#2036 – November 2017 Indonesia Trip (Part V: Solo)

ENGLISH

Posts in the November 2017 Indonesia Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Indonesia
3. Part II: Jakarta
4. Part III: Yogyakarta
5. Part IV: The Wedding
6. Part V: Solo
7. Part VI: Back to Europe

It happened that my good friend (whom I met during my one day stay in Jakarta, read Part II) was sent to Solo for work during the second week of my trip. As he would have some free time after work, he invited me and some friends to go to Solo for a short trip. Of course I accepted! πŸ˜€

So I was back to Solo this year!!

Unlike all my previous trips to Solo (which last took place in 2010) where I always drove or rode a car there, this trip would be unique in the sense that we would take the trains! On top of that, we would take a commuter and an economy train, something which I had never done in Indonesia before!!

Getting to Solo

We took the commuter train Prambanan Express (Prameks) to go to Solo. At first, we planned to take the 10:51 service from Lempuyangan Station. However, as we only arrived at the station (without any ticket) at 10:45, ticket sales for this service was already closed and we could only take the next one at 12:36. Darn, but well…

A Prameks commuter train at Lempuyangan Station

Long story short, the Prameks departed on time. There was no assigned seat in the busy train so quite some people had to stand. Luckily I snatched one seat but my friend did not get one. The ride was, well, bearable especially that it was short-distance; though I felt like the train was moving rather slowly, haha.

Solo

We went to our friend’s hotel to pick him up once we arrived in Solo. After that, we took an online taxi to go to Nini Thowong to get its ice dessert and buy the famous “Sate Kere” nearby. I found the sate to be spicy and that there was not a lot of meat (which possibly explained the “kere” part in its name (“kere” means “poor” in Javanese)). I liked the ice dessert.

Sate Kere

From there, we went to Solo Paragon Mall. I have heard of this mall since years ago but I have not got the chance to visit it; and now, finally I did! Haha πŸ˜› . The mall was quite spacious, even though I felt like there were not a lot of visitors either.

From the mall, we planned to have dinner. I proposed “nasi liwet” because we were in Solo while my friend proposed “tengkleng”. In the end, we went for my friend’s proposal. We found a place in Google and ordered an online taxi to get there. But then, it turned out the “tengkleng” place was closed that day! Lol πŸ˜† . So after all we were going to a nasi liwet place, haha πŸ˜› .

Yay for having some nasi liwet while in Solo.

The nasi liwet was delicious even though, again, it was a little bit too spicy for me. From the nasi liwet place, we went to a “bakpia” store as my friend would like to buy some for his family before going back to the hotel to get my other friend’s stuffs. From there, we went to the train station with, again, an online taxi which driver was rather “creepy” (which possibly explained his rather low rating).

Getting Back from Solo

Solo Balapan Railway Station

To go back to Yogyakarta, we already booked a ticket on Wijayakusuma, an economy class train. The ticket was certainly a lot more expensive than the commuter Prameks train, but the train was faster and seats were assigned to us with the tickets.

As I entered the train, I was immediately impressed! It did not look like what I had in mind of an Indonesian economy class train. It looked clean with good seat configuration; and it even came with a charging station for each seat! Later I found out that what we took was a “Premium” cart, probably similar to the new “Premium Economy” class on flights, haha.

The interior of the economy class train (Wijayakusuma) which surprised me.

While the initial impression was great, once the train departed I realized that, at the end of the day, it was still an economy class product. The bogie was certainly economy class bogie so the ride was not really smooth and there was no sound-proofing. But it was certainly not a problem for such a short ride; though I am not sure for the longer ones.

Anyway, the train was on time as we arrived at Lempuyangan Station. And here my super short trip to Solo ended.

TO BE CONTINUED…

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri November 2017 Indonesia Trip:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Indonesia
3. Part II: Jakarta
4. Part III: Yogyakarta
5. Part IV: The Wedding
6. Part V: Solo
7. Part VI: Back to Europe

Kebetulan teman baikku (yang aku temui di satu hariku di Jakarta, baca Bagian II) dikirim ke Solo untuk urusan kerjaan di minggu keduaku di Indonesia. Karena ia akan memiliki waktu bebas setelah pekerjaannya selesai, ia mengajakku dan beberapa teman ke Solo untuk sebuah perjalanan singkat. Ya jelas aku iyakan dong ya! πŸ˜€

Jadi aku kembali ke Solo tahun ini!!

