Posted in Life in Holland, Zilko's Life

#1703 – Applying for the Dutch PR

ENGLISH

Note: Some information which I may provide via this post may be unreliable, especially in the case if you are reading this post (far) in the future where there always is a possibility of laws/rules changes. And so I personally suggest you to confirm the information to the official bodies governing those matters to obtain more relevant information for whatever purpose you might have.

***

As I have temporarily lived in the Netherlands for more than five consecutive years, there has been one matter which has kept me busy in the past eight-nine months or so: applying for the Dutch permanent residence (PR) permit, haha😆 .

In mid-February, I got a letter from the IND (The Dutch Immigration and Naturalisation Service) which confirmed that I was granted the Dutch PR😛 . And last week, finally I got my new residence permit card which states that I can stay in the Netherlands for an “indefinite” period😛 . Here is the brief story of my PR application experience from my point of view🙂 .

***

Obviously there were a lot of requirements that needed to be fulfilled to get a PR status. One of them was that I must show that I have sufficiently integrated myself to the Dutch society. To do that, I must pass an exam called the inburgeringsexamen.

Het Inburgeringsexamen

As a PhD candidate, I was granted the kennismigrant (highly-skilled migrant) residence permit. With this permit, actually I was exempted from taking the inburgeringsexamen for the entire duration of my stay in the Netherlands under this permit (as far as I know, with some other types of permit ones must take and pass the inburgeringsexamen within three years since their arrival in the Netherlands).

Anyway, as, understandably, this exam was one of the PR requirements, I started the application process by registering myself for the exam directly at DUO (The Dutch Education Office). The inburgeringsexamen consisted of six exams: four were Dutch language exams (reading, speaking, listening, and writing), one was about knowledge of the Dutch society, and another one (which was just newly introduced last year) was about an orientation to the Dutch labour market.

I took the first five exams all in one day in Rijswijk, which all I passed right away (With flying color grades of 10, 8, 9, 8, and 9 of the scale of 0-10 as well. Yes this is important to mention here 😎😎😎). The sixth exam, however, took much longer because of its exhaustive form. For the exam I had to pretend to apply for a real job opening which matched my qualification (I had to look for the job opening myself. Thanks to LinkedIn it was not a problem these days), filled some forms which DUO had prepared, sent those filled forms back to DUO, set an interview date with them, had the 1 hour interview with two examiners from DUO (in Dutch), and then the result. The entire process took about 5 months since the day I mailed those forms to DUO until I got the result stating that I passed the exam (it was mostly the waiting game though), haha :lol: . Okay, I actually knew I passed the sixth exam right away after the interview by deducting from what the examiners said to me during the interview, haha😛 . But still, of course I needed to wait for the official letter stating that I, indeed, passed the exam.

I passed the inburgeringexamen (and a proof of my grades :P ).
I passed the inburgeringsexamen (and a proof of my grades😛 ).

Anyway, at the end of November I got a letter from DUO congratulating me that I passed all the required exams and hence I passed the inburgeringsexamen. In mid-December, I was invited to Rijswijk to get my inburgeringsexamen diploma.

The Application Process

Knowing that I passed the inburgeringsexamen, I immediately prepared all the other required documents. My situation, however, was a little bit more complicated because my remaining working contract with TU Delft was already less than a year on the day of my application. This was not really a problem actually. It was just that I needed to submit even more documents because of this; which mostly were about proofs of my income in the last three years! Haha😆 .

I gathered all the required documents (well except my super old salary slips from three years ago which I had no idea anymore where they were, lol😆 ) and after I got the inburgeringsexamen diploma, I sent my application to IND. Two days after sending the letter, I went to Rijswijk to submit my biometric information to the system.

Long story short (which the long story involved a mini drama with payment confusion due to (possibly) a problem with the post delivery service), in mid-February I got a letter stating that I was granted the Dutch PR (not the European Union one though because for that one, my Master year only counted as half because I was a student and so under that measure I had not been living here for five years yet). Then some time later I got a letter where I could collect my new residence permit card. And last week, I got my new residence permit card which states that, now, I am a PR in the Netherlands, hehe🙂

BAHASA INDONESIA

Catatan: Beberapa informasi yang muncul di posting ini mungkin kurang akurat loh, apalagi di masa depan dimana sangat mungkin telah ada perubahan aturan/undang-undang. Oleh karena itu, aku menyarankan pembaca untuk mengonfirmasi informasi tersebut ke lembaga resmi yang bertanggung-jawab tentangnya untuk mendapatkan informasi terkini dan akurat, untuk alasan apa pun yang mungkin pembaca punya. 

