my apartment, Zilko's Life

#2130 – Ironing

ENGLISH

Of all house chores, one which I think of least importance, in terms of effort and the added-value, is ironing, haha 😆 . I mean, I don’t deny that it serves a function. However, given the effort that needs to come with it and what I would get as the added-value, I feel like its function could be … , well, “substituted”. Let me explain…

I have learned (since having to pretty much do all the house chores myself, and that was since moving to the Netherlands in 2010, haha) that the “added-value” you would get from ironing is not constant across different types of clothes. For instance, shirts benefit a lot from ironing but it is less for t-shirts. On top of that, some washing machines and dryers even have this “iron-free” function which would help reduce the wrinkles quite a lot.

All of these mean that if I plan my outfit accordingly, I would be able to minimize my need of ironing. And so my time and energy which would have been spent on this dull activity could be spent somewhere else doing something less dull! Haha 😆 . I could achieve this by, for instance, avoiding wearing shirts as much as possible. No wrinkled shirts that need to be ironed means no need for ironing! Profit! Lol 😆 .

How about work then? Well, I have been fortunate thus far. The university, where I did my Master and PhD, and my current office are both very relaxed and casual in this department; as in there is no need to be all formal and have that typical “white collar” look at work. For all I care, I can just wear a t-shirt and shorts, as long as they look “decent”, to work and noone would bat an eyelid (which some of my colleagues have been doing recently, given the recent Dutch climate, haha). And so I can proceed with my strategy of no shirts as much as possible, which also happens to be very comfortable! 😀

My previous two apartments in Delft, which I rent “all-in” (i.e. both came with furnitures and all that), though, also had an iron and its board. So in case I needed to iron, I had the means to; even though as a result of my pragmatic approach, I did not need to use those them often anyway. And ever since I moved to Amsterdam, thus far I have been able to get away with not having the tools I would have needed for ironing, haha 🙈.

Having said that, lately, slowly but gradually somehow I started to think that perhaps there would no harm in at least having the tools I would have needed in case I would need them. Plus, the fact is that I do have some shirts and other types of clothes, like non-jeans pants, etc, which need to be ironed once in a while anyway. And so just recently I decided to buy an ironing board from a store nearby my apartment and an iron online (which store happened to be running an extra Flying Blue miles earning per euro promotion at the time, good timing! 😛 ).

Yeah, so now I officially have the means I would need to iron in my apartment. And this weekend, I just did! Lol 😆

Anyway, so what do you think of ironing?

Ironing

BAHASA INDONESIA

Dari semua pekerjaan rumah-tangga, satu yang menurutku paling tidak penting, dalam hal banyaknya usaha yang harus dikeluarkan dan nilai-tambah dari pekerjaannya, adalah menyetrika, haha 😆 . Maksudku, aku bukannya bilang menyetrika itu tiada guna ya. Namun, dengan mempertimbangkan besarnya usaha yang harus dikeluarkan untuk melakukannya dan nilai-tambah dari apa yang dihasilkan dari kegiatan ini, aku rasa kok kegunaannya itu … bisa “disubstitusi”. Mari aku jelaskan…

Berdasarkan pengalamanku (semenjak harus mengerjakan semua pekerjaan rumah-tangga sendiri, yaitu semenjak pindah ke Belanda di tahun 2010, haha) “nilai-tambah” dari menyetrika itu tidak konstan terhadap tipe dari pakaian. Misalnya, kemeja memang sangat butuh untuk disetrika sementara kaus tidak terlalu. Di samping itu, toh beberapa mesin cuci dan dryer kan sekarang memiliki fitur “bebas-setrika” ya yang mana lumayan mengurangi kerut-kerutan di pakaiannya itu.

Ini semua berarti apabila apa yang aku kenakan aku rencanakan dengan tepat, aku bisa meminimalisir kebutuhanku akan menyetrika. Dan artinya waktu dan energiku yang bakal dihabiskan untuk aktivitas membosankan ini bisa aku gunakan untuk kegiatan lain yang lebih tidak membosankan! Hahaha 😆 . Ini bisa aku capai dengan, misalnya, menghindari memakai kemeja sebisa mungkin. Kalau tidak ada kemeja yang perlu disetrika artinya aku tidak perlu menyetrika kan ya! Untung deh! Haha 😆

Tapi kantor gimana dong? Hmm, sejauh ini sih aku beruntung sekali. Universitas, tempat dimaa aku merampungkan studi S2 dan S3 (PhD)-ku, dan kantorku sekarang mah santai dan kasual banget untuk urusan ini; dalam artian tidak ada kewajiban untuk mengenakan pakaian formal a la pekerja “kerah putih” seperti anak kantoran gitu. Kalau mau, bisa-bisa saja aku mengenakan kaus dan celana pendek ke kantor kok, selama masih “layak” tentunya ya, dan tidak akan ada yang menggubris (yang mana banyak kolegaku lakukan sih akhir-akhir ini, yang mana memang iklim di Belanda baru-baru in cocok untuk penampilan ini, haha). Dan jadilah aku menjalankan strategi untuk sedapat mungkin tidak mengenakan kemeja, yang mana kebetulan juga nyaman kan ya! 😀

Dua apartemenku yang sebelumnya di Delft, yang mana aku sewa “all-in” (maksudnya sewanya termasuk mebel dan segalanya gitu), sebenarnya juga menyediakan setrika dan papan setrika. Jadi jika aku butuh menyetrika, alat-alatnya sudah disediakan; walaupun memang karena pendekatan pragmatisku ini, aku tidak perlu sering-sering menggunakannya sih. Dan semenjak pindah ke Amsterdam, sejauh ini sih aku masih aman-aman saja kok tanpa setrika, haha 🙈.

