Posted in Tennis

#1619 – 2015 US Open

ENGLISH

It is that time of the year again. The fourth grandslam tournament of the year was concluded on Sunday, and here is a short review.

Women’s Singles

The difference between Serena Slam 1.0 and Serena Slam 2.0 was that in Serena Slam 2.0, Serena Williams’ fourth consecutive grandslam singles title was Wimbledon (where I was part of the final that time:mrgreen: ). This meant that this year, Serena got a chance to achieve something she had never done before, something which had not been done since 1988 by Steffi Graf: winning all four grandslam tournaments in the same year. And the last grandslam being the US Open, which Serena won in the last three years of the tournament, the odd looked good for her. And of course naturally all eyes were, again, on her.

Serena reached the semifinals, not without any trouble though where she overcame inspired Bethanie Mattek-Sands in the third round and had to play her best against her sister, Venus Williams, in the quarterfinals (which was a super good quality match). In the semifinals, she was facing someone who appeared to be extremely lucky to be there, the world no.43, Roberta Vinci from Italy. Serena was the huge favorite. Serena was, well, Serena. And it was Vinci’s first ever semifinals in a grandslam. Vinci had never beaten Serena before with Serena won their last encounter just four weeks prior. The odd for Vinci to beat Serena was 1:300.

But well, the beauty about sport is that the two players still have to play against each other. And they start from scratch in the match. And 1:300 is not zero. Guess what? Roberta Vinci ended Serena Williams’ 33 matches winning streak at the grandslams, beating the world no.1 2–6, 6–4, 6–4 (Lucky I did not watch that match though, I would have been so devastated, haha😆 )!! Yeah, this shows that anything is possible, and that if you keep on trying, you will succeed.

Meanwhile in the other half of the draw, another Italian player scratched her way up to the finish line. Flavia Pennetta played her best tennis to beat the current world no.2, Simona Halep, 6–1, 6–3 in the semifinals. It was not completely a surprise to see Pennetta doing well here though. She has historically performed good at the US Open, and she loves American hard court tournaments.

In the all-Italian final, the 26th seeded Pennetta was clearly the favorite. Even though she did not play her best, her level was still enough to beat the still-tired Vinci. Pennetta won 7–6(4), 6–2 for her first ever grandslam title. During her trophy ceremony, she delivered a surprising news where she announced her retirement from tennis this season. This season is Pennetta’s last season and she will not defend her US Open title next year.

Yeah, I totally understand her decision. It is good to leave the sport while you are on top!!

Men’s Singles

One big story from this year’s men’s singles tournament was Rafael Nadal’s early exit in the third round, meaning that for the first time since 2004, he does not win any grandslam title in a year. While a lot of people scrutinized this fact, as Rafa said, we should look it the other way around, that for ten years since 2005 until 2014, Rafael Nadal had won at least one grandslam title every year. That is some achievement!!

Nevertheless, unsurprisingly, the top two seeds, Novak Djokovic and Roger Federer, reached the final. It was Djokovic’s fourth grandslam final this year and Federer’s first non-Wimbledon grandslam final since June 2011! In the end, Novak Djokovic, who is the in-form player of 2015, won in four sets, 6–4, 5–7, 6–4, 6–4 for his tenth grandslam title.

Flavia Pennetta won her maiden grandslam title at the 2015 US Open.Photo credit: Maddie Meyer/Getty Images North America
Flavia Pennetta won her maiden and only grandslam singles title at the 2015 US Open. Photo credit: Maddie Meyer/Getty Images North America
Novak Djokovic won his 10th grandslam title at the 2015 US Open. Photo credit: Maddie Meyer/Getty Images North America
Novak Djokovic won his 10th grandslam singles title at the 2015 US Open. Photo credit: Maddie Meyer/Getty Images North America

BAHASA INDONESIA

Ya, tanggal-tanggal segini lagi. Turnamen grandslam keempat tahun ini berakhir hari Minggu lalu, dan berikut ini sebuah review mininya.

