#1944 – End of June


Oh wow it is the end of June already! The start of the month felt like just yesterday but of course it wasn’t and, as usual, time flew by really fast.

Overall June has been a good month for me here. First of all, the Dutch weather turned out to be, in general, surprisingly great, haha 😆 . My work was also fine and I actually felt quite satisfied about it. My office also organized some really fun events during the month. More on this on a latter post, though. I also did quite some travels, two trips to be precise. But both of them took place in the first half of the month. To even things out, I took it slowly and just stayed in Amsterdam in its second half, haha.

Anyway, to make it a full circle (sort of), if I started June by being excited about the French Open (well, the tournament actually started a week before that, haha 😛 ), now I am ending June by being excited about Wimbledon! This week the qualifying stage takes place with the main events starting next week. I always love this time of the year in tennis season. For whatever reasons, seeing a green grass tennis court on TV with a match being played on it makes me really happy!

So, how was June for you?

Wimbledon 2017 has started!!


Oh wow tiba-tiba sekarang sudah akhir bulan Juni aja! Rasanya seperti baru kemarin kita masuk ke bulan ini tetapi tentu saja seperti biasa, waktu berlalu dengan cepat.

Secara keseluruhan, Juni adalah bulan yang baik untukku. Pertama-tama, cuaca di Belanda ternyata, secara umum, kece loh dan ini mengejutkan, haha 😆 . Kerjaan di kantor juga baik-baik saja dan aku merasa puas dengannya. Apalagi, kantorku mengadakan beberapa acara seru juga di bulan ini. Cerita ini aku simpan untuk posting nanti-nanti yah. Dan tentu saja aku juga jalan-jalan dong, di dua perjalanan tepatnya. Tetapi keduanya berlangsung di setengah pertama bulan ini. Jadi biar seimbang, aku santai-santai saja di Amsterdam di setengah keduanya, haha.

Anyway, agar siklusnya komplit (kurang lebih begitu), jika bulan Juni aku mulai dengan merasa senang karena French Open dimainkan (yah, sebenarnya turnamennya dimulai sekitar seminggu sebelum itu sih), sekarang aku mengakhiri Juni dengan merasa senang karena Wimbledon sudah dimulai loh! Minggu ini babak kualifikasinya dimulai dan babak utama akan dimulai minggu depan. Aku suka deh waktu-waktu sekarang ini dalam hal jadwal turnamen tenis. Entah mengapa, melihat lapangan tenis berpermukaan rumput di TV dimana sebuah pertandingan dimainkan itu membuatku senang!

Nah, bagaimanakah bulan Juni untukmu?

Wimbledon 2017 sudah dimulai!!


#1943 – Early Summer 2017 Weekend TripS (Part II: Bremen)


Posts in the Early Summer 2017 Weekend TripS series:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Getting to/from Bremen

The routing this long weekend to Bremen. Created with: gcmap.com

To get to Bremen, I transitted in Paris, haha 😆 . Even, I actually spent a night there where I arrived late in the afternoon and my flight to Bremen was scheduled on Sunday morning. I flew KLM’s Boeing 737-800 reg PH-BXY to get to Paris. It was a regular short-haul KLM flight so I wouldn’t get to too much details. Only that it was delayed but this, obviously, did not bother me that much.

Air France’s new lounge at Terminal 2G of Paris-CDG

Another reason I chose this routing was that my flight to Bremen would depart from Terminal 2G. A few months back, I read that Air France had just opened a new lounge in this terminal. Their old lounge there was very small and felt cramped; so I was curious how the new lounge was. And, wow, I was actually impressed!

The lounge was much more spacious than the old one!

For once, it was much more spacious than the old one. The food, drinks, etc were pretty much as per the standard of their other lounges at Paris-CDG, though. However, one feature made this lounge my favorite one at the airport: the unobstructed view towards runway 26L and 26R, making it a perfect (and comfortable) planespotting spot! 😍

Spotting a Vietnam Airlines’ Airbus A350-900 landing at runway 26L

Anyway, my AF1324 flight to Bremen was operated by HOP! Regional’s Embraer ERJ170 reg F-HBXN today. The flight was not busy at all, with load factor I estimated to be at around 25-30% only.

From Bremen, I went straight to Amsterdam. And as I mentioned, one factor I chose this flight was because KLM Cityhopper deployed one of their remaining Fokker 70s, which was PH-KZL today! KLM Cityhopper is retiring this type this Fall, and so I get to catch them while I can!! 😀 Btw, I arrived at the airport too early today and so when I went to the lounge, I was the only passenger there! Yes, the entire lounge was for myself! Haha 😛

I will definitely miss this Fokker 70’s unique 2-3 layout AND spacious legroom (an expensive commodity when flying in economy these days)!!


The first thing I noticed about Bremen was that, apparently it was a city of tram! How did I notice? Well, it was literally stated at the tram stop at the airport, haha 😆

Bremen – City of Trams

Anyway, overall I found Bremen to be a nice little town. So actually, as a tourist, I don’t think you would need trams to go around the city center, where most of the city attractions are located. Well, probably unless you stay somewhere quite far away.

