#2294 – Flying Business Class with Garuda Indonesia on A Short-Haul Domestic Flight

ENGLISH

Earlier this year in March, I flew business class with Garuda Indonesia on its domestic, short-haul route from Jakarta to Yogyakarta. It was actually my first experience flying a Garuda Indonesia’s business class, haha. Here is the story of this experience…

Before the flight

I was connecting from KLM’s Amsterdam – Jakarta (via Kuala Lumpur) flight which I travelled in economy comfort. I wouldn’t write this long-haul part of the trip as it was, overall, quite similar to KLM’s Amsterdam – Denpasar (via Singapore) flight which I have reported as a part of my 2019 Spring Trip to Southeast Asia series. Heck both flights were even operated by the exact same airplane, a Boeing 777-300ER reg PH-BVI, haha.

I flew PH-BVI a lot in March indeed.

Anyway upon arrival at Soekarno-Hatta Airport, the KLM crew announced that passengers with domestic connections would need to take their luggages in Jakarta and to recheck them in. I found this quite strange as in the many times I transited in Jakarta previously, I never had to do so. Plus, my luggage had actually been tagged all the way to Yogyakarta. But again, before I was only flying one airline (Garuda Indonesia) while transiting whereas this time it was a KLM to Garuda connection.

The baggage area of Terminal 3 Ultimate

So I took my luggage (which took some time to get out, even with the priority label, haha) and then had to recheck it in again at the general check-in area at the departure hall. Btw, this is what is super inconvenient about Terminal 3 Ultimate’s design: it seems like international to domestic (and the other way around) transfer was not considered at all during the designing process! Passengers literally need to get out to the landside, make their (long) way to the general departure hall, and join other passengers departing from Jakarta (by using the same security and immigration lanes) to get back to the airside. Domestic to domestic transfer is much better, though.

The general check-in area of Terminal 3 Ultimate

Anyway I then went to the Garuda Indonesia Business Class Lounge, where I noticed there had been some rearrangement in the lounge since my last visit there. There was now only one main buffet display, which was located at the far end of the lounge. This meant passengers entering the lounge from the main entrance would need to walk really far to get some warm food. The food selection was decent, though.

My favorite part in the Garuda Lounge

The flight

As (apparently) the norm for Garuda’s Jakarta-Yogyakarta flights, my flight would depart from a gate at the far end of the gigantic Terminal 3 Ultimate. But I learned that apparently now there was a complimentary golf car service taking passengers to this part of the terminal! Lol 😆 . The airport wasn’t busy at the time so I did not need to queue to get onto one. It was quite fun, though to be honest I wouldn’t mind the walk as well, haha.

Anyway, the flight today would be operated with Garuda’s Boeing 737-800 reg PK-GMI which, unfortunately, was one without Boeing Sky Interior, haha. As in most of Garuda’s 737, the business class cabin on PK-GMI was three rows long in a 2-2 configuration, thus totalling 12 seats. I then settled onto my 8A seat, which was really nice and super comfortable, especially for such a short flight. Really, this seat put a shame on (most) European airlines with their Europe Business Class hard-product, haha 😛 .

Welcome drink

While economy passengers were still boarding, a flight attendant went around offering welcome drinks to business class passengers. The choice was a glass of water or orange juice, and I chose the latter. A warm towel was also served along with the drink. Oh btw, all twelve business class seats were taken today!

Warm towel

I love Garuda’s cabin crews as, in my opinion, they really are the best in the sky. In this particular case, the flight attendant was more than happy to help me take a picture on my seat (haha 😛 ).

The mandatory business class selfie obviously

Pardon my face, I had just been flying for about 15 hours from Amsterdam, plus a 3-hour transit in Jakarta, haha. Anyway, boarding then completed and pushback started. I found the safety demo to be quite interesting, though, as it was done via several overhead screens in business class! In economy, this was done via the IFE screens but since the IFE screens in business class were stowed in the seats, the screens indeed could not be used during taxi, take-off, and landing.

Garuda’s 737 business class IFE screen

We took off from runway 25R and made a turn towards Yogyakarta. After the seatbelt sign was switched off, the snack service began. The flight attendant put a white table cloth on the tray and served an Indonesian snack platter with sauce and some cuts of fruit. As for the drink, as usual on a Garuda flight I asked for a guava juice and mineral water. Btw, here is a comparison between Garuda’s business class and economy class snack service on the same route with similar schedule, haha:

Snack service in business class
Snack service in economy class

It was a very short flight to Yogyakarta so I couldn’t really use the IFE (Well, only for some music). The snack platter was actually good and it kept me occupied in the entirety of the flight too, haha. Anyway, the IFE content was actually the same as in economy, even though Garuda provide a better headphone in business class, which they put in the seat pocket along with the magazine and other stuffies.