Walaupun begitu, akhir-akhir ini, perlahan-lahan tapi pasti aku mulai berpikir bahwa mungkin tidak ada salahnya untuk setidaknya memiliki peralatan yang aku butuhkan untuk menyetrika di apartemenku. Di tambah lagi, toh sebenarnya aku juga memiliki kemeja dan beberapa jenis pakaian, misalnya celana non-jeans, dll, yang sebenarnya butuh disetrika uga kan ya. Dan jadilah belum lama ini aku memutuskan untuk membeli setrika dan papan setrika. Papan setrikanya aku beli di sebuah toko di dekat rumahku, dan setrikanya aku beli online (yang mana kebetulan banget tokonya sedang ada promosi ekstra Flying Blue miles untuk setiap euro yang aku keluarkan, timing-nya pas sekali! 😛 ).

Ya gitu deh, jadilah sekarang resmi sudah aku memiliki peralatan yang aku butuhkan andaikata aku lagi ingin menyetrika di apartemenku. Dan akhir pekan kemarin ini, ini baru saja aku lakukan! Haha 😆 .

Anyway, bagaimanakah pendapat kalian tentang menyetrika?

Menyetrika
Advertisements
The Past, Zilko's Life

#2129 – A Blogging Theory

ENGLISH

This post has sat in my Draft section for about half a year now. And so I figure it might be a good time to let it live here as an actual post, haha 😛

***

It is no secret that I enjoy blogging, a lot. And this is something which I don’t consciously think about a lot, let alone analyze. I just go with the flow. However, just not too long ago something suddenly popped up in my mind, something which might explain why I enjoy this activity so much that I have been constantly doing for more than 13 years now.

You know, last Fall I decided to rewatch Star Trek: Voyager. After four seasons of it, for whatever reason I remembered my childhood time when I first watched the series. At the time, one aspect of the show which I was obsessed with was, interestingly, the star date! You see, in (almost) every episode, the captain (usually, otherwise it would some other crew member) would narrate a log (it could be personal or work-related) and tag it with a star date (basically a time system used in the series). At the time, I was obsessed with the star date and actually listed the star dates that appeared in each episode! Haha 😆 .

While mini Zilko was obsessed with the star date, probably unknowingly the entire concept of the captain or crew’s logging habit was absorbed as well along with it. Think about it, in a way blogging can be seen as a way of logging my life, isn’t it? While this might not be the only purpose of blogging in general, it certainly fits with how I write and shape my own blog.

In a slightly unrelated story, I also remember the evening my dad took me and my little brother to Gramedia. That evening, we bought a badminton racket for each of us; and also an empty diary book. I still vividly remember what my dad said to us that evening, that one of his biggest regret from his childhood was to not log his life in a diary. So much memory was, then, forgotten. So he encouraged me and my brother to write anything in the book. Like, literally anything, no matter how “trivial” the matter was. Of course at the time I didn’t immediately embrace it. In fact, I think the book was left mostly empty in the end (I remember at least I wrote one “post” there, though 😛 . In fact, I still remember what it was: a blackout in Yogyakarta! Haha 😆 ).

And then 2005 came, where I was introduced to what was called a blog. And the rest … is history.

BAHASA INDONESIA

Posting ini sudah duduk manis di Draft blog-ku ini selama setengah tahunan sekarang. Dan jadilah aku pikir mungkin ini adalah waktu yang baik untuk menjadikannya posting beneran, haha 😛 .

***

Bukan rahasia lagi bahwa aku amat menikmati yang namanye ngeblog. Dan ini adalah sesuatu yang tidak pernah aku sengaja pikirkan mengapa, apalagi analisa. Go with the flow aja gitu deh. Namun, belum lama ini tiba-tiba sesuatu terpikirkan di pikiranku, sesuatu yang mungkin menjelaskan mengapa aku amat menikmati aktivitas yang telah kulakukan rutin selama lebih dari 13 tahun ini.

Sudah kuceritakan kan bahwa musim gugur kemarin ini aku mulai menonton ulang Star Trek: Voyager. Setelah empat musim, entah mengapa tiba-tiba aku teringat masa kecilku ketika aku pertama menonton serial ini. Waktu itu, aku terobsesi dengan salah satu aspek dari serialnya, yaitu tanggal bintangnya! Jadi ceritanya di (hampir) setiap episode, kapten kapalnya (biasanya, atau terkadang “digantikan” oleh anggota kru lainnya) menarasikan sebuah catatan harian gitu deh (bisa berupa catatan personal atau catatan pekerjaan) dan membubuhkannya dengan tanggal bintang (sebuah sistem waktu yang digunakan di serial ini). Waktu itu, aku terobsesi dengan tanggal bintang ini dan membuat daftar tanggal bintang-tanggal bintang yang muncul di setiap episodenya! Haha 😆

Walaupun Zilko kecil terobsesi dengan tanggal bintangnya, mungkin tanpa ia sadari keseluruhan konsep dari kebiasaan kapten atau krunya dalam menyimpan catatan harian ini juga ikut teresap dengannya. Benar juga kan? Di satu sisi ngeblog itu bisa dipandang sebagai pencatatan rekaman hidup? Walaupun memang ini bukan lah satu-satunya fungsi dari blog secara umum, jelas tujuan ini lah yang memotivasiku untuk ngeblog.

Di cerita yang agak tidak berhubungan dengannya, aku juga ingat suatu malam ketika papaku mengajakku dan adikku ke Gramedia. Malam itu, kami membeli raket badminton untukku dan adikku; dan juga sebuah buku diary kosong. Aku masih ingat jelas apa yang dikatakan papaku malam itu, dimana salah satu penyesalan terbesar di hidupnya adalah tidak mencatat kehidupannya dalam sebuah diary. Jadilah banyak memori yang, akibatnya, terlupakan. Jadilah waktu itu ia mendorongku dan adikku untuk menulis apa pun di buku itu. Apa pun, seberapa “nggak penting”-nya juga nggak apa-apa. Jelas lah waktu itu aku tidak langsung menerima konsep ini, haha. Malahan, buku itu pada akhirnya tetap nyaris kosong (Aku ingat setidaknya aku menuliskan satu posting-an di sana sih 😛 . Bahkan topiknya pun masih aku ingat lho: mati lampu di Yogyakarta! Haha 😆 ).

Dan lalu tiba lah tahun 2005, dimana aku dikenalkan dengan yang namanya blog. Dan selanjutnya … tahu sendiri lah bagaimana.

