#2068 – A Midweek Trip to Copenhagen

ENGLISH

At the end of January I went on a midweek trip to Copenhagen to attend the PhD defense and graduation of a friend of mine, which was one of the two trips I did that week! It is the time now for the story 😀

The transport

On this trip, I took Air France and KLM’s Amsterdam – Copenhagen – Paris – Amsterdam. The last two flights were regular comfortable Air France flights with an Airbus A318 (F-GUGM) and Airbus A321 (F-GTAJ) so I won’t get too much to it. The first KLM flight to Copenhagen was, however, interesting.

An Air France’s A318 reg F-GUGM at CPH

An Air France’s A321 reg F-GTAJ at AMS

Two days before the trip, I got an email from KLM saying that due to changes in the timetable, the flight to Copenhagen would be operated with a Transavia’s Boeing 737-800 but still with KLM service and staffed by KLM crews. In case you aren’t familiar, Transavia is KLM’s low cost carrier (LCC) subsidiary and there is no Europe business class or economy comfort seats on the plane. And so in Indonesia this would be like holding a Garuda Indonesia ticket but the flight, while still with Garuda’s level of service and crews, would be operated with a Citilink’s plane, haha.

KLM operated my KL1125 flight to Copenhagen today with this Transavia’s Boeing 737-800 reg PH-HZL.

Transavia’s PH-HZL was chosen for my flight today. The gate officers and flight attendants apologized for this change of plane. I settled onto my 4A seat which was a typical LCC seat: it felt quite crammed! Haha 😛 . Thankfully, everything else was pretty much as per KLM standard. They even put the KLM in-flight magazines in the seat pocket, much to my delight because I wasn’t impressed at all with Transavia’s in-flight magazine on my latest flight with them 1.5 years ago, haha. KLM’s usual sandwich and drink service were served on board. The flight landed at Copenhagen – Kastrup Airport on time.

KLM magazines and Transavia Safety Card

A Danish PhD defense and graduation

My main agenda in Copenhagen was my good friend’s PhD defense and graduation. It was also my first time attending such an event outside of the Netherlands and so I was also curious to see the difference.

The defense started with a public presentation for about 45 minutes in a lecture room. I think my friend was quite composed during the presentation, which was really good. Then, a professor told the audience that there would be a 5 minutes break before the Q&A session would start. This next session could potentially take up to 2 hours and he said something along the line as “If you want to leave the room, this is your chance“, or at least this was how the message was conveyed to me, haha.

Actually I would like to stay and see maybe a few questions, as this session was usually where the interesting discussion took place. However, with only one door at the front of the room, what if I needed to, say, go to the toilet or get something to drink? It could potentially took two hours, damn it! I certainly would not want to be in the awkward situation of “interrupting” a fierce PhD defense discussion session because I needed to pee, haha. And so in the end I decided to leave the room, and so did all the other audiences leaving my friend only with the professor and thesis defense committee in the room.

A PhD graduation reception in Denmark

I then helped her colleague prepare for the reception afterwards in a cool hang out hall in the university. The Q&A session took, apparently, about an hour. My friend came to the room with the professors who then promoted her as a Doctor. The reception then started; and it actually went quite long as my friend organized a dinner as well, also at the same place. I stayed there until about 8:30 PM before I decided to leave as I was so tired. It had been a long day when I got up at 3 AM that morning! Hahaha 😛 .

So yeah, in conclusion, a PhD defense and graduation in Denmark was very different from the Netherlands. You can read how mine was here last year. In the Netherlands, it was much more traditional with all the rules and procession while in Denmark, at least on the surface, it looked much more relaxed and casual (There was even no dress code). The committee also consisted of more people in the Netherlands, at least in TU Delft. I also found it interesting that the reception (and dinner) was more like a DIY kind of stuffs, whereas in the Netherlands it was more “formal” with a caterer organizing the reception!

Copenhagen

The colours of Copenhagen

Because my main agenda in Copenhagen was to attend the defense and graduation, I did not have much time to go around the city. But I had visited this beautiful city twice before so I did not really mind this to be honest, haha.

I was glad that I still got the time to enjoy another awesome brunch in Copenhagen, btw (Copenhagen is famous for the amazing brunch places throughout the city). A friend and I headed out to Kalaset nearby the Nørreport Station for brunch, which was highly rated in Yelp. Obviously I ordered the non-vegetarian (lol) brunch, which was really, really good!! 😀

An amazing brunch in Copenhagen

So yeah, the next time you head out to Copenhagen, don’t forget to have brunch! And also the smørrebrød, which unfortunately I did not have this time, hahaha.

BAHASA INDONESIA

Di akhir bulan Januari aku pergi dalam perjalanan singkat di tengah minggu ke Kopenhagen untuk menghadiri sidang dan wisuda PhD (S3)-nya seorang teman baikku, yang mana adalah satu dari dua perjalananku minggu itu! Nah, mari ceritanya kita mulai 😀

Transportasi

Di perjalanan ini, aku terbang dengan Air France dan KLM dengan rute Amsterdam – Copenhagen – Paris – Amsterdam. Dua penerbangan terakhir adalah penerbangan reguler Air France dengan sebuah Airbus A318 (F-GUGM) dan Airbus A321 (F-GTAJ) sehingga tidak akan banyak aku ceritakan di sini. Penerbangan pertama dengan KLM ke Kopenhagen, tapinya, cukup menarik.

A318nya Air France dengan rego F-GUGM di CPH

A321nya Air France dengan rego F-GUGM di AMS

Dua hari sebelum berangkat, aku mendapatkan email dari KLM yang menyebutkan bahwa karena perubahan jadwal, penerbanganku ke Kopenhagen akan dioperasikan dengan pesawat Boeing 737-800 milik Transavia; tetapi masih akan diterbangkan dengan layanannya KLM oleh stafnya KLM. Jika pada nggak paham nih, Transavia adalah anak perusahaan low cost (LCC)-nya KLM dan pesawat-pesawatnya tidak dilengkapi dengan kursi kelas bisnis Eropa maupun economy comfort. Jadi jika di Indonesia kurang lebih ini seperti situasi dimana kita memiliki tiket Garuda Indonesia tetapi penerbangannya, walaupun tetap berlayanan sesuai standar dan oleh kru Garuda, dioperasikan dengan pesawatnya Citilink, haha.

KLM mengoperasikan penerbangan KL1125 ke Kopenhagen hari ini dengan Boeing 737-800 rego PH-HZL milik Transavia ini.

PH-HZL milik Transavia dipilih untuk penerbanganku hari ini. Petugas di bandara dan awak kabinnya memohon-maaf atas perubahan pesawat ini. Aku duduk di kursi 4A yang mana seperti standar kursi ala LCC: rasanya sempit! Haha 😛 . Untungnya, semua sisi lain dari penerbangan ini sesuai standarnya KLM sih. Bahkan mereka menyediakan majalahnya KLM loh di kursinya, yang mana membuatku senang karena aku sungguh tidak terkesan dengan majalahnya Transavia di penerbanganku terakhir dengan mereka 1,5 tahun sebelumnya, haha. Layanan sandwich dan minum-nya KLM disajikan di penerbangan ini. Penerbangannya tiba di Bandara Kastrup di Kopenhagen tepat waktu.

Majalah KLM dan kartu keselamatan Transavia

Sidang dan wisuda PhD (S3) di Denmark

Agenda utamaku di Kopenhagen adalah sidang dan wisuda PhD (S3)-nya temanku. Ini adalah kali pertama aku menghadiria cara semacam ini di luar Belanda nih jadi aku juga penasaran untuk melihat perbedaannya.

