#1911 – Blogging for A Dozen Years

ENGLISH

As of today, I have been blogging for twelve years!! Yes, twelve years ago today, I posted my first post in my Blogspot blog (which I “closed” in 2011 and “moved” here that year), and it has been going on until now since then 🙂 .

As I said last year, it becomes less and less surprising that I blog for this long. Clearly, I enjoy blogging a lot and so the longevity and consistency that follow.

Just like in the past a few years, I managed to write, on average, 3.5 posts per week this past one year and thus clocking in 182 posts. This brought the yearly average up to 159.25 posts, haha. I also achieved a blogging milestone this year. About a month ago, I posted my 1000th post here in WordPress!!

Unlike six years ago, where I decided to close my Blogspot blog after six years and moved to WordPress, this year (after six years in WordPress) I have no plan to do a similar action. I really enjoy and like WordPress as my blogging platform so I am sticking with it. So don’t worry, I am not going anywhere else! 🙂

Anyway, yeah, that is it for now. And cheers for the beginning of my 13th year of blogging!!

BAHASA INDONESIA

Per hari ini, aku sudah ngeblog selama dua belas tahun!! Ya, dua belas tahun yang lalu, aku mem-posting posting pertamaku di blog Blogspotku (yang kemudian aku “tutup” di tahun 2011 dan aku “pindah” ke sini enam tahun yang lalu), dan semenjak waktu itu aku ngeblog sampai sekarang 🙂 .

Seperti yang kubilang tahun lalu, sekarang sih menjadi semakin tidak mengejutkan bahwa aku ngeblog sedemikian lamanya. Jelas, aku amat menikmati blogging dan ini menjelaskan kelamaan dan kekonsistenanku.

Seperti beberapa tahun belakangan ini, aku menulis, rata-rata, 3,5 posting per minggu selama satu tahun ini dengan total 182 posting. Ini membuat rata-rata jumlah posting tahunanku naik menjadi 159,25, haha. Aku juga mencapai sebuah pencapaian ngeblog tahun ini. Sekitar satu bulan yang lalu, aku mem-posting posting ke-1000 di WordPress loh!!

Tidak seperti enam tahun yang lalu, dimana aku memutuskan untuk menutup blog Blogspotku setelah enam tahun dan pindah ke WordPress, tahun ini (setelah enam tahun di WordPress) aku tidak memiliki rencana seperti itu kok. Aku benar-benar menikmati dan suka WordPress sebagai platform ngeblogku sehingga untuk saat ini aku akan tetap di sini. Jadi, tenang aja, aku tidak akan kemana-mana kok! 🙂

Anyway, ya, segini dulu ya untuk sekarang. Dan mari kita tos untuk permulaan tahun ke-13ku ngeblog!!

#1910 – Furniture Shopping

ENGLISH

The two months or so, I have been busy with, well, furniture shopping! This is certainly what comes with buying my own apartment, haha.

As I knew that this would be a big shopping spree, I needed to follow some rigorous planning on how I would proceed with it. This was because, clearly, my time was limited and, more importantly, so was my budget, haha 😆 .

Planning

I started with the most fun part of it. I asked my agent the floormap of my apartment and then listed what I would want to have in each room. The floormap allowed me to have quite precise estimate on the size of the stuffs that I wanted. Btw, this was the most fun part because at this stage I was not thinking of my budget yet, lol 😆 .

When I was, sort of, done, I started to attach rough numbers to each of the item. I summed them all, added some percentage of it on top as my “margins”, and ended up with such a big number! Lol 😆 .

Clearly this could potentially be a problem if I wasn’t careful. So I needed a strategy…

A Strategy

A strategy briefly entered my mind where I would buy a lot of “cheap” stuffs (possibly from Ikea 😛 ) so I would have a fully furnished apartment that would still be within my budget. However, I quickly dismissed this strategy as I did not think this would be the best, especially in the long run. This apartment would literally be mine so it would be wiser to invest in better quality furniture! Haha…

As I would live here in longer-term, all I needed at this point were the “necessities”, i.e. the basic furnitures I would need to have to make this apartment, at least, livable. I did not need everything I wanted by now; as I would be able to buy the others along the way. Without blowing my budget, this would allow me to buy “better” products.

Execution

A strategy set up, I then executed it. In order to get “better” products, I also asked around (read: my friends and colleagues). They gave me really valuable advices on which stores and (type of) products they would recommend. I seriously studied those advices, especially on the very necessary furnitures (e.g. bed, washing machine, fridge, sofa).

Though this meant I would need to invest more time (as there were several stores to check out (instead of one)), it was actually quite fun and I enjoyed it! Haha 😆 . While doing so I needed to watch my budget, though. I wouldn’t say I had a small budget for furniture, but of course it was also not infinite 😛 .

While it was certainly super comfortable and awesome and stuffs (I tried it), obviously I was not going to buy this €5000 (after discount price) bed.

About two weeks ago, most of those furnitures were delivered and assembled, and so I could start living in my own apartment. But still, this is all not done yet! It feels like there are still more things that I need!! Haha 😆 . But well, I don’t need to hurry and it is better to do it slowly, I think 😀 .

BAHASA INDONESIA

Dua bulanan terakhir, aku telah disibukkan dengan belanja mebel! Yah, ini mah jelas apa yang menjadi bonus dari yang namanya membeli apartemenku sendiri lah ya, haha.

Karena aku tahu belanja ini akan menjadi belanja yang besar banget, jelas aku membutuhkan perencanaan yang matang untuknya. Ini karena, jelas, waktuku terbatas dan, yang lebih penting, budget-ku juga, haha 😆 .

Perencanaan

Perencanaan aku mulai dengan bagian paling menyenangkan. Aku meminta kopian denah apartemenku dan kemudian mendaftar apa saja yang ingin aku miliki di setiap ruangan. Denah ini membantuku membuat estimasi yang cukup akurat mengenai ukuran barang-barang yang kuinginkan. Btw, ini adalah bagian paling menyenangkan karena aku masih belum mempertimbangkan budget-ku, haha 😆 .

