Posted in PhD Life, Zilko's Life

#1742 – Writing A Journal Paper

ENGLISH

As currently I am in Munich for a conference, so I feel like the posts I publish this week should also revolve a little bit around my work, hahaπŸ˜† .

So here is a topic.

One of my responsibilities as a PhD candidate is to publish (a few) journal papers. Here, a journal paper is defined as a scientific paper that is anonymously peer-reviewed (by other scientists/researches in the same/a similar field) and (if accepted) is published in a scientific journal.

Certainly publishing a journal paper is by no means easy. In fact, it has been the most difficult writing-related task I have ever done in my life, lolπŸ˜† . Yes, to me, it was more difficult to write a journal paper than writing my Master thesis (I am still in the process of writing my PhD dissertation so I can’t really compare it with that yet). So if I am allowed to be cynical, if someone says that writing a Bachelor thesis is difficult, well, the following reaction of Serena Williams pretty much sums my opinion up:

Serena Williams Wimbledon 2009

The process is long (normally, unless you are a genius or your research is really at the cutting edge of the scientific world, like the famous gravitational waves paper published earlier this year) and really exhausts your mental and emotional reserve.

I will probably get more into technical details about writing a journal paper in a later post (if I don’t forget and if I still feel like toπŸ˜› ).

***

If you remember, I had half a week at the end of October 2015 where I was extremely stressed at work. It was very stressful that even having meal and having my night sleep felt like wasting my time!! At that time, I was in the process of submitting the first revision of a journal paper we (my co-author (read: my supervisor) and I) submitted to a computational mathematics journal. We originally submitted the paper in June last year and got the first round of the (anonymous) peer-review back in early September with a revision deadline at the end of October.

At the time, we generally got positive review. However, there was one on-point question which made us think and come up with an idea to significantly improve the paper’s content and our research. This, however, of course required some a lot of extra work (simulation and experiment) to be done. So from this point of view, my ten day trip to India in October did not come at the best time. This made my October to be extremely hectic, especially that half a week at the end of the month just before the deadline!πŸ˜†

Nonetheless, we managed to submit the revision just before the deadline but we knew a second round of revision was likely to come. This is because, to be honest, we were not happy with the presentation (more on the “cosmetics” side, e.g. the formulation of some of the ideas, our choices of words and sentences, the grammatical errors here and there, etc; but we were (at least I was) quite happy with the quality of the content).

In December I received the second round of review. The comments and questions were just minor and we were suggested to rewrite some parts of the paper better, just as we expected.

I submitted the revision in January (after coming back from my year-end trip to North America) and in February, the paper was accepted for publication.

***

Actually, almost simulatenously I submitted another journal paper to another scientific journal which focused more on the application area of my research. So in a way, indeed, I was juggling between these two papers (and other working responsibilities as well) in the last almost one year of my working life, lolπŸ˜† .

Even though the journal was different, the process was pretty much the same. This other paper went much smoother though as I did not have to tweak the content a lot and just needed to answer the questions the reviewers had.

I submitted the original version of this other paper in October 2015 and in late April this year, it also got accepted for publication in one of the top journal in the application field of my researchπŸ˜› .

***

Yeah, that is my experience of writing a two journal papers. It has become an integral part of my PhD years and has truly given me a taste on how an academic career would feel like. This will help me tremendously in making life decision regarding what I want to do next…πŸ˜‰

Btw, you can find my two publications via these links:

  1. Math(-ish) paper: http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0167947316300895 (in press)
  2. Application (train stuff) paper: http://authors.elsevier.com/a/1SyiG,M0mR1nCS

Note that each link only gives free access for a certain period after the manuscript is available. So if you read this post waay in the future, you might not get the free access to the article (from which I literally receive 0% royalty. More about this in a later post).

BAHASA INDONESIA

Karena saat ini aku sedang berada di Munich untuk konferensi, aku jadi merasa posting-posting-ku minggu ini sebaiknya berkisar tentang urusan kerjaan saja deh, hahaπŸ˜† . #pencitraan

Oke, berikut ini satu topik tentang itu.

Satu tanggung-jawabku sebagai kandidat PhD (mahasiswa S3) adalah mempublikasikan (beberapa) journal paper. Disini, yang kumaksud dengan sebuah journal paper adalah sebuah paper ilmiah yang di-review secara anonim (biasanya oleh peneliti/ilmuwan lain di bidang yang sama/mirip) dan (kalau diterima) diterbitkan di sebuah jurnal ilmiah.