The Altstadt of Bremen

Bremen was the setting (sort of) of a popular German fairy tale, Die Bremer Stadtmusikanten (The Town Musicians of Bremen). I was introduced to this story when I was in elementary school, through one of my good friends back then who was really good at drawing (Once he made some comic strips based on this story). The story was so popular that it became the “symbol” of the city. And even there was a famous bronze statue there by the Rathaus, which I obviously took a selfie with 😛 . I was really happy that I could visit it, especially that it reminisced me about my childhood as well 🙂 . Btw there is a statue based on the same story in Riga, Latvia. So I guess the story is indeed famous in Eastern Europe as well.

The mandatory Bremen selfie with Die Bremer Stadtmusikanten

In my opinion, the most interesting part of Bremen was the Altstadt (Old Town) with all the beautiful old German buildings. Probably because I was there during a national holiday, I only saw people (possibly tourists) in the Altstadt. Everywhere else I went to, I saw no people and most shops appeared to be closed! Haha…

It was not a busy day in Bremen

As for the food, unfortunately I did not have a lot of opportunity to explore, haha. I had steak as my first lunch there. Then, I went to a tapas bar for dinner because thick cloud was hanging low appearing like it was going to rain so that I would not have the privilege to choose my restaurant, lol 😆 . Well, at least the bar was still having its happy hour for their cocktails (40% discount! 😛 ), which I ordered a good glass of long island ice tea, and the paella was good! And as my last brunch there, I had a Viennese schnitzel, haha 😆 .


Posting-posting dalam seri Early Summer 2017 Weekend TripS:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Pergi ke/dari Bremen

Ruteku long weekend ini ke Bremen. Dibuat dengan: gcmap.com

Untuk berangkat ke Bremen, aku transit dulu di Paris, haha 😆 . Bahkan, aku menginap semalam loh di sana dimana aku tiba di malam hari dan penerbanganku ke Bremen dijadwalkan berangkat Minggu pagi. Aku terbang dengan Boeing 737-800nya KLM dengan rego PH-BXY ke Paris. Ini adalah penerbangan standar jarak dekatnya KLM sehingga aku nggak akan bercerita tentangnya. Hanya saja penerbangannya sedikit terlambat sih tetapi jelas ini tidak mempengaruhiku.

Lounge barunya Air France di Terminal 2G Bandara Paris-CDG

Satu alasan lain aku memilih rute ini adalah karena penerbanganku ke Bremen akan berangkat dari Terminal 2G. Beberapa bulan sebelumnya, aku membaca bahwa Air France baru saja membuka lounge baru di terminal ini. Lounge lamanya mereka di sana berukuran kecil banget dan, karenanya, terasa amat sesak; jadi jelas lah ya aku penasaran dengan yang baru ini. Dan, wow, aku sungguh terkesan lho!

Lounge barunya jauh lebih luas dan lapang daripada yang lama!

Pertama-tama, ukurannya jauh lebih luas dan lapang daripada yang lama. Makanan dan minumannya sih berstandar kurang lebih sama lah dengan lounge-lounge lain mereka di Paris-CDG. Namun, ada satu fitur yang membuat lounge ini menjadi favoritku di bandara ini: pandangan tak terhalang ke landasan pacu 26L dan 26R, sehingga tempat ini menjadi tempat yang sempurna (dan nyaman) untuk planespotting! 😍

Spotting sebuah Airbus A350-900nya Vietnam Airlines mendarat di landasan pacu 26L

Anyway, penerbanganku ke Bremen dioperasikan oleh Embraer ERJ170nya HOP! Regional dengan rego F-HBXN. Penerbangan hari ini sama sekali tidak penuh, aku perkirakan kursinya hanya terisi sekitar 25-30% saja.

Dari Bremen, aku langsung kembali ke Amsterdam. Seperti yang kusebutkan, satu alasan aku memilih penerbangan ini adalah karena KLM Cityhopper menggunakan salah satu Fokker 70nya, yang mana hari ini adalah PH-KZL! KLM Cityhopper akan memensiunkan tipe ini musim gugur ini sehingga aku harus sebisa mungkin terbang dengannya dulu dong ya! 😀 Btw, aku tiba di bandara agak awal hari ini sehingga ketika aku pergi ke lounge-nya, aku adalah satu-satunya penumpang di sana loh! Iyaa, satu lounge buat aku sendiri! Haha 😛 .

Aku jelas akan kangen dengan layout 2-3nya Fokker 70 yang unik ini DAN legroom-nya yang lega banget (sebuah komoditas mahal ketika terbang di kelas ekonomi sekarang ini)!!


Hal pertama yang aku tangkap dari Bremen adalah, ternyata kota ini adalah kota tram loh! Kok tahu? Yaa, soalnya tertulis begitu sih di halte tram di bandaranya, haha 😆 .

Bremen – Kota Tram

Anyway, secara keseluruhan Bremen adalah kota kecil yang cantik. Jadi sebenarnya, sebagai turis, aku rasa kita tidak membutuhkan tramnya sih untuk berkeliling pusat kotanya, dimana kebanyakan atraksinya berada. Eh, mungkin kecuali kalau kita menginap agak di luar kotanya ya.

Altstadt di Bremen

Bremen adalah setting (kurang lebih) dari sebuah cerita rakyat Jerman yang terkenal, Die Bremer Stadtmusikanten (Para Musisi Kota Bremen). Aku mengenal cerita ini ketika masih SD dulu melalui seorang teman baikku waktu itu yang jago menggambar (Sekali waktu ia membuat comic strips gitu berdasarkan cerita ini). Ceritanya populer banget sampai-sampai menjadi “simbol” dari kota ini loh. Bahkan ada sebuah patung perunggu yang terkenal banget yang berlokasi di sebelahnya Rathaus, yang mana jelas aku selfie di situ dong 😛 . Senang sekali rasanya aku bisa mampir di sana, sedikit mengingatkanku akan masa kecil dulu 🙂 . Btw ada sebuah patung berdasarkan cerita yang sama juga loh di Riga, Latvia. Jadi sepertinya ceritanya populer juga ya di Eropa Timur.