Ketika aku sudah selesai, aku mulai mengaitkan perkiraan biaya kasar ke masing-masing item. Aku menjumlahkan semuanya dan menambahkan sekian persen di atasnya untuk “jaga-jaga”, dan hasilnya aku mendapatkan bilangan yang besar banget! Huahaha 😆 .

Jelas banget ini bisa menjadi masalah apabila aku tidak berhati-hari. Jadilah jelas aku membutuhkan sebuah strategi…

Sebuah Strategi

Sebuah strategi sempat memasuki pikiranku dimana aku akan membeli banyak barang-barang “murah” (mungkin dari Ikea 😛 ) sehingga aku akan memiliki apartemen dengan mebel lengkap tetapi biayanya terjangkau. Namun, tidak lama strategi ini langsung kubuang karena aku rasa ini bukanlah strategi terbaik, terutama untuk jangka panjang. Apartemen ini akan menjadi milikku sehingga lebih bijak apabila aku membeli barang-barang yang berkualitas lebih baik! Haha…

Karena aku akan tinggal disini untuk jangka panjang, yang kubutuhkan saat ini adalah “yang esensial-esensial” dulu, yaitu mebel-mebel yang harus ada supaya apartemen ini, setidaknya, bisa ditinggali. Aku toh tidak membutuhkan semuanya sekarang kan; dan yang lain-lain itu bisa kubeli sembari jalan. Tanpa membuat budget-ku membengkak, ini memungkinkanku untuk membeli produk-produk yang “lebih baik”.

Eksekusi

Sebuah strategi sudah terbentuk, saatnya untuk melaksanakannya. Untuk mendapatkan produk yang “lebih baik”, aku juga mengumpulkan informasi dari sekitarku (baca: teman-teman dan kolega-kolega). Mereka benar-benar memberikan saran yang berguna banget untuk toko-toko dan (tipe) produk yang mereka rekomendasikan. Aku sungguh-sungguh mempertimbangkan masukan-masukan itu, terutama untuk mebel-mebel utama (misalnya ranjang, mesin cuci, kulkas, sofa).

Walaupun ini berarti aku harus menghabiskan lebih banyak waktu (karena ada beberapa toko yang harus aku cek (bukannya satu)), toh ini rasanya seru dan aku menikmatinya! Haha 😆 . Ketika melakukannya aku harus memperhatikan budget-ku sih. Sebenarnya menurutku budget-ku sih nggak kecil-kecil amat, tetapi kan juga bukan berarti tak terbatas ya 😛 .

Walaupun memang sangat nyaman, enak, dan keren banget lah (aku sudah cobain), jelas dong aku tidak membeli ranjang seharga €5000an ini (sekitar Rp 75 juta), ini pun harga setelah diskon.

Sekitar dua minggu yang lalu, sebagian mebel itu sudah diantar dan sudah dipasang, sehingga kini aku sudah bisa meninggali apartemenku. Tapi tetap aja, ini semua belum selesai! Rasanya masih ada aja yang mesti dibeli!! Hahaha 😆 . Tapi mah sebaiknya jangan buru-buru dan pelan-pelan aja lah ya 😀 .

#1909 – The Mental Roller Coaster of My PhD Defense

ENGLISH

This post has been sitting in the Draft section for quite some time, patiently waiting for its turn to get published. Well, before the topic becomes too outdated, I share it now 🙂 .

***

Some time ago, I shared how my PhD defense and graduation went. In that post, I concentrated on what happened during that day, one of the most important days in my life. This post will cover a different aspect of the defense: the emotional roller-coaster I had to “ride” – the one that peaked during the defense, haha.

Defending

During my PhD thesis defense

I think it is not surprising that a PhD defense could be “terrifying” for the PhD candidate. Well, it is basically “the” moment the candidate has been working for. All of his/her life in the last four to five (maybe even more) years is for this moment. So when the moment is approaching, so is the tension.

Luckily for me, though, about ten days before the defense, I attended a really, really big and awesome party. I have to say the party helped channel out a lot of the tension away.

The party involved me dressing up in a Star Trek uniform too 😛

Then exactly a week before the defense, my supervisor organized a “practice” session between me, her, and a professor who was not directly involved in my PhD research. The idea was that I would get bombarded with questions; and involving an “outsider” was certainly a good idea to open up new perspective I might have not thought of. And I did well in this session. We planned this session for an hour but it ended up being two hours, haha. This, certainly, raised my confidence level as well, making me feel that I was, in fact, ready for the defense.

The day before the defense, I went to Amsterdam with my parents and my brother. While having lunch at a Japanese restaurant, I started to feel not really good. I wasn’t sick, but it felt like I was going to get sick. It was weird as I was completely fine before, so I thought it might be because the tension of the defense started to crawl in and it affected my brain. Whatever it was (I am sure it wasn’t the food, though 😛 ), what I knew was that I needed some rest. So immediately after lunch, we went back to Delft.

A bowl of ramen for lunch

A bowl of ramen for lunch

On the day of the defense, I misread the bus number which caused us to take the wrong bus to go to the venue of my defense. As a result, we had to walk to the Aula before my defense, haha. On the flip this, this mistake was good to make as it made me realize I was not in the “best” mental state. I needed to take a deep breath and calm down.

Though, it was much easier said than done, haha. I felt really crazily nervous during the defense; though the advices from the British stand-up comedian appeared to work and I looked perfectly fine 😛 . Obviously my brain was still functioning fine in processing the questions and providing the answers. Actually it worked at 100% performance capacity, though it felt like some good portion of that was spent to manage the anxiety, haha. But this was part of the defense “game”, indeed 😉 .