Garuda Indonesia’s domestic business class headphone

About ten minutes before landing, the flight attendant wrapped things up as we were approaching Adisucipto Airport, Yogyakarta. After we arrived, business class passengers were asked to disembarked first, though my luggage took some time to get out (it was a busy evening in Yogyakarta).

A Garuda Indonesia’s Boeing 737-800 reg PK-GMI

So yeah, overall flying short-haul with Garuda Indonesia was a nice experience. Overall, without a doubt it was much better than any Europe Business Class flights that I have been on so far! Haha 😛 .

BAHASA INDONESIA

Di bulan Maret kemarin, aku terbang di kelas bisnis di penerbangan domestik jarak dekatnya Garuda Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta. Dan ini adalah kali pertama aku terbang di kelas bisnisnya Garuda Indonesia, haha. Berikut ini cerita dari pengalaman kali itu…

Sebelum terbang

Ini adalah penerbangan lanjutanku setelah sebelumnya terbang dengan KLM di rute Amsterdam – Jakarta (via Kuala Lumpur) di kelas economy comfort. Aku tidak akan menceritakan banyak bagian penerbangan jarak-jauh ini karena, secara umum, cukup mirip dengan penerbangan lain KLM rute Amsterdam – Denpasar (via Singapura) yang mana sudah aku ceritakan sebagai bagian dari seri Perjalanan Musim Semi 2019 di Asia Tenggara. Dan bahkan dong ya kedua penerbangannya dioperasikan dengan pesawat yang sama persis, sebuah Boeing 777-300ER rego PH-BVI, haha.

Iya aku banyak terbang dengan PH-BVI Maret kemarin ini.

Anyway setelah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, kru KLMnya mengumumkan bahwa penumpang dengan penerbangan lanjutan domestik diminta mengambil bagasi mereka di Jakarta dan kemudian meng-check-in-kannya kembali. Ini terasa aneh untukku karena di banyak kali aku transit di Jakarta sebelumnya, aku tidak perlu melakukan ini. Apalagi, bagasiku kan sudah di-tag sampai Yogyakarta ya. Tapi iya sih, sebelumnya aku terbang dengan satu maskapai (Garuda Indonesia) ketika transit sementara kali ini kan aku transit dari KLM ke Garuda.

Area bagasi di Terminal 3 Ultimate

Jadilah bagasiku aku ambil (yang mana lumayan lama keluarnya, padahal ada label prioritasnya, haha), dan kemudian aku meng-check-in-kannya kembali di area check-in umum di area keberangkatan. Btw, ini nih nggak enaknya disain Terminal 3 Ultimate: sepertinya transfer penerbangan internasional ke domestik (maupun sebaliknya) sama sekali tidak dipertimbangkan di tahap disain! Penumpang benar-benar harus keluar bandara (ke sisi landside), kemudian berjalan-kaki (lumayan jauh) ke area keberangkatan, dan kemudian bergabung dengan penumpang-penumpang yang berangkat dari Jakarta (melalui jalur pemeriksaan keamanan dan imigrasi yang sama) untuk kembali masuk ke sisi airside. Transfer domestik ke domestiknya jauh mendingan sih.

Area check-in umum di Terminal 3 Ultimate

Anyway aku kemudian pergi ke Lounge Business Class-nya Garuda Indonesia, dimana aku perhatikan sudah ada penataan-ulang di dalamnya semenjak terakhir kali aku ke sana. Sekarang ini hanya ada satu display buffet makanan hangatnya, yang berlokasi di sisi ujung dalam lounge-nya. Ini artinya penumpang yang masuk dari pintu masuk utama lounge-nya harus berjalan jauh banget untuk mendapatkan makanan hangat. Setidaknya makanannya lumayan sih.

Bagian favoritku dari Garuda Lounge

Penerbangannya

Seperti (apa yang ternyata merupakan) standar dari penerbangan Jakarta-Yogyakartanya Garuda, penerbanganku menggunakan salah satu gerbang di sisi ujung yang jauh dari Terminal 3 Ultimate yang berukuran raksasa itu. Tapi aku baru tahu bahwa sekarang ternyata ada layanan naik mobil golf gratis ya untuk penumpang dengan gerbang di sisi ujung terminal ini! Haha 😆 . Bandaranya tidak terlalu ramai malam itu sehingga aku tidak perlu mengantri untuk naik mobilnya. Asyik juga sih naik mobil golf ini, walaupun sebenarnya aku pribadi sih nggak masalah juga kalau harus berjalan-kaki, haha.

