Contemplation · my apartment · Thoughts · Zilko's Life

#1986 – Bed First World Problem

ENGLISH

So you know I have decided to “invest” in better products for the basic furnitures I bought for my apartment. One of those basic furnitures is my bed.

But obviously I did not buy this €5000 (after discount price) bed even though it was super comfortable. I still had some sense with my budget and spending, haha πŸ˜†

So I decided to spend a little bit more and buy a better bed for myself (Even though obviously not the €5000 after-discount bed pictured above, lol πŸ˜† ). And I have to say it was one of the best decisions I have made this year!! The bed was sooo gooooood; that it justified the amount I needed to blow invest for it.Β Haha πŸ˜† .

Though, this was not without any “problem”, of course. I mean, now that I have been accustomed to a certain standard of sleeping comfort, somehow hotel beds I encounter during my frequent travels impress me much less these days, haha πŸ˜† .

You see, before when I still lived in my rental shared-house in Delft (which came in all-furnished, i.e. I didn’t have to bring my own furniture), the bed that I got was the one on the “cheap”-er range. It was okay. I mean, I lived there for almost two years anyway and I never complained about it. So I guess I grew accustomed to it. But this also meant that everytime I travelled somewhere and stayed in a (better range) hotel, I was looking forward for the room and, especially, the bed! Haha πŸ˜†

I was really looking forward to my stay at this five-star hotel in Frankfurt last year.

But now, somehow things have changed after I got my new bed; and I didn’t really notice it at first. I was still going to my trips with pretty much the same level of excitement as before. However, somehow I stopped feeling “wowed” in terms of comfort with the beds that I got, haha πŸ˜† . I mean, those were still comfortable, obviously, but somehow the comfort just felt “normal” and not anything out of the ordinary, haha πŸ˜† .

My recent summer weekend trip to London made me realize this change. So I decided to “save” a little bit and stay at a cheap(er) place on this trip. I found what I thought was a good deal at a place which I thought was a hotel that turned out to be a guest house (hence the price). And you know, I got what I paid for. I found the bed uncomfortable and, while I managed to get some sleep, I wasn’t fully rested. Consequently, I felt sleep-deprived in the coming full working week where I needed vitamin-C supplement for two of those days to help my stamina, haha. I mean, I don’t expect it would have been this “bad” had I gone on this trip while I still lived in Delft.

I was also excited with my hotel room at Stockholm – Arlanda last year.

I don’t mean to sound like a snob here. My point is that people do adjust and adapt to their environment. And anything out of their comfort zones are deemed “unusual” and can either be perceived as “pleasure” or “pain”. And that the definition of “pleasure” or “pain” for someone can definitely change too dynamically.

Back to the bed situation, I guess this means that there is a stronger reason for me to perceive my apartment as my “home” now. As I can say it is “easier” for me to miss my bed, haha…

BAHASA INDONESIA

Jadi ceritanya aku telah memutuskan untukΒ “berinvestasi” di produk-produk yang lebih baikΒ untuk mebel-mebel dasar yang kubeli untuk apartemenku. Nah, salah satunya adalah ranjang tidurku.

Eh tetapi jelas dong aku tidak membeli ranjang seharga €5000 (sekitar Rp 75 juta, ini pun harga setelah diskon) ini walaupun memang enak banget sih. Tapi aku masih memiliki kewarasan kok dalam hal budget dan pengeluaranku, haha πŸ˜†

Jadi aku memutuskan untuk keluar biaya lebih banyak dan membeli ranjang yang lebih oke gitu deh untuk apartemenku (Walaupun bukan ranjang seharga €5000 (sekitar Rp 75 juta, segini pun harga setelah diskon) seperti di foto di atas ya, haha πŸ˜† ). Dan harus kubilang ini adalah salah satu keputusan terbaik yang kubuat tahun ini loh!! Ranjangnya memang enak bangeetttt; dan memang sepadan deh dengan biaya yang harus aku habiskan investasikan untuknya! Haha πŸ˜†

Walaupun, bukan berarti ini tanpa “masalah” juga sih. Jadi karena sekarang aku sudah mulai terbiasa dengan standar kenyamanan tidur tertentu, entah bagaimana sekarang ranjang-ranjang di hotel yang aku temui di perjalanan-perjalananku itu menjadi tidak seimpresif sebelumnya deh, haha πŸ˜† .