EuroTrip, Vacation, Weekend Trip

#2128 – A Long Weekend in Budapest (Part III: Pest)

ENGLISH

Posts in the Long Weekend in Budapest series:
1. Introduction
2. Part I: Buda of Budapest
3. Part II: The Flights Drama
4. Part III: Pest of Budapest

Accross the Danube River from Buda (See Part I) is Pest, one half of the city which makes up Budapest. As I previously mentioned, Buda and Pest are very different from each other and have different “personality”.

Buda and Pest were connected by this Chain Bridge.

For one, unlike the hilly Buda, Pest was flat, just like the Netherlands, haha 😛 . And unlike Buda with its “imperial” vibe, Pest was the complete opposite where it felt much more “populous”. It almost felt like if Budapest was the capital of a kingdom, Buda was where the monarchy lived while Pest was where the people lived.

I stayed at a hotel in Pest on this trip; and so my first impression of Budapest was, naturally, from Pest (As I arrived in the late afternoon so I first went to the hotel from the airport). The populous vibe of Pest immediately reminded me of Bucharest; where the buildings looked “dull” and not “as well-preserved” as, say, Western Europe in general.

A bulding in Pest

Though, in a way this screamed “Eastern European”, perhaps, haha… . Having said that, it felt like that Pest was actually where the “life” of Budapest was as I saw more locals there than in Buda which was flocked by a lot of tourists, haha 😆 .

But this did not mean that there was nothing to see for tourists in Pest. For once, the beautiful Parliament Building was located on the Pest-side of the Danube. Though, this would mean that one could enjoy the building from the Buda side 😛 . And also, the beautiful Heroes Square, which was the one place in Budapest I had been wanting to go to for some reasons, was in Pest.

Budapest selfie at the Heroes Square

In reality the Heroes Square was, somehow, much smaller than what I imagined, though. It was also very touristy but I expected this. Nonetheless, it was still very pretty! According to the map, there was a large garden beyond the square with several interesting (old) buildings, but unfortunately I didn’t have the time to explore this part of Pest. Perhaps for the next time then… .

Being where the “life” of the city was, Pest was also the location of many great restaurants. Though I didn’t do any research on this front, it felt to me like the restaurants in Pest looked much more inviting than those in Buda. Speaking of the food…

Hungarian Food

Even though I didn’t research any restaurants, I did look for some information of some must-try Hungarian dishes before I left. On this front, I found out that Hungary had its own interpretation of “goulash”. And there were two “versions” of it, one was in the form of a soup, called “gulyas”, and the other was more like the “regular” goulash we would think of, called pörkölt. Of course I was intrigued by both and I came to Budapest with the intention of trying both, haha 😆 .

A Hungarian veal pörkölt with some dumplings.

Both dishes turned out to be good. The gulyas wasn’t very “heavy”, which I liked from a soup. The pörkölt was also nice and was served with some egg dumplings.

I also saw a lot of street foods in Budapest. Though, to be honest I am not really a fans of “street food” (As, to me, it doesn’t represent the best value of money in general, haha 😆 (I, for one, much prefer to sit when I eat)). But I have to say that a lot of those looked good. The range was also really wide from the savoury spectrum to the snack/side-dish spectrum to the dessert spectrum. So if you love street food, I would say you would like Budapest!

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Long Weekend in Budapest:
1. Introduction
2. Part I: Buda of Budapest
3. Part II: The Flights Drama
4. Part III: Pest of Budapest

Di seberang Sungai Danube dari Buda (Baca Bagian I) adalah Pest, setengah dari apa yang membentuk kota Budapest. Seperti yang kusebutkan sebelumnya, Buda dan Pest adalah dua bagian yang sangat berbeda satu sama lain, yang juga memiliki “personality” yang amat berlainan.

Buda dan Pest dihubungkan oleh Jembatan Rantai (Chain Bridge) ini.

Pertama-tama, nggak kayak Buda yang berbukit-bukit, Pest itu rata, kayak Belanda dah, haha 😛 . Dan tidak seperti Buda yang memiliki aura “imperial”, Pest terasa amat berkebalikan dimana auranya terasa sangat “merakyat”. Rasanya seperti andaikata Budapest adalah ibukota dari suatu kerajaan, Buda adalah lokasi istana kerajaannya berada sementara Pest adalah lokasi dimana rakyatnya tinggal.

Aku menginap di sebuah hotel di Pest di perjalanan ini; dan jadilah kesan pertamaku akan Budapest datang dari Pest ini (Karena aku tiba di sore hari, jelas tujuan pertamaku setelah tiba dari bandara adalah hotelku). Aura merakyatnya mengingatkanku akan Bucharest; dimana bangunan-bangunannya nampak “kusam” dan tidak “seterawat” bangunan-bangunan di Eropa Barat.

Sebuah bangunan di Pest

Walaupun begitu, di satu sisi ini justru adalah ciri khas dari Eropa Timur sih ya, mungkin, haha… . Walaupun begitu, justru di Pest lah denyut nadi kehidupan di Budapest-nya terasa dimana aku melihat banyak warga setempat. Tidak seperti Buda yang diserbu oleh banyak sekali turis, haha 😆 .

Tapi ini bukan berarti tidak ada yang menarik bagi turis di Pest sih. Pertama-tama, Gedung Parlemen yang kece itu berlokasi di sisi Pest di tepian Sungai Danube. Walaupun ini juga berarti gedungnya bisa kita nikmati juga dari sisi Buda di seberang sungai, haha 😛 . Dan juga, Heroes Square yang kece itu, yang mana merupakan satu lokasi di Budapest yang ingin sekali aku kunjungi, berada di Pest.

Budapest selfie di Heroes Square

Pada kenyataannya, Heroes Square ternyata berukuran lebih kecil daripada apa yang aku bayangkan, haha. Lokasinya juga ramai dengan turis tapi ini sudah aku sangka sih. Walaupun begitu, masih cantik kok! Menurut peta, ada sebuah taman yang besar di belakang square-nya dengan beberapa bangunan (tua) yang kayaknya menarik, tapi sayangnya aku tidak memiliki cukup waktu untuk mengeksplor bagian dari Pest ini. Mungkin di lain kesempatan ya… .

