#1909 – The Mental Roller Coaster of My PhD Defense

ENGLISH

This post has been sitting in the Draft section for quite some time, patiently waiting for its turn to get published. Well, before the topic becomes too outdated, I share it now ๐Ÿ™‚ .

***

Some time ago, I shared how my PhD defense and graduation went. In that post, I concentrated on what happened during that day, one of the most important days in my life. This post will cover a different aspect of the defense: the emotional roller-coaster I had to “ride” – the one that peaked during the defense, haha.

Defending

During my PhD thesis defense

I think it is not surprising that a PhD defense could be “terrifying” for the PhD candidate.ย Well, it is basically “the” moment the candidate has been working for. All of his/her life inย the last four to five (maybe even more) years is for this moment. So when the moment is approaching, so is the tension.

Luckily for me, though, about ten daysย before the defense, I attended a really, really big and awesome party. I have to say the party helped channel out a lot of the tension away.

The party involved me dressing up in a Star Trek uniform too ๐Ÿ˜›

Then exactly a week before the defense, my supervisor organized a “practice” session between me, her, and a professor who was not directly involved in my PhD research. The idea was that I would get bombarded with questions; and involving an “outsider” was certainly a good idea to open up new perspective I might have not thought of. And I did well in this session. We planned this session for an hour but it ended up being two hours, haha. This, certainly, raised my confidence level as well, making me feel that I was, in fact, ready for the defense.

The day before the defense, I went to Amsterdam with my parents and my brother. While having lunch at a Japanese restaurant, I started to feel not really good. I wasn’t sick, but it felt like I was going to get sick. It was weird as I was completely fine before, so I thought it might beย because the tension of the defense started to crawl in and it affected my brain. Whatever it was (I am sure it wasn’t the food, though ๐Ÿ˜› ), what I knew was that I needed some rest. So immediately after lunch, we went back to Delft.

A bowl of ramen for lunch

A bowl of ramen for lunch

On the day of the defense, I misread the bus number which caused usย to take the wrong bus to go to the venue of my defense. As a result, we had to walk to the Aula before my defense, haha. On the flip this, this mistake was good to make as it made me realize I was not in the “best” mental state. I needed to take a deep breath and calm down.

Though, it was much easier said than done, haha. I felt really crazily nervous during the defense; though the advices from the British stand-up comedian appeared to work and I looked perfectly fine ๐Ÿ˜› . Obviously my brain was still functioning fineย in processing the questions and providing the answers. Actually it worked atย 100% performance capacity, though it felt like some good portion of that was spent toย manage the anxiety, haha. But this was part of the defense “game”, indeed ๐Ÿ˜‰ .

Defending

Defending my thesis and arguments

And so it was also unsurprising that I felt really tired once the defense was finished, haha. But at the same time, I also felt glad it was over ๐Ÿ™‚ .

Then, the graduation followed immediately. As I mentionedย before, this part was the most “emotional” part of all. This wasย the moment every PhD candidate was hoping and working towards for. And now, this moment was mine. I was, finally, there.

Following my graduation was a speech by my supervisor. As I also mentioned, we had known each other for almost seven years. She was actually the one who opened the door for me to move to Europe in 2010, when she awarded me the full Master scholarship to TU Delft. And now, here we were, seven years later, and I was standing in front of her (all other people as well) just after becoming a Doctor. For a short moment, I had tears in my eyes. Just a little bit, though ๐Ÿ˜› .

A graduation speech

Myย graduation speech

My mental stateย gradually went back to normal from thereon. The reception and dinner that followed brought up the festive feelingย in me, thus neutralizing the melancholy that had formed.

Then,ย what I felt was the feeling of “freedom”. Not that I was not “free” before, but more like a “free” feeling once I achieved what I had been working so hard for. This, of course, came with a sense of satisfaction and some level of confidence ๐Ÿ™‚ .

***

Yeah, indeed that was an interesting period of my life; not only the actual real stuffs that I needed to take care of, but also the mental aspectย that needed to be managed. This period was, indeed, a unique period in the entirety of my PhD years. And I will cherish that.

BAHASA INDONESIA

Posting ini sudah cukup lama duduk manis di Draft menunggu giliran dengan sabar untuk di-publish. Sebelum topiknya menjadi basi, sekarang aku bagikan aja deh ya, hehehe ๐Ÿ™‚ .

***

Beberapa waktu yang lalu, aku menceritakan bagaimana sidang dan wisuda PhD/S3-ku berlangsung. Di posting itu, aku konsentrasi pada apa yang terjadi hari itu, salah satu hari terpenting dalam hidupku. Posting ini akan membahas aspek lain dari sidang ini: roller-coaster emosi yang harus aku “naiki” – yang mana puncaknya adalah pada saat sidang itu, haha.

