan pukulan-pukulan keras (di awal tahun 2000an)), dimana Lindsay Davenport dan Kim Clijsters saling memukul pukulan keras cross court di beberapa poin. Walaupun Navratilova dan Davenport berjuang dengan gigih, pada akhirnya Austin-Holt/Clijsters menang 6โ€“3, 3โ€“6, [10โ€“5].

Tracy Austin-Holt/Kim Clijsters mengalahkan Martina Navratilova/Lindsay Davenportย 6โ€“3, 3โ€“6, [10โ€“5].
Setelah pertandingan berakhir, aku meninggalkan Lapangan Suzanne Lenglen dan makan siang di restoran di sana, berencana makan steak dengan ratatouilleย seperti biasanya, yang selalu aku makan setiap tahun di kunjunganku ke Roland Garros semenjak tahun 2012. Tetapi ternyata mereka (akhirnya) mengganti menunya tahun ini, haha. Bukannya steak, mereka menyajikan menu daging sapi aloyau panggang yang ditusuk seperti sate, haha. Jadilah aku memesan menu ini (walaupun bisa dibilang mirip-mirip dengan steak sih ๐Ÿ˜› ).

Grilled aloyau beef

Setelah makan siang, aku berkeliling arena untuk meluruskan kaki, dan sekitar jam 2:30 siang, aku masuk menunju kursiku di Lapangan Philippe Chatrier. Btw, awalnya aku kurang sreg dengan kursiku yang berada di salah satu baris teratas di sana (jadi lumayan “jauh” gitu deh dari lapangannya), tetapi ternyata ini ada enaknya juga karena bagian ini justru teduh terkena bayangan ruang-ruang booth media! Haha ๐Ÿ˜† . Jadi ceritanya hari ini kan panas banget gitu mana mataharinya bersinar terik pula. Jadi enak dong ya duduk di bawah bayangan yang teduh gitu, haha ๐Ÿ˜€ .

Kembali di Lapangan Philippe Chatrier tahun ini

Pertandingan final tunggal putri dimulai jam 3 sore. Aku baru sadar tahun ini loh bahwa pialanya (Coupe Suzanne Lenglen) dibawa masuk ke stadionnya di dalam sebuah kotak Louis Vuitton (pastinya ori mah ya nggak mungkin KW, haha ๐Ÿ˜› ). Ini dilakukan sebelum kedua finalis dipanggil masuk ke lapangan. Tak lama setelahnya, Jelena Ostapenko dan Simona Halep disambut masuk dan kemudian duduk di kursi mereka. Ostapenko memenangiย coin toss dan memilih untuk receive (Halep servis duluan).

Coin toss

Lalu, pertandingan dimulai.

Aku tak akan menulis terlalu banyak detail tenis di sini. Ostapenko memulai pertandingan dengan baik. Sebagai pemain muda di final grandslam pertamanya, ia sungguh berani sekali! Aku suka deh attitude ini dari seorang pemain tenis! Set pertama berlangsung cukup ketat, hingga Halep mematahkan servis Ostapenko di game kesepuluh dan memenanginya 6โ€“4.

Simona Halep memenangi set pertama 6โ€“4

Halep langsung memenangi tiga game pertama di set kedua, tetapi ketiganya adalah game yang dimainkan dengan ketat. Di saat ini, artinya Ostapenko ketinggalan 4โ€“6, 0โ€“3. Aku hanya berharap Ostapenko tidak menyerah dan terus bertarung, sehingga finalnya berlangsung lama dan aku nggak rugi beli tiketnya, haha. Dan pada akhirnya, Ostapenko beneran memenangi set kedua dong! Ia tetap percaya diri dengan permainan hiper agresifnya, dan akhirnya berhasil membalikkan situasi. Ia memenangi enam dari tujuh game selanjutnya dan mengklaim set kedua 6โ€“4!

Jelena Ostapenko memenangi set kedua 6โ€“4.

Set ketiga dimulai mirip seperti set kedua, dimana Ostapenko langsung tertinggal 1โ€“3. Lagi, di waktu ini ia tidak menyerah dan terus menyerang Halep dengan pukulan-pukulan agresifnya. Dari posisi tertinggal 1โ€“3, ia menang lima game berturutan dan akhirnya memenangi pertandingan dengan skor akhir 4โ€“6, 6โ€“4, 6โ€“3!! WOW!!

Momen kemenangan Jelena Ostapenko setelah memukul sebuah pukulan backhand down the line return winner.

Tak mengherankan, Halep kecewa dengan kekalahannya tetapi, seperti biasa, ia bersikap ksatria dan menerimanya (Menurutku, Simona Halep adalah salah satu pemain yang paling menjunjung sportivitas). Upacara penganugerahan piala diadakan setelahnya, dimana Ostapenko diberikan piala tunggal pertamanya, dan pialanya adalah Coupe Suzanne Lenglen, sebuah piala grandslam!!

Jelena Ostapenko memenangi gelar tunggal pertamanya, dan ini adalah gelar Roland Garros

Akan menarik untuk mengikuti bagaimana prestasi Jelena Ostapenko setelah ini. Aku harap sih ia mampu mempertahankan level ini dan, terutama, kegigihannya untuk membuktikan bahwa kemenangan ini bukan lah kebetulan semata. Kita lihat saja…

Anyway, final ganda putra diadakan setelahnya. Btw, undian ganda putra tahun ini juga hancur nih di turnamen ini, dimana dua tim yang tidak diunggulkan masuk ke final: Ryan Harrison/Michael Venus dan Santiago Gonzaels/Donald Young. Namun, entah mengapa aku merasa sungguh lelah sehingga aku memutuskan untuk melewatkan final ini dan pulang ke hotel. Eh, tentu dengan mampir dulu di restoran langgananku di dekat situ untuk makan malam yah (baca Bagian III) ๐Ÿ˜› .