Sidang dimulai dengan presentasi terbuka selama sekitar 45 menit di sebuah ruang perkuliahan. Aku rasa temanku presentasi dengan cukup tenang hari ini, yang mana bagus banget ya. Setelahnya, salah seorang profesornya mengumumkan bahwa akan ada jeda selama 5 menit sebelum sesi tanya-jawab dimulai. Sesi berikutnya ini bisa memakan waktu sampai 2 jam dan profesornya kurang lebih berkata “Jika kalian mau meninggalkan ruangan ini, sekarang lah kesempatan kalian!“, atau setidaknya begitu deh kesan yang aku tangkap, haha.

Sebenarnya aku ingin tetap duduk dan menonton mungkin beberapa pertanyaannya, karena di sini lah dimana biasanya diskusi yang menarik berlangsung kan. Tetapi masalahnya hanya satu pintu di ruangan itu yang lokasinya berada di depan. Nah, bagaimana dong jika misalnya aku butuh untuk ke toilet atau mengambil minuman dari luar? Sesinya bisa memakan waktu hingga dua jam loh! Jelas dong ya aku nggak mau menarik perhatian di tengah-tengah diskusi sengit sidang PhD karena aku harus buang air kecil, haha. Jadilah pada akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan ruangannya saja, dan ternyata semua penonton lainnya juga demikian sehingga temanku sendirian bersama profesor dan komite sidangnya untuk sesi tanya jawab.

Resepsi wisuda S3 di Denmark

Aku kemudian membantu seorang kolega temanku mempersiapkan resepsi setelahnya di sebuah ruangan kongkow-kongkow di universitasnya. Sesi tanya jawabnya ternyata memakan waktu sekitar satu jam. Temanku datang ke ruangannya diikuti oleh profesornya yang kemudian mempromosikannya menjadi seorang Doktor. Resepsi kemudian dimulai; yang mana ternyata berlangsung lumayan lama karena temanku mengadakan acara makan malam pula, juga di tempat yang sama. Aku berada di sana hingga sekitar jam 8:30 malam, dimana aku sudah mulai ngantuk! Iya sih, hari ini adalah hari yang panjang karena paginya aku harus bangun jam 3 subuh! Hahaha 😛 .

Jadi kesimpulannya, sidang dan wisuda PhD (S3) di Denmark memang berbeda sekali dari Belanda. Sidang dan wisudaku tahun lalu bisa dibaca di sini. Di Belanda, acaranya lebih tradisional dengan segala peraturan dan prosesinya sementara di Denmark, setidaknya yang nampak di permukaan, sepertinya lebih santai dan kasual (Bahkan nggak ada dress code loh). Komite sidang di Belanda juga rasanya lebih besar, setidaknya di TU Delft yah. Bagiku juga menarik dimana resepsi (dan makan malam) dipersiapkan sendiri, sementara di Belanda acara ini lebih “formal” yang dikerjakan oleh badan katering!

Kopenhagen

Warna-warna Kopenhagen

Karena agenda utamaku di Kopenhagen adalah menghadiri sidang dan wisuda temanku, aku tidak memiliki banyak waktu untuk berkeliling kota. Tetapi aku sudah pernah mengunjungi kota cantik ini dua kali sebelumnya sih sehingga aku tidak mempermasalahkan ini, haha.

Tetapi aku lega aku masih sempat menikmati brunch yang enak banget di Kopenhagen (Kopenhagen ini terkenal dengan tempat-tempat brunch-nya yang enak-enak di seluruh penjuru kota). Aku dan seorang teman memutuskan untuk mampir di Kalaset di dekat Stasiun Nørreport untuk brunch, yang ber-rating tinggi di Yelp. Jelas aku memilih menu yang non-vegetarian (haha), yang mana beneran enak banget!! 😀

Brunch yang enak banget di Kopenhagen

Jadi, kalau ke Kopenhagen memang wajib banget deh brunch! Dan juga smørrebrød-nya, yang mana sayangnya tidak sempat aku makan kali ini, hahaha.

Advertisements

#2067 – Rest, Finally!!

ENGLISH

This weekend, I have been … resting!! Haha 😆 .

In the entire last week somehow I felt tired. I mean, I had enough energy to work and do all my other daily activities (including some exercises almost everyday), but I just felt tired. Even during my tennis lesson, my eye-hand coordination was definitely worse than usual, where it took my body extra effort to perform how my mind would like myself to play, haha. And then I realized that, indeed, it has been awhile since the last time I had a full weekend to recover and recharge myself!

In fact, it has been four weeks! Three weeks ago, I went on two trips in the same week (to Copenhagen and to Bologna; their posts are going to be published soon 😉 ). Then two weekends ago I had to assemble my new IKEA stuffs. And then last week I went on a weekend trip to Nice (the post will follow the two posts above 😉 ). While the trips were certainly fun (and good for my mind), my body did not get the (physical) rest it really deserved.

So coming to this weekend, this was basically how I felt:

Haha 😆

Even though, of course it was not like I did nothing for the whole weekend and just slept for the entirety of it. I still managed to clean my kitchen on Saturday, where I really cleaned it especially the stubborn grease (with the help of vinegar; and this Saturday I realized I had never used the vinegar since I bought it months ago, lol 😆 . I guess vinegar is indeed very useful for matters way beyond cooking 😛 ). I also went to the gym on Sunday, as it was freezing outside this weekend (with real feel of –6°C 😅) so outdoor activity did not sound really fun! So overall it has been quite a productive weekend in my opinion, haha 🙂 .

And now, I am ready to embrace the coming week! 🙂

BAHASA INDONESIA

Akhir pekan ini, yang aku lakukan adalah … beristirahat!! Haha 😆 .

Jadi satu minggu penuh kemarin ini aku merasa capek. Maksudku, aku masih cukup berenergi untuk bekerja dan melakukan aktivitas sehari-hariku lainnya sih (termasuk berolahraga hampir setiap hari), tetapi aku merasa capek gitu. Bahkan di les tenisku minggu kemarin ini, koordinasi mata-tangan-ku jauh lebih buruk daripada biasanya deh, dimana tubuhku harus mengeluarkan effort lebih banyak untuk melaksanakan bagaimana otakku ingin aku bermain, haha. Dan kemudian aku baru sadar, bahwa ternyata memang sudah cukup lama juga semenjak terakhir kali aku memiliki satu akhir pekan penuh untuk beristirahat dan memulihkan diriku kembali!

Tepatnya, sudah empat minggu! Tiga minggu yang lalu, aku pergi dalam dua perjalanan di dalam satu minggu (ke Kopenhagen dan Bologna, posting-posting-nya akan segera aku publikasikan 😉 ). Lalu dua akhir pekan yang lalu aku harus memasang sendiri mebel-mebel baru IKEAku. Dan kemudian minggu lalu aku pergi dalam sebuah perjalanan akhir pekan ke Nice (posting-nya akan menyusul dua posting di atas 😉 ). Walaupun perjalanan-perjalanan itu seru dan asyik (dan baik sih untuk pikiran), tetapi kan badanku jadi tidak mendapatkan kesempatan untuk beristirahat ya.

Jadilah ketika memasuki akhir pekan ini, kurang lebih begini lah perasaanku:

Haha 😆

Walaupun tentu saja sih bukan berarti aku sama sekali nggak ngapa-ngapain di akhir pekan ini dan cuma tidur saja. Aku masih sempat membersihkan dapur di hari Sabtu, dimana aku benar-benar membersihkannya terutama dari bekas-bekas minyak membandel (dengan bantuan cuka; dan Sabtu kemarin ini aku baru sadar aku baru pertama kali ini menggunakan cuka yang aku beli beberapa bulan yang lalu, haha 😆 . Ternyata memang ya cuka itu berguna untuk hal-hal lebih dari sekedar urusan masak-memasak 😛 ). Aku juga pergi ke gym di hari Minggu, soalnya suhu di luar dingin banget nih akhir pekan ini (real feel-nya –6°C 😅) sehingga bikin malas untuk beraktivitas di luar kan ya, haha. Jadi secara keseluruhan rasanya aku bisa bilang bahwa akhir pekan ini cukup produktif menurutku, haha 🙂 .

