Posted in PhD Life, Zilko's Life

#1568 – My Biggest Teaching Responsibility (Yet)

ENGLISH

This week (and this month actually), I have to deal with the biggest teaching responsibility (yet) I have to ever face in my still very young career in academia (here I don’t take supervising a Master thesis into the account😛 ). Now, I have to be responsible for a Master level course because the professor I am working with (who is the one actually responsible for the course) is on maternity leave.

The final exams of this course are held this month and I have to oversee both (one main exam and one resit exam) and actually grade the students’ work. I feel like this is a huge responsibility because whatever grade that comes out from these exams will be the students’ final grade because there was no graded assignment/exercise during the one semester course.

Students’ Behavior

Anyway, as this exam was an open-book exam (which, btw, is usually much more difficult than a closed-book exam obviously), there were a lot of questions from the students prior to the exam regarding what was allowed/not allowed to bring in the exam.

In general, I felt like students wanted to bring as many materials as they could. As much as I understood this (well, I was a student myself before), actually I don’t think bringing as many materials as possible to an open book exam to be a good idea. Why? IMO, having too many source of information in our hand in a highly stressful situation with a strict time constraint like an exam can actually backfire because it may cause people to panic. By “panic”, I mean instead of thinking clearly about the exam, they may just randomly open all the books/materials hoping to find the answer/an englightment. And this usually leads to disaster.

For this reason, we decided to make a strict rule about which materials that were allowed in the exam. It was for the best of the students because we made the exams so we could help the students by having the optimal number of materials which could help them.

The Exam

The main exam took place yesterday. Btw, luckily, a professor (whom actually also holds the title ‘Professor’) was willing to help me oversee the exam so this took some pressure off of me as well, haha.

Anyway, the exam was for three hours and was supposed to start at 10:00. But then, because there were a few dyslexic students who were allowed to have an hour extra in the exam which, apparently, could only be added up front, the entire exam had to start at 09:00. But since I was responsible for it, it meant that I had to be there by 08:45 at the latest. And the exam was held in Utrecht University in Utrecht. And it was even not in their campus in the city, but in the Uithof which was in the suburb of Utrecht.

The bottomline is, I had to leave Delft extremely early in the morning! Hahaha😆 .

But I am glad that the exam went quite smoothly. And at the moment, I am still very busy grading the exam because I have to announce the final grade quite soon!

Overseeing an exam on a Monday morning
Overseeing an exam on a Monday morning

BAHASA INDONESIA

Minggu ini (dan bulan ini sih sebenarnya), aku harus menghadapi tugas mengajar dengan tanggung-jawab terbesar (sejauh ini) di karirku yang masih amat muda di akademia ini (eh, di posting ini pengalamanku membimbing sebuah thesis/skripsi Master (S2) tidak aku hitung yah😛 ). Sekarang, aku harus bertanggung-jawab akan sebuah mata kuliah level Master (S2) karena profesor yang bertugas mengampunya sedang cuti hamil.

Ujian Akhir mata kuliah ini diadakan bulan ini dan aku harus mengawasi kedua ujiannya (satu ujian utama dan satu ujian resit) dan kemudian aku harus mengoreksi pekerjaan mahasiswanya juga. Aku merasa ini adalah tanggung-jawab yang besar karena nilai yang keluar dari hasil koreksianku akan menjadi nilai akhir para mahasiswanya karena tidak ada tugas (yang dinilai) sepanjang kuliah selama satu semester ini.

Kelaukannya Mahasiswa

Anyway, karena ujian ini adalah ujian open-book (yang mana, btw, biasanya jauh lebih susah daripada ujian closed-book kan ya jelas), ada banyak pertanyaan dari mahasiswa mengenai apa yang boleh dibawa/tidak boleh di ujian ini.

Secara umum aku merasa bahwa mahasiswa ingin membawa sebanyak mungkin materi ke ujiannya. Aku mengerti pemikiran mereka ini sih (yaaa, dulu kan aku juga mahasiswa gitu). Tetapi aku kira sebenarnya ini bukanlah ide yang baik. Mengapa? Menurutku, memiliki terlalu banyak sumber informasi di tangan di sebuah situasi yang tinggi stress dengan waktu yang dibatasi seperti sebuah ujian justru akan menjadi bumerang dan bisa menyebabkan beberapa orang panik. “Panik” dalam artian: bukannya berpikir jernih untuk menyelesaikan soal-soal yang ditanyakan, mereka justru malah membolak-balik panik halaman buku/materi dengan harapan menemukan jawabannya/ilham disitu. Dan biasanya ini justru akan menyebabkan semuanya menjadi kacau kan.

Untuk alasan ini, kami memutuskan untuk membuat aturan cukup ketat mengenai materi apa saja yang diperbolehkan di ujian ini. Ini untuk kebaikannya mahasiswa sih karena yang membuat soal-soalnya kan kami ya sehingga kami bisa membantu mereka dengan membawa jumlah materi yang (menurut kami) optimal yang bisa mereka gunakan di ujian ini.

