#2022 – Side Stories from Newcastle


Here are a couple of stories from my recent weekend trip to Newcastle upon Tyne.

Ticketing Situation

I took the metro to get to the city from the airport. I bought the ticket in a vending machine and after finishing off my purchase, a piece of paper “flew off” the machine (quite literally). Naturally I thought that was the ticket because the screen said the ticket was being printed at the time. I grabbed it and went to the station.

Long story short I took the metro and got off at the Central Station. There, however, I wasn’t able to get off the station where I couldn’t even insert the “ticket” to the gate. I approached the officer there and she mentioned that what I was holding was not the ticket, it was just the receipt. And yeah, it actually looked quite similar to this:

A ticket receipt

and indeed it was my mistake to not check it when I got it from the machine. I explained my situation to her that I did not know as this was my first time ever in Newcastle. She explained to me how a valid ticket would have looked like, which would have had a yellow stripe (I mean, how was I supposed to know? Haha 😛 All I knew was that piece of paper flew off the machine after I bought a ticket!). But she believed me that it was an honest mistake and let me go without charging me the £20 penalty which would have been imposed for a traveller without a valid ticket! Thank you!! 🙂

A valid Metro ticket in Newcastle

A Cemetery

In Gateshead, I saw the following banner:

The building was for hire

saying that this particular building was available for hire for events like wedding, conference, dinner party, etc. But when I looked over what the building was like, it was actually:

A cemetery in Newscastle

Yeah, it was partially a cemetery!

Well, I guess there might be a certain market for that! Haha 😆


Berikut ini dua cerita dari perjalanan akhir pekan singkatku ke Newcastle upon Tyne baru-baru ini.

Insiden tiket metro

Aku naik metro untuk pergi dari bandara ke kota. Aku membeli tiketnya di sebuah mesin dimana setelah selesai dengan pembayaranku, satu potong kecil kertas “terbang” terlempat keluar dari mesinnya (dalam artian sebenarnya). Ya jelas dong aku kira itu tiketnya karena layarnya juga berkata tiket sedang dicetak waktu itu. Aku mengambilnya dan pergi ke stasiun.

Singkat cerita aku menaiki metronya dan turun di Central Station. Di sana, tapinya, aku tidak bisa keluar dimana bahkan aku tidak bisa memasukkan “tiket”-nya ke gerbang pintunya itu. Aku kemudian menghampiri petuagsnya di sana dimana ia berkata bahwa yang kupegang bukanlah tiket, tetapi hanya bonnya saja. Dan ya, memang sih penampakannya kurang lebih seperti ini:

Bon tiket

dan memang salahku juga aku tidak mengeceknya ketika aku mengambilnya dari mesin. Aku menjelaskan situasiku ke petugasnya dan kubilang bahwa aku tidak tahu dan ini adalah kali pertamaku di Newcastle. Ia jelaskan penampakan dari tiket yang valid, yang mana terdapat garis berwarna kuning (Ya kan meneketehe ya? Haha 😛 . Yang kutahu kan kertas itu keluar dari mesinnya setelah tiketnya kubeli!). Tetapi ia percaya padaku kok bahwa ini adalah honest mistake dan mengizinkanku untuk keluar tanpa memberikan penalti  £20 yang dikenakan ke penumpang yang ketahuan tidak membawa tiket! Terima Kasih!! 🙂

Tiket metro yang valid di Newcastle.


Di Gateshead, aku melihat spanduk ini:

Gedungnya bisa disewa

yang berkata bahwa gedung ini bisa disewa untuk acara-acara seperti pesta pernikahan, konferensi, pesta makan malam, dll. Tetapi ketika dalam arenya aku lihat, penampakannya seperti ini:

Kuburan di Newcastle

Iya dong, sebagian area gedungnya itu adalah kuburan!

Yah, mungkin memang ini ada pangsa pasarnya tersendiri juga kali yah! Haha 😆

Review, TV Show

#2021 – Discovery, First Chapter


So the first chapter (i.e. the first nine episodes) of the first season (that is scheduled to have fifteen episodes) of the new Star Trek: Discovery has been concluded in mid-November. Of course I was really excited when the series was premiered earlier in the Fall; but now I have watched enough episodes to formulate my own opinion of the series. And here I would like to share that…

First of all, I have been enjoying the show. I find it exciting and the general story arc to be well written. Moreover, to me the characters are also very, very interesting as they focus not only on the senior officers (like typical other Star Trek series) but also on the “grass root” crewman level. The captain appears to be, at least a little bit, a “troubled” person, a trait which of course makes a show more exciting, and there seems to be a “silver bullet” in the Klingon side, the “antagonist” side of the series. Overall, I feel like the series is very rich in terms of the characters, that in my opinion is one of its strongest point.

