Posted in Aviation, North America Trip, The Caribbean, Trip Report, Vacation

#1818 – September 2016 Sabbatical Trip: The Caribbean (Part I: Getting to Sint Maarten)

ENGLISH

Posts in the September 2016 Sabbatical Trip: The Caribbean series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Sint Maarten
3. Part II: Sint Maarten
4. Part III: The Maho Beach
5. Part IV: Saint Martin
6. Part V: Back to the Netherlands

***

KL Logo
Flight: KLM Royal Dutch Airlines KL 785
Equipment: Boeing 747-400 reg PH-BFG named “City of Guayaquil”
ATD: 08:15 CET (Runway 36L of AMS)
ATA: 10:48 AST (Runway 10 of SXM)

Amsterdam to Sint Maarten. Created with gcmap.com
Amsterdam to Sint Maarten. Created with gcmap.com

Since the flight was scheduled to depart at 8:15, we left Rotterdam Centraal Station at 5:00. This allowed us to arrive at Schiphol at around 6:00. We checked-in at KLM’s priority check-in area; where the check-in lady had quite a hard time understanding our destination. I guess not a lot of people checking-in there were going to Sint Maarten, or that my pronunciation of “Sint Maarten” was not standard so the message got lost somewhere, haha😆 . Long story short, after passing security and clearing immigration, my dad and I went to the KLM Crown Lounge while my mom window-shopped at the stores (I could only guest one passenger at the lounge for free😦 ).

A KLM's Boeing 747-400 reg PH-BFG
A KLM’s Boeing 747-400 reg PH-BFG

Aside from finally being about to land at Princess Juliana International Airport, another aspect which excited me a lot about today’s flight was flying with a Boeing 747! Yeah, finally I was flying one of the Queen of the Skies! So I was super excited when boarding finally commenced at around 7:30! The flight today was operated with KLM’s 26 year-old PH-BFG, which they named “City of Guayaquil”.  Even though PH-BFG was 26 year-old, the plane certainly did not look old especially in the inside. The cabin appeared very well-maintained and the seats were quite modern, even though not the newest generation for the obvious reason (KLM is phasing out the 747s).

A double-decker, yeay!
A double-decker, yeay!

After boarding completed (the flight was pretty much full today, I estimated the load factor in economy at about 95%), the flight departed. The safety demo was played via the personal AVOD screen; and it was the newest version with the animated Delft blue ceramics. The take-off would be at the Polderbaan. But today I did not mind the 15+ minutes taxiing as this meant I got to enjoy the ride on the 747 longer! Haha😆 The take-off was very smooth; typical take-off with a jumbo-jet where the angle of climb was not steep at all thus (in my opinion) very comfortable for the majority of passengers.

Taking-off from runway 36L of Schiphol (the Polderbaan)
Taking-off from runway 36L of Schiphol (the Polderbaan)

About 45 minutes into the flight, the breakfast service was distributed. There was no option for breakfast, which consisted of an egg dish with potato, fruit, and yoghurt. It was a typical economy class breakfast service. The flight attendant in-charge of my row was very attentive and active as well, where she kept going around offering drinks throughout the flight.

Breakfast service on board flight KL 785
Breakfast service on board flight KL 785

To pass the time, obviously I used the AVOD system. To my delight, the content of the system has improved dramatically since the last time I flew long-haul on board a KLM flight (KL 868 from Osaka to Amsterdam); heck it has even improved from the last time I flew a KLM’s wide-body (the fifth-freedom segment of KL 810 from Jakarta to Kuala Lumpur). The music selection is much better now (it even included a long list of BBC 1 Lounge covers! 😍). The movies selection is quite up-to-date and the TV-shows selection is sufficient, in my opinion. I decided to watch Me Before You (which turned out to be a good movie!) and two episodes of The Big Bang Theory🙂 .

Me Before You
Me Before You

Somewhere above the Atlantic, the flight attendants distributed cups of ice cream. Then about 2 to 3 hours before landing, a lunch service was distributed. The options were chicken or pasta; and obviously I opted for the chicken one. As usual on board a KLM flight, the meal was delicious! It came with a salad, a dessert, and crackers and cheese.

The chicken option for the lunch service
The chicken option for lunch

About eight hours into the flight, we left the cruising altitude and started our descent as we were approaching Sint Maarten. I started to get all excited, haha😆 . And then, in the distance I was able to spot the island. And then the super famous airport! 😍 Oh wow, this was happening!!

