#2328 – Back in Surabaya After A Decade

ENGLISH

Posts in the Short Summer Trip to Indonesia series:
1. Introduction
2. Part I: KLM Business Class B777-200ER Amsterdam to Hong Kong
3. Part II: Garuda Indonesia Business Class B737-800 Hong Kong to Jakarta
4. Part III: Surabaya
5. Part IV: Yogyakarta
6. Part V: Garuda Indonesia Business Class A330-200 Jakarta to Shanghai
7. Part VI: Transiting at Shanghai Pudong Airport
8. Part VII: KLM Business Class B777-300ER Shanghai to Amsterdam

As I mentioned in the Introduction post, unfortunately life took a turn which made me need to adjust my plan while in Indonesia. An aunt of mine who lived in Surabaya suddenly passed while I was on my way to Hong Kong. The timing felt very, very coincidental as I was on my way to Indonesia; so this made me feel like I needed to make time to go to Surabaya.

But I had a really tight schedule. I would only arrive in Yogyakarta on Thursday afternon, while the wedding I was going to would be on Saturday. After a quick discussion with my mom and brother, we decided that we would drive to Surabaya on Friday afternoon, and I would come back to Yogyakarta by myself by a train on Saturday morning. Yeah, this would be a super quick trip to Surabaya! I would be back to this city after about a decade!

The amazing TransJava Tollroad

The good news was the TransJava Toll Road that already connected Solo and Surabaya. It cut what used to be a 7-8 hours road trip between Yogyakarta and Surabaya to just 3-4 hours. In our case, we spent like 1.5 hours between Yogyakarta and Solo (non-toll road) and just over two hours between Solo and Surabaya. And you know Solo – Surabaya is a much, much greater distance than Yogyakarta and Solo. Yep, unfortunately Yogyakarta is perhaps the least developed region in Java in terms of infrastructure.

Our first destination in Surabaya was actually not the funeral house, but the tomb of my paternal grandparents. Then it was around dinner time already so from the cemetary we went to have dinner at a Bakwan Kapasari. It was as good as how I remembered it! Yum!

The legendary Bakwan Kapasari in Surabaya

From there we went to the funeral house. Well, I wouldn’t write much of this part; only that it felt strangely nice to be able to be there. And I got the chance to meet many extended families too. We stayed there for a few hours and then left to check-in at our hotel. Then we went on a round of late night culinary around the hotel, haha.

Mie Medan in Surabaya

I only got to sleep for about 3 hours that night as I had to catch my 7 AM Argo Wilis train from Surabaya Gubeng Train Station. I grabbed a Grab car (haha 😛 ) to the train station, feeling quite excited as I would finally ride Argo Wilis again after about 9.5 years; and this time I “completed” this train service as I would be able to say I have taken Argo Wilis of its full traject between Surabaya and Bandung! Haha.

Surabaya Gubeng Train Station

Also the last time I was in Surabaya Gubeng was about twenty years ago, btw. When my dad took me and my brother for a short trip to Surabaya with trains. Speaking of the train station, I originally planned to grab something for breakfast there but nothing really caught my attention. Also, the Indonesian train had definitely come a long way with the check-in machines and boarding check! Haha.

An executive class seat on board Argo Wilis

I took the regular Executive class on this trip (instead of the Priority one). This made me realize there also has been further segmentation on the train travel class in Indonesia, even more so in the premium segment, haha. The seat was very comfortable with a lot of padding and very roomy legroom too!

HokBen in the train, just like the good ol’ days!

I bought a meal on board from a train attendant’s trolley as I hadn’t had breakfast yet. Of the choices, I decided to go with Hoka Hoka Bento (HokBen) and a (powdered) cappuccino. The HokBen was cold, but nonetheless it reminded me of the good old days when I used to take Argo Wilis’ morning departure from Bandung and I bought a HokBen for breakfast. Like this one time. After we passed Madiun, the attendant went on a round to offer pecel. Damn, I would have been interested had I not been full from the HokBen, haha 😛 .

Argo Wilis

Overall it was an uneventful train ride from Surabaya to Yogyakarta. Well only that, somehow, I felt the train to be more “unstable” than how I remembered an Executive class train ride in Indonesia to be from more than a decade ago, haha. It felt “shaky” so it was difficult to walk “straight” while the train was running. When I told my mom and friends about this, they told me it was likely because I have since lived in Europe for so long where train ride is generally far more stable (even in second class). So my “standard” has shifted since a decade ago, haha. Anyway, Argo Wilis arrived at Tugu Railway Station in Yogyakarta about ten minutes late.