There are a few details which I don’t like, however, mainly the spore drive technology which could make instantaneous travel to anywhere in the universe in no time (I find it “absurd” and it does not feel “right” especially considering that the series’ timeline to be before The Original Series let alone The Next Generation and Voyager). I also don’t like the design of the USS Discovery; but I have been feeling this way since the beginning anyway, haha 😆 .

Having said that, there is one big factor which disappoints me. To me this series has lost a big part of a Star Trek show: the social/interpersonal/intrapersonal conflict aspect present in many episodes of the other series. You see, unfortunately the excitement of the story arc comes with the price of a lot of focus on the “action” side of thing (thus the “excitement”). The side effect of this is that, to me, despite watching a show involving Star Trek characters and setting, it does not feel like watching a Star Trek series.

One of the many reasons I like the Star Trek series is that many of their episodes portray certain interesting social interactions/conflicts which I can relate to my life (be it personal or professional), even to the point of challenging a status quo and presenting strong ethical conflict. These episodes make me think about the dilemma in those situations and in some of those about what would I do if I were in those situations; which I find enjoyable. Of course not all episodes are like this, where there are times here and there where action-oriented episodes are produced as well to keep the excitement level up. I understand that focusing too much on the social aspect could lead to a “boring” show which could translate to lower rating (which in my opinion is a reason why Enterprise in the early 2000s “failed”); but stripping this part off the show also feels like stripping off an identity of the series. Well, at least to me…

To be fair, it is not like the writers completely take the social conflict out of the script. There are still some, for instance in the episode where Captain Lorca was captured by the Klingon and Discovery was attempting to save him. The only way for the crew to do so was to torture an animal. However, these are still too few to my liking and even those conflicts feel, well, “juvenile”.


Ingeniously, the first chapter ended with a cliff hanger, where the last “spore jump” they attempted went incomplete, stranding USS Discovery nobody knew where, and Lt. Paul Stamets, whom had to steer the ship physically in each jump, reached the limit of the side effect and broke down. I felt like this was an opportunity the writers made to “kill off” the spore drive idea (As we knew it would not work eventually anyway, otherwise the entire Star Trek: Voyager became irrelevant and stupid); and to start “fresh” the next chapter.


Nevertheless, I guess the most important thing is that I still enjoy the show after all. It is just that I feel like the Star Trek identity has been lost a little bit. So it is interesting to see how the second chapter will pan out, and even the second season which apparently has been ordered!!

Do you watch the series? And if so, what do you think about it?


Jadi bab pertama (baca: sembilan episode pertama) dari musim pertama (yang dijadwalkan akan terdiri atas lima belas episode) seri baru Star Trek: Discovery sudah selesai ditayangkan pertengahan November ini. Tentu saja aku excited banget ketika acaranya mulai ditayangkan awal musim gugur ini; tetapi sekarang aku sudah menonton cukup episode untuk membentuk opiniku akan seri ini. Dan di posting ini aku akan membagikannya…

Pertama-tama, sejauh ini aku menikmati acaranya. Aku merasa acaranya seru banget dan jalan ceritanya juga ditulis dengan baik. Lebih jauh lagi, untukku karakter-karakternya juga amat menarik karena mereka tidak hanya fokus terhadap pejabat senior (seperti di seri-seri Star Trek lainnya) tetapi juga fokus kepada kru berpangkat “rendahan”. Kaptennya sendiri juga nampak, sedikitnya, seperti seseorang yang “bermasalah” yang mana tentu membuat jalan ceritanya semakin menarik, dan sepertinya juga ada tokoh “peluru perak” di sisi Klingon, sisi “antagonis” dari seri ini. Jadi secara umum aku merasa bahwa seri kali ini sangat amat “kaya” dari segi karakter, yang mana merupakan satu poin kelebihan dari seri kali ini.

Ada beberapa detail yang tidak aku sukai, tapinya, yang mana terutama adalah teknologi berbasis spora jamur yang memunginkan mereka bisa bepergian secara instan ke seluruh penjuru alam semesta (Aku merasa konsepnya “konyol” dan membuatku amat tidak “sreg” terutama mempertimbangkan waktu jalan cerita seri ini yang adalah sebelum masanya The Original Series apalagi The Next Generation dan Voyager). Aku juga tidak suka disain kapal USS Discovery-nya; yang mana sudah aku sebutkan semenjak dulu sih, haha 😆 . I

Namun, ada satu faktor besar lainnya yang mengecewakanku. Bagiku seri ini kehilangan satu identitas dari suatu seri Star Trek: konflik sosial/interpersonal/intrapersonal yang diangkat di banyak episode seri-seri Star Trek lainnya. Nah kan, sayangnya keseruan dari jalan ceritanya harus dibayar dengan banyak fokus di sisi “action” (yang mana mengakibatkan keseruan terbentuk). Efek samping dari ini adalah, bagiku, walaupun aku menonton suatu acara yang melibatkan karakter-karakter dan setting-nya Star Trek, entah mengapa aku merasa tidak seperti menonton suatu seri Star Trek.

