Posted in Contemplation, Thoughts

#1503 – “Where Are You From?”

ENGLISH

A really long time ago (lol,😆 ), I came across the following TED talk on Facebook:

And I can relate to what the presenter talked about.

***

“Where are you from?”

This seemingly very simple and probably-good-as-an-ice-breaker question has transformed into a more complicated question for me to answer. I was born and grew up in Indonesia; but now I live and work in the Netherlands. So should I answer I am from Indonesia; or from the Netherlands?

One can probably say that this is easy as the (better) answer depends on the context of the conversation. Sure ‘better’ needs to be defined here, which in this case I define ‘better’ as in ‘less-likely to cause confusion in the following conversation’. An easy situation is when this question is being asked in a professional situation, for instance in a conference. In this case, I will answer with “the Netherlands” because I am representing my work, which is in the Netherlands.

However, most of the time, it is not as straight-forward as that. When I am on vacation, for instance. Do people want to know where I live and work now or where I originally come from? Both answers are simultaneously true and false, depending on the context. For example: the answer “I am from the Netherlands” is both true and false. True because now I work and live in the Netherlands; therefore I am here on vacation after literally travelling from the Netherlands. False because technically I am not Dutch. However, the answer “I am from Indonesia” is also true and false. True because I am Indonesian and grew up in Indonesia. False because I don’t live there anymore therefore I don’t travel from Indonesia to get here on my vacation. Or does this even matter in the first place and this is just an ice-breaker question where any answer I give is okay? Lol😆

But then again, there are also a few situations where this question actually matters more than normal. For instance, in an immigration desk in an airport. When I arrived at Heathrow for my trip to Wimbledon in 2013, for instance. Because it was clear from my passport that I was an Indonesian, the officer asked if I just flew all the way from Jakarta to watch Wimbledon. And because this was not the case, I said no and explained that I just came from the Netherlands. But then he got confused as he was flipping my passport pages over and over. He was looking for a valid Schengen visa (as I just told him I came from the Netherlands and he saw that I was an Indonesian); which obviously he could not find because I lived in the Netherlands so instead of a visa, I had a Dutch residence permit card. Then I showed him my card and it cleared everything up😆 .

You see, in this era, the question “Where are you from?” has become very outdated. In the era where it is not uncommon for people from all around the world to live somewhere else all around the world, an extra (or a few) layer of complexity arises in such a seemingly very simple and straight-forward question.

Obviously mankind keeps progressing. This is good news – if we are optimistic that we are progressing towards something better (thus the word “progress” and not “change”). But along with that, a lot of things evolve as well, adjusting to the progression. Something that used to be simple and sufficient suddenly becomes complicated and unclear, simply because it does not really fit anymore. Probably, the question “Where are you from?” is one of those.

Have you ever encountered a similar situation?🙂

Flags of the world. Source: http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Flag-map_of_the_world.png
Flags of the world. Source: http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Flag-map_of_the_world.png

Illustration taken from this Wikimedia file.

BAHASA INDONESIA

Sekian lama banget waktu yang lalu (haha😆 ), aku melihat link berisi sebuah orasi TED di Facebook seperti berikut ini:

Dan aku mengerti benar apa yang dibicarakan oratornya.

***

“Where are you from?”

Pertanyaan yang nampak sederhana dan mungkin banyak digunakan sebagai ice-breaker di berbagai macam situasi ini telah berevolusi menjadi sebuah pertanyaan yang rumit untuk aku jawab. Ceritanya aku dilahirkan di besar di Indonesia; tetapi saat ini aku tinggal dan bekerja di Belanda. Jadi aku mesti menjawab apa dong? Dari Indonesia atau dari Belanda?

Mungkin ada yang berpendapat bahwa ini pertanyaan gampang lah dimana jawabannya (yang lebih baik) tergantung dari konteks percakapannya. Ya, memang ‘yang lebih baik’ perlu didefinisikan disini, yang mana aku definisikan sebagai ‘lebih jelas sehingga tidak menimbulkan kebingungan di percakapan selanjutnya’. Situasi yang mudah adalah ketika pertanyaan ini ditanyakan di situasi profesional, misalnya di sebuah konferensi gitu. Dalam kasus ini, jelas aku menjawabnya dengan “dari Belanda” karena aku kan mewakili pekerjaanku ya, yang mana berada di Belanda.

Namun, seringnya, situasinya tidak se-hitam-putih itu. Ketika aku sedang berlibur, misalnya. Apakah yang bertanya itu ingin tahu aku hidup dan bekerja dimana atau tempat asalku? Kedua kemungkinan jawabannya benar dan sekaligus salah loh, tergantung konteksnya tentunya. Misalnya: jawaban “Aku dari Belanda” adalah benar sekaligus salah. Benar karena kan memang aku bekerja dan tinggal di Belanda; jadi jelas aku liburan ini setelah bepergian dari Belanda kan ya. Salah karena aku secara teknis bukan orang Belanda. Namun, jawaban “Aku dari Indonesia” juga benar sekaligus salah. Benar karena aku orang Indonesia dan besar di Indonesia. Salah karena aku tidak tinggal disana lagi sehingga aku tidak bepergian dari Indonesia untuk liburan ini. Atau sebenarnya ini nggak masalah sih dan ini hanyalah sebuah pertanyaan ice-breaker aja yang mana jawaban yang mana pun juga nggak masalah? Huahaha😆 .