Defending

Defending my thesis and arguments

And so it was also unsurprising that I felt really tired once the defense was finished, haha. But at the same time, I also felt glad it was over 🙂 .

Then, the graduation followed immediately. As I mentioned before, this part was the most “emotional” part of all. This was the moment every PhD candidate was hoping and working towards for. And now, this moment was mine. I was, finally, there.

Following my graduation was a speech by my supervisor. As I also mentioned, we had known each other for almost seven years. She was actually the one who opened the door for me to move to Europe in 2010, when she awarded me the full Master scholarship to TU Delft. And now, here we were, seven years later, and I was standing in front of her (all other people as well) just after becoming a Doctor. For a short moment, I had tears in my eyes. Just a little bit, though 😛 .

A graduation speech

My graduation speech

My mental state gradually went back to normal from thereon. The reception and dinner that followed brought up the festive feeling in me, thus neutralizing the melancholy that had formed.

Then, what I felt was the feeling of “freedom”. Not that I was not “free” before, but more like a “free” feeling once I achieved what I had been working so hard for. This, of course, came with a sense of satisfaction and some level of confidence 🙂 .

***

Yeah, indeed that was an interesting period of my life; not only the actual real stuffs that I needed to take care of, but also the mental aspect that needed to be managed. This period was, indeed, a unique period in the entirety of my PhD years. And I will cherish that.

BAHASA INDONESIA

Posting ini sudah cukup lama duduk manis di Draft menunggu giliran dengan sabar untuk di-publish. Sebelum topiknya menjadi basi, sekarang aku bagikan aja deh ya, hehehe 🙂 .

***

Beberapa waktu yang lalu, aku menceritakan bagaimana sidang dan wisuda PhD/S3-ku berlangsung. Di posting itu, aku konsentrasi pada apa yang terjadi hari itu, salah satu hari terpenting dalam hidupku. Posting ini akan membahas aspek lain dari sidang ini: roller-coaster emosi yang harus aku “naiki” – yang mana puncaknya adalah pada saat sidang itu, haha.

Defending

Pada saat sidang PhDku

Aku rasa tak mengejutkan bahwa sidang PhD itu bisa menjadi “menakutkan” bagi banyak mahasiswa PhD. Iya kan, momen ini adalah momen yang sudah sangat amat dikejar dan diusahakan. Seluruh kehidupannya selama empat sampai lima (bahkan mungkin lebih) tahun adalah untuk momen ini. Jadi ketika momennya beneran datang, kan tekanannya juga terasa semakin tinggi ya.

Untungnya untukku, sekitar sepuluh hari sebelum sidang, ada sebuah party besar dan seru banget. Nah, party-nya benar-benar membantuku untuk menyalurkan banyak tekanan itu keluar.

Di party-nya aku berkostum seragam Star Trek 😛

Lalu, tepat seminggu sebelum sidang, pembimbingku dan aku mengadakan sesi “latihan” antara aku, ia, dan seorang profesor yang tidak terlibat langsung dalam riset PhDku. Tujuannya adalah untuk membombardirku dengan pertanyaan-pertanyaan; dan melibatkan “orang luar” adalah ide yang baik untuk mendapatkan perspektif baru yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Dan aku menjalani sesi ini dengan cukup baik. Sesi yang kami rencanakan selama satu jam ini akhirnya berlangsung dua jam, haha. Ini, jelas, meningkatkan rasa percaya-diriku juga, dimana aku menjadi lebih yakin bahwa memang aku sudah siap untuk menjalani sidang.

Sehari sebelum sidang, aku pergi ke Amsterdam bersama orangtua dan adikku. Ketika makan siang di sebuah restoran Jepang, tiba-tiba aku mulai merasa nggak enak badan dong. Aku nggak sakit sih, tetapi kok rasanya muncul pertanda ke arah sana gitu. Aneh banget karena sebelumnya aku baik-baik saja lho, jadi aku duga sih ini adalah tekanan bawah sadar akibat sidang yang akan kujalani keesokan harinya mulai merembet masuk ke otakku. Apa pun itu (aku yakin bukan karena makanannya kok 😛 ), aku tahu aku perlu beristirahat. Jadilah setelah makan siang, kami kembali ke Delft.

A bowl of ramen for lunch

Ramen untuk makan siang

Di hari sidang, aku salah membaca nomor bus yang menyebabkan kami naik bus yang salah untuk menuju lokasi sidang. Sebagai akibatnya, kami harus berjalan kaki ke Aula sebelum sidang, haha. Sisi baiknya dari kesalahan ini adalah, aku disadarkan bahwa saat itu kondisi mentalku sedang tidak “prima”. Aku perlu menarik nafas dalam-dalam dan menenangkan-diri.

Tapi semua itu mudah diucapkan tapi prakteknya lebih susah sih, haha. Aku merasa amat gugup ketika sidang; walaupun saran-saran dari stand-up comedian asal Inggris bekerja dengan baik sehingga dari luar aku nampak baik-baik saja 😛 . Jelas otakku masih berfungsi dengan baik dalam memproses pertanyaan-pertanyaan dan memberikan jawaban-jawabanku untuknya. Sebenarnya, aku merasa otakku saat itu bekerja dalam kapasitas 100% kok, walaupun rasanya sebagian darinya digunakan untuk mengatur ketegangan yang kurasakan, haha. Tetapi ya memang ini lah bagian dari “permainan” sidang PhD ini sih 😉 .

Defending

Mempertahankan disertasi dan argumenku

Sehingga tidak mengherankan ketika aku merasa lelah ketika sidangnya berakhir, haha. Tetapi di waktu yang sama, aku juga lega semuanya telah berlalu 🙂 .

Kemudian, sidang dilanjutkan dengan wisuda. Seperti yang kusebutkan yang lalu, bagian ini adalah bagian paling “emosional” dari semuanya. Ini lah momen yang mana setiap kandidat PhD harapkan dan bekerja untuknya. Dan kini, momen ini adalah milikku. Akhirnya, aku tiba juga di sana.