Yang namanya dimana denyut nadi kehidupan kotanya berada, Pest juga lah lokasi dari banyak restoran yang kece-kece. Walaupun sebenarnya aku tidak melakukan riset akan topik ini, rasanya untukku restoran-restoran di Pest nampak lebih mengundang daripada di Buda. Ngomongin makanan nih…

Masakan Hungaria

Walaupun aku sama sekali tidak meriset restoran, aku sempat mencari-cari informasi mengenai masakan Hungaria yang patut dicoba. Nah, jadilah aku baru tahu bahwa Hungaria memiliki interpretasi uniknya akan “goulash”. Ada dua “versi” sih, yang pertama adalah versi sup, yang disebut “gulyas”, dan yang lainnya berpenampilan seperti goulash “reguler” yang disebut pörkölt. Tentu saja aku penasaran dengan keduanya dan aku datang ke Budapet dengan keinginan untuk mencobanya, haha 😆 .

Sebuah pörkölt daging sapi ala Hungaria dengan dumplings.

Dan keduanya memang enak kok. Gulyasnya tidak terasa “berat”, yang mana merupakan karakteristik yang aku suka dari yang namanya sup. Pörkölt-nya juga enak yang mana disajikan dengan egg dumplings.

Aku juga melihat ada banyak street food yang dijajakan di Budapest. Tapi, sejujurnya, aku bukanlah fans dari “street food” (Karena, untukku, ini tidak memberikan nilai yang maksimal dari harga yang pada umumnya ditawarkan, haha 😆 (Aku, misalnya, lebih suka untuk duduk ketika makan)). Tapi harus aku bilang bahwa memang nampak menarik kok. Pilihannya pun beragam sekali mulai dari spektrum savoury ke spektrum camilan/makanan ringan ke spektrum pencuci mulut. Jadi kalau kamu suka street food, aku rasa kamu bakalan suka Budapest!

General Life, Zilko's Life

#2127 – This Year’s Summer Solstice

ENGLISH

This year’s summer solstice took place this Thursday, which means today is day two of my less favorite half of a year, where the day is getting shorter and shorter as days go by until we reach the winter solstice this December, haha 😆 .

Being a Thursday, obviously I worked during the solstice. And my working day that day turned out rather unique. My team went on a half-day off-site in the afternoon. While off-site is a common activity in my office, now that I think about it this was actually my first off-site ever! Haha 😆 . Anyway, as it was an off-site, it was held not in our office but at a hotel in Amsterdam Centrum. I am not going to discuss what we did during the off-site, haha, but it was fun, and interesting; as it wasn’t really about what we did day to day at the office.

The off-site was actually followed, as usual, with a social gathering for drinks, snacks, and even a barbeque. Though, unfortunately I decided to skip this part because … I did not want to miss my tennis lesson! Haha 😆 . Yeah, I mean, had it been on any other regular day with a gym session, I would have been willing to rearrange my gym schedule, but not my tennis lesson! (Well, a gym session was much more flexible schedule-wise than a tennis lesson anyway 😛 )

Beside, the lesson was an opportunity to finally test my new racket! 😀

Anyhow, yeah this year’s summer solstice turned out to be quite an interesting and rather unusual regular day to me. Even though now we are already in my less favorite half of the year, at least the day will still be long for a couple of months to come :mrgreen: .

10:30 PM in Amsterdam during summer solstice in 2018

BAHASA INDONESIA

Summer solstice tahun ini berlangsung di hari Kamis yang lalu, yang mana artinya hari ini adalah hari kedua dari paruh tahun yang lebih tidak aku sukai tahun ini, dimana siang hari terus memendek setiap harinya sampai kita mencapai winter solstice Desember nanti, haha 😆 .

Yang namanya hari Kamis, jelas aku bekerja di hari itu. Dan hari kerjaku yang ini kemarin ternyata adalah hari yang cukup unik. Timku pergi dalam sebuah acara off-site selama setengah hari di siangnya. Walaupun off-site adalah aktivitas yang lumayan umum di kantorku, aku ingat-ingat lagi ini adalah off-site-ku yang pertama loh! Haha 😆 . Anyway, karena namanya offsite, jelas acaranya tidak diadakan di gedung kantor melainkan di sebuah hotel di centrum-nya Amsterdam. Aku tidak akan mendiskusikan apa yang kami kerjakan di acaranya sih, haha, tapi seru kok, dan menarik juga; karena topik utamanya bukanlah mengenai apa yang kami kerjakan setiap hari di kantor.

Off-site-nya kemudian diikuti dengan, seperti biasa, acara kumpul-kumpul sosial gitu untuk minum, nge-snack, dan bahkan barbeque juga. Tapi, sayangnya bagian ini harus aku lewatkan karena … aku nggak mau melewatkan les tenisku! Haha 😆 . Iyaa, maksudku, andaikata acaranya adalah di hari biasa lain dengan sebuah sesi gym, aku bakal mau banget untuk mengatur ulang jadwalku nge-gym, tetapi kalau les tenis mah lain cerita ya! (Yah, lagian kan jadwal nge-gym itu lebih fleksibel daripada yang namanya les tenis kan 😛 ).

Apalagi les ini adalah kesempatan untuk mengetes raket tenis baruku kan ya.

Anyhow, jadi summer solstice tahun ini adalah hari biasa yang menarik dan agak tidak biasa untukku, haha. Walaupun sekarang kita sudah memasuki paruh tahun yang lebih tidak aku sukai, setidaknya sekarang ini siangnya kan masih lama ya sampai dua bulanan ke depan :mrgreen: .

Jam 10:30 malam di Amsterdam ketika summer solstice di tahun 2018
My Interest, Tennis, Zilko's Life

#2126 – A Tennis Racket Story

ENGLISH

During my tennis lesson last week, this happened:

A broken tennis racket string

Yep, for the first time ever since I picked up a tennis racket, I had a broke string during play! Haha 😆 . Thankfully it was during a tennis lesson so I could borrow a racket from the coach for the reminder of the session. Even though of course it wasn’t “optimal” for my game because, you know, every tennis player was accustomed to a certain “feel” of the racket (the grip, the stringing tension, the racket surface size, the presence of a damper, etc). And so it was unlikely that a borrowed racket would be a perfect match to one’s “feel”. But this was, of course, a much better situation than not having a racket to play tennis, haha 😛 .