Tunggal Putri

Perbedaan dari Serena Slam 1.0 dan Serena Slam 2.0 adalah gelar grandslam keempat berturutannya Serena Williams di Serena Slam 2.0 adalah Wimbledon (yang mana aku adalah bagian dari penontonnya loh waktu itu:mrgreen: ). Yang mana artinya tahun ini, Serena memiliki kesempatan untuk mencapai suatu pencapaian yang belum pernah ia raih sebelumnya, sesuatu yang belum pernah diraih siapa pun semenjak tahun 1988 oleh Steffi Graf: memenangi keempat turnamen grandslam dalam tahun yang sama. Dan karena grandslam yang terakhir adalah US Open, sebuah grandslam yang Serena selalu menangi tiga tahun belakangan ini, pencapaian ini nampak sebagai pencapaian yang amat mungkin. Tetapi jelas akibatnya semua mata jadi tertuju padanya.

Serena mencapai babak semifinal, bukannya tanpa masalah sih dimana ia harus mengatasi Bethanie Mattek-Sands yang bermain bagus di babak ketiga dan harus bermain dengan prima melawan kakaknya sendiri, Venus Williams, di perempat-final (yang mana pertandingannya berkualitas super tinggi lho). Di semifinal, ia menghadapi seorang pemain yang nampak super beruntung bisa berada disana, petenis peringkat 43 dunia, Roberta Vinci dari Italia. Serena jelas adalah favorit untuk menang. Serena itu, yah, Serena. Dan ini adalah semifinal pertamanya Vinci di sebuah grandslam. Vinci belum pernah mengalahkan Serena sebelumnya dan pertemuan terakhir mereka hanyalah empat minggu sebelumnya. Di bursa taruhan, peluang Vinci menang adalah 1:300.

Tetapi, keindahan olahraga adalah kedua pemain tetap harus bertanding. Mereka harus memulai pertandingan dari nol. Dan 1:300 juga bukanlah nol. Dan apa yang terjadi? Roberta Vinci mengakhiri kemenangan beruntung 33 kalinya Serena Williams di grandslam, mengalahkan petenis peringkat 1 dunia itu 2–6, 6–4, 6–4 (Untungnya aku nggak nonton pertandingan ini, bisa depresi aku kalau nonton, haha😆 )!! Ini menunjukkan bahwa apa pun itu mungkin, dan kalau kita terus berusaha, kita juga bisa berhasil.

Sementara itu di sisi lain undian, pemain Italia lainnya juga berjuang keras mencapai garis finish. Flavia Pennetta memainkan tenis terbaiknya untuk mengalahkan petenis peringkat 2 dunia, Simona Halep, 6–1, 6–3 di semifinal. Nggak heran sih melihat Pennetta berprestasi baik begini. Dari sejarahnya juga ia selalu bermain baik di US Open, dan ia juga menyukai turnamen lapangan keras di Amerika.

Di final yang sesama pemain Italia, Pennetta yang diunggulkan di tempat ke-26 adalah yang difavoritkan menang. Walaupun ia tidak bermain dengan yang terbaik, levelnya toh masih cukup untuk mengalahkan Vinci yang masih kelelahan. Pennetta menang 7–6(4), 6–2 untuk gelar grandslam pertamanya. Ketika mendapatkan pialanya btw, ia membagikan sebuah berita yang mengejutkan dimana ia mengumumkan bahwa ia akan pensiun dari tenis musim ini. Ini adalah musim terakhirnya Pennetta dan tahun depan ia tidak akan mempertahankan gelar US Opennya.

Ya, aku mengerti keputusannya. Memang keren ya pensiun ketika sedang berada di puncak!!

Tunggal Putra

Satu cerita besar dari turnamen tunggal putra tahun ini adalah kekalahannya Rafael Nadal di babak ketiga. Ini artinya bahwa untuk pertama kalinya semenjak tahun 2004, ia tidak memenangi satu grandslam pun dalam suatu tahun. Banyak orang yang mencecarnya dengan fakta ini, tetapi seperti yang dibilang Rafa, sebaiknya kita melihatnya dari sisi lain, dimana artinya selama sepuluh tahun dari tahun 2005 sampai 2014, Rafael Nadal selalu memenangi setidaknya satu gelar grandslam. Itu kan keren ya!!

Kembali ke topik, tidak mengejutkan, dua unggulan teratas, Novak Djokovic dan Roger Federer, mencapai babak final. Ini adalah final grandslam keempatnya Djokovic tahun ini dan final grandslam pertamanya Federer bukan di Wimbledon semenjak bulan Juni 2011! Pada akhirnya, Novak Djokovic, pemain yang memang sedang in-form banget tahun 2015 ini, menang dalam empat set, 6–4, 5–7, 6–4, 6–4 untuk gelar grandslam kesepuluhnya.

