Posted in Aviation, My Interest

#1780 – Some Stories from My AvGeek Weekend Trip #3

ENGLISH

The following are two side stories from my rather recent Avgeek Weekend Trip #3😀 .

CRJ1000 vs ERJ190

In 2014, I made a comparison between a Bombardier CRJ1000 and an Embraer ERJ190, two competing regional airplanes of the similar size and capacity. At the time, my conclusion was that while ERJ190 was roomier, CRJ1000 was quieter and better-looking. Therefore, overall I prefered CRJ1000 more than ERH190, though not by much.

This Avgeek Weekend Trip provided me with a unique opportunity where I got to fly both types on the same day!!😀 So in a way this allowed me to compare these two more objectively.

A KLM Cityhopper's Embraer E190 reg PH-EZD
A KLM Cityhopper’s Embraer ERJ190 reg PH-EZD
A HOP! Brit Air's Bombardier CRJ1000 reg F-HMLI
A HOP! Brit Air’s Bombardier CRJ1000 reg F-HMLI

And now, I can say that I still stick with the conclusion I made in 2014. I just like a CRJ1000 slightly more than an ERJ190.

A Seat Assignment Problem

Two days prior to this trip, a terrorist attack took place in Nice. As a result, KLM closed the online check-in feature for my Nice – Amsterdam flight. I did not know this so I called the call-center, where I was told so and that I would need to check-in normally at the airport. It was not a problem for me.

KLM's Boeing 737-900 seat plan. Source: klm.com
KLM’s Boeing 737-900 seat plan. Source: klm.com

Then I asked if it was possible for me to at least block a seat (being a Flying Blue Gold member). He said it was. Since I knew the flight would be operated with a Boeing 737-900, I asked for seat 11A, which was in the first row of economy with regular leg room (the blue seats above) so I could book it for free. Seat 11A was already taken at the time and so the agent offered me a seat in the economy comfort section whose leg room was roomier (the orange seats above) free of charge. He said seat 10A was available and asked if I was okay with it. Well, SeatGuru did not indicate anything negative about this seat at the time so I agreed.

Garuda Indonesia's Boeing 737-800 reg PK-GFQ which brought me to Jakarta as GA 213
Look at the windows of this Garuda’s Boeing 737-800. Just before the wing, you can see the two “windowless” parts.

However, one detail I hate from the design of a Boeing 737 is the windowless part(s) at the front-middle part of the plane, just before the wing. If you happen to be seated on the window seat at this part of the plane, then you get a window seat without a window! Nightmare!! And as you can see, seat 10A is likely to be at this part of the plane!

So afterwards I looked for a video trip report of a KLM’s Boeing 737-900 flight. Quickly I found this trip report in Youtube which confirmed my concern as shown in this screenshot:

Seat 10A, a windowless window seat!
Seat 10A, a windowless window seat!

Yes, seat 10A (the last window seat with the orange cap) is a windowless window seat on board a KLM’s Boeing 737-900!! The problem was, the online system was blocked for safety concern so I could not change the seat assignment myself. I decided that I would ask the airport agent to do that for me during the trip.

Fast forward to the trip day, the agent I talked to at Schiphol offerred me to move to seat 3A. But then, the system asked for a payment because, as I said above, an economy comfort seat was not free of charge for a Flying Blue Gold flyer even though I was entitled for a 50% discount with my status. But of course I did not want to pay for that. I argued that I was already given an economy comfort seat before so why now I would have to pay to move to another economy comfort seat which was still unoccupied?

The agent talked with two other more senior agents but none of them could help me to move to seat 3A without me paying the fee. Okay, well, my flight to Lyon was about to board soon so I just said that I did not want seat 10A. I asked them to move me to any unoccupied window seat even if it was at the back of the plane. These seats were free of charge so there would not be any problem because I elected to “downgrade” myself on the flight. The agent gave me seat 27A, which I accepted.

