Posted in EuroTrip, One Week Trip, Vacation

#1816 – September 2016 Sabbatical Trip: Europe (Part V: Santorini)

ENGLISH

Posts in the September 2016 Sabbatical Trip: Europe series:
1. Introduction
2. Part I: Bucharest
3. Part II: A Romanian Wedding
4. Part III: The Dracula Castle Tour
5. Part IV: Aegean Airlines and Athens
6. Part V: Santorini

***

I bet most Santorini pictures you have seen are taken in the town of Oia in the north of the island. Indeed, in my opinion this town is the most beautiful part of Santorini. Ideally, we would like to stay in Oia. However, reality hit us that the hotel fare in Oia that we found was in the range of €500 to €800 per night (€ does not lie, lol). So we ended up staying in the village of Finikia, that was not very far away from Oia anyway. Especially that we had a car, we did not think it would be a problem.

Hotel in Finikia
Our hotel in Finikia

Oia

Oia was, indeed, very beautiful! The town was located on top of a cliff overlooking the Santorini caldera. What made the town unique, aside from the predominently blue and white architecture, was that people had to walk to get around. The street was small, narrow, and super crowded; which actually brought unique atmosphere on its own. You could go down and up the cliff, following those sets of narrow stairs, to go on your own adventure in the town.

Oia, Santorini
Oia, Santorini

One popular activity to do in Oia was to chase the sunset. For that, the most popular (and, consequently, the best) spot was the one furthest away in the town, nearing its end in the west side. Especially if you travel during high-season, I recommend you to come there early to “book” your spot; otherwise it would be full of people! Haha😆 . The sunset was, indeed, very beautiful! Moreso when we also got the view of the unique buildings of Santorini!

Sunset in Oia
Sunset in Oia

The Rest of Santorini

But Santorini is more than just Oia. The 90.96 km² island is also home to some other interesting places as well. Our rental car enabled us to get around the island where we found the road to be, generally, narrow, curvy, and had lots of slopes due to the mountainous terrain.

The Red Beach of Santorini
The Red Beach of Santorini

Being an island, obviously there are a lot of beaches in Santorini. My favorite one was the Red Beach. The reason was simple, and it was obvious from the name. The rock on the beach was literally naturally red in color! I found it to be very beautiful!! People could also relax on the beach, though we did not😛 .

Being in Greece, unsurprisingly there are also several ancient sites throughout the island. We went to the Akrotiri Archaeological Site where the remains of an ancient town was preserved in a big museum. There was another one called the Ancient Thira, but we did not get the chance to visit due to it being closed early during the day.

The towns in the island are also interesting in their own way too. The capital of Fira was a good place to eat and we found the small town of Pyrgos to be charming in its own way.

Spending my birthday in Santorini
Almost at the southern tip of Santorini, nearby the Hellenic Navy Lighthouse.

The Food

The food in Santorini was generally delicious and, quite surprisingly, relatively cheap in European standard! The “generic” Greek food (gyros, souvlakis, etc) can be found pretty much everywhere in the island. And I saw several restaurants serving other types of food as well, including Chinese food; so I don’t think you need to worry while travelling there.

Keftedes and a Santorini salad for lunch
Keftedes and a Santorini salad for lunch

Reading some travel sites made me curious to try their keftedes, a fried dish made from tomatoes. It was good, and tasted a little bit like corn bakwans (but made from tomatoes instead of corns) in Indonesia. I also tried the baklava, which was also good.

Back to the Netherlands

transavia
Flight: Transavia HV6464
Equipment: Boeing 737-800 reg PH-HSI
ATD: 11:02 EEST (Runway 34R of JTR)
ATA: 13:07 CET (Runway 18C of AMS)

After returning our car back, we checked-in at the airport. The airport’s terminal building was very small that the Transavia’s passengers had to queue outside the terminal building just to check-in! Haha😆 .

A Transavia's Boeing 737-800 reg PH-HSI
A Transavia’s Boeing 737-800 reg PH-HSI

We were taken by a bus to get to our ride today, a Transavia’s 3.5 years old Boeing 737-800 reg PH-HSI equipped with Boeing Sky Interior! Boarding went quite efficiently today, where not long after we departed and took off from runway 34R of Santorini’s Thira Airport. Here is the taking-off video:

Early in September, I mentioned that my longest narrow-body LCC flight was AirAsia’s Kuala Lumpur (KUL) – Yogyakarta (JOG) flight. Well, this Transavia flight broke that record! This flight distance of 2,402 km “beat” the KUL-JOG distance of 1,515 km. Consequently, the flight duration was also longer at about three hours versus the KUL-JOG’s duration of about two hours.

Santorini to Amsterdam. Created with gcmap.com
Santorini to Amsterdam. Created with gcmap.com

The flight was a typical LCC flight where the service was pretty much non-existent if you were not willing to pay for anything. I decided to buy their monthly sandwich for lunch (meatballs sandwich), which was actually really good! I did not buy any drink as I already bought a big bottle of water at the airport which was much cheaper than the price they quoted in flight😛 . The only IFE was the in-flight magazine. However, I found the Transavia’s magazine to be lacking in content considering the duration of the flight. I would have preferred it had it been a bit thicker; but I was flying an LCC so probably I should not complain😛 .

