Posted in Big Days, Zilko's Life

#1756 – Two Job Interviews

ENGLISH

So I have decided that I want to switch path to industry after I finish my PhD. For that, thankfully I have got a very exciting job which I will start this October in Amsterdam. And here is the story of how I got the job.

***

The Vacancies

Early in April, I got a message in LinkedIn from a recruiter who was interested in my profile and thought that I would be a good candidate for a vacancy in the south of the Netherlands. I was surprised but obviously feeling quite happy. So quickly afterwards we set a Skype interview and after the interview, he was more sure that I would be a good fit for the position so he invited me for a face to face interview. From my point of view, the job was interesting (and matched my expertise), the company was also a very good and big company, the salary was nice (at least much more than what I earn now as a PhD candidate), and I liked the people and the company’s vision. There was only one very big down point: the location. I prefered to live in the Randstad area of the Netherlands (the area of Amsterdam-Utrecht-Den Haag-Rotterdam) and the job was quite far away out of this area.

Approximate area of the Randstad (the area inside the blue line)
Approximate area of the Randstad (the area inside the blue line)

In the meantime, I saw a very interesting vacancy in Amsterdam. The job was similar-ish but would be applied in a different field (the advantage of being a mathematician here, I have the total freedom to go to literally any fields😉 ). Moreover, this field was actually one of my fields of interest and actually also matched one of my hobbies. So I submitted an application. Literally two days after submission, surprisingly (because I did not expect it to be this quick, lol😆 ) I was contacted by a recruiter in the company who was impressed by my profile and would like to arrange a Skype Interview. The interview went quite well and she invited me to go to the next step, which was a phone technical interview which I had about four working days later. The technical interview went well too and I was invited for a face to face interview in their headquarter in Amsterdam. From my point of view, obviously the job and location were interesting, the company was also good, multinational, and quite big (I am sure you have heard about it😉 ), and the salary was very nice (even much more than the first vacancy :P ).

The (Face to Face) Interviews

At the end of April, I went to the south of the Netherlands for the face to face interview of the first vacancy. In a way it was my first experience of a face to face interview for a job in the industry (I had a face to face interview for my PhD position but it was, obviously, different😛 ). Again, the interview went really well where, from my side, it did not feel like an interview but was more like a discussion about a mathematical modelling problem with the interviewers (who also had PhD degree), which I enjoyed a lot😉 . Then I was invited for a follow-up interview with the HR manager in the company; but at that time the manager was still on a vacation so we would have to wait a little bit. Funny story though, when I was picked up for the interview at the train station, I was told that I was not the only interviewee today. But then, it turned out that the other interviewee was a friend of mine!! Hahaha😆

River Amstel in Amsterdam
Amsterdam

Early in May, I went to Amsterdam for the face to face interview of the second vacancy. The interview was much more exhausting than the interview in the south of the Netherlands, though, because I would have to talk with five different people in three different interviews. But again, just as before, I enjoyed it a lot because those interviews were more like discussions as well rather than interviews. Though because of this, I thought I crossed the line a little bit at one point where I firmly pinpointed that one of the interviewee did not make any sense in his argumentation. Since the guy was not Dutch, I was afraid I might be too rude with that. Nonetheless, after those three interviews finished, the recruiter asked if it was okay for me to have an extra interview because a manager would want to talk with me. I knew it was actually a good sign that, so far, I was doing well. So I had my fourth interview with a sixth interviewee that afternoon. As I said, even though I enjoyed it, I also felt super exhausted when the day ended mainly because during the interview, I had to set my brain to 100% power all the time for hours.

My Decision

One day after my Amsterdam interview, the recruiter contacted me saying that the company liked me and would want to hire me so they would want to make a job offer. I was feeling aesthetic because this second vacancy checked everything that I was looking for in a job. Not long after, I received the offer, learned everything in it, and decided to sign the contract. I called the recruiter of the first vacancy saying that I was no longer available because I already got another interesting offer which I would take.

***

Yeah, that is the story of how I got the very interesting job that I am looking forward to🙂 . For now, I think the time for an apartment hunting in the area of Amsterdam is going to come soon for me, hahaha😆 .

BAHASA INDONESIA

Jadi ceritanya aku sudah memutuskan bahwa aku ingin berpindah haluan ke dunia industri setelah aku menyelesaikan studi S3ku. Nah, aku merasa bersyukur bahwa aku sudah mendapatkan sebuah pekerjaan yang amat menarik yang akan aku mulai Oktober ini di Amsterdam. Berikut ini cerita bagaimana aku mendapatkan posisi ini.