***

Karena aku sudah hidup (sementara) di Belanda selama lebih dari lima tahun berturut-turut, ada satu urusan yang telah menyibukkanku selama delapan/sembilan bulan belakangan ini: mengajukan permohonan izin tinggal permanen (permanent residence permit/PR) di Belanda, haha😆 .

Pertengahan Februari lalu, aku mendapatkan surat dari IND (Badan Imigrasi dan Naturalisasi Belanda) yang mengonfirmasi bahwa permohonan PR-ku dikabulkan :P . Dan minggu lalu akhirnya aku mendapatkan kartu residence permit yang baru yang menyatakan bahwa aku berhak tinggal di Belanda untuk masa waktu yang “tidak terbatas”🙂 . Berikut ini cerita singkat pengalaman proses aplikasi PRku ini dari sudut pandangku🙂 .

***

Tentu saja ada banyak persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin tinggal ini. Salah satunya adalah aku harus bisa menunjukkan bahwa aku sudah cukup terintegrasi dengan kehidupan dan masyarakat di Belanda. Untuk menunjukkan itu, aku harus lulus sebuah ujian yang disebut inburgeringsexamen.

Het Inburgeringsexamen

Sebagai kandidat PhD (S3), selama ini aku mendapatkan izin tinggal sebagai kennismigrant (imigran dengan keterampilan/kemampuan/pendidikan tinggi (ini terjemahannya kok gini amat ya? Hahaha😆 )). Dengan izin tinggal ini, aku mendapatkan pengecualian dari kewajiban ikutan inburgeringsexamen untuk keseluruhan masa tinggalku di Belanda dengan izin tinggal ini (sejauh yang aku tahu, beberapa izin tinggal tipe lainnya mengharuskan pemegangnya untuk mengambil dan lulus ujian inburgeringsexamen ini dalam waktu tiga tahun semenjak ketibaan mereka di Belanda).

Anyway, karena, masuk akal sih, ujian ini adalah salah satu persyaratan untuk mendapatkan PR, proses pendaftaranku aku mulai dengan mendaftarkan diriku untuk mengikuti ujian ini langsung di DUO (Kantor Pendidikan Belanda). Inburgeringsexamen ini terdiri atas enam ujian: empat adalah ujian bahasa Belanda (kemampuan membaca, kemampuan berbicara, kemampuan mendengarkan, dan kemampuan menulis), satu ujian adalah tentang pengetahuan akan masyarakat dan kehidupan di Belanda, dan satu ujian lagi (yang mana ujian baru yang baru diperkenalkan tahun lalu) adalah tentang orientasi akan pasar tenaga kerja di Belanda.

Lima ujian pertama langsung aku ambil dalam waktu satu hari di Rijswijk, yang mana aku langsung lulus semuanya (Dengan nilai yang bagus pula: 10, 8, 9, 8, dan 9 dari skala 0-10. Iya ini memang penting buat disebutin disini 😎😎😎, huahaha). Ujian yang keenam memakan waktu jauh lebih lama, btw, karena sistem ujiannya yang memang kompleks. Untuk ujian ini, aku harus pura-pura melamar sebuah lowongan pekerjaan beneran yang cocok dengan kualifikasiku (Lowongannya pun harus aku cari sendiri. Untungnya sekarang mah ada LinkedIn ya😀 ), mengisi beberapa formulir yang telah disiapkan DUO, mengirimkan formulir yang telah diisi ke DUO, menetapkan jadwal wawancara dengan mereka, wawancara selama 1 jam dengan dua penguji dari DUO (dengan bahasa Belanda tentunya), dan barulah hasilnya keluar. Keseluruhan prosesnya memakan waktu kira-kira 5 bulan semenjak aku mengirimkan formulir-formulir itu hingga aku mendapatkan hasil bahwa aku dinyatakan lulus (kebanyakan ya cuma menunggu aja sih sebenarnya), haha😆 . Oke, sebenarnya aku langsung tahu bahwa aku lulus ketika wawancara dengan cara menganalisa apa yang dikatakan oleh pengujinya kepadaku di wawancara itu, haha😛 . Tetapi jelas lah ya aku tetap harus menunggu pengumuman resminya yang menyatakan bahwa aku memang lulus.

