Contemplation · Thoughts

#2002 – On Apology

ENGLISH

Lately I have been thinking a little bit about the (probably) less “touched” side of an apology. It has occurred to me that an apology actually serves both way, i.e. both for the apologee and the apologizer. The former is obvious; and is the side that I above mean as the more “touched” side of it. The latter is the less obvious one.

Just recently, I was late to a birthday surprise event at work because somehow my calendar didn’t pop the reminder up. So after the event I apologized to the organizer (whom personally invited me to come to the event a few days prior) and explained about the calendar hiccup. But then, she unexpectedly replied with an apology to me because in the calendar the event was set as private so this might explain why I did not get the notification. And at the time, somehow I felt a little bit bad about it.

I am going to describe the situation from the latter point of view, i.e. where the apology is meant to serve the apologizer. One original intention with my apology was to admit my mistake and so that I would be freed up from my guilty feeling. For this reason, btw, in my opinion someone who is unwilling to admit any of his/her mistakes and never apologizes is actually doing more harm to him/herself internally. Anyway, this original intention was somehow “disrupted” a little bit when the organizer apologized back to me; because somehow I was positioned as the apologee where just seconds before I thought I was the apologizer. Consequently, in a way I felt like I wasn’t “punished” enough with my guilt because a part of the mistake was taken away from my side with the apology from her. I totally understand that she did not mean bad things and just wanted to help me ease my guilty feeling. But this actually got me thinking, haha…

Interesting, isn’t it? Now I understand that, indeed, apologizing does not make you “smaller”. In fact, it makes you “bigger”!

BAHASA INDONESIA

Akhir-akhir ini aku berpikir mengenai satu sisi yang (mungkin) lebih kurang “terjamah” dari suatu permintaan maaf. Aku mulai paham bahwa permintaan-maaf itu berfungsi dua arah, yaitu baik bagi yang diminta maaf dan juga bagi yang meminta maaf. Yang pertama jelas lah ya; dan ini adalah sisi yang aku maksudkan di atas sebagai sisi yang lebih sering “terjamah” darinya. Yang kedua adalah sisi yang kurang begitu jelas.

Belum lama ini, aku datang terlambat ke sebuah acara surprise ulang-tahun di kantor karena entah mengapa kalenderku tidak mengeluarkan reminder/pengingat. Jadilah setelah acaranya berakhir aku meminta maaf ke yang mengadakan acaranya (yang mana mengundangku langsung untuk datang beberapa hari sebelumnya) dan aku jelaskan mengenai masalah kalender ini. Tetapi kemudian, tak kusangka-sangka ia justru meminta maaf kepadaku karena di kalendernya, acaranya di-setting privat sehingga mungkin ini menyebabkan pengingatnya tidak hidup. Dan waktu itu, entah bagaimana aku merasa sedikit kurang enak karenanya.

Ini akan kujelaskan dari sudut pandang yang kedua, alias dari sudut pandang peminta-maaf. Satu tujuan awalku dengan meminta maaf adalah untuk mengakui kesalahanku sehingga aku terbebaskan dari perasaan bersalah. Karena alasan ini, btw, menurutku seseorang yang tidak pernah mau mengakui kesalahannya dan tidak pernah meminta maaf itu sebenarnya justru sedang menyiksa dirinya sendiri. Anyway, tujuan awal ini jadi sedikit “terganggu” karena kolegaku justru meminta maaf balik; karena tiba-tiba posisiku dari yang peminta-maaf berubah menjadi yang dimintai maaf. Sebagai akibatnya, aku sedikit merasa aku tidak “dihukum” cukup berat dari perasaan bersalahku karena sebagian kesalahanku diambil dariku dengan permintaan-maaf darinya. Aku sungguh paham kok maksudnya dia ini baik dan ia ingin meringankan perasaan bersalahku. Dan jadilah aku jadi kepikiran akan hal ini.

Menarik kan? Sekarang aku semakin paham bahwa meminta-maaf itu tidak membuat kita “kecil” atau di posisi yang lemah. Sebaliknya, meminta maaf justru membuat kita berada di posisi yang “besar”!

Advertisements

18 thoughts on “#2002 – On Apology

  1. Bener banget koh, kadang rasanya berat banget untuk minta maaf tapi setelah minta maaf plong rasanya. Lebih2 org yang kita minta permohonan maafnya juga merasa bersalah juga, jadi semakin lega. Coba kalo enggak kita mulai, kita akan terus merasa bersalah dann pikiran kita akan larut dalam rasa tsb

  2. Minta maaf itu berjiwa besar. Tapi ya jgn jadi berkelahi juga gara2 berebut jd pihak yg plg pantas minta maaf. Sering terjadi lempar bola nggak enakan begini di adat yg tata kramanya terkenal tinggi…😅 Menarik juga lihatnya sih….

  3. Iya bagus sekali sifat mau minta maaf dan memberi maaf. Biar sama2 enak klo ada sesuatu yang salah. Saya masih proses untuk melakukannya. Kadang2 malu juga untuk minta maaf, juga takut klo respons lawan kita buruk. 😀

    1. Iya 🙂 . Ah, masa ketika meminta-maaf respons lawan malah buruk? Seburuk-buruknya paling ya dicuekin. Tapi dengan begitu, at least dari sudut pandang peminta-maaf, peminta-maaf sudah mengakui kesalahannya. Jadi “beban” justru kini sepenuhnya ada di pihak yang cuek itu 🙂 .

    1. Betul. Eh tapi dua-duanya keren lho. Dengan peminta-maaf meminta-maaf, ini juga membantu yang dimintai-maaf untuk bisa memaafkan secara lebih ikhlas 🙂 .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s