Satu dari banyak alasan aku menyukai seri Star Trek adalah banyak episodenya yang mengangkat tema interaksi/konflik sosial/batin yang bisa aku hubungkan dengan kehidupanku (baik itu pribadi ataupun profesional), bahkan terkadang juga mempertanyakan status quo dan mengangkat tema konflik etika yang kental. Episode-episode ini membuatku berpikir akan dilema di situasi-situasi tersebut dan di beberapa darinya membuatku berpikir apakah yang akan kulakukan andaikata aku berada di situasi itu; sesuatu yang sangat aku nikmati. Tentu saja tidak semua episodenya seperti ini ya, dimana ada beberapa episode yang fokus kepada sisi action-nya supaya tingkat keseruannya masih terjaga. Aku paham sih kebanyakan fokus ke sisi sosialnya akan membuat acaranya menjadi “membosankan” yang ujung-ujungnya menyebabkan rating yang rendah (Menurutku ini lah alasan Enterprise di awal tahun 2000an “gagal”); tetapi di sisi lain sama sekali menghilangkan aspek ini dari acaranya juga terasa seperti menghilangkan satu identitas dari acaranya. Yah, setidaknya bagiku sih… .

Sebenarnya bukannya juga penulis sama sekali menghilangkan aspek konflik sosial dari jalan ceritanya sih. Masih ada kok, misalnya di episode dimana Kapten Lorca menjadi tawanan Klingon dan Discovery berusaha menyelamatkannya. Satu-satunya cara bagi krunya untuk bisa melaksanakan tugas itu adalah dengan menyiksa seekor binatang. Namun, bagiku konflik-konflik ini masih terlalu sedikit dan konflik yang ada pun terasa, hmm, “kekanakan”.


Bagusnya, bab pertama ini berakhir dengan cliff hanger, dimana “loncatan spora” terakhir yang mereka lakukan tidak berlangsung secara penuh, sehingga USS Discovery terdampat entah dimana, dan Lt. Paul Stamets, yang harus secara fisik menyetir pesawatnya di setiap loncatan, mencapai batas dari efek samping yang harus ia derita darinya dan ambruk. Aku merasa ini adalah kesempatan yang memang dibuat oleh penulisnya untuk “membuang” ide mesin spora ini (Karena toh kita tahu mesin ini pasti pada akhirnya tidak akan bekerja, karena jika tidak keseluruhan cerita Star Trek: Voyager menjadi tidak relevan dan bodoh); dan untuk memulai bab selanjutnya dengan “segar”.


Walaupun begitu, aku rasa yang paling penting sih toh aku masih menikmati acaranya ya. Hanya saja memang rasanya satu identitasnya Star Trek sedikit hilang. Jadi menarik juga melihat bagaimana bab duanya akan berlangsung, dan bahkan musim kedua yang mana ternyata sudah dipesan!!

Apakah Kamu juga menonton acara ini? Jika iya, apakah pendapatmu sejauh ini?


#2020 – My Favorite Landing Runways of AMS and CDG


Since 2014, Amsterdam’s Schiphol and Paris’ Charles De Gaulle have been the two airports I travel to/from the most. This is hardly surprising given that I am residing in the Netherlands and KLM and Air France are basically married, haha. Anyway, an implication of using both airports a lot is that I have started to form a preference regarding on which runway/direction my flight would land at both.

Of Schiphol (AMS)

Clearly, not the Polderbaan.

I have previously mentioned that Schiphol’s runway 18R/36L, or also known as the Polderbaan, is my least favorite of the airport’s six runways due to its distance from the terminal building. At the time, I mentioned that I liked the other five equally and had no preference amongst them. However, though, things start to have changed a little 😛 .

My rather recent boring Avgeek Weekend Trip made me realize that I think I have developed a “preference” for one of the five runways; but only for landing. And that is: runway 09/27, or also known as the Buitenveldertbaan; and specifically runway 27 because, from my empirical observations, landing is performed on the runway 27 side while take-off from the runway 09 side for Buitenveldertbaan. And here is why:

Landing path of flight KL1246 at the Buitenveldertbaan. Map is from flightradar24.

The map above shows the landing path of my flight KL1246 that evening. As you can see, landing at runway 27 would require the plane to fly above the southern part of Amsterdam. Hence, if you are seated on the window seat in the right side of the plane, you would be provided with a really cool bird’s eyes view of the city!

Of Paris – Charles De Gaulle (CDG)

For the same reason as for runway 27 of Schiphol, my favorite landing runway of Paris-CDG is runway 08R. Landing on this runway would mean the plane would have to fly above the beautiful city of Paris. For instance, here is the landing path of flight AF7641 I took a few months ago with an Air France’s Dreamliner from Lyon:

Landing path of flight AF7641 at runway 08R. A screenshot from flightradar24 app.