I passed the inburgeringexamen (and a proof of my grades :P ).
Aku dinyatakan lulus inburgeringsexamen (dan juga bukti dari nilai-nilaiku😛 ).

Anyway, di akhir bulan November aku mendapatkan surat dari DUO yang menyelamatiku atas kelulusanku di semua ujiannya sehingga aku dinyatakan lulus inburgeringsexamen. Pertengahan Desember, aku diundang ke Rijswijk untuk mengambil diploma inburgeringsexamen-ku.

Proses Aplikasi PR

Mengetahui bahwa aku lulus inburgeringsexamen, aku langsung mempersiapkan semua dokumen persyaratan lainnya. Situasiku agak sedikit rumit, btw, karena kontrak kerjaku di TU Delft tersisa tinggal kurang dari satu tahun ketika permohonan ini aku ajukan. Ini bukan masalah sih sebenarnya, hanya saja di situasi ini aku jadi harus mempersiapkan lebih banyak dokumen lagi; yang mana sebagian besar berhubungan dengan bukti-bukti pemasukanku selama tiga tahun belakangan ini! Haha😆 .

Aku mengumpulkan semua dokumen yang kubutuhkan (eh, kecuali slip gajiku dari tiga tahun yang lalu sih soalnya aku sudah nggak tahu dong ya ada dimana slip-slip gaji itu sekarang, hahaha😆 ) dan setelah aku mendapatkan diploma inburgeringsexamen itu, aplikasiku langsung kukirimkan ke IND. Dua hari setelahnya, aku pergi ke Rijswijk untuk memasukkan informasi biometrikku ke dalam sistem mereka.

Singkat cerita (yang mana cerita panjangnya melibatkan sebuah drama mini akibat miskomunikasi masalah pembayaran karena (kayaknya sih) ada masalah dengan sistem pengiriman pos waktu itu), di pertengahan Februari aku mendapatkan surat yang menyatakan bahwa permohonan PR-ku di Belanda dikabulkan (bukan yang Uni Eropa sih karena untuk yang itu, waktu tinggalku disini selama S2 hanya dihitung setengah saja karena statusku waktu itu adalah sebagai pelajar, sehingga dengan sistem ini total waktu tinggalku jadi belum ada lima tahun). Lalu, tidak lama kemudian aku mendapatkan surat bahwa kartu izin tinggalku yang baru sudah jadi. Dan minggu lalu, aku mendapatkan kartu residence permit-ku yang baru yang kini menyatakan bahwa aku adalah PR di Belanda, hehe🙂

64 thoughts on “#1703 – Applying for the Dutch PR

  1. Sepertinya mudah mendapatkan PR di Netherlands. Disini syaratnya banyak banget dan peraturannya dirubah2 terus. Jaman aku pertama kali datang, dulu 7 tahun, ujian bahasa and that’s it. Lalu dirubah menjadi 5 tahun, harus 4 tahun full time job sama 1 tahun volunteering proof, lalu dirubah lagi dan dirubah lagi, sampai aku sempat pikir mau pindah ke Norway karena disana selain kantor utama ada disana, jg semuanya lebih mudah u/ engineers.

    Untungnya pas aku mau apply, dirubah lagi, volunteering nya dihapus, jadi aku bisa apply, lalu sempat ada point system pula dan sekarang entah bagaimana, yang jelas tetap ada requirement full time kerjanya kalau gak salah 4 tahun belakangan, jadi semua2 housewives (terutama orang Indonesia yang merit lalu jadi housewives di mari) nggak akan bisa apply PR, ever.

        1. Ini berlaku untuk semua foreigner di DK? Ketat memang ya syaratnya. Di Belanda seperti Zilko cerita diatas ada PR untuk high-skilled migrants & migrants of love seperti aku & Deny.