Anyway, I bought this racket in October 2015. Actually the racket still felt fine up to last week’s lesson, as since I started working in Amsterdam I haven’t been able to play as often as like when I was still in the university; so the racket hadn’t been *that* worn out. So this made me think that perhaps broken string had little to do with the “weariness” of a racket, haha.

Though, I’m not sure about Agnieszka Radwanska’s racket here 😆

This experience made me feel like a “professional player” though, in a way, who quite often had a broken string while playing a match! (Actually I had wondered why I had not had a broken string as I had played for years, whereas it felt like at least in one of two or three professional matches that I watched a string of one of the players’ rackets broke, haha).

Anyway so of course I could have had the racket restrung. But my last experience with racket restringing wasn’t the bestest one. At the time I felt like the string tension after restringing wasn’t the same and it didn’t “feel” right. Okay, a logical explanation for that was perhaps the tension was “wrong”. However, as Barney Stinson said…

and so I decided to just go with the easiest option and buy a new racket, haha 😛 .

I went to a store in Amsterdam Centrum after work on Friday, though before that I already browsed for some options at an online tennis store. I knew that I would like a Wilson racket because Wilson was the brand the Williams sisters used, lol 😛 (#truefans). I almost bought one at the store, but then I didn’t because at the very last second I decided to choose the model I had seen earlier online: the Blade 104 model used by Venus Williams, haha 🙈. The store in Amsterdam didn’t have this particular model in stock at the time. And yesterday, my new racket was delivered to me 😀 . Btw, the nice thing about this online store was that they were able to customize the string too to my own specification! 🙂

My new Wilson Blade 104 tennis racket

BAHASA INDONESIA

Di les tenisku minggu lalu, ini terjadi:

Senar raket tenis yang putus

Iya dong, untuk pertama kalinya semenjak aku mulai bermain tenis, aku mengalami yang namanya senar raketnya putus ketika aku bermain! Haha 😆 . Untungnya kejadiannya adalah ketika les sih sehingga aku bisa meminjam raket dari pelatihnya untuk sisa dari sesi les kali itu. Walaupun jelas ini nggak “optimal” karena setiap pemain itu memiliki “feeling“-nya sendiri dengan raketnya (pegangannya, tegangan senarnya, luas permukaan raketnya, apakah pakai damper atau tidak, dll). Dan jadilah raket pinjaman itu seringnya tidak memiliki “feel” yang pas banget dengan kita. Ah, tapi ini adalah situasi yang lebih baik ya daripada main tenis tapi nggak punya raketnya, iya kan, haha 😛 .

Anyway, raket ini aku beli di bulan Oktober 2015. Sebenarnya raketnya masih baik-baik saja kok sampai sesi les minggu lalu itu, karena toh semenjak aku mulai bekerja di Amsterdam aku tidak bisa bermain tenis sesering dulu ketika masih di universitas; jadilah raketnya masih belum se-“usang” itu. Ini membuatku berpikir mungkin yang namanya senar yang putus itu tidak ada hubungannya dengan “keusangan” sebuah raket, haha.

Eh tapi kalau apa yang terjadi dengan raketnya Agnieszka Radwanska ini aku nggak tahu juga sih, haha 😆

Pengalaman ini membuatku merasa seperti “petenis profesional” nih, di satu sisi, yang mana nampak sering mengalami kejadian senar putus ketika bermain suatu pertandingan! (Sebenarnya sempat terpikirkan olehku lho mengapa kok aku tidak pernah mengalami senar raket tenis yang putus padahal aku sudah main tenis bertahun-tahun, sementara rasanya setidaknya di satu dari dua atau tiga pertandingan profesional yang aku tonton, senar dari salah satu raket yang digunakan pemainnya itu putus, haha).

Anyway jelas sebenarnya bisa saja raketku di-restring. Tapi pengalaman terakhirku dengan me-restring raketku ternyata bukan pengalaman yang terbaik. Maksudnya, waktu itu rasanya tegangan senarnya setelah di-restring nggak sama sehingga “feel” raketnya rasanya jadi aneh gitu. Iya, iya, penjelasan logisnya adalah kemungkinan besar memang tegangannya aja yang waktu itu “salah”. Tapi, seperti katanya Barney Stinson kan…

dan jadilah aku memutuskan mengambil pilihan yang mudah aja dan membeli raket tenis baru, haha 😛 .

Aku pergi ke sebuah toko peralatan olahraga di Amsterdam Centrum sepulang kerja di hari Jumat; eh tapi sebelumnya aku sudah mengecek satu toko online juga sih. Aku sih sudah tahu aku akan membeli raketnya Wilson lagi karena merk ini adalah merk yang dipakai Williams bersaudari, haha 😛 (#truefans). Aku nyaris membeli satu raket di tokonya, tapi kemudian last minute aku membatalkan niatan itu karena aku memutuskan untuk membeli model yang sudah aku lihat di internet sebelumnya: model Blade 104 yang dipakai oleh Venus Williams, haha 🙈. Btw tokonya di centrum pas kebetulan tidak memiliki stok model yang ini waktu itu. Dan kemarin, raket baruku akhirnya tiba di tanganku 😀 . Btw, asyiknya toko online ini adalah mereka bisa meng-customize string-nya sesuai dengan spesifikasi yang aku inginkan lho! 🙂

Raket tenis Wilson Blade 104 baruku
EuroTrip, Travelling, Vacation, Weekend Trip

#2125 – Luzern vs Laussane

ENGLISH

Here is a tip for a train trip in the expensive European country of Switzerland. If you look for the ticket in advance, you can potentially snatch a “saver” ticket where you can benefit a 70% discount of the regular price! This saver price comes with a restriction, though, where it is only valid on the specified train service with specific schedule; as opposed to the regular “open” ticket that is valid on any trains on a given date. But a 70% discount, especially in Switzerland, is a lot that this restriction, to me, is worth the inflexibility! Haha 😆

A Swiss train

And so as a preparation for my trip to Luzern, I was actively looking for a train ticket to get there from Zürich Airport and another one to go to Zürich from there since way before the trip. I started looking a little bit too early where tickets for trip on my travel dates were not for sale yet. Even though I couldn’t buy the tickets at the time, at least this gave me the impression of how much the tickets would cost me (by checkin the other dates).