Setelah diwisuda, pembimbingku memberikan kata sambutan dan ucapan selamat. Seperti yang pernah kubilang, kami sudah mengenal satu sama lain sekitar tujuh tahunan. Ia lah yang membukakan pintu untukku pindah ke Eropa di tahun 2010, ketika ia menganugerahiku beasiswa penuh S2 ke TU Delft. Dan sekarang, di sini lah kami, tujuh tahun kemudian, aku berdiri di hadapannya (dan orang-orang lain) tepat setelah mendapatkan gelar Doktor. Selama sedikit detik, tanpa terasa aku merasakan sedikit air keluar dari mataku. Sedikit doang kok, haha 😛 .

A graduation speech

Sambutan wisudaku

Kondisi mentalku perlahan-lahan berangsur normal setelahnya. Wisudaku diikuti dengan resepsi dan makan malam yang membawa perasaan senang di dalam hatiku, sehingga menetralisir perasaan melankolis yang telah terbentuk.

Lalu, aku merasakan “kebabasan”. Bukannya aku tidak “bebas” sebelumnya, tetapi lebih seperti perasaan “bebas” ketika aku telah mendapatkan apa yang aku inginkan dan aku telah bekerja-keras banget untuknya, haha. Ini, tentunya, juga datang lengkap dengan kepuasan dan rasa percaya-diri 🙂 .

***

Yeah, memang ini adalah periode yang menarik dari hidupku; tidak hanya harus menghadapi hal-hal yang memang harus aku urus, tetapi aku juga harus bergular dengan aspek mentalnya. Memang periode ini adalah periode yang unik dari tahun-tahun PhDku. Dan aku akan selalu menghargainya.

#1908 – 2017 Easter Long Weekend Trip (Introduction)

ENGLISH

Posts in the 2017 Easter Long Weekend Trip series:
1. Introduction
2. The Transport
3. Zürich

Easter weekend is always a long weekend in the Netherlands (Though, unlike in Indonesia, it is not the Good Friday that is a public holiday but the Easter Monday (i.e. the Monday after). Good Friday is just an observance day and my office does not recognize this as an official public holiday, haha). So it is a nice opportunity for a trip somewhere!!

When looking at my 2017 calendar at the end of last year, I knew I wanted to make use of this Easter long weekend for a trip somewhere, too. However, given my now limited holiday allowance which I must save for some big travelling plans later on in the year, I could not make this trip a longer one like in 2015, when I went to Japan, or in 2016, when I went to the Baltic region.

Basically, I could only go in the long weekend itself, departing on Saturday and coming back on Monday. So I thought at least the flying part (Obviously I would want to involve some flying! 😛 ) should be of interesting routing. I browsed some possibilities, and in the end booked one!

So, this year, I went to:

Zurich

Yep, Zurich, haha. Well, I have been to Zurich once before, even though it was in 2011. So this was indeed a nice opportunity to come back there! 😀 Zurich was beautiful, just as I remembered it back from 2011! Though, unfortunately it was raining the entire time when I was there; and there was not so much going on either because it was Easter. It was also still, well, expensive! Haha 😝.

RIP my money💸💸💸💸💸

Anyway, about the interesting routing, here was it this long weekend:

The routing this long weekend. Created with gcmap.com

Haha, yep, I flew Amsterdam – Paris CDG – Zurich – Rome FCO – Amsterdam 😛 . There was a mini drama with the ticketing, though. Due to Alitalia’s schedule adjustment, I was originally “moved” to an evening Rome – Amsterdam flight resulting in almost seven hours transit in Rome – Fiumicino. Obviously I was not happy with it so I contacted the travel agency from where I bought my ticket. They were being super helpful and were able to move me to an afternoon flight, where my transit time was now less then two hours! Yeay 🙂 .

I also got the chance to fly this Alitalia CityLiner’s Embraer ERJ175 reg EI-RDG! A new airline and airplane type for my logbook!! 😍

I am actually not done yet with my move from Delft to Amsterdam. So a few weeks ago, when I got the confirmation that the apartment was mine and that April would be my “moving month”, I got a little bit unsure about this trip. However, this trip could actually act as a nice break in the middle of this stressful moving month! So I decided to still go with it.

Yeah, so that is all for now. Now I am already back in the Netherlands after spending a long weekend in Zurich 😀 .

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri 2017 Easter Long Weekend Trip:
1. Introduction
2. The Transport
3. Zürich

Akhir pekan Paskah adalah long weekend di Belanda (Walaupun, bedanya dari Indonesia, tanggal merahnya bukan lah di hari Jumat Agung melainkan di Senin Paskah (yaitu hari Senin setelahnya). Jumat Agung sendiri hanyalah berstatus hari observance sehingga kantorku tidak menganggapnya sebagai hari libur, haha). Jadi ini adalah kesempatan yang oke untuk jalan-jalan kemana gitu kan ya!!

Ketika melihat kalender tahun 2017ku akhir tahun lalu, aku tahu aku ingin memanfaatkan long weekend Paskah ini untuk pergi kemana gitu. Namun, karena jatah cutiku yang kini terbatas dan mesti aku tabung untuk rencana jalan-jalanku tahun ini nantinya, aku nggak bisa membuat perjalanan ini panjang seperti di thun 2015, ketika aku pergi ke Jepang, atau di tahun 2016, ketika aku pergi ke area Baltik.

Pada dasarnya, aku hanya bisa pergi di long weekend itu saja, berangkat di hari Sabtu dan pulang di hari Senin. Jadi aku merasa bahwa seenggaknya bagian terbangnya (Jelas dong aku maunya perjalanan ini melibatkan penerbangan juga! 😛 ) mesti dengan rute yang menarik. Aku mencari-cari beberapa kemungkinan, dan pada akhirnya mengambil salah satunya!