          1. Berlaku Yen, disini nggak dibeda2in high skilled apa enggak. Klo high-skilled cuman bikin dia gampang u / dapet limit minimum gaji yang 300.000 DKK itu per tahun

            1. Hahaha, tapi kan jadi lebih susaah cari kerjanya😛 . Maksudku jadi cuma bisa cari kerja yang gaji minimumnya gedee kan😛 .

            2. Iya sih. Kalau dari awal masuknya sudah kerja long term sebagai highly-skilled migrant memang menguntungkan banget ya! Apalagi kalo disini dan bisa qualified untuk 30% tax-free rule. Gila itu enak bangettttt!!! Hahahaha😆 .

              Cuma nggak enaknya jadi nggak mudah untuk pindah kerja mungkin ya😛 .

            3. Iya Zi, disini ada kaya gitu kalau di rekrut Mærsk misalnya, jadi flat tax 25% income doang (padahal biasanya diatas 40% lah), tapi cuman 3 tahun, setelah 3 tahun dan mau tetep tinggal di DK selisih pajaknya bakal di minta, jadi banyak orang2 itu yang pindah keluar DK setelah 3 tahun hehe

            4. Huaa, kalo disini 30% dari gross salary-nya tax-free, dan sisa 70%nya baru di-tax seperti biasa; dan ini berlaku delapan tahun dan setelah delapan tahun nggak harus balikin sih kayaknya, haha. Dan sebenarnya PhD Candidate qualified untuk 30% tax rule ini lho. Hanya saja aku nggak qualified karena salah satu persyaratannya adalah 1,5 tahun-an sebelum kontrak dimulai, orangnya harus hidup di luar garis batas Belanda + 150 km. Yah, sayang banget, haha. Beberapa temanku disini ada yang dapat dan itu enaaaak, hahaha😆 .

            5. Huaaa, aku juga tax-free-nya dikit banget. Yang sesuai seperti model perpajakan step-wise gitu. Sekian euro pertama tax-free, dst😛 .

              Iya, enak banget kalau qualified untuk yang 30% rule itu.

          2. Bukannya PR (Belanda) cuma satu macam aja? Yang ada dua macam itu sepertinya izin tinggal long term yang bukan PR?😛 . Di izin tinggal long term itu tulisannya “bepaalde tijd”, sementara sekarang aku dapat yang “onbepaalde tijd”, haha😛 .

            “Nggak enak”-nya kalau tinggal dengan status long term dan high-skilled migrant adalah mesti cari kerja yang gajinya tinggi banget, haha. Temanku ada yang dapat tawaran kerja dari perusahaan kecil. Sudah oke semua tetapi akhirnya batal karena perusahaannya harus hire dia sebagai high-skilled migrant dimana artinya gross salary-nya mesti jauh lebih tinggi daripada yang bukan high-skilled migrant😀 . Ditambah lagi, perusahaannya harus memiliki izin khusus untuk meng-hire high-skilled migrant gitu.

            1. Aku salah sebut, memang sama PR tapi syaratnya untuk kennismigrant kan salah satunya gaji, sementara kalo untuk love migrant ngga pake ini. Love migrant bisa pilih apply PR dengan guarantee partner atau tanpa ini.

            2. Oh, I see! Iya sih kemarin di formulir aplikasinya ada beberapa macam lampiran. Salah satunya memang adalah sponsor yang mana bisa jadi guarantee partner😛 . Aku nggak pakai yang ini tetapi pakai yang lampiran employer’s declaration😛 .

      1. Iya, temanku juga harus ada yang tesnya lebih dari sekali karena ada 1/2 ujian yang di tes pertama nggak lulus, hehehe. Untung aku langsung lulus semua, hehehe😛

    1. Hahaha, aku dengar-dengar juga aturannya disini berubah kadang-kadang. Nggak tahu sih apakah sesering di Denmark ato engga. Yang jelas kayaknya sistem yang sekarang ini baru 2 atau 3 tahun terakhir karena kata temanku, sebelum itu sistem ujiannya beda (sekarang lebih susah katanya, hahaha😆 ).

      Wah repot banget ya kalau harus ada volunteering proof-nya segala! Disini sih sepertinya nggak harus ada requirement full time kerja tetapi yang jelas mesti ada sumber finansial yang jelas dan cukup.