Dan sekarang, aku merasa siap untuk menghadapi minggu yang baru! 🙂

#2066 – Some Random Stuffs

ENGLISH

Longer days

I am happy the day has since been getting longer and longer since the Winter Solstice in December, haha (I like longer days much more than shorter days). This means that, nowadays, it is still bright when I leave my office after work! Hahaha 😆 .

Speaking of the last Winter Solstice, the last one was a unique one for me. In theory, we in the Northern Hemisphere were supposed to have the least amount of daylight that day. However, I was flying from Amsterdam to San Francisco that day and so actually I had a lot of daylight! In fact, my Winter Solstice day was actually 33 hours long thanks to the time difference between the Netherlands and California. And I spent most of that day during the day because my flight left Schiphol in the morning! Hahaha 😀

I was flying over Greenland during the last Winter Solstice 😛 .

Shift in passengers distribution

Anyway, last year I shared my observation about the passengers distribution and load on the tram ride during my morning commute. At the time I noticed that going to work earlier than my usual time was not a good idea because the tram was usually really full thanks to the rush hour. However, since then it appears that there has been a shift in the distribution and load.

A few times recently I actually got up a little bit “too early” and I decided to go to work also a little bit earlier, of course expecting a busy tram each time. However, it turned out that the tram ride was fine. It was quite full, but not that full as most of the time I still got a seat. On the other hand, a few other times when I actually left for work at my usual time, the tram was actually really full and I had to stand all the way!

A full tram in Amsterdam.

I am actually wondering if there really is a shift or this is just merely a seasonality effect. You see, I haven’t lived in Amsterdam for a year now so I can’t tell from experience whether this “shift” that I observe is a real shift (for whatever reason) or because of the winter where people behave differently in their morning commute from the summer. So we will see, I guess 😛 .

BAHASA INDONESIA

Siang yang lebih panjang

Aku senang siang hari sekarang bertambah panjang setiap harinya semenjak Winter Solstice Desember kemarin, haha (Aku lebih suka siang yang lama daripada malam yang lama). Ini berarti, sekarang-sekarang ini, masih terang loh ketika aku pulang kerja! Hahaha 😆 .

Ngomongin Winter Solstice, yang terakhir kemarin cukup unik bagiku. Secara teori, kami di belahan Bumi utara seharusnya mendapatkan sinar matahari paling sedikit dalam satu tahun hari itu. Namun, aku terbang dari Amsterdam ke San Francisco hari itu sehingga aku malah mendapatkan banyak sinar matahari! Malahan, hari Winter Solstice-ku memiliki panjang 33 jam loh karena perbedaan waktu antara Belanda dan California. Dan siang di hariku itu lama dan panjang banget karena penerbanganku berangkat dari Schiphol di pagi hari! Hahaha 😀

Aku terbang di atas Greenland ketika Winter Solstice yang lalu :P.

Pergeseran distribusi penumpang

Anyway, tahun lalu aku membagikan observasiku akan distribusi penumpang dan tingkat kepenuhan tram yang kunaiki untuk berangkat kerja di pagi hari. Waktu itu, aku perhatikan bahwa berangkat kerja lebih pagi dari jadwalku biasanya bukan lah ide yang baik karena tramnya penuh gara-gara rush hour. Namun, semenjak waktu itu sepertinya ada pergeseran di distribusi dan tingkat kepenuhannya deh.

Beberapa kali baru-baru ini aku bangun “kepagian” sehingga aku juga memutuskan untuk berangkat kerja lebih awal, tentu saja aku juga bersiap-siap akan menaiki tram yang penuh. Namun, ternyata tramnya oke-oke saja kok. Memang sih penuh, tapi nggak sepenuh itu karena seringnya aku masih dapat tempat duduk. Di sisi lain, beberapa kali di kesempatan lain ketika aku berangkat di jadwalku yang biasanya, tramnya justru penuh banget sehingga aku harus berdiri di sepanjang jalan!

Tram yang penuh di Amsterdam.

Nah aku jadi penasaran apakah memang ada pergeseran distribusi penumpang atau ini hanya efek musiman saja. Maksudku, aku kan tinggal di Amsterdam belum ada satu tahun ya sekarang sehingga aku tidak bisa menggunakan observasi dan pengalamanku untuk menyimpulkan apakah “pergeseran” ini nyata atau semata-mata karena pola orang-orang untuk berangkat kerja di musim dingin berbeda dari musim panas. Jadi kita lihat saja deh, hahaha 😛 .

#2065 – 2017 Year End Trip (Part VIII: KLM KL 602 LAX-AMS in World Business Class)

ENGLISH

Posts in the 2017 Year End Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to California
3. Part II: A Tourist in San Francisco
4. Part III: Alcatraz and Yosemite
5. Part IV: The City of San Francisco
6. Part V: The City of Los Angeles
7. Part VI: Hollywood and Griffith
8. Part VII: More of LA
9. Part VIII: Back to Europe in Business Class


Flight: KLM Royal Dutch Airlines KL602
Equipment: Boeing 747-400 reg PH-BFL named “City of Lima”
ATD: 14:22 PST (Runway 25R of LAX)
ATA: 08:56 CET (Runway 18R of AMS)

Tom Bradley International Terminal

I arrived quite early at the Tom Bradley International Terminal (TBIT) at Los Angeles International Airport, but thankfully KLM’s check-in desks were already open. It was not long before I checked my luggage in and was handed my boarding pass.

Tom Bradley International Terminal

After clearing security, I went to the Korean Air Lounge because I thought I was flying a SkyTeam airline and the Korean Air Lounge was the only SkyTeam lounge at TBIT. However, the lounge attendant told me that because I was flying KLM’s business class today, I was actually welcomed at the OneWorld Business Class Lounge. I was probably given this information at check-in but somehow I had missed it, haha.

The OneWorld Lounge at TBIT

The OneWorld Lounge at TBIT

Initially I thought this was strange because OneWorld was one of SkyTeam’s rivals, but as it turned out at TBIT the OneWorld Business Class Lounge was generally regarded to be better than the Korean Air Lounge. The lounge was indeed nice, with good food and drink selection; and it was spacious!

The Flight

My flight today would be with this KLM’s Boeing 747-400 reg PH-BFL named “City of Lima”

Today’s flight would be operated by a KLM’s Boeing 747-400 reg PH-BFL named “City of Lima”. Long story short, upon boarding the plane via door L1 (a door exclusively for business class and economy comfort passengers), I was asked to turn left. A flight attendant welcomed me on board and took my coat off to stow it in the closet. Yep, a closet to story my coat! In economy, oh, well … . I then settled easily onto my very comfortable seat 1A at the nose of the Queen of the Skies.

Home for the next 10 hours flight on board KLM’s Boeing 747-400 reg PH-BFL

The flight attendant then served the pre-departure drink service, which I went for a glass of champagne. Then the amenity kit was distributed, which consisted of an eye mask, an ear plug, a pair of sock, a toothbrush and toothpaste, all in a cool Jan Taminiau poach. Oh, and btw, the seat was equipped with a KLM branded noise-cancelling headphone which was really good!

The mandatory World Business Class selfie on board a KLM’s Boeing 747

It felt like boarding went quickly today (or that time just generally went much faster when flying business class, haha 😆 ). Anyway, then the door was closed and the pushback started. As we were taxiing to runway 25R, the safety demo was played. Speaking of the demo, it made me realize that the AVOD IFE onboard this Boeing 747-400 was still of the older generation, though, even in business class.

During the safety demo. Behind those blue doors was the closet.