Selfie wajib di Bremen dengan Die Bremer Stadtmusikanten

Menurutku, bagian paling menarik dari Bremen adalah Altstadt-nya (Kota Tua) dimana terdapat bangunan-bangunan tua ala Jerman. Mungkin karena aku di sana ketika tanggal merah, aku hanya melihat keramaian (mungkin oleh turis) di Altstadt. Selebih dari itu, di lokasi-lokasi lain aku nyaris tidak melihat orang loh, bahkan kebanyakan tokonya pun tutup! Haha…

Ini bukanlah hari yang ramai di Bremen

Untuk urusan makanan, sayangnya aku tidak memiliki banyak kesempatan untuk mencoba ini-itu, haha. Aku makan steak sebagai makan siang pertamaku di sana. Lalu, aku pergi ke sebuah bar tapas untuk makan malam karena awan tebal menggantung sehingga nampak seperti akan hujan deras sehingga aku tidak memiliki kebebasan untuk pilih-pilih restoran, haha 😆 . Setidaknya waktu itu masih happy hour sih di barnya untuk cocktail (diskon 40% loh, lumayan!), yang mana aku memesan segelas long island ice tea, dan paellanya juga enak! , Dan untuk brunch keesokan harinya, aku makan schnitzel ala Vienna, haha 😆 .

#1942 – When I Got Locked Out


Aside from being the longest day of the year, this year’s summer solstice was also an “unusual” day for me due to an incident that occurred in the morning that day. I am sure you can guess what the incident was just by the title of this post.

Yeah, I got locked out of my own apartment. That morning I forgot to take the keys with me when leaving for work and with those automatic-locking doors, I was then “trapped” outside 😣.

The “Risk”

To be honest, I have always been aware of this risk. However, admittedly I took it for granted and relied on myself to always remember to take the keys with me. And prior to this incident, it was working well. I always consciously checked if I already got my keys before leaving the apartment. As it turned out, the biggest problem with this was the word “consciously”. There would be times where I wouldn’t act totally “consciously”, for instance when I was in a rush or if I was not feeling well.

A friend of mine had suggested me to keep a spare key somewhere else, though, just in case. But you know, I took it for granted and, though I fully agreed, never really did it.

The Solution

I immediately realized I made this big mistake just when I closed my apartment’s door. But it was a little too late as the door was already locked. I told myself to calm down (it was actually a good real “exercise” for me to not panic in an emergency and to think clearly) as there must be a solution.

I decided to still go to the office (thus risking having to open two locked doors (my door and the main entrance) without any keys). As I was googling for solutions, I learned that this was not a rare incident (obviously, haha) and found several locksmiths, some even claimed to be able to come within 30 minutes. I contacted one of them and made an appointment.

Luckily, one of my neighbours was home when I had the appointment so she could open the main entrance door for us, yeay! 😀 Anyway, my apartment building is a new one so it comes with the more modern and secure locking system. This, however, left the locksmiths no choice but to break my old locking system (so the door could be opened) and replace it with a new one. Damn. But I had no other choice, so …

In the end, the problem was eventually solved, though I also had to pay a price for that, which was a bill of almost €250 (including the new locking system with keys and tax). 😣

Well, lesson learned … the hard way!! 😣

Future Steps

Me being me, obviously I have been trying to figure out how to significantly lower down the risk of the incident from reoccurring.

So far, I have implemented two ideas:
1. As my friend suggested, I keep a spare key somewhere else. Where? Well, obviously a secret! I mean, come on! 🙈
2. I put a nail next to my door to hang my keys, haha 😆 . This would, hopefully, lower the chance of me acting “non-consciously” at least in regards to my keys.

So, have you ever encountered a similar incident? And can you share some tips? 


Di samping hari dengan siang terpanjang tahun ini, summer solstice tahun ini juga lah hari “tidak biasa” bagiku karena sebuah insiden yang terjadi di pagi harinya. Ah, bisa ditebak kok insidennya apa hanya dari judul posting ini.

Iya, aku terkunci di luar apartemenku sendiri. Pagi itu, aku lupa membawa kunciku ketika berangkat ke kantor sementara pintunya adalah pintu dengan kunci otomatis sehingga aku “terjebak” di luar deh 😣.

“Risiko” ini

Sejujurnya, sudah lama aku tahu akan keberadaan risiko ini. Namun, sejujurnya, memang aku meremehkannya dan bersandar kepada diriku untuk selalu ingat membawa kunci kemana-mana. Dan sebelum insiden ini, sistem ini bekerja dengan baik sih. Aku selalu sadar untuk mengecek apakah kunci sudah kubawa sebelum meninggalkan apartemen atau tidak. Ternyata, masalah terbesar dari sistem ini adalah di kata “sadar”. Pasti akan ada sekali waktu dimana aku berlaku tidak sepenuhnya “sadar”, misalnya ketika aku terburu-buru atau ketika sedang tidak enak badan.

