#1730 – 2016 Baltic Spring Trip (Part V: Tallinn)


Previous posts on the 2016 Baltic Spring Trip series:
1. Part I: Stockholm
2. Part II: Jumbo Stay and Air Baltic
3. Part III: Riga
4. Part IV: Helsinki

Previously on 2016 Baltic Spring Trip: Zilko went to the Baltic region for Spring this year. After spending three days in Stockholm and one day in Riga, he was now in the capital of Finland, Helsinki. While he was there, he decided to do a one-day trip to Tallinn, the capital of a neighbouring Baltic country: Estonia.


Getting to Tallinn

I took a ferry boat to cross the Gulf of Finland to get to Tallinn. A more detailed story about this part of the trip will be elaborated further in the next post 😉 .


In Tallinn, my focus was on the Tallinn Old Town, which was a UNESCO World Heritage Site. It was not difficult to reach the Old Town from the harbour on foot with the free Tallinn map that was provided in the ferry 😛 . 

An entrance to Tallinn's Old Town

An entrance to Tallinn’s Old Town

In short, the Old Town was indeed very beautiful! It was much more lively than Riga (see Part III) in my opinion. Even though I am not sure if this is a fair statement because I went to Tallinn on a Friday while I was in Riga on a Tuesday. But then again the weather was actually quite not nice in Tallinn that day while it was perfect in Riga.

Anyway, the total area of the Old Town was not really big so one day was definitely more than enough to get around. I literally circled and criss-crossed it a few times, haha 😆 . I did not go into any museums nor attractions though, as a few of the interesting places (in my opinion) were actually outdoor and so they were free to access 😉 .

A mandatory site to visit, in my opinion, was the Toompea, a small hill just by the Old Town from where you could get a bird’s eyes view of the Old Town. It was beautiful!!

Tallinn, Estonia

Tallinn Old Town as seen from Toompea

To be honest, surprisingly Tallinn was a much bigger city than I expected. From Toompea, I got a sense of how big the city was. Beyond the walls of the Old Town were the modern parts of Tallinn with a few skyscrapers here and there. Well, being a capital of a country maybe that was actually not surprising though, haha 😆 .

The Food

One thing which excited me a lot during my visit to Tallinn was actually a restaurant. So a couple of days prior, I was suggested to try a very good restaurant in Tallinn, the Cru restaurant in the Old Town. I googled it and was startled with all the amazingly great review, including one stating that the dishes were Michelin-level quality!

It was not surprising though. Apparently, the head chef of the restaurant was ranked number 14th in a world class cooking competition in 2015 and one of the other chef was the Chef Of The Year 2013 and was the winner of the Baltic Culinary Star Cup. I mean, 😱😱😱😱😱.

Cru Restaurant

The Cru Restaurant, where the best chefs work

Okay, so how about the price though? Well, obviously it was expensive in Estonian standard. But in Dutch standard, it was actually just average!! Yeaaaay!!!

My ferry ride back to Helsinki was scheduled at 19:30 so there was enough time to have (an early) dinner there. And so I went to the restaurant at around 17:00.

For the main course, I ordered the “Organic” menu, which was a “slow food” veal with lightly smoked beats. Before the dish was served, I was given an appetizer in the form of bread and butter. And I can tell you know that it was probably the most delicious bread and butter I have ever had in my life. Seriously! I never knew simple bread and butter, if prepared carefully, could become such a lovely dish on their own!

My main dish

My main dish

Then, the veal was served. Unsurprisingly, the meat was perfectly cooked so it was amazing. However, the most impressive details of the dish, to me, was actually the chips. Those three pieces of chips were literally the most delicious chips I have ever had in my entire life!! First of all, the thickness was literally perfect. It was not too thick (hence they did not leave that “awkward” feeling on my teeth after biting them; like the feeling you (may) get when you bite normal potato chips) while also not too thin (hence not crumbly at all). Second of all, clearly you see the unique “perforated” cut. Third of all, they tasted good and blended well with the whole dish!!

At first I wasn’t really sure whether I wanted a dessert as well or not. But my experience so far had been amazing to say the least so I thought “Why the hell not“, haha 😆 . I ordered a merangue blueberry cake as my dessert, which was also very delicious!! 😍😍😍

Yeah, it was such an amazing dining experience that I had in Tallinn!! And I do recommend you to try this restaurant out if you happen to be around 😉 .


Next on 2016 Baltic Spring Trip:
– Crossing the Gulf of Finland
– Flying Finnair
– Back to the Netherlands


Posting-posting sebelumnya dalam seri 2016 Baltic Spring Trip:
1. Part I: Stockholm
2. Part II: Jumbo Stay and Air Baltic
3. Part III: Riga
4. Part IV: Helsinki

Sebelumnya dalam 2016 Baltic Spring Trip: Zilko pergi ke area Baltik untuk musim semi tahun ini. Setelah menghabiskan tiga hari di Stockholm dan sehari di Riga, kini ia berada di ibukotanya Finlandia, Helsinki. Ketika disana, ia memutuskan untuk pergi dalam perjalanan satu hari ke Tallinn, ibukota dari sebuah negara Baltik tetangganya Finlandia: Estonia.