We took off from runway 25R and then turned around northeast towards Amsterdam, flying over the city of Los Angeles. I could see Santa Monica and Downtown Los Angeles clearly from my windows (yep, plural, as I had three of them all for myself, lol 😆 ). Not long after take-off, a warm towel service started, followed by a snack service which consisted of a bowl of nuts and some drinks, which I asked for another champagne, haha 🙈 .

The post-takeoff snack and champagne service.

The one thing one needs not to worry when flying business class is the space. The seat was very spacious! On my way to the airport, I actually worried about where I would put my camera and iPhone as I was wearing a sweater with no pocket. Oh boy what a silly thought this was, lol 😆 . Seat 1A on board this KLM’s Boeing 747-400 was also awesome because it was a window AND aisle seat at the same time. My favorite kind of seat! The seat was also great because it was a flat bed seat, i.e. it could be turned fully horizontal! 😀

Seat 1A in full flat bed mode

The flat bed seat selfie

About an hour into the flight, the (fine) three-course dinner service started with the flight attendant putting a white tablecloth onto my seat’s tray. The choices for appetizer were barbeque smoked salmon with balsamic glace or creamy mushroom soup. I mean, obviously I chose the former! Haha 😆 . I decided to accompany it with another glass of champagne (and water) 🙈. And indeed it was very delicious and the quantity was definitely on the generous side for an appetizer!

Barbeque smoked salmon with balsamic glace as the appetizer

There were three choices for the main course: agnolotti pasta, chicken tikka masala, or beef stew Provençale. I opted for the beef stew. As for the drink, I asked for KLM’s signature cocktail The Flying Dutchman (I probably should have ordered it during the snack service but I forgot 😛 ), which was great, btw!

Beef Stew Provençale as the main course

Then the dessert followed, which choices were a cheese plate, an apricot tartlet, or an apple pie. I chose the tartlet which was yummy! The flight attendant recommended me to pair the tartlet with the Lillypilly dessert wine; and I was really glad I followed his recommendation because it was really good!!

Apricot tartlet, fresh fruit, and a dessert wine as the dessert

A chocolate and tea/coffee service followed the dinner. It was such a generous dinner service that I actually felt really full after it. I don’t think I had ever felt that full after a meal service on a plane before that, haha. Anyway, I watched the Battle of the Sexes during dinner. It was such a great movie about an actual historical event in tennis, where Billie Jean King defeated Bobby Riggs in 1973.

As it turned out we had flown for about 4.5 hours by the time I finished the dinner and the movie. Damn, it was already almost half way! And so I decided to flatten my seat, put on the eye mask and blanket (which was way much nicer and much more comfortable than in economy), and tried to sleep.

It had been four and a half hours, time flew!

Trying to get some sleep in business class

I was able to “sleep” for almost three hours. Well, I did not go into  “deep sleep” state but it was still quite good, haha. It might have something to do with the dry air on board a Boeing 747-400. No matter how cool the plane was, it was still a 26 year old plane (PH-BFL first flew in 1991). I have noticed that newer generation planes tend to be more comfortable in terms of humidity on board. Thankfully KLM provided face moisturizer in the business class lavatories, which helped a lot!

The World Business Class lavatory

About two hours before arrival, the cabin light was turned on and a warm towel service commenced. It was followed with a breakfast service with choices of sweet potato strata, apple pie strata, or yoghurt with granola. I chose the apple pie strata and accompanied it with warm croissant and hot roll, hard-boiled egg, fruit, and cheese and ham. Oh, and coffee too, of course. It was good!

The breakfast service

Breakfast was immediately followed with the service I had been waiting for from this flight. A service which tipped me over to choose to fly directly to Amsterdam with KLM’s business class instead of via Paris with Air France’s business class (with their Boeing 777-300ER of course, not their Airbus A380-800 with those outdated business class seats!). Anyway, it was the legendary KLM Delft Blue house service!!

KLM’s legendary Delft Blue Houses service!!

A flight attendant came to the cabin with a tray full of the Delft Blue houses which contained Bols’ gin inside. Each World Business Class passenger could take one as a souvenir. As this was my first time ever, I chose the one with the house design I liked the most, which was house number 25, haha. Btw, this service is so exclusive that you can only get the house from flying KLM’s World Business Class! 😀

A KLM’s Delft Blue House

Not long after, we were already on approach to Schiphol Airport. Long story short, we landed at the Polderbaan. I was not complaining this time because this meant slightly longer time for me to enjoy my seat 1A on this flight! Haha 😆 .

Thanks for the amazing ride, PH-BFL!

PH-BFL parked at Gate F2 and here my amazing World Business Class flight with KLM ended. I disembarked from the plane, cleared immigration, took my luggage (I had to wait a little bit but not too long), and took the train back to Amsterdam.

And here, my two-week year end trip to California also officially ended.

THE END.

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri 2017 Year End Trip:
1. Introduction
2. Part I: Getting to California
3. Part II: A Tourist in San Francisco
4. Part III: Alcatraz and Yosemite
5. Part IV: The City of San Francisco
6. Part V: The City of Los Angeles
7. Part VI: Hollywood and Griffith
8. Part VII: More of LA
9. Part VIII: Back to Europe in Business Class


Penerbangan: KLM Royal Dutch Airlines KL602
Pesawat: Boeing 747-400 reg PH-BFL bernama “City of Lima”
ATD: 14:22 PST (Runway 25R of LAX)
ATA: 08:56 CET (Runway 18R of AMS)

Tom Bradley International Terminal

Aku tiba agak kepagian di Tom Bradley International Terminal (TBIT) di Bandara Internasional Los Angeles, tetapi untungnya kios check-in-nya KLM sudah dibuka. Tidak membutuhkan waktu lama bagiku untuk memasukkan bagasi dan mendapatkan boarding pass.

Tom Bradley International Terminal

Setelah melewati pemeriksaan sekuriti, aku berjalan ke Korean Air Lounge karena aku akan terbang dengan maskapai SkyTeam hari ini dan Korean Air Lounge adalah satu-satunya lounge SkyTeam di TBIT. Namun, resepsionisnya berkata bahwa karena aku terbang di kelas bisnis dengan KLM hari ini, aku diundang untuk menunggu di One World Business Class Lounge. Kalau nggak salah sebenarnya aku diberi-tahu ini juga ketika check-in sih tetapi aku lupa, haha.

OneWorld Lounge di TBIT

OneWorld Lounge di TBIT

Awalnya aku merasa ini cukup aneh karena OneWorld kan salah satu rivalnya SkyTeam, tetapi ternyata di TBIT OneWorld Business Class Lounge umumnya dipandang sebagai lounge yang lebih baik daripada Korean Air Lounge. Lounge-nya memang nyaman sih, dengan pilihan makanan dan minuman yang cukup lengkap; dan juga luas!

Penerbangannya

Penerbanganku hari ini adalah dengan Boeing 747-400nya KLM rego PH-BFL bernama “City of Lima” ini.

Penerbangan hari ini dioperasikan dengan pesawat Boeing 747-400nya KLM dengan rego PH-BFL bernama “City of Lima”. Singkat cerita, ketika aku naik ke pesawat melalui pintu L1 (pintu khusus untuk penumpang kelas bisnis dan economy comfort) dan aku diarahkan untuk berbelok ke arah kiri. Seorang pramugara menyambutku dan membantuku melepas mantel untuk kemudian disimpan di dalam kloset. Iya dong ada kloset buat menyimpan mantel! Di ekonomi mah boro-boro ya, haha 😆 . Aku kemudian duduk nyaman di kursi 1Aku di hidung Queen of the Skies ini.

