EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#1965 – A Weekend in Berlin

ENGLISH

I went to Berlin for a weekend trip at the end of July. Here is the story of that trip.

Getting To/Back From Berlin

Deboarding a KLM’s Boeing 737-800 reg PH-BCD at Berlin-Tegel Airport

I flew direct with KLM between Amsterdam and Berlin in both directions. There was not much to tell about my departure flight with PH-BCD, a KLM’s Boeing 737-800, which was a regular pleasant short-haul flight with KLM. My returning flight with PH-BGX, a KLM’s Boeing 737-700, however, was far more interesting because: I got upgraded to Europe Business Class, again! Yeay!! 😎

The main difference between the two cabins, IMO, is not the seat, as the seats in Europe Business Class are the same as in economy except with blocked middle seat and a bit of extra legroom. It is, definitely, the food service. The following were the services on my departure flight to Berlin in economy (left) and my return flight from Berlin in Europe Business Class (right):

Snack service in Economy Class
Service in Europe Business Class

Obviously Europe Business Class comes with a sparkling wine (champagne) as a drink option as well πŸ˜† . After the meal the purser went around asking if we (the business class passengers) wanted anything else for a drink. I asked for a tea.

Btw, in business class the purser also referred me as “Mr. Zilko”. When she served my meal, she said something along the line as “Mr. Zilko, here is your meal, enjoy“; whereas in economy the flight attendants normally just use the neutral “Sir/Ma’m/Miss“.

Cheers from 41,000 feet

Berlin

As I said before, Berlin turned out to be a very vibrant and nice city that it immediately became my most favorite German city; and actually one of my most favorite European cities as well. Mostly it was the atmosphere, though, where it did not feel like “business-centric” a la Frankfurt or “too touristic”. I don’t know, it is a little bit difficult to describe. Another reason is obviously the very many interesting places across the very big city.

Alexanderplatz and Berlin Mitte

Berliner Dom, the cathedral of Berlin

Most of Berlin’s attractions are located in the Mitte area, stretching from Alexanderplatz in the east, possibly the busiest square in the city, to Tiergarten in the west. On Saturday, I walked all the way from Alexanderplatz up to the SiegessΓ€ule in Tiergarten, which I can tell you know was a long walk of almost 5 km. I walked for a total of around 15.2 km on Saturday, btw πŸ˜† .

But indeed a long the way lied many of Berlin’s famous landmarks and architectures, such as the Berlin TV Tower, the cathedral of Berlin, and the Branderburg Gate. So unsurprisingly, this was probably the most touristy area of the city as well where I saw a lot of horse carriages and rickshaws running on the main street.

The famous Brandenburg Gate

Berlin Wall and the “Dark” History

Another aspect Berlin is famous (or, rather, infamous) for is its “dark” history. You must have heard about the existence of the Berlin Wall, a wall dividing the city into West and East Berlin during the Cold War that was torn down starting in 1989 thus unifiying the city back together. Part of that wall still exists and now becomes some sort of monument. I like the one in the east side, called the East Side Gallery, where one side of the wall is used for murals.

A remnant of the Berlin Wall which divided the city into West and East Berlin during the Cold War.

Another remnant of the cold war was Checkpoint Charlie, a Berlin Wall crossing point between the two parts of the city. The guard house still exists (sort of) and now becomes a tourist attraction. Even now there are actors dressed as allied military policemen standing in front of the guard house.

At the “Checkpoint Charlie” in Berlin

Not so far way from the Brandenburg Gate was the Holocaust Memorial, a memorial to the victims of the Holocaust. I really found the design of the memorials really beautiful and artsy which formed some sort of maze.

The Holocaust Memorial in Berlin.

Summer Heat

Anyway, going to Berlin in the middle of summer, I mistakenly did not expect a lot of heat. Well, this was actually due to the weather forecast from which I learned that it would be cloudy a lot during the weekend but low precipitation so I didn’t really need to bring an umbrella. However, I was wrong big time because not only that it was not cloudy, it was actually scorching hot and apparently at some point the temperature was:

38.5 Celsius!!

Crazy!!Β πŸ˜–

The Food

In general I liked the food in Berlin as well, also that overall I did not find it to be expensive (especially in comparison to the Netherlands). However, though, I felt like the waiters there were very “forefront” about tipping, even directly asking me how much I would tip them. I am not sure if this was because probably I dined in touristy area or so. But for those more familiar with Berlin, is this really the general practice there? I mean, in other German cities I have been to, I never experienced this straight-forwardness.