Jelas mempublikasikan sebuah journal paper itu tidak lah mudah. Bahkan, ini adalah tugas tulis-menulis paling sulit yang pernah kukerjakan seumur hidup, hahaπŸ˜† . Iya, untukku, lebih sulit untuk menulis sebuah journal paper daripada menulis thesis S2-ku dulu (Sekarang ini aku masih sedang dalam proses menulis disertasi S3-ku sehingga aku masih belum bisa membandingkannya dengan ini). Jadi kalau aku diperbolehkan sinis, jika ada yang bilang kepadaku bahwa menulis skripsi S1 itu sulit, reaksinya Serena Williams berikut ini mewakili opiniku deh:

Serena Williams Wimbledon 2009

Prosesnya sungguh memakan waktu lama (biasanya sih, kecuali jika kamu adalah seorang jenius atau risetmu kebetulan berada di bidang paling mutakhir nan canggih di dunia ilmiah, misalnya paper tentang gelombang gravitasi yang dipublikasikan awal tahun ini yang menghebohkan banget itu) dan juga sungguh menguras mental dan emosi.

Aku mungkin akan menuliskan detail teknis tentang penulisan sebuah jurnal ilmiah di sebuah posting yang akan datang (kalau ingat dan nggak malasπŸ˜› ).

***

Jika ada yang ingat, setengah minggu terakhirku di bulan Oktober 2015 adalah setengah minggu yang sangat amat menyibukkan dan membuat stress di kantor. Waktu itu adalah saat-saat yang sungguh membuat stress bahkan makan dan tidur malam terasa seperti membuang-buang waktu bagiku saat itu!! Waktu itu, aku sedang dalam proses memasukkan revisi pertama dari sebuah journal paper yang kami (aku dan co-author-ku (baca: pembimbingku)) kirimkan ke sebuah jurnal matematika komputasi. Versi asli paper-nya kami masukkan di bulan Juni tahun lalu dan kami mendapatkan review anonim ronde pertama di awal September dengan deadline untuk revisi adalah akhir bulan Oktober.

Waktu itu, sebenarnya kami mendapatkan review yang secara umum positif. Namun, ada satu pertanyaan yang memang tepat sasaran yang membuat kami berpikir dan mendapatkan ide untuk secara signifikan meningkatkan kualitas isi dari paper dan riset kami. Ini, tapinya, jelas membutuhkan beberapa buanyak pekerjaan ekstra (simulasi dan eksperimen). Dari sudut pandang ini, perjalanan sepuluh hariku ke India bulan Oktober lalu tidak berlangsung di waktu yang enak. Ini membuat Oktoberku menjadi terasa semakin sibuk, terutama di setengah minggu terakhir bulan itu tepat sebelum deadline-nya!πŸ˜†

Toh walaupun begitu, untungnya kami masih keburu untuk memasukkan revisinya tepat sebelum deadline tetapi kami cukup yakin bahwa revisi ronde kedua akan menanti kami. Ini dikarenakan, sejujurnya, kami sendiri juga kurang puas dengan presentasinya (lebih di sisi “kosmetik”-nya, misalnya formulasi ide-idenya, pilihan-pilihan kata dan kalimat, kesalahan tata-bahasa disana-sini, dll; tetapi kami (setidaknya aku sih) sudah cukup puas dengan kualitas isinya).

Di bulan Desember, review ronde kedua kami dapatkan. Seperti yang kuduga, komentar dan pertanyaannya cenderung minor dan kami memang disarankan untuk mempermak ulang beberapa bagian paper-nya agar lebih enak dibaca.

Revisi aku masukkan di bulan Januari (setelah kembali dari perjalanan akhir-tahunku ke Amerika Utara) dan di bulan Februari, paper-ku dinyatakan lolos untuk dipublikasikan.

***

Sebenarnya, nyaris bersamaan aku juga memasukkan sebuah journal paper lain ke sebuah jurnal ilmiah lainnya yang berfokus di area aplikasi risetku. Jadi, di satu sisi memang aku juggling antara dua paper ini (dan juga kerjaan-kerjaan lainnya) selama nyaris setahun belakangan ini di kantor, hahaπŸ˜† .

