#2410 – My First Post-Lockdown Flights

ENGLISH

Earlier this month, finally I went on my first trip since mid-March where I visited the Rheinfall in Switzerland. I flew KLM’s non-stop flight to Zurich to get there, which also was my first flight in about three and a half months, with the last one being the Paris-Amsterdam flight in Europe Business Class on my way back from Southeast Asia in mid-March. Btw this easily beat my previous flight-free streak record in 2017 where I did not fly for “only” six weeks, haha 😛 .

My last previous flight was on KLM’s Paris-Amsterdam flight in Europe Business Class in mid-March

Anyway, with the global pandemic situation, I anticipated this flight experience to be, somewhat, different than what it used to be. I did some research before the trip to make sure I would make an informed decision and have everything prepared. This included the destination choice where I would rather travel to a place that was relatively “hassle-free” for my peace of mind. I also read the airlines’ policies to set my expectations right on the ground and on board experience, haha. As usual, I checked-in online and because this was only a short weekend trip, I did not have a checked luggage with me. So at Schiphol I could immediately go to the security check. There was no priority line, though (This was also the case at Zurich Airport). At Schiphol, masks were mandatory at security so be prepared with one!

KLM’s Schengen Crown Lounge corona opening hours

Schiphol Airport was actually quite busy. It wasn’t as crowded as it normally was, but it certainly wasn’t “deserted”. Perhaps this was because it was already July so demand for the summer holiday had somewhat picked up. Because of this, KLM had also started reopening their Schengen Crown Lounge (During the lockdown, only the non-Schengen one that was operated), even though only from 6 AM to noon.

KLM’s refurbished Schengen Crown Lounge

My last visit to the Schengen Crown Lounge was about four and a half months prior on my way to Madrid. And it turned out that, since then, KLM had continued working on the renovation and one wing of the newly renovated area had now been opened! I liked the new area which certainly was an improvement (at least from the interior design perspective) from the old lounge.

KLM’s refurbished Schengen Crown Lounge

The lounge was actually quite busy even though it was not overcrowded. I was still able to find a seat for myself while still maintaining some physical distance with other people. Food and drink were still served at the lounge, even though no buffet concept for the food. I would need to order to the attendants who would then work on the sandwiches and pastries that were served that morning. Drink, however, was still self-service, which was quite nice. Boarding went quite orderly, where masks were mandatory and passengers were asked to keep a 1.5 meter distance with each other. It was really exciting to finally step on board an airplane again! Nowadays KLM mandates all passengers (and crews) to wear masks on board all of their flights. This wasn’t really “new” to me as in some of my flights in Southeast Asia this March, I already wore masks (on my Silk Air and Vietnam Airlines flights).

The new normal of flying?

On these particular flights, some physical distancing was able to be managed on board. I noticed since about three days prior to the flights, KLM blocked all middle seats in the regular economy seat map. I got my complimentary seats in Economy Comfort and even though the middle seats weren’t blocked in the seat map, on both flights the middle seats next to me were empty. In fact on my outbound flight, there were only two passengers (including myself) in my row, with both of us taking the two window seats (so there were four empty seats plus an aisle between us), and the three seats behind me were empty!

Some physical distancing observed on board a KLM’s flight

On board, I was happy that KLM still managed to serve some sandwiches and drinks on these flights, even though the drink options were much limited than usual (no alcohol beverages). I actually considered the sandwiches an “upgrade” for their morning departure service, though, as usually they would serve the sweet yellow cake; which was tasty but I’d much rather prefer the sandwiches! Haha 😛

KLM’s adjusted morning departure service due to the pandemic

In July, Switzerland mandated all passengers to fill a contact and trace form related to the pandemic, which the cabin crew distributed on board after boarding was completed. There was an official just outside the gate at Zurich Airport who collected the filled form. So this means that nowadays, it is a good idea to travel with a pen ready!

Switzerland’s trace and contact form

So yeah, it was really nice to be able to fly again. I have to say I had missed the flying sensation, something which I perhaps took for granted prior to the pandemic!

BAHASA INDONESIA

Awal bulan ini, akhirnya aku pergi dalam sebuah perjalanan untuk pertama kalinya semenjak pertengahan Maret dimana aku jalan-jalan ke Rheinfall di Swiss. Aku terbang dengan penerbangan non-stop KLM ke Zurich untuk pergi kesana, yang mana juga adalah penerbangan pertamaku selama tiga setengah bulan, dengan yang terakhir adalah penerbangan Paris-Amsterdam di Kelas Bisnis Eropa dalam perjalananku pulang dari Asia Tenggara di pertengahan Maret. Btw, ini jelas dengan mudah mengalahkan rekor “bebas terbang”-ku di tahun 2017 dimana waktu itu aku tidak terbang “hanya” selama enam minggu, haha 😛 .