Jadi ceritanya di tempat tinggal shared-ku yang sebelumnya di Delft (yang mana all furnished, dalam artian aku jadi tidak perlu membeli mebelku sendiri), ranjang yang kudapatkan adalah ranjang yang tergolong lebih “murah” gitu deh. Nggak masalah sih sebenarnya. Toh aku tinggal di sana selama dua tahun dan aku tidak pernah komplain akan itu. Jadi aku toh masih bisa membiasakan diri dengannya. Tetapi ini juga berarti setiap kali aku jalan-jalan dan menginap di hotel (yang bagusan dikit), aku juga merasa tidak sabar dan excited banget terhadap kamarnya dan, terutama, ranjangnya! Haha πŸ˜†

Aku nggak sabar banget untuk menginap semalam di hotel berbintang-lima di Frankfurt ini tahun lalu.

Tetapi sekarang, hal berubah setelah aku mendapatkan ranjang baruku; perubahan yang awalnya tidak aku sadari. Aku masih pergi dalam perjalanan-perjalananku itu dengan level excitement yang sama seperti sebelumnya. Namun, entah bagaimana aku tidak lagi merasa “wow” dalam hal kenyamanan ranjang dari ranjang yang kudapat, haha πŸ˜† . Maksudku, masih nyaman-nyaman aja sih, tapi entah mengapa rasa nyamannya itu terasa “normal” dan wajar gitu, haha πŸ˜† .

Perjalanan akhir pekan musim panasku ke London baru-baru ini membuatku sadar akan perubahan ini. Jadi waktu itu aku memutuskan untuk “menghemat” sedikit dan menginap di tempat yang lebih murah. Aku menemukan penawaran yang nampak promo di tempat yang awalnya aku kira sebuah hotel. Tetapi ternyata sebenarnya tempat ini adalah sebuahΒ guest house (pantas harganya segitu). Ya jelas aku mendapatkan seperti apa yang kubayar ya. Aku mendapatkan ranjang yang bagiku tidak nyaman dan, walaupun aku toh masih bisa tertidur, badanku tidak benar-benar beristirahat. Akibatnya, aku merasa kekurangan tidur di satu minggu kerja penuh selanjutnya dimana di dua hari di antaranya aku merasa perlu minum suplemen vitamin C untuk menopang staminaku, haha. Maksudku, aku kira masalah ini tidak akan “seburuk” ini andaikata perjalanan ini aku lakukan ketika aku masih di Delft.

Aku juga excited banget dengan kamar hotelku di Stockholm – Arlanda tahun lalu.

Bukannya bermasuk sombong atau gimana gitu sih di sini. Inti dari cerita ini adalah memang benar bahwa manusia itu bisa menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Dan apa-apa yang di luar zona nyamannya akan terasa “tidak biasa” dan ketidak-biasaan ini bisa dipandang sebagai “kenikmatan” atau “kesakitan”. Dan definisi “kenikmatan” dan “kesakitan” bagi seseorang itu pun juga bisa berubah secara dinamis.

Kembali ke urusan ranjang (wedew, keterangan macam apa ini πŸ˜› ), aku rasa ini berarti aku memiliki satu alasan kuat yang membuat apartemenku terasa seperti “rumah”-ku (home) sekarang. Dimana aku bisa dengan “lebih mudah” berkata aku kangen dengan ranjangku sendiri, haha…

Advertisements

31 thoughts on “#1986 – Bed First World Problem

    1. Bener banget!! Hahaha. Dulu sewaktu sudah deal dapet apartemen ini, beberapa teman dan kenalanku juga bilang untuk urusan ranjang, mendingan inves di quality. Penting banget soalnya, hahaha πŸ˜† .

