#2400 – My First Time in Hanoi, Vietnam

ENGLISH

Posts in the 2020 Southeast Asia Spring Trip series:
1. Introduction
2. Part I: KLM Business Class Boeing 777-300ER Amsterdam to Jakarta
3. Part II: Yogyakarta
4. Part III: Singapore
5. Part IV: Travel Drama to Hanoi
6. Part V: Hanoi
7. Part VI: Ninh Binh
8. Part VII: Vietnam Airlines Business Class Airbus A350-900 Hanoi to Paris
9. Part VIII: KLM’s new Boeing 737-800 Europe Business Class

In Hanoi, I stayed at the Old Quarter area because upon research, this seemed to be the area with the most attractions to see in the city, haha. Anyway to get to Hanoi from the airport (and the other way around), I arranged a private transportation via my hotel.

Getting around Hanoi’s Old Quarter was really easy. The map I got from my hotel was more than enough to easily navigate me through it. To me, this area wasn’t “that” big in the sense that getting around it on foot was very doable. Though, prior to the trip I got a lot of recommendations to use Grab but on this trip I didn’t particularly feel the need to use it. But perhaps this was also because I was quite lucky with the weather where it wasn’t that hot nor humid at all the entire time I was there.

Hanoi vibes

Anyway, Hanoi’s Old Quarter was … well, really messy traffic-wise with a lot of motorcycles and mostly narrow streets. This messiness wasn’t something out of the ordinary if you were or had lived long enough in Southeast Asia, though, haha. Growing up in Indonesia, the experience was fine by me even though, of course, I needed some time at the beginning to adapt to it especially that I had just arrived from the orderly Singapore. But I could imagine it could be overwhelming for those who weren’t use to the jungle of traffic madness, haha.

Hanoi traffic

The first site in Hanoi that I visited was the Ngoc Son Temple that was located on the Hoan Kiem Lake, which I had to pay 30,000 β‚« (Vietnamese dong, approx. €1.16) to enter. To get to the temple, I needed to cross the beautiful wooden, red Huc Bridge. In short, it was a cute temple which size wasn’t that big.

The Ngoc Son Temple in Hanoi

One site in Hanoi that I would really like to visit was its famous “Train Street”, thanks to Noni’s post about it last year, haha. So I located where it was on the map and went there. It turned out that to enter the area, you’d need to commit to one of the cafes “inside”. Otherwise, they would blow a whistle on you, like what happened to me because I didn’t know about this. I was like, “What did I do wrong?“, haha πŸ˜† . There were actually cafe people at the “entrances” of the Train Street who would then act as your “ticket” to enter the area. And so I approached one who would then bring me to one of the smaller “cafes” there, where I ordered a cider.

Hanoi Train Street

The Train Street was beautiful indeed, mainly because the buildings were really colorful and were certainly Instagrammable, haha πŸ˜† . The atmosphere was nice too, though I couldn’t help but notice that everyone who were there were either tourists or cafe people! Unfortunately I wasn’t there when a train passed, though.

Hanoi’s Train Street

On my last day in Hanoi, I decided to walk from my hotel that was in the east side of Old Quarter to Hanoi’s Ho Chi Minh Mausoleum that was located to the west of Old Quarter, haha. Well, I had the time to kill before my flight to Paris in the evening anyway πŸ˜› . This was a nice area with a big green field with many guards. We could get closer to the Mausoleum but due to coronavirus, one was required to wear a mask to do so. I chose to keep my masks (that are precious commodity to have this time around, I guess), haha.

Ho Chi Minh Mausoleum in Hanoi

Food-wise, overall I enjoyed my time in Hanoi (and Vietnam, for that matter). For my first “real” meal in Vietnam, I obviously had the beef pho! I know, so typical, but it was really delicious! Haha πŸ˜€ . Another dish that I liked was the bun cha, which was a char-grilled pork dish served with noodles. I didn’t really like the noodles, though.

Beef pho in Hanoi, Vietnam

To me, overall Hanoi felt like a typical Southeast Asian city: quite messy and crowded. Even though for the latter, according to my tour guide this Hanoi that I was in was actually not crowded at all for Hanoi’s standard. This was due to the coronavirus.

Hanoi’s Opera House. Indeed the traffic was light here.