Ke Tallinn

Aku menaiki kapal ferry untuk menebrangi Teluk Finlandia ke Tallinn. Cerita yang lebih mendetail tentang perjalanan dengan kapal ini akan aku ceritakan di posting selanjutnya 😉 .


Di Tallinn, fokusku adalah di Kota Tua Tallinn, yang mana termasuk di dalam situs UNESCO World Heritage Site. Tidak sulit untuk mencapai Kota Tua dari pelabuhan dengan berjalan-kaki dengan memanfaatkan peta Tallinn gratisan yang disediakan di kapal ferry-nya 😛 .

An entrance to Tallinn's Old Town

Salah satu pintu masuk Kota Tua Tallinn

Secara singkat, Kota Tuanya Tallinn memang kece banget! Kotanya lebih hidup daripada Riga (baca bagian III) menurutku. Walaupun aku nggak yakin sih apakah ini adalah pendapat yang fair atau tidak karena aku pergi ke Tallinn di hari Jumat sementara aku ke Riga di hari Selasa. Tetapi lagi, cuaca hari ini juga nggak begitu oke di Tallinn sementara sewaktu aku di Riga, cuacanya sedang oke banget.

Anyway, Kota Tuanya sendiri bukanlah sebuah area yang besar sehingga waktu satu hari itu lebih dari cukup untuk habis mengelilinginya. Aku beneran mengelilinginya dan bolak-balik jalan di jalan yang sama di dalam kotanya loh seharian itu, haha 😆 . Aku sama sekali tidak masuk ke dalam museum atau atraksi apa gitu sih karena beberapa tempat yang menarik (menurutku) berada di luar dan gratis untuk dikunjungi 😉 .

Tempat wajib untuk dikunjungi, menurutku, adalah Toompea, sebuah bukit kecil tepat di samping Kota Tua dimana dari sana kita bisa mendapatkan pemandangan mata burung dari Kota Tuanya. Kecee!!

Tallinn, Estonia

Kota Tuanya Tallinn seperti yang terlihat dari Toompea

Sejujurnya, secara mengejutkan ukuran Tallinn ternyata lebih besar daripada sangkaanku. Dari Toompea, aku bisa melihat seberapa besarnya kota ini. Di luar temboknya Kota Tua, terdapat bagian Tallinn yang modern dengan beberapa menara pencakar-langitnya. Yaa, namanya aja ibukota sebuah negara ya sehingga mungkin ini nggak terlalu mengejutkan juga sih, haha 😆 .


Satu hal yang membuatku bersemangat banget ketika di Tallinn adalah sebuah restoran. Jadi ceritanya, dua hari sebelumnya aku disarankan untuk makan di sebuah restoran yang oke banget di Tallinn, yaitu Restoran Cru di Kota Tua. Iseng lah restorannya aku google dan aku terkejut dengan banyaknya review yang sangat amat positif, dimana salah satunya bahkan menyatakan bahwa restoran ini menyajikan masakan berlevel Michelin!

Nggak mengejutkan sih. Ternyata, chef kepala dari restoran ini di tahun 2015 berperingkat 14 sedunia dong di dalam sebuah kompetisi masak level dunia dan salah satu chef lainnya adalah Chef Of The Year di tahun 2013 dan juara kompetisi “Baltic Culinary Star Cup”. Waduh, 😱😱😱😱😱.

Cru Restaurant

Restoran Cru, dimana chef-chef terbaik bekerja

Oke, harganya terus gimana dong kalau begitu? Yaa, jelas mahal lah untuk ukuran Estonia. Tetapi untuk ukuran Belanda, harganya mah standar banget looh!! Yeaaaay!!!

Karena kapal ferry-ku kembali ke Helsinki dijadwalkan berangkat jam 07:30 malam, ada waktu bagiku untuk makan malam (agak awal) disana. Jadilah aku datang di restorannya sekitar jam 5 sore.

Untuk makanan utama, aku memesan menu “Organic”, yaitu sebuah daging sapi muda “slow food” dengan tanaman bit yang sedikit diasap. Sebelum makanan utamanya disajikan, aku diberikan sebuah makanan pembuka dalam bentuk roti dan mentega. Dan harus aku bilang sekarang bahwa mungkin ini adalah roti dan mentega paling enak yang pernah aku makan seumur hidup! Beneran deh! Aku nggak pernah menyangka bahwa kombinasi sederhana roti dan mentega, jika dipilih dan dipersiapkan dengan matang, bisa menjadi makanan yang enak banget!

My main dish

Menu makanan utamaku

Lalu, daging sapinya disajikan. Nggak mengherankan, dagingnya dimasak dengan sempurna dan enaak banget. Namun, detail yang paling memukau bagiku adalah kentang gorengnya (chips). Tiga potong kentang goreng itu adalah tiga potong kentang goreng paling enak yang pernah aku makan seumur hidup!! Pertama-tama, ketebalannya sempurna sekali. Tidak terlalu tebal (sehingga tidak meninggalkan rasa yang “aneh” di gigi setelah kentangnya digigit; perasaan di gigi yang nggak enak setelah menggigit kentangnya potato chips biasa gitu) tetapi juga tidak terlalu tipis (sehingga tidak gampang rontok). Kedua, terlihat dengan jelas potongan “bolong-bolong” yang unik itu kan. Ketiga, rasanya enaak dan menyatu dengan keseluruhan masakannya dengan baik!!

