EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#1960 – A Weekend Story

ENGLISH

As my Instagram followers (@azilko) have known, I went on a weekend trip this weekend! But now, the destination was not in the UK, though it would have been understandable if you would guess so because of my recent UK visa application, it was actually Berlin, in Germany, haha.

At the “Checkpoint Charlie” in Berlin

I planned this trip before I got my UK visa. And I already knew at the time that I would likely to go on a rather lengthy “flight-free” streak due to the application so I would better make a plan to not make it any lengthier, haha. At the time I found an okay return ticket to Berlin with KLM so I thought why not. Though, indeed luckily my streak was broken two weeks earlier with my impulsive weekend trip to London two weeks ago. I had never been to Berlin before and I had heard good stuffs about it.

Anyway, as it turned out: I LOVE Berlin!! 😍 Berlin was indeed very beautiful and there were a lot of interesting places all around the city. So far, Berlin has become my most favorite German city!!

But it turned out that a weekend was definitely not enough for a first-time visit there, haha. So I definitely need to go back again sometimes in the future. Hmm…

BAHASA INDONESIA

Seperti yang followers Instagramku (@azilko) ketahui, aku pergi dalam sebuah perjalanan akhir pekan kemarin ini! Tetapi, kali ini tujuannya bukan di Inggris Raya (UK), walaupun masuk akal sih kalau menebak aku pergi ke sana karena aplikasi visa UK-ku baru-baru ini. Tujuannya adalah Berlin di Jerman, haha.

Di “Checkpoint Charlie” di Berlin

Aku sudah merencanakan perjalanan ini sebelum aku mendapatkan visa UK-ku. Waktu itu aku sudah tahu sepertinya aku akan memasuki periode “bebas terbang” yang agak panjang karena aplikasi visaku itu sehingga aku harus mulai membuat rencana supaya periodenya nggak berkepanjangan dong ya, haha. Waktu itu, aku menemukan tiket pp yang harganya oke ke Berlin dengan KLM sehingga aku berpikir mengapa tidak. Walaupun pada akhirnya aku beruntung sih periode ini berakhir dua minggu lebih cepat dengan perjalanan akhir pekan dadakanku ke London dua minggu yang lalu. Aku belum pernah ke Berlin sebelumnya dan aku sudah sering mendengar cerita yang seru dari sana.

Anyway, jadi ternyata aku SUKA BANGET sama Berlin!! 😍 Jadi ternyata Berlin memang kota yang indah banget dan ada banyak sekali tempat menarik di seluruh kotanya. Sejauh ini, Berlin telah menjadi kota di Jerman yang paling kusukai deh, hehe.

Namun, ternyata satu akhir pekan aja nggak cukup deh untuk perjalanan pertama kali ke kota ini, haha. Jadi memang kapan-kapan aku harus kembali lagi nih. Hmm…

Advertisements
my apartment · Zilko's Life

#1959 -What I Like About My Apartment

ENGLISH

Some time ago I shared a couple of first world problems I had with my apartment. And so to balance things out, in this post I would like to share what I (really) like about it. Okay, there are many of reasons (otherwise why would I commit to the biggest purchase I have ever done, so far, in my life in the first place 😛 ), and in this post I will start with one.

And that is that my apartment building is new. By new, I mean it was built in the 2000s. While this means that, indeed, from the outside it does not look like what you might picture of a Dutch house, probably something like this:

Buildings in Amsterdam centrum.

I actually prefer my apartment much better than those “cute” centuries-old Dutch buildings. Why?

First of all, as Barney Stinson’s one rule:


Yes, “new is always better”. Lol 😆 .

In this particular case, especially, this rule is right. You see, science is progressing, even at exponential speed; which means people can build “better” (in whatever sense) buildings now.

My previous apartment in Delft was in the centrum and so it was built a few hundred years ago which, of course, made it look “cool” and very “Dutch”. However, while it was overall a nice apartment, to be honest I did not enjoy it at all during the hot summer days. Why? Well, my conjecture (based on my observation and experience) is that because old buildings appear to be designed to trap the heat inside (for winter time) and so this is exactly what they do. It became really, really uncomfortably hot during those days, even at night, due to the heat! I notice that new(er) buildings (also my previous apartment before that, which was built in the 1960s) tend to have better “air flow” in them, thus making them much more comfortable to live in during the summer as it was chill inside even without air conditioner.

Another “complaint” I have often heard from my colleagues living in old Dutch buildings in Amsterdam is that you would need to be “intimate” with your neighbours. In the sense that, well, they can hear any noise coming from your apartment and this means that the reverse is also true. If you know what I mean, lol 😆 .

I know that I am quite a light sleeper so I would definitely much rather live in a soundproof apartment, haha 😆 . And newer apartments tend to cater that need. The concrete structure is also a good barrier for noise!

Another common “problem” with old pretty Dutch houses in Amsterdam is: rodents! I had this problem in my first ever student studio apartment in Delft and I really, really hated it; even though the studio was relatively new. This was actually a point I made clear to my agent during my apartment hunt: I wanted a house with no rodents problem! Lol 😆 (My agent’s wife bursted her laugh at the time, but she understood my concern). And of course, the best bet for that was new(er) buildings.

A new residential tower in Delft.

Beside, pretty buildings are high-maintenance as well, I believe. I mean, many of those in Amsterdam are also declared monuments. This means that even though you are the owner, you cannot just “renovate” your own place however you like as you would need to consult it first! I even heard sometimes this has to be settled at the court!

***

Well, despite all these, of course it does not mean that new apartment comes with no problems at all. I mean, just remember the mini renovation I had to do with my shower room not too long ago. But still, overall, I still believe there are more pros than cons with newer building than older one; especially when you plan to own it (or part of it)!!

BAHASA INDONESIA

Beberapa waktu yang lalu, aku menyebutkan dua first world problems yang berkenaan dengan apartemenku. Nah supaya adil, di posting ini aku akan menuliskan apa yang kusukai darinya. Oke, jelas ada banyak lah ya alasannya (nggak mungkin juga kan aku mau berkomitmen terhadap kesepakatan pembelian yang melibatkan nominal terbesar yang pernah kulakukan seumur hidup, sejauh ini, jika tidak 😛 ), dan di posting ini aku mulai dengan salah satunya.