Rumahku selama 10 jam ke depan di dalam Boeing 747-400nya KLM dengan rego PH-BFL

Pramugaranya kemudian membagikan layanan minuman sebelum keberangkatan, yang mana jelas aku memilih champagne, haha. Amenity kit juga kemudian dibagikan, yang berisi penutup mata, sumbat telinga, kaus kaki, sikat dan pasta gigi, semuanya disimpan di dalam poach Jan Taminiau yang keren. Oh, dan btw, di kursinya juga sudah tersedia noise-cancelling headphone bermerk KLM yang mana enak banget lho!

Selfie wajib World Business Class di dalam Boeing 747nya KLM.

Rasanya hari ini boarding berlangsung cepat loh (atau memang waktu yang berlalunya lebih cepat sih ketika terbang di kelas bisnis, haha 😆 ). Anyway, pintu kemudian ditutup dan pushback dimulai. Ketika taxiing ke landasan pacu 25R, video peragaan keselamatan dimainkan. Ngomongin peragaannya, ini membuatku sadar bahwa AVOD di pesawat Boeing 747-400 ini adalah tipe yang agak lama, bahkan di kelas bisnis.

Ketika video peragaan keselamatan dimainkan. Di balik pintu berwarna birunya itu adalah kloset untuk mantel.

Kami lepas landas dari landasan pacu 25R dan kemudian berbelok menuju timur laut ke arah Amsterdam, dengan melintasi langit di atas kota Los Angeles. Aku bisa melihat Santa Monica dan Downtown Los Angeles dengan jelas melalui jendela-jendelaku (iya, jamak soalnya aku mendapatkan tiga jendela untukku sendiri, haha 😆 ). Tak lama setelah lepas landas, layanan handuk hangat dibagikan, yang kemudian diikuti dengan layanan snack yang terdiri atas semangkuk kacang dan minuman, yang mana aku memilih champagne lagi, haha 🙈 .

Layanan snack dan champagne setelah lepas landas.

Satu hal yang tidak perlu dikhawatirkan ketika terbang dengan kelas bisnis adalah keleluasaan ruangan. Kursinya luas banget lho! Dalam perjalanan ke bandara, aku sempat sedikit khawatir bagaimana enaknya menyimpan kamera dan iPhone-ku di pesawat karena sweater-ku tidak memiliki kantong. Duh, kekhawatiran yang konyol banget ya, haha 😆 . Kursi 1A di Boeing 747-400nya KLM juga keren banget soalnya kursi ini adalah kursi jendela DAN lorong pada saat yang bersamaan. Jenis kursi favoritku ini! Kursi ini juga keren karena adalah kursi flat bed, sehingga bisa dibuat horizontal! 😀

Kursi 1A di mode flat bed

Selfie dulu di kursi flat bed-ku

Sekitar satu jam setelah berangkat, layanan makan malam three course disajikan yang dimulai dengan pramugara menjabarkan taplak meja putih di meja di kursiku. Pilihan untuk makanan pembuka hari ini adalah salmon asap barbeque dengan saus balsam atau sup jamur creamy. Aku jelas memilih yang pertama! Haha 😆 . Aku memutuskan untuk menemaninya dengan segelas champagne lagi (dan air) 🙈. Dan rasanya memang enak banget lho, dan kuantitasnya juga banyak untuk ukuran makanan pembuka!

Salmon asap barbeque dengan saus balsam sebagai makanan pembuka

Ada tiga pilihan untuk menu utama: pasta agnolotti, ayam tikka masala, atau beef stew Provençale. Aku memilih beef stew. Untuk minumannya, aku memilih cocktail spesialnya KLM, The Flying Dutchman (Seharusnya aku memesan cocktail ini untuk layanan snack tadi tetapi aku lupa, haha 😛 ), yang mana rasanya enak, btw!

Beef Stew Provençale sebagai menu utama.

Kemudian makan malam ditutup dengan pencuci mulut, yang mana pilihannya adalah sepiring keju, tartlet aprikot, atau pie apel. Aku memilih tartlet-nya yang mana rasanya juga enak banget! Pramugaranya menyarankanku untuk memasangkan tartlet-nya dengan anggur pencuci mulut Lillypilly; dan aku lega aku mengikuti sarannya karena memang enak dan cocok banget!!

Tartlet aprikot, buat segar, dan minuman anggur pencuci mulut untuk menutup makan malam hari ini.

Layanan coklat dan teh/kopi disajikan setelah makan malam selesai. Makan malam ini adalah makan malam yang oke banget dan aku merasa kenyang loh setelahnya. Rasanya belum pernah deh aku sekenyang itu setelah layanan makanan di suatu penerbangan, haha. Ngomong-ngomong, aku makan malam sambil menonton Battle of the Sexes. Menurutku film ini bagus, yang menceritakan suatu event historis di dunia tenis dimana Billie Jean King mengalahkan Bobby Riggs di tahun 1973.

Ternyata aku sudah terbang selama 4,5 jam ketika makan malam dan filmku selesai. Ah, kok tiba-tiba sudah hampir setengah jalan begini ya! Haha. Jadilah kemudian kursiku aku rebahkan horizontal, memasang penutup mata dan selimut (yang mana lebih bagus dan bahannya jauh lebih nyaman daripada selimut di kelas ekonomi), dan mencoba untuk tidur.

Sudah empat setengah jam, waktu cepat sekali berlalu!

Mencoba untuk tidur dengan nyaman di kelas bisnis.

Aku berhasil “tidur” selama hampir tiga jam. Tidurku tidak sampai fase tidur nyenyak sih tetapi masih lumayan lah, haha. Mungkin ini ada hubungannya dengan udara di dalam pesawat Boeing 747-400 yang kering banget. Nggak peduli seberapa keren pesawatnya, bagaimana pun pesawat ini kan sudah berumur 26 tahun ya (PH-BFL pertama kali terbang di tahun 1991). Aku perhatikan pesawat tipe lebih baru cenderung lebih nyaman dalam segi kelembaban udara di dalam kabin. Untungnya sih KLM menyediakan moisturizer untuk wajah di toilet kelas bisnis, yang mana sangat membantu!

Toilet di kelas bisnis

Sekitar dua jam sebelum mendarat, lampu kabin dinyalakan kembali dan layanan handuk hangat kembali dibagikan. Sarapan kemudian dimulai dengan pilihan strata ubi manis, strata pie apel, atau yoghurt dengan granola. Aku memilih strata pie apel dan menemaninya dengan croissant dan roti roll hangat, telur rebus, buah-buahan, dan keju dan ham. Oh, dan tentu tidak lupa secangkir kopi ya. Enak!

Layanan sarapan.

Sarapan diikuti langsung oleh layanan yang sudah aku tunggu-tunggu sekali di penerbangan ini. Layanan yang membuatku memilih untuk terbang langsung ke Amsterdam dengan kelas bisnisnya KLM, bukannya via Paris dengan kelas bisnisnya Air France (dengan Boeing 777-300ERnya tentunya ya bukan dengan Airbus A380-800nya yang kelas bisnisnya ketinggalan zaman itu). Anyway, layanan ini adalah layanan legendaris rumah-rumahan keramik Delft Blue-nya KLM yang berisi minuman gin-nya Bols!!

Layanan legendaris rumah-rumahan Delft Blue-nya KLM!!

Seorang pramugari datang ke kabin membawa senampan penuh rumah-rumahan keramik Delft Blue yang cantik-cantik, dimana setiap penumpang Kelas Bisnis Dunia diperbolehkan mengambil satu. Karena ini adalah kali pertamaku, aku memilih rumah yang disainnya aku paling suka, yaitu rumah dengan nomor 25, haha. Btw, layanan ini eksklusif banget lho dimana kita hanya bisa mendapatkan rumah-rumahan ini dengan terbang di Kelas Bisnis Dunianya KLM! 😀

Sebuah rumah-rumahan Delft Blue-nya KLM.

Tak lama kemudian, pesawat mulai turun menuju Bandara Schiphol. Singkat cerita, kami mendarat di Polderbaan. Aku nggak komplain deh kali ini karena artinya aku jadi bisa duduk di kursi 1Aku sedikit lebih lama! Haha 😆 .

