Posted in Aviation

#1754 – 3 Things I Don’t Like About Schiphol

ENGLISH

Well as you know I fly a lot in recent years. Okay, the definition of “a lot” is indeed shaky as it differs from one person to another. But let’s side that aside and just assume that my definition of “a lot” here is universally accepted, haha. Anyway, as I am based in the Netherlands, this means that my frequency of using the Netherlands’ main airport, Amsterdam Schiphol, is high (in 2015, 23.96% of my total flying activities (take-offs and landings) were at Schiphol)).

Amsterdam Schiphol Airport
Amsterdam Schiphol Airport

Amsterdam Schiphol is a great airport. It has consistently been ranked as one of the top European airports (and world-wide actually) so for sure you can make a really long list of the good stuffs about this airport, which I would agree.

But of course not everything is perfect in this world, and so is Schiphol. Here are three things which I do not really like about this airport:

1. Runway 18R/36L (The “Polderbaan”)

Amsterdam Schiphol Airport is equipped with six runways (Soekarno-Hatta in Jakarta only has two and construction of the third is hampered with the “usual” problems). While most people might not give a damn on which runway their flight uses when flying in/out of Schiphol, I do. There is one runway which I despise (and the other five are equally okay for me :P ), that is runway 18R/36L or the “Polderbaan”. And you may have noticed this dislike from some of my posts here🙂 .

Why? Well, because Polderbaan is the farthest runway from the terminal buildings! Just take a look at the Google Map printscreen below:

Polderbaan in Schiphol
Polderbaan in Schiphol

An approximate straight line distance from one end of the Polderbaan to Schiphol’s terminal buildings is 4.27 km! This means that in reality, airplanes that use Polderbaan (either for take-off or landing) have to taxi longer than that between the runway and the terminal. Just to give you an idea, it can take about 10 – 20 minutes of taxi (assuming no traffic at the airport). And I hate that, lol😆 .

So you can imagine the situation (which happens often) when you land at runway 18R of Schiphol, your airplane starts to taxi but 20 minutes later, it still has not come to a complete stop at the gate, lol😆 .

Polderbaan and Schiphol
Polderbaan and Schiphol in real life

Polderbaan is the newest runway of Schiphol (and longest at 3,800 meter as well). The runway was opened in 2003 and the location was chosen to reduce the noise pollution to the surrounding of the busy Schiphol Airport.

2.  The arrival baggage handling

One factor which, in my opinion, Schiphol can really improve (by a lot of margin) is the arrival baggage handling.

Schiphol’s arrival baggage handling is infamously known (at least within the group of people that I know😛 ) to be very slow that it takes forever before your checked-in luggage comes out at the belt. I know that Schiphol is a very busy airport (Even though (or rather “because of” due to the complexity of transfer luggage handling?) 60.5% of Schiphol Airport’s 58.3 million passengers in 2015 were transit passengers), but still, I would think one of their middle-term goal should be to resolve this issue. In 2013, while coming back from my 2013 one month trip to Asia with a full Emirates’ Airbus A380-800 flight, it just so happened that my luggage was one of the last to be delivered. And I had to wait for a really long time (almost an hour) in front of the baggage belt.

Okay, to be honest, I haven’t used this service for some time. The last time I checked-in a luggage was on my way back from my 2015 Year End Trip to North America earlier this year actually. But even then, my bag took really really awhile to come out (while it was actually tagged with a priority label) so that I thought it was lost!

Learning from these experiences, if I don’t need to, I always avoid travelling with a checked-in luggage especially when flying to Schiphol. And, for the time being, I recommend you too.

3.  Nothing big really

Except if I nitpick a few local things here and there, at the moment I don’t think I am able to name another thing about Schiphol which I don’t like.

Really, aside from the two points I mentioned above, overall I think Schiphol is a really great airport. As you can see from the number of passengers above, apparently Schiphol is also a great airport for transit. Well, I have never transitted at Schiphol before (obviously😛 ) but looking at the one-terminal airport design and my own experience there, I am not surprised about this😉 .

***

So what about you? Have you ever flown through Schiphol and if so, do you have another aspect you don’t like about the airport?

BAHASA INDONESIA

Seperti yang sudah pada tahu, beberapa tahun belakangan ini aku sering terbang. Oke, memang sih definisi “sering” itu tidak jelas karena tergantung dari persepsi masing-masing individu. Tetapi, mari untuk posting ini ketidak-jelasan ini kita kesampingkan dulu dan kita asumsikan definisiku akan “sering” di sini diterima secara umum. Anyway, karena basisku adalah di Belanda, ini berarti frekuensiku menggunakan layanan bandara utamanya Belanda, Amsterdam Schiphol, tinggi (di tahun 2015, 23,96% dari total aktivitas terbangku (lepas landas dan mendarat) adalah di Schiphol).