Tetapi lagi, ada juga situasi dimana pertanyaan ini lebih penting daripada biasanya. Misalnya saja, di meja imigrasi di bandara. Ketika aku tiba di Heathrow untuk perjalananku ke Wimbledon di tahun 2013, misalnya. Karena dari pasporku jelas aku orang Indonesia, petugasnya bertanya apakah aku terbang jarak jauh dari Jakarta untuk bela-belain nonton Wimbledon. Karena bukan begitu kasusnya, aku jawab tidak dan aku katakan bahwa aku baru saja tiba dari Belanda. Lalu, ia nampak agak kebingungan dan terus-terus membolak-balik halaman pasporku. Ah, ia mencari visa Schengen yang valid rupanya (karena aku baru saja bilang bahwa aku dari Belanda dan ia lihat bahwa aku dari Indonesia); yang mana jelas tidak akan bisa ia temukan karena aku kan tinggal di Belanda sehingga izin tinggalku bukan dalam bentuk visa melainkan dalam bentuk kartu residence permit. Lalu aku tunjukkan deh kartuku dan kebingungannya teratasi, haha😆 .

Nah kan, di zaman sekarang ini, pertanyaan “Where are you from?” telah menjadi sebuah pertanyaan yang kuno. Di sebuah era dimana tidak jarang orang-orang dari seluruh penjuru dunia hidup di tempat lain di seluruh penjuru dunia juga, satu (atau banyak) level kerumitan jadi muncul di sebuah pertanyaan yang nampak sederhana dan hitam-putih ini.

Jelas umat manusia semakin maju dan berkembang. Ini berita baik – jika kita optimis bahwa kita berkembang ke arah yang lebih baik sih (makanya aku bilang “berkembang” dan bukan “berubah”). Tetapi akibatnya, banyak hal yang berevolusi juga, menyesuaikan dengan perkembangan ini. Sesuatu yang dulunya sederhana dan cukup tiba-tiba berubah menjadi rumit dan tidak jelas, hanya karena tidak cocok lagi dengan situasi yang baru. Mungkin, pertanyaan “Where are you from?” ini adalah salah satunya.

Apakah ada yang pernah mengalami situasi yang serupa?🙂

37 thoughts on “#1503 – “Where Are You From?”

  1. Wah tulisan yang menarik aku suka.
    sama aja kaya aku ko, aku orang wonogi tapi tinggal dan menetap plus sudah jadi warga yogya.
    kalau ditanya dari mana aku jawabnya yogya tapi kalau ditanya asalnya dari mana baru jawab wonogiri.
    hehehe

  2. Kalau pertanyaannya dlm situasi formal such as in an immigration or office thingy , biasanya jawab lengkap, I m an Indonesian living in BE.
    Kalau pas nyantai kayak ketemu stranger pas excursion saat traveling, biasanya gw jawab dari Indonesia, nanti kalau dia nanya2 lagi baru gw perjelas.

  3. Kalo untuk WNI yang tinggal di Indonesia juga biasanya yg ditanya. Aslinya dari mana? Trus langsung jawab Sunda, oo bukan maksudnya tempat tinggalnya dimana ternyata haha

    1. From what I can think of now is that the question needs to be more specific. Like “Where do you live?”, “Where do you work?”, or “Where do you originally come from?”🙂 . However, of course asking more specific questions like this is not as practical and can actually create another problem related to some cultural “comfort distance”🙂 .

  4. gak pernah ngalamin kejadian ginian karena seumur-umur tinggal di Indonesia sih. Eh kalo ditanya dari mana di Indonesia juga tergantung juga sih jawabannya, bisa dari Surabaya ato Jakarta ato Tangerang.😀

  5. kalau saya lagi ada acara di KBRI roma trus ketemu orng indonesia pas kenalan sering di tanya dari mana mbak trus sya jawab “dari ternate,maluku utara” trus orangnya malah bilang,bukan itu,maksudnya di italy ini tinggal dimana?#dyaaar,,

  6. Nahh mungkin pertanyaan yang lebih spesifik akan lebih menjelaskan ya, aku suka tuh “where do you originally come from”.. baru deh jawabannya bisa panjang hehehe

    1. Hahaha, iya. Tapi kalau pertanyaannya sudah sespesifik itu artinya si penanya sudah lebih “masuk” ke zona pribadi yang ditanya kan ya, hehehe😀 .

  7. Senangya punya kepribadian ganda. Upps….salah. sorry maksudku punya dua kewarga Negaraan, punya dua tempat tinggal di dua Negara. Wis pokoke punya dua lah. Hehehehe…
    BTW…meski sekarang tinggal di Belanda dan menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Belanda, apakah mas Zilko masih ingat bahasa Jawa?
    “sampean tasih eling nopo mboten boso Jowo Mas zilko? nèk mboten salah sampean urip ten Jogja nggih?”

    1. Hehehe, memiliki asosiasi dengan dua negara itu justru di satu sisi bikin ribet juga loh, seperti yang aku tuliskan di posting ini, hehe🙂 . Yaa, aku mung iso boso Jowo setitik-setitik🙂 . Mbiyen ning SD lan SMP kudu sinau boso Jowo mergane🙂 .

          1. Nah…coaba blog ini dalam 4 bahasa pasti trafic e naik. Hahaha…tapi sungguh merepotkan ya nulis dalam 4 bahasa. Dalam 2 bahasa aja sudah bagus postingannya. Hebat mas Zilko.

  8. Si Ai yang bingung Ko kalo ditanya pertanyaan ini :p Soalnya dia asal suku Batak, lahir di Medan, tumbuh besar di Papua, kuliah di Manado, dan skrg kerja di Jakarta..haha😀 Masih nasional sih Ko, jadi masih lingkup pertanyaan asal daerah😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s