This means that if you are seated on the window seat in, again, the right side of the plane, you would be provided with a bird’s eye view of the city! There are exceptions, of course, for instance on flight AF 7641 I took above. A landing path like this would also provide passengers sitting on window seats on the left side of the plane with a cool view of Paris.

A bird’s eye view of Paris!! You can spot the Eiffel Tower, Arc de Triomphe, and the famous Champs-Élysées here.

Paris-CDG Airport is equipped with four parallel runways, so why runway 08R in particular and not runway 08L, 09L, or 09R? In the screenshot above, you can clearly see that the airport is located to the north east of Paris. Runway 08R is the southern most runway of the airport and, hence, landing on this runway would mean that you would get the best possible (closest) view of Paris than when landing on any other runways!


Sejak tahun 2014, Bandara Schiphol di Amsterdam dan Bandara Charles De Gaulle di Paris telah menjadi dua bandara dari mana aku terbang ke/dari paling sering. Ini tidak mengherankan sih karena aku tinggal di Belanda dan KLM dan Air France kan pada dasarnya suatu kesatuan ya, haha. Anyway, satu implikasi dari ini adalah aku mulai membentuk preferensi mengenai landasan pacu/arah pendaratan favoritku ketika mendarat di kedua bandara.

Untuk Schiphol (AMS)

Jelas bukan Polderbaan.

Sudah kusebutkan sebelumnya bahwa landasan pacu 18R/36Lnya Schiphol, alias Polderbaan, adalah yang paling tidak kusukai dari enam landasan pacu bandaranya karena jaraknya yang jauh dari gedung terminal. Waktu itu kusebutkan bahwa aku menyukai lima landasan pacu lainnya secara sama rata lah. Namun, ternyata aku sudah sedikit berubah, haha 😛 .

Perjalanan Avgeek Weekend Tripku yang membosankan baru-baru ini membuatku menyadari bahwa aku mulai membentuk “preferensi” untuk satu dari lima landasan pacu lain bandaranya; tetapi untuk mendarat saja. Dan landasan pacu itu adalah landasan pacu 09/27, atau dikenal juga dengan nama Buitenveldertbaan; dan khususnya landasan pacu 27 karena, dari pengamatan empirisku, pendaratan selalu dilakukan di sisi landasan pacu 27 sih sementara lepas landas dari sisi landasan pacu 09 untuk Buitenveldertbaan. Berikut ini alasannya:

Jejak pendaratan penerbangan KL1246 di Buitenveldertbaan. Peta dari flightradar24.

Peta di atas menunjukkan rute pendaratan penerbangan KL1246ku malam itu. Seperti yang bisa dilihat, mendarat di landasan pacu 27 berarti pesawatnya harus terbang di atas Amsterdam bagian selatan. Jadi, jika kita duduk di kursi jendela di sebelah kanan pesawat, kita akan mendapatkan pemandangan yang kece akan kotanya!

Untuk Paris – Charles De Gaulle (CDG)

Untuk alasan yang sama seperti landasan pacu 27 Bandara Schiphol, landasan pacu favoritku untuk mendarati di Paris-CDG adalah landasan pacu 08R. Mendarat di landasan pacu ini berarti pesawatnya harus terbang di atas kota Paris. Misalnya saja, berikut ini jejak rute pendaratan penerbangan AF7641ku dari Lyon yang kunaiki beberapa bulan yang lalu dengan Dreamlinernya Air France:

Rute pendaratan penerbangan AF7641 di landasan pacu 08R. Sebuah screenshot dari app flightradar24.

Ini berarti jika kita duduk di kursi jendela, lagi, di sisi kanan pesawat, kita akan diberikan pemandangan yang kece akan kotanya! Eh, ada pengecualian sih memang, seperti misalnya penerbangan AF7641ku di atas. Rute pendaratan semacam ini juga memberikan pemandangan keren kota Paris bagi penumpang yang duduk di sisi kiri sih.

Pemandangan kota Paris dari atas!! Di foto ini, kita bisa melihat Menara Eiffel, Arc de Triomphe, dan Champs-Élysées yang terkenal itu.

Bandara Paris-CDG dilengkapi dengan empat landasan pacu paralel. Jadi mengapa kok aku hanya suka landasan pacu 08R saja, dan bukannya landasan pacu 08L, 09L, atau 09R? Nah, di screenshot di atas, bisa kita lihat bahwa bandaranya berlokasi di timur lautnya Paris. Landasan pacu 08R adalah landasan pacu paling selatan dari bandara ini sehingga mendarat di landasan pacu ini akan memberikan pandangan yang terbaik (paling dekat) dengan kota Paris daripada di landasan pacu lainnya.

Contemplation, Thoughts

#2019 – The Timing of Disruptions


It is just a reality that anything will break once in a while, including the smoothness and reliability of the Dutch public transportation. And by “break”, I mean “disruptions”, haha.

