#2170 – People and Numbers

ENGLISH

This post has sat around in my Draft for about a year now, lol 😆 . Now that I am still away on my Big Three Oh Trip, I figure this is actually a good time for this post to finally lives its life. So here we go…

***

One exciting prospect which I understood would entail from my decision to leave the academia for industry after finishing my PhD two years ago (even though the defense was just about one and a half year ago, haha 😛 ) was the “different world” I would be embarking myself onto. I knew it would be very different from what I used to. In other words, I was leaving my comfort zone. And this was exciting!

After almost two years in the industry now, of course I have observed and experienced a lot of those differences; and more importantly, how to bridge and handle those. In this post, I would like to talk about one of those differences that is quite tightly related to what I do and my academic background: numbers.

You see, with a PhD degree in applied mathematics, as well as a Master’s degree and a Bachelor’s degree in the same field, I can say that I am “used to” with numbers, haha 😛 . And naturally, in the ten years of my life (since starting my Bachelor’s degree in 2006 until finishing my PhD in 2016), I was always within the “numbers” environment, i.e. I was surrounded by people who were also “used to” with working with numbers. In my PhD, while I also collaborated with people from other departments, they were also pretty much the “similar type” of people. You know, TU Delft is a technical university afterall 😉 .

TU Delft

But of course it all changed when I started my job at this company. The global size of the company would mean the “types” of people working here are much more diverse than those I encountered in the universities. In relation to “numbers”, I just recently realized that not all people are “comfortable” with numbers.

Look, obviously I already understood this since before joining the company. Afterall, this must be one of the reasons why I was hired, where my expertise on “numbers” would be a great asset for the company. What I didn’t realize, however, was the potential degree of the “discomfort”. To put it to the extreme in figurative terms, I observed that some people could experience “intimidation” just by working with numbers, haha.

But of course this was where numbers visualization played its role, where the numbers were presented in nice, colorful, fun-looking shapes (be as a graph, diagram, etc) hence much less “intimidating”. The problem with this is that visualizations themselves could be “tricky” and, in my opinion, one should be critical and careful in interpreting those. You see, a visualization is the result of a “transformation” of the numbers from one form to another. And this “transformation” could actually become the problem itself while the numbers behind it don’t. Well, I am not going into details why this as I don’t feel like it; but you can google this topic yourself if you are interested. Btw, this is not to say that I am against visualization. No. In fact, I believe visualization does help in understanding the story the numbers represent. But my point is, when a visualization is presented, one should also understand how the visualization itself works to correctly interpet the numbers it represents.

Back to the work topic. Of course this is not to say that I wish everyone would be comfortable with working with numbers. Not at all. This is just merely an observation. And I am actually quite happy about it, because this means I can contribute something while they can contribute other things I am probably not comfortable with 🙂 . In the end, we can have a mutual symbiosis, no? 🙂

BAHASA INDONESIA

Ceritanya posting ini sudah nangkring di bagian Draft selama sekitar satu tahunan sekarang, haha 😆 . Karena sekarang aku sedang jalan-jalan di Perjalanan Tiga Nol-ku tahun ini, aku merasa ini adalah waktu yang pas untuk posting ini akhirnya aku terbitkan. Mari kita langsung mulai saja…

***

Satu prospek seru yang sudah lama aku ketahui yang merupakan konsekuensi dari keputusanku untuk berpindah dari akademia ke industri setelah menyelesaikan PhDku dua tahun lalu (walau sidangnya baru satu setengah tahunan yang lalu sih, haha) adalah “dunia yang amat berbeda” yang akan aku masuki. Aku tahu dunia ini akan lain banget daripada duniaku sebelumnya. Dengan kata lain, aku meninggalkan zona nyamanku. Dan tentu saja ini seru banget!

Nah, setelah hampir dua tahun bekerja di industri sekarang, jelas aku sudah mengamati dan mengalami banyak perbedaan ini; dan yang juga lebih penting, menjembatani dan menghadapinya. Di posting ini, aku ingin membahas satu dari perbedaan-perbedaan itu yang cukup berkaitan erat dengan pekerjaanku dan memang latar belakangku sebelumnya: numbers. Btw, dalam konteks ini, terjemahan bahasa Indonesia dari numbers yang tepat adalah “bilangan”, bukan “angka” apalagi “nomor” yah 😉 .

Dengan gelar PhD/S3 di matematika terapan, juga gelar Master/S2 dan Sarjana/S1 di bidang yang sama, aku bisa berkata bahwa aku “terbiasa banget” dengan yang namanya bilangan, haha 😛 . Jelas, sepuluh tahun hidupku (semenjak memulai kuliah S1 di tahun 2006 dan menyelesaikan PhD/S3-ku di tahun 2016) aku habiskan di lingkungan yang penuh dan ramah “bilangan”, dalam artian aku juga dikelilingi oleh orang-orang yang juga “terbiasa banget” untuk bekerja dengan bilangan. Di program PhD-ku, walaupun aku juga berkolaborasi dengan rekan-rekan dari jurusan lain, mereka juga toh masih bisa dikatakan tipe-tipe orang yang “mirip”, haha. Ya gimana, TU Delft kan universitas teknik gitu, haha 😉 .

TU Delft

Tetapi tentu saja semua itu berubah begitu aku mulai bekerja di kantorku sekarang. Ukuran perusahaannya yang mendunia berarti “tipe-tipe” rekan kerja yang lebih beragam daripada yang aku hadapi di universitas. Dalam kaitannya dengan “bilangan”, aku baru sadar bahwa ternyata tidak semua orang itu “nyaman” untuk bekerja dengan bilangan.

