Posted in Contemplation, PhD Life, Thoughts

#1743 – A “Problem” in Academic Publishing

ENGLISH

As currently I am in Munich for a conference (actually the conference has ended though😛 ), this week I feel like writing posts revolving around my work, haha😆 .

On Wednesday I shared my experience of writing a two journal papers. At the end of the post, I mentioned the required paid access to get the publications and how I, as the author, got literally 0% royalty from the most difficult and time-consuming form of writing work I had to go through to get these papers published.

Let me tell you, that is not the whole story yet.

Sometimes, even the author is asked to pay to get his/her journal paper published in a journal. Btw, this is certainly not in the purpose of making the publishing process much easier as this is not a bribe. This can come in the form of some services that the journals provide.

For instance, for one of my publications, I was asked if I wanted the figures in my paper to be printed in colors (instead of the default black/white) in the off-print edition of the journal. Of course in this case, the service wasn’t for free. How much was it? Well, for each figure, I would have had to pay €490 plus tax for that!! Well, there were 12 figures so if I were to agree with this offer for all the figures, I would have had to pay €5,880+tax just for this!! 😱😱😱😱😱 To me, that sounds like a lot of money just for that kind of service!!

In the other side of the academic publishing story, the anonymous reviewers, who have to spend their time and brain power to review the new submitted papers written by other highly intelligent human beings, also literally get nothing from the reviewing work (at least that I know of).

So where do all these money go? Well, let’s just keep it this, according to the article which link I post below, the CEO of one of the biggest journal publishers in the world earned $4.6-million in 2011.

***

A few months ago, a friend of mine (who is also a PhD candidate) shared the following article in Facebook:

http://chronicle.com/article/Want-to-Change-Academic/134546/

In general I agree with the idea. Just let me quote something from it:

But I do know that if a factory said it could not be profitable without paying less than minimum wage, decent people would respond that it is indecent to pay people below minimum wage for honest work.

I am not saying that the academic world needs to be fully “commercialized”, as I understand that there is certain aspect of this “life path” that is “beyond” that so keeping it pure from any potential taint coming from commercial reason might be of the best interest.

But look, on the other end of the spectrum of life in academia (read: the hard truth reality), it is not rare to find stories of how scientist are struggling with, well, money.

You see? Why can’t this be as well a possible solution for that? To be honest, I don’t see that a balance between the two idea would be a bad move for this…

What do you think?

BAHASA INDONESIA

Karena sekarang ini aku sedang berada di Munich untuk sebuah konferensi (sudah selesai sih konferensinya😛 ), minggu ini aku merasa ingin menulis posting yang berhubungan dengan kerjaan aja deh, haha😆 .

Di hari Rabu, aku membagikan pengalamanku menulis sebuah dua buah journal paper. Di akhir posting, aku menyebutkan mengenai akses berbayar untuk mendapatkan publikasi-publikasi itu dan bagaimana aku, sebagai penulis dari artikel itu, mendapatkan (dalam artian sebenarnya) royalti sebesar 0% dari pekerjaan menulis yang paling sulit dan paling memakan waktu yang pernah aku lakukan seumur hidup agar paper-paper ini terpublikasikan.

Nah begini nih, aku masih belum menceritakan keseluruhan ceritanya loh.

Terkadang, bahkan penulis juga diminta untuk membayar agar paper-nya dipublikasikan di sebuah jurnal. Btw, tetapi ini bukanlah dalam upaya agar penerbitannya lebih mulus gitu ya karena ini bukanlah suapan. Penarikan biaya ini bisa muncul dalam rupa beberapa servis yang disediakan jurnalnya.

Misalnya, untuk salah satu publikasiku, aku ditanya apakah aku ingin gambar-gambar di dalam paper-ku dicetak berwarna (bukannya default hitam/putih) di edisi cetak dari jurnalnya. Tentu saja ini tidak gratis. Pertanyaannya, berapakah yang harus kubayarkan? Yah, untuk satu gambar, aku harus membayar €490 (sekitar Rp 7,5 juta) plus pajak untuk ini!! Nah, paper-ku itu memiliki 12 gambar sehingga jika aku ingin semua gambarnya dicetak berwarna, artinya aku harus membayar €5,880 (sekitar Rp 90 juta) + pajak hanya untuk ini saja!! 😱😱😱😱😱 Untukku, jumlah segitu mah mahal banget untuk layanan kayak gitu kan ya!!