And I could actually observe, and feel, the effect this virus had on the city, especially the tourism industry. On my last morning in Hanoi, my hotel did not serve full buffet breakfast like it used to. The receptionist apologized to me for this, citing that this was due to extremely low occupancy rate that night. Other than myself, there were only two other guests! :O .

The virus also affected my plan for my visit to the countryside of Vietnam, which I will share in the next post.

TO BE CONTINUED…

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Perjalanan Musim Semi 2020 ke Asia Tenggara:
1. Introduction
2. Part I: KLM Business Class Boeing 777-300ER Amsterdam to Jakarta
3. Part II: Yogyakarta
4. Part III: Singapore
5. Part IV: Travel Drama to Hanoi
6. Part V: Hanoi
7. Part VI: Ninh Binh
8. Part VII: Vietnam Airlines Business Class Airbus A350-900 Hanoi to Paris
9. Part VIII: KLM’s new Boeing 737-800 Europe Business Class

Di Hanoi, aku menginap di area Old Quarter karena ketika riset tujuan ini, area ini nampak sebagai area dengan atraksi paling banyak untuk dilihat di kota ini, haha. Oh iya, untuk pergi dari/ke bandara, aku memutuskan untuk menggunakan jasa antar jemput yang disediakan pihak hotel.

Berkeliling area Old Quarter Hanoi juga mudah kok. Cukup hanya dengan peta yang aku dapatkan dari resepsionis hotel, aku bisa dengan mudah berkeliling kota. Untukku, area ini tidak “terlalu” besar dalam artian masih bisa lah dijelajahi cukup dengan berjalan-kaki saja. Walaupun sebelum pergi ini aku disarankan untuk menggunakan Grab sih, tapi di sana aku merasa tidak terlalu perlu membutuhkannya. Mungkin ini juga disebabkan aku beruntung ya dengan hal cuaca dimana waktu ini cuacanya sedang tidak panas atau lembab.

Vibe-nya Hanoi

Anyway, Old Quarter-nya Hanoi itu … kacau gitu lah lalu lintasnya dimana banyak banget sepeda motor yang berseliweran dengan jalanan yang cenderung semput. Tapi kekacauan ini bukan lah pemandangan yang aneh sih kalau kita sudah lama atau pernah tinggal di Asia Tenggara, haha. Bagiku yang besar di Indonesia, pengalaman ini rasanya ya biasa aja gitu ya, walaupun memang di awalnya agak perlu penyesuaian sedikit sih, apalagi aku baru saja tiba dari Singapura yang teratur kan. Tapi kebayang deh bagi yang tidak biasa dengan kondisi lalu lintas seperti ini, rasanya pasti overwhelming banget, haha.

Lalu lintas Hanoi

Tempat pertama yang aku kunjungi di Hanoi adalah Kuil Ngoc Son yang berlokasi di Danau Hoan Kiem, dimana aku harus membayar 30,000 β‚« (dong Vietnam, kira-kira Rp 21.000,-) untuk masuk. Untuk mencapai kuilnya, aku harus menyeberangi jembatan kayu kece berwarna merah yang bernama Jembatan Huc. Singkatnya, kuil ini kecil tapi imut, haha.

Kuil Ngoc Son di Hanoi

Satu tempat di Hanoi yang ingin banget aku kunjungi adalah “Train Street”-nya yang terkenal itu, yang mana aku tahu berkat posting-nya Noni tentang lokasi ini tahun lalu, haha. Tempatnya aku temukan di petaku dan kemudian jelas aku pergi kesana. Ternyata untuk memasuki areanya, kita harus berkomitmen untuk membeli minuman di salah satu kafe “di dalamnya”. Jika tidak, kita akan disemprit “petugas”-nya dong, seperti yang terjadi kepadaku yang mana karena aku tidak tahu ya. Jadilah aku langsung kaget terpikir “Apa salahku?“, haha πŸ˜† . Jadi ternyata di “pintu masuknya” itu ada beberapa orang kafe yang kemudian bisa berlaku sebagai “tiket masuk” kita untuk memasuki areanya. Jadilah aku mendatangi satu yang kemudian mengantarku ke salah satu “kafe” kecil di sana, dimana aku memesan satu botol cider.

Train Street di Hanoi

Train Street memang bagus sih, soalnya karena bangunan-bangunannya berwarna-warni dan Instagrammable banget, haha πŸ˜† . Atmosfernya juga asyik, tapi juga memang nampak banget yang ada di sana ya turis-turis atau orang-orang kafenya doang sih! Sayangnya sedang tidak ada kereta yang lewat ketika aku berada di sana.