Seorang temanku sudah menyaranku untuk menyimpan kunciku di suatu tempat lain sih, untuk jaga-jaga gitu. Tapi ya gitu deh, aku meremehkan risiko ini dan, walaupun sepenuhnya setuju, aku tidak pernah melaksanakannya.


Aku langsung menyadari kesalahanku begitu pintu apartemen aku tutup. Masalahnya, ini sudah terlambat karena pintunya sudah terkunci. Di waktu ini, aku berkata kepada diriku untuk tetap kalem (Insiden ini sebenarnya adalah “latihan” di situasi beneran yang bagus sih untukku, untuk tidak panik di situasi darurat dan tetap berpikir jernih) karena pasti ada solusinya.

Aku memutuskan untuk tetap berangkat ke kantor (dan merisikokan harus membuka dua pintu yang terkunci (pintuku dan pintu utama apartemen) tanpa kunci). Ketika meng-google solusinya, aku menyadari bahwa ini bukanlah insiden yang langka (jelas lah kalau dipikir-pikir, haha) dan aku menemukan beberapa locksmiths (“tukang kunci” kah bahasa Indonesianya?), beberapa bahkan mengklaim bisa datang dalam waktu maksimal 30 menit. Aku mengontak salah satunya dan membuat janji dengannya.

Untungnya, salah seorang tetanggaku sedang di rumah di waktu perjanjianku itu sehingga ia bisa membukakan pintu utama apartemen untukku, hore! 😀 Anyway, gedung apartemenku adalah gedung baru sehingga sistem perkunciannya juga lah sistem yang modern dan lebih aman gitu. Masalahnya, dalam kasus ini, ini justru membuat locksmith-ku tidak memiliki pilihan lain selain merusak sistem kunci lamaku (sehingga pintunya bisa dibuka) dan menggantinya dengan yang baru. Sial. Tapi ya mau gimana lagi kan, ya sudah…

Pada akhirnya, masalah ini akhirnya terselesaikan juga, walaupun jelas ada harganya yaitu tagihan senilai hampir €250 (sekitar Rp 3,7 juta, termasuk sistem kunci yang baru berserta kunci-kunci baru dan pajak).😣

Yup, satu pelajaran baru … yang mesti kubayar mahal!! 😣

Langkah-langkah ke depan

Yang namanya Zilko, jelas aku sudah berpikir mencari cara bagaimana untuk menurunkan drastis risiko insiden ini terulang lagi nantinya.

Sejauh ini, aku sudah mengimplementasikan dua ide:
1. Seperti yang disarankan temanku, aku sekarang menyimpan kunci cadangan di tempat lain. Di mana? Ah, ya jelas rahasia doong, haha. 🙈
2. Aku memasang paku tepat di samping pintu untuk menggantung kunciku, haha 😆 . Ini, mudah-mudahan, mengurangi kemungkinanku untuk berlaku “tidak sadar” setidaknya dalam hal membawa kunci ketika pergi.

Nah, apakah ada yang pernah mengalami situasi serupa? Jika iya, adakah tips yang bisa dibagikan? 

#1941 – Summer Solstice 2017


This Wednesday was the summer solstice this year, i.e. the longest day of the year.

You see, one feature of summer that I really like is the longer days. And this Wednesday was the peak for that, when it looked like this at 10:30 PM:

10:30 PM in Amsterdam during summer solstice this year

Since then, the days are getting shorter and shorter until we hit the winter solstice in December.

So naturally, the day of the summer solstice is one of my most favorite days in a year. You can even trace that here in this blog where I write about it every year, haha 😆 . Which brings me to last year’s summer solstice because for whatever reason, I feel nostalgic for this day last year. Even though that day was just a regular day in my life.

At the time I was very busy working on my PhD dissertation and preparing my sabbatical month in September. I decided to make that day my cardio day where I went biking in the evening to the Delftse Hout. Yeah, for whatever reason, I remembered that day. Well, probably because a lot have happened in my life in between, haha.

One of which was getting my PhD degree 😀

Anyway, yeah, so we have now just entered the less favorite half of the year for me where days are getting shorter and shorter each day. Haha…

Speaking of the weather, though, there was a yellow warning for hot temperature in the Netherlands earlier this week. Apparently, a heat wave is striking the country (and Europe) now. And this is the reason why summer cannot be my most favorite season of all, haha (I hate the heat 😛 ).


Hari Rabu ini adalah summer solstice tahun ini, yaitu hari dengan siang terpanjang dalam satu tahun.

Jadi salah satu karakteristik musim panas yang kusukai adalah siangnya yang lama. Dan hari Rabu kemarin ini adalah puncaknya, dimana suasana jam 10:30 malam adalah seperti ini:

Jam 10:30 malam di Amsterdam di waktu summer solstice tahun ini

Semenjak itu, setiap hari siang selalu bertambah pendek hingga kita mencapai winter solstice bulan Desember nanti.

Nah, jadi jelas dong hari summer solstice adalah salah satu hari terfavoritku dalam satu tahun. Ini juga nampak kok di blog ini dimana aku selalu menuliskannya setiap tahun, haha 😆 . Yang mana membawaku ke hari summer solstice tahun lalu karena, entah mengapa, aku merasa nostalgia banget dengan hari ini tahun lalu. Padahal sebenarnya hari itu adalah hari yang biasa-biasa saja.