Defending

Pada saat sidangย PhDku

Aku rasa tak mengejutkan bahwa sidang PhD itu bisa menjadi “menakutkan” bagi banyak mahasiswa PhD. Iya kan,ย momen ini adalah momen yang sudah sangat amat dikejar dan diusahakan. Seluruh kehidupannya selama empat sampai lima (bahkan mungkin lebih) tahun adalah untuk momen ini. Jadi ketika momennya beneran datang, kan tekanannya juga terasa semakin tinggi ya.

Untungnya untukku, sekitar sepuluh hari sebelum sidang, ada sebuah party besar dan seru banget. Nah, party-nya benar-benar membantuku untuk menyalurkanย banyak tekanan itu keluar.

Di party-nya aku berkostum seragam Star Trek ๐Ÿ˜›

Lalu, tepat seminggu sebelum sidang, pembimbingku dan aku mengadakan sesi “latihan” antara aku, ia, dan seorang profesor yang tidak terlibat langsung dalam riset PhDku. Tujuannya adalah untuk membombardirku dengan pertanyaan-pertanyaan; dan melibatkan “orang luar” adalah ide yang baik untuk mendapatkan perspektif baru yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Dan aku menjalani sesi ini dengan cukup baik. Sesi yang kami rencanakan selama satu jam ini akhirnya berlangsung dua jam, haha. Ini, jelas, meningkatkan rasa percaya-diriku juga, dimana aku menjadi lebih yakin bahwa memang aku sudah siap untuk menjalani sidang.

Sehari sebelum sidang, aku pergi ke Amsterdam bersama orangtua dan adikku. Ketika makan siang di sebuah restoran Jepang, tiba-tiba aku mulai merasa nggak enak badan dong. Aku nggak sakit sih, tetapi kok rasanya muncul pertanda ke arah sana gitu. Aneh banget karena sebelumnya aku baik-baik saja lho, jadi aku duga sih ini adalah tekanan bawah sadar akibat sidang yang akan kujalani keesokan harinya mulai merembet masuk ke otakku. Apa pun itu (aku yakin bukan karena makanannya kok ๐Ÿ˜› ), aku tahu aku perlu beristirahat. Jadilah setelah makan siang, kami kembali ke Delft.

A bowl of ramen for lunch

Ramen untuk makan siang

Di hari sidang, aku salah membaca nomor bus yang menyebabkan kami naik bus yang salah untuk menuju lokasi sidang. Sebagai akibatnya, kami harus berjalan kaki ke Aula sebelum sidang, haha. Sisi baiknya dari kesalahan ini adalah, aku disadarkan bahwa saat itu kondisi mentalku sedang tidak “prima”. Aku perlu menarik nafas dalam-dalam dan menenangkan-diri.

Tapi semua itu mudah diucapkan tapi prakteknya lebih susah sih, haha. Aku merasa amat gugup ketika sidang; walaupun saran-saran dari stand-up comedian asal Inggris bekerja dengan baik sehingga dari luar aku nampak baik-baik saja ๐Ÿ˜› . Jelas otakku masih berfungsi dengan baik dalam memproses pertanyaan-pertanyaan dan memberikan jawaban-jawabanku untuknya. Sebenarnya, aku merasa otakku saat itu bekerja dalam kapasitas 100% kok, walaupun rasanya sebagian darinya digunakan untuk mengatur ketegangan yang kurasakan, haha. Tetapi ya memang ini lah bagian dari “permainan” sidang PhD ini sih ๐Ÿ˜‰ .

Defending

Mempertahankan disertasi dan argumenku

Sehingga tidak mengherankan ketika aku merasa lelah ketika sidangnya berakhir, haha. Tetapi di waktu yang sama, aku juga lega semuanya telah berlalu ๐Ÿ™‚ .

Kemudian, sidang dilanjutkan dengan wisuda. Seperti yang kusebutkan yang lalu, bagian ini adalah bagian paling “emosional” dari semuanya. Ini lah momen yang mana setiap kandidat PhD harapkan dan bekerja untuknya. Dan kini, momen ini adalah milikku. Akhirnya, aku tiba juga di sana.

Setelah diwisuda, pembimbingku memberikan kata sambutan dan ucapan selamat. Seperti yang pernah kubilang, kami sudah mengenal satu sama lain sekitar tujuh tahunan. Ia lah yang membukakan pintu untukku pindah ke Eropa di tahun 2010, ketika ia menganugerahiku beasiswa penuh S2 ke TU Delft. Dan sekarang, di sini lah kami, tujuh tahun kemudian, aku berdiri di hadapannya (dan orang-orang lain) tepat setelah mendapatkan gelar Doktor. Selama sedikit detik, tanpa terasa aku merasakan sedikit air keluar dari mataku. Sedikit doang kok, haha ๐Ÿ˜› .

A graduation speech

Sambutan wisudaku

Kondisi mentalku perlahan-lahan berangsur normal setelahnya. Wisudaku diikuti dengan resepsi dan makan malam yang membawa perasaan senang di dalam hatiku, sehingga menetralisir perasaan melankolis yang telah terbentuk.