While my logic would say that disruptions occur randomly, somehow my heart feels that they do not. In fact, they seem to likely more occur during the worst of time, i.e. the time I am “less okay” with them happening. For instance, when I am on my way to an important meeting, like my Instagram post above from earlier this year, haha 😆 .

Not too long ago, it happened again. After work, I planned to do grocery at a supermarket (as I was running out of food at home) before going to a haircut appointment at a barbershop. I saw my tram at Amsterdam Centraal but it was just standing still for an abnormally long time; and so I immediately figured out that there was a disruption. I felt so annoyed by this. I mean, why did it need to happen today of all days, on the day when I had an appointment (Btw, I HATE to come late to an appointment; coming late is so untypical of me)? Haha 😆 . Finally after waiting for about half an hour, the tram resumed its operation. But because of the delay, I had to drop my plan to the supermarket today and just went straight to the barbershop, where I was late for 15 minutes. That evening, I cooked my emergency instant noodles (read: Indomie 😛 ) for dinner, haha 😆 .

On a more serious note, though, what my heart “feels” might actually be biased. You see, encountering a disruption when I have an important agenda is certainly more “painful” than encountering a disruption when my time is flexible. My hypothesis is that the “pain” makes me “remember” the incident more, hence falsely “associating” the timing occurence of the incidents with the presence of an important appointment/meeting/etc. In other words, I “forget” that these incidents also happen on “less important” time. The lack (or lesser degree) of “pain” I feel at these time cloud these incidents in my mind.

Back to the delayed tram incident which forced me to be late for 15 minutes to my appointment and eat a bowl of Indomie that evening, I eventually learned about the cause of the disruption. This finding actually made me think about a different matter which deserves its own post for the next time, though 🙂 .


Adalah suatu kenyataan bahwa segala sesuatu pasti akan rusak ya, termasuk kelancaran dan kehandalan transportasi umum di Belanda. Dan yang kumaksud dengan “rusak” jelas adalah “gangguan operasional”, haha.

Walaupun menurut logika yang namanya gangguan itu terjadi secara acak, entah kenapa hatiku merasa kemunculannya itu tidak acak. Malahan, rasanya gangguan itu lebih mungkin terjadi di waktu-waktu yang nggak banget, yaitu ketika aku sedang ada acara penting gitu. Misalnya, ketika aku sedang dalam perjalanan menuju sebuah meeting yang penting banget, seperti di posting Instagramku di atas dari awal tahun ini, aha 😆 .

Belum lama ini, kejadian ini terulang kembali. Sepulang kantor, aku berniat berbelanja kebutuhanku di supermarket (kondisi stok bahan masakan/makanan di rumah sedang habis) sebelum pergi ke salon dimana aku sudah ada appointment untuk potong rambut. Aku lihat tramku sudah ada di Amsterdam Centraal tetapi tramnya cuma berhenti doang dalam jangka waktu yang tidak biasa lamanya; jadilah aku langsung menyadari bahwa sedang ada gangguan. Aku merasa sebal banget waktu itu. Maksudku, kok harus kejadiannya sekarang gitu, di waktu dimana aku ada janji (Btw, aku BENCI SEKALI datang terlambat ke sebua janji; datang terlambat itu bukan sifatku)? Haha 😆 . Akhirnya, setelah menunggu selama setengah jam-an, tramnya beroperasi juga. Tetapi karena keterlambatan ini, aku harus membatalkan rencanaku ke supermarket dan langsung pergi ke salonnya, dimana aku terlambat 15 menit dari waktu appointment. Dan malam itu, aku harus mau tidak mau memasak dan makan makanan untuk situasi darurat: mi instan (baca: Indomie 😛 ) untuk makan malam, haha 😆 .

Apa yang “dirasakan” hatiku itu mungkin bias loh sebenarnya. Jelas kan mendapatkan gangguan operasi semacam ini di waktu ketika aku sedang ada agenda penting itu lebih “menyakitkan” daripada mendapatkan gangguannya ketika jadwalku sedang fleksibel. Hipoteasku adalah “rasa sakit” ini membuatku “ingat” insiden ini, sehingga kekeliruan dalam bentuk “asosiasi” antara waktu kejadian insidennya dengan keberadaan acara penting jadi terbentuk. Dengan kata lain, aku “melupakan” gangguan-gangguan yang terjadi di waktu-waktu yang “lebih tidak penting”. Ketiadaan (atau rendahnya tingkat) “rasa sakit” yang kualami di waktu-waktu ini membuatku otakku mengabaikannya.

Kembali ke insiden gangguan tram yang membuatku terlambat 15 menit ke appointment-ku dan memaksaku makan Indomie saja malam itu, pada akhirnya aku mengetaui penyebab gangguannya. Informasi ini sebenarnya membuatku terpikir akan masalah lain yang layak kujadikan posting tersendiri. Tapi posting tersendiri ini untuk nanti saja sih 🙂 .