Waktu itu aku sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan disertasi PhD/S3ku dan juga mempersiapkan acara sabatikalku di bulan September. Hari itu aku tetapkan sebagai hari kardio dimana aku bersepeda di malam harinya ke Delftse Hout. Iya, entah mengapa, aku teringat hari itu deh. Yah, mungkin karena banyak yang terjadi di hidupku selama satu tahun belakangan ini ya, haha.

Yang mana salah satunya adalah mendapatkan gelar PhD (S3)-ku 😀 .

Anyway, iya, jadi sekarang kita sudah memasuki periode setengah tahun yang bukan favoritku dimana siang bertambah pendek terus setiap hari. Haha…

Ngomongin cuaca, minggu ini ada peringatan kuning untuk suhu udara yang sangat panas di Belanda. Ternyata, gelombang panas sedang menerjang negeri ini (dan Eropa) sekarang. Dan ini lah alasan mengapa musim panas bukan lah musim favoritku, haha (Aku benci cuaca panas 😛 ).

#1940 – My Transport Card


With me moving to Amsterdam, you would probably think my commuting cost would also be cheaper now given that I live in the same city as where I work. Actually it is the contrary, I pay more for transportation now than when I still lived in Delft! Haha 😆 .

You see, obviously my office also provided commuting allowance and so I got the super amazing NS-Business Card for “free” from my office because Delft was so far away. The card granted me free public transportation rides (2nd class travel in trains, though) in the entire Netherlands at any time. This was super cool because this meant I could also use it for my personal matters, including making my frequent travels (mainly between Delft and Schiphol 😛 ) significantly cheaper (i.e. from having to pay myself to not having to pay at all, a.k.a a 100% discount, lol 😆 ).

My amazing NS-Business Card

For the NS-Business Card, I needed to pay (deducted from my nett monthly salary) €200 every month. However, because Delft was very far away and the commuting allowance was based on distance, I was entitled to the maximum allowance: also €200 every month. And so the €200 cancelled each other and so I got it for free.

Now that I live closer to my office, my commuting allowance is much less than €200 per month. If I want to keep my NS-Business Card, though, I would still need to pay the monthly €200 fee. In short, the card is not worth it anymore and I immediately cancelled it once I moved to Amsterdam, haha.

And so now I am back with my common regular OV-Chipkaart, haha. Obviously, I also subscribe myself to two transportation deals: a subscription with NS for 40% discount on train travels outside of the rush-hour periods and a subscription with the municipal public transprotation of Amsterdam (GVB) for my daily commute within the city. The cost? Well, my monthly commuting allowance unfortunately does not cover all of it, haha 😆 .

You see? Now I actually pay more for transport than when I actually lived in Delft. However, I still prefer this (hands down) than a free NS-Business Card but having to commute three hours everyday between Delft and Amsterdam!! Hahaha 😆

I certainly do not miss having to “fight” for an empty seat every day while commuting.


Dengan kepindahanku ke Amsterdam, mungkin pada mengira biaya nglaju-ku sekarang juga lebih rendah karena aku kan tinggal di kota yang sama dengan tempatku bekerja. Kenyataannya justru sebaliknya loh, sekarang ini aku membayar lebih banyak untuk transportasi daripada ketika aku tinggal di Delft! Haha 😆 .

Jelas kantorku memberikan commuting allowance (“tunjangan transportasi” kah bahasa Indonesianya? 🤔) dan jadilah aku mendapatkan kartu NS-Business Card yang super keren banget “gratis” dari kantor karena Delft berlokasi amat jauh. Kartunya memberikanku akses gratis ke semua alat transportasi umum (untuk kereta sih di kelas 2) di seluruh negara Belanda di waktu kapan pun. Ini asyik banget karena artinya kartunya juga bisa kugunakan untuk keperluan pribadi, termasuk untuk acara jalan-jalanku yang sering banget itu kan (seringnya mah antara Delft dan Schiphol, haha 😛 ) yang menjadi jauh lebih murah (baca: dari harus membayar sendiri menjadi jadi tidak harus membayar sama sekali, alias diskon 100%, huahaha 😆 ).

Kartu NS-Business Card-ku yang sakti banget

Nah untuk NS-Business Card itu, aku perlu membayar (otomatis diambil dari gaji bersih bulananku) €200 setiap bulan. Namun, karena Delft itu jauh sekali dan commuting allowance-nya adalah fungsi dari jarak, aku berhak mendapatkan jatah maksimumnya: yang mana juga lah €200 per bulan. Jadi mah praktis kartunya aku dapatkan gratis lah ya kalau begitu.

Nah karena sekarang aku tinggal lebih dekat ke kantor, commuting allowance-ku menjadi jauh lebih kecil daripada €200 per bulan deh. Sementara jika aku masih ingin mempertahankan NS-Business Card-ku, aku masih harus membayar biaya bulanannya yang sebesar €200. Singkatnya, kartunya tidak lagi worth it dan aku berhentikan tak lama setelah aku pindah ke Amsterdam, haha.

Dan sekarang aku kembali menggunakan kartu OV-Chipkaart regulerku deh, haha. Jelas, aku juga mendaftarkan diri ke dua abonemen transportasi: abonemen dengan NS untuk diskon 40% untuk perjalanan dengan kereta di luar jam kerja dan abonemen dengan operator transportasi umumnya kota Amsterdam (GVB) untuk perjalananku sehari-hari. Biayanya? Yah, intinya sih commuting allowance-ku dari kantor sekarang nggak cukup deh untuk menanggungnya, haha 😆 .