  2. Waahhh Koo, gefeliciteerd 😍😍 nilainya pun bagus2, aku senang deh baca postingan ini, berasa aku ada temannya huahaha. Aku sebulan lalu ujian KNM ko, 5 ujian lainnya lagi antri eksekusi nih. Stressnya luar biasa Ko, soalnya NT2 *ya aku sih yang cari masalah sendiri, A2 aja kan sebenarnya bisa haha. Gpp lah, coba kemampuan dulu. Doakan aku lulus ya Ko 🙏 yang dikasih waktu 3 tahun itu salah satunya kondisi sepertiku Ko, nikah sama orang Belanda. Kenalan2 disekolah yang vluchtelingen juga dikasih waktu 3 tahun mereka buat lulus. Duh, aku beneran semangat deh baca postinganmu, disaat sedang genting akan ujian 😊 ONA lama banget ya Ko nunggu 5 bulan. ONA rencana akan kuambil kapan2, eh maksudnya fokus ke 4 ujian utama dulu. Susah Ko pertanyaan ONA? Oh iya Het inburgeringsexamen tulisanmu kurang “s” 😁

    1. Dankje!! Hehehehe😀 .

      Huaaa, keren ambil NT2! Pasti progress-nya bakal jauh lebih cepat!!! Aku sih gak ambil apa-apa kemarin, langsung aja terabas ujian (soalnya di kantor dan kerjaan juga sudah mesti pakai bahasa Belanda juga sih kadang-kadang😛 . Jadi malah cepetnya belajar dari situ. Jadi bukannya “bayar” untuk les bahasa Belanda, ini malah “dibayar”, hahahaha😆 ).

      Sippp! Iya, ujian ONA lama karena prosesnya ribet banget. Jadi nanti kalau sudah saatnya mau ujian ONA, mending apply-nya awal-awal aja deh daripada ketar-ketir nungguin surat melulu di rumah berbulan-bulan dengan deadline yang sudah dekat kan, haha. Tapi dugaanku kemarin ini sepertinya ONA lama karena masih ujian baru jadi sistem pendaftarannya masih memakai sistem manual (via pos, dll). Padahal untuk ujian-ujian lainnya kan praktis karena bisa daftar di internet kan🙂 . Mungkin nanti-nanti bakal dipermulus sistemnya jadi lebih cepat.

      Haha, ujian ONA kemarin ditanya-tanya tentang formulirnya itu yang mana semuanya aku isi berdasarkan pengalaman dan pendidikanku. Kebetulan juga ijazah S2ku kan dari universitas sini jadi mereka langsung ngerti dah, haha😛 . Jadi ya nggak sulit-sulit amat sih menurutku😛 . Deg-degannya kemarin adalah karena pewawancaranya itu dua orang! haha😛

      Trims koreksinya! Tadi sudah aku koreksi!!😀

      1. Nah, makanya aku sampai ikutan vrijwiligerswerk supaya memperlancar bahasa Belanda, bisa praktek langsung terjun lapangan. Bahasa soalnya bukan hapalan ya beda ama ilmu pasti, masalah kebiasaan. Kalo ga diasah rutin kan bisa2 lupa, meskipun sekarang tiap hari ngomong bahasa Belanda sama suami, kecuali lagi ngambek baru keluar deh bahasa Indonesia dan Inggris hahaha. Lumayanlah sudah ngantongin KNM, satu ujian terlewati, masih 5 lagi *OMG banyak banget haha. Iya, aku mau menyetarakan ijazah dulu nih ke IDW baru ambil ONA, mana ijazah S2 kan masih di ITS soalnya pas aku berangkat ijazah belum keluar, dan ga bisa dikirim karena musti ada tandatanganku dulu di ijazah *ruwet deh. Satu satu dulu dikerjakan, masih ada waktu 2 tahun lagi.

        1. Iya, bahasa mah memang mesti banyak praktek dan latihan aja menurutku😛 . Tadi pagi aku mesti ngajar dan sengaja pake bahasa Belanda aja sekalian latihan lagi. Eh, kecuali kalau pas pertanyaannya si mahasiswa rada susah sih yang mana lebih baik dijelasin pake bahasa Inggris. Kasihan juga si mahasiswanya nanti malah jadi bingung kalau bahasa Belandanya pas nggak tepat, hahaha😆 .