Yaitu bahwa gedung apartemenku adalah gedung baru. Dengan baru, maksudku gedungnya dibangun di tahun 2000an. Walaupun memang ini berarti dari luar penampakannya mungkin tidak seperti yang kalian bayangkan akan rumah-rumah Belanda, mungkin seperti ini:

Gedung-gedung di centrum-nya Amsterdam.

Aku sebenarnya malah lebih suka begini loh daripada gedung-gedung Belanda “kece” yang sudah berusia ratusan tahun itu. Kok begitu?

Pertama-tama, seperti satu aturannya Barney Stinson:


Yup, “new is always better“. Huahaha 😆 .

Dan di kasus ini, aturan ini benar sekali. Jelas dong iptek terus berkembang maju, bahkan dengan laju eksponensial; yang mana artinya sekarang manusia bisa membangun bangunan yang “lebih baik” (dalam sudut pandang tertentu).

Apartemenku sebelumnya di Delft berlokasi di centrum yang berarti dibangun sekian ratus tahun yang lalu, sehingga memang penampakannya “kece” dan “Belanda” banget gitu deh. Namun, walaupun apartemennya nyaman, sejujurnya aku tidak terlalu bisa menikmatinya di hari-hari panas di musim panas. Mengapa? Konjekturku (berdasarkan observasi dan pengalamanku) adalah karena bangunan-bangunan tua itu sepertinya dulu didisain untuk memerangkap energi panas (untuk musim dingin) sehingga ya ini lah yang bangunannya lakukan. Sebagai akibatnya, apartemennya sungguh amat tidak nyaman untuk ditinggali di hari-hari musim panas itu, bahkan di malam hari, saking panasnya! Nah, aku perhatikan gedung-gedung yang (lebih) baru (juga apartemenku yang sebelum itu, yang dibangun di tahun 1960an) cenderung memiliki “aliran udara” yang lebih baik di dalamnya, sehingga jauh lebih nyaman untuk ditinggali di musim panas karena tetap terasa adem bahkan tanpa AC.

Satu “komplain” lain yang kerap kudengar dari kolega-kolegaku yang tinggal di gedung-gedung Belanda tua di Amsterdam adalah mau tidak mau kita harus “intim” dengan tetangga-tetangga kita. Dalam artian, mereka bisa mendengar segala suara dari apartemen kita dan artinya yang sebaliknya juga berlaku. If you know what I mean, huahaha 😆 .

Yah, aku kan memang light sleeper ya sehingga jelas aku lebih suka tinggal di apartemen yang kedap suara, haha 😆 . Dan apartemen-apartemen baru cenderung memenuhi kebutuhan ini. Struktur betonnya juga berfungsi sebagai peredam suara yang baik!

Satu “masalah” umum lain dengan rumah-rumah tua Belanda di Amsterdam adalah: tikus! Aku memiliki masalah ini di apartemen studio mahasiswa pertamaku di Delft dan aku sungguh, sungguh membencinya; walaupun studio itu relatif baru sih. Poin ini bahkan aku tegaskan ke agenku lho ketika di tahap pencarian apartemen: Aku tidak mau rumah yang ada tikusnya! Haha 😆 (Istri dari agenku sampai tertawa loh waktu itu, tetapi ia paham banget dengan keinginanku ini kok 😛 ). Dan tentu saja, untuk itu pilihan yang aman adalah gedung-gedung yang (lebih) baru.

Sebuah menara tempat tinggal bari di Delft.

Di samping itu, gedung-gedung cantik itu juga high-maintenance lah. Maksudku, banyak lho gedung-gedung itu di Amsterdam yang dideklarasikan sebagai monumen (mungkin seperti golongan “cagar budaya” gitu kalau di Indonesia). Ini artinya walaupun kita adalah pemilik rumah itu, kita tidak bisa seenaknya “merenovasi” rumah kita karena kita harus mengonsultasikannya dulu! Dengar-dengar bahkan urusannya bisa sampai di pengadilan juga!

***

Yah, walaupun begitu, tentu bukan berarti apartemen baru tidak memiliki masalah lah ya. Misalnya saja, renovasi mini yang mesti kulakukan di kamar mandiku belum lama yang lalu. Tetapi tetap saja, secara keseluruhan aku rasa lebih banyak keuntungan daripada kerugiannya dari tinggal di gedung yang baru; terutama jika kita berencana untuk memilikinya (atau sebagian darinya)!!

Miscellaneous · Photo Tales

#1958 – Photo Tales (42)

ENGLISH

The theme of this Photo Tales post is my latest experiments in the kitchen!

Photo #93

A duck fillet steak experiment

My long weekend trip to Lyon gave me a kitchen experiment inspiration for a duck fillet steak. At the time it hit me how I could never think about it as it appeared not very complicated!

While the cooking part was not that complicated, indeed; the grocery shopping part was, haha 😆 . It appeared to me that duck meat was not *that* popular here in the Netherlands. I mean, the supermarket sold it; but it was not as “visible” and “plenty” as the other types of meat. As I could not find it in my first attempt, I resorted to Google to find out that the supermarket only sold one “type” of duck fillet. It was boxed and was put in a special chiller for boxed stuffs, haha. It certainly made the meat look more “premium”, though, and this might partly explain the price, haha.

Anyway, I liked it! Though I am not sure if I am going to cook it that often, due to the higher proportion of fat (thanks, my nutrition app). Even though this might be because of the skin; in which case the fat would not be a problem if I just ignored the skin. But you know, ignoring a crispy skin on your plate in front of you sounds like a difficult thing to do, haha 😆 .

Photo #94

A high protein meal experiment

Speaking of the nutrition app, aside from reducing my consumption of fat, I am also trying to increase my consumption of protein. And this motivated this experiment to cook the pictured high protein meat, haha.

Lean red meat is obviously low in fat and is delicious for a steak, so that is a given. And then we all know that tempe (I know it is spelled “tempeh” in English but it just feels weird for me to type so. So I am typing it in the original Indonesian spelling here 😛 ) is rich in protein. And before I moved to Amsterdam, my ex-housemate told me about the existence of this “bimi” vegetables, which is a hybrid between brocolli and kailan and also has high amount of protein.

Surprisingly (or not?), the dish worked well!! 😀 For this one, though, I am sure I am cooking this more often (at least more often than the duck fillet dish 😛 ).

BAHASA INDONESIA

Tema dari posting Photo Tales kali ini adalah percobaanku akhir-akhir ini di dapur!

