Thoughts · Zilko's Life

#1966 – No More Student Discount

ENGLISH

No longer being a student, I guess I need to make peace with the situation where I no longer can expect to get student discounts, lol πŸ˜† . Look, obviously I prefer my situation now where I can afford more stuffs than during my student years. But still, there are times when I miss it.

Take my new membership at a tennis club nearby my place, for instance. When I first looked at how much the membership fee was, I was startled by it. I mean, I could afford it, of course, but it was a lot more than what I paid before. But then I remembered that “before”, I was a student (or was counted as one) so I could get all the benefits that came with it.

Tennis clay courts inside the balloon in TU Delft

You see, my previous tennis membership was at TU Delft’s Sports Centre; that was obviously highly subsidized by the university. In 2011,Β I joined the club as a Master student. I started my PhD in 2012 and while I got a full employment contract for that, the Sports Centre still recognized me as a student so I was still allowed the student price. Even then, during the first two years of my PhD TU Delft provided the “well-being allowance” for its employees. So basically my membership during those first two years was “free” because I could claim it back, haha. Why only the first two years, btw? Well, the financial situation (that was impacted by the European monetary crisis) was not getting much better so the university needed to cut cost here and there; one of which was this allowance. But still, with the student price, it was okay.

Back to present time, my new membership at the tennis club (including the lessons and everything) costs about seven times as much as my TU Delft one. Even then, technically I “only” get tennis while at TU Delft, I could use all the sports facilities there (football, hockey, volley ball, beach volley ball, badminton, basketball, etc), except the gym (which would have cost extra).

But indeed this is how things should work. I mean, I can afford it anyway so I definitely should not complain for not getting a subsidy. After all, I prefer being able to afford things than having to rely on subsidies πŸ˜› .

In Paris for Roland Garros this year.

BAHASA INDONESIA

Bukan lagi pelajar/mahasiswa, aku harus berdamai dengan situasi dimana aku tidak lagi bisa mengharapkan mendapatkan diskon pelajar, haha πŸ˜† . Begini, jelas dong aku lebih menyukai situasiku sekarang dimana aku lebih mampu secara finansial daripada waktu-waktuku dulu sebagai pelajar. Tetapi tetap aja rasanya kadang-kadang kangen gitu.

Mari kita ambil keanggotaan baruku di sebuah klub tenis di dekat rumahku sebagai contoh. Ketika aku pertama kali melihat biaya keanggotaannya, aku kaget sekali. Maksudku, aku mampu sih untuk membayarnya, tetapi biayanya jauh lebih besar daripada yang kubayarkan sebelumnya. Tetapi aku kemudian teringat bahwa “sebelumnya”, aku adalah pelajar/mahasiswa (atau dianggap demikian) sehingga aku juga bisa menikmati keuntungan yang datang dengannya.

Lapangan tenis tanah liat di dalam balon di TU Delft.

Keanggotaan tenisku sebelumnya adalah di Sports Centre-nya TU Delft; yang mana jelas dong disubsidi universitas. Di tahun 2011,Β aku bergabung sebagai mahasiswa Master/S2. Posisi PhD/S3-ku aku mulai di tahun 2012 dan walaupun aku mendapatkan kontrak kerja penuh untuknya, Sports Centre masih menghitungku sebagai mahasiswaΒ sehingga aku masih diperbolehkan membayar harga pelajar. Itu pun di dua tahun pertama PhDku, TU Delft masih memberikan “tunjangan kesehatan” bagi karyawan-karyawannya. Jadi pada dasarnya keanggotaanku di dua tahun pertama itu “gratis” karena biayanya bisa aku klaim ke kantor, haha. Kok cuma dua tahun saja, ngomong-ngomong? Ya, soalnya kondisi finansial universitas (yang terkena dampak krisis moneter di Eropa) tidak kunjung membaik sehingga mereka harus memangkas biaya di sana-sini; salah satunya yang kena pangkas adalah tunjangan ini. Toh walaupun begitu, dengan harga pelajar mah nggak masalah banget lah.

Kembali ke masa kini, keanggotaan baruku di klub tenis ini (termasuk biaya les dan segalanya) adalah sekitar tujuh kali lipat daripada yang aku bayarkan ke TU Delft. Begitu pun, dengan keanggotaan ini aku “cuma” mendapatkan tenis saja padahal di TU Delft, aku bisa menggunakan semua fasilitas olahraga di sana (sepakbola, hockey, voli, voli pantai, bulu tangkis, basket, dll), kecuali gym (ada biaya ekstra untuk gym).

Ya tetapi memang begini sih ya yang benar. Maksudku, toh aku mampu untuknya sehingga aku tidak boleh protes karena tidak mendapatkan subsidi kan ya. Toh aku juga lebih memilih untuk mampu melakukan ini-itu daripada harus bergantung kepada yang namanya subsidi πŸ˜› .

Di Paris untuk Roland Garros tahun ini.
Advertisements

22 thoughts on “#1966 – No More Student Discount

  1. Wah jauh banget ya bedanya, harga subsidi sama harga normal! :O dari kantor gak dapet diskonan Ko? biasanya kantor2 kan suka ngasih corporate price hehehe (tetep ngarep diskon :p)

    1. Iya awalnya aku juga syok Chris bedanya banyak banget gitu. Langsung deh sadar dengan omongan orang bahwa tenis itu olahraga mahal, ahahahah πŸ˜† .

      Ada sih corporate discount dengan satu gym chain gitu. Tapi lokasi gym-nya jauh dari rumah jadi percuma kayaknya, hahaha πŸ˜† .

  2. jadi teringat subsidi di Indonesia ya zil, yang mendapat banyak yang orang mampu πŸ˜›

    Makanya kadang walaupun udah mampu (karena keadaan) suka membandingkan pada saat kurang mampu, hihihi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s