Meatballs sandwich
Meatballs sandwich

Anyway, at about 13:00, we were already approaching Schiphol Airport. At 13:07, we landed at wunay 18C. After taking our luggage, we took the train to Rotterdam. Here, the European part of my 2016 September Sabbatical Month Trip was over🙂 .

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri September 2016 Sabbatical Trip: Europe:
1. Introduction
2. Part I: Bucharest
3. Part II: A Romanian Wedding
4. Part III: The Dracula Castle Tour
5. Part IV: Aegean Airlines and Athens
6. Part V: Santorini

***

Aku cukup yakin foto-foto Santorini yang pernah kalian lihat diambil di kota Oia di ujung utara pulau ini. Memang sih, menurutku kota ini adalah bagian paling cantik dari Santorini. Idealnya, maunya kami juga menginap di Oia. Namun, kami ditampar oleh kenyataan bahwa harga hotel di Oia yang kami temukan per malam berkisar di rentang €500 sampai €800 (Rp 7,5 – 12 juta). Duit mah nggak pernah bohong ya, huahaha. Jadilah akhirnya kami menginap di desa Finikia (keren ya namanya), yang lokasinya tidak jauh dari Oia. Apalagi kami memiliki mobil disana, kami merasa ini bukan lah masalah.

Hotel in Finikia
Hotel kami di Finikia

Oia

Oia itu memang beneran indah banget! Kotanya berlokasi di atas tebing dengan pemandangan kaldera Santorini. Yang membuat kota ini unik, selain arsitekturnya yang didominasi warna biru dan putih, adalah kita harus berjalan-kaki untuk berkeliling. Jalanan disana kecil, sempit, dan ramai banget; yang mana justru membawa atmosfer unik tersendiri. Kita bisa berjalan menuruni tebingnya, mengikuti tangga-tangga sempit itu, untuk menjelajah kotanya.

Oia, Santorini
Oia, Santorini

Satu aktivitas populer untuk dilakukan di Oia adalah mengejar matahari terbenam. Untuk itu, tempat paling populer (dan memang paling bagus sih) adalah tempat di ujung kotanya, terutama di dekat ujung baratnya. Apabila bepergian di musim ramai, aku sarankan untuk datang ke tempat ini awal untuk menge-“tag” tempatnya; karena kalau tidak, tempatnya akan keburu diisi orang lain! Haha😆 . Matahari terbenamnya sendiri memang indah sekali! Apalagi pemandangannya beserta dengan gedung-gedung unik berarsitektur ala Santorini!

Sunset in Oia
Matahari terbenam di Oia

Bagian Lain Santorini

Tetapi tentu saja Santorini itu lebih daripada sekedar Oia. Pulau seluas 90,96 km² ini juga memiliki beberapa tempat menarik lainnya. Mobil sewaan kami memungkinkan kami untuk berkeliling pulaunya yang mana jalanannya itu secara umum sempit-sempit, berkelok-kelok, dan ada banyak tanjakan dan turunan karena medan yang memang bergunung-gunung.

The Red Beach of Santorini
Pantai Merah di Santorini

Namanya juga pulau, jelas ada banyak pantai di Santorini. Favoritku adalah Pantai Merah. Alasannya sih sederhana, dan jelas pula dari namanya. Batu-batuan di pantainya itu benar-benar asli berwarna merah! Menurutku sih indah banget yah!! Pengunjung juga bisa bersantai di pantainya, tetapi kami enggak sih😛 .

Namanya juga Yunani, tidak mengherankan ada banyak juga peninggalan zaman kuno di pulau ini. Kami mengunjungi Situs Arkeologi Akrotiri dimana reruntuhan kota kuno kini dijadikan museum yang besar. Ada juga tempat lain bernama Ancient Thira, tetapi kami tidak berkesempatan kesana karena tempatnya tutup awal.

Kota-kota di pulau ini juga menarik lho. Ibukotanya, Fira, adalah tempat yang oke untuk mencari makan dan kami merasa kota kecil Pyrgos juga mempesona dengan caranya sendiri.

Spending my birthday in Santorini
Nyaris di ujung selatan Santorini, di dekat Mercusuar Hellenic Navy.

Makanannya

Secara umum makanan di Santorini itu enak dan, cukup mengejutkan nih, tidak terlalu mahal untuk ukuran Eropa! Makanan Yunani “mainstream” (semacam gyros, souvlaki, dll) bisa ditemukan di seluruh pulau. Aku juga melihat beberapa restoran menyajikan makanan jenis lain, termasuk Chinese Food; jadi aku rasa tidak perlu khawatir lah untuk makanan ketika jalan-jalan kesana.

Keftedes and a Santorini salad for lunch
Keftedes dan salad Santorini untuk makan siang

Membaca beberapa situs jalan-jalan membuatku penasaran dengan keftedes, sebuah makanan gorengan dari tomat. Enak juga lho, dan rasanya mirip seperti bakwan jagung (tetapi dibuat dengan tomat bukannya jagung) di Indonesia. Aku juga mencoba baklava, yang mana juga enak.