Seat 10A on board PH-BXO
Seat 10A on board PH-BXO

And I was right. Seat 10A on board PH-BXO was, indeed, a windowless window seat as pictured above. I was really glad that I chose to move away from there.

However, while I do understand the situation and how the system works, as a customer I feel a little bit disappointed with KLM with this minor incident.

A KLM's Boeing 737-900 reg PH-BXO in SkyTeam livery
A KLM’s Boeing 737-900 reg PH-BXO in SkyTeam livery

BAHASA INDONESIA

Berikut ini dua cerita sampingan dari Avgeek Weekend Trip #3 belum lama ini😀 .

CRJ1000 vs ERJ190

Di tahun 2014, aku membuat perbandingan antara Bombardier CRJ1000 dan Embraer ERJ190, dua pesawat regional berukuran dan berkapasitas kurang lebih sama. Waktu itu, kesimpulanku adalah, walaupun ERJ190 lebih lapang, CRJ1000 lebih tidak berisik dan disainnya lebih ganteng. Oleh karena itu, secara keseluruhan aku lebih menyukai CRJ1000 daripada ERJ190, walaupun bedanya tidak banyak.

Avgeek Weekend Trip kali ini memberikanku kesemaptan unik dimana aku terbang dengan kedua tipe di hari yang sama!!😀 Jadi di satu sisi ini memungkinkanku untuk membandingkan dengan lebih obyektif kan ya.

A KLM Cityhopper's Embraer E190 reg PH-EZD
Sebuah Embraer ERJ190nya KLM Cityhopper rego PH-EZD
A HOP! Brit Air's Bombardier CRJ1000 reg F-HMLI
Sebuah Bombardier CRJ1000nya HOP! Brit Air’s dengan rego F-HMLI

Dan sekarang, bisa kubilang bahwa pendapatku masih sama dengan kesimpulanku di tahun 2014 yang lalu. Aku sedikit lebih menyukai CRJ1000 daripada ERJ190.

Masalah Kursi di Pesawat

Dua hari sebelum perjalanan ini, terjadi serangan teroris di Nice. Sebagai akibatnya, KLM menutup opsi check-in secara online untuk penerbangan Nice – Amsterdamku. Aku tidak tahu ini sehingga aku menelepon call-center-nya, dimana aku diberi-tahu demikian dan aku diminta check-in biasa di bandara. Nggak masalah untukku.

KLM's Boeing 737-900 seat plan. Source: klm.com
Denah kursi di dalam pesawat Boeing 737-900nya KLM. Sumber: klm.com

Lalu, aku iseng bertanya apakah aku setidaknya bisa memblok kursiku (kan aku penumpang Flying Blue Gold). Petugasnya menjawab bisa-bisa saja. Nah, karena aku tahu penerbangan ini akan dioperasikan dengan pesawat Boeing 737-900, aku meminta kursi 11A, yang berada di barisan pertama kelas ekonomi dengan ruang kaki berukuran standar (kursi berwarna biru di denah di atas) sehingga aku bisa memesannya dengan gratis. Sayangnya kursi 11A sudah terisi sehingga agennya menawariku kursi di bagian economy comfort dengan ruang kaki yang lebih lapang (kursi berwarna oranye di denah di atas) tanpa dikenakan biaya. Ia berkata kursi 10A masih kosong dan bertanya apakah aku oke dengannya. Yah, SeatGuru tidak mengindikasikan hal negatif dari kursi ini waktu itu sehingga aku mengiyakannya.

Garuda Indonesia's Boeing 737-800 reg PK-GFQ which brought me to Jakarta as GA 213
Lihat deh jendela di pesawat Boeing 737-800nya Garuda di atas. Di depan sayapnya, terlihat dua bagian “tak berjendela” kan.