General Life, Life in Holland, Zilko's Life

#2018 – The Second DST, Utrecht and Monday


This post has sat in the Draft section for too long, since the beginning of November just after this year’s second DST, actually, haha. And so I figure it is time to publish it 😀 .

The somehow “negative” effect of the second DST this year. 

Speaking of the DST, normally the second DST is my favorite where, at the very least, there is no effect to me. This year, however, somehow it has been different. If anything, I feel like the DST has more of a “negative” effect on my daily life, which I found weird. After thinking about it for some time, I believe I have found an explanation for this, that actually is reasonable!

Up to two years ago, my life in the Netherlands was revolving around the university at this time of the year. Actually, my last second DST while in university was three years ago, because two years ago I was in India this time around where DST was, of course, not observed, haha. And you probably know how life as a PhD in a (reputable) university was, haha. To me, I almost always worked at least until around 8 PM or so, when it was already dark anyway so there was no effect made by the DST, haha.

It was dark already anyway when I finished day at the university

Last year, while I already left university, I still lived in Delft and had to commute everyday to Amsterdam for work. At this time, the DST really helped a lot because before the DST, it was still dark when I left for work from Delft but after the DST, it became bright! It certainly lifted my mood and energy to start the day!

This year, however, the “brighter” morning did not matter because I could leave for work much later than when I was still in Delft. And so it was already bright anyway in my “morning” with or without the DST. The difference, however, was when I finished my day at work. Before the DST, I normally left my office before sunset so it was still quite bright outside. The DST, however, would mean that the exact same time would fall just after sunset, where it was already quite dark outside. And somehow, this made my day suddenly felt more “tiring” because (probably) unconsciously my brain thought I was suddenly working longer than usual, haha…

Oh well…

Utrecht and Monday, possibly not the best pair

Anyway, that week I also went to Utrecht to catch up with a friend. And here is one thing I learned from that.

It appeared to us that probably Monday was not the best day to eat out in Utrecht. Why? Because most restaurants were closed! Haha 😛 You see, during the day I was googling for possible good restaurants to eat. I actually found a few, but only to find out that all of them were indeed closed on Monday! Haha…

I ended up having this iron steak that day.

Btw, yes, it is common for restaurants in the Netherlands to not open everyday (Chains are, of course, different). Usually they take one day of the week as a “day off”; but, of course, usually this day is not Friday or Saturday, arguably the “busiest” days for restaurants 😛 . And it appears that Monday might be the slowest day for restaurant business in Utrecht and so many of them choose this day as their day off, hmm.


Posting ini sudah duduk manis di bagian Draft kelamaan nih, semenjak awal November setelah DST kedua tahun ini, haha. Jadi aku rasa sudah waktunya untuk dipublikasikan lah ya 😀 .

Efek yang entah mengapa “negatif” dari DST kedua tahun ini 

Ngomongin DST, biasanya DST kedua adalah favoritku dimana, setidaknya, DSTnya tidak berefek bagiku. Tetapi tahun ini, entah mengapa DST ini rasanya berbeda. Bahkan, aku merasa DSTnya justru memiliki efek “negatif” bagi kehidupan sehari-hariku, yang mana aku rasa aneh lho. Setelah kupikir-pikir sekian waktu, sepertinya aku sudah menemukan penjelasannya, yang mana masuk akal!

Hingga dua tahun yang lalu, hidupku di Belanda berkutat di sekitar universitas kan di waktu-waktu ini. Sebenarnya, DST kedua terakhirku ketika di universitas adalah tiga tahun yang lalu sih, karena dua tahun yang lalu kan aku sedang berada di India di waktu ini dimana DST tidak diberlakukan, haha. Dan tahu lah kehidupan sebagai mahasiswa PhD di universitas (ternama) itu kayak apa, haha. Untukku, aku hampir selalu bekerja sampai setidaknya jam 8 malam setiap hari, jadi ya toh memang sudah gelap juga sih ketika pulang dan DSTnya tidak mengubah apa pun, haha.

Toh sudah gelap ketika aku pulang dari kerjaanku di universitas

Tahun lalu, aku sudah meninggalkan universitas tetapi aku masih tinggal di Delft sehingga aku harus nglaju setiap hari ke Amsterdam untuk ngantor. Waktu itu, DSTnya membantu sekali karena sebelum DST, masih gelap dong ketika aku berangkat kerja dari Delft tetapi setelah DST, tiba-tiba suasananya jadi terang! Ini jelas mengangkat mood dan energiku untuk memulai hari kan ya!