Foto #93

Percobaan steak filet bebek

Perjalanan akhir pekanku ke Lyon memberiku inspirasi untuk mencoba memasak steak filet bebek. Waktu itu, aku cukup heran mengapa aku tidak pernah kepikiran sebelumnya karena nampaknya masakan ini tidak begitu sulit untuk dibuat!

Walaupun memang bagian masakanya nggak begitu rumit; ternyata justru bagian belanjanya yang agak rumit, haha 😆 . Ternyata daging bebek itu nggak begitu populer di Belanda. Maksudku, memang sih dagingnya dijual di supermarket; tetapi nggak begitu “kelihatan” dan “banyak” seperti tipe-tipe daging lainnya gitu. Karena gagal menemukannya di usaha pertamaku untuk membelinya, aku meng-google-nya dan ternyata supermarketnya cuma menjual satu “jenis” filet bebek. Filet ini dibungkus dalam kotak dan ditaruh di satu chiller khusus bersama dengan daging-daging kotakan lainnya, haha. Memang sih ini membuat dagingnya nampak lebih “premium” dan mungkin ini sedikit menjelaskan harganya, haha.

Anyway, tapi aku suka! Walaupun aku nggak yakin sih aku akan sering-sering memasaknya karena tingginya kandungan lemak (thanks, app nutrisiku). Walaupun mungkin ini disebabkan oleh kulit bebeknya sih; yang mana jika demikian artinya tidak akan masalah jika kulitnya aku abaikan. Tapi tahu lah, susaaah untuk mengabaikan kulit crispy yang tersaji di piring di depan kita kan, hahaha 😆 .

Foto #94

Percobaan menu kaya protein

Ngomingin app nutrisi, di samping mengurangi konsumsi lemak, aku juga berusaha meningkatkan konsumsi protein. Dan ini memotivasiku untuk memasak makanan kaya protein di foto di atas, haha.

Daging merah rendah lemak jelas rendah kandungan lemaknya (menurut ngana? 😆 ) dan enak untuk dimasak steak. Dan kita tahu lah tempe itu kaya protein. Dan sebelum aku pindah ke Amsterdam, mantan housemate-ku memberi-tahuku mengenai keberadaan sayuran yang bernama “bimi”, yang merupakan hasil persilangan brokoli dan kailan dan memiliki kandungan protein yang tinggi.

Dan ternyata, aku juga suka masakan ini!! 😀 Nah, untuk yang ini, aku yakin aku akan memasaknya lebih sering sih (setidaknya lebih sering daripada steak bebek filet 😛 ).

Aviation · EuroTrip · Trip Report · Vacation · Weekend Trip

#1957 – An Impulsive Wimbledon 2017 Trip (Part I: Getting to London and Back)

ENGLISH

Posts in the An Impulsive Wimbledon 2017 Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to London and Back
3. Part II: Wimbledon 2017

***

In short, I followed the same travelling strategy to London as two years ago. IMO, this strategy was quite efficient and economical given the last-minute nature of the trip.

Getting to London

I started the trip by taking the Hoek van Holland – Harwich ferry boat on Friday evening which arrived on Saturday morning. The timing was perfect because I could go straight to Wimbledon after arriving in London with the regional train service from Harwich. Also, this saved me one night of London’s expensive hotel room, haha 😛 .

Anyway, so straight from work, I went to Amsterdam Centraal to take the train to Hoek van Holland. Apparently the Hoek van Holland station was being renovated at the time and so I had to take a bus service from Schiedam.

Boarding Stena Britannica

I arrived at the international port a little bit too early today where check-in had not yet been opened. Long story short, finally they started boarding passengers at around 7:30 PM and I went to my cabin (the cheapest still available one, obviously 😛 ). This was my third time taking this ferry service, the other two being once obviously two years ago and another once three years ago in the winter, so I wouldn’t get to too much details here.

Fish and chips dinner

I had dinner at the restaurant, where I ordered a fish and chips menu. Then I walked about the boat where the facility was quite cozy. It was quite crowded, btw, and I guessed most passengers were passengers with vehicles since I did not notice a lot of “foot passengers” in the departure terminal. Anyway, the boat left the dock at around 9:50 PM and then off to the English Channel we went! I then had a big glass of cider before heading for bed.

Off to the sea!!!

I got up at 5 AM (British time), showered, packed all my stuffs, and headed down to the main deck for my breakfast. The breakfast was a buffet English breakfast which was just okay. Anyway, the walkway connecting the boat with the terminal building was broken this time (just like two years ago) so we were taken to the port with bus at 6:30 AM. I cleared immigration and waited for my train service to London Liverpool Street via Manningtree at 7:33 AM. Here, I realized I should have bought the rail and sail ticket so I could have taken the earlier 7:20 AM, haha. Anyway, both trains were on time so it was really convenient, and I arrived at London Liverpool Street station just before 9 AM.

Back in London!!

Back from London

As I would spend the whole Saturday in London, I planned to come back to Amsterdam on Sunday. Of course, this time I would just fly. And this was where I missed Garuda Indonesia’s fifth freedom Amsterdam – London-Gatwick route which they closed last year. A last-minute London (any airports, London is served by six airports, btw 😮) – Amsterdam ticket was quite expensive these days! Haha 😆 . Back in the day, Garuda still offered their promotional fare even for last-minute reservations. This time, the cheapest option would be to fly out of London at around 7 AM on Sunday but obviously I would never do that, lol 😆 . So I went with the second cheapest option that was easyJet’s afternoon flight out of London-Gatwick.

I missed Garuda Indonesia’s AMS-LGW route which they served using their Boeing 777-300ER. Pictured here was PK-GID at London-Gatwick from two years ago.

Anyway, obviously I did not have time to go around London this time. Even though I did manage to stop by for maybe 10 minutes at the Buckingham Palace as I was staying in the Victoria area, haha. Buckingham Palace was super busy at the time, due to the ceremony involving the famous royal guards there.

A royal guard at Buckingham Palace

I then took the regular train from London – Victoria Station to Gatwick Airport. It was quite convenient where the journey took about half an hour. I already checked-in online so I went straight to security and then to the departure area.

As I was quite early and actually had not had breakfast anyway, I decided to have brunch at my favorite restaurant, Jamie’s Italian, at the airport! Haha 😛 . I had their Italian steak and fries, and swapped the fries with my favorite polenta chips 😛 .