Fast forward a few weeks later about two weeks before the trip, I started looking again. After entering Laussane, I was shocked to see that the ticket price appeared to have gone up by 2.5x fold! For some moment I couldn’t believe what I saw, as I found it strange for the price difference to be of that magnitude. Sure I could still find some saver tickets, but this would still mean that the after-discount saver price also increased by 2.5x fold. I also considered the possibility that perhaps I remembered the price wrong. And, if this were the case, this would mean that the regular return train ticket would cost almost as much as my return flight ticket from Amsterdam to Zürich! Haha 😆

… and not to mention that I would end up getting upgraded to Europe Business Class on the flight to Zürich.

Thankfully I wasn’t rushing in buying the ticket. For whatever reason, I decided to open Google Map as I would like to locate where Laussane was with respect to Zürich. And I noticed something strange: the town appeared to be much further away that it was “supposed to”; as I strongly remembered that the reason I chose to fly to Zürich was because this was the closest city with an international airport to it.

And then I realized what was going on!! I was looking for the wrong city! Lol 😆 . My destination was Luzern, NOT Laussane! Lol 😆 . Here is the map showing where the two towns are in Switzerland:

Luzern and Laussane in Switzerland

You see, Laussane was much further away from Zürich than Luzern, which explained the much more expensive train ticket! In fact, if I would like to go to Laussane (which I do actually, I have heard it to be a beautiful town too), I would fly to Geneva, not Zürich 😛 .

In fact, I was still under the influence of this mistake when I was preparing the Introduction post of the trip. In the draft, I wrote “Laussane” instead of “Luzern” and so I had to do a lot of cleaning up afterwards, haha 😆 .

Well, but in my defense, the name “Luzern” and “Laussane” are, indeed, quite similar, aren’t they? 😛

This was Luzern, not Laussane

BAHASA INDONESIA

Berikut ini satu tips untuk bepergian dengan kereta api di Swiss, sebuah negara Eropa yang mahal. Jika kita mencari tiketnya cukup awal, kita bisa mendapatkan diskon 70% loh dari harga normalnya! Tiket diskonan ini ada batasannya sih, dimana tiketnya hanya berlaku di layanan kereta yang disebutkan dengan jadwal dan jam keberangkatan yang ditentukan; tidak seperti tiket dengan harga normal yang berlaku “terbuka” alias bisa digunakan di kereta yang mana pun di tanggal yang sudah ditentukan. Tapi diskon sebesar 70%, apalagi di Swiss, membuat batasan ini sepadan dengan infleksibilitasnya lah ya! Haha 😆 .

Sebuah kereta di Swiss

Dan jadilah sebagai bentuk persiapan perjalananku ke Luzern, aku mencari-cari tiket untuk pergi kesana dari Bandara Zürich Airport dan tiket lain untuk kembali ke Zürich semenjak lama sebelum perjalanannya. Ternyata waktu pencarianku ini terlalu awal sehingga tiket untuk kereta di waktu perjalananku masih belum dijual. Biarpun demikian, setidaknya aku jadi mendapatkan gambaran akan harga tiketnya lah ya (dengan mengecek tanggal-tanggal lain).

Fast forward beberapa minggu kemudian, kira-kira dua minggu sebelum perjalanannya, aku mulai mencari tiketnya lagi. Setelah memasukkan Laussane, aku dikejutkan dengan harga tiketnya yang nampak sudah naik sekitar 2,5 kali lipat! Selama beberapa waktu aku tidak mempercayai apa yang aku lihat, karena aku merasa aneh kenaikannya kok bisa sebesar itu. Memang sih aku masih bisa menemukan tiket diskonannya, tetapi ini tetap berarti harga tiket setelah diskonnya pun lebih tinggi sekitar 2,5 kali lipat daripada apa yang aku ingat. Aku juga mempertimbangkan kemungkinan aku salah ingat harganya sih, haha. Dan jika memang demikian, artinya harga normal tiket kereta pp-nya hampir sama dong dengan harga tiket pesawat pp-ku dari Amsterdam ke Zürich! Haha 😆

… yang mana padahal di penerbanganku ke Zürich aku kan di-upgrade ke kelas bisnis Eropa ya.

Untungnya aku tidak terburu-buru membeli tiketnya. Entah mengapa, aku memutuskan untuk membuka Google Map karena aku ingin melihat lokasi Laussane di sebelah mananya Zürich. Dan aku melihat sesuatu yang aneh; kotanya kok nampak lebih jauh daripada yang “seharusnya” ya; karena aku juga ingat jelas bahwa alasan aku memilih terbang ke Zürich adalah karena ini adalah kota dengan bandara internasional terdekat darinya.

Dan baru lah aku menyadari apa yang terjadi!! Aku salah kota dong! Huahahaha 😆 . Tujuanku kan Luzern ya, BUKAN Laussane! Hahaha 😆 . Berikut ini peta yang menunjukkan lokasi dua kota ini di Swiss:

Luzern dan Laussane di Swiss

Seperti yang bisa dilihat, Laussane itu berlokasi lebih jauh dari Zürich daripada Luzern, yang menjelaskan mengapa harga tiket keretanya juga lebih mahal! Malahan, jika aku ingin pergi ke Laussane (yang mana memang aku ingini sih, aku dengar kotanya juga indah), aku bakal terbang ke Jenewa (Geneva) deh, bukannya Zürich 😛 .

Bahkan aku masih dipengaruhi oleh kesalahan ini loh ketika aku mempersiapkan posting Introduction dari perjalanan ini. Di draft-nya, aku menulis “Laussane” bukannya “Luzern” sehingga aku harus membenarkan banyak kesalahan ini setelahnya, haha 😆 .