Amsterdam Schiphol Airport
Bandar Udara Amsterdam Schiphol

Amsterdam Schiphol adalah bandara yang keren. Bandara ini secara konsisten termasuk peringkat teratas dari bandara-bandara di Eropa (dan dunia sih sebenarnya) jadi pasti mudah deh membuat daftar panjang kelebihan bandara yang satu ini, yang mana aku pasti setuju-setuju aja.

Tetapi tentu saja tidak ada hal yang sempurna di dunia ini, termasuk Schiphol. Berikut ini tiga hal yang kurang aku sukai dari bandara ini:

1. Landasan Pacu 18R/36L (“Polderbaan”)

Bandara Amsterdam Schiphol memiliki enam buah landasan pacu (banyak ya, Bandara Soekarno-Hatta aja cuma punya dua dan pembangunan yang ketiga pun ributnya lama). Kalau kebanyakan orang nggak peduli landasan pacu mana yang dipakai di penerbangannya dari/ke Schiphol, aku peduli banget dong. Jadi ceritanya satu landasan pacunya itu tidak aku sukai banget (sementara yang lima lainnya sih oke semua deh untukku😛 ) yaitu landasan pacu 18R/36L, atau yang dinamai “Polderbaan” di sini. Dan ketidak-sukaan ini memang sudah kuutarakan di beberapa posting di sini, mungkin ada yang ingat😛 .

Mengapa? Yah, karena Polderbaan itu adalah landasan pacu yang paling berlokasi jauuh dari gedung terminalnya Schiphol! Lihat saja di printscreen Google Map di bawah ini:

Polderbaan in Schiphol
Polderbaan di Schiphol

Perkiraan jarak garis lurus dari Polderbaan ke gedung terminal Schiphol adalah sekitar 4,27 kilometer! Ini artinya pada kenyataannya, pesawat-pesawat yang menggunakan Polderbaan (baik untuk lepas landas atau pun mendarat) harus taxiing lebih jauh dari itu kan di antara landasan pacu dan terminalnya. Untuk tahu saja nih, waktu taxiing-nya rata-rata adalah 10 – 20 menit loh (dengan asumsi traffic di bandaranya sedang tidak ramai). Dan aku benciii itu, hahaha😆 .

Jadi bisa dibayangkan situasi (yang sering terjadi) dimana kita mendarat di landasan pacu 18R Bandara Schiphol, trus pesawatnya taxiing kan tetapi sampai 20 menit kemudian pun masih belum sampai di gedung terminalnya padahal nggak macet, hahaha😆 .

Polderbaan and Schiphol
Polderbaan dan Schiphol di foto nyata

Polderbaan adalah landasan pacu terbarunya Schiphol (dan yang terpanjang pula dimana panjangnya 3.800 meter). Landasan pacu ini dibuka di tahun 2003 dan lokasi ini dipilih untuk mengurangi dampak polusi suara di sekitar Bandara Schiphol yang sibuk.

2.  Layanan bagasi kedatangan

Satu faktor dimana, menurutku, Schiphol benar-benar bisa memperbaiki diri (dengan banyak) adalah layanan bagasi kedatangannya.

Layanan bagasi kedatangan di Bandara Schiphol itu terkenal (setidaknya terkenal di kalangan orang yang kukenal sih😛 ) lama nan lelet dalam pengeluaran bagasinya. Aku tahu bahwa Schiphol adalah bandara yang sibuk (Walaupun (atau mungkin “karena” ya karena pengurusan bagasi penumpang transit kan rumit juga) 60,5% dari total 58,3 juta penumpang yang menggunakan Schiphol di tahun 2015 adalah penumpang transit), tetapi tetap saja aku rasa satu goal jangka menengah tepat sasaran yang patut dibuat adalah menyelesaikan masalah ini. Di tahun 2013, ketika dalam perjalanan pulang dari perjalananku ke Asia selama sebulan dengan sebuah Airbus A380-800nya Emirates yang terisi penuh, kebetulan banget bagasiku adalah salah satu yang terakhir yang keluar. Dan waktu itu aku harus menunggu bagasiku lama banget (hampir satu jam) di depan baggage belt-nya.

Oke, sejujurnya, sudah lama sih aku tidak menggunakan layanan ini. Terakhir kali aku meng-check-in-kan bagasiku adalah ketika aku pulang dari perjalanan akhir tahun 2015ku ke Amerika Utara awal tahun ini sih. Tetapi waktu itu pun, bagasiku keluarnya lamaa banget (padahal bagasiku mendapatkan label prioritas) sampai-sampai aku mengira bagasiku hilang!

Belajar dari pengalaman-pengalaman ini, sekarang ini jika memungkinkan aku memilih untuk tidak memasukkan bagasi terutama ketika bepergian menuju Schiphol. Dan untuk saat ini, aku merekomendasikan ini bagi mereka yang hendak ke Schiphol juga.