***

Lowongan

Di awal April, aku mendapatkan sebuah message di LinkedIn dari seorang recruiter yang tertarik dengan profilku dan, menurutnya, aku adalah kandidat yang cocok untuk sebuah lowongan di Belanda bagian selatan. Aku cukup terkejut tetapi senang juga dong yaa. Jadilah tidak lama kemudian kami mengadakan interview melalui Skype dimana setelahnya, ia semakin yakin bahwa aku cocok untuk posisi itu sehingga ia mengundangku untuk sebuah interview tatap muka. Dari sisiku, pekerjaannya menarik (dan memang cocok dengan keahlianku), perusahaannya adalah perusahaan yang bagus dan besar, gajinya juga oke (setidaknya jauh lebih besar daripada yang aku dapatkan sekarang sebagai mahasiswa kandidat PhD/S3), dan aku suka orang-orangnya dan visi dari perusahaannya. Hanya saja ada satu masalah yang amat mengganjal bagiku: lokasi. Saat ini, aku lebih suka dan ingin untuk tinggal di area Randstad di Belanda (area Amsterdam-Utrecht-Den Haag-Rotterdam) sementara pekerjaannya berada jauh di luar area ini.

Approximate area of the Randstad (the area inside the blue line)
Perkiraan area Randstad di Belanda (area yang dikelilingi garis biru)

Sementara itu, aku melihat sebuah lowongan yang menarik lainnya di Amsterdam. Pekerjaannya sih cukup mirip tetapi aplikasinya di bidang yang berbeda (keuntungan sebagai seorang matematikawan nih, aku memiliki kebebasan total untuk memilih bidang apa pun😉 ). Lebih jauh lagi, bidang ini memang adalah salah satu bidang favoritku dan kebetulan sesuai pula dengan salah satu hobiku. Jadilah sebuah lamaran aku kirimkan. Dua hari kemudian, secara mengejutkan (karena aku tidak menyangka akan mendapatkan respons secepat itu, hahaha😆 ) aku dikontak oleh seorang recruiter dari perusahaannya yang terkesan dengan profilku dan ingin mengadakan sebuah interview melalui Skype. Interview-nya berlangsung cukup lancar dimana ia mengundangku untuk tahapan selanjutnya, yaitu interview teknis melalui telepon yang aku lakukan sekitar empat hari kerja kemudian. Interview teknisnya juga berlangsung lancar sehingga aku diundang untuk interview tatap muka di kantor pusat mereka di Amsterdam. Dari sisiku, jelas pekerjaan ini dan lokasinya amat menarik, perusahaannya jugalah perusahaan yang oke, multinasional, dan besar (aku yakin kalian pasti sudah pernah dengar deh😉 ), dan gajinya juga oke banget (bahkan lebih besar daripada lowongan yang pertama😛 ).

Wawancara (Tatap Muka)

Di akhir bulan April, aku pergi ke Belanda bagian selatan untuk wawancara lowongan yang pertama. Di satu sisi ini adalah kali pertama aku pergi wawancara untuk sebuah pekerjaan di industri (dulu aku ada wawancara tatap muka juga sih untuk posisi S3ku ini tetapi jelas berbeda lah ya😛 ). Lagi, wawancaranya berlangsung amat mulus dimana, dari sisiku, aku tidak merasa sedang diwawancara tetapi lebih seperti sedang berdiskusi mengenai pemodelan matematika dengan pewawancaranya (yang juga memiliki gelar S3), jadi aku sangat menikmatinya😉 . Jadilah aku kemudian diundang untuk wawancara follow-up dengan seorang manajer HR di perusahaannya. Tetapi waktu itu manajernya sedang liburan sehingga kita harus menunggu beberapa waktu dulu. Ada cerita lucu lho. Ketika aku dijemput dari stasiun kereta untuk wawancara ini, aku diberi-tahu bahwa aku bukanlah satu-satunya yang diwawancara hari ini. Tetapi kemudian, ternyata seorang lainnya yang diwawancara itu adalah temanku sendiri!! Hahaha😆