Nah kan? Jadilah artinya sekarang aku ongkos transportasiku justru lebih mahal daripada ketika aku tinggal di Delft. Namun, toh aku masih lebih memilih situasi ini kok (jelas nggak perlu dipikir-pikir lagi ini mah) daripada sebuah kartu NS-Business Card gratis tetapi harus menghabiskan waktu tiga jam setiap hari di jalan antara Delft dan Amsterdam!! Hahaha 😆 .

Jelas aku tidak kangen harus “rebutan” kursi kosong setiap hari ketika nglaj

#1939 – Early Summer 2017 Weekend TripS (Part I: Lyon)


Posts in the Early Summer 2017 Weekend TripS series:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Getting to/from Lyon

Obviously, I chose not to fly direct to Lyon, haha. In fact, on both ways I had a transit at Paris-CDG. In general, all the flights were standard short-haul flights with Air France so I would not get to too much details here. There was only one “incident” on my way to Lyon that worth sharing, haha 😛 .

I had quite a tight connection at Paris-CDG, at only 50 minutes. So obviously I was not happy to find out that the departure of my flight AF1741 was delayed by 20 minutes! But it did not end there. Once all passengers boarded, the captain announced that Schiphol was very busy at the time and we only got a clearance for departure in another 20 minutes! The string of delays still did not finish here. When we finally left the terminal, it turned out we got a departure slot at:

Runway 36L aka the Polderbaan

Yes, the friggin’ Polderbaan So all in all, consequently we took off from Schiphol one hour (!) behind schedule.

But there was nothing I could do so I just tried to relax (and order some wine on board, lol). Though, I wasn’t all that worried. I already checked online and I found that Air France had a scheduled evening flight to Lyon from Paris-CDG later today. So even in the worst case scenario, I figured they would bump me into that flight. Sure it would cause some inconvenience in terms of my arrival time in Lyon, but I had been to Lyon before anyway so there would be not much that I would miss.

A small bottle of wine to enjoy the moment.

Anyway, 50 minutes later we landed at runway 09L of Paris-CDG. I walked briskly once I deboarded about 5 minutes before the scheduled departure of my connecting flight, on the slightest hope that my connecting flight would probably be delayed too. I checked the transit monitors and went to my gate.

And I found it surprising that my gate was the same gate that I just got off from. Yep, as it turned out, my connecting flight to Lyon would be operated with the same airplane (even with the same crew set)! This was the first time ever I took these kind of flights! Lol 😆 . So consequently the flight to Lyon was also delayed by around 45 minutes! Yep, at the end, everything worked out well (for me)! 😛

I took two different flights (AF1741 and AF7646) with this Air France’s Airbus A320-200 reg F-GKXA today!

Once all passengers to Lyon boarded, the captain apologized for the delay and explained this was due to late arrival from Amsterdam. Well, I could testify for that! Lol 😛 .


Lion selfie in Lyon

It worths mentioning that this trip took place during a very warm weekend in Europe; and this was also true for Lyon. It was really warm when I was there, where the temperature came close to 30°C or so, haha. Despite this, though, obviously I still managed to get around the city, haha 😆 .

I bought a daily public transpotation card to get around Lyon. I stayed near Gare Part Dieu and that was quite some distance from Vieux Lyon (Old Lyon), the most attractive (and touristy) part of the city. Obviously I was not planning to walk there because of the temperature, lol 😆 . The Lyonese trams looked really cool, though. Here is one of them:

A Lyonese tram

Anyway, unsurprisingly it was a busy weekend in Lyon where the Vieux Port was full of people (read: tourists)! I crossed both the Rhone and Saone rivers and walked around the old town. After lunch, I took the funicular to the top of the Fourviere Hill here Lyon’s Notre Dame Basilica was located. The small park next to the basilica provided good bird’s eye view of the city too.

Notre Dame Fourviere in Lyon

I looked at the map and Theatre Gallo-Romains did not look very far away from the basilica. Fortunately this turned out to be true because I decided to walk there, haha 😆 . This Roman theatre appeared like how I remembered it from 2014, it was very well-preserved.

Theatre Gallo-Romains

From there, I took the other funicular line down back to Vieux Lyon. At this point, I felt like I had walked enough and it was really warm anyway, so I decided to: shop! Haha 😆 . Even at one point I decided to just go to the big mall near Gare Part Dieu because it had air-conditioner in it, haha 😆 .

The Food

Lyon is known as the gastronomy capital of France, so obviously food was one main element of this trip, haha, even though I did not go to any Michelin-starred restaurant, unlike the last time.

One dish which I did not have the chance to try the last time I was in Lyon was quenelle de brochet. And so I told myself to not miss it this time around (and gave it a go to miss the andouillette, another Lyon’s specialty, because I was traumatized by the mustard sauce the last time I had it (I hate French mustard)). Anyway, the quenelle tasted good. I would probably not call it my most favorite dish ever because I found the sauce to be really creamy and heavy, but it was definitely much better (for me) than andouillette, haha 😀 .