3.  Nggak ada lagi sih…

Kecuali jika aku mencari-cari kesalahan banget dengan menyebutkan hal-hal sepele yang nggak enak disana-sini, sekarang ini aku tidak bisa menyebutkan hal lain yang tidak aku suka dari Schiphol deh.

Beneran deh, selain dua poin yang kusebutkan di atas, Schiphol adalah bandara yang keren banget. Seperti yang bisa dilihat di jumlah penumpang di atas, ternyata Schiphol adalah bandara yang nyaman untuk transit. Yaa, aku belum pernah transit di Schiphol sih sebelumnya (buat apa juga😛 ) tetapi melihat disain satu-terminalnya dan pengalamanku disana, aku tidak kaget dengan ini😉 .

***

Nah, bagaimanakah dengan kalian? Apakah pernah terbang melalui Bandara Schiphol dan jika iya, aspek apakah yang tidak kalian sukai dari bandara ini?

36 thoughts on “#1754 – 3 Things I Don’t Like About Schiphol

    1. Iya bangunan airportnya memang nyaman dan efisien banget ya Non, hehe. Apalagi kalau penumpang transit, dimanjakan deh nggak usah jalan jauh-jauh😀 .

    1. Iya nunggu bagasinya lama. Makanya kalau terbang ke Schiphol kalau bisa nggak usah pake bagasi, aku nggak pake bagasi, hahaha😆 . Haha, aku pernah sekali atau dua kali pakai bagasi ke bandara Rome, seingetku juga nggak lama😀 .

  1. Kamu pasti gak banyak terbang di Indonesia ya Ko. Bisa dipanggang di dalam pesawat sampai setengah jam untuk taxi, panas pula.

    Oh btw, I’ve never been to Schipol. But if I do, I’ll pay attention and come up with something to dislike. Lol.

    1. Hehe, alasan di Indonesia taxiing-nya lama kan berbeda. Dengan landasan pacu cuma dua dan banyak pesawat yang mau terbang/mendarat, pesawat harus ngantri sehingga terjadilah kemacetan di taxiway bandaranya (terutama sih CGK😛 ). Makanya sedapat mungkin kalau bisa aku menghindari CGK deh😛 . Masalahnya, penerbangan di Indonesia itu terlalu tersentralisir di CGK jadi agak sulit untuk “menghindarinya”😛 .

      Hahaha, yes please!🙂

  2. ga punya banyak pengalaman dengan airport2 di Eropa sih, tapi Schiphol ini favorit sih kalo dibanding Fiumicino sama CDG hehehe. Kalo bagasi dan taxi yang lama, hmmmm kayaknya di Indonesia lebih lama deh😀

  3. Punya pengalaman 3 kali Di Schiphol dengan dua kali ambil bagasi, tapi dua duanya lancar Ko maksudnya ga terlalu lama nunggunya. Bandingannya lebih lama nunggu bagasi Garuda di Soetta haha aku selalu emosi deh kalo nunggu bagasi Garuda di Soetta, lebih dari setengah jam! Sudah 1.5 tahun nih ga terbang, gimana ya rasa naik pesawat haha sampai lupa.

    1. Huahaha, aku sudah lamaa banget nggak pakai layanan bagasinya di CGK. Soalnya belakangan ini kalau lewat CGK ya cuma transit aja sih jadi nggak harus ngurus bagasiku langsung, hahaha😆 .

  4. Mayan lah bbrp kali dr jaman jebot ( late 80s ) , airport yg ga byk berubah nih Schiphol, saking kompleksnya gampang naik turun kereta, beli tix bus, cari oleh2, etc.

    Pilihan maskapai nya jg lbh beragam jg drpd BRU

    1. Hahaha, soalnya waktu itu runway keenam dibutuhkan di Schiphol tetapi masalahnya pembangunannya dapat banyak tentangan dari warga sekitar. Akhirnya solusinya runway-nya dibangun di lokasi yang jauh banget dari terminal bandaranya, hahaha😆

  5. Belum pernah ke Belanda, hihihi.. Tapi Soeta gak ada yang ngalahin sih.. apalagi tiba di Jakarta naik pesawat yang ada transit di negara lain, dijamin paling belakangan keluar bagasi nya.. Jadi nunggu 1/2 jam – 1 jam itu dah syukur banget.. Cuma aku selalu berharap, jangaaannn sampe aku bagasinya paling terakhir, hahaha,, tengsin banget.. Untung pas april kemarin, naik Qantas dr Christchurch balik Jakarta, cepet keluar bagasinya. Haha

    1. Itu dia! Dulu aku naik Emirates yang A380 (yang double-decker pesawatnya), dan bagasiku yang keluar terakhir! Mana waktu itu pesawatnya penuh pula! Hahahaha😆 . Ah, kalau Jakarta mah ya gitu deh ya airport-nya, hahaha😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s