Italian steak and polenta chips at Jamie’s Italian

At about 3:20 PM, boarding for my easyJet flight EZY 8885 to Amsterdam started. Quite funnily, though, even though the gate was equipped with an air bridge, easyJet did not use it and the passengers had to board by going down and up a pair of stairs, haha. Anyway, the flight would be with an Airbus A320-200 reg G-EZWY (equipped with sharklets) and then I settled onto my 8A seat.

Breaking my flight-free streak at six weeks with this easyJet’s Airbus A320-200 reg G-EZWY

The last time I flew easyJet was three years ago, coincidentally also on the London-Gatwick – Amsterdam sector. Unsurprisingly easyJet had retrofitted their cabin in the meantime, and this time I felt like they had really generous legroom! This was made possible by the new very thin seats they installed, and this generosity obviously came with a price because easyJet still fitted their A320 with 180 seats (almost the maximum capacity of this type): the seats did not recline.

EasyJet’s new seat, very slim hence more legroom, but non-reclinable

Anyway, boarding went quite efficiently, and we took off from runway 26L. It was a typical uneventful flight with an LCC to Amsterdam. The flight attendants went on a round to sell stuffs, but I did not buy anything, haha. At 5:50 PM, we landed at Schiphol Airport. Upon arrival, I found it funny that they announced that we were about 10 minutes ahead of schedule. But actually, we landed at the friggin’ Polderbaan so the early arrival would get negated by the long taxi to the terminal we would have to do anyway, haha.

G-EZWY parked at one of the LCC stand in Pier H/M. I got off the plane (via stairs) and headed to the terminal, cleared immigration, and took the train to go back to Amsterdam 🙂 .

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri An Impulsive Wimbledon 2017 Trip:
1. Introduction
2. Part I: Getting to London and Back
3. Part II: Wimbledon 2017

***

Secara singkat, aku menggunakan strategi yang sama untuk pergi ke London seperti dua tahun yang lalu. Menurutku, strategi ini cukup efisien dan ekonomis mengingat kondisi perjalanan ini yang serba dadakan.

Berangkat ke London

Perjalanan aku mulai dengan menaiki kapal feri Hoek van Holland – Harwich di Jumat malam dan tiba Sabtu pagi. Waktunya sempurna banget karena aku bisa langsung pergi ke Wimbledon begitu tiba di London setelah naik kereta regional dari Harwich. Juga, ini menghemat biaya hotel satu malam di London yang mahal banget itu kan, haha 😛 .

Anyway, sepulang kerja, aku langsung pergi ke Amsterdam Centraal untuk naik kereta ke Hoek van Holland. Rupanya waktu itu stasiun kereta Hoek van Holland sedang direnovasi sehingga aku harus naik bus yang berangkat dari Schiedam.

Menaiki kapal Stena Britannica

Aku tiba di pelabuhan internasionalnya agak terlalu awal dimana check-in-nya masih belum dibuka waktu itu. Singkat cerita, penumpang dipersilakan naik kapal sekitar jam 7:30 malam dan aku langsung pergi ke kabinku (yang paling murah dan masih tersedia tentunya 😛 ). Ini adalah kali ketiga aku menaiki layanan feri ini, dua kali yang sebelumnya adalah sekali dua tahun yang lalu dan sekali tiga tahun lalu di musim dingin, jadi aku tidak akan menuliskan terlalu banyak detailnya sekarang.

Makan malam dengan fish and chips 

Aku makan malam di restoran kapalnya, dimana aku memesan menu fish and chips. Lalu aku mengelilingi kapalnya yang memiliki banyak fasilitasnya sehingga lumayan nyaman. Hari ini kapalnya cukup ramai, btw, dan aku tebak sih kebanyakan penumpang adalah penumpang yang membawa kendaraan pribadi karena kulihat tidak ada banyak “penumpang pejalan-kaki” di terminal keberangkatan. Anyway, kapalnya diberangkatkan sekitar jam 9:50 malam dan langsung kami berlayar menuju Selat Channel! Setelahnya aku minum segelas besar cider sebelum pergi ke kabin untuk tidur.

Berangkat menuju ke laut!!!

Aku bangun sekitar jam 5 pagi (waktu Inggris), mandi, mem-packing barang bawaanku, dan kemudian turun ke dek utama untuk sarapan. Sarapannya adalah sarapan buffet ala Inggris yang mana rasanya biasa saja. Anyway, gabarata di Harwich rusak lagi kali ini (seperti dua tahun lalu) sehingga kami diantar ke pelabuhannya dengan bus jam 6:30 pagi. Aku melewati imigrasi dan menunggu keretaku ke London Liverpool Street jam 7:33 pagi dengan berganti-kereta di Manningtree. Aku baru sadar saat itu seharusnya aku membeli tiket rail and sail sehingga aku bisa menaiki kereta yang lebih awal, jam 7:20 pagi, haha. Anyway, kedua kereta yang kunaiki untungnya berangkat tepat waktu kok dan cukup nyaman, dan aku tiba di stasiun London Liverpool Street sebelum jam 9 pagi.

Kembali di London!!

Kembali dari London

Karena aku akan menghabiskan sepanjang Sabtu di London, aku berencana kembali ke Amsterdam di hari Minggu. Tentu saja, kali ini aku naik pesawat. Dan di sini lah aku kangen dengan penerbangan kebebasan kelimanya Garuda Indonesia rute Amsterdam – London-Gatwick yang mereka tutup tahun lalu. Tiket penerbangan last minute dari London (bandara mana pun, London memiliki enam bandara, btw 😮) ke Amsterdam itu lumayan mahal akhir-akhir ini! Haha 😆 . Dulu, Garuda masih menjual tiket promonya loh bahkan untuk reservasi dadakan. Kali ini, opsi termurah adalah terbang dari London sekitar jam 7 pagi di hari Minggu tapi jelas dong ya aku ogah, haha 😆 . Jadilah aku memilih opsi termurah kedua yaitu dengan penerbangan sorenya easyJet dari London-Gatwick.

Aku kangen dengan rute AMS-LGWnya Garuda Indonesia yang mereka layani dengan pesawat Boeing 777-300ER. Foto di atas adalah PK-GID di Bandara London-Gatwick dua tahun yang lalu.

Anyway, jelas kali ini aku tidak memiliki banyak waktu untuk berkeliling London. Walaupun aku masih sempat untuk mampir 10 menitan di Istana Buckingham sih karena aku menginap di area Victoria, haha. Istana Buckingham ramai banget waktu itu, karena sedang ada upacara yang melibatkan penjaga istananya yang beken banget itu.