Ya tapi in my defense, nama “Luzern” dan “Laussane” kan memang mirip, iya kan? 😛

Ini Luzern, bukan Laussane
EuroTrip, Vacation, Weekend Trip

#2124 – A Long Weekend in Budapest (Part II: The Flights Drama)

ENGLISH

Posts in the Long Weekend in Budapest series:
1. Introduction
2. Part I: Buda of Budapest
3. Part II: The Flights Drama
4. Part III: Pest of Budapest

Between stories of Buda and Pest, let me share a couple of stories of what happened to and during my flights; which both turned out to be “unusual”, in a very different way.

A Barf Bag Story

A “unique” incident happened during my KL1977 flight to Budapest. First of all, let me warn you that this incident is “gross” so if you don’t feel like reading it, I recommend you to skip this section altogether. Proceed on your own risk, haha…

The incident took place on board this KLM’s Boeing 737-800 reg PH-BXY

At one point during the flight I was queuing for one of the two lavatories at the rear of the plane. Both cabins were occupied at the time and there were two ladies in the line in front of me. Then suddenly, a young guy stood up and briskly walked (it was almost “running” actually) towards the back of the plane, appearing to be “rushing”. For a split second I was a little bit annoyed because I thought he was intending to cut the lines but nonetheless I let him anyway; giving him the benefit of the doubt. This … turned out to be a great decision (for me) because …

literally after passing myself, he started to puke! Like, he was puking so bad that the puke sprayed over onto the lady at the front of the line (who then screamed out of shock) and onto the lower arm of the lady in front of me. I mean, WTF. Btw, it was a really “bad” puke, where he went on a few “rounds”. All of it, of course, spilled all over the floor of the rear galley because at the time both lavatories were occupied. As for myself, I was “safe”; and then I was asked to use the lavatory at the front of the plane.

When I came back to my seat, I checked if KLM provided a barf bag in each seat. And they did. So I was wondering why the guy did not use the barf bag instead. But perhaps it was his reflex to go to the toilet when feeling like puking or that perhaps he wasn’t aware of the barf bag … or both.

A KLM’s barf bag

The flight attendants were really professional, btw. Of course they had to wipe and clean the floor, which they did quickly; they also helped the guy and the unlucky lady who then (obviously) changed her clothes, and made sure that she, too, was alright.

Yeah, what an experience to witness!

A Delayed Flight Drama

Anyway, I mentioned in the Introduction post, here is the original routing of my flights for this trip:

To get back to Amsterdam, I was supposed to fly an Air France’s flight to Paris-CDG then transferred to KLM’s last Paris-CDG to Amsterdam that day, with only 40 minutes of transfer time. It was really tight, but doable.

The trip started smoothly as usual. I arrived a little bit early at the airport so the check-in desks were still closed. Nevertheless, I still could get my boarding pass via the self check-in machine. I then cleared security and went to the (small) lounge.

Then I noticed that my Air France flight to Paris would be delayed by 30 minutes. With only 40 minutes of transfer in Paris, of course I immediately understood that this was a signal of an upcoming problem; especially that I was transferring to Air France/KLM’s last flight to Amsterdam from Paris! I then asked the lounge agent who then informed me that there was no ticketing agent in the airside so I would need to get back to the check-in area in the landside to confirm my status. It would be very inconvenient, but I felt like this was the better alternative than just doing nothing and letting the situation unravel.

By the time I arrived at the check-in area (for the second time today), the delay had been extended to one hour.

The check-in desks were already opened at the time but the lines were uncharacteristically crowded, including the Priority line, haha. Anyway long story short I explained my situation to the check-in lady, who was nice and worked very efficiently. Fortunately, it was still in time for me to be transferred to KLM’s last direct flight back to Amsterdam today, and there were still quite some seats available! Of course Air France/KLM moved me to this direct flight free of charge; as otherwise they would likely need to provide me a big amount of compensation under the Flight Compensation Regulation 261 of the European Union Law, an amount that would have been a lot more than the ticket price I paid (i.e. I would have made a “profit” out of this trip, lol 😆 ).

Luckily it was still in time for me to get transferred to KLM’s last direct flight to Amsterdam with this Boeing 737-800 reg PH-BCA

So yeah, instead of flying the triangle AMS-BUD-CDG-AMS routing this long weekend, I ended up only flying the “efficient” AMS-BUD-AMS routing, haha. Btw, eventually the Air France flight to Paris was delayed for almost four hours, arriving at Paris-CDG only at 11:19 PM! If I had been taking that flight, I would have needed to stay overnight at Paris-CDG (which Air France/KLM would pay for, I assume) and, presumably, would have been transferred to one of Air France/KLM’s morning flights the next day to Amsterdam. Thankfully I was able to realize the upcoming of this problem and that I was being proactive in preventing it from unraveling in the first place!

Delayed AF1295

It would have been a huge inconvenience; and to be honest I am not sure if the compensation would have made up for it, haha 😆 .

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Long Weekend in Budapest:
1. Introduction
2. Part I: Buda of Budapest
3. Part II: The Flights Drama
4. Part III: Pest of Budapest

Di sela-sela cerita dari Buda dan Pest, aku isi dulu dengan dua cerita akan apa yang terjadi dengan dan dalam penerbangan-penerbanganku; yang mana keduanya adalah kejadian yang “tidak biasa”, dalam hal yang berbeda.

