#2146 – When A Heatwave Strikes

ENGLISH

Three weeks ago I have mentioned how this year’s Summer, up to that point, had been really warm. It turned out that, well, we hadn’t yet the “peak” of it because last week Europe was hit by heatwave apparently due to the jetstream that flowed a little bit more north than usual this year. As a result, at one point it was like this in Amsterdam:

Heatwave in summer 2018

Yep, 36°C real feel temperature!! I can tell you that, from my experience, this Summer has been not “normal”. Usually, throughout a Summer in the Netherlands, there would indeed be a few days here and there where it could be really warm; but it was never “consecutive” for a long period like this year. The heat was so “bad” (to me) that I was actually feeling happy when it was raining briefly on Saturday this weekend! Yep, this comes from someone whose least favorite weather ever is the rain!

If you think, “Well, the weather in Indonesia can also be as hot as this, right?”. The answer would be “Yes“, indeed. However, there is one fundamental difference between Indonesia and the Netherlands: the Indonesian climate means that this kind of weather is expected. Consequently, everything there is designed and sort-of optimized for this kind of weather: for instance, many buildings are equipped with air-conditioners. In Europe, nope, most buildings do NOT have air-conditioners (Thankfully my office does, though 😛 ).

Anyway, I am not quite sure if this was related or not, btw, but I had insomnia on a few nights last week too. I found this insomnia quite strange because I genuinely felt tired while going to bed yet I had difficulties in getting good night sleep. And then once over lunch some of my colleagues shared about their insomnia problems too, and they were sure it was related to the heat. And I was actually one of the luckier ones because my apartment building was new so those warm Summer nights were much more “bearable”, haha.

Btw, the trams in Amsterdam were certainly not designed for hot Summer days like these! The trams were basically like tubes of moving greenhouses which trapped heat inside; which intensified the “real feel temperature” if you were travelling with it during one of these days! I wish they were equipped with some air-conditioners.

I think the trams in Amsterdam were not designed for hot days.

To be honest, this Summer thus far makes the idea of installing an air-conditioner in my apartment very tempting! However on the other hand, it is commonly known that an air-conditioner also contributes to global warming. And, citing from the article I quoted above:

What we call an ‘extreme heatwave’ today we will simply call ‘summer’ in a matter of decades if we do not sharply reduce carbon emissions.” — Michael Mann, a US climate scientist.

So, do you see the dilemma I am facing now? What do you think I should do then? Hahaha…

BAHASA INDONESIA

Tiga minggu yang lalu aku ceritakan mengenai bagaimana musim panas tahun ini, sampai waktu itu, yang mana panas banget. Ternyata, waktu itu kami di Eropa masih belum mencapai “puncak” dari kepanasannya karena minggu lalu Eropa diterjang oleh gelombang panas yang ternyata disebabkan oleh posisi jetstream yang tahun ini mengalir lebih ke utara daripada biasanya. Sebagai akibatnya, di satu waktu cuacanya kayak gini dong di Amsterdam minggu lalu:

Gelombang panas di musim panas 2018

Yep, 36°C real feel temperature!! Bisa aku bilang bahwa dari pengalamanku, musim panas tahun ini sangat “tidak biasa”. Biasanya, di sepanjang musim panas di Belanda memang akan ada beberapa hari di sana-sini yang mana suhu udaranya bisa jadi panas; tapi nggak pernah deh “berturut-turut” di periode yang lama kayak tahun ini. Panasnya ini “parah” banget (bagiku) sampai-sampai aku merasa bahagia lho ketika hujan turun sebentar di hari Sabtu kemarin ini! Iya, pernyataan ini datang dari seseorang yang cuaca yang paling tidak disukainya adalah hujan!

Jika ada yang berpikir, “Lah, toh cuaca di Indonesia pun juga bisa sepanas ini kan?“. Jawabannya memang “Ya, betul“. Tapi, ada satu perbedaan mendasar dari Indonesia dan Belanda: iklim di Indonesia berarti memang cuaca seperti ini itu “makanan sehari-hari”. Sebagai akibatnya, semuanya ya sudah didisain dan dioptimasi untuk menghadapinya: misalnya saja, banyak bangunan yang dilengkapi dengan AC. Di Eropa sih, kebanyakan bangunan itu TANPA AC ya (Untungnya di kantorku ada ACnya sih, haha 😛 ).

Anyway, aku nggak yakin sih ini ada hubungannya atau tidak, btw. Minggu lalu selama beberapa malam aku juga sulit tidur. Aku merasa kesulitan-tidur ini agak aneh karena aku sebenarnya sudah merasa capek lho ketika beranjak tidur tapi kok susah ya mendapatkan tidur yang lelap. Dan ketika makan siang, beberapa kolegaku juga bercerita mereka mengalami kesulitan-tidur yang sama, dan mereka yakin kesulitan-tidur ini disebabkan oleh panasnya itu. Dan sebenarnya aku bisa dibilang beruntung karena gedung apartemenku adalah bangunan baru sehingga malam-malam musim panas yang panas banget itu masih bisa lebih “ditoleransi” lah, haha.

Btw, tram di Amsterdam juga jelas banget tidak didisain untuk hari-hari panas kayak gini deh! Tramnya berasa kayak tabung rumah kaca berjalan deh yang memerangkap panas di dalamnya; yang mana artinya suhu udara “real feel” juga semakin terintensifikasi jika kita menaikinya di hari-hari itu! Ah, aku berharap tram-nya akan dilengkapi dengan AC juga nih nantinya.