18 thoughts on “#1619 – 2015 US Open

  1. Pensiun saat sedang di puncak. Hmmm aku teringat contoh lain, siapa ya atlet/aktor yg melakukan hal serupa? Kayak baru kmaren aku baca beritanya (bukan Zayn Malik nya One Direction loh yaaa). Dimana menurutku itu emg keputusan yg sangat tepat. Jadi dia akan slalu diingat sebagai pemenang, gitu ya.

  2. Saya kemaren baca tweet yang bilang setelah Serena kalah, harga tiket final yang biasanya $1000 langsung ngedrop sampe di bawah $100. Katanya orang bela-belain beli tiket mahal supaya bisa nonton Serena menorehkan sejarah dan bilang “I was there!”, makanya pas dia kalah langsung pada males. Terus sama kayak yang kamu bilang di post ini “where I was part of the final that time”. Berarti kalo hardcore fans selalu mikir gini yaa, jadi kebanggaan gitu kalo nonton momen bersejarah.

    1. Haha, harga tiket sampai rata-rata $1000 itu nggak “biasa” setahuku Eky, hehe. Kayaknya banyak yang beli tiketnya kemudian dijual lagi. Nah, mereka menjualnya memang menggunakan nama Serena gitu deh yang memang sedang mengejar pencapaian bersejarah🙂 . Iya dong, pasti banget itu. Bangga dan senang banget ketika bisa menjadi saksi sejarah kan. Jadi nanti sepuluh tahun lagi kalau ngomongin sejarah itu, kita bisa bilang: “Tahu nggak, waktu itu aku disana lho menjadi saksinya”🙂 .

  3. Sayang sekali Pennetta mengundurkan diri. Saya pengen melihat dan dia membuktikan kalo US Open buka suatu keberuntungan buat dia dengan banyak memenangi seri grandslam lainnya.

    1. Justru itu, semua orang juga bisa melihat bahwa kemenangannya bisa dibilang suatu “keberuntungan”🙂 . Ini adalah kali ke-49 Pennetta ikut turnamen grandslam. Dan angka 49 ini merupakan suatu rekor dimana ia adalah seorang juara grandslam yang membutuhkan trial paling banyak untuk bisa juara. Sebagai perbandingan, Serena menjuarai grandslam pertamanya di turnamen grandslam ke-7, Venus Williams di turnamen ke-13, dan Maria Sharapova di turnamen ke-7😀 .

  4. Suka dengan sportivitas semua pemain yang ada di sana. Bukan dengan tujuan mencari alasan, tapi bahkan kekalahan pun bisa dipandang dari sisi yang berbeda, tidak lagi harus selalu berarti bahwa kalah itu jelek :haha. Sesuatu yang mesti banget dipelajari supaya bisa selalu memberi yang terbaik tanpa harus terbebani dengan harus begini atau harus begitu :hehe. Bola tenis juga bundar, maka apa yang terjadi mestinya ada di luar dugaan! :haha.

    1. Namanya olahraga pasti harus sportif ya Gara🙂 . Masalahnya bagi pemain top itu seperti ini: menang itu biasa dan kalah itu aneh. Jadi ketika mereka menang, media biasa-biasa aja meliputnya. Tetapi begitu mereka kalah, mereka langsung bertanya “Kok bisa kalah?”, dan semacamnya. Ini tentu menyebalkan sekali bagi atlit tersebut karena media menambahkan beban ke pundak mereka🙂 . Apalagi di kasus Serena, beban menangnya semakin besar karena ia sedang mengejar suatu pencapaian yang bersejarah.

      1. Iya sih Kak, kadang tuntutan masyarakat via media memang sangat memberati banget ketika banyak kata harus, harus menang, harus yang terbaik, dan lain-lain :hehe. Padahal masa depan tak ada yang tahu dan semua kemungkinan adalah mungkin :hehe.

        1. Begitulah. Sebenarnya mah sama aja kayak hidup kan. Yg penting kita sudah berusaha sebaik mungkin dan kita bahagia dengan pilihan kita. Kata-kata orang sih nggak akan ada habisnya kalau didengerin semua *halah, malah jadi filosofis😛 *

    1. Hahahaha. Bakal depresi banget aku memang!! Untuuuung waktu itu pas Jumat malam dan udah ada janji keluar makan sama temen jadi nggak bisa nonton! Hahaha😆 . Kalo engga bisa depresi itu mah. Hihihi😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s