Hello, Sint Maarten! 😍
Hello, Sint Maarten! 😍

If up to this point I have mentioned here that the view upon landing at Innsbruck Airport is the most beautiful, this statement is (finally) no longer true now. For me, landing at Sint Maarten’s Princess Juliana International Airport provides the best view, ever! Here is the landing video:

😍😍😍 You just see how beautiful it was? 😍😍😍

Despite the short runway, the 747 landed smoothly at runway 10 of SXM. Not long after, the plane docked at the terminal. As the Curacao-bound passengers were asked to stay on board (KL 785 is a triangular Amsterdam – Sint Maarten – Curacao – Amsterdam flight), I noticed that only less than half of the passengers were travelling to Sint Maarten, hmm. Long story short, we passed the immigration with no problem and took our luggages afterwards.

Thanks for the ride, PH-BFG!
Thanks for the ride, PH-BFG!

And here, ladies and gentlemen, finally I was standing in the island of Sint Maarten!! 😍 And yes, my dream just came true!!

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri September 2016 Sabbatical Trip: The Caribbean:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Sint Maarten
3. Part II: Sint Maarten
4. Part III: The Maho Beach
5. Part IV: Saint Martin
6. Part V: Back to the Netherlands

***

KL Logo
Penerbangan: KLM Royal Dutch Airlines KL 785
Pesawat: Boeing 747-400 reg PH-BFG bernama “City of Guayaquil”
ATD: 08:15 CET (Runway 36L of AMS)
ATA: 10:48 AST (Runway 10 of SXM)

Amsterdam to Sint Maarten. Created with gcmap.com
Amsterdam ke Sint Maarten. Dibuat dengan gcmap.com

Karena penerbangannya dijadwalkan jam 8:15 pagi, kami berangkat dari stasiun Rotterdam Centraal sekitar jam 5 pagi. Ini memungkinkan kami untuk tiba di Schiphol sekitar jam 6. Kami check-in di area check-in prioritasnya KLM; dimana petugas check-in-nya kesulitan menangkap nama tempat tujuan kami. Aku duga mungkin nggak banyak ya yang pergi ke Sint Maarten, atau mungkin pengucapan “Sint Maarten”-ku nggak mainstream sehingga malah jadi membingungkan, haha😆 . Singkat cerita, setelah melewati pemeriksaan sekuriti dan imigrasi, aku dan papaku menunggu di Crown Lounge-nya KLM sementara mamaku cuci mata di pertokoannya Schiphol (Aku hanya bisa membawa satu tamu ke lounge-nya dengan tanpa biaya nih😦 ).

A KLM's Boeing 747-400 reg PH-BFG
Sebuah Boeing 747-400 milik KLM dengan rego PH-BFG

Selain akhirnya sudah hampir kesampaian juga impianku untuk mendarat di Bandara Internasional Princess Juliana, satu aspek lain yang membuatku bersemangat sekali hari ini adalah akhirnya aku akan terbang dengan pesawat Boeing 747 juga! Iyaa, akhirnya aku akan terbang dengan salah satu Queen of the Skies ituu! Jadi jelas dong ya aku bersemangat sekali ketika boarding akhirnya dimulai sekitar jam 7:30! Hari ini, penerbangan dioperasikan dengan PH-BFGnya KLM yang berumur 26 tahun, yang diberi nama “City of Guayaquil”. Walaupun PH-BFG berumur 26 tahun, pesawatnya sendiri tidak menunjukkan tanda-tanda umur yang sudah uzur loh. Kabinnya nampak terawat dengan sangat baik dan kursinya juga cukup modern, walaupun memang bukan kursi generasi tipe terbaru sih karena alasan yang jelas (KLM telah mulai memensiunkan armada Boeing 747nya).

A double-decker, yeay!
Hore, pesawatnya tingkat!

Setelah semua penumpang naik (penerbangan hari ini penuh juga loh, aku perkirakan load factor-nya sekitar 95% deh), kami berangkat. Pemeragaan keselamatan dilakukan melalui layar AVOD personalnya; dan videonya adalah versi terbaru dengan animasi keramik birunya Delft. Lepas landas akan dilakukan di Polderbaan. Namun, khusus hari ini aku tidak keberatan dengan taxiing 15+ menit yang lama ini karena ini berarti aku jadi bisa menikmati penerbangan dengan Boeing 747 lebih lama! Haha😆 . Lepas-landasnya mulus sekali hari ini; tipikal lepas-landas dengan pesawat berbadan jumbo dimana sudut kenaikannya tidak terjal sama sekali sehingga (menurutku) sangat amat nyaman bagi kebanyakan penumpang.

Taking-off from runway 36L of Schiphol (the Polderbaan)
Lepas-landas dari landasan pacu 36L Bandara Schiphol (Polderbaan)

Sekitar 45 menit setelah lepas-landas, layanan sarapan dibagikan. Tidak ada pilihan untuk layanan ini, yang mana terdiri dari masakan telur dengan kentang, buah-buahan, dan yoghurt. Yaa, standar layanan sarapan di kelas ekonomi lah. Pramugari yang bertugas di bagianku juga sangat perhatian dan aktif, dimana ia rajin berkeliling untuk menawarkan minuman sepanjang penerbangan.