Nah, satu detail yang kubenci dari disain pesawat bertipe Boeing 737 adalah bagian(-bagian) tak berjendela di bagian depan-agak-ke-tengah pesawatnya, tepat sebelum sayap. Jika kebetulan kursi jendela kita berada di bagian ini dari pesawat, artinya kita mendapatkan kursi jendela yang tak berjendela! Mimpi Buruk! Ini bukanlah kursi jendela melainkan kursi tembok derita! Huahaha😆 . Dan seperti yang bisa dilihat di denahnya, ada kemungkinan kursi 10A berada di bagian ini dari pesawatnya!

Jadilah setelahnya aku langsung mencari sebuah trip report berupa video dari sebuah penerbangan KLM dengan pesawat Boeing 737-900. Tak pakai lama, aku menemukan trip report ini di Youtube yang mengonfirmasi kekhawatiranku seperti yang nampak di screenshot ini:

Seat 10A, a windowless window seat!
Iya, kursi 10A adalah kursi tembok derita!

Iya, kursi 10A (kursi jendela dengan cap oranye terakhir) adalah kursi tembok derita di pesawat Boeing 737-900nya KLM!! Masalahnya, waktu itu sistem online-nya sedang dimatikan untuk alasan keamanan sehingga aku tidak bisa memindahkan kursiku sendiri. Jadilah aku memutuskan untuk keesokan harinya akan meminta agen di bandara untuk memindahkan kursiku.

Singkat cerita, agen di Schiphol menawariku untuk dipindahkan ke kursi 3A. Tetapi kemudian, sistemnya meminta pembayaran karena, seperti yang kubilang, kursi economy comfort itu tidak gratis untuk pemegang Flying Blue Gold walaupun aku berhak mendapatkan diskon 50% untuknya dengan status ini. Tetapi jelas aku tidak mau membayarnya dong ya. Aku berargumen bahwa aku sudah diberikan kursi economy comfort sehingga mengapa sekarang aku harus membayar untuk pindah ke kursi economy comfort lainnya yang toh masih kosong?

Agennya bertanya ke dua agen lain yang lebih senior yang juga tidak bisa membantuku pindah ke kursi 3A tanpa membayar. Oke, penerbanganku ke Lyon akan segera berangkat sehingga aku bilang pokoknya aku tidak mau duduk di kursi 10A. Aku meminta untuk dipindahkan ke kursi jendela mana pun walaupun kursinya berada di bagian belakang pesawat. Kursi-kursi ini gratis untuk dipilih sehingga seharusnya tidak akan ada masalah karena aku memutuskan untuk “men-downgrade” diriku sendiri di penerbangan ini. Agennya memberikanku kursi 27A, yang mana kuterima.

Seat 10A on board PH-BXO
Kursi 10A di dalam PH-BXO

Dan untungnya aku benar. Kursi 10A di dalam PH-BXO ternyata memang adalah kursi tembok derita seperti yang kufoto di atas. Aku lega aku memutuskan untuk pindah dari sana.

Namun, walaupun aku mengerti situasinya dan bagaimana sistemnya bekerja, insiden kecil ini membuatku sedikit kecewa terhadap KLM nih sejujurnya.

9 thoughts on “#1780 – Some Stories from My AvGeek Weekend Trip #3

  1. Kayanya kalau naik pesawat di kursi tembok derita ga enak banget yaa… masa sepanjang perjalanan ga bisa liat pemandangan apa- apa…😦 Pasti kehilangan banyak kesempatan buat liat pemandangan bagus…

  2. Waaa, kalau aku dikasih kursi 10A atau kursi yang sederet lainnya dengan 10A itu pasti bakal BT juga nih, Ko🙂 Masih mending dapat duduk di aisle seat yang di samping window seat yang bener-bener bisa lihat dari kacanya deh🙂 Gak bisa lihat awan sepanjang penerbangan kalo terbang tuh lumayan bikin BT dan ngantuk buat aku…Karena itu kalo dapat duduk yang di kursi deret tengah aku pasti jadinya langsung tidur aja deh😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s