TO BE CONTINUED… 

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri perjalanan singkat musim panas ke Indonesia
1. Introduction
2. Part I: KLM Business Class B777-200ER Amsterdam to Hong Kong
3. Part II: Garuda Indonesia Business Class B737-800 Hong Kong to Jakarta
4. Part III: Surabaya
5. Part IV: Yogyakarta
6. Part V: Garuda Indonesia Business Class A330-200 Jakarta to Shanghai
7. Part VI: Transiting at Shanghai Pudong Airport
8. Part VII: KLM Business Class B777-300ER Shanghai to Amsterdam

Seperti yang kuceritakan di posting Pendahuluan, yang namanya kehidupan membuatku perlu untuk menyusun ulang rencanaku di Indonesia kali ini. Seorang tanteku di Surabaya tiba-tiba meninggal dunia ketika aku dalam perjalanan ke Hong Kong. Timing-nya terasa kebetulan banget kok bisa-bisanya ya pas aku sedang dalam perjalanan ke Indonesia; ini jadi membuatku merasa mesti pergi ke Surabaya kan ya.

Masalahnya jadwalku sudah lumayan mepet. Aku baru tiba di Yogyakarta Kamis siang, sementara aku mesti kondangan di hari Sabtu. Setelah diskusi singkat dengan mama dan adikku, kami memutuskan akan berangkat ke Surabaya naik mobil di hari Jumat siang, dan aku akan pulang sendirian ke Yogyakarta naik kereta di hari Sabtu pagi. Iya, ini akan menjadi perjalanan super singkat ke Surabaya! Dan aku akan kembali ke kota ini setelah hampir sepuluh tahun!

Jalan Tol Trans Jawa yang kece banget

Berita baiknya sekarang sudah ada Jalan Tol Trans Jawa yang menghubungkan Solo dan Surabaya. Jalan tol ini memotong waktu perjalanan dari yang dulunya sekitar 7-8 jam dengan jalur darat antara Yogyakarta dan Surabaya menjadi 3-4 jam saja. Dalam kasus kami, kami menghabiskan 1,5 jam antara Yogyakarta dan Solo (jalan biasa) dan hanya dua jam lebih sedikit saja antara Solo dan Surabaya. Iya, memang sayang banget Yogyakarta mungkin adalah daerah yang pembangunan infrastrukturnya paling tertinggal dah di Jawa.

Tujuan pertama kami di Surabaya bukanlah rumah duka, melainkan kuburan kakek-nenek dari pihak papaku. Setelahnya karena sudah sekitar waktu makan malam, dari kuburan kami mampir dulu makan malam Bakwa Kapasari. Bakwan ini memang enak banget!

Bakwan Kapasari yang legendaris di Surabaya itu

Dari sana kami pergi ke rumah duka. Yah, bagian ini tidak akan aku tuliskan banyak ya; walaupun unik juga rasanya lega bisa berada di sana. Dan juga bisa bertemu dengan banyak kerabat juga kan. Kami berada di sana beberapa jam dan kemudian pulang untuk check-in di hotel. Setelahnya kami jalan-jalan kulineran sebentar di sekitar hotel, haha.

Mie Medan di Surabaya

Aku hanya tidur selama sekitar 3 jam malam ini karena paginya aku akan naik kereta Argo Wilis yang dijadwalkan berangkat jam 7 pagi dari Stasiun Surabaya Gubeng. Aku naik Grab menuju stasiun keretanya, dan merasa excited karena akhirnya akan naik Argo Wilis lagi setelah hampir 9,5 tahun; dan perjalanan ini “melengkapi” pengalamanku naik Argo Wilis karena sekarang aku bisa bilang aku pernah naik kereta ini di trayek penuhnya dari Surabaya ke Bandung! Haha.

Stasiun Surabaya Gubeng

Jika terakhir kali aku ke Surabaya Gubeng adalah dua puluhan tahun silam. Waktu itu aku dan adikku diajak papaku untuk sebuah perjalanan ke Surabaya naik kereta api. Ngomongin stasiunnya, awalnya aku berencana untuk membeli sesuatu untuk sarapan gitu tapi kok tidak ada yang menarik ya. Oh dan juga, perkereta-apian di Indonesia memang sudah maju ya dibanding dulu, terutama dengan mesin check-in dan pemeriksaan boarding-nya! Haha.