Terima kasih atas penerbangannya, PH-BFL!

PH-BFL parkir di Gate F2 dan di sini lah penerbangan Kelas Bisnis Duniaku yang asyik dengan KLM berakhir. Aku turun dari pesawat, melewati imigrasi, mengambil bagasiku (yang mana aku harus sedikit menunggu tapi nggak lama-lama banget), dan naik kereta untuk kembali ke Amsterdam.

Dan di sini, perjalanan dua mingguku ke California juga resmi berakhir.

SELESAI.

#2064 – Another Weekend Story

ENGLISH

As my Instagram (@azilko) followers have known by now, I went on … another weekend trip this past weekend!! Hahaha 🙈. According to my KLM profile, here was the routing this weekend.

AMS to AMS via CDG, NCE, NTE.

Yep, big lol 😆 . Even though actually I had a 21 hours of “transit” in Nice under this routing. So indeed it was actually a short weekend trip to Nice (I have no idea why KLM arranged the trip profile like that because I actually bought a return ticket to Nice, haha). Anyway, on a map this routing looks like this:

The routing this weekend. Created with gcmap.com

The flights were operated by Air France and HOP! Brit Air, on an Air France’s Airbus A321-200 F-GTAY, an Airbus A320-200 F-HBNF, an Airbus A319-100 F-GPMA, and a HOP! Brit Air’s Bombardier CRJ1000 F-HMLJ.

I have been to Nice once before, way back in October 2012. I remembered having nice experience in Nice that time and so I decided to come back for a weekend trip in February, while also hoping to be lucky enough to get good Cote D’Azur weather!! 😛 You know I was lucky on my second weekend trip to Marseille in a month last year, haha 😆 .

The beautiful Nice Cote D’Azur.

And, as expected, Nice was indeed nice 😛 . It was too bad that my time in Nice was not that much this time actually. The weather itself turned out to be rather “mixed”, where it was quite horrible on Saturday (it rained) but was amazing on Sunday. Anyway, here are a few photos as teasers from this short trip:

BAHASA INDONESIA

Seperti yang followers Instagram (@azilko)-ku ketahui, aku pergi dalam … sebuah perjalanan akhir pekan lagi akhir pekan kemarin ini!! Hahaha 🙈. Menurut profil KLMku, berikut ini ruteku kemarin:

AMS ke AMS via CDG, NCE, NTE.

Huahaha 😆 . Walaupun sebenarnya waktu “transit”-ku di Nice adalah sekitar 21 jam sih. Jadi sebenarnya perjalanan ini memang lah perjalanan akhir pekan singkat ke Nice (Aku nggak tahu juga sih kenapa KLM menampilkan perjalanan ini seperti itu di profilku padahal ketika aku membeli tiketnya, aku membeli tiket pp ke Nice kok, haha). Anyway, di peta rutenya nampak seperti ini:

Rute akhir pekan ini. Dibuat dengan gcmap.com

Penerbangan-penerbangannya dioperasikan oleh Air France dan HOP! Brit Air, dengan pesawatnya Air France yang Airbus A321-200 rego F-GTAY, Airbus A320-200 rego F-HBNF, Airbus A319-100 rego F-GPMA, dan pesawatnya HOP! Brit Air yang Bombardier CRJ1000 rego F-HMLJ.

Aku sudah pernah ke Nice sekali sebelumnya, dulu banget tapinya di bulan Oktober 2012. Aku ingat pengalamanku waktu itu asyik banget di kota ini makanya aku memutuskan untuk kembali dalam sebuah perjalanan akhir pekan di bulan Februari, sekalian berharap mudah-mudahan cuacanya adalah cuaca a la Cote D’Azur yang asyik!! 😛 Ya habisnya tahun lalu kan aku beruntung di perjalanan akhir pekan kedua ke Marseille dalam sebulan, haha 😆 .

Nice Cote D’Azur yang kece banget.

Dan, seperti yang kuduga, Nice was indeed nice 😛 . Sayang sih sebenarnya waktuku di Nice tidak terlalu lama. Cuacanya sendiri ternyata gado-gado banget, dimana nyebelin di hari Sabtu (hujan soalnya, haha) tetapi perfect banget di hari Minggu. Ya gitu deh, di atas adalah beberapa foto sebagai teasers dari perjalanan ini.

#2063 – More IKEA Stuffs

ENGLISH

Last year I mentioned my strategy with the furniture for my apartment, where I chose to take it slowly and so I could afford good products without having to blow my budget at once. One side advantage of this strategy was that I had the capacity (in terms of space) to buy things that became needed along the way (As, obviously my need for furniture was not static over time); which also meant that my apartment was not full of stuffs I did not need, haha 😆 .

My new wall cabinet

Anyway, in the last a few months or so, I realized that one thing has become needed: a bathroom wall cabinet to store my bathroom-related stuffs stock (shampoo, soap, toothpaste, toothbrush, etc). Thus far I stored those in a cabinet in the other room and I realized this was quite inconvenient, haha. And so I decided to browse IKEA’s product, and decided to order one which design I liked. While doing so, I also decided to buy a new hat/coat rack for the hallway because I felt like it was kind of needed for its practicality and to make my hallway looked “busier”, haha. What I liked was that the rack was hanging on the wall, so it did not make the hallway feel uncomfortably “narrower” for people to pass.

And while browsing through IKEA’s online catalogue, I also spotted a cool series of prints of water colour paintings depicting Paris’ Eiffel Tower and New York’s Brooklyn Bridge with cheerful colour. And so I decided to buy the series too!! In terms of colours, it pretty much went along with the print I bought the other day too, I thought. You know, as I said back then I have been looking for things to accessorize my apartment, haha. And this attempt is still not complete yet, btw. And as with my furniture strategy, I choose to take things slowly; though I already have things in mind on what I would like next in terms of these accessories 😀 .

Adding pieces of New York and Paris with cheerful mood to my place

Anyway, last week all these stuffs were delivered. And so my Saturday was quite busy assembling the new bathroom cabinet and the hallway hat/coat rack; plus putting the prints on the wall. You know, IKEA’s stuffs were affordable partly because the customers had to assemble the furniture themselves. While it was not that many stuffs that I bought, it was actually still quite tiring, to be honest! Haha 😆 .

So, yeah, my apartment has just got a little bit “busier”, and I like it! 🙂

Assembling IKEA’s cabinet

BAHASA INDONESIA

Tahun lalu, kuceritakan strategiku mengenai mebel untuk apartemenku, dimana aku memutuskan untuk tidak terburu-buru dalam memenuhi apartemenku sehingga aku mampu untuk membeli produk-produk yang baik tanpa harus membuat budget-ku membengkak parah. Satu keuntungan sampingan dari strategi ini adalah aku jadi memiliki kapasitas (dalam hal ruangan) untuk membeli barang-barang yang kemudian menjadi dibutuhkan sewaktu-waktu (Karena jelas kan kebutuhan kita akan mebel itu tidak statik terhadap waktu); yang mana artinya juga apartemenku tidak jadi penuh oleh barang-barang yang tidak aku butuhkan, haha 😆 .

Lemari dinding baruku

Anyway, beberapa bulan belakangan ini aku baru menyadari bahwa satu mebel menjadi kubutuhkan: lemari yang digantung di dinding untuk kamar mandi untuk menyimpang barang-barang yang berkaitan dengan kamar mandiku (maksudnya kayak stok shampoo, sabun, sikat gigi, pasta gigi, dll gitu). Sebelum ini, stoknya aku simpan di rak di ruangan lain yang mana baru aku sadar ternyata nggak praktis ya (Menurut ngana? Haha 😆 ). Dan jadilah aku mulai melihat-lihat katalognya IKEA, dan memutuskan untuk memesan satu yang disainnya aku suka. Sembari melihat-lihat itu, aku juga memutuskan untuk sekalian memesan rak mantel/topi untuk koridor apartemenku karena memang aku butuhkan juga sih untuk kepraktisan dan juga sekalian berfungsi membuat koridornya lebih “ramai”, haha. Yang aku suka, raknya yang model digantung begitu jadi nggak membuat koridornya terasa lebih sempit untuk jalan.