Penerbangan terakhirku sebelumnya adalah dengan KLM di rute Paris-Amsterdam di kelas bisnis Eropa di pertengahan Maret

Anyway, dengan situasi pandemi global seperti saat ini, jelas aku sudah mengantisipasi bahwa pengalaman terbang kali ini akan berbeda daripada sebelumnya. Aku sudah riset dulu sebelum pergi untuk memastikan aku membuat keputusan yang bijak dan telah mempersiapkan semua yang aku butuhkan. Ini termasuk pilihan destinasi dimana aku hanya akan jalan-jalan ke tempat tujuan yang relatif “tidak merepotkan”, ya agar pikiran tenang gitu. Aku juga membaca-baca kebijakan maskapai agar ekspektasiku di darat dan udara nantinya sesuai, haha. Seperti biasa, aku check-in online dan karena ini hanyalah perjalanan akhir pekan singkat, aku tidak membutuhkan bagasi. Jadilah di Schiphol aku bisa langsung menuju pemeriksaan sekuriti. Kali ini tidak ada jalur prioritas nih (Hal yang sama juga berlaku di Bandara Zurich). Di Schiphol, semua diwajibkan mengenakan masker di area pemeriksaan sekuriti sehingga persiapkan satu!

Jam Buka Crown Lounge Schengen-nya KLM di waktu corona

Bandara Schiphol sendiri nampak lumayan sibuk sih. Memang tidak seramai biasanya, tetapi juga tidak sampai “sepi kosong melompong” gitu. Mungkin karena sudah bulan Juli ya dimana permintaan untuk liburan musim panas sudah mulai naik. Karena ini pula, KLM sudah mulai membukan kembali Crown Lounge Schengen-nya (Di waktu lockdown, hanya Crown Lounge Non-Schengen yang dioperasikan).

Crown Lounge Schengennya KLM yang sudah direnovasi

Kunjungan terakhirku ke Crown Lounge Schengennya KLM adalah sekitar empat setengah bulan sebelumnya di perjalananku menuju Madrid. Dan ternyata semenjak waktu itu, KLM terus melanjutkan pekerjaan renovasi lounge-nya dan kini satu sayap dari area baru yang sudah direnovasi telah dibuka! Aku suka area barunya ini, yang mana jelas adalah peningkatan (setidaknya dari segi disain interior, haha) daripada yang lama.

Crown Lounge Schengennya KLM yang sudah direnovasi

Lounge-nya juga lumayan ramai tetapi tidak sampai overcrowded. Aku toh masih bisa menemukan kursi kosong dan tetap bisa menjaga jarak dengan pengunjung lain. Makanan dan minuman juga disajikan di lounge-nya, walaupun makanan tidak disajikan dengan konsep buffet. Jadi aku harus menyebutkan apa yang aku mau ke petugasnya yang mana kemudian akan membuatkan sandwich dan mengambilkan roti-rotian yang disajikan pagi itu. Minuman, tapinya, sih bebas untuk ambil sendiri, yang mana oke lah ya. Boarding berlangsung lancar, dimana masker diwajibkan dipakai dan penumpang diminta untuk menjaga jarak 1,5 meter satu sama lain. Rasanya exciting dimana aku naik pesawat lagi! Saat ini KLM mewajibkan semua penumpang (dan kru) untuk mengenakan masker di semua penerbangannya. Ini nggak “baru” sih untukku karena di beberapa penerbanganku di Asia Tenggara Maret ini, aku juga sudah memakai masker (di penerbangan Silk Air dan Vietnam Airlines).

Kenormalan baru di pesawat?

Di dua penerbangan yang aku ambil ini, physical distancing masih bisa diberlakukan di pesawat. Aku perhatikan semenjak sekitar tiga hari sebelum penerbangan, KLM memblok semua kursi tengah di kabin ekonomi reguler di peta kursinya. Aku kan mendapatkan kursi komplimen di area Economy Comfort dan walaupun kursi tengahnya tidak diblok di peta, pada kenyataannya di dua penerbangan ini kursi tengah di sebelahku kosong sih. Bahkan di penerbangan keberangkatanku, hanya ada dua penumpang (termasuk aku) di barisku, dimana kami berdua mengambil kursi jendela (sehingga ada empat kursi kosong plus lorong di antara kami), dan juga tiga kursi di barisan belakangku juga kosong!

Physical distancing di sebuah penerbangannya KLM

Di penerbangannya, aku senang KLM masih menyajikan layanan sandwich dan minuman, walaupun pilihan minumannya jauh lebih terbatas dari biasanya sih (tidak ada minuman beralkohol). Bagiku bahkan sandwich-nya adalah “upgrade” untuk penerbangan pagi sih, karena biasanya kan yang disajikan adalah roti kuning yang manis itu; yang mana memang enak-enak aja tapi aku masih lebih suka sandwich-nya! Haha 😛

Layanan di penerbangan pagi KLM yang telah disesuaikan karena pandemi.