Kursi kelas eksekutif di kereta Argo Wilis

Aku naik gerbong kelas Eksekutif biasa di perjalanan ini (Bukan yang Prioritas). Ini membuatku menyadari bahwa ternyata kelasan layanan kereta api di Indonesia telah disegmentasi lebih jauh ya, terutama di segmen premiumnya, haha. Kursinya nyaman banget karena sungguh empuk dan juga memiliki legroom yang super lapang!

HokBen di kereta, jadi teringat zaman dulu!

Aku membeli makanan dari troli pramusajinya karena aku belum sarapan. Dari pilihan-pilihan yang ada, aku memilih menu Hoka Hoka Bento (HokBen) dan cappuccino (bubuk). HokBen-nya sudah dingin sayangnya, tapi seenggaknya cukup mengingatkanku akan zaman dulu ketika aku sering naik Argo Wilis yang diberangkatkan di pagi hari dari Bandung dan aku membeli HokBen untuk sarapan. Kayak waktu ini misalnya. Setelah kereta melewati Madiun, pramusajinya kembali berkeliling dan kali ini ia menawarkan pecel. Ah sial, aku tertarik nih sebenarnya tapi sayangnya sudah kenyang dengan HokBen-nya, haha 😛 .

Argo Wilis

Secara umum ini adalah perjalanan uneventful dari Surabaya ke Yogyakarta. Hanya saja, aku kok merasa keretanya lebih “tidak stabil” dibanding apa yang kuingat dari perjalanan di kelas Eksekutif di Indonesia lebih dari sepuluh tahun yang lalu ya, haha. Rasanya “goyang–goyang” banget gitu sehingga susah untuk berjalan “lurus” ketika keretanya sedang bergerak. Ketika aku menceritakan ini ke mama dan teman-temanku, mereka bilang ini karena aku sudah lama di Eropa semenjak waktu itu dimana kereta di sini kan jauh lebih stabil ya (termasuk di second class). Makanya standarku sudah berubah deh dari sepuluh tahun yang lalu, haha. Anyway, Argo Wilis tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta terlambat sekitar sepuluh menit.

BERSAMBUNG… 

Advertisements

18 Comments Add yours

  1. ndu.t.yke says:

    Masyaalloh….Solo ke Sby cm 2 jam? Dang it! #amazed

    1. zilko says:

      Yoi Bu. Mantap lah jalan tolnya. Kemarin ngobrol2 katanya banyak orang Surabaya yg sekarang pergi tolak ke Solo buat kulineran doang 😅

      1. ndu.t.yke says:

        Klo yg suaminya kerja di Solo, bisa tiap hari PP ini, wkwkwkwk. La lebih deket drpd Sby Malang unt jarak tempuhnya. Meski tol nya paling yo mahal, ya?

        1. zilko says:

          Iya tolnya lumayan Bu apalagi kalau pp tiap hari, hahaha 😆 . Eh tapi Surabaya Malang sudah ada tol juga kan ya sekarang?

          1. ndu.t.yke says:

            Ada, 80rebu sekali jalan, bhahahaha…

            1. zilko says:

              Hahaha, tetep berasa di dompet juga ya Bu kalo pp Surabaya Malang tiap hari 😛 . Tapi ya sekali-sekali asyik lah kayaknya itu. Buat weekend-an 😛 .

  2. Ira says:

    makanan wajib banget kalau naik kereta: hokben XD

    1. zilko says:

      Iya! Tapi sayang ya dingin, ga dihangatin dulu gitu 😅.

  3. nyonyasepatu says:

    Kereta api di Jawa emang keren2 ya skr. Harganya pun jauh beda dari yg dulu

    1. zilko says:

      Iya, segmentasinya, baik di kelas dan harga, makin oke ya Non! 😀

  4. niee says:

    Aku pengen banget roadtrip di jawa ini jadinya semenjak ada tol jakarta surabaya ini ko. Beneran seru kayaknya.

    1. zilko says:

      Iya mantap Niee jalan tol barunya ini!! Kalau Jakarta – Surabaya mungkin rada kejauhan ya, tapi buat yang lebih dekat di Jawa membantu banget!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s