Posted in PhD Life, Zilko's Life

#1519 – Supervising

ENGLISH

In the past half a year, I have got a unique opportunity for a PhD candidate, which (I think) not every PhD candidate gets. The opportunity was to supervise a Master student on his thesis project. This was a very unique opportunity because I actually supervised the thesis research, not just being in the thesis committee whose tasks were to read the final version of the thesis and to ask questions during the defense. No, it was actually a supervision task.

This opportunity came because of my ex-supervisor’s big decision to move to Australia in the beginning of the winter semester. She had one student who, at that point, was not able to finish his Master thesis research before she left. And the problem was, in the entire department of my university, I was the only one who was familiar and had experience working on the topic of the research. So before she left, she asked me if I was willing to take over her role as the supervisor after she left. And I decided to take it as this would be new and precious experience to me; and moreover, it would be good for my CV too, right? :) Coincidentally too, the student was actually an Indonesian (and he was actually also older than me though, haha😛 ). And earlier this week, he finally had his thesis defense and, thus, obtained his Master degree. 

Here, I would like to share my first experience of being a daily supervisor of a Master thesis project. Yep, I had never done it before; but there was always a first for everything, yes?🙂

To me, in some sense it was a little bit difficult to “switch” role from being the supervisee to being the supervisor. All this time, I was always in the supervisee position. So there was always someone, my supervisor, who was above me whom, in some sense, was like my “boss”. And here, I was not in that position anymore. I was the supervisor now. So I was my student’s “boss”, sort of say; even though during these six months I tried not to make the relationship “vertical” so the word “boss” is actually a little bit inappropriate here. But I hope you still see my point. I also had to steer him to make sure that he was on the right track. It was definitely very new, and thus precious, experience to me in this area.

Moving on to another point, now I can testify that being a supervisor is a hell lot of work! I had to spend some of my working time and brain energy to focus on the research I was supervising. And this was, obviously, on top of my own PhD research and some teaching duties which I had to fulfill. And the amount of work, obviously, doubled (at least) when we were approaching the thesis defense, haha😆 . As I not only had to supervise the research at hand, but also the thesis report. I had to read the entire thesis report (which was more than 100 pages initially) and gave my comments, which of course included some grammatical/English corrections too because obviously the thesis must be in formal, technical, and scientific English. You see, while reading the thesis, I had to be an evaluator (to judge the quality of the work), a writer (so I could give constructive comments on how some things needed to be formulated), and a grammar nazi at the same time, lol😆 .

Did I spend a lot of time and energy on it? Well, obviously; and it was actually in the period where my own PhD research came to the point where it was very stressful too. But was it worth it? Hell, yes. Big time. No question. I still think the experience that I gained from this opportunity triumphed the extra work, time, and energy which I needed to do to carry on this responsibility. Plus, as I said, it would be very good for my CV too🙂 .

Yeah, so now this responsibility is officially over. Obviously I am glad that it is over because it means my student successfully obtained his Master diploma under my supervision (so I feel proud of him (and myself too😛 )) and that now I can focus more on my own research. But on the other hand I also feel a little bit sad that it is over; as we have been working together for the past six months. But well, everything does come and go in life, doesn’t they?😉

BAHASA INDONESIA

Setengah tahun belakangan ini, aku mendapatkan sebuah kesempatan langka bagi seorang mahasiswa PhD (S3) yang mana (setahuku) tidak semua mahasiswa S3 mendapatkannya. Kesempatan langka ini adalah kesempatan untuk membimbing seorang mahasiswa Master (S2) dalam proyek thesis S2-nya. Ini merupakan kesempatan langka karena aku bener-benar harus membimbing riset ini loh, bukan hanya sekedar berada di dalam komite thesis yang mana tugasnya hanya membaca versi akhir dari laporan thesis-nya dan memberikan pertanyaan di sidang akhir. Bukan, tugasku benar-benar adalah membimbing di keseluruhan prosesnya.

Kesempatan ini datang akibat keputusannya mantan pembimbingku untuk pindah ke Australia di awal semester ganjil kemarin. Ia memiliki seorang mahasiswa yang, waktu itu, tidak akan bisa menyelesaikan riset thesis S2-nya sebelum ia pindah. Masalahnya lagi, di keseluruhan jurusan di universitas ini, hanya aku seorang saja loh yang familiar dengan topik riset ini. Jadilah sebelum ia pindah, ia bertanya kepadaku apakah aku mau mengambil alih peran sebagai pembimbing si mahasiswa ini setelah ia pindah. Dan aku memutuskan untuk menerima tawaran ini karena ini akan menjadi sebuah pengalaman baru dan amat berharga bagiku; dan juga, ini bakal bagus untuk CV-ku nantinya kan? :) Oh iya, kebetulan banget juga, si mahasiswa ini orang Indonesia loh (dan ia juga berumur lebih tua daripada aku, haha😛 *penting untuk disebutin memang ya?😛 *). Dan awal minggu ini, ia berhasil melewati sidang akhirnya dan, akhirnya, mendapatkan gelar Master (S2)-nya.  