Begini, jelas aku sudah paham akan hal ini semenjak sebelum aku mulai bekerja. Toh memang ini adalah salah satu alasan aku mendapatkan pekerjaan ini, dimana keahlianku dengan “bilangan” akan menjadi aset yang berharga banget bagi perusahaan. Yang tidak aku sadari sebelumnya adalah tingkat “ketidak-nyamanan” beberapa orang dengan yang namanya menghadapi bilangan. Ekstrimnya dalam metafora, aku amati beberapa orang bisa merasa “terintimidasi” loh ketika harus berhadapan dengan bilangan, haha.

Tetapi tentu saja di sini lah visualisasi bilangan berperan, dimana bilangan-bilangan itu ditampilkan dalam bentuk yang indah, berwarna-warni, kece, dll (baik itu dalam bentuk grafik, diagram, dll) sehingga nampak “lebih tidak mengintimidasi”. Masalahnya, visualisasi sendiri bisa menjadi “berbahaya” dan, menurutku, kita tetap harus kritis dan berhati-hati dalam menginterpretasikannya. Yang namanya visualisasi adalah hasil “transformasi” bilangan-bilangan itu dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Dan “transformasi” ini sendiri bisa menjadi masalah sementara bilangan di baliknya tidak. Yah, aku tidak akan membahas ini lebih dalam sekarang karena sekarang aku sedang malas, haha; tetapi banyak kok artikel yang membahas ini yang bisa dicari dengan mudah di Google. Btw, ini bukan berarti aku anti visualisasi yah. Tidak. Malahan, aku percaya visualisasi bisa sangat membantu kita memahami cerita yang direpresentasikan oleh bilangan-bilangan di baliknya. Maksudku adalah ketika sebuah visualisasi dipresentasikan, kita juga harus memahami bagaimana visualisasinya bekerja sehingga kita bisa menginterpretasikan bilangan-bilangan di baliknya dengan tepat.

Kembali ke topik tentang kerjaan. Tentu saja di sini aku bukannya berkata semua orang harus merasa nyaman dengan bilangan. Nggak sama sekali kok. Ini hanya sekedar observasiku saja. Dan sejujurnya aku cukup senang dengannya, karena ini berarti aku bisa berkontribusi akan sesuatu sementara orang lain bisa berkontribusi sesuatu yang mungkin bagiku tidak nyaman untuk kuhadapi 🙂 . Pada akhirnya, kita bisa mendapatkan simbiosis mutualisme kan? 🙂

Advertisements

8 Comments Add yours

  1. Eky says:

    😀 😀

    I can totally relate to this post, even though I’m haven’t been “exposed” to numbers as long as you.

    Sometimes I just want to screenshot the Excel sheet which I’m working on and share it to stakeholders but thankfully my mind is still in the right place 😛

    1. zilko says:

      Hahaha, high five Ky! 😀 But I think this is actually the dynamic and fun part of the work too, i.e. a challenge on how to convey a technical message to non-technical people 😀

  2. fiberti says:

    Mungkin daku termasuk org2 yg dulu terintimidasi dengan bilangan. Tapi kami sekarang sudah berdamai dan cukup akrab hahaha….
    Menarik ya sudut pandangnya. Jadi ingat film.Beautiful Mind..

    1. zilko says:

      Dua sisi ya, yang tidak terbiasa dengan bilangan juga mesti berusaha mengakrabkan diri juga, hehahe 😀

  3. fahrizinfa says:

    Memang yaa kalau sudah berhadapan dengan angka2 aku juga kadang suka stress duluan hahaha XD padahal sebenarnya engga sesulit kelihatannya 😀

    1. zilko says:

      Hahaha, tergantung apa yang disajikan ya, soalnya ada juga yang sebenarnya sulit lho 😛 .

  4. niee says:

    Kalau aku mungkin lebih kepapar dengan angka. Tapi bos aku yang skrg dia anak akuntansi gitu, dia suka bilang dia sangat seneng ngutak atik angka. Toh dia emang mantan bos anggaran seh. Aku yang juga termasuk suka dengan angka jadi berasa nyambung dong yak. etapi ternyata enggak loh. Angka anak teknik seperti aku beda maksud dengan angka yang difikirkan anak ekonomi kayak dia. Bahkan misal sama sama lagi nyusun anggaran keuangan. aku lebih suka melihat darimana uang itu datang (misal untuk sebuah acara makan minum itu didapat dari jumlah orang yang akan kita undang dikali harga yang ingin kita bayar). sedangkan bos aku lebih tertarik dengan jumlah hasil totalnya dulu. (misal uangnya cukup deh 1 juta, ntar jumlah orangnya tinggal menyesuaikan dengan kecukupan uang itu) jadi terasa beda kan yak. aku suka sebel sendiri. hahaha

    1. zilko says:

      Hahaha, iya banget Niee. Anak jurusan teknik (plus ilmu alam gitu) dan anak jurusan ekonomi memang melihat angkanya dengan cara yang berbeda ya! Beberapa kali aku juga mengalami “perbedaan” ini 😀 . Eh tapi Niee menurutku perbedaan yang ini justru kalau dikolaborasikan bisa jadi sinergi yang ampuh loh, hehe 🙂 . Soalnya waktu itu ketika aku berdisuksi dengan kolegaku yang ada gelar MBAnya, aku juga berpikir “Ah iya, bisa juga hitung-hitungan ini kita pandang dari sudut pandang lain itu”. Dan jadilah report yang kita keluarkan juga isinya, menurutku, bagus dan impactful 😀 .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s