Jadi, tahun ini aku pergi ke:

Zurich

Iya, Zurich, haha. Yah, aku sudah pernah ke Zurich satu kali sih sebelumnya, walaupun waktu itu di tahun 2011. Jadi ini adalah kesemaptan yang oke untuk kembali lagi kesana kan ya! 😀 Zurich itu indah, ya sama lah seperti ingatanku dari perjalanan tahun 2011 itu! Walaupun sayangnya hujan dong di sepanjang waktuku di sana; dan juga suasananya cenderung sepi banget karena Paskah. Pun, apa-apanya juga masih aja mahal! Haha 😝.

RIP uangku💸💸💸💸💸

Anyway, mengenai rute yang menarik, berikut ini ruteku akhir pekan ini:

Ruteku long weekend ini. Dibuat dengan gcmap.com

Haha, iyaa, aku terbang Amsterdam – Paris CDG – Zurich – Roma FCO – Amsterdam 😛 . Ada drama kecil dengan tiketnya sih. Akibat perubahan jadwalnya Alitalia, awalnya aku “dipindahkan” ke penerbangan malam Roma – Amsterdam dengan waktu transit hampir tujuh jam di Bandara Roma – Fiumicino. Jelas dong aku tidak suka dengannya sehingga aku mengontak travel agency dari mana aku membeli tiketnya. Mereka membantu banget dan berhasil memindahkanku ke penerbangan di sore harinya, sehingga waktu transitku hanya kurang dari dua jam saja! Hore 🙂 .

Ditambah lagi, aku berkesempatan terbang dengan Alitalia CityLiner Embraer ERJ175 rego EI-RDG ini loh!! Maskapai dan tipe pesawat baru untuk logbook-ku! 😍

Oh iya, sebenarnya aku masih belum selesai sih dengan urusan pindahanku dari Delft ke Amsterdam. Jadilah beberapa minggu yang lalu, ketika aku mendapatkan konfirmasi bahwa apartemen ini adalah milikku dan April akan menjadi “bulan pindahan”, aku agak sedikit tidak yakin dengan perjalanan ini.  Namun, aku pikir-pikir justru perjalanan ini bisa menjadi istirahat di tengah bulan pindahan yang stressful ini kan ya! Jadilah aku memutuskan untuk tetap pergi.

Ya, jadi segini dulu deh. Sekarang aku sudah kembali lagi di Belanda setelah menghabiskan satu long weekend di Zurich 😀 .

#1907 – Suddenly Nostalgic

ENGLISH

Earlier this week, I saw a post on LinkedIn by an ex-colleague of mine (from my PhD years) about a conference he was attending. It was an edition of a biennial conference series which previous edition two years ago I attended. Back then, it was held in Tokyo, Japan; and it was also during Spring season, arguably the best time to visit Japan!

Ueno Park, two years ago.

Wow, for whatever reason, I got really nostalgic just by reading that post. I immediately remembered my almost three weeks adventure in Japan (the first week was for the conference and the rest was for a personal trip circling Japan (Tokyo, Hakodate, Sapporo, Osaka, and Kyoto), lol 😆 ).

Here are the main posts of that 2015 Spring Trip to Japan series:
1. Getting to Japan
2. Part I: Tokyo (1)
3. Part II: Tokyo (2)
4. Part III: Tokyo (3)
5. Part IV: Hakodate
6. Part V: Sapporo
7. Part VI: Osaka
8. Part VII: Kyoto
9. Back to the Netherlands

Okay, the conference location was actually in Chiba

As with other conference series, the conference location always changes between editions (but always at a location with a university host that does relevant research). And because it is a railway conference series, unsurprisingly most of the time it is held in Europe, a region where the railway industry is already mature. However, there is a non-European country that is also famous for its ultra modern railway industry: Japan.

I was really lucky with the 2015 edition. The one time I had something to present, and it was also during a convenient time of my PhD years (my third year), it was held in Japan! Lol 😆 . To be honest this was one of the reasons for me to submit an abstract in 2014, despite not being at the best state of mind regarding my PhD project at the time, haha 😆 .

Me presenting in the conference in 2015

As a comparison, in 2005 it was held in Delft (lol), in 2007 in Hannover, in 2009 in Zurich, in 2011 in Rome, in 2013 in Copenhagen, and this year (2017) in Lille. Even in 2019, I heard it will be held in Linköping, haha. You see how lucky I felt? Haha 😆 .

Anyway, I enjoyed that trip so much that, I guess, it left a special mark in my brain. Now that I think about it, the conference also acted as a “turning point” in the direction of my PhD research, after a (mentally) rough 2014. The research ended well, obviously, where, eventually, earlier this year I got my PhD degree. So maybe this also played a role…

BAHASA INDONESIA

Awal minggu ini, aku melihat sebuah posting di LinkedIn yang ditulis seorang mantan kolegaku (dari tahun-tahun PhD/studi S3ku dulu) mengenai sebuah konferensi yang akan ia datangi. Konferensi itu adalah edisi terbaru dari seri konferensi dua tahunan sekali yang mana edisi sebelumnya dua tahun yang lalu aku ikuti. Waktu itu konferensinya diadakan di Tokyo, Jepang; dan sewaktu musim semi pula yang merupakan waktu terkece untuk mengunjungi Jepang!

Taman Ueno, dua tahun lalu.

Wow, entah mengapa, tiba-tiba aku merasa nostalgia banget hanya akibat membaca posting itu. Aku langsung teringat petualanganku selama hampir tiga minggu di Jepang (minggu pertama untuk konferensinya dan sisanya untuk jalan-jalan keliling Jepang doong (Tokyo, Hakodate, Sapporo, Osaka, dan Kyoto), haha 😆 ).