Quenelle de brochet

Another dish surprised me, btw, because (1) it was, obviously, really good and (2) I told myself why I never thought about it before. It was a “fillet de canard” (duck breast) steak. Really, it tasted very good!! In fact, maybe I will try to cook one myself soon! Hmm 🤔


Posting-posting dalam seri Early Summer 2017 Weekend TripS:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Pergi ke Lyon

Jelas dong aku tidak terbang langsung dari Amsterdam ke Lyon, haha. Di kedua arah, aku transit dulu di Paris-CDG. Secara umum, semua penerbangannya adalah penerbangan standar jarak dekat dengan Air France sehingga aku tidak akan merincinya di sini. Hanya saja, ada satu “insiden” di perjalanan keberangkatanku ke Lyon yang layak diceritakan 😛 .

Waktu transitku cukup ketat di Paris-CDG, hanya 50 menit saja. Jadi jelas aku merasa tidak terlalu senang ketika tahu bahwa penerbangan AF1741ku dijadwalkan berangkat terlambat 20 menit hari ini! Masalahnya lagi, ternyata berita buruknya belum berakhir. Setelah semua penumpang naik pesawat, pilot mengumumkan bahwa Bandara Schiphol sangat sibuk waktu itu sehingga kami baru mendapatkan giliran untuk berangkat 20 menit kemudian! Disini pun masalahnya masih belum berakhir pula. Setelah akhirnya pesawat bergerak, ternyata keberangkatan kami adalah dari:

Landasan pacu 36L alias Polderbaan

Iyaa, Polderbaan laknat itu Semua ini mengakibatkan kami lepas landas satu jam (!) di belakang jadwal.

Berhubung toh semuanya di luar kuasaku, ya sudah aku pasrah saja dan berusaha santai (dan memesan wine dong di pesawat, haha). Tapi aku memang tidak begitu khawatir sih. Aku sudah cek di internet bahwa hari itu Air France memiliki penerbangan malam ke Lyon dari Paris-CDG. Jadi andaikata skenario terburuk terjadi, aku cukup yakin Air France akan memindahkanku ke penerbangan itu. Memang sih ini akan mengakibatkan sedikit ketidak-nyamanan dalam hal waktu tibaku di Lyon, tetapi toh aku sudah pernah ke Lyon sebelumnya jadi tidak terlalu banyak lah yang akan kulewatkan.

Sebotol kecil wine untuk memasrahkan diri kepada situasi.

Anyway, sekitar 50 menit kemudian kami mendarat di landasan pacu 09L Bandara Paris-CDG. Aku berjalan cepat-cepat begitu keluar dari pesawat sekitar 5 menit sebelum jadwal keberangkatan penerbangan lanjutanku, dengan berbekal harapan amat kecil penerbanganku selanjutnya mungkin terlambat juga, haha. Aku kemudian mengecek layar monitor transit di bandara untuk mengetahui gerbang keberangkatannya.

Aku cukup kaget ketika melihat bahwa gerbangnya adalah gerbang yang sama dari mana aku baru saja keluar. Iya, ternyata, penerbanganku ke Lyon akan dioperasikan dengan pesawat yang sama (bahkan dengan set kru yang sama)! Ini adalah kali pertama aku mengalami kejadian begini nih! Haha 😆 . Jadilah akibatnya penerbangan ke Lyon juga kena delay selama 45 menit! Iya, pada akhirnya, semuanya baik-baik saja (untukku)! 😛

Aku menaiki dua penerbangan berbeda (AF1741 dan AF7646) dengan Airbus A320-200nya Air France dengan rego F-GKXA ini hari ini!

Setelah semua penumpang tujuan Lyon naik pesawat, pilotnya meminta-maaf atas keterlambatan ini dan menyebutkan ini disebabkan oleh keterlambatan penerbangan sebelumnya dari Amsterdam. Yah, aku bisa kok bersaksi untuk pernyataan ini! 😛


Lion selfie di Lyon

Relevan untuk disebutkan bahwa perjalanan ini berlangsung di akhir pekan yang amat panas di Eropa; dan di Lyon juga demikian. Panas banget deh ketika aku di sana, dimana suhu udaranya mencapai 30°C, haha. Walaupun begini, toh aku masih sempat jalan-jalan di kotanya, haha 😆 .

Aku membeli tiket harian transportasi umum untuk berkeliling Lyon. Aku menginap di dekat Gare Part Dieu yang berjarak cukup jauh dari Vieux Lyon (Lyon Tua), bagian paling kece (dan paling penuh turis) dari Lyon. Jelas, aku ogah berjalan-kaki kesana apalagi lagi panas-panasnya begini, haha 😆 . Btw, disain tram di Lyon keren-keren loh. Berikut ini salah satunya:

Sebuah tramnya Lyon

Anyway, tidak mengherankan akhir pekan ini ramai banget di Lyon dimana Vieux Portnya penuh orang (baca: turis)! Aku menyebrangi kedua sungai Rhone dan Saone dan berjalan-kaki keliling kotanya. Setelah makan siang, aku naik funicular ke atas bukit Fourviere dimana Basilika Notre Dame-nya Lyon berada. Dari taman kecil di samping basilikanya kita bisa melihat pemandangan Lyon dari atas.

Notre Dame Fourviere di Lyon

Aku lihat di peta dan Teater Gallo-Romains nampak tidak jauh dari basilikanya. Untung ini benar karena aku memutuskan untuk berjalan-kaki kesana, haha 😆 . Teater Romawi ini masih seperti yang kuingat dari tahun 2014, sungguh terawat dengan amat baik.