Cerita Kantong Mabuk Udara

Satu kejadian “unik” terjadi di penerbangan KL1977ku ke Budapest. Pertama-tama, aku peringatkan bahwa kejadian ini “menjijikkan” sehingga kalau ogah membaca beginian, bagian ini silakan dilewati saja. Jadi sudah pada paham risikonya ya, haha…

Kejadiannya mengambil tempat di dalam pesawat Boeing 737-800 rego PH-BXYnya KLM ini

Di satu waktu ketika sedang terbang aku mengantri untuk menggunakan satu dari dua toilet di bagian belakang pesawat. Kedua toiletnya sedang digunakan waktu itu dan ada dua ibu-ibu yang mengantri juga di depanku. Lalu tiba-tiba, seorang laki-laki muda berdiri dan berjalan cepat (nyaris “berlari” sih sebenarnya) ke bagian belakang pesawat, dan dia nampak terburu-buru. Untuk sepersekian detik aku merasa sebal karena kok kayaknya dia mau memotong antrian gitu tetapi pada akhirnya dia aku biarkan lewat; kan aku toh belum tahu motifnya apa kan ya. Ini … ternyata adalah keputusan yang bijak (untukku) karena …

begitu melewatiku, ia tiba-tiba muntah dong! Muntahnya parah banget dimana muntahannya keluar mengenai badan ibu-ibu yang mengantri paling depan (yang mana jelas teriak karena kaget dan syok) dan juga mengenai lengan bawah ibu-ibu di depanku. Maksudku, gila apa-apaan ini yang barusan terjadi! Btw, muntahannya “parah” karena keluarnya dalam beberapa “ronde” gitu. Semuanya, tentu saja, dikeluarkan di lorong bagian belakang pesawat karena waktu itu kedua toilet sedang dipakai. Untukku, aku sih “aman”; dan kemudian aku diminta untuk menggunakan toilet di bagian depan pesawat.

Ketika aku kembali di kursiku, aku mengecek apakah KLM menyediakan kantong mabuk udara di setiap kursi. Dan ternyata memang ada kok. Jadilah aku penasaran mengapa ya laki-lakinya itu tidak menggunakan kantongnya. Tapi mungkin refleks ya untuk pergi ke toilet ketika merasa ingin muntah, atau mungkin dia tidak menyadari keberadaan kantong ini, … atau mungkin keduanya.

Kantong mabuk udaranya KLM.

Pramugarinya profesional sekali, btw. Jelas mereka harus mengelap (atau mengepel?) dan membersihkan lantainya dari muntahan, yang mana mereka lakukan dengan cepat; mereka juga membantu laki-laki dan ibu-ibu yang sedang sial itu yang mana (jelas) harus ganti baju, dan memastikan pula bahwa ibu-ibu ini juga tidak apa-apa.

Iya, sebuah kejadian tidak biasa!

Drama Penerbangan Delay

Anyway, kusebutkan di bagian Introduction bahwa rute awal penerbanganku untuk perjalanan ini adalah sebagai berikut:

Untuk kembali ke Amsterdam, aku memiliki tiket untuk terbang dengan Air France ke Paris-CDG dan kemudian transfer ke penerbangan terakhir Paris-CDG ke Amsterdam-nya KLM hari itu, dengan waktu tranfer yang hanya 40 menit. Mepet banget sih memang, tapi masih bisa dan sempat kok.

Perjalanannya dimulai dengan mulus seperti biasa. Aku tiba di bandaranya agak kepagian sehingga konter check-in-nya masih tutup. Toh biarpun begitu, aku masih bisa mendapatkan boarding pass-ku dengan menggunakan mesin self check-in. Aku kemudian melalui pemeriksaan sekuriti dan menunggu di lounge (yang berukuran nggak terlalu besar).

Lalu aku lihat di layar penerbangan Air France-ku ke Paris akan terlambat 30 menit dong. Dengan waktu transfer yang hanya 40 menit di Paris, aku langsung jelas memahami bahwa ini adalah sebuah pertanda akan masalah besar yang bakalan segera datang; terutama karena aku akan transfer ke penerbangan terakhir-nya Air France/KLM ke Amsterdam dari Paris hari ini! Aku kemudian bertanya ke petugas lounge-nya yang memberi-tahuku bahwa sayangnya tidak ada petugas tiket di airside bandara sehingga aku harus pergi ke luar kembali ke area check-in di sisi landside untuk memastikan statusku. Bakal nggak nyaman dan repot sih, tapi aku merasa ini adalah alternatif yang lebih baik daripada diam saja dan pasrah.

Ketika aku tiba kembali di area check-in, delay-nya sudah memanjang menjadi satu jam.

Kali ini konter check-in-nya sudah ramai dan kebetulan pula tidak seperti biasanya antriannya panjang, termasuk di jalur prioritas. Singkat cerita, aku jelaskan situasiku ke petugas check-in-nya, yang sangat membantu dan bekerja dengan sungguh efisien. Beruntung sekali masih ada cukup waktu untukku dipindahkan ke penerbangan langsung terakhirnya KLM ke Amsterdam hari ini, dan pas pula masih ada lumayan banyak kursi yang tersedia! Jelas Air France/KLM memindahkanku ke penerbangan langsung ini dengan tanpa biaya sama sekali; karena jika tidak kemungkinan besar mereka harus memberikan kompensasi yang sangat besar untukku berdasarkan Regulasi Kompensasi Penerbangan 261 di bawah Hukum Uni Eropa, yang mana besarnya jauh lebih banyak daripada total harga tiket pp-ku (dengan kata lain, aku bisa malah mendapatkan “untung” nih dari perjalanan ini, haha 😆 ).

Untungnya masih ada cukup waktuku untukku dipindahkan ke penerbangan langsung terakhirnya KLM ke Amsterdam dengan Boeing 737-800 rego PH-BCA ini

Jadi ya, bukannya terbang dengan rute segitiga AMS-BUD-CDG-AMS akhir pekan ini, aku malah terbang di rute “efisien” AMS-BUD-AMS, haha. Btw, pada akhirnya penerbangan Air France ke Parisnya itu delay sekitar hampir empat jam dong, dan baru tiba di Paris-CDG jam 11:19 malam! Andaikata aku terbang dengannya, aku bakalan harus menginap ekstra semalam di Paris-CDG (yang mana aku duga biayanya juga akan ditanggung Air France/KLM) dan, aku asumsikan, akan dipindahkan ke salah satu penerbangan paginya Air France/KLM keesokan harinya ke Amsterdam. Beruntung sekali aku bisa menyadari masalah yang akan terjadi ini dan aku bertindak proaktif untuk mencegahnya terjadi!

AF1295 yang terlambat

Pastinya bakal tidak nyaman banget kan ya; dan sejujurnya aku nggak yakin sih kompensasinya bakalan worth it, haha 😆 .