Berikut ini posting-posting utama di seri perjalanan musim semi 2015 ke Jepang waktu itu:
1. Getting to Japan
2. Part I: Tokyo (1)
3. Part II: Tokyo (2)
4. Part III: Tokyo (3)
5. Part IV: Hakodate
6. Part V: Sapporo
7. Part VI: Osaka
8. Part VII: Kyoto
9. Back to the Netherlands

Oke, lokasi konferensinya sebenarnya di Chiba sih.

Seperti layaknya seri konferensi, lokasi konferensinya selalu berganti-ganti di setiap edisi (tetapi selalu di lokasinya sebuah universitas tuan rumah yang juga melakukan riset yang relevan). Dan karena merupakan seri konferensi perkereta-apian, tak mengherankan seringnya konferensinya diadakan di Eropa, sebuah area dimana industri kereta api bisa dikatakan sudah dewasa. Namun, ada satu negara non-Eropa yang juga terkenal dengan teknologi kereta apinya yang mutakhir kan: Jepang.

Aku beruntung banget dengan edisi konferensi tahun 2015 itu. Kebetulan banget di waktu dimana aku memiliki bahan untuk dipresentasikan, dan di waktu yang pas pula dengan timeline riset PhDku (di tahun ketiga), konferensinya diadakan di Jepang! Huahaha 😆 . Sejujurnya, memang ini adalah salah satu alasan mengapa aku memasukkan abstrak ke konferensi ini di tahun 2014. Padahal sebenarnya waktu itu aku sedang tidak dalam mindset yang terbaik/positif dengan riset PhDku sendiri, haha 😆 .

Presentasiku di konferensi tahun 2015 itu.

Sebagai perbandingan, di tahun 2005 konferensinya diadakan di Delft (lol), tahun 2007 di Hannover, tahun 2009 di Zurich, tahun 2011 di Roma, tahun 2013 di Kopenhagen, dan tahun ini (2017) di Lille. Bahkan aku dengar di tahun 2019 konferensinya akan diadakan di Linköping, haha. Nah kan, jelas kan mengapa aku merasa beruntung banget? Haha 😆 .

Anyway, aku sungguh menikmati perjalanan itu sehingga, aku duga sih, tertinggal kesan yang spesial di otakku. Kalau kupikir-pikir lagi sekarang, konferensi ini bisa dikatakan sebuah “titik balik” dalam pengarahan riset PhDku, setelah tahun 2014 yang sulit (secara mental bagiku). Risetnya sendiri akhirnya berakhir dengan baik, dimana awal tahun ini aku mendapatkan gelar PhDku. Jadi mungkin ini ada kaitannya juga ya…

#1906 – AvGeek Weekend Trip #7 (AMS – CDG – LYS – AMS)

ENGLISH

In mid-March, I went on another Avgeek Weekend Trip. At the time I wasn’t sure whether I would write the story or not. Well, as it turned out, I have decided that I would 😀 .

My routing this weekend. Created with gcmap.com

Posts in the AvGeek Weekend Trip series:
1. AvGeek Weekend Trip #1 (AMS-CDG-STR-AMS)
2. AvGeek Weekend Trip #2 (AMS-MAD-FRA-AMS)
3. AvGeek Weekend Trip #3 (AMS-LYS-NCE-AMS)
4. AvGeek Weekend Trip #4 (AMS–CDG, ORY–LYS–AMS)
5. AvGeek Weekend Trip #5 (AMS-CPH-ARN-AMS)
6. AvGeek Weekend Trip #6 (AMS-CDG, ORY-MRS-BOD-AMS)
7. AvGeek Weekend Trip #7 (AMS–CDG–LYS–AMS)

***

While boarding for my Amsterdam-Paris flight AF1341 was on time, I felt a little bit anxious today because it took awhile to complete. You see, my connecting time in Paris was only 50 minutes and two years ago this short transit time backfired on me. At the time I missed my connecting flight in Paris due to delayed departure from Amsterdam (because of de-icing).

The first flight today was with this Air France’s Airbus A321-200 reg F-GTAD

Anyway, the flight today was operated with Air France’s Airbus A321-200 reg F-GTAD. And, as usual, it was a regular pleasant Amsterdam – Paris flight. As the last time, I felt like the complimentary snack service on board an Air France’s mainline short-haul European flight had decreased in quality a little bit.

The complimentary snack on board flight AF1341. The snack used to be better. This was like HOP!’s level of service last year.

Thank to the buffer time in the schedule, we only got in Paris 5 minutes late. It was not bad at all given that my connecting flight would depart from the same pier.

But then, as it turned out, my connecting Paris – Lyon flight AF7644 was delayed for about 1 hour due to technical problem! Lol 😆 . They had to find a replacement aircraft, which meant they would have to “downgrade” the flight from an A321 to an A320 that was smaller. Consequently, a few passengers were called in the gate, presumably because they needed to be moved to some other flights because of this downgrade. Thankfully, I wasn’t one of them.

Lunch at Air France’s Lounge at Paris-CDG

Anyway, I used this now extra time to have lunch at an Air France’s lounge. The lounge at the pier was closed due to some renovation work so I had to go to the lounge in the next pier. Due to capacity constraint, they did not let qualified passengers to invite guests into the lounge, which infuriated one guy in front of me.

When it was boarding time, I went to the gate. And for the first time ever, my flight would depart from a remote stand of Paris – Charles De Gaulle Airport!! 😍 So they had to take the passengers to the plane with buses, and we got to board via stairs! 😀

Second flight today with this Air France’s Airbus A320-200 reg F-GKXO. We gotta board via stairs!

The flight today would be operated with an Air France’s Airbus A320-200 reg F-GKXO. I was originally seated in seat 1A but I was asked to move to seat 1C because I had two toddlers and their mother sitting next to me, and the older toddler would need to sit in a window seat 😣. Anyway, it was another regular flight to Lyon.