Tahun ini, tapinya, pagi yang “lebih terang” tidak berefek karena aku toh bisa berangkat kerja lebih siang daripada ketika aku masih di Delft. Jadilah toh pagiku juga terus “terang” baik dengan ataupun tanpa DST. Namun, perbedaannya ada ketika aku pulang kerja. Sebelum DST, biasanya aku pulang kerja sebelum matahari terbenam sehingga di luar masih lumayan terang lah. Dengan DST, artinya waktu pulangku yang sama jadi berada setelah matahari terbenam, artinya di luar juga sudah gelap. Dan menurutku, ini tiba-tiba membuat hariku terasa lebih “melelahkan” karena (mungkin) alam tidak sadarku mengira bahwa aku bekerja lebih lama daripada biasanya dengan cara lembur, haha…


Utrecht dan Senin, mungkin bukan kombinasi terbaik

Anyway, minggu itu aku juga pergi ke Utrecht untuk catch up dengan seorang temanku. Dan berikut ini satu hal yang kupelajari dari hari itu.

Kami baru sadar bahwa sepertinya hari Senin bukanlah hari terbaik untuk makan di luar di Utrecht. Mengapa? Karena kebanyakan restorannya tutup! Haha 😛 Jadi ceritanya hari itu sebenarnya aku sudah googling beberapa restoran yang oke gitu. Aku menemukan beberapa, tetapi ternyata restoran-restoran itu tutup dong di hari Senin! Haha…

Pada akhirnya aku makan iron steak ini hari itu.

Btw, iya, lumrah kok bagi restoran-restoran di Belanda untuk tidak buka setiap hari (Kalau restoran chains mah lain cerita tentunya ya). Biasanya, mereka mengambil satu hari dalam seminggu untuk “libur”; tetapi tentu saja biasanya hari libur ini bukan hari Jumat atau Sabtu, yang mana hari “teramai” untuk restoran kan ya, haha 😛 . Dan mungkin Senin adalah hari paling sepi untuk bisnis restoran di Utrecht sehingga kebanyakan dari mereka memilih hari ini sebagai hari libur, hmm.

Asia Trip, Indonesia Trip, Southeast Asia, Vacation

#2017 – Halo, Jakarta!


This weekend, my November trip to Indonesia started. And, actually, at the moment I am in: Jakarta!

Jakarta in November

I am here only for one night, though, as I need to settle a customized suit fitting matter at a well-known tailor here, which I already did earlier today, haha. So yeah, indeed I am not here for a very long time, as tomorrow I am already flying off.

Speaking of Jakarta, now that I think about it, it has been awhile since the last time I was here, that was in August 2010 just two weeks before I moved to the Netherlands! At the time I was staying here also for only one night as a “pitstop” after coming back from a 10-day trip to China (the flight from Guangzhou arrived in the evening so we decided to spend a night in Jakarta). And because of that so it seemed that I did not bother to write about the Jakarta part on that trip in that post, haha 😛 . But before that, my last documented trip to Jakarta was in May 2010.

Okay, since August 2010, I have travelled via Soekarno-Hatta International Airport a few times; but I don’t think those “count” because I did not leave the airport in each “visit”? Haha 😛

Anyway, this is all from now. At the moment I am suffering from a really bad jetlag and so hopefully I will recover from it soon, haha 🙂 . And also, the internet connection is so friggin’ slow! Hahaha 😆


Akhir pekan ini, perjalanan bulan Novemberku ke Indonesia dimulai. Dan sebenarnya, sekarang ini aku sedang berada di: Jakarta!

Jakarta di bulan November

Aku cuma menginap semalam saja sih di sini, soalnya aku harus mengurus urusan fitting jas customized di sebuah penjahit yang terkenal di sini, yang mana sudah kulakukan tadi, haha. Jadi ya memang cuma sebentar aja, karena besok aku sudah terbang lagi.

Ngomongin Jakarta, kalau diingat-ingat lagi sekarang, sudah lumayan lama juga lho semenjak terakhir kali aku ke kota ini, yang mana adalah di bulan Agustus 2010 hanya dua minggu sebelum aku berangkat ke Belanda! Waktu itu aku juga menginap semalam saja sebagai “pitstop” ketika kembali dari perjalanan selama 10 harian ke China (penerbangan dari Guangzhou waktu itu tiba di malam hari sehingga kami memutuskan untuk menginap semalam saja deh di Jakarta). Dan mungkin ini lah alasan mengapa kok bagian Jakartanya tidak aku tulis di posting-ku dulu itu, haha 😛 .Tetapi sebelum itu, perjalananku ke Jakarta yang terakhir yang terdokumentasikan adalah di bulan Mei 2010.

Oke, semenjak Agustus 2010, aku sudah beberapa kali terbang melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta sih; tetapi ini mah nggak “dihitung” ya karena aku kan tidak meninggalkan bandaranya di “kunjungan-kunjungan” itu? Haha 😛 .