Currywurst in Berlin.

Anyway, I really liked the gourmet-ish currywurst that I had in my first afternoon there. It came with fries and salad, so it did not taste anything like the “cheap” currywurst sold on the street in the entire Germany. It tasted much more “proper”, in my opinion πŸ˜› . Other than that, though, I had an Argentinian steak and a schnitzel during my stay there. The steak was great, but the schnitzel was standard.

BAHASA INDONESIA

Aku pergi ke Berlin untuk sebuah perjalanan akhir pekan di akhir Juli. Berikut ini ceritanya.

Pergi ke/dari Berlin

Turun dari pesawat Boeing 737-800nya KLM dengan rego PH-BCD di Bandara Berlin-Tegel.

Aku terbang langsung dengan KLM di perjalanan ke Berlin dan kembalinya. Nggak banyak sih yang ingin kuceritakan dari penerbangan keberangkatanku dengan PH-BCD, sebuah Boeing 737-800nya KLM, yang mana merupakan penerbangan reguler yang nyaman dengan KLM di rute jarak pendek. Penerbangan kepulangannya dengan PH-BGX, sebuah Boeing 737-700nya KLM, tapinya, jauh lebih menarik karena: aku di-upgrade ke Kelas Bisnis Eropa, lagi dong! Horee!! 😎

Perbedaan utama dari dua kabin ini, menurutku, bukanlah kursinya, karena kursi di Kelas Bisnis Eropa itu pada dasarnya sama aja kayak kursi di kelas ekonomi tetapi kursi tengahnya dikosongi dan dengan legroom yang lebih lapang. Perbedaan utamanya jelaslah di layanan makanannya. Berikut ini adalah layanan di penerbangan keberangkatanku ke Berlin di kelas ekonomi (kiri) dan penerbangan kepulanganku dari Berlin di kelas bisnis Eropa (kanan):

Layanan makanan di kelas ekonomi
Layanan makanan di kelas bisnis Eropa

Jelas lah ya kelas bisnis Eropa juga menawarkan champagne sebagai salah satu pilihan minumannya, haha πŸ˜† . Dan setelah selesai makan, purser-nya berkeliling bertanya apakah kami (penumpang kelas bisnis) ingin minum apa lagi gitu. Aku meminta segelas teh hangat.

Btw, di kelas bisnis purser-nya juga memanggilku dengan sebutan “Mr. Zilko” loh. Ketika menyajikan makananku, ia kurang lebih berkata “Mr. Zilko, here is your meal, enjoy“; sementara kalau di ekonomi kan paling pramugari/a-nya menggunakan panggilan netral semacam “Sir/Ma’m/Miss” gitu ya, haha.

Cheers dari ketinggian 41.000 kaki

Berlin

Seperti yang sudah kusebutkan, ternyata Berlin adalah kota yang hidup banget dan asyik sehingga otomatis langsung menjadi kota di Jerman favoritku; dan bahkan sebagai salah satu kota favoritku di Eropa loh. Utamanya karena atmosfernya sih, asyik banget gitu dimana tidak terasa “bisnis banget” a la Frankfurt tetapi tidak juga “terlalu touristy“. Hmm, memang cukup sulit untuk dideskripsikan dengan kata-kata, haha. Salah satu alasan lainnya jelas karena ada banyak banget tempat menarik di kota yang berukuran besar ini.

Alexanderplatz dan Berlin Mitte

Berliner Dom, katedralnya Berlin

Kebanyakan atraksinya Berlin berada di area Mitte, yang terentang dari Alexanderplatz di timur, mungkin lapangan paling sibuknya Berlin, sampai ke Tiergarten di barat. Di hari Sabtu, aku berjalan-kaki loh dari Alexanderplatz sampai SiegessΓ€ule di Tiergarten, yang mana ternyata jauh juga dimana jaraknya hampir 5 km. Btw hari Sabtu itu aku berjalan-kaki sejauh sekitar 15,2 km loh totalnya, haha πŸ˜† .

Tetapi memang kok di sepanjang jalan ini banyak banget landmark-nya Berlin yang kece-kece, misalnya Menara TVnya Berlin, katedralnya Berlin, dan juga Gerbang Brandenburg. Jadi, tidak mengherankan, area ini mungkin adalah area yang paling touristy di kota ini dimana aku banyak melihat kereta kuda dan becak juga di jalanannya.