Nah ketika melihat-lihat katalognya itu, kebetulan aku juga melihat seri prints dari lukisan cat airnya Menara Eiffelnya Paris dan Jembatan Brooklyn-nya New York dengan warna yang ceria. Dan jadilah serinya sekalian aku beli!! Dari segi warna, prints ini serasi dengan print yang kapan hari aku beli, menurutku. Masih ingat kan, waktu itu aku ceritakan bahwa aku sedang mencari hal-hal untuk mendekorasi apartemenku gitu, haha. Dan upaya ini masih belum selesai loh. Dan seperti dengan strategiku untuk mebel, aku juga memutuskan untuk santai-santai saja dalam hal ini; walaupun aku sudah ada bayangan sih mengenai apa yang aku inginkan selanjutnya dalam hal dekorasi 😀 .

Menambahkan potongan-potongan New York dan Paris dengan mood ceria ke apartemenku

Anyway, minggu lalu semua pesananku ini diantar. Jadilah hari Sabtu kemarin aku sibuk memasang lemari kamar mandi dan rak mantel/topi koridorku itu; ditambah juga menggantung prints-nya di dinding. Ya tahu kan, barang-barangnya IKEA itu harganya cukup terjangkau setengahnya karena customer harus memasang sendiri mebelnya. Walaupun nggak banyak yang aku beli, tetapi ternyata masih cukup melelahkan juga loh sejujurnya! Haha 😆 .

Jadi, ya, apartemenku sudah menjadi agak “ramean” sedikit nih, dan aku suka! 🙂

Memasang lemari IKEAku

#2062 – 2017 Year End Trip (Part VII: More of LA)

ENGLISH

Posts in the 2017 Year End Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to California
3. Part II: A Tourist in San Francisco
4. Part III: Alcatraz and Yosemite
5. Part IV: The City of San Francisco
6. Part V: The City of Los Angeles
7. Part VI: Hollywood and Griffith
8. Part VII: More of LA
9. Part VIII: Back to Europe in Business Class

Downtown LA

While in LA, obviously I went to Downtown Los Angeles, arguably the “most modern” district of the big city. I went there twice, actually, both at around noon. My first visit was actually on the New Year’s Eve Day where the area around Grand Park was closed from traffic as it was being prepared for some New Year’s Eve events, which was somehow quite nice as it felt like a Car Free Day (Well, in a sense it actually was), haha. Now that I think about it, probably I should have stayed in Downtown LA instead of Hollywood, especially for the New Year’s Eve (See Part V). But well…

Grand Park

Anyway, I went to the Grand Park in Downtown LA, a nice big park stretching from the Los Angeles Music Hall to the Los Angeles City Hall. There were fountains and benches in the park, which also offered free wifi (haha); and so this was indeed a nice place to be under the Los Angeles’ amazing winter weather (See Part V). Nearby the park was the Walt Disney Concert Hall, which designed reminded me a lot of the Guggenheim Museum in Bilbao. However, the building was closed when I was there…

The Walt Disney Concert Hall in LA

Not too far away from the Grand Park was Los Angeles’ Union Station, which (I assumed) was Los Angeles’ main railroad station. This station was located next to the Metro building, which outer layout was used in Star Trek: Voyager‘s episode: Future’s End (I probably really need to write a special post about this later 😛 ). Anyway, while the station building was beautiful (and looked more like a church than a train station to me 😛 ), it was surprisingly small for a main train station! I saw some of the trains there and most of them were operated by Metrolink with diesel locomotives.

Los Angeles’ Union Station with the Metro Building in the background.

Koreatown and Little Tokyo

While in Los Angeles, I decided to go to both the Koreatown and Little Tokyo, establishments which I thought were not as “common” anywhere in the world, at least when being compared to the Chinatown, haha.

I went to the Koreatown one afternoon after my brunch with the purpose of trying out Somi Somi which Arman recommended, haha. It turned out that I was too early as I arrived there at 11:45 while Somi Somi would just open at noon. Btw, I was surprised to see a Paris Baguette there! You know, Paris Baguette was a big bakery chain in South Korea; and so seeing one in LA reminded a lot of my trip to South Korea four years prior! I decided to go in and buy two beautiful pastries for the sake of nostalgia and also to kill some time before Somi Somi’s opening time, haha 😆 .

A Paris Baguette in Los Angeles

Anyway, at noon I went upstairs to Somi-Somi; and I became their first customer today, haha. I ordered a taiyaki with Nutella filling and matcha soft cream with Oreo sprinkles. And indeed it was good!! The serving size was quite big though that it took me awhile to finish it, haha.

The delicious Somi Somi taiyaki

The Koreatown itself was not that much interesting for a tourist, in my opinion, as it felt like it was a business district, haha. I walked along the Wilshire Boulevard from Wilshire/Western to Wilshire/Vermont, which was quite a long but nice walk (thanks to the weather) and great to immediately burn off the calories from the taiyaki, haha.

Little Tokyo in Los Angeles

I also went to Little Tokyo which was nearby the Union Station. There was a Japanese Village Plaza which I found cool as the buildings there were in Japanese architecture. Btw, I actually regretted that I went there when I was still full. There were several Japanese restaurants (including the ramen chain Hakata Ikkousha) which looked great!

Santa Monica

Santa Monica

While in Los Angeles, obviously I went to the famous Santa Monica beach; especially that it was relatively easy to reach with public transport with the new Metro Expo Line, haha.

Santa Monica selfie

The most famous attraction in Santa Monica was the Santa Monica Pier, which was a really big boardwalk with many stalls on it, and actually real attractions (like a roller coaster, merry-go-around, etc). I went there on a Saturday so it probably wasn’t surprising that it was very crowded. There were several restaurants on the boardwalk. I actually wanted to try one out (the Bubba Gump), but it looked too busy today, haha.

Hot Dog on a Stick in Santa Monica

And so I went to the sidewalk, which was also very interesting. The original Hot Dog an a Stick stall was located there. I decided to try out one serving, which was delicious! Nearby the stall was the original Muscle Beach. The beach lived up to its name, though, as the reason for the name was because it was basically a public gym with many bodybuilding equipments! And not just the equipments, people actually used them even today when the outdoor temperature was quite cold! Haha…

The original Muscle Beach in Santa Monica

From the Muscle Beach, I felt quite hungry as it was late afternoon already. So I went back to the Ocean Avenue and had lunch at a taco restaurant. I decided to order a lobster taco with sangria because why not, haha 😆 . And indeed it was delicious!

Three lobster tacos and sangria

Santa Monica was more than just the beach and the pier, btw. The 3rd Street Promenade in Downtown Santa Monica was also very interesting. It was a promenade exclusively for pedestrians with many shops, cafes, and street performers. I actually stumbled upon it by accident as I was walking back from the beach to the metro station. I decided to enter the Santa Monica Place which was one end of the promenade because I had the time anyway. And I am really glad that I did.