          Sipp!! Untuk 4 ujian bahasanya waktu itu aku paling deg-degan ujian spreekvardigheid-nya soalnya deg-degan kalau pronunciation-nya ngaco, huahaha😆 . Eh ternyata dapat 8 di ujian itu😛 .

          Iyaa! Menurut tebakan (asal)-ku, ONA bakal lebih “mudah” dilewati kalau kita punya ijazah S2, haha. Dan kalau nggak salah memang salah satu persyaratannya adalah kalau ijazahnya dari luar (apalagi tidak dalam bahasa yang mereka “tahu”), ijazahnya mesti disetarakan dulu.

          Huaaa, ribet ya berarti mesti “ngambil” ijazahnya di ITS dulu? Setelah itu pun mesti disetarakan lagi? Ruweet!!😛 Tapi mesti dilakoni jadi dijalani aja ya. Masih ada 2 tahun sih tapi 2 tahun itu cepeeet, hahaha😛 .

  3. Selamat!! aku bacanya ribet sih hehehe karena faktor musti bahasa belanda nya kali ya.. anyway semua sudah lewat dan sekarang sudah dapet ya PR nya🙂

    1. Trims Chris!

      Iya, ada tes bahasa Belandanya jadi lebih susah. Mana sebenarnya hidup di Belanda mah masih bisa kok pake bahasa Inggris doang. Walaupun tentu bakal lebih nyaman kalau bisa bahasa Belanda sih, haha😆 .

  4. Beugh yang dapet flying colors bangganya pasti ga ketulungan, itu! Congrats, ya!😀
    Anyway Zi kamu 5th disana uda kelar tha PhD-nya? Apa masih nyambi2 jadi dosen atau gimana?

    1. Trims Ge, hehe.

      Belum kelar kok. Kan dua tahun pertamanya S2 waktu itu🙂 . Untuk ngajar sih kebetulan memang itu sudah bagian dari kontrak. Jadilah selama ini juga ngajar dikit (dan nggak dapat gaji tambahan loh karena sudah bagian dari kontrak itu😛 ).

    1. Dankje!!😀

      Wah, keren nih ambil NT2! Pasti progress bahasa Belandanya cepet! Hehehe🙂 . Hahaha, kemarin paling deg-degan ujian wawancara di tes ONA itu karena pewawancaranya dua orang, hahaha😆 .

      1. Gakkk juga Ko, malahan bahasa belandanya amburadul bgt haha.. Rasanya baru mulai ngerti ehh udah ada tatanan bhs baru lg, ampun2. Cuma nanti pas di belanda, harus sekolah lg kan, pinginnya sh tes NT2, gaya bener dah, hahaa. Semoga kuat, klo gak ya udah yg Basic aja haha.. Ada tips n trik nya gak Ko biar gampang nguasain belanda? Kebayang sh deg2annya, tapi suksessssss kan😀

        1. Hahaha, tatanan bahasanya memang rumit dan tricky banget ya. Tapi menurut teman-temanku orang Belanda disini tatanan bahasa gitu nggak terlalu penting sih asal mereka masih ngerti aja. Paling bagi mereka terdengar “aneh” atau “lucu” aja kalau tatanannya salah atau terbalik misalnya, haha😛 .

          Sebaliknya sih, kadang orang Belanda juga membawa tatanan ini ke bahasa Inggris. Aku juga kadang suka merasa lucu sendiri kalau membaca report tugas mahasiswa Belanda yang mesti dibuat dalam bahasa Inggris, hahaha😆 .

          Kalau tips dan trik bahasa Belanda sih aku cuma bisa meneruskan tips dan trik yang diberikan profesorku sewaktu dulu aku baru aja pindah ke Belanda (dia orang Amerika btw😛 ): “Kalau mau ngomong mah nggak usah takut dan labrak aja. Kalau kepentok karena nggak tahu vocab-nya apa, pakai aja vocab-nya dalam bahasa Inggris. Malah dengan begini kamu terdengar “keren” soalnya ngomongnya ada Inggris-Inggrisnya”, hahahahaha😆 . Aku masih inget banget waktu itu profesorku ngomong gini soalnya😛 .

          Iya deg-degan, tapi untung interview-nya lancar banget. Untungnya pengujinya juga ramah sih, nggak galak nyeremin gitu, hahaha😆 .