  1. Kalau sudah terbiasa dengan suatu hal pasti bakal sulit banget buat melepaskan kebiasaan itu yaa apalagi soal keperluan tidur hahaha XD Tapi kalau ranjangnya bagus setidaknya jadi lebih nyenyak tidurnya jadi keesokan harinya bisa lebih segar dari biasanya πŸ˜€

  2. Kalo ranjangnya bagus macam yg di foto2 di atas yg ada saya tidur terus gak bangun2 :-)). Masalah ranjang mempengaruhi kualitas tidur ya Ko, kalo tidurnya nyaman aktivitas pun lancar *kalimat gue macam slogan iklan aja* πŸ˜€

    1. Hahaha, iya banget! Kualitas tidur lebih baik, otomatis pikiran dan badan juga beristirahat dengan lebih optimal kan ketika tidur! Akibatnya, secara keseluruhan juga jadi lebih “sehat” gitu, hehe

    1. Iya, kualitas ranjang hotel mah beda-beda banget ya! πŸ˜› Huaaa, tergantung di rumah ranjangnya apa πŸ˜› . Di apartemenku yang sebelumnya mah ranjang murahan jadi ya gitu deh, hehe πŸ˜› . Eh tapi akhirnya terbiasa juga sih waktu itu, hmmm

  3. Aku dan S dari sebelum married sudah sepakat kalau urusan ranjang-ranjangan itu maha penting hahaha. Pokoknya kita berduanya maunya ranjang itu tempat paling comfy dan sifatnya ngangenin, and berhasil donk, sekarang tiap kali kemana-mana seringnya kangen sama ranjang kita. Menurutku ga semua hotel punya ranjang yang enak meskipun hotelnya tergolong mewah.

    1. Betul banget! Apalagi kalau sudah rumah milik sendiri ya. Ranjang harus dipilih yang nyaman banget!! Iya banget, hotel mewah belum tentu ranjangnya juga nyaman!

    1. Betul banget Non! Tempat menginap murah tapi kalau kasurnya nggak enak juga sebenarnya percuma ya. Pas bangun bukannya segar malah capek, hahaha πŸ˜† .

  4. Baru aja adekku cerita kalo beli ranjang di Belanda tuh agak ribet, soalnya ada ketebalan sekian sama keempukan sekian. Tapi kalo sudah dapat yg pas, rasanya seneng banget. Tidur nyaman nyenak badan segar, hati pun senang. πŸ˜€

    1. Hahaha, iya banget! Belum lagi kalau mau yang ukurannya mesti custom-size, bisa mesti nambah sekian minggu untuk menunggu ranjangnya “jadi”, hahaha πŸ˜† .

      Tapi beberapa toko gitu juga menyediakan garansi kok. Di toko dimana aku beli, aku dapat garansi sekian bulan andaikata nggak cocok sama tingkat keempukan kasurnya. Jadi lebih tenang deh πŸ˜› .

  5. Jadi yg dibeli apa Ko? haha #emakemakkepo.. Kami masih pakai kasur yg biasa geletakin dilantau nih. Belum berani beli yang beneran ranjang soale si kecil kalau tidur lumayan lasak, takut jatoh.. Tapi emang bener, investasi di ranjang bagus wajib bgt, secara kan kita butuh istirahat ya setelah badan seharian dipake buat cari duit πŸ˜€

    1. Huahaha, beli yang dari segi harga agak “tengahan” di tokonya Py, dan yang waktu itu stoknya masih ada soalnya butuh lumayan urgent soalnya (sudah terlanjur tanda tangan stop sewa kontrak apartemen yang lalunya), hahaha πŸ˜† .

      Ah iya ya. L gak pakai baby crib gitu Py? Betul banget, investasi di ranjang itu memang penting banget!

      1. Tempur tuh enak bangettt. Duitnya yang ga enak wkwkwkw…

        Anyway, waktu itu pernah liat flyer kasur (pas dulu lagi cari kasur), mereka bandingin kasur dan mobil gitu (kurang apple to apple) intinya kasur tuh investasi, 50 juta untuk kesehatan dan kenyamanan istirahat selama 8 jam masih worth it. Ya tapi hati ini belom rela bayar 50 juta buat kasur hahahaa

  6. Memang klo kasur yg nyaman itu beda ya, aq sama suami jg invest di kasur cari yg nyaman pas mau merid waktu itu. Dan bener, kemana2 yg dikangenin ya kasur di rumah hehehehe karena bikin enak tidur dan bangunnya jg ga pada sakit badan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s