Lalu, aku merasakan “kebabasan”. Bukannya aku tidak “bebas” sebelumnya, tetapi lebih seperti perasaan “bebas” ketika aku telah mendapatkan apa yang aku inginkan dan aku telah bekerja-keras banget untuknya, haha. Ini, tentunya, juga datang lengkap dengan kepuasan dan rasa percaya-diri ๐Ÿ™‚ .

***

Yeah, memang ini adalah periode yang menarik dari hidupku; tidak hanya harus menghadapi hal-hal yang memang harus aku urus, tetapi aku juga harus bergular dengan aspek mentalnya. Memang periode ini adalah periode yang unik dari tahun-tahun PhDku. Dan aku akan selalu menghargainya.

Advertisements

17 thoughts on “#1909 – The Mental Roller Coaster of My PhD Defense

  1. Wah keren nih udah dapat gelar S2. Berarti selama ini di belanda kerja dan kuliah dong? Kirain Kantor yg lama, entahlah ada hubungannya delft itu tempat kuliahnya. Dan kerjaan disana semacam tugas untuk menyelesaikan S2. Apa beda ya? Bingung sendiri saya.

    1. Hehe, S2 sih sudah kudapat 5 tahun yang lalu. Yang kemarin ini S3 ๐Ÿ™‚ . Dan S3 itu kerja karena melakukan pekerjaan riset; yang mana salah satu imbalan besarnya adalah gelarnya itu ๐Ÿ™‚ .

  2. bisa dibanyangkan lah ya ko. selama ini kamu kan gak putus putus untuk sekolahnya. dari primer sampe s3. pasti lega banget deh.

  3. Inget banget waktu mau ujian S1 juga sakit saking gugupnya.. Ehhhh.. Ditambah Pengujinya Combo Hot alias Dekan (yg terkenal kritis) dan dosen terkiller di jurusan. Makin2 lah. Sampai H+7 tuh inget banget sakitnya..wkwkw.. Padahal pas HH nya mereka biasa aja. Semua pertanyaan bisa terjawab, cuma karena mental dah droop duluan, ya bgitu deh.. haha.. Lega ya Ko, belajar sekian tahun terlewati dgn baik.Sekarang tinggal metik hasilnya deh ๐Ÿ˜€

  4. Hai Zilko, dulu waktu dpt kabar teman lulus sidang S3 aku cukup bilang selamat dgn hati senang, hampir seperti denger berita bahagia lainnya. Sampai suatu ketika, seorang teman yg cukup dekat memberi kabar bahwa dia akan sidang (datang dr Bandung setelah meninggalkan Rotterdam) dan memintaku datang memberi dukungan di sidangnya. Dari situlah mata mulai terbuka, bahkan terbelalak maksimal, bukan..
    … bukan krn mendengar pertanyaan bertubi tubi Dari sepuluh orang professor yg bersemangat menguji temanku, tapi dari jawaban yg diberikan…. Begitu tenang, tepat dan kena sasaran. Dari situ aku begitu menghargai Dan begitu bangga pada mereka yg bisa berdiri mempertahankan thesis nya. Kamu dan para ilmuan itu semua adalah para manusia special, selamat Zilko Dan selamat berkarya. Oh ya waktu nonton defense itu aku sampe menitikan air Mata, cuma harapan seorang emak emak yg ingin suatu hari bisa duduk lagi di kursi paling depan melihat si kembar sidang PhD juga hehehe

    1. Hehehe, terima kasih ๐Ÿ™‚ .

      Betul, menonton sidang S3 (terutama di Belanda) memang membukakan mata ya. Juga seru karena prosesinya lumayan ketat ๐Ÿ™‚ .

      Sebelum sidang, kami selalu diingatkan bahwa bagaimana pun juga, kami lah expert dari thesis yang kami buat itu, bukan profesor-profesornya. Kan kami yang menghabiskan hidup selama 4 – 5 tahun terakhir untuk itu. Ini sengaja diucapkan agar rasa percaya diri muncul, sehingga diharapkan bisa tenang semasa sidang karena, kebayang kan, tekanannya luar biasa! Dengan bersikap tenang, otomatis pertanyaan-pertanyaannya jadi bisa dicerna dengan lebih baik sehingga jawaban-jawabannya juga bisa tepat sasaran. Teorinya sih begitu, walaupun kenyataannya tetap sulit untuk bisa benar-benar tenang 100%. Bagaimana pun juga, perasaan groginya pasti masih ada, hahaha ๐Ÿ˜› .

      Amin! Mudah-mudahan suatu hari nanti si kembar bisa berdiri di hadapan para profesor mempertahankan thesisnya ya!! ๐Ÿ™‚

  5. Aku belum sampai ke tahap merasakan sidang hahaha, masih berkutat dengan semua hal yang berkaitan dengan mata kuliah saja XD Semoaga aku juga bsia cepet ngerasain rasanya disidang penguji penasaran deh hahaha ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s