At Lyon Airport, I checked-in for my flight back to Amsterdam. After passing security, I went to an Air France’s salon there. I just intended to ask whether the lounge after immigration still welcomed SkyTeam Elite Plus passengers (It did in August, see AvGeek Weekend Trip #4). Luckily I asked because apparently it did not anymore, even though the attendant did not seem to be really sure about it.

Artsy stuff at Lyon – St. Exupery Airport

I waited there a little bit, but then I was bored. You see, Air France’s lounge at Lyon Airport was really underwhelming (read AvGeek Weekend Trip #3). And so I decided to leave, pass the immigration, and try my luck at the lounge after that. It turned out the attendant was correct, the lounge no longer took SkyTeam Elite Plus passengers 😦 . As there was no way to go back to Air France’s lounge, I just waited at the departure hall.

Third flight today with this KLM Cityhopper’s Embraer ERJ190 reg PH-EZB.

The flight back to Amsterdam would be operated with a KLM Cityhopper’s Embraer ERJ190 reg PH-EZB. It went on time, really smooth, very efficient, and pleasant; just like any other typical KLM flight 🙂 . Just after 19:30, I was already back at Schiphol, haha 😆 .

I had dinner at the airport before heading back to Delft. And here, this short AvGeek Weekend Trip of mine ended 🙂 .

BAHASA INDONESIA

Pertengahan Maret lalu, aku pergi dalam sebuah Avgeek Weekend Trip yang lain. Waktu itu aku nggak yakin apakah ceritanya akan kutulis atau tidak. Ternyata, aku ada waktu sekarang sehingga aku akan menceritakannya 😀 .

Ruteku akhir pekan ini. Kubuat dengan gcmap.com

Posting-posting dalam seri AvGeek Weekend Trip:
1. AvGeek Weekend Trip #1 (AMS-CDG-STR-AMS)
2. AvGeek Weekend Trip #2 (AMS-MAD-FRA-AMS)
3. AvGeek Weekend Trip #3 (AMS-LYS-NCE-AMS)
4. AvGeek Weekend Trip #4 (AMS–CDG, ORY–LYS–AMS)
5. AvGeek Weekend Trip #5 (AMS-CPH-ARN-AMS)
6. AvGeek Weekend Trip #6 (AMS-CDG, ORY-MRS-BOD-AMS)
7. AvGeek Weekend Trip #7 (AMS–CDG–LYS–AMS)

***

Walaupun boarding penerbangan AF1341 Amsterdam-Parisku berlangsung tepat waktu, aku sedikit merasa was-was karena prosesnya berlangsung lama. Begini, waktu transitku di Paris hanya 50 menit saja dan dua tahun lalu waktu transit yang singkat ini membawa pengalaman buruk. Waktu itu, aku ketinggalan penerbangan koneksiku di Paris akibat terlambatnya keberangkatan dari Amsterdam (akibat de-icing).

Penerbangan pertama hari ini adalah dengan Airbus A321-200nya Air France dengan rego F-GTAD ini

Anyway, penerbangan hari ini akan dioperasikan dengan Airbus A321-100nya Air France dengan rego F-GTAD.Dan, seperti biasa, ini adalah penerbangan yang nyaman dari Amsterdam ke Paris. Seperti yang lalu sih, aku merasa layanan snack di kelas ekonominya Air France di penerbangan jarak pendek intra-Eropa kok sedikit menurun ya kualitasnya.

Layanan snack di penerbangan AF1341. Snack-nya dulu lebih oke nih. Ini sih seperti level layanannya HOP! tahun lalu.

Untung akibat buffer time di jadwal, pesawat hanya terlambat 5 menit saja di Paris. Nggak masalah lah karena penerbangan lanjutanku kan dijadwalkan berangkat di pier yang sama.

Tetapi kemudian, ternyata penerbangan lanjutan AF7644 Paris – Lyonku terlambat 1 jam dong karena masalah teknis, haha 😆 . Mereka harus mencari pesawat pengganti, yang mana artinya pesawatnya harus di-“downgrade” dari A321 ke A320 yang lebih kecil. Sebagai akibatnya, ada beberapa penumpang yang dipanggil ke gerbang, aku duga sih mereka harus dipindahkan ke penerbangan lain karena downgrade ini. Untungnya, aku bukan lah salah satu dari mereka.

Makan siang di Lounge Air France di Paris-CDG

Anyway, waktu ekstra ini kumanfaatkan untuk makan siang di lounge-nya Air France. Lounge di pier-ku sedang ditutup karena sedang direnovasi sehingga aku harus pergi ke lounge di pier sebelah. Karena keterbatasan kapasitas, kali ini mereka tidak mengizinkan penumpang dengan akses ke lounge untuk membawa tamu ke dalam, yang mana membuat bapak-bapak di depanku marah besar.

Waktu naik pesawat, aku pergi ke gerbang. Dan untuk pertama-kalinya, penerbanganku akan diberangkatkan dari tempat parkir remote di bandara Paris – Charles De Gaulle!! 😍 Jadi mereka harus membawa penumpang dengan bus dan kami naik pesawat melalui tangga gitu deh! 😀

Penerbangan kedua hari ini dengan pesawat Airbus A320-200nya Air France dengan rego F-GKXO. Naik pesawatnya dengan tangga!

Penerbangan hari ini dioperasikan dengan Airbus A320-200nya Air France dengan rego F-GKXO. Awalnya aku diberikan kursi 1A tetapi aku kemudian dipindah ke kursi 1C karena dua batita dan ibunya yang duduk di sebelahku. Dan batita yang besar mesti duduk di kursi jendela gitu deh 😣. Anyway, penerbangannya sendiri adalah penerbangan reguler ke Lyon.