Train Street di Hanoi

Di hari terakhirku di Hanoi, aku berjalan dari hotelku yang berlokasi di sisi timur Old Quarter ke Ho Chi Minh Mausoleum yang berada di sebelah barat Old Quarter, haha. Yaa, memang ada banyak waktu juga sih sebelum penerbanganku ke Paris di malam harinya πŸ˜› . Area ini adalah area yang oke dengan lapangan rumput luas yang dijaga oleh banyak petugas/tentara. Sebenarnya kita bisa mendekat ke gedung Mausoleumnya tetapi karena virus korona, setiap pengunjung diwajibkan mengenakan masker untuk itu. Aku sih memilih untuk menghemat maskerku ya (yang mana adalah komoditas berharga nih sekarang-sekarang ini), haha.

Mausoleum Ho Chi Minh di Hanoi

Dari segi makanan, aku menikmati waktuku di Hanoi (dan Vietnam juga sih). Untuk makanan “beneran” pertamaku di Vietnam, jelas dong ya aku memesan pho daging sapi! Iyaa, tipikal sekali tapi ya memang enak kan! Haha πŸ˜€ . Menu lain yang juga aku suka adalah bun cha, yang mana adalah daging babi bakar yang disajikan dengan mie dingin. Aku kurang begitu suka mie-nya sih.

Pho daging sapi di Hanoi, Vietnam

Untukku, secara keseluruhan Hanoi terasa seperti tipikal kota di Asia Tenggara, cukup ruwet dan ramai. Walaupun dalam hal keramaian, menurut tour guide-ku Hanoi kali ini sebenarnya sedang sepi untuk ukuran Hanoi, yang mana disebabkan oleh virus korona.

Opera House di Hanoi. Iya sih ya, jalanannya sepi banget.

Dan dari yang aku amati, dan alami juga, efek virus ini terasa sekali di kotanya, terutama di industri turisme. Di pagi terakhirku di Hanoi, hotelku tidak menyajikan sarapan buffet lengkap seperti biasanya. Resepsionisnya meminta-maaf kepadaku dan menjelaskan bahwa ini dikarenakan tingkat hunian hotelnya malam itu yang rendah banget. Selain aku, masa hanya ada dua tamu lain dong! :O .

Virus ini juga berimbas pada rencanaku dalam mengunjungi area pedesaan/luar kotanya Vietnam, yang mana akan kuceritakan di posting selanjutnya.

BERSAMBUNG…

16 Comments Add yours

  1. nyonyasepatu says:

    Skr dipaksa jajan ya kalau ke sana. Dulu padahal bebas2 aja Zi. Btw ada jamnya itu si kereta lewat emang hrs ditungguin

    1. zilko says:

      Iya Non sekarang kalau mau masuk wajib jajan di sana, hahaha πŸ˜† . Iya Non sayang sih kemarin di sananya pas nggak ada kereta yang lewat. Pas ada yang lewat, jamnya yang nggak pas dengan agenda lainku, hahaha

  2. Yance says:

    aduhh, jadi kepengen pho nya itu ko…ngiler liatnya…Disitu mirip di Indo juga suasana lalu lintasnya ya..

    1. zilko says:

      Pho-nya enak! Iyaa, suasana kotanya sih mirip2 lah sama di Indo, hahaha

  3. inlycampbell says:

    Belum pernah ke Hanoi, sempat mau kesana, karena mau ke Halong Bay, tapi ntah kenapa kok dulu dicancel, jadi cuma ke Ho Chi Minh doang.. Tapi Vietnam mang seru, makanannya enak2 dan murah meriah banget disana, gara2 mata uangnya lebih kecil dari rupiah, haha..

    1. zilko says:

      Kalo Ho Chi Minh menurut kamu gimana In? Recommended kah? Iya, Vietnam memang seru ya ternyata, alamnya juga bagus-bagus plus relatif gampang dicapai, harga terjangkau pula!

  4. niee says:

    Sempat baca setelah mbak Noni tulis train street itu ditutup ya. ternyata dibuka lagi sekarang.

    1. zilko says:

      Iya Niee, untungnya kemarin uda dibuka lagi walau “dipaksa” beli minuman sih, hahaha πŸ˜†

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s