Anyway, segini dulu aja deh untuk sekarang. Saat ini aku sedang menderita jetlag parah banget nih dan semoga aku segera recover darinya, haha 🙂 . Dan juga, ini koneksi internetnya kok lemot banget yaa! Ahahah 😆

working life, Zilko's Life

#2016 – Some Recent Work Stories


I notice that after more than a year now, I feel like the variety of my tasks at work has gradually become more diverse. Aside from my main function, there are other tasks which I have been asked or invited to do. Technically those are still parts of my position’s general responsibility anyway so it is not like I am being asked to do things I am not supposed to 😛 .

And to me … so far I find it fun!

You see, of course having wider variety of tasks makes my job much less likely to ever become boring. Well, not that my main function is prone to ever becoming boring, as to me I find it challenging nonetheless. But I mean, having diversity in the type of tasks is also a type of challenge, no? 🙂

Two challenges coming from this diversity, to me, is the ability to quickly “switch” my brain from one task to another, which are very different from each other, and good time management. I realize that time management is not solely about being able to fit as many tasks as possible within my work schedule, but also how to arrange my work effectively such that it allows me to “stream smoothly” between consecutive tasks, be it for my mind-sake (easier “brain switch”) and also physically (arranging two consecutive meetings with 5 minutes of break between them is a bad idea if the two meetings are in different buildings, for instance). This of course can be very tricky when the task is meeting with other colleagues, as we would often have to adjust our schedule to theirs too; which means sometimes compromise needs to be made, haha…

Two weeks ago I volunteered my team and myself to onboard a new hire into the company. My manager was quite surprised by this but he was actually happy that I took this initiative. I have never done this before, though, and so I am still kind of “in the dark” on how things would go to be honest, haha. And so this will certainly be a challenge, but I will try to do my best. I had a pleasant (despite rather “astray”, in a small way) onboarding experience last year; so I have the experience and a vision on how a good onboarding should go. I guess this is also my chance to implement that.

Yeah, so how is work? Well, it has been fun! 🙂


Aku perhatikan bahwa setelah lebih dari setahun sekarang, aku merasa bahwa pekerjaanku di kantor menjadi semakin bervariasi. Di samping fungsi utamaku, ada beberapa tugas lain yang mana aku diminta atau diajak untuk mengerjakannya. Secara teknis sih tugas-tugas itu toh masih merupakan tanggung jawab umum dari posisiku juga sih jadi juga bukannya aku diminta melakukan tugas di luar kapasitasku 😛 .

Dan … sejauh ini rasanya seru bagiku!

Jelas memiliki tugas yang bervariasi juga membuat peluang pekerjaanku menjadi membosankan semakin kecil. Ya bukannya fungsi utamaku rawan untuk menjadi membosankan sih, justru aku merasa fungsi utamaku itu sangat menantang dan seru. Tapi toh keberadaan tugas jenis lain toh juga lah sejenis tantangan juga kan ya? 🙂

Dua tantangan besar yang muncul dari keberagaman ini, untukku, adalah kemampuan untuk dengan cepat “mengalihkan” pikiranku dari satu tugas ke tugas lain, yang sangat amat berbeda satu sama lain, dan manajemen waktu yang baik. Aku tahu bahwa manajemen waktu itu bukan sekedar kemampuan untuk dapat memasukkan sebanyak mungkin tugas ke dalam jam kerjaku, tetapi juga bagaimana mengatur pekerjaanku dengan efisien sehingga aku bisa “mengalir dengan mulus” di tugas-tugas yang berturutan, baik mulus untuk otak (“pengalihan” pikiran yang lancar) dan juga secara fisik (mengatur dua meeting dengan jeda 5 menit di antaranya tentu adalah ide yang buruk jika meeting-nya berada di gedung yang berbeda, misalnya). Ini tentu saja semakin kompleks lagi apabila tugasnya melibatkan meeting dengan kolega lain, karena sering kita harus menyesuaikan jadwal agar pas dengan jadwal mereka juga; yang mana berarti terkadang toh kita harus berkompromi juga, haha…

Dua minggu yang lalu aku menyuka-relakan timku dan aku untuk meng-onboard seorang karyawan baru ke kantor. Manajerku kaget dengan ini tetapi toh dia senang juga aku mengambil inisiatif ini. Aku belum pernah melakukan ini sih sebelumnya, jadi ya aku masih nggak tahu juga ini bakal bagaimana, haha. Jadi jelas ini akan menjadi sebuah tantangan yang baru, tetapi toh aku akan berusaha yang terbaik juga. Aku memiliki pengalaman onboarding yang baik tahun lalu (walaupun agak sedikit “terkatung-katung” sih dari satu sisi) jadi aku memiliki pengalaman dan visi bagaimana pengalaman onboarding yang baik itu seharusnya. Aku rasa ini adalah kesempatanku untuk mengimplementasikannya kan ya.

Ya, jadi gimana nih kerjaanku? Oh, seru banget! 🙂