Di Bandara Lyon, aku check-in untuk penerbanganku ke Amsterdam. Setelah melewati sekuriti, aku pergi ke lounge-nya Air France. Aku hanya berniat untuk bertanya apakah lounge yang berlokasi setelah imigrasi masih menerima penumpang SkyTeam Elite Plus (Agustus lalu sih iya, baca AvGeek Weekend Trip #4). Untung aku bertanya karena ternyata tidak lagi demikian, walaupun petugasnya juga nampak kurang yakin sih.

Hiasan berseni di Bandara Lyon – St. Exupery

Aku menunggu di sana sebentar dan kemudian merasa bosan. Jadi lounge-nya Air France di bandara Lyon memang kurang oke gitu deh (baca AvGeek Weekend Trip #3). Jadilah aku memutuskan untuk keluar, melewati imigrasi, dan untung-untungan dengan lounge setelahnya. Ternyata petugasnya benar, lounge ini tidak lagi menerima penumpang SkyTeam Elite Plus 😦 . Karena tidak mungkin lagi kembali ke lounge-nya Air France, aku menunggu di gerbang keberangkatan saja.

Penerbangan ketiga hari ini dengan Embraer ERJ190nya KLM Cityhopper dengan rego PH-EZB.

Penerbangan kembali ke Amsterdam dioperasikan dengan Embraer ERJ190nya KLM Cityhopper dengan rego PH-EZB. Penerbangan ini tepat waktu, mulus, efisien, dan nyaman lah; sama seperti standar penerbangannya KLM lainnya 🙂 . Sekitar jam 7:30 malam, aku sudah kembali lagi di Schiphol, haha 😆 .

Aku makan malam di bandara sebelum pulang ke Delft. Dan di sini, perjalanan AvGeek Weekend Trip singkat ini berakhir 🙂 .

#1905 – Two Moving Stuffs

ENGLISH

I am moving to my own apartment in Amsterdam this month. Here are a couple of things about that.

Moving = opportunity to throw away stuffs

This one is a little bit different than the ones before (since I moved to the Netherlands, obviously; where I only had to move within Delft). Because I am moving to another city, I would like to move as little stuffs as possible. I mean, I don’t want to spend a lot of time and energy in moving stuffs I do not use nor need anymore. In other words, this is a perfect opportunity to throw away “my garbage stuffs”!

So in some weekends of February and March, I sorted all my stuffs. It was not that surprising (to me) that I was able to gather a lot of stuffs which I did not use nor need anymore; including old clothes, sweaters, jackets, coats, documents, and many other random stuffs, haha. It certainly looked like a lot and would have filled about two big suitcases. So I am super glad that now I don’t have to move two big suitcases of stuffs I won’t even use nor need! 🙂

Moving = a time optimization problem

Now, I still live in Delft. While this weekend I worked hard to make my apartment “livable”, at the moment it is still not ready (even though, the bed, sofa, curtains, essential lamps, fridge, washing machine, etc are already installed). One crucial basic thing is still not installed yet, that is:

the internet connection

Huahaha 😆

I mean, I just can’t live in a place with no internet connection! Haha 😆 . You see, as shown in the (modified) Maslow’s pyramid of need as follows:

Maslow’s pyramid of needs. Source: http://boingboing.net/2013/04/19/mazlow-xxi-c.html

internet is the most basic need of all these days 😛 .

I have made an appointment with a mechanic from an internet provider later on this week. So basically after that, I can start living in Amsterdam.

BAHASA INDONESIA

Aku pindah ke apartemen milikku di Amsterdam bulan ini. Berikut ini dua hal yang berkaitan dengannya.

Pindahan = kesempatan untuk membuang barang

Pindahan kali ini agak berbeda daripada yang sebelum-sebelumnya (semenjak aku pindah ke Belanda, tentunya; dimana aku hanya pindah di dalam Delft saja). Karena aku pindah ke kota lain, aku ingin memindahkan sesedikit mungkin barang. Maksudnya, ogah kan menghabiskan banyak waktu dan energi memindahkan barang-barang yang toh tidak lagi aku gunakan atau butuhkan. Dengan kata lain, pindahan adalah kesempatan emas untuk membuang “barang-barang sampahku”!

Jadilah di beberapa akhir pekan di Februari dan Maret, aku menyortir barang-barangku. Tidak mengherankan (untukku) ada banyak barang yang aku anggap tidak akan lagi aku pakai atau butuhkan; termasuk pakaian-pakaian tua, sweater, jaket, mantel, dokumen-dokumen, dan barang-barang random lainnya, haha. Nampak banyak banget loh dan barang-barang itu akan mengisi setidaknya dua koper besar lah. Jadi aku merasa senang aku tidak harus memindahkan dua koper besar yang berisi barang-barang yang bahkan tidak aku perlukan atau gunakan lagi! 🙂

Pindahan = masalah optimasi waktu

Sekarang ini, aku masih tinggal di Delft. Walaupun akhir pekan kemarin ini aku bekerja keras untuk membuatnya “bisa dihuni”, saat ini sayangnya apartemennya masih belum siap (walaupun ranjang, sofa, gorden, lampu-lampu penting, kulkas, mesin cuci, dll sudah dipasang). Ini dikarenakan ada satu hal penting dan mendasar yang masih belum terpasang, yaitu:

koneksi internet

Huahaha 😆

Maksudku, aku ogah dong tinggal di tempat yang nggak ada koneksi internetnya! Haha 😆 . Yah, kan sesuai dengan yang ditunjukkan piramida kebutuhan dasarnya Maslow (yang dimodifikasi) berikut ini:

Piramida kebutuhan dasarnya Maslow. Sumber: http://boingboing.net/2013/04/19/mazlow-xxi-c.html

internet adalah kebutuhan dasar banget sekarang-sekarang ini 😛 .

Aku sudah membuat janji dengan mekanik dari sebuah perusahaan penyedia layanan internet minggu ini. Jadi pada dasarnya setelah itu sih aku sudah bisa tinggal di Amsterdam.