Kembali ke Belanda

transavia
Penerbangan: Transavia HV6464
Pesawat: Boeing 737-800 reg PH-HSI
ATD: 11:02 EEST (Runway 34R of JTR)
ATA: 13:07 CET (Runway 18C of AMS)

Setelah mengembalikan mobil sewaan, kami check-in di bandaranya. Gedung terminal bandaranya sungguh kecil sehingga penumpang Transavia tujuan Amsterdam harus mengantri di luar gedung terminal untuk check-in! Haha😆 .

A Transavia's Boeing 737-800 reg PH-HSI
Sebuah Boeing 737-800 milik Transavia dengan rego PH-HSI

Kami diantar dengan bus untuk menaiki tumpangan kami hari ini, sebuah Boeing 737-800 milik Transavia yang berumur 3,5 tahun dan berregistrasi PH-HSI yang dilengkapi dengan Boeing Sky Interior! Boarding berlangsung efisien hari ini, dimana tidak lama kemudian kami berangkat dan lepas landas dari landasan pacu 34R Bandara Thira. Berikut ini video lepas-landasnya:

Di awal September, kusebutkan bahwa penerbangan LCC terpanjangku dengan pesawat berbadan kecil adalah di rute Kuala Lumpur (KUL) – Yogyakarta (JOG)-nya AirAsia. Nah, penerbangan Transavia ini memecahkan rekor itu loh! Jarak penerbangan ini sejauh 2.402 km “mengalahkan” jarak KUL-JOG yang sejauh 1.515 km. Sebagai akibatnya durasi penerbangan ini juga lebih panjang yaitu selama sekitar tiga jam sementara durasi KUL-JOG adalah sekitar dua jam.

Santorini to Amsterdam. Created with gcmap.com
Santorini keAmsterdam. Peta dibuat dengan gcmap.com

Penerbangannya sendiri adalah tipikal penerbangan dengan LCC dimana praktis tidak ada layanan apa pun jika tidak mau membayar. Aku memutuskan untuk membeli sandwich spesial bulanan mereka untuk makan siang (sandwich bakso), yang mana rasanya enak lho! Aku tidak membeli minuman apa pun karena aku sudah membeli sebotol besar air di bandara yang mana harganya lebih murah daripada yang dijual di pesawat, haha😛 . Satu-satunya hiburan adalah majalah penerbangan. Namun, aku merasa konten majalahnya Transavia terlalu sedikit untuk durasi penerbangannya. Aku rasa seharusnya majalahnya berkonten lebih banyak; tetapi yang namanya terbang dengan LCC sih ya jadi mungkin aku tidak seharusnya protes😛 .

Meatballs sandwich
Sandwich bakso

Anyway, sekitar jam 1 siang waktu setempat, kami sudah mendekati bandara Schiphol. Jam 1:07 siang, kami mendarat di landasan pacu 18C. Setelah mengambil bagasi, kami menaiki kereta ke Rotterdam. Disini, bagian Eropa dari perjalanan sabatikal bulan September 2016ku berakhir🙂 .

19 thoughts on “#1816 – September 2016 Sabbatical Trip: Europe (Part V: Santorini)

  1. Ko, ngebayangin rate hotelnya yg semahal itu lamgsung gak konsen baca, padahal santorini ini termasuk salah satu destinasi impian. Sutris euy mbynginnya. Hahahaha.

    1. Huahaha, itu kalo rate nginep di Oia kok. Kalau nginepnya di tempat-tempat lain di Santorini sih harganya masih bersaahbat di kantong, hihihi😆 .

    1. Huahaha, itu hotel-hotel yang di Oia kok. Kalau di tempat-tempat lain di Santorini sih rate-nya masih oke banget di kantong. Trus Santorininya sendiri gak mahal-mahal amat menurutku, cenderung standar untuk ukuran Eropa😛 .

  2. Lho boleh bawa botol minum dari airport yaa.. kalau di Asia nggak boleh kan… kalo boleh lumayan banget tuh menghemat setiap kali naik AA :p

    Btw aku ingin sekaliii ke Yunani! Ah, belum kesampean nih🙂

    1. Boleh kok Chris, asalkan botolnya kita beli/isi setelah pemeriksaan sekuriti, hehehe😀 . Tapi not helpful juga sihh kalo pemeriksaan sekuritinya di gate ala di Changi gitu, hahaha😆 .

      Yunani keren ternyata Chris! Ini ada area-area lain yang nampak oke juga😀 .

  3. Wah zilkooo bitu cantik banget pulaunya.

    Jadi negara mana lagi yang belum pernah di kunjungi di eropa neh? 😝

    Tinggal afrika aja ya yg zilko belum sambangin? 😆

    1. Masih buanyakk kalo Eropa Niee, terutama yang timur dan selatan daerah Balkan, ahahahah 😂😂😂. Ah, Australia dan Amerika Selatan juga belum pernah nih 😣

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s