Di sisi lain dari spektrum penerbitan journal paper ini, reviewers-nya yang anonim itu, yang mana harus menyisihkan waktu dan brain power-nya untuk me-review sebuah paper baru yang ditulis oleh manusia-manusia berotak pintar lainnya, juga sama sekali tidak mendapatkan apa-apa lho dari pekerjaan me-review-nya itu (setidaknya yang kuketahui sih begini).

Nah, trus semua uang itu kemana dong? Hmm, begini deh, menurut artikel yang tautannya aku berikan di bawah, CEO dari salah satu perusahaan penerbit jurnal terbesar di dunia di tahun 2011 berpendapatan $4,6 juta (sekitar Rp 61 milyar dengan kurs sekarang).

***

Beberapa bulan yang lalu, seorang temanku (yang juga merupakan seorang mahasiswa PhD/S3) membagikan tautan ini di Facebook:

http://chronicle.com/article/Want-to-Change-Academic/134546/

Secara umum aku setuju dengan ide pokok tulisannya. Berikut ini satu (terjemahan) kutipan artikelnya:

Tetapi saya tahu bahwa jika sebuah pabrik berargumen bahwa pabriknya tidak bisa untung apabila karyawannya tidak digaji di bawah standar gaji minimum, wajar jika ada yang kontra dan menyatakan tidak selayaknya untuk menggaji seseorang di bawah standar gaji minimum untuk sebuah pekerjaan yang jujur.

Aku sama sekali tidak mengatakan bahwa dunia akademik itu perlu “dikomersialisasi” penuh lho ya, karena aku paham bahwa ada aspek tertentu dari “pilihan hidup” ini yang “di atas” itu semua. Sehingga menjaganya untuk tetap murni dari potensi noda-noda duniawi mungkin penting bagi sebagian pihak.

Tetapi begini deh, di sisi lain dari spektrum dunia akademia (baca: realita hidup yang sebenarnya), tidak jarang untuk membaca cerita bagaimana para ilmuwan kesulitan dengan masalah, yah, uang.

Nah kan? Mengapa tidak untuk menjadikan ini sebagai salah satu solusi bagi permasalahan itu? Sejujurnya, aku tidak begitu melihat ada yang salah dengan upaya mencari titik tengah keseimbangan dari dua ideologi yang berbeda ini…

Bagaimanakah menurut kalian?

16 thoughts on “#1743 – A “Problem” in Academic Publishing

  1. I agree with you, we do research, spending much time, effort and money to write in paper journal, but the copyright ia belong to publisher. They can sell our full effort journal without share anything with writer, even ask money for something as you said. Yea life is not fair indeed🙂

    1. Yeah, this is beyond unfair in my opinion. The system is “wrong” and I feel like the academics are being taken advantage of to some degree.

    1. Lebih jauh lagi Na. Hasil tulisan yg udah capek-capek kita buat itu “dijual” dan penulis dapat 0% dari hasil “penjualan” itu, hehehe

  2. jadi benefitnya untuk penulis journal apa?
    hanya credit atau namanya muncul di jurnal?

    di kerjaanku juga kalau nulis di jurnal ada tambahan poin untuk kenaikan golongan, soal seluk beluk lainnya nggak ngerti juga

    1. Tidak ada benefit finansial-nya secara langsung, alias sama sekali nol, hehehe🙂 .

      Setidaknya, jika jurnalnya adalah jurnalh top, pembacanya (di kalangan ilmuwan) juga luas sehingga memang topik risetnya “terpromosikan” melalui itu sehingga, bisa jadi, pamor juga bisa ikutan naik🙂 . Untuk mahasiswa S3, terkadang penerbitan di jurnal ilmiah ini dijadikan salah satu persyaratan untuk lulus🙂 .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s