Seorang penjaga di Istana Buckingham

Kemudian aku menaiki kereta reguler dari London – Victoria menuju Bandara Gatwick. Perjalanannya sekitar setengah jam. Karena sudah check-in online, aku langsung menuju pemeriksaan sekuriti dan masuk ke area keberangkatan.

Karena aku datang awal dan juga belum sarapan, aku memutuskan untuk brunch di restoran favoritku, Jamie’s Italian, di bandara! Haha 😛 . Aku memesan steak Italia kali ini, dan meminta menukar kentang gorengnya dengan polenta chips kesukaanku itu 😛 .

Steak Italia dan polenta chips di Jamie’s Italian

Sekitar jam 3:20 sore, boarding penerbangan EZY 8885ku ke Amsterdam dimulai. Lucunya, walaupun gerbangnya dilengkapi gabarata, easyJet tidak menggunakannya dong dan penumpang mesti naik ke pesawat dengan menuruni tangga dan kemudian menaiki tangga lagi, haha. Anyway, penerbangannya akan dioperasikan oleh sebuah Airbus A320-200 rego G-EZWY (yang dilengkapi dengan sharklets) dan setelahnya aku duduk di kursi 8Aku.

Memutuskan rekor “bebas-penerbangan”-ku setelah enam minggu dengan Airbus A320-200nya easyJet dengan rego G-EZWY ini.

Terakhir kali aku naik easyJet adalah tiga tahun lalu, kebetulan juga di sektor London-Gatwick – Amsterdam. Tidak mengejutkan bahwa di selama tiga tahun ini mereka juga telah mendisain ulang kabinnya, dimana kali ini aku merasa legroom-nya mantap banget! Ini dimungkinkan oleh kursi generasi barunya yang super ramping itu, dan tentu saja kemurahan-hati ini juga harus dibayar karena easyJet tetap mengisi A320 ini dengan 180 kursi (nyaris kapasitas maksimal pesawat tipe ini): kursinya tidak bisa digerakkan/dimundurkan.

Kursi barunya easyJet, amat ramping sehingga legroom-nya lebih lapang, tetapi tidak bisa digerakkan.

Anyway, boarding berlangsung cukup efisien, dan kami lepas landas dari landasan pacu 26L. Ini adalah penerbangan uneventful seperti biasanya dengan LCC ke Amsterdam. Pramugara-pramugaranya menawarkan barang dagangan di penerbangan ini, tetapi aku tidak membeli apa-apa. Jam 5:50 sore, kami mendarat di Bandara Schiphol. Setelah mendarat, pramugaranya mengumumkan bahwa kami mendarat 10 menit lebih cepat daripada jadwal. Aku merasa lucu karena kami mendarat di Polderbaan laknat itu sehingga biarpun kami mendarat lebih cepat, pada akhirnya toh akan sama saja karena taxiing ke terminalnya kan lama banget, haha.

G-EZWY parkir di salah satu tempat parkir LCC di pier H/M. Aku menuruni pesawatnya (pakai tangga) dan menuju ke terminal, melewati imigrasi, dan naik kereta untuk kembali ke Amsterdam 🙂 .

General Life · working life · Zilko's Life

#1956 – Some Stories This Week

ENGLISH

A Team Outing

On Tuesday, my team organized a team outing, which I obviously joined. I was quite excited because I had to miss the previous opportunity due to a power outage which crippled the entire Dutch railway network. Mind that back then I was still living in Delft and obviously the power outage had to happen on that day of all time, haha 😆 .

Anyway, the activity for the team outing this time was a GPS augmented reality city game in Amsterdam. We were split into several (six) teams and each team was given an iPad and a bag of tools to solve several puzzles. The puzzles were spread throughout the city of Amsterdam and we had to physically go these spots as indicated in the map. In some sense it was like a combination of Pokemon Go and The Amazing Race, haha 😆 . The teams were also competing against each other and we also could check our current standing at any time, haha.

It was fun! Though we (my team) felt like we were being cheated because the answer of one puzzle was wrong gramatically, so our grammatically correct answer was marked as wrong. Though, to be fair, every team got the same set of questions so at least it was wrong for everyone, haha. My team did not do quite well during the game, so our goal was not to come in last. And in the end, we came in fifth, which had it been a leg on The Amazing Race, at least we would have not gotten eliminated, hahaha 😆 .

A team outing like this was fun, though. Beside the, obviously, fun, I felt like I could learn about the characters and personalities of some of my team members, hehe 🙂 . I felt like I could get to know them better.

A haircut

Anyway, it has been more than two months since I got a haircut so it was time for another one. I felt like my hair had been a bit too long anyway.

Actually, a few weeks back I got a flyer in my mailbox about a new barbershop  that was giving away some discount. But I did not feel like trying a new place this time, plus I really liked the last result of the other barbershop. So I decided to come back. This time, though, I learned from my last visit and made an appointment online since a few days before so I wouldn’t need to wait for too long, haha.

I am satisfied with the result, again, but of course no photo (yet 😛 ). Though, this second trip to the barbershop makes me miss the “complimentary” head massage in many Indonesian barbershops when you get your hair washed, haha. In this barbershop, hair wash is already included in the price (whereas in my previous favorite barbeshop in Den Haag, it was separate and I always chose not to use it, haha 😛 ). But from my two visits (and based on some people’s stories in other barbershops here), it appears that hair wash means only hair wash, here. No head massage, haha 😛 .

BAHASA INDONESIA

Sebuah Team Outing

Di hari Selasa, timku mengadakan acara team outing, yang mana jelas aku ikutan. Aku cukup bersemangat soalnya aku kan terpaksa melewatkan kesempatan sebelumnya karena padamnya listrik yang melumpuhkan jaringan kereta api Belanda. Waktu itu kan aku masih tinggal di Delft dan jelas dong ya mati lampunya harus terjadi di hari team outing bukannya di waktu lain kek, haha 😆 .

Anyway, aktivitas team outing kali ini adalah permainan augmented reality dengan GPS di Amsterdam. Kami dibagi ke beberapa (enam) tim dan masing-masing tim diberikan sebuah iPad dan satu tas berisi barang-barang untuk memecahkan beberapa teka-teki. Nah, teka-tekinya tersebar di seluruh penjuru Amsterdam gitu dan kami harus berjalan-kaki menuju lokasi-lokasinya yang ditunjukkan di peta. Yaa, kurang lebih seperti kombinasi Pokemon Go dan The Amazing Race lah, haha 😆 . Tim-tim ini juga berkompetisi satu sama lain dan kami juga bisa melihat posisi sementara di setiap waktu, haha.