Anyway, penerbangan hari ini akan dioperasikan dengan pesawat Boeing 737-800 rego PK-GMI yang, sayangnya, tidak dilengkapi dengan Boeing Sky Interior, haha. Seperti di kebanyakan 737nya Garuda, kabin kelas bisnisnya PK-GMI terdiri atas tiga baris dengan konfigurasi kursi 2-2, sehingga totalnya ada 12 kursi. Aku kemudian duduk di kursi 8A-ku, yang mana enak dan nyaman banget, terutama untuk penerbangan jarak dekat. Beneran deh, kursi ini membuat malu (kebanyakan) maskapai Eropa dengan hard-product Kelas Bisnis Eropa-nya, haha 😛 .

Welcome drink

Ketika penumpang ekonomi masih boarding, seorang pramugari berkeliling kabin menawarkan welcome drink ke penumpang kelas bisnis. Pilihannya adalah segelas air putih atau jus jeruk, dan aku memilih yang kedua. Handuk hangat juga diberikan bersamaan dengan minumannya. Oh btw, kedua-belas kursi kelas bisnisnya terisi semua loh hari itu!

Handuk hangat

Aku suka banget dengan awak kabinnya Garuda karena, menurutku, memang mereka adalah yang terbaik. Di penerbangan ini, mbak pramugarinya antusias sekali ketika aku meminta tolong untuk difotokan di kursiku (jelas wajib dong ya ini, haha 😛 ).

Foto kelas bisnis wajib…

Maafkan mukaku yang agak kusut ya, aku kan baru saja terbang 15 jam dari Amsterdam, ditambah transit selama 3 jam di Jakarta, haha. Anyway, boarding selesai dan pushback dimulai. Dan demonstrasi video keselamatannya cukup menarik, karena dilakukan melalui beberapa layar di atas (overhead) loh di kelas bisnis! Di kelas ekonomi, ini kan dilakukan melalui layar IFEnya ya. Di kelas bisnis layar IFEnya berada di dalam kursi dan harus disimpan ketika taxi, lepas landas, dan mendarat.

Layar IFE kelas bisnis Boeing 737nya Garuda

Kami lepas landas dari landasan pacu 25R dan kemudian mulai berbelok menuju Yogyakarta. Setelah tanda kenakan sabuk pengaman dipadamkan, layanan snack disajikan. Pramugarinya membuka taplak putih di atas tray dan menyajikan menu snack ala Indonesia dengan saus dan potongan buah segar. Untuk minum, seperti biasa di penerbangan Garuda aku meminta jus jambu dan air mineral. Btw, berikut ini perbandingan layanan snack di penerbangan kelas bisnis dan kelas ekonominya Garuda di rute yang sama dengan jadwal yang mirip, haha:

Layanan snack di kelas bisnis
Layanan snack di kelas ekonomi

Ini adalah penerbangan singkat ke Yogyakarta sehingga aku tidak terlalu menggunakan IFEnya (Cuma untuk musik doang sih, haha). Layanan snack-nya enak lho dan cukup membuatku “sibuk” hampir di keseluruhan penerbangannya, haha. Anyway, isi IFEnya sama lah dengan di ekonomi tetapi memang Garuda memberikan headphone yang lebih oke di kelas bisnis, yang mereka sediakan di dalam kantong kursi bersama dengan majalah, dsb.

Headphone kelas bisnis domestiknya Garuda Indonesia

Sekitar sepuluh menit sebelum mendarat, pramugarinya mulai membereskan kabin karena kami sudah mulai mendekati Bandara Adisucipto, Yogyakarta. Setelah mendarat dan parkir, penumpang kelas bisnis dipersilakan turun terlebih dahulu, walaupun bagasiku lumayan lama keluarnya (Bandara Adisucipto sibuk malam itu).

Boeing 737-800 rego PK-GMI-nya Garuda Indonesia

Yup, penerbangan jarak dekat di kelas bisnis dengan Garuda Indonesia adalah penerbangan yang nyaman. Secara keseluruhan, jelas banget ini adalah penerbangan yang lebih enak daripada penerbangan di kelas bisnis Eropa yang sudah pernah aku naiki sejauh ini! Haha 😛

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. thanks for sharing, moga2 nanti kesampaian naek garuda hehehehehe

  2. niee says:

    layanan snack di kelas ekonomi lebih banyak membuat sampah ya ko. Mending dijadikan model kelas bisnis semua deh jadi bisa mengurangi sampahnya 😛

    1. zilko says:

      Ahahaha, good point Niee, dan aku baru sadar dong setelah kamu sebutin gini! Hahaha 😛 . Iya, atau yang layanan ekonominya didisain ulang yang meminimalisir sampahnya ya. Atau kalau jadi sampah yang bisa didaur-ulang gitu. Maskapai yang oke dalam segi ini KLM tuh, layanan ekonominya pun ramah lingkungan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s