Posted in EuroTrip, One Week Trip, Travelling, Vacation

#1828 – Side Stories from My September 2016 Sabbatical Trip: Europe

ENGLISH

Posts in the September 2016 Sabbatical Trip: Europe series:
1. Introduction
2. Part I: Bucharest
3. Part II: A Romanian Wedding
4. Part III: The Dracula Castle Tour
5. Part IV: Aegean Airlines and Athens
6. Part V: Santorini

In this post, I would like to share some side stories from the European part of my September 2016 Sabbatical Trip. The main story can be found in the six posts I linked above😀

***

Donkey

Once, our hotel guy in Santorini told us he could help us bring our luggage with “his donkey”. Well, I thought it was a car or some sort of vehicle. You know, some people liked to name their cars/vehicles, and we thought maybe this guy just loved donkeys so much that he named his after one, lol😆 . But then, it turned out to be:

The donkey
The donkey

Yes, the “donkey” was literally a donkey! Lol😆 .

We noticed that there were a lot of donkeys in Santorini, that it appeared to us that donkey was the symbolic animal of the island.

Getting Lost in Finikia

Speaking of our hotel in Santorini, we stayed in the village of Finikia and there was a post-worthy experience about getting to this hotel.

Hotel in Finikia
Our hotel in Finikia

We arrived in Santorini in the evening. I already mentioned in Part IV that we had to deal with a reservation problem with our rental car in Santorini just after arriving there. Note that we did a half-day transit trip to the city of Athens that day too; and we had to get up quite early in Bucharest to catch our flight. The bottom-line, we were already really tired  when we left the airport. And not to mention it took us about 40 minutes to get to Finikia (in the darkness of night) through Santorini’s mountainous road.

Then, Finikia turned out to be a village location on a hill. Moreover, it was a typical Santorinian village with only pathways and was very intricate. In short, for us that night, Finikia was literally a very complicated and physically taxing maze. Then imagine us who had to go down those pathways with no map (my offline map was useless as it did not reach the level of details I needed to guide through the confusing pathways of Finikia) and our luggage (no donkey nor guidance as we failed to contact our hotel guy about our arrival time).

Finikia
Finikia during the day

At one point, I asked my parents to wait at a spot and I would look for the hotel first, by myself (so they would not need to walk far carrying the luggage with high risk of getting lost). Look, one of my absolute strength while travelling is my sense of direction. I almost never get lost, really; as I recognize the whereabout really fast. I have to write the word “almost” in the previous sentence because, well, that night, my sense of direction failed.

I was looking for the hotel but I couldn’t find it. There was lack of signage in the village; and the complexity of the pathways, I must admit, overwhelmed me that night. A guy told me that I needed to follow the blue arrows painted on the pathways, which would guide me to the hotel (Seriously). However, the blue arrows weren’t very visible in the dark and, at some point, I lost them. However, with some luck, some struggles, and more concentration to look for the arrows, I found the hotel.

Follow the blue arrows
The blue arrows which were supposed to guide us to the hotel. The problem was, they were not as visible during the night

Okay, hotel found, now I just needed to get back to where I left my parents. The problem was, I did not remember how to get there anymore. It was not just as easy as saying: “But you just need to go back to wherever you came from“. No, the problem was, I was literally lost before I found the hotel. So it was not easy at all to track from which direction I came from. To make matter even worse, the hotel reception was empty already. To make it even worser, my phone battery died. But for this at least I already had my power bank with me; but this was still annoying. I was really stressed, lol😆 .

Long story short, I found the location of my parents (after getting lost a few times as well), who apparently were already very worried. Well, I had left them for good 30 – 45 minutes at that point so … . Then we walked to the hotel. I called the hotel guy and, luckily, he showed up quickly at the door.

Yeah, what a day it was! A long and tiring travelling day, a problem with the car rental, driving in the dark in a foreign island, and the maze of Finikia. Well, but in the end it made a good travel story to share, I guess. Oh, and an experience to remember too😛 .

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri September 2016 Sabbatical Trip: Europe:
1. Introduction
2. Part I: Bucharest
3. Part II: A Romanian Wedding
4. Part III: The Dracula Castle Tour
5. Part IV: Aegean Airlines and Athens
6. Part V: Santorini

Di posting ini, aku ingin membagikan beberapa cerita sampingan dari perjalanan bulan sabatikal September 2016ku di Eropa. Cerita utamanya bisa dibaca di enam posting di atas😀

***

Keledai

Bapak-bapak pemilik hotel kami bilang bahwa ia bisa membantu kami membawa barang dengan “keledai”-nya. Waktu itu, kupikir ini adalah semacam kendaraan gitu. Tahu kan, beberapa orang suka memberi nama mobil/kendaraannya, dan aku pikir bapak-bapak ini suka banget sama keledai sehingga kendaraannya dinamakan berdasarkan itu, haha😆 . Nah, ternyata, kendaraannya itu kayak gini:

The donkey
Keledainya

Ya, “keledai”-nya ternyata adalah keledai beneran! Huahaha😆.

Kami perhatikan memang ada banyak keledai di Santorini. Sepertinya sih keledai memang adalah binatang lambang pulau ini.

Tersesat di Finikia

Ngomongin hotel kami di Santorini, kami menginap di desa Finikia dan di sini ada sebuah pengalaman yang layak banget deh diceritakan di sini.