Seru! Walaupun kami (timku) merasa sedikit tercurangi sih karena satu jawaban dari teka-tekinya itu salah dong secara tata bahasa, jadilah jawaban kami yang bertata-bahasa benar justru dianggap salah! Walaupun, untuk fair-nya sih, setiap tim mendapatkan set pertanyaan yang sama sehingga setidaknya kesalahan ini juga diderita semua tim, haha. Timku tidak bermain dengan begitu baik kali ini, jadilah tujuan kami adalah jangan sampai menjadi tim yang paling terakhir. Dan akhirnya, kami menyelesaikan permainan ini di urutan kelima. Yah, setidaknya andaikata ini satu leg The Amazing Race, yang penting kami nggak akan tereliminasi lah ya, hahaha 😆 .

Acara team outing ini memang seru. Selain keasyikannya, aku juga merasa aku bisa lebih membaca karakter dan kepribadian beberapa anggota timku yang lain, hehe 🙂 . Ya rasanya jadi lebih kenal gitu.

Potong rambut

Anyway, sudah lebih dari dua bulan semenjak aku potong rambut sehingga sudah saatnya untuk potong lagi lah ya. Memang toh rasanya rambutku sudah agak panjang nih.

Sebenarnya, beberapa minggu yang lalu aku mendapatkan brosur di kotak posku yang berisi iklan sebuah salon baru yang sedang memberikan diskon. Tetapi aku sedang malas untuk mencoba tempat baru kali ini, apalagi aku juga suka hasil potong salonku yang sebelumnya. Jadilah aku memutuskan untuk kembali ke salon yang kemarin aja. Kali ini, aku belajar dari pengalaman waktu itu dimana aku sudah membuat janji dulu online semenjak beberapa hari sebelumnya sehingga aku nggak perlu menunggu lama, haha.

Aku cukup puas dengan hasilnya, tapi jelas belum foto-foto 😛 . Walaupun kunjungan keduaku ke salon ini membuatku kangen akan pijat kepala “gratisan” yang diberikan di banyak salon di Indonesia sih ketika rambut kita dicuci. Di salon ini, cuci rambut sudah termasuk di dalam harga potong rambutnya (sementara di salon favoritku yang sebelumnya di Den Haag, cuci rambut itu terpisah dan aku selalu memilih untuk tidak cuci rambut, haha 😛 ). Nah, dari dua kunjungan ini (dan berdasarkan cerita beberapa teman lain di salon-salon lain), kayaknya di sini ya cuci rambut itu ya berarti cuci rambut doang. Nggak ada deh itu yang namanya pijat kepala, haha 😛

working life · Zilko's Life

#1955 – Some June Stories from Work

ENGLISH

In general, we in the Netherlands were quite lucky with the weather in June where there were quite many days with great summer weather! This was perfect because there were several summer events organized by my office in June which became much more fun with the summer weather 😀 .

A Day Out

My department organized a Day Out on a Friday in mid-June. The event was held in Westergasfabriek, a former gasworksfactory that is now used to host events, which was really, really cool!! 😀 For instance, here is how the main presentation room looked like:

Westergasfabriek

The day was filled with presentations (ranging from the very serious business-related presentations to the more relaxed working-environment-related presentations), which I found interesting and useful.

The presentations were followed with a big pub quiz, where we were randomly assigned to a team (in total there were about 170 teams). Of course there were some prizes for the winner (including a trophy, haha). My team finished the quiz ranked 17th, not bad, I guess, haha.

Obviously they had to ask the classic Monty Hall problem, which I hit a homerun on obviously *looking at my Bachelor’s, Master’s, and Doctoral’s diplomas* 😛

And to close the day was a barbeque for dinner, which was quite nice (especially the chicken that was really good!).

BBQ

Speaking of barbeque, some of my colleagues decided to organize another barbeque event to enjoy the (rare) summer weather. Unfortunately the timing did not work for me because I had to supervise the mini-renovation work I had in my apartment that time. Well…

Summer Party

And to top it all off, my office organized a summer party on the last Friday of the month! It was held literally after work, at the Kromhouthal, a former factory still “equipped” with the original steel-clad pillars and cranes (Yeah, there are so many cool places for events in Amsterdam! 😉 ).

However, as I previously shared, my plan to attend the party was ruined because of a delivery. I had to miss the party and now I regret about it a lot because of my colleagues’ descriptions about it; that was awesome!! Well, but I guess I just need to suck it up as we can’t get everything we want in life anyway. Attending this party might be one of those for me, haha…

BAHASA INDONESIA

Secara umum, kami di Belanda cukup beruntung dalam hal cuaca di sepanjang bulan Juni dimana ada cukup banyak hari dengan cuaca musim panas yang oke! Ini pas banget karena kantorku juga mengadakan beberapa acara musim panas di sepanjang bulan Juni yang menjadi semakin asyik dengan cuaca musim panas itu 😀 .

Sebuah Day Out

Departemenku mengadakan sebuah Day Out di sebuah Jumat di pertengahan Juni. Acaranya diadakan di Westergasfabriek, dulunya sebuah tempat pengelolaan gas gitu yang sekarang digunakan untuk mengadakan acara-acara, yang mana tempatnya kece banget!! 😀 Misalnya, berikut ini penampakan ruang presentasi utamanya:

Westergasfabriek

Hari itu dipenuhi oleh presentasi-presentasi (yang materinya bervariasi dari presentasi mengenai bisnis yang serius hingga yang lebih santai seperti misalnya tentang suasana pekerjaan di kantor), yang mana bagiku menarik dan berguna juga.

Setelah presentasi-presentasinya selesai, sebuah pub quiz diadakan, dimana secara acak kami dimasukkan ke dalam tim (totalnya ada sekitar 170an tim). Tentu saja ada hadiah bagi pemenang kuisnya (termasuk piala segala loh, haha). Pada akhirnya, timku mengakhiri kuis di posisi 17, lumayan lah ya, haha.

Jelas dong salah satu pertanyaannya adalah masalah Monty Hall yang klasik itu, yang mana jelas aku jawab dengan amat mudah *melirik ijazah S1, S2, dan S3-ku* 😛

Dan hari itu ditutup dengan barbeque untuk makan malam, yang mana lumayan oke juga (terutama barbeque ayamnya yang mana enak banget!).