Breakfast service on board flight KL 785
Layanan sarapan di penerbangan KL 785

Untuk menghabiskan waktu, jelas aku menggunakan sistem AVODnya. Yang membuatku senang adalah isi dari sistemnya kini sudah jauh lebih baik daripada ketika terakhir kali aku terbang jarak jauh dengan pesawatnya KLM (KL 868 dari Osaka ke Amsterdam); ah, bahkan sudah lebih baik daripada terakhir kali aku terbang dengan pesawat berbadan-lebarnya KLM (segmen kebebasan-kelima penerbangan KL 810 dari Jakarta ke Kuala Lumpur). Pilihan musiknya kini jauh lebih oke (bahkan ada satu daftar panjang BBC 1 Lounge covers loh! 😍). Pilihan filmnya juga cukup up-to-date dan pilihan acara TVnya cukup lah, menurutku. Aku memutuskan untuk menonton Me Before You (yang mana ternyata bagus yaa!) dan dua episode The Big Bang Theory🙂 .

Me Before You
Me Before You

Di suatu tempat di atas Samudra Atlantik, pramugarinya membagikan layanan es krim. Lalu, sekitar 2 atau 3 jam sebelum mendarat, layanan makan siang dibagikan. Pilihannya adalah ayam atau pasta; dan jelas dong aku memilih ayam, haha. Seperti biasa, makanan utama di penerbangannya KLM itu enak-enak! Pilihan ini juga dilengkapi dengan salad, pencuci mulut, dan roti crackers dan keju.

The chicken option for the lunch service
Pilihan ayam untuk makan siang

Setelah terbang selama sekitar delapan jam, pesawat mulai meninggalkan ketinggian jelajah karena kami sudah mendekati Sint Maarten. Mulai deh aku merasa bersemangat lagi, haha😆 . Dan tak lama kemudian, dari kejauhan aku mulai bisa melihat pulau Sint Maarten! Lalu bandaranya yang super terkenal banget itu! 😍 Oh wow, ini benar-benar menjadi kenyataan!!

Hello, Sint Maarten! 😍
Halo, Sint Maarten! 😍

Jika sampai saat ini kusebutkan bahwa ketika mendarat di Bandara Innsbruck kita disajikan pemandangan yang paling indah, pernyataan ini (akhirnya) tidak lagi benar. Untukku, pemandangan paling keren didapatkan ketika kita mendarat di Bandara Internasional Princess Juliana! Berikut ini video pendaratannya:

😍😍😍 Kereeen banget kaan? 😍😍😍

Walaupun landasan pacunya pendek, Boeing 747nya mendarat dengan amat mulus di landasan pacu 10 Bandara SXM. Tak lama kemudian, pesawat tiba di gedung terminal. Penumpang tujuan Curacao dipersilakan untuk tetap menunggu di pesawat (KL 785 adalah penerbangan rute segitiga Amsterdam – Sint Maarten – Curacao – Amsterdam) sehingga aku bisa memperhatikan bahwa hanya kurang dari setengahnya saja yang bertujuan Sint Maarten, hmm. Singkat cerita, kami melewati pemeriksaan imigrasi tanpa masalah dan mengambil bagasi kami.

Thanks for the ride, PH-BFG!
Terima kasih, PH-BFG!

Dan di sini, saudara dan saudari sekalian, akhirnya aku menginjakkan kaki juga di pulau Sint Maarten!! 😍 Yap, salah satu impianku menjadi kenyataan!!

18 thoughts on “#1818 – September 2016 Sabbatical Trip: The Caribbean (Part I: Getting to Sint Maarten)

    1. Gede banget Chris pesawatnya, seru dah!! Hahaha, iya bandaranya gak gede sebenarnya dan runway-nya gak terlalu panjang. Kira-kira seukuran bandara Jogja atau Bandung lah, tapi terminalnya agak gedean. Makanya tricky banget buat pesawat gede gini karena pushing the limit banget 😅.

    1. Bedaa, A380 kan model baru yang double decker-nya di keseluruhan badan pesawatnya. Boeing 747 ini disain tahun 1960/1970an, double decker yg pertama, hehehe

    1. Hahaha, sebenarnya usia pesawat bukan lah masalah selama maintenance-nya oke dan persediaan spare-part masih ada. Misalnya, di Eropa masih ada kok beberapa pesawat uzur (umur di atas 60 tahun) yang masih diterbangkan. Tapi ya ini untuk joy flight aja bukan commercial flight, hehe🙂 .

      Biasanya pesawat yang tua dipensiunkan lebih ke alasan ekonomis saja, bukan karena pesawatnya sudah ketuaan, hehehe😀 .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s