Awalnya aku nggak yakin apakah aku ingin memesan pencuci mulut juga atau tidak. Tetapi karena sejauh ini pengalamanku sangat amat positif disana, jadilah aku berpikir “Mengapa tidak?“, haha 😆 . Dan jadilah aku memesan kue blueberry merangue sebagai pencuci mulut, yang mana rasanya enak banget!! 😍😍😍

Yeah, beneran sebuah pengalaman makan malam yang seru dan enak banget di Tallinn! Aku sungguh merekomendasikan restoran ini jika kebetulan sedang mengunjungi Tallinn 😉 .


Selanjutnya dalam 2016 Baltic Spring Trip:
– Menyebrangi Teluk Finlandia
– Terbang dengan Finnair
– Kembali ke Belanda


32 thoughts on “#1730 – 2016 Baltic Spring Trip (Part V: Tallinn)

  1. Mimpi suatu saat Kota Tua Jakarta seperti Tallinn. Cakep bener ya dan terawat pula.

  2. alrisblog says:

    Bagus dan terawat ya.
    Apa memang penduduknya yang sadar untuk memelihara bangunan itu atau memang pemdanya yang merawat?

    • zilko says:

      Betul, bagus dan terawat banget. Ah, pasti dari kedua pihak deh. Menurutku nggak akan jalan kalau hanya satu pihak saja yang sadar untuk merawat 😀 .

  3. yance says:

    cakepp yaa kotanya. jadi ngebayangin makanan yang enakk selevel michelin. maksudnya apa ko?

    • zilko says:

      Iya kotanya cakep banget!!! 😀

      Hahaha, maksudnya andaikata Tallinn juga didatangi si orang Michelin yang menilai restoran-restoran itu (nggak semua negara di dunia didatangi soalnya 😛 ), restoran ini bakal minimal dapat recognition dari mereka 😛

  4. jampang says:

    seperti di film zaman dahulu… lorong2 kotanya

  5. kutubuku says:

    Negara2 macam Latvia, Lithuania dan Estonia memang murah meriah. Aku belum pernah kesana, pengen juga

  6. inlycampbell says:

    Selalu suka kalau lihat foto2 dari atas.. keambil semuanya pemandangan seluruh kota yaa.. 🙂

  7. wieskyblueid says:

    Itu ka Zilko tau nama chef nya?? Yg d menu itu…

  8. Christa says:

    Lagi2 kotanya keliatan sepi Ko, hehehe. Btw, itu street musician mainin alat musik apa ya?

    • zilko says:

      Iya tapi hari itu dingiin Chris di Tallinn, haha. Tapi itu pun auranya masih terasa lebih rame daripada yang Riga berapa hari sebelumnya, hehehe 😀 .

      IHahaha, apa ya? Nampak seperti gong tapi kok mendatar gitu ya posisinya? Hahahha 😆

  9. sigirokries says:

    untuk ukuran orang Estonia makanannya mahal, untuk orang Belanda murah, hmm.. untuk ukuran Indonesia? better not compared hahahaha 😀

  10. wah, keren banget perjalanan springnya mas…
    alat musik yang dipake street mucision nya lagi nge booming, saya suka dengar nya…

    saya belum ke Tallin, baru dapat kartu post nya karena suka sama kota UNESCO.

  11. Una says:

    I want to gooo to Estonia!
    Baru pertama kalinya aku ke blogmu dan baca part Bahasa inggrisnya haha, biasanya langsung skip ke Bahasa Indonesia XD
    Btw, the merengue cake looks like durian~

    • zilko says:

      Estonia keren Na!! (Murah pula 😛 )

      Huahaha, jadi selama ini langsung ke part bahasa Indonesianya ya Na? 😛 Iya, sekilas memang nampak kayak durian ya 😛

  12. […] Previous posts on the 2016 Baltic Spring Trip series: 1. Part I: Stockholm 2. Part II: Jumbo Stay and Air Baltic 3. Part III: Riga 4. Part IV: Helsinki 5. Part V: Tallinn […]

  13. […] Part I: Stockholm 2. Part II: Jumbo Stay and Air Baltic 3. Part III: Riga 4. Part IV: Helsinki 5. Part V: Tallinn 6. Part VI: Tallink and […]

  14. […] Part I: Stockholm 2. Part II: Jumbo Stay and Air Baltic 3. Part III: Riga 4. Part IV: Helsinki 5. Part V: Tallinn 6. Part VI: Tallink and […]

  15. niee says:

    Iihhh ngiler banget lihat makanannya zil.

  16. […] Part I: Stockholm 2. Part II: Jumbo Stay and Air Baltic 3. Part III: Riga 4. Part IV: Helsinki 5. Part V: Tallinn 6. Part VI: Tallink and […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s