BBQ

Ngomongin barbeque, beberapa kolegaku mengadakan acara barbeque sendiri gitu untuk menikmati cuaca musim panas (yang jarang itu). Sayangnya, waktunya kurang pas bagiku karena hari itu aku harus mengawasi pekerjaan renovasi mini di apartemenku. Yah…

Summer Party

Dan untuk mengakhiri itu semua, kantorku mengadakan sebuah summer party di hari Jumat terakhir bulan itu! Acaranya diadakan tepat setelah jam kerja, di Kromhouthal, sebuah tempat yang dulunya pabrik dan masih “dilengkapi” dengan pilar-pilar besi dan dereknya gitu (Iya, memang ada banyak banget tempat-tempat kece di Amsterdam untuk mengadakan suatu acara! 😉 ).

Namun, seperti yang sebelumnya aku ceritakan, rencanaku untuk menghadiri summer party ini gagal total dikarenakan sebuah pengiriman barang. Aku harus melewatkan pestanya dan sekarang aku sungguh menyesalinya karena kolegaku bercerita bagaimana seru acaranya berlangsung!! Ah, aku rasa sebaiknya aku move on aja karena toh nggak semua yang kita inginkan itu bisa kita dapatkan kan. Menghadiri pesta ini mungkin adalah salah satunya, haha…

Thoughts · Zilko's Life

#1954 – When A Delivery (Pretty Much) Ruined My Day

ENGLISH

Sometimes some things are just not meant to be. And the delivery day of my passport, with (hopefully) a UK visa in it after I submitted an application a few weeks prior, was one of those days, in a smaller first world problem scale, of course 😛 . Here is the story of that day, where everything I had planned for got ruined.

I knew that I would need to allocate some time at home waiting for the delivery. This was a little bit tricky because it was a working day; but thankfully my office supported the possibility to work from home where I could connect to the office network by using some security tokens. I was, at first, fine with it because I thought it would not take that long, learning from my experience two years ago when I was still in Delft. I mean, the online tracking system mentioned my passport had been in Amsterdam since like 7 AM that day. So if back then it could be delivered to Delft by around lunch time, then shouldn’t it be delivered to my current place in Amsterdam sooner?

There might be a thought where I should probably have filled my office address as the delivery so I would not really need to worry about it that much. To be honest, I did not think about this when applying; partly also because of the uncertainty on when the delivery would take place (Also, I am not 100% sure I could have done that, I didn’t check; so this is assuming that was allowed). Indeed, during the day I had a little regret for not doing this. But eventually in this particular case it turned out it was good that I did not do that. I will reveal why really soon.

That morning, I got a message where the delivery would take place between 6 PM and 9 PM. Well, I had planned to go to a big summer party my office was organizing exactly at that time (until midnight, though). So I went online and requested for a time change. It turned out that it could still be delivered earlier that day (according to the system). However, what I am really frustrated about with the courier service here is the wide time window of a due delivery.  It was said that it would, then, be delivered between 9 AM and 6 PM that day. I called the call center, and the lovely lady mentioned that my request had been recognized in the system and my passport would be delivered before 6 PM today. But you see, it covered literally the entire working hour of mine.

But fine, as per my experience, I was hoping it would be delivered early enough, preferably before lunch, and then I could go to my office to work and then to the summer party. However, that morning, the status of my delivery was put “on hold” (whatever that means), which I found really weird. By lunch time, this status still had not been changed. When the clock struck three, I still saw this status in the system.

A few minutes past three, finally the status was changed to “with delivery courier”. I breathed a sigh of relief. But actually, I should not. I was waiting, waiting, and waiting (and kept checking my window every other minutes), but noone came. Then it was 6 PM, still no delivery. I should have called the call centre at this point, but I did not. At 8 PM, my passport was still not with me. By this point, I called the call center only to find that it was already closed (its operational hour was only until 7 PM). Arrgghh!!  Finally, by 8:30 PM, someone rang my door and said he was delivering a package for me. And yep, it was my passport.

But you see, it was 8:30 PM already when they did deliver it, meaning the time change I requested in the morning did not work at all. This was really annoying because this caused me to literally waste an entire day. Especially that at the time I was working on a mini side project at work with a due presentation at 4:30 PM that day. I had to miss that, though luckily I was working on a small team who could do the presentation without me. Thanks team! Also, this was why it was good I did not fill in my office address as the delivery address. I mean, 8:30 PM!

And by this time, I was so exhausted already, especially mentally, because of all the work and anxiety. The weather was also a typical Dutch weather today (a lot of cloud with occasional rain); so all in all I did not feel like going to the summer party. Well, it was already a few hours late anyway. though of course technically I could still go there. Now, my colleagues told me the party was super awesome and fun and wonderful that now I really regret not going 😣.

Well, what can I say? I guess everything was just not meant to be working to my favors today. At the very least, I got my passport back safe and sound, plus with a new UK visa stamped in it.

***

Though, this whole experience did raise me a question. Why couldn’t an established logistics company providing courier service make a more precise delivery time window? I know this is a tough mathematical problem with a lot of varying variables. But still, as a customer, even having the day split into two parts (say before or after lunch), would have helped a lot!

But then, I remember a few months ago a colleague resigned and moved to a big logistics company to “transform” it into a more data-driven one. So, I guess the current operational of the courier industry in general is still very “traditional”? Hmm… 🤔

BAHASA INDONESIA

Terkadang beberapa hal itu memang tidak ditakdirkan untuk terjadi. Hari pengiriman pasporku, dengan (mudah-mudahan) visa UK tertempel di dalamnya setelah beberapa minggu sebelumnya aku mengajukan permohonan, adalah salah satu dari hari-hari itu, dengan first world problem dengan skala kecil tentunya 😛 . Berikut ini cerita tentang hari itu, dimana semua yang telah aku rencanakan gagal total karenanya.

Aku tahu bawa aku perlu menyisihkan waktu di rumah menunggu pengirimannya. Ini sedikit tricky karena hari itu adalah hari kerja; tetapi untungnya kantorku mendukung kondisi untuk bekerja dari rumah dimana aku tetap bisa mengakses jaringan kantor dengan menggunakan beberapa security tokens. Tetapi toh, awalnya, aku tidak begitu mempermasalahkan ini berdasarkan pengalamanku dua tahun lalu ketika aku masih di Delft. Disebutkan di sistem online tracking-nya bahwa pasporku sudah berada di Amsterdam semenjak sekitar jam 7 pagi itu. Nah, kalau dulu pasporku bisa diantarkan ke Delft di sekitar jam makan siang, seharusnya sekarang bisa diantarkan ke tempatku di Amsterdam lebih awal dong ya?