Di bulan Juli, Swiss mewajibkan semua penumpang untuk mengisi formulir yang berkaitan dengan pandemi, yang mana dibagikan awak kabin setelah boarding selesai. Ada petugas yang akan mengumpulkannya di luar gerbang ketibaan di Bandara Zurich. Ini berarti bahwa sekarang-sekarang ini, penting juga untuk membawa pulpen sendiri ketika terbang!

Formulir trace and contact-nya Swiss

Jadi ya begitu deh, senang banget rasanya bisa terbang lagi. Harus kuakui bahwa aku sudah kangen dengan sensasi dari terbang, sesuatu yang aku anggap remeh sebelum pandemi ini!

17 Comments Add yours

  1. kutubuku says:

    Aku sungguh kangen di airport on my way to somewhere, tapi nahan dulu lah untuk travelling sementara ini, bukan paranoid tapi excitementnya ga bakal sama, juga jalan2nya bakal ga seseru biasanya. Crossing my fingers sampe vaksin ketemu

    1. zilko says:

      Iya memang atmosfernya juga jadi berbeda ya. Belum lagi at the back of our mind kepikiran gimana kalau restriksi-restriksinya tiba-tiba berubah, dsb, hahaha. Iya mudah-mudahan upaya pencarian vaksinnya berbuah positif dan vaksinnya bisa segera diproduksi dan didistribusi ya.

  2. Mia says:

    Ah jadi inget kemaren Maret waktu mendadak pulang ke Indonesia dr Zimbabwe, banyak bgt kursi kosong, terus Soetta sunyi senyap, dan flight CGK SRG naik GA passengers nya cuma 20 an orang 😩
    Aku juga suda rindu jalan2, uda plan mau ke Singapura Agustus ini aslinya, mundur dulu lah sampai mereda dulu semua ini :”)
    Kalo EU sudah bisa travel antar EU sih ya ko?

    1. zilko says:

      Iya! “Asyik” juga sih ya banyak kursi kosong gitu, jadi lebih lapang. Tapi tetap aja “atmosfer”-nya nggak sama yang mana lebih “sendu”. Iya perbatasan internal Eropa sebagian besar memang sudah dibuka, walaupun tetap mesti sering-sering update aturan-aturannya sih. Dari destinasi-destinasi tertentu ada yang mesti self-quarantine juga soalnya.

      1. Mia says:

        Betul banget ko! Rasanya beda, di satu sisi exciting, di satu sisi mellow gitu deh hahaha
        Aaah, aku kira udah yasudah buka gitu, soalnya sepupuku yang di Jerman akhirnya kemaren abis borders pada buka quarantinenya pindah di countryside Perancis gitu, terus keluarga yg dr Swedia juga dateng2 hehehe

        1. zilko says:

          Ya secara umum memang dibuka sih tapi ada aturan-aturannya juga. Kalau di Belanda kalau masuk dari negara level oranye (termasuk Swedia) mesti self-quarantine gitu, hahaha.

  3. Info yg menarik. Bagaimanapun. Ah. Stay safe ya Ko..

  4. pinkuonna says:

    Waw, akhirnya Zilko bisa terbang lagi di masa pandemi ini dan baru tahu ternyata rekor paling lama Zilko ga terbang tuh cuma 6 minggu 🙂 Aku juga kangen terbang, walaupun “jadwal terbangku” cuma maksimal 2 kali setahun deh kayaknya 😀

    1. zilko says:

      Iya akhirnya bisa terbang lagi! Hahaha 😆 . Kalau di Indonesia sekarang memang ribet ya naik pesawat. Persyaratannya bejubel banget.

      1. pinkuonna says:

        Yup, banyak persyaratannya sekarang.

        1. zilko says:

          Iya, baca-baca persyaratannya aja bikin males untuk terbang ya.

          1. pinkuonna says:

            Iya, udah capek duluan…

  5. niee says:

    Di Pontianak bahkan penerbangan ke luar negeri berenti beroperasi. Aku ragu seh kalaupun border malaysia udah buka, penerbangannya bakalan balik lagi, karena kayaknya bakalan susah banget. Tetap nungguin vaksin deh, semoga uji klinis ketiga ini berhasil.

    1. zilko says:

      Iya Niee penerbangan internasional (di Indonesia) memang yang paling terdampak ya. Restriksi antar negaranya itu yang memukul banget permintaannya. Iya vaksin ini sepertinya akan jadi kunci untuk memecahkan permasalahan pandemi ini ya. Mudah-mudahan semua proses dan ujinya lancar, termasuk juga produksinya nantinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s