Tidak seperti perjalanan-perjalananku sebelumnya ke Solo (yang mana yang terakhir kali adalah di tahun 2010) dimana aku selalu menyetir atau naik mobil kesana, perjalanan ini akan unik dimana kami akan naik kereta! Di samping itu, kami akan naik sebuah kereta komuter dan sebuah kereta ekonomi, sesuatu yang sebelumnya sama sekali belum pernah aku lakukan di Indonesia!!

Berangkat ke Solo

Kami naik kereta komuter Prambanan Express (Prameks) untuk berangkat ke Solo. Awalnya, kami berencana untuk naik kereta jam 10:51 dari Stasiun Lempuyangan. Masalahnya, kami baru tiba di stasiunnya (tanpa tiket pula) jam 10:45, yang mana pada waktu itu penjualan tiket untuk kereta ini sudah ditutup dan kami baru bisa menaiki layanan selanjutnya yang jam 12:36. Ya sudah, mau bagaimana lagi kan…

Sebuah kereta komuter Prameks di Stasiun Lempuyangan.

Singkat cerita, kereta Prameksnya berangkat tepat waktu. Karena memang di tiket tidak diberi nomor kursi dan keretanya memang ramai waktu itu, banyak orang harus berdiri. Untungnya aku mendapatkan satu kursi kosong tetapi temanku tidak. Perjalannya sendiri, hmm, masih oke lah karena jarak pendek; walaupun aku merasa keretanya bergerak dengan kecepatan yang rendah, haha.

Solo

Kami langsung pergi ke hotel teman kami begitu tiba di Solo. Setelahnya, kami naik taksi online untuk pergi ke Nini Thowong untuk makan esnya dan sekalian membeli “Sate Kere” yang terkenal itu di dekat sana. Bagiku bumbu satenya agak terlau pedas dan juga tidak ada banyak daging di satenya (yang mungkin menjelaskan bagian “kere” di namanya (“kere” adalah bahasa Jawa dari “miskin”)). Untuk esnya sih aku suka.

Sate Kere

Dari sana kami pergi ke Mall Solo Paragon. Sudah lama aku mendengar nama mall ini tetapi baru kali ini lah aku berkesempatan ke sana! Haha πŸ˜› . Mall-nya sendiri cukup besar tetapi aku merasa kok pengunjungnya tidak terlalu banyak ya.

Dari mall, kami berencana untuk makan malam. Aku mengusulkan nasi liwet karena kami kan berada di Solo gitu ya tetapi temanku mengusulkan tengkleng. Pada akhirnya, kami memutuskan untuk memilih tengkleng. Kami menemukan sebuah tempat di Google dan memesan taksi online kesana. Tetapi kemudian, ternyata rumah makan tengklengnya sedang tutup hari itu! Haha πŸ˜† . Jadi toh bagaimana pun juga kami ditakdirkan makan nasi liwet kan ya hari itu, haha πŸ˜› .

Hore untuk bisa makan nasi liwet di Solo.

Nasi liwetnya enak walaupun, lagi-lagi, terlalu pedas untukku. Dari tempat nasi liwetnya, kami pergi ke sebuah toko bakpia karena temanku ingin membelikan oleh-oleh untuk keluarganya. Setelahnya, kami pergi kembali ke hotel temanku untuk mengambil barang-barangnya. Dari sana, kami pergi ke stasiun kereta dengan, lagi, taksi online. Kali ini sopirnya agak-agak “creepy” gitu deh (yang mana mungkin menjelaskan rating-nya yang nggak tinggi-tinggi amat).

Kembali dari Solo

Stasiun Kereta Api Solo Balapan

Untuk kembali ke Yogyakarta, kami sudah memesan tiket kereta Wijayakusuma, sebuah kereta kelas ekonomi. Tiketnya jelas jauh lebih mahal daripada kereta komuter Prameks, tetapi keretanya juga lebih cepat dan tiketnya juga termasuk kursi.