Mungkin ada yang berpikir mungkin seharusnya aku mengisi alamat kantorku sebagai alamat pengiriman sehingga aku nggak perlu pusing-pusing memikirkannya. Sejujurnya, waktu itu aku tidak terpikirkan hal ini; setengahnya juga disebabkan oleh ketidak-pastian kapan pengirimannya akan berlangsung (Juga, aku sekarang tidak yakin 100% aku bisa melakukannya sih, aku tidak mengeceknya; jadi ini dengan asumsi mengisi alamat pengiriman yang berbeda dari alamat tempat tinggal itu diperbolehkan). Memang, di hari itu aku sedikit menyesal aku tidak melakukannya. Namun, pada akhirnya ternyata justru beruntung lho aku tidak melakukannya. Ini akan aku jelaskan segera.

Pagi itu, aku mendapatkan pesan bahwa pengantaran akan dilakukan di antara jam 6 sore dan jam 9 malam. Waduh, aku sudah berencana untuk pergi ke sebuah summer party besar yang diadakan kantorku di jam itu (sampai tengah malah sih party-nya). Jadilah aku masuk ke website-nya untuk mengganti waktu pengiriman. Ternyata pengiriman masih bisa dilakukan lebih awal hari itu (menurut sistemnya). Namun, seperti bagaimana aku jengkel dengan pelayanan kurir di sini karena jendela waktu pengirimannya yang besar, ini juga terjadi. Dikatakan bahwa pasporku bisa diantarkan di antara jam 9 pagi dan jam 6 sore hari itu. Aku kemudian menelepon call center-nya untuk memastikan, dan petugasnya mengkonfirmasi bahwa permintaanku sudah diterima sistemnya dan pasporku akan diantarkan sebelum jam 6 sore.  Tetapi tetap menjengkelkan kan, ini artinya kan meliputi keseluruhan jam kerjaku hari ini.

Tetapi nggak apa-apa lah, karena berdasarkan pengalamanku, aku berharap pengantarannya berlangsung cepat, mudah-mudahan sih sebelum makan siang; dimana setelahnya aku bisa pergi ke kantor dan kemudian ke summer party bersama kolega-kolegaku. Namun, pagi itu status barang kirimanku disebutkan “on hold” (entahlah artinya apa), yang mana nampak aneh untukku. Ketika jam makan siang, statusnya masih belum diubah. Ketika jarum jam menunjukkan angka tiga, statusnya masih sama.

Beberapa menit setelah jam tiga, akhirnya statusnya diubah menjadi “bersama kurir pengantar”. Aku bernafas lega. Yang mana seharusnya aku belum boleh lega ternyata. Aku menunggu, menunggu, dan menunggu (dan terus-terusan mengecek jendelaku setiap beberapa menit sekali), tetapi tidak ada seorang pun yang datang. Jam 6 sore, masih belum diantarkan juga! Seharusnya di waktu ini aku komplain ke call center-nya, tetapi aku tidak. Ketika sudah jam 8 malam dan masih belum diantar juga, aku baru menelepon call center-nya. Dan ternyata call center-nya sudah tutup dong (waktu operasinya hingga jam 7 malam saja). Arrghh!!  Akhirnya, jam 8:30 malam, bel pintuku berbunyi juga dan dibilang bahwa ada paket untukku. Dan ya, paket itu berisi pasporku.

Tetapi jelas kan, sudah jam 8:30 malam ketika mereka mengantarkannya, artinya permintaan perubahan waktu pengantaranku pagi itu tidak diterima. Ini sungguh menjengkelkanku karena ini membuatku benar-benar membuang-buang waktuku selama satu hari. Apalagi waktu itu di kantor aku sedang mengerjakan sebuah proyek sampingan kecil yang mana mesti dipresentasikan jam 4:30 sore hari itu. Tentu aku tidak bisa hadir di presentasi itu, walaupun untungnya aku bekerja dalam tim kecil yang toh masih bisa presentasi tanpa aku. Trims tim! Juga, ini lah alasan beruntung aku tidak mengisi alamat kantorku sebagai alamat pengiriman. Ternyata jam 8:30 malam gitu!

Dan di waktu ini, aku sungguh merasa capek, terutama secara mental, akibat pekerjaan dan kegelisahanku. Cuaca hari itu kebetulan juga lah cuaca tipikal Belanda (berawan tebal dan kadang-kadang hujan); jadilah akhirnya aku merasa malas untuk keluar rumah dan pergi ke summer party-nya. Ah, toh sudah telat beberapa jam juga sih, walaupun sebenarnya masih bisa-bisa aja sih aku datang ke sana terlambat. Sekarang, kolega-kolegaku menceritakan bagaimana seru, keren, dan asyiknya summer party itu sehingga aku kini menyesal karena tidak pergi 😣.

Yah, mau bagaimana lagi kan? Aku kira hari itu memang semua rencanaku memang ditakdirkan untuk gagal total. Setidak-tidaknya sih, aku mendapatkan pasporku kembali dengan aman dan selamat, plus dengan sebuah visa UK baru di dalamnya.

***

Ngomong-ngomong, pengalaman ini membuatku memiliki pertanyaan nih. Mengapa sebuah perusahaan logistik raksasa dengan layanan kurir tidak bisa memberikan perkiraan waktu pengiriman yang lebih tepat ya? Ya, ya, aku sungguh mengerti kok ini adalah permasalahan matematika yang amat rumit dengan banyak variabel yang berubah-ubah setiap waktu. Tetapi tetap aja lah ya, sebagai customer, bahkan dengan membagi satu hari menjadi dua (misalnya sebelum atau sesudah makan siang), sudah bakal membantu banget kan!

Tetapi kemudian, aku jadi teringat bahwa beberapa bulan yang lalu seorang kolegaku resign dan pindah ke sebuah perusahaan logistik raksasa untuk membantunya “bertransformasi” menjadi sebuah perusahaan yang lebih berbasiskan data. Jadi, aku duga mungkin saat ini operasi industri kurir secara umum masih berdasarkan sistem yang “tradisional”? Hmm… 🤔