Teater Gallo-Romains

Dari sana, aku menaiki funicular lain untuk turun kembali ke Vieux Lyon. Aku merasa sudah cukup jalan-jalannya dan toh udaranya panas banget, jadilah aku memutuskan untuk: shopping! Haha 😆 . Bahkan di satu waktu aku memutuskan untuk ngemall aja loh di sebuah mall besar di dekat Gare Part Dieu yang dilengkapi dengan AC, haha 😆 .


Lyon dikenal sebagai ibukota kulinernya Prancis, jadi jelas makanan adalah satu elemen penting dari perjalanan ini, haha, walaupun aku tidak pergi ke restoran berbintang Michelin sih kali ini, tidak seperti yang lalu.

Satu menu yang tidak sempat aku cobain ketika terakhir kali aku di Lyon adalah quenelle de brochet. Jadilah aku berencana untuk tidak melewatkannya kali ini (dan tidak berkeberatan untuk melewatkan andouillette, sebuah makanan khasnya Lyon yang satunya, karena aku trauma dengan saus mustard-nya waktu itu (aku tidak suka mustard Prancis!)). Anyway, quenelle-nya enak juga ternyata. Mungkin aku tidak akan mengklaimnya sebagai masakan terfavoritku karena aku merasa sausnya creamy dan “berat” banget, tetapi (untukku) tetap jauh lebih enak daripada andouillette, haha 😀 .

Quenelle de brochet

Satu menu mengagetkanku, btw, karena (1) jelas, rasanya enak banget dan (2) Kok aku nggak kepikiran sebelumnya ya? Haha. Menu ini adalah steak “fillet de canard” (dada bebek). Beneran loh, rasanya enak banget!! Malahan, aku berpikir untuk sekali-sekali mencoba membuatnya sendiri nih! Hmm 🤔

#1938 – Some Rest!!


I am glad that it is weekend already now, because I do need some rest! Haha 😆 . It turned out that going on three weekend trips on three consecutive weekends was also quite physically taxing, especially that I still worked during the weekdays before, in between, and after those trips, haha.

So I guess I am taking things slow this weekend, where my focus would be on the recovery of my body, haha. Yeah, in other words, I am taking a (short) rest from travelling, lol 😆 . Don’t get me wrong, btw, as I did not regret any of the trips. I would have done them again if I had the chance. But you know, sometimes what we really need is actually to “do nothing”. This way, we are recharging ourselves.

I do believe this rest will be important, btw. I feel like I made some uncharacteristics errors this week, due to misscoordination between what I intended to do and what I really did. For instance, upon arriving at Amsterdam Centraal from Paris, I took my OV Chipkaart out as I was taking the tram to go back home. But upon leaving the station, I tapped my card onto the machine, which I should NOT because this way, €10 was charged from my card literally for nothing! Gosh! As another example, after arriving at home, I wanted to be “efficient” with my time so I washed my laundry. However, I forgot to check some pockets resulting in me also washing my OV Chipkaart and my gym membership key. Lucky both still worked fine afterwards, though, but still…

So yeah, resting sounds like a solid weekend plan for me. Let’s see how it really goes, haha 😆 . You know, there are some household chores to do as well…


Hore, akhirnya akhir pekan lagi, karena rasanya aku butuh istirahat nih! Haha 😆 . Jadi ternyata pergi dalam tiga perjalanan akhir pekan di tiga akhir pekan berturutan itu ternyata melelahkan juga ya (secara fisik), terutama sih karena aku tetap masuk kerja seperti biasa di hari-hari kerja sebelum, di antara, dan setelah perjalanan-perjalanan tersebut, haha.

Jadi aku berencana untuk santai-santai aja deh akhir pekan ini, dimana fokusku adalah di pemulihan kondisi fisik, haha. Iya, dengan kata lain, aku beristirahat (sejenak) dulu dari jalan-jalan, huahaha 😆 . Eh, jangan salah, btw, aku tidak menyesali perjalanan-perjalananku kemarin kok. Aku akan mengulanginya lagi kalau diberi kesempatan, haha. Hanya saja, terkadang yang kita butuhkan adalah “tidak melakukan apa-apa”. Dengan begini, kondisi tubuh kita pulihkan lagi.

Aku percaya istirahat ini penting sekali, btw. Aku merasa aku membuat beberapa kesalahan tidak biasanya minggu ini, akibat miskoordinasi antara apa yang ingin aku lakukan dengan apa yang sebenarnya aku lakukan. Misalnya saja, ketika tiba di Amsterdam Centraal dari Paris, aku mengeluarkan OV Chipkaart-ku karena aku akan naik tram untuk pulang. Nah, ketika keluar dari stasiun, aku menge-tap kartunya di mesin dong, yang mana TIDAK seharusnya aku lakukan karena dengan begini, saldo kartuku dipotong €10 padahal kan aku nggak naik keretanya NS! Aduh! Contoh lainnya, setelah tiba di rumah, aku ingin “efisien” dengan waktuku sehingga aku memutuskan untuk mencuci pakaian kotor. Namun, aku lupa mengecek beberapa kantong sehingga aku juga ikut mencuci OV-Chipkaart dan kunci keanggotaan gym-ku. Untungnya keduanya masih bekerja dengan baik sih setelahnya. Tapi tetap aja lah ya…

Nah, jadilah istirahat terdengar seperti rencana akhir pekan yang solid nih untukku. Kita lihat saja akhirnya bagaimana, haha 😆 . Ya gimana ya, masih ada beberapa pekerjaan rumah tangga yang penting juga untuk dilakukan nih, haha…