Disini, aku ingin menuliskan pengalaman pertamaku menjadi seorang pembimbing dari sebuah proyek thesis S2. Ya, memang aku belum pernah melakukannya sebelumnya, tetapi selalu ada kali pertama untuk segala sesuatu bukan?🙂

Untukku, di banyak sisi tidaklah mudah untuk “berpindah” peran dari seorang yang dibimbing menjadi seorang yang membimbing. Selama ini, aku kan selalu berada di posisi yang dibimbing gitu ya. Jadi selalu ada seseorang, yaitu pembimbingku, yang berada di atasku yang, di satu sisi, bisa dipandang sebagai “bos”-ku gitu deh. Dan disini, aku tidak lagi berada di posisi itu. Sekarang akulah pembimbingnya. Jadi aku adalah “bos”-nya mahasiswaku ini; walaupun selama enam bulan ini aku berusaha untuk tidak memosisikan peran ini secara “vertikal” sih sehingga sebenarnya kata “bos” kurang tepat juga untuk digunakan. Tetapi mudah-mudahan maksudku jelas lah ya. Aku juga harus memastikan agar si mahasiswa ini berada di arah dan track yang benar agar bisa lulus. Ini adalah sebuah pengalaman yang jelas baru banget, dan pastinya berharga, untukku di bidang ini.

Lanjut ke poin selanjutnya, sekarang bisa aku bilang bahwa menjadi seorang pembimbing itu adalah sebuah pekerjaan yang berat loh! Aku harus menyisihkan sebagian waktu kerja dan energi pikiranku untuk riset yang aku bimbing ini. Dan ini, tentu saja, di samping riset S3-ku sendiri dan beberapa kewajiban mengajar yang harus aku penuhi. Dan banyaknya pekerjaan menjadi semakin banyak ketika sudah hampir tanggal-tanggal sidang, haha😆 . Ini karena aku tidak hanya harus membimbing riset yang berjalan, tetapi juga mengevaluasi laporan thesisnya. Aku harus membaca dengan teliti keseluruhan laporan thesisnya (yang mana versi awalnya lebih dari 100 halaman loh) dan memberikan komentarku, yang mana ini juga termasuk koreksi tata bahasa bahasa Inggris karena thesisnya jelas harus ditulis dalam bahasa Inggris yang baku, teknis, dan ilmiah. Nah kan, ketika membaca thesis-nya, aku harus menjadi seorang juri (untuk menilai kualitas pekerjaannya), seorang penulis (sehingga aku bisa memberikan komentar yang membangun tentang bagaimana beberapa hal/cerita sebaiknya diformulasikan), dan juga seorang grammar nazi pada saat yang bersamaan, haha😆 .

Apakah aku menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuknya? Ya, jelas banget iya lah; dan ini kebetulan terjadi di waktu dimana riset S3-ku sendiri berada di posisi yang amat stressful juga. Tetapi apakah ini setimpal? Oh, iya dong. Jelas setimpal banget. Tidak ada keraguan untuk itu. Aku rasa pengalaman yang aku dapatkan dari kesempatan ini lebih bernilai daripada pekerjaan ekstra, waktu, dan energi yang aku sisihkan untuknya. Ditambah lagi, seperti yang aku bilang, ini bakal bagus untuk CV-ku juga kan?🙂

Ya, sekarang tanggung jawab ini akhirnya resmi selesai sudah. Jelas aku merasa lega karena artinya mahasiswaku bisa mendapatkan gelar Master (S2)-nya dibawah bimbinganku (jadi aku bangga dong terhadapnya (dan diriku sendiri juga sih😛 )) dan sekarang akhirnya aku bisa lebih fokus terhadap risetku sendiri. Tetapi di sisi lain aku merasa sedikit sedih juga bahwa ini sudah berakhir; karena kan kami sudah bekerja-sama selama enam bulan terakhir kan ya. Ah, ya, semuanya datang dan pergi di hidup ini kan?😉

23 thoughts on “#1519 – Supervising

  1. saya pernah jadi pembimbing juga… tapi bukan untuk S1 apalagi S2…. melainkan d3😀

    cuma karena waktunya sempit dan yang dibimbing lebih dari 5 orang. ajdi kebanyakan komunikasi via email

    1. Hehe, jadi pembimbing itu rasanya berbeda ya😀 . Wah hebat, membimbing 5 orang. Ini aku membimbing 1 orang aja sudah susah cari waktunya, hahaha😆 .

    1. Hehehe, thanks🙂 . Kalau di saat rapat penting dengan profesor pakai bahasa Inggris, tapi kalau bimbingan biasa pakai bahasa Indonesia. Yang mana sebenarnya jadi kurang greget sih ya secara ini dia kuliahnya kan di Belanda. Lha kok bimbingannya pakai bahasa Indonesia, haha😛 .

      1. Hahaha, but maybe lucky him karena ada yg jelasin pake bahasa Indonesia dengan baik dan benar. PR nya dia jadinya hanya cerna ilmu dari kamu terus translate itu ke bahasa Inggris haha

  2. zilko kereeen,,,2 jempol deh, penalamanku dulu kalau mau ketemu pembimbing mesti persiapan batin dan berdoa yang banyak biar tulisannya gak banyak dicoret sama dosen pembimbingnya alias gak banyak2 revisi,hehe

    1. Hehehe, trims😀 . Ah, padahal menurutku sih kalau yang namanya revisi itu bakal selalu ada dah😛 . Tapi memang sih ya kalau yang dicoret banyak banget juga gimanaa gitu😛 .

  3. So cool Zilko. I was accidentally finding your blog since I saved as bookmark in my laptop. Recently, I usually work with my PC at office to conduct my research thus I did not surf regularly using my laptop.

    It’s like more than a year not reading your blog. I do really enjoy reading your posts.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s