Walaupun jurnalnya berbeda, tetapi prosesnya kurang lebih sama. Proses review paper yang satunya ini jauh lebih mulus dimana aku tidak harus banyak mengubah isi paper-nya. Aku hanya perlu menjawab beberapa pertanyaan yang ditanyakan reviewer-reviewer-nya.

Versi asli paper ini aku masukkan di bulan Oktober 2015 dan di akhir April tahun ini, paper ini juga dinyatakan lolos untuk dipublikasikan di sebuah jurnal paling bergengsi dan top di bidang aplikasi risetkuπŸ˜› . #sombong

***

Yah, begitu deh pengalamanku menulis sebuah dua buah journal paper. Pengalaman ini telah menjadi sebuah pengalaman yang menyatu dengan tahun-tahun S3ku dan telah membuatku mencicipi yang namanya karier di dunia akademik. Ini akan sangat amat membantuku untuk membuat keputusan hidup penting nantinya mengenap apa langkahku selanjutnya…πŸ˜‰ .

Btw, dua publikasiku bisa ditemukan di tautan berikut ini:

  1. Paper (yang agak-agak-) matematis: http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0167947316300895 (in press)
  2. Paper aplikatif (di bidang perkereta-apian): http://authors.elsevier.com/a/1SyiG,M0mR1nCS

Oh iya, kedua tautan di atas hanya memberikan akses gratis selama periode waktu terbatas setelah paper-nya dipublikasikan. Jadi jika posting ini dibaca jauuuh di masa depan, ada kemungkinan akses ke paper-nya tidak lagi gratis (yang mana aku menerima royalti sebesar 0% loh. Lebih jauh tentang ini di sebuah posting yang akan datang).

16 thoughts on “#1742 – Writing A Journal Paper

  1. “if someone says that writing a Bachelor thesis is difficult”
    gue bingit nih, hihihi!
    Kok kayaknya bikin research gampang banget sih Mas? #sokteu
    Tipsnya apa wkwkwk
    Pengen sekolah lagi tapi harus bikin research plan :(((
    Males wkwkwk

  2. Klo aku masalahnya pengen s2, suka baca, suka mengamati sesuatu, tp untuk nulis rasanya hoaaa berat. Berat karena aku terlalu memposisikan diri sbg pembaca yg pikirannya super kritis dan kalau debat selalu maunya menang sendiri. Belum lg yg harus kena omelan dosen, hhahaha. Tp y however, jd anak sekolah apa pun tingkatannya pasti akan selalu drindukan, malah kalau aku sering mimpi masih SMP atau mimpi lg tegang2nya mau UN, hhahaha

    1. Hehehe, jika ditulis dengan argumen yang baik, pembaca kritis seharusnya memahami argumen tersebut sehingga nggak akan “menyalahkan” penulis. Ia akan memosisikan dirinya di posisi penulis sehingga ia memahami mengapa penulis bekerja seperti itu πŸ˜‰.

  3. Baca ceritamu ini aku jadi teringat orang2 S3 di kampus dulu Ko. S2 dan S3 kan punya ruangan masing2 yang berdampingan. Kalau di ruangan S2 kan kami masih bisa tuh nyanyi2 atau sesekali nonton film bersama diantara penat baca science direct, nah begitu masuk ruangan S3, ngelihat muka mereka surem bener haha. Fokus ngerjain journal ga bisa diajak becandaπŸ˜…πŸ˜… duh baca science direct jadi mules, apalagi IEEE bahasanya ruwet. Selamat Ko untuk publikasi jurnalnya. Besok ah kutengok dari laptop, pasti aku ga paham isinya haha.

  4. Ya ampun Ko, aku mikirin mau s2 aja.. Mikir mmm, aku suka si belajar di kelas, sharing sama orang, dengerin orang sharing, nyatet nulis terus cerna pake pemikiranku sendiri. Tapi mikirin ngerjain tugasnya itu malesin hihi

    1. Ahahahah tapi kalo S2 masih ada kok itu kelasnya. Kalo S3 ngga ada, kalo mau mesti nyari2 sendiri di workshop/seminar/conference/kelas-kelas di kampus gitu yg menarik πŸ˜„. Tapi iya tugasnya banyaak. Eh tapi justru lebih belajarnya via tugasnya itu lhoo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s