    1. Haha, sepertinya syarat ganti WN nggak terlalu banyak bedanya sih Na dengan PR ini (CMIIW). Jadi sebenarnya kalau mau aku bisa aja kemarin pindah WN sekalian. Tapi masalahnya kalau pindah WN, status WNIku mesti dilepas. Kok gimanaaa gitu ya rasanya, hahaha😆 , walaupun paspor sini kan sakti bener sebenarnya😛 . Cuma dengar-dengar mulai tahun ini persyaratannya diubah dari minimal 5 menjadi 7 tahun berturut-turut tinggal di Belanda😛 .

  5. Apply PR Canada juga bikin puyeng. Jaman aku dulu, harus kerja full time at least 2 taun di sebegai pekerja high skilled. intinya kerja kasar kayak pabrik atau pelayan gak bisa apply. Diliat background pendidikan, semakin tinggi semakin baik, test IELTS minimum nilai total 6.5, ada gaji minimum pula. Jadi kalo misalnya engineer tp gaji rendah jg gak bisa apply. Udah kayak gt nanti org imigrasi nelpon kantor, kadang cek lgs ke kantor bener gak kerja disitu (jaman skrg banyak yg boong soalnya). Proses dari awal apply sampe dpt PR itu 2 taun, penuh dengan perjuangan dan air mata *lebay*. Hahhaa

    1. Hahaha, lama ya prosesnya sampai 2 tahun. Kalau disini disebutkan bahwa prosesnya bisa memakan waktu paling lama 6 bulan, hehe. Beruntung untukku prosesnya tergolong cepat karena semenjak pembayaran mereka terima, aku dapat keputusannya dalam jangka waktu 2 mingguan aja, hehe😛 .

      Disini kurang lebih persyaratannya mirip sih, mesti memenuhi standar gaji minimal yang mereka tentukan dan bukti bahwa standar gajinya dipenuhi. Mereka juga bilang mereka memiliki hak untuk juga mengecek pendapatan kita yang sebenarnya di departemen perpajakan, hehehe😀 .

    1. Trims Non.

      Iya, lumayan mengurangi beban pikiran banget. Jadi sekarang bisa lebih tenang dan fokus mikirin kerjaan (dan jalan-jalan, huahahaha😆 ).

  6. Selamat Ko! Hahaha. Nilai harus lah dijembrengin ya emang! Baca komen-komenan Mbak Eva, Mbak Yo sama Deny jadi semangat juga. Etapi semangat apa ya? Paling gak jadi tahu tentang ini. Hahah.

    1. Trims!🙂 Iya, kayak CV kan, kalau nilai bagus mah dipajang aja ya. Kalau biasa-biasa aja atau pas-pasan, baru deh gak perlu, hahaha😛 .

      Huahaha, iya siapa tahu nanti pindahan ke Belanda ya jadi paling ga sudah sedikit tahu duluan😛 .

      1. Trims🙂 . Setahuku, dengan PR EU, hak-hak kita jadi kurang lebih mirip seperti WN EU, jadi bisa bebas (dalam artian lebih mudah untuk) pindah ke negara-negara EU lainnya. Jadi mungkin implikasinya (ini aku masih belum yakin bener sih😛 ) akan lebih mudah juga untuk mencari kerjaan di negara EU lain, hahaha😆 . Dengan PR Belanda ini aku bebas mencari kerja dimana pun selama masih di dalam Belanda😛 .

  7. Waaaahhh. Jadi udah jelas dong ya habis selesai PhD akan tinggal dan kerja di Belanda 😉

    Btw PR ini ada masa berlakunha gak seh zil? Atau ini udah permanen banget sampe seumur hidup gitu??

    1. Hahaha, mungkin Niee😛 .

      PRnya sendiri sih berlakunya selamanya kayaknya Niee, tapi kartunya cuma berlaku 5 tahun jadi setiap 5 tahun mesti diperbarui gitu. Mirip lah ya sama KTP di Indo, hehe😛 .

        1. Hehehe, iya Niee. Ayooo kapan ke Belandaa, hehehe😛 .

          Sejauh sepengertianku sih begitu Niee. Cuma setiap 5 tahun mesti perpanjang kartunya aja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s