River Amstel in Amsterdam
Amsterdam

Di awal bulan Mei, aku pergi ke Amsterdam untuk wawancara tatap muka lowongan yang kedua. Wawancaranya jauh lebih melelahkan daripada yang pertama di Belanda selatan karena aku harus diwawancarai oleh lima orang di tiga wawancara yang berbeda. Tetapi, lagi, seperti sebelumnya, wawancara-wawancaranya juga lebih seperti diskusi, bagiku, daripada wawancara. Tetapi sebagai akibatnya, di satu waktu aku merasa aku agak kelewatan ketika aku menunjukkan dengan tegas bahwa argumen salah satu pewawancaranya itu tidak masuk akal sama sekali. Karena kebetulan orangnya bukan orang Belanda, aku sedikit takut kalau aku agak nggak sopan karena itu, haha. Setelah tiga wawancaranya selesai, recruiter-nya bertanya apakah aku tidak apa-apa untuk mengikuti satu wawancara ekstra karena ternyata manajernya ingin langsung berbincang denganku. Aku tahu bahwa ini adalah pertanda baik bagiku. Jadilah aku mengikuti wawancara keempat dengan pewawancara keenam hari itu. Seperti yang kubilang, aku menikmatinya, tetapi aku juga merasa sangat lelah setelahnya karena sepanjang wawancara, aku menggunakan 100% tenaga otakku selama berjam-jam.

Keputusanku

Sehari setelah wawancara di Amsterdam, recruiter-nya mengontakku dan berkata bahwa perusahaannya sangat suka denganku dan ingin mempekerjakan aku sehingga mereka membuat sebuah penawaran pekerjaan (job offer). Aku merasa amat senang karena lowongan yang kedua ini memenuhi semua kriteria yang kucari dari sebuah pekerjaan. Tak lama setelahnya, aku mendapatkan penawarannya, yang mana semuanya kupelajari, dan aku memutuskan untuk menanda-tangani kontrak kerjanya. Kemudian aku menghubungi recruiter lowongan pekerjaan yang pertama bahwa aku tidak lagi tersedia untuk pekerjaan itu karena aku mendapatkan penawaran lain yang lebih menarik yang ingin kuambil.

***

Ya, itu lah cerita bagaimana aku mendapatkan sebuah pekerjaan menarik yang sudah nggak sabar ingin aku mulai🙂 . Untuk sekarang, aku rasa waktu untuk berburu apartemen di area Amsterdam akan datang segera deh untukku, hahaha😆 .

28 thoughts on “#1756 – Two Job Interviews

    1. Trims Non, hehehe. Iya, mudah-mudahan betah ya. Kemarin sewaktu interview aku juga diajakin keliling kantornya sih dan kayaknya enak banget, hehehe😀 .

  1. Kamu emangnya tinggal di daerah mana Zi sampe lebih milih kerjaan yg di Amsterdam (with really good offer as well, of course)?
    So you did apply in April, got imterviewed in May, but will be starting in Oct. Interesting 😁 Yang di kampus kapan kontraknya kelar?

    1. Tinggal di Delft Ge, juga di Randstad, hehe🙂 . Haha, soalnya menurutku pribadi Randstad adalah bagiannya Belanda yang “seru”, “hidup”, dan “kekinian” gitu deh Ge, makanya maunya di Randstad aja, ahahahah😆 .

      Hehe, kontrak ini kelar Agustus ini🙂 . Kemarin memang tanggal mulainya aku nego karena sebenarnya mereka maunya cepet mulai kan, hehe. Tapi untungnya hal ini bisa dinego, hihi🙂 .

      1. Paling enak kalo kantornya deket rumah emang Zi, bs sedikit nyantai ga buru2 aplg kalo bangun telat 😂 dan pulangnya juga gak capek2 bgt.
        Iya sih bisa dimundurin ya kalo kita minta, setauku di Indonesia jg bisa minta gitu tp trgantung perusahannya jg. Anyway congrats ya! 😊

        1. Hahaha, ini juga rencananya mungkin aku mau pindah kesana Ge biar lebih deket lagi; untuk alasan yang persis kayak kamu bilang. Capek aja kayaknya ya kalo setiap hari mesti ngelaju berapa jam gitu, hahaha😆 .

          Trims! Iyaa, ini juga cukup hoki perusahaannya mau nego. Aku dengar rata-rata perusahaan sini maunya mulainya secepat mungkin gitu deh. Katanya bisa mulai 3 bulan setelah final interview pun sudah bagus banget, lah ini aku malah 5 bulan. Lumayan ya, hehehe😛 .

  2. Aahhh aku senaangg Zilko baca ceritamu. Wah, panjang juga ya proses interviewnya bisa beberapa kali dalam satu hari. Tapi jadi lebih efektif juga. Selamat ya Ko sekali lagi, sukses terus kedepannya dan jadi anak ibukota nih Oktober nanti *hahaha Ibukota, ya kan Amsterdam Ibukota😁

  3. Waaahhh. Asyek deh yak zil dapet yang sesuai dengan keinginan.

    Dan lokasi kerja emang berpengaruh pada mood seh yak. Kalau lokasinya gak sesuai dengan hati *eaa takutnya malah gak betah 😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s