Gerbang Brandenburg yang terkenal itu

Tembok Berlin dan Sejarah “Kelam”

Satu aspek lain yang terkenal dari Berlin adalah sejarah “kelam”-nya. Pasti pernah dengan kan mengenai keberadaan Tembok Brlin, sebuah tembok yang membagi kotanya menjadi Berlin Barat dan Timur sewaktu Perang Dingin dan diruntuhkan mulai tahun 1989 sehingga kotanya bersatu kembali. Nah, sebagian dari tembok itu masih berdiri dan sekarang dijadikan monumen. Aku suka bagiannya di sisi timur, yang disebut East Side Gallery, dimana salah satu sisi temboknya diisi banyak mural.

Satu peninggalan Tembok Berlin yang membagi kotanya menjadi Berlin Barat dan Timur sewaktu Perang Dingin.

Satu peninggalan dari Perang Dingin lainnya adalah Checkpoint Charlie, tempat penyeberangan Tembok Berlin di antara kedua bagian kota. Bangunan penjagaannya masih ada (kurang lebih begitu) dan kini menjadi atraksi turis, haha. Bahkan ada aktor yang berkostum sebagai polisi militernya Sekutu di sana loh.

Di “Checkpoint Charlie” di Berlin

Tak jauh dari Gerbang Brandenburg adalah Holocaust Memorial, tempat untuk mengenang korban dari Holocaust. Aku suka sekali disainnya yang bagiku nampak indah dan berseni sekali yang membentuk semacam labirin.

Holocaust Memorial di Berlin.

Panasnya musim panas

Anyway, pergi ke Berlin di tengah-tengah musim panas, aku malah tidak mempersiapkan diri akan panasnya loh. Ya habis gimana, ramalan cuacanya mengatakan cuaca akan mendung tetapi curah hujan rendah sehingga aku tidak perlu membawa payung. Ternyata, aku salah banget karena selain cuacanya tidak mendung, malah panas banget loh dan ternyata di satu waktu mencapai:

38,5 derajat Celsius!!

Gila kaaan!!Β πŸ˜–

Makanannya

Secara umum aku juga suka makanan di Berlin, apalagi bagiku rasanya tidak terlalu mahal (jika dibandingkan dengan Belanda), haha. Namun, aku kok merasa pelayan-pelayannya cukup agresif juga ya dalam hal meminta tips, bahkan bertanya langsung kepadaku aku ingin memberikan tips berapa. Aku nggak tahu sih apakah ini disebabkan aku makan di tempat-tempat yang banyak turisnya atau gimana. Bagi yang familer dengan Berlin, apakah memang seperti itu di sana? Soalnya, di kota-kota Jerman lainnya, aku tidak pernah menghadapi situasi se-straight-forward ini.

Currywurst di Berlin.

Anyway, aku suka banget currywurst yang nampak lebih gourmet sebagai makan siang pertamaku di sana. Sosisnya disajikan dengan kentang goreng dan salad, dan tidak terasa seperti currywurst “murahan” yang banyak dijual di jalanan di seluruh Jerman. Rasanya lebih “proper” gitu, haha. Selain itu, aku malah makan steak ala Argentina dan schnitzel. Steak-nya sendiri enak tetapi schnitzelnya standar lah.

Advertisements

18 thoughts on “#1965 – A Weekend in Berlin

  1. Emang yah kalau kita dipanggil dengan embel2 nama kita, suka bikin amazed, artinya yah orangnya memang perhatian, sampe gak cuma panggil sir.. Langsung gimana gitu yah dipanggil dengan ada namanya.. hehe..

  2. Perbedaannya jauh banget ya pelayanan ekonomi dan bisnis hahaha. Di berlin ternyata ada banyak spot-spot bagus untuk foto-foto juga ya kak Zilko. aku paling penasaran sama Gerbang Brandenburg karena paling sering lihat di foto2 instagram hahaha XD

    1. Iya panasnya gila. Haha, bukan “Sir [nama]” lah, karena panggiran Sir disertai nama ini adalah panggilan hanya bagi orang-orang yang telah diberikan penghargaan khusus
      .

  3. wah, berarti kalau ke eropa selain ke belanda (yang emang jadi target utama πŸ˜› ) harus mampir ke jerman neh yak (aduuuh, kapan ya ke eropanya si irni >.< πŸ˜› )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s