Ketika memasuki keretanya, aku langsung terpesona! Dalam keretanya tidak seperti bayanganku akan interior kereta kelas ekonomi di Indonesia. Nampak bersih dengan konfigurasi kursi yang oke; bahkan ada colokan listriknya untuk setiap penumpang loh! Aku kemudian baru tahu bahwa yang kami naiki adalah gerbong “Premium”, mungkin mirip-mirip lah ya dengan kelas “Ekonomi Premium” di dunia penerbangan, haha.

Interior kereta ekonomi Wijayakusuma yang mengagetkanku.

Walaupun kesan pertamaku baik sekali, begitu keretanya berangkat aku diingatkan bahwa toh pada akhirnya ini adalah produk kelas ekonomi. Terasa sekaliΒ bogieΒ gerbongnya adalah bogie kereta kelas ekonomi sehingga guncangannya cukup terasa dan juga gerbongnya tidak kedap suara. Memang nggak begitu masalah sih untuk perjalanan jarak dekat; tetapi entah deh untuk jarak jauh, haha.

Anyway, keretanya tiba di Stasiun Lempuyangan tepat waktu. Dan di sini lah perjalanan super singkatku ke Solo kali ini berakhir.

BERSAMBUNG…

20 Comments Add yours

  1. fahrizinfa says:

    hahaha aku juga pernah waktu naik taksi online dapat supir yang agak zonk… kondisi mobilnya tidak bersih dan bau rokok nya sangat kerasa banget.. aku sampai tidak kuat ada didalemnya πŸ˜₯ tapi mau gimana lagi udah keburu masuk mobilnya :’)

    Kereta kelas ekonoi sekarang memang sudah mulai bagus ya kak Zilko, aku juga dulu pernah naik kereta ekonomi dari surabaya ke Malang. Kursinya sudah lumayan bagus dan nyaman.. apalagi waktu aku naik tidak terlalu banyak penumpangnya XD

    1. zilko says:

      Iya kemarin ini sebenarnya kami udah agak curiga dari ratingnya. Tapi berhubung dikejar waktu untuk kereta, ya udah kami ambil. Ternyata ya gitu deh, ratingnya memang cukup mewakili layanannya, hahaha

      Iya memang secara keseluruhan sudah lebih oke ya

  2. yance says:

    duh aku kok belom pernah yaa ke Solo…jadi bayangin sate kere dan bakpia balong kayak apa tuh rasanya yaa…

    1. zilko says:

      Hehehe ayoo ke Solo kalo gitu πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

  3. teaforbreak says:

    Next time Semarang lha. Dekat Yogya dan Solo hahaha

    1. zilko says:

      Iya, hehehe. Sudah lama nih nggak ke Semarang sebenarnya.

  4. niee says:

    eh iya, bagus juga ko interior keretanya.

  5. Wih keretanya bersih, Aku jadi ikut bahagia liatnya

    1. zilko says:

      Iya, semakin baik ya dibandingin dulu πŸ‘

  6. nyonyasepatu says:

    Zi, kamu emang gak suka pedes ya?

    1. zilko says:

      Iya aku ngga suka pedes Non, hahaha.

  7. Pypy says:

    Solo, tempat lahir betaaa.. Jadi rindu pengen kesana deh. Mungkin Natal tahun depan..haha. *Masih lama XD

    Ko, makanan Solo sana bukannya lebih ke manis ya? Emang ga doyan pedes ya?

    1. zilko says:

      Lho kamu lahir di Solo Py? Hahahaha…

      Iya cenderung manis tapi kan ada sambalnya juga Py. Nah ini sambalnya uda dicampurib gitu hahaha

      1. Pypy says:

        Iya, numpang lahir doang lebih tepatnya.. Haha

  8. aggy87 says:

    Prameks sekarang jauh lebih bagus dari dulu ya. Udah ada ACnya juga ya? Dulu inget pas ke Solo naik Prameks selalu kepanasan πŸ˜€
    Nasi liwet di Solo emang juara banget ya, sayang di Jogja ga ada yang enak (padahal Jogja-Solo kan deket ya hahaha)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s