Aku duga tram di Amsterdam tidak didisain untuk hari-hari yang panas banget.

Sejujurnya, musim panas ini sejauh ini telah membuat ide untuk memasang AC di apartemenku menjadi nampak menggoda sekali! Namun di sisi lain, kan sudah diketahui secara luas ya bahwa yang namanya AC itu juga berkontribusi terhadap pemanasan global. Dan, kutipan dari artikel yang aku tautkan di atas nih:

What we call an ‘extreme heatwave’ today we will simply call ‘summer’ in a matter of decades if we do not sharply reduce carbon emissions.” — Michael Mann, ilmuwan klimatologi Amerika.

Nah, jadi dilema banget kan ini ceritanya? Menurut kalian, sebaiknya bagaimana ini? Hahaha…

26 Comments Add yours

  1. deadyrizky says:

    padahal kalo 36 derajat mah di Surabaya itu udah biasa
    hahaha

    1. zilko says:

      Hahaha, beda rasanya panas di Indonesia dan di Belanda.

  2. wagelaseh itu kak, panasnya pool!
    di Jakarta untungnya gak tiap hari banget sampe 36 drajat gitu.
    aku lihat foto tram di sana, jadi mau coba naik hihi kayanya bakal seru banget kalo bisa explore ke Amsterdam ya kak 🙂

    1. zilko says:

      Iya, di Jakarta pun masih mendingan karena bangunan-bangunannya didisain untuk cuaca panas. Di sini mah kebalikannya, hahaha 😆 .

  3. fahrizinfa says:

    parah banget yaa kak zilko udaranya disana, pasti rawan sakit ya kalau badan lagi engga fit dikondisi cuaca yang engga biasa seperti itu. mungkin bisa bawa kipas portable aja kak zilko untuk mengatasi rasa panasnya untuk menggantikan ac nyaa, lebih ramah lingkungan juga kan yaa kalau kipas portable 😀

    1. zilko says:

      Iya minggu kemarin ini panas banget!! Hahaha, ini di sini bahkan toko-toko elektronik kabarnya sampai kehabisan kipas angin loh. Sold out aja gitu saking pada borong kipas angin semua! Hahahaha 😆 . Iya, aku juga mikir ntar beli kipas angin aja deh seenggaknya (setelah stoknya pulih dan harganya kembali normal, hahaha 😆 ). Kayaknya ini investasi yang baik dan, benar, ramah lingkungan.

  4. aggy87 says:

    It is totally understandable. In Indonesia 30-ish is what we’re used to everyday, while in Europe a sudden spike of temperature like this will definitely make it feel unbearable. In Jogja we’ve been having a sudden drop of temperature (17C in the morning imagine!) and while I like it, I am having sore throat due to the dryness of the weather. Hang in there! Hopefully the heatwave will pass soon!

    1. zilko says:

      Indeed!! Anything (really) out of the ordinary will shock everyone and everything! Thankfully now the heatwave has passed! 😀

  5. yance says:

    wah emang gak enak kalo gak pake AC…pasti susah tidur lah. Kalo pake kipas angin suka masuk angin…hahaha. lebih dilema lagi…

    1. zilko says:

      Iyaa, enakan AC daripada kipas angin memang ya!! Dan iya, kalau panas susah tidur. Dan ketika tidur pun rasanya nggak bisa selelap dan senyenyak biasanya gitu.

  6. Yos Adya says:

    Wah, panas banget 36°: Aku aja udah mumet kalo segitu.

  7. Pypy says:

    Ac tuh teman setia bener deh.. Huhuhu.. Masih jauh nih sampai bisa dilabeli go green..hiksss.. Apalagi wiken dan cuma dirumah ac pasti nyala 24 jam.. Kalau pas ac ganggunga di komuter tuh dan sudah ga bisa ditolerir, penumpang sini bakal buka kacanya.. Hahah.. Apalagi pas pulang kerja dan aroma tubuh sudah beda ya tentunya..haha..

    1. zilko says:

      Iya Py. Go green sih go green ya, tapi ya terkadang di beberapa bagian memang “terpaksa” juga sehingga mesti realistis kan. Nggak papa Py, yang penting dikompensasi lewat yang lain kan. Misalnya naik komuter, atau kendaraan umum tuh, kan bagus tuh carbon footprint-nya (dibandingin nyetir sendiri maksudnya 😀 ).

  8. niee says:

    wow, jadi tram di belanda gak ada ACnya ko? Aku gak kebayang deh. Walaupun Pontianak panas bener, aku hampir gak pernah ke luar ruangan yang gak berAC soalnya. Palingan pas nuju ke mobil doang yang gak ada AC nya, hahahaha

    1. zilko says:

      Kaga ada Niee. Jendelanya pun cuma sedikit aja bagiannya yang bisa dibuka. Soalnya tramnya didisain untuk suhu dingin sih, yang mana memang lebih sering terjadi di Belanda sih. Jadi pas suhunya panas ya gitu deh, huahahaha 😆 . Iya di Indonesia enaknya mah kebanyakan gedung dan alat transportasi ada ACnya ya 😀 .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s