Ujiannya

Ujian utamanya berlangsung kemarin. Btw, untungnya, seorang profesor lain (yang memang memiliki gelar “Profesor” juga loh) mau membantuku mengawasi ujian ini sehingga ini melepaskan sebagian tekanan dari bahuku kan ya, haha.

Ngomong-ngomong, ujiannya adalah selama tiga jam dan seharusnya dimulai jam 10 pagi. Tetapi karena ada beberapa mahasiswa dengan disleksia yang berhak mendapatkan satu jam ekstra di ujian ini yang mana, ternyata, satu jam ekstranya cuma bisa ditambahkan di awal, artinya keseluruhan ujiannya harus dimulai jam 9 pagi. Tetapi karena aku bertanggung-jawab akan ujiannya, jadi aku harus tiba paling telat jam 08:45 pagi kan ya. Dan ujiannya diadakan di Universitas Utrecht di Utrecht. Dan bukan di kampusnya yang di tengah kota loh, tetapi di Uithof yang berada di pinggiran Utrecht.

Intinya adalah, aku harus berangkat kerja pagi banget dari Delft kemarin! Hahaha😆 *curcol* .

Tetapi untungnya ujiannya berlangsung dengan mulus sih. Dan sekarang ini aku sedang sibuk mengoreksi ujiannya karena aku harus segera mengumumkan hasilnya!

37 thoughts on “#1568 – My Biggest Teaching Responsibility (Yet)

  1. Seneng ya Ko ngawasin ujian sambil senyam senyum mengenang masa-masa jadi mahasiswa dulu haha. Aku dulu pernah diminta tolong professor ngawasin ujian sekaligus koreksi anak S2 (angkatan bawahku). Sepanjang ujian adaaa aja yang bikin aku ketawa. Pernah diposisi yang sama. Dan pas koreksi jawaban, seperti Dejavu 😄
    Biasanya kalo open book soalnya susah dan justru jawabannya ga ada dibuku. Mengarang indah jadinya.
    Mending presentasi deh daripada ujian tulis haha

    1. Hehehe, iya, seru juga rasanya. Lumayan juga untuk refreshing sejenak dari kerjaan utama, hehe😀 . Iya, kalau open book memang lebih susah ya ujiannya😀

  2. Open-book exam is more difficult than closed-book exam, indeed. Jawabannya malah gadak di buku, haha. Bener Koh, kebanyakan bawa sumber materi malah bikin terdistraksi. Menurut aku lbh baik mengingat apa yg udah diajarkan dosen dan yg udah kita pelajari sendiri. Intinya, persiapan sebelum ujian 😊

    1. Indeed, hehe🙂 . Dalam ujian open-book, fungsinya buku/materi adalah sarana pendukun untuk menyelesaikan soalnya kan. Jadi jawaban dari soalnya tidak ada di dalam buku/materi itu, hehe

  3. Klo lebih susah mending closedbook tapi ada semua jawabannya dibuku ya zil. Kan bisa dihapal. Hahahaha
    Klo aku dulu waktu kuliah jarang open atau closed book soalnya keseringan disuruh buat aplikasi sederhana gitu. Ya mana bisa mau nyontek buku. Hahaha

  4. kalo ujian open book gitu bisa dipastikan bawaan jadi banyak banget,pas ujian malah repot sendiri buka2 buku mana halamannya tebal pulak jadi panik sendiri takut waktunya gak keburu😀.
    Semangat Zilko, mudah-mudahan semua mahasiswanya dapat nilai yg bagus🙂

    1. Betul banget! Makanya sengaja materi yang boleh dibawa ke ujian ini kita batasi, hehehe🙂 . Haha, ini ngoreksinya udah beres kok, hehe😛 .

  5. Ahhhh bener banget tuh kalo closed book malah susehhh benerrrr. Btw, bijak banget itu dikasih extra time buat yg dyslexia. Disini keknya belum ada kebijakan itu🙂

  6. Wuih, hebat sekali jadi pengampu mata kuliah Master, di luar negeri pulak :wow. Selamat bekerja dan mengoreksi Kak, semoga selesai dengan baik dan mahasiswanya juga mendapat nilai yang terbaik :)). Pengalaman yang sangat menantang dan memperkaya! Dua jempol untukmu, Kak :hehe.
    Sejauh ini saya ujian open book cuma ujian statistika, dan dulu itu saya juga bawa banyak buku tapi pada akhirnya tidak ada gunanya soalnya buku yang saya bawa salah :malu. Untungnya masih bisa jawab… beberapa :haha.

    1. Yaa, namanya juga kerjaan kok, hehe🙂 . Mengoreksinya sudah selesai kok sekarang. Tapi hasilnya memang belum aku umumkan, hehe😛 .

      Statistika memang sering ujian open-book ya, hehe😀 .

      1. Kapan diumumkan hasilnya, Kak? Biasanya itu saat yang cukup menegangkan :hihi.
        Yep, soalnya rumusnya banyak sekali!

  7. Bener banget Ko, ujian open book itu justru sering mengacaukan konsentrasi karena banyak waktu terbuang untuk membolak balik halaman buku dan catatan perkuliahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s