Hotel in Finikia
Hotel kami di Finikia

Kami tiba di Santorini di malam hari. Sudah kusebutkan di Bagian IV bahwa malam itu setelah mendarat di sana, kami dihadapkan sebuah masalah dengan reservasi mobil sewaan kami di Santorini. Penting diingat juga bahwa hari itu kami juga pergi dalam sebuah perjalanan transit setengah hari di kota Athena; dan paginya kami harus bangun pagi di Bucharest untuk mengejar penerbangan kami. Intinya, kami sudah kelelahan sekali ketika meninggalkan bandaranya. Belum lagi perjalanan selama sekitar 40 menit untuk pergi ke Finikia (di tengah gelapnya malam) melewati jalanan Santorini yang bergunung-gunung.

Ternyata Finikia adalah sebuah desa yang berlokasi di lereng bukit. Lebih jauh lagi, desa ini adalah desa tradisional Santorini dengan jalanan berupa gang-gang kecil saja yang susunannya ruwet sekali dan penuh tangga-tangga. Singkatnya, bagi kami malam itu, Finikia adalah sebuah labirin yang membingungkan dan melelahkan secara fisik. Lalu, bayangkan bahwa kami harus melewati gang-gang kecil itu tanpa peta (peta offline di smartphone-ku tidak berfungsi karena tidak sampai mendetail di level gang yang kubutuhkan untuk mengurai ruwetnya Finikia) dan bagasi kami (tidak ada keledai ataupun petunjuk malam itu karena orang hotel kami tidak bisa kami hubungi).

Finikia
Finikia di pagi hari

Di satu waktu, aku meminta orangtuaku untuk menunggu saja di suatu tempat sementara aku akan pergi mencari hotelnya sendirian (jadi mereka tidak perlu berjalan jauh sambil membawa bagasi tanpa kepastian arah perginya harus kemana). Begini, salah satu keunggulanku ketika traveling adalah keawasanku akan arah. Aku nyaris tidak pernah tersesat, beneran, karena bagiku tidak sulit untuk memahami kondisi di sekitarku. Aku harus menambahkan kata “nyaris” di kalimat yang lalu karena malam itu, keawasan arahku tidak bekerja.

Aku berusaha keras mencari hotelnya tetapi tidak berhasil. Hanya ada sedikit petunjuk saja di desa itu; dan keruwetan gang-gang di desanya, harus kuakui, membuatku kewalahan. Aku diberi-tahu seorang bapak-bapak untuk mengikuti tanda panah berwarna biru yang dicat di gang-gangnya yang seharusnya akan menuntunku ke hotelnya (beneran ini). Namun, panah-panah biru itu tidak mudah untuk dilihat di bawah gelapnya malam dan, di satu waktu, aku tidak bisa melihatnya lagi. Singkat cerita, dengan sedikit keberuntungan, kegigihan, dan konsentrasi yang lebih, aku berhasil menemukan kembali panah-panahnya dan hotelnya kutemukan.

Follow the blue arrows
Panah-panah biru yang seharusnya menuntunku ke hotel. Masalahnya, panahnya tidak terlalu kelihatan di malam hari.

Oke, hotelnya ketemu, sekarang aku hanya perlu kembali ke lokasi dimana orangtuaku aku tinggalkan. Masalahnya, aku tidak ingat dari arah mana aku datang. Ini nggak semudah ngomong “Tapi kan kamu cuma tinggal kembali ke arah darimana kamu datang“. Masalahnya, aku beneran tersesat sebelum hotelnya kutemukan. Jadi nggak mudah kan merunut dari arah mana aku datang. Lebih parahnya lagi, malam itu reception hotelnya sudah kosong dong. Lebih nyebelinnya lagi, baterai hapeku habis dong. Eh, tetapi untuk ini untungnya aku sudah menyiapkan power bank denganku sih; tetapi ini mah masih aja menyebalkan ya, haha😆 .

Singkat cerita, akhirnya lokasi orangtuaku bisa kutemukan (setelah tersesat dua kali juga), yang mana ternyata sudah merasa khawatir banget. Yah, aku sudah meninggalkan mereka selama 30 – 45an menit sih waktu itu, jadi ya wajar aja lah ya, haha. Lalu, kami berjalan ke arah hotel, menelepon orang hotelnya lagi dan, untungnya, tak lama kemudian ia muncul.

Iya, benar-benar hari yang gila deh! Sebuah hari penuh dengan perjalanan yang panjang dan melelahkan, masalah dengan mobil sewaan, menyetir mobil di tengah gelapnya malam di pulau yang asing, dan labirinnya Finikia. Ah, pada akhirnya ini menjadi sebuah cerita perjalanan yang seru untuk diceritain sih ya. Oh, dan seru juga untuk diingat-ingat sih😛 .

26 thoughts on “#1828 – Side Stories from My September 2016 Sabbatical Trip: Europe

  1. horor juga ya masa penunjuk jalan nya cuma berupa arah yang ada di jalan… pasti susah banget pas malem2 nyari tempat disanaa.
    Tapi pemandangan disana bagus banget ya 😆

  2. Aha I found the small streets of Santorini to be quite confusing too, and also in Mykonos. I actually love it but also hate it when I had to find something 😆😆

  3. Waktu kita tracking dari Fira ke Oia, beberapa kali nolongin orang yang ribet ama bawaan menuju hotel nya, segala bantuin dorong buggy anak kecil lah, kebayang kan kontur naik turun belok kiri kanan, orang tuanya udah ribet ngangkat koper :-))

    1. Soalnya gak ada internet, hahaha. Roamingnya aku matiin soalnya. Dan sudah download offline map juga sih (yang ada GPSnya juga), tapi ternyata petanya gak sampe ke level gang gitu. Padahal di Finikia jalanannya gang semua 😅.

  4. Aku juga merasa aneh dengan orang yang gak bisa baca peta. Kebanyakan temen temenku yg nanyain gimana aku selamat saat liburan tanpa travel permasalahannya ya itu mereka gak bisa baca peta. 😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s