And so in conclusion, somehow I felt like Santa Monica was similar to Scheveningen in Den Haag! 😀

TO BE CONTINUED…

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri 2017 Year End Trip:
1. Introduction
2. Part I: Getting to California
3. Part II: A Tourist in San Francisco
4. Part III: Alcatraz and Yosemite
5. Part IV: The City of San Francisco
6. Part V: The City of Los Angeles
7. Part VI: Hollywood and Griffith
8. Part VII: More of LA
9. Part VIII: Back to Europe in Business Class

Downtown LA

Selagi di LA, jelas aku pergi ke Downtown Los Angeles yang mana mungkin adalah distrik “paling modern” dari kota besar ini. Aku pergi kesana dua kali, btw, dan keduanya adalah di siang hari. Kunjungan pertamaku adalah di hari malam Tahun Baru dimana area di sekitar Grand Park ditutup dari lalu lintas karena sedang dipersiapkan untuk beberapa acara Malam Tahun Baru. Ya rasanya seperti kayak Car Free Day gitu deh (Hmm, nggak cuma “kayak” sih tapi “memang” ya, haha). Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, mungkin seharusnya aku menginap di Downtown LA ya bukannya Hollywood, terutama berkaitan dengan Malam Tahun Baru (baca bagian V). Ah, ya sudah lah…

Grand Park

Anyway, aku pergi ke Grand Park di Downtown LA, sebuah taman besar yang memanjang dari Los Angeles Music Hall ke Balai Kota Los Angeles. Ada beberapa air mancur dan bangku-bangku di tamannya, yang juga menyediakan wifi gratis loh (haha); jadi memang taman ini adalah tempat yang asyik apalagi dengan cuaca musim dingin Los Angeles yang seperti itu (baca bagian V). Di dekat tamannya berdiri Walt Disney Concert Hall, yang mana disainnya amat mengingatkanku dengan Museum Guggenheim di Bilbao. Tapi, gedungnya sedang ditutup ketika aku di sana…

Walt Disney Concert Hall di LA

Tidak terlalu jauh dari Grand Park, berdiri Stasiun Union-nya Los Angeles, yang mana (aku asumsikan) adalah stasiun kereta api utamanya Los Angeles. Stasiunnya berlokasi di samping gedung Metro, yang mana eksteriornya digunakan di episode Future’s End-nya Star Trek: Voyager (Sepertinya aku perlu deh nanti menulis posting khusus untuk ini 😛 ). Anyway, gedung stasiunnya sendiri indah kok (dan lebih nampak seperti gereja sih daripada stasiun kereta untukku, haha 😛 ), tetapi ternyata berukuran cenderung kecil untuk ukuran stasiun kereta utama! Aku juga melihat beberapa kereta di sana yang kebanyakan dioperasikan oleh Metrolink dengan lokomotif-lokomotif diesel.

Stasiun Union di Los Angeles dengan gedung Metro di latar belakangnya.

Koreatown dan Little Tokyo

Selagi di Los Angeles, aku juga mengunjungi Koreatown dan Little Tokyo, sebuah area yang aku rasa nggak banyak ada dimana-mana kan ya, setidaknya jika dibandingkan dengan Chinatown, haha.

Aku pergi ke Koreatown di siang hari setelah brunch dengan tujuan mencoba Somi Somi yang direkomendasikan Arman, haha. Ternyata waktu itu aku terlalu awal karena aku tiba jam 11:45 sementara Somi Somi-nya baru buka jam 12. Di sana aku dikejutkan dengan keberadaan Paris Baguette! Tahu kan, Paris Baguette adalah jaringan toko roti yang besar banget di Korea Selatan; jadi melihat cabangnya di LA mengingatkanku perjalananku ke Korea Selatan empat tahun sebelumnya! Aku memutuskan untuk membeli dua potong roti di sana untuk menunggu jam bukanya Somi Somi sekalian bernostalgia, haha 😆 .

Paris Baguette di Los Angeles

Anyway, kemudian jam 12 aku naik ke atas menuju Somi Somi; dan aku adalah pelanggan pertama mereka hari itu, haha. Aku mencoba taiyaki dengan isi Nutella dan soft cream rasa matcha dengan taburan Oreo. Dan rasanya memang enak lho!! Ukurannya agak besar juga sih sehingga aku membutuhkan waktu lama untuk menghabiskannya, haha.

Taiyaki Somi Somi yang enak banget

Koreatown-nya sendiri nggak terlalu menarik sih bagi turis, menurutku ya, karena sepertinya adalah area perkantoran, haha. Aku berjalan-kaki di sepanjang Wilshire Boulevard dari Wilshire/Western ke Wilshire/Vermont, yang mana cukup jauh tetapi enak kok jalannya (berkat cuacanya yang memang nyaman) dan adalah kegiatan yang bagus dan menyehatkan kan untuk langsung membakar kalori dari taiyaki-nya, haha.

Little Tokyo di Los Angeles

Aku juga pergi ke Little Tokyo yang lokasinya tidak jauh dari Stasiun Union. Di sana ada Japanese Village Plaza yang mana cukup keren karena bangunan-bangunannya berarsitektur Jepang. Btw, aku sedikit menyesal nih aku kesana ketika sedang tidak lapar. Ternyata di sana ada beberapa rumah makan Jepang yang nampak menarik lho (termasuk jaringan mie ramen Hakata Ikkousha)!

Santa Monica

Santa Monica

Selagi di Los Angeles, jelas dong aku juga pergi ke Santa Monica yang terkenal itu; terutama juga karena cukup mudah untuk pergi kesana dengan memanfaatkan kereta Metro jalur Expo, haha.

Santa Monica selfie

Atraksi paling terkenal di Santai Monica adalah Santa Monica Pier-nya, yang mana adalah dermaga kayu besar dengan banyak kedai-kedai di atasnya, dan juga atraksi-atraksi beneran (seperti roller coaster, ferris wheel, carousel, dll). Waktu itu adalah hari Sabtu sehingga mungkin tidak mengherankan tempatnya ramai banget. Ada beberapa restoran juga di dermaganya. Sebenarnya aku ingin mencoba salah satunya sih (Bubba Gump), tetapi restorannya ramai banget hari ini, haha.

Hot Dog on a Stick di Santa Monica

Dan jadilah aku pergi ke area sidewalk-nya, yang mana juga menarik. Kedai Hot Dog an a Stick yang asli (yang pertama) juga berada di sana. Aku iseng membeli satu porsi hot dog-nya, yang mana ternyata memang enak! Di dekat kedainya terdapat Pantai Otot (Muscle Beach). Ternyata memang pantainya ini sesuai banget dengan namanya lho, karena alasan nama pantainya begini adalah karena pada dasarnya pantainya berupa gym umum/terbuka gitu dengan banyak alat-alat untuk fitness! Dan nggak cuma alat-alatnya doang, banyak banget pengunjung yang menggunakannya padahal hari itu cuaca di luar sedang lumayan dingin! Haha…

Muscle Beach yang asli di Santa Monica

Dari Muscle Beach, aku merasa lumayan lapar karena hari sudah mulai memasuki sore. Jadilah aku berjalan kembali ke Ocean Avenue dan makan siang di sebuah restoran taco. Aku memesan taco lobster dengan sangria, haha 😆 . Dan rasanya juga enak!

Tiga buah taco lobster dan sangria

Santa Monica ternyata bukan hanya sekedar pantai dan dermaganya saja. Di Downtown Santa Monica juga terdapat 3rd Street Promenade yang mana sangat menarik. Tempat ini adalah jalan khusus untuk pejalan-kaki dengan banyak toko-toko, kafe, dan juga street performers. Sebenarnya hanya kebetulan banget saja aku bisa mampir di sana. Waktu itu aku sedang berjalan kembali ke stasiun metro dari arah pantai. Aku memutuskan untuk mampir di Santa Monica Place, sebuah mall kecil gitu, yang ternyata merupakan satu ujung dari promenade-nya. Dan aku lega aku memutuskan untuk mampir karena aku jadi melihat promenade yang seru ini.

Jadi kesimpulannya, kalau dipikir-pikir lagi Santa Monica ini lumayan mirip seperti Scheveningen di Den Haag! 😀

BERSAMBUNG…